BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Gambaran Umum
Objek dari penelitian yang berjudul “Kajian Keterkaitan Film Indonesia yang Memiliki Latar Cerita Luar Negeri terhadap Aspek Kepenontonan” adalah Film Indonesia yang memiliki latar cerita luar negeri di dalamnya, khususnya film-film yang dirilis di atas tahun 2008 hingga 2018 dan memiliki lebih dari 200.000 penonton. Berikut judul-judul film Indonesia yang memiliki latar cerita luar negeri dan dirilis pada tahun 2008 hingga 2018 dengan jumlah penonton lebih dari 200.000:
Tabel 3.1. Film Indonesia dengan Latar Cerita Luar Negeri yang memiliki lebih dari 200.000 penonton (2008-2018)
No.
Tahun Film Dirilis
Judul Film
Setting Cerita
Jumlah Penonton
1 2008 Ayat Ayat Cinta India 3.676.135
2 2009
Emak Ingin Naik
Haji Arab Saudi 300.000
3
Ketika Cinta Bertasbih
Mesir 2.105.192
4 2010 Tanah Air Beta
Timor Leste
433.622
5
2011
Simfoni Luar Biasa Filipina
600.000 (di Filipina)
6 Di Bawah
Lindungan Ka'Bah
Arab Saudi 520.267
7 2012 Habibie & Ainun Jerman 4.583.641
8
2013
Laskar Pelangi 2:
Edensor
Perancis 390.810
9
99 Cahaya di Langit Eropa
Vienna &
Perancis 1.189.709
10 La Tahzan Jepang 235.718
11 Refrain Austria 281.922
12
2014
Assamualaikum
Beijing Beijing 560.465
13
Merry Riana: Mimpi Sejuta Dollar
Singapura 715.671
14
Supernova: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh
Amerika Serikat
501.258
15
99 Cahaya di Langit Eropa Part 2
Cordoba, Istanbul, Turki
587.042
16 Haji Backpacker
Thailand, Vietnam, Cina
375.799
17 Runaway Hongkong 346.899
18
2015
Negeri Van Oranje Belanda 490.788
19
Sunshine Becomes You
Amerika
Serikat 321.838
20
Bulan Terbelah di Langit Amerika
Amerika Serikat
917.865
21 2016
Pasukan Garuda: I Leave My Heart In Lebanon
Lebanon 300.000
22
Bulan Terbelah di Langit Amerika 2
Amerika Serikat
582.487
23
Jilbab Travellers:
Love Sparks in Korea
Korea 247.661
24 Rudy Habibie Jerman 2.012.025
25 My Stupid Boss Malaysia 3.052.657
26 London Love Story Inggris 1.124.876
27
Ada Apa Dengan Cinta 2
Amerika Serikat
3.665.509
28
2017
Ayat-Ayat Cinta 2 Skotlandia 2.840.159
29 One Fine Day Barcelona 395.676
30 Critical Eleven
Amerika Serikat
881.530
31 London Love Story 2 Swiss 862.874
32
Surga yang Tak Dirindukan
Budapest 1.637.472
33
From London To Bali
Inggris 301.032
34
Warkop DKI:
Jangkrik Boss Part 2 Malaysia 4.083.190
35 Surat Kecil untuk
Tuhan
Australia 715.361
36 Promise
Milan, Istanbul
655.805
37
2018
Hanum & Rangga:
Faith & The City
Amerika
Serikat 397.921
38 Rompis Belanda 206.130
39 Si Doel The Movie Belanda 1.757.653
40 Eiffel, Im In Love 2 Perancis 1.008.392
41 London Love Story 3 Inggris 398.333
Objek tersebut diteliti dengan latar belakang untuk mengetahui alasan yang mendorong masyarakat Indonesia untuk menonton film-film tersebut. Oleh karena itu, subjek dari penelitian ini adalah masyarakat Indonesia yang telah menonton mayoritas film-film Indonesia yang memiliki latar cerita luar negeri yang dirilis pada tahun 2008 hingga 2018 dengan jumlah penonton lebih dari 200.000. Subjek
penelitian diharuskan masyarakat Indonesia yang telah menonton mayoritas film- film tersebut dikarenakan adanya kesimpulan bahwa penonton yang telah menonton lebih dari 50% judul film (lebih dari 20 judul film) sudah memiliki kebiasaan menonton film Indonesia dengan latar cerita luar negeri.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Menurut Creswell (2014), penelitian kualitatif adalah pendekatan penelitian yang ditujukan untuk mengeksplorasi suatu fenomena sosial yang nantinya akan mengarah pada pemahaman atas makna dari fenomena tersebut melalui pandangan suatu individu atau kelompok. Penelitian kualitatif biasanya mengandung interpretasi atas makna yang didapatkan dari data penelitian.
Penelitian kualitatif juga biasanya berisikan data-data yang bersifat deskriptif dan naratif (hlm. 71 – 72).
Dalam melakukan penelitian kualitatif, diskusi kelompok terarah atau focus group discussion menjadi salah satu teknik pengumpulan data yang paling banyak dilakukan (Paramita & Kristiana, 2013). Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan focus group discussion sebagai teknik pengumpulan datanya.
Menurut Krueger dan Casey (2015), focus group discussion adalah kegiatan pengumpulan data yang tidak hanya sekedar mengumpulkan sekelompok orang dengan karakteristik tertentu, melainkan kegiatan mengumpulkan sekelompok orang yang memiliki pandangan dan asumsi atas suatu fenomena. Focus group discussion dilakukan untuk dapat mengetahui opini dari sekelompok orang tersebut.
Melalui opini tersebut diharapkan peneliti mampu menemukan suatu tren atau pola tertentu dari suatu fenomena.
Dalam penelitian kualitatif, data yang berupa opini masyarakat dapat dianalisis menggunakan dua teknik analisis, yaitu content analysis dan discourse analysis. Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang akan digunakan untuk menganalisis hasil temuan adalah discourse analysis. Menurut Gee (2001), discourse analysis adalah adalah sebuah analisis pesan tersurat yang terkandung dalam suatu karya. Discourse analysis biasanya berkaitan sebuah lembaga sosial yang didalamnya terdapat teknologi, tulisan, dan karya yang terdiri dari kata-kata, simbol, objek, dan lain-lain untuk menampilkan suatu realitas (hlm. 18).
3.2. Tahapan Kerja
Tahapan kerja penelitian dikenal juga sebagai kerangka kerja penelitian. Kerangka kerja penelitian atau tahapan kerja penelitian dapat digunakan sebagai panduan atau perencanaan atas suatu penelitian sehingga dapat memandu jalannya penelitian.
Berikut merupakan tahapan kerja dari penelitian yang berjudul ‘Kajian Keterkaitan Film Indonesia yang Memiliki Latar Cerita Luar Negeri terhadap Aspek Kepenontonan’.
Gambar 3.1 Tahapan Kerja (sumber: dokumentasi pribadi)
3.3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan focus group discussion. Focus group discussion adalah diskusi kelompok yang terdiri dari sejumlah kecil orang yang memiliki suatu karakteristik tertentu dan mampu menyajikan data kualitatif serta dapat melakukan diskusi secara fokus guna memahami topik penelitian (Krueger & Casey, 2015, hlm. 32). Menurut Krueger dan Casey (2015), focus group discussion merupakan teknik pengumpulan data yang tepat untuk mendapat data yang berupa pendapat seseorang melalui suatu sudut pandang kelompok tertentu. Focus group discussion dapat berjalan dengan maksimal jika narasumber yang hadir dapat merasa nyaman, dihargai, dan ketika narasumber dapat berpendapat tanpa merasa tertekan (hlm. 30). Selain membuat narasumber merasa nyaman, guna menjalankan focus group discussion secara
maksimal, Krueger (2015) menjelaskan tahapan-tahapan yang perlu dilakukan sebelum melakukan focus group discussion, mulai dari menentukan tujuan dilaksanakannya focus group discussion hingga mengembangkan pertanyaan.
Berikut tahapan perancangan focus group discussion menurut Krueger:
1. Menentukan tujuan focus group discussion
Menurut Krueger dan Casey (2015), proses perancangan focus group discussion adalah salah satu proses yang penting, tetapi kerap terlewatkan oleh sebagian besar orang. Orang banyak memulai persiapan focus group discussion dengan drafting pertanyaan. Akan tetapi, hal yang paling utama yang harus dilakukan saat merencanakan focus group discussion adalah menentukan tujuan penelitian. Penentuan tujuan focus group discussion dapat ditemukan dari menjawab beberapa pertanyaan seperti:
1. Apa permasalahan dari penelitian terkait?
2. Informasi seperti apa yang hendak didapat?
3. Bagaimana cara menggunakan informasi tersebut?
Penelitian yang berjudul ‘‘Kajian Keterkaitan Film Indonesia yang Memiliki Latar Cerita Luar Negeri terhadap Aspek kepenontonan’ ini memilih focus group discussion sebagai teknik pengumpulan datanya dengan tujuan untuk mendapat informasi berupa alasan mengapa penonton Indonesia tertarik dengan film-film Indonesia yang memiliki latar cerita luar negeri terkait motivasi tiap individu, termasuk pengaruh dan pandangan penonton terhadap film-film tersebut. Informasi yang didapat nantinya akan diolah menggunakan metode discourse analysis.
2. Menentukan bahwa focus group discussion adalah metode yang tepat Focus group discussion merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang tepat jika peneliti hendak mencari tahu mengenai persepsi seseorang, opini, motivasi, dan kebiasaan seseorang atas suatu fenomena sosial. Selain berguna untuk mencari data kualitatif berupa persepsi seseorang, focus group discussion juga tepat digunakan untuk mencari tahu perbedaan persepsi atas suatu kelompok atau orang atas suatu fenomena. Focus group discussion menjadi kurang tepat apabila digunakan untuk mencari tahu mengenai tingkat pengetahuan seseorang atas suatu fenomena atau saat menanyakan hal yang terlalu sensitif (Krueger & Casey, 2015, hlm. 60-62).
Penelitian ini menggunakan focus group discussion sebagai teknik pengumpulan datanya karena penelitian ini hendak berfokus pada data yang berupa motivasi dan persepsi penonton terhadap film-film Indonesia dengan latar cerita luar negeri.
3. Menentukan tipe narasumber yang hadir
Ketika membicarakan mengenai narasumber dalam focus group discussion, peneliti tidak dapat hanya menunjuk suatu individu secara asal, melainkan harus memiliki karakteristik yang spesifik terkait topik penelitiannya.
Sebagai contoh, Krueger menjelaskan bahwa ketika mengadakan focus group discussion yang membicarakan program di suatu sekolah dan beranggotakan sekelompok siswa, maka penentuan narasumber harus lebih spesifik, seperti siswa yang telah mengikuti program tertentu (Krueger &
Casey, 2015, hlm. 63).
Dalam penelitian ini, narasumber yang dipilih adalah penonton film Indonesia yang telah menonton lebih dari 50% judul film Indonesia yang memiliki latar cerita luar negeri dikarenakan adanya kesimpulan bahwa orang-orang tersebut telah memiliki kebiasaan untuk menonton film-film Indonesia dengan latar cerita luar negeri.
4. Menentukan jumlah kelompok yang akan dilakukan focus group discussion Dalam mencari perbedaan dan membandingkan pendapat dari kelompok orang yang berbeda, perlu dilakukan focus group discussion secara terpisah.
Hal ini ditujukan agar peserta yang memiliki perbedaan karakteristik tidak merasa lebih rendah atau lebih tinggi dibandingkan dengan peserta lain.
Jumlah focus group discussion yang dilakukan tergantung dari jumlah kelompok dengan karakteristik berbeda yang ditentukan oleh peneliti (Krueger & Casey, 2015, hlm. 64). Oleh karena itu, guna menghindari perbedaan dan munculnya perasaan terdominasi antar peserta, penelitian ini akan mengadakan focus group discussion yang beranggotakan orang-orang yang bukan termasuk dalam ahli bagian perfilman. Penelitian ini juga hanya akan berfokus pada satu jenis kelompok masyarakat sehingga focus group discussion hanya dilakukan sekali.
5. Menyesuaikan desain penelitian dengan sumber yang tersedia
Menurut Krueger dan Casey (2015), salah satu hal yang menantang dari persiapan focus group discussion adalah adanya perbedaan antara idealisme peneliti dengan sumber yang tersedia. Sumber yang dimaksudkan disini adalah terkait dengan perencanaan keuangan, perancangan kegiatan diskusi,
ketersediaan narasumber, dan timeline. Krueger dan Casey (2015) mengatakan bahwa focus group discussion untuk riset pasar biasa dilakukan dalam jumlah kelompok yang besar, yaitu 10 hingga 12 orang. Akan tetapi, terdapat mini focus group discussion yang hanya berisikan 4 hingga 6 anggota. Mini focus group discussion biasanya dilakukan jika; hendak mendapat data mengenai kebiasaan, tingkah laku, dan perbuatan dari narasumber; topik penelitian yang terlalu kompleks, banyaknya pengalaman yang harus dimiliki seseorang untuk dapat menjadi narasumber (prasyarat yang ditentukan peneliti atas kriteria narasumber jarang dimiliki oleh kebanyakan orang); banyaknya keahlian yang harus dimiliki seseorang untuk dapat menjadi narasumber (hlm. 198).
Oleh karena itu, jumlah narasumber focus group discussion yang akan dilaksanakan dalam penelitian ini memiliki jumlah yang sedikit, tetapi tetap efisien. Guna mencapai efektivitas penelitian, focus group discussion yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah sebanyak satu kali dan dilakukan secara mendalam bersama dengan 4 orang narasumber.
6. Menentukan jenis focus group discussion yang akan dilaksanakan
Krueger dan Casey (2015) menjelaskan jenis-jenis focus group discussion adalah sebagai berikut:
1. Single-Category Design: Focus group discussion yang dilakukan dengan tipe kelompok partisipan yang sama
2. Multiple-Category Design: Focus group discussion yang dilakukan dengan tipe kelompok partisipan yang berbeda- beda guna mencari perbedaan.
3. Double-Layer Design: Focus group discussion yang memiliki tipe partisipan yang berbeda-beda dan telah dikelompokkan atas karakteristik lain, seperti area geografis.
4. Board-Involvement Design: Focus group discussion yang memiliki partisipan primer dan sekunder yang mewakili suatu tempa atau karakteristik tertentu.
5. Large-Scale Design: Focus group discussion yang memilik jumlah partisipan dan jumlah diskusi yang cukup banyak.
Penelitian ini akan berfokus pada satu jenis kelompok masyarakat, yaitu masyarakat Indonesia yang telah menonton lebih dari 50% film Indonesia dengan latar cerita luar negeri. Oleh karena itu, jenis focus group discussion yang akan digunakana adalah single-category design.
7. Mendengarkan pendapat calon narasumber
Menurut Krueger dan Casey (2015), saat merencanakan focus group discussion peneliti dapat bertanya dan mendengarkan masukan dari orang yang memiliki karakteristik yang sama dengan calon narasumber yang akan melakukan focus group discussion. Dalam penelitian ini, hal ini akan dilakukan dengan cara mengkonsultasikan pertanyaan focus group discussion kepada orang yang awam terhadap istilah-istilah dalam perfilman.
8. Memperhatikan etika dan perizinan
Krueger dan Casey (2015) menjelaskan bahwa ketika melakukan focus group discussion di tempat umum maka diperlukan perizinan yang sesuai prosedur sehingga proses diskusi dapat berjalan dengan lancar. Selain itu, dalam focus group discussion subjek dari suatu penelitian adalah seseorang, sehingga perlu memperhatikan etika ketika melakukan diskusi.
9. Mengembangkan dan merealisasikan perencanaan focus group discussion Salah satu hal yang terdapat pada tahapan ini adalah mengembangkan pertanyaan focus group discussion. Krueger dan Casey (2015) menjelaskan bahwa pertanyaan dalam focus group discussion memiliki beberapa lapisan pertanyaan, yaitu:
1. Opening Question: Pertanyaan yang paling mudah dijawab dan dapat terjawab dalam kurang lebih 30 detik.
2. Introductory Question: Pertanyaan yang mengarahkan narasumber untuk mulai memikirkan relevansi dirinya terhadap topik penelitian.
3. Transition Question: Pertanyaan yang membuat masing- masing narasumber saling memahami persepsi satu sama lain.
4. Key Question: Terdiri dari enam hingga tujuh pertanyaan yang berisikan pertanyan-pertanyaan yang mempu menjawab permasalahan penelitian.
5. Ending Question: Pertanyaan yang berguna untuk menyimpulkan persepsi tiap narasumber terhadap fenomena yang didiskusikan.
Penelitian ini memiliki pertanyaan focus group discussion yang telah dirancang sesuai dengan lapisan pertanyaan yang telah dijelaskan oleh Krueger. Berikut pertanyaan focus group discussion dalam penelitian ini:
1. Nama? Dimanakah anda biasanya menonton film-film Indonesia dengan latar cerita luar negeri? Apakah ada alasan mengapa anda memilih tempat tersebut!
2. Adakah hal lain yang anda sukai selain kegiatan menonton film-film Indonesia dengan latar cerita luar negeri? Apa alasan anda menyukai kegiatan tersebut?
3. Kapan anda mulai tertarik dan suka untuk menonton film-film Indonesia dengan latar cerita luar negeri?
4. Apa yang anda pikirkan ketika pertama kali menonton film Indonesia dengan latar cerita luar negeri?
5. Apa yang anda rasakan dan pikirkan sesaat sebelum dan sesudah menonton film-film Indonesia dengan latar cerita luar negeri?
6. Apakah ketika menonton film-film Indonesia dengan latar cerita luar negeri anda merasa seperti berada di dalam film dan relate dengan film tersebut (tokoh/cerita/latar/pesan/pemain, etc)? Apa yang kalian rasakan pada saat itu?
7. Apa hal yang paling membuat anda dapat relate dengan suatu film?
Berikan alasan!
8. Apakah ada pengaruh, efek atau perubahan, yang anda rasakan setelah anda menonton film-film Indonesia dengan latar cerita luar negeri, baik secara psikologi dan sosial?
9. Apakah kalian pernah menyadari bahwa film mengandung pesan tertentu di dalamnya? Pesan apa yang anda rasakan dan apa pengaruhnya terhadap diri anda?
10. Setiap film memiliki suatu pesan dan maknanya tersendiri, apakah anda pernah merasa tidak setuju dengan pesan atau makna yang disampaikan dalam film-film Indonesia dengan latar cerita luar negeri? Jelaskan seperti apa ketidaksetujuan yang anda pikirkan ketika menonton film-film tersebut?
11. Ketika menonton film, anda merasakan adanya persamaan diri anda dengan film tesebut. Kesamaan dalam hal apa yang paling sering anda rasakan? Mengapa?
12. Dari banyaknya film-film Indonesia dengan latar cerita luar negeri yang anda tonton, apa kesamaan yang dapatkan dari film-film tersebut?
13. Apa makna yang anda dapatkan dalam film-film Indonesia dengan latar cerita luar negeri melalui karakter, cerita, setting, gambar dalam film-film tersebut?
14. Bagaimana pandangan anda terhadap makna dalam film-film Indonesia dengan latar cerita luar negeri tersebut?
15. Apakah anda pernah merasa jenuh dengan keseharian anda dan melakukan pelarian dengan cara menonton film? Pengalaman seperti apa yang anda dapatkan dari film tersebut dan berikan alasan anda mengapa anda menonton film ketika jenuh?
16. Apakah film-film Indonesia dengan latar cerita luar negeri dapat anda rasakan sebagai bentuk pengekspresian emosi? Mengapa hal ini dapat terjadi dan dalam bentuk apa?
17. Apakah ada faktor iklan (marketing) yang mempengaruhi keputusan anda untuk menonton film-film Indonesia dengan latar cerita luar negeri (poster/trailer/gossip/berita/sinopsis, dan lain-lain)? Apa saja faktor tersebut?
18. Dari semua film yang anda tonton, film apa dan adegan mana yang paling melekat dalam benak anda? Jelaskan alasannya!
10. Menyediakan antisipasi masalah
Beberapa hal yang perlu dipersiapkan antisipasi permasalahannya dalam suatu perancangan focus group discussion adalah waktu yang lama dalam mencari partisipan dan kesulitan dalam proses menganalisis data yang telah didapat (Krueger & Casey, 2015, hlm. 96).
3.4. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian yang berjudul ‘Kajian Keterkaitan Film Indonesia yang Memiliki Latar Cerita Luar Negeri terhadap
Aspek Kepenontonan’ adalah discourse analisis atau analisis wacana. Menurut Gee (2001), discourse analysis adalah salah satu analisis yang digunakan untuk memahami suatu wacana yang didalamnya memiliki keterkaitan dengan pandangan, pikiran, dan tindakan seseorang. Orang-orang tersebut memiliki keterkaitan dengan suatu wacana didasari dengan adanya keterkaitan dalam diri tiap individu dengan realitas sosial dan suatu kelompok sosial tertentu yang kemudian saling menyelaraskan dan meleburkan diri satu sama lain melalui sejarah (hlm. 23).
Menururt Gee (2001), ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menganalisis data dengan teknik discourse analysis, yaitu:
1. Situated meanings and cultural models
Gee (2001) menjelaskan bahwa makna tidak hanya terletak dalam pikiran seseorang, tetapi juga terletak dalam hal-hal yang dinegosiasikan oleh orang-orang tersebut ketika sedang memiliki interaksi sosial yang komunikatif. Selain itu, ada pula hal yang menyebabkan setiap orang mampu memiliki negosiasi yang berbeda-beda. Hal tersebut menurut Gee adalah latar belakang budaya tiap individu. Budaya yang ‘didistribusikan’
ke dalam sudut pandang seseorang memicu perbedaan kemampuan dan pikiran seseorang (hlm. 80-81).
2. Reflexivity
Dalam berkomunikasi seseroang memiliki pemilihan katanya masing- masing. Gee (2001) menjelaskan bahwa melalui penggunakan bahasa yang digunakan, seseorang dapat menampilkan suatu kebiasaan tertentu sehingga mampu menampilkan realitas yang ada (hlm. 82).
3. Situations
Dalam bagian ini, Gee (2001) menjabarkan bahwa tempat dapat mempengaruhi interaksi antar individu karena adanya perbedaan aktivitas, bahasa, pengetahuan, sikap, hubungan sosial budaya tiap individu di setiap tempat yang berbeda-beda.
4. Six building tasks
Discourse analysis berfokus pada penggunaan bahasa seseorang yang digunakan dalam suatu interaksi tertentu. Setiap bagian dari bahasa, baik lisan maupun tulisan, terdiri dari seperangkat isyarat atau petunjuk gramatikal yang membantu peneliti untuk membangun enam hal yang tersurat dalam bahasa tersebut. Enam hal tersebut antara lain: semiotic building, world building, activity building, socioculturally-situated identity and relationship building, political building, connection building (Gee, 2001, hlm 85-86).
5. Social languages revisited
Gee (2001) menjelaskan bahwa bahasa memiliki suatu pola tertentu yang perlu diperhatikan untuk dapat menemukan enam hal yang tersurat dalam suatu interaksi tertentu (hlm. 86).
6. Units and transcription
Makna dalam suatu interaksi juga dapat terlihat melalui adanya gaya bicara dan gerak tubuh ketika melakukan interaksi. Intonasi, volume, kecepatan seseorang dalam berbicara bisa dianalisis untuk dapat menemukan suatu makna tertentu. Selain itu, arah pandang mata, gerak tubuh, dan aksi dari
narasumber atau pembicara juga mampu menampilkan suatu makna tersurat tertantu (Gee, 2001, hlm. 88).
7. An ‘ideal’ discourse analysis
Menurut Gee (2001), discourse analysis yang ideal dapat terbentuk apabila dalam membuat pertanyaan dalam tahap pengumpulan data, pertanyaan- pertanyaan tersebut akan lebih baik jika mengandung pertanyaan yang mampu memunculkan enam hal yang tersurat dalam sebuah interaksi.
Keenam hal tersebut antara lain semiotic building, world building, activity building, socioculturally-situated identity and relationship building, political building, connection building (hlm 92-93).
8. Validity
Discourse analysis sering kali dipandang sebagai analisis data yang bersifat subjektif karena didasari dari data-data yang berupa opini orang-orang. Oleh karena itu, Gee (2001) menjelaskan beberapa hal yang dapat digunakan sebagai rujukan bahwa suatu discourse analysis dapat dikatakan valid. Hal- hal tersebut adalah konvergensi narasumber, kesepakatan akhir antar individu, cakupan penelitian yang sesuai, detail linguistik diperhatikan secara terperinci (hlm. 95).
3.5. Pelaksanaan Focus Group Discussion
Focus Group Discussion akan dilakukan sebanyak satu kali secara mendalam dengan 4 orang narasumber pada tanggal 12 September 2019, tepatnya pada pukul 13:00 hingga 14:00. Focus Group Discussion akan diadakan di sebuah working space agar suasana cukup kondusif untuk berdiskusi. Pelaksanaan Focus Group
Discussion tidak dilakukan di Universitas Multimedia Nusantara dengan tujuan untuk meminimalisir perasaan terdominasi narasumber yang bukan berasal dari univeritas terkait. Focus Group Discussion akan dimulai dengan membagikan form data diri kepada narasumber sebagai salah satu data penelitian. Kemudian akan dilanjutkan dengan penandatanganan surat pernyataan oleh narasumber yang menyatakan bahwa narasumber telah menonton setidaknya lebih dari 50% film Indonesia dengan latar cerita luar negeri yang dirilis pad 2008 hingga 2018 dengan minimal 200.000 penonton. Focus Group Discussion akan dilakukan setelahnya dengan menanyakan 18 pertanyaan Focus Group Discussion kepada narasumber.
3.6. Temuan Penelitian
Dari pengumpulan data melalui focus group discussion yang dilakukan sebanyak satu kali secara mendalam dengan 4 orang narasumber pada tanggal 12 September 2019 dapat terlihat beberapa jawaban dari narasumber yang tidak sesuai dengan hipotesis peneliti. Hal pertama yang didapatkan dari focus group discussion adalah bahwa dari keempat narasumber tidak selalu menonton film-film Indonesia dengan latar cerita luar negeri di bioskop. Terdapat seorang narasumber yang selalu menonton film Indonesia melalui online platform, seperti Viu dan Iflix. Selain itu, narasumber lain mengatakan bahwa dirinya menonton film Indonesia melalui streaming di website illegal ketika ingin menonton, tetapi filmnya sudah tidak ada di bioskop. Temuan kedua dari focus group discussion penelitian ini adalah adanya narasumber yang mulai menyukai kegiatan menonton film Indonesia semenjak memasuki kehidupan perkuliahannya. Temuan ketiga yang didapat adalah mengenai pesan yang didapat oleh narasumber melalui film-film Indonesia dengan
latar cerita luar negeri. Dua dari empat narasumber mengatakan bahwa pesan agama dalam film-film Indonsia dengan latar cerita luar negeri kurang terasa atau bahkan sama sekali tidak ada meskipun banyak film Indonesia dengan latar cerita luar negeri yang bertemakan agama. Menurut kedua narasumber, pesan yang paling terasa dalam film Indonesia dengan latar cerita luar negeri adalah mengenai kepercayaan dan kebebasan. Temuan terakhir adalah mengenai narasumber- narasumber yang berpendapat bahwa mereka lebih terdorong untuk melakukan pekerjaan part time untuk dapat bertahan hidup di luar negeri setelah banyak menonton film-film Indonesia dengan latar cerita luar negeri.