i
SKRIPSI
SUMARDI 10541080814
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SENI RUPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2020
i
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana (SI) Pada Program Studi Pendidikan Seni Rupa
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
SUMARDI 10541080814
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SENI RUPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2020
viii
memberi kekuatan dan kesehatan kepada peneliti sehingga Skripsi yang berjudul
“Transformasi Seni Menggambar Dengan Teknik Scribble pada karya Khoirul Anwar di Kota Malang, Jawa Timur”, dapat diselesaikan. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Yang telah menyinari dunia ini dengan cahaya Islam.
Peneliti menyadari bahwa sejak penyusunan proposal sampai skripsi ini selesai, banyak hambatan, rintangan dan halangan. Namun berkat bantuan, motivasi dan doa dari berbagai pihak semua ini dapat teratasi dengan baik.
Peneliti juga menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan sehingga peneliti mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan skripsi ini. Peneliti berharap dengan selesainya skripsi ini, bukanlah akhir dari sebuah karya, melainkan awal dari semuanya, awal dari sebuah perjuangan hidup.Semoga apa yang telah mereka berikan kepada peneliti, menjadi kebaikan dan cahaya penerang kehidupan di dunia dan di akhirat.
Selanjutnya ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya peneliti sampaikan kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H. Abd. Rahman Rahim, MM., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.
ix
Pendidikan Seni Rupa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
4. Bapak Makmun,S.Pd., M.Pd., sebagai Sekretaris Prodi Pendidikan Seni Rupa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
5. Yth. Dr. Andi Baetal Mukaddas, S.Pd., M.Sn., sebagai pembimbng I, dengan segala kerendahan hatinya telah meluangkan waktunya untuk memberikan arahan dan bimbingan kepada peneliti dalam penyusunan skripsi ini.
6. Yth. Dr. Muh. Faisal, S.Pd., M.Pd., sebagai Pembimbing II, dengan segala kerendahan hatinya telah meluangkan waktunya untuk memberikan arahan dan bimbingan kepada peneliti dalam penyusunan skripsi ini.
7. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan banyak ilmu dan berbagi pengalaman selama peneliti menuntut ilmu di Program Studi Pendidikan Seni Rupa.
8. Teristimewa sekali peneliti sampaikan ucapan terimakasih yang tulus kepada kedua orang tua tercinta, Ayahanda H. Abd Latif, dan Ibunda Hj.
Cenning atas segala pengorbanan, pengertian, kepercayaan, dan segala doanya sehingga peneliti dapat sampai pada titik ini. Dan juga semua keluarga atas segala dukungan, bantuan, serta nasihatnya selama ini.
x
Magang 3, dan teman-teman di rumah yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih atas kerjasama dan kekompakan yang diberikan selama menjalani kegiatan perkuliahan. Kebersamaan ini akan menjadi sebuah kenangan yang indah dan tidak akan bisa terlupakan sampai akhir hayat.
11. Terima kasih kepada Nurul Istihara dan keluarga yang telah memberikan semangat dan dukungan kepada peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini.
12. Semua pihak yang telah memberikan bantuan yang tidak sempat penulis sebutkan satu persatu.
Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi peneliti. Dan semoga apa yang kita lakukan ini dapat bernilai ibadah di sisi-Nya, dan kita semua selalu dalam lindungan-Nya. Aamiin.
Makassar, Juni 2020
Peneliti
xiii
Gambar 2.2 Kerangka Pikir... 28
Gambar 3.1 Desain Penelitian ... 32
Gambar 3.2 Reduksi data ... 35
Gambar 4.1 Gambar Karikatur Karya Khoirul Anwar... 37
Gambar 4.2 Gambar Realis Karya Khoirul Anwar ... 38
Gambar 4.3 Scribble Realis Motif Emosi Marah Karya Khoirul Anwar ... 48
Gambar 4.4 Kaligrafi Teknik Scribble Karya Khoirul Anwar ... 50
Gambar 4.5 Scribble Motif Minimalism Karya Khoirul Anwar ... 53
Gambar 4.6 Lukisan Teknik Scribble Karya Khoirul Anwar ... 55
Gambar 4.7 Transisi Karya Khoirul Anwar Bulan April Tahun 2015 ... 63
Gambar 4.8 Transformasi Karya Khoirul Anwar Bulan Juni Tahun 2015 ... 64
Gambar 4.9 Transisi Karya Khoirul Anwar Bulan Juli Tahun 2015 ... 64
Gambar 4.10 Khoirul Anwar Mulai Berkarya Lebih Banyak ... 65
Gambar 4.11 Transisi Karya Khoirul Anwar Bulan Juli Tahun 2015 ... 66
Gambar 4.12 Transisi Karya Khoirul Anwar Bulan Juli Tahun 2015. ... 67
xiv
Gambar 4.15 Transisi Karya Khoirul Anwar Bulan September Tahun 2015 ... 70
Gambar 4.16 Transisi Karya Khoirul Anwar Bulan September Tahun 2015 ... 70
Gambar 4.17 Transisi Karya Khoirul Anwar Bulan November Tahun 2015 ... 71
Gambar 4.18 Transisi Karya Khoirul Anwar Bulan Desember Tahun 2015 ... 72
Gambar 4.19 Transisi Karya Khoirul Anwar Bulan Januari Tahun 2016... 72
Gambar 4.20 Transisi Karya Khoirul Anwar Bulan Februari Tahun 2016... 73
Gambar 4.21 Transisi Karya Khoirul Anwar Bulan Maret-April Tahun 2016 ... 74
Gambar 4.22 Karya Khoirul Anwar Bulan Desember -Mei Tahun 2017 ... 74
Gambar 4.23 Transisi Karya Khoirul Anwar Bulan Juli Tahun 2017 ... 75
Gambar 4.24 Transisi Karya Khoirul Anwar Bulan Agustus Tahun 2017 ... 75
Gambar 4.25 Transisi Karya Khoirul Anwar Bulan Agustus Tahun 2017 ... 76
Gambar 4.26 Transisi Karya Khoirul Anwar Bulan Oktober Tahun 2017 ... 77
Gambar 4.27 Cover Buku Karya Khoirul Anwar Bulan Mei Tahun 2018 ... 78
Gambar 4.28 Transformasi Karya Khoirul Anwar Bulan Juli Tahun 2018 ... 79
Gambar 4.29 Transisi Karya Khoirul Anwar Bulan Agustus Tahun 2018 ... 80
xv
Gambar 4.32 Transisi Karya Khoirul Anwar Bulan Oktober Tahun 2018 ... 82
Gambar 4.33 Transisi Karya Khoirul Anwar Bulan Januari Tahun 2019... 82
Gambar 4.34 Transformasi Karya Khoirul Anwar Bulan Februari Tahun 2019 .. 83
Gambar 4.35 Transisi Karya Khoirul Anwar Bulan Maret Tahun 2019... 84
Gambar 4.36 Transisi Karya Khoirul Anwar Bulan Juli Tahun 2019 ... 85
Gambar 4.37 Transisi Karya Khoirul Anwar Bulan September Tahun 2019 ... 85
Gambar 4.38 Transisi Karya Khoirul Anwar Bulan September Tahun 2019 ... 86
Gambar 4.39 Transisi Karya Khoirul Anwar Bulan Desember Tahun 2019 ... 86
Gambar 4.40 Transformasi Karya Khoirul Anwar Bulan Januari Tahun 2020 .... 87
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Seni menggambar dalam sejarah seni rupa merupakan hal yang paling dasar dalam dunia seni rupa. Dimulai zaman prasejarah orang-orang menggambar di gua dengan batu, darah, dan bahan-bahan tumbuhan. Sehingga berkembangnya zaman, seni menggambar juga bertransformasi dengan mengikuti berkembangnya zaman.
Zaman batu orang-orang menggambar dalam gua mengikuti bentuk- bentuk yang ada pada alam, makhluk hidup dan yang ada sekitarnya, dengan menggunakan batu sebagai alat dan digosok ke dinding-dinding gua yang sebagai media untuk menggambar. Tentunya memiliki fungsi sebagai alat komunikasi lewat gambar-gambar di dinding gua.
Seni menggambar pun berkembang dengan alat tulis di media kertas pada masa modern sehingga fungsi seni menggambarpun bertransformasi, pada saat zaman batu orang-orang menggambar sebagai alat komunikasi sedangkan seni menggambar di zaman modern memiliki fungsi untuk mengabadikan moment potret diri dan peristiwa di masa tersebut.
Memasuki zaman kontemporer memiliki fungsi dari masa-masa sebelumnya. Begitupun juga dengan fungsi seni menggambar, seni menggambar tidak hanya diartikan dalam pengertian sempit dan hanya
1
berkenan dengan potret orang sebagaimana yang diartikan selama ini, namun seni menggambar dalam pengertian yang seluasnya. Tradisi seni menggambar di Indonesia telah berakar cukup lama sejak abad abad klasik Indonesia (abad ke-8-15 M), masa berkaryanya Raden Saleh Syarif Bustaman (abad ke-19), hingga zaman sekarang ini yang melahirkan cukup banyak maestro seni menggambar potret.
Seni menggambar yang dimaksudkan adalah sesuatu yang menggambarkan fenomena kebudayaan, kegiatan masyarakat, dan sekelompok orang dalam konteks kebudayaannya, selain lukisan yang menggambarkan tokoh-tokoh dalam format menggambar potret seperti potret para negarawan atau tokoh tertentu. Jadi yang dimaksud dengan mengambar potret adalah pengertian luasnya, yaitu menggambar yang memotret juga suasana dan fenomena kebudayaan beserta masyarakat pendukungnya, memotret kehidupan di sekitar kita.
Seni menggambar bertujuan untuk menampilkan atau menggambarkan visual dari objek sama persis ke dalam media dua dimensi. Seni menggambar diharapkan tidak hanya menampilkan karya akhir yang berwujud sesuai dengan makna kemiripan secara harfiah saja, tetapi juga harus mampu menunjukkan representasi tertentu di balik menggambar tersebut. Baik karakter, esensi batin, ekspresi ataupun sisi lain dari objek (dari sudut pandang sang seniman). Sebagaimana pernyataan Aristoteles dalam buku The Art of Portrait Painting, “Tujuan Seni menggambar adalah bukan hanya untuk menyajikan hal penampilan luarnya atau eksternalnya dengan detail saja,
tetapi juga batin mereka, bila itu terwujud maka dapat dikatakan merupakan realitas sejati.” (dalam Aymar, 1967: 119). Dengan demikian diharapkan karya yang dihasilkan mampu menunjukan cita rasa, nilai, dan pemaknaan yang berbeda dengan hasil fotografi.
Teknik menggambar dari masa ke masa secara umum yang secara kreatif membuat sesuatu, meskipun tak lari dari objek tiruan (mimesis) yang dilakukan seniman, namun teknik menggambar semakin berkembang. Dari yang tidak mirip, hampir mirip dengan objek, sehingga yang paling mirip (hyper realis), dan yang acak-acak tak beraturan (abstrak), (Hauskeller, 2008:9).
Gagasan atau ide berkarya seni menggambar dapat digali dari mengeksplorasi objek benda atau peristiwa dan aktivitas makhluk hidup beserta alam sekitarnya. Gagasan seni memggambar bagi seniman dapat menghasilkan suatu gaya menggambar yang membedakan antara satu seniman dan seniman lainnya. Seni lukis memiliki beragam gaya arsiran semakin hari semakin berkembang. Beberapa aliran atau gaya seni memggambar mancanegara yang dikembangkan dan disesuaikan oleh para seniman Indonesia, salah satunya Teknik Scribble.
Teknik Scribble suatu hal yang baru dalam seni menggambar, berkembangnya Teknik Scribble di dunia sehingga pada tahun 2013 mulai masuk di Indonesia. Scribble mempunyai keunikan tersendiri dan berbeda dengan teknik menggambar yang lainnya, sehingga apresiasi dan minat masyarakat untuk mengetahui Teknik Scribble semakin meningkat. Beberapa
kota di Indonesia telah mendirikan komunitas Scribbeuntuk mewadahi masyarakat yang ingin mengetahui lebih jauh tetang teknik Scribbe.
Khoirul Anwar merupakan salah satu seniman yang mempolopori Teknik Scribble di Indonesia tepatnya di Kota Malang, Jawa Timur. Khoirul Anwar mengenal Teknik Scribble pada akhir tahun 2013, awalnya Khoirul Anwar terinspirasi dari karya beberapa seniman yang juga menggunakan Teknik Scribble. Sejak saat itu Khoirul Anwar menyukai Teknik Scribble dan mulai membuat karya dengan menggunakan Teknik Scribble pada setiap karyanya. Khoirul Anwar telah menghasilkan kurang lebih dua ribuan karya hingga menembus pasar mancanegara dan membuat satu buku yang berjudul
“Panduan Mudah Menggambar Portrait Scribble”. Berkat keuletannya dalam membuat karya Scribble, Khoirul Anwar mengantongi sejumlah prestasi yang membanggakan.
Berdasarkan latar belakang tersebut penulis tertarik melakukan penelitian yang berjudul “Transformasi Seni Menggambar Dengan Teknik Scribble pada karya Khoirul Anwar di Kota Malang, Jawa Timur”.
B. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dalam penelitian ini difokuskan pada: Bagaimana transformasi seni menggambar dengan menggunakan Teknik Scribble pada karya Khoirul Anwar?
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui Transformasi Seni Menggambar Khoirul Anwar di Kota Malang, Jawa Timur.
2. Untuk mengetahui Tranformasi Teknik Scribble pada karya Khoirul Anwar di Kota Malang, Jawa Timur.
D. MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan mendapatkan hasil yang diinginkan sesuai dengan tujuan penulis dan mempunyai manfaat sebagai berikut:
1. Bagi Peneliti, dapat memberi pengalaman pengetahuan bidang penelitian dan penulisan. Dan memahami proses Transformasi Seni Menggambar Dengan Teknik Scribble Pada Karya Khoirul Anwar di Kota Malang, Jawa Timur.
2. Bagi lembaga/institusi, Hasil penelitian Transformasi Seni Menggambar Dengan Teknik Scribble Pada Karya Khoirul Anwar di Kota Malang Jawa Timur, diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan, menambah literatur kepustakaan, dibidang karya seni rupa.
3. Bagi masyarakat luas diharapkan dapat memberi pengetahuan dan pemahaman tentang perkembangan seni rupa di Indonesia khususnya Teknik Scribble Pada Karya Khoirul Anwar di Kota Malang Jawa Timur.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. KAJIAN PUSTAKA 1. Penelitian Terdahulu
a. Lita Arafu (2013), Mengangkat penelitian skripsi dengan judul
“Makna Dan Tema Lukisan Karya Vivi Kurnia Kumalasari” di Jurusan Pendidikan Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta. Perbedaan dari penelitian ini, penelitian ini menafsirkan pemaknaan sebuah karya dari seniman gadis cilik dengan gambar-gambar spontan dari watak anak-anak. Sedang penilitian penulis, meski sama dengan penggarapan dengan coretan tak beraturan, tentunya penggarapan anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Objek penulis membuat gambar dengan pola yang ideal meski bentuk Scribble. Dan penulis juga tidak menafsirkan secara pemaknaan dari seniman, tapi tranformasi teknik penggarapan dalam berkarya.
b. Benji Pujianto (2010), Mengangkat penelitian skripsi dengan judul
“Studi tentang Proses Pembelajaran Menggamabr Ekspresi Pada Siswa Kelas Rendah di Sekolah Dasar Negeri Tangkil 01 Kecematan Walingi Kabupaten Blitar” di Jurusan Pendidikan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Perbedan penilitian ini dengan penelitian penulis tulisan 2010 ini meneliti tentang prorses
6
pembelajaran ekspresi hampir sama karena seni menggambar dengan ekspresi, namun penelitian tersebut tidak mengungkap transformasi pada objek yang diteliti yaitu siswa sekolah dasar hanya pada perspektif pada masa tersebut gaya gambar ekspresi pada objek peneliti. Sedang si peneliti mengugkap transformasi dari satu Teknik Scribble dan proses pembuatan dari transformasi masa ke masa pada objek penelitian.
2. Teori Transformasi
Istilah transformasi pada dasarnya berasal dari dua kata dasar yakni
“trans” dan “form”. Trans memiliki makna melintasi dari satu sisi ke sisi lainnya (across) atau melampaui (beyond) dan kata form berarti bentuk.
Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988), transformasi adalah sebuah kata benda yang berarti perubahan rupa, bentuk (sifat, fungsi, dan sebagainya).
Pengertian transformasi jika ditinjau dari segi bahasa adalah perubahan bentuk. Perubahan dari benda asal menjadi benda jadiannya. Baik perubahan yang sudah tidak memiliki atau memperlihatkan kesamaan atau keserupaan dengan benda asalnya maupun perubahan yang benda jadiannya masih menunjukkan petunjuk-petunjuk benda asalnya, (Prijotomo, 1992).
Menurut Aprillia (2006: 23) “transformasi adalah penggabungan beberapa objek dalam bentuk baru yang menjadi tidak jelas bentuk
asli/dasarnya. Bisa dikatakan penggabungan tersebut adalah suatu peralihan dari bentuk semula menjadi bentuk yang baru.” Transformasi dalam bentuk kata kerja menjadi mentransformasikan, yang berarti mengubah rupa, bentuk (sifat, fungsi, dan sebagainya) yang juga berarti mengalihkan.
Jadi, transformasi dapat diartikan sebagai suatu perubahan atau perpindahan bentuk yang jelas dengan pemakaian kata transformasi menjelaskan perubahan yang bertahap dan terarah namun tidak secarara dikal. Dalam penelitian ini adalah transformasi seniman gambar dalam Teknik Scribble pada karya Khoirul Anwar dalam hal ini karya Scribble yang bertransformasi ke Teknik Scribble dengan penambahan- penambahan barupa sebuah karya.
3. Seni Menggambar
a. Teori seni menggambar
Gambar, menurut Bapak Seni Rupa Indonesia Modern Sudjojono (1946), merupakan proses jiwa dan tidak berdasarkan apa yang dilihat mata saja. Beliau juga menambahkan bahwa jiwa manusia tidak terdiri dari satu kamar klise saja. Mata manusia memang memiliki kinerja yang hampir sama dengan lensa kamera, tetapi tidak sepenuhnya seperti itu. Lebih mudahnya, manusia memiliki interpretasi yang berbeda-beda. Dalam menjelaskan lebih jauh tentang
gambar, Sudjojono menggunakan perumpaan seorang yang akan melukis seekor burung. Pelukis tersebut harus melihat seekor burung sebagai objek gambarnya. Lewat perantaraan matanya, jiwa pelukis tersebut mendapat gambar burung lalu memproses apa yang dilihatnya dalam pikirannya. Setelah itu, barulah sang pelukis mulai menggambar burung tersebut.
Menurut Degas (1834-1917) Menggambar adalah ekspresi langsung dan spontan dari seorang seniman. Degas juga berpendapat bahwa menggambar juga merupakan sebuah bentuk tulisan yang mengungkap kepribadian seniman yang membuatnya.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa, menggambar adalah suatu karya seni yang tidak hanya berupa tiruan, tetapi di dalamnya juga terdapat interpretasi manusia yang menggambarnya, dengan menggambar seorang seniman memperlihatkan kepribadiannya.
Gambar yang dibuat menunjukkan bagaimana perasaan dan jiwa seorang seniman pada saat membuatnya.
b. Seni menggambar masa Pra-Sejarah
Berbicara tentang karya seni prasejarah, lazimnya citra yang muncul ialah gambar-gambar dalam gua. Sejatinya, gambar-gambar gua itu, berasal dari zaman Poleolitik Tinggi: sekitar 15.000 tahun SM Altanina maupun Lascaux. Meskipun pernyataan ini masih
ditangguhkan dalam sejarah, Georgaes Bataille menegaskan “ya”
pernyatan initersebut. Disebabkan Teknologi Oldown” muncul setelah masa ini, yaitu antara zaman Poleolotik tengah hingga masa Poleolitik rendah, (dalam Surajaya, 2016:10). “Sejarah seni menggambar gua yang merentang antara tahun 16.000-10.000 SM kebudayaan gambar- gambar gua yang disebut “budaya Magdelenian”,” Currie (2009: 1).
Peninggalan Seni Rupa Zama Batu Tua (Paleolitichum) yang terkenal dizaman ini adalah ditemukannya terbentang di Eropa Barat ke ujung paling Selatan yang berasal dari zaman ini adalah gua Altamira di Spanyol Utara dan Lascana (Laskau) di Prancis. Gambar-gambar yang ditemukan di gua Altamira oleh Marchiro da Sautuola, (Surajaya, 2016: 10).
c. Seni menggambar masa Modern
Seni Menggambar Modern Eropa memberikan berbagai alternatif dan permasalahan yang rumit dan sulit dipahami, seperti hubungan tidak terpisahkan antara seni dengan kehidupan. seni menggambar dengan kehidupan merupakan suatu komposisi yang menyeluruh seperti halnya individualitas.
Dan bermunculnya aliran-aliran seni rupa lainnya yang tentunya akan jenis-jenis dan gaya menggambar dalam seni rupa, (Dharsono, 2004:80).
Perkembangan seni rupa modern khususnya di Amerika Serikat, hingga Tahun 1920-an dipengaruhi oleh seni realities Eropa. Tetapi pada tahun 1913 di New York diperkenalkan seni modern. Beberapa seniman dengan spontan menerima pikiran- pikiran baru ini. Masa ini bermuculannya seni abstrak. Seni menggambar selama Tahun 1930-an bersifat eksperime nyang mengarah ke Geometris-Abstrack, seperti Piet Mondarian seniman yang banyak pengikutnya sehingga menjadi simbol dan tokoh bagi seniman abstrak Amerika. Kemudian muncullah Ekspresionisme-Abstrack yang menentang adanya Abstrack Geometris. Eksprisinisme-Abstrack berkembang menjadi gerakan yang paling kuat dan orisinil dalam sejarah seni menggambar di Amerika. Sehingga munculnya Suprematisme yang lahir di Moskow sekitar tahun 1913, (Dharsono, 2004:
98).
d. Seni Menggambar masa Kontemporer
Seni menggambar kontemporer merupakan suatu pelepasan dari seni menggambar itu sendiri. Seni menggambar mulai memperlihatkan “sikap anehnya” setelah fotografi ditemukan pada abad 19. Beberapa ahli sejarah seni berpendapat bahwa penemuan fotografi telah mengakhiri otoritas seni lukis dalam hal “meniru alam”. Konsep art imitating nature dengan sendirinya mendekati
kuburan. Tidak ada seniman gila yang mau bersaing dengan fotografi dalam hal: kecepatan, ketepatan, keakuratan, dan kemiripan. Masa itu disebut sebagai masa krisis representasi realitas atau awal penyebab kelahiran seni menggambar modern.
Sejak itu seni menggambar mengambil langkah baru untuk memapankan kembali otoritasnya, yaitu menggambar realitas dengan cara yang tidak bisa dilakukan fotografi. Paul Cezanne (ini biangnya seni menggambar modern) termasuk yang pertama menerapkan langkah itu dengan menggambar efek pencerapan dari realitas. Dia menggambarkan pandangan subjektif dari realitas dengan memasuk unsur ketidakpastian di dalamnya. Artinya, persepsi kita terhadap suatu objek, baik keragaman sudut pandang maupun keraguan apa yang kita lihat diakumulasikan ke dalam kanvas sebagai konsep menggambar.
Seni menggambar modern mengalami krisis pada awal tahun 1970. Penyebab terjadi krisis ini, antara lain, adalah penciptaan karya seni menggambar menjadi terlalu mudah. Setiap gaya dari sebuah karya yang baru diciptakan seolah-olah telah ada sebelumnya. Karena penciptaan karya yang terlalu mudah dan jenis karya seni menggamabarpun tidak terbatas jumlahnya, maka timbul kekaburan batas-batas estetika. Sampai akhirnya ada seruan bahwa segala sesuatu telah sampai pada akhir. Kalaupun praktik seni lukis masih
berlanjut maka semata-mata hanya menampilkan kekosongan makna.
Di tengah kekacauan ini seni menggambar kontemporer muncul.
Kemunculan seni menggambar masa kontemporer ditandai dengan tidak ada lagi aturan atau kategori yang dipakai untuk menghakimi sebuah karya yang tidak lazim. Aturan-aturan atau kategori-kategori adalah apa yang dicari oleh karya seni itu sendiri.
Seniman berkarya tanpa aturan untuk menemukan aturan dari apa yang telah dilakukannya.
Seni menggambar masa kontemporer tidak peduli dengan estetika atau bahkan membuang sama sekali proses estetika. Sering kali karya-karya seni lukis ini hanya membuat shock penonton daripada kesenangan estetik. Seni menggambar ini terkadang tidak bisa lepas dari ideologi politik dan diperalat untuk memperjuangkan kepentingan ideologi yang bersifat advokatif. Akibatnya, banyak karya-karya menggambar kontemporer yang hadir dengan penampilan radikal untuk menarik perhatian. Para seniman seni menggambar kontemporer yakin bahwa seni bisa digunakan sebagai salah satu alat untuk perubahan sosial.
Begitulah seni menggambar berubah wajah dari waktu ke waktu hingga berwajah seperti sekarang ini. Meskipun demikian ada saja yang mengapresiasi hingga karya tersebut dapat bertahan hidup.
Di sisi lain ada kekuatan yang bermodal besar yang melegitimasinya menjadi sebuah selera. Tentu saja selera pasar. Mereka adalah para
pedagang seni dan kolektor-kolektornya. Dengan kreativitas “olah”
mereka merubah karya seni menjadi komoditi yang layak dijual. Yang mengejutkan seniman yang ‘anti pasar’ sekalipun tidak mampu menolak karyanya dilegitimasi, (Efendi, 2011.
https://bct222renita.wordpress.com/sejarah-seni-lukis-kontemporer/).
Seni rupa kontemporer adalah sosok yang selalu menjadi sorotan kontroversi masyarakat. Meskipun sederhananya seni rupa kontemporer adalah seni masa kini yang tengah mengalami proses perkembangan, namun representasinya tidak sesederhana itu. Wujud dari ide dan wacananyalah yang selalu menimbulkan kontroversi.
Tidak seperti Seni klasik yang telah mapan dan berada pada puncak penciptaan tertinggi pada suatu masyarakat, Seni kontemporer itu radikal, sulit dipahami bahkan tidak sedikit publik yang dibuat gerah karenanya. Maka dari itu subjek ini sangat penting untuk dipahami agar kita dapat mengikutinya atau bahkan mematahkan idenya.
Pengertian seni rupa kontemporer berarti seni rupa yang diciptakan terikat pada berbagai konteks ruang dan waktu yang menyelimuti seniman, audiens dan medannya. Istilah kontemporer sendiri berasal dari Bahasa Inggris “contemporary” yang berarti apa-apa atau mereka yang hidup pada masa yang bersamaan (Maryanto, 2000).
Artinya Seni rupa kontemporer bersifat kekinian karena diciptakan di masa yang masih bersamaan dengan kita dan dunia seni
secara umum. Istilah “seni rupa kontemporer” tidak dapat diterjemahkan begitu saja sebagai seni masa kini seperti yang dijelaskan di atas. Istilah seni rupa kontemporer di dunia masih menimbulkan perdebatan. Terutama karena tidak ada ciri khusus yang dominan dan dapat dirujuk untuk menunjuk pada suatu praktik atau bentuk seni yang baku. Hal itu sangat wajar karena bentuk seni rupa ini sendiri masih dalam tahap perkembangan, bahkan berkembang dengan kita baik sebagai seniman, kritikus maupun hanya sekedar penikmat. Seni rupa di Barat, wacana seni rupa kontemporer dimulai dengan menunjukkan pada berakhirnya era modernisme dalam seni rupa (modern art).
Sebab-sebab terjadinya krisis itu diantaranya adalah penciptaan karya seni rupa yang menjadi terlalu mudah. Setiap gaya dari sebuah karya yang baru saja diciptakan seolah-olah telah ada sebelumnya. Kritikus seni Harold Rosenberg menyebut fenomena ini dengan istilah dejavu dalam Bahasa Perancis yang berarti ‘pernah dilihat’, (Sumartono, 2000: 22).
Berakhirnya era seni rupa modern memunculkan kebutuhan untuk terminologi baru. Munculah istilah post modernism (masa setelah modern) sebagai penggantinya. Kemudian istilah itu dipakai dalam praktik seni rupa di Barat yaitu karya seni yang berkecenderungan dengan post modernism (masa setelah modern).
Namun penggunaan istilah post modernism ternyata mengandung
persoalan. Hal itu karena kompleksitas dan keragaman pengertian yang dibawanya. Pada akhirnya istilah yang lebih banyak digunakan adalah seni rupa kontemporer.
Seni rupa kontemporer dapat dikatakan sebagai wacana dalam praktek seni rupa di Barat yang praktiknya menunjuk kepada kecenderungan masa post modernism. Kecenderungan tersebut secara tidak langsung menyiratkan wacana dalam seni rupa yang anti modern. Hal itu disebabkan karena salah satu paradigma kemunculan posmodern adalah paradigma yang menolak modernisme. Sifat-sifat modern yang ditolak adalah semangat universalisme dalam budaya, kolektivitas, membelakangi tradisi, mengedepankan teknologi dan individualitas. (Pirous, 2000).
Melalui perjalanannya, sifat-sifat modern dianggap mengesampingkan berbagai produk kesenian non Barat yang dianggap lebih rendah dari seni modern karena bersifat tradisional.
Sifat itulah yang ditentang oleh para seniman post modernism. Karena sifat-sifat modern dianggap tidak mengakui karya seni rupa tradisonal yang dihasilkan oleh suatu budaya komunal sebagai karya seni rupa yang sejajar dengan karya seni rupa modern.
https://serupa.id/seni-rupa-kontemporer/.
4. Transfomasi Seni Menggambar a. Potret dan Objek
Secara harfiah, objek berarti apa yang “terlempar di hadapan”
seseorang dan karenanya objek sebenarnya meunjukkan suatu hubungan antar seseorang. Termologi yang ketat berpegang erat dengan arti relatif (hubungan) kata itu. http://arti-definisi- pengertian.info/objek/.
Platon menyebutnya idea, idea yang bukan berisi imajinasi saja, melainkan sesuatu yang seperti rupa asli. Idea merupakan sebagai bentuk yang pasti dari mana dunia mewujudkan dirimya, membawa ketertiban ke dalam perubahan terus- menerus dan dengan demikian menjamin menjadi konstanta.
Tetapi idea adalah satu-satunya yang dalam arti sepenuhnya nyata dan benar. dengan adanya pandangan seperti ini, penggambaran sebagai bentuk objek. Teori platon tentang tiruan (mimesis). (Hauskeller, 2008:10-11).
Masa pra-sejarah pada gambar-gambar di dinding objek gambar-ambar tersebut binatang seperti bison, rusa kutub, kuda, dan serigala. Penemuan yang ditemukan di gua Altamira di Spanyol Utara dan Lascaux di Perancis. Gambar-gambar lain yang menggambarkan objek manusia dalam wujud yang tidak realistis (memanjang bagai tongkat) gambar tesebut
menunjukkan adegan memburu dari Los Caballos, Spanyol, (Salam, 2008:5-6).
Perkembangan seni rupa khususnya di Amerika Serikat hingga Tahun 1920-an dipengaruhi oleh seni realistis Eropa. Tetap pada tahun 1913 di New York diperkenalkan seni lukis modern. Beberapa seniman dengan spontan menerima pikiran-pikiran baru ini sehingga berdiri museum dan galeri untuk menampung seni gerakan baru yang mengakibatkan seniman-seniman Eropa. “Seni menggambar di masa modern lahirnya aliran-alran baru dalam seni menggambar”
(Dharsono, 2004:98).
Seni menggambar modern Amerika selama 1930-an bersifat eksperiment yang mengarah ke Geometris-Abstrack seperti seniman Piet Modrian yang banyak pengikutnya shingga menjadi simbol dan tokoh bagi seniman abstrak Amerika.
Seni abstrak scara wujud fisik masih Nampak kesan alam, biasanya disebut semi abstrak. Perkembangan dimasa ini, tidak lagi menampilkan objek dan ide-ide pikiran sadar seniman.
Perasaan adalah faktor yang menentukan, (Dharsono, 2004:
101).
Lahirnya masa orde baru merupakan masa kebangsaan krativitas seniman, termasuk Indonesia. Hal ini terbukti dengan tumbuhnya berbagai aliran seni menggambar. Kebebasan kreatif melonjak.
Gerakan seni rupa baru berkereatifitas puncak idealisme. Pada masa ini juga objek-objek yang sudah ada namun dengan paduan masa pra sejarah modern awal dan modern amerika.
Objek potret misalnya yang dengan karakter ekspresif yang unik-unik, (Dharsono, 2004:159).
Seni meggambar potret adalah seni yang menggambarkan fenomena kebudayaan, kegiatan masyarakat, dan sekelompok orang dalam konteks kebudayaannya, selain lukisan yang menggambarkan tokoh-tokoh dalam format seni menggambar potret seperti potret para negarawan atau tokoh tertentu. Jadi yang dimaksud dengan potret adalah pengertian luasnya, yaitu lukisan yang memotret juga suasana dan fenomena kebudayaan beserta masyarakat pendukungnya, memotret kehidupan di sekitar kita.
Menggambar potret bertujuan untuk menampilkan atau menggambarkan visual dari objek sama persis ke dalam kertas dan kanvas. Menggambar potret diharapkan tidak hanya menampilkan karya akhir yang berwujud sesuai dengan makna kemiripan secara harfiah saja, tetapi juga harus mampu menunjukkan representasi tertentu di balik lukisan potret tersebut. Baik karakter, esensi batin, ekspresi ataupun sisi lain dari objek (dari sudut pandang sang seniman). Sebagaimana pernyataan Aristoteles dalam buku The Art of Portrait Painting, “Tujuan Seni adalah bukan hanya untuk menyajikan hal penampilan luarnya atau eksternalnya dengan detail saja, tetapi
juga batin mereka, bila itu terwujud maka dapat dikatakan merupakan realitas sejati.” (Aymar, 1967: 119). Dengan demikian diharapkan karya yang dihasilkan mampu menunjukan cita rasa, nilai, dan pemaknaan yang berbeda dengan hasil fotografi, (Munandar. 2011.
https://hurahura.wordpress.com/2010/12/31/akar-seni-lukis-potret- dalam-kebudayaan-indonesia/).
b. Teknik
Sejarah seni menggambar tentunya sudah banyak teknik dengan gaya ciri khas masing-masing dari masa pra-sejarah. Jika kita menoleh ke zaman purba, kita telah mengenal manusia pada masa itu telah menjadikan gambar sebagai sarana/dan media komunikasi dengan gagasan penyampaian. Teknik tiruan (mimesis) milik Plato tentunya menjadi hal paling pokok dalam dunia menggambar.
Plato membedakan dua macam jenis seiman: Pertama mereka yang secara kreatif membuat sesuatu, seperti misalnya ahli bangunan, tukang mebel, dan pembuat kereta kedua mereka yang membatasi diri pada penggambaran atau tiruan (mimesis) sesuau yang telah ada, seperti misalnya pelukis, pematung, dan penyair, (Hauskeller, 2008: 11).
Penjelasan di atas, tentunya pokok atau teknik dalam menggambar sudah dijelaskan Plato pada masa itu, yang berkaitan pada masa purba tadi. Seniman dan penggambar lewat objek yang ada.
Seniman kayu dan lain-lain, sebagai seniman yang berimajinasi dengan apa yang akan diciptakan pada suatu karya.
Zaman pra-sejarah ditemukan sebuah gambar-gambar dalam gua dengan goresan diciptakan dengan menggunakan potongan benda bewarna lalu menjadi serbuk yang halus kemudian ditiupkan ke dinding, karya yang menakjubkan yang dibuat seniman orang gua di Lascaux, Altamira objek yang ditampilkan bersifat naturalis.
Ketajaman pengamatan dan ingatan tercermin dalam pengambaran yang akurat dari pose dan gerak objeknya.
Di Lauxcaux, terdapat penggambaran manusia dengan bentuk tubuh yang panjang seperti tongkat, juga di depan seekor bison yang besar. Tampaknya tubuh manusia digambarkan tidak secara realistis sebagaimana terhadap binatang dan ini menimbulkan pertanyaan, mengapa terdapat beda perlakukan cara penggambaran antara manusia dan bintang, (Salam, 2000:5).
Secara tidak langsung, bahwa masa tersebut meninggalkan teknik penggambar simbolik dalam penggambaran hanya memberikan tanda saja dalam arti, manusia memiliki tangan, memiliki kedua kaki, memberikan tongkat pada manusia di masa itu, manusia bekerja memburu binatang untuk makan.
Memasuki abad pra-modern di Pulau Kreta kaya akan peninggalan seni lukis dengan gambar-gambar dinding yang digaraap
dengan teknik fresco, yang lazimnya digunakan fresco kering di Mesir.
Sedangkan teknik yang sesunguhnya digunakan orang pulau yaitu teknik fresco basah. “Teknik ini menuntut penggarapan yang serba cepat. Dan semakin berkembang dan lahir corak-corak baru masa Yunani dan seterusnya” (Salam, 2000: 57).
Memasuki masa seni rupa modern dengan lahirnya berbagai gaya dan teknik menggambar tentunya menimbulkan perubahan yang sangat besar. Dengan gerakan-gerakan baru sehingga pemilihan terjadi yang membentuk berbagai aliran-aliran pada masa itu.
Seni menggambar masa modern di Italia masih meneruskan tradisi seni menggambar Yunani dan Romawi atau kembalinya lagi tradisi tersebut setelah abad pertengaan silam (Renaisans). Bahkan masa ini juga muncul seniman-seniman cerdas yang mengembangkan cara penggarapan objek sebelumnya dengan teknik yang luar biasa. Dari yang paling detail hingga yang yang tidak berbentuk jelas hingga fase pra-kotemporer, (Salam, 2000: 129).
Modernisasi dalam seni meggambar dengan lahirnya akademi merupakan pencerminan dari usaha-usaha pembaruan dan tentunya juga mempengaruhi teknik yang bertransformasi dengan pembaruan dari berbagai macam. Di Indonesia yang membentuk akademi kesenian dan berbagai akademi bermunculan yang melahirkan seniman-seniman dengan karakter gaya menggambar sampai yang belum ada di Eropa.
Teknik seni menggambar memasuki kebebasan yang sangat besar. Teknik palet, teknik ekspresif dengan coret-coretan sehingga pop art muncul dengan teknik digital dan paling kekinian teknik desain geometris yang berbeda dan munculnya Scribble dengan teknik garis tidak beraturan, (Dharsono, 2004: 157).
c. Alat dan Bahan
Berangkat dari pernyataan Salam, (2000: 3) bahwa “dalam seni menggambar masa pra-sejarah dengan objek binatang yang ditemukan di Gua Al-Tamira menggunakan warna kemerah-merahan, oker dan hitam.” Kesan monumental yang tercermin di gambar-gambar tersebut.
Gambar-gambar tersebut ditemukan dalam keadaan tumpukan kapur.
Gambar yang ada di Lauxcaux Perancis yang di temukan pada tahun 1941, pada gambar tersebut memiliki goresan yang diciptakan dengan meggunakan potongan benda berwarna merah atau kuning oker. Untuk pemberian warnanya mengiling potongan benda tadi menjadi serbuk yang halus kemudian ditiupkan dan dicampur dengan benda lain, berangkali dengan lemak binatang sebelum digunakan. Kuas yang digunakan mungkin yang terbuat dari bulu atau rumput alang-alang, sedang untuk paletnya diperkirakan memanfaatkan tulang besar yang dapat dimanfaatkan sesuai permukaan dan kebutuhan.
Salam (2000:44), menegaskan bahwa seni menggambar Yunani dari masa Geonetris dan Arkais melalui hiasan pada vas.
Hiasan vas merupakan media paling penting di abad ke 6 SM.
Warna-warna yang ada dalam gambar vas ini adalah hitam, coklat, putih, dan kadang-kadang warna lain.
Seni menggambar masa Romawi yang bersumber dari gambar- gambar dinding yang ditemukan di tiga Kota. Di dalam gambar tersebut menunjukkan ilusi sistem perspektif garis di terapkan melalui tingkatan tinggi mata. Gambar-gambar tersebut menggunakan bahan cat yang dicampur dengan lilin panas yang di sebut encaustic. Sedang dasar gambar ini adalah plaster yang disemir. Daya tahan mengagumkan. Kadang-kadang panel-panel kayu digunakan sebgai penopang plaster tapi pada umumnya panel-panel ini telah musnah, (Salam, 2000: 68).
Memasuki seni menggambar masa Abad pertengahan, seni menggambar dan seni ilustrasi merupakan karya seni yang tidak terpisahkan dimana karya seni dalam menggambar meberikan kesan pemaknaan dan mempunyai sisi ilustrasi didalamnya. Ilustrasi yang digarap dengan menggunakan cat yang dicampur dengan lem di atas lembaran parchment atau vellum (kulit anak sapi), (Salam, 2000: 96).
Memasuki masa Renaisans seni rupa berubah dengan perkembangan yang sangat besar. Media pengarapan yang
populer masa ini adalah fresc, tempera, dan kadang-kadang glazir minyak. Gambar-gambar Itali pada abad ke-15 umumya memiliki sifat yang monumental tidak seperti kualitas miniatur dari daerah lain, (Salam, 2000: 122).
Munculnya Leonardo da Vinci yang menjembatani abad ke-15 dengan teknik atmosferis halus, yaitu lebih mudah mencapai kehalusan dengan menggunakan cat minyak. Cara tradisional (tempera di atas panel kayu) digantikan dengan cat minyak di kanvas, (Salam, 2000: 125).
5. Teknik Scribble
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia teknik adalah pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yang berkenan dengan hasil industri. “Tekhne adalah akar kata dari ‘technique’ atau ‘teknik’, yang artinya kemampuan atau keahlian (skill) berdasarkan pengetahuan dan metode tertentu untuk menghasilkan objek atau efek tertentu”
(Suryajaya, 2016: 22).
Scribble menurut Kamus Bahasa Inggris adalah tulisan ceker ayam, jadi bisa ditebak gambar dengan teknik ini adalah gambar yang sengaja dibuat dari coretan yang awut-awutan. Scribble adalah sebuah aliran menggambar dengan cara menggoreskan coretan-coretan yang tidak beraturan, namun membentuk suatu objek yang diinginkan dan mampu menjadi hasil karya seni yang unik, indah, bernilai tinggi, dan berbeda,
(Syska La Veggie, 2015. http://beritajatim.com/gaya_hidup/245449 /tak_beraturan_tapi_unik_dan_bernilai_tinggi.html). “Teknik Scribble merupakan coretan mengekspresikan perasaan, baik kekesalan, kejengkelan, kebahagiaan, kerinduan maupun harapan” (Anwar. 2015).
Teknik Scribble adalah teknik menggambar secara bebas dan membentuk suatu karya seni, dikatakan bebas karena teknik ini seperti halnya coretan biasa, akan tetapi tanpa disadari membentuk sebuah karya gambar yang unik. untuk menghasilkan suatu gambar yang unik, misalkan akan membuat gambar wajah tetap gunakan pola terlebih dahulu karena untuk meminimalisir kesalahan coretan karena alat yang digunakan berupa bolpoint, (Santoso, 2016).
Gambar 2.1 Teknik Scribble.
Sumber: diakses 12/12/2018.
Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Teknik Scribble adalah kemampuan atau keahlian (skill) menggambar dengan menggoreskan
coretan-coretan yang tidak beraturan dengan mengekspresikan perasaan dan pengalaman menjadi sebuah karya seni yang unik. Teknik Scribble merupakan sebuah arsiran dalam sebuah gambar. Jika kita menemukan detail dan kehalusan pada arsiran dan teknik di karya hyper realis, maka Teknik Scribble memperlihatkan realis yang penuh coretan. Dasar dalam seni menggambar juga digunakan dalam seni Scribble, dari pola, proporsi, keseluruhan dalam estetika menggambar. Namun Teknik Scribble hadir dalam bentuk arsiran coretan atau cakar ayam.
a. Awal mula Scribble
Scribble mempunyai keunikan tersendiri dan berbeda dengan teknik menggambar yang lainnya, sehingga apresiasi dan minat masyarakat untuk mengetahui teknik Scribbe semakin meningkat.
Beberapa Kota di Indonesia telah mendirikan komunitas Scribbe untuk mewadahi Masyarakat yang ingin mengetahui lebih jauh tetang Teknik Scribble.
Scribble atau disebut juga coretan cakar ayam, merupakan teknik menggambar dengan cara membuat coretan tidak beraturan untuk memunculkan efek gerakan suatu objek. Scribble ini adalah bagian besar dari variasi arsiran. Ada banyak variasi teknik arsiran, antara lain full pattern, gradasi, tekstur sejajar, menyilang, dan tidak beraturan (Scribble). “Uniknya jika kita menggambar dengan Teknik Scribble kita tidak perlu mengkhawatirkan banyak detail. Jadi, tidak
perlu takut dengan kesalahan ketika membuat coretan” (Anwar, 2018:
2).
b. Scribble dalam Perkembangan dan Pengembangannya
Khoirul Khoirul Anwar merupakan salah satu seniman yang polopori Teknik Scribble di Indonesia tepatnya di Kota Malang, Jawa Timur. Khoirul Anwar mengenal Teknik Scribble pada akhir tahun 2013, awalnya Khoirul Anwar terinspirasi dari karya beberapa seniman yang juga menggunakan Teknik Scribble yaitu Vince Low dari Malaysia, Erick Centeno dari Italia dan Rachmad Priyandoko. Sejak saat itu Khoirul Anwar menyukai Teknik Scribble dan mulai membuat karya dengan menggunakan Teknik Scribble pada setiap karyanya.
Khoirul Anwar telah menghasilkan kurang lebih dua ribuan karya hingga menembus pasar mancanegara dan telah berhasil membuat buku yang berjudul “Panduan Mudah Menggambar Portrait Scribble”. Khoirul Anwar juga membentuk komunitas Scribble Malang untuk mewadahi orang-orang yang memiliki ketertarikan pada seni menggambar Teknik Scribble. Berkat keuletannya dalam membuat karya Scribble, Khoirul Anwar mengantongi sejumlah prestasi yang membanggakan, (Anwar. 2017.
http://radarmalang.id/hasilkan-lebih-dari-seribu-karya-tembus-pasar- Amerika/).
B. KERANGKA PIKIR
Teknik Scribble merupakan salah satu teknik menggambar yang banyak diminati. Scribble mempunyai keunikan tersendiri dan berbeda dengan teknik menggambar yang lainnya, sehingga apresiasi dan minat masyarakat untuk mengetahui teknik Scribbe semakin meningkat. Khoirul Anwar merupakan salah satu seniman yang mempolopori Teknik Scribble di Indonesia tepatnya di Kota Malang, Jawa Timur. Khoirul Anwar mengenal Teknik Scribble pada akhir tahun 2013, awalnya Khoirul Anwar terinspirasi dari karya beberapa seniman yang juga menggunakan Teknik Scribble.
Berdasarkan uraian di atas maka kerangka pikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.2 Kerangka pikir.
Khoirul Anwar
Kota Malang
Aliran Teknik
Scribble
Kesimpulan
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Lokasi Penelitian 1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Menurut Creswel (1998), “penelitian kualitatif sebagai suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami” (Noor, 2011: 34). Jenis Penelitian kualitatif yang digunakan yaitu penelitian desktiptif. “Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi saat sekarang” (Noor, 2011: 34).
Peneliti lebih banyak terjun ke lapangan untuk meneliti serta tekun dalam pengamatan terhadap masalah yang dihadapi, dengan mengajukan pertanyaan langsung menggunakan daftar pertanyaan, yang sebelumnya telah berjanjian terlebih dahulu agar tidak ada pihak yang dirugikan, dan berjalan secara nyaman dan melakukan dokumentasi terhadap hal-hal yang berkaitan dengan penelitian. Selama proses berlangsung peneliti juga mengumpulkan data-data yang terkait melalui dokumen ataupun buku-buku yang tersedia di perpustakaan, maupun data- data yang dimiliki seniman itu sendiri.
30
2. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah tempat dilaksanakanya penelitian.
Penelitian ini bertempat di kediaman Khoirul Anwar di Kota Malang, Jawa Timur. Sebagai subjek yang diteliti proses tersebut bertujuan untuk mengamati dan mempelajari Transformasi Seni Menggambar Dengan Teknik Scribble pada karya Khoirul Anwar, sekaligus melakukan pendekatan-pendekatan persuasif terhadap narasumber utama yang dijadikan penelitian
B. Subyek dan Objek Peneltian 1. Subyek Penelitian
Subjek penelitian adalah orang, tempat, atau benda yang diamati dalam rangka pembumbutan sebagai sasaran (Kamus Bahasa Indonesia, 1989: 827). Adapun subyek penelitian dalam tulisan ini, adalah Koirul Anwar, Seniman Scribble yang bertempat di Malang, Jawa Timur.
2. Objek Penelitian
“Objek penelitian adalah hal yang menjadi sasaran penelitian”
(Kamus Bahasa Indonesia, 1989: 622). Menurut Supranto (2000: 21)
“objek penelitian adalah himpunan elemen yang dapat berupa orang, organisasi atau barang yang akan diteliti.” Kemudian dipertegas (Anto, 1986: 21), “objek penelitian adalah pokok persoalan yang hendak diteliti untuk mendapatkan data secara lebih terarah.” Adapun objek penelitian
yang ada dalam tulisan ini, Teknik Scribble Khoirul Anwar, transformasi Teknik Scribble pada karya Khoirul Anwar.
C. Variabel dan Desain Penelitian 1. Varibel Penelitian
Menurut Margono (2007: 144), “variabel sebagai konsep mempunyai variasi nilai.” Menurut Arikunto (2002: 96), “variabel penelitian merupakan objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.”
Dipertegas (Singarimbun, 1986: 48), “variabel adalah konsep yang mempunyai variasi nilai.”
Variabel dalam penelitian adalah:
- Transformasi seni menggambar Teknik Scribble Khoirul Anwar.
- Teknik Scribble Khoirul Anwar: estetik, pola, alat, dan bahan.
2. Desain Penelitian
Desain penelitian suatu rencana tentang cara mengumpulkan, mengolah dan menganalisis data secara sistematis dan terarah agar penelitian dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif sesuai dengan tujuannya.
Penelitian kualitatif dilakukan karena peneliti ingin mengeksplor fenomena-fenomena yang tidak dapat dikuantifikasikan yang bersifat deskriptif seperti proses suatu langkah kerja, formula suatu resep, pengertian-pengertian tentang suatu konsep yang beragam,
karakteristik suatu barang dan jasa, gambar-gambar, gaya-gaya, tata cara suatu budaya, model fisik suatu artefak, dan lain-lain sebagainya, (Satori, 2011: 23).
Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif.
Penelitian ini juga mengeksplor objek dengan meneliti taransformasi seni menggambar dengan Teknik Scribble pada karya Khoirul Anwar di Kota Malang, Jawa Timur.
Gambar 3.1 Desain Penelitian.
Transformasi Seni Menggambar Teknik Scribble pada Karya Khoirul Anwar di Kota Malang
Jawa Timur
Teknik Pengumpulan Data
Observasi
Wawancara
Dokumentasi
Teknik Analisis Data
Reduksi Data Kesimpulan /
vertifikasi
Penyajian Data
D. Defenisi Operasional Variabel
Defenisi operasional variable dalam penelitan ini adalah sebuah uraian operasional tentang awal mendasar yang akan diteliti sesuai dengan topik dan rumusan masalah penelitian. Oleh karena itu, defenisi operasioal variabel dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Transformasi seni menggambar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah Teknik Scribble yang digunakan Khoirul Anwar dari memulai Scribble
2. Teknik Scribble yang dimaksud dalam penelitian ini adalah proses dan dari alat dan bahan shingga bertransformasi ke bentuk Scribble yang berbeda dari teknik-teknik Scribble lainnya, dari segi alat dan bahan, objek gambar dan estetik pada karya Scribble Khoirul Anwar.
E. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi
Observasi merupakan bagian dari teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, yang berupaya untuk mengamati secara langsung kondisi lapangan yang kemudian difokuskan guna mendalami permasalahan.
Teknik observasi yang dilakukan adalah observasi langsung, yaitu teknik pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan secara langsung terhadap objek.
2. Wawancara
Wawancara dipandang dilakukan untuk memperkuat serta memperbanyak informasi dari narasumber utama. Wawancara dalam penelitian ini dilakukan dengan tujuan yang disadari oleh kedua belah pihak hingga akan didapatkan suasana santai tanpa ada tekanan dari kedua belah pihak.
Melalui wawancara ini penulis berusaha mendapatkan informasi sejelas dengan menggunakan daftar wawancara yang telah dipersiapkan pertanyaan terlebih dahulu, dengan metode tanya jawab, dan melalui obrolan santai yang bertujuan untuk tidak saling merugikan antara penulis dan seniman sehinngga menciptakan suasana yang nyaman.
3. Dokumentasi
Dokumentasi pada dasarnya adalah studi data arsip yang digunakan untuk merekam atau mencatat peristiwa yang berhubungan dengan penelitian. Sifat utama dari data ini tidak terbatas pada ruang dan waktu sehingga memberi peluang kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi di waktu silam.
F. Teknik Analisis Data 1. Reduksi data
Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data
“kasar” yang muncul dari catatan lapangan. Reduksi dilakukan sejak pengumpulan data, dimulai dengan membuat ringkasan, mengkode, menelusuri tema, menulis memo, dan lain sebagainya, dengan maksud menyisihkan data atau informasi yang tidak relevan, kemudian data tersebut diverifikasi.
2. Penyajian data
Penyajian data adalah pendeskripsian sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data kualitatif disajikan dalam bentuk teks naratif, dengan tujuan dirancang guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam bentuk yang padu dan mudah dipahami.
3. Penarikan kesimpulan atau verifikasi
Penarikan kesimpulan atau verifikasi merupakan kegiatan akhir penelitian kualitatif. Peneliti harus sampai pada kesimpulan dan melakukan verifikasi, baik dari segi makna maupun kebenaran kesimpulan yang disepakati oleh tempat penelitian itu dilaksanakan.
Makna yang dirumuskan peneliti dari data harus diuji kebenaran, kecocokan, dan kekokohannya. Peneliti harus menyadari bahwa dalam mencari makna, ia harus menggunakan pendektan emik, yaitu dari kacamata key information, dan bukan penafsiran makna menurut pandangan peneliti (pandangan etik).
pe
Gambar 3.2 Reduksi data.
Pengumpulan Data
Kesimpulan verifikasi Reduksi
Data
Penyajian Data
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Mengenal Khoirul Anwar
Khoirul Anwar merupakan seniman muda kelahiran Jember, 12 April 1994. Perjalanan awal Khoirul Anwar menjadi seorang seniman dibidang seni menggambar berangkat dari hobi menggambar kaligrafi sejak kecil, kemampuannya menggambar didapat secara otodidak dan tidak pernah bercita-cita menjadi seniman. Khoirul Anwar orang yang sangat aktif dalam belajar dan selalu mencoba hal-hal yang baru. Sejak di bangku kuliah, ia mengembangkan kemampuan dan bakatnya, Koirul Anwar kuliah di Universitas Brawijaya Malang.
Ketertarikannya di bidang seni membuatnya bergabung di lembaga ukm seni rupa. Melalui lembaga tersebut ia banyak belajar dasar-dasar dan teknik dasar seni menggambar, kamudian ia mengembangkan potensi bakatnya dalam seni menggambar. Selain lembaga ukm seni rupa, ia juga bergabung di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), pada saat itu lembaga pers ini membutuhkan ilustrator atau orang yang bisa menggambar. Sebagai anggota ukm seni yang senang menggambar, ia manggambar karikatur untuk menjadi sarana kritik sosial politik. ia juga pernah mengadakan pameran tunggal karikatur sehingga menggambar karikatur menjadi karakter Khoirul Anwar.
Tahun 2012 Khoirul Anwar memulai menggambar karikatur. Karya karikaturnya diakui dan banyak menjuarai kompetensi karikatur tingkat
36
regional maupun tingkat nasional. Ia menjadi juara Nasional pada perlombaan karikatur yang diadakan oleh Kompas sehingga ia menjadi karikaturis Majalah Tempo dan semakin giat berkarya karikatur. Meskipun belum konsisten sebagai pelukis karikatur, bisa katakana itu adalah ciri khasnya pada saat itu sehingga julukan karikatur melekat pada Khoirul Anwar.
Panggilan tersebut sudah tidak asing lagi bagi lingkungan dan teman-teman sekitarnya. Sehingga panggilan karikatur menjadi nama populernya di instagram pada saat itu dan mulai merintis di dunia seni rupa sebagai pelukis karikatur.
Gambar 4.1 Gambar Karikatur Karya Khoirul Anwar.
Sumber: Instagram Karikatoer diakses 13/4/2020.
Khoirul Anwar tertarik menggambar karikatur, karena ia orang yang kritis. Ia selalu mengikuti moment dan kritis akan banyak hal. Ketika melihat karya karikatur yang pada umumnya memiliki kepala besar namun itu hanya sebuah potret. Karya karikatur milik Khoirul Anwar kebanyakan bersifat satir
yang menggambarkan fenomena atau apa yang sedang terjadi dengan sudut pandang. Satir bisa di katakana sesuatu hal yang mengarah ke kritis, sindiran, dan humoris. Hal tersebutlah yang membuat Khoirul Anwar senang menggambar karikatur. Teknik karikatur milik Khoirul Anwar lebih cenderung mendistorsikan teknik sehingga berbeda dengan karikatur pada umumnya.
Khoirul Anwar merupakan orang yang tidak cepat puas dan selalu ingin belajar dan meningkatkan bakat yang ia memiliki, sehingga disamping menggambar karikatur ia juga belajar menggambar dari teknik-teknik dasar menggambar di ukm seni rupa kampusnya. Seperti menggambar menggunakan cat air, palet, cat minyak, dan aneka pensil. Di tempat itulah ia banyak belajar dan mengrneal teknik dan dasar dalam seni menggambar.
Setelah mempelajari teknik dasar menggambar tersebut ia juga tertarik berkarya realis, bakatnya melukis potret juga tidak ragukan dan sering melakukan pameran lukisan.
Gambar 4.2 Gambar Realis Karya Khoirul Anwar.
Sumber: Instagram Karikatoer diakses 13/4/2020.
Nama Karikatoer di akun instagram miliknya merupakan identitas seorang Khoirul Anwar yang pada awalnya sebagai pelukis karikatur. Bukan hanya karikatur namun ia juga pelukis dengan berbagai macam teknik meskipun cenderung pada teknik karikatur. Banyak yang mengira nama dan istilah karikatur pada akun pribadi miliknya ialah singkatan dari Khoirul Anwar. Namun ternyata itu identitas karakter dalam menggambar sehingga ia mendapat julukan dan dipanggil karikatur oleh teman-temannya. Sebagai pelukis karikatur saat itu ia juga telah melalui proses dasar teknik realis sehingga julukan dan identas itu juga menghasil karyakarikatur yang bagus dan berkualitas. Berangkat sebagai karikatunis di majalah Tempo mebuat nama dan idetitasnya membuat ia terkenal. Hal itu juga yang membuat ia semangat untuk terus berkarya dalam seni menggambar.
1. Bertemu Teknik Scribble
Perjalanan Khoirul Anwar di dunia kesenirupaan sebagai pelukis memasuki masa dan titik transformasi. Transformasi dari proses dan belajar dalam seni menggambar. Tahun 2013, Khoirul Anwar bertemu Teknik Scribble, pada saat itu di pameran ukm seni rupa muncul sindirian dan komentar dari salah satu guru yang juga sabagai mentor tempat ia belajar menggambar mengatakan “kamu itu, terlalu rakus orangnya. Kamu tdk punya karakter dalam menggambar”. Pada saat itulah Khoirul Anwar akhirnya memilih dan menentukan arah alur aliran dari semua proes dan pengalaman selama ia berkesenian dalam
seni rupa menggambar. Pada saat itu, Khoirul Anwar sudah selesai di lembaga pers mahasiswa yang waktu itu sebagai kartunis di sebuah majalah Tempo. Dan setelah sindiran itu juga ia pada akhirnya bertaransformasi ke Teknik Scribble. Teknik Scribble merupakan hal yang paling disenangi Khoirul Anwar dari perjalan dan proses Khoirul Anwar berkarya seni menggambar. Yang awalnya berkarya seni realis sehingga menggeluti karya berbentuk satir ataupun pop art, kini Khoirul Anwar tampil ekspresif dengan Teknik Scribble. Khoirul Anwar membuat karya Teknik Scribble dengan meluapkan perasaan emosi, dan kejujuran sehinga hal tersebut membuat ia senang menggeluti Teknik Scribble sampai sekarang.
2. Teknik Scribble Bagi Khoirul Anwar
Alasan Khoirul Anwar senang dengan Scribble berangkat dari sifatnya yang pemarah. Bagi Khoirul Anwar Scribble hadir bukan karena ia mencari Scribble tetapi karena sebelum mengenal Scribble ia memang suka menggambar ekspresif dengan arsiran yang tak beraturan, entah itu adalah karya Scribble atau bukan. Menurut Khoirul Anwar banyak seniman yang terkenal karena karena hidupnya berat. Bisa dikatakan bahwa banyak seniman yang terkenal karena kemarahanya atau emosi dalam dirinya.
Khoirul Anwar merupakan sosok orang yang pemarah tapi harmonis, ia tidak bisa meluapkan kemarahannya ke orang lain dan
menjaga keharmonisan dirinya dan orang lain. Bagi Khoirul Anwar kemarahan itu tidak harus ditujukan ke orang yang membuat kita marah yang dapat membuang-buang energi, kemarahan dapat diluapkan dengan melakukan hal-hal yang positif. Jadi kemarahan seharusnya diekspresikan dengan benar. Bagi seniman marah itu bagian dari seni dan ekspresi dalam berkarya.
Kemarahannya memuncak pada tahun 2013 Khoirul Anwar, ia merasa marah dengan kehidupan yang ia jalani dan tidak menerima dirinya apa adanya, ia merasa kesal dan menganggap dunia ini tidak adil. Di tahun ini juga ia merasakan beban kuliah yang ia jalani terlebih lagi ia kuliah dengan beasiswa bidikmisi. Khoirul Anwar merasakan perbedaan kehidupannya setelah kuliah karena sebelum kuliah dimanjakan oleh orang tuanya, ia merasa tidak dididik mandiri, merasa berbeda dengan orang yang berjuang mandiri di lingkungan teman- temannya. Khoirul Anwar merasa kemarahannya itu harus diluapkan, jika tidak itu akan menghantuinya. Sebagai orang mempunyai hobi dan bakat di bidang seni menggambar, ia menggambil kertas dan pulpen kemudian mengekspresikan kemarahannya lewat coretan menggunakan kertas dan pulpen tersebut. Pada saat itu ia mulai berkarya corat-coretan dan sama sekali tidak dipengaruhi dengan corat-coretan Teknik Scribble.
Khoirul Anwar pada dasarnya memiliki arsiran ekpresif dalam dirinya tanpa dipengaruhi Teknik Scribble. Karena pada saat itu ia
bleum mengenal Teknik Scribble. Khoirul Anwar bertemu Teknik Scribble lewat kesenangannya mencorat-coret untuk mengekspresikan emosi dalam dirinya. Meskipun ia bukan orang yang menemukan Teknik Scribble tersebut.
Pada tahun yang sama Khoirul Anwar akhirnya mengetahui Teknik Scribble. Ia menemukan Teknik Scribble banyak digunakan oleh orang luar negeri. Khoirul Anwar mulai membuat karya mengarah ke Teknik Scribble, ketertarikannya untuk mempelajari Teknik Scribble tersebut berangkat dari kesenangannya dengan corat-coretan yang tidak beraturan yang meluapkan emosi di dalam dirinya sehingga ia sangat sengat senang melakukan Teknik Scribble. Dengan berkarya Scribble ia merasa tenang dan puas karena kemarahannya dapat teratasi. Namun corat-coretan yang berekpresi kemarahan berbahaya dibiarkan terus- menerus atau bebas melepaskan kemarahan, akhirnya ia berpikir harus mengontrol kemarahannya karena akan berdampak buruk baginya.
Dapat disumpulkan Teknik Scribble pada karya Khoirul Anwar itu karena kemarahannya yang harus ia luapkan. Baginya meluapkan emosi yang benar adalah berkarya. Akhirnya Khoirul Anwar berkarya dengan menggunakan Teknik Scribble karena ia mendapatkan kenyamanan pada dirinya.
Bagi Khoirul Anwar yang dihasilkan pada saat berkarya Scribble lewat kemarahan itu energinya sangat besar. Itulah alasan ia perlu mengontrol diri pada saat berkarya Scribble. Untuk mempelajari hal
tersebut, ia belajar psikologis atau ilmu kejiwaan. Alasan Khoirul Anwar memilih teknik menggambar Scribble itu karena feeling.
Berangkat dari masalah perasaan, persaaan yang sakit yang diakibatkan dari sebuah masalah pribadi, bagaikan sesuatu yang menimbulkan troumatik pada diri sehingga harus di selesaikan.
Khoirul Anwar sebenarnya bukanlah orang yang dari kadar kehidupannya berat, namun setiap orang punya masalah dan pengalaman yang pahit sahingga dapat menimbulkan sakit di dalam jiwa. Hadirnya Scribble menjadi cara meluapkan kemarahan, perasaan, dan ekpresi seorang Khoirul Anwar. Lewat corat-coret itu ia berbagi perasaan. Selagi kemampuan dan feel di goresan Scribble yang ia buat, memang mudah dan banyak disengangi para penikmat juga. Menurut beberapa yang telah mengapresitori dan mengomentari karyanya. Ia mendapatkan bahwa apresiator dapat membaca dan merasakan ekpresi jiwa dari Khoirul Anwar. Ekspresi pada karya Scribble Khoirul Anwar memiliki garis dan coretan yang dapat berbicara tepatnya garis yang berbicara bisa juga karya yang berbicara. Khoirul Anwar juga belajar banyak hal tentang ilmu-ilmu kajiwaan sehingga ekspresi itu dapat tersalurkan ke penikmat tanpa harus berekspresi dengan diri sendiri. Ia sering juga berkolaborasi dengan penulis dan desainer, lewat pengalaman seni itu, akhirnya ia menemukan jati diri dan sudut pandang yang baru. Sebagai pelukis di dunia kesenian. ia seorang yang
sangat senang melukis dan melukiskan banyak hal termasuk melukis menggunakan Teknik Scribble.
3. Mempelopori Teknik Scribble Di Indonesia
Awal mula merintis Teknik Scribble di Indonesia mulai pada tahun 2014, Khoirul Anwar bertemu Cak Mat (Rachmad Priyandoko) beliau seniman Scribble di Surabaya sebelum Khoirul Anwar.
Sebelumnya di Indonesia sudah ada yang mempopulerkan seni Scribble dan saat itu sudah banyak seniman luar negeri mempopulerkan seni Scribble meskipun masih awam. Bahkan masih jarang seniman yang konsisten dalam teknik tersebut. Akhirnya Khoirul Anwar memulai pergerakan Teknik Scribble bersama Cak Mat. Hal ini merupakan pergerakan awal untuk fortofolio Scribble yang ia lakukan dari membentuk komunitas, pameran, dan aktifitas kesenian yang menggunakan Teknik Scribble, sehingga populer bersama dengan komunitas dodle art. Karena keunikam Teknik Scribble, Khoirul Anwar semakin terkenal dan diundang berbagai media dan acara talk show Sarah Sechan di Net tv dan Trans tv. Ini menjadi moment bagi Khoirul Anwar ketika saat itu banyak orang yang mempertanyakan Scribble, karena muncul dengan gaya berbeda dan unik. Khoirul Anwar mengakui bahwa ia bukan penemu Scribble tapi bisa Khoirul Anwar juga bisa kategori orang yang mempopulerkan Scribble di Indonesia yang masih awam bagi masyarakat Indonesia. Dari pengalaman itulah