• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN KULTUR BELAJAR DALAM PENINGKATAN KINERJA MENGAJAR GURU DI SEKOLAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN KULTUR BELAJAR DALAM PENINGKATAN KINERJA MENGAJAR GURU DI SEKOLAH"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

26

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN KULTUR BELAJAR DALAM PENINGKATAN KINERJA MENGAJAR GURU DI SEKOLAH

ABD. AZIZ HSB

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Email: [email protected]

ABSTRACT

In the learning process, a teacher requires good teaching performance, performance becomes a reference in producing or achieving an organizational goal, a person who has performance shows professionalism and ability in managing the work he is engaged in. Improving teacher teaching performance requires various supporting factors, one of which is transformational leadership and the existence of a good learning culture in the school environment. It is suspected that in this study the principal's transformational leadership and learning culture have a positive relationship to the teaching performance of teachers. To find out the relationship between research variables, quantitative analysis was used, research data were collected using instruments distributed to teachers as study samples.

From the results of the study, it is known that the principal's transformational leadership and learning culture have a relationship with improving teacher teaching performance in schools. So that in an effort to achieve quality education, improvement and improvement of teacher teaching performance are prioritized, to produce good performance it can be done by improving the quality of leadership by carrying out transformational leadership and improving the learning culture in the school environment.

Keywords: Transformational Leadership, Teachers, Learning Culture, Teaching Performance

ABSTRAK

Dalam proses pembelajaran seorang guru membutuhkan kinerja mengajar yang baik, kinerja menjadi acuan dalam menghasilkan atau mencapai suatu tujuan organisasi, seorang yang memiliki kinerja menunjukkan profesionalitas serta kemampuan dalam pengelolaan kerja yang ditekuninya.

Peningkatan kinerja mengajar guru membutuhkan berbagai faktor pendukung salah satunya adalah kepemimpinan transformasional serta adanya kultur belajar yang baik di lingkungan sekolah. Di duga dalam kajian ini kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kultur belajar memiliki hubungan yang positif terhadap kinerja mengajar guru. Untuk mengetahui hubungan antar variabel penelitian digunakan analisis kuantitatif, data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan instrument yang disebar kepada guru sebagai sampel kajian, dari hasil kajian diketahui bahwa kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kultur belajar memiliki hubungan terhadap peningkatan kinerja mengajar guru di sekolah. Sehingga dalam upaya pencapaian kualitas pendidikan diutamakan perbaikan dan peningkatan kinerja mengajar guru, untuk menghasilkan kinerja yang baik maka dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas kepemimpinan dengan menjalankan kepemimpinan transformasional serta adanya perbaikan kultur belajar yang ada di lingkungan sekolah.

Kata Kunci: Kepemimpinan Transformasional, Guru, Kultur Belajar, Kinerja Mengajar

(2)

27

A. PENDAHULUAN

Pengelolaan sekolah yang dilaksanakan saat ini memiliki berbagai kendala yang menyebabkan belum optimal pencapaian kualitas pendidikan di sekolah, baik dalam aspek kurikulum, sumber daya manusia sekolah, proses pembelajaran maupun dalam bidang sarana dan prasarana penunjang pendidikan. Salah satu fokus utama yang mesti dilakukan dalam upaya pengembangan kualitas pendidikan yaitu menghasilkan guru-guru yang memiliki kemampuan mengajar yang baik, seorang guru yang memiliki kinerja mengajar berkualitas melaksanakan aktivitas pembelajaran secara efektif dan efisien. Menghasilkan kinerja mengajar guru memberikan perubahan yang berarti perbaikan pengelolaan proses pembelajaran. Dibutuhkan pembinaan yang baik terhadap guru apabila menginginkan adanya kinerja mengajar guru yang tinggi. Menurut Rahim, pembinaan tenaga guru dihadapkan pada masalah belum memadainya tingkat kemampuan profesional guru, baik dari segi subtansi ilmu dalam mata pelajaran yang dipegang maupun kemampuan penguasaan metodologis keguruannya.1 Guru kurang terarah, kurang mampu bertahan terhadap situasi pembelajaran yang banyak tekanan termasuk tekanan untuk mengoptimalkan mutu pada proses pembelajaran.2

Menurut Sanusi Uwes, diantara kelemahan lembaga pendidikan sehingga kurang mampu dan tidak dapat bersaing dengan lembaga pendidikan lain adalah karena kurang keterampilan mengorganisasi kelembagaan.3 Tugas pokok guru sebagai pengajar adalah suatu pekerjaan profesi yang sangat kompleks karena membutuhkan penguasaan ilmu pengetahuan pada bidangnya dan keterampilan ilmu pengetahuan. Seorang guru yang memiliki kinerja mengajar menunjukkan adanya kualitas yang tinggi baik dalam segi pengetahuan, skil dan pemahaman yang baik akan berbagai aspek pengajaran yang dilaksanakan di sekolah. Kinerja sebagai hasil kerja seseorang dalam suatu periode tertentu yang dibandingkan dengan beberapa kemungkinan, misalnya standar target, sasaran, atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu.4

Thomas Gordon sebagaimana dikutip oleh Hariani dan Muhadjir, menyatakan bahwa kinerja mengajar guru mengacu pada profil kemampuan dasar guru, yakni (1) Kemampuan menguasai bahan, (2) Kemampuan mengelola program belajar mengajar, (3) Kemampuan mengolah kelas, (4) Kemampuan menggunakan media, (5) Kemampuan menguasai landasan-landasan pendidikan, (6) Kemampuan mengelola interaksi belajar mengajar, (7) Kemampuan menilai prestasi siswa untuk pendidikan dan pengajaran, (8) Kemampuan mengenai fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan, (9) Kemampuan mengenal memahami prinsip-prinsip guna keperluan pengajaran. Untuk mendukung kinerja mengajar guru diperlukan adanya kepemimpinan kepala sekolah yang memiliki kemampuan untuk mengarahkan, menggerakkan, memotivasi dan mengendalikan juga mengawasi segala kebutuhan guru, sehingga mampu menunjang kualitas pengajaran di sekolah.5

Rendahnya pendidikan di sekolah, disebabkan oleh rendahnya pengelolaan organisasi sekolah, semuanya bertumpu pada kelemahan sumber daya yang menjadi pelaku manajemen dan proses pendidikan. Kepala sekolah bertanggungjawab untuk menjalankan roda organisasi sekolah, pengelolaan sumber daya sekolah bergantung pada kualitas

1 H. Rahim, Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Logos, 2001), 122.

2 J. Budiawati, J, “Iklim, Kepuasan, dan Motivasi Kerja Guru Di Sekolah Dasar Bpk Penabur”, Jurnal Administrasi Pendidikan 24, no. 1 (2017): 36-46.

3 Sanusi Uwes, Visi dan Pondasi Pendidikan dalam Perspektif Islam, Jakarta: Logo, 2004), 9.

4 John Supriatno, Penilaian Kinerja dan Pengembangan Karyawan (Yogyakarta: BPFE, 1996), 16.

5 Muji Hariani dan Noeng Muhadjir, Evaluasi Kemampuan Mengajar (Jakarta: P3G DIKBUD, 1980), 16.

(3)

28 kepemimpinan kepala sekolah, baik atau buruknya pengelolaan mencerminkan kualitas kepemimpinan kepala sekolah itu sendiri. Sebagai seorang pemimpin, kepala sekolah sebagai subyek yang harus melakukan transformasi kemampuannya melalui bimbingan, tuntunan, pemberdayaan, atau anjuran kepada seluruh komunitas sekolah untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efisien.

B. KAJIAN TEORI

Kepemimpinan transformasional merupakan gaya kepemimpinan yang mengutamakan pemberian kesempatan dan atau mendorong semua unsur yang ada di sekolah untuk bekerja atas dasar sistem nilai yang luhur sehingga semua unsur yang ada di sekolah. Leithwood, Dart Jantzi (1990), Leithwood dan Steinbech (1991), dan Silins (1994) dari hasil studi mereka memberi hasil bahwa gaya kepemimpinan transformasional memiliki kontribusi pada inisiatif restrukturisasi (restructuring initiatives) dan menurut apa yang dirasakan oleh guru hal itu memberi sumbangsih bagi perbaikan hasil belajar pada siswa (teacher perceiver student out comes). Menurut Beatty, proses transformasi akan berlaku apabila pemimpin pendidikan sering melakukan perubahan dan meningkatkan keberhasilan peserta didiknya, sering melihat dirinya dan bertindak responsif terhadap emosinya secara keseluruhan, dinamik dalam bekerja dan belajar membuat pertimbangan terhadap diri dan orang lain.6

Mahmood mengatakan keberhasilan dan kegagalan sebuah sekolah di banyak tempat bergantung kepada pihak sekolah yaitu kepala sekolah dan guru-guru, tetapi kepemimpinan kepala sekolah adalah di kenal dengan pasti sebagai variabel yang penting sekali dalam mempengaruhi kuantitas dan kualitas hasil sekolah.7 Kajian Green, Dundas dan Clarke (2002) mendapati peranan dan tanggung jawab yang dimainkan kepala sekolah amat mempengaruhi variabel proses yang lain dimana kepala sekolah yang berprestasi telah beranggapan bahwa kepala sekolah seharusnya berperan seperti seorang pendidik dan guru yang mengutamakan kebajikan murid dalam membuat semua keputusan berkaitan dengan sekolah. Untuk meningkatkan kinerja mengajar guru di sekolah diperlukan dukungan secara optimal berbagai pihak diantaranya adalah kepemimpinan transformasional kepala sekolah, selain itu diperlukan juga kultur belajar yang baik dalam upaya peningkatan kinerja mengajar guru sehingga mutu pendidikan di sekolah akan terjamin. Pengakuan terhadap guru sebagai tenaga profesional baru akan dapat diberikan apabila: guru telah memiliki kualitas akademik, kompetensi dan sertifikat pendidikan yang dipersyaratkan, (Lembaran Negara RI Tahun 2005. No. 157).

Kultur belajar yang tercipta di sekolah akan mendorong sekolah dalam pencapaian tujuan pendidikan, karena dalam kultur belajar akan terlihat beberapa hal yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan seperti (1) keadaan guru-guru yang nyaman, berpuas hati, dan berkeyakinan diri, (2) guru-guru tidak merasa tertekan dan mengambil perhatian tentang kemajuan murid-muridnya, (3) kepala sekolah memilikinya keyakinan terhadap kinerjanya, dan memiliki pertimbangan rasa, serta (4) pelajar merasa nyaman dan belajar bersungguh-sungguh (Halpin dan Croft, 1963). Oleh sebab itu dalam penelitian ini peneliti ingin mengkaji dan menganalisis mengenai kepemimpinan transformasional dan kultur belajar yang dikaitkan dengan peningkatan kinerja mengajar guru di sekolah. Secara umum

6 R. R. Beatty, B. R., “Emotional matter in Educational Leadership”. A Paper Presented to the Australian Association for Research in Educational Annual Conference, Sydney, Australia 3, no. 8(2000).

7 Hussein Mahmood, Kepemimpinan dan Keberkesanan Sekolah (Kuala Lumpur:

Dewan Bahasa dan Pustaka, 1993), 294

(4)

29

penelitian ini ingin mengetahui: 1) hubungan kepemimpinan transformasional kepala sekolah terhadap kinerja mengajar guru, 2) hubungan kultur belajar terhadap kinerja mengajar guru, 3) hubungan kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kultur belajar secara bersama-sama terhadap kinerja mengajar guru di sekolah.

C. METODE

Penelitian menggunakan analisis kuantitatif, penelitian kuantitatif merupakan suatu bentuk penelitian yang mengkaji obyek, gejala, peristiwa atau data yang dapat diukur secara angka (skala, indeks, rumus dan sebagainya) dan analisisnya menggunakan statistik.8 Ditambahkan oleh Kerlinger yang berpendapat bahwa metode tinjauan kuantitatif paling sesuai digunakan untuk melihat hubungan antara variabel.9 Populasi dalam penelitian ini adalah para guru yang berada di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di Ciputat, Tangerang Selatan. Sampel yang digunakan sebanyak 170 orang guru, sebesar 15 % dari jumlah populasi keseluruhan guru di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di Ciputat, Tangerang Selatan, sesuai pendapat Arikunto (2008) menyebutkan sampel penelitian dapat diambil berkisar antara 10% sampai 20 %.

Pengumpulan data penelitian menggunakan instrument yang disebar kepada sampel penelitian, instrument berisi pertanyaan-pertanyaan yang mewakili variabel penelitian.

instrument di sebar kepada sampel sebanyak 170 instrumen, peneliti berhasil mengumpulkan kembali instrument sebanyak 150 instrumen, dari 150 instrumen yang berhasil dikumpulkan menjadi data penelitian yang akan dilakukan. Teknik analisis data yang digunakan adalah menggunakan analisis korelasi dan regresi untuk mengetahui pengaruh baik secara langsung dan tidak langsung dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Analisa data pada penelitian ini menggunakan analisis korelasi dan regresi dengan bantuan komputer program SPSS versi 16.0 for windows. Menurut Nugroho (2005) pedoman yang digunakan untuk menerima atau menolak hipotesis jika hipotesis nol (Ho) yang diusulkan: Ho diterima jika nilai ρ value pada kolom sig. > level of significant (α), dan Ho ditolak jika nilai ρ value sig. < level of significant (α).

D. HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam penelitian ini telah dilakukan tiga hipotesis yang akan diuji dengan menggunakan statistik inferensial melalui teknik analisis regresi dan korelasi. Pengujian persyaratan analisis menunjukkan bahwa skor tiap variabel penelitian telah memenuhi persyaratan untuk dilakukan pengujian statistik lebih lanjut. Berikut ini disajikan pengujian hipotesis penelitian.

Hubungan Antara Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah Dengan Kinerja Mengajar Guru

Hipotesis yang diuji berbunyi terdapat hubungan positif antara kepemimpinan transformasional kepala sekolah dengan kinerja mengajar guru. Dengan kata lain diduga bahwa semakin tinggi kepemimpinan transformasional kepala sekolah maka semakin tinggi pula kinerja mengajar guru. Sebaliknya semakin rendah kepemimpinan transformasional kepala sekolah semakin rendah pula kinerja mengajar guru.

8 J.H. McMillan and Schumacher, S. Research in Education (New York: Longman, Inc.

2001).

9 F.N. Kerlinger. F. N., Foundation of Behavior Research. Ed. Ke-2 (New York: Holt Saunder, 1993)

(5)

30 Tabel 1. Regresi Sederhana X1 dan Y

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 36.508 5.971 6.114 .000

Kepemimpinan

transformasional kepala sekolah

.696 .075 .608 9.314 .000

a. Dependent Variable: Kinerja Mengajar Guru

Berdasarkan hasil analisis regresi linier sederhana antara pasangan variabel kepemimpinan transformasional kepala sekolah dengan kinerja mengajar guru diperoleh arah regresi b sebesar = 0,696 dan konstanta a sebesar 36,508. Dengan demikian bentuk kedua hubungan tersebut (X1 dengan Y) dapat digambarkan dengan persamaan arah garis regresi Ŷ =36,508 +0,696 X1, Untuk mengetahui apakah model persamaan garis regresi signifikan atau tidak, dapat dilakukan dengan menggunakan analisis varians (uji F) dengan kriteria penilaian Fhitung > Ftabel (0.01).

Dari hasil perhitungan diketahui nilai Fhitung sebesar 86.742 sedangkan nilai Ftabel

pada  = 0,05 sebesar 3.91 pada  = 0,01 sebesar 6.81. Hasil ini menunjukkan bahwa Fhitung > Ftabel sehingga dapat dinyatakan bahwa koefisien arah regresi Y atas X1 sangat signifikan atau sangat berarti pada taraf signifikansi, dengan demikian persamaan Ŷ = 36,508 +0,696 X1 dapat digunakan untuk menjelaskan dan mengambil kesimpulan lebih lanjut mengenai hubungan antara kepemimpinan transformasional kepala sekolah dengan kinerja mengajar guru.

Selanjutnya untuk mengetahui apakah persamaan garis regresi linier atau tidak dapat menggunakan uji linieritas regresi. Kriteria penilaian adalah Fhitung < Ftabel . Dari hasil perhitungan diperoleh nilai Fhitung 1,141, sedangkan nilai Ftabel pada  = 0.05 sebesar 1,51, sedangkan pada taraf  = 0.01 sebesar 1,79 hal ini menunjukkan bahwa nilai Fhitung < Ftabel

atau 1,14 < 1,51. Dengan demikian model persamaan regresi linier. Kekuatan hubungan antara variabel kepemimpinan transformasional kepala sekolah dengan kinerja mengajar guru ditunjukkan oleh koefisien korelasi ry1 = 0,608. Uji signifikansi koefisien korelasi tersebut tercantum dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 2. Koefisien Korelasi antara Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah Dengan Kinerja Mengajar Guru.

Korelasi Antara

Koefisien Korelasi

Koefisien

Determinasi thitung

ttabel

 = 0.05  = 0.01

X1 dan Y 0.608 0.370 6.114** 1.66 2.35

** Korelasi sangat signifikan (th = 6,114 > tt = 1,66)

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa thitung diperoleh sebesar 6,114 sedangkan dari ttabel distribusi student “t” dengan  = 0.05 diperoleh indeks harga ttabel sebesar 1,68. Oleh karena thitung lebih besar dari ttabel (6.114 > 1,66) berarti koefisien korelasi antara kepemimpinan transformasional kepala sekolah dengan kinerja mengajar guru sangat signifikan. Dengan demikian hipotesis nol (H0) sebagaimana dinyatakan diatas ditolak, sebaliknya hipotesis alternatif (H1) diterima. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat

(6)

31

hubungan positif sangat signifikan antara kepemimpinan transformasional kepala sekolah dengan kinerja mengajar guru. Dengan demikian berarti semakin tinggi kepemimpinan transformasional kepala sekolah, semakin baik pula kinerja mengajar guru.

Selanjutnya pada tabel di atas juga menunjukkan koefisien determinasi hubungan antara kepemimpinan transformasional kepala sekolah dengan kinerja mengajar guru sebesar 0,370. Hal ini berarti 37,0 % variasi yang terjadi pada kinerja mengajar guru dapat dipengaruhi oleh kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan dapat dijelaskan melalui regresi Ŷ = 36,508 +0,696 X1. Dengan kata lain kepemimpinan transformasional kepala sekolah memberi konstribusi sebesar 37,0% terhadap kinerja mengajar guru.

Hubungan Kultur Belajar dengan Kinerja Mengajar guru

Hipotesis yang kedua berbunyi terdapat hubungan positif antara kultur belajar dengan kinerja mengajar guru. Dengan kata lain diduga bahwa semakin baik kondisi kultur belajar di sekolah maka semakin baik pula kinerja mengajar guru yang dihasilkan.

Sebaliknya bila kurang baik kondisi kultur maka semakin rendah pula kinerja mengajar guru.

Tabel 3. Tabel Regresi X2 dan Y

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 27.493 4.159 6.610 .000

Kultur Belajar .802 .051 .788 15.580 .000

a. Dependent Variable: Kinerja Mengajar Guru

Berdasarkan hasil analisis regresi linier sederhana antara pasangan variabel kultur belajar dengan kinerja mengajar guru diperoleh persamaan arah regresi b = 0,802 dan konstanta a = 27.493, dengan demikian bentuk persamaan arah garis regresi Ŷ = 27,493 + 0,82X2. Untuk mengetahui apakah model persamaan garis regresi signifikan atau tidak, dapat dilakukan dengan menggunakan analisis varians (uji-F) dengan kriteria penilaian adalah Fhitung > Ftabel (0.01).

Dari hasil perhitungan diperoleh harga Fhitung sebesar 242.747 sedangkan nilai Ftabel

pada  = 0,05 sebesar 3.91 pada  = 0,01 sebesar 6.81. Hasil ini menunjukkan bahwa Fhitung > Ftabel sehingga dapat dinyatakan bahwa koefisien arah regresi Y atas X2 signifikan atau berarti.

Selanjutnya mengetahui apakah persamaan garis regresi linier atau tidak, dapat menggunakan uji linieritas regresi atau tuna cocok. Kriteria penilaian adalah Fhitung lebih kecil dari Ftabel (0.05) Dari hasil perhitungan diperoleh nilai Fhitung 0,890, sedangkan nilai Ftabel pada  = 0.05 sebesar 1,51, sedangkan pada taraf  = 0.01 sebesar 1,79 hal ini menunjukkan bahwa nilai Fhitung < Ftabel (0.05) (0,890 < 1,51) dengan demikian maka model persamaan regresi adalah linier. Kekuatan hubungan antara variabel kultur belajar dengan kinerja mengajar guru ditunjukkan oleh koefisien korelasi ry2 = 0,788. Uji signifikansi koefisien korelasi tersebut tercantum dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4. Koefisien Korelasi Kultur Belajar Dengan Kinerja Mengajar Guru

Korelasi Koefisien Koefisien thitung ttabel

(7)

32

Antara Korelasi Determinasi = 0.05  = 0.01

X2 dan Y .788 .621 4,387** 1.66 2.35

** Korelasi signifikan (thitung 4,387 > ttabel (0.01) 2.35)

Berdasarkan tabel di atas, harga thitung diperoleh sebesar 4,387 sementara nilai ttabel

sebesar 2,35, oleh karena thitung lebih besar dari ttabel (4,387 > 2,35) berarti koefisien korelasi antara kultur belajar dengan kinerja mengajar guru signifikan. Oleh karena itu hipotesis nol (H0) sebagaimana dinyatakan ditolak, sebaliknya hipotesis alternatif (H1) diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan kuat dan positif yang signifikan antara kultur belajar dengan kinerja mengajar guru.

Selanjutnya berdasarkan tabel di atas diperoleh koefisien determinasi hubungan antara kultur belajar dengan kinerja mengajar guru sebesar 0,621, hal ini berarti 62,1 % variasi kecenderungan kinerja mengajar guru dipengaruhi oleh kultur belajar, atau dapat dikatakan bahwa kultur belajar memberi konstribusi sebesar 62,1 % terhadap peningkatan kinerja mengajar guru, dan dapat dijelaskan melalui regresi Ŷ = 27,493 + 0,82X2. Dengan kata lain kultur belajar yang tercipta di sekolah memberi konstribusi sebesar 62,1%

terhadap peningkatan kinerja mengajar guru di sekolah.

Hubungan Antara Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah dan Kultur Belajar Secara Bersama-sama Terhadap Kinerja Mengajar Guru

Hipotesis yang ketiga berbunyi terdapat hubungan positif antara kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kultur belajar secara bersama-sama dengan kinerja mengajar guru. Dengan kata lain diduga bahwa semakin baik kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kondisi kultur belajar di sekolah maka semakin baik pula kinerja mengajar guru yang dihasilkan. Sebaliknya bila kurang baik kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kondisi kultur belajar maka semakin rendah pula kinerja mengajar guru.

Dari hasil perhitungan analisis regresi sederhana pada data variabel kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kondisi kultur belajar secara bersama-sama atas kinerja mengajar guru diperoleh arah regresi b1 sebesar = 0.161 (kepemimpinan transformasional kepala sekolah) b2 sebesar = 0.706 (kultur belajar) dan konstanta a sebesar 22.462. Dengan demikian bentuk ketiga hubungan tersebut (X1,X2 dengan Y) dapat digambarkan dengan persamaan regresi Ŷ = 22.462+ 0.161 X1+ 0.706X2. Persamaan regresi variabel kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kultur belajar secara bersama-sama atas kinerja mengajar guru dapat dilihat pada tabel 5 berikut:

Tabel 5. Persamaan Regresi Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah dan Kultur Belajar Secara Bersama-sama Atas Kinerja Mengajar Guru

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 22.462 4.779 4.700 .000

Kepemimpinan transformasional kepala

sekolah .161 .078 .140 2.069 .040

Kultur Belajar .706 .069 .694 10.238 .000

a. Dependent Variable: Kinerja Mengajar Guru

(8)

33

Sebelum digunakan untuk keperluan prediksi, persamaan regresi harus memenuhi syarat uji keberartian (signifikansi) dan uji kelinieran. Untuk mengetahui derajat keberartian dan kelinieran persamaan regresi, dilakukan uji F dengan kriteria penilaian Fhitung > Ftabel (0.01). Dari hasil perhitungan diketahui nilai Fhitung sebesar 126.205, sedangkan nilai Ftabel pada  = 0,05 sebesar 3.91 pada  = 0,01 sebesar 6.81. Hasil ini menunjukkan bahwa Fhitung > Ftabel sehingga dapat dinyatakan bahwa koefisien arah regresi Y atas X1 dan X2, sangat signifikan atau sangat berarti pada taraf signifikansi, dengan demikian persamaan Ŷ = 22.462+ 0.161 X1+ 0.706X2 dapat digunakan untuk menjelaskan mengenai hubungan antara kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kultur belajar secara bersama-sama terhadap kinerja mengajar guru.

Kekuatan hubungan antara variabel kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kultur belajar secara bersama-sama terhadap kinerja mengajar guru ditunjukkan oleh koefisien korelasi ry12 = 0.795. Nilai thitung diperoleh sebesar 12.98 sedangkan dari ttabel

distribusi student “t” dengan  = 0.05 diperoleh indeks harga ttabel sebesar 1,66. Oleh karena thitung lebih besar dari ttabel (12.98>1.66) berarti koefisien korelasi antara kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kultur belajar secara bersama-sama terhadap kinerja mengajar guru sangat signifikan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa semakin tinggi kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kultur belajar secara bersama-sama semakin baik pula kinerja mengajar guru di sekolah.

Selanjutnya diadakan analisis koefisien determinasi, Koefisien determinasi hubungan antara kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kultur belajar secara bersama-sama terhadap kinerja mengajar guru sebesar 0,632. Hal ini berarti 63,2% variasi yang terjadi pada kinerja mengajar guru dapat dipengaruhi oleh kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kultur belajar secara bersama-sama dan dapat dijelaskan melalui regresi Ŷ = 22.462+ 0.161 X1+ 0.706X2. Dengan kata lain kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kultur belajar secara bersama-sama memberi kontribusi sebesar 63,2% terhadap peningkatan kinerja mengajar guru di sekolah, varian sisanya dipengaruhi oleh variabel lain.

Pembahasan

Dari hasil penelitian didapati bahwa kepemimpinan transformasional kepala sekolah memiliki hubungan positif dan berarti terhadap kinerja mengajar guru, begitu pula dengan kultur belajar memiliki hubungan positif dan berarti terhadap kinerja mengajar guru di sekolah. Dengan demikian kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kondisi kultur belajar berkontribusi dalam meningkatkan kinerja mengajar guru.

Peningkatan terhadap kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kultur belajar akan diikuti dengan peningkatan kinerja mengajar guru di sekolah. Dengan demikian kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kultur belajar yang ada di lingkungan sekolah merupakan faktor yang dapat memperkirakan naik turunnya kinerja mengajar guru di sekolah.

Kepemimpinan yang ditunjukkan kepala sekolah dapat meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah, sekolah yang memiliki prestasi tinggi identic dengan kepemimpinan yang ditampilkan seorang kepala sekolah. Korze mengatakan bahwa sekolah yang berprestasi mempunyai kepala sekolah yang dapat memahami peranan yang dimainkan dalam program pengajaran di sekolah.10 Menurut Squires, bahwa, kepala sekolah adalah

10 D. J. Korze, “Effective Principals as Instructional Leader: New Directions for Research”, Administrator’s Notebook 30, no. 9 (1983): 1-4.

(9)

34 salah seorang yang terpenting dalam sekolah, dalam memimpin dan menetapkan suasana sekolah.11

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, dibutuhkan kepemimpinan yang tepat di sekolah. Kepala sekolah perlu berpikiran kreatif dalam manajemen dan ketika berhubungan dengan guru dan siswa di sekolah daripada mementingkan gaya kepemimpinan dalam mewujudkan sekolah yang berprestasi. Kepemimpinan kepala sekolah sebagai variabel yang sangat penting dalam mempengaruhi kuantitas dan kualitas hasil sekolah. Hasil uji comfirmatori terhadap kepemimpinan transformasional oleh Barnett dkk, didapati bahwa Kepemimpinan transformasional diidentifikasi dengan perilaku pemimpin yang ditunjukkan visi dan kepedulian individual (individual concern).

Selain kepemimpinan transformasional kepala sekolah, kondisi kultur belajar menjadi factor penting yang dapat peningkatkan kinerja mengajar guru di sekolah. Kondisi kultur belajar yang baik dapat memberikan kenyamanan, keamanan dan memberikan suasana pembelajaran yang kondusif, sehingga dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran di sekolah. Kajian-kajian yang dibuat oleh Mortiore, dkk. mengatakan bahwa kultur belajar yang baik dan positif di sekolah berprestasi mempunyai suasana yang menyenangkan, Ini disebabkan kurang penekanan kepada hukuman, dan pengendalian disiplin di dalam sekolah dan ruang kelas, dan banyak penekanan kepada pemberian reward dan pujian kepada pelajar.12 Malah guru-guru akan memberi penekanan kepada pengendalian diri kepada peserta didik terhadap disiplin. Selain itu kultur belajar yang tercipta di sekolah akan menciptakan hubungan setiap personal dalam suasana kerukunan, gotong royong, saling menghormati, kerja sama, dan ada rasa sama-sama memiliki.

Kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan kultur belajar memberikan berbagai perubahan terhadap kinerja mengajar guru di sekolah, seorang guru yang memiliki kinerja mengajar yang baik mampu mengelola proses pengajaran dengan benar, yang terlihat dari efektif dan efisiensi pengajaran di sekolah. Guru sebagai sosok yang dipandang sebagai orang yang memiliki pengaruh terhadap berbagai perilaku yang terbentuk dalam diri siswa. Variabel kemampuan dan keterampilan merupakan faktor utama yang mempengaruhi perilaku kerja dan kinerja individu.

Sepuluh dasar kompetensi kinerja guru, yaitu: menguasai bahan yang akan diajarkan, mengelola program belajar mengajar, mengelola kelas, menggunakan media atau sumber pelajaran, menguasai landasan-landasan kependidikan, mengelola interaksi belajar mengajar, menilai prestasi siswa, mengenal fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan, mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah, serta memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian. Guru yang memiliki kinerja mengajar yang baik adalah guru yang mampu: (1) menyusun rencana pembelajaran; (2) melaksanakan interaksi belajar mengajar; (3) menilai prestasi belajar peserta didik; (4) melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar pelajar; (5) mengembangkan profesion; (6) memahami wawasan pendidikan; (7) menguasai bahan kajian akademik.

Kualitas pengajaran merupakan upaya guru untuk menyampaikan informasi dan pengetahuan kepada peserta didik supaya mudah dipahami. Oleh karena itu guru perlu menyampaikan materi pengajaran secara tersusun dan sistematis. Aktivitas seorang guru yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran berjalan lancar, bermoral dan adanya nyaman bagi siswa merupakan bagian dari aktivitas mengajar, serta menjadi upaya guru untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui implementasi kurikulum dalam kelas.

11 D.A. Squires, Effective Schools and Classrooms; A Research-Based Perspective.

Association for Supervision and Curriculum Development. Virginia: Alexandria, 1983.

12 P. Mortimore, School Matters: The Junior Years, (Wells: Open Books, 1998), 788.

(10)

35

Dalam pembelajaran yang berkualitas guru perlu menyampaikan isi-isi pengajaran secara tersusun dan sistematik.

E. Kesimpulan

Seorang guru yang memiliki kemampuan dalam mengajar memberikan peran besar pada perbaikan kualitas pendidikan di sekolah, mengajar merupakan salah satu bentuk tanggung jawab guru sebagai seorang tenaga pendidik di sekolah. Menghasilkan kinerja mengajar seorang guru tidaklah mudah membutuhkan berbagai peranan dari berbagai pihak termasuk kepala sekolah. Dengan kepemimpinan yang ditampilkan kepala sekolah akan memberikan dampak terhadap kinerja mengajar guru di sekolah. Kinerja mengajar guru menunjukkan kualitas guru dalam pengelolaan proses pembelajaran di sekolah, kemampuan mengajar menjadi salah satu point penting seorang guru dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab guru di sekolah.

Selain kepala sekolah dengan kepemimpinan transformasional yang dilaksanakan di sekolah, kondisi kultur belajar memberikan pengaruh pada upaya peningkatan kinerja mengajar guru. kondisi kultur belajar yang berkualitas terlihat dari kondusifnya proses pembelajaran di sekolah, adanya kenyamanan dan keamanan serta terbentuknya budaya belajar yang baik memberikan efek yang baik pada proses pembelajaran. Untuk itu adanya beberapa aktivitas yang dapat dilaksakanan dalam upaya peningkatan kinerja mengajar guru, seperti adanya pelatihan dan pendidikan secara kontinue. Kepala sekolah mendapatkan latihan penyegaran dan pendidikan secara formal di dalam bidang kepemimpinan supaya mereka menjadi pemimpin yang berhasil dalam kepemimpinan dan menerapkan kepemimpinan dengan benar serta mampu memberi bimbingan dan arahan kepada guru di dalam dalam proses pengajaran dan efektivitas pengajaran di sekolah.

Selain itu perlu diberikan pembekalan manajemen kelas yang efektif dan berhasil terhadap guru, memberikan pemahaman dan bimbingan tentang manajemen waktu pembelajaran yang efektif, serta memberikan pemahaman tentang metode dan strategi yang dapat mempengaruhi kualitas pengajaran di sekolah, dengan demikian guru akan mampu mengetahui tingkat perkembangan dan kemampuan pelajar selama proses pengajaran berlangsung. Serta guru secara aktif menambah pengetahuan dan keterampilan untuk mengikuti perkembangan dan kemajuan serta perubahan zaman di bidang pendidikan dan pengajaran.

(11)

36 DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. (2008). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Barnett, Kerry., McCorminck, John, & Conners, Robert. (1999). A Study of the Leadership Behaviour of School Principals and School Learning Culture in Selected New South Wales State Secondary Schools. Wales: University of New South Wales.

Beatty, B. R., (2000). Emotional matter in Educational Leadership. A Paper Presented to the Australian Association for Research in Educational Annual Conference, Sydney, Australia, Dec 3-8, 2000, http://www,aare.edu.au/00pap/bea00445.htm.

Budiawati, J (2017). Iklim, Kepuasan, dan Motivasi Kerja Guru Di Sekolah Dasar Bpk Penabur. Jurnal Administrasi Pendidikan. 24 (1), 36-46.

Direktorat Tenaga Kependidikan Depdikan; (2003). Standar Kompetensi Guru SMU. Jakarta:

Depdikanas.

Duffy and Roehler. (1989). Improving Classroom Reading Instruction. New York: Radom Hause.

Gibson, dkk. (1987). Organisasi: Perilaku, Struktur, Proses, Edisi Kelima, Jilid 1, Alih Bahasa Djarkasih, Jakarta Erlangga.

Green, Dundas dan Clarke, (2002). Perbandingan Tingkah Laku Kepala Sekolah di Sekolah- Sekolah Berprestasi dan Kurang Berprestasi. Australia.

Halpin, A.W. & Croft, D.B. (1963). The Organizational Climate of School. Chicago: Midwest Administration Centre, University of Chicago.

Hariani, Muji dan Noeng Muhadjir (1980). Evaluasi Kemampuan Mengajar. Jakarta : P3G DIKBUD.

Kallison, J. M., (1986). Effect of Lesson Organization on Achievement dalam American.

Educational Research Journal. 23, 337-347/

Kerlinger. F. N. (1993). Foundation of Behavior Research. Ed. Ke-2 New York: Holt Saunder.

Korze, D. J., (1983). Effective Principals as Instructional Leader: New Directions for Research. Administrator’s Notebook. 30(9): 1-4.

Land, (1987). Vagueness and Clarity. In M. J. Dunkin (Ed). International Encyclopedia of Teaching and Teacher Education. New York: Pergam.

Leithwood, K., & Jantzi, D. (1990). Transformational leadership: Howprincipals can help reform school cultures. School Effectiveness and School Improvement, 1(4), 249-280.

Leithwood, K., & Steinbach, R. (1991). Indicators of transformational leadership in the everyday problem solving of school administrators. Journal of Personnel Evaluation in Education, 4221-244.

Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157 (Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen).

Made Pidarta, (1988). Peranan Kepala Sekolah pada Pendidikan Dasar. Jakarta: PT Gramedia

Mahmood, Hussein. (1993). Kepemimpinan dan Keberkesanan Sekolah. Kuala Lumpur:

Dewan Bahasa dan Pustaka.

Mayer, R.E. dan Gallini, J.K. (1990). When Is an Illustration Worth Ten Thousand Word?.

Journal of Educational Psycology. 82.715-726

McMillan, J.H. and Schumacher, S. (2001). Research in Education. New York: Longman, Inc.

Meindl, J.R. (1990). On leadership: An alternative to the conventional wisdom. In B.M. Staw

& L.L. Cummings (Eds.), Research in Organizational Behavior (Vol. 12). Greenwich, CT: JAI Press.

Mortimore, P. (1998). School Matters: The Junior Years, Wells: Open Books.

(12)

37

Mortimore, P., Sammons, P,. Stool L,. Lewis, D. & Ecob. R,. (1989). A. Study of Effective.

Junior School. International of Educational Research. 13:753-768.

Nugroho, Bhuono Agung. (2005). Strategi jitu memilih metode statistik penelitian dengan SPSS. Yogyakarta: Andi Offset.

Rahim, H. (2001). Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Logos

Rivai, Ahmad & Sudjana, Nana. (2004). Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Scheerns, J & Bosker, (1997). Effective Schooling Research, Theory and Practice. London:

Cassell.

Silins, H.C. (1994). The Relationship Between Tranformastional Leadership and Transactional Leadership and School Improvement Outcomes. School Effectiveness and School Improvement, 5(3): 272-29

Squires, D. A., et.al., (1983). Effective Schools and Classrooms; A Research-Based Perspective. Association for Supervision and Curriculum Development. Virginia:

Alexandria.

Supriatno, John. (1996). Penilaian Kinerja dan Pengembangan Karyawan, Yogyakarta:

BPFE.

Triatna, Cepi (2008). Guru Sebagai Mentor, Bandung Citra Praya.

Uwes, Sanusi. (2004). Visi dan Pondasi Pendidikan dalam Perspektif Islam, Jakarta: Logo.

Referensi

Dokumen terkait

33 Alifa dan Rini, Penerapan Pembelajaran Kooperatif TGT Dengan Menggunakan Permainan Tic Tac Toe Sebagai Upaya Peningkatan Motivasi Belajar Matematika Siswa Kelas VII E SMP Negeri

Smash kedeng merupakan smash yang dilakukan dengan menggunakan kaki, untuk itu pemain apit yaitu apit kiri dan apit kanan yang mempunyai banyak kesempatan untuk

Pada menu ini dipakai hanya digunakan untuk yang sudah menjadi member saja, karena member menggunakan sistem pembayaran dalam bentuk bulanan serta juga menggunakan kartu

Strategi remidi berbasis TIK yang paling optimal untuk memberdayakan kemandirian belajar dan meningkatkan ketuntasan belajar mahasiswa pada mata kuliah Elektronika

Jasa Pemerintah sebagaimana telah diubah terakhir oleh Peraturan Presiden R.l&#34; Nomor 70 tahun 20'12, para peserta pengadaan diberi kesempatan menyampaikan sanggahan

GBPP Matematika Kurikulum Pendidikan Dasar 1994, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayam.. Penjelazan Kurikuum SD 1994, Jakarta: Departemen Pendidikan

[r]

Peneliti menyimpulkan bahwa strategi employee relations yang dilakukan oleh JM Surgem yaitu dengan melakukan tahapan menganalisa sikap dan perilaku karyawan,