137
KOREKSI SECARA REAL TIME BERBASIS DARING TERHADAP TUGAS PERKULIAHAN MAHASISWA DESAIN KOMUNIKASI VISUAL
Bonifacia Bulan Aruming Tyas
Dosen Fakultas Desain Jurusan Desain Komunikasi Visual Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya Email : [email protected]
ABSTRAK
Masa pandemi Covid-19 membatasi ruang gerak secara fisik masyarakat seluruh dunia, termasuk Indonesia. Masyarakat diminta untuk bekerja dari rumah dan melakukan segala kegiatan lainnya di rumah masing-masing. Tidak terkecuali untuk pendidikan, baik jenjang pendidikan dasar, lanjutan, atas, hingga perguruan tinggi. Pada perguruan tinggi yang berkecimpung di bidang desain, salah satunya desain komunikasi visual, tak jarang pengajar juga perlu memberikan perbaikan langsung pada karya visual mahasiswa. Perbaikan pada karya visual tersebut tentu mudah dilakukan bila konsultasi dilakukan saat berhadapan secara langsung. Artikel ini mempertanyakan kemungkinan terjadinya kolaborasi real time berbasis daring antara dosen dan mahasiswa desain komunikasi visual. Kolaborasi dalam ranah pendidikan, yang dalam penelitian ini untuk keperluan koreksi tugas desain, dapat menjadi contoh kolaborasi yang kedepannya dapat diterapkan sebagai kolaborasi digital antar seniman atau desainer. Adapun kolaborasi ini dapat terjadi setelah sebelumnya membentuk kelas virtual, hingga memungkinkan adanya kolaborasi secara real time. Penelitian ini mengangkat studi kasus konsultasi tugas desain poster melalui daring dengan media perantara berupa aplikasi Microsoft Teams. Dari uji coba serta penerapannya dalam konsultasi tugas mahasiswa, memungkinkan bahwa koreksi tugas desain dapat dilakukan secara real time oleh dosen dan langsung diterima hasilnya oleh mahasiswa saat itu juga.
Kata kunci : Pendidikan Desain, Daring, Kolaborasi Seni dan Desain.
ABSTRACT
The Covid-19 pandemic period limited the physical space for people throughout the world, including Indonesia. People are asked to work from home and do all other activities in their homes. No exception for education, both basic education, advanced education, up to college. At institutions in the field of design, one of them is Visual Communication Design, lecturer also need to provide direct improvements to students' visual works. Correction to the visual work are certainly easy to do if the consultation is done when dealing face to face. This article questions the possibility of online-based real time collaboration between lecturers and Visual Communication Design students. Collaboration in the realm of education, in this research for the purpose of correcting design assignments, can be an example of collaboration that can be applied as a digital collaboration between artists or designers in the future. The collaboration can occur after previously forming a virtual classroom, to enable collaboration in real time. This case study research to do online consulting poster design assignments with Microsoft Teams applications. From the trials and their application in consulting student assignments, it is possible that the correction of design assignments can be done in real time by the lecturer and the results are immediately accepted by the student at that time.
Keywords: Design Education, Online Class, Collaboration Art and Design.
138 PENDAHULUAN
Per tanggal 16 Maret 2020, seluruh pimpinan perguruan tinggi pada wilayah terdampak virus Covid-19 menghentikan seluruh kegiatan akademik terutama kegiatan tatap muka perkuliahan. Keputusan itu bukan tanpa dasar, melainkan berdasarkan arahan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim. Mendikbud menyampaikan tujuan utama diberlakukannya pembelajaran daring bagi para mahasiswa ini, jelas untuk menghindari semakin besarnya kemungkinan penyebaran virus jika tatap muka tetap dilakukan. Pun Mendikbud juga mendorong para pelaku Pendidikan perguruan tinggi untuk memanfaatkan teknologi.
Pada perkuliahan daring, beberapa kebiasaan proses belajar mengajar tak lagi bisa dilakukan seperti pada perkuliahan tatap muka. Hal tersebut tentu “memaksa” para pengajar serta mahasiswa untuk beradaptasi dengan perkuliahan daring secara mendadak. Padahal, konsep perkuliahan dari di tingkat perguruan tinggi, masih dianggap sesuatu yang asing atau alien dari luar angkasa (Darmayanti, 2007). Perubahan proses belajar mengajar secara drastis tersebut, tentu mempengaruhi banyak hal, terlebih bagi pendidikan yang bersifat praktek.
Artikel ini mengangkat studi kasus salah satu pendidikan bidang desain yaitu bidang Desain Komunikasi Visual. Saat mahasiswa melakukan konsultasi desain, tak jarang pengajar terbiasa untuk menggoreskan langsung koreksinya pada tugas yang dihasilkan mahasiswa tersebut, memberi tanda sebagai saran perubahan tata layout, atau sekedar menyarankan mahasiswa untuk merubah ukuran dari konten desainnya. Koreksi tersebut tentu mudah dilakukan bila konsultasi terjadi secara tatap muka, namun menjadi tantangan tersendiri dalam proses belajar mengajar secara daring.
METODOLOGI Penelitian Kualitatif
Artikel ini menggunakan penelitian kualitatif dengan jenis studi kasus untuk menjawab pertanyaan penelitian. Hancock (2006) menyebutkan bahwa penelitian kualitatif dengan jenis studi kasus ini membuat peneliti mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang satu situasi dimana peneliti sendir juga terlibat. Metode penelitian kualitatif dengan jenis studi kasus cenderung fokus pada individu yang merupakan perwakilan dari sebuah grup, yang dalam artikel ini mengangkat pengalaman riil pengajar dalam memberikan koreksi tugas desain pada mahasiswa DKV.
139
Kondisi pembelajaran daring pada mahasiswa DKV yang diangkat pada artikel juga merupakan fenomena yang dipelajari terbatas ruang dan waktu. Penelitian ini dilakukan pada ruang terbatas yaitu ruang daring dan waktu yang diangkat pada artikel ini adalah pada saat kondisi pandemic Covid-19. Adapun jenis studi kasus pada penelitian kualitatif ini akan menghasilkan sesuatu yang deskriptif sebab informasi yang didapat merupakan sesuatu yang mendalam langsung dari pelaku proses belajar mengajar secara daring.
PEMBAHASAN Kelas Virtual
Kelas virtual atau virtual classroom merupakan ruang yang wajib dimiliki pengajar maupun mahasiswa supaya terhubung pada pembelajaran daring. Kelas virtual yang dapat dimanfaatkan sejauh ini sudah banyak tersedia, sebagai contoh group chatting seperti WhatsApp ataupun Line yang merupakan aplikasi obrolan yang dimanfaatkan untuk pembelajaran. Namun, memang tidak semua aplikasi obrolan semacam WhatsApp dan Line tersebut, tidak memiliki fitur-fitur yang mendukung penuh proses belajar mengajar secara daring.
Pengajar pada umumnya memilih terlebih dahulu media pembelajaran daring apa yang akan digunakan, baru setelah itu proses pembelajarannya akan mengikuti berdasarkan fasilitas yang ditawarkan satu media tersebut. Namun berdasarkan data tersebut, Lynch (2002) menyebutkan bahwa sebaiknya pemilihan media pembelajaran dipilih setelah pengajar mengetahui betul apa yang dibutuhkan dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan pengalaman pembelajaran daring yang diadaptasi dalam waktu singkat, tentu pengajar dan mahasiswa perlu segera menentukan kelas virtual seperti apakah yang digunakan guna mendukung proses belajar mengajar secara daring. Dalam menentukan media pembentuk kelas virtual, perlu dipertimbangkan kamampuan dari media perantara tersebut hingga biaya yang dikeluarkan jika memanfaatkan media perantara tersebut (Lynch, 2020)
Berdasarkan adaptasi yang dilakukan pengajar dalam waktu yang singkat – sebab secara cepat harus merubah kebiasaan daring dalam proses belajar mengajar, tentu perlu mencoba beberapa ruang belajar daring secara sekaligus. Sebagai pilihan, aplikasi Zoom cocok untuk video conference call bagi siapapun yang telah memiliki invitation link, namun dirasa kurang efektif bagi perkuliahan yang melibatkan peserta yang tetap dalam satu semester. Maka dari itu, dicobalah aplikasi Microsoft Teams yang merupakan system manajemen pembelajaran tunggal atau single Learning Management System.
140
Microsoft Teams dapat menyediakan ruang belajar daring secara bersamaan dengan tatap muka virtual, ruang penyedia tugas serta pengumpulannya, dokumen yang berkaitan dengan perkuliahan seperti materi serta nilai. Selain itu Teams juga menyediakan ruang obrolan untuk diskusi kelompok kecil dalam kelas yang dapat dipantau pengajar hingga fitur obrolan seperti pada umumnya (Microsoft Education Team, 2020). Berdasarkan segala fasilitas yang ditawarkan Teams tersebut, pengajar hanya cukup menggunakan satu aplikasi untuk segala kebutuhan proses belajar mengajar secara daring. Pada aplikasi Microsoft Teams, pengajar dapat membuat tim terpisah untuk masing-masing mata kuliah yang diampu, juga untuk berbagai keperluan seperti kelompok konsultasi tugas akhir maupun untuk komunikasi antar dosen. Seperti pada gambar 1, tampak pengajar maupun mahasiswa dapat tergabung dalam beberapa tim secara sekaligus, asalkan tim tersebut dibuat dalam asosiasi (sekolah atau universitas) yang sama.
Gambar 1 . Daftar Tim Pengguna Microsoft Teams
Sumber: Screenshot aplikasi Microsoft Teams pada akun Bonifacia Arumingtyas, 2020
Konsultasi Tugas Desain Secara Daring
Terhubungnya pelajar dan pengajar atau mahasiswa dan dosen pada kelas virtual, memungkinkan berbagai aktivitas belajar mengajar dapat dilakukan secara daring. Adapun
141
aktivitas belajar mengajar tersebut tentu pada awalnya akan mengalami banyak tantangan, salah satunya untuk menguasai teknis penggunaan aplikasi. Namun, bila teknis dan berbagai fasilitas aplikasi dapat dikuasai, tentu dapat terbentuk menjadi pembelajaran daring yang bersifat kolaboratif. Pembelajaran daring secara kolaboratif mampu membuat satu pengetahuan dalam satu populasi yang para anggotanya aktif berinteraksi meskipun memiliki peran yang berbeda (Pradja, 2019), yang dalam artikel ini menampilkan peran aktif dosen dan mahasiswa.
Proses konsultasi tugas dalam perkuliahan tatap muka, tentu menjadi mudah dilakukan bila dosen ingin mengkoreksi secara real time terhadap tugas perkuliahan mahasiswa. Namun, dalam kelas virtual, memungkinkan terjadinya delay dari proses unggah mahasiswa hingga dikoreksi oleh dosen. Selain delay dalam hal waktu, tidak menutup kemungkinan ada kesalahpahaman dari mahasiswa dalam menanggapi catatan koreksi yang diberikan oleh dosen melalui teks. Oleh karena itu, diperlukan adanya solusi supaya mahasiswa dan dosen dapat bertemu secara tatap muka virtual untuk keperluan koreksi tugas perkuliahan
(a) (b)
Gambar 2 . Macam Tampilan yang ditawarkan Microsoft Teams dalam fitur Meet Now (a) Tampilan Large Preview; (b) Tampilan Together Mode
Melalui Microsoft Teams sebagai kelas virtual, dosen dan mahasiswa dapat bertemu secara tatap muka virtual melalui fitur Meet Now yang tersedia di masing-masing kelas virtual yang sudah sebelumnya dibuat. Fitur ini memungkinkan sebuah kelas virtual untuk melakukan tatap muka secara bersamaan di tempat masing-masing.
142
Pada Gambar 2 (a) dan (b) menunjukkan macam tampilan kelas virtual yang ditawarkan oleh Microsoft Teams. Dosen maupun mahasiswa bebas menampilkan tampilan yang seperti apa yang ingin dilihat saat perkuliahan. Tatap muka virtual ini tentu memungkinkan terjadinya koreksi tugas perkuliahan mahasiswa secara real time dilakukan oleh dosen.
Dosen dan mahasiswa yang telah terhubung dalam kelas virtual dapat melakukan tahapan konsultasi tugas secara daring, namun tetap real time. Mahasiswa yang ingin melakukan konsultasi saat perkuliahan, dapat langsung mengajukan pada dosen untuk mengijinkan mahasiswa melakukan share sceen. Fitur share screen ini memungkinkan dosen untuk melihat layar perangkat mahasiswa untuk menampilkan tugas perkuliahan yang ingin dikonsultasikan. Supaya perbaikan secara real time dapat dilakukan, mahasiswa sebaiknya menampilkan tugas perkuliahannya yang dibuka dengan menggunakan aplikasi desktop untuk pembuatan desain seperti Adobe Photoshop atau Adobe Illustrator.
(a) (b)
Gambar 3 . Proses konsultasi dengan menggunakan Microsoft Teams
(a) Mahasiswa melakukan share screen tugas perkuliahan dengan Adobe Illustrator (b) Kursor dosen dan mahasiswa yang muncul bersamaan
Menampilkan tugas perkuliahan dalam aplikasi desktop pembuat desain, memungkinkan dosen dapat melakukan koreksi secara real time dengan memanfaatkan tools yang disediakan aplikasi desktop tersebut seperti yang ada pada gambar 3 (a). Adapun untuk dapat memberikan koreksi secara real time, tidak hanya dilakukan secara verbal, namun juga dengan mengontrol langsung layar yang ditampilkan mahasiswa. Kontrol layar
143
yang dibagikan oleh mahasiswa tersebut, dapat dilakukan dosen dengan memanfaatkan fitur request control. Fitur request control tersebut dapat mulai dilakukan setelah mahasiswa menekan persetujuan terhadap permintaan yang diberikan oleh dosen. Setelah persetujuan diberikan, maka akan muncul dua buah kursor pada layar yang ditampilkan, dimana kedua buah kursor tersebut menunjukkan kursor aktif dosen dan mahasiswa yang ditandai dengan foto profil masing masing pengguna seperti yang dapat dilihat pada gambar 3 (b).
Munculnya kedua kursor yang mewakili dosen dan juga mahasiswa, menandai bahwa kedua belah pihak dapat memanfaatkan segala tools yang ditawarkan aplikasi desktop pembuat desain tersebut. Dosen dapat langsung memilih tools yang dibutuhkan untuk perbaikan, seperti sekedar merubah posisi, mengatur ukuran, bahkan merubah jenis font jika dibutuhkan. Fitur share screen dan juga request control yang ditawarkan Microsoft Teams saat pengguna melakukan panggilan video ataupun meet now, dapat membantu proses konsultasi yang hasilnya diterima mahasiswa secara real time.
Pemanfaatan fitur-fitur yang ditawarkan Microsoft Teams, memungkinkan terjadinya konsultasi daring yang bersifat real time, sebagai contoh dalam proses konsultasi tugas poster mahasiswa Desain Komunikasi Visual. Interaksi secara real time melalui daring antara dosen dan mahasiswa tersebut menjadi contoh yang selanjutnya dapat diterapkan pada berbagai keperluan, salah satunya karya seni yang bersifat kolaboratif.
Sebagai gambaran, diumpamakan salah satu seniman digital atau illustrator melakukan share screen dengan membuka aplikasi Adobe Photoshop yang menyediakan kanvas kosong, kemudian seniman digital atau illustrator lain dapat meresponnya dengan fitur request control untuk berkolaborasi. Melalui reka situasi semacam itulah, memungkinkan terjadinya kolaborasi seni dengan memanfaatkan fitur Microsoft Teams.
Selain pemanfaatan fitur share screen dan request control pada saat meet now maupun video call, Microsoft Teams juga menyediakan fitur lain yang memungkinkan terjadinya kolaborasi seni melalui fitur whiteboard. Pada fitur whiteboard, Microsoft Teams menyediakan kanvas kosong yang dapat diisi oleh para peserta meeting seperti yang dapat dilihat pada gambar 4. Pada gambar 4 tersebut tampak bahwa tools yang ditawarkan whiteboard memang tidak selengkap aplikasi desktop seperti Adobe Photoshop, namun, whiteboard dapat membantu kolaborasi pada tahap perencanaan.
144
Gambar 4 . Penggunaan whiteboard untuk kolaborasi seni pada Microsoft Teams Sumber: Screenshot aplikasi Microsoft Teams pada akun Bonifacia Arumingtyas, 2020
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Keputusan pembelajaran daring yang dibuat oleh pemerintah di era saat ini, menjadikan para pelaku pendidikan baik dosen maupun mahasiswa wajib cepat beradaptasi. Adaptasi yang dilakukan salah satunya dengan tidak gagap teknologi serta tidak menutup diri dalam mempelajari hal-hal baru.
Memanfaatkan semaksimal mungkin teknologi yang telah tersedia menjadikan relasi dosen dan mahasiswa tetap berjalan dengan baik meskipun berlangsung melalui tatap muka virtual. Tatap muka virtual yang terjadi dalam perkuliahan dapat terus berlangsung secara maksimal jika dosen dan mahasiswa mampu bekerjasama untuk memanfaatkan teknologi yang tersedia.
Terlepas dari pemanfaatan teknologi yang diterapkan dalam perkuliahan, tentu masih ada faktor lain yang menghalangi lancarnya proses belajar mengajar tersebut. Gadget berupa smartphone maupun laptop dapat menjadi penghalang jika kemampuan gadget tidak mumpuni untuk menjalankan berbagai fasilitas yang ditawarkan kelas virtual, atau yang kerap disebut “lemot”. Minimnya kemampuan gadget bahkan dapat mengakibatkan gadget berhenti bekerja di tengah perkuliahan atau proses konsultasi. Disamping gadget, hal lain yang sangat mempengaruhi berjalannya perkuliahan daring adalah ketersediaan kuota internet yang wajib dimiliki dosen dan mahasiswa. Pentingnya kuota internet yang
145
menjadi salah satu kebutuhan utama perkuliahan daring, bahkan membuat Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan memutuskan untuk memberi subsidi berupa kuota internet kepada dosen dan mahasiswa. Diumumkan melalui akun resmi Instagram @ditjen.dikti pada tanggal 1 September 2020, bahwa bantuan yang didapat sebesar 50 GB setiap bulannya sampai Desember 2020 dengan melakukan pemutakhiran data kontak yang digunakan. Diharapkan subsidi tersebut mampu mengurangi satu penghalang dalam pemanfaatan teknologi.
Artikel ini merekomendasikan untuk penelitian lebih lanjut mengenai kolaborasi seni secara digital yang mungkin dilakukan dengan memanfaatkan fitur-fitur yang ditawarkan kelas virtual. Adapun bentuk kolaborasi yang dilakukan dapat terjadi secara real time, dengan tujuan menggantikan sementara tatap muka yang saat ini tidak dapat dengan maksimal dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa siapapun masih dapat berproduktif meskipun keadaan memaksa untuk tidak banyak melakukan aktivitas bersifat tatap muka, dengan syarat, memanfaatkan semaksimal mungkin segala teknologi yang tersedia.
REFERENSI
Darmayanti, T., Setiani, M. Y., & Oetojo, B. 2007. E-Learning pada Pendidikan Jarak Jauh: Konsep yang Mengubah Metode Pembelajaran di Perguruan Tinggi di Indonesia. Jurnal Pendidikan Terbuka Dan Jarak Jauh, 8(2), 99-113. Retrieved from http://www.jurnal.ut.ac.id/index.php/jptjj/ article/view/538
Hancock, D., Algozzine, B. 2014. Doing Case Study Research. New York: Teachers College
Press.
Lynch, Marguerita. 2002. The Online Educator: A Guide to Creating the Virtual Classroom.
London: Routledge Falmer Taylor & Fancis Group.
Martin, L., Tapp, D. 2019. Teaching with Teams: An Introduction to Teaching an Undergraduate Law using Microsoft Teams. Journal Innovative Practice in Higher
Education, 3(3), 58-66. Retrieved from
http://journals.staffs.ac.uk/index.php/ipihe/article/view/188
Microsoft Education Team. 2020. How Schools can Ramp Up Remote Learning Programs Quickly with Microsoft Teams. Microsoft Education Blog:
146
https://educationblog.microsoft.com/en-us/ 2020/03/how-schools-can-ramp- up- remote-learning-programs-quickly-with-microsoft-teams/ diakses pada tanggal 5 September 2020
Porter, L.R. 1997. Creating the Virtual Classroom: Distance Learning with the Internet.
New
York: John Wiley & Sons.
Pradja, BP., Baist, A. 2019. Analisis Kualitatif Penggunaan Mircrosoft Teams dalam Pembelajaran Kolaboratif Daring. Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika, 4th SENATIK, Program Studi Pendidikan Matematika, FPMIPATI Universitas PGRI Semarang, 415-420. Retrivied from http://103.98.176.39/index.php/senatik/article/view/88
(https://bersamahadapikorona.kemdikbud.go.id/16-maret- 2020-kemendikbud-dorong- pembelajaran-daring-bagi-kampus-di-wilayah-terdampak-covid-19/) diakses tanggal 21 Juli 2020
(https://www.instagram.com/p/CElQeTEFXti/) Akun Instagram resmi Direktorat jenderal Pendidikan Tinggi, Bantuan Kuota Internet bagi Dosen & Mahasiswa, diakses pada tanggal 8 September 2020