• Tidak ada hasil yang ditemukan

Materi PTK PLPG Bhs. Inggris

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan " Materi PTK PLPG Bhs. Inggris"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

MODUL

PENDIDIKAN DAN LATIHAN PROFESI GURU

(PLPG)

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

BAHASA INGGRIS

Oleh :

Teguh Sarosa, S.S., M.Hum.

PANITIA SERTIFIKASI GURU RAYON 113

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur dipanjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia yang

dilimpahkan kepada tim penyusun, sehingga panduan workshop Penelitian

Tindakan Kelas ini terselesaikan dengan baik.

Panduan workshop PTK ini dimaksudkan untuk memberikan bimbingan kepada

guru khususnya guru bahasa Inggris dalam penyusunan proposal PTK. Panduan

ini dijelaskan langkah demi langkah sehingga akan memudahkan guru dan

mengikuti penyusunan proposal PTK.

Tim penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah

membantu dalam penyususan panduan proposal PTK ini. Apabila di dalam

panduan workshop ini ada kekurangan dan kesalahan, tim penyusun benar-benar

mengakuinya. Oleh karena itu kritik dan saran yang konstruktif sangat diharapkan

demi perbaikan panduan workshop ini.

Akhirnya semoga panduan workshop ini bisa memberikan manfaat kepada kita

khususnya peserta PLPG dalam upapa peningkatan kompetensi dalam bidang

penyusunan proposal PTK.

(3)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... iii

PANDUAN WORKSHOP PTK ... 1

I. Tujuan workshop PTK ... 1

II. Paparan Materi Workshop PTK ... 1

III. Penyusunan Rancangan Proposal PTK untuk Perbaikan Pembelajaran 19 IV. Output Workshop = Proposal PTK ... 21

(4)

PANDUAN WORKSHOP PTK

I. Tujuan workshop PTK

Tujuan workshop Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah agar peserta

workshop dapat:

1. memahami konsep PTK

2. mengidentifikasi permasalahan PTK

3. merumuskan masalah PTK

4. merencanakan tindakan perbaikan sesuai sesuai masalah penelitian

5. menyusun tahap pelaksanaan PTK

6. melakukan analisis dan refleksi

7. membuat perencanaan tindak lanjut

8. menyusun proposal PTK yang baik.

II. Paparan Materi Workshop PTK

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research

(CAR) merupakan penelitian praktis di bidang pendidikan mencakup

beberapa langkah prosedural yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas

pembelajaran atau menyelesaikan masalah yang mungkin timbul selama

proses pembelajaran dengan menerapkan solusi-solusi tertentu yang

relevan dengan masalah. PTK merupakan proses reflektif yang membantu

pengajar untuk eksplorasi atau menguji aspek-aspek dalam proses belajar

mengajar (PBM) dan mengambil tindakan untuk merubah keadaan dan

meningkatkan kualitasnya.

Proposal Penelitian Tindakan Kelas pada umumnya terdiri atas

komponen-komponen sebagai berikut:

i. Judul

ii. Pendahuluan

a. Latar Belakang Masalah

b. Perumusan Masalah

c. Tujuan Penelitian

(5)

iii. Tinjauan Pustaka

a. Deskripsi Teori

b. Kerangka Berpikir

c. Hipotesis Tindakan

iv. Metode Penelitian

a. Setting Penelitian

b. Subjek Penelitian

c. Data dan Sumber Data

d. Teknik Pengumpulan Data

e. Validitas Data

f. Teknik Analisis Data

g. Indikator Kinerja

h. Prosedur Penelitian

A. Judul Penelitian

Judul PTK harus memuat dua variable utama yaitu variabel

permasalahan (variabel A) dan variabel solusi atau pemecahan

masalah (variabel B). Judul hendaknya dikemukakan secara

singkat, spesifik, jelas dan mensugesti ketertarikan pembaca

(curiousity).

Di samping itu, judul harus memberikan informasi mengenai

hal-hal yang bersifat spesifik, seperti :subyek, latar atau setting, baik

tempat dan waktu pelaksanaan penelitian.

Format judul:

Keterangan:

Masalah harus jelas, diungkapkan dengan frase yang singkat dan

padat; contoh:

Peningkatan A dengan Menggunakan B (Penelitian Tindakan Kelas di ..., 20...)

IMPROVING STUDENTS’ WRITING SKILL

USING FOUR SQUARE WRITING METHOD

(6)

B. Latar Belakang Masalah

Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan untuk

memecahkan masalah yang dihadapi para pendidik di kelas yang

mereka ampu atau meningkatkan hasil belajar siswa yang

ditengarai menurun atau di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal

(KKM) yang diterapkan. Berdasarkan hal tersebut maka peneliti

haruslah mengungkapkan hal-hal yang mendorong

dilaksanakannya PTK atau menguraikan argumentasi pentingnya

PTK dilakukan dalam poin Latar belakang masalah.

Peneliti perlu menguraikan proses bagaimana cara

menemukan masalah dalam initial research atau preliminary

research. Waktu pelaksanaan preliminary research adalah

IMPROVING STUDENTS’ MOTIVATION IN LEARNING ENGLISH USING

REFLECTIVE LEARNING

(A Classroom Action Research at the Tenth Grade of SMK Negeri 1 Karanganyar in the Academic Year 2009/2010)

IMPROVING STUDENTS’ READING SKILL THROUGH COLLABORATIVE LANGUAGE LEARNING

(A Classroom Action Research at the Seventh Grade of SMP Negeri 8 Surakarta Academic Year 2007/2008)

IMPROVING STUDENTS’ SPEAKING COMPETENCE THROUGH SMALL GROUP DISCUSSION

(A Classroom Action Research at the Eleventh Grade of SMA Negeri 1 Sragen in the Academic Year 2007/2008)

IMPROVING STUDENTS’ SPEAKING COMPETENCE THROUGH SMALL GROUP DISCUSSION

(A Classroom Action Research at the Eleventh Grade of SMA Negeri 1 Sragen in the Academic Year 2007/2008)

IMPROVING STUDENTS’ VOCABULARY MASTERY BY USING COMPUTER ASSISTED LANGUAGE LEARNING (A Classroom Action Research towards The Second Grade Students of SD Negeri Kalicacing 2 Salatiga in the Academic Year

(7)

indefinite, artinya peneliti mempunyai waktu yang tidak terjadwal

karena tahap ini bisa dimulai sejak peneliti sebagai praktisi

pendidik mengajar dan menemukan embrio-embrio permasalahan

yang dihadapi siswanya sampai akhirnya embrio tersebut terbentuk

menjadi pokok permasalahan yang ingin dicari pemecahannya.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh peneliti dalam tahap

initial research ini, antara lain: pengamatan (observation),

wawancara baik terhadap kolega ataupun muridnya mengenai

kesulitan-kesulitan yang dialaminya dalam proses belajar dan

mengajar, dan analisis dokumen baik dari catatan lapangan

maupun tes yang diadakan. Dari hasil analisis data yang didapat di

tahap awal ini maka peneliti dapat mengambil simpulan mengenai

asal masalah atau akar permasalahan yang kemungkinan timbul

dari metode pengajaran yang dipakai, materi pembelajaran atau

media ajar yang digunakan.

Penulisan latar belakang masalah dapat dimulai dengan

uraian kondisi nyata yang terjadi dalam PBM, baik interaksi antara

guru dan murid atau murid dan murid, situasi kelas, dan fasilitas

yang tersedia dalam ruang kelas (hal ini bisa didapatkan dari hasil

pengamatan di initial research). Setelah itu peneliti harus

menguraikan kondisi ideal tentang ruang lingkup pokok

permasalahan dan pada akhirnya peneliti juga harus menjelaskan

kesenjangan yang terjadi antara kondisi nyata dan kondisi ideal

suatu proses pengajaran dan pembelajaran. Data atau fakta

sebaiknya juga ikut dituliskan sebagai validasi. Data tersebut dapat

berasal dari field note, petikan wawancara, dan hasil tes awal yang

dilakukan yang relevan dengan masalah yang dikemukakan oleh

peneliti.

Penulisan selanjutnya adalah uraian tentang masalah yang

dihadapi oleh peneliti. Peneliti harus mengungkapkan indikator

dari masalah tersebut dan penyebab kenapa masalah tersebut dapat

timbul. Apakah penerapan metode pengajaran atau pembelajaran

(8)

yang tidak sesuai dengan kompetensi yang harus dimiliki siswa

diakhir proses pembelajaranya?; atau apakah media ajar yang

digunakan kurang menarik minat siswa sehingga siswa tidak

termotivasi untuk belajar?.

Setelah mengungkapkan penyebab timbulnya masalah,

peneliti menguraikan solusi yang dia berikan untuk memecahkan

masalah tersebut baik dengan penerapan metode mengajar yang

berbeda yang disesuaikan dengan karakteristik siswanya, materi

pembelajaran yang disesuaikan dengan silabi, ataukah dengan

penggunaan media ajar yang menarik. Peneliti harus mencari

referensi tentang kajian teori yang tepat untuk diterapkan guna

mengatasi permasalahan yang dihadapi. Dalam pengungkapan

solusi, peneliti perlu membuat rasionalisasi yang kuat antara

masalah yang dihadapi dengan solusi yang dia tawarkan

berdasarkan teori-teori yang relevan.

Secara singkat latar belakang masalah ditulis secara naratif

dan harus berisi:

1. Kondisi ideal tentang ruang lingkup pokok permasalahan dan

kondisi nyata yang dihadapi dalam ruang kelas.

2. Masalah yang dihadapi dan indikatornya.

3. Penyebab munculnya masalah.

4. Solusi, berupa konsep yang didukung rasionalisasi yang kuat.

Urutan penyajiannya bisa 1 – 4, atau 2,3,1,4 .

C. Perumusan dan Pemecahan Masalah

Permasalahan merupakan bagian terpenting dalam proposal

PTK. Karena dari sinilah tergambar secara jelas masalah yang

dihadapi dan solusi yang digunakan untuk memecahkan masalah

tersebut. Permasalahan merupakan hal nyata yang ditemui dalam

kelas berdasarkan pengamatan, wawancara atau analisis dokumen.

Permasalahan tersebut dibuat secara jelas dan rinci tertuang dalam

rumusan masalah yang mengkaitkan hubungan antar variabel yang

(9)

Format rumusan masalah berbentuk pertanyaan:

1. Bagaimanakah solusi yang ditawarkan peneliti dapat

memecahkan masalah?

2. Apakah kelebihan dan kekurangan penerapan

teknik/metode/media ketika diterapkan pada kelas?

Contoh perumusan masalah:

D. Tujuan

Tujuan Penelitian Tindakan Kelas menyatakan target

tertentu yang akan diperoleh dari kegiatan penelitian yang

direncanakan. Tujuan penelitian harus dinyatakan secara spesifik

dalam pernyataan yang jelas. Kemukakan secara singkat tujuan

penelitian sesuai dengan permasalahan yang telah teridentifikasi

dan terumuskan di bab sebelumnya. Tujuan dirumuskan dalam

bentuk kalimat deklaratif.

Contoh:

1. CAN THE USE OF FOUR SQUARE WRITING METHOD IMPROVE STUDENTS’ WRITING SKILL ?

2. TO WHAT EXTEND THE USE OF FOUR SQUARE WRITING METHOD IMPROVE STUDENTS’ WRITING SKILL ?

3. WHAT HAPPENS WHEN FOUR SQUARE WRITING METHOD IS APPLIED?

4. HOW DO THE EIGHT GRADE STUDENTS PARTICIPATE IN TEACHING LEARNING PROCESS BY USING FOUR SQUARE WRITING METHOD?

1. TO IDENTIFY WHETHER THE USE OF FOUR SQUARE WRITING METHOD CAN IMPROVE STUDENTS’ WRITING SKILL.

2. TO IDENTIFY TO WHAT EXTEND THE USE OF FOUR SQUARE

WRITING METHOD IMPROVE STUDENTS’ WRITING SKILL.

3. TO ANALYZE WHAT HAPPENS WHEN FOUR SQUARE WRITING METHOD IS APPLIED.

(10)

E. Manfaat

Manfaat penelitian berisi deskripsi singkat tentang manfaat yang

dapat diperoleh setelah PTK selesai dilaksanakan. Kemukakan

manfaat teoritis (kepentingan ilmiah) dan manfaat praktis

(kepentingan terapan). Manfaat itu dapat dirinci menurut penerima

manfaat PTK, seperti peneliti, guru/kolaborator, murid, sekolah,

peneliti lain, pengambil kebijakan.

Contoh:

1. For students: It is hoped that the result of the study can improve students’ writing skill.

2. For the teachers: The teacher can improve their teaching

techniques by elaboration the use of four square writing technique.

3. For theoritical application: It is hoped that the result of the study

can give additional information of language teaching activity

especially teaching writing.

F. Tinjauan Pustaka

Kajian pustaka menguraikan teori, temuan, dan bahan penelitian

lain yang diperoleh dari acuan (buku atau jurnal ilmiah) yang dijadikan

landasan untuk melakukan penelitian yang diusulkan. Kemukakan kajian

teori yang relevan dengan variabel masalah maupun variabel tindakan.

Berdasarkan urutan, kemukakan terlebih dahulu kajian teori yang gayut

dengan variabel masalah dan baru kemudian kajian teori yang gayut

dengan variabel tindakan. Sejalan dengan contoh judul yang telah

dikemukakan, peneliti menguraikan kajian teori tentang Kemampuan

Menulis dan selanjutnya teori tentang Four Square Writing Method.

Uraian dalam Kajian Pustaka dibawa untuk menyusun kerangka atau

konsep yang akan digunakan dalam penelitian. Dalam hubungan ini

hendaknya diusahakan pustaka yang relevan dan terbaru. Dengan

demikian, dalam bagian ini hendaknya dikemukakan hipotesis tindakan.

Dalam landasan teori perlu dikemukakan deskripsi teori dan

(11)

a. Deskripsi Teori

Deskripsi teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis

tentang teori (dan bukan sekadar pendapat pakar atau penulis buku) dan

hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variabel yang diteliti. Berapa

jumlah kelompok teori yang perlu dikemukakan atau dideskripsikan akan

bergantung pada luasnya permasalahan dan secara teknis bergantung pada

jumlah variabel yang diteliti. Oleh karena itu, makin banyak variabel yang

diteliti, maka akan makin banyak teori yang perlu dikemukakan.

Deskripsi teori paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap

variabel-variabel yang diteliti melalui pendefinisian, dan uraian yang

lengkap dan mendalam dari berbagai referensi sehingga ruang lingkup,

kedudukan dan prediksi terhadap hubungan antarvariabel yang akan

diteliti akan menjadi lebih jelas dan terarah.

Teori-teori yang dideskripsikan dalam proposal maupun laporan

penelitian dapat digunakan sebagai indikator apakah peneliti menguasai

teori dan konteks yang diteliti atau tidak. Variabel-variabel penelitian yang

tidak dapat dijelaskan dengan baik, baik dari segi pengertian maupun

kedudukan dan hubungan antarvariabel yang diteliti, menunjukkan bahwa

peneliti tidak menguasai teori dan konteks penelitian.

Untuk menguasai teori maupun generalisasi-generalisasi dari hasil

penelitian, peneliti harus rajin membaca. Orang harus rajin membaca dan

menelaah yang dibaca itu setuntas-tuntasnya agar ia dapat menegakkan

landasan yang kokoh bagi langkah-langkah berikutnya. Untuk dapat

membaca dengan baik, peneliti harus mengetahui sumber-sumber bacaan.

Sumber-sumber bacaan dapat berupa buku-buku teks, kamus (khususnya

kamus istilah), ensiklopedia, jurnal ilmiah, internet, dan hasil-hasil

penelitian.

Sumber bacaan yang baik harus memenuhi tiga kriteria, yaitu

relevansi, kelengkapan, dan kemutakhiran (kecuali penelitian sejarah,

penelitian ini justru menggunakan sumber-sumber yang lama). Relevansi

(12)

yang dikemukakan, kelengkapan berkenaan dengan banyaknya sumber

yang dibaca, kemutakhiran berkenaan dengan dimensi waktu. Makin baru

sumber yang digunakan, makin mutakhir teori tersebut.

Terdapat sejumlah prinsip dalam memilih sumber pustaka.

Prinsip-prinsip itu dikemukakan berikut ini.

(1) Relevansi

Telaah pustaka sering disebut landasan teoretis. Oleh karena itu,

sumber pustaka yang digunakan harus benar-benar relevan, berisi

pernyataan-pernyataan yang dapat digunakan sebagai acuan dan

kerangka pemikiran dalam memecahkan masalah penelitian. Relevansi

tersebut juga dapat ditinjau dari kesesuaian antara sumber pustaka itu

dengan disiplin ilmu yang dibahas.

(2) Kemutakhiran

Prinsip ini sangat penting dengan pertimbangan bahwa ilmu dan

teknologi telah makin berkembang dengan pesat dan kemajuan zaman

menghendaki peneliti memilih teori yang mutakhir.

(3) Akurasi dan Kualitas

Jika sejumlah data dikemukakan oleh seseorang penulis dan data

tersebut akan kita gunakan untuk menyusun sebuah rancangan

penelitian, maka kita perlu mempertanyakan apakah data tersebut

akurat dan dapat dipertanggungjawabkan validitasnya. Sementara itu,

sumber data yang berkualitas adalah sumber data yang memuat uraian

tentang suatu teori atau konsep yang teliti berdasarkan pemikiran yang

akurat, luas, mendalam, clan disajikan secara sistematis. Di samping

itu, perlu juga dipertimbangkan kewenangan atau otoritas penulisnya.

b. Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir merupakan lanjutan dari deskripsi teori yang berisi

(13)

Kerangka berpikir ini harus mengemukakan bagaimana variabel B

dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah sehingga variabel A

meningkat. Untuk memperkuat argumen atas rasionalisasi yang

diajukan, peneliti dapat mengutip hasil-hasil penelitian terdahulu yang

relevan dengan penilitian yang akan dilakukan.

Seorang peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar

bagi argumentasi dalam menyusun kerangka permikiran yang

membuahkan hipotesis. Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan

sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi objek permasalahan

(Suriasumantri, 1986). Kriteria pertama agar suatu kerangka pemikiran

bisa meyakinkan sesama ilmuwan adalah alur-alur pikiran yang logis

dalam membangun suatu kerangka berpikir yang membuahkan

kesimpulan yang berupa hipotesis.

Kerangka berpikir merupakan sintesis tentang hubungan

antarvariabel yang disusun dari berbagai teori yang telah

dideskripsikan. Berdasarkan teori-teori yang telah dideskripsikan itu

selanjutnya dianalisis secara kritis dan sistematis sehingga

menghasilkan sintesis tentang hubungan antarvariabel yang diteliti.

Sintesis tentang hubungan antarvariabel tersebut selanjutnya

digunakan untuk merumuskan hipotesis.

Kerangka berpikir yang baik antara lain memuat (1)

variabel-variabel yang akan diteliti harus dijelaskan dan (2) diskusi dalam

kerangka berpikir harus dapat menunjukkan dan menegaskan

pertautan/hubungan antarvariabel yang diteliti dan ada teori yang

mendasari. Dalam PTK, berdasarkan kajian teori yang telah dilakukan,

penyusun proposal harus mampu menjelaskan bahwa bentuk tindakan

yang akan dilakukan dapat mengatasi permasalahan.

c. Perumusan Hipotesis

Perumusan hipotesis penelitian merupakan langkah ketiga dalam

kajian pustaka, setelah peneliti mengemukakan landasan teori dan

(14)

rumusan masalah penelitian. Oleh karena itu rumusan masalah

penelitian biasanya disusun dalam bentuk kalimat pertanyaan.

Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan

pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta yang

empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi, hipotesis juga

dapat dinyatakan sebagai jawaban teoretis terhadap rumusan masalah

penelitian, belum jawaban yang empirik. Hipotesis merupakan

kesimpulan kerangka berpikir.

Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa tinjauan pustaka

menguraikan teori, temuan, dan bahan penelitian lain yang diperoleh

dari acuan (buku atau jurnal jurnal ilmiah), yang dijadikan landasan

untuk melakukan penelitian yang diusulkan. Uraian dalam tinjauan

pustaka dibawa untuk menyusun kerangka atau konsep yang akan

digunakan dalam penelitian. Berdasarkan teori dan kerangka berpikir

itulah selanjutnya dikemukakan hipotesis tindakan atau hipotesis kerja.

Contoh :

Based on the theories and rationale above, the hypothesis is formulated

as follows: four square writing method can improve students’ writing

skill.

G. MetodePenelitian

Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian partisipatif

kolaboratif yang dilaksanakan oleh seorang peneliti (praktisi

pendidikan) dan kolaborator dalam setting pendidikan dengan ruang

lingkup terbatas. Hasil PTK adalah solusi untuk perbaikan suatu

variabel pembelajaran; solusi ini bersifat unik dalam arti tidak serta

merta dapat digunakan atau diadopsi oleh praktisi lain untuk

diimplementasikan di setting yang berbeda.

Untuk mencapai tujuan penelitian dan memperoleh manfaat

penelitian sebagaimana yang telah dirumuskan perlu dipilih metode

penelitian yang tepat. Sebagaimana telah dikemukakan bahwa

(15)

setting penelitian, subjek penelitian, data dan sumber data, teknik

pengumpulan data, teknik pemeriksaan validitas data, teknik analisis

data, indikator kinerja, dan prosedur penelitian. Uraian berikut ini akan

menjelaskan komponen-komponen tersebut secara singkat.

a. Setting Penelitian

Setting penelitian mengacu pada waktu dan tempat penelitian

dilakukan.

A Classroom Action Research at the Eighth Grade of SMP Negeri 19

Surakarta in the Academic Year 2009/2010

Contoh:

Penelitian ini dilakukan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 19

Surakarta tahun akademik 2009/2010. Pemilihan tempat itu didasarkan

pada pertimbangan (1) ...., (2) ...., dsb.

Penelitian ini berlangsung selama tiga bulan, yaitu September

sampai dengan November 2009. Rincian kegiatan penelitian tersebut

adalah sbb.: persiapan penelitian, koordinasi persiapan tindakan,

pelaksanaan (perencanaan, tindakan, monitoring dan evaluasi, dan

refleksi), penyusunan laporan penelitian, seminar hasil penelitian,

penyempurnaan laporan berdasarkan masukan seminar, serta

penggandaan dan pengiriman laporan penelitian.

b. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah siswa yang terlibat dalam pelaksanaan

pembelajaran. Disebutkan berpa jumlah siswa tersebut dan juga jumlah

siswa laki-laki dan siswa perempuan.

Contoh:

Subjek penelitian tindakan ini adalah siswa kelas VIII A SMP

Negeri 19 Surakarta. Siswa kelas VIII A berjumlah 30 orang, yang

(16)

c. Data dan Sumber Data

Pada bagian ini hendaknya dikemukakan jenis data apa saja yang

dibutuhkan serta sumber data tersebut. Jenis data yang dijelaskan

disesuaikan dengan fokus penelitian.

Contoh:

Data penelitian yang dikumpulkan berupa informasi tentang proses

pembelajaran menulis, kemampuan siswa dalam menulis, motivasi

siswa dalam menulis serta kemampuan guru dalam menyusun rencana

pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran (termasuk penggunaan

strategi pembelajaran) di kelas. Data penelitian itu dikumpulkan dari

berbagai sumber yang meliputi:

(1) Informan atau nara sumber, yaitu siswa dan guru.

(2) Tempat dan peristiwa berlangsungnya aktivitas pembelajaran

(3) Dokumen atau arsip, yang antara lain berupa Kurikulum, Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran, basil karangan siswa, dan buku penilaian.

d. Teknik Pengumpulan

Sejalan dengan data yang akan dikumpulkan serta sumber data

yang ada selanjutnya dikemukakan teknik pengumpulan data.

Contoh:

Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data di atas meliputi

Pengamatan, wawancara atau diskusi, kajian dokumen, angket, dan tes

yang masing-masing secara singkat diuraikan berikut ini.

1) Pengamatan

Pengamatan yang peneliti lakukan adalah pengamatan berperan serta

secara pasif. Pengamatan itu dilakukan terhadap guru ketika

melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas maupun kinerja siswa

selama proses belajar mengajar berlangsung. Pengamatan dilakukan

(17)

posisi itu, peneliti dapat secara lebih leluasa melakukan pengamatan

terhadap aktivitas belajar-mengajar siswa dan guru di kelas.

Pengamatan terhadap guru difokuskan pada kegiatan guru dalam

melaksanakan pembelajaran menulis dengan menggunakan strategi

komposisi terkendali dan terarah. Pengamatan terhadap kinerja guru

juga diarahkan pada kegiatan guru dalam menjelaskan pelajaran,

memotivasi siswa, mengajukan pertanyaan dan menanggapi jawaban

siswa, mengelola kelas, memberikan latihan dan umpan batik, dan

melakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa. Sementara itu,

pengamatan terhadap siswa difokuskan pada tingkat partisipasi siswa

dalam mengikuti pelajaran, seperti terlihat pada keaktifan bertanya dan

menanggapi stimuli baik yang datang dari guru atau teman lain,

keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas, dan sebagainya.

2) Wawancara atau diskusi

Wawancara atau diskusi dilakukan setelah dan atas dasar hasil

pengamatan di kelas maupun kajian dokumen. Wawancara atau diskusi

dilakukan antara peneliti dan guru. Wawancara atau diskusi dengan

guru dilaksanakan setelah melakukan pengamatan pertama terhadap

kegiatan belajar mengajar (KBM) dimaksudkan untuk memperoleh

informasi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan pelaksanaan

pembelajaran bahasa Inggris, khususnya Pembelajaran menulis.

Wawancara dengan guru dilakukan pada Agustus 2009. Dari

wawancara itu serta kegiatan pengamatan dan kajian dokumen yang

telah dilakukan diidentifikasi permasalahan-permasalahan yang ada

berkenaan dengan pembelajaran menulis serta faktor-faktor

penyebabnya. Selain untuk mengidentifikasi permasalahan,

wawancara/diskusi dilakukan setelah dan atas dasar hasil pengamatan

di kelas maupun kajian dokumen dalam setiap siklus yang ada. Diskusi

antar anggota tim peneliti dapat dilakukan di sekolah. Kegiatan diskusi

itu dipimpin oleh peneliti. Dalam kegiatan diskusi itu, pemimpin

diskusi melakukan hal-hal berikut: (1) meminta pendapat guru tentang

(18)

antara lain adalah mengungkapkan kelebihan dan kekurangannya serta

perasaan-perasaan yang bersangkut-paut dengan kegiatan itu; (2)

mengemukakan catatan tentang basil pengamatannya terhadap KBM

yang dilakukan guru sesuai dengan fokus penelitian, mengemukakan

segi-segi kelebihan dan kekurangannya; (3) mendiskusikan hal-hal

yang telah dikemukakan baik oleh guru maupun peneliti untuk

menyamakan persepsi tentang hal-hal yang perlu dilakukan oleh guru

dalam kegiatan pembelajaran menulis. Dengan perkataan lain, pada

akhir setiap kegiatan diskusi disepakati hal-hal yang perlu dilakukan

pada siklus berikutnya untuk meningkatkan keefektifan penerapan

strategi four square writing method untuk meningkatkan kemahiran

menulis siswa.

3) Kajian dokumen

Kajian juga dilakukan terhadap berbagai dokumen atau arsip yang ada,

seperti Kurikulum, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat

guru, buku atau materi pelajaran, hasil tulisan atau karangan siswa, dan

nilai yang diberikan guru.

4) Angket

Angket diberikan kepada para siswa untuk mengetahui berbagai hal

yang berkaitan dengan aktivitas menulis atau mengarang dan aktivitas

membaca. Angket ini diberikan dua kali, yaitu sebelum kegiatan

penelitian tindakan dan pada akhir penelitian tindakan. Dengan

menganalisis informasi yang diperoleh melalui angket tersebut dapat

diketahui peningkatan kualitas proses atas kegiatan menulis siswa serta

dapat diketahui ada tidaknya peningkatan motivasi siswa dalam

menulis.

5) Tes

Pemberian tes dimaksudkan untuk mengukur seberapa jauh hasil yang

diperoleh siswa setelah kegiatan pemberian tindakan. Tes mengarang

diberikan pada awal kegiatan penelitian untuk mengidentifikasi

kekurangan atau kelemahan siswa dalam mengarang dan setiap akhir

(19)

Dengan perkataan lain, tes disusun dan dilakukan untuk mengetahui

tingkat perkembangan kemampuan menulis siswa sesuai dengan siklus

yang ada.

e. Teknik Pemeriksaan Validitas Data

Suatu informasi yang akan dijadikan data penelitian perlu diperiksa

validitasnya sehingga data tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan

dapat dijadikan sebagai dasar yang kuat dalam menarik simpulan.

Teknik yang digunakan untuk memeriksa validitas data antara lain

adalah triangulasi dan review informan kunci

Triangulasi adalah teknik pemeriksanaan validitas data dengan

memanfaatkan sarana di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau

pembandingan data itu (Lexy 7. Moleong, 1995: 178). Teknik

triangulasi yang digunakan antara lain berupa triangulasi sumber data

dan triangulasi metode pengumpulan data. Misalnya, untuk

mengetahui kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dalam kegiatan

mengarang dan faktor-faktor penyebabnya, peneliti melakukan hal-hal

berikut: (1) memberikan tes mengarang dan selanjutnya menganalisis

hasil karangan itu untuk mengidentifikasi kesalahan yang masih

mereka buat dan (2) melakukan wawancara dengan guru untuk

mengetahui pandangan guru tentang hambatan-hambatan yang dialami

siswa dalam mengarang, fasilitas pembelajaran yang dimiliki atau

tidak dimiliki sekolah, kegiatan pembelajaran mengarang di kelas,

penilaian yang dilakukan guru, dan sebagainya.

Review informan kunci adalah mengkonfirmasikan data atau

interpretasi temuan kepada informan kunci sehingga diperoleh

kesepakatan antara peneliti dan informan tentang data atau interpretasi

temuan tersebut. Hal ini dilakukan melalui kegiatan diskusi antar tim

peneliti setelah kegiatan pengamatan maupun kajian dokumen.

f. Teknik Analisis Data

Teknik analisis yang digunakan untuk menganalisis data-data yang

(20)

komparatif (statistik deskriptif komparatif) dan teknik analisis kritis.

Teknik statistik deskriptif komparatif digunakan untuk data kuantitatif,

yakni dengan membandingkan hasil antarsiklus. Peneliti

membandingkan hasil sebelum penelitian dengan hasil pada akhir

setiap siklus. Misal: membandingkan rerata nilai kemampuan menulis

siswa pada kondisi sebelum tindakan, setelah siklus I, setelah siklus II,

dan seterusnya. Teknik analisis kritis berkaitan dengan data kualitatif.

Teknik analisis kritis mencakup kegiatan untuk mengungkap

kelemahan dan kelebihan kinerja siswa dan guru dalam proses belajar

mengajar berdasarkan kriteria normatif yang diturunkan dari kajian

teoretis maupun dari ketentuan yang ada. Hasil analisis tersebut

dijadikan dasar dalam menyusun perencanaan tindakan untuk tahap

berikutnya sesuai dengan siklus yang ada. Analisis data dilakukan

bersamaan dan/atau setelah pengumpulan data.

g. Indikator Kinerja

Pada bagian ini perlu dikemukakan atau dirumuskan indikator

sebagai tolok ukur keberhasilan penelitian yang dilakukan. Indikator

kinerja merupakan rumusan kinerja yang akan dijadikan acuan dalam

menentukan keberhasilan atau keefektifan penelitian.

Contoh:

Peningkatan kemampuan menulis siswa.

Misalnya:

Anak yang memperoleh nilai 7,5 lebih dari 70 %

Nilai rata-rata menulis siswa meningkat (dari 60 menjadi 77)

H. Jadwal Penelitian

penyusunan jadwal PTK mengacu pada proses pelaksanaan

tahapan PTK, seperti pre research, planning, Action, Observation,

(21)

No. Kegiatan Waktu Pelaksanaan

Bagian ini memuat semua sumber pustaka yang digunakan dalam

penelitian. Penulisan daftar pustaka disusun urut berdasarkan

abjad. Masing- masing referensi ditulis urut berdasarkan nama,

tahun, judul buku, kota penerbit, nama penerbit. Judul buku dicetak

miring.

Contoh:

Hopkins, David. 1993. A Teacher’s Guide to Classroom Reasearch. Buckingham: Open University Press.

Nunan, David. 1998. Language Teaching Methodology. London:

Prentice Hall International.

Straus, Anselm & Corbin, Juliet. (2003). Dasar-dasar Penelitian

(22)

(Terjemahan oleh Muhammad Shodiq dan Imam

Muttaqien). Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Suwandi, Sarwiji. (2004). “Pemantapan Peran Bahasa Kebangsaan sebagai Alat Kohesi Nasional” dalam Katharina Endriati Sukamto (Ed.). Menabur Benih Menuai Kasih. Jakarta:

Yayasan Obor Indonesia.

III. Penyusunan Rancangan Proposal PTK untuk Perbaikan

Pembelajaran

Rancangan proposal Penelitian Tindakan Kelas terdiri dari beberapa

tiga bagian utama yaitu introduction (Pendahuluan), theoritical review

(Kajian Pustaka), dan research method (metode penelitian).

Bagian Pendahuluan terdiri atas background of the study (latar

belakang masalah), problem statements (rumusan masalah), objective of

the study (tujuan penelitian), dan benefits of the study (manfaat

penelitian).

Bagian Kajian Teori (Theoritical review) berisi tentang teori-teori yang

mendukung topik atau judul penelitian. Berkaitan dengan judul di bawah

ini maka kajian teorinya terdiri atas review on speaking, review on

audio-lingual method, review on Youtube video, teaching speaking through

audio-lingual method, dan penelitian terkait sebelumnya.

Bagian Metodologi Penelitian terdiri atas setting, metode penelitian,

metode pengumpulan data, dan metode analisis data.

Masing-masing bagian tersebut bisa dilihat pada contoh di bawah ini:

Judul. Improving Students' Speaking Skill through Audio-lingual Method by Using YouTube Videos (A Classroom Action Research at the Twelfth Grade

Students of SMA 2 Magetan in Academic Year 2010/2011)

Introduction ... ...

A. Background of the Study ... ...

(23)

C. Objectives of the Study ... ...

D. Benefits of the Study ... ...

Theoretical Review ... ... ...

A. Review on Speaking ... ...

1) The Nature of Speaking ... ...

2) The Elements of Speaking ... ...

3) Micro and Macro Skill of Speaking ... ...

4) Teaching Speaking Skill ... ...

a. Problems and Solutions to Overcome Speaking Activity ..

b. Principles in Designing Speaking Techniques ...

c. Types of Classroom Speaking Performance ...

5) Testing Speaking ... ...

a. The Types of Speaking Test ... ...

b. The Scoring Rubric ... ...

B. Review on Audio-Lingual Method ... ...

1) The Nature of Audio Lingual Method ... ...

2) The Characteristics of Audio-lingual Method ...

3) The Advantages of Audio-lingual Method ...

C. Review on YouTube Videos ... ...

1) The Nature of Video ... ...

2) The Benefits of Video ...

D. Teaching Speaking through Audiolingual Method by Using Videos .

1) Teaching Speaking through Audio-lingual Method...

2) The Use of YouTube Video in Teaching Speaking through

Audio-lingual Method ... ...

E. Review on Related Research ... ...

1) Review on Related Research to the Use of the Audio-lingual

Method in Teaching Speaking ...

2) Review on Related Research to the Use of the YouTube

Video in Teaching Speaking ... ...

F. Rational ... ...

(24)

Research Method ... ...

A. The Context of the Study ... ...

B. The Method of The Research: Action Research ... ...

1) The Nature of Action Research ... ...

2) Characteristics of Action Research ... ...

3) The Models of Action Research ...

4) The Procedure of Action Research ... ...

C. The Technique of Collecting Data... ...

D. The Technique of Analyzing Data ... ...

IV. Output Workshop = Proposal PTK

Berdasarkan kerangka yang telah dipaparkan di atas, proposal penelitian

tindakan kelas dapat dikembangkan sebagai berikut:

Introduction

A.Background of the Study

Today, education is doing a basic innovation related to the school

curriculum. The innovation demands the use of media and the learning method.

The National Education Department has changed the previous

curriculum-Competence Based Curriculum – into the new one called Kurikulum Tingkat

Satuan Pendidikan (KTSP) and in English language it is called by School Level

Based Curriculum (SLBC). One of the English teaching aims in Senior High School is to develop the students’ competence in communicating both oral and written language to resolve their daily problems. The communicative competence

taught in learning English covers four skills: listening, speaking, reading, writing

(Permendiknas No.23, 2006).

In School Level Based Curriculum or Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP) 2006, students of the twelfth grade of SMA/MA are expected

to achieve the following competences in speaking. In standard competence, the

students can express meaning in a short functional text and a monologue

organized as narrative, explanation, and discussion in the daily life context. While

(25)

text, formal and informal, by using accurate, fluent and acceptable oral language

in the context of daily life organized as narrative, explanation, and discussion.

Based on the standard of competence and basic competence stated by the

curriculum, it is assumed that the twelfth grade students of SMA are skilful in

speaking short functional texts, narrative, explanation, and discussion. Yet, in fact,

the students of class XII IPA 1 of SMA 2 Magetan in academic year 2011/2012

were not able to fulfill what the curriculum demands. That was what the

researcher found when she was conducting her pre-observation to students of the

twelfth grade (XII IPA 1) of SMA 2 Magetan. She found that the students were

great at answering some extracted questions, but when they had to use English in

an oral way spontaneously, they found themselves difficult to do so. It was emphasized by the classroom teacher’s statement. He said “Kalau secara teori dia itu bagus, tapi kalau suruh praktek gak bisa. Malah pada diem, akhirnya kelasnya jadi sepi.” In other words, most of the students in the classroom are passive in joining the teaching learning process especially in speaking, because they have

difficulties in using the language in real communication.

It was revealed through pre-research questionnaires distributed to the

students that they faced difficulties in speaking, there are: on which 32 of 39

students (91.4%) have difficulties in pronunciation, 32 of 39 students (91.4%)

have difficulties in vocabulary, and 34 of 39 students (87.18 %) have difficulties

in fluency.

Beside questionnaire and interview, the fact that the students lacked

speaking skill on narrative was also supported by the findings of pre test

conducted by the researcher on March 9th, 2011 which showed that the students'

mean score on speaking was only 50.58. Meanwhile, the students' individual score

ranged from 33.0 as the lowest score until 76.0 as the highest score and only three

of 40 students passed the minimum score required by the school, namely 70.0.

Based on the pre test, it was found that the students faced several language

skills problems reflected on their performance in speaking. Those include: (1)

students not able to pronounce the distinctive sounds of a language clearly enough

so they cannot distinguish them, (2) students not able to put words together in

correct word order (cannot using proper language function), (3) students cannot

(26)

logically, and (5) students cannot produce fluent speech at different rates of

delivery.

In addition to these language skills problems, there were also several

classroom situation problems reflected in the situation of speaking class itself. The

classroom situation problems included: (1) the classroom situation is very noisy.

Most students do non-academic activities rather than focus on the lesson, (2) the

students are not active and creative, it can be seen when they are asked to do

exercise, most of them only wait for their friend who have finished to do the

exercise, and then they just copy it, (3) students tend to refuse when teacher asks

them to practice in front of class, the students keep silent, (4) students do not give

full attention to the teacher, and (5) the teaching learning process is boring, which is shown by the students’ laying their head down on the table.

All these problems above might be well caused by several factors, namely: (1) the teacher’s merely asking the students to complete exercise book fails to boost students’ initiatives to speak, (2) the teacher seldom uses a media to support teaching and learning activity, (3) the students do not like to speak, because they

lack of vocabularies.

Speaking indeed is not as simple as it seen. Speaking is the productive skill in the oral mode. In other word, as Underwood (1997: 11) states: “speaking is creative process; speakers are almost always in the position of formulating what

they are saying as a result of the behaviour of their listeners or as a result of added thought of their own”. Speaking here means the individual’s ability in expressing his or her ideas. It needs not only physical performance but also psychological

performance to have a qualified speaking that is speaking in communicative and

correct way. In order to develop this communication skill the students must be

active, by not only mastering the theory but also having enough practices. Ur

(1996: 120) also provides some characteristics of successful speaking activity:

1. Learners talk a lot. As much as possible of the period of time allotted to

the activity in fact occupied by learner talk. This may seem obvious, but

often most time is taken up with teacher talk or pauses.

2. Participation is even.Classroom discussion is not dominated by a minority

of talkative participants: all get a chance to speak, and contributors are

(27)

3. Motivation is high.Learners are eager to speak: because they are interested

in the topic and have something new to say about it, or because they want

to contribute to achieving a task objective.

4. Language is of an acceptable level. Learners express themselves in

utterances that are relevant, easily comprehensible to each other, and of an

acceptable of language accuracy.

As solutions to overcome the problems above, the researcher proposes to use “YouTube videos” through Audio-lingual method to help the students improve their speaking skill. The videos used in this study were taken from

YouTube.com. It is a site that does not discriminate among its user (Langer, 2010:

74). YouTube videos are one of the audio visual media. They are easy to find out

because You Tube videos are a very popular web video sharing site that lets

anyone store short videos for private or public viewing. By using this media, the

students can compare their own voice with the pronunciation model. Besides,

there are some advantages to the teacher who uses YouTube videos in teaching

speaking. Harmer (2003: 290) states that video can enhance simulation, not only

because it can provide feedback when students can watch themselves and evaluate

their performance, but also because the presence of a video help to make media

more realistic. Furthermore, Stempleski and Tomalin (1990: 3) add that the

introduction of a moving picture component as a language teaching aid is a crucial addition to the teacher’s resources. It will help students through motivation, communication, non verbal aspects, and cross-cultural comparison.

a. Video presentation exploits students’ motivation in language learning

classroom. Children and adults feel their interest quicken when language is

experienced in a lively way though video.

b. Teachers have observed how a video sequenced used in class make students

more ready to communicate in the target language.

c. The American psychologist, Robert Merabian, has estimated that as much as

80 percent of our communications is non-verbal. Our gesture, expression,

posture, dress and surroundings are as eloquent as what we actually say video

allows us to see this in action and to freeze the moment to study the

(28)

d. Video offers cross-cultural comparison. Observing differences in cultural

behaviour is not suitable training for operating successfully in alien

community. It is also a rich resource for communication in the language

classroom.

In addition, to solve the students’ problems in speaking skill, as a good English teacher, he or she should be able to understand and select the appropriate

language teaching approach or technique to his students. This is very important

because a language teaching approach or technique gives many influences for

everything that he or she does in his/ her classroom. This is in line with Brown

(1994: 74) who says that an approach or theory of language and language learning

takes great importance. The approach to language teaching methodology is the

theoretical rationale that underlines everything that teachers do in the classroom.

As Prabhu points out in Tudor (1996: 120):

What the teacher does in the classroom is not solely, or even primarily,

determined by the teaching method he or she intends to follow. There is a

complex of other forces at play, in varied forms and degrees.

The method variable, then, plays a very important role in determining what goes

on in the classroom.

One of the language teaching methods which can be implemented to solve the senior high school students’ problems in speaking skill is Audio-lingual Method. Its focus was on the learner’s ability to gain the communicative skill of listening and speaking in target language. There are several reasons why Audio-lingual Method can improve the students’ speaking skill. According to James and Huckin (1997: 10), Audio-lingual method paid systematic attention to

pronunciation and intensive oral drilling of basic sentence patterns. Students were

taught grammatical points through examples and drills rather than through

analysis and memorization of rules. In addition, Nagaraj (1996:79) shows some

main features of the Audio-lingual method:

1. The Audio-lingual method treated each language skill separately:

(29)

2. This method focused primarily on the skill of listening and speaking, in accordance with Moulton’s first slogan: Language is speech, not writing.

3. The skill of writing and reading were not neglected, but the focus

throughout remained on listening and speaking.

4. Dialogues were the main feature of the audio-lingual syllabus, and

they were the chief means of presenting language items. They also

provided learners an opportunity to practice, mimic and memorize

bits of language.

5. Pattern drills were an essential part of his method and used as an

important technique for language teaching/ learning.

6. The language laboratory was introduced as an important teaching

aid. It gave learners an opportunity to mimic a model and memorize

language patterns.

7. Like a direct method, the audio-lingual method too tried to avoid the

use of the mother tongue, though perhaps not so rigidly.

Finally, considering the characteristics of Audio-lingual method, YouTube

videos, the students' speaking skill, and the situation of speaking class, the

researcher had a strong belief that implementing Audio-lingual method by using

YouTube videos can improve the students' speaking skill.

B.Problem Statement

Related to the background of the study above, the problems in this

research are formulated into the following:

a. Does implementing Audio-lingual Method by using YouTube videos improve

speaking skill of XII IPA 1 students at SMA 2 Magetan in 2011/2012?

b. How is the class situation when Audio-lingual Method by using YouTube

videos is implemented in speaking class?

(30)

1. Identifying whether implementing Audio-lingual Method by using YouTube

videos improve speaking skill of XII IPA 1 students at SMA 2 Magetan in

2011/2012.

2. Describing the situation in the classroom when Audio-lingual Method by

using YouTube videos is implemented in speaking class.

D.Benefits of the Study

From the research findings, it is expected that there would be benefits

given to teacher, students, and other researchers. Those are:

a. For the students; the students can explore YouTube videos to practice speaking outside class, and the study can enhance the students’ ability in conducting speaking skill.

b. For the teacher; the teacher can use YouTube videos to refine his speaking

class by conducting collaborative action research through Audio-lingual

method, as well as he expected when this study was still lasting,

c. For other researchers; other researchers can use the findings of this study as a

basic for conducting further studies.

Literature Review

A.Review on Speaking 1. The Nature of Speaking

Speaking is often regarded as the most important skill to be mastered,

especially by one who learns language, speaking then can also be used as a tool to

measure if one knows a language so he will be referred as the speaker of the

language. Ur in his book (1996: 120) states:

“Of all the four skills (listening, speaking, reading, and writing), speaking

seems intuitively the most important: people who know a language are referred to as ‘speakers’ of that language, as if speaking included all other kinds of knowing, and many if not most foreign language learners are

primarily interested in learning to speak.”

The definition of speaking varies according to some experts. Nunan (1989:

(31)

utterance in a range of pronunciation. In addition, Burkart (1998) states that

speaking is an activity that involves three areas of knowledge, the first is

mechanics which include pronunciation, grammar and vocabulary.

According to Syakur (1987: 5), speaking is a complex skill because at least

it is concerned with components of pronunciation, grammar, vocabulary and

fluency.

1. Pronunciation

Pronunciation is the student’s way to utter English well. Besides, pronunciation is one of the difficult language components of a grammar made up

of the elements or principles to determine how sound vary and pattern in a

language.

2. Vocabulary

Vocabulary means the appropriate diction which is used in conversation.

Without having a sufficient vocabulary, one cannot communicate effectively or

express ideas in both oral and written form. Having limited vocabulary is also a

barrier that precludes learners from learning a language. Language teachers,

therefore, should process considerable knowledge on how to manage an

interesting classroom so that the learners can gain a great success in their

vocabulary learning.

3. Grammar

It concerns with how to arrange a correct sentences in conversation. It is in

line with explanation given by Lewis and Hill (1997:82) that it can develop the

ability to understand and respond quickly, and the ability to articulate. The utility

of grammar is also to learn the correct way to gain expertise in a language in oral

and written form.

4. Fluency

It can be defined as the ability to speak fluently and accurately suited with

professional necessity. Basically, being fluent means able to keep the language

coming. There may be mistakes, fillers and repetition, but there are no unusually

long pauses in the flow of talk. In interactive speaking activities, the instructors

are trying to get the students to communicate their own ideas, opinion and wishes.

The emphasis on fluency implies two things. First, an error correction policy

(32)

instructors should encourage the risk taker. Second, the activities the instructor

present should reflect promote fluency.

From the definition above, it can be concluded that speaking is ability to

say something which involves the ability in using the word in the correct order,

correct pronunciation, right grammatical form, fluency and choice of words in

meaningful context (vocabulary) in the process of interpreting and negotiating

meaning in conveying message to establish and maintain communication.

2. The Elements of Speaking

Language is a tool used to communicate with others. One of the ways is by

speaking. In order to express their ideas in the spoken form, they should

understand some elements of speaking. Harmer (2003: 269-270) proposes four

elements for spoken production: (1) connected speech: effective speakers of

English need to be able not only to produce the individual phonemes (as in saying

I would have gone) but also the use fluent connected speech (as in I’d’ve gone); (2) expressive devices: native speakers of English change the pitch and stress of

particular parts of utterance, very volume and speed, and shown by other physical

and non verbal (paralinguistic) means how they are feeling; (3) lexis and

grammar: spontaneous speech is marked by the use of a number of common

lexical phrase, especially in the performance of certain language functions; (4)

negotiation language: effective speaking benefits from the negotiatory language

we use to seek clarification and to show the structure of what e are saying.

3. Micro and Macro Skill of Speaking

Brown (1994: 257) mention some micro and macro skill of speaking, there

are:

a. Produce chunks of language of different lengths.

b. Orally produce differences among the English phoneme and

allophonic variants.

c. Produce English stress patterns, words in stressed and unstressed

positions, rhythmic structure, and intonational contours.

d. Produce reduced forms of words and phrases.

e. Use an adequate number of lexical units (words) in order to

(33)

f. Produce fluent speech at different rates of delivery.

g. Monitor your own oral production and use various strategic

devices-pauses, fillers, self-corrections, backtracking-to enhance

the clarity of the message.

h. Use grammatical word classes (noun, verbs, etc.), system (e.g.,

tense, agreement, pluralization), word order, patterns, rules, and

elliptical forms.

i. Produce speech in natural constituents-in appropriate phrases,

pause groups, breath groups, and sentence constituents.

j. Express a particular meaning in different grammatical forms.

k. Use cohesive devices in spoken discourse.

l. Appropriately accomplish communicative functions according to

situations, participants, and goals.

m. Use appropriate registers, implicature, pragmatic conventions, and

other sociolinguistic features in face-to-face conversations.

n. Convey links and connections between events and communicate

such relations as main idea, supporting idea, new information,

given information, generalization, and exemplification.

o. Use facial features, kinesics, “body language”, and other nonverbal

cues along with verbal language in order to convey meanings.

p. Develop and use a battery of speaking strategies, such as

emphasizing key words, rephrasing, providing a context for

interpreting the meaning of words, appealing for help, and

accurately assessing how well your interlocutor is understanding

you.

Micro and macro skills are the way the students organize the features of

language. Based on micro and macro skills above, the students have to: (1) orally

produce differences among English phonemes and stress patterns, (2) produce

reduce forms of words and phrases, (3) use grammatical word classes (nouns,

verbs, etc.), system (e.g., tense, agreement, pluralization), (4) produce fluent

(34)

4. Teaching Speaking Skill

a. Problems and Solutions to Overcome Speaking Activities

Teaching speaking is not an easy job. There are many problems in

teaching speaking. In teaching speaking, teacher or lecturer should recognize the

difficulties and problems encountered by learners in following the speaking

activities. Ur (1996: 121) mentions that there are four common problems dealing

with speaking activities faced by learners, they are as follows:

1) Inhibition

Differs with other skill activities, in speaking activities, learners are often

inhibited about trying to say things in another language in the classroom

because of afraid of making mistakes, fearful of criticism or loosing face, shy,

etc.

2) Nothing to say

Sometimes learners cannot produce any utterances because of they have no

motive to express themselves beyond the guilty feeling that they should be

speaking.

3) Low or uneven participation

The tendency of domination of minority learners who are good in speaking in

the activities will make the others have little time or chance to participate.

4) Mother-tongue use

In a class where the learners share the same mother tongue, they tend to use it

since it is easier for them to do that.

Ur (1996: 121-122) also mentioned some ideas to overcome those

problems, here are the ideas:

1) Use group work

It is increases the sheer amount of learner talk going on in a limited period

and lowers the inhibitions of learners who are unwilling to speak in front of

the full class.

2) Base the activity on easy language

Generally, language used in a discussion is lower than the language used in

(35)

and produced by participants. This is useful to let them speak fluently with

minimum hesitations.

3) Make a careful choice of topic and task to stimulate interest

The clearer the purpose of the discussion, the more motivated participants

will be.

4) Give some instruction or training in discussion skills

If the task is based on group discussion then include instructions about

participation when introducing it.

5) Keep students speaking the target language

Teacher has to monitor how well the group teamwork is run. Teacher has to

be as close as possible to the group to keep the students talk speaking in the

target language.

b. Principles in Designing Speaking Techniques

Brown (1994: 268-270) mentions that there are some principles in

designing speaking techniques must be known by teachers and lecturers, they are

as follows:

1) Techniques should cover the spectrum of learner needs, from language-based

focus on accuracy to message-based focus on interaction, meaning, and

fluency.

Teachers can use many attractive techniques as jigsaw technique, games,

discussion. However, they have to make sure that the technique designed to

help learners perceive and use the building blocks of language. In the same

time, try to make any drilling activities as meaningful as possible, so it will

interest the learners.

2) Techniques should be intrinsically motivating.

Teachers have to try at all times to appeal the learners’ ultimate goals and interest, to their need for knowledge, for status, for achieving competence, autonomy, and for “being all that they can be”.

3) Techniques should encourage the use of authentic language in meaningful

(36)

Teachers should provide authentic contexts and meaningful interaction in the

classroom.

4) Provide appropriate feedback and correction.

By giving appropriate feedback and correction, it will be very useful for the learners’ development in learning language.

5) Capitalize on the natural link between speaking and listening.

Teachers should integrate the two skills since both can reinforce each other.

Skills in producing language are often initiated through comprehension.

6) Give students opportunities to initiate oral communication.

Teachers need to design conditions where the conditions are supporting the

learners to initiate oral communication, for example, asking questions, giving

directions, providing information. It is expected to be able to lead the students

to increase the oral communicative competence that includes the ability to

initiate conversation, to nominate topics, to ask questions, to control

conversation, and to change the subject.

7) Encourage the development of speaking strategies.

The concept of strategic competence is one that few beginning language

learners are aware of. Students can be aware of oral communicative purposes

by practicing such strategies as follows:

a)Asking for clarification (what?)

b)Asking someone to repeat something (Huh? Excuse me?)

c)Using fillers (Uh, I mean, Well) in order to gain time to process.

d)Using conversation maintenance cues (Uh huh, Right, Yeah, Okay, Hm)

e)Getting someone’s attention (Hey, Say, So)

f)Using paraphrases for structures one can’t produce

g)Appealing for assistance from the interlocutor (to get a word or phrase, for

example)

h)Using formulaic expression (at the survival stage) (How much does_cost?

How do you get to the_?)

(37)

It can be concluded that the techniques should cover the language-based

focus on accuracy to message-based focus on interaction, meaning, and fluency

by drilling activities as meaningful as possible.

c. Types of Classroom Speaking Performance

Brown in his book entitled Teaching by Principles (1994: 266-268)

mentions that there are six types of classroom speaking performance, they are:

1) Imitative

In this type of speaking performance, learners spend their time to

initiate speech, for example, they are practicing an intonation contour, trying

to pinpoint a certain vowel sound, etc. intonation of this kind is carried out

not for the purpose of meaningful interaction, but for focusing on some

particular element of language form. A type that can be concluded in this type

and can be classified in the communicative language classroom is drilling.

Drills offer students an opportunity to listen and to repeat certain string a

language that may pose some linguistic difficulty – enter phonological or

grammatical.

Here are some guidelines for successful drills:

a) Keep them short (a few minutes of class hour only)

b) Keep them simple (preferably just one point at a time)

c) Keep them “snappy”

d) Make sure students know why they are doing the drill

e) Limit them to phonology and grammar points

f) Make sure they ultimately lead to communicative goals

g) Don’t overuse them

2) Intensive

This type is designed to practice some phonological or grammatical

aspect of language. Intensive speaking can be self-initiated or it can be even

from part of some pair work activity.

3) Responsive

This activity is short replies to the teacher or students initiated

(38)

4) Transactional (dialogue)

Transactional is an extended form of responsive language.

Transactional dialogue is not just limited to give the short respond but it can

convey or exchange specific information.

5) Interpersonal (dialogue)

Interpersonal dialogue is designed for maintaining social relationships

than for the transmission of fact or information. This conversation involves

some or all the following factors:

a) A casual register

b) Colloquial language

c) Emotionally charge language

d) Slang

e) Ellipsis

f) Sarcasm

g) A covert “agenda”

6) Extensive (Monologue)

The form of monologues can be as oral reports, summaries, or

perhaps, short speeches. These monologues can be planned or impromptu.

This speech is designed for students at intermediate and advanced level.

5. Testing Speaking a. The Types of Speaking Test

Thornbury (2005: 125-126) mentions the most commonly used spoken test

types are these:

1) Interviews: these are relatively easy to set up, especially if there is a room

apart from the classroom where learners can be interviewed.

2) Live monologues: the candidates prepare and present a short talk on a

pre-selected topic.

3) Recorded monologues: these are perhaps less stressful than a more public

performance and, for informal testing, they are also more practicable in a way

that live monologues are not.

4) Role-play: most students will be used to doing at least simple role-plays in

(39)

5) Collaborative task and discussions: these are similar to role-plays except that

the learners are not required to assume a role but simply to be themselves.

The kind of oral production that students are expected to carry out in the

classroom is live monologue. Students at intermediate to advanced levels are

called on to give extended monologues in the form of oral reports, or summaries.

b. The Scoring Rubric

Ur (1996: 135) provides five points as the scale for rating the accuracy and

five points as the scale for rating the fluency of English of second language

learners. The students are tested on fluency and accuracy, and may get a

maximum of five points on each of these two aspects, ten points in all. The scale

can be seen in the table 2.1 below:

Table 2.1. The Scale of Speaking Test

Accuracy Score

Little or no language produced 1

Poor vocabulary, mistakes in basic grammar, may

have very strong foreign accent 2

Adequate but not rich vocabulary, makes obvious

grammar mistakes, slight foreign accent 3

Good range of vocabulary, occasional grammar slips,

slight foreign accent 4

Wide vocabulary appropriately used, virtually no

grammar mistakes, native-like or slight foreign

accent

5

Fluency Score

Little or no communication 1

Very hesitant and brief utterances, sometimes

difficult to understand 2

Gets ideas across, but hesitantly and briefly 3

Gambar

Table 2.1. The Scale of Speaking Test
Figure 3.1. The Model of Action Research

Referensi

Dokumen terkait

IMPROVING STUDENTS’ SPEAKING SKILL USING TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) TO THE SECOND YEAR STUDENTS OF.. SMP NEGERI 2 GROGOL IN 2010/2011 ACADEMIC YEAR (A CLASSROOM

160 Improving Students‟ Writing Skill In Descriptive Text Using “The Power Of Two And Four” (A Classroom Action Research with Eighth Grade Students of MTs

160 Improving Students’ Writing Skill In Descriptive Text Using “The Power Of Two And Four” (A Classroom Action Research with Eighth Grade Students of MTs

4.1.2 The result of post – test Improving speaking skill by using audio-lingual method used this test to see the ability of student in achievement before the writer conducted the

37 IMPROVING SPEAKING SKILL THROUGH VIDEOS FOR JUNIOR HIGH SCHOOL STUDENTS Dini Hidayati English Education Department STKIP Panca Sakti, Jawa Barat, Indonesia

IMPROVING SPEAKING SKILL AND ENGLISH LEARNING MOTIVATION BY USING YOUTUBE TO THE TENTH GRADE STUDENTS OF SMA METHODIST 2 PALEMBANG A Thesis by VERA DILA Student’s Number

This condition of course has impact on university students to learn English therefore this study aims to examine the use of YouTube videos to improve students' speaking skill and how

1 IMPROVING STUDENTS’ SPEAKING SKILL THROUGH IN- SIDE-OUTSIDE CIRCLE TECHNIQUE OF EL-2 STUDENTS OF LBPP LIA PEKANBARU A Classroom Action Research A THESIS Intended to fulfill