AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI PERASAN JERUK SIAM MADU (Citrus reticulata Blanco.) DAN JERUK SUNKIST NAVEL (Citrus sinensis (L.) Osbeck) DENGAN METODE ABTS
SKRIPSI
OLEH:
FEBER S. SINAGA NIM 171501121
PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2021
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI PERASAN JERUK SIAM MADU (Citrus reticulata Blanco.) DAN JERUK SUNKIST NAVEL (Citrus sinensis (L.) Osbeck) DENGAN METODE ABTS
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara
OLEH:
FEBER S. SINAGA NIM 171501121
PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2021
iv
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat dan anugerah-Nya telah memelihara penulis disepanjang menjalani perkuliahan, bahkan sampai pada penyelesaian skripsi yang berjudul “Aktivitas Antioksidan dari Perasan Jeruk Siam Madu (Citrus reticulata Blanco.) dan Jeruk Sunkist Navel (Citrus sinensis (L.) Osbeck) dengan Metode ABTS”. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi dari Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar besarnya kepada Khairunnisa, M.Pharm., PhD., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Bapak Prof. Dr. Ginda Haro, M.Sc., Apt., selaku pembimbing saya yang telah membimbing saya selama penelitian hingga selesainya skripsi ini. Ibu Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt., dan Ibu Dra. Tuty Roida Pardede, M.Si., Apt., selaku dosen penguji yang telah memberikan kritik dan saran dalam penyusunan skripsi ini. Ibu Dr. Aminah Dalimunthe, M.Si., Apt selaku Dosen Pembimbing Akademik saya, yang senantiasa memberi bimbingan dan saran perkuliahan selama masa perkuliahan saya. Bapak dan Ibu Dosen Staf Pengajar Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik selama masa perkuliahan dan Staf Administrasi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah membantu dalam administrasi selama ini.
Penulis juga mengucapkan terimakasih serta penghargaan yang setulusnya kepada kedua orangtua terkasih, Ayahanda Robinson Sinaga dan Ibunda Helberia Br Sihotang, serta kakak Happy Sinaga, serta Abang Mekris Sinaga, Berin Sinaga dan Adik Trisno Sinaga. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada teman-
v
teman Kelompok Tumbuh Bersama “Philadelphia”, juga adik-adik kelompok kecil yang terkasih “Zuriel dan Moria Aphiemi”, sahabat terkasih Abednego, Cornelia Riama, Kak Agnes dan Kak Florensi yang selalu memberi dukungan dan doa kepada penulis, sahabat- sahabat stambuk 2017 terkhusus Paris, Indra, Anjeli, Rini, dan Mikha yang menjadi teman seperjuangan selama masa perkuliahan, teman-teman pelayan mahasiswa UKM KMK USU terkhusus Koordinasi UP MIPA 2019 dan 2020, rekan penelitian dan sahabat-sahabat terkasih yang tidak dapat disebutkan satu per satu, yang selalu memberi dukungan dan motivasi selama penulis menempuh pendidikan, bahkan terkhususnya menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat dalam skripsi ini. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak guna perbaikan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahun, terkhusus dalam bidang farmasi.
Medan, Juni 2021 Penulis,
Feber S. Sinaga NIM 171501121
vii
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI PERASAN JERUK SIAM MADU (Citrus reticulata Blanco.) DAN JERUK SUNKIST NAVEL (Citrus sinensis
(L.) Osbeck) DENGAN METODE ABTS ABSTRAK
Latar Belakang: Jeruk siam madu (Citrus reticulata Blanco.) merupakan salah satu jeruk lokal atau dikenal jeruk keprok yang banyak tersebar di seluruh indonesia. Beberapa kandungan kimia yang penting dalam jeruk siam madu adalah gula, asam organik, vitamin, fenol dan flavonoid. Jeruk sunkist navel (Citrus sinensis (L.) Osbeck) merupakan jeruk impor yang paling banyak dikonsumsi.
Kandungan pada jeruk sunkist navel adalah asam askorbat, flavonoida, hesperidin, limonene, narirutin dan beta-cryptoxanthin. Kandungan kimia yang terkandung pada jeruk siam madu dan jeruk sunkist navel memiliki potensi menjadi antioksidan bagi tubuh manusia.
Tujuan: Untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari perasan jeruk siam madu (Citrus reticulata Blanco.) dan jeruk sunkist navel (Citrus sinensis (L.) Osbeck) pada kategori antioksidan.
Metode: Metode yang dilakukan untuk uji aktivitas antioksidan ini adalah metode pemerangkapan radikal bebas ABTS (2,2’Azinobis( 3-etilbenz-tiazolin 6 sulfonat acid) menggunakan spektrofotometri UV Visible dan pengukuran dilakukan pada panjang gelombang maksimun 734 nm, kemudian hasil dianalisis dengan menggunakan konsentrasi inhibisi 50% atau disebut IC50 .
Hasil: Hasil aktivitas antioksidan diperoleh nilai IC50 dari masing masing jeruk yaitu IC50 jeruk siam madu terhadap ABTS sebesar 370,448 μg/mL (Lemah) dan nilai IC50 perasan jeruk sunkist navel terhadap ABTS adalah sebesar 230,105 μg/mL (Sedang).
Kesimpulan: Hasil aktivitas antioksidan pada metode ABTS menunjukkan bahwa perasan jeruk sunkist navel memiliki aktivitas antioksidan lebih besar dibandingkan dengan perasan jeruk siam madu.
Kata kunci: Antioksidan, Radikal bebas, Jeruk siam madu, Jeruk Sunkist navel, ABTS.
viii
ANTIOXIDANT ACTIVITY FROM SQUEEZE OF HONEY SWEET ORANGE (Citrus reticulata Blanco.) AND SUNKIST NAVEL ORANGE
(Citrus sinensis (L.) Osbeck) USING ABTS METHOD ABSTRACT
Background: Honey sweet orange (Citrus reticulata Blanco.) Is one of the local oranges or known as tangerines which are widely spread throughout Indonesia.
Some of the important chemical constituents in honey sweet oranges are sugar, organic acids, vitamins, phenols and flavonoids. Sunkist navel orange (Citrus sinensis (L.) Osbeck) is the most consumed imported citrus. The content of sunkist navel oranges is ascorbic acid, flavonoids, hesperidin, limonene, narirutin and beta-cryptoxanthin. The chemical content contained in the honey sweet orange and sunkist navel oranges have the potential to be antioxidants for the human body.
Objective: To determine the antioxidant activity of the squeezed of honey sweet oranges (Citrus reticulata Blanco.) And sunkist navel oranges (Citrus sinensis (L.) Osbeck) in the antioxidant category.
Methods: The method used for this antioxidant activity test was the ABTS (2,2'Azinobis (3-ethylbenz-thiazolin 6 sulfonic acid) free radical scavenging method using UV Visible spectrophotometry and measurements were made at a maximum wavelength of 734 nm, then the results were analyzed using concentrations. 50% inhibition or so-called IC50.
Result: The results of the antioxidant activity obtained the IC50 value of each orange, namely the IC50 of honey sweet orange against ABTS of 370.448 μg / mL (Weak) and the IC50 value of sunkist navel orange juice against ABTS was 230.105 μg / mL (moderate).
Conclusion: The results of antioxidant activity in the ABTS method showed that sunkist navel orange juice had a greater antioxidant activity than honey sweet orange juice.
Keywords: Antioxidants, Free Radicals, Honey Sweet Orange, Navel Sunkist Orange, ABTS.
ix
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... .i
HALAMAN JUDUL ...ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS... vi
ABSTRAK ... vii
ABSTRACK ... viii
DAFTAR ISI ... vix
DAFTAR TABEL ...……….……..xi
DAFTAR GAMBAR……….…… xii
DAFTAR LAMPIRAN………..…...xiii
BAB I PENDAHULUAN ...1
1.1 Latar Belakang ...1
1.2 Perumusan Masalah ...4
1.3 Hipotesis ...4
1.4 Tujuan Penelitian ...4
1.5 Manfaat Penelitian ...5
1.6 Kerangka Pikir ...5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...6
2.1 Radikal Bebas ...6
2.1.1 Defenisi Radikal Bebas ...6
2.1.2 Sumber Radikal Bebas ...6
2.1.3 Mekanise Radikal Bebas ...7
2.1.4 Efek Radial Bebas ...7
2.2 Antioksidan ...8
2.2.1 Deskripsi Antioksidan ...8
2.2.2 Jenis Jenis Antioksidan ...9
2.2.3 Mekanisme Antioksidan...11
2.3 Uraian Tumbuhan ...12
2.3.1 Sistematika Tumbuhan ...12
2.3.1.1 Jeruk Siam Madu ...12
2.3.1.2 Jeruk Sunkist Navel ...13
2.3.2 Morfologi Tumbuhan ...13
2.3.3 Khasiat Tumbuhan...14
2.4 Metode ABTS ...15
2.5 Spektrofotometri UV-Visibel ...16
BAB III METODE PENELITIAN ...20
3.1 Jenis Penelitian ...20
3.2 Alat ...21
3.3 Bahan ...20
3.4 Penyiapan Bahan Tanaman ... 221
3.4.1 Pengambilan Bahan Tanaman ...22
3.4.2 Identifikasi Tanaman ...22
3.4.3 Pengolahan Bahan Tanaman ...22
3.5 Pembuatan Pereaksi ...21
3.5.1 Pereaksi Asam Klorida 2 N...23
3.5.2 Pereaksi Asam Sulfat 2N ...23
x
3.5.3 Pereaksi Besi (III) Klorida 1%...23
3.5.4 Pereaksi Bourchardat ...23
3.5.5 Pereaksi Dragendorf ...23
3.5.6 Pereaksi Liebermann-Burchard ...23
3.5.7 Pereaksi Mayer ...22
3.5.8 Pereaksi Molisch ...23
3.5.9 Pereaksi Benedict ...23
3.5.10 Timbal (II) Asetat 0,4 M ...23
3.5.11 2,2’Azino-bis(3-etilbenzo-tiazolin-6- sulfonat) (ABTS) ...23
3.5.12 K2S2O8 (Kalium Persulfat) ...23
3.5.13 Phosphate Buffer Saline (PBS) pH 7,4 ...23
3.6 Skrining Fitokimia ...23
3.6.1 Pemeriksaan Alkaloida ...23
3.6.2 Pemeriksaan Flavonoida ...24
3.6.3 Pemeriksaan Glikosida ...24
3.6.4 Pemeriksaan Saponin ...25
3.6.5 Pemeriksaan Tanin ...25
3.6.6 Pemeriksaan Steroid/Triterpenoid ...25
3.6.7 Identifikasi Kualitatif Vitamin C ...25
3.7 Prosedur Kerja ...26
3.7.1 Pembuatan Sari Kental Perasan Jeruk Siam Madu dan Jeruk Sunkist Navel ...26
3.7.2 Pengujian Kemampuan Aktivitas Antioksidan ...26
3.7.1.1 Prinsip Metode Pemerangkapan ABTS...26
3.7.1.2 Pembuatan Larutan Blanko ABTS ...26
3.7.1.3 Pembuatan Larutan Induk Trolox ...27
3.7.1.4 Pengukuran Panjang Gelombang Serapan Maksimum ...27
3.7.1.5 Pengukuran Aktivitas Antioksidan ...28
3.8 Analisis Nilai IC50 ...29
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ...30
4.1 Hasil Identifikasi Tumbuhan...31
4.2 Hasil Skrining Fitokimia ...31
4.3 Hasil Aktivitas Antioksidan Perasan Jeruk Siam Madu dan Jeruk Sunkist Navel dengan Menggunakan Metode ABTS ...31
4.3.1 Hasil Penentuan Panjang Gelombang Serapan Maksimum ( λ maks) ....31
4.3.2 Hasil Penentuan Operating Time ...32
4.3.3 Hasil Analisis Aktivitas Antioksidan pada Perasan Jeruk Siam Madu, Jeruk Sunkist Navel dan Trolox Metode ABTS ...33
4.3.4 Hasil Nilai IC50 dari Perasan Jeruk Siam Madu, Jeruk Sunkist Navel dan Trolox Metode ABTS ...35
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...37
5.1 Kesimpulan ...37
5.2 Saran ...37
DAFTAR PUSTAKA ...38
LAMPIRAN ...40
xi
DAFTAR TABEL
4.1 Hasil Skrining Fitokimia Perasan Jeruk Siam Madu dan Sunkist Navel ... 30 4.2 Nilai Persen Peredaman ABTS dari Perasan Jeruk Siam Madu dan Sunkist
Navel dan trolox ... 32 4.5 Hasil Persamaan Regresi dan Nilai IC50 dari Sampel Uji dan Pembanding
dengan Metode ABTS ... 35 4.6 Kategori Nilai IC50 Sebagai Antioksidan ... 35
xii
DAFTAR GAMBAR
1.1 Skema Kerangka Pikir Penelitian ... 5
2.1 Jeruk Siam Madu ... 12
2.2 Jeruk Sunkist Navel ... 12
2.3 Reaksi Pembentukan Radikal Bebas dari ABTS ... 15
2.2 Spektrofotometer Uv Visible... 16
4.1 Panjang Gelombang Serapan Maksimum ABTS dalam PBS pH 7,4 ... 32
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
1. Surat Hasil Identifikasi Sampel ... 40
2. Gambar Buah Jeruk Siam Madu dan Jeruk Sunkist Navel ... 42
3. Gambar Perasan Kental Jeruk Siam Madu dan Jeruk Sunkist Navel ... 42
4. Hasil Skrining Fitokimia ... 43
5. Buffer Phosfat Saline pH 7,4 ... 44
6. Lampiran Alat ... 44
7. Bagan Alir Penyiapan Sampel dan Skrining Fitokimia ... 46
8. Bagan Alir Prosedur kerja Pengukuran Aktivitas peredaman sampel terhadap ABTS ... 47
9. Hasil Pengukuran Uji Aktivitas Antioksidan Sampel dan Trolox ... 49
10. Hasil Regresi dan Nilai IC50 Sampel dan Trolox ... 58
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap hari manusia menghadapi paparan radikal bebas yang tidak henti- hentinya, baik secara endogen (oksidasi yang tidak sempurna didalam mitrokondria) maupun secara eksogen (berupa polusi, asap rokok, radiasi dan sebagainya). Radikal bebas merupakan atom molekul yang tidak stabil dan sangat reaktif karena mengandung satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan pada orbital terluarnya. Untuk mencapai kestabilan atom atau molekul, radikal bebas akan bereaksi dengan molekul disekitarnya untuk memperoleh pasangan electron.
Reaksi ini akan berlangsung terus-menerus dalam tubuh dan bila tidak dihentikan akan menimbulkan berbagai penyakit seperti kanker, jantung, katarak, penuaan dini, serta penyakit degeneratif lainnya. Untuk mencegah penyakit tersebut maka diperlukan suatu zat yang dapat menunda atau mencegah terjadinya reaksi radikal bebas (Navitri & Maria.,2012).
Menurut Cuppert (1997) antioksidan dinyatakan sebagai senyawa yang secara nyata dapat memperlambat oksidasi, walaupun dengan kosentrasi yang lebih rendah sekalipun dibandingkan dengan substrat yang dapat dioksidasi. Senyawa - senyawa yang bersifat antioksidan diantaranya dapat berupa flavonoid, polifenol, karoten, vitamin C, vitamin E dan likopen yang banyak terdapat atau terkandung dalam tumbuhan (Navitri & Maria.,2012).
Tubuh manusia mempunyai antioksidan dengan jumlah terbatas, sehingga apabila terdapat radikal yang banyak di dalam tubuh maka tubuh membutuhkan antioksidan eksogen (luar). Sumber antioksidan eksogen dapat berupa antioksidan
2
alami maupun antioksidan buatan, tetapi saat ini penggunaan antioksidan buatan mulai dibatasi karena berdasarkan hasil penelitian bahwa antioksidan buatan (sintetik) seperti BHT (Butylated Hydroxy Toluena) dapat menjadi racun dan bersifat karsinogenik. Oleh karena itu industri pangan dan obat-obatan beralih mengembangkan dan menggunakan antioksidan alami dan mencari sumber-sumber antioksidan alam baru untuk menghindari efek buruk dari antioksidan buatan.
Sehingga antioksidan alami adalah menjadi keputusan pilihan utama yang dibutuhkan sebagai antioksidan (Sayuti & Yenrina, 2015).
Antioksidan alami dapat berasal dari tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, sayur- sayuran dan rempah-rempahan. Antioksidan alami banyak terdapat pada tumbuhan Famili Rutaceae, terutama Genus Citrus. Tanaman Citrus sp merupakan salah satu tanaman budidaya yang sangat penting dalam perekonomian masyarakat Indonesia.
Jeruk dapat dikonsumsi segar atau dibuat jus karena rasanya yang manis.
Masyarakat Indonesia sekarang lebih memilih jeruk impor daripada jeruk lokal dikarenakan warna yang menarik dan rasanya yang manis. Padahal banyak jenis jeruk lokal yang memiliki rasa dan khasiat yang tidak kalah dengan jeruk impor seperti jeruk keprok dan jeruk bali dan jeruk lainnya. Konsumsi jeruk secara rutin dapat mengurangi resiko terjadinya penyakit jantung koroner. Jeruk mengandung senyawa aktif seperti golongan senyawa fenol diantaranya flavonoid, flavanon glikosida, vitamin C dan karotenoid (Abeysinghe, 2007).
Jeruk impor yang terkenal dan banyak disukai oleh orang-orang adalah jeruk navel atau yang lebih dikenal dengan jeruk sunkist (Citrus sinensis (L). Osbeck).
Jeruk jenis ini bisa didapatkan dengan mudah yaitu pasar tradisional, pinggir jalan dan supermarket. Jeruk ini kaya akan vitamin C dan zat yang bermanfaat untuk
3
mengobati demam, mengobati infeksi, meningkatkan imunitas tubuh, menurunkan kolesterol, dan juga membuat limpa lebih kuat (Naharsari, 2007).
Jeruk siam madu (Citrus reticulata Blanco.) merupakan salah satu jeruk lokal atau dikenal jeruk keprok dan menduduki posisi teratas dibandingkan dengan jeruk lain, karena diperkirakan sekitar 60% kebutuhan akan buah jeruk dipenuhi oleh jeruk siam. Kelebihan jeruk ini antara lain rasanya manis, harum, mengandung banyak air, dan harganya relatif murah. Beberapa kandungan kimia yang penting dalam jeruk siam madu adalah gula, asam organik, vitamin, fenol dan flavonoid (Ginting, 2018).
Metode peredaman radikal bebas ABTS merupakan metode pengujian untuk mengukur jumlah radikal bebas yang dapat ditangkal oleh antioksidan yang dikenal dengan aktivitas antioksidan. Selain memiliki sensitivitas yang cukup tinggi, kelebihan ABTS dibandingkan dengan metode lain yaitu pengujiannya yang sederhana, efektif, cepat, dan mudah diulang. Metode ABTS dapat digunakan untuk mengetahui konsentrasi antioksidan yang mampu menghambat radikal bebas sebanyak 50% (IC50). Penggunaan metode peredaman radikal bebas ABTS pada pengujian antioksidan dalam buah telah banyak digunakan, seperti penelitian yang dilakukan Ji Sae Rom Lee et al. menunjukkan nilai IC50 dari ekstrak etanol 60%
buah rasberry pada panjang gelombang 734 nm sebesar 251 μg/ml.(Sherlawaty &
Sevian, 2016).
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian untuk menguji aktivitas antioksidan dari perasan jeruk siam madu (Citrus reticulata Blanco.) dan jeruk sunkist navel (Citrus sinensis (L). Osbeck) dengan metode ABTS ( 2,2’ Azino-bis (3-etylbenz-thiazoline-6-sulfonic acid).
4 1.2. Perumusan Masalah
a) Apakah perasan jeruk siam madu dan jeruk sunkist navel memiliki aktivitas antioksidan dengan menggunakan metode pemerangkapan ABTS?
b) Berapakah nilai IC50 yang diperoleh dari perasan jeruk siam madu dan sunkist navel terhadap ABTS?
c) Manakah diantara jeruk siam madu dan jeruk sunkist navel yang memiliki aktivitas antioksidan lebih besar terhadap ABTS?
1.3. Hipotesis
a) Perasan jeruk siam madu dan jeruk sunkist navel memiliki aktivitas antioksidan dengan menggunakan metode pemerangkapan ABTS.
b) Perasan jeruk siam madu dan jeruk sunkist navel memiliki nilai IC50 terhadap ABTS dengan nilai tertentu.
c) Kekuatan aktivitas antioksidan dipengaruhi oleh kandungan senyawa kimia yang terdapat pada kimia tersebut.
1.4. Tujuan Penelitian
a) Untuk mengetahui ada tidaknya aktivitas antioksidan dari perasan jeruk siam madu dan jeruk sunkist navel dengan menggunakan metode pemerangkapan ABTS.
b) Untuk mengetahui nilai IC50 yang diperoleh dari perasan jeruk siam madu dan sunkist navel terhadap ABTS.
c) Untuk mengetahui manakah diantara jeruk siam madu dan jeruk sunkist navel yang memiliki aktivitas antioksidan lebih besar terhadap ABTS.
5 1.5. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan bahwa dapat memberi informasi bahwa perasan jeruk siam madu dan jeruk sunkist navel memiiki aktivitas senyawa antioksidan. Dan dapat menjadi pilihan didalam mengkonsumsi buah jeruk dalam mencegah penyakit yang disebabkan oleh radikal bebas seperti kanker dan penyakit degeneratif lainnya.
1.6. Kerangka Pikir
Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan kerangka pikir penelitian sebagai berikut:
Variabel Bebas Variabel Terikat Parameter
Gambar 1.1 Skema Kerangka Pikir Penelitian Aktivitas
antioksidan Nilai IC50
Jeruk siam madu dan jeruk
sunkist navel
Perasan jeruk siam madu dan
sunkist navel
Kandungan metabolit sekunder
1. Alkaloid 2. Flavonoid 3. Glikosida 4. Saponin 5. Tannin 6. Steroid/
Triterpenoid 7. Vit C
Pengujian aktivitas antioksidan perasan jeruk siam madu dan sunkist navel terhadap ABTS
6 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Radikal Bebas
2.1.1 Defenisi Radikal Bebas
Radikal bebas adalah molekul yang tidak stabil dan sangat reaktif karena mempunyai satu atau lebih elektron tidak berpasangan. Radikal bebas akan bereaksi dengan molekul sekitar untuk memperoleh pasangan elektron untuk mencapai kestabilan molekul. Reaksi berlangsung terus menerus dalam tubuh dan apabila tidak dihentikan akan mengakibatkan timbulnya penyakit seperti kanker, katarak, penuaan dini, jantung serta penyakit degeneratif lainnya (Silalahi, 2006).
Radikal bebas merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya berbagai penyakit degeneratif. Radikal bebas sudah sejak lama diketahui dapat menyebabkan kerusakan membran sel, Reticulum Endoplasma dan dapat mengganggu Deoxyribonucleic acid (DNA) (Fajarwati, 2013).
2.1.2 Sumber Radikal Bebas
Radikal bebas yang ada ditubuh manusia berasal dari 2 sumber : 1. Sumber endogen
Sumber yang berasal dari proses metabolik yang normal dari tubuh manusia, lebih dari 90% oksigen diproduksi dari proses metabolik tubuh yaitu melalui proses oksidasi makanan dalam menghasilkan tenaga di mitokondria yang dikenal sebagai electron transport chain yang akan memproduksikan radikal bebas superoxide anion (O2-), sel darah putih seperti neutrophil secara khusus memproduksikan radikal bebas yang digunakan dalam pertahanan untuk menghancurkan patogen yang menyerang, radikal bebas yang terbentuk sebagai perantara dan diperlukan
7
reaksi enzimatis, reaksi yang melibatkan besi dan logam lain, olahraga dengan latihan yang lebih lama dan lebih intensif, oksigen akan lebih banyak dikonsumsi, tetapi akhirnya akan membentuk radikal bebas (Ramadhan, 2015).
2. Sumber eksogen
Sumber radikal eksogen bagi tubuh manusia dapat berupa pencemaran udara, penipisan ozon, sumber radiasi, bahan kimia, toksin, asap rokok, mikroorganisme yang patologik, sinar ultraviolet yang akan meningkatkan kadar radikal bebas secara mendadak, sebagian obat seperti anastesi, dan peptisida serta pelarut yang digunakan industri merupakan sumber eksogen radikal bebas (Ramadhan, 2015).
2.1.3 Mekanisme Radikal Bebas
Secara umum, mekanisme reaksi pembentukan radikal bebas terdiri atas tiga tahap, yaitu inisiasi, propagasi, dan terminasi. Tahap inisiasi, merupakan tahap awal pembentukan radikal bebas. Tahap kedua adalah propagasi, yaitu perubahan suatu molekul radikal bebas menjadi radikal bentuk lain (pembentukan radikal bebas baru). Tahap yang terakhir adalah terminasi. Terminasi adalah tahap dimana terjadi penggabungan dua molekul radikal bebas dan membentuk produk yang stabil (Santoso, 2016).
2.1.4 Efek Radikal Bebas
Radikal bebas bersifat destruktif, sangat reaktif dan mampu bereaksi dengan makromolekul sel, seperti: protein, lipid, karbohidrat, atau DNA. Reaksi antara radikal bebas dan molekul itu berujung pada timbulnya suatu penyakit, yaitu antara lain:
1. Kerusakan DNA pada intisel
Senyawa radikal bebas merupakan salah satu faktor penyebab kerusakan DNA dengan mengoksidasi DNA. Sel yang mengandung DNA rusak (damaged
8
DNA) tersebut bila membelah sebelum DNA tersebut diperbaiki, akan
mengakibatkan perubahan genetic secara permanen, hal tersebut merupakan langkah pertama dalam karsinogenesis. Oksidasi DNA oleh senyawa radikal bebas dapat menginisiasi terjadinya kanker
2. Kerusakan protein
Perubahan LDL (low density lipoprotein) menjadi bentuk LDL teroksidasi yang diperantarai oleh radikal bebas dapat menyebabkan kerusakan dinding arteri dan kerusakan bagian arteri lainnya. Meningkatnya kadar LDL oleh oksigen reaktif dapat merusak dinding arteri yang menyebabkan aterosklerosis.
3. Kerusakan lipid peroksida
Radikal bebas dapat menyebabkan kerusakan oksidatif pada ikatan lemak tak jenuh dalam fosfolipid membran biologi (lipid peroksidasi). Peroksidasi lipid pada membran merusak struktur membran dan menyebabkan hilangnya fungsi dari organel sel (Pratimasari, 2009).
2.2 Antioksidan
2.2.1 Deskripsi Antioksidan
Antioksidan merupakan senyawa pemberi elektron (elektron donor) atau reduktan. Senyawa ini memiliki berat molekul kecil, tetapi mampu menginaktivasi berkembangnya reaksi oksidasi, dengan cara mencegah terbentuknya radikal.
Antioksidan juga merupakan senyawa yang dapat menghambat reaksi oksidasi, dengan mengikat radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif. Akibatnya, kerusakan sel dapat terhambat (Winarsi, 2007).
Antioksidan dapat berupa enzim (misalnya superoksida dismutase atau SOD, katalase dan glutation peroksidase), vitamin (misalnya Vitamin E, C, A dan
9
betakaroten), dan senyawa lain, misalnya flavonoid, albumin, bilirubin, seruloplasmin, dan lain-lain). Antioksidan enzimatis merupakan sistem pertahanan utama terhadap kondisi stres oksidatif. Antioksidan oksidatis bekerja dengan cara mencegah terbentuknya senyawa radikal bebas baru. Disamping antioksidan yang bersifat enzimatis, ada juga antioksidan non-enzimatis yang dapat berupa senyawa nutrisi maupun non-nutrisi. Antioksidan nonenzimatis berfungsi menangkap senyawa oksidan serta mencegah terjadinya reaksi berantai. Antioksidan non enzimatis banyak ditemukan dalam sayuran maupun buah-buahan, biji-bijian, serta kacang-kacangan (Winarsi, 2007).
Secara teoritis, antioksidan akan kehilangan potensi jika tidak mempunyai kemampuan lagi untuk mengikat hidrogen atau elektron. Beberapa jenis antioksidan, terutama golongan fenolat bersifat dapat menguap dalam suhu kamar, terlebih pada proses penggorengan. Kehilangan antioksidan disebabkan oleh penguapan akibat degradasi molekul, terutama pada suhu yang tinggi (Winarsi, 2007).
2.2.2 Jenis - Jenis Antioksidan
Berdasarkan mekanisme kerjanya, antioksidan digolongkan menjadi tiga kelompok, yaitu:
1. Antioksidan Primer (Antioksidan Endogenus)
Suatu senyawa dikatakan sebagai antioksidan primer apabila dapat membersihkan atom hydrogen secara cepat kepada senyawa radikal, kemudian radikal antioksidan yang terbentuk segera berubah menjadi senyawa yang lebih stabil. Antioksidan primer disebut juga antioksidan enzimatis. Antioksida n primer meliputi enzim super oksida dismutase (SOD), katalase dan glutation peroksidase (GSH-Px). Sebagai antioksidan, enzim-enzim tersebut menghambat pembentukan
10
radikal bebas, dengan cara memutus reaksi berantai (polimerisasi), kemudian mengubahnya menjadi produk yang lebih stabil. Enzim katalase dan glutation peroksidase bekerja dengan mengubah H2O2 menjadi H2O dan O2, sedangkan SOD bekerja dengan mengkatalisis reaksi dismutasi dari radikal anion superoksida menjadi H2O2.
2. Antioksidan Sekunder (Antioksidan Eksogenus)
Antioksidan sekunder disebut juga antioksidan eksogenus atau antioksidan nonenzimatis. Dalam sistem pertahanan ini, terbentuknya senyawa oksigen reaktif dihambat dengan cara pengkelatan metal atau dirusak pembentukannya.
pengkelatan metal terjadi dalam cairan ekstra seluler. Kerja antioksidan non- enzimatis yaitu dengan cara memotong reaksi oksidasi berantai dari radikal bebas atau dengan cara menangkapnya. Akibatnya, radikal bebas tidak akan bereaksi dengan komponen seluler. Antioksidan sekunder meliputi vitamin E, vitamin C, β - karoten, flavonoid, asam urat, bilirubin dan albumin. vitamin C dan karotenoid banyak terdapat dalam buah-buahan dan sayuran.
3. Antioksidan tersier
Kelompok antioksidan tersier meliputi system enzim DNA-Repair dan metionin sulfoksida reduktase. Enzim-enzim ini berfungsi dalam perbaikan biomolekuler yang rusak akibat reaktivitas radikal bebas. Kerusakan DNA yang terinduksi senyawa radikal bebas dicirikan oleh rusaknya Single dan Double strand baik gugus non-basa maupun basa (Winarsi, 2007).
Menurut komposisinya antioksidan dibagi menjadi dua yaitu:
1. Antioksidan Sintetik
Antioksidan sintetik adalah antioksidan yang diperoleh dari hasil sintesis reaksi kimia. Senyawa fenol sintetis seperti Butil hidroksianisol (BHA) dan Butil
11
hidroksitoluen (BHT) bukan antioksidan yang baik, sebab pada pemaparan yang lama dapat menyebabkan efek negatif terhadap kesehatan serta meningkatkan terjadinya karsinogenesis. Beberapa contoh antioksidan sintetik yang diijinkan penggunaanya untuk makanan dan penggunaannya telah sering digunakan, yaitu butil hidroksi anisol (BHA), butil hidroksi toluen (BHT), propil galat (PG), tert- butil hidoksi quinon (TBHQ) dan tokoferol. Antioksidan-antioksidan tersebut merupakan antioksidan alami yang telah diproduksi secara sintetis untuk tujuan komersial. Senyawa antioksidan yang diisolasi dari sumber alami dan ditambahkan ke makanan sebagai bahan tambahan pangan (Pratt dan Hudson, 1992).
2. Antioksidan Alami
Senyawa antioksidan yang diisolasi dari sumber alami adalah yang berasal dari tumbuhan. Senyawa antioksidan alami tumbuhan umumnya adalah tokoferol, vitamin C, betakaroten, flavonoid,dan senyawa fenolik. senyawa fenolik atau polifenolik yang dapat berupa golongan flavonoid, turunan asam sinamat, kumarin, tokoferol dan asam-asam organik polifungsional. Golongan flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan meliputi flavon, flavonol, isoflavon, kateksin, flavonol dan kalkon. Sementara turunan asam sinamat meliputi asam kafeat, asam ferulat,dan asam klorogenat. Isolasi antioksidan alami telah dilakukan dari tumbuhan yang dapat dimakan,tetapi tidak selalu dari bagian yang dapat dimakan.
Antioksidan alami tersebar di beberapa bagian tanaman, seperti pada kayu, kulit kayu, akar, daun, buah, bunga, biji dan serbuk sari (Pratt & Hudson, 1992).
2.2.3 Mekanisme Kerja Antioksidan
Mekanisme antioksidan dibagi menjadi dua yaitu:
1) Mekanisme pemutusan reaksi berantai radikal bebas dengan mendonorkan atom hidrogen. Antioksidan (AH) dapat memberikan atom hidrogen secara
12
cepat pada radikal bebas (R*, ROO*), sementara radikal antioksidan (A*) yang terbentuk memiliki keadaan yang lebih stabil dibandingkan radikal bebas. Contoh antioksidan ini adalah flavonoid, tokoferol, dan senyawa tiol yang dapat memutus rantai reaksi propagasi dengan menyumbang elektron pada peroksi radikal dalam asam lemak.
2) Memperlambat laju autoantioksidan dengan berbagai mekanisme diluar mekanisme pemutusan rantai autoantioksidan dengan pengubahan radikal bebas kebentuk yang lebih stabil. Mekanismenya antara lain menghilangkan penginisiasi radikal oksigen maupun enzim yang menginisiasi radikal bebas yaitu dengan menghambat enzim pengoksidasi, penginisiasi enzim peroduksi dan mereduksi oksigen tanpa membentuk spesies radikal yang reaktif. Contoh antioksigen sekunder adalah Vitamin C, beta karoten asam urat, bilirubin, dan albumin (Wulan, 2010).
2.3 Uraian Tumbuhan 2.3.1 Klasifikasi Tumbuhan 2.3.1.1 Jeruk Siam Madu
Secara sistematis klasifikasi jeruk siam madu adalah sebagai berikut : Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta Class : Dicotyledoneae Ordo : Sapindales
Family : Rutaceae
Genus : Citrus
Species :Citrus reticulata Blanco.
13
Gambar 2.1 Jeruk siam madu
2.3.1.1 Jeruk Sunkist Navel
Secara sistematis klasifikasi jeruk sunkist navel adalah sebagai berikut : Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta Class : Dicotyledoneae Ordo : Sapindales Family : Rutaceae
Genus : Citrus
Species :Citrus sinensis (L.) Osbeck.
Gambar 2.2 Jeruk sunkist navel 2.3.2 Morfologi tumbuhan
Jeruk siam madu berasal dari siam (Muangthai). Orang siam menyebut buah ini dengan nama som kin wan. Mungkin karena orang Indonesia sulit untuk menyebut nama tersebut, maka lebih mudahnya jeruk ini disebut berdasarkan
14
nama daerah asalnya, yaitu siam. Sebenarnya jeruk siam madu tidak jauh berbeda dengan jeruk siam lainnya. Perbedaan tersebut kecil sekali, biasanya dalam hal ini warna kulit, keharuman, dan rasa yang sedikit berbeda. Perbedaan ini biasanya timbul karena berbeda daerah penanamannya. Tempat yang berbeda juga berpengaruh terhadap karakteristik buahnya. Biasanya hanya orang- orang yang sudah lama berkecimpung dalam dunia jeruk yang dapat membedakan secara pasti perbedaan macam-macam jeruk ini (Setiawan, dkk., 1996).
Jeruk siam madu memiliki beberapa ciri khas yakni: kulit buahnya tipis (sekitar 2 mm), permukaannya halus, licin, mengkilap, dan menempel lekat pada daging buah. Dasar buahnya berleher pendek dengan puncak berlekuk. Tangkai buahnya pendek dengan panjang sekitar 3 cm dan berdiameter 2,6 mm. Biji buahnya berbentuk ovoid, warnanya putih kekuningan dengan ukuran sekitar 20 biji. Berat buah jeruk sekitar 75,6 g. Satu pohon rata-rata dapat menghasilkan sekitar 7,3 Kg buah (Ade, 1996).
Jeruk sunkist navel merupakan salah satu jenis jeruk yang sedang populer saat ini. Tanaman buah asal California, Arizona ini sudah banyak tesedia di supermarket hingga pasar tradisional. jeruk sunkist navel selalu mendominasi karena memang tersedia sepanjang tahun. Penggila jeruk ini biasanya mengonsumsi sunkist dengan cara dimakan langsung atau dibuat menjadi jus (Setyowati, 2016).
Jeruk sunkist navel merupakan buah yang bulat dan besar, pada ujung buah terdapat penonjolan yang jelas, tidak memiliki biji dan kulitnya yang sangat tebal, memiliki bilur bilur yang berwarna orange. Kulit jeruk sunkist navel tersusun atas bagian epidermis, flavedo, kelenjar minyak, dan bagian paling dalam ikatan pembuluh. Bagian segmen-segmen jeruk terdiri dari dinding segmen, rongga cairan
15
dan bilur bilur kasar yang besar. Berbentuk bulat sampai bundar, ukurnya sedang hingga besar, kulit buahnya tidak rata, rasa manis dan berbau sedap (Setyowati, 2016).
2.3.3 Khasiat Tumbuhan
Jeruk siam madu mengandung senyawa kimia atau metabolit sekunder yang dapat digunakan sebagai antioksidan diantaranya adalah flavonoid dan terpenoid.
Selain kaya vitamin dan mineral, buah ini juga mengandung serat makanan yang esensial bagi pertumbuhan dan perkembangan tubuh normal. Jeruk siam madu juga kaya akan kandungan gula buah yang dapat memulihkan energi secara cepat. Jeruk siam madu juga mengandung vitamin C yang berfungsi sebagai sumber antioksidan. Kandungan flavonoid yang berlimpah berfungsi sebagai antioksidan penangkal radikal bebas penyebab kanker. Flavonoid juga mencegah terjadinya oksidasi lemak yang menyebabkan penyumbatan pembuluh darah. Jeruk siam madu juga kaya akan serat (diatery fiber) yang dapat mengikat zat karsinogen di dalam saluran pencernaan, manfaatnya sembelit, wasir, dan kanker kolon bisa dihindari (Sekar, 2011).
Senyawa kimia yang bersifat antioksidan dan vitamin C adalah bahan gizi utama jeruk sunkist navel. Jutaan orang minum jus jeruk dari jeruk sunkist navel sebagai sumber vitamin C. Vitamin C bukan hanya membantu menjaga sistem kekebalan tubuh manusia, menyembuhkan luka, dan bahkan dapat membantu mencegah penyakit jantung. Nutrisi lain dalam jeruk sunkist navel juga diketahui membantu mencegah kanker, seperti: kanker lambung dan kanker kerongkongan.
Kandungan serat yang tinggi didalam buah jeruk sunkist navel dapat membantu meningkatkan rasio kolesterol dan mengendalikan diabetes. Beta-karoten merupakan antioksidan yang ditemukan dalam jeruk sunkist navel yang membantu
16
mencegah kerusakan sel. Jeruk sunkist navel juga mengandung kalsium, kesehatan tulang dan vitamin B6 untuk meningkatkan produksi hemoglobin dalam aliran darah. Kandungan kalium tinggi didalam buah Jeruk ini membantu menjaga keseimbangan elektrolit dalam sel, dan magnesium-nya membantu menjaga tekanan darah (Qomariyah,2012).
2.4 Metode ABTS
Menurut Rohman (2016), metode ABTS atau sering disebut juga dengan Trolox Equivalent Antioxidant Capacity (TEAC) merupakan metode yang pada
umumnya sering sekali digunakan untuk mengukur kapasitas antioksidan dimana kemampuannya dalam menurunkan warna ABTS⁺ diketahui menggunakan dua cara yaitu:
a. Memotong inisiasi oksidasi
Metode ABTS dengan versi ini yakni memotong inisiasi oksidasi yang dilakukan dengan menggunakan metmioglobin-H2O2 yang bertujuan untuk menghasilkan radikal-radikal hidroksil yang mengoksidasi ABTS menjadi radikal bebasnya yang memiliki warna. Metode dalam versi ini tersedia di pasaran dalam bentuk kits, meskipun demikian reaksi ini memeberi persepsi yang ambigu hal ini dikarenakan antioksidan dapat bereaksi dengan radikal OH, metmioglobin dan ABTS⁺ yang dapat menyebabkan overestimasi aktivitas antioksidan.
b. Mereaksikan secara langsung dengan ABTS⁺
Metode pada versi ini, ABTS⁺ dihasilkan langsung dengan mereaksikan kalium persulfat sebagai agen pengoksidasi terhadap ABTS dengan hasil yang tinggi. Antioksidan selanjutnya bereaksi dengan ABTS⁺ dan warna radikal ABTS⁺
akan berkurang sesuai dengan reaksi berikut:
17
Gambar 2.3 Reaksi pembentukan radikal bebas dari ABTS dengan kalium persulfat menjadi ABTS+ dan reaksi pemerangkapan radikal bebas oleh antioksidan menjadi ABTS stabil kembali (Oliveira, dkk., 2014).
2.5 Spektrofotometri UV-Vis
Metode spektrofotometri ultraviolet dan sinar tampak (visible) telah banyak diterapkan untuk penetapan senyawa-senyawa organik yang umumnya dipergunakan untuk penentuan senyawa dalam jumlah yang sangat kecil. Dalam suatu larutan, gugus molekul yang dapat mengabsorpsi cahaya dinamakan gugus kromofor. Molekul-molekul yang hanya mengandung satu gugus kromofor dapat mengalami perubahan pada panjang gelombang. Molekul yang mengandung dua gugus kromofor atau lebih akan mengabsorpsi cahaya pada panjang gelombang yang hampir sama dengan molekul yang hanya mempunyai satu gugus kromofor tertentu, tetapi intensitas absorpsinya adalah sebanding dengan jumlah kromofor yang ada (Triyati, 1985).
Spektrofotometri pada dasarnya terdiri dari sumber sinar, monokromator, sel untuk zat yang diperiksa, detektor, penguat arus dan alat ukur atau pencatat.
Spektrofotometri serapan merupakan metode pengukuran serapan radiasi
18
elektromagnetik pada panjang gelombang tertentu yang diserap zat.
Spektrofotometri yang sering digunakan untuk mengukur serapan larutan atau zat yang diperiksa adalah spektrofotometri ultraviolet dengan panjang gelombang antara 200-400 nm dan visibel (cahaya tampak) dengan panjang gelombang antara 400-800 nm (Depkes RI, 1979; Gandjar dan Rohman, 2008).
Panjang gelombang yang digunakan untuk analisis kuantitatif adalah panjang gelombang yang mempunyai absorbansi maksimal. Untuk memilih panjang gelombang maksimal, dilakukan dengan membuat kurva hubungan antara absorbansi dengan panjang gelombang dari suatu larutan baku pada konsentrasi tertentu (Gandjar dan Rohman, 2009).
Menurut Gandjar dan Rohman (2009), ada beberapa alasan mengapa harus menggunakan panjang gelombang maksimal, yaitu:
1. Pada panjang gelombang maksimal, kepekaannya juga maksimal karena pada panjang gelombang maksimal tersebut perubahan absorbansi untuk setiap satuan konsentrasi adalah yang paling besar.
2. Disekitar panjang gelombang maksimal, bentuk kurva absorbansi datar dan pada kondisi tersebut hukum Lambert-Beer akan terpenuhi.
3. Jika dilakukan pengukuran ulang maka kesalahan yang disebabkan oleh pemasangan ulang panjang gelombang akan kecil sekali, ketika digunakan panjang gelombang maksimal.Instrumen yang digunakan untuk mempelajari serapan atau emisi radiasi elektromagnetik sebagai fungsi dari panjang gelombang disebut spectrometer atau spektrofotometer. Komponen-komponen pokok dari spektrofotometer meliputi (1) sumber tenaga radiasi yang stabil, (2) sistem yang terdiri atas lensalensa, cermin, celah-celah dan lain-lain, (3) monokromator untuk mengubah radiasi menjadi komponen-komponen panjang
19
gelombang tunggal, (4) tempat cuplikan yang transparan dan (5) detektor radiasi yang dihubungkan dengan sistem meter atau pencatat (Sastrohamidjojo, 1985).
Gambar 2.4 Diagram kerja spektrofotometri UV-Vis
i. Sumber-sumber lampu: lampu deuterium digunakan untuk daerah UV pada panjang gelombang dari 190-350 nm, sementara lampu halogen kuarsa atau lampu tungsten digunakan untuk daerah visible pada panjang gelombang antara 350-900 nm.
ii. Monokromator: digunakan untuk mendispersikan sinar ke dalam komponen- komponen panjang gelombangnya yang selanjutnya akan dipilih oleh celah (slit). Monokromatro berputar sedemikian rupa sehingga kisaran panjang gelombang dilewatkan pada sampel sebagai scan instrument melewati spektrum.
iii. Optik-optik: dapat didesain untuk memecah sumber sinar sehingga sumber sinar melewati dua kompartemen dan sebagaimana dalam spektrofotometer berkas ganda (double beam), suatu larutan blanko dapat digunakan dalam satu kompartemen untuk mengoreksi pembacaan atau spektrum sampel. Yang paling sering digunakan adalah semua pelarut yang digunakan untuk melarutkan sampel atau pereaksi.
20
iv. Detektor : Setiap detektor menyerap tenaga foton yang mengenainya dan mengubah tenaga tersebut untuk dapat diukur secara kuantitatif seperti sebagai arus listrik atau perubahan - perubahan pana. Kebanyakan detector meng- hasilkan sinyal listrik yang dapat mengaktifkan meter atau pencatat.
v. Meter atau pencatat: Setiap pencatat harus menghasilkan sinyal yang secara kuantitatif berkaitan dengan tenaga cahaya yang mengenainya (Sastrohamidjojo, 1985).
21 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Penelitian dan Laboratorium Fitokimia, Fakultas Farmasi, Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini meliputi pengumpulan sampel identifikasi sampel, dan pengolahan sampel, skrining fitokimia sample, pembuatan sample perasan jeruk, pengujian aktivitas antioksidan dengan menggunakan metode pemerangkapan radikal bebas 2,2’Azino-bis(3-ethylbenz-thiazoline-6- sulfonic acid) (ABTS) menggunakan alat spektrofotometer UV-Visibel.
3.2 Alat
Alat-alat yang digunakan terdiri dari rotary evaporator (Stuart), neraca analitik (Vibra), oven (Memmert), cawan penguap, penangas air, kaca objek, lemari pengering, gelas beker, alat pemeras jeruk, labu tentukur 25 ml; 50 ml, pipet volume 5 ml, pipet volume 1 ml, maat pipet 1 ml, mat pipet 5 ml, micro pipet, pipet tetes, corong, krus porselin, mikroskop, spektrofotometer UV-Vis (Shimadzu UV-1800).
3.3 Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah perasan jeruk siam madu (Citrus reticulata Blanco.) dan jeruk sunkist navel (Citrus sinensis (L) Osbeck). Pelarut yang digunakan adalah n-heksan, etil asetat, etanol, trolox, ABTS, PBS (Phosfat Buffer Saline) pH 7,4 , K2S2O8 (Kalium persufat), amil alkohol, asam
22
asetat anhidrida, asam klorida pekat, asam nitrat, asam sulfat pekat, besi (III) klorida, bismuth (III) nitrat, kalium iodida, kloroform, natrium hidroksida,larutan benedict, raksa (II) klorida, serbuk magnesium, timbal (II) asetat, aquadest, metanol p.a.
3.4 Penyiapan Sampel
Penyiapan sampel meliputi pengambilan sampel, identifikasi sampel, dan pengolahan sampel.
3.4.1 Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan secara purposif, yaitu tanpa membandingkan antara satu tempat dengan tempat yang lain, karena sampel dianggap homogen. Buah jeruk diambil dari salah satu Berastagi Supermarket yang ada di Medan, Sumatera Utara.
3.4.2 Identifikasi Sampel
Identifikasi sampel dilakukan di Herbarium Medanense, Laboratorium Herbarium Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sumatera Utara.
3.4.3 Pengolahan Sampel
Bahan yang digunakan adalah perasan buah jeruk siam madu (Citrus reticulate Blanco) dan jeruk sunkist navel ( Citrus sinensis (L.) Osbeck). Buah jeruk masing masing ditimbang 1000 g kemudian masing masing buah dibelah dua lalu diperas dengan alat perasan buah. Perasan dibersihkan dari biji dan pengotornya, kemudian disaring perasan buah dan filtrat dimasukkan kedalam masing masing wadah, dilabeli dan disimpan di tempat yang sejuk atau suhu dingin (lemari pendingin) untuk menjaga supaya perasan buah tersebut tetap segar dan aman.
23 3.5 Pembuatan pereaksi
3.5.1 Pereaksi Asam Klorida 2 N
Sebanyak 17 mL asam klorida pekat diencerkan dengan air suling sampai 100 mL (Depkes, 1995).
3.5.2 Pereaksi Asam Sulfat 2N
Sebanyak 5,5 mL asam sulfat pekat diencerkan dengan air suling hingga diperoleh 100 mL (Depkes, 1995).
3.5.3 Pereaksi Besi (III) Klorida 1% b/v
Sebanyak 1 g besi (III) klorida (FeCl3) dilarutkan dalam air suling sampai 100 mL (Depkes, 1995).
3.5.4 Pereaksi Bourchardat
Sebanyak 4 g kalium iodida dilarutkan dalam air suling secukupnya kemudian ditambahkan 2 g iodida sedikit demi sedikit cukupkan dengan air suling sampai 100 mL (Depkes, 1995).
3.5.5 Pereaksi Dragendorff
Sebanyak 0,8 g bismut nitrat dilarutkan dalam asam nitrat pekat 20 mL kemudian dicampurkan dengan larutan kalium iodida sebanyak 27,2 g dalam 50 mL air suling. Campuran didiamkan sampai memisah sempurna. Larutan jernih diambil dan diencerkan dengan air suling secukupnya hingga 100 mL (Depkes, 1995).
3.5.6 Pereaksi Liebermann-Burchard
Campur secara perlahan 5 mL asam asetat anhidrit dengan 5 mL asam sulfat pekat tambahkan etanol hingga 50 mL (Depkes, 1995).
24 3.5.7 Pereaksi Mayer
Sebanyak 1,4 g raksa (II) klorida, kemudian dilarutkan dalam air suling hingga 60 mL. Ditimbang sebanyak 5 g kalium iodida lalu dilarutkan dalam 10 mL air suling. Larutan dicampurkan dan ditambahkan air suling hingga diperoleh larutan 100 mL (Depkes, 1995).
3.5.8 Pereaksi Molish
Sebanyak 3 g α-naftol ditimbang dilarutkan dalam asam nitrat 0,5 N himngga diperoleh larutan 100 mL. (Ditjen POM, 1995)
3.5.9 Pereaksi Benedict
Sebanyak 173 g Natrium sitrat dan 100 g natrium karbonat dilarutkan dalam 600 mL aquades, 17,3 g Cupri Sulfat dilarutkan dalam 150 mL akuades, kedua larutan tersebut dimasukkan dalam beaker gelas dan diaddkan hingga 1000 mL akuades (Depkes, 1995).
3.5.10 Timbal (II) Asetat 0,4 M
Timbal (II) asetat sebanyak 15,17 g dilarutkan dalam air suling bebas CO2 hingga 100 mL (Depkes, 1995).
3.5.11 2,2’Azino-bis(3-etilbenz-tiazolin 6-sulfonat acid) (ABTS)
ABTS 7 mM sebanyak 18 mg dilarutkan dalam aqua deionisasi hingga 5 mL.
3.5.12 K2S2O8 (Kalium Persulfat)
Kalium persulfat 2,45 mM sebanyak 14 mg dilarutkan dalam aqua deionisasi hingga 20 mL.
25 3.5.13 Phosphate Buffer Saline (PBS) pH 7,4
Sebanyak 8 g Natrium klorida, 0,2 g Kalium klorida, 1,42 g Natrium hidrogen fosfat, 0,24 Kalium dihidrogen fosfat dilarutkan dalam aquadest sampai 1 Liter.
3.6 Skrining Fitokimia
Skrining fitokimia dari perasan jeruk siam madu dan jeruk sunkist navel meliputi pemeriksaan alkaloida, flavonoida, glikosida, saponin, tanin dan steroid/triterpenoid.
3.6.1 Pemeriksaan Alkaloid
Perasan kedua jeruk ditimbang sebanyak 0,5 g, ditambahkan 10 mL asam klorida 0,2 N, dipanaskan di atas penangas air selama 10 menit, didinginkan Filtrat yang diperoleh dipakai untuk uji alkaloid. Kedalam 3 tabung reaksi dimasukkan 0,5 mL filtrat. Pada masing-masing tabung reaksi :
1. ditambahkan 2 tetes pereaksi Mayer 2. ditambahkan 2 tetes pereaksi Dragendorff 3. ditambahkan 2 tetes pereaksi Bouchardat
Alkaloid positif jika terjadi endapan atau kekeruhan pada dua dari tiga pereaksi di atas (Depkes. 1995).
3.6.2 Pemeriksaan Flavonoid
Sebanyak 10 g perasan jeruk ditambahkan 10 mL air panas, dididihkan selama 5 menit ke dalam 5 mL larutan sampel ditambahkan 0,1 g serbuk magnesium dan 1 mL asam klorida pekat dan 2 mL amil alkohol, dikocok dan dibiarkan memisah. Flavonoid positif jika terjadi warna merah atau kuning atau jingga pada lapisan amil alkohol (Farnsworth, 1966).
26 3.6.3 Pemeriksaan Glikosida
Perasan jeruk ditimbang masing masing sebanyak 3 g, lalu disari dengan 30 mL campuran etanol 95% dengan air (7:3) dan 10 mL asam klorida 2 N, direfluks selama 2 jam, didinginkan. Diambil 20 mL ditambahkan 25 mL air suling dan 25 mL timbal (II) asetat 0,4 M, dikocok, didiamkan 5 menit lalu disaring. Filtrat disari dengan 20 mL campuran isopropanol dan kloroform (2:3), dilakukan berulang sebanyak 3 kali. Sari air dikumpulkan dan diuapkan pada temperatur tidak lebih dari 50°C. Sisanya dilarutkan dalam 2 mL metanol. Larutan metanol digunakan untuk percobaan berikut: 0,1mL larutan percobaan dimasukan dalam tabung reaksi dan diuapkan diatas penangas air. Pada sisa ditambahkan 2 mL air dan 5 tetes pereaksi Molish. Kemudian secara perlahan-lahan ditambahkan 2mL asam sulfat pekat melalui dinding tabung, terbentuknya cincin berwarna ungu pada batas kedua cairan menunjukkan glikosida (Depkes, 1995).
3.6.4 Pemeriksaan Saponin
Perasan jeruk ditimbang sebanyak 0,5 g dan dimasukan ke dalam tabung reaksi, lalu ditambahkan 10 mL air panas, dinginkan kemudian dikocok kuat-kuat selama 10 detik. Terbentuk busa setinggi 1-10 cm yang stabil tidak kurang dari 10 menit dan tidak hilang dengan penambahan 1 tetes asam klorida 2 N menunjukkan adanya saponin (Depkes, 1995).
3.6.5 Pemeriksaan Tanin
Perasan jeruk ditimbang sebanyak 1 g, dididihkan selama 3 menit dalam 100 mL air suling lalu didinginkan dan disaring. Pada filtrat ditambahkan 1 -2 tetes peraksi besi (III) klorida 1%. Jika terjadi warna biru kehitaman atau hijau kehitaman menunjukan adanya tanin (Farnsworth, 1966).
27 3.6.6 Pemeriksaan Steroid/Triterpenoid
Sebanyak 1 g perasan jeruk dimaserasi dengan eter 20 mL selama 2 jam, disaring, lalu filtrat diuapkan dalam cawan penguap. Pada sisa ditambahkan 20 tetes asam asetat anhidrat dan 1 tetes asam sulfat pekat (pereaksi Lieberman- Burchard). Apabila terbentuk warna biru atau biru hijau menunjukkan adanya steroida sedangkan warna merah, merah muda atau ungu menunjukkan adanya triterpenoid (Harbone, 1996).
3.6.7 Identifikasi Vitamin C
Sebanyak 5 tetes perasan jeruk siam madu dan jeruk sunkist navel dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan 15 tetes pereaksi benedict. Tabung reaksi dipanaskan di atas api kecil sampai mendidih selama 2 menit. Perhatikan adanya endapan yang terbentuk. Warna hijau kekuning-kuningan sampai merah bata menandakan vitamin C positif (Puspitasari, 2019).
3.7 Prosedur Kerja
3.7.1 Pembuatan Perasan Kental Jeruk Siam Madu dan Sunkist Navel
Pembuatan perasan kental dilakukan dengan cara penguapan didalam rotary evaporator yaitu perasan jeruk siam madu dan jeruk sunkist navel masing masing dimasukkan sedikit demi sedikit dari corong kaca kedalam labu alas bulat agar sampel tidak tumpah, kemudian diuapkan dengan menggunakan vacum rotary evaporator dengan suhu penguapan yang digunakan 600C , karena pada suhu tersebut kandungan air yang terkandung dalam filtrat jeruk akan teruapkan dan menjaga agar senyawa kimia didalamnya tidak rusak seperti flavonoid dan vitamin C. Dari hasil penguapan filtrat diperoleh sampel pekat (Rahmawati, 2012).
28
3.7.2 Pengujian Kemampuan Aktivitas Antioksidan 3.7.2.1 Prinsip Metode Pemerangkapan ABTS
Kemampuan sampel uji dalam meredam radikal ABTS (2,2’Azinobis( 3- etilbenz-tiazolin 6 sulfonat acid) dalam larutan metanol menyebabkan terjadinya
oksidasi (sehingga terjadi perubahan warna dari biru kehijauan menjadi putih) dengan nilai IC50 (konsentrasi sampel uji yang mampu meredam radikal bebas sebesar 50%) digunakan sebagai parameter untuk menentukan aktivitas antioksidan sampel (Yu, 2002).
3.7.2.2 Pembuatan Larutan Blanko ABTS
a. Larutan ABTS : Ditimbang 18 mg ABTS (7 mM) dilarutkan kedalam aqua deionisasi dalam labu tentukur 5 mL
b. Larutan K2S2O8 : Ditimbang 14 mg kalium persulfat (2,45 mM) dilarutkan kedalam aqua deionisasi dalam botol sampai 20 mL
c. Larutan stok ABTS : 5 mL larutan ABTS ditambahkan 5 mL larutan kalium persulfat, diinkubasi dalam ruang gelap suhu 250C selama 16 jam sebelum digunakan, dihasilkan ABTS dengan warna biru gelap (Rosidah dkk., 2008).
3.7.2.3 Pembuatan Larutan Induk 6 Hidroxy 2,5,7,8 Tertrametylchroman 2 Carboxylic Acid (Trolox)
Sebanyak 10 mg serbuk trolox ditimbang, dimasukkan ke dalam labu tentukur 10 ml dilarutkan dengan metanol lalu volumenya dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda (konsentrasi 1000 μg/ml ).
3.7.2.4 Pengukuran Panjang Gelombang Serapan Maksimum
Larutan stok ABTS dipipet sebanyak 1 mL dan dicukupkan volumenya sampai 25 mL dengan PBS pH 7,4 dalam labu tentukur. Larutan ini kemudian
29
diukur pada panjang gelombang 734 nm dengan absorbansi 0,7 ± 0,02 (Rosidah dkk., 2008).
3.7.3 Pengukuran Aktivitas Antioksidan
a. Pengukuran Aktivitas Penghambatan Radikal Bebas ABTS Dengan Larutan Uji Jeruk Siam Madu
Larutan stok sampel jeruk siam madu 1000 μg/ml dengan masing-masing konsentrasi dengan konsentrasi 40 µg/mL;80 µg/mL;120 µg/mL;160 µg/mL; 200 µg/mL atau dipipet sebanyak 0,2 ml; 0,4 ml; 0,6 ml; 0,8 ml; 1 ml ke dalam labu tentukur 5 mL. Kemudian di ad kan volumenya sampai batas dengan metanol p.a.
Dari masing-masing konsentrasi, dipipet sebanyak 0,1 mL larutan sampel ditambah 2 mL larutan stok ABTS. Selanjutnya larutan diinkubasi selama 6 menit dan diukur serapan dengan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 734 nm.
Besarnya daya antioksidan dihitung dengan rumus : Daya Antioksidan = Abs.Blanko − Abs.Sampel
Abs.Blanko x100 %
b. Pengukuran Aktivitas Penghambatan Radikal Bebas ABTS Dengan Larutan Uji Jeruk Sunkist Navel
Larutan stok sampel sunkist navel 1000 μg/ml dengan masing-masing konsentrasi dengan konsentrasi 25 µg/mL;50 µg/mL; 75 µg/mL; 100 µg/mL, 125 µg/mL atau dipipet sebanyak 0,125 mL; 0,25 mL; 0,375 mL; 0,5 mL; 0,625 mL ke dalam labu tentukur 5 mL. Kemudian di-ad kan volumenya sampai batas dengan metanol p.a. Dari masing-masing konsentrasi, dipipet sebanyak 0,1 mL larutan ekstrak ditambah 2 mL larutan stok ABTS. Selanjutnya larutan diinkubasi selama 6 menit dan diukur serapan dengan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 734 nm. Besarnya daya antioksidan dihitung dengan rumus :
Daya Antioksidan = Abs.Blanko − Abs.Sampel
Abs.Blanko x100 %
30
c. Pengukuran Aktivitas Penghambatan Radikal Bebas ABTS Dengan Pembanding Trolox
Larutan stok trolox 1000 μg/ml dengan masing-masing konsentrasi 5 μg/ml, 10 μg/ml, 15 μg/ml, dan 20 μg/ml; 25 μg/ml atau dipipet masing-masing sebanyak 0,025 mL; 0,05 mL; 0,075 mL; 0,1 mL; 0,125 mL kedalam labu tentukur 5 mL.
Kemudian di add kan volumenya sampai batas dengan metanol p.a. Dari masing- masing konsentrasi, dipipet sebanyak 0,1 mL larutan ditambah 2 mL larutan stok ABTS. Selanjutnya larutan diinkubasi selama 6 menit dan diukur serapan dengan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 734 nm. Besarnya daya antioksidan dihitung dengan rumus :
Daya Antioksidan = Abs.Blanko − Abs.Sampel
Abs.Blanko x100 %
3.8 Perhitungan Nilai IC50
Perhitungan yang digunakan dalam penentuan aktivitas pemerangkapan radikal bebas adalah nilai 𝐼𝐶50 (Inhibitory Concentration), nilai tersebut menggambarkan besarnya konsentrasi senyawa uji yang dapat memerangkap radikal bebas sebesar 50%. Hasil perhitungan dimasukkan ke dalam persamaan regresi dengan konsentrasi sampel (μg/ml ) sebagai absis (sumbu x) dan nilai % inhibisi sebagai ordinatnya (sumbu y). Untuk menghasilkan persamaan regresi, diperoleh dengan rumus:
Y = aX ± b
Dimana, a= ( ∑ 𝑥𝑦)−( ∑ 𝑥)( ∑ 𝑦)/𝑛 (∑X2)−( ∑ X)2/𝑛
Keterangan:
X = Konsentrasi (µg/mL)
Y = %Peredaman (Mardawati dkk., 2008).
31 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Identifikasi Tumbuhan
Hasil identifikasi tumbuhan yang dilakukan di Herbarium Medanense (MEDA) USU, Medan Sumatera Utara. menunjukkan bahwa tumbuhan yang diteliti adalah jeruk siam madu (Citrus reticulata Blanco.) dan jeruk sunkist navel (Citrus sinensis (L.) Osbeck). Hasil identifikasi tumbuhan dapat dilihat pada lampiran 1 dan 2 halaman 40.
4.2 Hasil Skrining Fitokimia
Hasil skirining fitokimia yang dilakukan terhadap perasan jeruk siam madu dan sunkist navel dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Hasil skrining fitokimia perasan jeruk siam madu dan sunkist navel
No. Pemeriksaan Perasan jeruk
JSN JSM
1. Alkaloid - -
2. Flavonoid +
(Kuning)
+ (Kuning)
3. Tanin - -
4. Saponin - -
5. Glikosida + +
6. Steroid/ triterpenoid - -
7 Vitamin C (Metode benedict) +
( Hijau)
+ (Hijau) Keterangan :
(+) positif : mengandung senyawa metabolit sekunder (-) negatif : tidak mengandung senyawa metabolit sekunder JSN: Jeruk sunkist navel
JSM: Jeruk siam madu
Hasil yang diperoleh pada Tabel 4.2 menunjukkan bahwa perasan kedua jeruk yang diidentifikasi mengandung senyawa flavonoid dan glikosida dan vitamin C.
32
Hasil di atas menunjukkan bahwa perasan kedua jeruk memiliki potensi sebagai antioksidan dengan adanya senyawa yang mempunyai potensi sebagai antioksidan yaitu flavonoid dan vitamin C. Di antara metabolit sekunder, flavonoid sangat ampuh sebagai antioksidan. Flavonoid dan turunannya merupakan golongan polifenol yang banyak dan sangat penting pada tanaman. Flavonoida bertindak sebagai pemerangkapan radikal hidroksil yang sangat reaktif. Antioksidan dapat berupa enzim (misalnya super-oksida dismutase atau SOD, katalase dan glutation peroksidase), vitamin (misalnya Vitamin E, C, A dan beta-karoten), dan senyawa lain, misalnya flavonoid, albumin, bilirubin, seruloplasmin, dan lain-lain).
Antioksidan enzimatis merupakan sistem pertahanan utama terhadap kondisi stres oksidatif. Antioksidan oksidatis bekerja dengan cara mencegah terbentuknya senyawa radikal bebas baru (Winarsi, 2007).
4.3 Hasil Aktivitas Antioksidan Perasan Jeruk Siam Madu dan Jeruk Sunkist Navel dengan Menggunakan Metode ABTS
Hasil aktivitas antioksidan perasan jeruk siam madu dan jeruk sunkist navel dengan metode ABTS (2,2 Azinobis (3-ethylbenothiazoline) 6-Sulfonic Acid), larutan stok ABTS dibuat terlebih dahulu dengan ditambahkan larutan kalium persulfat yang didiamkan dalam gelap pada suhu kamar (22-24◦C) selama 12-16 jam sampai biru kehijauan. Kemudian dibuat larutan stok ABTS dalam PBS pH 7,4 dengan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 734 nm dengan absorbansi 0,7 ± 0,02 (Rosidah dkk., 2008).
4.3.1 Hasil Penentuan Panjang Gelombang Serapan Maksimum ( λ maks) ABTS dilarutkan dalam air deionisasi sehingga konsentrasi ABTS adalah 7 mM. ABTS radikal kation (ABTS+) didapatkan dengan mereaksikan larutan stok
33
ABTS dengan larutan kalium persulfat konsentasi 2,45 Mm dan membiarkan campuran tersebut dalam tempat gelap pada suhu kamar (22-24 oC) selama 12-16 jam. Bila absorbansi larutan ABTS yang terkonsentrasi terlalu tinggi diencerkan dengan PBS pH 7,4 sampai absorbansi akhir 0,70 ± 0,02 pada 734 nm (Rosidah dkk., 2008). Hasil yang diperoleh pada absorbansi 0,705 dengan panjang gelombang 734 nm sesuai dengan panjang gelombang ABTS yaitu 610-750 nm (Rohman, 2007). Data hasil pengukuran panjang gelombang serapan maksimum ABTS dalam PBS pH 7,4 dapat dilihat pada gambar 4.1
Gambar 4.1 Panjang Gelombang serapan Maksimum ABTS dalam PBS pH 7,4 4.3.2 Hasil Penentuan Operating Time
Pada metode ABTS, dalam penelitian yang telah dilakukan bahwa operating time untuk metode ini adalah pada menit ke-6. Dengan cara masing
masing larutan induk baku yang kedua diambil 0,1 ml kemudian diambil 2 ml larutan stok ABTS (absorbansi 0,7 ± 0,02 pada panjang gelombang 734 nm) dan diukur setelah menit ke-6 (Rosidah dkk., 2008).
34
4.3.3 Hasil Analisis Aktivitas Antioksidan pada Perasan Jeruk Siam Madu, Jeruk Sunkist Navel dan Trolox Metode ABTS
Menurut Molyneux (2004) penentuan persen peredaman radikal bebas oleh sampel uji dapat dihitung menggunakan rumus berikut:
Aktivitas Peredaman (%) = Akontrol− Asampel
Akontrol x 100%
Aktivitas antioksidan dengan metode ABTS dari perasan jeruk siam madu setelah penambahan larutan uji dengan konsentrasi 40 µg/mL; 80 µg/mL; 120 µg/mL; 160 µg/mL; 200 µg/mL; lalu masing-masing konsentrasi diambil 0,1 mL dan masing masing ditambahkan 2 mL larutan ABTS terorientasi dan diukur setelah menit ke-6. Selanjutnya hasil dibandingkan dengan kontrol ABTS tanpa larutan uji. Nilai persen peredaman ABTS pada ekstrak etanol dapat dilihat pada Tabel 4.2. Contoh perhitungan persen peredaman ABTS dapat dilihat pada Lampiran 11 halaman 48.
Aktivitas antioksidan dengan metode ABTS dari perasan jeruk Sunkist navel setelah penambahan larutan uji dengan konsentrasi 25 µg/mL;50 µg/mL;75 µg/mL; 100 µg/mL; 125µg/mL; lalu masing-masing konsentrasi diambil 0,1 mL dan masing masing ditambahkan 2 mL larutan ABTS terorientasi dan diukur setelah menit ke-6. Selanjutnya hasil dibandingkan dengan kontrol ABTS tanpa larutan uji. Nilai persen peredaman ABTS pada ekstrak etanol dapat dilihat pada Tabel 4.2. Contoh perhitungan persen peredaman ABTS dapat dilihat pada Lampiran 11 halaman 51.
Pengukuran aktivitas antioksidan dengan metode ABTS dari trolox diukur setelah penambahan larutan pembanding dengan konsentrasi 5 µg/mL; 10 µg/mL;
15 µg/mL; 20 µg/mL; 25 µg/mL; lalu masing-masing konsentrasi diambil 0,1 mL dan masing masing ditambahkan 2 mL larutan ABTS terorientasi dan diukur
35
setelah menit ke-6. Selanjutnya hasil dibandingkan dengan kontrol ABTS tanpa larutan uji. Nilai persen peredaman ABTS pada trolox dapat dilihat pada Tabel 4.2 berikut ini. Contoh perhitungan persen peredaman ABTS dapat dilihat pada Lampiran 11 halaman 54. Hasil perhitungan nilai persen pemerangkapan sampel uji dan pembanding terhadap ABTS dapat dilihat pada Tabel 4.2 berikut.
Tabel 4.2 Nilai persen pemerangkapan ABTS dari perasan jeruk siam madu, jeruk sunkist navel dan trolox
Berdasarkan Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan persen pemerangkapan ABTS berbanding lurus dengan semakin meningkatnya konsentrasi larutan sampel uji pada berbagai pelarut. Semakin besar nilai persen pemerangkapan maka semakin baik aktivitas suatu senyawa dalam menangkap radikal ABTS maka semakin kuat pula daya antioksidannya yang dapat dilihat dari nilai IC50 .
Larutan Uji Konsentrasi (μg/mL) Rerata
% Peredaman
Perasan jeruk siam madu 0 0,000
40 3,782
80 11,969
120 16,571
160 20,104
200 27,150
Perasan jeruk Sunkist navel 0 0,000
25 5,804
50 10,932
75 14,300
100 21,606
125 28,134
Trolox 0 0,000
5 6,867
10 17,476
15 27,142
20 36,483
25 46,043
36
4.4.4 Hasil Perhitungan Nilai IC50 dari Perasan Jeruk Siam Madu, Jeruk Sunkist Navel danTrolox dengan Metode ABTS
Penentuan hasil dari metode pemerangkapan ABTS adalah dengan menghitung IC50, di mana IC50 ini menunjukkan konsentrasi substrat yang mampu meredam 50% aktivitas dari radikal bebas ABTS. Perhitungan IC50 dapat dilihat pada Lampiran 12, halaman 59.
Hasil perhitungan dimasukkan ke dalam persamaan regresi dengan konsentrasi sampel (μg/mL) sebagai absis (sumbu x) dan nilai persen aktivitas peredaman sebagai ordinat (sumbu Y). untuk menghasilkan persamaan regresi, diperoleh dengan rumus
Y = aX ± b
Dimana, a= ( ∑ 𝑥𝑦)−( ∑ 𝑥)( ∑ 𝑦)/𝑛 (∑X2)−( ∑ X)2/𝑛
Keterangan:
X = Konsentrasi (µg/mL)
Y = %Peredaman (Molyneux, 2004).
Perhitungan persamaan regresi untuk menghitung nilai IC50 dapat dilihat pada Lampiran 12, halaman 59.
Menurut Mardawati, et.al. adapun kategori nilai IC50 adalah sebagai berikut:
Tabel 4.4 Kategori nilai IC50 sebagai Antioksidan
(Mardawati, dkk, 2008).
No. Kategori Nilai IC50 (μg/mL)
1. Sangat Kuat <50
2. Kuat 50-100
3. Sedang 100-250
4. Lemah 250-500
5. Tidak Aktif >500