JENIS E
UN
KSTASI D KOTA Y
M. IRHA 06/19
JURUSA NIVERSIT
YOG
DI KALA YOGYAK
OLEH:
AM INDRAY 95267/SP/21
AN SOSIO TAS GADJ
GYAKAR 2010
NGAN RE KARTA
YUDHA 445
OLOGI JAH MAD RTA
EMAJA
DA
iii
Musuh yang paling berbahaya di atas dunia ini adalah penakut dan bimbang. Teman yang paling setia, hanyalah keberanian dan keyakinan yang teguh.
Andrew Jackson
i
Berdasarkan hasil kajian BNK Yogyakarta tahun 2009, penyalahgunaan narkotika oleh para remaja Kota Yogyakarta umumnya adalah penyalahgunaan narkotika golongan 1 jenis ekstasi. Peredaran ekstasi begitu merajalela, mulai dari bandar narkotika, penyalur, hingga pendistribusian pada para remaja dan mahasiswa. Peredaran ekstasi ini begitu dahsyat sehingga berbagai tindakan perlu terus dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah dan memberantas penyalahgunaan ekstasi ini yang timbul dalam masyarakat remaja Kota Yogyakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman, pencerahan masalah narkotika mengenai proses peredaran narkotika golongan 1 jenis ekastasi dari sumber (bandar narkotika) hingga pengguna (kalangan remaja Kota Yogyakarta) dan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penyalahgunaan narkotika golongan 1 jenis ekastasi yang dilakukan oleh kalangan remaja Kota Yogyakarta.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif yaitu pengamatan, wawancara, atau penelaahan dokumen. Lokasi penelitian di Kota Yogyakarta. Responden yaitu: Dra. Yunis Farida, Kabid Advokasi Pus Cegah BNK Yogyakarta, dan IPTU Cherin, Kaur Bin Ops Sat Narkotika Poltabes Yogyakarta. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder.
Data primer merupakan data utama, sedangkan data sekunder digunakan untuk mendukung data primer. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melalui studi lapangan (wawancara) dan studi dokumentasi. Analisis data kualitatif dengan model interaktif data.
Berdasarkan penelitian ini diperoleh hasil bahwa Proses Penyalahgunaan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi di Kalangan Remaja Yogyakarta biasanya melalui para pengedar maupun pemakai di sekolah dan kampus universitas telah paham betul program-program sekolah dan kampus universitas. Mereka tentu saja mengantisipasinya dengan sebaik yang mereka bisa. Ada usaha di kalangan mereka untuk menghindari kecurigaan dengan cara tetap terlihat segar bugar tidak pucat di sekolah dan kampus universitas, prestasi bertahan, tidak membuat keributan, rutin membayar SPP, juga memiliki kiat-kiat khusus bagaimana berkelit jika ada razia.
Bandar dan pengedar tentu memiliki motivasi untuk mendapatkan keuntungan besar dari bisnis tersebut. Pengedar dan pemakai terikat dalam satu hubungan simbiosis mutualisme yang tersimpan rapi dan rahasia.
Dalam transaksi antara pembeli dan pengedar menggunakan transfer melalui ATM, melalui SMS dan lain-lain, sehingga akan menyulitkan untuk melacak lebih jauh disamping memiliki jaringan yang sangat luas dan pembeli dan pengedar merasa tidak saling mengenal.
Kata Kunci: remaja, penyalahgunaan, Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi
Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah, puji syukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah memebrikan limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis diberikan kekuatan untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini. Tidah lupa juga shalawat beriring salam juga di kirmkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari alam jahiliah kea lam yang penuh dengan ilmu pengetahuan
Untuk menyelesaikan strata 1 (S1) di perlukan suatu karya ilmiah dalam bentuk skripsi.
Pada kesampatan ini penulis membuat skripsi dengan judul “Penyalahgunaan Narkotika Golingan I jenis Ekstasi di Kalangan Remaja kota Yogyakarta”. Adapun skripsi ini di ajukan unutk memenuhi salah satu syaratr dalam mengikuti ujian akhir guna memperoleh gelar sarjana Ilmu Sosial jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Di Yogyakarta
Dalam penulisan skripsi ini, penulis menyadari sepenuhnya bahwa sebagai manusia
biasa, skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Masih banyak terdapat kesalahan dan
kekurangan baik dari segi isi maupun cara penulisan. Demi terciptanya kesempurnaan skripsi ini,
dengan segenap kerendahan hati penulis memohon maaf danmengharapkan kritik dan saran dari
para pembaca yang sifat nya membangun. Selain dari itu penulis banyak mendapat bantuan baik
moril maupun materil. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada:
M.A yang telah meluangkan waktu untuk menguji serta memberikan masukan-masukan hingga skripsi ini selesai.
3. Dr partini S.U selaku ketua jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas gadjah Mada dan merangkap sebagai pembimbing akademik penulis
4. Selulurh jajaran staf pengajar jurusan Sosiologi.
5. Kepada Mba’ Sri yang telah banyak membantu administrasi dari awal penyusunan hingga skripsi ini terselesaikan.
6. Seluruh staf administrasi FISIPOL UGM yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan administrasi.
7. Bapak Dalijdan dan mas Ikhwan selaku petugas Badan Narkotika Nasional yang telah memfasilitasi penulis dalam penyusunan skripsi ini
8. Bapak Kombes.pol Edi Purwanto selaku Dir, narkoba Polda DIY.
9. Keluarga ku tercinta atas doa dan dorongan yang telah diberikan selama proses penyusunan skripsi ini
10. Seluruh teman- teman sosiologi UGM.
11. Semua pihak yang telah membantu penulis yang tidak dapat tersebutkan satu-persatu yang telah memberikan dorongan, doa, dan semangat kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini
Akhirnya kepada Allah SWT penulis memohon semoga pengorbanan dan keikhlasan yang
telah di berikan akan dibalas-Nya dengan balasan yang berlipat ganda.Amin yarabbal alamin
Pekanbaru, Mei 2010
Penulis
M. Irham Indrayudha
HALAMAN PERSETUJUAN ...
HALAMAN PERNYATAAN ...
HALAMAN MOTTO ...
HALAMAN PERSEMBAHAN ...
ABSTRAK ...
KATA PENGANTAR ...
DAFTAR ISI ...
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...
1.2 Perumusan Masalah ...
1.3 Tujuan Penelitian ...
1.4 Manfaat Penelitian ...
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Keranga Teori ...
1. Definisi Remaja ...
2. Asosiasi Sosial pada Remaja...
3. Perilaku Konsumsi ...
4. Narkoba dan Ekstasi ...
5. Penyalahgunaan Narkotika ………..
2.2 Kerangka Konseptual...
ii
iii iv vii viii ix x
1 5 5 6
7 7 14 15 16 20 27
ii
3.4 Teknik Sampling ………….………..
3.5 Teknik Pengumpulan Data ……….
3.6 Validitas Data ……….
3.7 Analisis Data ………..
3.8 Prosedur Penelitian ………
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Proses Penyalahgunaan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi di Kalangan Remaja Yogyakarta ...
4.2 Data Penyalahgunaan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi di Yogyakarta ...
4.3 Faktor-faktor Penyebab Penyalahgunaan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi di Kalangan Remaja Yogyakarta ...
4.4 Pembahasan ...
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ...
5.2 Saran ...
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
34 35 38 40 42
44
51
58 70
88 90
92 96
1
Mengupas sisi lain dari kehidupan kaum muda seolah tiada habisnya.
Banyak hal menarik yang dapat digali dari kaum muda. Setiap orang dewasa pasti pernah mengalami masa muda. Banyak cerita tentang kenakalan yang dilakukan saat masa muda dianggap sebagai hal yang wajar. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa muda, ada ciri khas pola perilaku tertentu yang ingin ditunjukkan setiap orang pada masanya untuk menunjukkan identitas dirinya sebagai kaum muda.
Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki lebih dari 11.000 institusi pendidikan, mulai dari SD, SMP, SMU, hingga Sekolah Tinggi atau Perguruan Tinggi. Tidak mengherankan bila kota ini dijuluki sebagai kota pelajar dan menjadi salah satu kota tujuan favorit untuk menimba ilmu bagi pelajar dari seluruh penjuru Indonesia, terutama calon- calon mahasiswa. Observasi penulis menemukan bahwa selain karena terdapat universitas-universitas, baik negeri maupun swasta yang kredibilitasnya diakui secara nasional, geliat suasana kota dan murahnya biaya hidup jika dibandingkan dengan kota besar lainnya, menjadi beberapa alasan dipilihnya kota ini sebagai tujuan menimba ilmu oleh mahasiswa dari luar DIY.
Remaja atau yang biasa disebut dengan adolescence, berasal dari bahasa latin adolescere, yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menuju
kematangan”. Masa remaja adalah periode transisi ketika individu berubah secara fisik dan psikologis dari anak menjadi dewasa (Hurlock, 2006).
Sorenson (1966) dalam Hurlock (2006) mengkarakteristikan sebagai berikut: “remaja adalah lebih dari sekedar seseorang yang beranjak dari masa kanak-kanak. Hal ini lebih kepada pembentukan di dalam diri, periode transisi yang penting untuk perkembangan ego. Ini adalah hal meninggalkan ketergantungan pada masa kanak-kanak dan pencapaian ke masa dewasa.
Seorang remaja adalah pengembara yang meninggalkan suatu tempat namun belum sampai ke tempat selanjutnya. Ini adalah sebuah tempat pemberhentian antara kebebasan dan sejumlah tanggung jawab dan komitmen... keinginan... komitmen serius mengenai pekerjaan dan cinta.”
Masa muda merupakan masa transisi dari remaja akhir menuju masa dewasa. Banyak ahli-ahli perkembangan percaya bahwa menentukan awal masa remaja lebih mudah daripada menentukan berakhirnya masa remaja dan permulaan masa dewasa (Santrock, 2002). Hal ini di sebabkan mulainya masa remaja awal dimulai pada masa tertentu secara serempak, yaitu sekolah menengah pertama. Namun berakhirnya masa remaja menuju dewasa sangat tergantung pada perbedaan individu dalam mencapai kriteria kedewasaan.
Hidup di kota-kota besar dengan banjirnya arus globalisasi dan informasi menuntut orang yang hidup pada zaman sekarang harus lebih selektif dan memiliki filter yang baik dalam penerimaan segala hal yang datang dari luar bila tidak ingin terbawa arus. Kaum muda, sebagai masa
dimana pembentukan citra diri mulai terjadi, menjadi masa yang sangat penting bagi pertumbuhan seseorang sebelum memasuki masa dewasa tengah. Kaum muda kemudian menjadi rentan terhadap masuknya nilai-nilai baru.
Permasalahan narkotika merupakan masalah nasional dan internasional, karena penyalahgunaannya akan berdampak negatif terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hal yang dirasakan di Indonesia dimana hampir setiap hari peredaran narkotika dan penyalahgunaannya, mulai dari tertangkapnya pengedar ataupun ditemukannya pabrik-pabrik narkotika hingga berita generasi muda yang tewas karena mengkonsumsi narkotika, tiada henti-hentinya diberitakan di media cetak maupun media elektronik. Terungkapnya pabrik-pabrik narkotika di berbagai daerah di Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya sebagai konsumen narkotika tetapi sudah sebagai produsen narkotika.
Memperhatikan hal-hal di atas tampaknya besar kemungkinan, bahwa para bandar narkotika yang beroperasi di negara kita merupakan kepanjangan dan binaan dari jaringan organisasi-organisasi kejahatan internasional. Sebagaimana yang diakui oleh beberapa pejabat Kepolisian Republik Indonesia (POLRI), bahwa salah satu sebab kejahatan yang bertalian dengan peredaran narkotika ini agak sulit diberantas, karena kejahatan ini memiliki jaringan internasional yang bersifat tertutup dan ekslusif. (O.C Kaligis, 2002:273). Karena kenyataan yang demikian itulah,
maka setiap gangguan keamanan, utamanya yang merupakan suatu tindak pidana, harus ditanggulangi dengan sekuat tenaga dan sedini mungkin.
Komitmen negara-negara anggota ASEAN yang telah dideklarasikan bahwa ASEAN Bebas Barkoba Tahun 2015 yang merupakan issue global, regional harus disikapi secara serius untuk mewujudkannya. Hal ini didukung pula oleh Badan Narkotika Nasional dalam penanganan permasalahan narkotika yaitu terwujudnya masyarakat Indonesia bebas penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, narkotika dan bahan adiktif lainnya. (BNN, 2007).
Berdasarkan hasil kajian BNK Yogyakarta tahun 2009, penyalahgunaan narkotika oleh para remaja Kota Yogyakarta umumnya adalah penyalahgunaan narkotika Golongan I Jenis Ekstasi. Peredaran ekstasi begitu merajalela, mulai dari bandar narkotika, penyalur, hingga pendistribusian pada para remaja dan mahasiswa. Peredaran ekstasi ini begitu dahsyat sehingga berbagai tindakan perlu terus dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah dan memberantas penyalahgunaan ekstasi ini yang timbul dalam masyarakat remaja Kota Yogyakarta. Sehubungan dengan itu, penulis berkeinginan untuk menyusun karya ilmiah berbentuk skripsi dengan judul:
Penyalahgunaan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi di Kalangan Remaja Kota Yogyakarta.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang memeperlihatkan adanya peredaran ekstasi di kalangan remaja Kota Yogyakarta dan cenderung disalahgunakan sehingga berdampak negatif bagi kehidupan remaja tersebut maka penelitian ini dipandang perlu dilakukan untuk mengetahui:
1. Bagaimanakah proses penyalahgunaan narkotika golongan 1 jenis ekastasi yang dilakukan oleh kalangan remaja Kota Yogyakarta?
2. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi penyalahgunaan narkotika golongan 1 jenis ekastasi yang dilakukan oleh kalangan remaja Kota Yogyakarta?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk memberikan pemahaman dan pencerahan masalah narkotika mengenai proses peredaran narkotika golongan 1 jenis ekstasi dari sumber (bandar narkotika) hingga pengguna (kalangan remaja Kota Yogyakarta).
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penyalahgunaan narkotika golongan 1 jenis ekstasi yang dilakukan oleh kalangan remaja Kota Yogyakarta.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki manfaat sebagai berikut:
1. Menjadi bahan masukan bagi pihak-pihak terkait dengan permasalahan remaja termasuk sekolah atau kampus dimana tempat remaja tersebut mengecap ilmu pendidikan agar memperoleh informasi yang benar tentang betapa berbahayanya penyalahgunaan narkotika golongan 1 jenis ekstasi bagi kesehatan kehidupan para remaja Kota Yogyakarta.
2. Menjadi bahan informasi guna pencegahan sedini mungkin dampak negatif narkotika golongan 1 jenis ekstasi agar tidak disalahgunakan oleh kalangan remaja Kota Yogyakarta.
3. Menjadi bahan acuan dan referensi bagi penelitian berikutnya agar dihasilkan informasi yang lebih rinci dan lebih akurat.
7 2.1 Kerangka Teori
1. Definisi Remaja
Istilah adolescence atau remaja berasal dari bahasa latin adolescere yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa”. Masa remaja dipandang oleh bangsa primitif sebagai masa yang tidak berbeda dengan periode–periode lain dalam rentang kehidupan. Jika sudah mampu mengadakan reproduksi, maka diartikan atau dianggap sudah dewasa (Ali, Mohammad, Asrori, Mohammad. 2006:9). Akan tetapi adolescence mempunyai arti yang lebih luas, seperti yang dikatakan oleh piaget dalam Hurlock (2006:206)
Secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak….integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek afektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber….Termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok….Transformasi intelektual yang khas dari cara berfikir remaja ini memungkinkannya untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang kenyataannya merupakan ciri khas yang umum dari periode perkembangan ini.
Lebih lanjut Agoes Dariyo (2004:13-14) mengatakan bahwa
“remaja adalah masa transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa yang ditandai oleh adanya perubahan aspek fisik, psikis dan psikososial. Secara kronologis yang tergolong remaja ini berkisar antara 12/13-21 tahun”.
Berdasarkan rumusan diatas, masa remaja dapat didefinisikan sebagai masa dimana individu telah matang secara fisik, psikis, emosi dan sosial.
Tugas perkembangan remaja menurut Hurlock (2006:10) adalah:
a. Mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita.
b. Mencapai peran sosial pria, dan wanita
c. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif d. Mengharapkan dan mencapai perilaku social yang bertanggung jawab.
e. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya.
f. Mempersiapkan karir ekonomi
g. Mempersiapkan perkawinan edan keluarga
h. Memperoleh perangkat nilai dan system etis sebagai pegangan untuk berperilaku mengembangkan ideologi.
Ahli lain, Carballo dalam Wirawan Sarwono, Sarlito (2005:15-16) menerangkan bahwa tugas perkembangan remaja yaitu:
a. Menerima dan mengintegrasikan pertumbuhan badannya dalam kepribadiannya.
b. Melakukan peran dan fungsi seksualnya yang adekuat dalam kebudayaan tempatnya berada.
c. Mencapai kedewasaan dengan kemandirian, kepercayaan diri, dan kemampuan untuk menghadapi kehidupan.
d. Mencapai posisi yang diterima oleh masyarakat.
e. Mengembangkan hati nurani, tanggung jawab, moralitas, dan nilai- nilai yang sesuai dengan lingkungan dan kebudayaan
f. Memecahkan problem-problem nyata dalam pengalaman sendiri dalam kaitannya dengan lingkungan.
Karakteristik remaja secara umum menurut Hurlock (2006:207- 209) yaitu:
a. Masa remaja sebagai periode yang penting.
Masa remaja adalah periode yang sangat penting. Karena dalam periode ini, akan mepengaruhi perkembangan dimasa selanjutnya.
Baik secara fisik maupun psikologis. Masa remaja memang cukup berbeda kadar pentingnya dengan periode-periode yang lain. Bagi periode lain, ada satu periode yang lebih penting dari periode yang lain. Sedangkan di periode remaja, semuanya penting. Baik fisik maupun psikis. Perkembangan fisik yang cepat dan penting disertai dengan cepatnya perkembangan mental yang cepat, terutama pada awal masa remaja. Semua perkembangan itu menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan perlunya membentuk sikap, nilai dan minat baru.
b. Masa remaja sebagai periode peralihan
Masa ini, adalah masa peralihan dari anak-anak menjadi dewasa. Apa yang telah terjadi pada masa sebelum remaja, akan memberikan pengaruh dalam sikap dan pola perilaku. Remaja juga dituntut untuk
mempelajari pola perilaku yang baru dan paling sesuai untuk menggantikan pola perilaku yang hilang.
c. Masa remaja sebagai periode perubahan Ada lima perubahan dalam masa ini:
1) Meningginya emosi, yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikologis yang terjadi. Karena perubahan emosi biasanya terjadi lebih cepat selama masa awal remaja, maka meningginya emosi lebih menonjol pada masa awal periode akhir masa remaja.
2) Perubahan tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok social untuk dipesankan, menimbulkan masalah baru.
3) Dengan berubahnya minat dan pola perilaku, maka nilai-nilai juga berubah. Apa yang pada masa kanak-kanak dianggap penting, sekarang setelah hampir dewasa hal itu tidaklah penting lagi.
4) Sebagian remaja bersikap ambivalen terhadap setiap perubahan.
Mereka menginginkan dan menuntut kebebasan, akan tetapi mereka sering takut untuk bertanggung jawab akan akibatnya dan meragukan kemampuan mereka dalam hal mengatasi masalah tersebut.
d. Masa remaja sebagai usia bermasalah
Pada masa ini remaja berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri karena ia merasa sudah mandiri. Namun dilain pihak, remaja belum berpengalaman dalam mengatasi masalah; karena selama ini (baca:
masa kanak-kanak) yang menyelesaikan maslah adalah orang tua dan guru. Sehingga mereka merasa kesulitan atau menganggap sebagai masalah yang berat.
e. Masa remaja sebagai masa mencari identitas
Pada akhir masa kanak-kanak atau usia geng, mereka selalu menampilkan perilaku dan sikap yang sama dengan teman-temannya.
Penyesuaian diri dengan standart kelompok adalah lebih penting daripada individualitas. Akan tetapi pada masa remaja, penyesuaian diri terhadap standart kelompok mulai turun. Mereka mulai mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi menjadi sama dengan teman-temannya dalam segala hal. Salah satu cara yang dilakukan oleh remaja untuk menjadi individu adalah dengan menggunakan simbol.
f. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan
Stereotip remaja yang popular memberikan gambaran atau anggapan bahwa remaja adalah anak yang tidak rapih, susah diatur, berperilaku merusak, dan stereotip lain yang cenderung negatif. Hal ini membuat remaja menjalani peralihan untuk menjadi individu yang dewasa dirasa sulit. Akhirnya situasi semacam ini membuat jarak hubungan remaja dengan orang tua. Demikian halnya dalam meminta bantuan.
Remaja menjadi enggan untuk meminta bantuan dari orang tua.
g. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik
Pada masa ini remaja memandang dirinya dengan yang ia idamkan, dan tak jarang sangat berlebihan serta tidak sesuai dengan kenyataan.
Begitu pula dalam hal cita-cita. Sehingga dalam masa ini remaja sangat emosionil. Semakin tidak realistisnya cita-cita, semakin emosionallah remaja tersebut apabila apa yang ia inginkan gagal.
Remaja juga memandang periode inilah peride yang paling membahagiakan dan masa paling bebas bila dibandingkan masa dewasa atau yang lainnya.
h. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa
Remaja mulai gelisah untuk meninggalkan stereotip belasan tahun yang selama ini meloekat. Mereka ingin memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa. Sehingga tidak jarang remaja menghubungkan status kedewasaan dengan merokok, minum- minuman keras, memakai narkotika atau terlibat hubungan seks.
Mereka menganggap perilaku tersebut dapat memberikan citra orang yang telah dewasa.
Menghadapi dunia kerja yang kompleks, dengan tugas yang sangat khusus, banyak anak muda yang telah melampaui masa remaja menghabiskan periode waktu yang panjang dalam institut teknik, universitas, dan pusat pendidikan pasca sarjana untuk memperoleh kemampuan khusus, pengalaman pendidikan, dan pelatihan profesional (Santrock, 2002).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988), hedonis adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan hidup adalah tujuan utama. Dalam sebuah artikel di internet, Hanik Rasyidah mendefinisikan hedonis sebagai gaya hidup yang berorientasi bahwa kita harus menikmati apa yang ada di dunia ini dengan sepuas- puasnya (kultur budaya materiil). Sedangkan pengertian gaya hidup hedonis menurut Susianto (1993) adalah pola hidup yang mengarahkan aktivitasnya untuk mencari kesenangan hidup seperti lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah, lebih banyak bermain, senang pada keramaian kota, senang membeli barang-barang mahal untuk memenuhi kesenangannya, dan selalu ingin menjadi pusat perhatian.
Akan dianggap bodoh apabila kita tidak bisa memanfaatkannya sesuai dengan keinginan kita. Gambaran mengenai gaya hidup hedonis remaja adalah sering bepergian, senang berkumpul dengan teman-teman, dan hura-hura. Ciri lainnya adalah biasanya dilakukan berkelompok.
Masih menurut Susianto (1993), ciri remaja yang melakukan kegiatan hedonis adalah remaja yang selalu menyelesaikan masalah bila mengalami kesulitan dengan keluar rumah yaitu dengan cara bermain.
Karakteristik lain dari individu yang memiliki gaya hidup hedonis adalah cenderung impulsif, lebih irasional, cenderung follower, dan mudah dibujuk secara emosional. Atribut-atribut gaya hidup hedonis ditunjukkan dengan lebih senang mengisi waktu luang dan penyalahgunaan narkotika.
2. Asosiasi Sosial pada Remaja
Kehidupan sehari-hari remaja tidak dapat dipisahkan dengan gaya hidup atau trend hidup masyarakat remaja dalam berinteraksi sesamanya.
Sebagaimana diungkapkan oleh George Simmel (Simmel, 1908/1959b:327-328) dalam Ritzer, G. dkk (2008:179) bahwa asosiasi (interaksi) sosial di kalangan remaja telah membentuk suatu pola atau tindakan sosial tertentu menurut level atau tingkatan tertentu. Para remaja saling kontak dan berkomunikasi, saling berpenampilan diri, saling mempengaruhi, dan saling menyampaikan kepentingan masing-masing.
Struktur sosial remaja mempunyai bentuk dan tipe tertentu dan juga saling mempengaruhi (Ritzer, G. dkk, 2008:180). Apabila diurai secara fakta sosial, bentuk dan tipe asosiasi sosial pada remaja dapat dipecah menjadi fakta sosial material dan non material. Baik secara sadar maupun tidak, kedua fakta tersebut muncul dalam kehidupan remaja sebagai perubahan dan dinamika di antara mereka. Fakta sosial material disebut juga sebagai kehidupan atau keasadaran hedonis, yaitu kehidupan yang selalu mengutamakan keduniawian harta-benda sebagai pengaruh lingkungan baik lokal maupun asing kehidupan Barat. Kegiatan “fantasi, perasaan, dan kesenangan” (immateriil) yang identik dengan “simbolik, hedonis, dan aestetis” (materiil). Bahkan Weber (dalam James S.
Coleman (2008:510-512) menyebutkan bahwa jika para remaja berupa organisasi sosial, maka organisasi tersebut tumbuh dan berkembang dengan sendirinya yang dipartisipasi oleh anggota-anggotanya. Manakah
yang mayoritas, maka itulah yang paling eksis dan paling berpengaruh membentuk pola dan tipe asosiasi sosial yang ada.
Durkheim (Ritzer, G dkk, 2008:83) mengatakan bahwa tidak semua kesadaran sosial mencapai eksternalisasi dan materialisasi. Hal ini menyiratkan bahwa para remaja terlalu sibuk dengan rasa ingin tahu, rasa penasaran, dan baying-bayangan kehidupan yang menurut mereka lebih memuaskan, padahal dalam kenyataannya belum tentu tercapai dan betul- betul memberi kesenangan. Karena fakta sosial nonmaterial sangat penting bagi Durkheim, maka beberapa fakta sosial nonmaterial seperti moralitas, kesadaran kolektif, representasi kolektif dan aliran sosial merupakan hal mendasar bagi remaja dalam menggapai kehidupan sehari- harinya.
3. Perilaku Konsumsi
Dalam berperilaku, manusia di pengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Sedemikian besar pengaruh kelompok terhadap perilaku individu. Perubahan sosial adalah sesuatu yang melibatkan kekuatan sosial (social power) oleh seseorang atau sekelompok orang untuk mengubah sikap maupun perilaku orang lain untuk sebuah tujuan tertentu. Sedangkan kekuatan sosial (social power) mengacu pada sebuah kekuatan yang tersedia bagi si pembawa pengaruh untuk merubah sikap atau perilaku (Franzoi, 2003).
Kaum remaja dengan status hidup tinggal bersama dengan orang tua ataupun tidak sama-sama memiliki kebutuhan yang sama. Dalam
usaha pemenuhan kebutuhan, kaum muda melakukan kegiatan ekonomi, yaitu kegiatan menghabiskan barang atau jasa. Sehubungan dengan hal ini, kaum muda selain sebagai pelajar ataupun pegawai, juga berstatus sebagai konsumen. Bagi para pemasar, pasar anak muda atau youth market menjadi segmen yang penting, tidak hanya karena menguntungkan, tetapi juga karena banyak pola konsumsi hidup dibentuk pada masa ini. Sebagai anggota dari komunitas yang berorientasi konsumsi, remaja cenderung menjadi peka terhadap hal-hal baru.
Kaum remaja menjalankan dua peran, yaitu sebagai anak muda dan konsumen. Kalangan muda ini menjadi target pemasaran produsen.
Segala sesuatu yang bersifat modern dan membawa prestis tertentu akan mudah diminati oleh remaja yang sedang berada dalam tahap pencarian diri. Disatu sisi, pemasar membutuhkan pasar besar untuk produknya.
Dan mereka gencar melakukannya dengan berbagai macam cara terutama melalui media seperti televisi, radio, majalah, internet, dan sebagainya.
Remaja sebagai bagian dari masyarakat Indonesia diharapkan dapat memiliki pola hidup yang produktif agar tidak mudah terjebak dalam arus globalisasi yang membawa pengaruh negatif seperti gaya hidup hedonis (materiil).
4. Narkoba dan Ekstasi
Narkoba merupakan singkatan dari kata Narkotika dan Obat berbahaya. Istilah Narkoba disebut juga dengan istilah NAPZA. NAPZA adalah singkatan dari Narkotika, Alkohol, Narkotika dan Zat Adiktif.
Narkotika didefinisikan sebagai zat atau obat yang berasal dari tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan (UU No. 35/2009 Tentang Narkotika Pasal 1 angka 1).
Menurut UU No. 35 Tahun 2009, Narkotika dibagi menjadi empat golongan yaitu: Golongan I contohnya MDMA, Psilosibina dan psilosina, LSD, Meskalina. Golongan I contohnya Amfetamina, Metakualon, Metilfenidat. Golongan II contohnya Amorbabital, Flunitrazepam, Katina. Golongan IV contohnya Barbital, Bromazepam, Diazepam, Estazolam, Fenobarbital, Klobazam, Lorazepam, Nitrazepam.
Zat Adiktif lainnya antara lain adalah nikotin dalam rokok, etanol dalam minuman beralkohol dan pelarut lain yang mudah menguap seperti aseton, benzin dan lain-lain.
MDMA (3,4-methylendioxymethamphetamine) merupakan nama kimia dari ekstasi, yang dikenal dengan berbagai nama, misalnya: X, E.
XTC, Adam, dll adalah sebuah sintesis obat psikoaktif (perubahan mental) yang menyebabkan terjadinya halusinasi dan efek seperti amphetamine. MDMA dapat menyebabkan kerusakan otak, dan sering disebut "designer drugs". Penggunaan MDMA sama halnya dengan mengunakan amphetamine dan cocaine, misal: masalah psikologi, kehilangan akal, depresi, masalah tidur, ketagihan obat, cemas, paranoid, ketegangan otot, gigi gemeretuk, pusing, penglihatan kabur, gerakan
mata cepat, lemah, panas dingin, berkeringat, penurunan denyut jantung, penurunan tekanan darah, beresiko untuk orang dengan penyakit sirkulasi pada jantung (NIDA notes, 1997).
Ekstasi bukan bahan murni, berasal dari methamphetamine dan amphetamine. Pada penggunaan sehari-harinya, obat ini masih dicampurkan lagi dengan zat-zat lainnya. Zat tersebut cukup mudah diserap oleh usus, sehingga cukup dikemas dalam bentuk pil. Dengan demikian ekstasi tidak meninggalkan bekas seperti penggunaan obat lainnya melalui suntikan. Karena segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan manusia diatur oleh sistem saraf pusat yakni otak, maka obat- obatan pun harus masuk ke sistem saraf pusat. Atas dasar barier yang ada rnaka tidak sernua jenis obat bisa masuk ke lokasi system saraf pusat dan mempengaruhi jalan pikiran kita. Lain halnya dengan mekanisme aksi dari amphetamine adalah berpindahnya transmitter dari akson terminal dengan system adrenergic yang mempunyai efek sympathomimetic yang berhubungan dengan system saraf pusat yang berpengaruh terhadap jalan pikiran (Poerwodhiredjo, 1987).
Berbeda dengan obat narkotik lainnya, jenis ekstasi murni tidak menyebabkan ketergantungan psikis saja. Pecandu ekstasi biasanya merasa ketagihan untuk lebih banyak dan sering menggunakannya untuk kenikmatan (Sukarni, 1996).
Ekstasi yang juga dikenai sebagai "designer drug", selalu diasurnsikan dengan pesta-pesta" raves "; pesta underground pada tiap
malam dengan rnusik tekno dan penggunaan obat secara terus rnenerus.
Nama pergaulan dari “designer drug” bervariasi sesuai dengan waktu, tempat, penghasil/pembuat dan nama- nama tersebut berubah terus menerus. "designer drug” pernah dibuat di Laboratorium Klandestin dan dapat menjadi benar-benar berbahaya (NIDA notes, 1997).
Ekstasi memberikan perasaan percaya diri, seseorang pemalu di tempat dansa akan mampu berdansa dengan orang lain sesudah beberapa jam menelan ekstasi. Bisa juga dikatakan ekstasi adalah penghilang rasa takut. Pengguna obat akan merasakan perasaan segar bugar dan rasa gembira yang luar biasa. Dalam situasi tersebut penderita seolah-olah bisa mendengar irama musik dan menikrnati betapa indahnya musik tersebut. Pengaruh negatifnya menurut penelitian ahli medis di Belanda jika minum ekstasi orang lupa akan kenyataan bahwa energi yang dikeluarkannya itu sangat besar karena euphoria (kesukaan yang berlebihan), maka cairan tubuh makin lama makin berkurang yang mengakibatkan panas tubuh meningkat. Karena itu sering jatuh korban bukan karena ekstasinya namun karena orang lupa minum sehingga terjadi kekurangan cairan atau dehidrasi (Henry, 1992).
Efek akut yang ditimbulkan dari ekstasi pada dosis bebas adalah takhikardia, muiut kering, clenching pada rahang, sakit pada otot. Sedang pada dosis tinggi efeknya adalah halusinasi, agitation (keingrnan untuk bergerak terus), hypertemia (peningkatan suhu tubuh) dan setelah efek obat rnenghilang dapat terjadi serangan panic (Verebey,1998).
Amphetamine dan derivatnya yang bekerja pada daerah pertemuan adrenergic neuro-efector, digunakan sebagai obat perangsang atau penurun nafsu rnakan yang dapat mengurangi sekresi saliva, sehingga menyebabkan mulut menjadi kering (Gayford dan Haskell, 1990).
Mekanisme kerja dari ekstasi dapat dijabarkan sebagai berikut:
ekstasi diminum dalam bentuk tablet memasuki membran sel didistribusikan kedalam cairan tubuh dan menembus dinding sirkulasi darah, kemudian masuk ke dalam barrier otak dengan sistem transport aktif (zar-zat didalam obat bergerak dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi) melewati sistem saraf pusat masuk kedalam saraf otonom yaitu saraf sympatis dengan menggunakan mediator NE (norepinefrin) sehingga terjadi peningkatan transmisi adrenergic, kemudian melepaskan kembali NE dan bersama-sama dengan reseptor α2
sehingga terjadi efek yang dapat rnenyebabkan terganggunya saraf sympatik yang di sebut efek sympatomimetik. Efek sympatomimetik ini dapat rnenyebabkan terhadap keluarnya saliva kelenjar parotis (Poerwodhiredjo, 1987).
5. Penyalahgunaan Narkotika
Penyalahgunaan adalah proses, cara, perbuatan menyalahgunakan.
Sedangkan menyalahgunakan adalah melakukan sesuatu tidak sebagaimana mestinya, menyelewengkan (Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1988:983). Yang dimaksud dengan penyalahgunaan
narkotika dan jenis obat-obatan berbahaya lainnya ialah: (Djoko Prakoso, 2004:489)
a. Secara terus menerus /berkesinambungan b. Sekali-kali atau kadang-kadang
c. Secara berlebihan
d. Tidak menurut petunjuk dokter atau non medik.
Dalam Pasal 1 ayat (14) Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 Tentang Narkotika, “Penyalahgunaan adalah orang yang menggunakan narkotika tanpa sepengetahuan dan pengawasan dokter”. Dari isi pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan di luar sepengetahuan dan pengawasan dokter dianggap sebagai penyalahgunaan yang dapat dikategorikan sebagai perbuatan pidana.
Penyalahgunaan pemakaian narkotika dapat berakibat fatal dan menyebabkan yang bersangkutan menjadi tergantung pada narkotika.
Dengan demikian pecandu tersebut akan berusaha memperoleh obat atau zat dengan cara apapun, bahkan mungkin melakukan perbuatan tindak pidana misal pencurian, penipuan dan sebagainya. (Sudarto, 1986:42).
Oleh karena itu tidaklah mustahil kalau penyalahgunaan narkotika adalah merupakan salah satu sarana dalam rangka kegiatan subversi.
Kita lihat bahwa zaman modern ini hampir seluruh dunia termasuk Indonesia telah dilanda oleh berbahaya penyalahgunaan narkotika dan jenis-jenis obat berbahaya lainnya dan dari fakta-fakta yang ada yang menunjukkan adanya kecenderungan setiap harinya penyalahgunaan
narkotika mengalami peningkatan, lebih kurang 70 persen morphinis yang dirawat di Rumah Sakit Fatmawati Jakarta adalah pelajar SLTP dan SLTA. (Sudarto, 1986:42)
Ketergantungan narkotika adalah gejala dorongan untuk menggunakan narkotika secara terus-menerus, toleransi dan gejala putus narkotika apabila penggunaan dihentikan.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa penyalahgunaan narkotika disamping dapat menghancurkan diri sendiri (individu yang bersangkutan) juga dapat merugikan masyarakat, pengaruh negatif akibat penyalahgunaan narkotika dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Pengaruh negatif bagi diri sendiri (individu) (Soedjono D, 1985:50-52)
1) Euphoria yaitu suatu rangsangan kegembiraan yang tidak sesuai kenyataan dengan kondisi badan si pemakai (biasanya efek ini masalah dalam penggunaan narkotika dalam dosis yang tidak begitu banyak).
2) Dellirium, suatu keadaan dimana pemakai narkotika mengalami penurunan kesadaran dan timbul kegelisahan yang dapat menimbulkan gangguan terhadap gerakan anggota tubuh si pemakai (pemakaian dosis lebih banyak dari pada keadaan euphoria).
3) Hallusinasi, suatu keadaan dimana si pemakai narkotika mengalami khayalan misalnya melihat atau mendengar yang tidak ada pada kenyataan
4) Weakness, si pemakai mengalami kelemahan secara fisik maupun psikis
5) Drowsiness, kesadaran si pemakai merosot seperti orang mabuk 6) Coma, keadaan si pemakai narkotika sampai pada puncak
kemerosotan yang akhirnya dapat mengakibatkan kematian.
b. Pengaruh negatif bagi masyarakat 1) Kemerosotan moral
2) Meningkatnya kecelakaan 3) Meningkatnya Kriminalitas
4) Pertumbuhan dan perkembangan generasi terhenti.
Menurut Graham Blaine (dalam Soedjono, 1985:69-70) berdasarkan hasil penelitiannya mengemukakan bahwa seorang remaja biasanya mempergunakan narkotika dengan beberapa sebab antara lain:
a. Untuk membuktikan keberanian dalam melakukan tindakan-tindakan yang berbahaya seperti ngebut, berkelahi, bergaul dengan wanita dan lain-lain.
b. Untuk menunjukkan tindakan menentang otoritas terhadap orang tua atau guru atau norma-norma sosial.
c. Untuk mempermudah penyaluran dan perbuatan sex
d. Untuk melepaskan diri dari kesepian dan memperoleh pengalaman- pengalaman emosional.
e. Untuk mencari dan menemukan arti dari pada hidup.
f. Untuk mengisi kekosongan dan kesepian/kebosanan.
g. Untuk menghilangkan kegelisahan, frustasi dan ketepatan hidup.
h. Untuk mengikuti kemauan kawan-kawan dalam rangka membina solidaritas.
i. Hanya iseng-iseng atau didorong oleh rasa ingin tahu)
Djoko Prakoso menyatakan bahwa sebab-sebab para remaja menyalahgunakan narkotika dan yang banyak terjadi adalah
a. Ingin mencoba
b. Pengaruh teman-temannya c. Untuk mencari ketenangan jiwa.
Disamping itu alasan seseorang mulai atau meneruskan pemakaian Narkotika diantaranya:
a. Karena didorong oleh rasa ingin tahu dan iseng b. Agar supaya diterima dikalangan tertentu
c. Untuk melepaskan diri dari kesepian dan memperoleh pengalaman- pengalaman emosional
d. Untuk mengisi kekosongan dan perasaan bosan karena kurang kesibukan
e. Untuk menghilangkan rasa frustasi dan kegelisahan disebabkan suatu problema yang tidak bisa diatasi dan jalan pikiran yang buntu
f. Untuk menentang atau melawan sesuatu otoritas (orang tua, guru, hukum)
Sedangkan faktor utama yang mempengaruhi penyalahgunaan narkotika adalah:
a. Pemakaian untuk tujuan coba-coba. Mencoba obat sekali atau beberapa kali setelah itu menghentikan sama sekali.
b. Pemakaian untuk iseng yaitu pemakaian obat secara terputus-putus tanpa menimbulkan ketergantungan baik secara kejiwaan/jasmaniah c. Pemakaian karena ketergantungan yaitu untuk memperoleh kembali
pengaruh obat yang bersangkutan atau untuk menyembuhkan rentetan gangguan jasmaniah karena komplek gejala akibat pantang (Djoko Prakoso, 2004:490-493)
Menurut Lambertus Somar (2001:63-66), faktor-faktor negatif dalam diri seseorang terpancing narkoba diantaranya:
a. Faktor-faktor resiko tinggi, misalnya gampang stress, gampang salah kaprah, gampang tegang/berubah, tak tahu menjaga kesehatan, sakit- sakitan, tidak puas dengan program penanganan rehabilitasi diri.
b. Kejadian-kejadian pemicu, misal pikiran pemicu stress, perasaan yang paling menyakitkan, situsi penuh stress, hubungan sesama mengesalkan,dsb.
c. Kemacetan-kemacetan internal, sukar berpikir jernih, sukar mengendalikan perasaan, sukar mengingat-ingat, sukar tidur nyeyak,
sukar mengendalikan stress, sukar mengendalikan fisik, rasa malu, bersalah dan tak berdaya, kembali menolak diri sendiri.
d. Kemacetan-kemacetan eksternal, misal sikap mengelak dan membela diri, sikap menimbun masalah-masalah, rasa tertekan, dan mulai hilang semangat, bingung dan bereaksi secara berlebih, depresi.
e. Lepas kontrol/kendali, misal tak mampu membuat pertimbangan- pertimbangan yang logis dan sehat, tak mampu menentang dorongan yang merugikan diri sendiri, kesadaran keterpurukan namun tak berdaya apapun lagi, tanpa gairah apapun sambil diresapi kekhawatiran yang melumpuhkan, hancur secara emosional bahkan secara fisik karena ketegangan oleh paksaan atas diri yang berlebihan f. Perasaan pada pertama pakai ataupun pada pakai lagi/kambuh
misalnya narkoba sebagai penyelamat akhir, rasa malu, sedih sesal yang sangat mendalam, lepas kembali dan harus pakai, masalah dan kesulitan pribadi yang semakin menggunung.
Selain masalah-masalah kepribadian juga masalah lingkungan menjadi pemicu diantaranya:
a. Masuk kedalam kelompok yang rentan /terlibat narkoba b. Hidup dalam lingkungan peredaran/penyalahgunaan narkoba
c. Diusir dari keluarga/hidup sebatangkara tanpa keluarga, sehingga sesudah terjaring mafia narkoba tergiur
d. Terpancing informasi-informasi tendensius jaringan mafia napza
2.2 Kerangka Konseptual
Untuk menjalani kehidupan sehari-hari manusia mengadakan interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Interaksi sosial dimaksudkan sebagai pengaruh timbal balik antara individu dengan golongan didalam usaha mereka untuk memecahkan persoalan yang dihadapinya dan didalam usaha mereka untuk mencapai tujuannya.
Dalam berperilaku, manusia di pengaruhi oleh lingkungan sekitarnya.
Sedemikian besar pengaruh kelompok terhadap perilaku individu. Masa remaja adalah periode transisi ketika individu berubah secara fisik dan psikologis dari anak menjadi dewasa. Gambaran mengenai gaya hidup hedonis remaja adalah sering bepergian, senang berkumpul dengan teman- teman, dan hura-hura. Ciri lainnya adalah biasanya dilakukan berkelompok.
Karakteristik lain dari individu yang memiliki gaya hidup hedonis adalah cenderung impulsif, lebih irasional, cenderung follower, dan mudah dibujuk secara emosional. Atribut-atribut gaya hidup hedonis ditunjukkan dengan lebih senang mengisi waktu luang dan menyalahgunakan narkoba.
Manusia, termasuk didalamnya kaum remaja, berperilaku didasarkan pada motif-motif tertentu. Bila motif ini dapat dipahami, maka hal ini akan memungkinkan untuk mengetahui, bahkan memprediksi perilaku. Motif yang didasarkan atas rasionalitas bersifat objektif menekankan pada
kegunaan. Sedangkan motif yang didasari rasa emosional lebih bersifat subjektif, dan kurang memperhatikan proses informasi dalam mendapatkan produk.
Narkoba didefinisikan sebagai zat atau obat yang berasal dari tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Narkotika didefinisikan sebagai zat atau obat baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku. Ekstasi adalah salah satu contoh Narkoba Golongan I yang merupakan sintesis obat psikoaktif (perubahan mental) yang menyebabkan terjadinya halusinasi dan efek seperti amphetamine dapat menyebabkan kerusakan otak, masalah psikologi, kehilangan akal, depresi, masalah tidur, ketagihan obat, cemas, paranoid, ketegangan otot, gigi gemeretuk, pusing, penglihatan kabur, gerakan mata cepat, lemah, panas dingin, berkeringat, penurunan denyut jantung, penurunan tekanan darah, beresiko untuk orang dengan penyakit sirkulasi pada jantung.
Penyalahgunaan pemakaian narkotika dapat berakibat fatal dan menyebabkan yang bersangkutan menjadi tergantung pada narkotika.
Dengan demikian pecandu tersebut akan berusaha memperoleh obat atau zat dengan cara apapun, bahkan mungkin melakukan perbuatan tindak pidana misal pencurian, penipuan dan sebagainya. Sebab-sebab para remaja
menyalahgunakan narkotika dan yang banyak terjadi adalah ingin mencoba, pengaruh teman-temannya, dan untuk mencari ketenangan jiwa.
Gambar 1. Skema Kerangka Konseptual
Seperti terlihat pada Gambar 1 di atas bahwa Penyalahgunaan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi oleh Remaja Kota Yogyakarta pada dasarnya ditimbulkan oleh beredarnya narkoba dari bandar hingga ke kalangan remaja sebagai dampak dari interaksi sosial gaya hidup hedonis di antara mereka.
Interaksi Sosial Kehidupan
Remaja Yogyakarta
Peredaran Narkotika di kalangan
Remaja
Penyalahgunaan Narkotika Golongan I Jenis
Ekstasi
30
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif yaitu pengamatan, wawancara, atau penelaahan dokumen. Metode kualitatif ini digunakan karena beberapa pertimbangan. Pertama, menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan jamak. Kedua, metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden. Ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama terhadap pola-pola nilai yang di hadapi (Surachmad W, 2002).
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Kualitas dari suatu penelitian tidak tergantung oleh luas tidaknya masalah dan besar kecilnya populasi, tetapi ditentukan oleh ketajaman peneliti di dalam menganalisa data atau permasalahannya, sehingga perlu adanya suatu pembatasan tempat penelitian yang jelas. Dalam penelitian kualitatif memandang permasalahan yang ada secara menyeluruh dan terkait dengan yang lainnya. Tempat penelitian merupakan suatu lokasi dimana penelitian dilakukan untuk memperoleh data sesuai dengan permasalahan yang diajukan.
Tempat yang dipakai dalam melaksanakan penelitian ini adalah Kota Yogyakarta. Waktu penelitian ini kurang lebih 4 bulan, dari Januari sampai dengan April 2010.
3.2 Bentuk dan Strategi Penelitian
Dalam penelitian ini bentuk yang akan digunakan adalah bentuk penulisan diskriptif karena data yang dikumpulkan berupa kata-kata, kalimat, pencatatan dokumen maupun arsip yang tidak sekedar angka atau frekuensi.
Menurut Suharsimi Arikunto (2005:112) yang mengutip dari pendapat Bogdan dan Taylor. Penelitian kualitatif adalah sebagai berikut:
“metodologi kualitatif adalah prosedur yang menghasilkan data deskriptif berupa kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang diamati.”
Penelitian ini diperoleh dengan mempertimbangkan kesesuaian obyek dari studi, sehingga penggunaan metode penelitian mendalam agar sesuai dengan metode tersebut yaitu menggunakan metode deskriptif. Hal tersebut sesuai dengan pendapat dari Sugiyono (2007:139) bahwa penyelidikan deskriptif tertuju pada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang.
Karena banyak sekali ragam penyelidikan demikian metode penyelidikan deskriptif. Diantaranya ialah penyelidikan yang menuturkan, menganalisa, dan mengklasifikasi. Sehingga menurutnya metode deskriptif adalah menuturkan dan menafsirkan data yang ada, misalnya tentang situasi yang dialami, satu hubungan kegiatan, pandangan, sikap yang menampak, atau tentang satu proses yang sedang berlangsung pengaruh yang sedang bekerja, kelainan yang sedang muncul, kecenderungan yang menampak, pertentangan yang meruncing dan sebagainya.
Strategi penelitian yang digunakan adalah strategi penelitian tunggal terpancang. Mengenai model ini Sugiyono (2007:41-42) menjelaskan sebagai berikut: Walaupun dalam penelitian kualitatif adanya bentuk penelitian terpancang (embedded research) yaitu penelitian kualitatif yang sudah menentukan fokus penelitian berupa variabel utamanya yang akan dikaji berdasarkan tujuan dan minat penelitiannya sebelum peneliti ke lapangan studinya. Dalam proposal peneliti sudah menentukan terlebih dahulu focus daripada varabel tertentu. Akan tetapi dalam hal ini peneliti tetap tidak melepaskan variabel fokusnya (pilihannya) dari sifatnya yang holistic sehingga bagian-bagian yang diteliti tetap diusahakan pada posisi yang saling berkaitan dengan bagian-bagian dari konteks secara keseluruhan guna menemukan makna yang lengkap. Untuk itu maksud dari strategi tunggal terpancang dalam penelitian ini, dapat mengandung pengertian sebagai berikut: tunggal yang artinya hanya dalam satu lokasi yaitu di Kota Yogyakarta.
3.3 Sumber Data
Menurut Sugiyono (2007:50-54) menyatakan bahwa “sumber data dalam penelitian kualitatif dapatberupa manusia, peristiwa, atau aktivitas, tempat atau lokasi, benda, beragam gambar dan rekaman, dokumen atau arsip.” Pendapat lain tentang sumber data dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.” (Suharsimi Arikunto, 2005:140).
Berdasarkan pendapat di atas, peneliti menggunakan sumber data uyang berupa informan, tempat dan peristiwa serta arsip dan dokumen, lebih lanjut dijelaskan sebagai berikut:
a. Informan
Jenis sumber data ini dalam penelitian pada umumnya dikenal sebagai responden. Manusia sebagai sumber data perlu dipahami, bahwa mereka terdiri dari beragam individu dan memiliki beragam posisi. Oleh karena itu di dalam memilih siapa yang akan menjadi informan, peneliti wajib memahami posisi dengan beragam peran serta yang ada sehingga dapat diperoleh informasi pernyataan maupun kata-kata yang diperoleh dari informan yang disebut data primer atau sering disebut sebagai informan kunci (key informan).
Adapun informan dalam penelitian ini antara lain:
1) Kaur Bin Ops sat Narkoba Poltabes Kota Yogyakarta (1 orang) 2) Petugas BNN Cabang Yogyakarta (1 orang)
b. Tempat dan Peristiwa
Tempat sebagai obyek penelitian merupakan sumber data yang tidak dapat ditiggalkan, maka penelitian ini dilakukan di Kota Yogyakarta, maka layak untuk dikaji dan diteliti.
c. Dokumen
Sumber data yang kedua atau data sekunder dalam penelitian ini adalah dokumen. Dokumen di sini dapat berupa data monografi dan dokumen tentang penyalahgunaan narkoba oleh remaja Kota Yogyakarta, meliputi:
1) Peraturan-perudangan pusat dan peraturan daerah yang terkait permasalahan narkoba.
2) Dokumen laporan kasus pidana narkoba dari Kaur Bin Ops sat Narkoba Poltabes Kota Yogyakarta.
3) Dokumen laporan kasus penyalahgunaan narkoba dari Petugas BNN Cabang Yogyakarta
4) Dokumen laporan kasus penyalahgunaan narkoba dari Petugas Balai Besar POM
5) Dokumen laporan rehabilitasi narkoba dari Petugas RS Grasia Yogyakarta
3.4 Teknik Sampling
Dalam penelitian kualitatif sampel akan ditunjukkan oleh peneliti dengan mempertimbangkan bahwa sampel itu mengenai dengan masalah yang diteliti, jujur, dapat dipercaya dan datanya bersifat obyektif.
Sehingga dalam penelitian kualitatif, teknik cuplikan yang biasa digunakan adalah teknik cuplikan yang bersifat selektif dengan menggunakan pertimbangan berdasarkan konsep teoritis yang digunakan
dan keingintahuan pribadi peneliti. Oleh karena itu cuplikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling.
Menurut Goetz & Le Compte (dalam Suharsimi Arikunto, 2005:185):
“Purposive Sampling yaitu teknik mendapatkan sampel dengan memilih individu-individu yang dianggap mengetahui informasi dan masalahnya secara mendalam dan dapat dipercaya untuk menjadi sumber data.”
Jadi dalam metode ini beberapa objek penelitian dipilih, kemudian dari yang terpilih tersebut dijadikan sebagai sumber data yang akan membantu dalam mengungkap permaslahan yang telah dirumuskan. Dengan kata lain meode pengambilan sampel yang digunakan dengan teknik informan kunci (key informan) yaitu peneliti mengambil orang-ornag kunci untuk dijadikan sebagai sumber data.
Menurut Suharsimi Arikunto (2005:124) sampel memiliki fungsi yaitu:
a. Untuk menjaring sebanyak mungkin informasi dari berbagai sumber bangunan.
b. Menggali informasi yang akan menjadi dasar dari rancangan dan teori yang akan muncul.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Seperti yang dijelaskan di awal bahwa sumber data dalam penelitian kualitatif terdiri dari beragam jenis, bisa berupa orang, peristiwa dan tempat, benda serta dokumen atau arsip. Untuk memperoleh dan menyusun data
penelitian, penulis menggunakan teknik observasi, wawancara dan mencatat arsip dan dokumen.
a. Observasi
Menurut Sugiyono (2007:162) observasi atau pengamatan adalah
“cara yang sangat langsung untuk mengenal peristiwa atau gejala yang penting dalam suatu penyelidikan. Dalam penelitian ini digunakan observasi non partisipatif atau tidak berperan serta, dimana peneliti tidak terlibar langsung dalam kegiatan yang dilakukan oleh objek penelitian.
Peneliti dalam hal ini bermain di luar system.
Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (2005:64) bahwa observasi adalah “menggali data dari sumber data yang berupa peristiwa, tempat atau lokasi, dan benda, serta rekaman gambar”. Dalam penelitian teknik observasi yang digunakan adalah pengamatan langsung tanpa alat terhadap gejala peristiwa yang terjadi di lapangan dalam mengkaji serta mengungkap fenomena-fenomena yang ada hubungannya dengan penelitian secara nyata dan mendalam.
Dalam hal ini peneliti melakukan observasi di Kota Yogyakarta dengan jalan mengamati kegiatan remaja baik kegiatan sesama remaja maupun yang melibatkan remaja dengan pihak lain. Keberhasilan observasi ini akan sangat dipengaruhi oleh keterampilan memilih waktu dan tempat dilakukannya pengamatan, sehingga mereka tidak merasa terganggu, hal ini dapat memberikan gambaran yang sesungguhnya terjadi.
b. Wawancara
Wawancara merupakan suatu teknik untuk mendekati sumber informasi dengan cara Tanya jawab sepihak dikerjakan secara sitematis dan berdasarkan kepada tujuan penelitian. Sugiyono mengemukakan:
Wawancara di dalam penelitian kualitatif pada umumnya dilakukan dengan pertanyaan yang bersifat open-ended, dan mengarah pada kedalaman informasi, serta dilakukan dengan cara yang tidak formal terstruktur, guna menggali pandangan subyek yang diteliti tentang banyak hal yang sangat bermanfaat untuk menjadi dasar bagi penggalian informasinya secara lebih jauh dan mendalam. (Sugiyono, 2007:59).
Maka dari itu penelitian ini menggunakan teknik “wawancara mendalam” (indepth interviewing), karena dengan wawancara mendalam peneliti akan memperoleh data dari para informan, dengan maksud agar dapat mengungkap permasalahan yang diteliti melalui pertanyaan atau sikap, baik melalui nada bicara, mimik, ataupun sorot matanya. Dalam hal ini peneliti akan mengadakan wawancara dengan:
1) Kaur Bin Ops sat Narkoba Poltabes Kota Yogyakarta (1 orang) 2) Petugas BNN Cabang Yogyakarta (1 orang) c. Dokumen
Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai data yang dapat digunakan untuk menguji, menafsirkan, bahkan untuk meramalkan hal-hal yang aka terjadi pada masa yang akan datang.
Teknik dokumentasi dapat berupa arsip-arsip yang berupa catatan-catatan yang relevan serta benda-benda fisik lainnya.
Menurut Sugiyono (2007:54) yang berpendapat bahwa “dokumen dan arsip merupakan bahan tertulis yang bergayutan dengan suatu peristiwa atau aktivitas tertentu”.
Dalam penelitian ini dokumen yang digunakan dengan cara mempelajari hasil wawancara, peraturan yang diterapkan di Kota Yogyakarta, arsip-arsip ataupun dokumen lainnya yang relevan dengan permasalahan penelitian.
3.6 Validitas Data
Suatu penelitian untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh, maka validitasnya dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
a. Triangulasi
Pengertian triangulasi menurut Surachmad W. (2002:140) berpendapat bahwa “triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan datanya memenfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk pengecekan sebagai bahan pembanding terhadap data itu.”
Menurut Suharsimi Arikunto (2005:78-82) menyebutkan bahwa ada 4 (empat) macam triangulasi, yaitu:
1) Triangulasi Data, artinya data yang sama atau sejenis akan lebih mantap kebenarannya bila digali dari beberapa sumber data yang berbeda.
2) Triangulasi Metode, jenis triangulasi ini bisa dilakukan oleh seorang peneliti dengan mengumpulkan data sejenis tetapi dengan menggunakan teknik atau metode pengumpulan data yang berbeda.
3) Triangulasi Peneliti, hasil penelitian baik data atau simpulan mengenai bagian tertentu atau keseluruhannya bisa diuji validitasnya dari beberapa peneliti.
4) Triangulasi Teori, triangulasi ini dilakukan peneliti dengan menggunakan perspektif lebih dari satu teori dalam membahas permasalahan yang dikaji.
b. Informan Review
Dari laporan yang direview oleh informan khususnya hal-hal dalam kegiatan informan untuk mengetahui apakah yang diteliti merupakan sesuatu yang disetujui mereka atau tidak.
c. Memberi cek kekurangan yang ada sehingga dapat diperbaiki dan Disempurnakan
Pada penelitian ini kesahihan dari data yang diperoleh dengan menggunakan triangulasi data yaitu penelitian diambil dari berbagai sumber yang berbeda untuk menghasilkan data yang sejenis. Dengan demikian maka data yang satu dengan yang lainnya akan dapat saling melengkapi dan sekaligus mengujinya sehingga dalam hasil akhir nantinya data yang diperoleh mencerminkan suatu kenyataan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Adapun yang menjadi alas an untuk memilih triangulasi data adalah untuk menutup kemungkinan adanya kekurangan data dari salah satu sumber yang dapat dilengkapi dengan data dari sumber lain.
3.7 Analisis Data
Menurut Suharsimi Arikunto (2005:180) “analisis data adalah proses mengorganisasikan data kedalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar, sehingga dapat ditemukan tema dan tempat dirumuskan hipotesis kerja seperti disarankan oleh data”. Sedangkan menurut Sugiyono (2007:91) berpendapat bahwa “dalam proses analisis data terdapat 4 komponen utama yang harus dipahami oleh setiap peneliti kualitatif. Empat komponen utama tersebut adalah: pengumpulan data, reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi”.
a. Pengumpulan Data
Kegiatan ini digunakan untuk memperoleh informasi yang berupa kalimat-kalimat yang dikumpulkan melalui kegiatan observasi, wawancara, dan dokumen. Data yang diperoleh masih berupa data yang mentah yang tidak teratur, sehingga diperlukan analisis agar data menjadi teratur.
b. Reduksi Data
Merupakan suatu proses seleksi, pemfokusan penyederhanaan dan abstraksi dari field note (data mentah). Sugiyono (2007:92) berpendapat bahwa: “reduksi data adalah bagian dari proses analisis, yang
mempertegas, memperpendek, membuat focus, membuang hal-hal yang tidak penting dan mengatur data sedemikian rupa sehingga simpulan penelitian dapat dilakukan”.
c. Sajian Data
Merupakan rakitan dari organisasi informasi yang memungkinkan kesimpulan riset dapat dilakukan. Sajian data dapat berupa matriks, gambar atau skema, jaringan kerja kegiatan dan table. Semuanya dirakit secara teratur guna mempermudah pemahaman informasi.
d. Penarikan Kesimpulan
Kesimpulan akhir akan diperoleh bukan hanya sampai pada akhir pengumpulan sata, melainkan dibutuhkan suatu verifikasi yang berupa pengulangan dengan melihat kembali field note (data mentah) agar kesimpulan yang diambil lebih kuat dan bisa dipertanggungjawabkan.
Keempat komponen utama tersebut merupakan suatu rangkaian dalam proses analisis data yang satu dengan yang lain sehingga tidak dapat dipisahkan, dimana komponen yang satu merupakan langkah menuju komponen yang lainnya, sehingga dapat dikatakan bahwa dalam penelitian kualitatif tidak bisa mengambil salah satu komponen. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat dalam bagan berikut ini:
Gambar 3.2
Analisis Data Model Interaktif (Miles & Huberman, 1992:96)
3.8 Prosedur Penelitian
Kegiatan penelitian ini direncanakan melalui beberapa tahapan, yaitu:
persiapan, pengumpulan data, analisis data, dan penyusunan laporan penelitian (Sugiyono, 2007:187-190).
Untuk lebih jelasnya, masing-masing akan diuraikan sebagai berikut:
a. Persiapan
1) Mengurus perijinan penelitian
2) Menyusun proposal penelitian, pengembangan pedoman pengumpulan data dan menyusun jadwal kegiatan penelitian.
Pengumpulan data
Penyajian data
Reduksi data
Kesimpulan- kesimpulan:
Penarikan/Verifikasi
b. Pengumpulan Data
1) Mengumpulkan data di lokasi studi dengan melakukan observasi, wawancara mendalam, dan mencatat serta merekam dokumen.
2) Melakukan review dan pembahasan beragam data yang telah terkumpul.
3) Memilah dan mengatur data sesuai kebutuhan.
c. Analisis Data
1) Menentukan teknik analisa data yang tepat sesuai proposal penelitian.
2) Mengembangkan sajian data dengan analisis lanjut kemudian di- crosscheck-kan dengan temuan lapangan.
3) Setelah dapat data yang sesuai intensitas kebutuhan maka dilakukan proses verifikasi dan pengayaan dengan mengkonsultasikan dengan orang yang dianggap lebih ahli.
4) Setelah selesai, baru dibuat simpulan akhir sebagai temuan penelitian.
d. Penyusunan Pelaporan Penelitian 1) Penyusunan laporan awal.
2) Review laporan: pertemuan diadakan dengan mengundang kurang lebih 2 orang yang cukup memahami penelitian untuk mendiskusikan laporan yang telah disusun sementara.
3) Perbaikan laporan sesuai dengan rekomendasi hasil diskusi.
4) Penyusunan laporan akhir.
44
Hasil penelitian dan pembahasan ini berupa deskripsi tentang Penyalahgunaan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi di Kalangan Remaja Yogyakarta, serta upaya-upaya pihak terkait dalam mengatasi belum optimalnya pemberantasan peredaran dan penyalahgunaan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi di kalangan remaja Yogyakarta.
Setelah dilakukan perbandingan antara data hasil wawancara dengan data dokumentasi yang peneliti peroleh di POLRI/BNK Yogyakarta, maka pembahasan hasil penelitian tentang pemberantasan peredaran dan penyalahgunaan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi di kalangan remaja Yogyakarta adalah sebagai berikut:
4.1 Proses Penyalahgunaan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi di Kalangan Remaja Yogyakarta
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menempati peringkat kedua dalam Penyalahgunaan Narkoba dan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi dengan pengguna sebanyak 8.980 orang dari jumlah populasi usia 10-64 tahun sebanyak 2.537.100 jiwa. "Peringkat tersebut di bawah DKI Jakarta dengan jumlah Pengguna Narkoba dan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi sebanyak 286.494 orang dari jumlah penduduk 6.980.700 jiwa," kata Direktur Narkoba dari Polda DIY Kombes Pol Edi Purwanto pada dialog
publik upaya penanggulangan dan pencegahan penyalahgunaan Narkoba, di Yogyakarta. (TV One, 2 Desember 2009). la mengatakan, daerah di DIY yang rawan Penyalahgunaan Narkoba dan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi pada 2009 di antaranya Kabupaten Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta.
"Di Sleman daerah yang rawan terdapat di Kecamatan Depok, Mlati, Ngaglik dan Gamping, di Bantul yang rawan di Kecamatan Kasihan dan Banguntapan, serta di Kota Yogyakarta di Kecamatan Tegalrejo, Umbulharjo, dan Gondokusuman," katanya. Oleh karena itu, menurut Kombes Pol Edi Purwanto, Polda DIY akan berupaya keras agar posisi DIY turun dari peringkat sekarang. Upaya pencegahan dan penanggulangan yang dilakukan antara lain melalui pembinaan, penyuluhan kepada masyarakat, melakukan patroli di tempat rawan Penyalahgunaan Narkoba dan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi, dan melakukan razia di tempat hiburan. "Semua itu gencar dilakukan karena Penyalahgunaan Narkoba dan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi selain merusak dan mengancam generasi muda, juga menimbulkan masalah di bidang kesehatan yakni penyakit HIV/AIDS,"
katanya.
Kombes Pol Edi Purwanto mengatakan, data dari Dinas Kesehatan DIY tahun ini menunjukkan jumlah kasus HIV/AIDS di DIY meningkat dari 699 orang menjadi 839 orang, dan sebagian besar penderita penyakit itu adalah Narapidana dan Pekerja Seks Komersial (PSK). "Oleh karena itu, Polda DIY mengajak seluruh pengambil kebijakan yang terlibat dan elemen
masyarakat bekerja sama memberantas Penyalagunaan Narkoba dan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi di Indonesia pada umumnya dan DIY pada khususnya," katanya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Harian Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Nasional Antinarkotika (Granat) DIY Farishaidar mengatakan, Penyalahgunaan Narkoba dan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi telah menjadi persoalan serius di seluruh wilayah Indonesia. Tidak ada provinsi yang bebas dari persoalan Narkoba dan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi. Menurut Farishaidar, selama ini secara nasional kegiatan penanggulangan bagi pengguna Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi kurang efektif. Hal itu antara lain disebabkan masih sedikitnya jumlah pelayanan tempat rehabilitasi, baik medik maupun sosial, dan tidak adanya jalinan kerja sama dengan dunia industri. Faktor masih sedikitnya jumlah tempat rehabilitasi dalam skala nasional merupakan variabel hambatan yang cukup signifikan dalam upaya pemerintah di bidang penanggulangan. Mengingat jumlah penyalahguna Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi dari tahun ke tahun meningkat. "Oleh karena itu, menjadi kebutuhan mendesak untuk segera menggalakkan upaya penanggulangan yang efektif dalam rangka menurunkan jumlah pengguna Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi di Indonesia. Apalagi, pada 2015 sudah dicanangkan Indonesia bebas dari Narkoba," katanya.
Farishaidar juga mengatakan bahwa pada tahun 2008 ada 4 juta penderita narkoba di Indonesia. Sebagian besar mereka berusia 12–25 tahun.
Mereka mengalami ketergantungan untuk terus memakai Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi selama 4 tahun. Dalam perhitungan bisnis, apabila uang yang dibelanjakan untuk Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi mencapai Rp 300.000 perbulan maka peredaran Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi memiliki nilai bisnis yang sangat besar (Kedaulatan Rakyat, 22/12/09).
Hingga kini penyebaran Narkoba dan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi sudah hampir tak bisa dicegah. Mengingat hampir seluruh penduduk dunia dapat dengan mudah mendapat Narkoba dan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
Misalnya saja dari bandar Narkoba dan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi yang senang mencari mangsa didaerah sekolah, diskotik, tempat pelacuran, dan tempat-tempat perkumpulan genk.
Tentu saja hal ini bisa membuat para orang tua, ormas, pemerintah khawatir akan penyebaran Narkoba dan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi yang begitu merajalela. Upaya pemberantas Narkoba dan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi pun sudah sering dilakukan namun masih sedikit kemungkinan untuk menghindarkan narkoba dari kalangan remaja maupun dewasa, bahkan anak-anak usia SD dan SMP pun banyak yang terjerumus Penyalahgunaan Narkoba dan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi. Hingga saat ini upaya yang paling efektif untuk mencegah Penyalahgunaan Narkoba dan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi pada anak-anak yaitu dari pendidikan keluarga. Orang tua diharapkan dapat
mengawasi dan mendidik anaknya untuk selalu menjauhi Narkoba dan Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi.
Menurut Kaur Bin Ops Sat Narkoba Poltabes Yogyakarta IPTU Cherin, tindak pidana Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi ini dalam operasi kerjanya terdiri dari beberapa perangkat yang saling bertalian, yakni pihak yang meracik atau membuat Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi (produsen), pihak yang menyuplai Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi (bandar), pihak yang menjual Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi (pengedar). (Wawancara IPTU Cherin pada tanggal 15 Maret 2010 pukul 10.00 WIB, di Poltabes Yogyakarta).
Lebih lanjut, menurut IPTU Cherin, dalam hal pengedaran Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi pihak yang satu dengan pihak yang lain juga berhubungan, hal ini dapat dilihat dari transaksi atau pembelian Narkotika Golongan I Jenis Ekstasi yang terjadi antara pemakai/pembeli dengan pengedar itu sendiri. Namun dalam transaksinya antara pembeli dan pengedar pada saat sekarang ini telah banyak menggunakan cara modern misalnya: (Wawancara pada tanggal 15 Maret 2010 pukul 10.00 WIB, di Poltabes Yogyakarta)
a. Transaksi menggunakan transfer melalui ATM b. Melalui SMS dan lain-lain.
Sehingga dengan menggunakan metode seperti hal diatas akan menyulitkan untuk melacak lebih jauh disamping memiliki jaringan yang sangat luas dan pembeli dan pengedar merasa tidak saling mengenal.