Triwulan III
Tahun 2021
LAPORAN
DITJEN PDSPKP
KINERJA
Direktorat Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan
Kementerian Kelautan dan Perikanan
i
KATA PENGANTAR
Laporan Kinerja (LKj) Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (Ditjen PDSPKP) Triwulan III Tahun 2021 sebagai wujud pertanggungjawaban kepada stakeholders sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 29 tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.
Laporan ini merupakan media akuntabilitas yang merinci pertanggungjawaban pelaksanaan amanah yang diemban organisasi dan tanggung jawab pemakaian sumber daya untuk menjalankan misi organisasi. Di samping itu, informasi perihal pengelolaan kegiatan dan sasaran organisasi diuraikan dalam rangka pencapaian visi dan misinya.
Sebagai landasan penyusunan LKj Ditjen PDSPKP Triwulan III Tahun 2021 adalah Rencana Strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan (Renstra KKP) Tahun 2020-2024 dan Rencana Strategis (Renstra) Ditjen PDSPKP Tahun 2020-2024 serta Target Kinerja Ditjen PDSPKP Tahun 2021 berikut realisasinya. Laporan ini memuat pula pencapaian kinerja sasaran dan kinerja kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi Ditjen PDSPKP.
Kami berharap agar laporan kinerja ini dapat memenuhi harapan sebagai media pertanggungjawaban kepada stakeholders dan pemacu peningkatan kinerja bagi organisasi Ditjen PDSPKP.
Jakarta, 29 Oktober 2021 Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan
Artati Widiarti
ii
TIM PENYUSUN
Pengarah Artati Widiarti
Penyusun Berny A. Subki Budi Yuwono Achmad Hidayat Tiara Pratiwi Darmawangsa Yayuk Sukarsih Agustina Pujiastuti Andika Adisukma Ade Juli Haflah Mulia
Kontributor
Tim Harmonisasi Kinerja Antar Kementerian Lembaga lingkup Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan
iii
IKHTISAR EKSEKUTIF
Ditjen PDSPKP telah menetapkan Renstra Ditjen PDSPKP Tahun 2020- 2024 pada tahun 2020. Pada tahun 2021, Ditjen PDSPKP telah menyusun Rencana Kerja Tahun 2021 sebagai turunannya yang selanjutnya menjadi dasar penyusunan Perjanjian Kinerja Tahun 2021. Berdasarkan perjanjian kinerja tersebut, terdapat 22 (dua puluh dua) Indikator Kinerja yang terdiri dari 10 (sepuluh) Indikator Kinerja Utama (IKU) dan 12 (dua belas) Indikator Kinerja (IK) yang menjadi target Ditjen PDSPKP.
Dari 22 indikator kinerja tersebut, sebanyak 4 capaian indikator kinerja melampaui target triwulan III tahun 2021 yang ditetapkan dan sebanyak 1 indikator kinerja lainnya belum melampaui target triwulan III tahun 2021 yang ditetapkan. Dengan kondisi capaian ini, nilai kinerja organisasi Ditjen PDSPKP yang ditunjukan dengan Nilai Pencapaian Sasaran Strategis (NPSS) mencapai 107,05%.
Pencapaian Sasaran Program dan Indikator Kinerja Ditjen PDSPKP Triwulan III Tahun 2021 adalah sebagai berikut :
1. Dari 22 indikator kinerja yang telah ditetapkan, terdapat 15 indikator kinerja yang bersifat tahunan dan 2 indikator kinerja bersifat semesteran.
Sebanyak 11 indikator kinerja dimaksud yaitu (1) Nilai Tukar Pengolah Hasil Perikanan, (2) Volume Produk Olahan Kelautan dan Perikanan Berdaya Saing, (3) Konsumsi Ikan, (4) Kinerja Logistik Hasil Perikanan, (5) Tingkat Kemandirian SKPT di Bawah Tanggung Jawab Ditjen PDSPKP, (6) Level Maturitas SPIP Ditjen PDSPKP, (7) Unit yang Menerapkan Inovasi Pelayanan Publik Lingkup Ditjen PDSPKP, (8) Nilai Kinerja Anggaran (NKA) Ditjen PDSPKP, (9) Tingkat Efektivitas Pelaksanaan Kegiatan Prioritas/Strategis lingkup Ditjen PDSPKP, (10) Tingkat Kepatuhan Pengadaan Barang/Jasa Lingkup Ditjen PDSPKP, dan (11) Tingkat Kepatuhan Pengelolaan BMN Lingkup Ditjen PDSPKP. Sedangkan 2 indikator kinerja yang bersifat semesteran yaitu Indeks Profesionalitas ASN Ditjen PDSPKP dan Nilai Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA) Ditjen PDSPKP.
iv
2. Sebanyak 6 indikator kinerja, realisasinya telah mencapai atau melebihi target triwulan III tahun 2021 yang ditetapkan (capaian ≥ 100) dan sebanyak 3 indikator kinerja yang belum dapat mencapai target triwulan III tahun 2021 (capaian <100%).
3. Indikator Kinerja yang realisasinya telah mencapai atau melebihi target triwulan III tahun 2021 yang telah ditetapkan (capaian ≥ 100) antara lain : (1) Nilai Investasi Kelautan dan Perikanan (angka prognosa), (2) Pembiayaan Usaha Kelautan dan Perikanan melalui Kredit Program, (3) Nilai PMPRB Ditjen PDSPKP, (4) Persentase Unit Kerja yang Menerapkan Sistem Manajemen Pengetahuan yang Terstandar Lingkup Ditjen PDSPKP, (5) Persentase Rekomendasi hasil pengawasan yang dimanfaatkan untuk perbaikan kinerja Lingkup Ditjen PDSPKP, dan (6) Nilai PMSAKIP Ditjen PDSPKP.
4. Uraian indikator kinerja yang realisasinya belum mencapai target triwulan III tahun 2021 yang telah ditetapkan (capaian <100%) antara lain : (1) Nilai Ekspor Hasil Perikanan, (2) Indeks Profesionalitas ASN Ditjen PDSPKP, dan (3) Nilai Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA) Ditjen PDSPKP.
5. Kemudian terdapat indikator kinerja yang bersifat tahunan namun capaiannya telah diukur pada Triwulan III Tahun 2021 yakni (1) Unit Kerja yang Berpredikat Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi Lingkup Ditjen PDSPKP yang baru tercapai 33,33% dan (2) Batas Toleransi Materialitas Temuan Pengawas Eksternal dari Total Realisasi Anggaran Lingkup Ditjen PDSPKP yang telah tercapai 120% (persentase maksimal pada Sistem Aplikasi Pengelolaan Kinerja).
Pada tahun 2021, anggaran pembangunan penguatan daya saing produk kelautan dan perikanan yang dikelola oleh Ditjen PDSPKP adalah sebesar Rp189.617.795.000,- yang seluruhnya merupakan APBN murni.
Sampai dengan triwulan III tahun 2021, penyerapan anggaran Ditjen PDSPKP adalah sebesar Rp131.677.098.609,- atau setara dengan 69,44%.
v
DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar ………... i
Tim Penyusun ………. ii
Ikhtisar Eksekutif ………... iii
Daftar Isi ………... v
Daftar Gambar ………... vii
Daftar Tabel ………... x
Daftar Lampiran ... xi
Bab I. Pendahuluan ..………... 1
1.1 Latar Belakang ……….………..…... 1
1.2 Maksud dan Tujuan ……….…………..…... 2
1.3 Tugas dan Fungsi ……….…. 2
1.4 Keragaan Sumber Daya Manusia ……….….. 4
1.5 Permasalahan Utama ……….……..… 6
1.6 Sistematika Penyajian ……….…….… 11
Bab II. Perencanaan Kinerja ……….….….. 12
2.1 Rencana Strategis ………..…….. 12
2.2 Perjanjian Kinerja Tahun 2021 ……….…….. 16
Bab III. Akuntabilitas Kinerja ……….…… 18
3.1 Capaian Kinerja ……….… 18
3.2 Evaluasi dan Analisis Kinerja ………..… 20
3.2.1 Sasaran Program 1. Kesejahteraan Pengolah Hasil Perikanan Meningkat ………...………. 20
IK1. Nilai Tukar Pengolah Hasil Perikanan (NTPHP)……… 20
3.2.2 Sasaran Program 2. Produk Olahan Kelautan dan Perikanan Berdaya Saing …... 22
IK2. Volume Produk Olahan Kelautan dan Perikanan Berdaya Saing ………….…... 22
3.2.2 Sasaran Program 3. Ekonomi Sektor Kelautan dan Perikanan Meningkat ………... 36
IK3. Nilai Ekspor Hasil Perikanan ……… 36
IK4. Konsumsi Ikan ……… 47
IK5. Nilai Investasi Kelautan dan Perikanan ………. 50
IK6. Kinerja Logistik Hasil Perikanan ………... 58
IK7. Pembiayaan Usaha lautan dan Perikanan melalui Kredit Program …………... 62
3.2.3 Sasaran Program 4. Tingkat Kemandirian SKPT Meningkat ... 72
IK8. Tingkat Kemandirian SKPT di Bawah Tanggung Jawab Ditjen PDSPKP ……….. 72
3.2.4 Sasaran Program 5. Tatakelola Pemerintahan yang Baik di Lingkungan Ditjen PDSPKP ……... 85
IK9. Nilai PMPRB Ditjen PDSPKP ... 85
IK10. Unit Kerja yang Berpredikat Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi Lingkup Ditjen PDSPKP ... 88
vi
IK11. Batas Toleransi Materialitas Temuan Pengawas Eksternal dari Total Realisasi Anggaran Lingkup Ditjen
PDSPKP ... 90
IK12. Indeks Profesionalitas ASN Ditjen PDSPKP ... 91
IK13. Nilai PMSAKIP Lingkup Ditjen PDSPKP ……… 95
IK14. Level Maturitas SPIP Ditjen PDSPKP ... 99
IK15. Persentase Unit Kerja yang Menerapkan Sistem Manajemen Pengetahuan yang Terstandar Lingkup Ditjen PDSPKP ... 101
IK16. Persentase Rekomendasi Hasil Pengawasan yang Dimanfaatkan untuk Perbaikan Kinerja Lingkup Ditjen PDSPKP ... 103
IK17. Unit yang Menerapkan Inovasi Pelayanan Publik Lingkup Ditjen PDSPKP ... 105
IK18. Nilai Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA) Ditjen PDSPKP ... 107
IK19. Nilai Kinerja Anggaran (NKA) Ditjen PDSPKP ... 109
IK20. Tingkat Efektivitas Pelaksanaan Kegiatan Prioritas/Strategis lingkup Ditjen PDSPKP ……… 110
IK21. Tingkat Kepatuhan Pengadaan Barang/Jasa Lingkup Ditjen PDSPKP ………...…… 111
IK22. Tingkat Kepatuhan Pengelolaan BMN Lingkup Ditjen PDSPKP ………. 112
3.3 Realisasi Anggaran ...……….. 113
Bab IV. Penutup ……….………... 115
4.1 Kesimpulan ………...………. 115
4.2 Tindak Lanjut ……….……… 116 Lampiran
vii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.1 Struktur Organisasi Ditjen PDSPKP ………...…... 4
Gambar 1.2 Jumlah Pegawai menurut Unit Kerja ………... 4
Gambar 1.3 Jumlah Pegawai menurut Kedudukan …………... 5
Gambar 1.4 Jumlah Pegawai menurut Golongan ………... 5
Gambar 1.5 Jumlah Pegawai menurut Jenis Kelamin ………... 5
Gambar 1.6 Jumlah Pegawai menurut Pendidikan ………... 6
Gambar 3.1 Lokasi Sampling Perhitungan NTPHP ………. 21
Gambar 3.2 Target dan Capaian NTPHP Tahun 2016-2020 ………. 21
Gambar 3.3 Webinar Quality Time with BBP3KP sesi 13………. 34
Gambar 3.4 Rapat Koordinasi Penghitungan Volume Produk Olahan Hasil Perikanan dan Utilitas Unit Pengolahan Ikan Pasca Refocussing Anggaran Tahap IV…………... 34
Gambar 3.5 Pengadaan Sarana Pasca Panen di Provinsi Bali dan Banten……… 35
Gambar 3.6 Koordinasi Percepatan Penanganan Kasus Penolakan oleh GACC……… 35
Gambar 3.7 Rapat Teknis Kedua Pembahasan RSNI Karaginan Murni (Refined Carrageenan)………. 35
Gambar 3.8 Rapat Konsensus RSNI3 Produk Perikanan NonPangan……… 35
Gambar 3.9 Sosialisasi SNI Produk Perikanan………. 35
Gambar 3.10 Volume dan Nilai Ekspor Produk Perikanan Bulan Januari s.d September Tahun 2021………... 37
Gambar 3.11 Rapat Persiapan Keikutsertaan KKP pada Expo 2020 Dubai……….. 40
Gambar 3.12 Tropical Seaweed Innovation Network (TSIN)………… 41
Gambar 3.13 Logo dan Tagline Brand Udang Indonesia……….. 42
Gambar 3.14 Audiensi Asosiasi/Eksportir Komoditas Udang dengan Menteri Kelautan dan Perikanan……… 43
Gambar 3.15 Pasar Ikan Bersih Kabupaten Probolinggo, Kota Sorong, dan Kabupaten Aceh Utara………. 47
Gambar 3.16 Pengadaan Kendaraan Pemasaran Roda Dua dan Roda Tiga Tahun 2021……… 48
Gambar 3.17 Peta Sebaran Layanan SPPT SNI sampai dengan Triwulan III Tahun 2021………... 49
Gambar 3.18 Nilai Investasi Kelautan dan Perikanan Berdasarkan Sumber Permodalan Periode Triwulan III Tahun 2020- 2021 (Rp Triliun)………... 51
Gambar 3.19 Keikutsertaan KKP dalam IIWF Tahun 2021……… 53
Gambar 3.20 Kegiatan Forum Investasi bersama DigiFish... 55
Gambar 3.21 Kegiatan Rapat Pembahasan Persiapan Kegiatan Klaster Daya Saing Kabupaten Sambas……….. 57
Gambar 3.22 Realisasi Pembiayaan dan Debitur Kredit Program pada Triwulan III Tahun 2021………. 64
viii
Gambar 3.23 Dokumentasi TPU KP dalam pelaksanaan tugasnya di
daerah ………... 66
Gambar 3.24 Kegiatan Sosialisasi Implementasi Sistem Resi Gudang 69 Gambar 3.25 Kegiatan Pendampingan Pelaku Usaha Hasil KP……… 70
Gambar 3.26 Kegiatan Penciptaan Wirausaha Hasil KP……… 70
Gambar 3.27 Penutupan Kegiatan Mencetak Wirausaha Baru………. 70
Gambar 3.28 Kegiatan Pendampingan dan Pembinaan Kelembagaan Usaha Hasil KP……… 71
Gambar 3.29 Lokasi Sentra KP Terpadu yang menjadi Tanggung Jawab Ditjen PDSPKP………. 72
Gambar 3.30 Produksi Ikan di ICS Biak……… 75
Gambar 3.31 Jumlah Pengiriman Ikan ke Luar Wilayah Biak………… 75
Gambar 3.32 Jenis-Jenis Ikan di ICS Biak……… 76
Gambar 3.33 Rehabilitasi Cold Storage di SKPT Mimika……….. 79
Gambar 3.34 Kondisi Eksisting Pengolahan Ikan Asin……….. 79
Gambar 3.35 Kondisi Eksisting Pengolahan Abon Ikan………. 80
Gambar 3.36 Serah Terima Pekerjaan Bedah UPI Kelompok Segma (Pengolah Ikan Asin)……… 80
Gambar 3.37 Serah Terima Pekerjaan Bedah UPI Kelompok Aimaporamo (Pengolah Abon Ikan)……….. 80
Gambar 3.38 Hasil Assesment WBK BBP3KP Tahun 2021…………. 89
Gambar 3.39 Kegiatan Bimbingan Teknik Tahap II Penulisan Ilmiah dan Penulisan Laporan Singkat (Brief Note/Policy Brief) Bagi Pejabat Fungsional Lingkup Ditjen PDSPKP…….. 93
Gambar 3.40 Kegiatan Dukungan Penugasan Pengawas Seleksi Kompetensi Dasar Pengadaan ASN KKP Tahun 2021.. 93
Gambar 3.41 Kegiatan Evaluasi Pembangunan Zona Integritas pada BBP3KP………. 93
Gambar 3.42 Kegiatan Pembahasan Uraian Fungsi Unit Kerja lingkup Ditjen PDSPKP……… 94
Gambar 3.43 Kegiatan Pembahasan Perubahan Organisasi Ditjen PDSPKP terkait Mutu dan Pemasaran Produk Kelautan dan Perikanan………... 94
Gambar 3.44 Kegiatan Penyusunan Pedoman Penghitungan Kebutuhan Jabatan Fungsional APHP……….. 94
Gambar 3.45 Kegiatan Pelantikan Jabatan Fungsional Pembina Mutu 94 Gambar 3.46 Komponen yang Dinilai dalam Penghitungan Nilai PMSAKIP Ditjen PDSPKP……….. 95
Gambar 3.47 Workshop Penyusunan Dokumen Perencanaan Pengelolaan Kinerja Ditjen PDSPKP Tahun 2021 pada tanggal 18-19 Februari 2021………... 97
Gambar 3.48 Ceremony Penandatanganan Perjanjian Kinerja lingkup Ditjen PDSPKP Tahun 2021………. 97
Gambar 3.49 Rapat Perubahan IKU Ditjen PDSPKP Tahun 2021 pada tanggal 26 Juni 2021……….. 98
Gambar 3.50 Verifikasi Data Capaian Kinerja pada SAPK lingkup Ditjen PDSPKP Tahun 2021 ..……… 98
ix
Gambar 3.51 Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Anggaran Periode Triwulan II Tahun 2021 di Provinsi DI Yogyakarta pada tanggal 16-18 Juni 2021……….. 98 Gambar 3.52 Komponen Penilaian Indikator Kinerja Persentase Unit
Kerja yang Menerapkan Sistem Manajemen Pengetahuan yang Terstandar Lingkup Ditjen PDSPKP
Tahun 2021……… 101
Gambar 3.53 Kegiatan RB Ditjen PDSPKP dengan Materi Persentase Unit Kerja yang Menerapkan Sistem Manajemen Pengetahuan yang Terstandar………. 102
x
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 2.1 Perjanjian Kinerja Tahun 2021 …...………..……… 16 Tabel 3.1 Ikhtisar Ikhtisar Pencapaian Kinerja Ditjen PDSPKP
Periode Triwulan III Tahun 2021……… 18 Tabel 3.2 Ikhtisar Pencapaian Indikator Kinerja Nilai Ekspor Hasil
Perikanan ……… 36
Tabel 3.3 Volume dan Nilai Ekspor Produk Perikanan Berdasarkan Komoditas Utama s.d. Bulan September Tahun 2021….. 37 Tabel 3.4 Volume dan Nilai Ekspor Produk Perikanan Berdasarkan
Negara Tujuan Ekspor s.d. Bulan September Tahun
2021……….. 38
Tabel 3.5 Volume dan Nilai Ekspor Produk Perikanan Berdasarkan Asal Provinsi s.d. Bulan September Tahun 2021 ………. 38 Tabel 3.6 Ikhtisar Pencapaian Indikator Kinerja Nilai Investasi
Kelautan dan Perikanan………. 50 Tabel 3.7 Ikhtisar Pencapaian Indikator Kinerja Pembiayaan Usaha
Kelautan dan Perikanan melalui Kredit Program………… 62 Tabel 3.8 Realisasi Nilai Pembiayaan Kredit Triwulan III Tahun
2021 ………. 64
Tabel 3.9 Penilaian Status Pengelolaan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Mandiri………. 73 Tabel 3.10 Ikhtisar Pencapaian Indikator Kinerja Nilai PMPRB Ditjen
PDSPKP ……….. 86
Tabel 3.11 Ikhtisar Pencapaian Indikator Kinerja Indeks Profesionalitas ASN Ditjen PDSPKP……… 91 Tabel 3.12 Ikhtisar Pencapaian Indikator Kinerja Persentase Unit
Kerja yang Menerapkan Sistem Manajemen Pengetahuan yang Terstandar Lingkup Ditjen PDSPKP... 101 Tabel 3.13 Ikhtisar Pencapaian Indikator Kinerja Persentase
Rekomendasi Hasil Pengawasan yang Dimanfaatkan untuk Perbaikan Kinerja Lingkup Ditjen PDSPKP……….. 103 Tabel 3.14 Ikhtisar Pencapaian Indikator Kinerja Nilai Indikator
Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA) Ditjen PDSPKP… 107 Tabel 3.15 Realisasi Penyerapan Anggaran Ditjen PDSPKP
Menurut Kewenangan Periode Triwulan III Tahun 2021… 113 Tabel 3.16 Realisasi Penyerapan Anggaran Ditjen PDSPKP
Menurut Jenis Kegiatan Periode Triwulan III Tahun 2021. 113
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I Perjanjian Kinerja Ditjen PDSPKP Tahun 2021
Lampiran II Layanan Sertifikasi SNI Produk Kelautan dan Perikanan sampai dengan Triwulan III Tahun 2021
Lampiran III Daftar SIUP Bidang Pengolahan Ikan yang telah diterbitkan pada Tiwulan III Tahun 2021
xii
xiii
1
1.1 Latar Belakang
Pembangunan kelautan dan perikanan melalui program penguatan daya saing produk kelautan dan perikanan diarahkan dalam rangka mewujudkan produk kelautan dan perikanan yang memiliki daya saing di pasar domestik dan internasional dengan menerapkan sistem industri yang efisien dan nir-limbah.
Kebijakan dimaksud mengacu pada pendekatan market driven atau pasar yang menjadi acuan kebijakan, sehingga ketersediaan produk dapat diterima dan diminati oleh konsumen. Dengan demikian, produk yang dihasilkan harus merupakan produk kelautan dan perikanan yang memiliki sifat high quality, safe, traceable, high value content dan competitive. Kebijakan ini akan dilaksanakan dalam dalam kurun waktu tahunan dan lima tahunan.
Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (Ditjen PDSPKP) Tahun 2020-2024 merupakan dokumen perencanaan strategis Ditjen PDSPKP yang menjadi acuan dalam pelaksanaan program dan kegiatan dalam kurun waktu lima tahunan. Mengacu pada dokumen Renstra tersebut, setiap unit kerja lingkup Ditjen PDSPKP membuat perencanaan tahunan guna mencapai indikator sasaran yang telah ditetapkan sesuai dengan program yang termuat dalam Renstra. Perencanaan tersebut dibuat dengan disertai indikator sasaran dan cara mencapai sasaran tersebut secara strategis.
Mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, dan Peraturan Menteri PAN dan RB Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah, Ditjen PDSPKP sebagai Entitas Akuntabilitas Kinerja berkewajiban menyusun perjanjian kinerja, melakukan pengukuran kinerja dan
PENDAHULUAN
BAB
I
2
pengelolaan data kinerja, serta menyampaikan Laporan Kinerja yang merupakan wujud akuntabilitas dari mandat yang diemban.
Dokumen Laporan Kinerja merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban Instansi Pemerintah dalam pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan yang dilaksanakan berdasarkan Renstra maupun Rencana Kinerja Tahunan yang dibuat sebelumnya, serta merupakan sarana untuk menilai dan mengevaluasi pencapaian kinerja berdasarkan indikator sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
Untuk menilai efektivitas pelaksanaan program dan kegiatan serta mengukur sejauh mana pencapaian sasaran berdasarkan indikator yang ada, Ditjen PDSPKP menyusun Laporan Kinerja Ditjen PDSPKP Triwulan III Tahun 2021. Laporan Kinerja ini secara terstruktur akan menginformasikan capaian kinerja dari setiap pelaksanaan program dan kegiatan selama Triwulan III Tahun 2021.
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan penyusunan Laporan Kinerja Triwulan III Ditjen PDSPKP Tahun 2021 adalah untuk mengkomunikasikan pencapaian sasaran strategis pada periode Triwulan III Tahun 2021 kepada para stakeholders guna mewujudkan akuntabilitas kepada pihak-pihak yang memberi mandat atau amanah. Dengan demikian, Laporan Kinerja ini merupakan sarana untuk mengkomunikasikan dan menjawab tentang apa yang telah dicapai selama Triwulan III Tahun 2021 dan bagaimana proses pencapaiannya.
1.3 Tugas dan Fungsi
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 48/PERMEN-KP/2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan, kedudukan Ditjen PDSPKP berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Kelautan dan Perikanan.
Ditjen PDSPKP mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang penguatan daya saing dan sistem logistik produk kelautan dan perikanan, serta peningkatan keberlanjutan usaha kelautan dan perikanan.
3
Dalam melaksanakan tugas tersebut, Ditjen PDSPKP menyelenggarakan fungsi:
1. Perumusan kebijakan di bidang pembinaan mutu dan diversifikasi produk, penguatan promosi produk kelautan dan perikanan, peningkatan sistem logistik produk kelautan dan perikanan, serta peningkatan keberlanjutan usaha kelautan dan perikanan;
2. Pelaksanaan kebijakan di bidang pembinaan mutu dan diversifikasi produk, penguatan promosi produk kelautan dan perikanan, peningkatan sistem logistik produk kelautan dan perikanan, serta peningkatan keberlanjutan usaha kelautan dan perikanan;
3. Penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pembinaan mutu dan diversifikasi produk, penguatan promosi produk kelautan dan perikanan, peningkatan sistem logistik produk kelautan dan perikanan, serta peningkatan keberlanjutan usaha kelautan dan perikanan;
4. Pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang pembinaan mutu dan diversifikasi produk, penguatan promosi produk kelautan dan perikanan, peningkatan sistem logistik produk kelautan dan perikanan, serta peningkatan keberlanjutan usaha kelautan dan perikanan;
5. Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang pembinaan mutu dan diversifikasi produk, penguatan promosi produk kelautan dan perikanan, peningkatan sistem logistik produk kelautan dan perikanan, serta peningkatan keberlanjutan usaha kelautan dan perikanan;
6. Pelaksanaan administrasi direktorat jenderal; dan 7. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri.
Ditjen PDSPKP dipimpin oleh seorang Direktur Jenderal dan terdiri atas:
1. Sekretariat Direktorat Jenderal (Setditjen);
2. Direktorat Logistik;
3. Direktorat Pengolahan dan Bina Mutu;
4. Direktorat Pemasaran;
5. Direktorat Usaha dan Investasi;
4
Gambar 1.1. Struktur Organisasi Ditjen PDSPKP
1.4 Keragaan Sumber Daya Manusia
Jumlah pegawai di Ditjen PDSPKP Tahun 2021 mencapai 388 orang, dengan rincian sebagai berikut:
1. Jumlah pegawai menurut unit kerja eselon II
Apabila dilihat dari gambar di bawah, jumlah pegawai menurut unit kerja Eselon II terbanyak terdapat di UPT Ditjen PDSPKP, BBP2HP, yakni 109 orang, atau sekitar 28,09% dari total pegawai Ditjen PDSPKP. Sedangkan jumlah pegawai yang paling sedikit terdapat di Direktorat Usaha dan Investasi, yakni 38 orang atau setara dengan 9,79% dari total jumlah pegawai Ditjen PDSPKP.
Gambar 1.2. Jumlah Pegawai menurut Unit Kerja
Setditjen, 79, 20%
Dit Logistik, 51, 13%
Dit PBM, 55, Dit 14%
Pemasaran, 56, 15%
Dit UI, 38, 10%
BBP3KP, 109, 28%
5
2. Jumlah pegawai menurut kedudukan, untuk Pusat sebanyak 279 orang atau 71,91%, sedangkan UPT sebanyak 109 orang atau 28,09%.
Gambar 1.3. Jumlah Pegawai menurut Kedudukan
3. Dilihat pada gambar di bawah, menurut golongannya, pegawai Ditjen PDSPKP terbanyak pada golongan III, yakni mencapai 65,46%, sedangkan yang paling sedikit adalah golongan II, yakni sekitar 11,60%.
Gambar 1.4. Jumlah Pegawai menurut Golongan
4. Jumlah pegawai menurut jenis kelamin: laki-laki sebanyak 209 orang, atau setara dengan 53,87% dari total pegawai Ditjen PDSPKP, dan perempuan sebanyak 179 orang, atau setara dengan 46,13% dari total pegawai Ditjen PDSPKP.
Gambar 1.5. Jumlah Pegawai menurut Jenis Kelamin
Pusat, 279, 72%
UPT, 109, 28%
II, 45, 12%
III, 254, 65%
IV, 89, 23%
Laki-Laki, 209, 54%
Perempuan, 179, 46%
6
5. Menurut tingkat pendidikannya, pegawai Ditjen PDSPKP terbanyak dengan tingkat pendidikan S1, yakni mencapai 40,21%, tidak ada tingkat pendidikan D1.
Gambar 1.6. Jumlah Pegawai menurut Pendidikan
1.5 Permasalahan Utama
Dalam pembangunan kelautan dan perikanan, khususnya terkait pembangunan penguatan daya saing produk kelautan dan perikanan, terdapat beberapa permasalahan dan tantangan yang akan dihadapi. Permasalahan dan tantangan tersebut berkaitan dengan pemanfaatan potensi yang dimiliki dalam rangka memenuhi permintaan global yang terus meningkat terhadap produk ikan, dan dilema yang dihadapi stakeholders/pelaku usaha kelautan dan perikanan. Dalam konteks pemanfaatan potensi, berbagai upaya peningkatan investasi dan produksi, penanganan pasca panen, diversifikasi produk, pengembangan sarana dan prasarana, penguatan sistem logistik dan keberlanjutan usaha perlu terus dilakukan. Di moment yang sama, permasalahan berusaha yang dihadapi pelaku usaha mikro-kecil, usaha menengah besar kelautan dan perikanan, serta dilema lingkungan sekitarnya harus menjadi perhatikan. Hal ini penting dalam rangkah memperkuat pembangunan daya saing produk kelautan dan perikanan guna mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian, berlandaskan gotong-royong.
6
138
168 10
21 1
41 2
1
S3 S2 S1 D4 D3 D2 SLTA SLTP SD
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180
7
Permasalahan dan tantangan tersebut terbagi dalam enam kelompok besar, yaitu tantangan peningkatan investasi dan pengembangan usaha, permasalahan efisiensi biaya logistik hasil kelautan dan perikanan, tantangan peningkatan ekspor ikan, ancaman stunting, permasalahan peningkatan kapasitas usaha dan mutu produk olahan perikanan skala usaha mikro-kecil, dan permasalahan peningkatan usaha pengolahan skala menengah besar berkelanjutan. Tantangan peningkatan investasi dan pengembangan usaha umumnya terkait akses pembiayaan yang terbatas, kapasitas kelembagaan yang masih rendah dan cenderung lambat, infrastruktur perikanan yang belum memadai dan tidak merata di setiap wilayah. Kesulitan akses pembiayaan terutama terjadi pada pelaku usaha mikro kecil kelautan dan perikanan, karena belum bankable dalam skema pembiayaan dan kelayakan usaha. Di sisi lain, perbankan dan lembaga pemberi kredit minim informasi tentang calon debitur potensial. Beberapa pelaku usaha masih mengalami hambatan berusaha dan investasi terutama terkait perijinan, pajak, dan tumpang tindih regulasi. Namun bagi investor besar, peluang usaha dan investasi kelautan dan perikanan minim informasi yang salah satunya karena promosi usaha dan investasi yang belum berjalan optimal.
Pada tahap implementasi investasi, pelaku investasi kelautan dan perikanan sering terkendala tarif bea masuk barang modal (ijin/pajak) yang masih tinggi, sementara insentif investasi yang diberikan belum berjalan optimal. Penyederhanaan birokrasi investasi melalui perizinan online yang dikembangkan Ditjen PDSPKP dan sistem perpajakan yang lebih baik, diharapkan dapat memberi solusi. Untuk permasalahan efisiensi biaya logistik hasil kelautan dan perikanan, masih terkait tata kelola dan koordinasi logistik antara Pemerintah Pusat, Pemerintah daerah, BUMN, dan swasta belum optimal, sarana dan prasarana logistik yang belum memadai, serta pengelolaan kelembagaan logistik yang belum optimal. Kondisi tersebut menyebabkan biaya logistik yang sangat tinggi di Indonesia, yaitu mencapai 27% terhadap PDB, di mana aktivitas logistik hasil kelautan dan perikanan menjadi salah satu penyumbang utamanya. Bank Dunia (2018) menyatakan kinerja logistik Indonesia berada pada ranking timeline 41 dengan skor 3,67.
Kinerja tersebut jauh di bawah Singapura (ranking 6, skor 4,32) dan tiga negara ASEAN lainnya (Thailand, Vitenam, dan Malaysia).
8
Di sisi sarana dan prasarana logistik, ketersediaan cold storage, pabrik es, dan gudang kering yang digunakan untuk penyimpanan produk kelautan dan perikanan belum merata di koridor logistik ikan, kapasitasnya juga masih terbatas. Sarana transportasi seperti mobil berpendingin dan mobil angkut ikan hidup jumlahnya juga sangat sedikit. Dari sisi rantai suplai, konektivitas dan informasi logistik yang ada masih bersifat asimetris, dimana aliran informasi ketersediaan ikan dari sentra produksi ke sentra distribusi/pemasaran yang membutuhkan ikan sering tersendat, tidak lengkap, dan lambat. Hal ini perlu dipecahkan dengan mengembangkan sistem telusur logistik ikan (STELINA) yang lebih baik dan implementasinya dapat di-improvisasi dengan IoT system.
Untuk ekspor hasil kelautan dan perikanan, terdapat beberapa tantangan dan permasalahan yang akan dihadapi guna memenuhi permintaan pasar global, yaitu : pemenuhan kuantitas dan kualitas bahan baku untuk ekspor belum maksimal (faktor utilitas UPI), ekspor masih bertumpu pada pasar tradisional (AS, Uni Eropa Jepang), diversifikasi pasar dan produk ekspor belum optimal, hambatan ekspor di negara tujuan (SPS dan TBT), permasalahan subsidi perikanan (fisheries subsidies), dan pelaku usaha pengolahan skala mikro kecil belum menerapkan prinsip mutu produk ekspor.
Terkait utilitas, pertumbuhan UPI di Indonesia sangat rendah, yaitu 4,76% pada tahun 2018-2019, bahkan negatif pada tahun 2015-2019 yaitu -1,54%. Kondisi ini tentu menyulitkan bagi peningkatan ekspor ikan, terutama bila permintaannya signifikan. Hambatan ekspor terjadi dalam banyak cara yang bertujuan proteksi, kepentingan blok ekonomi, dan perlindungan pasar domestik di negara tujuan. Masalah subsidi perikanan, WTO menilainya sebagai kebijakan yang dapat mengganggu perdagangan internasional dan persaingan bebas produk perikanan di pasar dunia. Namun, karena sistem ekonomi dan tingkat kesejahteraan berbeda-beda di setiap negara, maka kebijakan subsidi perikanan tersebut tetap berpeluang diberlakukan dengan pembatasan tertentu.
Terkait ekspor yang sudah terbentuk ke negara mitra, permasalahan masih muncul karena eksportir kesulitan mendapatkan eksportir terdaftar (register number) di negara tujuan ekspor, sementara keberadaan diaspora dan atase perdagangan kurang dimanfaatkan. Hal ini menjadi penyebab penting nilai capaian ekspor pada tahun 2019 yaitu hanya 51,96% dari target
9
yang ditetapkan (USD 9,5 Miliar), meskipun cenderung naik setiap tahunnya.
Ke depan, hal ini perlu dipecahkan dengan aktif ikutserta dalam berbagai dialog/persidangan terkait sektor kelautan dan perikanan, dimana diaspora dapat dioptimalkan sebagai mediator.
Ancaman stunting (gizi buruk) merupakan masalah lingkungan yang erat kaitannya pembangunan daya saing kelautan dan perikanan, dan banyak terjadi di wilayah Indonesia. Stunting timbul karena terbatasnya aksesabilitas masyarakat terhadap ikan, terutama di wilayah pedalaman dan aksesnya jauh ke pesisir, harga ikan yang cenderung fluktuatif dipengaruhi oleh musim, dan rendahnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya ikan untuk asupan protein dan gizi. Akibatnya, sering tidak peduli dalam pemenuhan kebutuhan makan sehari-hari. Di samping itu, mutu ikan yang dijajakkan di pasar-pasar yang jauh dari pesisir terutama yang pengelolaannya tradisional umumnya kurang baik, sehingga minat beli masyarakat turun. Beberapa wilayah juga belum menjadikan ikan sebagai sumber utama protein bagi keluarganya.
Pemenuhannya diperoleh dari sumber nabati yang konsumsinya juga terbatas.
Dalam hal pengembangan usaha skala mikro-kecil, kapasitas produksi dan mutu produk olahan perikanan yang dihasilkannya masih rendah, padahal menjadi pelaku utama dalam penyediaan produk ikan di Indonesia termasuk ke pasar-pasar pedalaman. Akibatnya banyak dari mereka yang belum memenuhi standar kelayakan pengolahan. Hingga saat ini, jumlah usaha mikro-kecil kelautan dan perikanan yang telah memiliki Sertifikasi Kelayakan Pengolahan masih di bawah 1%.
Penyebab utama dari rendahnya kapasitas usaha dan mutu produk olahan perikanan skala usaha mikro-kecil di Indonesia diantaranya pengetahuan para pelaku usaha mikro-kecil tentang standar mutu yang masih rendah, penyebaran usaha yang luas dan terfragmentasi, belum melaksanakan prinsip-prinsip usaha secara profesional, serta klasterisasi usaha skala mikro kecil yang belum berjalan baik. Akibatnya, pelaku usaha mikro-kecil kelautan dan perikanan sering berjalan sendiri tanpa terdeteksi dan mengembangkan usaha dan mutu produk dengan kemampuan terbatas yang dimiliki.
Permasalahan teknologi, modal, informasi dan akses pasar, serta perijinan juga banyak dihadapi pelaku usaha mikro-kecil kelautan dan perikanan di hampir semua wilayah. Dalam hal pengembangan pasar, masih minim
10
pembinaan, padahal dari segi jumlah pelaku aktif sangat potensial untuk menghasilkan produk UKM kapasitas ekspor. Keterbatasan sarana dan prasarana pengolahan dan Sistem Rantai Dingin (SRD) serta minimnya pengetahuan pelaku UMKM terkait standar teknis mutu produk kelautan dan perikanan (GMP, SSOP, HACCP, traceability) menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan produk ekspor UMKM kelautan dan perikanan.
Usaha pengolahan skala menengah besar juga memiliki permasalahan yang tidak kalah kompleks. Dalam hal peningkatan kapasitas usaha, pelaku usaha pengolahan skala menengah besar masih dihadapkan dengan permasalahan utilitas rendah, kompetisi pemenuhan bahan baku, fasilitas infrastruktur penunjang produksi yang terintegrasi, dan revitalasi Sistem Rantai Dingin (SRD) yang belum optimal. Akibatnya sering kesulitan dalam memenuhi permintaan pasar berskala besar, terutama yang sifatnya kontinyu. Persaingan bahan baku meningkat pada musim paceklik, sementara di saat banyak ikan tidak bisa menyetok karena tidak memiliki infrastruktur rantai dingin. Hal ini terus berulang setiap tahunnya, dan beberapa yang tidak kuat bersaing terpaksa menyetop usahanya. Kelangkapan ikan pada musim packelik terus terjadi dengan kecenderungan meningkat sebagai akibat dari perubahan iklim (climate change) global.
Dari sisi pengembangan mutu, usaha pengolahan skala menengah besar banyak yang belum sepenuhnya mengolah ikan tersertifikasi, belum terfasilitasi penerbitan standar teknis mutu (GMP, SSOP, HACCP, Traceability), dan belum memliliki sertifikat lingkungan. Permasalahan ini menjadi penghambat beberapa usaha pengolahan skala menengah besar dalam memanfaatkan peluang ekspor produk kelautan dan perikanan.
Pembangunan daya saing produk kelautan dan perikanan ke depan perlu menjadikan hal tersebut sebagai salah satu fokus pengembangan, sehingga mendukung peningkatan ekspor dan konsumi ikan dalam negeri. Introduksi konsep-konsep Revolusi Industri 4.0 seperti digitalisasi usaha, perizinan online, lelang online, dan block chain dalam penelusuran bahan baku/logistik ikan perlu dilakukan. Perizinan online perlu terus disempurnakan dalam rangkah fasilitasi kemudahan berusaha.
11
1.6 Sistematika Penyajian
Penyusunan Laporan Kinerja Ditjen PDSPKP Triwulan III Tahun 2021 mengacu pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Pada dasarnya Laporan Kinerja ini mengkomunikasikan capaian kinerja Ditjen PDSPKP selama Triwulan II Tahun 2021. Capaian Kinerja (Performance Results) Triwulan II Tahun 2021 tersebut dibandingkan dengan Rencana Kinerja (Performance Plan) Triwulan II Tahun 2021 sebagai tolok ukur keberhasilan tahunan organisasi. Analisis atas capaian kinerja terhadap rencana kinerja ini akan memungkinkan diidentifikasikannya sejumlah celah kinerja (performance gap) bagi perbaikan kinerja di masa mendatang.
LKj Ditjen PDSPKP
mengacu pada Peraturan Menteri
Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014
Bab II Perencanaan Kinerja,
menguraikan ringkasan/ikhtisar perjanjian kinerja Ditjen PDSPKP Tahun 2021.
Bab IV Penutup, menguraikan simpulan umum atas capaian kinerja Ditjen
PDSPKP serta langkah di masa
mendatang yang akan dilakukan untuk meningkatkan kinerjanya.
Bab III Akuntabilitas Kinerja, menyajikan capaian kinerja Ditjen PDSPKP Triwulan III Tahun 2021 dan analisanya.
Lampiran, menyajikan Perjanjian Kinerja dan hal-hal lain yang dianggap perlu.
Bab I Pendahuluan, menyajikan penjelasan umum tentang Ditjen PDSPKP, dengan penekanan
kepada aspek strategis Ditjen PDSPKP.
12
2.1 Rencana Strategis
Dalam rangka memberikan pandangan ke depan terkait dengan kinerja dan peran Ditjen PDSPKP serta gambaran kondisi masa depan yang ingin diwujudkan oleh Ditjen PDSPKP, maka dirumuskan visi Ditjen PDSPKP sebagai berikut.
Sejalan dengan visi tersebut, telah dirumuskan misi Ditjen PDSPKP berupa upaya-upaya yang akan ditempuh sesuai dengan tugas dan fungsi Ditjen PDSPKP sebagai berikut.
PERENCANAAN KINERJA
BAB
II
VISI
“Mewujudkan Pengelolaan Perikanan dan Kelautan yang Berkelanjutan untuk Meningkatkan Nilai Tambah dan Daya
Saing Industri ”
MISI
1.
Peningkatan Kontribusi Ekonomi Sektor Kelautan dan Perikanan terhadap Perekonomian Nasional melalui Peningkatan Mutu, Daya Saing dan Penguatan Sistem Logistik Hasil Kelautan dan Perikanan;
2.
Peningkatan Tata Kelola Pemerintahan di KKP melalui
Perwujudan Tata Kelola Pemerintahan yang Bersih,
Efektif, dan Terpercaya lingkup Ditjen PDSPKP.
13 2.1.1 Tujuan
Tujuan pembangunan penguatan daya saing produk kelautan dan perikanan antara lain:
1. Meningkatkan investasi dan pengembangan usaha kelautan dan perikanan, yaitu dengan berbagai upaya untuk :
• Meningkatkan nilai investasi pada usaha kelautan dan perikanan baik Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA) dan joint venture, yang ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah kemitraan investasi, jumlah fasilitasi perizinan, ketertarikan terhadap promosi investasi, dan pemanfaatan paket investasi yang disediakan pemarintah.
• Mengembangkan usaha hasil kelautan dan perikanan melalui pembiayaan lembaga keuangan bank dan bukan bank. Hal ini yang ditunjukkan dengan meningkatnya pelayanan pembiayaan usaha, berkembangnya kemitraan inti plasma dan sejenisnya, meningkatnya penjaringan akses debitur, pendampingan akses permodalan, pengembangan skema pembiayaan digital (fintech), tumbuhnya wirausaha baru, magang calon wirausaha, serta penguatan inkubator bisnis.
2. Memperkuat dan mewujudkan efisiensi kinerja logistik hasil kelautan dan perikanan, yaitu upaya pengembangan aktivitas logistik yang memiliki jaringan/konektivitas yang kuat di pusat produksi, pusat pengumpulan produk, pusat distribusi, dan pasar produk. Hal tersebut ditunjukkan dengan menguatnya struktur ekonomi pelaku logistik produk kelautan dan perikanan, kebutuhan dan ketersediaan produk yang lebih terjamin, sarana penyimpanan dan buffer stock hasil kelautan dan perikanan yang berfungsi baik, sistem distribusi dan jasa logistik yang berjalan baik, tata niaga dan pengelolaan koridor logistik yang lebih baik.
3. Memperkuat dan mengembangkan akses pasar hasil kelautan dan perikanan dalam dan luar negeri, merupakan upaya untuk :
• Meningkatkan konsumsi ikan dan penanganan stunting, yang ditunjukkan dengan meningkat aktivitas transaksi di pasar ikan modern,
14
pasar ikan ikan bersih, pasar ikan lokal, dan sentra kuliner, meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kampanye gerakan memasyarakatan makan ikan dan bazar produk perikanan, menyebarnya peta preferensi, konsumsi dan kebutuhan ikan konsumen dalam negeri, meningkatnya pemanfaatan alat dan sarana pemasaran ikan yang diberikan oleh pemerintah, berkurangnya penyakit akibat gizi buruk dan protein kurang, dan terjadinya penguatan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) melalui berbagai sarana.
• Meningkatkan ekspor hasil perikanan, yang ditunjukkan dengan berkembangnya jaringan perdagangan internasional hasil perikanan baik secara bilateral, regional maupun multilateral, dan meningkatnya nilai ekspor hasil perikanan
4. Meningkatkan produk kelautan dan perikanan yang bermutu dan bernilai tambah, yaitu berbagai upaya untuk :
• Meningkatkan kapasitas produksi dan penerapan standar mutu baik pada UPI skala menengah besar maupun UPI skala mikro kecil, yang ditunjukkan dengan meningkatnya kebutuhan bahan baku UPI, meningkatnya utilitas UPI, meningkatnya pengurusan sertfikat dan standar mutu pada UPI, dan berkembangnya aktivitas fasilitasi sarana prasarana pengolahan ikan.
• Meningkatkan pengusahaan produk bernilai tambah, yang ditunjukkan dengan berkembangnya UPI bernilai tambah menuju zero waste, berkembangnya UPI yang menggunakan teknologi pengolahan hasil kelautan dan perikanan, serta meningkatya produk produk inovasi yang bernilai tambah.
• Menambah kepedulian terhadap kelayakan pengolahan di UPI, yang ditunjukkan dengan terumuskannya standar kelayakan penngolahan hasil perikakan, penerbitan SNI produk kelautan dan perikanan, dan pengurusan SKP secara online.
5. Mengembangkan dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya di bidang penguatan daya saing produk kelautan dan perikanan, yaitu upaya untuk mewujudukan pengelolaan pemerintahan yang efektif, bersih dan terpercaya yang ditunjukkan dengan dukungan manajemen
15
yang handal dan terpercaya di lingkungan Ditjen PDSPKP, dukungan sarana dan prasarana internal yang mumpuni, layanan perkantoran yang cepat dan bersih.
2.1.2 Kebijakan
Arahan kebijakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembangunan penguatan daya saing produk kelautan dan perikanan pada 4 (empat) bidang tersebut dijelaskan :
1. Meningkatkan investasi dan pengembangan usaha kelautan dan perikanan (bidang usaha dan investasi). Untuk mencapai tujuan ini, maka kebijakan dapat diarahkan pada :
• Kebijakan PDSPKP-1 : Peningkatan investasi kelautan dan perikanan
• Kebijakan PDSPKP-2: Pengembangan usaha kelautan dan perikanan 2. Memperkuat dan mewujudkan efisiensi kinerja logistik hasil Kelautan dan
perikanan (bidang logistik). Arahan kebijakannya adalah :
• Kebijakan PDSPKP-3 : Pengembangan sistem logistik ikan dalam rangka konektivitas dari pusat produksi, pusat pengumpulan ke pusat distribusi/pasar (koridor)
3. Meningkatkan ekspor hasil perikanan (bidang pemasaran). Untuk mencapai tujuan ini, maka maka kebijakan dapat diarahkan pada :
• Kebijakan PDSPKP-4 : Fasilitasi dan keikutsertaan Indonesia dalam forum dialog/persidangan skala internasional dan promosi terkait dengan produk perikanan indonesia di pasar internasional.
4. meningkatkan konsumsi ikan dan penanganan stunting (bidang pemasaran). Arahan kebijakannya adalah :
• Kebijakan PDSPKP-5 : Fasilitasi dan pemberian bantuan pemerintah dan pembinaan kepada pemerintah daerah, masyarakat, kelompok usaha dalam rangka peningkatkan konsumsi makan ikan dan pengurangan stunting dalam masyarakat
5. Meningkatkan produk kelautan dan perikanan yang bermutu dan bernilai tambah (bidang pengolahan dan bina mutu). Untuk mencapai tujuan ini, maka kebijakan dapat diarahkan pada :
16
• Kebijakan PDSPKP-6 : Peningkatan kapasitas produksi dan penerapan standar mutu pada UPI skala menengah besar
• Kebijakan PDSPKP-7 : Peningkatan kapasitas produksi dan penerapan standar mutu pada UPI skala mikro kecil
• Kebijakan PDSPKP-8 : Pengembangan produk kelautan dan perikanan bernilai tambah
• Kebijakan PDSPKP-9 : Penerapan standar kelayakan pengolahan di Unit Pengolahan Ikan (UPI)
2.2 Perjanjian Kinerja Tahun 2021
Sebagai upaya perbaikan perencanaan, Ditjen PDSPKP melakukan reviu terhadap Sasaran Program dan Indikator Kinerja Ditjen PDSPKP dengan mempertimbangkan hasil evaluasi pada tahun 2020, masukan dari Sekretariat Jenderal KKP, serta rekomendasi dari Inspektorat Jenderal KKP.
Tabel 2.1. Perjanjian Kinerja Tahun 2021
SASARAN PROGRAM INDIKATOR KINERJA TARGET 1 Kesejahteraan
Pengolah Hasil Perikanan meningkat
1 Nilai Tukar Pengolah Hasil Perikanan (Indeks)
104
2 Produk Olahan KP Berdaya Saing
2 Volume Produk Olahan KP Berdaya Saing (Juta Ton)
7,05 3 Ekonomi Sektor
Kelautan dan Perikanan Meningkat
3 Nilai Ekspor Hasil Perikanan (USD Miliar)
6,05 4 Konsumsi ikan (kg/kapita) 58,08 5 Nilai Investasi Kelautan dan
Perikanan (Rp Triliun)
5,49 6 Kinerja Logistik Hasil
Perikanan (Indeks)
54 7 Pembiayaan Usaha KP
melalui Kredit Program (Rp Triliun)
5,5
4 Tingkat Kemandirian SKPT Meningkat
8 Tingkat Kemandirian SKPT di bawah Tanggung Jawab Ditjen PDSPKP
4 (Terkelola) 5 Tatakelola
Pemerintahan yang Baik di
9 Nilai PMPRB Ditjen PDSPKP (Nilai)
31 10 Unit Kerja yang Berpredikat
Menuju Wilayah Bebas dari
3
17
SASARAN PROGRAM INDIKATOR KINERJA TARGET lingkungan Ditjen
PDSPKP
Korupsi lingkup Ditjen PDSPKP (Unit Kerja)
11 Batas Toleransi Materialitas Temuan Pengawas Eksternal dari Total Realisasi Anggaran lingkup Ditjen PDSPKP (%)
≤1
12 Indeks Profesionalitas ASN lingkup Ditjen PDSPKP (Indeks)
73
13 Nilai PMSAKIP lingkup Ditjen PDSPKP (Nilai)
84,15 14 Level Maturitas SPIP Ditjen
PDSPKP (Level)
3 15 Persentase Unit Kerja yang
Menerapkan Sistem Manajemen Pengetahuan yang Terstandar Lingkup Ditjen PDSPKP (%)
84
16 Persentase Rekomendasi hasil pengawasan yang
dimanfaatkan untuk perbaikan kinerja Lingkup Ditjen
PDSPKP (%)
65
17 Unit yang Menerapkan Inovasi Pelayanan Publik lingkup Ditjen PDSPKP (Unit Kerja)*
1
18 Nilai Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA) Ditjen PDSPKP (Nilai)
Baik (89)
19 Nilai Kinerja Anggaran (NKA) Ditjen PDSPKP (Nilai)
86 20 Tingkat Efektivitas
Pelaksanaan Kegiatan Prioritas/Strategis Lingkup Ditjen PDSPKP (%)*
72,5
21 Tingkat Kepatuhan Pengadaan Barang/Jasa Lingkup Ditjen PDSPKP (%)*
72,5
22 Tingkat Kepatuhan
Pengelolaan BMN Lingkup Ditjen PDSPKP (%)*
72,5
*Indikator Kinerja Baru
18
3.1. Capaian Kinerja
Capaian kinerja Triwulan III Tahun 2021 merupakan hasil dari pelaksanaan program/kegiatan Ditjen PDSPKP dari Januari sampai dengan September 2021.
Target Sasaran Program dan Indikator Kinerja Ditjen PDSPKP s.d. Triwulan III Tahun 2021 disajikan pada tabel berikut.
Tabel 3.1. Ikhtisar Pencapaian Kinerja Ditjen PDSPKP Periode Triwulan III Tahun 2021
SASARAN
PROGRAM INDIKATOR KINERJA
TARGET
REALISASI TW III 2021
PERSENTASE TERHADAP TARGET (%) TAHUN
2021
TW III 2021
TAHUN 2021
TW III 2021 1 Kesejahteraan
Pengolah Hasil Perikanan meningkat
1 Nilai Tukar Pengolah Hasil Perikanan (NTPHP) (Indeks)
104.00 - - - -
2 Produk Olahan Kelautan dan Perikanan Berdaya Saing
2 Volume Produk Olahan Kelautan dan Perikanan Berdaya Saing (Juta Ton)
7.05 - - - -
3 Ekonomi Sektor Kelautan dan Perikanan Meningkat
3 Nilai Ekspor Hasil Perikanan (USD Miliar)
6.05 4.35 4.05 66.95 93.12
4 Konsumsi Ikan (kg/kapita)
58.08 - - - -
5 Nilai Investasi Kelautan dan
Perikanan (Rp Triliun)
5.49 3.29 4.37*** 79.54 132.73
6 Kinerja Logistik Hasil Perikanan (Indeks)
54.00 - - - -
7 Pembiayaan Usaha lautan dan Perikanan melalui Kredit Program (Rp Triliun)
5.50 3.95 6.52 118.55 165.07
4 Tingkat Kemandirian SKPT meningkat
8 Tingkat Kemandirian SKPT di Bawah Tanggung Jawab Ditjen PDSPKP (Tingkat Kemandirian)
4.00 - - - -
5 Tatakelola Pemerintahan
9 Nilai PMPRB Ditjen PDSPKP (Nilai)
31.00 31.00 33.67 108.61 108.61
AKUNTABILITAS KINERJA
BAB
III
19
SASARAN
PROGRAM INDIKATOR KINERJA
TARGET
REALISASI TW III 2021
PERSENTASE TERHADAP TARGET (%) TAHUN
2021
TW III 2021
TAHUN 2021
TW III 2021 yang Baik di
lingkungan Ditjen PDSPKP
10 Unit Kerja yang Berpredikat Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi Lingkup Ditjen PDSPKP (Unit)
3.00 - 1.00 33.33 -
11 Batas Toleransi Materialitas Temuan Pengawas Eksternal dari Total Realisasi Anggaran Lingkup Ditjen PDSPKP (%)
1.00 - 0.06 120.00 -
12 Indeks Profesionalitas ASN Ditjen PDSPKP (Indeks)
73.00 65.00 64.16** 87.89 98.71
13 Nilai PMSAKIP Lingkup Ditjen PDSPKP (Nilai)
84.15 84.15 86.36 102.63 102.63
14 Level Maturitas SPIP Ditjen PDSPKP (level)
3.00 - - - -
15 Persentase unit kerja yang Menerapkan sistem manajemen pengetahuan yang terstandar Lingkup Ditjen PDSPKP (%)
84.00 84.00 99.75 118.75 118.75
16 Persentase Rekomendasi hasil pengawasan yang dimanfaatkan untuk perbaikan kinerja Lingkup Ditjen PDSPKP (%)
65.00 65.00 98.53 151.58 151.58
17 Unit yang menerapkan inovasi pelayanan publik Lingkup Ditjen PDSPKP (unit)
1.00 - - - -
18 Nilai Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA) Ditjen PDSPKP (Nilai)
89.00 80.00 78.76** 88.49 98.45
19 Nilai Kinerja Anggaran (NKA) Ditjen PDSPKP (Nilai)
86.00 - - - -
20 Tingkat Efektivitas Pelaksanaan Kegiatan Prioritas/Strategis lingkup Ditjen PDSPKP (%)
72.50 - - - -
21 Tingkat Kepatuhan Pengadaan
Barang/Jasa Lingkup Ditjen PDSPKP (%)
72.50 - - - -
22 Tingkat Kepatuhan Pengelolaan BMN Lingkup Ditjen PDSPKP (%)
72.50 - - - -
* angka sementara September 2021
** angka sementara Juni 2021
*** angka prognosa
20
3.2. Evaluasi dan Analisis Kinerja
Evaluasi dan analisis capaian kinerja menjelaskan realisasi indikator kinerja, permasalahan dan kendala yang dihadapi serta upaya perbaikan yang dilakukan ke depan dalam rangka peningkatan kualitas pengelolaan kinerja di lingkungan Ditjen PDSPKP. Analisis untuk setiap sasaran strategis dan indikator kinerja utama dijelaskan sebagai berikut :
3.2.1
Sasaran Program 1
Kesejahteraan Pengolah Hasil Perikanan Meningkat
1. Nilai Tukar Pengolah Hasil Perikanan (NTPHP)
NTPHP merupakan perbandingan indeks harga yang diterima rumah tangga pengolah hasil perikanan dengan indeks harga yang dibayar rumah tangga pengolah hasil perikanan. NTPHP dihitung dengan menggunakan rumus :
𝑁𝑇𝑃𝐻𝑃 = 𝐼𝑡
𝐼𝑏𝑥 100%
Keterangan :
NTPHP = Nilai Tukar Pengolah Hasil Perikanan It = Indeks harga yang diterima
Ib = Indeks harga yang dibayar
Target pencapaian NTPHP tahun 2021 adalah sebesar 104. Akan tetapi NTPHP merupakan indikator kinerja yang bersifat tahunan sehingga capaiannya tidak dapat dihitung pada triwulan III tahun 2021.
NTPHP akan dihitung berdasar sampling yang akan dilakukan di 40 Kabupaten/Kota yang tersebar di 5 Provinsi. Lokasi yang menjadi sampling dipilih berdasarkan kesepakatan antara Ditjen PDSPKP dengan Badan Pusat Statistik (BPS) saat pengambilan tahun dasar untuk perhitungan NTPHP di tahun 2015. Beberapa pertimbangan dalam pengambilan keputusan tersebut adalah banyaknya jumlah Unit Pengolah Ikan (UPI) terutama skala mikro dan kecil dan bervariasinya jenis kegiatan pengolahan
21
Kab. Tapanuli Tengah, Kab.
Deli Serdang, Kab. Langkat, Kota Medan, Kota Sibolga, Kab. Batu Bara
Kab. Sukabumi, Kab. Cianjur, Kota Bandung, Kab.
Pangandaran, Kab. Cirebon, Kab. Indramayu, Kab.
Bandung, Kab. Karawang, Kab.
Garut
Kab. Tulung Agung, Kab.
Banyuwangi, Kab. Sidoarjo, Kab.
Tuban, Kab. Lamongan, Kab.
Gresik, Kab. Bangkalan, Kota Surabaya, Kab. Situbondo, Kab.
Sampang
Kab. Selayar, Kab.
Pangkajene, kepulauan Bone, Kota Makassar, Kab. Takalar, Kab.
Bulukumba Kab. Rembang, Kab. Pati,
Kab. Jepara, Kab. Demak, Kab. Kendal, Kab. Tegal, Kota Semarang, Kab. Batang, Kab.
Pekalongan
ikan pada kelima provinsi tersebut sehingga dapat mewakili seluruh provinsi di Indonesia.
Gambar 3.1. Lokasi Sampling Perhitungan NTPHP
Selama kurun waktu tahun 2016–2020, capaian nilai tukar pengolah hasil perikanan di atas 100 sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 3.2.
Realisasi NTPHP yang lebih dari 100 menandakan adanya kenaikan harga produksi lebih besar dari kenaikan harga konsumsi atau dengan kata lain pendapatan pengolah hasil perikanan naik lebih besar dari pengeluarannya atau surplus.
Gambar 3.2. Target dan Capaian NTPHP Tahun 2016-2020
2016 2017 2018 2019 2020
Target 102 102.5 103 103.5 103.75
Realisasi 102.38 102.67 103.13 103.53 103.95
101 101.5 102 102.5 103 103.5 104 104.5
Cakupan Wilayah Survei Harga
NTPHP Provinsi Sumatera
Utara
Provinsi Jawa Timur
Provinsi Sulawesi Selatan Provinsi Jawa
Tengah Provinsi Jawa
Barat
22
3.2.2
Sasaran Program 2
Produk Olahan Kelautan dan Perikanan Berdaya Saing
2. Volume Produk Olahan Kelautan dan Perikanan Berdaya Saing
Pengolahan ikan memiliki dua peran dalam produksi perikanan, pertama untuk meningkatkan nilai tambah produk perikanan dan kedua sebagai penyangga atau buffer bagi ketersediaan produk perikanan.
Permintaan bahan baku usaha pengolahan ikan mempunyai peran menstabilkan harga ikan, baik dari kegiatan penangkapan maupun budidaya, serta mampu menampung produksi terutama pada musim produksi ikan melimpah. Industri perikanan yang berdaya saing tinggi dapat dicirikan oleh terintegrasikan kegiatan produksi perikanan, baik dari perikanan tangkap maupun perikanan budidaya dengan usaha pengolahan hasil perikanan.
Jenis usaha pengolahan ikan berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 67/PERMEN-KP/2018 Tentang Usaha Pengolahan disebutkan ada 11 jenis usaha pengolahan ikan yaitu a) penggaraman/pengeringan ikan; b) pemindangan ikan; c) pengasapan/pemanggangan ikan; d) peragian/fermentasi ikan; e) pembuatan minyak ikan; f) pengalengan ikan; g) pengolahan rumput laut;
h) pembekuan ikan; i) pendinginan/pengesan ikan; j) pengolahan berbasis lumatan daging ikan/jelly ikan atau surimi; k) pengolahan kerupuk ikan, keripik, peyek ikan dan sejenisnya.
Peningkatan volume produk olahan hasil perikanan adalah indikator kinerja utama keberhasilan program kegiatan yang dilakukan oleh Ditjen PDSPKP. Peningkatan volume produk olahan sangat ditentukan oleh berkembangnya Unit Pengolahan Ikan (UPI), baik skala mikro dan kecil maupun skala menengah dan besar. Volume produk olahan hasil kelautan dan perikanan ditargetkan sebesar 7,05 juta ton pada tahun 2021. Indikator kinerja ini bersifat tahunan sehingga capaian indikator kinerja ini pada triwulan III tahun 2021 masih dalam proses penghitungan.
23
Kegiatan yang telah dilaksanakan Ditjen PDSPKP untuk meningkatkan capaian volume produk olahan kelautan dan perikanan berdaya saing antara lain:
1) Koordinasi pelaksanaan kegiatan pasca refocusing anggaran tahap 4 (empat) dalam rangka penanganan pandemic COVID-19. Berdasarkan rapat tersebut disepakati bahwa kegiatan perhitungan kapasitas, volume, dan nilai pengolahan hasil perikanan akan dilanjutkan oleh Tim Data PDS. Selain itu, pada triwulan III juga telah dilaksanakan kegiatan penyampaian kuesioner kapasitas, volume dan utilitas kepada unit pegolahan ikan skala menengah besar, serta perhitungan sementara volume produk olahan hasil perikanan pada unit pegolahan ikan skala menengah besar berdasarkan data lalulintas ikan yang dikeluarkan oleh BKIPM.
2) Melakukan validasi dan verifikasi terhadap 16.544 data transaksi produksi yang masuk ke aplikasi satu data mulai tanggal pencatatan 28 april - 17 juli 2021. Total UPI yang divalidasi berjumlah 3072 UPI, dinyatakan valid 2754 UPI dan sisanya 318 UPI belum valid (rejected, revised). Dari data tersebut, sebanyak 28 provinsi (118 Kab/kota) yang data UPInya masuk, dan dinyatakan valid sebanyak 26 provinsi (103 kab/kota). Hasil validasi data akan menjadi data sampel dalam perhitungan volume produk olahan dan kebutuhan bahan baku UPI.
3) Penghitungan estimasi volume produk olahan tahun 2021 dan tahun 2022. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2021 sebagai hasil tindak lanjut pembahasan kegiatan Neraca komoditas perikanan pada tanggal 24 Agustus 2021. Kegiatan ini bertujuan untuk menghitung estimasi volume produk olahan setara bahan baku tahun 2021 dan 2022. Berdasarkan hasil perhitungan tim estimasi volume produk olahan pada tahun 2021 adalah 7.217.363 ton dan sebesar 7.520.949 ton di tahun 2022.
4) Melaksanakan rapat pembahasan terkait masukan dan tanggapan terhadap draf Kepmen KP tentang Data Induk Produk Kelautan dan Perikanan. Terkait hal tersebut telah di sampaikan Nota Dinas Nomor : 331/DJPDSPKP.3/TU.210/IX/2021 tertanggal 6 September 2021 yang berisi tentang Usulan perubahan pada lampiran Rancangan Keputusan
24
Menteri Kelautan dan Perikanan tentang Data Induk Produk Kelautan dan Perikanan.
5) Kegiatan Validasi Nasional. Kegiatan validasi nasional dilaksanakan pada tanggal 23 September 2021, kegiatan ini di ikuti oleh tim data lingkup Ditjen PDSPKP dan Dinas yang membidangi kelautan dan perikanan di Provinsi/ Kabupaten/ Kota. Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan validasi data yang di input oleh tim daerah pada triwulan II.
6) Rapat Pembahasan Rule Input dan validasi data lingkup DJPDSPKP.
kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 10, 13, 15 dan 16 serta 24 September 2021. Kegiatan di Ikuti oleh tim data lingkup Dirjen PDSPKP yang terdiri dari Dit.PBM, Sesditjen PDSPKP, Dit.Logistik, Dit.
Pemasaran dan Dit. Usaha dan Investasi. Hasil rapat digunakan sebagai rekomendasi perbaikan sistem aplikasi satu data dan efiesiensi dalam proses validasi khususnya untuk UPI mikro kecil, UPI menengah besar dan UPHPN tahun 2022.
7) Pembinaan mutu dalam rangka penanganan hambatan ekspor khususnya terkait dengan mutu produk yang dipersyaratkan oleh beberapa negara tujuan ekspor. Pembinaan mutu terhadap kasus penolakan ekspor oleh GACC saat ini sudah mencapai 54 kasus dari 34 Unit Pengolahan Ikan (UPI). Kasus meningkat pada bulan Juni- September seiring dengan meningkatnya kasus COVID-19 di Indonesia.
8) Rapat Evaluasi terhadap Upaya UPI dalam Pemenuhan Kriteria Pengendalian dan Pengolahan Pencemaran Lingkungan. Kegiatan ini bertujuan sebagai bentuk pendampingan hasil raport sementara yang telah diterima oleh para peserta penilaian proper agar dapat dilakukan perbaikan selama masa sanggah. Berdasarkan hasil penilaian sementara oleh pihak KLHK terdapat beberapa UPI yang masuk kategori merah. Adapun rincian per kategori penilaian sebagai berikut:
a. Pengendalian Pencemaran Air : 54 merah dan 3 Biru b. Pengendalian Pencemaran Udara : 56 merah dan 1 biru c. Pengelolaan Limbah B3 (PLB3) : 53 merah dan 4 biru
Oleh sebab itu pihak UPI tersebut agar segera melakukan perbaikan pada masa sanggah. Apabila terdapat ketidakjelasan dapat