• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hadits riwayat Imam Bukhari, Muslim, dan Tirmizdi;

AKHLAK DAN RUANG LINGKUPNYA

A. Pengertian Akhlak

5) Hadits riwayat Imam Bukhari, Muslim, dan Tirmizdi;

ْنَع

Rasulullah Saw. itu orang yang keji dan tidak pula orang yang berkata keji. Dan beliau bersabda: Sesungguhnya yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya”.

Luis Ma’luf (1986: 194), Abuddin Nata18 dan Sofyan Sauri (2008: 136) menyatakan bahwa akhlak adalah bentuk jama’

dari khuluq, yang bermakna as-sajiyah (perangai), at-tabi’ah (kelakuan, tabi’at, watak dasar), al-‘âdat (kebiasaan,

18 Abudin Nata, 2014, Akhlaq Tasawuf dan Karakter Mulia, Jakarta: Raja Grafindo Persada, hlm. 1.

- 25 - ziman), al-muru’ah (peradaban yang baik) dan ad-dîn (agama).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007: 20) akhlak bermakna budi pekerti. Sedangkan Abd. Hamid Yunus menyatakan bahwa “Akhlak ialah segala sifat manusia yang terdidik”.

Memahami ungkapan tersebut bisa dipahami bahwa sifat atau potensi yang dibawa setiap manusia itu sejak kelahirannya: artinya, potensi tersebut sangat bergantung dari cara pembinaan dan pembentukannya. Apabila pengaruhnya positif, outputnya adalah akhlak mulia; sebaliknya, apabila pembinaan dan pembentukannya dengan hal-hal yang negatif, yang terbentuk adalah akhlak tercela (mażmumah).19

Adapun pengertian akhlak secara istilah dapat merujuk kepada berbagai pendapat para ahli antara lain:

1) Ibnu Maskawaih20, sebagaimana Abuddin Nata (2013: 3) diterangkan:

ٍةنيِوَر َلَو ٍرْكِف ِ ْيََغ ْنِم اَهِلاَعْف أ َلى ا اَهَل ةَيِعاَد ِسْفننلِل لاَح ِ

“Sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerluka pemikiran dan pertimbangan”.21

Imam Ghazali22 mengatakan bahwa akhlak adalah:

19Zubaedi, “Urgensi Pendidikan Karakter di Tengah-Tengah Kemerosotan Moralitas Bangsa”, dalam Jurnal Nuansa, Bengkulu: Program Pascasarjana STAIN Bengkulu, Nomor 2, Desember 2011, Volume 4, hlm. 224.

20 Ibnu Miskawaih adalah tokoh bidang akhlak terkemuka (w. 421 H/1030 M).

21 Muhammad Yusuf Musa, 1963, Falsafah al-Akhlaq Fi-al-Islam Wa-Silatuha Bi-al-Falsafah al-Igririyyah, Kairo, Muassasah al-Khanji, hlm. 81.

22 Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ta’us Aṭ-Ṭûsi Asy-Syafi’i Al-Ghazali dan mendapat gelar

“Hujjah Al-Islam”, lahir th 450 H/1058 M dan Wafat th 505 H/1111 M pada usia 54 th. (Anwar, 2009: 129-130).

- 26 -

َْنَْع ةَ ِسِاَر ِسْفننلا ِفِ ٍةَئْيَه ْنَع ةَراَبِع ُقُلُخْلاَف ٍ ْسُْيَو ٍ َلَ ْوُه ُسِب ُلاَعْف ْلا ُرُد ْصَت ا

ٍةنيِو َرَو ٍرْكِف َلى ا ٍةَجاَح ِ ْيََغ ْنٍم ِ

“Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia) yang melahirkan bermacam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan”.23

2) Al-Qurthubi mengartikan akhlak adalah :

ُْيَ ِصَي ُهنن ِل ,ًاقُلُخ ىنم َسُي ِبَد ْلا َنِم ُه ُسْفَن ُنا َسْن ِ ْلا ِهِب ُذُخْأَي َوُه اَم ِةَقْلِخْلا َنِم

ِهْيِف

“Perbuatan yang bersumber dari diri manusia yang selalu dilakukan, maka itulah yang disebut akhlaq, karena perbuatan tersebut bersumber dari kejadiannya”.24

3) Muhammad bin ‘Ilan ash-Shadiqi mengartikan akhlak adalah:

ُرِدَتْقَي ِسْفننل ِبِ ةَكَلَم َوُه ُقُلُخْلَا َِلْيِمَجْلا ِلاَعْف ْلا ِرْوُد ُص َلَع اَ ِب

ٍَلَ ْوُه ُسِب

“Akhlak adalah suatu pembawaan dalam diri manusia, yang dapat menimbulkan perbuatan baik, dengan mudah”.25

4) Abu Bakar Jabir al-Jaziri mengatakan akhlak adalah :

ْخ ِ ْلا ُةنيِداَر ِ ْلا ُلاَعْف ْلا اَ ْنَْع ُرُد ْصَت ِسْفننلا ِفِ ةَ ِسِاَر ةَئْيَه ُقُلُخْلَا ْنِم ُةنيِراَيِت

23 al-Ghazali, t.t., Ihya’ ‘Ulumi al-Din, Juz III, Bairut, Dar al-Fikr, hlm. 52

24al-Qurtubi, 1913 M, Tafsir al-Qurtubi, Juz VIII, Kairo, Dar al-Sya’bi, hlm.

6706.

25 Muhammad bin ‘Ilan al-Sadiqi, 1391 H//1971, Dalil al-Falihin, Juz III, Mesir: Mustafa al-Babi al-Halabi, hlm. 76.

- 27 -

َو ٍ َلْيِ َجََو ٍةَئِ ي َسَو ٍةَن َ سَح ٍةَحْيِبَق

“Akhlak adalah bentuk kejiwaan yang tertanam dalam diri manusia, yang dapat menimbulkan perbuatan baik dan buruk, terpuji dan tercela”.26

5) Sejalan dengan pendapat tersebut diatas, dalam Mu’jam al-Wasiṭ, oleh Ibrahim Anis dalam Abuddin Nata (2014: 3) juga mengatakan bahwa akhlak adalah:

َلى

ِ ا ٍة َجاَح ِ ْيََغ ْنِم ٍ َشَ ْوَا ٍ ْيََخ ْنِم ُلاَ ْعَ ْلا اَ ْنَْع ُرُد ْصَت ةَ ِسِاَر ِسْفننلل لاَح ٍةَيْؤ ُرَو ٍرْك ِف

“Sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan”.27

6) Ahmad Amin mengatakan akhlak ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya bahwa kehendak itu bila membiasakan sesuatu, maka kebiasaan itu dinamakan akhlak.

7) Sedangkan dalam Ensiklopedi Britanica, akhlak yang disebut sebagai ilmu akhlak mempunyai arti sebagai studi yang sistematik tentang tabiat dari pengertian nilai baik, buruk, seharusnya benar, salah dan sebagainya tentang prinsip umum dan dapat diterapkan terhadap sesuatu, selanjutnya dapat disebut juga sebagai filsafat moral.28

Konsepsi ajaran akhlak menurut Islam adalah menuju perbuatan amal saleh, yaitu semua perbuatan baik dan terpuji,

26 Abu Bakar Jabir al-Jaziri, 1396/1976, Minhaj al-Muslim, Madinah, Dar

‘Umar bin Khattab, hlm.154.

27 Ibrahim Anis, 1972, Al-Mu’jam al-Wasith, Mesir: Dar al-Ma’arif, hlm, 202.

28 Bertens, K, 2000, Etika, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, hlm. 76.

- 28 -

berfaedah dan indah untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat yang diridai oleh Allah, sedangkan amal saleh itu sendiri adalah inti ajaran Islam yang harus diterapkan untuk melatar belakangi konsepsi akhlak yang hendak dilakukan oleh manusia.29

Dari berbagai definisi di batas, dapat diketahui bahwa perbuatan yang dikatagorikan sebagai akhlak yang baik (al-akhlaq al-mahmudah) itu haruslah memenuhi kriteria pengulangan (kontinuitas) sehingga seseorang yang hanya melakukan kebaikan sekali waktu saja tidak lantas dikatakan berakhlak baik. Selain itu, akhlak yang baik harus dilakukan tanpa ada paksaan. Apabila perbuatan tersebut dilakukan dengan terpaksa bukanlah pencerminan dari akhlak.30

Kesadaran akhlak pasti ada pada setiap manusia, meski-pun kesadaran ini sangat ditentukan oleh beberapa faktor, seperti: umur, pendidikan, kesadaran beragama, pengalaman, peradaban dan lingkungan. Kesadaran akhlak itu bersumber dari hati nurani (al-qalb). Manusia mengerjakan yang baik atas perintah-Nya, dan meninggalkan yang buruk atas kontrol dan larangan-Nya. Perintah dan larangan bersifat mutlak dan wajib (imperatif kategoris), yang berbeda dengan perintah-perintah lainnya yang “mengandung syarat” (imperative hipotesis).31

Kajian ini membedakan antara akhlak dengan ilmu akhlak. Pembahasan tentang akhlak sebagaimana diatas.

Sedangkan pembahasan ilmu akhlak antara lain:

Ilmu akhlak menurut Ahmad Amin32 sebagaimana yang

29 Rasihon Anwar, 2009, Akhlak Tasawuf, Bandung: Pustaka Setia, hlm.116.

30 Jamil, 2013, Akhlak Tasawuf, Jakarta: Referensi, hlm. 3.

31 Amin Syukur, 2010, Pengantar Studi Islami, Semarang: Pustaka Rizki Putra, hlm. 127.

32 Ahmad Amin, 1983, Ilmu Akhlak, Terjemah oleh Farid Ma’ruf, Jakarta:

Bulan Bintang, hlm. 2.

- 29 - dikutip Mahjuddin (2010: 3) adalah suatu ilmu yang membahas perbuatan manusia yang dapat dinilai baik atau buruk.

Menurut Mansur Ali Rajab (1961: 19) dalam Mahjuddin adalah ilmu tentang nilai-nilai yang baik (mahmudah), lalu mengetahui cara-cara mengikutinya, agar manusia (dapat menggunakannya) untuk berbuat baik. Dan ilmu tentang nilai-nilai yang buruk (maż mumah), lalu (mengetahui) cara-cara menjauhinya untuk membersihkan diri dari padanya.33

Sedang menurut Thaha Mahmud (1932: 6):

ِقَلاْخَلاُ ْلّ ِع ا اَنَل ْيَِنُيَو ِساننلا ِكْوُل ُس ِفِ ُثَحْبـَي ْيِ َلَّا ُ ْلِّعلا َوُه

َلْيـِب َسل

َتلاَو َاـمِـهِـلَو أِب ِك ُّسَمَتلا َلىِا وُعْدَيَو ِ َشِلاَوِ ْيََلخا َ ْينَب ِقـْيِرْفنتلِل َاـمِهـِـن ََ ْنَع ِلَخ

َا ِىغَبْنَي ِتنلَا ِلْثِلما َةـَياَغلا ُ ِ ينـَبـُيَو ِ دَ ُيَُو َاهـْيـَلِا َدْو ُصـْقـَن ْن

ِفِ ِتاَقَلاَعلا ُد

َهِ دَ ِبِ اًع ِضاَو ِسْفننلا ِفِ ُقُلْ َيَو ًاضـْعـَب ْمُهـ َضـْعَـب ِساننلا ِةـَلَماَعُم ِعاَبِ تِا َلَع ا

. ِلـِئاـ َضـَفلْا

“ilmu akhlak adalah ilmu yang membahas tentang tingkah laku manusia, yang menerangi jalan bagi manusia untuk membedakan antara kebaikan dan keburukan serta mengajak manusia untuk berpegang pada yang pertama dan melepaskan diri dari yang kedua, menjelaskan tentang tujuan dan pandangan hidup yang hendak dituju oleh manusia, memberikan batasan-batasan tentang komunikasi dalam pergaulan antara sesama manusia, dan menciptakan pada jiwa manusia suatu kecenderungan untuk memiliki keutamaan-keutamaan”.

33 Mahjuddin, 2010, Akhlaq Tasawuf, Jakarta: Kalam Mulia, hlm. 3.

- 30 -

Menurut Abuddin Nata sebagaimana Jamil34 ada 5 ciri yang terkandung dari sebuah pengertian akhlak yaitu:

1) Akhlak merupakan perbuatan yang tertanam di dalam jiwa seseorang secara kuat sehingga menjadi bagian dari pribadinya. Sebagaiamana diilustrasikan dalam buku Abuddin Nata bahwa jika seseorang mengatakan bahwa si Fulan sebagai orang yang berakhlak sakha’ (dermawan, Jawa: loman), maka sikap dermawan tersebut telah melekat pada dirinya, kapan dan di manapun sikap dermawan tersebut dibawanya, sehingga menjadi identitas yang membedakan antara dirinya dengan orang lain. Dan jika si Fulan tersebut kadang-kadang sakha’

(dermawan, Jawa: loman) dan kadang-kadang bakhil, maka si Fulan tersebut belum bisa dikatakan sebagai orang yang dermawan. Demikian pula jika seseorang dikatakan bahwa ia termasuk orang yang taat beribadah, maka sikap taat beribadah tersebut telah dilakukannya di manapun ia berada.35 2) Akhlak tersebut dilakukan secara mudah tanpa memerlukan pemikiran. Ini tidak berarti bahwa pada saat melakukan sesuatu perbuatan, yang bersangkutan dalam keadaan tidak sadar, hilang ingatan, tidur atau gila. Pada saat yang bersangkutan melakukan suatu perbuatan ia tetap sehat akal pikirannya dan sadar. Oleh karena itu, perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dalam keadaan tidur, hilang ingatan, mabuk, atau perbuatan refleks seperti berkedip, tertawa dan sebagainya bukanlah perbuatan akhlak. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang yang sehat akal pikirannya. Namun, karena perbuatan tersebut sudah mendarah daging, sebagaimana disebutkan pada sifat yang pertama, maka pada saat akan mengerjakannya sudah tidak

34 Jamil, 2013, Akhlak Tasawuf, Jakarta: Referensi, hlm. 4.

35 Abuddin Nata, 2014, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, Jakarta: PT.

Raja Grafindo Persada, Cet. Ke 13, hlm. 4.

- 31 - lagi memerlukan pertimbangan atau pemikiran lagi. Hal yang demikian tak ubahnya dengan seseorang yang sudah mendarah daging mengerjakan salat lima waktu, maka pada saat datang panggilan salat ia sudah tidak merasa berat lagi mengerjakan-nya, dan tanpa pikir-pikir lagi ia sudah dengan mudah dan ringan dapat mengerjakannya.

3) Akhlak dilakukan tanpa paksaan atau tekanan dari luar diri seseorang. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan atas dasar kemauan, pilihan dan keputusan yang bersangkutan. Oleh karena itu, tidak ada seseorang yang melakukan suatu perbuatan, tetapi perbuatan tersebut dilakukan karena paksaan, tekanan atau ancaman dariluar, maka perbuatan tersebut tidak termasuk dalam akhlak dari orang yang melakukannya. Dalam hubungan ini, Ahmad Amin mengatakan;

Bahwa ilmu akhlak adalah ilmu yang membahas tentang perbuatan manusia yang dapat dinilai baik atau buruk.

Tetapi tidak semua amal yang baik atau buruk itu dapat dikatakan perbuatan akhlak. Banyak perbuatan yang tidakdapat disebut perbuatan akhlak, dan tidak dapat dikatakan baik atau buruk. Perbuatan manusia yang dilakukan tidak atas dasar kemauannya atau pilihannya seperti bernafas, berkedip, berbolak baliknya hati, dan kaget ketika tiba-tiba terang setelah sebelumnya gelap, tidaklah disebut akhlak, karena perbuatan tersebut yang dilakukan tanpa pilihan.36

4) Akhlak tersebut dilakukan dengan sungguh-sungguh, bukan main-main atau karena bersandiwara. Menurut Nata Jika kita menyaksikan orang berbuat kejam, sadis, jahat dan

36 Ahmad Amin, t.t., Kitab al-Akhlak, Mesir: Dar al-Kutub al-Mishriyah, cet.

III, hlm. 2-3, dalam Nata (2013: 5).

- 32 -

seterusnya, tapi perbuatan tersebut terlihat dalam pertunjukan film, maka perbuatan demikian tidak dapat disebut perbuatan akhlak, karena perbuatan yang demikian bukan perbuatan yang sebenarnya. Terkait dengan ini, maka sebaiknya seseorang tidak cepat-cepat menilai orang lain sebagai berakhlak baik atau berakhlak buruk, sebelum diketahui dengan sesungguhnya bahwa perbuatan tersebut memang dilakukan dengan sebenarnya. Hal ini perlu dicatat, karena manusia termasuk makhluk yang pandai bersandiwara, atau berpura-pura. Untuk mengetahui perbuatan yang sesungguhnya dapat dilakukan melalui cara yang kontinyu dan terus-menerus.37

5) Akhlak juga dilakukan karena ikhlas, semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT. dan bukan pujian manusia.

Seseorang yang melakukan perbuatan bukan atas dasar karena Allah tidak dapat dikatakan perbuatan akhlak.38

Oleh karena itu, seseorang harus membiasakan dirinya dengan akhlak terpuji sehingga menjadi manusia yang ber-akhlakul karimah. Dengan demikian kemuliaan dan kehor-matan, harga diri manusia dibanding dengan makhluk lainnya adalah karena adnya akal, juga lantaran adanya akhlak.39