• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asas Kepastian Hukum Dalam Perjanjian Jual Beli

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Asas Kepastian Hukum Dalam Perjanjian Jual Beli"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1

Asas Kepastian Hukum Dalam Perjanjian Jual Beli

Henry Halim

Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Riau Jl.Azki Aris Kp.Besar Rengat

[email protected]

Abstrak

Kepastian bermakna bahwa sudah ada standar dalam setiap sesuatunya. Yang berarti jika keluar dari standar yang telah ditetapkan maka dapat dikatakan tidak ada kepastian. Sebagaimana halnya dengan satu ditambah dengan satu menghasilkan nilai dua, maka jika kita mengkalkulasikannya menjadi tiga, maka dapat dikatakan hasil yang kita peroleh jauh dari nilai kepastian sebagaimana pastinya nilai eksakta tersebut. Kepastian hukum dalam perjanjian bermakna perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tentang asas kepastian hukum dalam perjanjian jual beli rumah, dengan menggunakan jenis penelitian normatif.

Kata kunci: kepastian,asas, kepastian hukum, perjanjian jual beli rumah

Abstract

Certainty means that there is a standard in everything. This means that if it comes out of the predetermined standard, it can be said that there is no certainty. As with one plus one yields the value of two, so if we calculate it to be three, it can be said that the results we get are far from the certainty value as the exact value is. Legal certainty in an agreement means that an agreement made legally applies as law for those who make it. The purpose of this study is to describe the principle of legal certainty in the house sale and purchase agreement, using this type of normative research.

Keywords: certainty, principle, legal certainty, house sale, and purchase agreement

(2)

2 A. Latar belakang

Asas hukum menurut Satjipto Rahardjo merupakan “jantung” peraturan hukum. Asas merupakan landasan yang paling luas bagi lahirnya suatu peraturan hukum. Peraturan- peraturan hukum itu pada akhirnya bisa dikembalikan kepada asas-asas hukum itu.

Kecuali disebut landasan, asas hukum tersebut layak disebut sebagai alasan bagi lahirnya peraturan hukum atau sebagai ratio legis dari peraturan hukum. Dengan demikian, hukum itu bukan sekedar kumpulan peraturan, karena asas yang mendasarinya mengandung nilai- nilai dan tuntutan-tuntutan etis merupakan jembatan antara peraturan-peraturan hukum dengan cita-cita sosial dan pandangan etis masyarakatnya (Isretno, 2011).

Menurut Soedikno Mertokusumo, kepastian hukum adalah perlindungan yustisiabel terhadap tindakan sewenang- wenang, yang berarti bahwa seseorang akan dapat memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu (Mertokusumo, 1999).

Kepastian hukum berarti kepastian dalam pelaksanaannya, yang dimaksud adalah bahwa hukum yang resmi diperundangkan dilaksanakan dengan pasti oleh Negara.

Kepastian hukum bahwa setiap orang dapat menuntut agar hukum dapat dilaksanakan dan tuntutan itu pasti dipenuhi, dan bahwa setiap pelanggaran hukum akan ditindak dan dikenakan sanksi menurut hukum juga (Erwin, 2012).

Sedangkan dalam hukum perjanjian, ada beberapa asas yang dikenal dalam ilmu hukum yakni salah satu nya adalah asas kepastian hukum dimana perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Kepastian hukum dalam perjanjian bermakna bahwa bagi para pihak yang mengadakan perjanjian, perjanjian yang mereka buat adalah undang-undang atau

hukum bagi mereka, dimana mereka terikat untuk melaksanakan hak dan kewajiban yang telah mereka tetapkan dan salah satu pihak tidak dapat memutuskan perjanjian secara sepihak tanpa persetujuan pihak lain.

Kepastian hukum berarti apabila salah satu pihak mengingkari kewajibannya, maka memberikan hak kepada pihak lawan untuk menuntut pelaksanaan prestasi baik disertai ganti rugi atau tidak kepada pihak yang mengingkarinya artinya ada perlindungan Negara terhadap hak-hak warga negaranya yang hilang dalam suatu perikatan yang mereka buat. Hal ini sesuai dengan ketentuan pasal 1266 KUHPerdata tentang campur tangan pengadilan dalam hal perjanjian para pihak.

Dalam buku III KUHPerdata tentang perikatan, terutama dalam aturan-aturan dalam perjanjian jual beli, terdapat pengaturan mengenai hak-hak dan kewajiban para pihak dalam perjanjian yang mereka buat, aturan- aturan mana dapat mereka ikuti atau dikesampingkan. Pihak penjual berkeinginan agar barangnya habis terjual dan mendapatkan keuntungan sebesar-sebesarnya, sedangkan pihak pembeli berkeinginan mendapatkan barang yang dia inginkan. Masing-masing bergerak mengikuti hukum permintaan dan penawaran.

Dimana ada masyarakat, disitu ada hukum.

Meskipun hanya terdiri dari dua orang, maka disitulah hokum akan ada dan eksis selama mereka berdua mengadakan hubungan hukum.

Hanya seorang diri tidak eksis hukum padanya, kecuali hukum ber Tuhan dalam hubungan vertical. Memang, tiada hukum akan tercipta jika tidak ada masyarakat yang saling berinteraksi meskipun hanya terdiri dari dua orang subjek hukum, yang saling memberikan kewajiban dan haknya masing-masing.

Jika demikian, maka sudah seharusnya hukum di junjung tinggi oleh kedua belah

(3)

3 pihak dalam perjanjian jual beli, bahkan

perjanjian itu sendiri merupakan undang- undang bagi mereka yang membuatnya.

Makanya, kontrak yang dibuat oleh para pihak memberikan kepastian hukum kepada mereka yang membuatnya sebab tiadalah mereka diperbolehkan menyimpang dari hukum yang telah mereka buat. Jika hal demikian terjadi, maka pihak yang satu dapat menuntut agar hukum ditegakkan, yang kalau dalam hukum perdata, harus ada pelaksanaan prestasi disertai ganti rugi atau tidak.

Maka dari itu penulis mengambil penelitian ini dengan judul “asas kepastian hukum dalam perjanjian jual beli”.

B. Pembahasan

Transaksi hukum yang khas dari hukum perdata adalah perjanjian. Perjanjian berisi pernyataan kehendak yang sama dari dua orang individu atau lebih. Pernyataan kehendak para pihak yang mengadakan perjanjian ditujukan terhadap suatu perbuatan tertentu dari para pihak ini. Tata hukum mungkin, tetapi tidak mesti, menetapkan suatu bentuk khusus pernyataan kehendak ini. Tetapi para pihak harus selalu menyatakan kehendaknya menurut suatu cara. Kalau tidak, fakta bahwa suatu perjanjian dibuat tidak dapat dibuktikan menurut suatu prosedur hukum, khususnya oleh pengadilan dan hanya fakta yang dapat dibuktikan menurut suatu prosedur hukum yang memiliki signifikansi hokum (Kelsen, 2007).

Biasanya kehendak para pihak dinyatakan dalam bentuk perjanjian tertulis atau dalam bentuk perjanjian lisan saja. Tetapi untuk transaksi-transaksi yang komplek tentunya adalah relevan kalau bentuk perjanjian tertulis yang dipilih para pihak. Dan perjanjian tertulis lebih menjamin kepastian hokum karena ada bukti bahwa apa-apa yang menjadi

kesepakatan para pihak telah nampak dalam bentuk tertulis.

Apa yang di perjanjikan, kapan ditandatanganinya kontrak, para pihak yang berkontrak, latar belakang terjadinya kontrak, klausul definisi, hak dan kewajiban para pihak yang berkontrak, hal-hal yang menjadi ukuran terjadinya wanprestasi, konsekuensinya jika terjadi wanprestasi, serta pilihan hukum dalam penyelesaian konflik merupakan wujud kepastian hukum bagi para pihak berkontrak.

Dalam pelaksanaannya, para pihak akan mengacu pada perjanjian yang telah mereka buat. Menyimpang dari hak dan kewajiban dalam perjanjian yang telah mereka buat, akan mengakibatkan sengketa hukum yang pada akhirnya akan diselesaikan oleh lembaga litigasi ataupun non litigasi sesuai dengan kesepakatan pilihan hokum yang mereka buat.

Ambil contoh salah satu klausula dalam perjanjian jual beli antara pihak penjual dan pihak pembeli, tentang para pihak dalam berkontrak. Penentuan siapa-siapa yang menjadi para pihak dalam perjanjian, sangat penting dalam kepastian hukum berkontrak.

Seandainya terjadi sengketa, maka siapa yang menjadi pihak penggugat dan tergugat akan sangat penting jika dihadapkan ke depan persidangan, agar jangan sampai terjadi error in persona.

Dalam penentuan lalai atau wanprestasi misalnya para pihak dapat menentukan dalam perjanjian yang mereka buat kapan saat terjadinya lalai atau wanprestasi itu agar para pihak memiliki kepastian hukum dalam proses penyelesaian sengketa. Berdasarkan pasal 1238 KUHPerdata yang menyatakan :

“siberutang adalah lalai, apabila ia dengan surat perintah atau dengan sebuah akta sejenis itu telah dinyatakan lalai, atau demi perikatannya sendiri, ialah jika ini menetapkan, bahwa siberutang harus

(4)

4 dianggap lalai dengan lewatnya waktu

yang ditentukan”

Berdasarkan pasal 1238 KUHPerdata, ada dua cara untuk membuktikan telah terjadinya wanprestasi,yaitu:1. Wanprestasi yang akan ditentukan demi hukum atau berdasarkan undang-undang,2. Wanprestasi yang ditentukan berdasarkan perjanjian (perikatan) itu sendiri. Penentuan telah terjadinya wanprestasi demi hukum dilakukan hanya apabila dalam kontrak yang disepakati para pihak tidak mengatur tata cara bagaimana keadaan wanprestasi tersebut dapat terjadi.

Sebaliknya, bila ketentuan tata cara terjadinya wanprestasi telah secara tegas diatur para pihak dalam kontrak, maka pembuktiannya harus dilakukan berdasarkan kontrak yang disepakati tersebut. Dengan kalimat lain, pembuktian secara demi hukum merupakan ketentuan umum (lex generalis) dalam membuktikan telah terjadinya wanprestasi.

Sedangkan penentuan status wanprestasi berdasarkan kontrak itu sendiri merupakan hukum khusus (lex spesialis). Artinya, ketika dalam kontrak telah disepakati keadaan- keadaan seperti apa saja yang dapat dikategorikan sebagai dasar atau fakta-fakta telah terjadinya tindakan lalai ataupun wanprestasi maka pengadilan akan melakukan pembuktian terjadi atau tidak terjadinya wanprestasi berdasarkan kontrak tersebut (lex spesialis derogate legi generalis) (Simanjuntak, 2011).

Jadi, apa yang telah disepakati oleh para pihak merupakan undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Undang-undang itu mengatur bagaimana mereka harus bertingkah laku dalam pelaksanaan perjanjian yang telah mereka buat. Ada hak-hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh mereka yang mengikatkan dirinya dalam undang-undang yang telah mereka buat. Apa yang menjadi kewajiban pihak yang satu, akan hak pihak lawan disisi yang lain. Masing-masing

bertimbal balik dalam pelaksanaan perjanjian sehingga apa yang oleh undang-undang yang mereka buat merupakan cerminan asas kepastian hukum bagi mereka berdua, bukankah tujuan undang-undang yang mereka buat adalah terlaksananya prestasi masing- masing pihak dan pemenuhan hak-hak mereka berdua yang dijamin oleh hukum. Seandainya ada satu pihak yang tidak memenuhi prestasinya, misalnya dalam perjanjian jual beli, pihak penjual tidak menyerahkan barang atau menyerahkan barang yang sebagian rusak, maka akan memberikan hak kepada pihak lawan untuk menuntut pemenuhan prestasi disertai ganti rugi atau tidak. Jadi, ada kepastian hokum dalam pemenuhan hak-hak para pihak jika pihak yang satu menciderai janjinya.

Dalam perjanjian jual beli, kewajiban pihak penjual meliputi penyerahan barang yang dijadikan objek jual beli dan menjamin cacat tersembunyi atas barang yang dijualnya, serta menjamin aman hukum bagi pembeli dari gangguan pihak lain (Setiawan, 2015).

Dalam pasal 1457 KUH Perdata menyatakan bahwa:

“jual beli adalah suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan…..”

Jual beli adalah perjanjian yang memiliki akibat hukum karena antara penjual dan pembeli terdapat hubungan hukum, yaitu suatu hubungan yang menimbulkan hak-hak dan kewajiban antara pihak penjual dan pihak pembeli. Maka dari itu, sudah sewajarnya jika kewajiban yang dibebankan kepada penjual akan memiliki konsekuensi hukum bahwa apabila pihak penjual tidak melaksanakan prestasinya yakni penyerahan suatu barang, maka akan menimbulkan hak bagi pihak pembeli untuk menuntut si penjual agar

(5)

5 menyerahkan barangnya sesuai dengan harga

yang telah dibayarkan penuh oleh pembeli. Hal inilah yang menimbulkan kepastian hukum kepada kedua belah pihak, yang mana pelaksanaan perjanjian jual beli nya akan dapat terlaksana dan para pihak mendapatkan hak nya masing-masing.

Bagaimanakah penyerahan itu harus dilakukan oleh penjual? Hal ini ditentukan oleh jenis barang apa yang harus diserahkan karena tiap-tiap barang memiliki aturan penyerahan sendiri-sendiri.1

1. penyerahan barang bergerak

Penyerahan dilakukan dengan penyerahan kekuasaan atas barang itu, sebagaimana dinyatakan dalam pasal 612 ayat 1 KUHPerdata yang berbunyi “penyerahan kebendaan bergerak, terkecuali tak bertubuh, dilakukan dengan penyerahan yang nyata, akan kebendaan itu oleh atau atas nama pemilik atau dengan penyerahan kunci-kunci dari bangunan, dalam mana kebendaan itu berada.

2. penyerahan barang tetap

Terjadi dengan perbuatan balik nama, dalam bahasa belanda disebut

“overschrijiving”, dihadapan pegawai. Balik nama diatur dalam pasal 616 KUHPerdata yang berbunyi “penyerahan atau penunjukan akan kebendaan tak bergerak dilakukan dengan pengumuman akan akta yang bersangkutan dengan cara seperti ditentukan dalam pasal 620 KUHPerdata. Sejak berlaku Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang peraturan dasar pokok agrarian, penyerahan dilakukan dihadapan pejabat pembuat akta setempat, kepemilikannya terjadi saat penandatanganan akta PPAT tersebut.

1 Ibid, Hal.165

3. penyerahan barang bergerak tak bertubuh

Dilakukan dengan perbuatan yang disebut Cessie, yang diatur dalam pasal 613 KUHPerdata.

Dengan demikian, asas kepastian hokum merupakan suatu asas yang memberikan rasa aman kepada kedua belah pihak karena dengan asas kepastian hokum akan menjamin terpenuhinya hak-hak para pihak dalam mengadakan perjanjian. Betapa tidak, ketika para pihak sudah berjanji dalam suatu perikatan jual beli, maka para pihak akan terikat dalam suatu hukum bagi mereka yang akan membawanya kepada suatu pemenuhan kewajiban-kewajiban dalam pelaksanaan perjanjian. Dikatakan bahwa perjanjian merupakan undang-undang bagi mereka yang membuatnya, membenarkan apa yang akan mereka lakukan yang berupa pemenuhan prestasi-prestasi antara kedua pihak, dengan syarat bahwa perjanjian mereka ini memenuhi syarat sahnya perjanjian, yakni kesepakatan, kecakapan, suatu hal tertentu, dan causa yang halal.

C. Kesimpulan

Asas kepastian hukum adalah asas yang menyatakan bahwa perjanjian merupakan undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Dalam perjanjian jual beli dimana pihak penjual dan pembeli mengadakan hubungan hukum dimana hubungan ini melahirkan hak-hak dan kewajiban bagi para pihak, yakni pihak penjual dan pihak pembeli. Perjanjian jual beli ini karena merupakan hubungan hukum, maka jika salah satu pihak tidak memenuhi prestasinya, maka pihak lawannya berhak untuk menuntut agar pihak yang satu memenuhi prestasinya. Disinilah letak kepastian hukumnya dalam perjanjian. Apa

(6)

6 saja yang menjadi kesepakatan dalam

perjanjian jual beli itu merupakan kepastian hukum bagi kedua belah pihak

DAFTAR PUSTAKA

Erwin, M. (2012). Filsafat Hukum. Rajawali Press.

Isretno, E. (2011). Pembiayaan Mudharabah Dalam Sistem Perbankan Syari’ah.

Cintya Press.

Kelsen, H. (2007). Teori Umum Hukum Dan Negara (terjemahan). Bee Media Indonesia.

Mertokusumo, S. (1999). Mengenal Hukum;

Sebuah Pengantar. Liberty.

Setiawan, I. K. O. (2015). Hukum Perikatan.

Sinar Grafika.

Simanjuntak, R. (2011). Hukum Kontrak.

Kontan Publishing.

Referensi

Dokumen terkait

Puji dan syukur Penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan ridho-Nyalah Penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini yang

[r]

Sistem navigasi adalah suatu sistem yang dapat mempermudah untuk mengetahui suatu tempat dengan kata lain Navigasi atau pandu arah adalah

Skripsi HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI ISTRI SERTA KEDUDUKAN ETTY NARO.. yang baik den tidak dlperbolehkan untuk oeoindehkon atau oeobeboni harta kokeyaan tidak bergerak nilik ietari

Banyaknya jumlah perusahaan yang telah disertifikasi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang berasal dari pemerintah Republik Indonesia, menerima sertifikasi

Penelitian ini menemukan: (1) makna jihad yaitu mencurahkan segala kemampuan/menanggung pengorbanan dan bersungguh-sungguh, kedua makna tersebut mencangkup: a) objek

Contoh, misalkan arus mengalir pada Emitor I E = 5 mA.. Transistor adalah Komponen aktif yang mempunyai tiga elektroda 2). Bipolar Transistor dengan elektroda Basis, Emitor

Dari hasil analisa yang dilakukan dengan memvariasikan beban yang diberikan pada lengan ayun mesin gurdi maka dapat dinyatakan bahwa beban yang diberikan pada