II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Kacang Hijau
Kacang hijau varietas Vima 2 (GH 6) dengan silsilah MMC 342d-Kp-3-4 adalah keturunan dari persilangan tunggal antara induk varietas Merpati dengan tetua jantan VC 6307A. Kacang hijau galur MMC 342d-Kp-3-4 (Vima2) memiliki polong tua berwarna hitam, warna biji hijau mengkilap, bobot biji 6,37 g/100 biji, memiliki hasil rata-rata 1,78 ton ha-1, umur genjah (57 HST), masak serempak, agak tahan penyakit tular tanah, toleran terhadap hama thrips dan sesuai untuk kecambah dibandingkan varietas Kutilang dan Vima 1. Galur tersebut dapat dikembangkan di beberapa daerah di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan yang sebagian besar menyukai kacang hijau yang bijinya berwarna hijau mengkilap (Trustinah, Iswanto, dan Harnowo, 2014).
Kacang hijau merupakan salah satu komoditas tanaman kacang-kacangan yang banyak dikonsumsi oleh rakyat Indonesia. Meskipun tanaman kacang hijau memiliki banyak manfaat, namun tanaman ini masih kurang mendapatkan perhatian petani untuk dibudidayakan. Pada hal, tanaman kacang hijau memiliki potensi yang tinggi untuk dikembangkan. Dibanding dengan tanaman kacang-kacangan lainnya, kacang hijau memiliki kelebihan ditinjau dari segi agronomi dan ekonomis, seperti lebih tahan kekeringan, serangan hama dan penyakit lebih sedikit, dapat dipanen pada umur 55-60 hari, dapat ditanam pada tanah yang kurang subur, dan cara budidayanya mudah (Atman, 2007).
2.2 Perkembangan Produksi Kacang Hijau
Indonesia mengimpor kacang hijau dari beberapa Negara. Sepanjang Januari- Maret 2014, yang masuk ke Indonesia mencapai 18,04 ribu ton ha-1. Indonesia mengimpor dari beberapa Negara diantaranya Myanmar, Etiopia, Thailand, Australia, dan Brasil. Impor kacang hijau meningkat cukup drastis pada Maret 2014 dibandingkan bulan sebelumnya. Pada Februari, impor kacang hijau tercatat sebanyak 6,27 ribu ton ha-1. Kemudian terjadi peningkatan pesat menjadi 13,98 ribu ton ha-1 pada Maret.
Tingginya tingkat impor kacang hijau menggambarkan masih rendahnya produksi
4 kacang hijau di Indonesia (Rohmanah, Surtiningsih, Nurhariyati, dan Supriyanto,
2016).
Sentra produksi kacang hijau yang memiliki luas panen di atas 10.000 ha tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Provinsi Jawa Tengah memberikan kontribusi produksi tertinggi (34,1 %), berikutnya Jawa Timur (23,5 %). Nusa Tenggara Barat (14,9 %), Sulawesi Selatan (12,0 %), serta Jawa Barat (4,2 %) dan Nusa Tenggara Timur (3,0 %). Total produksi di enam provinsi kacang hijau tersebut mencapai 91,7
% dari produksi nasional. Fluktuasi luas panen dan produksi kacang hijau tidak sama di setiap provinsi. Jawa Tengah dan Jawa Timur yang merupakan penyumbang produksi kacang hijau terbesar, menunjukkan luas panen dan produksi menurun pada tahun 2012 dengan produktivitas masih di atas rata-rata nasional, masing-masing (1,17 ton ha-1 dan 1,2 ton ha-1). Produktivitas dapat ditingkatkan melalui penggunaan benih bermutu dari varietas unggul. Benih bersertifikat merupakan jaminan bagi benih bermutu, namun hingga kini belum banyak petani yang menggunakan benih bersertifikat (Trustinah, Prasetiaswati, dan Harnowo, 2014).
2.3 Gulma Pada Lahan Pertanaman Kacang Hijau
Rendahnya produksi kacang hijau pada varietas lokal juga ditunjukkan pada tingginya berat basah gulma dan berat kering gulma, dimana dengan penggunaan varietas lokal memiliki berat basah gulma dan berat kering gulma lebih tinggi.
Banyaknya gulma menyebabkan persaingan dalam perebutan unsur hara, sehingga tanaman pokok akan mengalami kekurangan unsur hara. Persaingan dengan gulma menyebabkan persaingan dalam hal pemanfaatan sumber daya yang sama yang bisa mengurangi produksi fotosintat tanaman (Gomes, Wijana, dan Suada, 2014).
Salah satu kendala utama dalam produksi kacang hijau adalah kompetisi gulma kehilangan hasil kacang hijau karena rentang gulma dari 65,4% menjadi 79,0%
(Kundu, Bera, dan Brahmachari, 2009). Selain menyebabkan kerugian panen, gulma juga dapat mengurangi kualitas tanaman, status unsur hara dalam tanah, dan lain-lain.
Gulma bisa dilihat dengan bebagai metode, seperti eko-fisik, biologis, dan kimia.
5 Pada pengendalian gulma di Bengal dimana hasil biji 1,63 ton ha-1, 2,72 ton ha-
1, dan 3,25 ton ha-1. Masing-masing diperoleh dari tidak ada penyiangan, dua penyiangan tangan dan kondisi bebas gulma. Gulma berkurang pada tanaman kacang hijau sebesar 50 %. Satu penyiangan pada 4 minggu setelah tanam cukup efektif dalam mengendalikan gulma. Menyiangi kondisi bebas dari 2 atau 4 minggu setelah tanam dan sepanjang musim panen memberi hasil yang sebanding. Penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa dalam kasus periode kritis kacang hijau kompetisi tanaman gulma adalah 4 sampai 6 minggu setelah tanam (Akter, 2012).
2.4 Teknik Pengendalian Gulma
Pengendalian gulma ialah adanya populasi gulma yang dimatikan pada stadia periode kritis dalam siklus hidup tanaman. Pengendalian dilakukan apabila gulma tumbuh pada lingkungan tertentu di sekitar pertanaman. Pengendalian gulma dilakukan pada saat tertentu, bila gulma tidak diberantas akan menurunkan hasil akhir tanaman pertanian (Moenandir, 2010).
Tindakan pengendalian gulma dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Pengendalian dapat dilakukan dengan pencegahan dan tindakan korektif.
Pengendalian preventif berarti mencegah suatu spesies tumbuhan pengganggu masuk ke daerah tertentu, contohnya yaitu penggunaan benih murni, penggunaan sarana pertanian bebas gulma, mencegah gulma masuk melalui air pengairan, dan sanitasi lingkungan, sedangkan tindakan korektif adalah untuk menurunkan populasi gulma sehingga relatif tidak mengganggu pertumbuhan tanaman, contohnya yaitu pengolahan tanah, penyiangan, pengairan, dan pergiliran tanaman (Direktorat Bina Perlindungan Tanaman, 1997).
Pada hasil penelitian Akter et al. (2013) menyatakan bahwa setiap waktu penyiangan gulma pada tanaman kacang hijau dapat memberikan pengaruh pada pertumbuhan dan hasil tanaman. Perlakuan T3 (satu tahap penyiangan saat fase berbunga - bunga - muncul polong) memberikan pengaruh tertinggi pada tinggi tanaman dan pada perlakuan T1 (tanpa penyiangan) memberikan pengaruh terendah pada tinggi tanaman. Sedangkan pada perlakuan T7 (tuga tahap penyiangan - berbunga,
6 paling banyak pada tanaman kacang hijau dan perlakuan T1 memberikan pengaruh
paling rendah pada jumlah cabang tanaman kacang hijau. Jadi, penyiangan gulma dengan waktu yang tepat dapat memberikan pengaruh secara langsung terhadap peningkatan jumlah daun dan pertumbuhan tanaman kacang hijau.
2.5 Peran Pupuk Organik dan Anorganik Terhadap Tanaman Kacang Hijau Penggunaan pupuk organik tidak menimbulkan efek residu yang berbahaya bagi lingkungan, disamping itu pupuk organik mempunyai fungsi yang penting yaitu untuk menggemburkan lapisan tanah permukaan (top soil), meningkatkan populasi jasad renik, mempertinggi daya serap dan daya simpan air, dan keseluruhnya dapat meningkatkan kesuburan tanah. Pupuk organik tidak lain merupakan bahan yang dihasilkan dari pelapukan sisa-sisa tanaman, hewan dan manusia. Lain halnya dengan pupuk anorganik yang bahan pembuatannya dari bahan pembuatannya dari bahan kimia (Latuamury, 2015).
Menurut Marsiwi (2015) menyatakan bahwa takaran pupuk NPK 50 kg/ha dapat mencukupi sejumlah populasi tanaman kacang hijau, terutama dalam sintesis bahan organik dalam proses fotosintesis yang membutuhkan unsur hara. Hasil fotosintesis berupa karbohidrat yang ditranslokasikan ke bagian organ tanaman termasuk ke bagian daun. Tanaman kacang hijau dapat tumbuh dan berkembang karena ruang tumbuh yang cukup tidak saling menaungi tajuk tanaman.
Menurut Muslikhah (2014) menyatakan bahwa pemberian pupuk NPK berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman kacang hijau.
Berdasarkan keempat perlakuan pupuk NPK yaitu dosis 0 gram, 5 gram, 10 gram dan 15 gram memberikan pengaruh yang berbeda-beda terhadap diameter maupun tinggi tanaman. Dosis NPK 10 gram (perlakuan P2) memberikan pengaruh terhadap tinggi tanaman, sedangkan dosis NPK 15 gram (perlakuan P3) berpengaruh terhadap diameter tanaman.
Pada unsur nitrogen dan fosfor berguna bagi pertumbuhan vegetatif, unsur kalium bagi tanaman mempunyai manfaat yang cukup penting karena kalium terlibat langsung dalam beberapa proses fisiologi tanaman. berdasarkan hasil penelitian pemupukan yang lebih dilakukan ternyata masih sulit untuk mencari kombinasi
7 pemupukan yang tepat, hal ini disebabkan bahwa tanaman kacang hijau yang ditanam
setelah padi sawah, responnya sangat kecil terhadap pemupukan. Kurang tanggapnya tanaman kacang hijau terhadap pemupukan N disebabkan oleh bakteri Rhizobium yang dapat mengikat N dari udara (Hulopi, 2012).
2.6 Dampak Pemakaian Pupuk Organik dan Anorganik Terhadap Perkembangan Gulma
Pemakaian pupuk kandang perlu dipertimbangkan, karena pupuk kandang dapat menyebabkan berkembangnya gulma pada lahan yang diusahakan. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk menekan hal tersebut adalah dengan penggunaan jenis pupuk kandang yang tepat. Terdapatnya gulma pada pupuk kandang sangat dipengaruhi oleh kebijaksanaan petani saat mengembalakan ternaknya. Oleh karena lingkungan pengembalaan yang berbeda, maka gulma yang dimakan ternak juga berbeda. Menurut Maruapey (2011) menyatakan bahwa perlakuan jenis pupuk kandang berpengaruh nyata terhadap berat kering gulma umur 45 hari setelah tanam. Pengaruh nyata pada perlakuan jenis pupuk kandang disebabkan karena masing-masing pupuk kandang sudah dapat memberikan sumbangan unsur hara bagi pertumbuhan gulma dan tanaman. Demikian juga biji biji gulma yang terbawa di dalam pupuk kandang sudah mampu berkecambah dan tumbuh sehingga gulma yang tumbuh semakin banyak dan beragam.
Pada hasil penelitian Nasution, Islami, dan Sebayang (2013) menyatakan bahwa interaksi antara perlakuan pupuk anorganik dan pengendalian gulma terhadap bobot kering gulma terjadi pada umur pengamatan 71 dan 85 hst dan memberikan hasil bahwa perlakuan pupuk majemuk NPK dosis 200 kg ha-1 dan pupuk ZA 600 kg ha-1 yang diikuti oleh aplikasi herbisida Ametrin (A1G3), pupuk majemuk NPK dosis 400 kg ha-1 dan pupuk ZA 800 kg ha-1 yang diikuti oleh aplikasi herbisida 2,4-D (A2G2) dan pupuk majemuk NPK dosis 400 kg ha-1 dan pupuk ZA 800 kg ha-1 yang diikuti oleh aplikasi herbisida Ametrin (A2G3) adalah perlakuan yang lebih baik untuk mengurangi populasi gulma, meskipun tidak berbeda nyata.