• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEMINAR NASIONAL DAN TEKNOLOGI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SEMINAR NASIONAL DAN TEKNOLOGI"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

UDAYANA UNIVERSITY PRESS 2015

SEMINAR NASIONAL DAN TEKNOLOGI

Kuta, 29 - 30 Oktober 2015

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

UNIVERSITAS UDAYANA

(3)

iv | Kuta, 29-30 Oktober 2015

Ni Made Ary Esta Dewi Wirastuti, S.T., MSc. PhD Prof. Dr. Drs. IB Putra Yadnya, M.A.

Prof. Dr. Ir. I Gede Mahardika, M.S.

Dr. Ni Ketut Supasti Dharmawan, SH., MHum., LLM.

Prof. Dr. drh. I Nyoman Suarsana, M.Si Prof. Dr. Ir. I Gede Rai Maya Temaja, M.P.

Ir. Ida Ayu Astarini, M.Sc., Ph.D Prof. Dr. Ir. Nyoman Gde Antara, M.Eng

Dra. Ni Luh Watiniasih, MSc, Ph.D Prof. Dr. drh. Ni Ketut Suwiti, M.Kes.

Prof. Dr. Ir. I Made Alit Karyawan Salain, DEA.

Ir. I Nengah Sujaya, M.Agr.Sc., Ph.D.

Ir. Ida Bagus Wayan Gunam, MP, Ph.D dr. Ni Nengah Dwi Fatmawati, SpMK, Ph.D

Dr. Agoes Ganesha Rahyuda, S.E., M.T.

Putu Alit Suthanaya, S.T., M.Eng.Sc, Ph.D.

I Putu Sudiarta, SP., M.Si., Ph.D.

Dr. Ir. Yohanes Setiyo, M.P.

Dr. P. Andreas Noak, SH, M.Si I Wayan Gede Astawa Karang, SSi, MSi, PhD.

Dr. Drh. I Nyoman Suarta, M.Si l

Udayana University Press, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Udayana

2015, xli + 2191 hal, 21 x 29,7

SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2015

Kuta, 29 - 30 Oktober 2015

(4)

MODEL KEKUTAN KERJA SAMA PEMERINTAH-MASYARAKAT PADA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PARIWISATA DI BALI

Ida Bagus Putu Adnyana ... 1868

PENGUJIAN PEMANFAATAN MIKROKONTROLER SEBAGAI PENGENDALI PENGAMAN MOTOR INDUKSI TIGA FASA TERHADAP OVERLOAD

I Gst. Agung Putu Raka Agung , I Gst Agung K. Diafari Djuni H ... 1876

PENATARAN PEKERJA ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI DI DESA PAKRAMAN BEDHA KABUPATEN TABANAN

A. Ayu Oka Saraswati , I Wayan Kastawan Widiastuti Evert Edward Moniaga

A. ...1882

EVALUASI PENENTUAN KAPASITAS CB (CIRCUIT BREAKER) BERKAITAN DENGAN AKAN DIOPERASIKANNYA SUTET 500 KV (2.450 MW)

(JAWA BALI CROSSING) SEGARARUPEK – GILIMANUK - NEWANTOSARI PADA SISTEM KELISTRIKAN 150 KV BALI TAHUN 2017

Y P Sudarmojo, A I Weking ...1889

DAMPAK ELECTRONIC WORD OF MOUTH:

ADOPSI OPINI ONLINE PADA KOMUNITAS ONLINE KONSUMEN

A.A.G Agung Artha Kusuma, Ni Made Wulandari Kusumadewi ...1896

BIODIVERSITY LINGKUNGAN, SUMBERDAYA ALAM

PENGARUH KONSENTRASI LOGAM KROM (Cr)

PADA PROSES FITOREMEDIASI TANAMAN AKAR WANGI

Achmad Zubair1), Mary Selintung2), Lawalenna Samang3), Hanapi Usman ...1907

KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN DI LAHAN REHABILITASI BEKAS TAMBANG BATUBARA DI PT SINGLURUS PRATAMA

Ishak Yassir, Burhanuddin Adman, Syamsu Eka Rinaldi ...1915 PERBANYAKAN VEGETATIF ANGGREK DENDROBIUM ‘SONIA’

MENGGUNAKAN BATANG DEWASA PADA MEDIA YANG BERBEDA

Ida Ayu Astarini1), Made Ria De ani ...1923 SINTESIS DAN KARAKTERISASI ION IMPRINTED POLYMERS (IIPs)

Fulki Na la1), Muhammad Ali Zul kar1) Deana Wahyuningrum ...1929

SINTESIS DAN KARAKTERISASI KARBON AKTIF

TERMODIFIKASI ERIOCHROME BLUE BLACK DARI BIJI PEPAYA

Widya Wigati1), Muhammad Ali Zul kar1) Henry Setiyanto ...1933

(5)

Kuta, 29-30 Oktober 2015 | xxxix BIODESULFURISASI DIBENZOTHIOPHENE DENGAN BAKTERI PENDEGRADASI

SULFUR YANG DIISOLASI DARI LANGKAT SUMATERA UTARA

Ida Bagus Wayan Gunam1*), I Putu Hendra Prasetya1), Nyoman Semadi Antara1),

I Wayan Arnata1), Yohanes Setiyo2), I Gusti Ayu Lani Triani1) and A. A. M. Dewi Anggreni ...1938

IDENTIFIKASI SENYAWA AKTIF EKSTRAK DAUN JATI

(TECTONA GRANDIS L.F ) YANG BERPOTENSI SEBAGAI FUNGISIDA NABATI PADA JAMUR A. FLAVUS DENGAN MENGGUNAKAN GC-MS

Ni Putu Adriani Astiti1 dan Sang Ketut Sudirga ...1944

BIOREMEDIASI TANAH TERCEMAR LOGAM BERAT TIMBAL (PB)

MENGGUNAKAN TANAMAN HIAS YANG DIKOMBINASI DENGAN KOMPOS

Ni Made Susun Parwanayoni1), Ni Luh Suriani2) I Gusti Ayu Sugi Wahyuni ...1951

PRODUKSI MADU LEBAH TRIGONA PADA BEBERAPA SARANG ALAMI DI BALI

Ni Luh Watiniasih, Ni Made Suartini, I Ketut Junitha ...1957

PENINGKATAN KUALITAS RANSUM BERBASIS LIMBAH ISI RUMEN MELALUI FERMENTASI INOKULAN KONSORSIUM BAKTERI

I Made Mudita1), I Wayan Wirawan2), Ida Bagus Gaga Partama ...1961

DISTRIBUSI LIKEN GRAPHIDACEAE DI PULAU BALI

Junita Hardini, Rina Sri Kasiamdari, Santoso, dan Purnomo ...1969

KONSERVASI JALAK BALI (LEUCOPSAR ROTHSCHILDI) DI KEPULAUAN NUSA PENIDA DAN KEARIFAN AWIG-AWIG

Sudaryanto , Tjut Sugandawaty Djohan Satyawan Pudyatmoko, Jusup Subagja ...1974

PENDUGAAN AKUIFER BAWAH TANAH DENGAN METODA GEOLISTRIK

I Nengah Simpen, I Nyoman Sutarpa Sutama, I Wayan Redana, Siti Zulaikah ...1978

PEMBIAKAN MASSAL DAN POLA PENELURAN PREDATOR SYCANUS SP.

KA Yuliadhi, IN Wijaya, dan IDN Nyana ...1987

DINAMIKA SUHU PERMUKAAN LAUT DI WILAYAH PERAIRAN INDONESIA DAN SEKITARNYA SERTA HUBUNGANNYA DENGAN CURAH HUJAN DI INDONESIA

I Gede Hendrawan ...1991

PENURUNAN KANDUNGAN AMMONIA LIMBAH CAIR RUMAH SAKIT DENGAN TRIKLING FILTER DAN LAHAN BASAH

Iryanti Eka Suprihatin dan AAIA Mayun Laksmiwati ...1998

ANALISIS POTENSI DAN PEMANFAATAN AIR DALAM PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG WILAYAH KOTA DENPASAR

Ngakan Made Anom Wiryasa Nyoman Martha Jaya ...2003

PERSENTASE TUTUPAN TERUMBU KARANG DI PULAU NUSA-BAWEAN KABUPATEN GRESIK

Dwi Budi Wiyanto ...2016

(6)

PERSENTASE TUTUPAN TERUMBU KARANG DI PULAU NUSA- BAWEAN KABUPATEN GRESIK

Dwi Budi Wiyanto

Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana, Bukit Jimbaran, Badung Telp/Fax : 0361 224133,

Email : [email protected] ABSTRAK

Berkaitan dengan pengelolaan ekosistem terumbu karang, ketersediaan data yang akurat sangat dibutuhkan untuk mendukung arah kebijakan yang akan dilaksanakan, sehingga diperlukan penelitian tentang prosentase tutupan terumbu karang ini secara kontinyu. Tujuan penelitian ini adalah mengumpulkan data mengenai terumbu karang dan mengetahui persentase penutupan terumbu karang dalam rangka penyusunan basis data kondisi terumbu karang di perairan Pulau Nusa, Kabupaten Gresik.Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui persentase penutupan terumbu karang serta kondisi terumbu karang di Pulau Nusa-Bawean Kabupaten Gresik. Pengambilan sampel dilakukan di dua titik yang diambil secara acak dilokasi penelitian. Pengamatan biota benthik terumbu karang menggunakan metode transek garis menyinggung/TGM (English et al., 1997; Hills & Wilkinson, 2003). Transek garis dibentangkan sejajar garis pantai sepanjang 100 meter pada kedalaman 5 dan 10 meter, dengan asumsi pada kedalaman ini dapat mewakilkan kondisi karang sebagaimana diketahui terumbu karang biasanya tumbuh baik dengan keanekaragaman yang tinggi pada kedalaman ini. Berdasarkan hasil pengukuran pada stasiun I, persentase tutupan terumbu karang keras pada kedalaman 5 meter mencapai 30,77% dan pada kedalaman 10 meter mencapai 41,47%, menurut Gomes dan Yap, 1984, kriteria tersebut termasuk dalam kategori rusak sedang yaitu barada pada kisaran 25,0%-49,9%.

Hasil pengukuran persentase tutupan terumbu karang pada stasiun II pada kedlaman 5 meter yaitu sebesar 28,38 % dan pada kedalaman 10 meter yaitu 52,78%. Menurut Gomes dan Yap (1984), persentase tutupan terumbu karang yang berada pada kisaran 25 % - 49.9,9 % dikategorikan dalam kondisi rusak sedang, pada kedalaman 10 meter yaitu dikategorikan dalam kondisi baik dengan kisaran 50 % – 74.9 %.

Kata kunci: Persentase, Tutupan, Terumbu Karang, Pulau Nusa ABSTRACK

Related to the coral reef ecosystems managements, the availability of accurate data is highyly needed to sustain a policy that will be implemented, so the conttinuous study on the percentage of coral cover is necessary. This study objective is to collect data on coral reefs and determine the percentage of coral reefs cover in the framework of the preparation of the condition of coral reefs in the waters database of Nusa Island, Gresik District. This study aim is to know the percentage of coral reefs cover and coral reef conditioj in Nusa-Bawean Island Gresik. Sampling was performed at two points taken randomly at the research location. Coral reef benthic biota observation using line transect method of TGM (English et al., 1997; Hills & Wilkinson, 2003). Transect line laid parallel to a coastline of 100 meters at a depth of 5 and 10 meters, assuming at this depth could represent the condition known as coral reefs usually grows well enough with high diversity at this depth. Based on the measurements results on the  rst station, the percentage of hard coral cover at the depth of 5 meters reached 30.77% and at a depth of 10 meters reached 41.47%, according to Gomes and Yap, 1984, the criteria are included in the category of moderate damage which is in the range 25.0% -49.9%.

Percentage measurement results of the coral reef covers at the second station at the depth of 5 meters is 28.38% and at a depth of 10 meters is 52.78%. According to Gomes and Yap (1984), the percentage of

(7)

Kuta, 29-30 Oktober 2015 | 2017 coral reef cover in the range of 25% - 49.9,9% being categorized in a damaged condition, at a depth of 10 meters are categorized in good condition with a range of 50% - 74.9%.

Keywords: Percentage, Cover, Coral Reef, the island of Nusa I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia memiliki sekitar 50.000 km2 ekosistem terumbu karang yang tersebar di seluruh wilayah perairan Nusantara. Potensi lestari sumberdaya perikanan yang terkandung didalamnya diperkirakan sebesar 80.802 ton/km²/tahun. Pada tahun 2008, kondisi terumbu karang di Indonesia bagian barat sangat baik (5,47%); baik (27,56%); cukup (33,94%); kurang (33,03%). Terumbu karang di Indonesia bagian tengah memiliki kondisi sangat baik (5,11%); baik (30,29%); cukup (44,89%); kurang (19,71%). Kondisi terumbu karang Indonesia bagian timur berada pada kondisi sangat baik (5,88%); baik (17,28%); cukup (34,19%); kurang (42,65%).

Kerusakan terumbu karang lebih banyak diakibatkan oleh eksploitasi besar-besaran. Ancaman utama terumbu karang ialah penangkapan ikan berlebihan, praktek penangkapan ikan yang merusak, sedimentasi serta pencemaran yang berasal dari daratan. Aktivitas manusia saat ini diperkirakan mengancam 88%

terumbu karang Asia Tenggara, mengancam nilai biologi dan ekonomi yang amat penting bagi masyarakat.

Sekitar 50% dari terumbu karang yang terancam tersebut, berada pada tingkat keterancaman yang tinggi atau sangat tinggi. Hanya 12% di antaranya berada pada tingkat ancaman yang rendah (Lauretta et., al.

2002). Berkaitan dengan pengelolaan ekosistem terumbu karang, ketersediaan data yang akurat sangat dibutuhkan untuk mendukung arah kebijakan yang akan dilaksanakan, sehingga diperlukan penelitian tentang prosentase tutupan terumbu karang ini secara kontinyu.

1.3. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui persentase penutupan terumbu karang dalam rangka penyusunan basis data kondisi terumbu karang di perairan Pulau Nusa-Bawean Kabupaten Gresik

2. Mengetahui kondisi terumbu karang di perairan Pulau Nusa-Bawean Kabupaten Gresik

II. BAHAN DAN METODE 1.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Agustus 2015. Secara umum lokasi penelitian terletak di perairan Pulau Nusa-Bawean Kabupaten Gresik.

1.2 Alat dan Bahan Penelitian

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah, peralatan scuba diving, High Pressure Compressor, Deep Scan (pengukur kedalaman), Underwater Camera photo, Roll meter (untuk transek di bawah air), Alat tulis bawah air, Buku identi kasi karang dan GPS untuk menentukan titik lokasi.

1.3 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini adalah metode Line Intercept Transect (LIT).

Metode LIT merupakan metode yang paling sering digunakan, ditujukan untuk menentukan komunitas bentik di terumbu karang berdasarkan bentuk pertumbuhan dalam satuan persen, dan mencatat jumlah biota bentik yang ada sepanjang garis transek. Komunitas dicirikan dengan menggunakan kategori lifeform yang memberikan gambaran deskriptif morfologi komunitas karang. LIT juga digunakan untuk melakukan memonitor kondisi terumbu karang secara detail dengan pembuatan garis transek permanen.

Prosedur kerja untuk LIT adalah sebagai berikut ;

1. Pengamat terdiri atas minimal dua orang; satu orang bertugas untuk membuat transek sedangkan yang lainnya bertugas untuk mencatat kategori lifeform karang yang dijumpai.

(8)

2. Transek dibuat pada dua kedalaman (3 dan 10 meter). panjang transek adalah 100 meter. Garis transek dibuat dengan membentangkan roll meter yang memiliki skala sentimeter (cm).

3. Pengamat harus menguasai dan mengenal tipe-tipe bentuk pertumbuhan karang, baik karang hidup maupun biota lainnya.

4. Pengamat berenang dari titik nol hingga titik 100 meter mengikuti garis transek yang telah dibuat dan mencatat semua lifeform karang pada area yang dilalui oleh garis transek. Setiap life form harus dicatat lebarnya (hingga skala centimeter). Kategori lifeform dapat mengacu pada AIMS (English et al., 1994) atau COREMAP.

5. Bila memungkinkan, pengamat juga dapat mengidenti kasi jenis karang yang diamati minimal hingga taksa genus.

Gambar 1. Model Pencatatan Data Lifeform Karang

Persentase tutupan untuk masing-masing kategori lifeform karang dapat dicari dengan rumus berikut;

Persentase tutupan untuk seluruh kategori lifeform karang hidup dapat dicari dengan rumus berikut;

Tabel 1. Daftar lifeform dan masing-masing kode

(Sumber : English et al., 1994)

(9)

Kuta, 29-30 Oktober 2015 | 2019 Tabel 2. Kriteria Kondisi Tutupan Karang Berdasarkan Persentase Tutupan Karang Hidup.

(Sumber : Gomez dan Yap, 1984)

Penilaian suatu kondisi atau kesehatan dari ekosistem terumbu karang tidak hanya berpatokan pada persentase penutupan karang saja, karena bisa terjadi dua daerah memiliki persentase penutupan karang hidupnya sama namun mempunyai tingkat kerusakan yang berbeda. Tingkat kerusakan ini terkait dengan besarnya perubahan karang hidup menjadi karang mati. Rasio kematian karang dapat diketahui melalui indeks mortalitas karang dengan perhitungan (English et al., 1994) :

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Kondisi Terumbu Karang di Pulau Nusa Pada Stasiun I

Berdasarkan hasil pengamatan dan pengukuran di kedalaman 5 meter pada stasiun I, persentase tutupan terumbu karang keras mencapai 30,77%, persentase tutupan terumbu karang keras pada kedalam 5 meter tersebut termasuk dalam kategori rusak sedang, menurut Gomes dan Yap, 1984, kriteria tersebut termasuk dalam kategori rusak sedang yaitu barada pada kisaran 25,0%-49,9%. Sedangkan persentase tutupan karang mati mencapai 23,41%, selanjutnya biota lain sebesar 0,26 %. Kondisi substrat dasar perairan Pulau Nusa didominasi oleh abiotik yang mencapai 45,85%.

Gambar 2. Persentase penutupan (%) biota bentik di lokasi pengamatan stasiun I pada kedalaman 5 meter Pulau Nusa. IM adalah indeks mortalitas karang (%).

Gambar 3. Lifeform persentase penutupan (%) biota bentik pada stasiun I kedalaman 5 meter di Pulau Nusa

(10)

Hasil pengamatan dan pengukuran terumbu karang yang dilakukan di Pulau Nusa didominasi oleh Hard Coral (Non-Acropora) yaitu Coral Massive (CM) sebesar 20,24%. Sedangkan Dead Coral (DC) mencapai 22, 42%. kondisi substrat yang menutupi perairan di Pulau Nusa didominasi oleh abiotik yaitu rubble (patahan karang) dan pasir. Rubble (patahan karang) yang menutupi substrat perairan Pulau Nusa mencapai 23,27 % sedangkan pasir yang menutupi sustrat perairan Pulau Nusa mencapai 22,29 %.

Gambar 4. Kondisi substrat di Pulau Nusa pada stasiun I kedalaman 5 meter

Pengamatan dan pengukuran di Stasiun I pada kedalaman 10 meter memperlihatkan, penutupan terumbu karang hidup mencapai 41,47 %. Kondisi persentase tutupan terumbu karang keras pada kedalam 10 meter termasuk dalam kategori rusak sedang, menurut Gomes dan Yap, 1984, kriteria tersebut termasuk dalam kategori rusak sedang yaitu barada pada kisaran 25,0%-49,9%. Dua puluh persen karang hidup yang ditemukan di kedalaman 10 meter di dominasi oleh coral massif, dan sembilan persen lainnya diisi oleh karang Acropora meja (tabulate) dan karang non-Acropora dengan bentuk hidup bercabang, massif, submassif, lembaran, dan jamur, sedangkan Indek mortalitas karang mencapai 44,30 %. Kondisi pada kedalaman 10 meter juga diisi oleh karang mati yang mencapai 32,98 %, sedangkan Abiotik yaitu pasir dan rubble mencapai 23,02 %. Kondisi biota lain yang mengisi kedalaman 10 meter di perairan Pulau Nusa yaitu Biota lain yang mencapai 2,40% dan alge mencapai 0,13 %.

Gambar 5. Persentase penutupan (%) biota bentik di lokasi pengamatan stasiun I pada kedalaman 10 meter Pulau Nusa. IM adalah indeks mortalitas karang (%).

Gambar 6. Lifeform persentase penutupan (%) biota bentik pada stasiun I kedalaman 10 meter di Pulau Nusa

(11)

2022 | Kuta, 29-30 Oktober 2015

Gambar 9. Kondisi substrat di Pulau Nusa pada stasiun II kedalaman 5 meter

Berdasarkan hasil pengamatan bentuk pertumbuhan pada kedalaman 5 meter di stasiun II Pulau Nusa sangat bervariasi, bentuk pertumbuhan yang ditemukan yaitu mengerak, bercabang, mushroom, berbentuk meja. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa persentase penutupan karang hidup didominasi oleh Hard Coral dari golongan Non Acropora yaitu Coral Massif (CM) dengan persentase tutupan karang sebesar 17,5%, kemudian Coral Branching (CB) sebesar 1,7 %, Coral Encrusting (CE) sebesar 0,47 %, Mushroom (CMR) 0,13 %. Pada stasiun II ini juga ditemukan Hard Coral golongan Acropora yaitu Acropora Tabulate (ACT) sebesar 4,49 %, kemudian Acropora Branching (ACB) sebesar 2,43%, Acropora Digitate (ACD) sebesar 0,71 %, Coral Submassif (CS) sebesar 0,82 % dan Acropora Encrusting (ACE) sebesar 0,55 %.

Persentase tutupan tertinggi yang menutupi substrat perairan Pulau Nusa pada Stasiun II yaitu Dead Coral Algae (DCA) dengan persentase tutupan sebesar 24,68 %. Kemudian abiotik yaitu patahan karang (rubble) sebesar 22,65 % dan pasir (S) sebesar 22,38 %.

Gambar 10. Lifeform persentase penutupan (%) biota bentik pada stasiun II kedalaman 5 meter di Pulau Nusa.

Pengamatan pada kedalaman 10 meter memperlihatkan bahwa penutupan terumbu karang sangat luas, mencapai 52,78 %, kondisi persentase tutupan terumbu karang keras pada kedalam 10 meter termasuk dalam kategori baik, menurut Gomes dan Yap, 1984, kriteria tersebut termasuk dalam kategori baik yaitu barada pada kisaran 50 %-74.9 %. Komponen lain yang menutupi substrat dasar perairan Pulau Nusa di Stasiun II pada kedalaman 10 meter yaitu Abiotik dengan persentase 20,77 %. Kemudian terumbu karang mati yang ditemui di kedalaman 10 meter yaitu mencapai 19,93 %, tingkat kematian karang yang rendah ini juga turut mempengaruhi indek mortalitas karang (IM), yaitu mencapai 27,41 %. Substrat dasar perairan juga ditutupi oleh biota lain yaitu 5,97 % serta Algae (AL) sebesar 0,55 %.

(12)

11. Persentase penutupan (%) biota bentik di lokasi pengamatan stasiun II pada kedalaman 10 meter Pulau Nusa. IM adalah indeks mortalitas karang (%).

Gambar 12. Kondisi substrat di Pulau Nusa pada stasiun II kedalaman 10 meter

Gambar 13. Lifeform persentase penutupan (%) biota bentik pada stasiun II kedalaman 10 meter di Pulau Nusa

Hasil pengamatan dan pengukuran terumbu karang diperairan tersebut didominasi oleh Hard Coral dari golongan non acropora yaitu Coral Massif (CM) dengan persentase tutupan terumbu karang sebesar 24,24 %, kondisi coral massif yang ditemui dilokasi pengamatan masih berukuran kecil. Selain coral massif dilokasi pengamatan pada kedalaman 10 meter substrat dasar perairan juga ditutupi oleh Acropora Branching (ACB) dengan persentase tutupan terumbu karang sebesar 7,75 %, kemudian Coral Submassif (CS) sebesar 3,21 %, Coral Encrusting (CE) sebesar 0,20 % dan Coral Mushroom (CMR) sebesar 0,15 %.

Selain Hard Coral dari golongan non acropora, lokasi pada kedalaman 10 meter di stasiun II, ditemui Hard Coral dari golongan acropora yaitu Acropora Tabulate (ACT) dengan persentase tutupan sebesar 10,50 %, Acropora Branching (ACB) sebesar 3,26 % dan Acropora Digitate (ACD) sebesar 3,10 %.

Komponen lain yang menutupi substrat perairan di kedalaman 10 meter pada stasiun II yaitu Dead Coral (DC) dan Dead Coral with Algae (DCA). Kondisi terumbu karang mati yang menutupi substrat

(13)

perairan yaitu mencapai 19,93 %. Kondisi terumbu karang mati atau Dead Coral (DC) yaitu sebesar 6,12 % dan kondisi Dead Coral with Algae (DCA) sebesar 13,81 %. Beberapa komponen lainnya yang ditemui dilokasi pengamatan yaitu abiotik, kondisi pasir (S) yang menutupi substrat perairan pada kedalaman 10 meter yaitu mencapai 10,86 % dan patahan karang (R) yaitu sebesar 9,91 %. Biota lain yang ditemui yaitu Other (OT) sebesar 3,28 %, Soft Coral (SC) sebesar 2,03 %, Sponge (SP) sebesar 0,12 % dan Turf AIlgae (TA) sebesar 0,55 %.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan

Lokasi penelitian di perairan Pulau Nusa-Bawean memiliki persentase penutupan karang yang paling tinggi yaitu 52,78% pada kedalaman 10 meter di stasiun II, kategori terumbu karang hidup tersebut dalam kategori baik.

Kondisi terumbu karang hidup terendah yaitu pada kedalaman 5 meter pada stasiun II yaitu mencapai 28,38 yang termasuk dalam kategori rusak. Kerusakan terumbu karang di Pulau Nusa Bawean merupakan kerusakan yang diduga disebabkann oleh jangkar kapal, hal ini idtemukan banyak patahan terumbu karang disekitar Pulau Nusa.

4.2. Saran

Diharapkan kegiatan penelitian pemerintah perlu melakukan pemetaan kondisi terumbu karang sehingga diharapkan dapat melakukan kegiatan rehabilitasi kondisi terumbu karang yang rusak.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2009. Pemetaan Potensi Terumbu Karang di Jawa Timur. Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur.

Anonymous, 2010. Potensi Wilayah Pesisir Jawa Timur Kabupaten Probolinggo. Http:/www. Pemerintah kab.

probolinggo. go.id. Di akses 02 Mei 2010.

Anonymous, 2010. Wilayah Pesisir Provinsi Jawa Timur. Http:/www. provinsi jawa timur.go.id/potensi. php. Di akses 02 Mei 2010.

Bengen, D.G. 2000. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan-Institut Pertanian Bogor. Bogor, Indonesia.

Buddemeier, R.W. and Kinzie III, R.A. 1976. Coral growth . Oceanography Marine Biology Annual review. 14 : 183-225.

Dahuri, M., J.Rais., S.P. Ginting., dan M.J. Sitepu. 1996. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir Secara Terpadu. PT. Pradnya Paramita. Jakarta, Indonesia.

Dahuri, R. 2003. Keanekaragaman Hayati Laut : Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. Jakarta : PT.

Gramedia.

Dona, AR, JM Cervino, V Karachun, EA Lorence, E Bartels, K Hughen, GW Smith & TJ Goreau. 2008. Coral Yellow Band Disease; current status in the Caribbean, and links to new Indo- outbreaks.

Proceedings of the 11th International Coral Reef Symposium, Ft. Lauderdale, Florida, 7-11 July 2008.

English, S., C. Wilkinson and V. Baker.1994. Survey manual for Tropical marine Resources. Australian Institute of Marine Science, Townsville. Australia.

Gomez, E.D. and H.T. Yap. 1984. Monitoring Reef Condition. In: Coral Reef Management Handbook. R.A.

Kenchingt6on and B.E.T. Hudson (Eds). Unesco Publisher, Jakarta, p. 171.

Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis.Alih bahasaoleh M. Eidman., Koesoebiono., D.G. Bengen., M. Hutomo., S. Sukardjo. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta, Indonesia. Raymundo, LJ, Couch

CS, Harvell CD (eds) 2008. Coral disease handbook: guidelines for assessment,

monitoring & management. Coral Reef Targeted Research and Capacity Building for Management Program, Australia. 122 pp.

Sukarno, Malikusworo, K. M. Mohammad dan D. Prapto. 1981. Terumbu karang di Indonesia : Sumber daya, permasalahan dan Pengelolaannya. Proyek penelitian Potensi Sumber Daya Alam Indonesia LON-LIPI, Jakarta.

Supriharyono. 2000. Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang. Penerbit Djambatan. Jakarta. 108 hlm.

Tomascik, T, AJ. Mah, A. Nontji, M.K. Moosa. 1997. The Ecology of the Indonesian Seas. Part 1. Periplus Editions.

Singapore. 642 pp.

2024 | Kuta, 29-30 Oktober 2015

Gambar

Gambar 1.  Model Pencatatan Data Lifeform Karang
Gambar 3. Lifeform persentase penutupan (%) biota bentik pada stasiun I kedalaman 5 meter di Pulau Nusa
Gambar 4. Kondisi substrat di Pulau Nusa pada stasiun I kedalaman 5 meter
Gambar 9. Kondisi substrat di Pulau Nusa pada stasiun II kedalaman 5 meter
+2

Referensi

Dokumen terkait

Perbandingan data terumbu karang tahun 2010 dengan 2016 menunjukkan tidak ada perubahan yang berarti pada tutupan karang keras, artinya sejauh ini ekosistem terumbu karang

Kelebihan metode ini yaitu mampu mengetahui area penutupan terumbu karang di area yang luas, juga memberikan estimasi tutupan terumbu karang, tipe karang yang dominan, dan 94..

Pengamatan yang dilakukan pada ekosistem terumbu karang di kedalaman perairan dangkal dan dalam pada Pulau Putri, Macan Kecil dan Kayu Angin Genteng, diketahui bahwa tutupan

Pengamatan yang dilakukan pada penelitian ini terdiri dari pengukuran kondisi tutupan sponge dan makroalga pada karang keras serta tutupan terumbu karang pada struktur

Hubungan antara kelimpahan ikan kepe-kepe dengan Persentase Penutupan Karang pada kedalaman 3 meter adalah kuat dan positif, sedangkan pada kedalaman 10 meter adalah

Data parameter kesesuaian wisata snorkeling yang terdiri dari: kecerahan perairan, kecepatan arus, kedalaman terumbu karang, lebar hamparan dasar karang, tutupan karang,

Metode LIT pada Stasiun Pengamatan 3 meter disajikan pada Gambar 3, diketahui bahwa kondisi tutupan karang hidup di pulau Matas pada kedalaman 3 meter sebesar 91,02 %, artinya

Kondisi tutupan terumbu karang di Pulau Untung Jawa berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan menunjukkan bahwa persentase rata-rata tutupan karang keras (hard coral)