4 GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN
4.1 Keadaan Umum Daerah Penelitian
4.1.1 Geografi, topografi dan iklim daerah penelitian
Secara geografis wilayah Kabupaten Ciamis berada pada 108020’ sampai dengan 108040’ Bujur Timur (BT) dan 7040’20’’Lintang Selatan (LS). Wilayah sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan, sebelah Barat dengan Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Tasikmalaya, sebelah Timur dengan Kota Banjar dan Provinsi Jawa Tengah dan sebelah Selatan dengan Samudera Indonesia. Luas wilayah Kabupaten Ciamis secara keseluruhan mencapai 248.763 ha. Wilayah selatan Kabupaten Ciamis berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia yang membentang di enam kecamatan dengan panjang garis pantai mencapai 91 km (BPS 2007a)
Selanjutnya menurut BPS (2007a) bentuk topografi wilayah Kabupaten Ciamis terbagi ke dalam 3 (tiga) kategori :
a) Daerah Utara merupakan pegunungan dan perbukitan dengan ketinggian antara 500 – 1.100 m dari permukaan laut yang di dalamnya banyak terdapat sumber mata air.
b) Daerah Tengah merupakan persawahan dan daratan dengan ketinggian 25 – 500 m dari permukaan laut yang di dalamnya selain terdapat banyak persawahan juga terdapat perkampungan penduduk dan perkolaman rakyat.
c) Daerah Timur dan Selatan merupakan daerah pantai dengan ketinggian 0 – 25 m dari permukaan laut.
Dengan kondisi keadaan alam di atas wilayah Kabupaten Ciamis cukup potensial untuk perikanan laut dan pariwisata selain pertanian. Kondisi geografis yang strategis dengan ciri berbeda, yaitu wilayah Utara merupakan dataran tinggi, wilayah Tengah merupakan perpaduan antara dataran tinggi dan rendah, sedangkan wilayah Selatan merupakan dataran rendah (pantai), sangat mempengaruhi karakteristik masyarakat serta keanekaragaman budaya yang bertumpu pada kondisi alam sekitarnya. Kondisi tersebut pula yang menjadi modal dasar pengembangan kepariwisataan serta menjadikan sektor pariwisata di
Kabupaten Ciamis sebagai sektor andalan, dan modal dasar pula untuk pengembangan perikanan khususnya perikanan tangkap di laut.
Secara umum Kabupaten Ciamis beriklim tropis yaitu musim hujan dan musim kemarau dengan kelembaban udara 60% – 90%. Di daerah Selatan keadaan iklim sangat dipengaruhi oleh kondisi laut, hal ini disebabkan karena letak wilayahnya yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia. Pada saat musim barat angin bertiup dari arah laut dengan kekuatan yang cukup besar dan sering menimbulkan gelombang laut yang cukup besar. Pada musim timur angin bertiup dari arah tenggara dengan kekuatan rata – rata sedang dan tidak menimbulkan gelombang laut cukup besar (BPS 2007a)
Sebagian besar wilayah Kabupaten Ciamis menurut klasifikasi Schmidt- Ferguson umumnya beriklim tipe C (agak basah). Beberapa wilayah memiliki tipe iklim B, D dan E. Keadaan suhu udara berkisar antara 200C sampai dengan 30°C dengan curah hujan yang cukup besar yaitu rata-rata sebesar 1.647,00 mm pertahun dengan jumlah hari hujan rata-rata 80 kali pertahun (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Ciamis 2007).
Kondisi iklim wilayah Kabupaten Ciamis yang termasuk iklim tropis dimana matahari dapat menyinari wilayah ini sepanjang tahun, serta curah hujan yang cukup besar, merupakan potensi yang cukup baik untuk mengembangkan sektor pariwisata khususnya pariwisata pantai terutama bagi wisatawan mancanegara yang sangat senang berjemur di bawah terik matahari di pantai. Di samping itu, kondisi iklim di atas juga sangat mendukung perkembangan perikanan tangkap, karena nelayan relatif dapat melaut sepanjang tahun, kecuali pada musim Barat.
4.1.2 Penduduk dan ketenagakerjaan
Berdasarkan catatan, penduduk Kabupaten Ciamis pada akhir Bulan Desember 2006 sebanyak 1.458.680 orang. Apabila dibandingkan dengan tahun 2005 , jumlah penduduk tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 0,11%. Di Kabupaten Ciamis lebih banyak perempuan yaitu terdiri atas 722.391 orang laki- laki dan 736.289 orang perempuan atau dengan sex ratio sebesar 98% (BPS
2007a). Artinya setiap 100 orang perempuan penduduk Kabupaten Ciamis terdapat 98 orang laki-laki.
Pertumbuhan penduduk di atas berakibat pada naiknya kepadatan di wilayah Kabupaten Ciamis yang mempunyai luas 2.487,63 km2 menjadi 597 orang per kilometer persegi. Sebanyak 5,69% penduduk Kabupaten Ciamis bertempat tinggal di Kecamatan Ciamis, sehingga mempunyai kepadatan tertingi yaitu sebesar 2.506 orang per kilometer persegi. Kepadatan cukup tinggi terdapat di Kecamatan Cikoneng, Cihaurbeuti, Kawali, serta kecamatan – kecamatan pemekaran yaitu Sindangkasih, Baregbeg dan Lumbung. Jumlah rata-rata anggota keluarga di Kabupaten Ciamis sebesar 3,06 atau secara umum setiap keluarga memiliki 3 sampai dengan 4 orang anggota keluarga. Angka beban tanggungan pada tahun 206 sebesar 44,44% ternyata tidak banyak mengalami perubahan dibandingkan dengan tahun 2005 (BPS 2007a).
Jumlah pencari kerja yang terdaftar selama tahun 2006 di Dinas Tenaga Kerja, Sosial dan Transmigrasi Kabupaten Ciamis sebanyak 4.366 orang tediri atas 2.305 laki-laki dan 2.061 perempuan. Berdasarkan pendidikannya pencari kerja tersebut terdiri atas tamatan SLTA sebanyak 3.089 orang, D I – D III sebanyak 437 orang, Sarjana sebanyak 491orang dan SLTP sebanyak 311 orang serta sisanya tamatan SD (BPS 2007a).
Besarnya jumlah penduduk dan sudah cukup tingginya tingkat pendidikan rata-rata di Kabupatn Ciamis, merupakan potensi pendukung yang cukup besar dan modal modal dasar yang sangat penting bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis untuk mengembangkan sumber daya alam yang tersedia, terutama sumber daya perikanan tangkap yang berada di bagian selatan wilayah Kabupaten Ciamis serta pengembangan sektor pariwisatanya, khususnya untuk mengembangkan pariwisata pantai yang sangat mempesona dan selalu menjadi primadona objek wisata mancanegara karena letaknya berada di daerah tropis.
4.1.3 Prasarana dan sarana umum
Panjang jalan di seluruh wilayah Kabupaten Ciamis mencapai 4.793,62 km dengan kondisi jalan baik sepanjang 851,56 km, kondisi sedang 1.154,57 km,
kondisi rusak 1.336,6 km dan kondisi rusak berat sepanjang 1.450,8 km, sedangkan menurut jenis permukaan jalan sebagian besar telah diaspal, hanya sebagian jalan yang dikelola desa masih ada yang belum diaspal. Berdasarkan kewenangan pengelolaannya, jalan tersebut dibagi dalam 4 kategori yaitu jalan nasional sepanjang 109,58 km, jalan provinsi sepanjang 100,55 km, jalan kabupaten sepanjang 582,8 km dan sisanya sepanjang 3.838,87 km merupakan jalan desa (BPS 2007a).
Pergerakan ekonomi masyarakat yang semakin meningkat dan ditunjang dengan tersedianya jalan raya menyebabkan jumlah kendaraan bermotor di Kabupaten Ciamis semakin bertambah. Kendaraan bermotor di Kabupaten Ciamis berjumlah 12.198 mobil penumpang, 13.241 mobil barang, 3.626 mobil bus dan 156.021 sepeda motor. Sarana transportasi lain adalah kereta api melalui Stasiun Ciamis dan Stasiun Bojong (BPS 2007a)
Sebagian besar kebutuhan listrik di Kabupaten Ciamis dilayani oleh PT PLN. Kebutuhan akan energi listrik yang dirasakan semakin meningkat baik untuk konsumsi rumah tangga maupun dunia usaha. Pada tahun 2006 listrik yang digunakan di Kabupaten Ciamis mencapai 160.466.185 KWH atau baru hanya terpakai 53,33 % dari stok pasokan listrik yang ada di Kabupaten Ciamis yaitu sebesar 300.000.000 KWH (BPS 2007)
Kebutuhan air di wilayah Kabupten Ciamis sebagian besar dicukupi dari sumur dan mata air yang banyak tersedia di setiap rumah tangga dengan kualitas yang ckup baik, namun demikian ada juga yang telah memanfaatkan fasilitas air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Ciamis. Pelanggan PDAM Kabupaten Ciamis tahun 2006 sebanyak 17.552 pelanggan dengan kategori terbanyak dari pelanggan rumah tangga, dengan jumlah air yang telah disalurkan sebanyak 3.633.215 m3 atau baru mencapai 72,66% dari kapasitas stok air yang ada yaitu sebesar 5.000.000 m3 (BPS 2007a).
Sarana informasi yang dapat diakses oleh masyarakat adalah jasa pos yang menyediakan layanan surat-menyurat, antar barang dan transfer uang. Selama tahun 2006 jumlah surat yang dikirim oleh Kantor Pos Kabupaten Ciamis mencapai 128,09 ribu surat dan yang diterima sebanyak 343,37 ribu. Disamping jasa pos di Kabupaten Ciamis juga tesedia jasa telekomunikasi yang cukup
memadai, dengan jumlah pelanggan pada tahun 2006 sebanyak 20.546 pelanggan yang terdiri atas pelanggan bisnis 1.050, residensial 18.863 dan warung telepon umum (wartelum) 439 pelanggan (BPS 2007a).
Cukup lengkapnya sarana dan prasaran umum yang ada di Kabupaten Ciamis, baik sarana transportasi, informasi maupun telekomunikasi sangat mendukung untuk mengembangan potensi perikanan tangkap dan pariwisata, terutama dalam pendistribusian hasil tangkapa ikan laut, kemudahan bagi wisatawan untuk dapat mencapai lokasi objek wisata yang tersebar di wilayah Kabupaten Ciamis, serta komunikasi bagi para pelaku usaha perikanan tangkap dan pariwisata
4.2 Keadaan Umum Perikanan Tangkap
4.2.1 Potensi dan penyebaran sumberdaya perikanan
Pengembangan perikanan di Wilayah Kabupaten Ciamis bagian selatan perlu diperhatikan, karena daerah tersebut berhadapan langsung dengan Samudera Hindia sebagai salah satu WPP (Wilayah Pengelolaan Perikanan) yang memiliki potensi cukup besar, sehingga dalam pengelolaan untuk meningkatkan pendapatan daerah diperlukan aktivitas, fasilitas dan SDM yang optimum agar kegiatan perikanan di Kabupaten Ciamis dapat berjalan dengan baik.
Menurut Pusat Riset Perikanan Tangkap dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi (2005), bahwa kelompok ikan pelagis besar di perairan Samudera Hindia (WPP 9) masih besar peluangnya untuk dimanfaatkan, karena baru dimanfaatkan sebesar 188.280 ton atau 51,41% dari potensi sebesar 366.260 ton per tahun. Begitu juga untuk kelompok ikan pelagis kecil baru dimanfaatkan sebesar 264.560 ton atau 50,44% dari potensi sebesar 526.570 ton per tahun.
4.2.2 Musim dan daerah penangkapan
Musim penangkapan ikan di Kabupaten Ciamis tidak dapat dipastikan pada tiap tahunnya, karena sangat dipengaruhi oleh alam (angin dan stok ikan), akan tetapi biasanya kegiatan penangkapan ikan di Perairan Kabupaten Ciamis dipengaruhi oleh dua musim, yaitu musim puncak dan musim paceklik. Musim
puncak terjadi pada musim timur, sedangkan musim paceklik terjadi pada musim barat. Musim timur berlangsung pada Bulan Mei - Oktober, yang merupakan musim puncak dimana para nelayan mendapatkan hasil tangkapan yang banyak.
Pada musim timur tersebut tidak berombak besar, sehingga nelayan mudah melakukan kegiatan penangkapan ikan. Musim barat berlangsung pada Bulan November - April yang merupakan musim paceklik. Pada musim barat nelayan mendapatkan hasil tangkapan yang sedikit bahkan tidak mendapatkan hasil tangkapan sama sekali, hal ini disebabkan keadaan ombak laut yang besar, sehingga nelayan sulit melakukan kegiatan penangkapan ikan (DKP Ciamis 2003), dan terutama ukuran armada penangkapan ikan yang masih kecil (sub bab 4.2.4). Musim penangkapan ikan di Kabupaten Ciamis berlangsung sepanjang tahun, sedangkan musim ikan berbeda-beda tergantung jenis ikan yang ditangkap.
Kapal-kapal nelayan dari Kabupaten Ciamis menangkap ikan di WPP 9 (Samudera Hindia), namun demikian tidak semua WPP 9 dijadikan daerah penangkapan ikan karena perairan WPP 9 sangat luas yang membentang dari perairan laut di Provinsi Nangroe Aceh Darusalam (NAD) sampai ke perairan laut Nusa Tenggara Timur. Jauhnya daerah penangkapan ikan yang ditempuh tegantung antara lain pada ukuran kapal dan kapasitas mesin kapal yang dimiliki (DKP Ciamis 2007).
Penentuan daerah penangkapan ikan merupakan salah satu faktor yang mendukung keberhasilan dalam kegiatan operasi penangkapan ikan. Daerah operasi penangkapan ikan di Perairan Kabupaten Ciamis diatur dalam tiga jalur penangkapan yang disesuaikan dengan mesin dan alat tangakap yang digunakan nelayan setempat. Pengaturan ini dilakukan selain untuk penertiban dan menghindari penyerobotan daerah penangkapan ikan. Adapun jalur-jalur yang digunakan nelayan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Petanian tanggal 15 April 1999 Nomor 392/KPTS/lk.120/4/99 tentang Jalur Penangkapan Ikan adalah :
Jalur I :
Jalur Ia : 0 – 3 mil
Alat penangakapan ikan menetap
Alat tangkap ikan tidak tetap yang tidak dimodifikasi
Perahu tanpa motor dengan panjang kurang dari 10 meter Jalur Ib : 3 – 6 mil
• Alat penangkapan ikan yang dimodifikasi
• Armada perikanan tangkap :
1. Tanpa motor dan motor tempel dengan panjang perahu kurang dari 10 meter
2. Motor tempel dan motor dalam dengan panjang perahu/kapal kurang dari 12 meter dengan muatan kurang dari 5 GT
3. Purse seines dengan panjang alat tangkap kurang dari 150 meter
4. Drift gill net dengan panjang alat tangkap kurang dari 1.000 meter
Jalur II 6 – 12 mil
• Kapal perikanan motor dalam dengan muatan kurang dari 60 GT
• Kapal penangkap ikan dengan alat penangkapan ikan :
1. Purse seiner, kapal bukan group, panjang alat tangkap kurang dari 600 meter dan dua kapal bukan group dengan panjang alat tangkap kurang dari 1.000 meter
2. Tuna long line, mata pancing kurang dari 1.200 meter
• Kapal perikanan pukat teri dan lift net
• Kapal perikanan untuk penelitian, survey, ekspolarasi, dan latihan sesuai dengan persetujuan Dirjen Perikanan
Jalur III : > 12 mil
• Kapal perikanan dengan bendera Indonesia dengan bobot kapal kurang dari 200 GT
• ZEEI, Selat Malaka, kapal perikanan berbendera Indonesia dengan bobot kapal kurang dari 200 GT, Fish net lebih dari 60 GT
• ZEEI di luar Selat Malaka
1. Kapal Perikanan berbendera Indonesia dan bendera asing untuk semua alat penangkapan ikan dengan bobot kapal kurang dari 350 GT
2. Purse seiner 350 – 800 GT dan purse seiner group beroperasi di luar 100 mil laut.
Nelayan tradisional di Kabupaten Ciamis menentukan fishing ground berdasarkan pengalaman. Jarak yang ditempuh oleh nelayan sekitar 1 – 5 mil yang termasuk jalur penangkapan ke satu. Daerah penangkapan ikan meliputi perairan Teluk Pananjung, Teluk Parigi, Karapyak, Perairan Nusakambangan, dan Perairan Cilacap.
Jenis – jenis ikan yang tertangkap oleh nelayan Kabupaten Ciamis dari berbagai daerah penangkapan ikan di atas sangat beragam, diantaranya yang banyak tertangkap adalah udang dogol, udang jerung, udang karang, ikan bawal hitam bawal putih, kakap putih, kakap merah, tenggiri, tongkol, kerapu, layur dan cucut.
4.2.3 Produksi dan nilai produksi hasil tangkapan ikan
Menurut DKP Ciamis (2007), produksi perikanan tangkap Kabupaten Ciamis tahun 2007 adalah sebesar 1.665,52 ton atau senilai Rp21.508369.145,00.
Produksi tersebut mengalami peningkatan sebesar 9% (1.605,62 ton) dibandingkan dengan tahun 2006. Jumlah produksi hasil tangkapan terbesar terjadi pada bulan Januari dan terkecil terjadi pada bulan Mei. Jenis hasil tangkapan ikan di wilayah Kabupaten Ciamis pada tahun 2007 yang terbanyak adalah ikan layur, layang, tiga waja, kembung, udang krosok dan udang jerbung (Tabel 8).
Tabel 8 Perkembangan jumlah produksi ikan Kab. Ciamis Tahun 1999 – 2007
Tahun Jumlah (ton) Pertumbuhan per tahun (%)
1999 3.091,0 -
2000 1.711,5 -80,6
2001 2.529,8 32,4
2002 2.168,2 -16,7
2003 2.599,6 16,6
2004 1.871,0 -38,9
2005 1.205,7 -55,2
2006 1.605,6 24,9
2007 1.665,5 36,0
Rata-rata pertumbuhan per tahun -12,7
Kisaran pertumbuhan per tahun 116,6
Sumber : DKP Kabupaten Ciamis (2008) diolah kembali
Rata-rata pertumbuhan produksi hasil tangkapan ikan di wilayah Kabupaten Ciamis selama tahun 1999 – 2007 adalah negatif yaitu -12,7 dengan kisaran -80,6% – 36,0% per tahun. Pertumbuhan positif produksi hasil tangkapan ikan yang relatif tinggi hanya terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar 36,0% .
Produksi perikanan di wilayah Kabupaten Ciamis pada periode tersebut di atas cenderung terus menurun hal ini antara lain disebabkan karena menurunnya jumlah armada penangkapan yang ada di wilayah Kabupaten Ciamis dan juga relatif berkurangnya alat penangkapan ikan yang digunakan. Turunnya produksi juga disebabkan berkurangnya trip yang dilakukan dalam setahun karena sulitnya memprediksi cuaca, terutama arah dan besarnya angin yang tidak menentu dan kencang, sehingga sangat rawan untuk melaut. Penurunan drastis yang terjadi pada tahun 2000 dibandingkan dengan tahun 1999, disebabkan oleh berkurangnya armada penangkapan ikan dari jenis kapal motor, yang lebih memilih beroperasi di pantai utara, sedangkan kenaikan cukup tinggi yang terjadi pada tahun 2007 disebabkan oleh rusaknya sejumlah besar armada dan alat penangkapan ikan di Pangandaran akibat terjadinya bencana tsunami pada tanggal 17 Juli 2006, sehingga produksi penangkapan ikan rendah.
4.2.4 Unit penangkapan ikan 1). Armada penangkapan
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Ciamis (2008), menyatakan bahwa jumlah armada penangkapan ikan di wilayah Kabupaten Ciamis tahun 2007 sebanyak 2.189 unit, terdiri atas kapal motor sebanyak 4 unit (0,2%), perahu motor tempel sebanyak 2.071 unit (94,6%) dan perahu tanpa motor sebanyak 114 unit (5,2%) (Tabel 9).
Tabel 9 Perkembangan jumlah armada penangkapan ikan menurut kategori di Kabupaten Ciamis tahun 1999 – 2007
TAHUN Kategori
Armada (unit)
1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007
Kapal
Motor 23 4 4 4 4 4 4 4 4
Perahu Motor Tempel
886 951 1.142 1.244 1.510 1.548 1.548 962 2.071 Perahu
Tanpa Motor
46 61 38 38 30 122 122 144 114
Jumlah 955 1.016 1.184 1.286 1.544 1.674 1.674 1.110 2.189 Pertum-
buhan per tahun (%)
- 6,0 14,2 7,9 16,7 7,8 0 -5,1 49,3
Rata – rata pertumbuhan per tahun (%) 5,7 Sumber : DKP Kabupaten Ciamis (2008) diolah kembali
Rata – rata pertumbuhan armada penangkapan ikan di wilayah Kabupaten Ciamis selama sembilan tahun terakhir (1999 – 2007) adalah cukup kecil yaitu 5,7% namun pada tahun 2007 tingkat pertumbuhan armada penangkapan ikan di wilayah Kabupaten Ciamis adalah yang tertinggi yaitu sebesar 49,3%.
Besarnya pertumbuhan jumlah armada penangkapan ikan wilayah Kabupaten Ciamis pada tahun 2007 terutama diakibatkan oleh meningkatnya jumlah perahu motor tempel yaitu adanya bantuan perahu motor tempel ke wilayah Kabupaten Ciaamis sebanyak 1.500 unit dari Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia sebagai salah satu upaya recovery setelah
terjadinya bencana tsunami yang melanda Wilayah bagian Selatan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat
2). Alat penangkapan ikan
Jumlah alat penangkapan ikan yang dioperasikan dan digunakan oleh para nelayan di wilayah Kabupaten Ciamis pada tahun 2007 sebanyak 3.460 unit.
Jenis alat tangkap ikan yang paling dominan adalah gill net yaitu sebanyak 2.806 unit (81,10%). Alat tangkap lain adalah jaring arad, pancing rawai tetap, dogol, bagan dan trammel net/ciker (Tabel 10) (DKP 2007).
Rata-rata pertumbuhan alat tangkap ikan di Kabupaten Ciamis selama tahun 1999 – 2007 menurun yaitu -1,35%, dengan tingkat pertumbuhan terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar 60,46% sedangkan pada tahun 2001, 2003 dan 2006 mengalami pertumbuhan negatif.
Tabel 10 Perkembangan alat tangkap ikan di Kab. Ciamis tahun 1999 – 2007
TAHUN Alat Tangkap
1999 2000 2001 2002 2003 Jaring Arad (unit) 33 36 31 31 53 Gill Net (basket) 841 2.503 1.686 1.686 1.309 Pancing Rawai Tetap
(unit) 297 399 551 551 253 Dogol (unit) - 195 195 195 141 Bagan (unit) - - - 13 36 Tramell Net/Ciker
(basket) 595 661 661 661 203 Jumlah 1.766 3.794 3.124 3.137 1.995
Pertumbuhan (%) - 53,2 -21,5 0,4 -57,4
Rata-rata pertumbuhan per tahun (%)
Sumber : DKP Kabupaten Ciamis (2008) diolah kembali
Lanjutan tabel 10
TAHUN Komposisi Alat Tangkap
2004 2005 2006 2007 2007 (%) Jaring Arad (unit) 22 22 32 43 1,2 Gill Net (basket) 1.359 1.359 926 2.806 81,1 Pancing Rawai Tetap
(unit) 242 242 153 205 5,9
Dogol (unit) 158 160 97 110 3,2 Bagan (unit) 36 36 16 20 0,6 Tramell Net/Ciker
(basket) 219 219 144 276 8,0 Jumlah 2.036 2.038 1.368 3.460 100,0
Pertumbuhan (%) 2,0 0,1 -49,0 60,5 -
Rata-rata pertumbuhan per tahun (%) -1,3 Sumber : DKP Kabupaten Ciamis (2008) diolah kembali
3). Nelayan
Jumlah nelayan yang melakukan kegiatan penangkapan ikan di wilayah Kabupaten Ciamis tahun 2007 sebanyak 6.545 orang. Berdasarkan statusnya, nelayan di Kabupaten Ciamis dibedakan menjadi dua jenis yaitu nelayan pemilik dan nelayan buruh. Adapun jumlah nelayan pemilik di Kabupaten Ciamis adalah sebanyak 4.619 orang (70,57%) dan nelayan buruh sebanyak 1.926 orang (29,43%) (Tabel 11).
Rata-rata pertumbuhan jumlah nelayan di Kabupaten Ciamis selama sembilan tahun (1999 – 2007) adalah cukup kecil yaitu 3,13%. Dengan demikian pada setiap tahunnya berbeda dengan pertumbuhan armada dan alat tangkap yang mengalami pertumbuhan negatif dalam beberapa tahun, pertumbuhan nelayan ternyata hampir setiap tahun mengalami pertumbuhan positif dengan tingkat pertumbuhan terbesar terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar 28,20%.
Perkembangan jumlah nelayan di wilayah Kabupaten Ciamis kemungkinan besar disebabkan semakin sedikitnya lapangan kerja yang tersedia, sehingga pada akhirnya memilih menjadi nelayan, hal ini disebabkan oleh pada dasarnya tidak perlu keahlian dan pelatihan khusus untuk menjadi seorang nelayan. Oleh karena itu menjadi seorang nelayan menjadi pilihan terakhir sebagai pekerjaan. Hal ini juga didukung dengan berdirinya SMK Kelautan di
Pangandaran yang memiliki jurusan Pengolahan Hasil Tangkapan Ikan dan Penangkapan Ikan.
Tabel 11 Perkembangan jumlah nelayan di Kabupaten Ciamis tahun 1999 – 2007
Status Nelayan (RTP) Rata-rata Nelayan Nelayan Pertumbuhan
Pertumbuhan Tahun
Pemilik Buruh Jumlah
(%) (%) 1999 2.883 1.500 4.383 -
2000 3.003 1.500 4.503 2,7 2001 3.531 1.500 5.031 10,5 2002 3.876 1.500 5.376 6,4 2003 4.598 1.500 6.098 11,8 2004 4.709 1.500 6.209 1,8 2005 4.709 1.168 5.877 (5,7) 2006 4.619 1.296 5.915 0,6
2007 4.619 1.926 6.545 28,2 5,63 Sumber : DKP Kabupaten Ciamis (2008) diolah kembali
4.2.5 Prasarana perikanan
Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa pelabuhan perikanan/pangkalan pendaratan ikan merupakan salah satu prasarana perikanan tangkap guna mendukung kegiatan perikanan tangkap. Sebagai prasarana perikanan tangkap untuk mendukung kegiatan perikanan tangkap, Kabupaten Ciamis memiliki prasarana perikanan tangkap berupa Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) yang oleh pemerintah daerah setempat masih disebut sebagai Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sebanyak 10 unit yang tersebar di beberapa kecamatan, seperti terlihat dalam Tabel 12.
Dari 10 unit PPI yang ada dan tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Ciamis tersebut, yang masih aktif atau beroperasi hanya PPI Mina Sari di Pangandaran, PPI Mina Rasa di Cijulang dan PPI Mina Bahari di Cimerak, dengan produksi yang paling tinggi ada di PPI Mina Sari Pangandaran, sedangkan PPI yang lain bisa dikatakan tidak berfungsi.
Tabel 12 Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) di Kabupaten Ciamis tahun 2007
Sumber : DKP Kabupaten Ciamis (2007)
4.3 Keadaan Umum Sektor Pariwisata 4.3.1 Macam dan kondisi aktivitas wisata
Ditinjau dari segi kepariwisataan, Kabupaten Ciamis memiliki potensi alam yang menguntungkan. Menurut Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Ciamis (2007) terdapat tidak kurang dari 19 objek wisata berada di wilayah Kabupaten Ciamis yang terbentang dari utara sampai dengan selatan, yang dikelompokkan ke dalam tiga jenis objek wisata yaitu objek wisata pegunungan, objek wisata budaya dan objek wisata pantai (Lampiran 1).
1). Wisata Pegunungan
Wisata pegunungan yang ada di Kabupaten Ciamis antara lain :
a) Situ Lengkong Panjalu, terletak sekitar 2 km sebelah Utara Kota Ciamis. Selain untuk berenang dan bermain ski, wisatawan juga dapat menikmati kabut pegunungan. Objek wisata ini juga merupakan objek wisata budaya yang dikenal dengan upacara tradisional “nyangku”.
b) Curug Tujuh Cibalong, memiliki daya tarik utama tujuh air terjun (curug). Terletak di daerah Panjalu kira-kira 10 km sebelah Utara Kota Ciamis.
c) Wana Wisata Situ Mustika, memiliki luas sekitar 3 ha yang dikelola Perum Perhutani terletak di Desa Karangpaningal Kecamatan Cisaga kira-kira 24 km ke arah Selatan Kota Ciamis. Objek wisata ini dapat dimanfaatkan wisatawan untuk berkemping, memancing dan mendaki.
No. Tanah/Bangunan Lokasi Luas Tanah
(m2)
1. PPI Mina Galuh Bagolo/Kalipucang 24
2. PPI Putra Kendal Ciawitali/Kalipucang 24 3. PPI Majingklak Pamotan/Kalipucang 96
4. PPI Mina Sari Pangandaran 856
5. PPI Mina Pari Parigi 216
6. PPI Mina Rasa Batukaras/Cijulang 206 7. PPI Mina Karya Nusa Wiru/Cijulang 20 8. PPI Mina Bahari Legokjawa/Cimerak 40
9. PPI Purbasari Masawah/Cimerak 54
10. PPI Muara Gatah Muaragatah/Cimerak 60
2). Wisata Budaya
Wisata budaya yang terdapat di Kabupaten Ciamis antara lain :
a) Astana Gede Kawali, merupakan ojek wisata budaya yang terkenal sebagi sisa sejarah Kerajaan Pasundan. Daya tarik wisata di kawasan ini adalah monumen sejarah berupa prasasti yang terbuat dari batu.
Objek wisata ini terletak di Kecamatan Kawali kira-kira 5 km sebelah utara Kota Ciamis.
b) Karang Kamulyan, terletak sekitar 16 km ke arah Selatan Kota Ciamis berlokasi di Desa Karang Kamulyan, Kecamatan Cijeungjing dengan luas 25 ha. Di objek wisata ini wisatawan dapat menemukan sisa-sisa dari legenda Ciung Wanara. Selain itu berbagai fasilitas penunjang wisata seperti tempat parkir, toilet, kamar mandi dan tempat jajanan makanan dapat dijumpai di objek wisata ini.
3). Wisata Pantai
Kabupaten Ciamis memiliki beberapa objek wisata pantai yang cukup terkenal dengan keindahannya, dan dilengkapi sarana dan prasarana pariwisata yang cukup lengkap pula. Beberapa objek wisata pantai yang ada di Kabupaten Ciamis adalah :
a) Pantai Indah Pangandaran, merupakan objek wisata pantai yang terletak di Desa Pangandaran atau sekitar 92 km ke arah Selatan Kota Ciamis dengan beberapa keunikannya seperti dapat melihat matahari terbit dan terbenam dalam satu tempat serta pantai yang indah dengan hamparan pasir warna coklat dan putih. Acara akbar yang menjadi agenda rutin dilakukan di sini adalah Pesta Laut dan Festival Layang- layang Internasional.
b) Pantai Batu Hiu, terletak di Desa Cibenda Kecamatan Parigi kira- kira 14 km sebelah Barat Kecamatan Pangandaran (sekitar 106 km ke arah Selatan Kota Ciamis). Panorama alam yang dinikmati adalah pemandangan di sebuah bukit ke arah Samudera Indonesia yang terdapat sebuah batu karang besar berbentuk seekor ikan hiu besar.
c) Pantai Batu Karas, terletak di Desa Batu Karas Kecamatan Cijulang kira-kira 123 km ke arah Selatan Kota Ciamis. Objek wisata ini merupakan primadona bagi wisatawan yang suka berselancar (surfing) karena memiliki panjang gelombang sampai 2 km. Selain berselancar kegiatan wisata lain yang dapat dilakukan adalah berenang dan berkemah.
4.3.2 Fasilitas Wisata dan Jumlah Pengunjung
Sebagai upaya untuk menunjang kegiatan paiwisata di Kabupaten Ciamis, cukup tersedia sarana akomodasi atau penginapan yang tersebar sejak memasuki kota Ciamis dan sebagai pusatnya ada di Objek Wisata Pantai Pangandaran. Pada tahun 2006 di Kabupaten Ciamis terdapat 217 hotel dan losmen dengan jumlah kamar sebanyak 3.198 kamar dengan tempat tidur sebanyak 5.664 unit. Rata-rata tamu yang menggunakan jasa akomodasi per hari sebanyak 8 orang wisatawan nusantara dan 575 orang wisatawan nusantara (Disparbud Kabupaten Ciamis 2007)
Selain sarana akomodasi, fasilitas pariwisata lain yang tersedia adalah sarana tranportasi yang cukup lengkap dari kendaraan darat berupa angkutan umum, jasa travel maupun pesawat terbang dengan telah dibangunnya Bandara Nusa Wiru di Kecamatan Cijulang, juga tersedia sarana telekomunikasi dari mulai jasa pos, telepon bahkan internet (BPS Ciamis 2007)
Sarana wisata lain yang ada di Kabupaten Ciamis adalah berupa pusat perbelanjaan oleh-oleh, lahan parkir, toilet dan persewaan kendaraan baik sepeda, sepeda motor, mobil bahkan kendaraan ATV untuk sekedar berkeliling di area wisata. Seluruh fasilitas wisata yang ada di Kabupaten Ciamis dalam kondisi yang baik dan layak, sehingga dapat memuaskan para wisatawan (Disparbud Ciamis 2007).
Menurut Disparbud Kabupaten Ciamis (2007) pengunjung/wisatawan yang datang ke Kabupaten Ciamis sebagian besar merupakan wisatawan nusantara yang kebanyakan berasal dari kabupaten-kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Barat, akan tetapi ada juga wisatawan yang berasal dari luar Provinsi Jawa Barat bahkan wisatawan mancanegara. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke
Kabupaten Ciamis selama kurun waktu 10 tahun terakhir berfluktuasi dengan kecenderungan turun. Jumlah wisatawan cenderung meningkat periode tahun 1999 – 2004, namun setelah periode tersebut jumlah wisatawan mengalami penurunan tajam hingga 92,8% (Tabel 13).
Tabel 13 Jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Ciamis tahun 1999 – 2007
Jumlah Wisatawan (orang) Pertumbuhan (%) Tahun
Wisnu Wisman Jumlah Wisnu Wisman Jumlah
1999 984.565 39.206 1.023.771 - - -
2000 1.033.833 15.562 1.049.395 5,0 -60,3 2,5 2001 1.047.737 15.114 1.062.851 1,3 -2,9 1,3 2002 1.238.226 16.139 1.254.365 18,2 6,8 18,0 2003 1.416.450 4.215 1.420.665 14,4 -73,9 13,3 2004 1.432.313 14.979 1.447.292 1,1 255,4 1,9 2005 743.215 7.410 750.625 -48,1 -50,5 -48,1 2006 579.837 2.602 582.439 -22,0 -64,9 -22,4 2007 554.973 8.028 563.001 -4,3 208,5 -3,3
Rata – rata pertumbuhan (%) -4,3 27,3 -4,6
Kisaran 66,3 31,7 66,1
Sumber : Disparbud Kabupaten Ciamis (2008) diolah kembali Keterangan :
Wisnu = Wisatawan Nusantara/Domestik Wisman = Wisatawan Mancanegara
Menurunnya jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Ciamis disebabkan oleh banyaknya musibah yang menimpa atau terjadi di daerah wisata dan sekitarnya misalnya musibah longsornya tanah di Objek Wisata Baturaden Purwokerto, Bom Bali, Tsunami Aceh, Gempa Bumi Yogyakarta dan Tsunami Pangandaran. Peristiwa-peristiwa tersebut baik langsung maupun tidak langsung mempengaruhi minat wisatawan unuk berkunjung ke daerah wisata.