• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS ALIH KODE DALAM FILM SILENCE KARYA MARTIN SCORSESE MARTIN SCORSESE NO SILENCE TO IU EIGA NI OKERU KŌDO KIRIKAE NO BUNSEKI SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS ALIH KODE DALAM FILM SILENCE KARYA MARTIN SCORSESE MARTIN SCORSESE NO SILENCE TO IU EIGA NI OKERU KŌDO KIRIKAE NO BUNSEKI SKRIPSI"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS ALIH KODE DALAM FILM SILENCE KARYA MARTIN SCORSESE

MARTIN SCORSESE NO SILENCE TO IU EIGA NI OKERU KŌDO KIRIKAE NO

BUNSEKI

SKRIPSI

Skripsi Ini Diajukan Kepada Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat Ujian Sarjana

Dalam Bidang Ilmu Sastra Jepang

Oleh:

LHEEDEARSON SIHALOHO 140708059

PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(2)
(3)
(4)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan kesempatan, berkat, rahmat, serta karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul Analisis Alih Kode dalam Film Silence Karya Martin Scorsese ini.

Skripsi ini diselesaikan untuk memenuhi persyaratan dalam memperoleh gelar kesarjanaan Departemen/Program S-1 Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

Dalam proses pengerjaan skripsi ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan, dan kesalahan di berbagai sisi baik itu dalam hal tulisan, tata bahasa maupun proses analisisnya yang terdapat didalamnya. Oleh karena itu, Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak demi skripsi ini sehingga skripsi ini lebih bermanfaat dan lebih sempurna kedepannya.

Pada kesempatan kali ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih, penghargaan, dan penghormatan yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S, selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Hamzon Situmorang, M.S,.Ph.D, selaku Ketua Departemen Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Mhd. Pujiono, M.Hum,.Ph.D, selaku pembimbing I yang telah meluangkan waktu dan memberi perhatian penuh untuk membimbing penulis dalam penyusunan skripsi ini sehingga shripsi ini dapat penulis selesaikan dengan baik.

4. Dosen Penguji Ujian Seminar Proposal dan Penguji Ujian Skripsi, yang telah menyediakan waktu untuk membaca dan menguji skripsi ini.

5. Seluruh Staf Pengajar Jurusan Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik penulis selama duduk di bangku perkuliahan.

(5)

6. Keluarga besar penulis yang telah membantu dan memberikan motivasi kepada penulis terutama pada kedua orang tua tercinta, yaitu Ayahanda Togi Agustinus Sihaloho dan Ibunda Margarista Tamba, saudara-saudari penulis, yaitu Yenita Sihaloho., (adik), Kristo Saputra (adik), Xheriana Sihaloho (adik), Fiani Ichabella (adik), Sherafend Sihaloho (adik), dan semuanya yang selalu mendukung, mendorong, memberikan nasihat, dan memotivasi penulis untuk menyelasaikan skripsi ini.

7. Kepada teman-teman penulis yang tidak dapat disebutkan satu persatu oleh penulis yang telah memberikan dukungan dan dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

8. Kepada teman-teman aotake stambuk 2014 yang telah mendukung dan memberi motivasi kepada penulis.

9. Kepada kakak-abang senior dan juga adik-adik stambuk, yang telah memberikan dukungan dan semangat kepada penulis.

Akhir kata, semoga skripsi ini nantinya dapat berguna dan bermanfaat bagi pembaca dan pengguna skripsi ini khususnya mahasiswa Sastra Jepang lainnya.

Penulis berharap dengan membaca skripsi ini akan menumbuhkan minat membaca khususnya membaca karya sastra lainnya.

Medan, 25 September 2018 Penulis

LHEEDEARSON SIHALOHO NIM : 140708059

(6)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 7

1.3. Ruang Lingkup Pembahasan ... 7

1.4. Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori ... 7

1.4.1. Tinjauan Pustaka ... 7

1.4.2. Kerangka Teori ... 9

1.5. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 13

1.6. Metode Penelitian ... 13

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG ALIH KODE 2.1 Sosiolinguistik ... 16

2.2 Pemilihan Bahasa ... 18

2.3 Kode ... 18

2.4 Alih Kode ... 19

2.5 Fitur-Fitur Alih Kode ... 20

2.6 Bentuk Alih Kode ... 21

2.7 Faktor-faktor Penyebab Alih Kode ... 23

2.8 Sinopsis, Setting, dan Pemeran Film Silence Karya Martin Scorsese ... 26

BAB III ANALISIS ALIH KODE DALAM FILM SILENCE KARYA MARTIN SCORSESE 3.1 Analisis Alih Kode dalam Film Silence ... 31

3.1.1 Analisis Alih Kode pada Cuplikan Percakapan 1 ... 31

3.1.2 Analisis Alih Kode pada Cuplikan Percakapan 2 ... 39

3.1.3 Analisis Alih Kode pada Cuplikan Percakapan 3 ... 47

(7)

3.1.4 Analisis Alih Kode pada Cuplikan Percakapan 4 ... 52 3.1.5 Analisis Alih Kode pada Cuplikan Percakapan 5 ... 56 3.2 Faktor-Faktor Terjadinya Alih Kode ... 63 3.2.1 Faktor-Faktor Terjadinya Alih Kode pada Cuplikan Percakapan 1 ... 63 3.2.2 Faktor-Faktor Terjadinya Alih Kode pada Cuplikan Percakapan 2 ... 63 3.2.3 Faktor-Faktor Terjadinya Alih Kode pada Cuplikan Percakapan 3 ... 64 3.2.4 Faktor-Faktor Terjadinya Alih Kode pada Cuplikan Percakapan 4 .. 65 3.2.5 Faktor-Faktor Terjadinya Alih Kode pada Cuplikan Percakapan 5 .. 66

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan ... 67 4.2 Saran ... 68

DAFTAR PUSTAKA ABSTRAK

(8)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Bahasa merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia, karena bahasa merupakan sarana untuk dapat berinteraksi dan memahami satu sama lain.

Ketika kita menyampaikan ide, pikiran, hasrat, dan keinginan kepada seseorang baik secara lisan maupun tertulis, orang tersebut bisa menangkap apa yang kita maksud (Sutedi, 2011:3). Kridalaksana dalam Kushartanti dan Yuwono (2005:4) menyatakan bahwa bahasa adalah alat komunikasi antar anggota masyarakat berupa sistem, tanda, dan lambang bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.

Dengan demikian fungsi bahasa adalah media yang terstruktur untuk menyampaikan makna kepada seseorang baik secara lisan maupun tulisan.

Secara sederhana, bahasa dapat diartikan sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang terlintas di dalam pikiran. Lebih jauh bahasa adalah alat untuk beriteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan baik secara lisan maupun secara tulisan.

Seiring dengan perkembangan zaman bahasa tidak terbatas digunakan sebagai alat komunikasi saja, tetapi juga digunakan sebagai objek penelitian dan pembelajaran. Chaer (2007:12) mengatakan bahwa ilmu tentang bahasa lazim disebut linguistik, berasal dari bahasa Latin lingua. Linguistik adalah ilmu tentang bahasa atau ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Chaer (2007:16) juga menjelaskan bahwa secara garis besar, yang menjadi objek kajian linguistik terdiri atas kajian terhadap struktur internal bahasa dan kajian terhadap struktur eksternal bahasa atau dikatakan dengan kajian pemakaian bahasa.

Kajian internal bahasa meneliti struktur yang terdapat dalam bahasa tanpa memperhatikan pengaruh dari luar bahasa tersebut. Kajian ini meliputi struktur fonologis, struktur morfologis, struktur sintaksis, dan struktur semantis.

(9)

Sedangkan kajian eksternal memperhatikan pengaruh dari luar dan dapat melibatkan dua disiplin ilmu atau lebih, salah satu contoh kajian eksternal yang menjadi pembahasan dalam penelitian ini adalah sosiolinguistik.

Menurut Chaer dan Agustina (2004:2) sosiolinguistik merupakan ilmu antardisiplin antara sosiologi dan linguistik, dua bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan sangat erat.

Sosiologi adalah disiplin ilmu yang mengkaji mengenai manusia dalam lingkungan masyarakat. Polak dalam Anwar (2008:212) mengatakan bahwa Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan, yakni hubungan diantara manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, baik formal maupun material, baik statis maupun dinamis. Sedangkan linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa, atau bidang ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sosiolinguitik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat.

Menurut N.P Hickerson dalam Chaer dan Agustina (2004:4) sosiolinguistik adalah pengembangan subbidang linguistik yang memfokuskan penelitian pada variasi ujaran, serta mengkajinya dalam suatu konteks sosial.

Sosiolinguistik meniliti korelasi antara faktor-faktor sosial itu dengan variasi yang terdapat dalam penggunaan bahasa. Berdasarkan definisi tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat ragam bahasa yang ada dan digunakan berdasarkan hubungannya dengan keadaan sosial dalam masyarakat. Dewasa ini, ragam penggunaan bahasa yang sangat terlihat jelas adalah akibat dari adanya faktor perkembangan zaman. Dizaman yang modern ini kita dapat dengan mudahnya bekerjasama dan berinteraksi dengan sesama manusia yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda, namun interaksi ini tentu memberi pengaruh terhadap banyak hal tak terkecuali terhadap bahasa.

Bahkan dengan faktor yang beragam, bahasa asing digunakan sebagai bahasa kedua setelah bahasa ibu dan menjadi kebiasaan untuk sebagian masyarakat. Penggunaan dua bahasa dalam percakapan biasa disebut dengan

(10)

kedwibahasaan, dan peristiwa pergantian bahasa yang terjadi didalam percakapan berdasarkan situasi dan kondisi disebut dengan alih kode.

Alih kode termasuk dalam kajian sosiolinguistik. Menurut Fishman dalam Chaer dan Agustina (2004:108) untuk menelusuri penyebab alih kode harus dikembalikan kepada pokok persoalan linguistik, yaitu siapa yang berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan, dan dengan tujuan apa. Secara umum penyebab terjadinya alih kode adalah pembicara atau penutur, pendengar atau lawan tutur, perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga, perubahan dari formal ke informal atau sebaliknya, dan perubahan topik pembicaraan.

Peralihan kode bahasa bukan hanya sering terjadi dalam percakapan biasa saja, namun dapat juga terjadi dalam lagu, komik, maupun film. Salah satunya yaitu dalam Film Silence karya Martin Scorsese. Film ini dirilis tanggal 23 Desember 2016 di Amerika. Meskipun film ini diproduksi di Amerika, jalan cerita yang dimuat dari awal sampai akhir diadaptasi berdasarkan novel terkenal Jepang yang sudah diterjemahkan kedalam banyak bahasa yang berjudul Chinmoku karya Shusaku Endo. Film dengan judul yang sama juga pernah diangkat ke layar lebar pada tahun 1971 oleh Masahiro Shinoda dan sama-sama mengadaptasi cerita berdasarkan novel karya Shusaku Endo.

Film ini menceritakan tentang dua misionaris yang datang ke Jepang, untuk menyebarkan agama sekaligus mencari guru mereka yang dinyatakan hilang setelah lama tidak memberikan kabar yang bernama Father C Ferreira (Liam Neeson). Kabar terakhir yang didapatkan tentang Ferreira adalah ia menjadi seorang imam yang berpindah agama, menyangkal imannya, dan menetap di Jepang. Hal ini sebetulnya dapat dikatakan wajar, mengingat penganiayaan terhadap imam Kristen pada waktu itu sangatlah berat, pilihan imam pada waktu itu hanya dua, yaitu meninggalkan kepercayaan dan menghentikan penyiksaan, atau tetap menjadi orang Kristen dengan disiksa sampai mati.

Meskipun sudah banyak bukti yang menyatakan bahwa kabar tersebut benar, kedua Misionaris ini tetap tidak percaya dan ingin mencari guru mereka secara langsung dengan cara pergi ke Jepang. Mereka menyadari pergi ke Jepang

(11)

dan menyelesaikan tugas tersebut sangat berat dan berbahaya. Karena pada saat itu Jepang yang dibawah kekuasaan Kesogunan Tokugawa yang sangat keras melawan dan berusaha menghapuskan pengaruh kebudayaan barat, dalam hal ini juga melarang agama Kristen yang berasal dari negara barat. Meskipun sedemikian beratnya, mereka tetap semangat untuk menyebarkan kembali ajaran Kristen di Jepang meskipun kemudian menghadapi bahaya.

Film ini berlatar belakang di Jepang, lebih tepatnya di Nagasaki. Nagasaki merupakan pusat penyebaran agama Kristen pada zaman itu, sehingga kebanyakan orang Kristen di Jepang didominasi oleh orang-orang yang berasal dari Nagasaki. Film ini menceritakan tentang dua orang utusan yang baru datang untuk pertama kalinya ke Jepang, tentu saja akan terdapat beberapa peralihan kode pada saat percakapan baik dengan orang-orang desa, dan siapapun yang terlibat dalam film ini. Berikut salah satu peristiwa alih kode dalam film Silence :

Rodrigues pertama kali sampai di Jepang dan berada di Desa Tomogi. Di desa ini ia pertama kali berjumpa dan melihat langsung warga Jepang yang beragama Kristen. Mereka menjalankan kehidupan beragamanya dengan sangat hati-hati agar tidak diketahui oleh pemerintah pada saat itu. Setelah beberapa lama tinggal didesa akhirnya Rodrigues bertolak ke Goto. Alasan ia pergi karena mendapatkan informasi bahwa keberadaannya di desa Tomogi sudah diketahui oleh Inoue (Gubernur Chikugo saat itu). Setelah sampai di Goto, ia mendapati desa dalam keadaan hancur dan tidak ditemukan lagi penduduk. Rodrigues yang mulai putus asa akhirnya pergi dari desa menyusuri hutan tanpa arah. Kemudian saat Rodrigues minum disungai, ia ditangkap oleh pasukan Inoue, setelah ditangkap ia dimasukkan kedalam sebuah gubuk ditengah-tengah hutan dan gubuk itu dijaga oleh beberapa orang.

Dalam keputusasannya ia berdoa, kemudian datang seseorang yang tidak dikenal masuk kedalam gubuk dan memulai percakapan dengan Rodrigues. Orang yang tidak dikenal ini adalah Penerjemah (通訳), yang merupakan orang Jepang dan dapat mengerti maupun berbicara bahasa Inggris. Berikut ini cuplikan percakapan yang dilakukan antara Rodrigues dan Penerjemah (通訳).

(12)

Rodrigues : Ferreira?

Penerjemah : Did you know him?

(Kau mengenalnya?.)

Rodrigues : I’ve heard of him

(Aku pernah mendengar tentang dia.)

Penerjemah : No doubt. He’s well known all over Japan now.

The priest with the Japanese name. And the Japanese wife.

(Tidak diragukan lagi, dia sudah sangat dikenal di Jepang sekarang. Seorang imam dengan nama Jepang. Dan seorang istri Jepang.)

Rodrigues : I don’t believe you

(Aku tidak percaya denganmu.)

Penerjemah : You can ask anyone. People in Nagasaki point him out and marvel. He’s held in great esteem now. Which, I believe, is why he came here in the first place.

(Kau dapat bertanya kepada siapapun. Orang- orang di Nagasaki menunjuk dia dan terheran- heran. Dia memegang dupa sekarang. Karena itu, aku percaya, dia datang kesini untuk menempati kedudukan pertama.)

Penerjemah : ああ、傲慢なやつだ。ほかたかわれのような。

まあ、って言うことやつはきづれ転ぶって言 うこと。

(Aa. gouman na yatsu da. Hokata ka ware no youna. Ma, tte iu koto yatsu wa kidzure korobu tte iu koto.)

(13)

(Ah, Orang sombong. Sama seperti mereka semua. Yang berarti pada akhirnya dia akan menyerah.)

(Silence : 1:22:11-1:22:56) Pada cuplikan percakapan tersebut, kita dapat melihat bahwa Rodrigues mendapat sedikit harapan karena telah mendapatkan informasi terbaru tentang orang yang selama ini sangat dia cari. Meskipun demikian, Rodrigues tidak percaya dengan informasi yang telah diberikan oleh Penerjemah (通訳) yang berbicara dengannya. Karena informasi yang didapatnya sangat berlawanan dan tidak sesuai dengan sifat gurunya yang ia kenal, mustahil bagi Rodrigues apabila guru yang selama ini mendidiknya meninggalkan kepercayaan lamanya.

Setelah berbicara dengan Rodrigues, penerjemah keluar dari gubuk dan melihat sekilas para penjaga gubuk. Karena selama melakukan percakapan cara Rodrigues berbicara dianggap kurang sopan, dalam bahasa Jepang penerjemah

mengatakanああ、傲慢なやつだ。ほかたかわれのような。 まあ、っ

て言うことやつはきづれ転ぶって言うこと kepada para penjaga gubuk.

Berdasarkan percakapan, dapat dilihat bahwa terjadi alih kode dari bahasa Inggris ke bahasa Jepang karena adanya orang ketiga yang tidak memahami percakapan dalam bahasa Inggris. Tidak hanya percakapan tersebut, tetapi banyak lagi percakapan yang mengandung peralihan kode dalam film ini. Karena adanya percakapan yang mengandung peralihan kode dalam film ini, tentu terdapat bermacam-macam faktor yang melatarbelakanginya. Hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk meneliti alih kode dalam film Silence lebih mendalam lagi.

Berdasarkan hal tersebut penulis mengangkat judul yaitu “Analisis Alih Kode dalam Film Silence Karya Martin Scorsese”.

(14)

1.2 Rumusan Masalah

Alih kode merupakan peristiwa peralihan dari satu kode ke kode lain.

Tidak dapat dipungkiri bahwa peralihan bahasa menjadi suatu hal yang unik dan sering ditemui di masa sekarang ini, hal ini yang menyebabkan perlunya meneliti lebih lanjut mengenai alih kode pada setiap bidang multimedia, khususnya dalam media film, seperti film Silence Karya Martin Scorsese. Berdasarkan hal tersebut penulis merumuskan masalah penelitian ini dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut :

1. Bagaimana bentuk alih kode yang terdapat dalam film Silence Karya Martin Scorsese?

2. Apakah alasan yang melatarbelakangi terjadinya alih kode pada film Silence Karya Martin Scorsese?

1.3. Ruang Lingkup Pembahasan

Film yang akan dijadikan objek dalam penelitian ini memiliki percampuran bahasa Inggris dengan bahasa Jepang. Agar permasalahan yang diteliti oleh penulis lebih terfokus dan tidak melebar, maka penulis membatasi ruang lingkup pembahasan. Ruang lingkup pembahasan pada penelitian ini terbatas pada jenis-jenis alih kode yang terdapat dalam film Silence Karya Martin Scorsese tahun 2016. Selain itu penulis juga ingin menjabarkan faktor-faktor penyebab mengapa alih kode digunakan dalam beberapa percakapan didalam film ini.

1.4. Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori 1.4.1. Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka berupa penelitian terdahulu sangat dibutuhkan agar penelitian menjadi relevan. Adapun penelitian terdahulu yang penulis ambil sebagai tinjauan adalah skripsi yang berjudul “Alih Kode Bahasa Jepang Pada

(15)

Lagu Populer Berbahasa Indonesia” oleh Alfina (2017) dari Universitas Diponegoro.

Penelitian terdahulu tersebut membahas alih kode bahasa Jepang dan bahasa Indonesia pada lirik lagu-lagu Populer Indonesia. Penelitian tersebut menganalisis unsur alih kode dalam lirik lagu berupa klausa dan kalimat. Klausa yang ditemukan berupa klausa mayor dan klausa minor, dan kalimat yang ditemukan berupa kalimat berita dan kalimat perintah. Ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian tersebut, diantaranya adalah ada empat faktor yang menyebabkan alih kode dalam lirik lagu-lagu populer bahasa Indonesia adalah (1) penutur; (2) pokok pembicaraan (topik); (3) maksud atau kehendak penutur; dan (4) warna emosi penutur.

Terdapat beberapa perbedaan pada penelitian Alfina dengan penelitian yang penulis lakukan. Pertama adalah penelitian Alfina membahas alih kode dalam bahasa Jepang dan Indonesia, sementara penelitian yang penulis lakukan yaitu membahas alih kode dalam bahasa Jepang dan Inggris. Kedua, penelitian tersebut meneliti Alih kode dalam lirik lagu populer indonesia, ini yang menjadikan perbedaan mendasar pada penelitian “Analisis Alih Kode dalam film

Silence Karya Martin Scorsese yang penulis lakukan, karena ruang lingkup penelitian penulis adalah Alih Kode dalam film Silence Karya Martin Scorsese.

Adapun beberapa persamaan pada penelitian Alfina dengan penelitian yang penulis lakukan yaitu, pada metode penyediaan data yang digunakan adalah metode simak dengan menggunakan teknik catat, dan pada metode penyajian data menggunakan metode informal, yaitu perumusan dengan kata-kata biasa. Hal tersebut juga penulis jadikan referensi pada penelitian ini.

Penelitian terdahulu kedua yang relavan dan kemudian dijadikan tinjauan dalam penulisan ini adalah skripsi yang berjudul “Analisis Alih Kode dan Campur Kode Dalam Lirik Lagu Baby Don’t Cry Oleh Namie Amuro” oleh Aprilia (2010) dari Universitas Sumatera Utara.

Penelitian Aprilia tersebut mendeskripsikan alih kode dan campur kode

(16)

mencari faktor yang menyebabkan alih kode dan campur kode yang terkandung dalam lagu Baby Don’t Cry. Metode yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah metode deskriptif dan teknik yang digunakan untuk menganalisis data yaitu teknik sadap. Penelitian tersebut menunjukkan kesimpulan bahwa faktor yang menyebabkan alih kode dan campur kode yang terjadi dalam lagu Baby Don’t Cry oleh Namie Amuro yaitu (1) penutur; (2) pokok pembicaraan (topik);

(3) maksud atau kehendak penutur; dan (4) warna emosi penutur.

Kedua sumber tinjauan yang telah dibahas sebelumnya membahas campur kode dan juga alih kode yang terdiri dari beberapa bentuk dan juga dilengkapi dengan faktor penyebabnya dengan sumber data lirik lagu bahasa Indonesia dan lagu bahasa Jepang. Pada kesempatan ini, dengan meninjau beberapa teori yang digunakan penulis sebelumnya, penulis meneliti wujud alih kode yang terdapat dalam film Silence Karya Martin Scorsese serta meneliti faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya alih kode pada percakapan didalam film tersebut.

1.4.2. Kerangka Teori

Dalam penelitian ini terdapat kerangka teori yang relavan dan mendukung penelitian yang penulis lakukan. Adapun tujuan dari kerangka teori ini adalah agar penelitian dilakukan tetap pada ruang lingkupnya. Beberapa kerangka teori tersebut dijabarkan sebagai berikut :

1.4.2.1 Sosiolinguistik

Sosiolinguistik merupakan ilmu interdisipliner. Istilahnya sendiri menunjukkan bahwa sosiolinguistik terdiri dari dua ilmu antardisiplin yang dapat dikaji secara terpisah, yaitu struktur masyarakat oleh sosiologi dan struktur formal bahasa oleh linguistik. Hudson dalam Djamil dan Rochayah (1995:6) mendefinisikan sosiolinguitik sebagai kajian bahasa dalam kaitannya dengan masyarakat.

Fishman dalam Chaer dan Agustina (2004:4) menyatakan bahwa sosiolinguistik adalah kajian tentang ciri khas variasi bahasa, fungsi-fungsi variasi bahasa, dan pemakai bahasa karena ketiga unsur ini selalu berinteraksi, berubah, dan saling mengubah satu sama lain dalam satu

(17)

masyarakat tutur. Kartomiharjo dalam (https://zuraidaillias.livejournal.

com/1661.html) lebih lanjut menyatakan bahwa sosiolinguistik mempelajari hubungan antara pembicara dan pendengar, berbagai macam bahasa dan variasinya, penggunaannya dengan faktor penentu, baik faktor kebahasaan maupun lainnya, serta berbagai bentuk bahasa yang hidup dan dipertahankan dalam suatu masyarakat. Dalam hal ini dapat diketahui bahasa berhubungan erat dengan masyarakat sebagai subyek atau pelaku berbahasa sebagai alat komunikasi dan interaksi antara individu maupun kelompok yang satu dengan yang lain. Pada masyarakat yang multilingual hal ini berhubungan dengan sosiolinguistik.

Dari definisi-definisi yang telah dijelaskan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa sosiolinguistik adalah cabang ilmu linguistik yang bersifat interdisipliner dengan objek penelitiannya adalah hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor sosial yang terdapat di dalam lingkungan masyarakat.

1.4.2.2 Pemilihan Bahasa

Menurut Fasold dalam Chaer dan Agustina (2004:153) menjelaskan bahwa hal pertama yang terbayang bila kita memikirkan bahasa adalah “bahasa keseluruhan” (whole language) dimana kita membayangkan seseorang dalam masyarakat bilingual atau multilingual berbicara dua bahasa atau lebih dan harus memilih yang mana yang harus digunakan.

Dalam kajian sosiolinguistik, pilihan bahasa menjadi aspek terpenting yang dikaji dalam suatu ilmu kebahasaan. Sumarsono (2004 : 201) mengatakan ada tiga jenis pilihan bahasa yang dikenal dalam kajian sosiolinguistik, yaitu alih kode (code switching), campur kode (mixing code) dan variasi dalam bahasa yang sama (variation within the same language). Dari ketiga pilihan bahasa tersebut, dalam penelitian akan membahas satu jenis pilihan bahasa, yaitu alih kode (code switching).

(18)

1.4.2.3 Kode

Kridalaksana dalam (http://digilib.unila.ac.id) mendefinisikan kode sebagai sebuah sistem bahasa dalam masyarakat, lambang atau sistem ungkapan yang dipakai untuk menggambarkan makna tertentu, dan variasi tertentu dalam bahasa.

Menurut Wardhaugh (2006: 99), masyarakat bilingual atau multilingual dihadapkan pada masalah untuk memilih sebuah kode (bisa berupa dialek atau bahasa) tertentu pada saat mereka bertutur, dan mereka mungkin juga memutuskan untuk berganti dari satu kode ke kode lain atau mencampur kode-kode tersebut. Dengan demikian, dalam masyarakat multibahasa terdapat bermacam-macam kode, yang antara lain berupa dialek, sosiolek, serta gaya yang digunakan dalam berkomunikasi. Dengan adanya kode-kode tersebut, penutur dalam lingkungan tutur tersebut akan menggunakan kode berdasarkan faktor- faktor yang mempengaruhinya dengan cara mengubah variasi penggunaan bahasanya.

1.4.2.4 Alih Kode

Alih kode adalah peristiwa peralihan dari satu kode ke kode yang lain. Misalkan penutur dalam percakapan menggunakan bahasa Indonesia beralih menggunakan bahasa Inggris. Alih kode merupakan salah satu aspek ketergantungan bahasa (language dependency) dalam masyarakat multilingual.

Sebagai contoh Nanang dan Ujang, keduanya berasal dari Priangan, lima belas menit sebelum kuliah dimulai sudah hadir di ruang kuliah.

Keduanya terlibat dalam percakapan yang topiknya tak menentu dengan menggunakan bahasa sunda, bahasa ibu Nanang dan Ujang. Sekali-sekali bercampur dengan bahasa Indonesia kalau topik pembicaraan menyangkut masalah pelajaran. Ketika mereka sedang asyik bercakap-cakap masuklah Togar, teman kuliahnya yang berasal dari Tapanuli, yang tentu saja tidak dapat berbahasa Sunda. Togar menyapa mereka dalam bahasa Indonesia.

(19)

Lalu dengan segera mereka terlibat dan memulai percakapan dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Appel dalam Chaer dan Agustina (2004:107) mendefinisikan alih kode sebagai, “gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi”. Berubahnya situasi ini salahsatunya disebabkan oleh hadirnya orang ketiga. Kehadiran orang ketiga atau orang lain yang tidak berlatarbelakang bahasa yang sama dengan bahasa yang sedang digunakan oleh penutur dan lawan tutur dapat menyebabkan terjadinya alih kode (Chaer dan Agustina 2004:109). Oleh karena itu orang ketiga memiliki peranan yang sangat penting dalam terjadinya alih kode pada suatu percakapan. Selain itu Alih kode tidak terbatas terjadi dalam antarbahasa saja, tetapi juga dapat terjadi antara ragam-ragam atau gaya-gaya yang terdapat dalam satu bahasa (Hymes dalam Chaer dan Agustina 2004:142).

Berdasarkan beberapa pendapat dan definisi yang telah dikemukakan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa alih kode adalah peristiwa terjadinya peralihan dalam penggunaan bahasa, perubahan situasi, dan perubahan topik di dalam komunikasi. Hal yang menyebabkan terjadinya peralihan kode satu ke kode yang lain adalah untuk menyesuaikan diri dengan suasana, lingkungan, peran, topik pembicaraan, tujuan, dan aspek-aspek lainnya yang berhubungan dengan tindak tutur (speech act).

Ada beberapa ciri alih kode menurut Suwito dalam Rohmani (2013:5) bahwa penggunaan dua bahasa atau lebih ditandai dengan:

1) Masing-masing bahasa mendukung fungsi-fungsi tersendiri sesuai dengan konteksnya.

2) Fungsi masing-masing bahasa disesuaikan dengan situasi yang relevan dengan perubahan konteks.

(20)

1.5. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan bentuk alih kode yang terdapat dalam film Silence Karya Martin Scorsese.

2. Mendeskripsikan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya alih kode pada film Silence Karya Martin Scorsese.

2. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :

1. Dapat menambah pengetahuan dan wawasan dalam bidang pembelajaran sosiolinguistik khususnya mengenai alih kode.

2. Dapat memberikan manfaat terhadap perkembangan penelitian- penelitian selanjutnya di bidang sosiolinguistik terkhusus dalam bidang alih kode.

3. Memberi informasi kepada pembaca mengenai alih kode yang terdapat pada film Silence Karya Martin Scorsese.

1.6. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini dibagi menjadi metode penyediaan data, metode analisis data, dan metode penyajian data, Sudaryanto dalam Mahsun (2006:120).

Dalam menyelesaikan penyusunan karya tulis ini, penulis menggunakan metode deskriptif. Sukmadinata dalam (https://www.academia.edu/5647550/

PENELITIAN_DESKRIPTIF) menyatakan bahwa penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena- fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia.

Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya.

(21)

Adapun metode penyediaan data yang digunakan adalah metode simak dengan menggunakan teknik catat. Data didapat dari menyimak film yang diputar melalui dvd kemudian bagian yang mengandung peralihan kode ditulis untuk menjadi bahan penelitian.

Metode analisis data dilakukan dengan menerapkan teori analisis deskriptif kualitatif. Analisis deskriptif kualitatif merupakan analisis yang digunakan untuk mengungkapkan kejadian atau fakta, keadaan, fenomena, variabel, dan keadaan yang terjadi saat penelitian berlangsung. Dengan kata lain metode analisis ini berusaha mendeskripsikan seluruh gejala atau keadaan yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan (Mukhtar 2013:28). Metode kualitatif ini memberikan informasi yang lengkap sehingga bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta lebih banyak dapat diterapkan pada berbagai masalah dibandingkan dengan hanya sekedar angka-angka. Dengan analisis deskriptif kualitatif akan ditemukan fitur-fitur yang mendukung dan relavan terhadap penelitian ini.

Metode analisis data dalam penelitian ini adalah dengan mengumpulkan sekaligus menerjemahkan cuplikan-cuplikan yang mengandung unsur alih kode yang terdapat pada film yang akan diteliti. Unsur-unsur yang mengandung alih kode tersebut kemudian dikelompokkan dalam dua kelompok besar yaitu jenis alih kode yang terjadi, dan faktor penyebab terjadinya alih kode

Tahap penyajian data dilakukan setelah selesai menganalisis data. Metode penyajian data pada penelitian ini menggunakan metode informal. Metode penyajian informal adalah metode yang memaparkan hasil analisis data dalam bentuk kata-kata biasa (Sudaryanto 1993:145). Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode informal berupa pendeskripsian tentang alih kode dan faktor terjadinya alih kode dalam film yang kemudian akan diteliti.

Berdasarkan penjelasan diatas, penulis menyusun langkah-langkah menulis penelitian ini kedalam tiga tahap sebagai berikut :

(22)

1. Penyediaan data: data didapat dari menyimak film Silence Karya Martin Scorsese yang diputar dan kemudian percakapan yang mengandung alih kode dicatat untuk menjadi bahan penelitian.

2. Analisis data: data didapatkan dengan mengumpulkan sekaligus menerjemahkan cuplikan-cuplikan yang mengandung unsur alih kode.

Cuplikan-cuplikan ini kemudian dibahas satu-persatu dan dibagi kedalam dua kelompok besar yaitu jenis alih kode yang terjadi, dan faktor penyebab alih kode

3. Penyajian data: Penyajian data berupa pendeskripsian tentang alih kode dan faktor terjadinya alih kode dalam film Silence Karya Martin Scorsese

(23)

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG ALIH KODE

2.1 Sosiolinguistik

Secara umum sosiolinguistik membahas hubungan bahasa dengan penutur bahasa sebagai anggota masyarakat, hal ini mengaitkan fungsi bahasa secara umum yaitu sebagai alat komunikasi. Dalam masyarakat yang multilingual tentu sering kali berhubungan dengan sosiolinguistik.

Menurut Chaer dan Agustina (2004:2) sosiolinguistik merupakan ilmu antardisiplin antara sosiologi dan linguistik, dua bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan sangat erat.

Sosiologi adalah disiplin ilmu yang mengkaji mengenai manusia dalam lingkungan masyarakat. Polak dalam Anwar (2008:212) mengatakan bahwa Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan, yakni hubungan diantara manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, baik formal maupun material, baik statis maupun dinamis. Sedangkan linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa, atau bidang ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sosiolinguitik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat.

Menurut N.P Hickerson dalam Chaer dan Agustina (2004:4) sosiolinguistik adalah pengembangan subbidang linguistik yang memfokuskan penelitian pada variasi ujaran, serta mengkajinya dalam suatu konteks sosial.

Sosiolinguistik meniliti korelasi antara faktor-faktor sosial itu dengan variasi yang terdapat dalam penggunaan bahasa.

Chaer (1995: 7) mengatakan bahwa ada tujuh dimensi yang merupakan masalah dalam sosiolinguistik yaitu:

1. Identitas sosial dari penutur, yaitu siapa penutur tersebut yang dapat berupa keluarga, teman karib, atasan / bawahan, guru, murid, tetangga,

(24)

pejabat dan sebagainya. Identitas penutur dapat mempengaruhi pilihan kode dalam bertutur.

2. Identitas sosial dari pendengar dapat berupa keluarga, teman karib, atasan / bawahan, guru, murid, tetangga, pejabat dan sebagainya.

Identitas penutur juga dapat mempengaruhi pilihan kode dalam bertutur.

3. Lingkugan sosial tempat peristiwa tutur terjadi dapat berupa ruang keluarga, di dalam masjid, lapangan sepak bola, ruang kuliah, perpustakaan, atau pinggir jalan.

4. Analisis diakronik dan sinkronik dari dialek-dialek sosial berupa deskripsi pola-pola dialek sosial itu. Dialek sosial digunakan para penutur sehubungan dengan kedudukan mereka sebagai anggota kelas-kelas sosial tertentu di dalam masyarakat.

5. Penilaian sosial yang berbeda oleh penutur terhadap bentuk-bentuk perilaku ujaran. Setiap penutur mempunyai kelas sosial tertentu di dalam masyarakat. Berdasarkan kelas sosialnya itu, penutur mempunyai penilaian sendiri terhadap bentuk-bentuk perilaku ujaran yang berlangsung.

6. Tingkatan variasi dan ragam linguistik, sehubungan dengan heterogennya anggota suatu masyarakat tutur, adanya berbagai fungsi sosial dan politik bahasa, serta adanya tingkat kesempurnaan kode, maka bahasa itu menjadi sangat bervariasi. Setiap variasi baik itu dialek, ragam bahasa mempunyai fungsi sosial masing-masing.

7. Penerapan praktis dari penelitian sosiolinguistik, yaitu topik yang membicarakan kegunaan penelitian sosiolinguistik untuk mengatasi masalah-masalah praktis dalam masyarakat. Misalnya pengajaran bahasa, pembakuan bahasa, penerjemahan, dan sebagainya.

Kegunaan sosiolinguistik bagi kehidupan sangat banyak.

Sosiolinguistik memberikan pengetahuan bagaimana cara menggunakan bahasa itu dalam aspek atau segi sosial tertentu, sosiolinguistik akan memberikan pedoman dalam berkomunikasi

(25)

dengan menunjukkan bahasa, ragam bahasa atau gaya bahasa apa yang harus digunakan jika berbicara dengan orang tertentu.

2.2 Pemilihan Bahasa

Fasold dalam Chaer dan Agustina (2004:153) menjelaskan bahwa hal pertama yang terbayang bila kita memikirkan bahasa adalah “bahasa keseluruhan”

(whole language) dimana kita membayangkan seseorang dalam masyarakat bilingual atau multilingual berbicara dua bahasa atau lebih dan harus memilih yang mana yang harus digunakan.

Dalam kajian sosiolinguistik, pilihan bahasa menjadi aspek terpenting yang dikaji dalam suatu ilmu kebahasaan. Sumarsono (2004 : 201) mengatakan ada tiga jenis pilihan bahasa yang dikenal dalam kajian sosiolinguistik, yaitu alih kode (code switching), campur kode (mixing code) dan variasi dalam bahasa yang sama (variation within the same language). Dari ketiga pilihan bahasa tersebut, dalam penelitian akan membahas satu jenis pilihan bahasa, yaitu alih kode (code switching).

2.3 Kode

Kode adalah istilah netral yang dapat mengacu bahasa, dialek, sosiolek, atau ragam bahasa (Sumarsono, 2002: 201). Kridalaksana dalam (http://digilib.unila.ac.id) mendefinisikan kode sebagai sebuah sistem bahasa dalam masyarakat, lambang atau sistem ungkapan yang dipakai untuk menggambarkan makna tertentu, dan variasi tertentu dalam bahasa.

Wardhaugh (2006: 99), berpendapat masyarakat bilingual atau multilingual dihadapkan pada masalah untuk memilih sebuah kode (bisa berupa dialek atau bahasa) tertentu pada saat mereka bertutur, dan mereka mungkin juga memutuskan untuk berganti dari satu kode ke kode lain atau mencampur kode- kode tersebut. Dengan demikian, dalam masyarakat multibahasa terdapat bermacam-macam kode, yang antara lain berupa dialek, sosiolek, serta gaya yang

(26)

digunakan dalam berkomunikasi. Dengan adanya kode-kode tersebut, penutur dalam lingkungan tutur tersebut akan menggunakan kode berdasarkan faktor- faktor yang mempengaruhinya dengan cara mengubah variasi penggunaan bahasanya.

2.4 Alih Kode

Alih kode adalah peristiwa peralihan dari satu kode ke kode yang lain.

Misalkan penutur dalam percakapan menggunakan bahasa Indonesia beralih menggunakan bahasa Inggris. Alih kode merupakan salah satu aspek ketergantungan bahasa (language dependency) dalam masyarakat multilingual.

Dalam kamus linguistik, pengertian alih kode adalah sebagai penggunaan variasi bahasa lain atau bahasa lain untuk menyesuaikan diri dengan peran atau situasi lain, atau karena adanya partisipan lain (Kridalaksana, 1993: 9). Ken Machida (2004: 129) menyebutkan alih kode dalam bahasa jepang disebut コード 切り替え (Koodo Kirikae).

Appel dalam Chaer dan Agustina (2004:107) mendefinisikan alih kode sebagai, “gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi”.

Berubahnya situasi ini disebabkan oleh berbagai macam hal. Salah satunya ialah disebabkan oleh hadirnya orang ketiga. Kehadiran orang ketiga atau orang lain yang tidak berlatarbelakang bahasa yang sama dengan bahasa yang sedang digunakan oleh penutur dan lawan tutur dapat menyebabkan terjadinya alih kode (Chaer dan Agustina 2004:109).. Selain itu Alih kode tidak terbatas terjadi dalam antarbahasa saja, tetapi juga dapat terjadi antara ragam-ragam atau gaya-gaya yang terdapat dalam satu bahasa (Hymes dalam Chaer dan Agustina 2004:142).

Dalam suatu kode terdapat berbagai kemungkinan varian, seperti varian rasional, varian kelas sosial, ragam, gaya atau register, maka peristiwa alih kode dapat pula berwujud alih varian, alih ragam, alih gaya atau alih register.

Berdasarkan beberapa pendapat dan definisi yang telah dikemukakan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa alih kode adalah peristiwa terjadinya

(27)

peralihan dalam penggunaan bahasa di dalam komunikasi, baik peralihan antar ragam bahasa ataupun antar gaya bahasa. Peristiwa ini terjadi apabila terjadi perubahan situasi dan adanya perbedaan partisipasi penutur. Hal yang menyebabkan terjadinya peralihan kode satu ke kode yang lain adalah untuk menyesuaikan diri dengan suasana, lingkungan, peran, topik pembicaraan, tujuan, dan aspek-aspek lainnya yang berhubungan dengan tindak tutur (speech act).

Ada beberapa ciri alih kode menurut Suwito dalam Rohmani (2013:5) bahwa penggunaan dua bahasa atau lebih ditandai dengan:

1) Masing-masing bahasa mendukung fungsi-fungsi tersendiri sesuai dengan konteksnya.

1) Fungsi masing-masing bahasa disesuaikan dengan situasi yang relevan dengan perubahan konteks.

2.5 Fitur-Fitur Alih Kode

Alih kode dapat berupa klausa atau kalimat, frasa atau kata. Seseorang akan memilih kode tertentu dalam berbahasa sesuai dengan konteks, situasi, dan kondisi saat berkomunikasi. Dalam suatu kode terdapat unsur-unsur bahasa seperti kalimat-kalimat, kata-kata, morfem dan fonem. Hanya saja adanya suatu pembatasan umum yang membatasi pemakaian unsur bahasa tersebut.

Suwito dalam Rahardi (2001: 3) menyebutkan bahwa pengkodean sebenarnya meliputi berbagai hal, misalnya campur kode, interferensi, integrasi kode, alih kode, dan sebagainya. Seringkali pengkodean yang meliputi berbagai hal tersebut menjadi penyebab utama seseorang memilih kata-kata yang sesuai dalam menjalin komunikasi tersebut. Selain itu, hal-hal yang berhubungan dengan masalah alih kode, campur kode, dan bilingualisme, seringkali menjadi pilihan utama individu untuk menekankan hal tertentu kepada lawan tuturnya untuk menyampaikan maksud, kesan, atau tujuan tertentu bagi penutur tersebut.

Terkait dengan fitur (karakteristik) alih kode, Thomson dalam Rosita (2011) menyebutkan bahwa alih kode adalah peralihan antar kalimat, yang beralih

(28)

(2011) mengungkapkan bahwa alih kode mungkin berwujud alih varian, alih ragam, alih gaya, atau alih register. Dapat dikatakan bahwa alih kode menunjukkan suatu gejala adanya saling ketergantungan antara fungsi kontekstual dan situasi relevansial di dalam pemakaian dua bahasa atau lebih. Dapat disimpulkan bahwa bentuk alih kode adalah alih varian, alih ragam, alih gaya, atau alih register. Alih kode secara bahasa dapat di lihat dari alih bahasa dan alih ragam dalam dua konteks yang berbeda, jadi alih kode ditandai dengan satu bahasa dialihkan ke dalam bahasa lain, pada konteks situasi yang berbeda.

Penggunaan dua bahasa (atau lebih) dalam alih kode menurut Suwito dalamRohmani (2013:5) ditandai oleh:

1) Masing-masing bahasa masih mendukung fungsi-fungsi secara tersendiri sesuai konteksnya.

2) Fungsi masing-masing bahasa disesuaikan dengan situasi yang relevan dengan perubahan konteks.

Ciri-ciri itu menunjukkan bahwa di dalam alih kode, masing-masing bahasa masih mendukung fungsinya secara ekslusif, dan peralihan kode terjadi apabila penuturnya merasa bahwa situasi relevan dengan peralihan kodenya.

2.6 Bentuk Alih Kode

Penggunaan alih kode tergantung pada kondisi lingkungan sekitarnya.

Maksudnya perubahan kode bahasa terjadi tergantung pada siapa lawan bicaranya, dimana terjadinya, kapan, dengan tujuan apa dan sebagainya. Pembagian alih kode menjadi beberapa jenis memudahkan penulis untuk menganalisis alih kode pada cuplikan percakapan dalam film Silence.

Wardhaugh dan Hudson (1986: 102-103; 1996: 52-53) membagi bentuk alih kode kedalam dua jenis, yaitu alih kode metaforis dan alih kode situasional.

1. Alih Kode Metaforis

Alih kode metaforis adalah peralihan yang terbentuk karena terjadinya pergantian topik dalam percakapan. Sebagai contoh C dan D adalah teman satu

(29)

pembicaraan urusan kantor selesai, mereka kemudian mengganti topik pembicaraan mengenai salah satu teman yang mereka kenal. Ini terjadi seiring dengan pergantian bahasa yang mereka lakukan dengan menggunakan bahasa daerah. Kebetulan C dan D tinggal di daerah yang sama dan dapat berkomunikasi dengan menggunakan bahasa daerah tersebut.

Contoh ini menjelaskan bagaimana alih kode terbentuk dalam satu situasi percakapan. Alih kode jenis ini hanya terjadi jika si pembicara yang pada awalnya hanya membicarakan urusan pekerjaan menggunakan ragam bahasa resmi dan terkesan kaku kemudian berubah menjadi suasana yang lebih santai, ketika topik berganti.

2. Alih Kode Situasional

Sedangkan alih kode situasional yaitu alih kode yang terbentuk berdasarkan situasi dimana para penutur menyadari bahwa mereka berbicara dalam bahasa tertentu dalam suatu situasi dan bahasa lain dalam situasi yang lain.

Dalam alih kode ini terjadi perubahan topik. Pergantian ini selalu bertepatan dengan perubahan dari suatu situasi eksternal (misalnya berbicara dengan anggota keluarga) ke situasi eksternal lainnya (misalnya berbicara dengan tetangga).

Sebagai contoh ayah sedang memarahi anaknya, ia menggunakan bahasa yang dapat dimengerti anaknya tersebut, kemudian datang tetangga menanyakan apa yang terjadi. Si ayah tidak mengganti topik pembicaraan, tetapi hanya merubah intonasi dan nada suaranya yang semula bernada marah dan kesal menjadi tenang dan mulai menjelaskan sebab ia memarahi anaknya tersebut.

Selain alih kode metaforis dan situasional, Suwito dalam Chaer dan Agustina (2010:114) juga mengklasifikasikan bentuk alih kode kedalam dua jenis, yaitu:

1. Alih Kode Internal

Alih kode internal adalah alih kode yang berlangsung antar bahasa dalam satu wilayah negara (Indonesia), seperti dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa atau sebaliknya. Selain itu, alih kode internal juga terjadi antar dialek dalam satu

(30)

bahasa nasional, antar dialek dalam satu bahasa daerah, atau antara beberapa ragam dan gaya yang terdapat dalam satu dialek.

2. Alih Kode Eksternal

Alih kode ekstern adalah alih kode yang terjadi antara bahasa nasional/Indonesia atau daerah (salah satu bahasa atau ragam yang ada dalam verbal repentoir masyarakat tuturnya) dengan bahasa asing, seperti dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris atau sebaliknya, bahasa Indonesia ke bahasa Korea atau sebaliknya, dan sebagainya.

2.7 Faktor-faktor Penyebab Alih Kode

Alih kode adalah salah satu alat yang dapat memperlancar proses komunikasi antar pelaku tutur meskipun mereka datang dari berbagai latar belakang bahasa ibu. Menurut Chaer (2004: 108) ada beberapa faktor yang merupakan penyebab terjadinya alih kode, antara lain:

1. Penutur (O1)

Seorang penutur kadang dengan sengaja beralih kode terhadap lawan tutur karena adanya suatu tujuan. Misalnya untuk mengubah situasi dari resmi menjadi tidak resmi atau sebaliknya. Selain itu ada juga penutur yang melakukan alih kode untuk mendapatkan sesuatu dari lawan tuturnya atau dengan kata lain mengharapkan keuntungan atau manfaat dari percakapan yang dilakukannya. Hal ini sering terjadi dan dapat kita jumpai dengan mudah disekitar kita. Sebagai contoh, Budi dan Andi adalah mahasiswa baru di Yogyakarta. Budi berasal dari Tarutung dan pada awal percakapan Budi menggunakan bahasa Indonesia. Setelah lama melakukan percakapan, Budi beralih menggunakan bahasa Batak Toba karena baru mengetahui Andi juga berasal dari Tarutung. Hal ini direspon oleh Andi dengan membalas percakapan menggunakan bahasa batak Toba. Inilah yang menjadi keuntungan atau manfaat bagi Budi. Karena dengan beralih dari bahasa Indonesia ke bahasa batak Toba, Budi menjadi semakin akrab dengan lawan tuturnya seperti yang diharapkan.

(31)

2. Lawan Tutur (O2)

Lawan tutur atau mitra tutur juga dapat menyebabkan peristiwa alih kode.

Misalnya karena ingin mengimbang kemampuan berbahasa lawan tuturnya.

Dalam hal ini biasanya kemampuan berbahasa si penutur (O1) kurang atau tidak baik karena mungkin bahasa yang digunakan dalam percakapan bukan bahasa pertamanya. Jika lawan tutur yang latar belakang kebahasaannya sama dengan penutur biasanya beralih kode dalam wujud alih varian (baik regional maupun sosial), ragam, gaya, atau register. Kemudian bila lawan tutur berlatar belakang kebahasaan berbeda cenderung alih kode berupa alih bahasa. Sebagai contoh adalah seorang turis yang menanyakan lokasi wisata kepada seorang siswa. Pada awal percakapan turis menggunakan bahasa Indonesia dan dapat dipahami oleh siswa tersebut dan dibalas menggunakan bahasa Indonesia. Kemudian setelah lama melakukan percakapan, turis mengalami kesulitan karena keterbatasan pengetahuan bahasanya dan percakapan menjadi kurang berjalan dengan baik.

Mengetahui situasi ini, siswa tersebut beralih menggunakan bahasa Inggris dan turis tersebut pun beralih menggunakan bahasa Ingggis. Setelah itu percakapan kembali berjalan dengan baik.

3. Hadirnya Penutur Ketiga (O3)

Kehadiran orang ketiga atau orang lain yang tidak berlatar belakang bahasa yang sama dengan bahasa yang sedang digunakan oleh penutur dan lawan tutur menyebabkan peristiwa alih kode. Untuk menetralisasi situasi dan menghormati kehadiran mitra tutur ketiga, biasanya penutur dan mitra tutur beralih kode, apalagi bila latar belakang kebahasaan mereka berbeda.

Sebagai contoh Bowo dan Joko, keduanya berasal dari Surabaya, lima belas menit sebelum kuliah dimulai sudah hadir di ruang kuliah. Keduanya terlibat dalam percakapan yang topiknya tak menentu dengan menggunakan bahasa jawa, bahasa ibu Nanang dan Ujang. Sekali-sekali bercampur dengan bahasa Indonesia kalau topik pembicaraan menyangkut masalah pelajaran. Ketika mereka sedang asyik bercakap-cakap masuklah Togar, teman kuliahnya yang berasal dari Tapanuli, yang tentu saja tidak dapat berbahasa Sunda. Togar menyapa mereka

(32)

dalam bahasa Indonesia. Lalu dengan segera mereka terlibat dan memulai percakapan dengan menggunakan bahasa Indonesia.

4. Perubahan Situasi

Perubahan situasi pembicaraan juga dapat mempengaruhi terjadinya alih kode. Situasi tersebut dapat berupa situasi formal ke informal atau sebaliknya.

Sebagai contoh dapat digambarkan pada percakapan berikut : A : Apakah bapak sudah jadi membuat lampiran surat ini ? B : Sudah pak, ini..

A : Terima kasih.

B : Surat ini berisi pengunduran diri Bapak Sujipto. Saya sudah kenal dia.

orangnya baik, banyak relasi, mau bekerja keras dan tidak banyak bicara. Ayeuna mah mun hayang maju kudu wani.

(Sekarang jika ingin maju harus berani)

A : Kudu na mah kos kitu, Pak (Memang harus begitu, pak) B : Kos kitu Kumaha? (Memang begitu bagaimana?)

A : Maksudna geus boga banyak kaleuwihan oge mun.. (Maksudnya, betapapun banyaknya kelebihan kalau..)

B : sieun nyandak risiko moal bakal maju kitu? (Kalau takut ambil risiko tidak akan maju, begitu maksudnya?)

A : Enya, pak (iya, pak)

B : O, ya, apakah surat untuk Jakarta kemarin sudah jadi dikirim?

A : Sudah, Pak. Bersamaan dengan surat Pak Ridwan dengan kilat khusus.

Alih ragam seperti dari ragam bahasa formal ke informal termasuk ke dalam peristiwa alih kode karena pada hakikatnya merupakan pergantian pemakaian bahasa atau dialek. Rujukannya adalah komunitas bahasa (dialek).

Para penutur yang sedang beralih kode berasal dari minimum dua komunitas dari bahasa-bahasa (dialek) yang sedang mereka praktekkan. Sebaliknya alih ragam bukan berarti berganti komunitas. Alih ragam terjadi dalam bahasa yang sama, karena dengan dorongan perubahan situasi berbicara, topik, status sosial, penutur dan sebagainya. Dengan demikian dapat dikatakan alih kode (bahasa atau dialek)

(33)

dilakukan oleh dua pihak yang memiliki dua komunitas bahasa yang sama. Alih ragam hanya terjadi dalam satu bahasa dan satu komunitas saja.

5. Topik Pembicaraan

Topik merupakan faktor yang dominan dalam menentukan terjadinya alih kode. Topik pembicaraan yang bersifat formal biasanya diungkapkan dengan ragam baku, dengan gaya netral dan serius dan pokok pembicaraan yang bersifat informal disampaikan dengan bahasa non baku, gaya sedikit emosional, dan serba seenaknya.

2.8 Sinopsis, Setting, dan Pemeran Film Silence Karya Martin Scorsese 1. Sinopsis

Film ini dimulai dengan prolog dari seorang imam Yesuit Portugis muda bernama Cristovao Ferreira yang menyaksikan penyiksaan orang-orang Jepang yang berpindah agama saat ia berusaha untuk membawa dan mengajarkan iman Kristen. Imam tersebut tampak tak tertolong dan pasrah saat otoritas Jepang mengadakan penyiksaan terhadap orang-orang yang ia pindah agamakan dengan cara apapun.

Beberapa hari kemudian di Kolese Santo Paulus Makau, seorang imam Yesuit Italia Alessandro Valignano mendapatkan surat yang mengabarkan bahwa Ferreira menyangkal imannya (murtad) di Jepang setelah disiksa. Tidak percaya dengan berita tersebut, murid-murid Portugis Ferreira, imam Yesuit Sebastião Rodrigues dan Francisco Garupe, memutuskan untuk mencari guru yang selama ini menjadi pembimbing rohani mereka. Ditengah perjalanan dan saat tiba dipelabuhan, kedua imam ini menemui Kichijiro, seorang nelayan pemabuk yang kabur dari Jepang untuk menyelamatkan dirinya sendiri karena dia juga seorang Kristen. Setelah dilakukan negosiasi yang cukup sulit akhirnya Kichijiro sepakat untuk memandu mereka untuk bisa sampai di Jepang.

Setelah melakukan perjalanan panjang, akhirnya kedua imam ini sampai di Jepang, tepatnya di desa Tomogi. Para imam tersebut memutuskan untuk mencari

(34)

para penduduk Kristen lokal yang bergerak dan hidup secara sembunyi-sembunyi.

Sementara waktu kedua imam tersebut tidak dapat pergi kedesa lainnya karena penduduk di desa Tomogi memperingatkan bahaya yang akan didapatkan apabila keberadaan mereka diketahui oleh otoritas Jepang. Kedua imam tersebut kemudian terkejut saat seorang samurai yang mencari-cari orang-orang yang dituduh Kristen, yang para penduduk desa sebut sebagai "Inkuisitor", para imam bersembunyi menyaksikan pasukan Inkuisitor mengikat beberapa warga desa pada salib kayu di pantai samudera, dimana ombak kemudian menenggelamkan mereka.

Jasad-jasad mereka kemudian dikremasi pada sebuah pemakaman yang para imam pahami dilakukan untuk menghindari pemakaman Kristen.

Setelah melihat kejamnya penyiksaan yang dilakukan oleh “Inkuisitor”

dan demi keamanan warga desa Tomogi, kedua imam ini berpisah. Garupe pergi ke Pulau Hirado, sedangkan Rodrigues pergi ke Pulau Goto, tempat yang dimana Ferreira diketahui keberadaannya. Setelah sampai di Pulau Goto Rodrigues hanya menemukan perkampungan dalam keadaan hancur. Dalam keadaan putus asa akhirnya ia mengembara di sekitaran Goto, kemudian berpikir bahwa apakah ia tetap menolak untuk menyerah, yang balasannya berujung pada penderitaan orang lain. Kemudian Rodrigues bertemu lagi dengan Kichijiro, yang mengkhianatinya dan kemudian menyerahkannya kepada samurai (pasukan Inoue) dengan bayaran 300 perak. Seorang samurai tua, yang sebelumnya menyertai seorang "Inkuisitor"

ke Tomogi, berkata kepada Rodrigues bahwa umat Kristen yang tertangkap lainnya akan diselamatkan apabila ia mau menyangkal imannya.

Rodrigues datang ke Nagasaki, dimana ia ditahan bersama dengan beberapa orang Jepang yang menjadi orang Kristen. Di pengadilan, ia berkata bahwa doktrin Katolik adalah anatema untuk Jepang. Rodrigues dituntut untuk menghadap gubernur Inoue Masashige, yang ia ketahui, dalam keadaan cemas, adalah pria tua yang duduk di sebelahnya saat pengadilan tersebut. Rodrigues kembali ditahan, Kemudian Kichijiro datang ketempatnya dan akhirnya ditahan karena mengaku seorang Kristen. Ia menjelaskan kepada Rodrigues bahwa para pejabat pengadilan yang mengancamnya memerintahkan agar ia mengkhianati Rodrigues. Dalam penjara Kichijiro kemudian memohon untuk diampuni dan

(35)

berkata kepada Rodrigues bahwa orang Kristen yang melakukan dosa ataupun pengkhianatan dapat dihapus melalui pengampunan, tetapi Rodrigues menolak untuk memberi sakramen pengampunan.

Kichijiro kemudian dibebaskan setelah bersedia untuk melakukan fumi-e (menginjak sebuah pahatan salib), yang dinilai sebagai sebuah tindakan yang melambangkan penolakan iman. Hal ini adalah yang kesekian kalinya dilakukan oleh Kichijiro didepan mata Rodrigues. Setelah menyaksikan banyak penyiksaan di penjara, Rodrigues dibawa di bawah kawalan ke garis pantai untuk menyaksikan beberapa orang. Di kejauhan, ia menyaksikan Garupe yang sebelumnya menemaninya dan tiga tahanan lainnya dipandu ke garis pantai di bawah kawalan terpisah. Masih di kejauhan, tiga tahanan lainnya di bawa ke lepas pantai pada sebuah perahu kecil dan kemudian ditenggelamkan satu per satu dari perahu agar Garupe menyangkal imannya. Rodrigues dicekal oleh para pengawal di pantai saat ia menyaksikan Garupe menolak untuk murtad. Ia kemudian menyaksikan Garupe ditenggelamkan juga seperti tiga tahanan lainnya saat ia berusaha untuk berenang di lepas pantai dalam rangka berupaya untuk menyelamatkan tahanan terakhir yang ditenggelamkan.

Setelah beberapa saat, Rodrigues kemudian dibawa untuk menemui seseorang yang selama ini sangat dicari olehnya. Ferreira berkata bahwa ia memutuskan untuk murtad saat disiksa, dan menyatakan bahwa setelah 15 tahun di negara tersebut dan setahun di kuil, ia meyakini bahwa Kekristenan adalah kesia-siaan di Jepang. Rodrigues tak mempercayainya, namun Ferreira bersikeras.

Pada malam tersebut di sel tahanannya, Rodrigues mendengar bahwa lima orang Kristen disiksa. Ferreira menyatakan kepadanya bahwa mereka siap murtad;

kemurtadannya adalah tuntutan Jepang. Saat Rodrigues dihadapkan ke sebuah fumi-e, ia mendengar suara Yesus yang memberikannya ijin untuk menginjaknya, dan ia melakukannya.

Bertahun-tahun kemudian, setelah Ferreira wafat, Kichijiro membujuk Rodrigues untuk melayaninya lagi, namun Rodrigues menolak, berkata bahwa ia bukan lagi seorang imam. Kichijiro kemudian kedapatan oleh pihak Inoue

(36)

memiliki sebuah kantung yang ia klaim dimenangkan saat berjudi yang berisi sebuah gambar relijius agama Kristen. Ia ditangkap dan pergi menjauh kemudian tak pernah terdengar lagi. Beberapa tahun kemudian, Rodrigues meninggal. Ia ditempatkan dalam sebuah peti mati kayu bundar besar, dan jasadnya dikremasi.

Di tangannya terpegang sebuah salib ukiran yang diberikan oleh Mokichi kepadanya saat ia pertama kali datang ke Jepang.

2. Setting

Silence adalah sebuah film drama periode sejarah, diproduksi pada tahun 2016 yang disutradarai oleh Martin Scorsese dan ditulis oleh Jay Cocks dan Scorsese berdasarkan pada novel tahun 1966 berjudul sama karya Shusaku Endo.

Alurnya berkisah tentang dua imam Yesuit abad ke-17 yang berkunjung dari Portugal ke Jepang pada zaman Edo untuk menemukan/mencari mentor mereka yang hilang, untuk menguatkan iman orang Kristen di Jepang, dan untuk menyebarkan agama Kristen Katolik. Ceritanya berlatar belakang pada masa saat umat Kristen bersembunyi dari penindasan setelah penekanan umat Katolik Roma Jepang pada masa Pemberontakan Shimabara (1637–1638) melawan keshogunan Tokugawa. Dalam film ini kita akan disuguhkan pemandangan dan keadaan sosial Jepang pada masa kesogunan Tokugawa secara detail sehingga kita dapat memahami bagaimana keadaan Jepang pada saat itu. Setting cerita akan dijelaskan lebih detail satu persatu bersamaan dengan analisis alih kode pada bab selanjutnya.

3. Pemeran

- Andrew Garfield sebagai Sebastiao Rodrigues (yang kemudian setelah menetap di Jepang dan berpindah agama dalam film tersebut mengganti nama menjadi Okada Sanyemon).

- Adam Driver sebagai Francisco Garupe.

- Shinya Tsukamoto sebagai Mokichi.

- Liam Neeson sebagai Yesuit Cristovao Ferreira (yang kemudian dalam film tersebut disebut dengan nama Sawano Chuan)

- Tadanobu Asano sebagai Seorang Penerjemah - Ciaran Hinds sebagai Yesuit Alessandro Valignano

(37)

- Issei Ogata sebagai Inoue Masashige (berdasarkan pada Konselor Besar abad ke-17 (ometsuke)

- Yoshi Oida sebagai Ichizo

- Yosuke Kubozuka sebagai Kichijiro - Nana Komatsu sebagai Monica (Haru) - Ryo Kase sebagai Joao (Chokichi) - Bela Baptiste sebagai Dieter Albrecht

(38)

BAB III ANALISIS ALIH KODE DALAM FILM SILENCE KARYA MARTIN

SCORSESE

3.1 Analisis Alih Kode dalam Film Silence

Pada bagian ini penulis akan menganalisis alih kode berdasarkan cuplikan percakapan pada film Silence Karya Martin Scorsese. Adapun cuplikan percakapan yang mengandung alih kode pada film ini berjumlah 5 cuplikan, dengan total 56 dialog didalamnya.

3.1.1 Analisis Alih Kode pada Cuplikan Percakapan 1 (00:46:33-00:48:40) 1. Cuplikan Percakapan

Percakapan berlatar didalam satu ruangan yang sempit dan gelap.

Percakapan ini berlangsung pada malam hari. Tempat berlangsungnya percakapan merupakan ruangan khusus yang biasa digunakan warga Desa Tomogi untuk melaksanakan ibadah secara diam-diam. Percakapan ini diadakan untuk diskusi antar warga desa Tomogi, karena datangnya pasukan Inoue atau Inkuisitor ke desa Tomogi setelah mendapatkan informasi bahwa diantara warga desa ada yang beragama Kristen. Pasukan Inoue menuntut untuk mengaku siapa diantara mereka yang beragama Kristen. Karena tidak ada yang mau mengaku dan memberikan informasi, Inoue mengambil keputusan untuk datang kembali ke desa tersebut dalam waktu tiga hari dan mengambil empat warga sebagai tahanan. Para warga mengerti, bahwa orang Kristen yang dimaksud oleh Inoue bukanlah mereka, melainkan para imam yang bersembunyi di desa mereka, yaitu Rodrigues dan Garupe.

Dalam keadaan panik mereka berkumpul untuk mengambil keputusan yang sangat berat; mengusir dan menyerahkan para imam agar hidup mereka aman, atau membiarkan imam di desa mereka dengan taruhan nyawa dari keempat warga desa.

(39)

Ichizo, Kichijiro, dan beberapa warga lainnya yang terlibat dalam percakapan ini merupakan masyarakat Jepang asli, yang mana dalam cuplikan percakapan ini melakukan percakapan dalam bahasa Jepang. Ichizo dan Kichijiro sesekali menggunakan bahasa Inggris, mereka menggunakan bahasa Inggris karena hadirnya Rodrigues dan Garupe. Dalam film ini, Rodrigues dan Garupe merupakan orang asing yang tidak begitu mengerti bahasa Jepang.

Warga yang berkumpul saling beradu pendapat, karena tidak ditemukannya kesepakatan bersama; beberapa diantaranya menginginkan Rodrigues dan Garupe pergi dan yang lainnya menginginkan mereka tetap tinggal di desa. Karena keadaan semakin tidak kondusif, Ichizo memulai percakapan sambil mengangkat tangannya agar warga yang hadir diam dan memperhatikan.

(1) Ichizo: (Mengangkat tangan, kemudian berbicara kepada semua warga) 静かに!静かに!パドレたちは、わしらが守 る!(Kemudian melihat dan berbicara kepada Rodrigues &

Garupe) You will stay.

(Setelah itu, Ichizo kembali melihat kearah warga yang berkumpul) あと二人、一緒にきてもらうにはなら、

(Ichizo melihat dan berbicara lagi kepada Rodrigues dan Garupe) Me, Mokichi, and two more hostages.

(Rodrigues tidak mampu berkata, Ichizo melanjutkan percakapan dan bertanya kepada warga yang hadir dalam diskusi) 誰かわしともきちと共に、人質になってデウス 様に奉ずるものはおらんか?

(Ato futari, isshoni kite morau ni wa nara. Me, Mokichi, and two more hostages. Dare ka washi to mokichi to tomoni, hitojichi ni natte, Deusu-sama ni houzuru mono wa oranka)

(Tenang! Tenang! Kita akan melindungi Padre!. Kalian tetap disini.Setelah itu kita harus memilih dua orang lagi Untuk bergabung dengan kami. Saya, Mokichi, dan dua sandera

(40)

Mokichi, dan menjadi sandera, untuk menghormati Deusu- sama?)

Seisi ruangan menjadi sunyi, orang yang ikut dan berada didalam ruangan saling memandang satu sama lain. Akhirnya ada satu orang yang ingin menjadi sandera bersama dengan Ichizo dan Mokichi. Setelah itu, tidak ada lagi yang mau menjadi sandera sementara mereka masih dibutuhkan satu sandera lagi. Hingga akhirnya orang-orang yang hadir dalam ruangan tersebut mulai memperhatikan dan membujuk Kichijiro.

(2) Warga 1: (Melihat Kichijiro) きちじろはどうかるか?

(Kichijiro wa doukaruka?)

(Bagaimana jika Kichijiro saja?)

(3) Warga 2: そ、そ、そうたい!おれたちの代わりにいってくれる

か。あんたならおやくにも厳しはせんじゃろ。目当て はともぎの人間やけ。

(So, so, soutai! oretachi wo kawarini itte kureru ka. anta nara oyakuni mo so kibisi wa sen jaro. meate wa tomogi no ningen yake.)

(Ya! Maukah kamu menggantikan kami semua? Mereka tidak akan keras kepadamu, karena yang mereka inginkan adalah orang Tomogi.)

Kondisi dalam ruangan mulai tidak kondusif, warga yang berkumpul mulai beradu argumen dan menuduh Kichijiro sebagai mata-mata.

(4) Kichijiro: (Dengan lantang berbicara kepada warga) おれはなんも 言うとらん!。(Kemudian memohon kepada Ferreira) パ ドレ、言ってくれるんですが、I’m not an informer! I confessed all my sin!

(Ore wa nanmo iutoran! Padore. itte kurerun desuga, I’m not an informer! I confessed all my sin!)

(41)

beritahu kepada mereka, Saya bukan informan! Saya sudah mengakui semua kesalahan saya!)

Kemudian salah seorang warga membalas perkataan Kichijiro dan menantang Kichijiro.

(5) Warga 2: デウス様の祝福ば受けたとなら、ちゃんとしろ!お前

の命でデウス様ばたたえるとさ。

(Deusu-sama no shukufuku ba uketatonara, chanto shiro!

omae no inochi de deusu sama ba tataeru to sa.)

(Bila kamu menerima berkat dari Deusu-sama, lakukanlah!

Muliakan Deusu-sama dengan hidupmu) (6) Semua Warga: (Menyetujui) 本当じゃ (Hontou ja) (Benar) (7) Kichijiro: たたえよ?どうけん意味か?

(Tataeyo? douken imi ka?) (Muliakan? Apa maksudmu?)

(8) Warga 2: 誠のキリシタンならわかるはぜろうが!

(Makoto no kirishitan nara wakaru hazerouga!.) (Kalau kau benar-benar orang Kristen seharusnya bisa paham!)

(Silence 00:46:33-00:48:40)

Berdasarkan cuplikan percakapan diatas, dapat kita lihat bahwa percakapan tidak berjalan dengan lancar karena dipenuhi dengan ketakutan dan emosi dari warga desa, hingga pada akhirnya Ichizo menenangkan seluruh warga yang hadir dan kemudian mengambil keputusan untuk tetap membiarkan para imam tinggal di desa dan menjadikan dirinya bersama dengan Mokichi, Kichijiro, dan satu warga lainnya menjadi tawanan.

Tujuan dari percakapan diatas adalah untuk menentukan keputusan bersama yang akan diambil oleh warga desa. Keputusan yang dapat diambil antara lain mengusir dan menyerahkan para imam, atau memilih empat orang warga yang kemudian menjadi tawanan. Meskipun demikian, peserta dalam tindak tutur

(42)

percakapan bertujuan untuk melindungi para imam, sedangkan para warga yang turut berperan dalam percakapan kebanyakan memiliki tujuan untuk menyelamatkan diri dari kejamnya kebijakan Inoue dan berusaha agar tidak menjadi tawanan.

2. Alih Kode pada Cuplikan Percakapan 1

Berdasarkan hasil analisis yang penulis lakukan, terdapat dua percakapan yang mengandung alih kode pada Cuplikan Percakapan 1, yaitu pada percakapan nomor 1 dan nomor 4.

2.1 Alih Kode pada Percakapan Nomor 1:

(1) Ichizo: (Mengangkat tangan, kemudian berbicara kepada semua warga) 静かに!静かに!パドレたちは、わしらが守 る!。(Kemudian melihat dan berbicara kepada Rodrigues

& Garupe) You will stay.

(Setelah itu, Ichizo kembali melihat kearah warga yang berkumpul) あと二人、一緒にきてもらうにはなら、

(Ichizo melihat dan berbicara lagi kepada Rodrigues dan Garupe) Me, Mokichi, and two more hostages.

(Rodrigues tidak mampu berkata, Ichizo melanjutkan percakapan dan bertanya kepada warga yang hadir dalam diskusi) 誰かわしともきちと共に、人質になってデウス 様に奉ずるものはおらんか?

(Ato futari, isshoni kite morau ni wa nara. Me, Mokichi, and two more hostages. Dare ka washi to mokichi to tomoni, hitojichi ni natte, Deusu-sama ni houzuru mono wa oranka)

(Tenang! Tenang! Kita akan melindungi Padre!. Kalian tetap disini.Setelah itu kita harus memilih dua orang lagi Untuk bergabung dengan kami. Saya, Mokichi, dan dua sandera lainnya. Siapa yang ingin bergabung dengan saya dan

Referensi

Dokumen terkait

Mengingat partai Gerindra merupakan partai baru, dengan peta kekuatan politik partai-partai lain yang sangat ketat persaingannya, sebenarnya dapat dikatakan bahwa angka tersebut

Penelitian dilakukan dalam beberapa tahapan, yaitu penentuan pola peningkatan kadar asam lemak bebas bekatul selama 24 jam pasca penggilingan, penentuan komposisi asam lemak

HARDO SOLOPLAST , Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Januari 2013.. Tujuan penelitian ini adalah untuk:

Manfaat yang ingin dicapai melalui studi Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Usaha Pedagang Kaki Lima di GALABO Solo adalah sebagai berikut:.. Bagi

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan “ Citraan atau imaji apasajakah yang terdapat dalam lima sajak pada kumpulan puisi Terkenang Topeng Betawi karya Ajip Rosidi..

Pada Indikator Kinerja ”Jumlah dokumen perencanaan dan keuangan ket ahanan pangan”, realisasinya 10 0 persen (sangat berhasil) dari target, dengan output yaitu :

Pertama, Prinsip-prinsip kepemimpinan Yusuf dalam menghadapi perubahan adalah sebagai berikut, (1) Berpegang teguh pada visi yang berasal dari Allah yang ditunjang dengan

Berdasarkan hasil analisis data penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat