• Tidak ada hasil yang ditemukan

Modern Music Performance Architectural Design

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Modern Music Performance Architectural Design"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

39 Modern Music Performance Architectural Design

Gilang Adi Pamungkas1, Fajar Ikhwan Harmono1, Kemal Affandi1

1Program Studi Arsitektur, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Faletehan [email protected]

Abstract

This idea was developed out of need. Displaying Contemporary Music Unsuitable buildings, particularly in urban areas. Since five years ago, Bandung, a city with a big number of fan communities, has grown by 20 percent. As far as acoustic quality and space limitations are concerned, the accessibility of music performance halls in Bandung does not currently offer a solution to these issues. The purpose of this plan is to upgrade the production of contemporary music execution so that it becomes a standardized assembly in the Bandung region as a whole and globally, with capable acoustic innovations, so that it can serve as a benchmark in the construction of contemporary music execution structures. To address the current issue, a presentation room with an acoustic innovation strategy that is tailored to the needs of the melody exhibition will be designed. This plan will result in the creation of an option plan for assembling a contemporary music performance that conforms to the client's specifications regarding acoustic quality and room constraints. Architecture with a dynamic idea. This concept represents a desire to create a dynamic and hospitable environment, thereby encouraging clients to develop their thinking consistently. Through advanced and basic plans, with the goal of maintaining its diversity and enjoyment. Through this concept, we are expected to provide our guests with a beautiful yet comfortable environment. In addition, the outcomes of this plan can be an input for the Joint Government of West Java, the local community, and art activists, particularly musical specialists, to have the option to collaborate on the construction of performance expressions based on their respective needs using the planned methodology and strategy.

Keywords: Design,Building,Performing Arts,Contemporary music

Abstrak

Rencana ini dilakukan karena urgensi. Menampilkan Bangunan Musik Kontemporer yang tidak sesuai dengan kebutuhan, khususnya di kota..Bandung yang memiliki banyak penggemar dengan jumlah komunitas. .tumbuh 20% sejak lima tahun lalu. Namun, aksesibilitas gedung pertunjukan..musik di Bandung belum memiliki pilihan untuk menjawab permasalahan tersebut sejauh mendukung kualitas akustik dan batasan ruangan. Alasan dari rencana ini adalah untuk mengupgrade fabrikasi eksekusi musik kontemporer sehingga menjadi sebuah rakitan yang ternormalisasi baik di wilayah Bandung secara luas maupun universal dengan inovasi akustik

(2)

Jurnal Arsitektur Archicentre Universitas Faletehan Gilang,Fajar, Kemal

40 yang mumpuni sehingga sangat baik dapat menjadi acuan dalam membuat struktur eksekusi musik kontemporer. Untuk menjawab permasalahan saat ini, rencana yang akan diselesaikan adalah merencanakan ruang presentasi dengan pendekatan inovasi akustik yang disesuaikan dengan kebutuhan pameran melodi. Hasil yang ingin dicapai dari rencana ini adalah pembuatan rencana pilihan untuk perakitan eksekusi musik kontemporer yang dinormalisasi dan sesuai dengan kebutuhan kliennya sejauh kualitas akustik dan batasan ruangan.Konsep arsitektur dinamis. Ide ini merupakan kerinduan untuk membuat iklim yang dinamis dan kondusif, sehingga mendorong klien di dalamnya untuk secara konsisten bergerak dalam mengembangkan pemikiran mereka. Melalui rencana lanjutan dan dasar, dengan tujuan agar tetap kaya dan menyenangkan.

Melalui ide ini diandalkan untuk memberikan lingkungan yang indah namun juga nyaman bagi para tamu. Selain itu, konsekuensi dari rencana ini dapat menjadi masukan bagi Pemerintah Bersama Jawa Barat, daerah setempat dan para penggiat seni, khususnya kekhasan musik untuk memiliki pilihan untuk bekerja sama dalam membuat konstruksi ekspresi pertunjukan yang sesuai dengan kebutuhan mereka dengan metodologi dan strategi yang telah direncanakan.

Kata Kunci..: Perancangan,. Gedung,.Seni..Pertunjukan,..Musik kontemporer

1. PENDAHULUAN

Perkembangan musik di Kota Bandung merupakan salah satu indikator kemajuan musik di Indonesia. Terbukti bahwa para ahli musik telah melompat dari kota ini. Begitu pula dengan perkembangan karya-karya terkenal yang menjadi tolak ukur kemanfaatan seniman. Menurut penikmat musik Buky Wikagoe, predikat Bandung sebagai salah satu pusat musik terkenal muncul pada tahun 1970-an. Saat itu, City of Blossoms dibandingkan dengan Malang dan Medan. Inovatif bisnis di kota bandung khususnya bidang, dapat kita temukan dalam kemajuan bisnis musik di kota bandung yang semakin berkembang (Gambar 1.1)

(Gambar 1.1)

(Sumber:https://opendata.jabarprov.go.id/id /visualisasi/jumlah-senimanberdasarkan-

kesenian-di-provinsi-jawa-barat-tahun- 2014---2018

Komunitas - komunitas pencinta musik yang masih aktif menyelenggarakan pagelaran-pagelaran musik juga membuktikan bahwa Bandung merupakan pusat seni budaya yang masih aktif di Indonesia. Banyak seniman terkenal yang asli lahir di Kota Bandung kelompok musik yang berdiri dan pernah berdiri di Kota Bandung sudah terdata sekitar 250 nama (sejak 1990 hingga pertengahan 2018),

(3)

Jurnal Arsitektur Archicentre Universitas Faletehan Gilang,Fajar, Kemal

41 mulai dari duo maupun big band. Nama-

nama band ini termasuk nama yang sudah masuk menjadi band nasional seperti Gigi, Cokelat, hingga Band Indie seperti Mocca, Burgerkill. Salah satu pelaku seni yaitu Hari Pocang, Adalah pemain harmonica, perkusi, dan piano terkemuka dan album pertamanya bernama philosophy Bersama Harry Rusli dia pemain juga di Klab Jazz. Banyaknya musisi terkenal Sehingga fasilitas seperti gedung pertunjukan atau auditorium merupakan sangat diperlukan untuk mewadahi kegiatan kreatif warga Bandung khususnya dari kalangan musisi yang memang sebagian besar memperhatikan dan mengapresiasi seni, yaitu seni musik

Perancangan Gedung pertunjukan musik kontemporer merupakan alternatif Gedung pertunjukan atau konser musik di kota Bandung Berdasarkan data dari dinas pariwisata dan kebudayaan Bandung diketahui bahwa bandung memiliki sidikitnya 794 komunitas, yang 20%

diantaranya adalah komunitas yang bergerak dibidang seni pertunjukan yang aktif mengadakan kegiatan. Namun ternyata hal tersebut tidak cukup menjadi alasan bagi Bandung untuk memiliki suatu fasilitas atau wadah dimana segala kegiatan komunitas- komunitas tersebut dapat diketahui dan dinikmati baik oleh masyarakatnya sendiri ataupun wisatawan dari luar Bandung.

Animo masyarakat pada pertunjukan musik tergolong tinggi, dapat dibuktikan dengan padatnya kegiatan-kegiatan festival ataupun

konser-konser musik yang diadakan di kota ini.

Untuk itu perlu diadakannya gedung pertunjukan musik modern yang sesuai dengan standard dan dapat membuat penampil menjaga kestabilan dalam kualitasnya agar mendapatkan Crowd atau suasana pertunjukan yang diinginkan. Hal ini dikarenakan sangat jarang terdapat gedung pertunjukan musik modern yang benar-benar layak, khususnya di kota Bandung. Sehingga dengan adanya gedung pertunjukan musik yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat hiburan, namun juga berperan sebagai sarana untuk pertukaran nilai nilai kebudayaan , pengalaman dan pengeksekusian ide kesenian para musisi yang ada di kota Bandung dalam skala nasional bahkan internasional.

II. DESKRIPSI PROYEK 2.1 Data Lokasi

Lokasi: Cidurian Baru Jl. SoekarnoHatta .679..Jatisari,..Kec..Buahbatu,.Kota..Bandu ng, Jawa Barat 40286

Gambar 2.1 Peta lokasi (sumber: Google Earth Pro)

● Luas Lahan : 12.000 m²

● Peraturan Daerah

● Luas Lahan: 12.000 m2 ±

● Gsb : minimum 15 meter sebagai Rtnh (Plaza)

(4)

Jurnal Arsitektur Archicentre Universitas Faletehan Gilang,Fajar, Kemal

42

● Kdb : 70% (70% x 12.000 m2 = 7.700 m2 )

● Klb : 2.1 (2.1 x 12.000 = 23.100. m2)

● Jumlah lantai : 23.100 m2 ÷ 7.700 m2 = 3 Lantai

● Kdh : 20% (20% x 12.000 m2 = 2.200 m2 )

● Ktb :- 2.200 m2 – 12..000m2 = 8.800

● Tata guna lahan : K3 (perdagangan jasa linier)

Gambar 2.2 Foto lokasi (sumber: Dokumentasi pribadi) 2.2 Pertimbangan Pemilihan Lokasi

Pemilihan lokasi ini didasarioleh beberapa faktor diantaranya adalah sebagai berikut:

- Lahan berada di SWK Kordon yaitu Kawasan musikapolis yang ditujukan untuk pertunjukan musik dan theme park musik kreatif di jawa barat

- Pembangunan subsector seni musik memiliki daya Tarik yang besar.

- Lokasi tidak jauh dari fasilitas transportasi seperti stasiun halte dan jalan tol.

- Berdasarkan - Dengan adanya Perda Kota Bandung No. 10 Tahun 2015 tentang Perincian Penyusunan dan Penyusunan Tata Ruang Kota Bandung Untuk SWK Kordon Tahun 2015-2035, khususnya untuk kemajuan bisnis musik

-

2.3 Gedung Pertunjukan Musik Kontemporer

2.3.1Pengertian

a. Gedung Pertunjukan

Gedung pertunjukan musik adalah

bangunan yang berfungsi untuk menyelenggarakan pertunjukan musik atau pameran musik yang tidak direkam. Sesuai dengan tujuannya, masalah khusus yang diperlukan adalah kondisi akustik di lobi pertunjukan, baik koridor pertunjukan, baik yang tidak memihak maupun emosional, berada dalam kondisi ideal sesuai dengan artis dan penontonnya.

Gedung pertunjukan merupakan konsekuensi dari kemajuan bangunan dari budaya barat yang sebenarnya diharapkan dapat membantu kriya budaya musik.

Rangkaian pengalamannya dimulai pada pertengahan abad kesembilan belas, dimulai dengan struktur sebagai amfiteater, colloseoum, rumah pertunjukan lain dan kemudian koridor pertunjukan. Peningkatan ini juga sesuai dengan kemajuan akustik dan

(5)

Jurnal Arsitektur Archicentre Universitas Faletehan Gilang,Fajar, Kemal

43 teknik. Di zaman yang serba canggih ini,

koridor pertunjukan merupakan konsekuensi dari perkembangan terkini dari..berbagai kemajuan,.ilmu..pengetahuan..dan..seni..mu sik..itu..sendiri..Selanjutnya..adalah..klarifi kasi Irukawa Elisa dalam Dari http://e- journal.uajy.ac.id/1603/3/2TA12549..

b. Musik Kontemporer

Musik..kontemporer sebagai sebuah genre musik yang mandiri,.keberadaannya..mulai..marak..setel ah berakhirnya perang duniaII. Dipelopori oleh..Arnold..Schoenberg..dengan..tangga nadaduodekatonik atau 12 nada. Tangga nada..yang..umum..dikenal adalah diatonik, terdiri dari 7 nada: do re mi fa so la bagi pemahaman..sebagian..orang,.musik..konte mporer..selalu..dikaitkan..dengan..gagasan penggunaan..instrumen.ZPenggunaan alat musik kombinasi "masa kini" dan

"konvensional" dapat menegaskan bahwa ini adalah musik kontemporer. Juga harus dipahami bahwa ide atau pemikiran dengan kombinasi instrumen benar-benar tidak dapat memastikan bahwa karya melodi adalah musik kontemporer. Pada dasarnya,

"kontemporer" berarti "sekarang". Musik Kontemporer adalah jenis musik yang baru dibuat, atau dikenal sebagai belum pernah dibuat.

Berdasarkan pengertian di atas, maka Gedung pertunjukan musik kontemporer. Rencana ini dilakukan

karena..urgensi..Menampilkan

Bangunan..Musik Kontemporer yang tidak..sesuai..dengan..kebutuhan,khusus nya di kota..Bandung yang memiliki banyak penggemar dengan jumlah komunitas..tumbuh..20%..sejak

..

lima..ta hun..lalu,.Namun,.aksesibilitas..gedung.

.pertunjukan..musik di Bandung belum memiliki pilihan untuk menjawab permasalahan tersebut sejauh mendukung kualitas akustik dan batasan ruangan. Alasan dari rencana ini adalah untuk mengupgrade fabrikasi eksekusi musik kontemporer sehingga menjadi sebuah rakitan yang ternormalisasi baik di wilayah Bandung secara luas maupun universal dengan inovasi akustik yang mumpuni sehingga sangat baik dapat menjadi acuan dalam membuat struktur eksekusi musik kontemporerHasil yang ingin dicapai dari rencana ini adalah pembuatan rencana pilihan untuk perakitan eksekusi musik kontemporer yang dinormalisasi dan sesuai dengan kebutuhan kliennya sejauh kualitas akustik dan batasan ruangan.

2.3 Tujuan Perancangan

Perancangan Gedung pertunjukan musik kontemporer merupakan alternatif Gedung pertunjukan atau konser musik di Kota Bandung Berdasarkan data dari Dinas pariwisata dan kebudayaan Bandung

(6)

Jurnal Arsitektur Archicentre Universitas Faletehan Gilang,Fajar, Kemal

44 diketahui bahwa bandung memiliki

sidikitnya 794 komunitas, yang 20%

diantaranya adalah komunitas yang bergerak dibidang seni pertunjukan yang aktif mengadakan kegiatan. Namun ternyata hal tersebut tidak cukup menjadi alasan bagi Bandung untuk memiliki suatu fasilitas atau wadah dimana segala kegiatan komunitas- komunitas tersebut dapat diketahui dan dinikmati baik oleh masyarakatnya sendiri ataupun wisatawan dari luar Bandung.

Animo masyarakat pada pertunjukan musik tergolong tinggi, dapat dibuktikan dengan padatnya kegiatan-kegiatan festival ataupun konser-konser musik yang diadakan di kota ini.

Tujuan perancangan Gedung pertunjukan ini adalah Mewujudkan kebutuhan masyarakat Kota Bandung akan pertunjukan musik dengan sebuah gedung pertunjukan musik yang sesuai dengan tipologinya, dan mewadahi aktifitas masyarakat Kota Bandung dalam hal bermusik melalui sebuah gedung pertunjukan musik. Appleton dalam Sandi (2000) menyebutkan bahwa, gedung pertunjukkan yang mampu mewadahi musik tradisional sampai musi modern itu adalah jenis Concert Hall. Show Corridor sebagian besar mencakup pameran musik tradisional di samping ansambel. Selain itu, Show Lobby juga mewajibkan pameran musik kontemporer dan musik lainnya. Theater and Stage, Front Off House, dan Back Stage adalah bagian utama yang membentuk Show

Corridor. Biasanya tipologi panggung di adalah sebagai Shoebox atau Grape Plantation.

Selain itu, lokasi merupakan komponen penting dalam membuat Show Hall.

Sebagaimana ditunjukkan oleh Ian Appleton dalam bukunya yang berjudul Construction for The Performing Craftsmanship, kondisi region Show Entryway berada di Metropolitan People group atau kawasan pusat kota. Oleh karena itu, berdasarkan penilaian tersebut, tulisan ini akan membahas tentang langkah-langkah region yang dinilai efektif dalam menata Show Hall. Karena Koridor Pertunjukan dikenang untuk persiapan metropolitan, maka penataan model wilayah akan dievaluasi berdasarkan Hipotesis Rencana Kota - Kantor Hamid Shirvani Wilayah gedung pertunjukan musik delegasi adalah kantor yang dibutuhkan oleh individu Kota Bandung yang menyukai musik .

III. ELABORASI TEMA 3.1 Pengertian Arsitektur Dinamis Arsitektur Dinamis. Desain masa kini akan terus bergerak dengan kuat, selalu berubah bentuk menjadi lebih sesuai dengan alam dan pikiran kreatif. Dynamic Design mengungkap tiga kemajuan prinsip:

perubahan, penciptaan unit modern, dan penciptaan energi bersih sendiri. Ini disebut desain dinamis. Struktur Komposisi Dinamis mengikuti matahari dan bergerak mengikuti angin, membuat rencana

(7)

Jurnal Arsitektur Archicentre Universitas Faletehan Gilang,Fajar, Kemal

45 pembangunan saat ini lebih produktif dan

tidak berbahaya bagi ekosistem. Struktur Struktur Dinamis terus berubah bentuknya.

Karena setiap lantai berputar secara independen, keadaan struktur terus berubah, membawa perspektif dan pertemuan baru;

dari sekarang ke masa mendatang, teknik masa kini tidak akan terbatas pada struktur yang tidak fleksibel; pengembangan akan memiliki metodologi lain dan kemampuan beradaptasi. Komunitas perkotaan akan berubah lebih cepat dari yang kita bayangkan.

Tujuan Alasan dari ide rancangan ini adalah untuk menciptakan suasana yang dinamis dan menyenangkan, dengan cara ini di dalamnya untuk secara konsisten bergerak‟dalam mengembangkan pemikiran mereka. Melalui rencana yang canggih dan mendasar, dengan tujuan agar tetap indah dan menyenangkan. Melalui ide ini diandalkan untuk memberikan lingkungan yang bagus namun juga nyaman bagi para tamu. Istilah dinamis dengan teknik memiliki hubungan yang sangat nyaman.

Dinamis dalam KBBI memiliki arti sarat dengan kegairahan dan tenaga sehingga dapat bergerak, memiliki hubungan sebagai ilmu rekayasa itu sendiri yang terus berlangsung setelah beberapa kali penerapannya, Lapisan struktur dipengaruhi oleh dua bagian site, khususnya arah matahari dan arah angin. Arah matahari ke arah Timur-Barat dimaksudkan untuk memperkecil ruang bangunan untuk

mengkoordinasikan siang hari, mempengaruhi rencana keadaan bukaan pada veneer struktur. Denah bukaan eksterior dimanfaatkan untuk memperkuat ide yang kuat. Ide yang kuat tercermin melalui tindakan penyusunan di situs dan di dalam struktur yang dimaksudkan untuk masuk akal melalui rencana aliran sirkulasi

3.2 Intrepretasi Tema

Adapun penerapan Arsitektur Dinamis pada objek perancangan kali ini dibatasi pada beberapa prinsip arsitektur yang akan di aplikasikan dalam bangunan diantaranya :

● Akan diterapkan pada fasad bangunan,

● Pada zoning bangunan, dan lanskap.

● Nantinya fasad bangunan dipengaruhi oleh dua aspek analisa tapak

IV. Konsep 4.1 Konsep Dasar

Proses perancangan Gedung

Pertunjukan Musik Kontemporer didapatkan dari hasil proses analisa pada bab sebelumnya yang dipadukan dengan konsep – konsep yang mendukung tema dinamis Ruang Apresisasi Publik yang mendukung mendukung terwujudnya masyarakat yang kreatif inovatid dan mempunyai apresiasi tehadap seni yang besar, oleh karena itu.

Gedung Pertunjukan Musik Kontemporer ini

(8)

Jurnal Arsitektur Archicentre Universitas Faletehan Gilang,Fajar, Kemal

46 dilengkapioleh ruang pertunjukan, ruang

terbuka, ruang komunal dan ruang transisi sebagai wadah aktivitas yang kreatif dan inovatif Unity Site dan tatanan massa kompleks disusun dengan memperhatikan interaksi ruang luar, ruang transisi dan ruang dalam dalam sebagai satu kesatuan yang berkesinambungan

4.2 Konsep Zonasi dan Perletakan Massa

● Zonasi

. Konsep zoning ini merupakan gambaran posisi perletakan zona-zona bangunan pada perancangan tapak. Dasar dari konsep zoning ini adalah unsur dinamis yang berkaitan dengan ekspresi kejujuran, dimana fungsi primer,sekunder, dan penunjang bangunan diletakkan pada area yang sesuai dengan fungsi dari bangunan tersebut.

4.3 Konsep Bentuk Bangunan Menggabungkan unsur-unsur konsep desain yang pendekatan bentuk massa diambil ini bedasarkan analisis yang sudah dilakukan, baik bentuk, maupunfaktor eksternal yang mempengaruhi bangunan

kedepannya Penambahan elemen hardscape dan softcase akan mampu menghadirkan sequence yang baik antara lansekap dan bangunan

4.4 Konsep Atap

Bentuk atap merupakan salah satu bentuk yang menjadi ciri khas dari suatau bangunan inspirasi bentuknya bisa darimana pun bisa dari bentuperabot tumbuhan sampai metafora konsep atap yg saya ambil yaitu dari bentuk celempung atau alat musik pukul dari bambu khas jawa barat

4.5 Konsep Elemen Fasad

Untuk elemen fasad terdiri dari dua material yang berbeda yaitu memakai Motif yang terbuat dari Alimunium Composite Panel dan curtain wall pemilihan material ini dikarenakan material fasad memerlukan ketahanan yang kuat, pemasangan yang mudah dan curtain wall supayaterkesan luas dan antara ruang

Gambar 4.1 Zonasi Sumber dokumentasi pribadi

Gambar 4.2 Konsep Bentuk Sumber dokumentasi pribadi

(9)

Jurnal Arsitektur Archicentre Universitas Faletehan Gilang,Fajar, Kemal

47 Gambar 4.3 Tampak depan

4.6 Konsep Material

Material yang digunakan pada bangunan ini merupakan paduan dari material modern sebagai element eksterior dan material alam sebagai elemen interior.

Gambar 4.4. Material eksterior (Sumber : Hasil rancangan)

Gambar 4.5. Material

4.7 Konsep Struktur

Sub struktur atau pondasi adalah salah satubagian terpenting dalam sebuah bangunan yang terletak di bawah permukaan tanah yangberfungsi sebagai penerima dan pemikul beban dari seluruh

bagian bangunan diatasnya yangkemudian disalurkan kedalam tanah. Pondasi harus memperhitungkanberat pondasi, beban seluruhbangunan, gaya-gaya luar seperti:

tekanan angin,gempa bumi, Berdasarkan analisa tersebut macam sub struktur atau pondasi yang akan digunakan pada bangunanini adalah :

Gambar 4.8. pondasi telapak (sumber; pondasi telapak - Bing images)

Untuk desain atas, struktur Space Frame mengisi sebagai trimming, salah satunya dengan membuka konstruksi baik di luar struktur maupun di luar struktur. Struktur Space Frame berfungsi sebagai generator struktur dengan tujuan dapat berubah menjadi komponen pembentuk selera dalam struktur.

Penggunaan konstruksi untuk disajikan pada struktur menegaskan bahwa desainnya tidak harus kaku, tetapi dapat menjadi nilai selera dengan sendirinya jika ditangani dengan benar.

Gambar 4.5 Isometri struktur (Sumber :Hasil rancangan)

(10)

Jurnal Arsitektur Archicentre Universitas Faletehan Gilang,Fajar, Kemal

48 4.8 Konsep Utilitas

4.8.1 Konsep Utilitas Air Bersih

Sistem air bersih adalah sarana untuk memberikan air bersih atau mengalirkan air ke tempat yang ideal tanpa pengaruh yang mengganggu atau polusi ruang yang dilaluinya dan dapat mengatasi masalah penghuninya sejauh masalah air. Penataan air bersih ini berfungsi untuk memenuhi kebutuhan toilet, urinoir, wastafel, dapur, asuransi kebakaran dan sistem pendingin. Mata air penyediaan air bersih menggunakan kerangka perpaduan antara PAM dan sumur. Campuran kerangka penyebaran pasokan air bersih ini harus dimungkinkan dengan memisahkan wilayah penimbunan (zona) (misalnya terisolasi oleh zona lantai atau sesuai zona kerja).

Gambar 4.10 Skema air bersih (Sumber :Hasil rancangan) 4.8.2 Konsep Utilitas Air Kotor

Konsep air kotor (sterilisasi) adalah sistem pembuangan air kotor dari dalam bangunan menggunakan jalur ke tempat pembuangan terakhir. 14F Kerangka jaringan air kotor dalam struktur ini

menggunakan kerangka pembuangan segera. Pemborosan air yang berantakan dibagi menjadi tiga, yaitu:

● Air..sabunMerupakan..air bekas sabun dan air yang..mengandung lemak.

● Air..kotordan..kotoran..Meli puti..limbah…pembuangan.

.dari closet dan bidet.

4.8.3 Sistem Proteksi Kebakaran

Gambar 4.12 skematik proteksi kebakaran (Sumber :Hasil rancangan)

sistem pencegahan kebakaran merupakan salah satu yang dibutuhkan untuk mengantisipasi jika terjadi kebakaran. Pencegahan kebakaran pada gedung pertunjukan ini meliputi peletakan signage, hidran, pendeteksi asap, sprinkler, alat pemadam kebakaran (APAR ringan), pintu dan tangga darurat.

Sprinkler adalah alat pemadam api yang dapat mengeluarkan air secara alami ketika api dibedakan. Sprinkler adalah alat penyembunyian api yang paling cepat.

.

(11)

Jurnal Arsitektur Archicentre Universitas Faletehan Gilang,Fajar, Kemal

49 Gambar 4.13 jarak springkler

(Sumber :Hasil rancangan 4.9 Konsep Akustik

Lokasi pusat pertunjukan terletak di tepi jalan tol. Jalan-jalan adalah sumber utama keributan yang harus dikendalikan agar tidak mencampuri latihan di lokasi. Untuk mengatasi hal tersebut, dalam rencana Gedung Pertunjukan Musik Kontemporer, penataan yang diberikan adalah dengan memundurkan batas garis struktur, sehingga riuh yang seolah-olah dapat diredam. Rencana permainan yang diberikan adalah mengikuti batas-batas garis konstruksi, dengan tujuan agar keributan yang terjadi dapat dikurangi.

Selain itu, pembatas juga diberikan sebagai pembatas vegetasi atau pagar.

Akustik Kedalaman. Tindakan akustik dalam sebuah ruangan diarahkan untuk memberikan pelipur lara dan apropriasi suara yang besar dan merata, seperti halnya mengendalikan keributan yang muncul di ruangan tersebut. Dengan demikian, akustik yang digunakan di Gedung Musik Kontemporer adalah:

V. KESIMPULAN

Perancangan Gedung pertunjukan musik kontemporer merupakan alternatif Gedung pertunjukan atau konxser musik di kota..Bandung Berdasarkan data dari dinas pariwisata dan kebudayaan Bandung diketahui bahwa bandung memiliki sidikitnya 794 komunitas, yang 20% diantaranya adalah komunitas yang bergerak dibidang seni pertunjukan yang aktif mengadakan kegiatan Untuk itu perlu diadakannya gedung pertunjukan musik modern yang sesuai dengan standard dan dapat membuat penampil menjaga kestabilan dalam kualitasnya agar mendapatkan Crowd atau suasana pertunjukan yang diinginkan.

Pemilihan Tema Arsitektur Dinamis pada bangunan ini bertujuan konsep ini adalah inginnya menciptakan sebuah gedung pertunjukan berstandar dan suasana yang dinamis dan kondusif, sehingga..mendorong..pengguna..did alamnya untuk selalu bergerakdalam mengembangakan..ide-ide..mereka.

Melalui desain yang..moderen dan simple, sehingga..tetap elegan..dan nyaman.

(12)

Jurnal Arsitektur Archicentre Universitas Faletehan Gilang,Fajar, Kemal

50 DAFTAR PUSTAKA

Altermatt, Russ. 2010. Energi Suara Lateral dan Aula Kecil untuk Musik (Summer Institute of Concert Hall Research Group, Santa Fe).

Appleton, Ian. 2008. Gedung untuk Seni Pertunjukan. London: The Architectural Press Ltd. Contoh Ashhara, Yoshinobu. 1986. Desain

Eksterior dalam Arsitektur.

Bandung : Abdi Widya.

Atmadjaja, Jolanda. 2008. Menikmati

Pemikiran Broadbent, Mangunwijaya, Jencks dan

Kurokawa

Broadbent, G., Richard Bunt & Charles Jencks. 1980. Tanda, Simbol, dan Arsitektur. Kamar Mandi : John Wiley & Sons Ltd.

de Chiara, Joseph. 2001. Standar Penghematan Waktu untuk Tipe Bangunan. Amerika Serikat:

McGraw-Hill Co. Inc.

Doelle, Leslie L. 1972. Akustik Lingkungan. Amerika Serikat:

McGraw-Hill Co. Inc.

Feri, Jean. 2006. Musik: Seni Mendengarkan - edisi ke-7. New York: McGraw-Hill Co. Inc.

Izenour, GC. 1977. Desain Teater.

Amerika Serikat: McGraw-Hill Co. Inc.

Janis, Richard R dan William K.Y. Tao.

2005. Sistem Mekanikal dan Elektrikal pada Gedung - Edisi Ketiga. New Jersey : Pearson Education, Inc.

Referensi

Dokumen terkait

Bahwa sebagai akibat dari Lampiran Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2014 tentang Pembentukan Kabupaten Buton Selatan di Provinsi Sulawesi Tenggara

Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka dapat dirumuskan kesimpulan sebagai berikut: (1) Kelompok Kerja guru PKn ternyata efektif dalam pelaksanaan kurikulum

Diajukan untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata-1 (S-1) pada Jurusan Teknik Sipil. Fakultas Teknik Universitas

Pengambilan contoh tanah dengan metode SRS lebih sederhana, mudah dan cepat serta data yang diperoleh akan dapat mencerminkan keadaan tanah yang sebenarnya, jika contoh tanah

Tersedia informasi tentang hak dan ke(a!i"an Tersedia informasi tentang hak dan ke(a!i"an Terdapat $%& koordinasi dan komunikasi antara Terdapat $%& koordinasi

Permasalahan dalam penulisan ini adalah Bagaimanakah perkembangan tanah objek landreform di Desa Ajung Kecamatan Ajung Kabupaten Jember, Apakah pelaksanaan

(tafakkur) yang mana sesuai dengan penjelasan yang ada dalam surat ali- Imran ayat 190-195 yang sudah dijelaskan pada bab di atas. Sedangkan dalam aspek afektif adalah

Pemerintah mengenai pengelolaan sampah kota dan pencapaian target energi baru terbarukan sesuai kebijakan energi nasional, perlu lebih mendorong peningkatan