• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Ekstrak Biji Bengkoang (Pachyrrhizus Erosus) Sebagai Larvisida terhadap Larva Nyamuk Aedes Spp.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pemanfaatan Ekstrak Biji Bengkoang (Pachyrrhizus Erosus) Sebagai Larvisida terhadap Larva Nyamuk Aedes Spp."

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

PEMA|{FAATAI\I

EIGTRAK BIJI

BENGKOAFIG

(Pae

hy'rrtig[s er?sts]

SEBAGAI

II\RI'ISDA

TERHAIIAP

IJ\RVA

!ft'A"\II;K

Aeda

spp

SKRIPSI

Eiajuhan

Xqada

Fafultss Xedoberan UnivYrdtas

Aadalss

Sebegai Pemeruthan

Slara

Unule

*Iendapatlwn

Gelar Sariaru

Xedotrqan

Oleh:

ST}RVA

AZANI

NBP.99120035

FAKULTAS KAT}OKTERAN

UNIVERSITAS

ANDALAS

.

PADANG.

(2)

' ,,3n

.,f15gqx1ilil.BlJt

nnUCXOfnC

?e:@.@i!

:1,i.,i,,,r.',

.

:

$Es '.

r[

nA]r,aBvailtYAniluK 'lcdaryry

:

,SffimSX,,

:,:.

l::.,

-

..

,. ,.

:

,.

,

SURTA

AZAITI

,g$US$F.i

'

.

:,:.,,.

:.. '' . : r1,r :1..i, i:: :i i : :, ' .1: i, ,,t. i,:: r,l

..

TdltdFat{hig:t

'

'::

''::'

'''.-

"r':

:"'i,

,'

Fa}uftes

Kcdsbs

{iniwrsitas

Asdrhs

:

.

:

':.

.. ,.'

uil:

F'.'

-a,

.. ,' .:

(3)

''

''i I,'

FE

,,:,

3*II..SSNSKO*NG

{Acbvrti:ry

s

;',,, i:.-'

',

,-$EBAGAI't

11w$samlu4oarra'RvA!{t4uttK,{44sryP-

I

SIIRYA

AZANI

!{BP.99rilX$6

Tehb

dlpertabrnkrn di dcryn

Tin

Pengei,

ry,pd

FakultrsKcdohteran

Universitas

Andelas peda

trngal

t

Juli

2003

SKRIFSI

Oleh

$smn

Jabatan,

Kets*,.,

A

(4)

t

esurtggailnlta sesudafr

Fenfrtan itu ata

foneudafioa

*l,e&g

apahib

La*o

tetsfr

mwye{zsaifom

saata

utllrttttt

Kerr;

efu"k

fi- deng

an

sungg ufr'suttg g

afi

uflLs an

yng

{ain

Qan fopafia tufrarcnafafr fumu

fierfraraP

( QS

nf

tn'rYirafr:

6-s

)

{a.n{tch

funniafunkt

ftgPe{a

&g*i

frgwjanan

rtwtt

futi

untufrsewntiasa

[apn

n e

f

i

ftat

6an

me m 6 ec

a

fri{fu

fr

fr.6afr4g gata

fu

t

ataatu

.Ai

arihfr

Eg*i

afiu{teup

setia poda

iafan

i* I(:

yenc4!14n-ta{putus

menuiu

pintu

pi.ntukl,{rrran

-

*tu.

finugrafiiht

Lofi

fusalaray

ryl6

tu&*

i"Sin

*rii6o*yn

dutu

nengeja

fiuruf

dati'\ry.

ainniryta-fi &eni

untufrtetap

fu4*

sen'sttgut

monchtai

-

ry:

setafu

{sn

aj

arih

fr.

fumi.untufr

s e [e

fa mewpati

j

anii

?ade

-

fi(u

sePeitiianii

*taa&ari

,ntfiantutitkfr.

. ...

aari

tufiudfiatiYang Pd6ry [etam,

seiring

rasa,

syufutrfut

cias

,iir*t

-

gYtu,

ya"nttafr...

furyersetnilafiQg*

6uafr

figrya

ini

untu{of{tng

-

ornng

letq

furcayrcgi:-eapi

Wn&t IS

dan

gvlana

Aruqfrfirltfl

tercinta,

Tattg

swantiasa nmdoaQgn

-

dan

mengirhgi

6ckn

geraQ[an

fro"SWfrL",

untufrmeniahni

6itup

neraiL

cia

- cita-."

tetesan

fr!;rg;

i;"

oi,

*o*iu

uQfum

penafr.

terilafasf;sm-Xdc-

uda 6an

mi-

wi

serta

adififut,

perta$annu

mer[ewasaQpn{u'

fotfiersanaan

{1ita

aerupafotn

sernangut

fiegifru

(5)

The

effectivity

of

bengkoang seeds

extract (Pachyrrhizas

erosus) As

larvicide

Against

the

larve

of

Aeda

spp.

By

SURYA

AZANI

Abstract

The study

on

the effectivity

of

bengkoang seeds exfract

(P.

erosus) as

larvicide against

the

larve

of

Aedes spp, has been done. Aedes spp

is

one

of

the

vectors

of

some

diseases

which

still

become

health problems

in

developing contries, included Indonesia.

The

study was established

in

several concenfations (4o/o,2yo, lVo, 0,5o/o

end0,25Yo) with 4 replicates for each concentation.

The

result showed that LC5q was obtained

in

the concenfration

of

0,25o/o

and LCqs was obtained in the concentration

of

0,5olo. Residual effectivity indicated

that

the concenfration

of

4Yo, was effective

for

16 days and the concentration

of

(6)

Pema nfaa ta n ekstra

k

bij

i

ben gko ang (P ac hy

rrhiau

ero sus\ sebagai

larvisida

terhadap larva

nyamuk.,4edes spp.

Oleh:

SURYA

AZANI

Abstrak

Telah

dilakukan

penelitian tentang pemanfaatan ekstrak

biji

bengkoang

(Pachyrrhizus erosus) sebagai larvisida terhadap larva nyamuk Aedes spp, sebagai

salah satu vektor

dari

beberapa

penyakit yang masih

merupakan

masalah kesehatan di beberapa negara berkembang termasuk Indonesia.

Penelitian

ini

dilakukan dengan

menggunakan

berbagai

konsentrasi

ekstrak

(4o/o, 2o/o,

lyo,

0,5o/o dan 0,25o/o),

dimana

masing-masing konsentrasi

dilakukan empat

kali

pengulangan.

Hasil

penelitian

menunjukkan

,

untuk

mematikan separoh

dari

populasi

larva

(LC5o) diperlukan

konsentrasi 0,25Vo

dan untuk

mematikan

95o/o dari

populasi larva

(LCe5)

diperlukan

konsentrasi 0,5o/o.

Efektivitas umur

residu

menunjukkan, pemberian konsentrasi

ekstak

4olo mampu membunuh larva sampai

16 hari,

sebaliknya pada

pemberian konsentrasi terendah

yaitu

0,25o/o hanya mencapai

t

hari.
(7)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah,

segala

puji

bagi

Allah

yang telatr melimpahkan rahmat dan

hidayah-Nya,

nikmat iman,

kesehatan,

motivasi

dan

kekuatan pada

penulis

sehingga

penulis

dapat

menyelesaikan

skripsi

ini

yang

berjudul

"PEMANFAATAN

EKSTRAK

BIJI

BENGKOANG (Pachyrrhiars

erosas)

SEBAGAI

LARVISDA

TERTIADAP

LARVA NYAMUKAedes

spp.n

Skripsi

ini

diajukan

sebagai

salah satu

syarat

guna

memperoleh gelar Sariana Kedokteran (S.Ked) pada Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

Penulis menerima banyak bantuan

moril

maupun materil berupa petunjuk

dan

saran

dalam

menyelesaikan

skripsi

ini.

Oleh

karena

itu

dengan segenap kerendahan hati penulis menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada

l.

Bapak Dekan

Fakultas

Kedolleran

Universitas Andalas

Padang,

Dr. H. Muchlis Hasan, SpOG

2.

Bapak

Dr. H.

Arnes

Aziz, DSPK

sebagai

pembimbing

I

dan

Bapak

Drs. Adrial, M.Kes

sebagai pembimbing

II

yang telah meluangkan

waklu

dan

dengan penuh kesabaran memberikan

bimbingan,

arahan dan saran pada penulis dalam pelaksanaan penelitian dan penulisan skripsi

ini.

3.

Bapak

Dr.

Setia

Budi,

Ibu

Dra.

Hasmiwati,

M.Kes dan

Ibu

Dr.

Hj.

Djusmaini

Ismail

selaku

tim

penguji yang telah memberikan saran dan masukan.
(8)

4.

Bapak

Dr. H.

Edison

Idris, SpA(K)

selaku pembimbing akademik penulis

yang telah

memberikan

bimbingan

dan

dorongan

dalam

menempuh pendidikan.

5.

Bapak dan

ibu

staf pengajar yang

telah mendidik

dan memberikan

ilmu

pengetahuan kepada penulis selama

ini.

6.

Papa

dan

Mama

tersayang

yang

senantiasa mendoakan,

Uda

-

uda,

Uni

-

uni

dan

adikku

serta ponakan

*

ponakanku yang

lucu

dan

imut

,

yang terus menyemangati

dan

senantiasa

memberi

warna dan keceriaan dalam persaudaraan yang penuh arti.

7.

Sahabat

-

sahabat angkatan

'99

dan semua pihak yang

tidak

bisa penulis

sebutkan satu persatu, yang telah membantu dalam penelitian

ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi

ini jauh

dari kesempurnarun

oleh

karena

itu

penulis

mengharapkan

kritikan

saran

yang

membangun untuk

kesempurnaan skripsi

ini.

Akhir

kata

semoga

skripsi

ini

dapat

memperkaya Khasanah

ilmu

pengetahuan dan bergunabagi

kita

semua,

Amin...

Wassalam Padang, Juli 2003

Penulis

(9)

DAF"TAR

ISI

ABSTRACT ...

ABSTRAK

KATA

PENGANTAR

DAFTAR

ISI...

DAFTAR TABEL...

DAFTAR

GAMBAR

BAB

I

:

PENDAHULUAN

A.

Latarbelakang...

B.

Perumusan masalah....

C.

Tujuan penelitian..

D.

Manfaat penelitian..

BAB

II

:

TINJAUAN

PUSTAKA

A.

Bengko urg (P achyrr hizus e rosus)...

l.

Klasifikasi

2.

Namalain...

3.

Morfologi

tanaman....

4.

Habitat...

5.

Kandungan

kimia

6.

Daya keda fisiolgis...

7.

Penggunaan

7

I

10

(10)

B.

Nyamuk Aedes sq,p sebagai vector

L

Klasifikasi

2.

Morfologi

dan siklus hidup

3.

Perilaku nyamuk...

4.

Peranan Aede.s spp dalam dunia kedokteran

C.

Insektisida...

l.

Pembagianinsektisida

2.

Potensi insektisida botanik sebagai pengendali vektor..

BAB

III

:

METODE PENELITIAN

A.

Waktu dan tempat penelitian..

B.

Rancangan percobaan...

C.

Alat

dan bahan.

D.

Cara keda...

E.

Analisa data...

F.

Defenisi operasional ...

BAB IV

:

HASIL

P8NELIT1AN...

BAB

V:

DISKUSI

A.

Pembahasan...

B.

Kesimpulan...

C.

Saran

t0

10

ll

l4

l5

l5

l5

t7

l9

l9

l9

20

2l

22 23

27 30

31

(11)

DATARTABEL

Tabel

I

:

Efek

el$fiak

biji

P.

erosus

terhadap

lawa

Aedes

spp,padakondisi laboratorium

(suhu 28-29acdan

RH

73-819rll)....

Tabel

2

:

Efek residu dari ekstrak

bijiP.

erosus terhadap

lawa Aedes.spp

pada

kondisi

laboratorium

(sutru 28-290C

dan

RH

73-8lo/o).

23

25

(12)

DAFTAR

GAMBAR

Gambar

I

:

Jumlah larva nyamr*.Aedes spp.yangrnati

(%)

pada masing - masing konsentrasi perlakuan

Gambar

2

:

Umur residu

ekstak

bijiP.

erosus pada

masing - rnasing

konsentasi

perlakuan 25
(13)

BAB

I

PENDAHULUAN

A.

Latar

Belakang

Di

Indonesia

dan

beberapa

negara

di

Asia

Tenggara,

penyakit

yang

ditularkan oleh

nyamuk masih merupakan suatu masalah kesehatan yang serius Anopheles dapat menularkan penyakit

malaria, filariasis

dan beberapa penyakit

infeksi

virus. Aedes menularkan demam berdarah dan

filariasis.

Sedangkan Culex selain menularkan filariasis juga menularkan penyakit infeksi virus (r)

Meningkatnya kasus-kasus

penyakit

tersebut

di

Indonesi4

berhubungan

erat

dengan

populasi

vektor.

Dengan demikian

untuk

pengendalian

penyakir

penyakit

ini

antara

lain

dapat

dilakukan

dengan pemutusan

rantai

penularan terhadap nyamuk vektor (r)

Salah satu upaya

yang dilakukan

selama

ini

dalam

pemutusan rantai

penularan

oleh

nyamuk

vektor

adalah dengan menggunakan

insektisida

yang
(14)

Semua keterbatasan

ini

mendorong adanya penelitian dan pengembangan

Gtrt+?a

pemberantasan

lain

sebagai

pilihan alternatif

untuk mengatasi masalah

&rsebut. Insektisida atau

pestisida

yang aman

terhadap

lingkungan

adalah

pestisida yang

selektif

toksik

terhadap serangga sasaran dan mudah mengalami

biodegradasi

di

alam

sehingga

dapat

digunakan

dalam

manajemen program pengendalian serangga sasaran (2)

Salah

satu alternatif dalam

penanggulangan

populasi

vektor

penyakit

tersebut adalah penggunaan insektisida alam organik yang berasal dari tumbuhan,

walaupun

umur

residu

sangat pendek

karena

setelah pemakaian

akan

terurai menjadi senyawa yang

tidak

berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Insektisida

alam organik yang berasal dari tanaman antaralain

nikotin,

piretroid, dimetrin dan rotenon (3)

Insektisida

alam organik

yang

berasal

dari

tumbuhan atau

"Botanical Insectisida" telah banyak digunakan arfiara

lain

; Penggunaan minyak

atsiri

daun

jukut

(Hyptis

suaveolens

(L)

Poit)

sebagai

larvisida

terhadap

larva

nyamuk

Aaedes

aegtpti

instar

IV

o), beberapa

jamur

yang berpotensi sebagai insektisida

terhadap nyamuk

Ae.

aegtpti

yaitu

jamur

Beauveria bossiana,

Mucor

haemalis dan Geotrichum candidum (5), dan ekstrak akar lorosetu (Andropogon zizonoides

urban)

yang

merupakan tanaman

satu

familial

dengan sereh sebagai repelen terhadap nyamuk Ae. aegypti(6)

Dari

hasil

analisa Hansberry

et.al (1947)

secara

Merjer test

dan Goodhe

test (520

mp),

ternyata bengkoang

(Pacltynhizrc erosw)

mengandung gugus
(15)

bengkoang

yang

memiliki sifat

insektisida

o.

Wu.lud rotenon dapat berbentuk

trishl

berwarna

putih

sampai kuning dengan

titik

lebur

163 0C dan detoksifikasi

dapat terjadi dalam 2-3 hari karena udara dan sinar matahari (3)

Tertarik

akan

hal

itu

maka

peneliti

ingin

mengetahui

efektivitas

dari ekstrak

biji

bengkoang tersebut sebagai

larvisida

terhadap

larva

nyamuk Aedes

spp.

Dilain

pihak

Sumatera

Barat

khususnya

Kotamadya Padang,

tanaman bengkoang banyak ditanam sebagai tanaman pertanian

dilahan

persawahan dan lahan kering sebagai salah satu sumber hasil pertanian rakyat, yang sampai saat

ini

masih belum ada informasi

dari

daerah

ini

tentang

pemanfaatan tanaman

bengkoang sebagai

larvisida

terhadap

larva

nyamuk Aedes

spp

yang

menjadi

vektor penyakit pada manusia

B.

Perumusan masalah.

Peneliti ingin

mengetahui apakah ekstak

biji

bengkoang (Pachynhizus

erosus) mempunyai efek larvisida terhadap larva nyamvkAedes spp?

C.

Tujuan

Penelitian

l.

Tujuan umum

Untuk

mengetahui

efek

larvisida

dari

ekstrak

biji

bengkoang

(P.

erosus) terhadap larva nyamuk Aedes spp

2.

Tujuan khusus

a.

Untuk mengetahui konsentrasi ekstrak

biji

bengkoang(P.erosus) yang
(16)

Aedes

spp

(LCly,),

dan

konsentrasi

eksfiak yang

diperlukan

trntuk mematikan 95% danpopulasi larva nyam vk Aedes sPP.Qfes).

b.

Untuk

rnengetahui efektivitas umur residu

dari

ekstrak

biji

bengkoang

(P.

erosus) sebagai larvisida terhadap lawa nyamuk Aedes spp.

D.

Manfaat

Penelitian

Hasil

penelitian

ini

diharapkan

dapat

memberikan

informasi

untuk

perkembangan dan

kemajuan

ilmu

pengetahuan terutama dalam pengembangan
(17)

BAB

II

TINJAUAN

PUSTAKA

Bengkoang (Pochyrrhiurs erosus

Urb.)

l.

Klasifikasi

Divisio

Sub divisio

Kelas Bangsa

Suku Marga

Jenis

Nama

Lain

a.

Sinonim

n'

Narna daerah :

3-

Morfologi

Tanaman

Spermatophyta Angiospermae Dicotyledonae Rosales

leguminosae

Pachyrrhians

P achyrrh izus erosils Urb.

P ac hy r rh izus angul a tus Prich

Pachyrrhizus bulbosus (L) Kurz

singkuwang

(Aceh),

bangkuwang

@atak, Jawa,

Sunda,

Kalimantan

Selatan),

jempiringan

(Bali),

uwi

plisak

(Lombok), buri (Bima), uas (Rote) (D, bingkumg (Minang)

: Bengkoang merupakan

tanamar

merambat

ymg

memilila

batang rambat sepanjang 3m atau 4m, kadang-kadang lebih
(18)

b.

Daun

c.

Bunga

d.

Polong

e.

Biji

f.

Akar

Daunnya tunggal,

bulat

telur

atau

berbentuk seperti

belah

ketupat bundar,

tepi

rata, ujung runcing,

pangkal

tumpul, pertulangan

menyirip,

permukaan

berbulu

panjang

7-10

cm, lebar 5-9 cm, hijau.

Bunga majemuk, bentuk tandan, duduk

di

ketiak

daun terdiri

dari

24,

tangkai

panjang,

kelopak berbulu, bentuk

lonceng,

hijau,

kepala

putik

berbulu, mahkota gundul, bernoda hijau,

ungu kebinr-biruan.

Polong dihasilkan bunga, dengan panjang 7-14 cm dan lebar

l-2

cm, bentuk lancet (seperti ujung tornbak), pipih, hrjau.

Biji

keras, benhrk

gnjd,

kuning kotor.

Akar tunggang berumbi. Umbi inilah yang dikenal sebagai buah bengkoang yang dikenal masyarakat. G'e)

Pada penelitian

ini

yang digunakan sebagai bahan

uji

adalah bijinya,

bukan

umbi

bengkoang

yang

selama

ini

dikenal

masyarakat sebagai buah bengkoang..

4.

Habitat

Tanaman bengkuang merupakan

tumbuhan

scnak,

semusim

dan
(19)

I I

n

I

l

p.

n

I I i t

$,

i

Kedungan

Kimia

j

Tanaman

bengkoang

(l'achyrrhizus

erosus) mengandung

:

saponin, flavonoid dan minyak atsiri.

a.

Saponin

Pada tanaman bengkoang senyawa

ini

terdapat pada

daun dan

bijinya.

Senyawa

ini

rnempunyai sifat menyerupai sabun. Saponin adalah senyawa

aktif

permukaan yang

kuat yang

dapat menimbulkan busa

bila

dikocok

dalam

air

dan pada konsentrasi yang rendah sering menyebabkan hemolisis

sel darah merah. Dalam larutan yang sangat encer saponin sangat beracun

untuk

ikan

,

dan

tumbuh-tumbuhan

yang

mengandung

saponin

telah digunakan sebagai racun ikan selama beratus-ratus tahun. Beberapa saponin

juga bekeda sebagai anti mikroba..

b.

Flavonoid

Pada tanaman bengkoang flavonoid

juga

terdapat pada daun dan bijinya.

Dalam

tumbuhan

tinggi,

flavonoid

terdapat

baik

dalam bagian vegetatif

maupun

dalam

bunga.

Beberapa kemungkinan

fungsi flavonoid

untuk

tumbuhan yang mengandungnya antara

lain

sebagai

pigmen

bunga yang berperan jelas dalam menarik burung dan serangga penyerbuk bunga, untuk

pengaturan tumbuh, pengaturan fotosintesis dan

kerja anti

mikroba. Efek

fl avonoid terhadap bermacam-macam organisme sangat banyak diantaranya

flavonoid dapat bekerja sebagai

inhibitor

kuat

pernafasan

dengan menghambat kerja enzim+nzim pernafasan.

i

(20)

c-

Mnyak

atsiri

pada tanaman bengkoang minyak

atsiri

ini

terdapat pada

bijinya.

Berbagai senyawa atsiri yaitu berbagai alkohol, aldehid , keton dan ester yang mudah menguap terdapat dalam tumbuhan walaupun biasanya hanya sedikit sekali. Senyawa

ini

walaupun dalam konsentrasi rendah dari segi estetika dan niaga

penting

oleh

karena peran yang diberikannya kepada

cita

rasa

dan

bau

makanan, bunga,

parfum dan

sebagainya.

Minyak

atsiri

mengandung

galangol, galagin, alpinen,

kamfer dan

metil

sinamat

yang

dilaporkan mempunyai sifat anti bakteri karena mirmpu membunuh organisme. (10)

Dari hasil analisa Hansberry et,

al. (lg4l)secara

Meiier

test dan Goodhe

test (520

mp),

ternyata Pachyrrhizus erosus mengandung gugus rotenon, eroson dan pachyrrizid(e) Gugus yang mempunyai sifat insektisida adalah rotenon, yang

terdapat

dalam polong

dan

blji

matangnya.o

Secara

kimiawi

rotenone digolongkan kedalam kelompok flavonoid dan untunglatr umbi bengkoang bebas

dari racun

(ll)

Tanrmingkeng

(1977)

wujud

rotenon dapat berwujud

kristal

berwama

putih

sampai kuning dengan

titik

lebur

163 0C dan detoksifikasi dapat terjadi

dalam waktu 2-3 hari karena udara dan sinar matahari (12)

Vcttz

\

"ru

OCIII

I

(21)

i, li. i tl

r

F I: E I I ! ! t I r l: i: r

Ileye Kerja

Fisiologis

Rotenon merupakan salah satu rotenoid yang penting,

yaitu

salah satu

rdenoid yang paling toksik, tetapi

sangat

peka

terhadap oksidasi terutama dengan sinar matahari sebagai katalisatornya.

Daya kerja fisiologis :

a-

Daya kerja racun terhadap sistim saraf

Para

penyelidik

serangga

dari

Jepang menunjukan suatu hubungan

antara

hambatan terhadap

kegiatan enzim glutamat

oksidase

dengan keracunan. Hambatan terhadap

ini

mengakibatkan kegagalan konduksi saraf

(13)

h.

Daya kerja racun terhadap sistim pernafasan

Rotenon menghambat rantai respirasi dengan menghambat oksidasi

NADH

menjadi

NAD

lewat enzim

dehidrogenase, sehingga menghambat

hansport elektron

dari

FeS

ke

Q

pada

rantai

respirasi.

Hal

ini

akan menghambat oksidasi oleh

NADH

terhadap substrat-substrat seperti glutamat,

o

ketoglutarat dan piruvat (14'15)' Jadi rotenone merupakan

inhibitor

transpor elektron dimana penghambatan langsung ftanspor elektron akan menghambat sintesa ATP sebagai energi (16)

Keracunan rotenone terhadap manusia jarang ditemukan, karena toksisitas

zat

ini

terhadap mamalia rendah,

tapi lebih toksik

terhadap serangga dan ikan

o{'t4

. Hal

ini

karena sifatnya yang tidak stabil terhadap pengaruh sinar matahari

sehingga senyawa

ini

tidak akan meninggalkan

residu

(sisa senyawa rotenon di
(22)

Tirnbulnya gejala keracunan lambat, kecuali

jika

rotenon disuntikkan.

Aktivitas nortnal

lambat tairn tenyap termasuk

juga

pernafasan

png

semakin

lama semakin menunrn. Pergerakan menjadi

tidak

terkoordinasi dan akhirnya

lumpuh. Gejala yang sama terjadi pada hewan vertebrata.

Bagan

png

diserang tenrtama ialah lapisan lendir (lapisan mukosa) pada hidung, tenggorokan, mulut

dan mata yang dapat menimbulkan peradangan lokat pada daerah tersebut. (r3) Campurannya telah digunakan dalam mengobati kutu rambut, skabies dan

ektoparasit

lain

dengan

efek

samping

lokal

termasuk dermatitis, konjungtivitis, pharingitis dan

rhinitis.

Rotenon

juga

dapat mengiritasi Gastrointestinal (GIT), mual dan muntah

jika

dimakan. Inhalasi debunya (terhirup bubuk rotenon) jauh

lebih berbahaya dimana dapat manstimulasi pernafasan

diikuti

oleh depresi dan

konvulsi

(kejang), sesuai dengan daya keda racunnya terhadap rantai respirasi

yang disebut diatas (ra'18)

7.

Penggunaan

Senyawa

ini

pertama

kali

digunakan

sebagai

racun

ikan

sebelum digrmakan sebagai inselctisida sehingga banyak digunakan dalam penangkapan

11*

(ra'rs). Pertama

kali

digunakan sebagai insektisida

tahun

1890

dan

di

Amerika

Serikat pada

tahun

1920

digunakan

untuk

mengendalikan hama tanaman dan ektoparasit pada ternak'(I3)

B.

NyamukAedes spp Sebagai

Vektor

l.

Klnsifikasi

Aedes termasuk Filum Arthropoda, Kelas Insecta, Ardrc.

Dipera,

Fmily

Cul icidae dan tribus Cul

icini

Qe2o3t 22)
(23)

Beberapa spesies Aedes

dan

penyebara^ya adalah

:

Ae. aegtpti

dan Ae.

albopctus, di

daerah tropis dan

subtropis;

Ae.

dorvlis, di

sepmjmg pantai

California

;Ae.

taeniorhinchus danAe.

solicilansdi

Pantai

TimurAmerikaUtar4

Ae.

vexdns,

nyamuk

daerah

banjir

;

Ae.

sierrcnsis,

di

kttai

Pasifik

;

Ae.

triseriatus,

di

bagian

timur

Amerika

Serikat

;

Ae.

henderconi,

di

negara-negara bagian,

dari

Dakota sampai Texas dan Ae. nigriJrcs

dm

Ae.

imprger, di

daerah bagian utara(le'2'1)

Diantara

spesies-spesies

diatas,

yang

terdapat

di

Indonesia adalah

A.

aegtpti

dan Ae. albopictus$e2l)

Morfologi

dan Siklus

Hidup

a.

Morfologi

Nyam

uk

Aedes berukuran

kecil

dan halus (4-13

mm).

Tubuh nyamuk

terdiri

dai'

caput,

torak

dan abdomen. Nyamuk Ae.

aegtpti

bertubuh

ramping

selnrjur badannya berwarna hitam dengan bercak-bercak putih,

npmuk ini

lebih kecil dari nyamuk rumah Culex quinquefasciatus.

Pada bagian kepala terdapat probosis halus yang panjangnya melebihi panjang kepala. Pada nyamuk betina, probosis

ini

dipakai sebagai alat tusuk dan

alat penghisap darah. Pada nyamuk jantan, probosis

ini

dipakai sebagai penghisap

cairan tumbuh-tumbuhan, buatr dan keringat.

Di kiri

dan kanan probosis terdapat

palpus yang

terdiri dari 5

ruas. Pada nyamuk

culicini

betina dewasa palpinya

lebih

pendek

dari

probosimya, sedangkan pada nyamuk

culicini jantan

dewasa

palpi lebih

panjang

dai

probosrsnyn(re2ol Selain

palpus,

di kiri

dan

kanan

probosisjuga terdapat sepasang antena yang terdiri

dari

l5

segmen. Antene pada
(24)

nyamuk

jantan

berarnbut

lebih

lebat disebut pulmose sedangkan pada nyamuk betina rambutnya

j

arangdisebut pllo,s e1s'20'2t 22)

Bagian

thorax

terlihat

mesonatom

yang

rrempunyai benurk lyra

("l,yreform').

Bagian postefior dadr mesonalom terdapat scalellum yang

memilfti

3

lengkungan (tritobus). Perbedaan Ae.

aegtpti

dan Ae. albopictus terletak pada mesonatomnya. Ae. albopictus pada mesonatomnyaterdapat gambaran garis putih yang memanjang. Sayap nyamuk

ini

panjang dan langsing, mempunyai vena yang pennukaannya ditutupi sisik sayap. Sisik sayap nyamuk ini sempit dan panjang.

Bagian abdomen

dari

tubuh nyamuk

terdiri dari

l0

segmen,

2

segmen

terakhir

berubah menjadi

alat

kelamin.

Ujung

abdomen Aedes

lancip

disebut

Pointetlre'2o'2t22)

Telur

nyamuk Aedes diletakkan satu persatu terpisah

di

permukaan air

pada ternpat perindukannya, seperti pennukaan air pada lubang pohon, kontainers dan dapat

juga

pada permukaan tanah

yang

digenangi

air. Telur

ini

berbentuk

lonjong

dengan

kedua

r{ungnya

sedikit lancip

dan

berdinding

yang rnenggambarkan anyaman

kasa.

Qo) Pada

Ae.

oegtpti telur

menempel pada

dinding bagian dalarn tempat perindukan yang berdekatan dengan bagian atas

peremukaan air.('a) Telur nyamuk Ae. aegtpti mencapai 10-100 butir dalam sehari

sehingga

dalam

4-5

hari

masa bertelur,

jumlahnya akan

mencapai 300-750

butir(22)

Larva

nyamuk

ini

tampak tergantung pada permukaan air.

Morfologi

dari

larva

ni

cukup khas yaitu mengandung bulu-bulu sifon (sifunal

tuft)

dan pekten, sisir (comb) dengan gigi sisir (comb teeth). Gigi sisir

ini

tidak dipunyai oleh larva
(25)

Ae. alhopiclrs.

Sementara

ifu

segmen anal

dari

lawa Ae.

aegtpti

mempunyai pelana (sa &lt c)yan g terbuka( I e'2 l'22)

Pupa nyamuk

ini

mempunyai tabung pernafasan yang bentuknya kelihatan

sempit

dan

panjang, digunakan

untuk

pengambilan oksigen. Stadium

pupa ini

berada

dalarn

air

dengan

sebagian

kecil

dan

tubuhnya berkontak

dengan permukaan u1t.(tl'22)

b.

Siklus

Hidup

Nyamuk Ae.

aegtptl

mengalami metamorfosis sempurna mulai dari telur-larva-pupa-dewasa. Waktu yang diperlukan dari stadium telur sampai dewasa

t

9 hari. Telur menetas dalam 2 hari, menjadi larva yang selalu hidup dalam air.(re)

Larva tumbuh dalam

4

stadium memakan waktu 6-8 hari. Setelah itu larva menjadi pupa. Stadium

ini

tidak mernerlukan makanan tetapi mernerlukan oksigen yang diambil melalui tabung pernafasan (breathing trumpet). Pupa jantan menetas

lebih cepat dari pupa betina. Nyamuk jantan

ini

biasanya terbang tidak

jauh

dari tempat perindukannya, menunggu nyamuk betina unfuk melalarkan kopula5ijle2o)

Tempat perindukan

Ae.aegtpti

berisi air jernih

seperti tempayan, bak mandi, jambangan bunga, kaleng bekas, ban

mobil

bekas, kelopak daun pisang dan tempurun

g

yntgberisi air

hujan, tetapi lebih menyukai tempat perindukan di

dalarn rurnah Qe'26'27). Larva Ae. aegyptr dapat hidup pada

air

dengan

pH

antara

5,8-8, sementara itu air bersih yang digunakan masyarakat berkisar antara 6,8-7,9.

Pada pH air perindukan 7 (nefial), nyamuk ditemukan paling bany46€t)

Ditempat perindukan

Ae.

aegltpti sering ditemukan

lawa Ae.

albopictus
(26)

perindukan yang bersifat alami seperti kelopak daun,

hnmaq

tonggak bambu

dan tempurung kelapa yang mengandung air hujas(20)

Perilaku

Nyamuk

Nyamuk ,4e.

aegtpti

bersifat

antropofilik

makzudnya

lebih

menyukai

menggigt

manusia daripada

binatang juga bersifat endofilik maksu&ya

lebih menyukai istirahat dalam rumah (le'22). Berbeda dengan nyamuk

Ae.

albopictus

yang bersifat eksofilik

maksudnya menyukai

istirahat

di

luar

rumah. Tempat peristirahatannya biasanya

di

tempat-tempat yang

tidak

terkena sinar matahari secara langsung Nyamuk Ae.

aegtpti

lebih menyukai menggtst

di

dalam rumah

dan Ae. albopictus lebih menyukai menggigit di luar n mah.(re'20'2r:2)

Nyamuk Ae.

aegtpti

betina membutuhkan darah dalam perkembangannya.

Nyamuk

ini

mencari mangsa pada saat pagi, siang dan sore, yaitu saat matahari

terbit

hingga sebelum terbenam(2s'.

pug

hari

nyamuk

ini

menggigit dari

jam

8

sampai

jam

12, sebelum matahari terbenam

jam

15 sampai 18,

baik

di

dalam maupun di luar tumah (le)

Berbeda dengan spesies nyamuk

lain

yang biasanya sudah cukup puas

dengan

menggigit/mengisap

darah satu orang saja, maka

nyamuk

Aedes mempunyai kebiasaan menggigit berulang yaitu menggigit beberapa orang secara

bergantian dalam waktu singkat. Hal

ini

disebabkan karena nyamuk Aecles sangat

sensitif dan mudatr terganggu (2e)

Jarak terbang nyamuk

ini

lebih kurang 50

m

dari tempat perindukannya, karena terbawa angin dan sarana transportasi nyamuk ini bisa berpindah

I

sampai
(27)

2

km.

Umur

nyamuk

Ae. aegtpli

di

alam

bebas

antara 12

sampai

56

hari

sedangkan Ae. alhopictus antara

l2

sampai 40 hari(2s)

Peranan Aedes spp dalam dunia kedokteran

Ae. aegtpti

berperan sebagai vektor penyakit Demam B€rdarah Dengue

(DBD).

Selain itu

juga

berperan sebagai vektor penyakit

Chikungunp"

Demam

Kuning dan Enchephalitis

yi-r

(reJo)

Ae,

albopictus

sebagai

vektor

potensial penyakit

DBD

juga

berpotensi

menularkan

arbovirus

lain,

diantaranya

penyakit terpenting seperti

Eastern

Equine Enchephalitis

(EEE),

Western

Equine Enchephalitis (WEE)

dan Venezuelan Equina Enchephalitis (VEE1 <3o)

C.

Insektisida

Insektisida adalatr batran yang mengandung persenyawaan kimia yang digunakan untuk membunuh serat gga(to)

Insektisida yang baik (ideal) mempunyai sifat sebagai berikut : Mempunyai daya bunuh cepat dan besar serta tidak berbahayabagtr binatang vertebrata termasuk manusia dan temak, murah harganya dan didapat dalam

jumlah

yang besar, mempunyai susunan

kimia

yang

stabil

dan

tidak

mudah terbakar, mudah digunakan dan dapat

di

campur dengan berbagai macam

pelarut

serta

tidak

berwarna

dan tidak

berbau

yang

tidak

menyenangkan(20)

l.

Pembagian Insekfisida(20)

Insektisida dikelompokkan menurut bentuk, cara masuk kedalam badan

serangga dan menurut macam bahan kimianya :

(28)

a.

Menurut bentuknya, terdiri dari

a.l

Bahan

padat, berupa

:

Serbuk

(dust),

benrliuran 35-200

mikron

dan

ternbus

20

nresh screen

;

Grarrula (granules), benrkuran sebesar butir-butir gula pasir dan tidak tembus 20 mesh screen dan Pellets, benrkuran

kira-kira

I

cm3.

a.2

Larutalt, berupa

:

Aerosol dan

[og,

berukuran 0,1-50

mikron

;

Kabut

(mist) benkuran

50-100

mikron dan

Semprotan

(spray)

berukuran 100-500 mikron.

a.3

Gas, berupa : Asap

(umes

dan srnoke,s) berukuran 0,001-0,1 lnikron dan

Uap (vaours) benrkuran kurang dari 0,001 mikron.

b.

Menurut cara ntasuknya kedalaln badalt serangga :

b.t

Racun kontak

,

merupakan insektisida yang masuk rnelalui eksoskelet

ke

dalarn

badan serangga dengan perantaraan tarsus

(fari-jari

kaki)

pada

waktu

istirahat pada

permukaan

yang

mengandung residu insektisida.

b.z

Racun perut, merupakan insektisida

yang

masuk melalui rnulut

jadi

harus di makan

b.:

Racun pernafasan, merupakan insektisida yang masuk rnelalui sistem

pcrnalasan (spirakel) dan juga melalui pennukaan badan scrangga

c.

Menurut macam bahan kirnia, terdiri dari :

c.l

Insektisida anorganik,

terdiri

dari

golongan

sulfur

dan

merkuri
(29)

Insektisida

organik yang

berasal

dari

alam,

terdiri dari

golongan

insektisida yang berasal

dari

tumbuh-tumbuhan

(Pirelntm,

Rolenon,

Nikotin, Sabadila) dan golongan yang berasal dari bumi (minyak tanah, minyak solar, minyak pelumas).

lnsektisida organik sintetik,

terdiri

dari golongan organik

klorin (DDT,

dieldrin, klorden,

BHC,

linden),

golongan

organik

Fosfor (malation,

pralion,

cliazinon,

fenilrolion,

abale, DDVI,,

clipterek.s), golongan

organik nitrogen (dinitrofenol),

golongan

sulfur

(karbamat),(baygon, seving) dan golongan tiosianat (Letena, Tanit).

Potensi Insektisida Botanik Sebagai Pengendali

Vektor

Insektisida

botanik atau

insektisida

hayati

dari

tumbuh-tumbuhan sebagai pengendalian serangga vektor, khususnya sebagai larvisida telah

dirintis

oleh

Campbell

dan Sullivian tahun

1933. Para

ahli

tersebut berhasil meneliti tumbuhan

yang

mengandung

alkaloid,

nikotin,

anabasin,

metil

anabasin dan

Itrpinin yang

dapat

membunuh

larva

Culex

pipien.s,

Cx.

territans

dan

Cx. quinquefasciatus- Hartnel pada tahun 1948 menemukan bahwa ekstrak aseton

dari

tumbuhan

familial

Pinaceae, cucurbitaceae,

{Jmbelliftrae,

Leguminosae,

Lahilae, Liliaceae,

Compositae dan Euphorbiaccac

mempunyai

efek

racun terhadap Cx- quinquefasciatus, sedangkan Amonhar dan Reeves pada tahun 1970

membuktikan bahwa ekstrak

Allium

sativum dapat membunuh

larva

Cx. peus, Cx. larsalis, Ae. aegtpti, Ae. tririalus, Ae. sierrensis dan Ae. nigromamaculisQt)

Lima

spesies tanaman dari

Philifina

yang dilaporkan mempunyai daya

insektisidal

diantaranya

adalah Annona

squamosa,

ttucaliprus

glohulus,

c.2

c.3

(30)

Lanscum domestikunr,

Azodirachla

indica

dan condiaeum

variegatun.

Ekstrak daun segar dari tanaman tersebut berpotensi sebagai larvisida tsrhadryAe-

aegtpti

dan

cx.

quinquefasciatus, teqadi mortalitas larva instar

III

dan

IV

yang dipajan

selama

24

jam

dan

48

jam

dengan konsentrasi

yang

bewariasi(32). Menurut

Mardihusodo bahwa bahan infus

l0%

daun dan isi

biji

Annona muricats berdaya insektisidal terhadap lawaAedes

dm

CulexQ3)

Penelitian Nugroho pada

tahun

1997, menggunakan

minyak atsiri

daun

jukut

(IIyptis

suaveolens

(L)

Poit)

sebagai

larvisida

terhadap

larva

nyamuk

Ae.

Aegtpti

instar

It'a),

sedangkan

Nunik

pada

tahun

1996

menggunakan

beberapa jamur yang berpotensi sebagai insektisida terhadap nyamuk Ae.

aegtpti

yaitu

jamur

Beauveria bassiana,

Mucor

haemalis dan Geotrichum candidumo).

Mahardika

Agus dan Budi Mulyaningsih tahun 1997 menggunakan ekstrak akar lorosetu (Andropogon zizanoides urban) yang merupakan tanaman satu

familial

dengan sereh sebagai repelen terhadap nyamuk

Ae.

aegtpti

(6)

dan Adial,

dkk

(2001) yang

menggunakan

eksfak

daun

mindi

(Melia

Azedarach)

sebagai

repelent terhadap nyamuk Ae. aegtptiQa)

(31)

BAB

III

METODE

PENELITIAN

A.

Waktu

dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan bulan Desember 2002 sampai bulan Februari 2003 di

laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran universitas Andalas.

B.

Rancangan Percobaan

Penelitian

ini

bersifat

eksperimental,

dimana

masing-masing perlakuan dengan empat kali pengulangan.

Penelitian

ini

menggunakan dua faktor, yaitu : faktor

A,

larva nyamuk Aedes

spp

dan

faktor

B,

konsentrasi ekstrak

biji

bengkoang

;

Br

(\Js%), 82

(0,5yo),

83

(1%),

M

(2%),85

(4%) dan

86

(kontrol).

Kombinasi perlakuan adalah sebagai berikut :

ABl;

AB2 ; AB3 ; AEt4; AB5 ;

A86

C.

Alat

dan Bahan

Alat yang digunakan :

l.

AIat untuk pemeliharaan nyamuk dan larva, yaitu : baki tempat perindukan larva,

kantong plastik tempat larva, gelas plastik ukuran 220

ml

dan ukuran 80 ml

tempat persediaan larva dan pipet ukur.

2.

Alat untuk pembuatan ekstrak

biji

dan

uji

larvasida, yaitu : lumpang, wadah

plastik, ayakan mes 40, pipet, gelas erlemeyer, gelas ukur dan alat-alat tulis

(32)

t.

2.

J.

Bahan yang digunakan adalah :

Larva

(entik)

nyarnuk Acdcs spp Telur nyamuk Aedes spp

Kertas saring

Alkohol96%

Makanan larva

Air

sumur 4,

5.

6.

D.

Cara

Kerja

l.

Pembuatan ekstak

dari

bahan

biji

tanaman Bengkuang

(P.

erosusl

Biji

bengkoang tersebut

ditumbuk

dengan

mortir

(lumpang), kemudian

dilarutkan dalam pelarut

organik

yaitu

khtoroforn

sehingga

diperoleh

bahan

kristal

dalam bentuk tepung yang benvarna kuning.

Dari

bahan

ini

diambil

500

mg

dan dilarutkan dalam

100

ml

alkohol,

sebagai konsentrasi standar untuk

perlakuan pengujian. Kemudian disiapkan

24

buah gelas

plastik

yang masing-masingnya

di

isi

dengan 100

cc air. Ke

dalam masing-masing gelas ters€but dimasukkan larva nyamukAedes spp sebanyak 50 ekor

2.

Koleksi

lawaAedes

spp

Koleksi larva Aede.r ^rpp dilakukan pada beberapa rumah di daerah Banclar

Puruih

Kecamatan Padang

Barat Kodya

padang.

Larva diambil

dengan cara

Dipping

ataupun dengan

pipetting

(wHo,

1975). Kemudian

juga

dilakukan

koleksi telur dengan menggunakan perangkap telur (ovitrap), sesuai dengan cara-cara standar WHO (1975) dan telur

ini

diletakkan di laboratorium.
(33)

Pemeliharaan

larva

sebagai bahan

uji

di laboratorium

Larva nyamuk Aedes ^spp bahan

uji

dipelihara di

laborxuiwr

Parasitologi

FK-UNAND.

Larva dimasukkan

ke

dalam beberapa baki plas,trk benrkrnan 30

x

20

x

5cm dan

berisi

air

serta

diberi

makanan

benpa

makanan

lrva

(pelet makanan

ikan

atau

hati

ayam

kering).

Setiap

hari

air

dalam

baki

pemeliharaan diganti dengan air bersih.

Persiapan

larvisida

bahan

uji

Eksfrak yang telah didapatkan (dari

biji)

diencerkan dengan akuades untuk mendapatkan konsentrasi bahan

uji.

Pada

bahan

ini

digunakan

6

rangkaian konsentrasi

(% vlv) yuttr

4%o, 2To, lo/o, 0.5yo, 0.25% dan

kontol

yang hanya mengandung bahan pelarut yaitu larutan alkohol 1 cc dalam 100 cc air. Percobaan dilakukan dengan

4 kali

ulangan, sehingga jumlah keseluruhan larva pada setiap

konsentasi perlakuan sebanyak 200 ekor

Perlakuan

uji

larvisida

terhadap

lana

nyamakAedes spp

memperoleh

angla

kematian digunakan angfta kematian LCso dan

LCs:,

dimana pengamatan dilahrkan setelah

24

dafl saat dimasukkannya larutan

uji

ekstrak

biji

bengkoang

ke

dalam masing-masing gelas plastik yang berisi air

dan

larva

seperti yang telah

disiapkan

pada

poin

Dl.

Kemudian

untuk menentukan umur residu ekstrak

biji

Bengkoang (P.eroszs) dilakukan pengujian

larva

setiap

hari

(24 jam),

tanpa mengubah

konsenfasi larutan

uji,

sampai

diperoleh angka kernatian 0o/opada setiap konsentrasi balran uji.

(34)

E.

Analisa Data

Hasil penelitian diolah secara manual dalam bentuk tabulasi-F. Defenisi Operasional

Larvisida

:

Insektisida untuk membunuh stadium larva/nimfa serangga.

LCso

:Konsentrasi bahan

uji

yang

dibuhrhkan

rmuk

mernhmuh

50%

dari populasi spesies yang diuji.

LCps

: Konsentrasi bahan

uji

yang dibutuhkan untuk membunuh

95%

dari populasi spesies yang diuji.

Residu

: Bagian yang tersisa atau yang tertinggal

Umur

residu

: Jangka

waktu

tertentu dimana

eksfak

biji

bengkoang

l'achyrrizus

erosus bersifat masih mampu sebagai larvisida terhadap larva Aedes spp.

Larva

:

Salah

satu

stadium perkembangan

dari

nyamuk

yang

selalu hidup

dalam

air,

bergerak

dan

bebas

pada tempat

perindukannya serta

mengambil makanan dari tempat perindukannya.

Vektor

:

Suatu jasad (biasanya serangga) yang dapat menularkan parasit pada

manusia dan hewan.

(35)

BAB

IV

IIASIL PBNELITIAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tentang Pemanfaatan

eksrak

biji

Bengkoang (Pachyrrhizus erosus) sebagai larvisida terhadap lanra nyamuk Aedes spp di laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

dri

bulan Desember [image:35.496.33.423.320.563.2]

2002 sampai bulan Februari 2003,

di

dapat

hasil

seperti tertera pada

Tabel

1, Tabel 2

Grafik

I

dan Grafik 2.

Tabel

I

Efek ekstrak

biji

P. erosus terhadap lawaAedes spp pada kondisi laboratorium (suhu 28-2goc dan

RH

73-Sl%)

Konsentrasi Perlakuan

Jumlah

lana

yang

di

tes

(ekor)

Jumlah

lar.va

yang mati (ekor)

7o kematian

larva

Bl

(0,25o/o)

82

(0,5%)

83

(t%)

84

(2%) Bs (4%)

86

(Kontrol)

200 200 200 200 200 200 99 189 196 198 200

t0

49,5 94,5 98 99 100 5

Dari Tabel

I

dan

Grafik

I

tentang

Efek

ekstrak

biji

P.

erosus terhadap larva nyamuk Aedes spp pada kondisi laboratorium, didapat hasil bahwa pada kontrol didapat

tingkat kematian populasi larva sebesar 5o/o.Pada konsenfrasi

perlakuan

0,250

didapat

tingkat kematian populasi larva sebesar 49,5o/o. Sementara itu pada konsentrasi perlakuan

0,57o persentase tingkat kematian larva jauh meningkat yaitu sebesar 94,5o/o. Selanjuhya

(36)

pada konsentrasi perlakuan

l%

tingkat kematian populasi larva mencapai 98Yo darnpada

konsentrasi

perlakuan

2o/o

tingkat

kematian

populasi larrra

adalah

sebcsar 99olo,

sedangkan pada konsentrasi perlakuan 4% dapat menyebabkan kematian seluruh populasi

lawa, dengan kata lain kematian populasi larva mencapai lUJs/o.

Ddi

hasil penetitian

ini

dapat

diketahui

bahwa separuh

populasi

lawa

Aedes

spp mali

dengan konsentrasi

perlakuan 0,25oA

llCso),

sedangkan

untuk

mematikan

95%

populasi larr.a (rces),

diperlukan konsenfiasi perlakuan 0,5Vo.

110 100

90 80 70 60 50 40

30 20

10 0

4.25

0.5

12

4

Kontrol

[image:36.499.74.370.291.577.2]

Konsentrasi Perlakuan

(%)

Grafik

I

.

Jumlah lawa nyamuk Aedes spp yangmati (7o)

@a

masing

masing konsentrasi perlakuan

:s

a5

E

E'

E

o

TE

e

g

g

E

"t

(37)

SUhu 28-29"C dan RH

Umur

residu

(hari)

7"

Kematian pada beberapa konsentrasi

nerlakuan 7o kematian

pada

kontrol

BI

(0,25"h)

82

(0,5%) B3

(t%l

B4

(2%l

85

(4%l

I

2 3 4 5 6 7 8 9

l0

ll

t2

l3

t4

l5

l6

17 49,50 35 23 12

l0

8 6 4

:

94,50 60 56 53 50 30 28 25 22 20

t2

:

98 96 95 93 60 50 44 40 38 34 30 8 99 99,5 98 86 80 76 67 60 53 40 39

l8

:

100 100 98 98

9l

88 79 75 67 56 42 33 25

l7

8

I

5 0

I

2 0 3 I 4 0 0 0 3 2

Tabel

2.

Efek

residu

dari

ekstrak

biji

kondisi laboratorium.

terhadap

lawa

Aedes spp pada

P.

erosus

'290C dan 73-81%

0.5t2

[image:37.497.19.433.79.704.2]

konsentrasi ekstrak

(%)

Grafik

2.

Umur residu ekstrak

biji

P.erosus pada masing-masing
(38)

Dari Tabel 2 dan Grafik 2 tentang efek residu dari ekstrak

brji

P-ercsus terhadap

luva

Aedes

spp

pada

kondisi

laboratorium dapat

dilihat

bahrra pada kontrol juga

didapatkan kematian larva sampai hari ke-13 pengametan, namun

keintim

ltrva' ini tidak tedadi

tiap hari.

Pada konsenfiasi perlakuan 0].5o/o umur residunya

hmya

mancapai 9

hari. Pada konsentrasi perlakuan 0,5% dan l7o mempunyai umur

rsidu

yang sama yaitu

selama

12hai.

Pada konsentrasi perlakuan 2o/ournur residunlra 13 hari dan terakhir pada konsentrasi perlakuan 4o/oumur residunya paling lama yaitu

l6

hari.
(39)

A.

A.

BAB

V

DISKUSI

Pembahasan

I

Efek

ekstrak

biji

benkoang (P- erosus) sebagai larvisida terhadap larva nyamuk Aedes spp. padakondisi

laboratorium

(suhu z8-2gocdan RH 73-Bl%)

Hasil

pengujian ekstrak

biji Pachytins

erosus sebagai larvisida terhadap larva nyamuk Aedes spp. (Tabel

I

dan

Grafik

1), didapatkan hasil : pada kontrol (B5) didapat

tingkat

kematian populasi

larva

sebesar 5Yo. Pada konsmtrasi pedakuan

025%

(Bl)

tingkat kematian populasi larva sebesar 49,5o/o, pada

kmstrasi

perlfu

OJ!5

(DOl

tingkat kematian populasi larva sebesar g4,5%o-

Selajrlnya

pfi Md

pofu

1%

(83)

tingkat

kematian

populasi

lrva

sebes

gAi6'

tCer d Hd

perlakuan 2o/o

(M)

didapatka

tinekat

kemria

@i

hn$cer99lf

dlHF

pada konsentrasi

tertinggi

)al<ni 4e/s

(Bi),

sduuh

prylad

hle

Dr[

1nih

*.t-s

l00o/a. Dengan demikian

jelas

terlihat bahwa

p€rsfftas

kem*ia pqulai

lilya

peda setiap konsentrasi

perlakuan

jauh

lebih

besar

dibanding dengan

kontrol

dan sernakin

tinggi

konsentrasi perlakuan

atau

konsentrasi ekstrak

biji

P.

erosus yang diberikan, semakin

tinggi

tingkat kematian larva nyamuk Aedes spp.

Hal

ini

menunjukkan bahwa ekstrak

biji

bengkoang

(P.

erosus) mempunyai

efek

larvisida terhadap larva nyamuk Aedes spp.

Hal

ini

disebabkan oleh karena ekstrak

biji

bengkoang mengandung senyawa

kimia

rotenone yang mempunyai sifat insektisida(4. Rotenon menyebabkan kegagalan

konduksi

saraf

karena hambatannya terhadap kerja enzim glutamat oksidase serta daya harnbat rotenone terhadap sistem pernafasan dengan menghambat transport elektron pada
(40)

hambat rotenone terhadap sistem pernafasan dengan menghambat

tansport

elektron pada

rantai respirasi

yang

akhirnya

akan

mengfiambat

sintesa

ATP

sebagai

sumber

.( I l- 14_ l5)

energl'

Pada Tabel

l.

juga terlihat adanya kematian larva pada kontrol yang tidak bersifat

toksik, karena

tidak

mengandung bahan

uji

ekstrak

biji

bengfoang. Pada penelitian ini, seperti telah diketahui, dilakukan pada kondisi laboratorium 28-290C dan

RH

73-gl%o, maka diduga kematian larva pada kontrol terjadi karena pengaruh lingkungan, yaitu suhu dan kelembaban udara yang ekstrim.

Dari hasil penelitian

di

atas (Tabel 1. dan

Grafik

1.) juga dapat diambil kesimpulan

bahwa untuk

mematikan separoh

dari

populasi

larva

(LCso) diperlukan konsentrasi

perlakuan 0,25yo

dan

untuk

mematikan 95Vo

dari populasi

larva

(LCos) diperlukan konsentrasi perlakuan sebesar 0,5Vo.

Hasil

penelitian

ini

hampir

sama dengan penelitian Noegroho,

dkk

(1997) mengenai

aktivitas larvisida

minyak atsiri

daun

iukut

(Hyplis

suaveolens

(L)

Poit) tcrlraclap larva nyamuk Acdcs acgyptiinstar

IV

dan analisa kromatografi gas-spcktroskopi masa. Dari hasil penelitiannya didapatkan LCso

:

393,69 ppm dan

LCqo:

I145,92 ppm, yang mana apabila dikonversikan dalam bentuk mg% adalah sebesar LCso

:

39,37 mgo/o

dan

LCso

:

114,59

mgf/o

g).

Sementara

itu

untuk

ekstrak

biji

bengkoang dengan

LCso

:

O)5o/" dan IJCes

:

O,SYo, apabila dikonversikan dalam bentuk

mg

o/o adalah sebesar LCso

: l)5

mf/e

dm

ICe5

:2,5

mgo/o. Dari hasil tersebut dapat terlihat bahwa

ekstak

yang

diperdeh

dni

lii bqfrmg

(P.

erosus) bekerja

lebih

toksik

sebagar

larvisida dibmding

miry*

cii d-

'

*

(Htpis

susveolens

(L)

Poit), karena ekstrak

t

(41)

biji

bengkoang lncmcrlukan konsentrasi

lebih kecil

ditranding mirryak

atsiri

daun

jukut

unhrk mematftan 50% dan 95% dari poptilasi larva (LC5r1 dan LCe5).

A.

2

Efek residu dari ekstrak

biji

bengkoang

(P.

erosus) sebagai larvisida terhadap larva nyamuk Aedes.rpp. pada kondisi laboratorium (suhu 28-29

oC

dan RH ?3-8lo/o)

Dari

hasil penelitian tentang efek residu

dari

ekstrak

biji

bengkoang

(P.

erosus) pada Tabel

2.

dan Grafik 2. terlihat umur residu dari ekstrak

biji

J'. erosus pada masing-rnasing konsentrasi perlakuan memperlihatkan waktu yang bervariasi. Pada konsenhasi perlakuan 0,25Vo umur residunya mencapai

t

hari sedangkan pada konsentrasi perlakuan

0,5olo dan

l7o

mempunyai umur residu yang sama yaitu selama 12 hari. Selanjutrya pada

konsentrasi perlakuan 2%o, umur residu mencapai 13

hari

dan terakhir pada konsentrasi perlakuan 4olo mempunyai umur residu paling lama yaitu selama 16 hari.

Berdasarkan hasil penelitian tentang pemanfaatim ekstrak

biji

bengkoang sebagai

larvisida terhadap

larva

nyamuk Aedes

spp

terlihat

hhwa

umur residu

d$trak

tiji

bengkoang

ini,

sekaliprn

pada konsentrasi terendah

ded

mencryai

t hi

llal

iti

berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Tanmringkeng (1977)

yurg

rnenyatakm

bahwa detoksikasi

dari

rotenone

terjadi

dalam

waktu 2-3 hari

karena udara dan sinar matahari. Perbedaan

ini

mungkin disebabkan oleh kmena penelitian yang dilakukan kali

ini

pada kondisi laboratorium suhu 28-29 oC dan

RH

73-81% sehingga terhindar dari

panas dan cahaya matafrra#l2).

Pada Tabel

2.

juga

terlihat adanya kematian pada

kontrol,

walaupwt kematian larva

ini

tidak terjadi tiap hari. Sama halnya dengan pembahasan Tabel 1. di atas, dimana

diduga kematian

lana

ini

lrarern per€anrh kondisi

lingkungan,

yaitu

suhu

dan

kelembaban udara

ymg

dcsrin

(42)

Bagian dari tubuh serangga yang berfungsi sebagai rangka lapisan luar tubuh yang disebut juga dinding tubuh, hal

ini

berbeda dengan vertebrata.

Dnding

tubuh merupakan

bagian

tubuh

serangga

yang

dapat menyerap insektisida dalam

jumlah

yang

besar,

dimana ketebalan

dinding tubuh

ini

berbeda

untuk

masing-masing spesies serangga.

Dinding tubuh

ini

terdiri dari

beberapa lapisan yang sebagran besar mengandung zat

kutikula.

Permeabilitas

kutikula

tergantung

dari

sifat

kimia

dan

fisika

suatu zat yang

melaluinya.

Penyerapan insektisida

pada

saluran

cerna

serangga bagian depan dan belakangjuga sama besarnya dengan penyerapan pada dinding tubuh , hal

ini

oleh karena

dinding saluran cerna bagian depan dan belakang mempunyai susunan lapisan yang sama dengan dinding tubuh luar.(r3)

Adanya

perbedaan

ketebalan

dinding tubuh

masing-masing

qr

rull

permeabilitas

kutikula

yang tergmtung pada

sifu

timia

b ftib

er

pgrlfiAnl

menyebabkan toksisitas rctcnme berbeda

tertedrybatei

TGd6, Efl

B.

Kesimpulan

Setelah dilakukan

penelitim tentmg

pe,mmfaatm

ekgrak

biji

bengkmg

(Pachyrrhizus erosus) sebagai

larvisida

terhadap

larva

nyamuk Aedes

spp,

dapat disimpulkan sebagai berikut :

l.

Konsentrasi ekstrak

biji

P.erosu.s yang diperlukan untuk mematikan separoh dari

populasi larva (LCso) adalah 0,25Vo.

2.

Konsentrasi ekstrak

biji

P.erosu.r yang diperlukan

untuk

mematikan 95Vo dari

populasi larva (LC gs) adalah 0,5o/o.

3.

Semakin

tingg

konsentrasi ekstrak

biji I'.

erosus, semakin tinggi tingkat kematian

larva nyam r*. Aedes spp.

(43)

c.

4.

Pada konsentrasi ekstrak 4o/o, umur residunya mencapai 16 hari,

sdmgkm

pada

konsentrasi eksfrak 0,25oA umur residunya hanya

mcncqai

t

hili

.

5.

Semakin tinggi konsentrasi ekstrak

biji

P- erosns,semakin

lmarmrnrtSilqn

Saran

Berdasarkan hasil penelitian, pembahasm

dm

kesimpta

dfismlcm

hl

sebagai

berikut:

l.

Ekstrak

biji

P.erosus dapat

dimanfaatkan

untuk

menanggulangi

tempat

perindukan larva nyamuk, terutama tempat yang terlindung

dari

sinar matahari sehingga dapat memberikan umur residu yang agak lama.

2.

Formulasi

dari

eksfrak

biji

P.eroszs

ini

sebagai

larvisida bisa dalam

bentuk granula (berukuran sebesar butir-butir gula pasir), sama halnya dengan formulasi

Abate yang selama

ini

telah dikenal masyarakat.

3.

Perlunya dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap senyawa-senyawa insektisida alam organik lainnya, untuk menggantikan insektisida

png

berasal dari senyawa

kimia sintetik yang banyak menimbulkan kerugian.

(44)

t.

DAFTAR PUSTAKA

Soebaktiningsih. Penggunaan

Bakteri

Entomopatogenik dalam Pengendalian

Nyamuk Anopheles, Aedes dan Culex. Bagian Parasitologi

FK-Univ.

Brawijaya. Malang.

Medika

1998; 29-32

Mardihusodo, S.J. Mardyyah

dan

Bardlowie

A.

Mengembangkan

dan

Meningkatkan Peran Serta Masyarakat dalam Upaya Pemberantasan

Vektor

Haemmoragic fever. Berkala

llmu

Kedokteran 1997-

xx

(l):

9-t9

Amrul-Munif,

Bambang-Suryobroto,

Sutarno.

Efektivitas Ekstrak

Biji

/'.

erosus

Terhadap

C.x. quinquefasciatus

di

Laboratorium.

Maialah

Parasitologi lndonesia 1994; 7

(l):

4142

Nugroho.SP, Srimulyani,

Mulyanigsih. Aktivitas Larvisida Minyak

Atsiri

Daun Jukut Hypis

soaveolens

(L)

Poit

Terhadap

Lawa

Nyamuk

.

Aedes

aegtpli

Instar

IV

dan Analisa Kromatografi Gas Spektroskopi Massa. Majalah Farmasi Indonesia 1997;8

(4):

160-170

Nunik-Siti-Aminah, Enny.

W-Lestari,

Amrul-Munit,

Koesnindar, Mardiana. Respon

Ae. aegtpli

Terhadap

Ekstrak

Jamur

Beauveria

bossiana,

Mucor

haemalis

dan

Geotrichum candidum.

Cermin

Dunia

Kedokteran

1996;(107): 26-30

Mahardika-Agus.W,

Budi-Mulyaningsih.

Efek

ekstrak akar

Andropogon zizanioides

Urban

Sebagai Repelen Terhadap Nyamuk Ae.

aegtpti.

Berkala

Ilmu

Kedokteran

1997;29(3):

I I

l-l

14

Rubatzky-vincent

et.

al.

Sayuran

Dunia (prinsip,

produksi dan

gizi), Jilid

ke-2.

Bandung:

ITB,

1998

Sri-sugati

et.ql

lnventaris

Tanaman

Obat

Indonesia,

I.

Jakarta: Depkes

RI

Badan

Penelitian dan

Pengembangan Kesehatan

,199L:428

Hansberry

r.,

Clausen Andalas

L.B

Norton. Variation

In

The

Chemical

Composition

Andalas

Insectisidal Properties

of

The Yan

Bean

(Pachynizus),

1947

Robinson,

Trevor.

Kandungan

Organik Tumbuhan

Tinggi.

Bandung

:

ITB,I995

;132,157,191

Sugianto. Tumbuh-tumbuhan Beracun. Jakarta :

widjaya

Jakarta, 1984;54-55
(45)

12.

Tarumingkeng.

RC.

Toxikologi

Insektisida,

Bagian

I.

Penggolongan dan

Sifat-sifat Pestisida. Bogor

:

Sekolah Pasca Sarjana

IPB,1977

Sastrodiharjo. Pengantar Entomologi Terapan. Bandung :

ITB,

197 9

Goodman

and Gilman's.

The

Pharmacological

Basis

of

Therapeutics

:

gthed,USA.

Mc. Graw-hill

Companies, 1996 :1687

Murray, Robert

K.

et,al.

Biokimia

Harper. Edisi

24.

Jakarta

;1999

:133'134

Colbi.

DianE S.

Ringkasan

Biokimia

Harper,

Edisi ke-24.

lakarta:

EGC, 1998

:97

17.

Frank. C. Lu.

Toksikologi

Dasar (Asas, Organ Sasaran dan Penilaian Resiko), Edisi ke-2.

VIP,

1994

18.

Bertram

G,

Katzing.

Farmakologi

Dasar

dan

Klinik.

Edisi

ke-3.

San

Francisco.

EGC,

1986 : 864-865

Rosdiana-Safar. Entomologi Kedokteran. Bagran Parasitologi

FK-UA,

1996

Srisasi-Gandahusada,

W.

Pribadi

dan

t{D.

Ilahude,

eds.

Parasitologi

Kedokteran. Jakarta : Balai Penerbit

FKUI

,

1998

Craig and Faust,s.

Clinical

Parasitolog'y. Philadelpia: Lea dan

Febinger,

1965 Chandler AC, Read CP. Introduction to Parasitology.

Edisi

10. New

York

and

London : Jhon

Whilley

and Sons, inc

;

1961

Levine, Norman

D.

Buku

Pelajaran

Veteriner.

Yogyakarta: Gajah

Mada University Press, 1990

Amrul-Munif.

Pengaruh

Destnrxin

dan

Konidospora

M.

anisopliae

Yang

Dikultur

Pada Berbagai

Media

Terhadap Lawa Ae.

aegtpti.

Cermin

DuniaKedokleran

1997

:

17-21

25. Demam

Berdarah. diakses

dari

htp://www.bpk.penabur.co.id,

September 2001

26. Ahmad

H.

Variabel Yang

Mempengaruhi

Partisipasi

tbu

Rumah

Tangga

dalam Pelaksanaan Pemberantasan sarang

Nyamuk. Cermin

Dunia Kedokteran 1997

;

ll9

:9-12

27.

Nuzulia-hawati.

Kepadatan

Vektor

Demam Berdarah Dengue

di

Perumnas

Siteba

Padang

tahun

1999-2000.

Jurnal Matematika

dan

Ilmu

pengetahuan Alam, 2000;

9(l):

22-25
(46)

28.

29.

Hidayat.

M{hoirul,

L.Santoso,H Suwasno. Pengaruh

pH

Air

Perindukan

Terhadap

Pertumbuhan

dan

Perkembangan

Aedes

Aegtpti

Pra

Dewasa. Cermin dunia Kedokteran 1997;

(l

l9): 4748

Mapata

S.

Pengenalan

Dini

DBD. Dalam

:

Temu muka dan

Konsultasi

Metoda

Tepat

Mengatasi

Demam

dan

Pengendalian Dini

DBD

dan Tifoid.

Bekasi,

7

Oktober

2001,

diakses

dari http://www.anakku.net/!'anlDenque, September 200

I

Vektor

Denggi

dan Vektor

Demam Denggi

Berdarah

:

Kawalan Terkini,

Di akses dari http://www. pkuk. web. ukm. mv, September 200

I

Lestari,

8.W.,

Aminah,

N.S.,

dan

Supratman,

S.,

1996. Potensi Beberapa

Agen

Biologi

Untuk

Pengendalian

Vektor

Penyakit,

MKMI,

XIV

;9 :593-596

Monzon,

R.B.,

Alvior

J.P., Laczon,

L.L.,

Moragles,

A.S.,

and

Mutuk,

F.E.,1994.

Larvisidal

Potensial

of

Five Phillipines Plant

Againts

Aedes

Aegtpti

(Linnaeus)

and

Cx.

Quinquefasciatus

(say).

Shouth East Asian J. Trop. Med. Public Health.

Dec.,25

(4):155-759

Mardihusodo,

S.J. Daya Insektisidal Daun

Biji

Annctna

muricata Linn.

Terhadap

Lawa

Nyamuk

di

Laboratorium, Berkala

Ilmu

Kedokteran 1992;

)o(V

(3): 89-8a

Adrial,.

Amez-Aziz,. Abdul-Kamil. Potensi

Biji

Daun

Mindi

(Melia

azedarach)

Sebagai

Repelent Terhadap

Nyamuk

Aedes aegtpti.

SPP-DPP Lembaga Penelitian Universitas Andalas. Padang, 2001 30.

31.

32.

33.

(47)

Nama

Tempat Tanggal

Lahir

Agama

Ncgcri Asal Nama Orang Tua

Ayah

Ibu'

Alamat

Riwayat Pendidikan

l.

SDN

No.

13

Bukittingi

2.

SMPN

No.

8

Btrkittinggi

3.

SMUNegeri

I

Bukittinggi

DAFTAR RNYAYAT HIDUP

SURYA

AZANI

Bukittinggi,

28

April

1980 Islarn

Bukiuinggi

Narlis

Nuraina

Jl.

Raya

Tigo

Baleh Gg. Tanjung

No.33

Pakan

Lahsh,

Bukittinggi

:

Talum

t993

: Tahun 1996

: Tahun 1999

Gambar

Grafik I dan Grafik 2.
Grafik I . Jumlah lawa nyamuk Aedes spp yangmati (7o) @a masingmasing konsentrasi perlakuan
Grafik 2. Umur residu ekstrak biji P.erosus pada masing-masingkon sentrasi perlakuan.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan pemikiran tersebut maka penelitian ini memberikan sebuah gambaran masalah mengenai bagaimana perbedaan tingkat loyalitas yang berada pada konsumen yang berstatus

Hasil dari penelitian ini adalah sebuah game flash yang dapat berjalan pada devices dengan sistem operasi Android... Kata kunci - ActionScript 3.0, Android, Flash

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman eceng-ecengan dapat berperan sebagai agen fitoremediasi terhadap limbah krom penyamakan kulit dengan kapasitas penyerapan

Hasil pengujian hipotesis tahun 2003/2004 menunjukkan bahwa t hitung &lt; t tabel yang berarti bahwa perubahan laba per lembar saham tidak berpengaruh terhadap perubahan

Hasil penelitian menunjukkan deskripsi kebiasaan belajar siswa kelas VIII SMP BOPKRI 3 Yogyakarta sebagai berikut: (1) 5 siswa memiliki kebiasaan belajar sangat baik, (2) 31

Dalam pengujian valve elektrik keluaran debit air yang digunakan tidak sesuai perhitungan maka harus ditambahkan dengan valve manual agar debit air yang mengalir

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian beberapa dosis bahan humat hasil ekstraksi gambut terhadap perubahan sifat kimia tanah Inceptisol.Contoh tanah

Pada waktu siang hari dan kondisi cuaca cerah, arus charging panel surya cukup besar sehingga dapat melayani beban tinggi sekaligus mengisi baterai secara maksimal. Pada waktu