• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS PSIKOLOGI DAN SOSIAL BUDAYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "FAKULTAS PSIKOLOGI DAN SOSIAL BUDAYA"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Program Studi Psikologi

Fakuitas Psikologi dan llmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia Untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat-syarat

Guna Memperoleh Derajat S1 Psikologi

Oleh:

Putri Rahma Novia 02 320 077

PROGAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI DAN SOSIAL BUDAYA UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

2007

(2)

Universitas Islam Indonesia Untuk Memenuhi

Sebagian Dari Syarat-syarat Guna Memperoleh Derajat Sarjana S-1 Psikologi

Pada Tanggal

Mengesahkan, Program Studi Psikologi

Fakuitas Psikologi dan llmu Sosial Budaya

Universitas Islam Indonesia Jtua Program Studi

Dewan Penguji

1. Irwan Nuryana Kurniawan, S.Psi.,M.Si

2. Yapsir Gandi Wirawan, Dr.,MA

3. Hj. Ratna Syifa'a R, S.Psi.,M.Si

j#n9an

(3)

dalam membuat laporan penelitian, tidak melanggar etika akademik seperti penjiplakan, pemalsuan data dan manipulasi data. Jika pada saat ujian skripsi saya terbukti melanggar etika akademik, maka saya sanggup menerima sanksii dari dewan penguji. Apabila di kemudian hari saya terbukti melanggar etika akademik, maka saya sanggup menerima konsekwensi berupa pencabutan gelar

kesarjanaan yang telah saya peroleh.

Yang menyatakan,

Putri Rahma Novia

i n

(4)

Segata <Puji 6agiAflahSWT, atas rahmat-Nya karya sederhana ini

ddpat tersetesai^an

Terima %asiH untuk^segata cinta, perhatian, doa dan duhjingan

dari orang-orang yang terdefat diRati:

<Bapakdan I6u

Atas segata doa dan pengor6anan yang telah diSeri^an tah£an terhatas oteh apapun

Kakakku

Atas segata duhjingan, perhatian semangat dan doanya

%eponakanku

Atas kgceriaan dan candd tawanya

IV

(5)

V5 U^ %Ij5j2 j&ij oiUVT oj ^ ow3i ©

"Karena itu janganlah merasa lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati. Padahal kamulah yang akan menang dan lebih unggul karena kamu

beriman "

(QS. AM Imron 3)

"Saat manusia menghadap Tuhan semesta alam untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya "

(QS : Al Muthaffifin : 6)

(6)

petunjuk dan pertolongan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Keberhasilan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini semata-mata adalah rahmat Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Penulis menyadari bahwa telah banyak pihak yang memberikan bantuan berupa dorongan, arahan, dan data yang diperlukan mulai dari persiapan, tempat dan pelaksanaan penelitian hingga tersusunnya skripsi ini. Untuk itu penulis

mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Fuad NashoriS.Psi, M.Si, selaku Dekan Fakuitas Psikologi dan llmu

Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia.

2. Bapak Irwan Nuryana Kumiawan, S.Psi., Msi., selaku Dosen Utama yang telah meluangkan waktu untuk membimbing dan memberi dukungan dalam

menyelesaikan skripsi.

3. Bapak Sony Andrianto, S.Psi., Msi., selaku Dosen Akademik yang telah

mendampingi penulis dalam menimba ilmu pengetahuan.

4. Ibu Qurotul Uyun. S.Psi, M.Si, selaku Ketua Program Studi Psikologi dan

Sosial Budaya.

5. Segenap Dosen Fakuitas Psikologi Universitas Islam Indonesia yang telah

membagikan ilmunya kepada penulis sehingga menambah wawasan

penulis..

6. Biro skripsi, segenap karyawan perpustakaan, pengajaran, dan mas-mas di parkiran Psikologi UN atas bantuannya dalam menjalankan aktivitas kampus.

VI

(7)

semangat untuk penulis agar segera menyelesaikan skripsi.

9. Bu Dian selaku kepala yayasan Cahaya Ananda, pusat terapi anak Autis dan Anak Dengan Kebutuhan Khusus, terima kasih telah memberi saya

kesempatan untuk melakukan penelitian. Semoga ikatan silaturahmi kita tidak

terputus.

10. Seluruh terapis Cahaya Ananda, yang telah banyak membantu saya demi kelancaran penelitian dan memberi saya dukungan dalam menyelesaikan

penelitian selama berada di Cahaya Ananda.

11. Bapak dan Ibu sebagai orangtua yang memiliki Anak Dengan Kebutuhan Khusus di Pusat Terapi Cahaya Ananda. Terima kasih atas waktu dan kesediaannya untuk membantu saya dalam melakukan penelitian.

12. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang secara langsung

maupun tidak langsung telah memberi bantuan kepada penulis dalam

penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini belum bisa dikatakan sempurna untuk itu penulis mohon maaf sebesar-besarnya. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang berkenaan menelaahnya.

Amiin Yaa Robbal' Alamin.

Yogyakarta, Juni 2007

Penulis

v n

(8)

Hal.

HALAMAN JUDUL j

HALAMAN PENGESAHAN jj

HALAMAN PERNYATAAN jjj

HALAMAN PERSEMBAHAN jv

HALAMAN MOTTO v

PRAKATA vj

DAFTAR ISI vjjj

DAFTAR GAMBAR x

DAFTAR LAMPIRAN xi

INTISARI xjj

BAB I. PENGANTAR 1

A. Latar Belakang Permasalahan 1

B. Tujuan Penelitian 4

C. Manfaat Penelitian 5

D. Keaslian Penelitian 5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 8

A. Autisme 8

1. Pengertian Autisme 8

2. Faktor-faktor Penyebab Anak Autis 9

3. Aspek-aspek Anak Autis n

B. Penerimaan Orangtua 17

v m

(9)

C. Pertanyaan Penelitian 23

BAB III METODE PENELITIAN 24

A. Fokus Penelitian 24

B. Subjek Penelitian 24

C. Metode Pengumpulan Data 24

D. Metode Analisis Data 27

BAB IVPELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN 29

A. Orientasi Kancah dan Persiapan 29

1. Orientasi Kancah Penelitian 29

2. Persiapan Penelitian 29

B. Laporan Pelaksanaan Penelitian 31

C. Hasil Penelitian 35

1. Deskripsi Identitas Subjek 35

a. Subjek wawancara 1 35

b. Subjek wawancara 2 36

2. Deskripsi Hasil Penelitian 38

D. Pembahasan 45

BABV PENUTUP 57

A. Kesimpulan 57

B. Saran 57

Daftar Pustaka

IX

(10)

Gambar 2. Penerimaan Orang Tua pada Anak Autis Subjek BD 55

Gambar 3. Penerimaan Orang Tua pada Anak Autis Subjek BE dan BD ... 56

(11)

Lampiran 2. Lembar Pemberian Ijin Penelitian 60

Lampiran 3. Lembar Pernyataan Subyek BE 61

Lampiran 4. Lembar Pernyataan Subyek BD 62

Lampiran 5. Lembar Interview Guide 63

Lampiran 6. Transkrip Verbatim Subjek BE i

Lampiran 7. Transkrip Verbatim Subjek BD xiv

XI

(12)

Irwan Nuryana Kurniawan

INTISARI

Penelitian yang ditulis mempunyai tujuan untuk mengetahui sejauh mana penerimaan orangtua pada anaknya yang merupakan anak dengan kebutuhan khusus. Penelitian ini juga diharapkan untuk menambah pengetahuan tentang anak dengan kebutuhan khusus dan penerimaan orangtua yang anaknya

merupakan anak dengan kebutuhan khusus.

Subyek dalam penelitian ini yaitu orangtua yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus, menyekolahkan anaknya pada yayasan atau sekolah untuk anak dengan kebutuhan khusus Cahaya Ananda.

Penelitian yang dipakai yaitu metode penelitian kualitatif. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode wawancara langsung dengan subyek yang merupakan dua orang ibu yang mempunyai anak Autis. Dari penelitian tersebut terdapat adanya variasi penerimaan di antara orangtua disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu faktor yang menimbulkan variasi penerimaan orang tua di antaranya yaitu perkembangan anak. Orangtua yang banyak mengalami kesulitan dalam mengasuh anaknya, sering merasa putus asa. Orangtua merasa putus asa karena anak tidak menunjukkan kemajuan seperti yang diharapkan orangtua. Orangtua yang lain dapat menerima anaknya yang merupakan anak dengan kebutuhan khusus walaupun awalnya juga mengalami kesulitan yang sama seperti orangtua lain yang mempunyai anak dengan kebutuhan khusus, karena anak menunjukkan kemajuan yang baik, kemajuan yang sesuai dengan harapan orangtua maka orangtua akan lebih menerima anaknya yang

merupakan anak dengan kebutuhan khusus.

Kata kunci: Penerimaan, Anak Autis

x n

(13)

A. Latar Belakang Masalah

Tumbuh kembang yang normal pada anak adalah harapan bagi setiap orangtua. Orangtua selalu berharap anak yang dilahirkan adalah anak yang sehat dan normal. Tapi kadang Tuhan berkehendak lain. Salah satu cobaan bagi

orangtua yaitu memiliki anak Autis (Haniman, 2001)

Setiap orangtua mengharapkan anak-anak mereka tumbuh dewasa tanpa menghadapi masalah-masalah yang berarti. Mereka berharap anak-anak mereka tumbuh normal dan kelak berhasil dalam pendidikan dan kehidupan serta dapat menjadi kebanggaan keluarga. Persoalan dapat saja muncul dalam sebuah

keluarga yang memiliki anak Autis.

Walaupun berbeda dengan anak yang normal, anak Autis tetap mempunyai hak-hak dasar sebagaimana anak normal. Anak Autis perlu bermain, belajar dan bersosialisasi dalam komunitas di lingkungannya. Anak Autis memerlukan pengawasan dan perhatian yang lebih besar dari orangtuanya dibanding dengan anak normal lainnya (Hastuti &Zamralita, 2004)

Sampai sekarang anak Autis semakin banyak. Disebutkan bahwa angka kejadian gangguan perkembangan Autis meningkat beberapa tahun terakhir ini.

Di Indonesia kesan peningkatan juga terlihat di ruang day care Psikiatri Anak RSUD Dr. Soetomo. Jumlah pasien yang datang dengan gangguan perkembangan Autis ini jelas bertambah. Tahun-tahun sebelumnya tiap tahun hanya sekitar dua sampai tiga orang anak, pada tahun 2000 jumlahnya meningkat dengan tajam sampai kurang lebih 20 anak, demikian juga pada

1

(14)

Langkah pertama yang sebaiknya dilakukan orangtua yaitu memastikan diagnosis dari dokter yang berkompeten. Komunikasi dengan dokter dan ahli harus selalu dibina. Karena dalam menerima dan menangani anak Autis diperlukan kerja sama antara orangtua dan dokter serta psikolog. Orangtua diharapkan terbuka dengan kondisi anak dan bersedia mengikuti aneka suplemen dan terapi yang disarankan untuk kemajuan anak Autis. Orangtua yang mempunyai anak Autis sebaiknya memperkaya pengetahuan tentang anak Autis. Baik melalui internet, buku, vidio, surat kabar, artikel dan juga bisa langsung datang ke pusat terapi untuk anak Autis (Danuatmaja, 2003).

Orangtua yang memiliki anak Autis diharapkan melangkah setahap demi setahap untuk kemajuan anaknya. Karena anak Autis membutukan waktu yang relatif lebih lama dibandingkan dengan anak normal untuk berkembang.

Orangtua juga diharapkan untuk mengamati anak dengan seksama dan mencatat apa saja yang telah berhasil dilakukan oleh anaknya setiap hari.

Sebagai orangtua jangan berpikir terlalu jauh tentang kemajuan anaknya di masa yang akan datang. Cukup dengan mendidik dan membantu perkembangan dan kemajuan anak semaksimal mungkin. Ini dilakukan agar orangtua fokus dalam melakukan usaha demi kemajuan anaknya yang termasuk anak Autis (Safaria,

2005).

Seringkali orangtua tidak terlalu memahami mengenai anak Autis

sehingga mereka merasa bimbang terhadap kondisi anaknya dan mengalami

konflik dalam diri orangtua itu sendiri. Konflik tersebut terkait dengan keinginan

(15)

Perjuangan orangtua sangat diperlukan. Karena perjuangan orangtua bagi anaknya adalah suatu panggilan hidup dan suatu keharusan. Masih banyak kemungkinan yang tidak bisa diduga oleh orangtua yang anaknya merupakan anak Autis. Misalnya anak Autis memiliki keunikan tersendiri. Anak Autis tetaplah anak yang membutuhkan kasih sayang, perhatian dan cinta dari orangtua, saudara dan orang lain disekitarnya. Karena anak Autis juga anugerah dan kepercayaan yang diberikan oleh Tuhan untuk dibesarkan, dididik dan dilatih.

Orangtua seharusnya dan sepatutnya merasa sangat bangga telah diberikan kepercayaan oleh Tuhan (Faridah, 2001)

Realitas-realitas yang sering terjadi pada orangtua yang anaknya merupakan anak Autis sangat kompleks. Sebagian orangtua mengalami shock, sedih, khawatir, malu dan takut saat pertama kali mengetahui hasil diagnostik bahwa anaknya merupakan anak Autis. Perasaan-perasaan seperti itu pada awalnya menimbulkan ketidakpercayaan orangtua pada dokter, psikiater dan psikolog. Maka untuk mencari ketenangan diri, orangtua mencari dokter, psikiater dan psikolog lain yang mungkin akan menyangkal diagnostik sebelumnya (Safaria, 2005)

Orangtua yang dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa anaknya merupakan anak Autis, banyak orangtua yang dengan terpaksa menerima keadaan anaknya. Tentu saja menerima keadaan anak Autis tidaklah mudah.

Anak yang mereka cintai merupakan anak Autis. Perasaan marah juga muncul ketika timbul perasaan iri pada teman-teman yang memiliki anak normal.

(16)

Kadang-kadang orangtua memiliki perasaan yang kuat untuk menolak keadaan bahwa anaknya merupakan anak Autis. Penolakan ini bukan malah

meredakan kesedihan orangtua tetapi malah semakin menyiksa perasaan orangtua. Perasaan ini tanpa disadari dilampiaskan pada pasangan atau anak, sehingga cukup membuat beban dalam keluarga bertambah. Bagaimanapun sikap menerima dengan hati terbuka lebih baik dari pada sikap menolak keadaan anaknya karena akan menambah beban orangtua (Safaria, 2005)

Sejalan dengan itu, Faridah (2001) menyebutkan bahwa sudah

seharusnya orang tua menerima anaknya karena anak adalah titipan Tuhan.

Orangtua yang mempunyai anak Autis dapat memberikan reaksi menerima dan menolak pada anaknya. Penerimaan orangtua sangat berperan penting dalam perkembangan anak dan sebaliknya, penolakan orangtua bisa menghambat

perkembangan anak Autis.

B. Tujuan Penelitian

Penelitian yang ditulis mempunyai tujuan untuk mengetahui sejauh mana

penerimaan orangtua pada anaknya yang merupakan anak Autis. Penelitian ini

juga diharapkan untuk menambah pengetahuan tentang anak Autis dan

penerimaan orangtua yang anaknya merupakan anak Autis.

(17)

yang berkaitan dengan anak Autis.

Manfaat praktis :

1. Penelitian yang ditulis untuk menggambarkan beberapa sikap penerimaan orangtua yang memiliki anak Autis.

2. Memberikan beberapa pengetahuan tentang anak Autis.

3. Dengan penelitian ini diharapkan menambah pengetahuan tentang sikap

penerimaan orangtua yang anaknya merupakan anak Autis.

4. Memberikan masukan dan sumbangan pemikiran bagi keluarga yang memiliki anak Autis untuk menangani anaknya dengan benar untuk mengembangkan kemandirian anak atau bantu diri anak.

5. Mahasiswa sebagai calon sarjana psikologi menjadi terbuka terhadap

wawasan tentang anak Autis dan penerimaan orangtua pada anaknya yang

merupakan anak Autis.

D. Keaslian Penelitian

Penelitian ini ingin mengungkapkan bagaimana penerimaan orangtua yang anaknya merupakan anak Autis. Penelitian ini mengungkapkan

pengalaman orangtua yang memiliki anak Autis.

Penelitian yang lain sebagai acuan yaitu jurnal Fatimah Haniman yang berjudul Pemberdayaan Orangtua Dalam Penanganan Anak Penyandang Autis

di Ruang Day Care Psikiatri Anak SMF Psikiatri-RSUD DR. Soetomo. Penelitian

ini menitikberatkan pada pemberdayaan untuk para orangtua yang memiliki anak

(18)

dengan 28 anak yang memenuhi syarat penelitian (syaratnya yaitu mendapatkan kontrol secara rutin tiga kali dalam satu bulan dan mendapat pelatihan dengan metode Lovaas). Instrumen yang digunakan yaitu Childhood Autism Rating Scale

(CARS) dari Bolman.

Penelitian yang ditulis oleh Rahmah Hastuti & Zamralita dengan judul penelitian Penyesuaian Diri Orangtua yang Memiliki Anak Retardasi Mental Ringan juga menjadi acuan penelitian. Kaitannya pada penerimaan orangtua dan keluarga yang memiliki anak yang abnormal, yaitu anak dengan retardasi mental ringan. Penelitian yang ditulis Rahmah dan Zamralita lebih menjelaskan penyesuaian diri orangtua pada anaknya yang memiliki anak penderita retardasi mental ringan. Metode penelitiannya adalah penelitian kualitatif. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara. Subyek penelitian adalah orangtua yang mempunyai anak yang mengalami retardasi mental ringan dengan usia

orangtua antara 40-60 tahun.

Measurement in Intervention Research with Young Children Who Have

Autism oleh Mark Wolery dan Ann N. Garfinkle menjadi salah satu acuan karena

dalam penelitian tersebut juga sedikit menjelaskan bagaimana peran orangtua

dan sistem pengajaran di suatu tempat terapi untuk anak penderita Autis dengan

memberikan intervensi dini sebagai pengenalan awal. Metode penelitian ini yaitu

meneliti dengan acuan jurnal yang berhubungan dengan Autis, tempat-tempat

konsultasi untuk orangtua yang memiliki anak penderita Autis, memilih subyek

(19)

Predict the Subsequent Development of Their Children's Comunication oleh

Michael Siller dan Marian Sigman menjelaskan bagaimana peran orangtua yang memiliki anak penderita Autis belajar berkomunikasi. Mulai menarik anak Autis dari dunia yang penuh dengan fantasinya sendiri ke dunia nyata. Memberi perhatian pada anak, minimal kontak mata sangatlah diperlukan untuk berkomunikasi dengan anak yang menderita Autis. Subyek penelitian tersebut yaitu 25 anak yang menderita Autis (20 laki-laki dan 5 perempuan), 18 anak dengan keterlambatan perkembangan (11 laki-laki dan 7 perempuan), 18 anak dengan typical development (14 laiki-laki dan 4 perempuan). Peneliti lebih menggali bagaimana penerimaan orangtua yang mempunyai anak Autis secara kualitatif. Teori yang dipakai berdasarkan perpaduan dari beberapa teori sehingga teori yang dipakai orisinil. Alat ukur dan subyek juga orisinil karena belum pernah dipakai oleh peneliti sebelumnya.

(20)

1. Pengertian Autis

Safaria (2005) mendeskripsikan gangguan perkembangan Autis sebagai

ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan orang lain, gangguan berbahasa

yang ditunjukkan dengan penguasaan yang tertunda, aktivitas permainan yang

repetitif dan keinginan obsesif untuk mempertahankan keteraturan di dalam lingkungannya.

Atisme merupakan gangguan perkembangan anak dimana anak berpikir

dengan cara berpikir yang dikendalikan oleh kebutuhan personal atau oleh diri

sendiri, menolak realitas, mempunyai keasyikan ekstrim dan memiliki pikiran atau

fantasi sendiri (Chaplin, 2004)

Kuwanto dan Natalia (2001) menyatakan bahwa gangguan Autis

merupakan gangguan perkembangan dalam bidang komunikasi verbal dan non verbal, bidang interaksi sosial, bidang perilaku dan emosi.

Dawson dan Hertzig (Santrock, 2002) menyatakan Autis ialah gangguan perkembangan yang parah yang meliputi ketidakmampuan dalam membangun hubungan sosial, ketidaknormalan dalam berkomunikasi, mempunyai pola

perilaku yang terbatas dan perilaku yang berulang-ulang.

Menurut Kannen (2006), anak Autis merupakan keterlambatan perkembangan perilaku yang menghambat kemampuan berkomunikasi, bicara, emosi perilaku dan ketrampilan motorik yang berdampak luas pada anak. Tidak

bisa berbicara secara normal, berkomunikasi, berhubungan dengan orang lain

8

(21)

perkembangan perilakunya. Perilaku anak-anak Autis ini, yang antara lain terdiri dari wicara dan okupasi, tidak berkembang seperti pada anak yang normal (Handoyo, 2003)

Dari penjelasan diatas disimpulkan bahwa Autis adalah salah satu gangguan perkembangan pada anak yang meliputi gangguan perkembangan berkomunikasi, bersosialisasi, okupasi dan imanjinasi.

2. Faktor-Faktor Penyebab Anak Autis

Sampai saat ini para ahli belum menentukan apa penyebab Special Needs. Namun beberapa ahli berpendapat McCandless (2003) Special Needs

merupakan sindroma yang disebabkan oleh berbagai penyebab seperti:

a. Faktor genetik, diduga karena kromososm (ditemukan pada 5-20 % penyandang Autis) seperti kelainan kromososm yang disebut syndrome fragile - x.

b. Kelalaian otak, adanya kerusakan atau berkurangnya jumlah sel syaraf yang disebut sel purkenye.

c. Kelainan neurotransmitter, terjadi karena impuls listrik antar sel terganggu alirannya.

d. Kelainan peptida pada otak. Dalam keadaan normal, gluten (protein gandum) dan kasein (protein susu) dipecah dalam usus menjadi peptida dan asam amino. Sebagian kecil peptida tersebut diserap di usus dan kemudian beredar dalam darah, bila berlebihan akan dikeluarkan melalui urine.

(22)

Sebagian lainnya akan disaring kembali saat melewati batang darah otak,

sehingga yang masuk ke dalam otak hanya sedikit dan berperan dalam

peningkatan jumlah endorfin dan enfekali yang dibutuhkan dalam pengaturan

aktifitas otak. Bila kadar endoruin dan enkefalin melebihi kebutuhan akan

menyebabkan gangguan perilaku, persepsi, intelegensia emosi dan perasaan. Pada sebagian besar penyandang Autis turunan peptida yaitu

gliadorpin dan casomorphin dalam urin jumlahnya berlebih yang

menunjukkan adanya kelebihan peptida pada darah dan otak.

e. Komplikasi saat ibu hamil dan persalinan. Komplikasi yang terjadi seperti pendarahan pada trisemester pertama gawat janin yang disertai terhisapnya

cairan ketuban yang bercampur feses dan obat-obatan yang diminum ibu

selama kehamilan.

f. Kekebalan tubuh. Terjadi karena kemungkinan adanya interaksi gangguan

kekebalan tubuh dengan faktor lingkungan.

g. Keracunan. Keracunan yang paling banyak dicurigai adalah karena

keracunan logam berat timah hitam (plumbum), arsen, antimoni, kadmium dan merkuri yang berasal dari polusi udara, air maupun makanan.

h. Kejang. Setelah mengalami kejang beberapa anak menunjukkan gejala Autis Menurut McClure (2006) penyebab anak menjadi anak Autis seperti yang dialami anaknya yaitu kelahiran prematur yang disertai dengan penyakit

toksoplasma bawaan. Penyakit tersebut disebabkan oleh sebuah mikro-

organisme yang menular kepada manusia melalui kotoran kucing, daging yang

kurang masak, atau alat-alat yang tidak dicuci. Jika organisme tersebut masuk ke

tubuh seorang ibu yang diduga dan ibu tersebut belum pernah terjangkit

toksoplasma sebelumnya, maka parasit tersebut bisa masuk ke dalam janin dan

(23)

bayi tidak memiliki sistem kekebalan untuk melawan organisme tersebut.

Organisme ini sangat berbahaya apabila tidak ditangani dengan cepat. Oleh karena itu mikroorganisme tersebut telah beberapa bulan merusak jaringan otak dan kemungkinan bisa merusak organ lainnya. Selain toksoplasma, menurut McClure kelahiran yang sulit dan tidak segera ditangani oleh ahlinya, bisa menyebabkan bayi kekurangan oksigen. Hal ini juga membuka kemungkinan

anak menjadi anak Autis.

3. Ciri-Ciri Anak Autis

Rutter dan Schopler (Santrock, 2002) menyatakan beberapa ciri anak

Autis, diantaranya sebagai berikut :

a. Ketidakmampuan sosialisasi

- kegagalan menggunakan kontak mata langsung untuk membangun interaksi

sosial.

-jarang mencari orang lain untuk memperoleh kenyamanan atau afeksi.

- jarang bermain dengan orang lain.

- tidak memiliki relasi dengan teman sebaya untuk berbagi minat dan emosi

secara timbal-balik.

- merasa tidak memerlukan perhatian dari orangtua atau orang lain,

-jarang tersenyum.

- ketika seseorang memegang anak Autis, mereka biasanya menarik diri

atau menolak.

- tidak peduli atas apa yang terjadi disekitar mereka.

- sering duduk menyendiri selama periode waktu yang cukup lama,

b. Keabnormalan komunikasi

(24)

- masalah dalam penggunaan bahasa dalam membangun komunikasi.

- tidak adanya keselarasan dan kurangnya timbal-balik dalam percakapan.

- penggunaan bahasa yang stereotip dan berulang-ulang.

c. Stereotip pola perilaku

- memiliki dorongan keinginan yang berlebihan untuk melakukan hal-hal

"ritual" (compulsive rituals).

- perilaku motorik yang berulang-ulang.

- merasa tertekan atas perubahan-perubahan kecil dalam lingkungan.

Gejala-gejala lain yang muncul selain gejala di atas antara lain menurut Danuatmaja (2004) sebagai berikut:

a. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial timbal balik

- tidak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai - kontak mata sangat kurang

- ekspresi muka kurang hidup - gerak gerik kurang tertuju

- tidak bisa bermain dengan teman sebaya

- tidak ada empati (tidak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain) - kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal

balik

b. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi

- perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tak berkembang

- anak tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non verbal

- bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak dipakai untuk berkomunikasi - sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang

- cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif dan kurang dapat meniru

(25)

c. Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku,

minat dan kegiatan

- mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas

dan kadang berlebihan

- terpaku pada satu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada

gunanya

- ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang - seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda

Neale (Kuwanto dan Natalia, 2001) menyebutkan bahwa penyandang Autis sempat berkembang normal, namun perkembangan itu terhenti sebelum mencapai usia tiga tahun dan kemudian tampak kemunduran serta tampak

gejala-gejala Autis sebagai berikut:

a. Gangguan dalam bidang komunikasi verbal maupun non-nerbal

- terlambat bicara.

- berbicara dangan bahasa yang tidak dimengerti oleh orang lain.

- bila kata-kata mulai diucaokan, anak Autis itu sendiri tidak mengerti apa

yang sudah diucapkan.

- bicara tidak dipakai untuk komunikasi.

- banyak meniru atau membeo (echolalia).

- beberapa anak Autis pandai menirukan nyanyian, nada maupun kata-

katanya, tanpa mengerti artinya.

- bila anak Autis menginginkan sesuatu, ia menarik tangan orang yang

terdekat dengannya dan mengharap tangan tersebut melakukan sesuatu

untuknya.

b. Gangguan dalam bidang interaksi sosial

(26)

- menolak dan menghindari tatapan mata.

- tidak mau menengok bila dipanggil.

- sering kali menolak bila dipeluk.

- tidak ada usaha untuk memulai interaksi dengan orang lain.

- lebih asyik bermain sendiri.

- bila didekati untuk diajak bermain, anak Autis ini cenderung menjauh.

c. Gangguan dalam bidang perilaku

- pada anak Autis terlihat adanya perliaku berlebihan atau excess

(hiperaktif motorik seperti jalan mondar-mandir, melompat-lompat,

mengulang suatu gerakan tertentu dan tantrum). Selain itu terdapat juga perilaku kekurangan atau deficit (duduk diam dengan tatapan kosong, melakukan permainan yang sama atau monoton, sering duduk terdiam

melihat benda berputar).

- kadang-kadang ada kelekatan pada benda tertentu yang terus dipegang dan

dibawa kemana-mana.

- perilaku yang ritualistik.

d. Gangguan dalam bidang perasaan atau emosi

- tidak dapat ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain, misalnya melihat

anak menangis, anak Autis tidak merasa kasihan melainkan merasa

terganggu dan mungkin anak yang menangis itu akan didatangi dan dipukul.

- kadang anak Autis ini tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah-marah

tanpa sebab yang nyata.

- sering mengamuk tidak terkendali, terutama bila tidak mendapatkan yang dia inginkan, anak Autis ini bisa menjadi agresif atau destruktif.

e. Gangguan dalam persepsi sensoris

(27)

- mencium-cium, menggigit mainan atau benda-banda apa saja.

- bila mendengar suara tertentu langsung menutup telinga.

- tidak menyukai rabaan dan pelukan

- merasa sangat tidak nyaman bila memakai pakaian yang kasar.

Menurut Suriviana (2004) menyebutkan gejala-gejala anak Autis mencakup:

a. Gangguan pada bidang komunikasi verbal dan non verbal - terlambat bicara atau tidak dapat bicara

mengeluarkan kata-kata yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain yang sering disebut sebagai bahasa planet

tidak mengerti dan tidak menggunakan kata-kata dalam konteks yang

sesuai

bicara tidak digunakan untuk berkomunikasi

meniru atau membeo, beberapa anak sangat pandai menirukan nyanyian, nada, maupun kata-kata tanpa mengerti artinya

kadang bicara monoton seperti robot

mimik muka datar

seperti anak tuli, tetapi bila mendengar suara yang disukainya akan bereaksi dengan cepat

b. Gangguan pada bidang interaksi sosial

menolak atau menghindar untuk bertatap muka merasa tidak senang dan menolak bila dipeluk tidak ada usaha untuk berinteraksi dengan orang lain enggan untuk berinteraksi lebih nyata pada anak sebaya c. Gangguan pada bidang perilaku dan bermain

(28)

- seperti tidak mengerti cara bermain, permainan anak Autis sangat

monoton

- terdapat kelekatan pada benda-benda tertentu (seperti sepotong tali,

sedotan, sobekan kertas, bungkus permen) yang terus dipegang dan

dibawa kemana-mana

sering memperhatikan jarinya sendiri

- anak Autis dapat terlihat hiperaktif (tidak dapat diam, lari ke sana sini, melompat-lompat, berputar, memukul benda berulang-ulang)

- dapat juga anak terlalu diam

d. Gangguan pada bidang perasaan dan emosi - tidak ada atau kurangnya rasa empati

- tertawa sendiri, menagis atau marah tanpa sebab

- sering mengamuk tidak terkendali (tantrum) bila tidak mendapatkan apa yang diinginkan bahkan dapat menjadi agresif dan destruktif

e. Gangguan dalam persepsi sensoris

mencium-cium, menggigit atau menjilat mainan atau benda apa saja - bila mendengar suara keras langsung menutup mata

- tidak menyukai rabaan dan pelukan, bila digendong cenderung merosot untuk melepaskari diri dari pelukan

merasa tidak nyaman bila memakai pakaian dengan bahan tertentu Penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa anak Autis yaitu anak dengan

gangguan perkembangan yang meliputi perkembangan komunikasi dimana anak

mengalami keterlambatan bicara atau bahkan tidak bisa bicara, perkembangan untuk bersosialisasi anak cenderung menyendiri dan tidak bisa bersosialisasi

dengan orang lain, gangguan perilaku dimana anak sering melakukan hal-hal

(29)

monoton dan menunjukkan gangguan yang berlebihan misalnya berjalan mondar-mandir, dan juga melalukan kegiatan yang kekurangan misalnya duduk dengan tatapan kosong atau hanya terpaku melihat benda berputar.

B. Penerimaan Orangtua 1. Pengertian Penerimaan Orangtua

Interaksi pertama yang dilakukan oleh seorang anak yang baru lahir adalah dengan orangtuanya. Dalam membina hubungan dengan anaknya, orangtua perlu memperhatikan kebutuhan-kebutuhan seorang anak. Baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan jiwanya. Salah satu kebutuhan jiwa yang

cukup penting adalah kasih sayang, ketentraman dan penerimaan.

Penerimaan orangtua terhadap anaknya yang merupakan anak Autis merupakan sikap dimana orangtua mendukung dengan penuh kasih sayang, mendidik dan membimbing anak dengan sepenuh hati (Jelang Siang Trans TV,

11 Mei2007, 12.07)

Seperti teori dari Rohner (2001) penerimaan orangtua yaitu suatu efek psikologis dan perilaku dari orangtua pada anaknya seperti rasa sayang, kelekatan, kepedulian, dukungan dan pengasuhan dimana orangtua tersebut bisa merasakan dan mengekspresikan rasa sayang kepada anaknya.

Bukan hanya dukungan secara materi dalam mendukung serta menerima anak Autis dalam keluarga. Namun juga dukungan secara moral. Misalnya dengan memberi perhatian penuh dalam segala kegiatan anak dan kemajuan anak Autis. Memberikan sentuhan fisik dengan penuh ketulusan juga dapat meningkatkan kemajuan anak. Selain itu anak Autis juga merasa tidak ditolak

oleh orangtuanya.

(30)

Seperti dikisahkan dalam hadis Rasul, pada suatu han beberapa Arab

desa datang kepada Rasulullah SAW. Mereka bertanya kepada para sahabat,

"Apakah kamu pernah memeluk anak-anak kecil kamu?" Para sahabat menjawab, "Ya". Orang-orang kampung itu berkata, "Akan tetapi, demi Allah, kami belum pernah memeluknya," Rasulullah SAW lalu bersabda, "Aku tidak boleh berbuat apa-apa sekiranya Allah mencabut rahmat dari kamu" (Mulyana,

2006). Hadis di atas merupakan salah satu riwayat dari Rasulullah bahwa betapa

pentingnya kasih sayang kepada anak-anak. Kasih sayang kepada anak-anak

tidak hanya merupakan wujud dari rasa cinta, tetapi yang lebih penting adalah kasih sayang yang merupakan bagian dari peranan orangtua dalam mendidik anak. Kasih sayang merupakan pondasi terbentuknya hubungan yang erat

antara orangtua dengan anak-anak.

Dalam kaitannya dengan ini, seperti yang dikatakan Stipek (2006) mengatakan bahwa terdapat hubungan yang erat antara orangtua dan anaknya sedikitnya mempunyai tiga komponen yang utama. Pertama yaitu penerimaan.

Dalam konteks ini, orangtua harus menerima keberadaan anak apa adanya,

tanpa syarat apapun. Penerimaan total orangtua terhadap anak-anak

memberikan rasa percaya diri yang tinggi kepada anak-anak dan mempercepat anak dalam proses pembelajaran dan perkembangan dirinya. Kedua, hubungan atau ikatan batin yang kuat antara orangtua dan anaknya menciptakan rasa aman secara emosi, tenteram dan bahagia menjadi dirinya sendiri. Ketiga, dukungan dari orangtua. Orangtua harus menghargai dan menghormati anak sebagai pribadi yang unik, sehingga mengembangkan segala potensinya untuk

menjadi diri sendiri dan mandiri.

(31)

Banyak hal yang menyebabkan bermacam-macam penerimaan dan penolakan orangtua yang anaknya merupakan anak Autis. Salah satunya yaitu bagaimana orangtua tersebut memandang anak Autis. Kehidupan akan terasa sangat berat apabila orangtua tersebut memandang anak Autis merupakan suatu musibah bagi mereka. Tapi kejadiannya akan berbeda apabila orangtua menerima anaknya yang merupakan anak Autis. Memang pada awal diagnosis dokter, orangtua pasti shock dan stress. Namun seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengetahuan orangtua, maka orangtua telah menyadari bahwa anaknya adalah anak yang istimewa dan unik. Walaupun memiliki sedikit kekurangan tapi disamping itu pasti memiliki kelebihan tersendiri.

Dalam suatu penelitian, disebutkan bahwa perlu adanya usaha pemberdayaan orangtua yang anaknya merupakan anak Autis. Pemberdayaan

orangtua tersebut mengharapkan hasil yaitu orangtua yang memiliki anak Autis tahu apa yang perlu dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan dan bagaimana menghadapi kehidupan anaknya yang termasuk anak Autis. Pemberdayaan dan pelatihan yang diadakan juga bertujuan agar orangtua menerima informasi sebanyak-banyaknya tentang anak Autis. Mendiskusikan dan saling bertukar pikiran dengan orangtua yang anaknya juga merupakan anak Autis. Namun

tujuan pokoknya yaitu agar orangtua bisa menerima anaknya yang merupakan

anak Autis (Haniman, 2001).

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penerimaan orangtua merupakan sikap yang dibentuk melalui perhatian yang kuat dan cinta kasih terhadap anak, serta sikap yang penuh kebahagiaan dalam mengasuh

anak dengan memberi kebebasan dan keamanan psikologis anak.

(32)

2. Faktor-Faktor Penerimaan Orangtua

Sikap orangtua menurut Faridah (2001) merupakan faktor yang

mempengaruhi penerimaan orangtua pada anaknya yang merupakan anak Autis

antara lain :

1. Hubungan cinta untuk semua anggota keluarga.

Hubungan cinta yang sehat pada semua anggota keluarga menghasilkan

energi positif dan para anggota keluarga akan semakin produktif, sehingga

bisa bekerja sama dalam mendidik dan mengasuh anak Autis.

2. Pandangan individu bahwa anak merupakan titipan dan Tuhan

Orangtua percaya bahwa anak, bagaimanapun keadaan anak mereka adalah titipan Tuhan yang harus dijaga, dididik dan diasuh sebaik mungkin karena merupakan tenggung jawab orangtua pada Tuhan.

3. Pandangan individu terhadap nilai moral sebagai orangtua.

Dalam kehidupan sehari-hari, orangtua mampu mencerminkan sikap

menerima anaknya yang merupakan anak Autis untuk selalu dididk dan diasuh demi kemajuan anak.

3. Aspek-Aspek Penerimaan Orangtua

Faridah (2001) menyatakan orangtua yang memiliki anak Autis,

memberikan banyak reaksi dalam penerimaan anaknya. Ada yang menerima

dengan pasrah begitu saja dengan anaknya yang merupakan anak Autis. Ada pula orangtua yang sama sekali menolak kondisi anak Autis karena malu dan hancur. Ada pula yang menerima anaknya dengan penuh optimis serta mendukung demi kemajuan anaknya yang merupakan anak Autis. Ciri-ciri orangtua yang menerima anaknya yang merupakan anak Autis antara lain :

(33)

1. Menerima dengan lapang dada diagnosis dari dokter bahwa anaknya

merupakan anak Autis.

2. Orangtua mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang anak Autis,

untuk kemajuan anaknya dan kemajuan orangtua sendiri dalam membimbing dan mendidik anaknya yang merupakan anak Autis.

3. Orangtua memeriksakan anaknya secara berkala pada ahli, sehingga

dapat mengetahui kondisi anaknya secara akurat dan aktual.

4. Menghubungi pusat terapi untuk anak Autis agar dapat membantu proses pendidikan anak Autis dan juga untuk berbagi pengalaman sesama

orangtua yang memiliki anak Autis.

5. Melatih anak di rumah, terutama melatih anak untuk menolong diri sendiri.

6. Melakukan kontrol minimal seminggu sekali dan melakukan evaluasi

kemajuan anak, walaupun hal itu merupakan hal yang kecil dan

sederhana.

7. Orangtua melakukan terapi untuk kemajuan motorik kasar dan motorik

halus.

Ciri-ciri penerimaan orangtua juga dapat dilihat bila orangtua :

1. Menghargai anak sebagai manusia yang memiliki perasaan, mengakui hak- hak anak dan kebutuhan untuk mengekspresikannya.

2. Membangun komunikasi yang terbuka.

3. Mendorong anak untuk bebas mengekspresikan emosinya.

4. Mengenali kebutuhan anak.

5. Mencintai anak tanpa syarat (http://www.puterakembara.org)

Menurut Faridah (2001) orangtua yang menerima anaknya meletakkan

anaknya pada posisi penting dalam keluarga dan mengembangkan hubungan

(34)

emosional antara orangtua dan anak yang hangat. Aspek-aspek orangtua yang menerima anaknya antara lain :

a. Berpartisipasi dalam permainan, olah raga, kesenangan anak atau melakukan perjalanan bersama-sama.

b. Melibatkan anak dalam pekerjaan rumah.

c. Menunjukkan minat terhadap rencana serta ambisi anak.

d. Memberi perlindungan dan kasih sayang pada anak.

e. Memperhatikan kemajuan prestasi belajar anak.

f. Tidak mengharap terlalu banyak pada anak.

g. Memberikan kepercayaan kepada anak.

h. Bertutur manis pada anak.

i. Memberikan nasehat yang bijaksana dan dorongan pada anak.

Orangtua yang memiliki anak Autis, memberikan banyak reaksi dalam penerimaan anaknya. Ada yang menerima dengan pasrah begitu saja, ada pula orangtua yang sama sekali menolak kondisi anaknya yang merupakan anak

Autis karena merasa malu dan hancur. Ada pula yang menerima anaknya dengan penuh optimis serta mendukung demi kemajuan anaknya yang

merupakan anak Autis. (http://www.puterakembara.org)

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penerimaan

orangtua pada anaknya yang merupakan anak Autis adalah suatu sikap dimana orangtua slap dengan segala kekurangan anaknya. Seberapa beratpun itu

karena anak merupakan titipan Tuhan yang menjadi anugerah serta tanggung

jawab orangtua. Bukan merupakan tuntutan tapi menerima dengan optimis dan

tetap mencintai anak yang merupakan anak Autis merupakan salah satu bentuk syukur pada Tuhan.

(35)

C. Pertanyaan Penelitian

"Bagaimana penerimaan orangtua pada anak Autis?"

(36)

A. Fokus Penelitian

Penelitian dilakukan untuk memperoleh keterangan bagaimana orangtua menerima anaknya yang merupakan anak Autis. Sikap penerimaan orangtua pada anak Autis merupakan keyakinan para orangtua untuk mengaplikasikan

dalam bentuk konkrit pada anaknya yang merupakan anak Autis.

B. Subyek Penelitian

Subyek yang dipilih oleh peneliti yaitu orangtua yang memiliki anak yang

merupakan anak Autis. Orangtua yang mengasuh anak Autis mulai dari

keluarnya diagnostik sampai dilakukannya penelitian. Orangtua yang diteliti adalah orangtua yang tinggal dengan anaknya yang merupakan anak Autis dan orangtua memberikan terapi di tempat terapi untuk anak Autis di Cahaya Ananda. Sehingga subyek adalah orangtua yang tahu betul tentang

perkembangan anaknya dan waktu ke waktu.

C Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini memakai metode penelitian studi kasus dimana peneliti ingin memahami pengalaman subyek yang mempunyai anak Autis. Data penelitian berasal dari hasil wawancara kualitatif dengan subyek (Alsa, 2003)

Pengumpulan data dioeroleh dari wawancara langsung dengan subyek dimana peneliti merekam dan mentransfer data tersebut ke dalam transkrip.

24

(37)

Pertanyaan-pertanyaan dalam wawancara memfokuskan pada bagaimana penerimaan orangtua yang mempunyai anak Autis (Alsa, 2003)

Orangtua yang memiliki anak Autis merupakan subyek penelitian yang mempunyai gambaran tentang dirinya sendiri dalam menerima atau menolak anaknya. Maka dari itu diperlukan metode tepat untuk mengetahui pengalaman- pengalaman orangtua dalam mengasuh, mendidik dan membimbing anaknya

yang merupakan anak Autis lebih mendalam.

Metode ini digunakan untuk mendapatkan keterangan sejelas-jelasnya dari orangtua. Agar dapat memperoleh keterangan tentang penerimaan orangtua pada anaknya yang merupakan anak Autis, maka peneliti menggunakan metode

sebagai berikut:

1. Angket Skala penerimaan Orangtua

Skala penerimaan orangtua ini digunakan untuk mengukur tingkat penerimaan orangtua pada anaknya yang merupakan anak Autis. Hasil dan pengambilan data dengan angket ini menunjukkan tinggi rendahnya

penerimaan orangtua.

2. Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara merupakan daftar pertanyaan secara garis besar yang akan diberikan pada subyek penelitian. Dalam hal ini, pedoman wawancara

diberikan kepada orangtua yang memiliki anak Autis yang "menyekolahkan"

anaknya di Yayasan Anak Autis Cahaya Ananda sebagai subyek yang paling

memahami dirinya sendiri.

3. Wawancara

Wawancara adalah suatu percakapan tatap muka untuk memperoleh informasi sesuai dengan maksud yang ingin dicapai. Dalam hal ini

(38)

pewawancara menanyaKan n— - ,«— >—" -«*

(Chaplin, 2004)

„ t^rarah dan memberikan

Metode wawancara ini diiaKuKan secara terarah

„aan -pada ** —«* «« P-a'aman 7

subyek mau membuKa diri un^ercerla -» — — •—

""sL. m-*" penman da,a den9an —. ~a, pen„ orang.a «Ur ^na.n - —~ «£ ~

sayan, aspeK «— -gan ana, dan aspe, Heparan pada .-.

Tingginya penenmaan oran.ua .e.adap anaKnya yan9 .erupaKan ana,

dapat memberi *n- secara gans besar ^ana - " ^

^Ipane.an — daia. penman da,a sanga, ,—

macam sesuai dan8an rnasaia. yang di,* Ma,ode penman da,a pada

peneli,,n ,, yaitu wawanca, Ma,oda wawancara — - «*-»

anaknya yang ^an ana, A* ««— -— -^ £

d„ orangtua bersama an.nya daia. — se—. a

wawancara a,an - daia. »** * - P— "* """»""" *

*^,—•—-nw—ada,am:;;:ra

w«-*—. **- —-—-~a men9enai 9

(39)

penerimaan orangtua. Hal ini dilakukan agar dalam wawancara, pertanyaan tetap

terfokus pada tujuan penelitian. Pedoman wawancara tersebut adalah : 1. Pendapat orangtua tentang Autis dan anak Autis saat diagnosa.

2. Bagaimana perasaan orangtua saat diagnosa anak?

3. Masa tersulit yang dialami subyek.

4. Bagaimana orangtua menghadapi masa sulit?

5. Sikap penerimaan orangtua sekarang.

6. Harapan orangtua.

D. Metode Analisis Data

Alsa (2003) menyebutkan untuk menganalisis data kualitatif dengan cara

wawancara langsung dengan subyek, peneliti menyusun statement dan deskripsi

wawancara untuk menunjukkan penerimaan subyek pada anaknya.

Untuk mengetahui tinggi rendahnya penerimaan orangtua terhadap anaknya yang merupakan anak Autis digunakan skala penerimaan orangtua.

Angket yang diisi oleh subyek menggambarkan secara garis besar penerimaan orangtua pada anaknya yang merupakan anak Autis. Dari skor angket dapat memberikan informasi orangtua mana yang akan berpartisipasi

untuk pengambilan data selanjutnya yaitu wawancara.

Pengambilan data melalui skala sikap dalam penelitian ini dilakukan

dengan alasan :

a. Akan memperoleh jawaban langsung sehingga lebih efektif dari segi waktu,

biaya dan tenaga.

b. Adanya asumsi bahwa subyek merupakan orang yang paling tahu mengenai

dirinya sendiri.

(40)

c. Dengan situasi yang diinginkan subyek diharapkan dapat mengemukakan

pendapat dan jawaban sebenarnya dan secara terbuka.

Analisis data dalam penelitian yaitu tahap wawancara ini dilakukan dengan menyajikan data dan menarik kesimpulan. Analisis data dilakukan secara

kualitatif, dlantaranya yaitu:

1. Mengumpulkan data dengan cara wawancara memakai tape recorder

untuk mendapatkan data akurat dari subyek.

2. Menyajikan data dari tape recorder ke dalam bentuk teks.

3. Menarik kesimpulan dari data.

Metode wawancara dipilih karena merupakan salah satu cara

mendapatkan data secara langsung dari subyek. Subyek dapat bebas bercerita sesuai dengan penga.aman pribadinya sesuai dengan pertanyaan yang diajukan

peneliti. Dari jawaban subyek, peneliti dapat menyimpulkan sesuai dengan topik

penelitian yaitu penerimaan orangtua pada anaknya yang merupakan anak Autis.

(41)

A. Orientasi Kancah dan Persiapan 1. Orientasi Kancah Penelitian

Peneliti mengunjungi pusat terapi anak Autis Cahaya Ananda yang berada di Tulungagung untuk mendapatkan subyek penelitian yaitu para orangtua yang

anaknya mendapatkan pendidikan dan pelatihan (terapi) di Cahaya Ananda.

Subyek yang dipilih yaitu orangtua yang sering mendampingi anaknya di pusat terapi Cahaya Ananda. Selain lokasinya mudah dijangkau yaitu peneliti cukup mendatangi pusat terapi Cahaya Ananda di Tulungagung. Dua calon subyek untuk wawancara adalah dua orang ibu yang menyekolahkan anaknya di Cahaya Ananda dan bersedia diwawancarai sesuai kesepakatan mengingat jam terapi anak yang

tidak setiap hari. Maka peneliti sepakat untuk melakukan wawancara di pusat terapi

Cahaya Ananda.

2. Persiapan penelitian

Persiapan administrasi meliputi perizinan dari Fakuitas Psikologi dan llmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia Yogyakarta yang diajukan pada pusat terapi anak Autis Cahaya Ananda pada tanggal 25 Januari 2007 dengan nomor 72/Dek/70/Akd/l/2007. Kemudian peneliti menyerahkan proposal penelitian beserta surat keterangan atau izin pada pusat terapi anak Autis Cahaya Ananda. Sampai pada akhirnya peneliti diizinkan untuk melakukan penelitian dengan surat izin

29

(42)

Januari 2007 denga nomor CA/03/1/2007.

Sebelum melakukan penyebaran angket dan wawancara mendalam, peneliti bertemu kepala yayasan dengan membawa surat keterangan izin penelitian dari Fakuitas Psikologi dan llmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia Yogyakarta untuk mendapatkan persetujuan melakukan penelitian dengan menyebar angket untuk diisi orangtua sekaligus menentukan orangtua mana saja yang dapat

diwawancarai (dengan hasil skala penerimaan orangtua) tanpa mengganggu

kegiatan orangtua. Kepala yayasan Cahaya Ananda mengenalkan peneliti kepada orangtua untuk menjadi subyek penelitian agar saling mengenal dan tidak merasa canggung saat proses penelitian berlangsung. Saat pendekatan peneliti

memberitahukan sekaligus meminta persetujuan dari subyek untuk bersedia meluangkan waktunya dalam pengisian angket dan wawancara. Peneliti juga untuk

meminta izin bahwa nantinya pada saat wawancara peneliti merekam proses wawancara dengan menggunakan tape recorder untuk memudahkan peneliti

mengingat hal-hal yang dibicarakan. Dalam persetujuannya subyek diminta untuk

mendatangani surat pernyataan setuju yang telah dibuat oleh penulis.

Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket Penerimaan

Orangtua. Jumlah aitem pada angket 63 aitem yang terdiri dari 36 aitem favorable

dan 27 aitem unfavorable Angket disebarkan dan diisi oleh subyek sesuai dengan

jadwal sekolah anak di Cahaya Ananda untuk memudahkan orangtua sebagai subyek dan peneliti. Peneliti juga tidak ingin mengganggu aktifitas subyek dan tidak

memberatkan subyek dalam proses pengisian angket. Sebelum proses pengisian

(43)

subyek, kemudian subyek diberi waktu sekitar 10 sampai 15 menit untuk mengisi

angket dengan didampingi oleh peneliti.

Pada persiapan wawancara mendalam, peneliti meminta subyek menentukan kapan proses wawancara dapat dilaksanakan. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan hambatan yang dapat muncul saat wawancara berlangsung. Persiapan ini sangat penting dilakukan agar subyek merasa nyaman dan dapat menjawab pertanyaan dengan lebih terbuka. Pertanyaan-pertanyaan dalam wawancara berpedoman pada bagaimana sikap orangtua pada anaknya yang merupakan Autis. Selain itu peneliti juga menanyakan bagaimana kehidupan sehari-hari antara orangtua dan anak.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk mengetahui penerimaan orangtua pada anaknya yang merupakan anak Autis. Pedoman wawancara tersebut adalah : 1. Pendapat orangtua tentang Autis dan Autis saat diagnosa.

2. Bagaimana perasaan orangtua saat diagnosa anak?

3. Masa tersulit.

4. Bagaimana orangtua menghadapinya?

5. Sikap penerimaan orangtua sekarang.

6. Harapan orangtua.

B. Laporan Pelaksanaan Penelitian

Peneliti melakukan beberapa hal dalam pertemuan dengan subyek, antara lain:

1. Mengadakan pendekatan kepada calon subyek. Salah satu caranya yaitu

dengan memperkenalkan diri.

(44)

kepada kepala yayasan tentang maksud kedatangan peneliti ke tempat terapi Autis. Peneliti hanya ingin mengambil data dan ingin mengetahui pengalaman orangtua yang memiliki Autis. Peneliti juga menjelaskan bahwa penelitian ini tidak bermaksud menyinggung perasaan calon subyek karena topik penerimaan orangtua pada anaknya yang memiliki Autis masih relatif sensitif

bagi orangtua.

3. Peneliti menyanyakan kesediaan waktu calon subyek untuk berpartisipasi

dalam pengambilan data.

4. Bila calon peneliti bersedia, peneliti meminta subyek untuk mengisi identitas pada angket skala penerimaan orangtua. Subyek yang tidak bersedia

memberikan nama terang, dapat menggunakan inisial atau nama samaran.

5. Subyek menentukan waktu pertemuan untuk pengambilan data dengan angket maupun wawancara. Pertemuan disesuaikan dengan waktu luang subyek agar

tidak mengganggu aktifitas subyek.

Awal proses penyebaran angket, peneliti memberitahukan maksud dan tujuan

dilaksanakannya pengisian angket. Angket dapat diisi oleh semua subyek tidak

dalam satu waktu mengingat jadwal anak untuk terapi di Cahaya Ananda juga tidak

setiap hari. Angket yang diisi pada hari Jumat tanggal 9 Pebruari 2007 berjumlah

lima angket, hari Senin tanggal 12 Pebruari 2007 berjumlah lima angket, hari Selasa

tanggal 13 Pebruari 2007 berjumlah tujuh angket, hari Rabu tanggal 14 Pebruari

2007 berjumlah lima angket dan hari Kamis tanggal 15 Pebruari 2007 berjumlah

tujuh angket. Semua angket yang berjumlah 30 diisi oleh 30 subyek.

(45)

angket. Dengan waktu yang terbatas diharapkan subyek mengisi angket dengan

jawaban yang paling jujur, paling sesuai dengan kenyataan pada diri subyek dan

jawaban yang pertama terlintas dalam pikiran subyek.

Setelah semua angket yang diisi subyek terkumpul, peneliti kemudian melakukan skoring. Subyek yang diwawancarai dipilih dari hasil skor angket yang telah diisi sebelumnya.

Dari empat subyek yaitu ibu-ibu yang mempunyai anak Autis yang menyekolahkan anaknya di Cahaya Ananda terdapat dua ibu yang bersedia diwawancarai. Dua ibu yang lain tidak bersedia diwawancarai karena ibu tersebut sibuk dan tidak ingin diwawancarai. Kesibukkan salah satu ibu sebagai pedagang

menyebabkan ibu ini tidak memiliki waktu luang untuk wawancara. Ibu yang lain

memang tidak bersedia untuk diwawancarai. Setelah peneliti konfirmasi dengan kepala yayasan Cahaya Ananda, diperoleh informasi bahwa ibu yang satu ini sangat tidak antusias dengan hal-hal yang melibatkan anaknya yang merupakan Autis.

Sehingga segala kegiatan anaknya mulai dari terapi sampai kontrol ke psikiater, ibu tersebut memilih pembantu untuk mengantar anaknya. Sama halnya saat ibu ini mengisi angket, peneliti terpakasa menitipkan angket pada pembantu yang kemudian diisi ibu di dalam mobil saat mengantar anaknya terapi di pusat terapi Cahaya Ananda. Hasilnya ibu-ibu yang bersedia diwawancarai ada dua orang ibu.

Dua ibu ini bersedia diwawancarai namun waktu ditentukan oleh ibu-ibu sendiri. Ini

dilakukan peneliti agar wawancara tidak mengganggu kegiatan ibu-ibu tersebut.

(46)

proses wawancara dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel. 1

Pelaksanaan Wawancara.

No. Nama Wawancara Jam

1. BE Kamis, 8 Maret 2007 09.05

2. BD Jumat, 9 Maret 2007 08.25

Wawancara subyek pertama yaitu ibu dengan inisial BE dilakukan sekali pada hari Kamis jam 09.05 di Cahaya Ananda. Subyek merupakan ibu kandung anak Autis. Anaknya didiagnosa sejak umur satu setengah tahun dan menjalani terapi sejak umur dua tahun. Subyek terlihat serius saat wawancara berlangsung.

Wawancara berlangsung cukup intens, hingga subyek mau bercerita tentang masa

sulit yang sempat membuatnya sangat stress dan trauma. Bukan hanya itu, subyek juga menceritakan bagaimana hubungan anak dengan saudara kandungnya, bagaimana perlakuan dalam keluarga, bagaimana sikap keluarga besar tentang anaknya, bagaimana tetangga dan lingkungan sekitar bersikap pada anaknya dan bagaimana kebiasaan anak di rumah yang sering membuat subyek merasa ingin marah. Subyek menjawab semua pertanyaan yang diajukan dengan detail diikuti

keharuan dan kesedihan yang diperlihatkan dengan mata yang berkaca-kaca.

Subyek juga tidak segan-segan menceritakan semua pengalamannya dalam

mencari informasi demi kemajuan anaknya serta menjelaskan dengan lengkap

semua pertanyaan sehingga membantu peneliti dalam membayangkan bagaimana

sikap subyek dalam menghadapi anaknya yang merupakan Autis.

Wawancara subyek kedua yaitu seorang ibu dengan inisial BD dilakukan satu

kali pada hari Jumat jam 08.25 di Cahaya Ananda. Subyek sebagai ibu dari anak

(47)

berbagi pengalaman dan menjawab semua pertanyaan dengan detail. Dari mulai menemukan gejala aneh pada anaknya sampai membagi pengalaman mendidik dan melatih anaknya hingga mulai belajar bantu diri. Subyek terlihat sangat antusias dalam menjawab pertanyaan. Semua pertanyaan dijawab oleh subyek dengan detail dan bersemangat. Terlihat dari mimik muka yang selalu tersenyum saat menjelaskan jawaban-jawabannya. Wawancara berlangsung sangat lancar walaupun sedikit terganggu dengan suara murid-murid yang juga merupakan anak-Autis yang kebetulan sedang belajar di Cahaya Ananda. Sedikit gangguan tersebut sama sekali tidak mempengaruhi subyek untuk tetap fokus dengan pertanyaan yang diajukan oleh peneliti sehingga peneliti mendapatkan banyak informasi dari subyek.

C. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Identitas Subyek

a. Subyek Wawancara 1

Nama : BE

Umur : 36 tahun

Jenis kelamin : perempuan Pekerjaan : -

Subyek merupakan ibu salah satu orangtua yang memiliki anak Autis. Subyek sebagai ibu rumah tangga memberikan pengasuhan penuh mulai dari anaknya lahir sampai sekarang tanpa bantuan babysitter ataupun pembantu. Subyek didampingi suami dalam pengasuhan anak saat sore sampai malam karena suaminya bekerja.

(48)

mempunyai waktu lebih lama bersama anak dibandingkan dengan suami, sehingga subyek sangat peka dengan anak. Keterkaitan emosi antara ibu dan anak sangat terjalin walaupun anaknya merupakan Autis. Waktu bersama anak yang relatif banyak ini membuat subyek bisa memberikan perhatian penuh pada anak. Sampai pada subyek menemukan keanehan demi keanehan pada anaknya.

Subyek menampakkan sikap positif dan kooperatif saat wawancara berlangsung. Subyek memberikan jawaban pada setiap pertanyaan. Bukan hanya itu, subyek mau bercerita dan berbagi tentang pengalaman baik bersama anaknya sampai menemukan masa sulit yang sempat membuat subyek sangat stress. Hidup bersama Autis bagi subyek merupakan ujian dari Tuhan, karena subyek percaya ada mukjizat Tuhan untuk masa depan anaknya. Subyek merasa anaknya adalah titipan Tuhan yang dipercayakan pada subyek sehingga subyek sangat bersyukur bagaimanapun keadaan anaknya. Segala upaya untuk kesembuhan ataupun pendidikan anak subyek, subyek akan selalu mengusahakan.

b. Subyek Wawancara 2

Nama : BD

Umur : 29 tahun

Jenis kelamin : perempuan Pekerjaan : swasta

Subyek adalah seorang ibu yang single parent, mengasuh anaknya yang merupakan anak Autis. Subyek menceritakan bahwa saat gejala Autis pada anaknya muncul, subyek belum tahu kalau gejala tersebut adalah gejala Autis. Mulai dari

(49)

dan memutar benda atau mainan. Subyek merasa ada yang tidak beres dengan anaknya saat itu, sehingga subyek mulai berkonsultasi ke dokter syaraf sampai ke psikiater dan akhirnya anak subyek didiagnosa Autis.

Subyek saat itu belum mengerti betul apa yang dimaksud dengan Autis.

Namun setelah mempelajari dan mencari informasi, subyek mengalami stress dan bingung harus berbuat apa. Apa lagi saat subyek melewati masa sulit melatih anaknya toilet training, subyek medapat banyak kesulitan diantara suatu keharusan dan kasihan melihat anaknya berontak dan menangis.

Subyek juga melatih anaknya untuk bantu diri misalnya makan, minum, memakai celana, memakai baju, mandi dan buang air besar sendiri. Subyek sangat bersyukur kepada Tuhan karena anaknya sudah mulai bisa mengerjakan kepentingannya sendiri seperti makan, minum, mandi dan buang air besar sendiri.

Kemajuan yang dialami oleh anak subyek tidak sekaligus, namun setahap demi satahap sampai akhirnya sekarang anak subyek sudah masuk SD kelas satu dan mampu mengikuti pelajaran sekolah umum tersebut. Hal ini yang memotivasi subyek untuk selalu memberi semangat kepada orangtua yang juga memiliki Autis untuk terus dan berpikir positif tentang kemajuan anaknya serta selalu bersyukur atas apa yang Tuhan berikan.

2. Deskripsi Hasil Penelitian

Hasil pengukuran skala penerimaan orangtua menyebutkan bahwa terdapat empat orangtua yang layak untuk diwawancarai karena mempunyai nilai ekstrim.

(50)

diwawancarai. Dua subyek tidak dapat diwawancarai karena kesibukan dan karena memang tidak bersedia diwawancarai.

Dari hasil wawancara, subyek menyatakan bingung saat anaknya didiagnosa Autis. Pertama, orangtua dibingungkan dengan keanehan perilaku pada anak yang ternyata merupakan gejala Autis. Kedua, subyek tidak mengerti apa sebenarnya Autis yang diderita anaknya. Ketiga, setelah orangtua tahu lebih tentang Autis, subyek menjadi cemas, shock, down dan khawatir bagaimana masa depan anaknya nanti. Namun karena subyek merasa anak adalah titipan Tuhan yang harus dijaga, dididik dan dirawat sebaik mungkin, subyek mulai bangkit untuk selalu mendidik anaknya. Mulai dari perawatan dokter spesialis anak, dokter spesialis syaraf, ke psikiater, ke pusat terapi sampai ada subyek yang memeriksakan anaknya ke kiai.

Perjuangan subyek melatih anak dan kemajuan setahap demi setahap yang dilakukan anak membuat subyek menjadi optimis bahwa suatu saat anaknya bisa mandiri. Selain itu subyek juga pasrah pada mukjizat Tuhan agar anaknya diberikan kemajuan dalam belajarnya demi masa depan anak. Wawancara yang telah dilakukan menggambarkan bagaimana sikap penerimaan subyek pada anaknya yang merupakan Autis.

Autis menjadi istilah asing yang sangat membuat resah karena ketidaktahuan orangtua. Salah satu subyek mendapat diagnosa dari dokter anak bahwa kelainan pada anak subyek tidak dapat disembuhkan. Subyek yang lain juga tidak tahu tantang Autis, tapi subyek mengalami shock dan bingung saat subyek mencari informasi lebih lanjut tentang Autis.

(51)

Pendapat Orangtua Tentang Autis dan Autis Saat Diagnosa

lya..masak umur 2 tahun itu ngangkat meja, ngangkat dan berantakin kuat, kuat banget! Kursi-kursi yang Olympic itu, itu kuat! Sampai tivi, sampai pernah dia mau kejatuhan tivi, mau apa pokoknya hilang itu fisiknya melebihi dari anak yang normal itu. Habis itu trus saya tanya-tanya ke dokter Wid, katanya ada kelainan ndak bisa disembuhkan gitu. Akhirnya ketemu ke dokter Sasanti itu katanya Autis....(Wcr.1,Sb.BE,brs 32-42)

Kira-kira sejak umur 4,5 tahun mba Putri. Waktu itu awalnya kami ke dokter syaraf.

Karena memang gangguan yang kita lihat kan terlambat bicara. Setelah ke dokter syaraf itu selama 7 bulan kurang lebih, memang ada perubahan, hiperaktifnya menurun. Cuma untuk verbal itu belum keluar. Lantas diberi rujukan ke RS dr Sutomo. Nah, di dr Sutomo itu dapat diagnosa bahwa anak saya Autis...

(Wcr.1,Sb.BD,brs 15-25)

Waktu itu, karena saya orang awam ya mba Putri, terus waktu itu tahun 1999, belum ada informasi. Sebenarnya kok belum bisa bicara ya tapi merasa curiga gitu, kok sampai umur 3 tahun, 3,5 tahun, 4 tahun belum, bisa bicara pasti ada sesuatu yang tidak beres pada anak saya, tapi apa gitu belum tahu.... (Wcr.1,Sb.BD,brs46-49,51- 55)

Kedua subyek menyatakan bahwa saat diagnosa Autis pada anaknya, subyek masih merasa bingung karena belum tahu apa itu Autis. Subyek mengira Autis adalah suatu penyakit yang suatu waktu dapat disembuhkan. Kenyataan tidak menyatakan demikian. Gambaran tentang Autis bagi subyek merupakan penyakit yang suatu saat akan sembuh ternyata salah. Autis bagi subyek ternyata suatu kelainan pada anak yang membutuhkan perbaikan seumur hidup.

Kotak 2

Perasaan Orangtua Saat Diagnosa Pada Anak

Autis?? Bingung kan saya... Gini, saya pertama tu paling Autis itu ndak bisa ngomong tapi terlambat ngomong pikiran saya kan gitu. Ya udahlah, nanti trus gimana dok ini caranya? "ya ini harus terapi buk tapi terapinya gak terlalu dini gitu...

(Wcr.1,Sb.BE,brs48-55)

Ya pertama saya bingung, karena belum tahu apa itu Autis. Karena begitu didiagnosa oh anak ibu Autis, di pikiran saya ini adalah suatu penyakit dan suatu saat akan bisa sembuh gitu. Ternyata merupakan perbaikan seumur hidup gitu. Jadi ya pertama bingung, tidak tahu. Kalau misalnya shock, down terus tertekan itu belum mba putri. Tapi setelah mengetahui dan mempelajari Autis itu sendiri itu, jadi

(52)

Soalnya kita tahu gambaran masa depannya seperti apa gitu.... (Wcr.1,Sb.BD,brs 61-69,71-74)

Selama mendidik dan mengasuh Autis (Autis), subyek mendapatkan banyak pengalaman. Disisi lain subyek juga dihadapkan pada masa sulit saat mengasuh dan mendidik anaknya.

Kotak 3

Masa Sulit Yang Dialami Orangtua

Mengatasinya ya kalau anu ya saya ceritakan ini Autis, ini gini gini gini gitu.. trus ada tetangga yang bilang anak itu jangan didekap aja, dikeluarkan kan gitu.lha nanti kalau dikeluarkan nanti hilang gitu.yaa ada yang tidak tahu ada yang tahu yaa.nah ndilalah pada waktu itu kejadian hilang to mba Putri, Firman sepedaan. Pernah tanggal 3 Pebruari kemarin. lya.... (Wcr.1,Sb.BE,brs 215-223)

lya he eh...naek sepeda sendiri sampai ke perempatan besar itu.... (Wcr.1,Sb.BE,brs 225-226)

Jauh! Nah itu karena kejadian itu saya sempat ndak sadar. Akhirnya sekarang tetangga ngerti kalau Firman itu lain gitu.... (Wcr.1,Sb.BE,brs 230-233)

Nah itu pas lampu merah, Firman kok bablas. Akhirnya kan dikejar polisi. Polisi ndak bisa ngejar akhirnya dibantu sama tukang becak. Trus tahu anaknya itu kayak gini, dikempesin sepedanya. Ditanya namanya siapa, dia cuma Firman Firman Firman aja gitu akhirnya dibawa ke kantor sosial sama polisi.... (Wcr.1,Sb.BE,brs 261-268)

lya he eh.. Iha ndilalah pas ada tetangga yang yahu. Ini kayaknya anaknya bu Edy hahaha... Terus bilang ke saya, saya nyari-nyari ndak tahu kalau di dians sosial.

Sampai saya ndak sadar mba Putri, kan itu saya ndak sadar sampai setengah 3 saya ndak sadar.... (Wcr.1,Sb.BE,brs 270-275)

Stress!! Stress! Setiap ada orang ngomong Firman Firman Firman gitu saya menjerit-jerit gitu. Kurang tahu kenapa. Sampai pandangan saya kosong gitu. Saya ini mendengar tapi kalau saya mendengar Firman sudah pulang Firman sudah pulang, begitu mendengar ada kata Firman gitu hati saya seperti tertusuk benda yang tajeeeemmm gitu terus saya menjerit-jerit nuangiss gitu!.... (Wcr.1,Sb.BE,brs 279-281,283-289)

Ndak sadar lagi! Nanti kalau ndak sadar lagi gitu katanya sih pandangan saya kayak kosong gitu. Saya tahu itu Firman tapi ndak tahu ya saya itu gimana ya? Sampai sekarang pun kalau saya lewat lampu merah itu saya ndredeg kok mba Putri, gimana ya deg deg deg deg gitu gimana ya??.... (291-293,295-300)

Ya itu Ihoo... kadang-kadang ada rasa putus asa. Itu kalau dia menggoda, mencakar gitu Iho mba Putri. Kadang-kadang saya dulu itu juga saya pernah marah sama yang di atas. Kenapa saya, saya apa sih salah saya?? Apa lagi lihat teman-temannya sudah pandai semua tapi anak saya kok mentok di sini aja. Ya kalau nggak menggoda ya saya itu juga enjoy gitu Iho mba Putri. Segalanya, kan dia itu setiap saya marahin saya ceples gitu ya mba Putri ya...sini tu masih terasa panasnya itu.

(53)

saya, ya Allah aku ki pokoknya dosa saya sama Firman ini nanti gitu. Ndak ada rasa dendam, ndak ada rasa apa gitu... (Wcr.1,Sb.BE,brs 454-466,468-471)

Masa-masa selain itu ya, selain kebingungan kami, waktu belum tahu kondisi dia, itu yang pertama. Yang kedua yang lebih sulit lagi, waktu intervensi dini dan yang sulit itu toilet trainning. Toilet trainning nya itu yang masih buruk dulu.... (Wcr.1,Sb.BD,brs 86-91 )

Dulu ya mba putri, karena dia belum bisa bicara, terus kalau mau pipis itu ya dimana dia merasa pipis ya di situ dia pipis. Terus untuk BAB itu juga masih di sembarang eeee bukan di sembarang tempat ya, tidak di tempat semestinya gitu. Jadi dia di halaman belakang gitu.... (Wcr.1,Sb.BD,brs 93-99)

lya. Obsesif tempat. Mungkin salah satu ciri Autis juga ya. Dia tidak bisa merubah suatu rutinitas. Dulu waktu pertama kali BAB tahunya di situ dia tertanam konsep oh kalau saya BAB ya di sini.... (Wcr.1,Sb.BD,brs 101-105)

Banyak usaha yang telah dilakukan orangtua untuk kemajuan anaknya. Bisa dikatakan, apapun akan dilakukan orangtua untuk kebaikan anaknya. Beberapa usaha yang dilakukan subyek yaitu pergi ke dokter untuk memeriksakan anaknya karena terjadi keanehan pada anaknya, ke psikiater untuk memastikan apa yang terjadi pada anaknya, mencari banyak informasi dari segala sumber, memberikan terapi pada anak dengan cara menitipkan anak atau dengan istilah sekolah di tempat terapi Autis, memberikan terapi dan pelatihan dirumah sampai melakukan diet sesuai anjuran dan membeli obat yang relatif mahal untuk anak.

Kotak 4

Bagaimana Orangtua Menyikapi Masa Sulit?

Eemmmm... 2 tahun itu, 2 tahun. Abis itu 2 tahun kan ada terapi di Pare gitu. Saya kan ke sana hampir 3 tahun gitu di sana di Pare . karena kejauhan gitu ndilalah di sini ada terus masuk sini 3 tahun.... (Wcr.1,Sb.BE,brs 58-63)

Nuuuaaangis mba Putri...!!! berontak!! Jadi ke Pare itu Cuma nangis aja. Jadi saya ke sana itu Cuma nangis aja, kaio ndak nangis paling dia tidur. Di Cahaya Ananda pun untuk ngajarin duduk aja 2 bulan dia.... (Wcr.1,Sb.BE,brs 73-78)

Lha iya! Putus asa ya iya ya. Apa lagi dengan kejadian kemarin terus gimana ya nanti kalau dia sudah besar?? Sekarang bisa digembok, tapi kalau dia sudah besar loncat nah itu Iho perasaan saya was-was itu masih ada. Soalnya Firman masih belum bisa mengendalikan dirinya gitu. Makanya saya itu suka kasihan ya lihat Firman itu. Kan di perumahan itu dia lihat anak-anak sepedahan, dia pengen.

Pengen main dengan anak-anak lain tapi dia ndak bisa ngontrol. Terus dulu saya

Gambar

Gambar 2. Penerimaan Orang Tua pada Anak Autis Subjek BD 55 Gambar 3. Penerimaan Orang Tua pada Anak Autis Subjek BE dan BD ..

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan data dan hasil analisa dua masjid dan sembilan musholla yang ada di Desa Blendung, enam bangunan masjid dan musholla sejajar dengah garis lurus arah kiblat, tiga

Pengarah bukaan pada ruang Unit Kemahasiswaan bangunan Student Center Itenas Bandung tidak bekerja optimal dalam menciptakan kenyamanan termal, karena aliran udara

b. Tunjangan transportasi sebagaimana dimaksud pada huruf a angka 2) diberikan sebesar 20% (dua puluh persen) dari Honorarium masing-masing anggota Dewan Komisaris/Dewan

[r]

Berdasarkan hasil penelitian dapat diuraikan sebagai berikut: faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya perekonomian masyarakat nelayan Desa karangsong kurangnya pemberdayaan

PROGRAM STUDI KEAHLIAN: KEUANGAN KOMPETENSI KEAHLIAN: AKUNTANSI.. JUDUL BUKU:

Dengan nilai VSWR tersebut, antena mikrostrip akan dapat menangkap frekuensi access point yang bekerja pada frekuensi 2.4 GHz dengan baik.

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sangsekerta yaitu buddhayah , yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan