• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAMPIRAN 1 DOKUMEN LFA FINAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAMPIRAN 1 DOKUMEN LFA FINAL"

Copied!
146
0
0

Teks penuh

(1)

lampiran

06

1. Dokumen LFA final

2. Modul ‘Agar Anak Jujur’ untuk orangtua beserta alat peraga

dan media pembelajaran lainnya

3. Buku harian orangtua (pemantauan perkembangan anak)

4. Modul Relawan Ber-Aksi

5. Buku Aktivitas Relawan

6. Buku Family Visit Relawan

(2)

LAMPIRAN 1

(3)

IMPACT INDIKATOR IMPACT

OUTCOME

INDIKATOR OUTCOME

OUTPUT

Activities (What we do)

INDIKATOR OUTPUT

PROCESS

INPUT

INDIKATOR

ANAK 1. Menciptakan generasi yang Jujur dan Anti Korupsi

Pada tahun 2045 tercipta 80% generasi kelurahan Prenggan adalah Generasi JUJUR PLUS sesuai dengan kriteria yang sudah diintervensi melalui rangkaian program JUJUR 1.     Meningkatnya awareness, belief, behaviour tentang kejujuran plus

Anak: Tahap 1 (… tahun) Kesadaran 100%, Sikap …%, Perilaku ….%. Tahap II (… tahun) Kesadaran 100%, Sikap …%, Perilaku ….%. Tahap III (… tahun) Kesadaran 100%, Sikap …%, Perilaku ….% Terciptanya kampanye efektif untuk meningkatkan awareness, belief dan behaviour JUJUR PLUS

tersampaikannya materi jujur dan anti korupsi pada ...relawan kelompok/jenis ...di kelurahan prenggan RT... RW...melalui program/kegiatan ... yang di lakukan oleh KPK,& ... Selama periode .... Tersedianya tools/ media untuk meningkatkan awareness JUJUR PLUS pada anak

desain dan produksi signage, gapura kelurahan, poster, flyer, stiker, kalender dinding, penyusunan rubrikasi dan materi BULETIN, Seberapa efektif media campaign yang dilakukan dalam mendukung program? Berapa tema yang akan di sebarkan setiap bulan nya?

Terselenggarananya edukasi JUJUR PLUS untuk anak Terselenggaranya …… pertemuan dengan jumlah anak …..melalui program ….. Yang dilakukan oleh…….. Tersedianya tools/ media untuk meningkatkan belief anak untuk JUJUR PLUS Note: Tool mencakup log book, buku harian bercerita

Kesesuaian isi modul dengan program, banyak nya modul ….. Dalam periode….? Penyajian modul dapat dipahami oleh pengguna

ORANG TUA

1.  Meningkatnya persepsi dan perilaku orang tua mengenai fungsi keluarga (Afeksi, Sosialisasi dan identitas sosial) Orang Tua: Tahap 1 (… tahun) Presepsi tentang fungsi keluarga 100% dan Perilaku dalam menjalankan 3 fungsi keluarga ….%. Terciptanya sekolah orang tua untuk edukasi pengenalan dan pengantar, fungsi keluarga Berapa banyak pertemuan/sesi pada sekolah orang tua …. Dalam berapa periode….? Target berapa banyak orang tua yang hadir pada setiap sesinya? Tersedianya tool/ modul tentang fungsi keluarga

pengenalan dan pengantar, fungsi keluarga (Modul: Buku Gen Aksi, fungsi keluarga), buku harian orangtua Kesesuaian isi modul dengan program, Penyajian modul dapat dipahami oleh pengguna?

Berapa jumlah sumber daya manusia yang tersedia untuk memberikan materi kepada orang tua? Berapa kali dalam 1 bulan sekolah tersebut terselenggara? Berapa lama pengajaran setiap modulnya? Berapa target orang tua yang hadir setiap pertemuan

LAMPIRAN 1

(4)

IMPACT INDIKATOR IMPACT

OUTCOME

INDIKATOR OUTCOME

OUTPUT

Activities (What we do)

INDIKATOR OUTPUT

PROCESS

INPUT

2.  awareness, belief, behaviour tentang kejujuran plus dan anti korupsi

Orang Tua: Tahap 1 (… tahun) Kesadaran 100%, Sikap …%, Perilaku ….%. Tahap II (… tahun) Kesadaran 100%, Sikap …%, Perilaku ….%. Tahap III (… tahun) Kesadaran 100%, Sikap …%, Perilaku ….% Terciptanya sekolah orang tua untuk internalisasi kejujuran plus dan antikorupsi

Tersedianya tools/ media untuk meningkatkan awareness, belief dan behaviour baik untuk OT

Internalisasi jujur plus (Modul: Silih Asah, Silih Asuh, Silih Asih Karakter; Seri Tunas Integritas, how to storytelling) Banyaknya orang yang akan melakukan edukasi atau menggunakan tool/modul

3. Menjadi teladan Kejujuran dan anti korupsi 80% perilaku anak selaras dengan apa yang telah dicontohkan orang tua nya tentang JUJUR PLUS

Adanya implementasi aturan dan aktifitas orang tua yang mendukung JUJUR PLUS, adanya penerapan kebijakan, pengawasan & evaluasi yang dilakukan Orang Tua untuk JUJUR PLUS terhadap anak Target aktifitas orang tua yang dijadikan teladan anak?

Adanya implementasi aturan dan aktifitas orang tua yang mendukung JUJUR PLUS.

(5)

IMPACT INDIKATOR IMPACT

OUTCOME

INDIKATOR OUTCOME

OUTPUT

Activities (What we do)

INDIKATOR OUTPUT

PROCESS

INPUT

INDIKATOR

Target hasil evaluasi dan pengawasan orang tua terhadap perilaku anak …..

Ketersediaan kebijakan orang tua terhadap JUJUR PLUS, peran orang tua dalam menerapkan kebijakan, pengawasan & evaluasi yang dilakukan Orang Tua

Agen sosialisasi sekunder, meliputi: ( Kader PKK, Penyuluh BKKBN/ BKM/BKB,      Kader BKOW, Kader MPW, Muhammadiyah, Kader Aisyiah, Mahasiswa/I, RT/ RW, Guru (Pengajar/ Pendidik), Media massa)

Relawan: Tahap 1 (… tahun) Kesadaran 100%, Sikap …%, Perilaku ….%. Tahap II (… tahun) Kesadaran 100%, Sikap …%, Perilaku ….%. Tahap III (… tahun) Kesadaran 100%, Sikap …%, Perilaku ….% Terbentuknya kader - kader JUJUR PLUS

Target kader yang terbentuk? Sistem perekrutan dengan menitikberatkan nilai dan perilaku JUJUR PLUS Berapa orang yang melakukan seleksi? Tahapan apa saja yang dilakukan dalam perekrutan? Berapa banyak relawan yang terekrut dan konsisiten menjalankan fungsi relawan?

Terselenggaranya Sekolah Relawan tentang fungsi keluarga Berapa kali akan dilakukan pendidikan

relawan

….. dalam kurun waktu……

Jumlah sumber daya manusia yang melakukan training kepada relawan, sumber dana untuk melakukan training, Kesesuaian isi modul dengan program Penyajian modul dapat dipahami oleh pengguna

(6)

IMPACT INDIKATOR IMPACT

OUTCOME

INDIKATOR OUTCOME

OUTPUT

Activities (What we do)

INDIKATOR OUTPUT

PROCESS

INPUT

Terbentuknya relawan/ kader yang dapat menginternalisasi nilai JUJUR PLUS Berapa persen relawan yang terekrut, yang mampu melakukan internalisasi nilai JUJUR PLUS? Tersedianya tools/ media untuk meningkatkan awareness, belief dan behaviour baik untuk Relawan Penyusunan kurikulum, silabus, lesson plan, dan modul untuk Sekolah Komunitas Relawan, Buku harian relawan.

2.  Memiliki kesadaran untuk terlibat dalam gerakan Berapa banyak relawan yang terlibat dalam gerakan JUJUR PLUS?... Orang Terbentuknya relawan yang konsisten melakukan gerakan JUJUR PLUS dan Anti korupsi

Apa saja kegiatan yang diharapkan dilakukan oleh relawan dalam kurun waktu…. , berapa persen dari relawan yang terekrut melakukan kegiatan-kegiatan tersebut?

Note: Apa definisi generasi? Siapa sasaran generasi yang dimaksud? Dimanakah lokus yang akan menjadi fokus? 3.  Mampu menjadi teladan

Hasil penilaian assesment dari psikolog yang positive tentang keteladanan Terbentuknya pusat konsultasi (tempat bertanya dan meminta nasehat orang tua kepada relawan) Berapa banyak orang tua yang melakukan konsultasi kepada relawan? tersedianya ruang -ruang konsultasi dan jadwal konsultasi. Jumlah sumber daya manusia yang dapat dimintai konsultasi

4. Mampu mengajak yang lainnya (penggerak) Berapa banyak relawan yang terekrut oleh relawan awal (berapa banyak relawan baru yang terekrut oleh relawan pioner) Terbentuknya regenerasi relawan (relawan berkesinambungan)

Berapa banyak relawan yang terbentuk oleh relawan perintis? Berapa radius daerah yang terpengaruh oleh gerakan relawan? Pengkaderan ke generasi selanjutnya (regenerasi)

(7)

IMPACT INDIKATOR IMPACT

OUTCOME

INDIKATOR OUTCOME

OUTPUT

Activities (What we do)

INDIKATOR OUTPUT

PROCESS

INPUT

INDIKATOR

2. Menciptakan lingkungan sosial Prenggan yang Jujur plus 30 tahun kedepan kehidupan masyarakat di Prenggan 80% dilandasi dengan JUJUR PLUS Terciptanya dukungan lingkungan Prenggan yang efektif, efisien dan aktif dalam mewujudkan masyarakat JUJUR PLUS dan Antikorupsi

Seluruh perangkat di Kelurahan Prenggan baik sebagai pejabat publik, pegawai pemerintah, swasta, masyarakat biasa, dll mendukung serta dan mengisi kegiatan masayarakat yang dilandasi JUJUR PLUS (80% kegiatan di masyarakat disisipkan nilai JUJUR PLUS) Tersedianya atau teroptimalisasi ruang publik untuk mendukung JUJUR PLUS dan ANTI KORUPSI

Esensi apa saja yang ada di ruang publik? Seberapa sering akan di update mengenai konten yang ada di ruang publik? Berapa banyak target massa yang mengakses ruang publik dalam kurun waktu tertentu? pembentukan taman bacaan/ perpustakaan warga

pendataan ruang publik yang bisa digunakan untuk taman bacaan (balai pertemuan, posyandu, PAUD, rumah warga, mesjid, gereja) Adanya aktifitas pada ruang publik tersebut yang sesuai dengan tujuan program

Optimalisasi ruang publik sebagai media informasi (MADING warga) WS Pengelolaan Taman Bacaan Target pengunjung per pekan di taman bacaan, target tema buku yang ada pada taman bacaan

optimalisasi ruang publik sebagai tempat kegiatan seni budaya Pembentukan dan pengelolaan Taman Bacaan oleh relawan/ warga Target apa saja perkembangan esensi dari taman bacaan, apakah hanya sekedar buku?, atau lainnya?

optimalisasi ruang publik sebagai tempat pembelajaran

Meningkatnya awareness OT dan Relawan dalam rangka mewujudkan anak yang memiliki karakter JUJUR PLUS dan ANTI KORUPSI Berapa persen target orang tua yang ada di kelurahan Prenggan tahu, sadar dan berperilaku JUJUR PLUS? Sosialisasi Program

sosialisasi program pencegahan korupsi berbasis keluarga dan persiapan pembentukan relawan kepada pimpinan kelurahan, tokoh masyarakat, organisasi Target berapa persen masyarakat Prenggan mengetahui program pencegahan korupsi berbasis keluarga ini?

(8)

IMPACT INDIKATOR IMPACT

OUTCOME

INDIKATOR OUTCOME

OUTPUT

Activities (What we do)

INDIKATOR OUTPUT

PROCESS

INPUT

Kampanye Publik

pemasangan media kampanye di ruang publik dan rumah warga - pemasangan signage di titik strategis - pemasangan gapura di titik strategis - pembagian stiker dan flyer

Sekolah tentang Antikorupsi untuk masyarakat Berapa banyak SDM yang mengajar, Materi apa saja yang akan diajarkan?

(9)

IMPACT INDIKATOR IMPACT

OUTCOME

INDIKATOR OUTCOME

OUTPUT

Activities (What we do)

INDIKATOR OUTPUT

PROCESS

INPUT

INDIKATOR

3. Menjalankan Rencana Aksi untuk membentuk anak JUJUR PLUS dan ANTI KORUPSI Berapa banyak kegiatan/rencana aksi mengenai JUJUR PLUS dalam 1 tahun?... Implementasi Rencana aksi sosialisasi, kampanye, dan pendidikan kepada OT oleh relawan Modul Antikorupsi untuk masyarakat ((Modul: Buku Semua Bisa ber-AKSI, Komik TipIkor, Orange Juice, film K vs K, Saujana)) Target modul, buletin, mading, yang produksi dalam kurun waktu tertentu? Penyuluhan yang akan dilakukan dalam kurun waktu tertentu? Targetan per penyuluhan?

(10)

Agar Anak Jujur

Panduan Menumbuhkan Kejujuran kepada Anak Sejak Dini

LAMPIRAN 2

MODUL

‘AGAR ANAK JUJUR’

UNTUK ORANGTUA

BESERTA ALAT PERAGA DAN

(11)

Agar Anak Jujur

Panduan Menumbuhkan Kejujuran kepada Anak Sejak Dini

LAMPIRAN 2

MODUL

‘AGAR ANAK JUJUR’

UNTUK ORANGTUA

BESERTA ALAT PERAGA DAN

(12)

Agar Anak Jujur

Panduan Menumbuhkan Kejujuran kepada Anak Sejak Dini

Penanggung Jawab : Dedie A. Rachim Supervisi : Sandri Justiana Penyusun : Sofie Dewayani

Kontributor :

Ilustrasi cover : Ferry Magenta Ilustrasi isi : Ferry Magenta, EorG

Desain : EorG

ISBN: Diterbitkan oleh

Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Jl. H.R. Rasuna Said Kav C-1 Jakarta Selatan 12920 http://www.kpk.go.id

Cetakan 1 : Jakarta, 2016

Buku ini boleh dikutip dengan menyebutkan sumbernya, diperbanyak untuk tujuan pendidikan serta non-komersial lainnya, dan bukan untuk diperjualbelikan.

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera untuk kita semua

Pendidikan Antikorupsi untuk anak usia dini, bertujuan membiasakan perilaku-perilaku baik sejak dini. Hal tersebut diawali dengan menanamkan nilai-nilai kasih sayang (Pedagogy of Love), memenuhi kebutuhan-ke-butuhan dasar anak, seperti makanan sehat dan bergizi, pembelajaran yang ramah anak, serta nilai-nilai dasar pembentuk karakter anak, seperti jujur, peduli, disiplin, mandiri, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani, dan adil. Semua itu dibangun melalui proses internalisasi dan konstruktif.

Dalam upaya menjalankan amanah UU No. 30/2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Pasal 13 c, yang berbunyi “Dalam melaksanakan tugas pencegahan sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 6 huruf d, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang melaksanakan langkah atau upaya pencega-han menyelenggarakan program Pendidikan Antikorupsi pada setiap jenjang pendidikan”, KPK telah menerbitkan seri buku bacaan anak Tunas Integritas. Buku tersebut merupakan media pembelajaran yang dapat digunakan untuk menginternalisasi dan membangun karakter antikorupsi kepada anak sejak dini. Ini merupakan awal dari serangkaian upaya yang dilakukan secara terus menerus hingga ke jenjang pendidikan berikutnya.

Untuk melengkapi penerbitan seri buku Tunas Integritas, KPK menerbitkan buku “Agar Tunas Itu Tumbuh Berkem-bang, Panduan Penggunaan Seri Tunas Integritas”. Kami berharap penerbitan buku panduan ini dapat memandu guru dan orangtua dalam membentuk jati diri dan karakter antikorupsi yang kuat pada diri anak sehingga dapat menjadi pejuang antikorupsi di masa mendatang. Jangankan korupsi, kepikiranpun tidak.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

a.n Pimpinan KPK

Taufiqurrahman Ruki

Ketua

(13)

Agar Anak Jujur

Panduan Menumbuhkan Kejujuran kepada Anak Sejak Dini

Penanggung Jawab : Dedie A. Rachim Supervisi : Sandri Justiana Penyusun : Sofie Dewayani

Kontributor :

Ilustrasi cover : Ferry Magenta Ilustrasi isi : Ferry Magenta, EorG

Desain : EorG

ISBN: Diterbitkan oleh

Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Jl. H.R. Rasuna Said Kav C-1 Jakarta Selatan 12920 http://www.kpk.go.id

Cetakan 1 : Jakarta, 2016

Buku ini boleh dikutip dengan menyebutkan sumbernya, diperbanyak untuk tujuan pendidikan serta non-komersial lainnya, dan bukan untuk diperjualbelikan.

Sepatah Kata

Pimpinan KPK

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera untuk kita semua

Pendidikan Antikorupsi untuk anak usia dini, bertujuan membiasakan perilaku-perilaku baik sejak dini. Hal tersebut diawali dengan menanamkan nilai-nilai kasih sayang (Pedagogy of Love), memenuhi kebutuhan-ke-butuhan dasar anak, seperti makanan sehat dan bergizi, pembelajaran yang ramah anak, serta nilai-nilai dasar pembentuk karakter anak, seperti jujur, peduli, disiplin, mandiri, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani, dan adil. Semua itu dibangun melalui proses internalisasi dan konstruktif.

Dalam upaya menjalankan amanah UU No. 30/2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Pasal 13 c, yang berbunyi “Dalam melaksanakan tugas pencegahan sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 6 huruf d, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang melaksanakan langkah atau upaya pencega-han menyelenggarakan program Pendidikan Antikorupsi pada setiap jenjang pendidikan”, KPK telah menerbitkan seri buku bacaan anak Tunas Integritas. Buku tersebut merupakan media pembelajaran yang dapat digunakan untuk menginternalisasi dan membangun karakter antikorupsi kepada anak sejak dini. Ini merupakan awal dari serangkaian upaya yang dilakukan secara terus menerus hingga ke jenjang pendidikan berikutnya.

Untuk melengkapi penerbitan seri buku Tunas Integritas, KPK menerbitkan buku “Agar Tunas Itu Tumbuh Berkem-bang, Panduan Penggunaan Seri Tunas Integritas”. Kami berharap penerbitan buku panduan ini dapat memandu guru dan orangtua dalam membentuk jati diri dan karakter antikorupsi yang kuat pada diri anak sehingga dapat menjadi pejuang antikorupsi di masa mendatang. Jangankan korupsi, kepikiranpun tidak.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

a.n Pimpinan KPK

Taufiqurrahman Ruki

Ketua

(14)

Petunjuk Penggunaan Buku Panduan

Saat mempelajari panduan ini, pastikan Anda juga membuka Seri Tunas Integritas yang bersangkutan. Seri Tunas Integritas terdiri atas 6 buah buku, yaitu:

Buku 1: Byur!, berisi kisah-kisah fabel.

Buku 2: Hujan Warna-Warni, berisi kisah-kisah fantasi. Buku 3: Ya, Ampun!, menghimpun beberapa dongeng.

Buku 4: Wuuush!, merupakan kumpulan kisah bergenre fiksi realistik kontemporer. Buku 5: Ini, Itu?, berisi kumpulan kisah interaktif.

Buku 6: Ungu, Di Mana Kamu?, adalah buku aktivitas.

Akan Anda temukan tinjauan umum tentang masing-masing buku, yang mengulas gen-re, kosakata baru, fakta menarik, Keluarga Kumbi, serta hal-hal lain yang penting dari buku tersebut. Berikutnya, Anda dapat mempelajari sinopsis setiap cerita, bahan dis-kusi, dan kemungkinan pengembangannya, untuk persiapan sebelum membaca ber-sama anak-anak.

Seri Tunas Integritas ditargetkan untuk pembaca anak-anak berusia 4-9 tahun. Rentang itu cukup luas, dan karena setiap anak unik dan memiliki kecepatan perkembangan sendiri, maka panduan ini bersifat umum. Sebagai orangtua atau guru yang menge-nal tahap perkembangan anak-anak sendiri, Andalah yang akan menyesuaikan cara Anda menggunakan Seri Tunas Integritas bersama mereka.Secara umum, anak-anak usia prasekolah tentu masih membutuhkan bantuan orangtua atau guru dalam mema-hami sebuah cerita. Sementara, anak-anak kelas 1-3 SD sudah dapat membaca sendiri dengan atau tanpa bantuan. Kisah-kisah dengan kerumitan beragam dalam seri ini memungkinkan anak-anak membacanya berulang-ulang dan setiap kalinya mendapat-kan pemaknaan baru.

Jika ada kosakata baru dan fakta menarik dalam buku, sediakanlah waktu untuk men-jelaskannya kepada anak-anak. Anda dapat mengajak anak-anak melihat kamus dan membaca buku rujukan yang berkaitan.

Bahan diskusi dan pengembangan untuk setiap cerita merupakan pemantik gagasan, yang disusun berdasarkan paradigma bahwa anak-anak itu cerdas dan membutuhkan cukup tantangan untuk meningkatkan kemampuan membaca mereka. Anda dapat me-nerapkan bahan diskusi dan pengembangan itu secara langsung atau membuat yang baru, tergantung pada kebutuhan dan respons anak-anak.

1. 2. 3. 4. iii ii

(15)

Petunjuk Penggunaan Buku Panduan

Saat mempelajari panduan ini, pastikan Anda juga membuka Seri Tunas Integritas yang bersangkutan. Seri Tunas Integritas terdiri atas 6 buah buku, yaitu:

Buku 1: Byur!, berisi kisah-kisah fabel.

Buku 2: Hujan Warna-Warni, berisi kisah-kisah fantasi. Buku 3: Ya, Ampun!, menghimpun beberapa dongeng.

Buku 4: Wuuush!, merupakan kumpulan kisah bergenre fiksi realistik kontemporer. Buku 5: Ini, Itu?, berisi kumpulan kisah interaktif.

Buku 6: Ungu, Di Mana Kamu?, adalah buku aktivitas.

Akan Anda temukan tinjauan umum tentang masing-masing buku, yang mengulas gen-re, kosakata baru, fakta menarik, Keluarga Kumbi, serta hal-hal lain yang penting dari buku tersebut. Berikutnya, Anda dapat mempelajari sinopsis setiap cerita, bahan dis-kusi, dan kemungkinan pengembangannya, untuk persiapan sebelum membaca ber-sama anak-anak.

Seri Tunas Integritas ditargetkan untuk pembaca anak-anak berusia 4-9 tahun. Rentang itu cukup luas, dan karena setiap anak unik dan memiliki kecepatan perkembangan sendiri, maka panduan ini bersifat umum. Sebagai orangtua atau guru yang menge-nal tahap perkembangan anak-anak sendiri, Andalah yang akan menyesuaikan cara Anda menggunakan Seri Tunas Integritas bersama mereka.Secara umum, anak-anak usia prasekolah tentu masih membutuhkan bantuan orangtua atau guru dalam mema-hami sebuah cerita. Sementara, anak-anak kelas 1-3 SD sudah dapat membaca sendiri dengan atau tanpa bantuan. Kisah-kisah dengan kerumitan beragam dalam seri ini memungkinkan anak-anak membacanya berulang-ulang dan setiap kalinya mendapat-kan pemaknaan baru.

Jika ada kosakata baru dan fakta menarik dalam buku, sediakanlah waktu untuk men-jelaskannya kepada anak-anak. Anda dapat mengajak anak-anak melihat kamus dan membaca buku rujukan yang berkaitan.

Bahan diskusi dan pengembangan untuk setiap cerita merupakan pemantik gagasan, yang disusun berdasarkan paradigma bahwa anak-anak itu cerdas dan membutuhkan cukup tantangan untuk meningkatkan kemampuan membaca mereka. Anda dapat me-nerapkan bahan diskusi dan pengembangan itu secara langsung atau membuat yang baru, tergantung pada kebutuhan dan respons anak-anak.

1. 2. 3. 4. iii ii

(16)

Pendahuluan

Daftar Isi

Sepatah kata . . . i

Petunjuk Penggunaan Buku Panduan . . . ii

Pendahuluan . . . 1

Mengapa Kejujuran itu Penting? . . . 4

Apakah Kejujuran Itu? . . . 11

Bagaimana Menumbuhkan Kejujuran? . . . 19

Kesimpulan . . . 46

Daftar Pertanyaan . . . 48

REFERENSI . . . 50

1 iv

(17)

Pendahuluan

Daftar Isi

Sepatah kata . . . i

Petunjuk Penggunaan Buku Panduan . . . ii

Pendahuluan . . . 1

Mengapa Kejujuran itu Penting? . . . 4

Apakah Kejujuran Itu? . . . 11

Bagaimana Menumbuhkan Kejujuran? . . . 19

Kesimpulan . . . 46

Daftar Pertanyaan . . . 48

REFERENSI . . . 50

1 iv

(18)

Berkata yang sebenarnya dan bertindak benar adalah refleksi utama kejujuran.Manusia me-merlukan rasa “percaya” kepada manusia lain agar harmoni bisa terwujud dalam kehidupan sosial.Kejujuran menjadi tumpuan dari rasa percaya ini.Sikap dan rasa percaya (trust) perlu ditumbuhkan pada anak-anak sejak dini dalam pengasuhan. Dengan tumbuhnya rasa per-caya, maka jujur pun bisa berkembang dalam sikap hidupnya.

Rasa percaya dan sikap jujur sulit tumbuh pada anak-anak yang sering dihadapkan pada ke-curangan, perkataanbohong, atau pengkhianatan dari orang dewasa di sekitarnya, terutama dari orang tuanya. Anak-anak yang tumbuh menyaksikan kecurangan-kecurangan cenderung membentuk persepsi yang salah tentang nilai moral. Hal ini lama-lama bisa mengakibatkan bergesernya nilai-nilai di dalam dirinya.Tidak jarang kita melihat orang dewasa yang berbuat curang persis di depan anak-anak, misalnya menerobos lampu merah. Apabila anak-anak tidak bisa mengenali batas antarakecurangan dan kejujuran, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang pragmatis dan mudah mendapat pengaruh negatif.

Orangtua perlu duduk bersama anak dan meluangkan waktu khusus untuk menginternalisasi nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan anak. Orangtua juga perlu memahami bahwa anak perlu mendapatkan dukungan untuk berani mengatakan hal yang benar dan melakukan tin-dakan yang benar. Selain itu, anak perlu melihat contoh perbuatan jujur dalam figur orang dewasa yang dekat dengan mereka. Oleh karena itu, orangtua adalah teladan kejujuran yang paling dekat dengan anak.

3 ilustrasi “Modo Tak Mau Menari”

(19)

Berkata yang sebenarnya dan bertindak benar adalah refleksi utama kejujuran.Manusia me-merlukan rasa “percaya” kepada manusia lain agar harmoni bisa terwujud dalam kehidupan sosial.Kejujuran menjadi tumpuan dari rasa percaya ini.Sikap dan rasa percaya (trust) perlu ditumbuhkan pada anak-anak sejak dini dalam pengasuhan. Dengan tumbuhnya rasa per-caya, maka jujur pun bisa berkembang dalam sikap hidupnya.

Rasa percaya dan sikap jujur sulit tumbuh pada anak-anak yang sering dihadapkan pada ke-curangan, perkataanbohong, atau pengkhianatan dari orang dewasa di sekitarnya, terutama dari orang tuanya. Anak-anak yang tumbuh menyaksikan kecurangan-kecurangan cenderung membentuk persepsi yang salah tentang nilai moral. Hal ini lama-lama bisa mengakibatkan bergesernya nilai-nilai di dalam dirinya.Tidak jarang kita melihat orang dewasa yang berbuat curang persis di depan anak-anak, misalnya menerobos lampu merah. Apabila anak-anak tidak bisa mengenali batas antarakecurangan dan kejujuran, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang pragmatis dan mudah mendapat pengaruh negatif.

Orangtua perlu duduk bersama anak dan meluangkan waktu khusus untuk menginternalisasi nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan anak. Orangtua juga perlu memahami bahwa anak perlu mendapatkan dukungan untuk berani mengatakan hal yang benar dan melakukan tin-dakan yang benar. Selain itu, anak perlu melihat contoh perbuatan jujur dalam figur orang dewasa yang dekat dengan mereka. Oleh karena itu, orangtua adalah teladan kejujuran yang paling dekat dengan anak.

3 ilustrasi “Modo Tak Mau Menari”

(20)

Mengapa Kejujuran itu Penting?

Kejujuran tidak hanya bermanfaat bagi individu,

tetapi juga untuk keluarga dan masyarakat.

Bagi orangtua

Kejujuran itu penting karena:

Kejujuran menumbuhkan kepercayaan.Anak yang jujur akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri, dapat dipercaya dan bahagia.

Menginternalisasi kejujuran dalam pola pengasuhan akan menciptakan masyarakat Indonesia yang aman, nyaman, makmur. Kehidupan yang baik akan mudah terwujud.

Pendidikan usia dini adalah satu fase yang penting untuk menginternalisasi nilai-nilai keju-juran dalam kehidupan anak. Pengetahuan dan pengajaran yang diterima anak di masa awal kehidupannya akan disimpan dan direkam anak dan akan memengaruhi kepribadiannya hingga ia beranjak dewasa.

5 4

(21)

Mengapa Kejujuran itu Penting?

Kejujuran tidak hanya bermanfaat bagi individu,

tetapi juga untuk keluarga dan masyarakat.

Bagi orangtua

Kejujuran itu penting karena:

Kejujuran menumbuhkan kepercayaan.Anak yang jujur akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri, dapat dipercaya dan bahagia.

Menginternalisasi kejujuran dalam pola pengasuhan akan menciptakan masyarakat Indonesia yang aman, nyaman, makmur. Kehidupan yang baik akan mudah terwujud.

Pendidikan usia dini adalah satu fase yang penting untuk menginternalisasi nilai-nilai keju-juran dalam kehidupan anak. Pengetahuan dan pengajaran yang diterima anak di masa awal kehidupannya akan disimpan dan direkam anak dan akan memengaruhi kepribadiannya hingga ia beranjak dewasa.

5 4

(22)

Bagi anak

Kejujuran itu penting karena:

Membuat hati tenang. Apabila kita jujur, kita tidak dikejar-kejar oleh perasaan bersalah. Apabila kita tidak berbohong, kita tidak perlu berusaha untuk menutupi kebohongan.

Bangga kepada diri sendiri. Kita tidak perlu menutup-nutupi perbuatan yang tidak kita lakukan ketika curang.

Kita akan disayang oleh orang-orang di sekitar kita karena mereka tidak merasa dibohongi.

Kita dapat mengikuti banyak kegiatan karena kita dipercaya oleh orang lain.

Orang lain akan menghargai prestasi kita karena mereka tahu bahwa kita meraihnya dengan jujur.

Apabila kita bohong, maka kita:

Dijauhi orang lain.

Tidak dipercaya oleh teman.

Akan kehilangan nama baik.

Dapat berurusan dengan hukum.

Diliputi perasaan was-was.

Harus menutupi kebohongan yang satu dengan kebohon-gan yang lain. Ini merepotkan karena kita harus

mengin-gat kebohongan-kebohongan itu satu per satu.

7 6

(23)

Bagi anak

Kejujuran itu penting karena:

Membuat hati tenang. Apabila kita jujur, kita tidak dikejar-kejar oleh perasaan bersalah. Apabila kita tidak berbohong, kita tidak perlu berusaha untuk menutupi kebohongan.

Bangga kepada diri sendiri. Kita tidak perlu menutup-nutupi perbuatan yang tidak kita lakukan ketika curang.

Kita akan disayang oleh orang-orang di sekitar kita karena mereka tidak merasa dibohongi.

Kita dapat mengikuti banyak kegiatan karena kita dipercaya oleh orang lain.

Orang lain akan menghargai prestasi kita karena mereka tahu bahwa kita meraihnya dengan jujur.

Apabila kita bohong, maka kita:

Dijauhi orang lain.

Tidak dipercaya oleh teman.

Akan kehilangan nama baik.

Dapat berurusan dengan hukum.

Diliputi perasaan was-was.

Harus menutupi kebohongan yang satu dengan kebohon-gan yang lain. Ini merepotkan karena kita harus

mengin-gat kebohongan-kebohongan itu satu per satu.

7 6

(24)

Absennya kejujuran membuat Indonesia tak nyaman

Kecurangan dan kebocoran soal Ujian Nasional terjadi setiap tahun. Pemerintah mengucurkan banyak dana untuk mengerahkan polisi dan mengarantina pegawai percetakan untuk mencegah kebocoran ini ter-jadi. Kalau siswa jujur dan tidak membocorkan soal, pemerintah bisa menghemat milyaran rupiah.

Banyak kecelakaan terjadi di jalan raya karena pengemudi kendaraan ugal-ugalan,kurang terampil berkendara, dan tidak mengerti peraturan lalu-lintas. Ironisnya, banyak pengendara motor yang masih di bawah umur. Mereka dapat mengendara karena memperoleh Surat Izin Menge-mudi (SIM) secara ilegal. Apabila SIM diberikan hanya kepada penge-mudi yangterampil dan mengerti etika berlalu-lintas, maka angka ke-celakaan lalu-lintas akan dapat ditekan.

Oknum-oknum pedagang menimbun barang kebutuhan pokok sehingga harganya melambung tinggi.

Oknum pegawai kantor melakukan korupsi dengan mengambil sebagian dana proyek. Jalan dan jembatan dibuat dengan material yang buruk sehingga cepat rusak.

Untuk menghindari hukuman, hakim dan jaksa disogok dengan sejum-lah uang. Rasa aman di masyarakat pun hilang karena hukum bisa dibeli.

9

(25)

Absennya kejujuran membuat Indonesia tak nyaman

Kecurangan dan kebocoran soal Ujian Nasional terjadi setiap tahun. Pemerintah mengucurkan banyak dana untuk mengerahkan polisi dan mengarantina pegawai percetakan untuk mencegah kebocoran ini ter-jadi. Kalau siswa jujur dan tidak membocorkan soal, pemerintah bisa menghemat milyaran rupiah.

Banyak kecelakaan terjadi di jalan raya karena pengemudi kendaraan ugal-ugalan,kurang terampil berkendara, dan tidak mengerti peraturan lalu-lintas. Ironisnya, banyak pengendara motor yang masih di bawah umur. Mereka dapat mengendara karena memperoleh Surat Izin Menge-mudi (SIM) secara ilegal. Apabila SIM diberikan hanya kepada penge-mudi yangterampil dan mengerti etika berlalu-lintas, maka angka ke-celakaan lalu-lintas akan dapat ditekan.

Oknum-oknum pedagang menimbun barang kebutuhan pokok sehingga harganya melambung tinggi.

Oknum pegawai kantor melakukan korupsi dengan mengambil sebagian dana proyek. Jalan dan jembatan dibuat dengan material yang buruk sehingga cepat rusak.

Untuk menghindari hukuman, hakim dan jaksa disogok dengan sejum-lah uang. Rasa aman di masyarakat pun hilang karena hukum bisa dibeli.

9

(26)

“Kejujuran yang menyakitkan itu

lebih baik daripada kebohongan

yang membawa manfaat.”

(Thomas Mann)

Apakah Kejujuran Itu?

11 10

(27)

“Kejujuran yang menyakitkan itu

lebih baik daripada kebohongan

yang membawa manfaat.”

(Thomas Mann)

Apakah Kejujuran Itu?

11 10

(28)

Jujur dalam perkataan

Berkata jujur berarti:

Tidak berbohong tentang perkataan atau perbuatan orang lain. Membicarakan sesuatu hal yang tidak benar tentang orang lain pasti akan menyakiti hatinya.

Berkata jujur berarti mengakui kesalahan yang dilakukan dengan sengaja ataupun tidak. Anak yang jujur adalah anak yang tidak takut menerima akibat dari perbuatan yang dilakukannya.

Berkata jujur adalah menceritakan kejadian yang sebenarnya. Terkadang, anak tidak menceritakan hal yang sebenarnya karena takut dimarahi. Anak hendaknya didorong untuk berani berkata jujur, meskipun ini akan mengakibatkan hal yang tidak disukainya. Berkata jujur harus dibarengi oleh tindakan yang benar. Kadang, anak mengucapkan dengan spontan hal-hal seperti “Kulit Bapakkok sangat hitam?” Atau ”Baju kamu jelek sekali hari ini” “Rumah Bude nggak bagus, temboknya rusak”, bisa dikategorikan se-bagai mengatakan hal yang sebenarnya, tetapi apakah tindakan itu benar?Anak-anak hendaknya diajarkan untuk berkata hal yang sebenarnya dalam konteks yang benar.

Jujur dalam perbuatan

,

misalnya:

Berbuat yang benar.

Tidak melanggar peraturan dan tidak berbuat curang. Tidak mengambil barang yang bukan miliknya.

Tidak melakukan perbuatan yang salah untuk mencapai suatu tujuan.

Kejujuran adalah dasar bagi

semua karakter baik.

13 12

(29)

Jujur dalam perkataan

Berkata jujur berarti:

Tidak berbohong tentang perkataan atau perbuatan orang lain. Membicarakan sesuatu hal yang tidak benar tentang orang lain pasti akan menyakiti hatinya.

Berkata jujur berarti mengakui kesalahan yang dilakukan dengan sengaja ataupun tidak. Anak yang jujur adalah anak yang tidak takut menerima akibat dari perbuatan yang dilakukannya.

Berkata jujur adalah menceritakan kejadian yang sebenarnya. Terkadang, anak tidak menceritakan hal yang sebenarnya karena takut dimarahi. Anak hendaknya didorong untuk berani berkata jujur, meskipun ini akan mengakibatkan hal yang tidak disukainya. Berkata jujur harus dibarengi oleh tindakan yang benar. Kadang, anak mengucapkan dengan spontan hal-hal seperti “Kulit Bapakkok sangat hitam?” Atau ”Baju kamu jelek sekali hari ini” “Rumah Bude nggak bagus, temboknya rusak”, bisa dikategorikan se-bagai mengatakan hal yang sebenarnya, tetapi apakah tindakan itu benar?Anak-anak hendaknya diajarkan untuk berkata hal yang sebenarnya dalam konteks yang benar.

Jujur dalam perbuatan

,

misalnya:

Berbuat yang benar.

Tidak melanggar peraturan dan tidak berbuat curang. Tidak mengambil barang yang bukan miliknya.

Tidak melakukan perbuatan yang salah untuk mencapai suatu tujuan.

Kejujuran adalah dasar bagi

semua karakter baik.

13 12

(30)

Contoh sikap jujur

pada anak usia 4-6 tahun

Jujur Tanggung

jawab Berani Peduli Disiplin

1 Membedakan antara ba-rang milik sendiri dan milik bersama

2 Meminta izin saat akan meminjam barang orang lain

3 Mengatakan sesuatu yang benar-benar terjadi 4 Mengakui kesalahan 5 Meminta maaf bila berbuat

salah dan memaafkan te-man yang bersalah

6 Tidak menukar barang milik sendiri dengan milik orang lain tanpa izin 7 Tidak berbuat curang

15 14

(31)

Contoh sikap jujur

pada anak usia 4-6 tahun

No. Indikator Kejujuran

Keterkaitan dengan karakter lainnya

Jujur Tanggung

jawab Berani Peduli Disiplin

1 Membedakan antara ba-rang milik sendiri dan milik bersama

2 Meminta izin saat akan meminjam barang orang lain

3 Mengatakan sesuatu yang benar-benar terjadi 4 Mengakui kesalahan 5 Meminta maaf bila berbuat

salah dan memaafkan te-man yang bersalah

6 Tidak menukar barang milik sendiri dengan milik orang lain tanpa izin 7 Tidak berbuat curang

15 14

(32)

Contoh sikap jujur

pada anak usia 7-9 tahun

Jujur Tanggung

jawab Berani Peduli Disiplin

1 Dapat dipercaya 2 Meminta izin saat akan

meminjam barang orang lain

3 Mengatakan sesuatu yang benar-benar terjadi 4 Mengakui kesalahan 5 Meminta maaf bila berbuat

salah dan memaafkan te-man yang bersalah 6 Tidak menukar barang

milik sendiri dengan milik orang lain tanpa izin 7 Tidak berbuat curang 8 Tidak mencontek 9 Menepati janji

Catatan: adalah nilai perilaku utama

17 16

(33)

Contoh sikap jujur

pada anak usia 7-9 tahun

No. Indikator Kejujuran

Keterkaitan dengan karakter lainnya

Jujur Tanggung

jawab Berani Peduli Disiplin

1 Dapat dipercaya 2 Meminta izin saat akan

meminjam barang orang lain

3 Mengatakan sesuatu yang benar-benar terjadi 4 Mengakui kesalahan 5 Meminta maaf bila berbuat

salah dan memaafkan te-man yang bersalah 6 Tidak menukar barang

milik sendiri dengan milik orang lain tanpa izin 7 Tidak berbuat curang 8 Tidak mencontek 9 Menepati janji

Catatan: adalah nilai perilaku utama

17 16

(34)

”Orang yang jujur adalah ciptaan Tuhan paling mulia.”

(Alexander Pope)

Bagaimana

Menumbuhkan

Kejujuran?

19 18

(35)

”Orang yang jujur adalah ciptaan Tuhan paling mulia.”

(Alexander Pope)

Bagaimana

Menumbuhkan

Kejujuran?

19 18

(36)

Menanamkan nilai moral kepada anak tidak bisa dilakukan hanyamelalui perintah dan la-rangan.Menanamkan nilai moral seharusnya dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran dalam diri anak (Wilson, 2007).Salah satu caranya adalah dengan menjadi figur teladan kejujuran bagi anak. Ki Hajar Dewantara menekankan pentingnyaorang dewasa memberi-kanteladan bagi anak. Ini sesuai dengan amanatnya,“Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” (di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbin-gan, di belakang memberi dorongan).Pepatah lain, “satu teladan lebih baik daripada seribu pidato”menegaskan bahwa mendidik anak dengan memberikan terlalu banyak petuah ser-ingkali tidak efektif.

Ketika anak berbuat salah, sebaiknya orangtua tidak langsung memarahinya. Apabila anak mengakui kesalahannya, berilah apresiasi. Tunjukkan kepada anak konsekuensi dari tinda-kannya tersebut(misalnya, apabila dia membohongi temannya, maka temannya akan merasa sedih atau kecewa). Buatlah anak merasa bahwa bersikap jujur itu menyenangkan (being honest feels good).

Anak mengakui kesalahan Orangtua mengapresiasi kejujuran anak Orangtua menunjukkan konsekuensi natural dari kesalahan yang

dilakukan anak

Timbul kesadaran anak untuk jujur (being honest

feels good)

Untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran dengan efektif, orangtua perlu memahami peng-etahuan tentang apa itu kejujurandan bagaimana menumbuhkannya dalam diri anak, serta pengetahuan tentang cara berkomunikasi yang efektif dengan anak.

21 ilustrasi “Suatu Hari di Musium Seni”

(37)

Menanamkan nilai moral kepada anak tidak bisa dilakukan hanyamelalui perintah dan la-rangan.Menanamkan nilai moral seharusnya dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran dalam diri anak (Wilson, 2007).Salah satu caranya adalah dengan menjadi figur teladan kejujuran bagi anak. Ki Hajar Dewantara menekankan pentingnyaorang dewasa memberi-kanteladan bagi anak. Ini sesuai dengan amanatnya,“Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” (di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbin-gan, di belakang memberi dorongan).Pepatah lain, “satu teladan lebih baik daripada seribu pidato”menegaskan bahwa mendidik anak dengan memberikan terlalu banyak petuah ser-ingkali tidak efektif.

Ketika anak berbuat salah, sebaiknya orangtua tidak langsung memarahinya. Apabila anak mengakui kesalahannya, berilah apresiasi. Tunjukkan kepada anak konsekuensi dari tinda-kannya tersebut(misalnya, apabila dia membohongi temannya, maka temannya akan merasa sedih atau kecewa). Buatlah anak merasa bahwa bersikap jujur itu menyenangkan (being honest feels good).

Anak mengakui kesalahan Orangtua mengapresiasi kejujuran anak Orangtua menunjukkan konsekuensi natural dari kesalahan yang

dilakukan anak

Timbul kesadaran anak untuk jujur (being honest

feels good)

Untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran dengan efektif, orangtua perlu memahami peng-etahuan tentang apa itu kejujurandan bagaimana menumbuhkannya dalam diri anak, serta pengetahuan tentang cara berkomunikasi yang efektif dengan anak.

21 ilustrasi “Suatu Hari di Musium Seni”

(38)

Membangun Pola Komunikasi yang Sehat

untuk Menanamkan Kejujuran

Penting bagi orangtua untuk

mengembangkan cara berkomunikasi

yang jelas dan efektif, juga sehat.

23 22

(39)

Membangun Pola Komunikasi yang Sehat

untuk Menanamkan Kejujuran

Penting bagi orangtua untuk

mengembangkan cara berkomunikasi

yang jelas dan efektif, juga sehat.

23 22

(40)

Komunikasi untuk membangun citra diri yang positif.

Dalam berkomunikasi, orang dewasa harus menunjukkan gestur, bahasa tubuh, raut muka, pilihan kata, dan kata-kata yang mudah dipahami oleh anak. Komunika-si yang poKomunika-sitif mengembangkan kepercayaan diri anak. Anak yang memiliki percaya diri yang tinggi lebih mampu menghargai dan berempati terhadap orang lain. Anak yang percaya diri biasanya berkarakter baik.

Bersikaplah positif ketika berkomunikasi dengan anak:

Letakkan bacaan atau perangkat elektronik, seperti telepon genggam, ketika berbicara dengannya.

Dengarkan perkataannya dan jangan menginterupsi hingga ia selesai berbicara. Ketika mendiskusikan perilakunya, lakukan secara privat. Jangan membuatnya malu dengan membicarakan sikapnya di sekitar orang lain.

Kalau Anda marah kepadanya, redakan dulu emosi Anda sebelum berbicara dengan-nya.

Tataplah matanya ketika berbicara. Sedapat mungkin, berjongkoklah atau duduklah agar tinggi badan Anda setara dengannya.

Apabila mungkin, tahanlah diri Anda untuk bertanya dengan menghakimi. Daripada bertanya, “mengapa?” tanyakanlah, “apa yang terjadi?”

Tahanlah diri Anda untuk tidak menggurui, misalnya dengan berkata, “Kan sudah Ibu bilang, ...” “Pokoknya ikuti saja kata Ibu...” “Ibu lebih tahu, jadi kamu menurut saja.” Menunjukkan otoritas seperti ini tidak menumbuhkan rasa saling percaya.

Tidak melabeli anak dengan kata-kata: bodoh, bandel, nakal, pemalas, cengeng, dan sebagainya, yang bisa meruntuhkan harga diri anak.

Tetap menunjukkan respek dan penerimaan meskipun anak berbuat salah.

25 24

(41)

Komunikasi untuk membangun citra diri yang positif.

Dalam berkomunikasi, orang dewasa harus menunjukkan gestur, bahasa tubuh, raut muka, pilihan kata, dan kata-kata yang mudah dipahami oleh anak. Komunika-si yang poKomunika-sitif mengembangkan kepercayaan diri anak. Anak yang memiliki percaya diri yang tinggi lebih mampu menghargai dan berempati terhadap orang lain. Anak yang percaya diri biasanya berkarakter baik.

Bersikaplah positif ketika berkomunikasi dengan anak:

Letakkan bacaan atau perangkat elektronik, seperti telepon genggam, ketika berbicara dengannya.

Dengarkan perkataannya dan jangan menginterupsi hingga ia selesai berbicara. Ketika mendiskusikan perilakunya, lakukan secara privat. Jangan membuatnya malu dengan membicarakan sikapnya di sekitar orang lain.

Kalau Anda marah kepadanya, redakan dulu emosi Anda sebelum berbicara dengan-nya.

Tataplah matanya ketika berbicara. Sedapat mungkin, berjongkoklah atau duduklah agar tinggi badan Anda setara dengannya.

Apabila mungkin, tahanlah diri Anda untuk bertanya dengan menghakimi. Daripada bertanya, “mengapa?” tanyakanlah, “apa yang terjadi?”

Tahanlah diri Anda untuk tidak menggurui, misalnya dengan berkata, “Kan sudah Ibu bilang, ...” “Pokoknya ikuti saja kata Ibu...” “Ibu lebih tahu, jadi kamu menurut saja.” Menunjukkan otoritas seperti ini tidak menumbuhkan rasa saling percaya.

Tidak melabeli anak dengan kata-kata: bodoh, bandel, nakal, pemalas, cengeng, dan sebagainya, yang bisa meruntuhkan harga diri anak.

Tetap menunjukkan respek dan penerimaan meskipun anak berbuat salah.

25 24

(42)

Membangun empati

Prasyarat awal untuk menumbuhkan empati pada diri anak adalah menjadi orang dewasa yang empatik dan peduli terhadap perasaan mereka. Anak yang mengerti bahwa dirinya diterima dan dipahami akan mudah untuk menerima dan memahami orang lain. Begitu juga, apabila orang dewasa menunjukkan sikap tidak menghar-gai atau melecehkan orang lain (misalnya bergosip tentang orang lain), anak akan beranggapan bahwa sikap tersebut benar. Menghargai orang lain adalah dasar bagi kejujuran.

Beberapa sikap untuk menumbuhkan empati pada diri anak misalnya:

Membantu anak untuk mengidentifikasi rasa takutnya, serta menunjukkan empati. Misalnya: “Oh, suara itu terlalu keras hingga membuatmu takut ya? Itu hanya suara petir kok. Sini, Ayah peluk.” Atau, “Apa yang Ibu bisa lakukan untuk mengurangi rasa takutmu?”

Mengajak anak untuk berbicara tentang perasaan orang lain. Misalnya, “Ruri sedih ka-rena kamu tidak mengajaknya bermain. Bagaimana supaya dia tidak sedih lagi?” Meminta anak untuk berempati kepada orang lain. Misalnya, “Yuk, kita ajak Ruri ber-main agar dia tidak sedih lagi.” Atau “Bagaimana kalau kita berikan kue ini kepada Ruri agar diatidak sedih lagi.”

Menunjukkan kepada anak bahwa sikap dan perasaan negatif seperti marah, cemburu, benci, dan sedih itu wajar. Anak boleh mengekspresikannya, namun harus menahan dirisupaya tidak mengganggu atau melukai orang lain.

27 26

(43)

Membangun empati

Prasyarat awal untuk menumbuhkan empati pada diri anak adalah menjadi orang dewasa yang empatik dan peduli terhadap perasaan mereka. Anak yang mengerti bahwa dirinya diterima dan dipahami akan mudah untuk menerima dan memahami orang lain. Begitu juga, apabila orang dewasa menunjukkan sikap tidak menghar-gai atau melecehkan orang lain (misalnya bergosip tentang orang lain), anak akan beranggapan bahwa sikap tersebut benar. Menghargai orang lain adalah dasar bagi kejujuran.

Beberapa sikap untuk menumbuhkan empati pada diri anak misalnya:

Membantu anak untuk mengidentifikasi rasa takutnya, serta menunjukkan empati. Misalnya: “Oh, suara itu terlalu keras hingga membuatmu takut ya? Itu hanya suara petir kok. Sini, Ayah peluk.” Atau, “Apa yang Ibu bisa lakukan untuk mengurangi rasa takutmu?”

Mengajak anak untuk berbicara tentang perasaan orang lain. Misalnya, “Ruri sedih ka-rena kamu tidak mengajaknya bermain. Bagaimana supaya dia tidak sedih lagi?” Meminta anak untuk berempati kepada orang lain. Misalnya, “Yuk, kita ajak Ruri ber-main agar dia tidak sedih lagi.” Atau “Bagaimana kalau kita berikan kue ini kepada Ruri agar diatidak sedih lagi.”

Menunjukkan kepada anak bahwa sikap dan perasaan negatif seperti marah, cemburu, benci, dan sedih itu wajar. Anak boleh mengekspresikannya, namun harus menahan dirisupaya tidak mengganggu atau melukai orang lain.

27 26

(44)

Mengungkapkan perasaan dengan jujur

Anak perlu tahu bahwa perbuatannya dapat membuat orang lain merasa tidak ny-aman. Apabila anak melukai Anda, baik sengaja atau tidak, Anda harus mengakui perasaan Anda dengan cara yang baik dan tidak emosional, misalnya, “Sayang, Ibu tahu kamu tidak sengaja, tapi senggolan sikumu membuat Ibu sakit.”Dengan mengetahui perasaan orang lain, anak berusaha mengembangkan empati.

“Membuat anak-anak bisa berkata jujur

adalah permulaan pendidikan.”

(John Ruskin)

29 28

(45)

Mengungkapkan perasaan dengan jujur

Anak perlu tahu bahwa perbuatannya dapat membuat orang lain merasa tidak ny-aman. Apabila anak melukai Anda, baik sengaja atau tidak, Anda harus mengakui perasaan Anda dengan cara yang baik dan tidak emosional, misalnya, “Sayang, Ibu tahu kamu tidak sengaja, tapi senggolan sikumu membuat Ibu sakit.”Dengan mengetahui perasaan orang lain, anak berusaha mengembangkan empati.

“Membuat anak-anak bisa berkata jujur

adalah permulaan pendidikan.”

(John Ruskin)

29 28

(46)

Pembiasaan-pembiasaan

untuk Menanamkan Kejujuran

Menjadi figur teladan kejujuran

Tidak membiasakan diri untuk berbohong ketika membujuk anak. Berbohong Untuk Membujuk Mengatakan yang Sebenarnya

“Obat ini manis, kok!” “Ayo, Nak.Minum obatnya. Ini upaya kita untuk sembuh”.

“Kita mampir ke kantor ayah dulu sebentar saja.

Nggak lama, kok.”

“Kita akan mampir ke kantor karena ayah harus menghadiri pertemuan. Kira-kira satu jam. Sambil menunggu, kamu bisa … ”

“Kalau kamu tidak mau makan, ibu akan memanggil polisi.”

“Kamu harus makan supaya badanmu mendapatkan gizi yang baik.”

Tidak membiasakan diri untuk berbohong meskipun untuk tujuan yang baik (white lies) di depan anak. Sebaliknya, apabila ada orang yang mengatakan hal yang sebenarnya yang menyakitkan Anda, janganlah menanggapinya dengan marah atau kesal.

Menceritakan suri ketauladanan anggota keluarga, teman, atau kolega yang telah berbuat jujur.

Tidak melebih-lebihkan suatu cerita hanya untuk mengesankan orang lain.

1. 2. 3. 4. 31 30

(47)

Pembiasaan-pembiasaan

untuk Menanamkan Kejujuran

Menjadi figur teladan kejujuran

Tidak membiasakan diri untuk berbohong ketika membujuk anak. Berbohong Untuk Membujuk Mengatakan yang Sebenarnya

“Obat ini manis, kok!” “Ayo, Nak.Minum obatnya. Ini upaya kita untuk sembuh”.

“Kita mampir ke kantor ayah dulu sebentar saja.

Nggak lama, kok.”

“Kita akan mampir ke kantor karena ayah harus menghadiri pertemuan. Kira-kira satu jam. Sambil menunggu, kamu bisa … ”

“Kalau kamu tidak mau makan, ibu akan memanggil polisi.”

“Kamu harus makan supaya badanmu mendapatkan gizi yang baik.”

Tidak membiasakan diri untuk berbohong meskipun untuk tujuan yang baik (white lies) di depan anak. Sebaliknya, apabila ada orang yang mengatakan hal yang sebenarnya yang menyakitkan Anda, janganlah menanggapinya dengan marah atau kesal.

Menceritakan suri ketauladanan anggota keluarga, teman, atau kolega yang telah berbuat jujur.

Tidak melebih-lebihkan suatu cerita hanya untuk mengesankan orang lain.

1. 2. 3. 4. 31 30

(48)

Meminta maaf, mengakui kesalahan, dan memaafkan kesalahan teman.

Anak perlu memahami bahwa berbuat salah itu wajar dan manusiawi. Apabila mereka mem-buat kesalahan, orang dewasa sebaiknya tidak menghakimi mereka, misalnya dengan men-golok-olok atau melecehkan mereka (misalnya mengatakan “Mengapa kamu selalu iri dengan punya kakak?” atau “Ayah tidak senang punya anak yang suka mencuri”). Orang dewasa perlu mengerti bahwa kadang anak berbuat kesalahan karena tidak mampu menahan diri apabila memiliki keinginan tertentu. Anak perlu dibantu untuk memenuhi keinginannya dengan baik. Sampaikan juga bahwa berbuat salah mungkin saja dilakukan oleh setiap orang. Mintalah maaf apabila telah berbuat salah, misalnya, “Maaf ya, tadi ayah berbicara dengan nada ting-gi,” atau, “Maaf ya, tadi Ibu tidak sengaja menumpahkan air hingga bajumu basah.” Dengan demikian, anak belajar bahwa mereka perlu meminta maaf bahkan untuk kesalahan yang tidak sengaja mereka lakukan.

Akan tetapi, kepada anak juga perlu ditanamkan pemahaman bahwa yang salah adalah salah. Orangtua harus menyampaikan hal ini dengan baik dan hati-hati. Tunjukkan pula al-ternatif perbuatan yang benar dan seharusnya dilakukan. Misalnya, kepada anak yang men-coret-coret PR kakaknya, Anda dapat mengatakan, “Seharusnya kamu tidak menmen-coret-coret PR kakakmu. Katakan saja kepada Kakak apa yang membuatmu kesal.”

Apabila anak telah mengakui kesalahannya dan meminta maaf, hargailah upayanya. Sampai-kan apresiasi, misalnya “Tidak setiap anak mau mengakui kesalahan. Ayah bangga kamu su-dah melakukannya.” Tunjukkan dampak positif dari sikapnya itu, misalnya, “Kalau mengakui kesalahan, hati kita akan tenang,” atau, “Sesudah meminta maaf, temanmu tidak lagi marah kepadamu.”

Memaafkan kesalahan orang lain sama pentingnya dengan meminta maaf.

Anak bisa diajak memahami bahwa Tuhan Maha Memberi Maaf.

Manu-sia pun sebaiknya begitu. Mereka bisa diajak membayangkan bagaimana

jadinya dunia apabila manusia tidak mau saling memaafkan. Orang akan

terus berseteru dan saling menyakiti. Memaafkan juga mempererat

per-saudaraan. Apabila anak memaafkan temannya yang berbuat kesalahan,

hubungan pertemanan akan membaik.

Melakukan dialog-dialog

dengan pilihan kata yang sesuai dengan kemampuan nalar anak. Apabila kosa kata anak masih terbatas, gunakan kata-kata yang sederhana seperti, “Kamu sudah memainkan boneka ini terlalu lama. Temanmu jadi sedih. Yuk, gantian.”

33 32

(49)

Meminta maaf, mengakui kesalahan, dan memaafkan kesalahan teman.

Anak perlu memahami bahwa berbuat salah itu wajar dan manusiawi. Apabila mereka mem-buat kesalahan, orang dewasa sebaiknya tidak menghakimi mereka, misalnya dengan men-golok-olok atau melecehkan mereka (misalnya mengatakan “Mengapa kamu selalu iri dengan punya kakak?” atau “Ayah tidak senang punya anak yang suka mencuri”). Orang dewasa perlu mengerti bahwa kadang anak berbuat kesalahan karena tidak mampu menahan diri apabila memiliki keinginan tertentu. Anak perlu dibantu untuk memenuhi keinginannya dengan baik. Sampaikan juga bahwa berbuat salah mungkin saja dilakukan oleh setiap orang. Mintalah maaf apabila telah berbuat salah, misalnya, “Maaf ya, tadi ayah berbicara dengan nada ting-gi,” atau, “Maaf ya, tadi Ibu tidak sengaja menumpahkan air hingga bajumu basah.” Dengan demikian, anak belajar bahwa mereka perlu meminta maaf bahkan untuk kesalahan yang tidak sengaja mereka lakukan.

Akan tetapi, kepada anak juga perlu ditanamkan pemahaman bahwa yang salah adalah salah. Orangtua harus menyampaikan hal ini dengan baik dan hati-hati. Tunjukkan pula al-ternatif perbuatan yang benar dan seharusnya dilakukan. Misalnya, kepada anak yang men-coret-coret PR kakaknya, Anda dapat mengatakan, “Seharusnya kamu tidak menmen-coret-coret PR kakakmu. Katakan saja kepada Kakak apa yang membuatmu kesal.”

Apabila anak telah mengakui kesalahannya dan meminta maaf, hargailah upayanya. Sampai-kan apresiasi, misalnya “Tidak setiap anak mau mengakui kesalahan. Ayah bangga kamu su-dah melakukannya.” Tunjukkan dampak positif dari sikapnya itu, misalnya, “Kalau mengakui kesalahan, hati kita akan tenang,” atau, “Sesudah meminta maaf, temanmu tidak lagi marah kepadamu.”

Memaafkan kesalahan orang lain sama pentingnya dengan meminta maaf.

Anak bisa diajak memahami bahwa Tuhan Maha Memberi Maaf.

Manu-sia pun sebaiknya begitu. Mereka bisa diajak membayangkan bagaimana

jadinya dunia apabila manusia tidak mau saling memaafkan. Orang akan

terus berseteru dan saling menyakiti. Memaafkan juga mempererat

per-saudaraan. Apabila anak memaafkan temannya yang berbuat kesalahan,

hubungan pertemanan akan membaik.

Melakukan dialog-dialog

dengan pilihan kata yang sesuai dengan kemampuan nalar anak. Apabila kosa kata anak masih terbatas, gunakan kata-kata yang sederhana seperti, “Kamu sudah memainkan boneka ini terlalu lama. Temanmu jadi sedih. Yuk, gantian.”

33 32

(50)

Perbuatan curang pasti merugikan orang lain. Kadang-kadang anak tidak menyadari bahwa perbuatan curangnya itu merugikan. Ajak anak untuk memahami hal ini, misalnya dengan mengatakan:

“Kalau kamu curang dalam bermain, temanmu tidak akan suka kepadamu.” “Meskipun kamu menang, kalau kamu curang, temanmu tidak akan menyukainya.” “Mungkin nilaimu akan bagus kalau kamu mencontek dari temanmu. Tapi ini tidak adil untuk temanmu yang sudah belajar keras. Bayangkan kalau pekerjaanmu dicontek oleh teman dan temanmu itu mendapat nilai bagus. Apakah kamu merasa itu adil?”

Perbuatan curang tidak hanya bertentangan dengan prinsip kejujuran, tetapi juga me-nyebabkan anak enggan bekerja keras dan tidak peduli dengan orang lain. Untuk menga-tasi ini, orang dewasa sebaiknya lebih menghargai kejujuran anak dibandingkan dengan nilai akhir yang mereka dapatkan. Ungkapkan bahwa:

“Ayah akan senang kalau nilai ulanganmu bagus, tetapi kalau kamu mendapatkannya dengan curang, ayah akan sedih.”

“Buat Ibu, kejujuranmu lebih penting. Tidak apa-apa nilaimu jelek, asal itu hasil kerjamu sendiri.”

Orang yang jujur adalah orang yang dapat menepati janjinya kepada orang lain. Menepati janji juga adalah bentuk penghargaan terhadap orang lain. Orang dewasa perlu menjadi teladan dengan tidak terlalu mudah mengumbar janji. Sebaiknya, orangtua tidak menggunakan janji untuk meredakan emosi anak (misalnya, “Nanti kalau kamu berhenti menangis, Ibu akan be-likan es krim.”) apalagi jika kemudian tidak menepatinya.

Mengapresiasi anak ketika sudah menepati janji kepada orangtua atau temannya. “Ter-ima kasih ya, kamu sudah menepati janjimu kepada Ibu.”

Mengingatkan anak untuk menepati janji.

“Kamu ingat sudah berjanji kepada adik untuk bergiliran main ini?”

Apabila orangtua tidak bisa menepati janji karena suatu hal, maka minta maaflah. Apabila orangtua tidak sengaja melupakan suatu janji, berterimakasihlah kepada anak yang sudah mengingatkan.

“Maaf, ayah mendadak pergi hari ini. Bagaimana kalau kita menonton besok saja?” “Ohya, ayah lupa sudah berjanji. Terima kasih ya sudah mengingatkan. Sayang, hari ini ayah ada rapat mendadak. Bagaimana kalau kita beli es krim besok saja?”

Tunjukkan bahwa tidak menepati janji itu membuat orang lain tidak nyaman.

“Kamu ingat waktu ayah/ibu berjanji dan tidak bisa menepatinya. Bagaimana per-asaanmu?”

35 34

(51)

Tidak Berbuat Curang

Perbuatan curang pasti merugikan orang lain. Kadang-kadang anak tidak menyadari bahwa perbuatan curangnya itu merugikan. Ajak anak untuk memahami hal ini, misalnya dengan mengatakan:

“Kalau kamu curang dalam bermain, temanmu tidak akan suka kepadamu.” “Meskipun kamu menang, kalau kamu curang, temanmu tidak akan menyukainya.” “Mungkin nilaimu akan bagus kalau kamu mencontek dari temanmu. Tapi ini tidak adil untuk temanmu yang sudah belajar keras. Bayangkan kalau pekerjaanmu dicontek oleh teman dan temanmu itu mendapat nilai bagus. Apakah kamu merasa itu adil?”

Perbuatan curang tidak hanya bertentangan dengan prinsip kejujuran, tetapi juga me-nyebabkan anak enggan bekerja keras dan tidak peduli dengan orang lain. Untuk menga-tasi ini, orang dewasa sebaiknya lebih menghargai kejujuran anak dibandingkan dengan nilai akhir yang mereka dapatkan. Ungkapkan bahwa:

“Ayah akan senang kalau nilai ulanganmu bagus, tetapi kalau kamu mendapatkannya dengan curang, ayah akan sedih.”

“Buat Ibu, kejujuranmu lebih penting. Tidak apa-apa nilaimu jelek, asal itu hasil kerjamu sendiri.”

Menepati Janji

Orang yang jujur adalah orang yang dapat menepati janjinya kepada orang lain. Menepati janji juga adalah bentuk penghargaan terhadap orang lain. Orang dewasa perlu menjadi teladan dengan tidak terlalu mudah mengumbar janji. Sebaiknya, orangtua tidak menggunakan janji untuk meredakan emosi anak (misalnya, “Nanti kalau kamu berhenti menangis, Ibu akan be-likan es krim.”) apalagi jika kemudian tidak menepatinya.

Mengapresiasi anak ketika sudah menepati janji kepada orangtua atau temannya. “Ter-ima kasih ya, kamu sudah menepati janjimu kepada Ibu.”

Mengingatkan anak untuk menepati janji.

“Kamu ingat sudah berjanji kepada adik untuk bergiliran main ini?”

Apabila orangtua tidak bisa menepati janji karena suatu hal, maka minta maaflah. Apabila orangtua tidak sengaja melupakan suatu janji, berterimakasihlah kepada anak yang sudah mengingatkan.

“Maaf, ayah mendadak pergi hari ini. Bagaimana kalau kita menonton besok saja?” “Ohya, ayah lupa sudah berjanji. Terima kasih ya sudah mengingatkan. Sayang, hari ini ayah ada rapat mendadak. Bagaimana kalau kita beli es krim besok saja?”

Tunjukkan bahwa tidak menepati janji itu membuat orang lain tidak nyaman.

“Kamu ingat waktu ayah/ibu berjanji dan tidak bisa menepatinya. Bagaimana per-asaanmu?”

35 34

(52)

“Jika kau berkata jujur, kau tidak perlu

mengingat hal (kebohongan) apapun.”

(Mark Twain)

Menanamkan Nilai Kejujuran

Melalui Cerita Kumbi

Salah satu cara paling efektif dalam menanamkan kejujuran kepada anak adalah melalui cerita. Cerita anak bergambar, terutama, digemari anak karena memiliki ilustrasi yang me-narik. Melalui tokoh-tokoh cerita, orang dewasa bisa mengajak anak untuk berdiskusi tentang dampak perbuatan curang, memakai barang orang lain tanpa izin, dan apa akibat dari ber-bohong. Semua nilai ini dapat disampaikan tanpa menggurui anak. Agar diskusi buku Kumbi berlangsung dengan efektif, orangtua perlu melakukan langkah-langkah berikut.

(53)

“Jika kau berkata jujur, kau tidak perlu

mengingat hal (kebohongan) apapun.”

(Mark Twain)

Menanamkan Nilai Kejujuran

Melalui Cerita Kumbi

Salah satu cara paling efektif dalam menanamkan kejujuran kepada anak adalah melalui cerita. Cerita anak bergambar, terutama, digemari anak karena memiliki ilustrasi yang me-narik. Melalui tokoh-tokoh cerita, orang dewasa bisa mengajak anak untuk berdiskusi tentang dampak perbuatan curang, memakai barang orang lain tanpa izin, dan apa akibat dari ber-bohong. Semua nilai ini dapat disampaikan tanpa menggurui anak. Agar diskusi buku Kumbi berlangsung dengan efektif, orangtua perlu melakukan langkah-langkah berikut.

(54)

Pra-baca

Minta anak untuk menebak binatang apa yang ada di sampul buku Kumbi. Minta anak untuk menebak isi cerita dengan mengamati sampul buku Kumbi. Bacakan judul buku dan nama pengarang serta ilustrator buku Kumbi.

Membaca

Membaca buku dengan suara, intonasi, dan pelafalan yang jelas.

Berhenti membaca untuk menanggapi pertanyaan anak apabila mereka bertanya. Berhenti membaca apabila perlu untuk meminta anak mengamati detail ilus-trasi yang menarik.

Ketika membacakan buku, fokuskan kepada emosi tokoh cerita. Misalnya, “Lihat, Ayi sedih karena teman-temannya mengambil makanannya hingga ham-pir habis,” atau, “Lihat wajah Modo. Dia kelihatan malu karena berbohong.” Minta anak untuk memperhatikan perilaku baik tokoh cerita. Misalnya, “Lihat, Modo meminta maaf karena sudah berbohong,” atau “Lihat, Ayimeminta maaf karena sudah mengambil makanan temannya.”

Setelah Membaca

Meminta anak menceritakan ulang isi cerita. Bertanya tentang tokoh yang mereka sukai.

Berdiskusi tentang tokoh mana yang tidak jujur, dan apa akibat dari sikap tersebut.

Mengembangkan diskusi tersebut dengan memasukkan nilai-nilai tanggung-jawab, kerjasama, kepercayaan, setia kawan, dan lain-lain.

39 38

(55)

Tahapan-tahapan membacakan buku dan berdiskusi

Pra-baca

Minta anak untuk menebak binatang apa yang ada di sampul buku Kumbi. Minta anak untuk menebak isi cerita dengan mengamati sampul buku Kumbi. Bacakan judul buku dan nama pengarang serta ilustrator buku Kumbi.

Membaca

Membaca buku dengan suara, intonasi, dan pelafalan yang jelas.

Berhenti membaca untuk menanggapi pertanyaan anak apabila mereka bertanya. Berhenti membaca apabila perlu untuk meminta anak mengamati detail ilus-trasi yang menarik.

Ketika membacakan buku, fokuskan kepada emosi tokoh cerita. Misalnya, “Lihat, Ayi sedih karena teman-temannya mengambil makanannya hingga ham-pir habis,” atau, “Lihat wajah Modo. Dia kelihatan malu karena berbohong.” Minta anak untuk memperhatikan perilaku baik tokoh cerita. Misalnya, “Lihat, Modo meminta maaf karena sudah berbohong,” atau “Lihat, Ayimeminta maaf karena sudah mengambil makanan temannya.”

Setelah Membaca

Meminta anak menceritakan ulang isi cerita. Bertanya tentang tokoh yang mereka sukai.

Berdiskusi tentang tokoh mana yang tidak jujur, dan apa akibat dari sikap tersebut.

Mengembangkan diskusi tersebut dengan memasukkan nilai-nilai tanggung-jawab, kerjasama, kepercayaan, setia kawan, dan lain-lain.

39 38

(56)

Judul Buku:

Piknik di Kumbinesia

Apakah kamu pernah mencicipi makanan temanmu? Apa yang sebaiknya kamu lakukan ketika mencicipi ma-kanan temanmu?

Apakah kita perlu minta izin ketika akan mencicipi ma-kanan teman?

Apakah temanmu pernah mencicipi makananmu tanpa izin? Bagaimana perasaanmu?

Tahukah kamu bahwa makanan bisa mengandung ku-man?

Tahukah kamu bahwa berbagi makanan bisa memba-hayakan kesehatan?

Bagaimana caranya agar kuman tidak ikut tersebar mel-alui makanan?

(57)

Pertanyaan-pertanyaan untuk memandu diskusi tentang kejujuran

Judul Buku:

Piknik di Kumbinesia

Apakah kamu pernah mencicipi makanan temanmu? Apa yang sebaiknya kamu lakukan ketika mencicipi ma-kanan temanmu?

Apakah kita perlu minta izin ketika akan mencicipi ma-kanan teman?

Apakah temanmu pernah mencicipi makananmu tanpa izin? Bagaimana perasaanmu?

Tahukah kamu bahwa makanan bisa mengandung ku-man?

Tahukah kamu bahwa berbagi makanan bisa memba-hayakan kesehatan?

Bagaimana caranya agar kuman tidak ikut tersebar mel-alui makanan?

(58)

Judul Buku:

Suatu Hari di Museum Seni

Mengapa mentimun model lukisan berkurang? Mengapa Kancil dikejar-kejar oleh binatang lain? Bagaimana akhirnya Kancil tertangkap?

Mengapa Kancil mengambil mentimun itu? Apa yang dilakukan Kancil setelah tertangkap?

Apakah akhirnya Kancil bisa mendapatkan mentimun yang diinginkannya? Bagaimana?

Menurutmu, apakah sebaiknya kancil minta izin lebih dulu untuk mendapatkan mentimun itu?

(59)

Pertanyaan-pertanyaan untuk memandu diskusi tentang kejujuran

Judul Buku:

Suatu Hari di Museum Seni

Mengapa mentimun model lukisan berkurang? Mengapa Kancil dikejar-kejar oleh binatang lain? Bagaimana akhirnya Kancil tertangkap?

Mengapa Kancil mengambil mentimun itu? Apa yang dilakukan Kancil setelah tertangkap?

Apakah akhirnya Kancil bisa mendapatkan mentimun yang diinginkannya? Bagaimana?

Menurutmu, apakah sebaiknya kancil minta izin lebih dulu untuk mendapatkan mentimun itu?

(60)

Judul Buku:

Modo Tak Mau Menari

Mengapa Modo terlihat sedih?

Mengapa Modo tak berterusterang bahwa dia tidak bisa menari?

Kalau kamu menjadi Modo, apakah kamu juga akan malu?

Apa yang disarankan teman-teman Modo kepada Modo? Menurut kamu, apa yang harus dilakukan Modo? Seandainya kamu menjadi teman Modo, apakah sa-ranmu untuknya?

(61)

Pertanyaan-pertanyaan untuk memandu diskusi tentang kejujuran

Judul Buku:

Modo Tak Mau Menari

Mengapa Modo terlihat sedih?

Mengapa Modo tak berterusterang bahwa dia tidak bisa menari?

Kalau kamu menjadi Modo, apakah kamu juga akan malu?

Apa yang disarankan teman-teman Modo kepada Modo? Menurut kamu, apa yang harus dilakukan Modo? Seandainya kamu menjadi teman Modo, apakah sa-ranmu untuknya?

(62)

Kesimpulan

Kejujuran adalah sikap moral yang membutuhkan pembiasaan dalam keseharian anak. Kon-sistensi sikap orang dewasa mendukung pembiasaan ini. Pembiasaan ini akan menumbuh-kan kesadaran bahwa kejujuran itu penting. Kejujuran yang terbentuk dari kesadaran amenumbuh-kan lebih membentuk karakter positif anak. Karakter ini akan mewarnai perjalanannya hingga ia dewasa.

Menanamkan kejujuran lewat metode tradisional, seperti ceramah yang menggurui, dan menjejali nilai moral tanpa mencontohkan kejujurantidak akan membentuk karakter anak dalam waktu yang lama.Anak jujur dibesarkan oleh lingkungan yang jujur. Apabila anak jujur, perikehidupan bangsa ini akan membaik. Bangsa yang jujur adalah langkah awalmenuju ne-gara yang maju dan sejahtera.

47

(63)

Kesimpulan

Kejujuran adalah sikap moral yang membutuhkan pembiasaan dalam keseharian anak. Kon-sistensi sikap orang dewasa mendukung pembiasaan ini. Pembiasaan ini akan menumbuh-kan kesadaran bahwa kejujuran itu penting. Kejujuran yang terbentuk dari kesadaran amenumbuh-kan lebih membentuk karakter positif anak. Karakter ini akan mewarnai perjalanannya hingga ia dewasa.

Menanamkan kejujuran lewat metode tradisional, seperti ceramah yang menggurui, dan menjejali nilai moral tanpa mencontohkan kejujurantidak akan membentuk karakter anak dalam waktu yang lama.Anak jujur dibesarkan oleh lingkungan yang jujur. Apabila anak jujur, perikehidupan bangsa ini akan membaik. Bangsa yang jujur adalah langkah awalmenuju ne-gara yang maju dan sejahtera.

47

Referensi

Dokumen terkait

Kementrian kesehatan mengembangkan teknik pendekatan perilaku hidup bersih dan sehat, yaitu dengan pendekatan Community Led Total Sanitation (CLTS) atau yang

a) Untuk standar minimal 5 set meja-kursi, pengukur tinggi badan, timbangan berat badan, pita pengukur lingkar perut, dan tensi meter serta buku pintar kader tentang cara

Anda telah mempelajari materi pada kegiatan 2 tentang bagaimana menyusun laporan perubahan modal dan Neraca yang diambil dari kertas kerja.. Bagaimana,

Salah satu pendekatan yang di tempuh PT (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia untuk dapat mengungguli persaingan adalah dengan meningkatkan pelayanan kepada peserta baik dari

”Pemulihan Berenang Lambat Gaya Bebas Lebih Efektif Dibandingkan dengan Pemulihan Berenang Lambat Gaya Dada dalam Mempercepat Pemulihan Denyut Nadi setelah Latihan

Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bersedia untuk menjadi responden penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Program Magister

Sehubungan dengan penelitian saya untuk skripsi yang berjudul “ Analisis perilaku konsumen dalam masalah kesehatan sebelum dan setelah adanya BPJS.. Studi kasus di

Rasa empati akan mendorong kita untuk dapat menyampaikan pesan (message) dengan cara dan sikap yang akan memudahkan penerima pesan (receiver) menerimanya. Sebelum kita membangun