1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan dunia industri di era globalisasi saat ini mengalami peningkatan yang cukup pesat, sehingga terjadi persaingan ketat antar perusahaan. Peningkatan persaingan dalam dunia industri mengharuskan perusahaan untuk meningkatkan kemampuan pengelolaannya dengan baik sehingga dapat memenangkan persaingan. Lingkungan perusahaan memiliki andil yang penting dalam perkembangan perusahaan, jika kondisi lingkungan perusahaan stabil maka dapat membantu perusahaan berkembang secara optimal (Agus & Bintoro, 2018). Pengelolaan lingkungan perusahaan dimulai dari pengelolaan internal yang baik, yaitu pada kegiatan produksi perusahaan.
Produksi menjadi bagian inti dari perusahaan yang cukup penting, hal tersebut dikarenakan proses penciptaan barang dan jasa dimulai dari kegiatan produksi. Perusahaan harus melakukan pengambilan keputusan yang baik sehingga dapat mengalokasikan sumber daya yang dimiliki dengan tujuan menjamin pelaksanaan kegiatan produksi. Menurut Heizer & Render,(2015) terdapat sepuluh keputusan dalam manajemen operasi. Perencanaan kapasitas produksi menjadi salah satu keputusan penting dalam kegiatan operasi. Hal tersebut dikarenakan kapasitas dapat menentukan permintaan yang dapat dipenuhi perusahaan serta pengalokasian fasilitas yang dimiliki dengan baik.
Perencanaan kapasitas menjadi penting dikarenakan kapasitas mempengaruhi biaya produksi yang harus dikeluarkan perusahaan. Keputusan kapasitas sering digunakan untuk menetapkan kebutuhan yang berhubungan dengan permodalan, sehingga terdapat biaya tetap yang jumlahnya cukup besar (Heizer & Render, 2015). Keputusan terkait kapasitas mempengaruhi biaya, sehingga kebutuhan kapasitas harus disesuaikan dengan permintaan agar dapat memperkecil biaya (Stevenson & Chuong, 2014). Perencanaan kapasitas yang baik dibuat dengan menyeimbangkan permintaan yang ada, sehingga kebutuhan kapasitas tidak mengalami kekurangan atau kelebihan.
Perencanaan dilakukan dengan memprediksi permintaan agar dapat menemukan solusi kegiatan operasi dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Perencanaan jangka menengah dilakukan untuk memenuhi prediksi serta memperkecil biaya yang dikeluarkan pada saat perencanaan. Perusahaan harus mengelola kebijakan untuk memenuhi permintaan dengan menyesuaikan nilai produksi, pengelolaan persediaan serta tenaga kerja.
Perencanaan jangka menengah disebut dengan perencanaan agregat (aggregate planning). Tujuan utama dari perencanaan agregat adalah untuk menentukan kombinasi yang optimal dari tingkat produksi, jumlah tenaga kerja, dan tingkat persediaan, sehingga nantinya dapat diperoleh biaya paling minim dalam rentang waktu perencanaan tertentu.
Beberapa faktor dalam perencanaan produksi dimulai dari penentuan penggunaan sistem produksi yang dipilih perusahaan. Pengelompokan perusahaan berdasarkan perencanaan produksi terbagi menjadi empat, yaitu
engginering to order, make to order, assemble to order, dan make to stock.Make to order (MTO) merupakan suatu sistem produksi yang dalam menjalankan proses produksinya berdasarkan pesanan permintaan yang diterima. Perencanaan produksi berdasarkan make to order biasanya mempunyai desain produk dan beberapa material yang ada dalam persediaan dari produk yang dibuat sebelumnya. Berbeda dengan make to stock (MTS), yang merupakan suatu sistem produksi yang dalam menjalankan proses produksinya didasarkan pada perkiraan atau peramalan. Kedua sistem produksi tersebut dapat digunakan bersama atau dipilih salah satu. Hal tersebut akan disesuaikan dengan kebijakan perusahaan yang digunakan.
Perusahaan harus dapat memprediksi permintaan pasar, baik perencanaan produksinya berdasarkan pesanan ataupun stock dikarenakan hal tersebut berhubungan dengan kapasitas. Perusahaan yang cukup rentan dalam pengelolaan kapasitas adalah industri kecil dan menengah. Pengelolaan usaha yang masih tradisional menjadi hambatan untuk merencanakan kapasitas dengan baik. Dilansir dari media Bisnis Tempo online (2019) menurut Kepala Sub Direktorat IKM Elektronika dan Telematika pada Kementrian Perindustrian (Kemenprin) permasalahan pada industri kecil adalah keterbatasan kemampuan digital marketing, produksi yang belum stabil, pengelolaan supply chain, serta pengelolaan data yang dapat meningkatkan efektif dan efisiensi bisnis. Produksi yang belum stabil dan pengelolaan persediaan mengakibatkan perusahaan belum mampu mengelola fasilitas
dengan baik sehingga perencanaan kapasitas tidak dapat dilakukan secara maksimal.
Industri kecil menengah yang memiliki perkembangan yang pesat adalah bisnis roti. Dipublikasikan pada media Industri Kontan online Hidayat, (2017), roti pada era saat ini menjadi urutan ketiga makanan pokok di Indonesia setelah nasi dan mie. Tahun 2020, target potensi pada bisnis roti dan kue mencapai Rp 20,5 triliun. Industri roti banyak dilakukan oleh pelaku UMKM tradisional sebesar 60%, produsen besar sebesar 20% dan 12%
lainnya adalah produsen roti artisan. Dapat diambil kesimpulan jika, industri roti didominasi oleh UMKM tradisional. Kabupaten Malang menjadi salah satu kota dengan perkembangan UMKM yang cukup pesat. Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah UMK di Kabupaten Malang sebanyak 256.571. Salah satu industri roti yang tergolong dalam industri menengah dengan karyawan berjumlah 20-99 orang adalah Udin Bakery.
Udin Bakery merupakan industri kecil menengah pada bidang kuliner dengan fokus usaha industri roti. Udin Bakery merupakan toko roti yang sudah berdiri sejak tahun 2010 dan sudah memiliki 31 karyawan. Perusahaan menghasilkan berbagai macam jenis roti dan cake. Aktivitas produksinya selama ini menggunakan sistem make to order atau pesanan. Selain dari pada itu, untuk menambah keuntungan Udin Bakery juga menambah stock produk untuk dijual kembali. Dapat disimpulkan bahwa produksinya selama ini untuk menggunakan make to order dan make to stock untuk display produk
perharinya. Strategi make to order dapat menjadi solusi bagi dunia industri, khususnya industri kecil untuk menangani masalah deadstock. Akan tetapi, dikarenakan perusahaan juga harus menyediakan stock untuk dijual kembali menyebabkan perusahaan mengalami kelebihan produk. Kelebihan produk terjadi dikarekan perusahaan belum mampu merencanakan kapasitas yang tepat untuk memenuhi permintaan berdasarkan pesanan dan untuk stock.
Berikut adalah data terkait jumlah yang di produksi dan jumlah permintaan aktual :
Tabel 1. 1 Jumlah Produksi
28 Feb-7 Mar 2022
Jenis Produk Jumlah (∑) Kerugian
Produk Tidak Terjual Roti 5
Rasa
Roti Sisir
Roti Bulat Kecil
Roti
Panjang Produksi Penjualan Selisih
28/02/2022 65 100 50 335 298 37 Rp184.000
01/03/2022 110 105 335 298 37 Rp198.500
02/03/2022 140 62 50 260 632 562 70 Rp345.000
03/03/2022 200 186 800 1306 1250 56 Rp268.000
04/03/2022 485 74 75 754 671 83 Rp401.500
05/03/2022 415 50 135 720 641 79 Rp382.000
06/03/2022 100 65 105 390 347 43 Rp187.000
07/03/2022 140 80 340 303 37 Rp177.500
Sumber : Udin Bakery (2022) diolah
Dapat dilihat dari tabel 1.1 dimana terdapat empat produk yang mewakili sebelas produk yang dihasilkan Udin Bakery. Jumlah produksi merupakan jumlah produksi yang berasal dari pesanan dan tambahan jumlah produksi berdasarkan kebijakan perusahaan. Selisih merupakan jumlah unit yang diproduksi dengan jumlah yang terjual. Dimana jumlah selisih terbesar pada tanggal 4 Maret 2022 yaitu sebesar 83 unit, dengan biaya sebesar
Rp401.500. Selisih jumlah produk dihasilkan dari adanya tambahan tambahan produk sebesar 30 unit untuk setiap kali produksi. Tujuan adanya penambahan tersebut adalah untuk memenuhi permintaan kosumen diluar permintaan berupa pesanan. Akan tetapi, perusahaan tidak memiliki dasar dalam penentuan jumlah produksi tambahan diluar pesanan, sehingga mengakibatkan adanya produk yang tidak terjual.
Permasalahan kedua yang dihadapi perusahaan adalah permintaan yang diterima tidak stabil atau fluktuatif. Permasalahan tersebut terjadi dikarenakan konsumsi roti setiap periodenya tidak sama. Kebutuhan tersebut didasarkan pada kebutuhan konsumen seperti acara, hajatan, atau pernikahan. Dapat dilihari dari tabel 1.1 dimana permintaan Udin Bakery pada setiap periodenya tidak stabil. Hal tesebut diakibatkan permintaan didasarkan pada pesanan pesanan dan kebutuhan konsumen yang berbeda-beda pada setiap periodenya.
Permintaan yang rendah akan selaras dengan jumlah yang diproduksi. Jumlah produksi terendah terjadi pada tanggal 28 Februari dan 1 Maret 2022, dimana jumlah yang diproduksi sebesar 335. Adapun jumlah produksi tertinggi pada tanggal 3 Maret 2022 yaitu sebesar 1.306 unit. Dapat disimpulkan bahwa, jarak permintaan terendah dan tertinggi jauh berbeda. Oleh sebab itu, perlu perencanaan produksi yang tepat saat permintaan naik ataupun turun.
Kondisi tersebut jika berlangsung secara terus menerus akan mengakibatkan berkurangnya pendapatan yang diterima, mengingat jika persediaan akhir meningkat maka harga pokok produksi akan tinggi, sehingga dapat mengurangi pendapatan yang diterima dan menghasilkan laba yang
lebih rendah. Berdasarkan paparan pada uraian latar belakang serta permasalahan yang ada, maka perlu dilakukan sebuah evaluasi terkait kebijakan perusahaan dalam penentuan perencanaan produksi. Oleh sebab itu, penulis tertarik untuk menjadikan Udin Bakery sebagai objek penelitian dalam pembuatan skripsi dengan judul “Evaluasi Perencanaan Produksi Pada Udin Bakery Lawang Malang”
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana hasil evaluasi perencanaan produksi pada Udin Bakery berdasarkan kebijakan perusahaan?
2. Bagaimana hasil perencanaan produksi berdasarkan peramalan permintaan pada Udin Bakery?
3. Perencanaan produksi manakah yang lebih optimal?
C. Batasan Masalah
Agar penelitian ini dapat diselesaikan secara terarah dan sistematis maka perlu adanya batasan masalah pada penelitian ini sebagai berikut:
1. Penelitian dilakukan pada tanggal 20-31 Maret 2022 atau 12 hari kerja.
2. Peramalan menggunakan metode naive menurut Stevenson & Chuong, (2014).
3. Perencanaan produksi menggunakan Perencanaan Agregat Heizer &
Render, (2015).
4. Yang dimaksud dengan optimal adalah jumlah persediaan akhir lebih rendah
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah disajikan, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan menganalisa hasil evaluasi perencanaan produksi pada Udin Bakery.
2. Untuk mengetahui dan menganalisa perencanaan produksi berdasarkan peramalan permintaan pada Udin Bakery.
3. Untuk mengtahui dan menganalisa perencanaan produksi yang lebih optimal.
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini digunakan untuk pengambilan kebijakan terkait dengan perencanaan produksi pada Udin Bakery, sehingga didapatkan solusi bagi pemecahan yang ditemukan pada penelitian.
2. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pembanding untuk penelitian selanjutnya dalam bidang operasional yang berkaitan dengan perencanaan produksi menggunakan perencanaan agregat.