- 1 -
BAB I
MEMAHAMI PRINSIP-PRINSIP AKIDAH DAN RUANG LINGKUPNYA
A. Pengertian Akidah
ata akidah terambil dari bahasa Arab ‘aqîdah dari akar kata ‘aqada - ya’qidu - ‘aqdan – aqîdatan. ‘Aqdan
( َدَقَع –
ُدِقْعـَي اًدْقَع –
ًةَدْيِقَع – )
berarti simpul, ikatan, perjanjian dankukuh. Setelah terbentuk menjadi ‘aqîdah berarti keyakinan (al-Munawir, 1984:1023). Relevansi antara arti kata ‘aqdan dan aqîdah adalah keyakinan itu tersimpul dengan kukuh di dalam hati, bersifat mengikat dan mengandung perjanjian.1
Secara terminologis, terdapat beberapa definisi (ta’rif) antara lain:
1. Menurut Hasan Al-Banna :
َك ُس ْف ـ َن َاه ـ ْي َل ِا ن ِئ َم ْطـ َت َو َك ُـب ْل َق َاه ـ ِب َق ِ د َص ُـي ْن أ ُب ِجـ َي ِت نل َا ُرو ُم أل َا َ ِه ُد ِئا َق َع ْل َا ك َش ُه ُط ِلا َُي َل َو ب ْي َر ُه ُج ِزا َم ُي َل َك َد ْن ِع ا ًن ْي ِق ـ َي ُن ْو ُك َت َو
“Akidah adalah beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketenteraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikitpun denagn keraguan” (al-Banna, t.t.: 465).
1 Amir Ghufran & Zubaidi, 2016, Pengantar Studi Akidah Islam, Jogjakarta:
Lingkar Media, hlm. 1.
K
- 2 -
2. Menurut Abu Bakar Jabir Al-Jazairi :
ِعْمسنلاَو ِلْقَعلْ ِبِ ِةَمنل َسُلمْا ِةنيِهَدَبلْا نقَلحْا َيَا َضَق ْنِم ةَعْوُمْجَم َ ِه ُةَدْيِقَعْلَا ِةَر ْطِفلْاَو
اَهِدْوُجُوِب اًعِطاَق اَ ِتِنح ِصِب اًمِزاَج ُهَر ْد َص اَ ْيَْلَع ِنِْثُيَو اَ َبَْلَق نُا َسْنِلْا اَ ْيَْلَع ُدِقْعَي .ًادَب أ َن ْوُكَي ْنَا ُّح ِصُي ُهنن أ اَهُفَلاِخ يَرُي َل اَ ِتِْوُبُثَو
‘Aqîdah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum (axioma) oleh manusia berdasarkan akal, wahyu, fitrah. (Kebenaran) itu dipatrikan (oleh manusia) di dalam hati (serta) diyakini kesahihan dan keberadaannya (secara pasti) dan ditolak segala sesuatu yang berten-tangan dengan kebenaran itu (al-Jazairy, 1978: 21).
3. Menurut istilah, akidah adalah kumpulan kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia berdasarkan akal, wahyu, dan fitrah serta diyakini kebenarannya dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengannya. Oleh karena merupakan keyakinan, maka akidah dapat menen- tramkan jiwa manusia.
Dari keterangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa akidah Islam adalah sesuatu yang dipercayai dan diyakini kebenarannya oleh hati manusia, sesuai dengan ajaran Islam dengan berpedoman kepada al-Qur’an dan hadits.
Akidah hampir semakna dengan iman. Ada sedikit perbedaan antara akidah dan iman. Iman adalah sesuatu yang diyakini di dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan anggota badan. Iman mengandung tiga aspek yaitu: 1) keyakinan dalam hati, 2) diucapkan dengan lisan, 3) diamalkan melalui anggota badan. Sedangkan akidah berupa keyakinan.
Jadi, jika akidah terkait dengan aspek dalam (aspek hati) dari iman, iman tidak hanya menangkut aspek hati, tetapi juga
- 3 - aspek luar. Aspek dalam iman adalah keyakinan dan aspek luarnya berupa pengakuan lisan dan pembuktiannya dengan amal perbuatan.2
Memang ada tiga unsur pokok dalam akidah Islam yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Artinya, jika sesorang mengaku berakidah Islam atau lebih mudahnya ia mengaku sebagai muslim, maka harus ada tiga unsur pokok ini didalam dirinya, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. Ketiganya mempunyai hubungan yang sangat erat.
Akidah juga semakna dengan tauhid. Tauhid artinya mengesakan. Tauhidullah artinya mengesakan Allah. Ajaran tauhid merupakan tema sentral akidah dan iman. Di antara pembahasan keimanan atau akidah adalah adanya Allah.
Manusia memiliki fitrah ber-Tuhan Allah. Manusia dapat membuktikan adanya Tuhan Allah melalui indra dan akalnya.
Dengan melihat alam semesta dan peristiwanya, manusia dapat merenungkan keberadaan Tuhan Allah SWT.
Dengan demikian akidah Islam adalah sesuatu yang dipercayai dan diyakini kebenarannya oleh hati manusia, sesuai ajaran Islam dengan berpedoman kepada al-Quran dan hadits. Aqidah Islam meliputi:
1) percaya adanya Allah dan segala sifat-sifat-Nya 2) percaya adanya malaikat-malaikat Allah
3) percaya kepada Kitab-kitab Allah 4) percaya kepada nabi dan rasul Allah
5) percaya keapda hari akhir dan sesuatu yang terjadi pada saat itu
6) percaya kepada qadha’ dan qadar.3
2 Amir Ghufran & Zubaidi, 2016, Pengantar Studi Akidah Islam, Jogjakarta: Lingkar Media, hlm. 3.
3 Ibid. hlm. 3
- 4 -
B. Ruang Lingkup Pembahasan Akidah
Meminjam sistematika Hasan al-Banna maka ruang lingkup pembahasan aqidah adalah :
1) Ilăhiyat. Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Ilah (Tuhan, Allah) seperti wujud Allah, nama-nama dan sifat-sifat Allah, af’al Allah dan lain- lain.
2) Nubuwat. Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi dan Rosul, termasuk pembahasan tentang Kitab-kitab Allah, mukjizat, karamat dan lain sebagainya.
3) Ruhaniyat. Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam metafisik seperti Malaikat, Jin, Iblis, Setan, Roh, dan lain sebagainya.
4) Sam’iyyat. Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang bisa di ketahui lewat sam’i (dalil naqli berupa al-Qur’an dan Sunnah) seperti alam barzah, akhirat, azab kubur, tanda- tanda kiamat, serga neraka dam lain sebagainya.
Di samping sistematika diatas, pembahasan akidah bisa juga mengikuti sistematika arkânul iman yaitu:
1) Iman kepada Allah SWT.
2) Iman kepada Malaikat (termasuk pembahasan tentang makhluk rohani lainnya seperti Jin, Iblis, Setan)
3) Iman kepada kitab-kitab Allah 4) Iman kepada Nabi dan Rasul 5) Iman kepada hari Akhir 6) Iman kepada takdir Allah.4
Penulis beranggapan bahwa sistematika ini yang tengah
4Ibid. hlm.8
- 5 - berlaku dalam kehidupan masyarakat secara umum.
C. Sumber Akidah Islam
Sumber ‘aqîdah Islam adalah al-Qur’an dan Sunnah.
Artinya, apa saja yang disampaikan oleh Allah SWT. dalam al- Qur’an dan oleh Rasulullah Saw. dalam Sunnahnya, wajib untuk diyakini dan diamalkan.
Adapun sumber akidah Islam dari al-Qur’an antara lain:
1) QS. Al-Anbiya’: 21;
( َنوُ ِشِْنُي ْ ُهُ ِضْرألا َنِم ًةَهِل أ اوُذَ نتَّا ِم أ 12
)
“Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)?”
2) QS. Al-Ankabut: 2-3 ;
( َنوُنَتْفُي ل ْ ُهَُو اننَم أ اوُلوُقَي ْن أ اوُكَ ْتُْي ْن أ ُساننلا َب ِسَح أ َنيِ نلَّا اننَتَف ْدَقَلَو ) 1
َو اوُقَد َص َنيِ نلَّا ُ نللَّا ننَمَلْعَيَلَف ْمِهِلْبَق ْنِم ( َينِبِذ َكَْلا ننَمَلْعَيَل
3 )
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?, Dan sesungguhnya kami telah menguji orang- orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.
Setiap umat beriman dalam perjalanan hidupnya pasti selalu diikuti oleh berbagai ujian dan cobaan, dan semua itu menjadikan tolok ukur keimanan yang dimilikinya.
3) QS. An-Nahl: 106;
َيمإل ِبِ ٌّ ِئَم ْطُم ُهُبْلَقَو َهِرْكأأ ْنَم ل ا ِهِناَيم ِ
ِ ا ِدْعَب ْنِم ِ نللَّ ِبِ َرَفَك ْنَم
ْنَم ْنِكَلَو ِنا
- 6 -
( يم ِظَع باَذَع ْمُهَلَو ِ نللَّا َنِم ب َضَغ ْمِ ْيَْلَعَف اًر ْد َص ِرْفُكْل ِبِ َحَ َشَ
201 )
“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar”.
4) Firman Allah dalam QS. An-Nisa’: 80 ;
ْنَم ِع ِطُي َلو ُسنرلا ْدَقَف َعا َط أ َنللَّا
“Barangsiapa yang taat kepada rasul maka sungguh dia telah taat kepada Allah.”
5) Firman Allah dalam QS. An-Nur: 56 ;
اوُعيِط أَو َلو ُسنرلا
ُْكنلَعَل َنوُ َحَْرُت
“Taatlah kalian kepada rasul semoga kalian dirahmati.”
6) Firman Allah dalam QS. Al-Hasyr: 7 ;
اوُ َتِْناَف ُهْنَع ْ ُكُاَ َنَ اَمَو ُهوُذُخَف ُلو ُسنرلا ُ ُكُ َتَاَء اَمَو
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah”.
Bisa dipahami bahwa, sebagai orang yang beriman hendaknya mengikuti dan mengambil hukum dari ajaran Nabi Saw.
7) Firman Allah dalam QS. Al-Ahzab: 36 ;
- 7 -
ُةَ َيَِخْلا ُمُهَل َنوُكَي ْن أ اًرْم أ ُ ُلُو ُس َرَو ُالله َضََق اَذ ا ٍةَنِمْؤُم َلَو ٍنِمْؤُمِل َن َكَ اَمَو ِ ِْهُِرْم أ ْنِم
“(Dan) Tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan (hukum) akan ada pilihan (hukum lain) tentang urusan mereka”.
8) Firman Allah dalam QS. An-Nur: 54:
ُق اوُعيِط أ ْل َنللَّا اوُعيِط أَو َلو ُسنرلا
ْن اَف ِ اْونلَوَت اَمنن ِ اَف ِهْيَلَع اَم َلِ ُحَ
َو ُْكْيَلَع ُْتْلِ ُحَ اَم
ْن اَو ِ ُهوُعي ِطُت او ُدَتْ َتِ
اَمَو َلَع ِلو ُسنرلا نل ا ِ ُغ َلاَبْلا ُينِبُمْلا
“Katakanlah: “Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul;
dan jika kamu berpaling Maka Sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”.
Adapun hadis-hadis yang menjelaskan tentang akidah Islam adalah sebagai berikut:
ْنَع ِب أ َةَرْيَرُه َلاَق َن َكَ
ُّ ِبننلا نلّ َص ُالله ِهْيَلَع َنلّ َسَو ا ًزِر َبِ
اًمْوَي ِساننل ِل ُه َتَ أَف
ُلْيِ ْبِْج َلاَقَف ُناَمْيإ ِلْا اَم
ْن أ َنِمْؤُت ِلل ِبِ
ِهِتَكِئَلاَمَو ِهِبُتُكَو
ِهِئاَقِلِبَو ِِل ُس ُرَو َنِمْؤُتَو
ِثْعَبْل ِبِ
“Dari Abu Hurairah Ra. berkata; bahwa Nabi Saw. pada sua- tu hari bersama dengan para sahabat, lalu datang Malaikat Jibril kemudian bertanya: “Apakah iman itu?” Nabi Saw.
- 8 -
menjawab: “Iman adalah kamu beriman kepada Allah, malai- kat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan kamu beriman kepada Hari Berbangkit”. (H.R. Bukhari)
َلاَق ُنْبا ٍْيََمُن ُتْعِ َسَ
َلو ُسَر ِنللَّا نل َص ُنللَّا ِهْيَلَع َنلّ َسَو ُلوُقَي ْنَم َتاَم ُكِ ْشُِي
ِنللَّ ِبِ
اًئْي َش َلَخَد َراننلا ُتْلُقَو َن أ ْنَمَو َتاَم ُكِ ْشُِي َل ِنللَّ ِبِ
اًئْي َش َلَخَد ْلا َةننَج
“Ibnu Numair telah berkata, “Saya mendengar Rasulullah Saw.bersabda: “Barangsiapa meninggal dalam keadaan meny ekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia masuk neraka.” Dan aku berkata, “Saya dan orang yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun (niscaya) masuk surga” (HR. Muslim).
Hadis di atas isinya tidak ada yang menyalahi isi dari al- Qur'an, dalam hal ini berkaitan dengan akidah yang secara umum disebut dengan keimanan. Hal ini semakin memperkuat keyakinan seseorang bahwa hadis adalah sumber hukum kedua setelah al-Qur'an yang harus dipedomani oleh umat Islam baik dalam hal akidah ataupun yang lainnya. Keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain.
Dari ayat-ayat dan hadits tersebut bisa dipahami bahwa akal pikiran manusia tidak menjadi sumber ‘aqîdah, tetapi hanya berfungsi untuk memahami nash-nash yang terdapat dalam sumber tersebut dan mencoba kalau diperlukan membuktikan secara ilmiah kebenaran yang disampaikan oleh al-Qur’an dan hadits tersebut. Itu pun harus didasari oleh suatu kesadaran bahwa kemampuan akal sangat terbatas, sesuai dengan terbatasnya kemampuan semua makhluk Allah. Akal tidak akan mampu menjangkau masâil ghâibiyah (masalah ghaib, penulis: transenden), bahkan akal tidak akan mampu
- 9 - menjangkau sesuatu yang tidak terikat dengan ruang dan waktu.5
Jika seseorang memiliki akidah Islam yang kuat dan iman sempurna, maka ia akan menjadi teladan bagi umat, karena setiap tindakannya merupakan akhlak terpuji. Artinya, setiap tindakan orang tersebut selalu diawali dengan niat yang baik, selalu terbimbing oleh akidahnya yang bersumber dari al- Qur’an dan hadits. Ijma’ dan qiyas merupakan pedoman setelah al-Qur’an dan sunnah.
D. Prinsip Akidah Islam
Prinsip akidah Islam antara lain:
1) Berserah diri kepada Allah dengan men-tauhid-kan-Nya;
Artinya, sebagai orang beriman hendaknya beribadah murni kepada Allah semata.
2) Taat kepada Allah dengan melakukan ketaatan;
Sebagai orang yang beriman hendaknya berprinsip menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan- larangan-Nya. Ketaatan berarti seseorang dengan rela hati menjalankan perintah-perintah dan menjauhi larangan-Nya.
3) Berlepas diri dari syirik;
Umat Islam hendaknya menjauhi perilaku yang menye- babkan syirik, karena prinsip seorang muslim adalah keteguhan dalam berakidah Islam, menjauhi sesembahan selain Allah, mencintai apa cintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah.
Sebagaimana dalam QS. Al Mumtahanah: 4;
ُءَ أَرُب نن ا ْمِهِمْو َقِل اوُلاَق ْذ ِ ا ُهَعَم َنيِ نلَّاَو َيمِهاَرْب ِ ا ِف ةَن َ سَح ةَو ْسأأ ُْكَل ْتَن َكَ ْدَق ِ
5 Amir Ghufran & Zubaidi, 2016, Pengantar Studi Akidah Islam, Jogjakarta:
Lingkar Media, hlm. 5
- 10 -
ِنللَّا ِنوُد ْنِم َنوُدُبْعَت انمِمَو ُْكْنِم
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia;
ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah.”
Sebagaimana pula firman Allah dalam QS. Al-Mujadalah:
22;
ْوَلَو َُلُو ُس َرَو َنللَّا نداَح ْنَم َنوُّداَوُي ِرِخَ ْلا ِمْوَيْلاَو ِنللَّ ِبِ َنوُنِمْؤُي اًمْوَق ُدَِتَ َل ْمُ َتَِيَ ِشَع ْو أ ْمُ َنَاَوْخ ا ْو أ ُْهَُءاَنْب أ ْو أ ُْهَُء َبَِ أ او ُنَكَ ِ
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.”
Fungsi akidah dalam mendasari akhlak, antara lain:
1) Dasar bagi setiap tindakan manusia (akhlak);
2) Mendasari terlaksananya akhlak terpuji;
3) Membentengi diri timbulnya akhlak tercela.
- 11 -
BAB II
IMAN, ISLAM DAN IHSAN
A. Iman
1. Pengertian Iman
enurut bahasa iman artinya percaya, sedangkan iman menurut istilah adalah :
ُناَمْيِلْا َوُه قْيِد ْصَت ِبْلَقلْ ِبِ
راَرْقِاَو ِنا َسلِ ل ِبِ
لَ َعََو ِن َكَْرَلْا ِبِ
“Iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan dilaksanakan dengan anggota badan (perbuatan).”
Jika seseorang sudah mengimani seluruh ajaran Islam, maka orang tersebut sudah dapat dikatakan mukmin (orang yang beriman).
Iman juga dapat diartikan at-tashdîq, yaitu pengakuan dan pembenaran. Rasulullah Saw. mendefinisikan iman dalam hadits sebagai keyakinan yang ada dalam batin. Dan Ahlus Sunnah berkeyakinan, iman adalah perkataan, perbuatan, dan niat (kehendak hati).
Iman atau keyakinan meliputi enam rukun iman yaitu iman kepada Allah, iman kepada Malaikat, iman kepada Rasul, iman kepada kitab, iman kepada hari kiamat, dan iman kepada qada’ dan qadar.
Keenam rukun iman tersebut adalah bentuk amal batiniah sebagai wujud pengakuan hati manusia terhadap kebesaran Allah, yang akan mempengaruhi segala aktifitas yang dilakukan oleh umat manusia. Karena manusia adalah makhluk Allah sekaligus khalifah fi al-ardl dengan segala kelebihan dan
M
- 12 -
kekurangan yang ada. Keimanan akan membawa manusia ke titik penyadaran diri sebagai hamba Allah yang tunduk di bawah kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa.
Ketika keyakinan terhadap keenam rukun tersebut sudah tertanam dalam hati, maka tentu seseorang akan berusaha untik menjalani kehidupan sesuai dengan koridor hukum Allah yang pada akhirnya akan membawa ke arah kehidupan yang berkualitas.
Tanda atau ciri orang yang beriman adalah sebagai berikut :
1) Taqwa: yaitu orang yang beriman bisa menjaga diri dari segala perbuatan dosa dengan melaksanakan segala apa yang diperintahkan Allah dan meninggalkan apa yang dilarang- Nya.
Adapun perintah bertaqwa sebagaimana dalam hadits Nabi Saw. sebagai berikut :
ُج ِنْب ْبُدْنُج رَذ ِب أ ْنَع َ ِض َر ٍلَبَج نْب ذاَعُم ِنَ ْحَنرلا ِدْبَع ِب أَو َةَداَن
ُالله
ُثْيَح َالله ِقنتِا : َلاَق َنلّ َسَو ِهْيَلَع ُالله نلص ِالله ِلْو ُسَر ْنَع اَمُ ْنَْع َتْنُك اَم
ٍن َسَح ٍقُلُ ِبِ َساننلا ِقِلاَخَو اَهُحْمَت َةَن َ سَحْلا َةَئ ِي نسلا ِعِبْت أَو -
هاور يذمتْلا
"Dari Abu Dzar bin Junadah dan Abu Abdurrahman Muadz bin Jabal radhiyallahu’anhuma, dari Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah kejelakan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskannya.
Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.”
2) Malu: yaitu orang yang beriman harus menanamkan rasa malu yaitu malu jika tidak melakukan perbuatan atau hal- hal yang telah dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dalam KBBI, malu bisa berarti: 1) merasa sangat tidak enak hati (hina,
- 13 - rendah, dsb) karena berbuat sesuatu yang kurang baik (kurang benar, berbeda dengan kebiasaan, mempunyai cacat atau kekurangan, dsb); 2) segan melakukan sesuatu karena ada rasa hormat, agak takut, dsb; dan 3) kurang senang (rendah, hina , dsb) (Tim Redaksi KBBI, 2001: 706).
Hadits yang terkait dengan haya’ adalah:
َنلّ َسَو ِهْيَلَع ُ نللَّا نل َص ِ ِبننلا ْنَع ُهْنَع ُ نللَّا َ ِضَر َةَرْيَرُه ِب أ ْنَع ُناَيم
ِ لْا َلاَق
)يراخبلا هاور( ِناَيم
ِ لْا ْنِم ةَبْع ُش ُءاَيَحْلاَو ًةَبْع ُش َنوُّت ِ سَو ع ْضِب
“Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah Saw. bersabda,
‘Iman itu memiliki enam puluh sekian cabang. Dan rasa malu merupakan salah satu cabang keimanan.’ (HR.Bukhari).
3) Syukur: yaitu orang yang beriman harus mempunyai rasa syukur (rasa terimakasih kepada Allah atas nikmat-Nya yang telah diberikan kepada umat manusia sesuai dengan kehendak yang memberikan ialah Allah SWT.
Untuk memperkuat aplikasi syukur, Firdaus (2003: 77)6 mengatakan bahwa zikrullah (mengingat Allah) juga merupakan salah satu bentuk pelaksanaan syukur kepada-Nya, sebagaimana hadits qudsi yang berbunyi:
ْي ِ سَناَماَذِاَو , ِنَِتْرَك َش ِنَِتْرَكَذاَم َكننِا ,َمَدَا َنْبا َيَ : َلىاَعَت ُالله لاَق ِنَِتْرَفَك ِنَِتَ
)ةريره بىا نع نىابْطلا هاور(
“Allah berfirman dalam hadits qudsi-Nya: “wahai anak Adam, bahwa selama engkau mengingat Aku, berarti engkau mensyukuri Aku, dan apabila engkau melupakan Aku, berarti engkau telah mendurhakai Aku!”. (H.R Thabrani).
6 Firdaus A.N, 2003, 325 Hadits Qudsi Pilihan: Jalan ke Surga, Jakarta:
Pedo-an Ilmu Jaya, hlm. 77.
- 14 -
Kualitas keimanan seseorang dibagi menjadi dua, antara lain:
1) Kuat Iman
Kuat Iman adalah orang yang sesudah menanamkan keyakinannya, membangun sepak terjang hidupnya diatas asas yang kokoh dan kuat yang betul-betul bisa dijadikan pegangan serta memberikan jaminan ketentraman bahwa amal-amal yang ia laksanakan pasti sesuai dengan keyakinan itu.
2) Lemah Iman
Lemah iman adalah orang yang hatinya tidak pernah mengenyam ketentraman yang sempurna, yang karena itu pula tidak ada jaminan keamanan terhadap masuknya kepercayaan lain yang bertentangan dengan kepercayaan- nya.7
2. Manifestasi Iman
Iman bukanlah sekedar ucapan dengan lisan dan keyakinan dalam hati, akan tetapi iman adalah suatu keyakinan yang memenuhi hati dan darinya muncul berbagai pengaruh- nya sebagaimana matahari terpancar cahaya, dan sebagaimana dari bunga mawar tersebar aromanya yang harum semerbak.
Diantara manifestasi iman adalah bahwa Allah dan Rasul- Nya lebh dicintai oleh orang yang beriman daripada apapun juga, dan hal itu tampak dalam ucapan, perbuatan dan perilakunya.8
Sesungguhnya iman tidak akan sempurna kecuali dengan cinta yang sejati yaitu mencintai Allah, mencintai Rasulullah dan mencintai Syari’at yang diwahyukan oleh Allah kepada Rasul-Nya. Didalam hadits Shahih riwayat Imam Bukhari,
7 Abul A’la Maududi, Dasar-Dasar Iman, (Bandung : Pustaka, 1970) hlm. 3.
8 Sayid Sabiq, Aqidah Islamiyah, (Jakarta : Robbani Press, 2006).hlm. 118
- 15 - Rasulullah Saw. bersabda :
اَق َنلّ َسَو ِهْيَلَع ُ نللَّا نل َص ِ ِبننلا ْنَع َلاَح َدَجَو ِهيِف ننُك ْنَم ث َلاَث َل
ِناَيم
ِ ْلا َةَو
ُّبِ ُيُ َل َءْرَمْلا نبِ ُيُ ْن أَو اَ ُهُاَو ِس انمِم ِهْيَلِا نبَح أ ُُلُوُسَرَو ُنللَّا َنوُكَي ْن أ ِ ن ِللَّ نل
ِ ا ُه
ا ِف َفَذْقُي ْن أ ُهَرْكَي َ َكَم ِرْفُكْلا ِف َدوُعَي ْن أ َهَرْكَي ْن أَو ِراننل
“Dari Anas bin Malik dari Nabi Saw., beliau bersabda: “Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: Dijadikannya Allah dan Rasul- Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka”. (HR. Bukhari:15)
3. Buah Keimanan
Apabila manusia telah beriman baik itu melalui akal maupun hati maka ma’rifat ini akan menghasilkan buah yang masak baginya dan meninggalkan dampak yang bagus dalam dirinya. Ma’rifat ini juga akan mengarahkan perilaku seseorang menuju kebaikan dan kebenaran, keluhuran dan keindahan.9
Buah keimanan tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut:
1) Kemerdekaan jiwa dari kekuasaan orang lain.
Hal ini muncul karena keimanan menetapkan pengakuan dan ikrar bahwa Allah-lah yang menghidupakan, mematikan, berkuasa merendahkan dan meninggikan derajat seseorang, dan berkuasa menimbulkan bahaya dan memberikan manfaat.
9 Sayid Sabiq, Aqidah Islamiyah, (Jakarta : Robbani Press, 2006).hlm. 128
- 16 -
Sebagaimana firman Allah dalam QS. al-A’raf: 188;
ا َُلّْع أ ُتْنُك ْوَلَو ُ نللَّا َءا َش اَم لِا اًّ َضَ لَو اًعْفَن ِسِْفَنِل ُ ِلِْم أ ل ْلُق َبْيَغْل
ِل يَ ِشَبَو ريِذَن ل ا َن أ ْن ِ ا ُءو ُّسلا َ ِنِ ن سَم اَمَو ِ ْيََخْلا َنِم ُتَْثَْكَت ْ سل ِ َنوُنِمْؤُي ٍمْوَق
( 211 )
Artinya: “Katakanlah, aku tidak berkuasa menarik keman- faatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengeta- hui yang ghaib, tentulah aku membuat kebaikan sebanyak- banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”.
2) Iman dapat membangkitkan keberanian didalam jiwa dan keinginan untuk terus maju, menganggap enteng kematian dan menggandrungi mati syahid demi membela kebenaran.
Hal ini karena iman mengajarkan bahwa yang berkuasa memberikan umur adalah Allah. Umur tidak akan berkurang karena keberanian dan tidak (pula) akan bertambah karena mundur kebelakang. Berapa banyak manusia mati, padahal ia berada diatas tempat tidur dengan kasur yang menyenangkan.
3) Bertambah dan Berkurangnya Iman
Ada beberapa sebab yang dapat meningkatkan iman, sehingga iman itu bertambah sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Anfal: 2;
ُُبوُلُق ْتَلِجَو ُ نللَّا َرِكُذ اَذ ا َنيِ نلَّا َنوُنِمْؤُمْلا اَمنن ِ ا ِ ِْيَْلَع ْتَيِلُت اَذ
ِ اَو ْم ْمُ ْتَِداَز ُهُت َيَ أ ْم
( َنوُ نكََّوَتَي ْمِ ِ بَر َلَعَو ًناَيم ا ِ 1
)
- 17 - Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allahgemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.
Ada juga beberapa sebab yang dapat melemahkan iman diantaranya maksiat, seperti sabda Rasulullah :
“Dan tidaklah seseorang melakukan zina, pada saat dia dalam keadaan beriman.”10
Apabila seseorang berkeinginan untuk membuktikan keimanan, maka harus membentuknya dengan cara:
a) Membenarkan yang ditetapkan dalam hati berdasarkan ilmu b) Beramal di dalam hati dengan cara berzikir dan bertafakur, terutama memahami ayat-ayat kauniyah dan quraniyah, yang mengandung janji dan ancama Allah SWT.
c) Menugacapkan melalui lidah dengan cara banyak berzikir, mengucapkan kebenaran, berdakwah di jalan Allah, meme- rintahkan kebaikan, melarang kemungkaran, belajar dan mengajarkan ilmu, berwasiat dengan kebenaran, dan berwasiat dengan sabar.
d) Beramal melalui badan dengan cara melaksanakan rukun Islam, jihad dijalan Allah melalui harta dan jiwa, mencurahkan jiwa untuk melaksanakan perintah Allah, serta bergaul dengan orang-orang yang saleh.11
10 Qasim Tarmana Ahmad, Pokok-pokok Keimanan, (Bandung : Trigenda Karya, 1994).hlm. 23
11 Qasim Tarmana Ahmad, 1994, Pokok-pokok Keimanan, Bandung:
Trigenda Karya,hlm .23-24
- 18 - B. Islam
1. Pengertian Islam
Secara bahasa, Islam berarti tunduk dan menyerah sepenuhnya kepada Allah SWT. Sedangkan Islam secara istilah adalah patuh dan tunduk kepada Allah dengan cara men- tauhidkan, mentaati dan membebaskan diri dari kemusyrikan dan ahli syirik.” (‘Utsaimin, t.t.: 68-69). Islam adalah agama yang mengajarkan agar manusia berserah diri dan tunduk sepenuhnya kepada Allah.
Nabi Muhammad Saw. bersabda :
ُالله نل َص ِالله َلْو ُسَر ُتْعِ َسَ :َلاَق اَمُ ْنَْع ُالله َ ِض َر َرَ ُعَ ِنْب ِالله ِدْبَع ْنَع نن أَو ُالله نل ا َ َلُ ِ
ِ ا َل ْن أ ُةَداَه َش ؛ ٍسْ َخَ َلَع ُمَلا ْس ِ لْا َ ِنُِب :ُلْوُقَي َنلّ َسَو ِه ْيَلَع َنا َضَم َر ِمْو َصَو ِتْيَبْلا ِ جَحَو ِة َكَنزلا ِءاَتْي
ِ اَو ِةَلا نصلا ِماَق
ِ اَو ِالله ُلْو ُسَر اًدنمَحُم
Artinya: “Dari Abdillah bin Umar ra. Berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Islam itu didirikan atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada AIlah yang berhak disembah dengan benar selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, menunaikan ibadah haji, berpuasa di bulan Ramadlan.”
Islam menurut Humaidi Tatapangarsa dalam bukunya
“Kuliah Aqidah Lengkap”, memiliki dua macam pengertian yaitu pengertian khusus dan pengertian umum.12 Islam menurut pengertian khusus adalah agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw., sedangkan menurut pengertian umum, Islam adalah agama yang diajarkan oleh semua Nabi dan Rasul Allah SWT. dari Nabi Adam as. sampai Nabi Muhammad Saw. Akan
12 Syamsul Rijal Hamid, Buku Pintar Agama Islam, ( Jakarta : Penebar Salam) hlm. 3.
- 19 - tetapi yang dinamakan Islam itu adalah agama yang masih murni sesuai yang diajarkan oleh Nabi dan Rasul.
Apabila ajaran tersebut sudah berubah dari aslinya, seperti yang terjadi pada agama-agama non Islam yang melenceng dari ajaran Nabi Isa as., dan agama bangsa Yahudi sekarang ini yang melenceng dari ajaran Nabi Musa as. Selain itu Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw. dan ia adalah agama yang berintikan keimanan dan perbuatan atau amal.13
Ditinjau dari segi bahasa, Islam memiliki beberapa arti, yaitu:
1) Islam berarti taat atau patuh dan berserah diri kepada Allah.
2) Islam berarti damai dan kasih sayang, maksudnya agama Islam mengajarkan perdamaian dan kasih sayang bagi umat manusia tanpa memandang warna kulit, agama, dan status sosial.
3) Islam berarti selamat, maksudnya Islam merupakan petunjuk untuk memperoleh keselamatan hidup baik didunia maupun diakhirat kelak.14
C. Ihsan
1. Pengertian Ihsan
Ihsan adalah ikhlas dan penuh perhatian. Artinya, seseorang sepenuhnya ikhlas untuk beribadah hanya kepada Allah dengan penuh perhatian, sehingga seolah-olah melihat- Nya. Jika tidak mampu seperti itu, maka ingatlah bahwa Allah senantiasa melihatnya dan mengetahui apapun yang ada pada dirinya.
13 Sayid Sabiq, Aqidah Islamiyah, (Bandung : CV.Diponegoro, 1993).hlm.
15.
14 Syamsul Rijal Hamid, t.t., Buku Pintar Agama Islam, Jakarta : Penebar Salam, hlm. 2.
- 20 -
Selain itu, Ihsan juga diartikan sebagai suatu cara tentang bagaimana seharusnya seseorang beribadah kepada Allah.
Dalam konteks ini, Rasulullah mengajarkan agar ibadah seseorang dilakukan dengan cara seolah berhadapan secara langsung dengan Allah. Cara ini akan membawa ibadah ke maqam (tingkat) yang lebih dekat kepada Allah dengan perasaan penuh harap, takut, khusyu’, ridla dan ikhlas kepada Allah. Perasaan tersebut menjadikan ibadah yang ia lakukan tidak hanya sekadar menjadi kewajiban, tetapi merupakan kebutuhan jiwa dalam penghambaan diri kepada Allah.
Ada empat macam perilaku Ihsan yaitu:
1. Ihsan terhadap Allah: menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
2. Ihsan terhadap diri sendiri: mengerjakan segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri dan menghindari semua perbuatan yang mendatangkan kerugian bagi diri sendiri.
3. Ihsan terhadap sesama manusia: bebuat baik kepada tetangga, kerabat, maupun seagama.
4. Ihsan terhadap makhluk lain (alam lingkungan): berbuat baik dengan cara memelihara alam lingkungan agar tetap lestari dan tidak punah.15
D. Hubungan Iman, Islam dan Ihsan
Iman, Islam dan Ihsan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Iman adalah keyakinan yang menjadi dasar akidah. Keyakinan tersebut kemudian diwujudkan melalui pelaksanaan kelima rukun Islam. Sedangkan pelaksanaan rukun Islam dilakukan dengan cara ihsan, sebagai upaya pendekatan diri kepada Allah.
15 http://www.slideshare.net/yanuar_hadi/hubungan-iman-islam-dan- ihsan//akses 5/1/2018, pukul 7.34 WIB.
- 21 - Hubungan iman, Islam dan ihsan sendiri diibaratkan seperti sebuah segita sama sisi yang setiap sisi-sisinya selalu berhubungan sangat erat. Jadi orang yang taqwa ibarat segitiga sama sisi yang sisi-sisinya adalah iman, Islam, dan ihsan.
Segitiga tersebut tidak akan membentuk apabila ketiga sisinya tidak saling terhubung.
Hubungan yang lain adalah iman itu membentuk watak dan jiwa manusia menjadi kuat dan positif, yang diwujudkan dalam bentuk perbuatan dan tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari adalah didasari oleh apa yang dipercayainya. Apabila yang dipercayai itu baik, maka akan baik pula tingkah lakunya begitu juga sebaliknya.16
Selain itu hubungan iman, Islam dan ihsan menurut Al- Maududi digambarkan sebagai sebuah pohon yang utuh yaitu iman digambarkan sebagai akar, Islam digambarkan sebagai batang; tangkai; daun dan ihsan digambarkan sebagai buah.
Jadi hubungan iman, Islam dan ihsan sangat erat yaitu bersifat fungsional dimana satu dengan yang lain saling mempunyai fungsi dan kausal (sebagai sebab akibat).
Iman itu membentuk jiwa dan watak manusia menjadi kuat dan positif, yang akan diwujudkan dalam bentuk perbuatan dan tingkah laku akhlak manusia sehari-hari adalah didasari oleh apa yang dipercayainya (diimani). Kalau kepercayaan (iman) nya itu benar maka akan baik pula perbuatannya, dan begitu pula sebaliknya. Iman yang tertanam di dada memberi inspirasi positif kepada seseorang untuk berlaku dan beramal shaleh. Iman yang benar membawa pribadi ke arah perubahan jiwa dan cara berpikir positif.
Perubahan jiwa tersebut merupakan suatu revolusi dan
16 Abul A’la Maududi, Dasar-Dasar Iman, (Bandung : Pustaka, 1970) hlm.
27-33.
- 22 -
pembeharuan tentang tujuan hidup, pandangan hidup, cita-cita, keinginan-keinginan dan kebiasaan (Yusuf Qadlawi, 1977:
251).
- 23 -
BAB III
AKHLAK DAN RUANG LINGKUPNYA
A. Pengertian Akhlak
ecara linguistik kata akhlak merupakan isim jamid atau isim ghairu mustaq. Kata akhlak adalah jamak dari kata khuluqun yang memiliki kesamaan arti. Baik akhlak atau khuluq keduanya dijumpai pemakaiannya dalam al-Qur’an, dan Hadits Nabi Saw.17, diantaranya adalah:
1) Al-Qur’an surat al-Qalam; 4:
يم ِظَع ٍقُلُخ لَعَل َكنن
ِ اَو
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”.
2) Hadits riwayat Imam Tirmidzi:
ًاقُلُخ ْمُ ُنْ َ سْحَا ًناَمْيِا َ ْينِنِم ْؤُلما ُلَ ْكْ َا
“Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah orang yang sempurna budi pekertinya”.
3) Hadits riwayat Imam Ahmad :
ِقَلاـْخ َلاَ مِر َكََم َمـِ مـَت ألِ ُتـْثِعـُب َمانن ِا
“Bahwasanya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan akhlak”.
4) Hadits riwayat Imam Tirmidzi dan Ibnu Hiban :
17 Abudin Nata, 2014, Akhlaq Tasawuf dan Karakter Mulia, Jakarta: Raja Grafindo Persada, hlm. 1-2.
S
- 24 -
ْن َع ِب أ َةَرْيَرُه َ ِض َر ُالله ُهْنَع َلاَق َلِئ ُ س : ُلو ُسَر ِالله نل َص ُالله ِهْيَلَع َنلّ َسَو
ْنَع َِثَْك أ اَم ُلِخ ْدُي َساننلا
؟َةننـَلجَا َلاَقَف
ىَوـْقـَت : ِالله ُن ْسُحَو ِقُلُلخا
َلِئ ُ سَو ْن َ َِثَْك أ اَم ُلِخ ْدُي َساننلا
؟ َراننلَا َلاَقَف ُمَفْلَا : ُجْرَفلْاَو ُهاَوَر .
ْيِذِمْ ِتْلا
ُنْباَو ْناَبِح .
“Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah Saw. ditanya tentang hal yang paling banyak memasukan manusia ke dalam surga?
Rasulullah Saw. menjawab: Taqwa kepada Allah, akhlak yang baik. Kemudian Rasulullah Saw. ditanya kembali tentang hal yang paling banyak memasukan manusia kedalam neraka?
Rasulullah Saw. menjawab: mulut dan farji’ (kemaluan)”.
5) Hadits riwayat Imam Bukhari, Muslim, dan Tirmizdi;
ْنَع ِدْبَع ِالله ِنب وِرْ َعَ
ِن ب صاَعلا َ ِض َر ُالله اَمُهـْنـَع : َلاَق ْمَل:
ْنُكَي ُلْوسَر
ِنللَّا نل َص ُالله ِهْيَلَع َنلّ َسَو ا ًشِحاَف َل َو
ا ًش ِحَفَتُم َنَكََو
ُلوُقَي نن ا ِ : ْنِم
ُكُِراَيِخ ُْكُن َ سْح أ ْ اًقَلاْخ أ
. ُهاَوَر ) يِراَخُبـلا مـِل ْسُمَو
يِذِمْرـِتلاَو (
“Dari Abdullah bin ‘Amr bin Ash ra. berkata: Tidaklah Rasulullah Saw. itu orang yang keji dan tidak pula orang yang berkata keji. Dan beliau bersabda: Sesungguhnya yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya”.
Luis Ma’luf (1986: 194), Abuddin Nata18 dan Sofyan Sauri (2008: 136) menyatakan bahwa akhlak adalah bentuk jama’
dari khuluq, yang bermakna as-sajiyah (perangai), at-tabi’ah (kelakuan, tabi’at, watak dasar), al-‘âdat (kebiasaan, kela-
18 Abudin Nata, 2014, Akhlaq Tasawuf dan Karakter Mulia, Jakarta: Raja Grafindo Persada, hlm. 1.
- 25 - ziman), al-muru’ah (peradaban yang baik) dan ad-dîn (agama).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007: 20) akhlak bermakna budi pekerti. Sedangkan Abd. Hamid Yunus menyatakan bahwa “Akhlak ialah segala sifat manusia yang terdidik”.
Memahami ungkapan tersebut bisa dipahami bahwa sifat atau potensi yang dibawa setiap manusia itu sejak kelahirannya: artinya, potensi tersebut sangat bergantung dari cara pembinaan dan pembentukannya. Apabila pengaruhnya positif, outputnya adalah akhlak mulia; sebaliknya, apabila pembinaan dan pembentukannya dengan hal-hal yang negatif, yang terbentuk adalah akhlak tercela (mażmumah).19
Adapun pengertian akhlak secara istilah dapat merujuk kepada berbagai pendapat para ahli antara lain:
1) Ibnu Maskawaih20, sebagaimana Abuddin Nata (2013: 3) diterangkan:
ٍةنيِوَر َلَو ٍرْكِف ِ ْيََغ ْنِم اَهِلاَعْف أ َلى ا اَهَل ةَيِعاَد ِسْفننلِل لاَح ِ
“Sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerluka pemikiran dan pertimbangan”.21
Imam Ghazali22 mengatakan bahwa akhlak adalah:
19Zubaedi, “Urgensi Pendidikan Karakter di Tengah-Tengah Kemerosotan Moralitas Bangsa”, dalam Jurnal Nuansa, Bengkulu: Program Pascasarjana STAIN Bengkulu, Nomor 2, Desember 2011, Volume 4, hlm. 224.
20 Ibnu Miskawaih adalah tokoh bidang akhlak terkemuka (w. 421 H/1030 M).
21 Muhammad Yusuf Musa, 1963, Falsafah al-Akhlaq Fi-al-Islam Wa- Silatuha Bi-al-Falsafah al-Igririyyah, Kairo, Muassasah al-Khanji, hlm. 81.
22 Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ta’us Aṭ-Ṭûsi Asy-Syafi’i Al-Ghazali dan mendapat gelar
“Hujjah Al-Islam”, lahir th 450 H/1058 M dan Wafat th 505 H/1111 M pada usia 54 th. (Anwar, 2009: 129-130).
- 26 -
َْنَْع ةَ ِسِاَر ِسْفننلا ِفِ ٍةَئْيَه ْنَع ةَراَبِع ُقُلُخْلاَف ٍ ْسُْيَو ٍ َلَ ْوُه ُسِب ُلاَعْف ْلا ُرُد ْصَت ا
ٍةنيِو َرَو ٍرْكِف َلى ا ٍةَجاَح ِ ْيََغ ْنٍم ِ
“Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia) yang melahirkan bermacam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan”.23
2) Al-Qurthubi mengartikan akhlak adalah :
ُْيَ ِصَي ُهنن ِل ,ًاقُلُخ ىنم َسُي ِبَد ْلا َنِم ُه ُسْفَن ُنا َسْن ِ ْلا ِهِب ُذُخْأَي َوُه اَم ِةَقْلِخْلا َنِم
ِهْيِف
“Perbuatan yang bersumber dari diri manusia yang selalu dilakukan, maka itulah yang disebut akhlaq, karena perbuatan tersebut bersumber dari kejadiannya”.24
3) Muhammad bin ‘Ilan ash-Shadiqi mengartikan akhlak adalah:
ُرِدَتْقَي ِسْفننل ِبِ ةَكَلَم َوُه ُقُلُخْلَا َِلْيِمَجْلا ِلاَعْف ْلا ِرْوُد ُص َلَع اَ ِب
ٍَلَ ْوُه ُسِب
“Akhlak adalah suatu pembawaan dalam diri manusia, yang dapat menimbulkan perbuatan baik, dengan mudah”.25
4) Abu Bakar Jabir al-Jaziri mengatakan akhlak adalah :
ْخ ِ ْلا ُةنيِداَر ِ ْلا ُلاَعْف ْلا اَ ْنَْع ُرُد ْصَت ِسْفننلا ِفِ ةَ ِسِاَر ةَئْيَه ُقُلُخْلَا ْنِم ُةنيِراَيِت
23 al-Ghazali, t.t., Ihya’ ‘Ulumi al-Din, Juz III, Bairut, Dar al-Fikr, hlm. 52
24al-Qurtubi, 1913 M, Tafsir al-Qurtubi, Juz VIII, Kairo, Dar al-Sya’bi, hlm.
6706.
25 Muhammad bin ‘Ilan al-Sadiqi, 1391 H//1971, Dalil al-Falihin, Juz III, Mesir: Mustafa al-Babi al-Halabi, hlm. 76.
- 27 -
َو ٍ َلْيِ َجََو ٍةَئِ ي َسَو ٍةَن َ سَح ٍةَحْيِبَق
“Akhlak adalah bentuk kejiwaan yang tertanam dalam diri manusia, yang dapat menimbulkan perbuatan baik dan buruk, terpuji dan tercela”.26
5) Sejalan dengan pendapat tersebut diatas, dalam Mu’jam al- Wasiṭ, oleh Ibrahim Anis dalam Abuddin Nata (2014: 3) juga mengatakan bahwa akhlak adalah:
َلى
ِ ا ٍة َجاَح ِ ْيََغ ْنِم ٍ َشَ ْوَا ٍ ْيََخ ْنِم ُلاَ ْعَ ْلا اَ ْنَْع ُرُد ْصَت ةَ ِسِاَر ِسْفننلل لاَح ٍةَيْؤ ُرَو ٍرْك ِف
“Sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan”.27
6) Ahmad Amin mengatakan akhlak ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya bahwa kehendak itu bila membiasakan sesuatu, maka kebiasaan itu dinamakan akhlak.
7) Sedangkan dalam Ensiklopedi Britanica, akhlak yang disebut sebagai ilmu akhlak mempunyai arti sebagai studi yang sistematik tentang tabiat dari pengertian nilai baik, buruk, seharusnya benar, salah dan sebagainya tentang prinsip umum dan dapat diterapkan terhadap sesuatu, selanjutnya dapat disebut juga sebagai filsafat moral.28
Konsepsi ajaran akhlak menurut Islam adalah menuju perbuatan amal saleh, yaitu semua perbuatan baik dan terpuji,
26 Abu Bakar Jabir al-Jaziri, 1396/1976, Minhaj al-Muslim, Madinah, Dar
‘Umar bin Khattab, hlm.154.
27 Ibrahim Anis, 1972, Al-Mu’jam al-Wasith, Mesir: Dar al-Ma’arif, hlm, 202.
28 Bertens, K, 2000, Etika, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, hlm. 76.
- 28 -
berfaedah dan indah untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat yang diridai oleh Allah, sedangkan amal saleh itu sendiri adalah inti ajaran Islam yang harus diterapkan untuk melatar belakangi konsepsi akhlak yang hendak dilakukan oleh manusia.29
Dari berbagai definisi di batas, dapat diketahui bahwa perbuatan yang dikatagorikan sebagai akhlak yang baik (al- akhlaq al-mahmudah) itu haruslah memenuhi kriteria pengulangan (kontinuitas) sehingga seseorang yang hanya melakukan kebaikan sekali waktu saja tidak lantas dikatakan berakhlak baik. Selain itu, akhlak yang baik harus dilakukan tanpa ada paksaan. Apabila perbuatan tersebut dilakukan dengan terpaksa bukanlah pencerminan dari akhlak.30
Kesadaran akhlak pasti ada pada setiap manusia, meski- pun kesadaran ini sangat ditentukan oleh beberapa faktor, seperti: umur, pendidikan, kesadaran beragama, pengalaman, peradaban dan lingkungan. Kesadaran akhlak itu bersumber dari hati nurani (al-qalb). Manusia mengerjakan yang baik atas perintah-Nya, dan meninggalkan yang buruk atas kontrol dan larangan-Nya. Perintah dan larangan bersifat mutlak dan wajib (imperatif kategoris), yang berbeda dengan perintah-perintah lainnya yang “mengandung syarat” (imperative hipotesis).31
Kajian ini membedakan antara akhlak dengan ilmu akhlak. Pembahasan tentang akhlak sebagaimana diatas.
Sedangkan pembahasan ilmu akhlak antara lain:
Ilmu akhlak menurut Ahmad Amin32 sebagaimana yang
29 Rasihon Anwar, 2009, Akhlak Tasawuf, Bandung: Pustaka Setia, hlm.116.
30 Jamil, 2013, Akhlak Tasawuf, Jakarta: Referensi, hlm. 3.
31 Amin Syukur, 2010, Pengantar Studi Islami, Semarang: Pustaka Rizki Putra, hlm. 127.
32 Ahmad Amin, 1983, Ilmu Akhlak, Terjemah oleh Farid Ma’ruf, Jakarta:
Bulan Bintang, hlm. 2.
- 29 - dikutip Mahjuddin (2010: 3) adalah suatu ilmu yang membahas perbuatan manusia yang dapat dinilai baik atau buruk.
Menurut Mansur Ali Rajab (1961: 19) dalam Mahjuddin adalah ilmu tentang nilai-nilai yang baik (mahmudah), lalu mengetahui cara-cara mengikutinya, agar manusia (dapat menggunakannya) untuk berbuat baik. Dan ilmu tentang nilai- nilai yang buruk (maż mumah), lalu (mengetahui) cara-cara menjauhinya untuk membersihkan diri dari padanya.33
Sedang menurut Thaha Mahmud (1932: 6):
ِقَلاْخَلاُ ْلّ ِع ا اَنَل ْيَِنُيَو ِساننلا ِكْوُل ُس ِفِ ُثَحْبـَي ْيِ َلَّا ُ ْلِّعلا َوُه
َلْيـِب َسل
َتلاَو َاـمِـهِـلَو أِب ِك ُّسَمَتلا َلىِا وُعْدَيَو ِ َشِلاَوِ ْيََلخا َ ْينَب ِقـْيِرْفنتلِل َاـمِهـِـن ََ ْنَع ِلَخ
َا ِىغَبْنَي ِتنلَا ِلْثِلما َةـَياَغلا ُ ِ ينـَبـُيَو ِ دَ ُيَُو َاهـْيـَلِا َدْو ُصـْقـَن ْن
ِفِ ِتاَقَلاَعلا ُد
َهِ دَ ِبِ اًع ِضاَو ِسْفننلا ِفِ ُقُلْ َيَو ًاضـْعـَب ْمُهـ َضـْعَـب ِساننلا ِةـَلَماَعُم ِعاَبِ تِا َلَع ا
. ِلـِئاـ َضـَفلْا
“ilmu akhlak adalah ilmu yang membahas tentang tingkah laku manusia, yang menerangi jalan bagi manusia untuk membedakan antara kebaikan dan keburukan serta mengajak manusia untuk berpegang pada yang pertama dan melepaskan diri dari yang kedua, menjelaskan tentang tujuan dan pandangan hidup yang hendak dituju oleh manusia, memberikan batasan-batasan tentang komunikasi dalam pergaulan antara sesama manusia, dan menciptakan pada jiwa manusia suatu kecenderungan untuk memiliki keutamaan-keutamaan”.
33 Mahjuddin, 2010, Akhlaq Tasawuf, Jakarta: Kalam Mulia, hlm. 3.
- 30 -
Menurut Abuddin Nata sebagaimana Jamil34 ada 5 ciri yang terkandung dari sebuah pengertian akhlak yaitu:
1) Akhlak merupakan perbuatan yang tertanam di dalam jiwa seseorang secara kuat sehingga menjadi bagian dari pribadinya. Sebagaiamana diilustrasikan dalam buku Abuddin Nata bahwa jika seseorang mengatakan bahwa si Fulan sebagai orang yang berakhlak sakha’ (dermawan, Jawa: loman), maka sikap dermawan tersebut telah melekat pada dirinya, kapan dan di manapun sikap dermawan tersebut dibawanya, sehingga menjadi identitas yang membedakan antara dirinya dengan orang lain. Dan jika si Fulan tersebut kadang-kadang sakha’
(dermawan, Jawa: loman) dan kadang-kadang bakhil, maka si Fulan tersebut belum bisa dikatakan sebagai orang yang dermawan. Demikian pula jika seseorang dikatakan bahwa ia termasuk orang yang taat beribadah, maka sikap taat beribadah tersebut telah dilakukannya di manapun ia berada.35 2) Akhlak tersebut dilakukan secara mudah tanpa memerlukan pemikiran. Ini tidak berarti bahwa pada saat melakukan sesuatu perbuatan, yang bersangkutan dalam keadaan tidak sadar, hilang ingatan, tidur atau gila. Pada saat yang bersangkutan melakukan suatu perbuatan ia tetap sehat akal pikirannya dan sadar. Oleh karena itu, perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dalam keadaan tidur, hilang ingatan, mabuk, atau perbuatan refleks seperti berkedip, tertawa dan sebagainya bukanlah perbuatan akhlak. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang yang sehat akal pikirannya. Namun, karena perbuatan tersebut sudah mendarah daging, sebagaimana disebutkan pada sifat yang pertama, maka pada saat akan mengerjakannya sudah tidak
34 Jamil, 2013, Akhlak Tasawuf, Jakarta: Referensi, hlm. 4.
35 Abuddin Nata, 2014, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada, Cet. Ke 13, hlm. 4.
- 31 - lagi memerlukan pertimbangan atau pemikiran lagi. Hal yang demikian tak ubahnya dengan seseorang yang sudah mendarah daging mengerjakan salat lima waktu, maka pada saat datang panggilan salat ia sudah tidak merasa berat lagi mengerjakan- nya, dan tanpa pikir-pikir lagi ia sudah dengan mudah dan ringan dapat mengerjakannya.
3) Akhlak dilakukan tanpa paksaan atau tekanan dari luar diri seseorang. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan atas dasar kemauan, pilihan dan keputusan yang bersangkutan. Oleh karena itu, tidak ada seseorang yang melakukan suatu perbuatan, tetapi perbuatan tersebut dilakukan karena paksaan, tekanan atau ancaman dariluar, maka perbuatan tersebut tidak termasuk dalam akhlak dari orang yang melakukannya. Dalam hubungan ini, Ahmad Amin mengatakan;
Bahwa ilmu akhlak adalah ilmu yang membahas tentang perbuatan manusia yang dapat dinilai baik atau buruk.
Tetapi tidak semua amal yang baik atau buruk itu dapat dikatakan perbuatan akhlak. Banyak perbuatan yang tidakdapat disebut perbuatan akhlak, dan tidak dapat dikatakan baik atau buruk. Perbuatan manusia yang dilakukan tidak atas dasar kemauannya atau pilihannya seperti bernafas, berkedip, berbolak baliknya hati, dan kaget ketika tiba-tiba terang setelah sebelumnya gelap, tidaklah disebut akhlak, karena perbuatan tersebut yang dilakukan tanpa pilihan.36
4) Akhlak tersebut dilakukan dengan sungguh-sungguh, bukan main-main atau karena bersandiwara. Menurut Nata Jika kita menyaksikan orang berbuat kejam, sadis, jahat dan
36 Ahmad Amin, t.t., Kitab al-Akhlak, Mesir: Dar al-Kutub al-Mishriyah, cet.
III, hlm. 2-3, dalam Nata (2013: 5).
- 32 -
seterusnya, tapi perbuatan tersebut terlihat dalam pertunjukan film, maka perbuatan demikian tidak dapat disebut perbuatan akhlak, karena perbuatan yang demikian bukan perbuatan yang sebenarnya. Terkait dengan ini, maka sebaiknya seseorang tidak cepat-cepat menilai orang lain sebagai berakhlak baik atau berakhlak buruk, sebelum diketahui dengan sesungguhnya bahwa perbuatan tersebut memang dilakukan dengan sebenarnya. Hal ini perlu dicatat, karena manusia termasuk makhluk yang pandai bersandiwara, atau berpura-pura. Untuk mengetahui perbuatan yang sesungguhnya dapat dilakukan melalui cara yang kontinyu dan terus-menerus.37
5) Akhlak juga dilakukan karena ikhlas, semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT. dan bukan pujian manusia.
Seseorang yang melakukan perbuatan bukan atas dasar karena Allah tidak dapat dikatakan perbuatan akhlak.38
Oleh karena itu, seseorang harus membiasakan dirinya dengan akhlak terpuji sehingga menjadi manusia yang ber- akhlakul karimah. Dengan demikian kemuliaan dan kehor- matan, harga diri manusia dibanding dengan makhluk lainnya adalah karena adnya akal, juga lantaran adanya akhlak.39
B. Ruang Lingkup Akhlak
Manusia sebagai makhluk Allah telah diberi rahmat dan nikmat, sudah barang tentu harus berbuat sesuatu sebagai imbalan dan rasa terima kasih terhadap-Nya. Bentuk terima kasih atau syukur terlalu banyak untuk diungkapkan secara
37 Abuddin Nata, 2014, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada, Cet. Ke 13, hlm. 5.
38 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, Jakarta: Raja Grafindo Persada, Cet. Ke 13, hlm.5-6.
39 Abu Muhammad Iqbal, 2015, Pemikiran Pendidikan Islam, Gagasan- Gagasan Besar Para Ilmuwan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet. I, hlm. 485.
- 33 - rinci, akan tetapi secara global dapat dikemukakan bahwa manusia harus menggunakan rahmat dan nikmat Allah itu sesuai dengan fungsi dan proporsinya. Secara praktis ada beberapa tugas dan kewajiban manusia terhadap Allah, antara lain: mentauhidkan40, takut dan cinta kepada-Nya, riḍâ terhadap qaḍâ’ dan qadar-Nya, bertaubat, bersyukur, tawakkal, berdoa, taat dan patuh terhadap-Nya, berbuat baik dan berprasangka baik kepada-Nya, percaya dan berpegang teguh kepada kitab suci-Nya dan sunnah Nabi-Nya, żikir, sabar, hayâ’
(malu) dan sebagainya. Beberapa sifat diatas merupakan wujud taqwa kepada-Nya, yakni menjalankan semua yang diperintah- kan dan meninggalkan semua yang dilarang-Nya.41
Menurut Hamzah Tualeka, dkk. ada empat (4) alasan mengapa manusia perlu berakhlak kepada Allah42, diantaranya ialah:
1) Allah yang menciptakan manusia. Sebagaimana keterangan dalam QS.At-Thariq: 5-7:
ُّصلا ِ ْينَب ْنِم ُجُرْ َي ٍقِفاَد ٍءاَم ْنِم َقِلُخ َقِلُخ نمِم ُنا َسْن ِبْل ِ ْلا ِر ُظْنَيْلَف ِبِئاَ نتْلاَو
“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan?. Dia diciptakan dari air yang dipancarkan. Yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada
40 Mentauhidkan Allah dalam tataran tasawuf adalah mengesakan Allah tanpa adanya dusta dan khianat, artinya, pernyataan: tiada Tuhan selain Allah” dinyatakan secara lisan, kemudian diyakini dalam hati sanubari, selanjutnya diamalkan dalam berbagai bentuk amalan yang sejalan dengan nilai ke-Tuhan-an (Hadziq, 2013: 101).
41 Amin Syukur, 2010, Pengantar Studi Islami, Semarang: Pustaka Rizki Putra, hlm. 136-137.
42 Hamzah Tualeka dkk, 2012, Akhlak Tasawuf, Surabaya: Sunan Ampel Press, hlm. 111.
- 34 -
perempuan”.
2) Allah yang memberi manusia berwujud perlengkapan panca indra, akal pikiran, hati sanubari dan anggota fisik yang sempurna, sebagaimana keterangan dalam QS. An-Nahl: 78:
نسلا ُ ُكَل َلَعَجَو اًئْي َش َنوُمَلْعَت َل ْ ُكِتاَهنمأأ ِنو ُطُب ْنِم ْ ُكَجَرْخ أ ُ نللَّاَو َرا َصْب ْلاَو َعْم
َنو ُرُك ْشَت ْ ُكنلَعَل َةَدِئْف ْلاَو
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.
3) Allah yang telah menyediakan berbagai sarana untuk kelangsungan keberadaan manusia, sebagaimana keterang- an dalam QS. al-Jatsiyah: 13:
ُغَتْبَتِلَو ِهِرْم أِب ِهيِف ُ ْلُِفْلا َيِرْجَتِل َرْحَبْلا ُ ُكَل َرن َسِ يِ نلَّا ُ نللَّا ِل ْضَف ْنِم او
ْ ُكنلَعَلَو
َنو ُرُك ْشَت
4) Allah yang memuliakan umat manusia dengan diberikannya berbagai potensi bisa menguasai daratan dan lautan, sebagaimana keterangan dalam QS. Al-Isra’: 70:
نطلا َنِم ْ ُهُاَنْقَز َرَو ِرْحَبْلاَو ِ َبْْلا ِف ْ ُهُاَنْلَ َحََو َمَدَ أ ِنَِب اَنْمنرَك ْدَقَلَو ِتاَب ِ ي
ًلاي ِضْفَت اَنْقَلَخ ْننمِم ٍيَِثَك َلَع ْ ُهُاَنْل نضَفَو
“Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan”.
- 35 - Bisa dipahami bahwa, Allah memudahkan bagi umat manusia sebagai keturunan Nabi Adam dalam berbagai urusan hidup untuk memperoleh penghidupan yang diinginkan.
Seseorang yang dianggap memiliki akhlak kepada Allah tentu berkeinginan kuat untuk terus berupaya menjadi seorang hamba yang patuh kepada-Nya.
Oleh karena akhlak merupakan perbuatan atau sikap yang muncul secara refleks dari seseorang, maka akhlak tersebut dapat diwujudkan ke dalam berbagai ruang lingkup, diantaranya:
1) Akhlak kepada Allah
Aktualisasi ajaran Islam, baik dalam kehidupan pribadi, kehidupan kelompok, sekaligus dalam kehidupan berbangsa dan bernegara perlu ditingkatkan secara maksimal. Salah satu dari aktualisasi tersebut adalah akhlak seorang hamba kepada Allah. Islam memberikan pedoman pelajaran kepada umatnya lewat ayat-ayat dalam al-Qur’an agar memiliki kebenaran akidah dan akhlak kepada Allah. Salah satu cara menjaga dalam meluruskan ibadah dan berakhlak kepada Allah adalah berdasar tauhîdullah sebagaimana dalam QS. al-Ikhlash : 1– 4:
( دَح أ ُ نللَّا َوُه ْلُق ( ُدَم نصلا ُ نللَّا ) 2
( َْلَوُي ْمَلَو ْ ِلَِي ْمَل ) 1 اًوُفُك ُ َلُ ْنُكَي ْمَلَو ) 3
( دَح أ 4
)
“Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.
Akhlak kepada Allah dapat dirinci sebagai berikut43:
43 Kasmuri Selamat dan Ihsan Sanusi, 2012, Akhlak Tasawuf, Jakarta:
- 36 -
Pertama, ibadah hanya kepada Allah, sesuai dengan firman Allah dalam QS. al-An’am: 162;
َلاَعْلا ِ بَر ِ ن ِللَّ ِتِاَمَمَو َياَيْحَمَو ِكِ ُسُنَو ِتِلا َص نن ا ْلُق ِ َينِم
“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”.
Artinya iman merupakan konsep dasar dari aktivitas ibadah kepada Allah, karena iman adalah pembenaran hati terhadap apa yang didengar oleh telinga. Ada orang yang menyampaikan seseuatu perlu didengar dengan cermat dan penuh kehati-hatian, lalu jika hati membenarkannya maka berarti ia termasuk kategori orang yang beriman. Implikasi beriman adalah amal saleh, didalamnya adalah ibadah kepada Allah.44
Pentingnya ibadah kepada Allah telah ditegaskan dalam QS. al-Dzariyat: 56:
ِنو ُدُبْعَيِل ل ا َسْنإلاَو ننِجْلا ُتْقَلَخ اَمَو ِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.
Kedua, mentaati perintah Allah, seperti dalam QS. Ali
‘Imran: 132):
أَو َنوُ َحَْرُت ْ ُكنلَعَل َلو ُسنرلاَو َ نللَّا اوُعيِط
“Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat”.
Perintah untuk taat kepada Allah ditegaskan dalam
Kalam Mulia, hlm.69.
44 Abu Muhammad Iqbal, 2015, Pemikiran Pendidikan Islam, Gagasan- Gagasan Besar Para Ilmuwan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet. I, hlm. 452.
- 37 - firman-Nya dalam QS. An-Nisaa : 59 :
ِطَاَو َالله ْوُعْيِطَا اْوُنَما َنْيِ نلَّا اَ ُّيَُّا يَ
ْ ُتْعَنزَت ْنِاَف ْ ُكْنِم ِرْمَلْا ِلىوُاَو َلْو ُسنرلا ْوُعْي
َ ِ لِذ ِرِخلْا ِمْوَيْلاَو ِلل ِبِ َن ْوُنِم ْؤُت ْ ُتْنُك ْنِا ِلْو ُسنرلاَو ِالله َلىِا ُهْوُّدُرَف ٍئ َش ِفِ
.ًلاْيِوْأَت ُن َسْحَاَو ْيََخ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan ulil amri di antara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya”.
Akhlak kepada Allah adalah taat dan cinta kepada-Nya, mentaati Allah berarti melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, di antaranya melaksanakan shalat wajib lima waktu.
Ketiga, ikhlas dalam semua amal, ikhlas, yaitu sikap menjauhkan diri dari riya’ (menunjuk-nunjukkan kepada orang lain) ketika mengerjakan amal baik, maka amalan seseorang dapat dikatakan jernih, bila dikerjakannya dengan ikhlas.
Menurut Imam Abdul Wahab asy-Sya’rāni ikhlās adalah membersihkan hati agar ia menuju kepada Allah semata dalam melaksanakan ibadah, hati tidak boleh menuju selain Allah.45 Sedangkan menurut Ibrahim bin Adham ikhlas adalah niat yang sungguh-sungguh untuk mencari ridla Allah. Artinya yang dikatakan ikhlas ialah apabila melakukan sesuatu usaha tidak bertujuan untuk mendapat selain dari keridlaan Allah. Konsep
45 asy-Sya’rāni, 1998, Lawāqiḥ al-Anwar al-Qudsiyah Fi Bayāni al-Uhud al- Muhamadiyah, Bairut: Dar al-Kotob al-Ilmiya, cet I, hlm. 498.