• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKHLAK DAN RUANG LINGKUPNYA

B. Ruang Lingkup Akhlak

1) Akhlak kepada Allah

Aktualisasi ajaran Islam, baik dalam kehidupan pribadi, kehidupan kelompok, sekaligus dalam kehidupan berbangsa dan bernegara perlu ditingkatkan secara maksimal. Salah satu dari aktualisasi tersebut adalah akhlak seorang hamba kepada Allah. Islam memberikan pedoman pelajaran kepada umatnya lewat ayat-ayat dalam al-Qur’an agar memiliki kebenaran akidah dan akhlak kepada Allah. Salah satu cara menjaga dalam meluruskan ibadah dan berakhlak kepada Allah adalah berdasar tauhîdullah sebagaimana dalam QS. al-Ikhlash : 1– 4:

( دَح أ ُ نللَّا َوُه ْلُق ( ُدَم نصلا ُ نللَّا ) 2

( َْلَوُي ْمَلَو ْ ِلَِي ْمَل ) 1 اًوُفُك ُ َلُ ْنُكَي ْمَلَو ) 3

( دَح أ 4

)

“Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.

Akhlak kepada Allah dapat dirinci sebagai berikut43:

43 Kasmuri Selamat dan Ihsan Sanusi, 2012, Akhlak Tasawuf, Jakarta:

- 36 -

Pertama, ibadah hanya kepada Allah, sesuai dengan firman Allah dalam QS. al-An’am: 162;

َلاَعْلا ِ بَر ِ ن ِللَّ ِتِاَمَمَو َياَيْحَمَو ِكِ ُسُنَو ِتِلا َص نن ا ْلُق ِ َينِم

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”.

Artinya iman merupakan konsep dasar dari aktivitas ibadah kepada Allah, karena iman adalah pembenaran hati terhadap apa yang didengar oleh telinga. Ada orang yang menyampaikan seseuatu perlu didengar dengan cermat dan penuh kehati-hatian, lalu jika hati membenarkannya maka berarti ia termasuk kategori orang yang beriman. Implikasi beriman adalah amal saleh, didalamnya adalah ibadah kepada Allah.44

Pentingnya ibadah kepada Allah telah ditegaskan dalam QS. al-Dzariyat: 56:

ِنو ُدُبْعَيِل ل ا َسْنإلاَو ننِجْلا ُتْقَلَخ اَمَو ِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.

Kedua, mentaati perintah Allah, seperti dalam QS. Ali

‘Imran: 132):

أَو َنوُ َحَْرُت ْ ُكنلَعَل َلو ُسنرلاَو َ نللَّا اوُعيِط

“Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat”.

Perintah untuk taat kepada Allah ditegaskan dalam

Kalam Mulia, hlm.69.

44 Abu Muhammad Iqbal, 2015, Pemikiran Pendidikan Islam, Gagasan-Gagasan Besar Para Ilmuwan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet. I, hlm. 452.

- 37 - firman-Nya dalam QS. An-Nisaa : 59 :

ِطَاَو َالله ْوُعْيِطَا اْوُنَما َنْيِ نلَّا اَ ُّيَُّا يَ

ْ ُتْعَنزَت ْنِاَف ْ ُكْنِم ِرْمَلْا ِلىوُاَو َلْو ُسنرلا ْوُعْي

َ ِ لِذ ِرِخلْا ِمْوَيْلاَو ِلل ِبِ َن ْوُنِم ْؤُت ْ ُتْنُك ْنِا ِلْو ُسنرلاَو ِالله َلىِا ُهْوُّدُرَف ٍئ َش ِفِ

.ًلاْيِوْأَت ُن َسْحَاَو ْيََخ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan ulil amri di antara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya”.

Akhlak kepada Allah adalah taat dan cinta kepada-Nya, mentaati Allah berarti melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, di antaranya melaksanakan shalat wajib lima waktu.

Ketiga, ikhlas dalam semua amal, ikhlas, yaitu sikap menjauhkan diri dari riya’ (menunjuk-nunjukkan kepada orang lain) ketika mengerjakan amal baik, maka amalan seseorang dapat dikatakan jernih, bila dikerjakannya dengan ikhlas.

Menurut Imam Abdul Wahab asy-Sya’rāni ikhlās adalah membersihkan hati agar ia menuju kepada Allah semata dalam melaksanakan ibadah, hati tidak boleh menuju selain Allah.45 Sedangkan menurut Ibrahim bin Adham ikhlas adalah niat yang sungguh-sungguh untuk mencari ridla Allah. Artinya yang dikatakan ikhlas ialah apabila melakukan sesuatu usaha tidak bertujuan untuk mendapat selain dari keridlaan Allah. Konsep

45 asy-Sya’rāni, 1998, Lawāqiḥ Anwar Qudsiyah Fi Bayāni Uhud al-Muhamadiyah, Bairut: Dar al-Kotob al-Ilmiya, cet I, hlm. 498.

- 38 -

ikhlas seperti ini adalah ikhlasnya orang yang shiddiqin dan

‘arifin. Sebagaimana firman Allah dalam QS. al-Bayyinah: 5:

نصلا اوُيمِقُيَو َءاَفَنُح َنيِ لَا ُ َلُ َين ِصِلْخُم َ نللَّا اوُدُبْعَيِل لِا اوُرِمأأ اَمَو اوُتْؤُيَو َةلا

َ ِ لَِذَو َة َكَنزلا ِةَمِ يَقْلا ُنيِد

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”.

Sehubungan dengan kajian ikhlas, dalam tafsir Imam Ibnu Katsir sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Qotadah memberikan penafsiran ayat:

ُينِعَت ْ سَن َك نيَ

ِ اَو ُدُبْعَن َك نيَ ِ ا

“hanya Mu Ya Allah aku beribadah dan hanya kepada-Mu Ya Allah aku memohon pertolongan”.

Bahwa Allah memerintahkan kepada manusia agar benar-benar mengedepankan keikhlasan dalam beribadah dan memohon pertolongan dalam menghadapi semua persoalan, seperti yang dijelaskan Imam Qotadah:

َةَداـَتـَق َلاَقَو اْوـ ُصِلْ ُتَّ ْن أ ُكُُرـُمْأَي } ُينِعَت ْ سَن َك نيَ

ِ اَو ُدُبْعن َك نيَ ِ ا { : َةَداَـبـِعلا ُهَـل

.ْ ُكُِرْم أ َلَع ُهْوُنْيِعَت ْ سَت ْن أَو

Dalam kajian ikhlas, juga dijelaskan dalam QS. az-Zumar: 2;

yaitu:

ِ قَحْل ِبِ َباَتِكْلا َكْيَل ا اَنْلزن أ نن ِ ا ِ َنيِ لَا ُ َلُ ا ًصِلْخُم َ نللَّا ِدُبْعاَف

“Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran)

- 39 - dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya”.

Keempat, tadlarru’ dan khusyu’ dalam aktivitas ibadah, sebagaimana dalam QS. al-Mu’minun: 1-2:

( َنوُنِمْؤُمْلا َحَلْف أ ْدَق ( َنوُع ِشاَخ ْمِ ِتِلا َص ِف ْ ُهُ َنيِ نلَّا ) 2

1 )

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya”.

Untuk menumbuhkan sikap tawadlu’, tadlarru’ dan khusyu’, seseorang harus menyadari asal kejadiannya, menyadari bahwa hidup di dunia ini terbatas, memahami ajaran Islam, menghindari sikap sombong, menjadi orang yang pemaaf, ikhlas, bersyukur, sabar dan sebagainya.

Kelima, berdo’a khusus kepada Allah. Berdo’a artinya meminta sesuatu kepada Sang Maha Pencipta ialah Allaha agar apa yang diupayakan atau sesuatu yang diinginkan tercapai.

Adapun syarat-syarat dikabulkan do’a seseorang adalah sebagai berikut; bersungguh-sungguh dalam memanjatkan do’a, penuh keyakinan bahwa do’a yang dipanjatkan kepada Allah diterima;

berdo’a dengan khusu’, permohonan dalam do’a tersebut masuk akal; dilakukan secara ikhlas, menjauhkan diri dari semua yang dilarang Allah.46

Keenam, berbaik sangka kepada Allah, bahwa apa saja yang datang kepada makhluk (manusia) berupa kebaikan adalah dari Allah sedangkan apa saja yang datang kepada makhluk (manusia) berupa keburukan adalah dari diri sendiri (Ihsan Sanusi, 2012: 69). Sesuai dengan firman Allah dalam

46 Kasmuri Selamat dan Ihsan Sanusi, 2012, Akhlak Tasawuf, Jakarta:

Kalam Mulia, hlm.69.

- 40 - Nisa’: 79;

َو َك ِسْفَن ْنِمَف ٍةَئِ ي َس ْنِم َكَبا َص أ اَمَو ِ نللَّا َنِمَف ٍةَن َ سَح ْنِم َكَبا َص أ اَم َكاَنْل َسْر أ

َو لو ُسَر ِساننلِل ( اًديِه َش ِ نللَّ ِبِ ىَفَك

97 )

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi”.

Ketujuh, bertawakal, yaitu menyerahkan segala urusan kepada Allah setelah berbuat semaksimal mungkin, untuk mendapatkan sesuatu yang diharapkannya. Oleh karena itu, syarat utama yang harus dipenuhi bila seseorang ingin mendapatkan sesuatu yang diharapkannya, ia harus lebih dahulu berupaya sekuat tenaga, lalu menyerahkan ketentuan-nya kepada Allah. Dengan cara yang demikian itu, manusia dapat meraih kesuksesan dalam hidupnya. Firman Allah dalam QS. Ali ‘Imran: 159, menegaskan tentang tawakkal sebagai berikut:

َينِ ِ كََّوَتُمْلا ُّبِ ُيُ َ نللَّا نن ا ِ نللَّا َلَع ْ نكََّوَتَف َتْمَزَع اَذ ِ اَف ِ

“……maka ketika kamu berazam maka twakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal”.

Perintah tawakkal kepada Allah terulang dalam bentuk tunggal Sembilan kali (9 kali) dan dalam bentuk jamak sebanyak dua kali (2 kali) dalam al-Qur’an. Semua didahului oleh perintah melakukan sesuatu. Dalam konteks tawakkal kepada Allah, manusia harus mempercayakan diri kepada-Nya dalam melaksanakan suatu pekerjaan yang telah direncanakan

- 41 - secara matang dan mantap.47 Seperti firman Allah dalam QS.

al-Anfal:61;

ْلا ُعيِم نسلا َوُه ُهنن ا ِ نللَّا َلَع ْ نكََّوَتَو اَهَل ْحَنْجاَف ِ ْلّ نسلِل اوُحَنَج ْن ِ

ِ اَو ( ُيمِلَع

12 )

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah.

Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Kedelapan, bersyukur, yaitu suatu sikap yang selalu ingin memanfaatkan dengan sebaik-baiknya, nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT., baik yang bersifat fisik maupun non fisik. Lalu disertai dengan peningkatan pendekatan diri kepada yang memberi nikmat, yaitu Allah SWT. Bersyukur kepada Allah yaitu menyadari bahwa segala ni’mat yang ada merupakan karunia dan anugerah dari Allah semata. Sehingga kalau manusia mendapatkan berbagai ni’mat pergunakanlah sesuai yang diperintahkan Allah.

Syukur dapat dikatagorikan dalam tiga bentuk: pertma, syukur dengan hati, yaitu manusia harus menyadarai dengan kesadaran mendalam bahwa seluruh nikmat datangnya dari Allah, seraya memuji kebesaran Allah dengan hatinya. Kedua, syukur dengan lisan, yaitu dengan cara banyak mengucapkan tasbih dan tahmid. Ketiga, syukur dengan anggota badan, yaitu cara beramal shaleh.48 Seperti firman Allah dalam QS.an-Nahl:

53;

47 Kasmuri Selamat dan Ihsan Sanusi, 2012, Akhlak Tasawuf, Jakarta:

Kalam Mulia, hlm. 68.

48 Kasmuri Selamat dan Ihsan Sanusi, 2012, Akhlak Tasawuf, Jakarta:

Kalam Mulia, hlm. 70.

- 42 -

( َنوُر أْ َتَ ِهْيَل اَف ُّ ُّضُّلا ُ ُك نسَم اَذ ِ ا ن ُثُ ِ نللَّا َنِمَف ٍةَمْعِن ْنِم ْ ُكِب اَمَو ِ 33

)

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan”.

Dalam QS. Ibrahim: 7, Allah menjanjikan bagi orang-orang yang bersyukur akan memperoleh tambahan kenikmatan dan bagi orang yang tidak bersyukur (kufur) akan mendapatkan siksa yang pedih, sebagaiamana firman Allah;

َع نن ا ْ ُتُ ْرَفَك ْ ِئَلَو ْ ُكننَديِزأل ْ ُتُ ْرَك َش ْ ِئَل ْ ُكُّبَر َننذ أَت ْذ ِ

ِ اَو ديِد َشَل ِباَذ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan;

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Kesembilan, bertaubat serta istighfar bila berbuat kesalahan, bertaubat (at-Taubah), yaitu suatu sikap yang menyesali perbuatan buruk yang pernah dilakukannya dan berusaha menjauhinya, serta melakukan perbuatan baik.

Sebagaimana diterangkan dalam QS. an-Nūr: 31;

َُّيُّ أ اًعيِ َجَ ِ نللَّا َلى ا اوُبوُتَو ِ َنوُحِلْفُت ْ ُكنلَعَل َنوُنِمْؤُمْلا ا

“Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”.

Dalam ayat lain juga disebutkan seperti dalam QS. al-Baqarah: 222;

ُّبِ ُيَُو َينِبانونتلا ُّبِ ُيُ َ نللَّا نن ا ِ َنيِرِ ه َطَتُمْلا

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri”.

- 43 - Terkait akhlak kepada Allah terdapat sebuah hadits sabda Rasulullah saw. yang artinya sebagai berikut: “Demi Allah, sesungguhnya aku meminta ampun pada Allah dan bertaubat pada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. al-Bukhārī dan lainya).

Terdapat pula dalam firman Allah QS. al-Tahrim: 8:

ُّبَر َسََع اًحو ُصَن ًةَبْوَت ِ نللَّا َلى ا اوُبوُت اوُنَم أ َنيِ نلَّا اَ ُّيُّ أ َيَ ِ أ ْ ُك

ْ ُكْنَع َرِ فَكُي ْن

ِزْ ُي ل َمْوَي ُراَ ْنَألا اَ ِتِْ َتَ ْنِم يِرْ َتَ ٍتاننَج ْ ُكَلِخ ْدُيَو ْ ُكِتاَئِ ي َس ن ِبننلا ُ نللَّا ي

َنوُلوُقَي ْمِ ِنَاَمْي أِبَو ْمِيُِّدْي أ َ ْينَب ىَع ْسَي ْ ُهُ ُروُن ُهَعَم اوُنَم أ َنيِ نلَّاَو َنَل ْمِمْت أ اَننبَر

ا

ريِدَق ٍء ْ َشَ ِ ُكَّ َلَع َكنن ا اَنَل ْرِفْغاَو َن َروُن ِ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).

Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan:

"Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Kesepuluh, bersabar (ash-Shabru), yaitu suatu sikap yang betah atau dapat menahan diri pada kesulitan yang dihadapinya. Tetapi bukan berarti bahwa sabar itu langsung menyerah tanpa upaya untuk melepaskan diri dari kesulitan yang dihadapi oleh manusia. Maka sabar yang dimaksudkannya adalah sikap yang diawali dengan ikhtisar, lalu diakhiri dengan ridha dan ikhlas, bila seseorang dilanda suatu cobaan dari

- 44 -

Tuhan. Didasarkan pada QS. Ghafir ayat 55 yang berbunyi:

ِبِ َكِ بَر ِدْمَ ِبِ ْحِ ب َ سَو َكِبْنَ ِلَّ ْرِفْغَت ْ ساَو ٌّقَح ِ نللَّا َدْعَو نن ا ْ ِبْ ْصاَف ِ ِر َكَْبإلاَو ِ ِيَّعْل

“Maka bersabarlah engkau, karena sesungguhnya janji Allah itu benar dan mohonlah ampun atas semua dosa-dosamu, bertasbihlah kepada Tuhanmu di sore dan pagi hari”.

Dalam QS. al-A’raf: 128, Allah juga memerintahkan untuk bersabar.

ا ِهِمْوَقِل َسَوُم َلاَق ِروُي ِ ن ِللَّ َضْرألا نن ا اوُ ِبْ ْصاَو ِ نللَّ ِبِ اوُنيِعَت ْ س ِ

ُءا َشَي ْنَم اَ ُثُه

ينِقنتُمْلِل ُةَبِقاَعْلاَو ِهِداَبِع ْنِم

“Berkatalah Nabi Musa terhadap Kaumnya mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah sesungguhnya bumi itu milik Allah mewariskannya terhadap orang yang Allah kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan akibat dari orang-orang yang bertaqwa”.

Dalam ayat lain Allah berfirman dalam QS. al-Baqarah:

177: memuji orang-orang yang berlaku sabar:

نصلاَو َص َنيِ نلَّا َكِئَلوأأ ِسْأَبْلا َينِحَو ِءان نضُّلاَو ِءا َسْأَبْلا ِف َنيِرِبا ُ ُهُ َكِئَلوأأَو اوُقَد

َنوُقنتُمْلا

“Dan orang-orang yang bersabar dalam kesempitan, penderitaan, dan peperangan, mereka itulah orang-orang yang tulus dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa).