• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.2.1 Penentuan Laju Pengeringan Konstan dan Menurun pada Wortel

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "4.2.1 Penentuan Laju Pengeringan Konstan dan Menurun pada Wortel"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

4.2.1 Penentuan Laju Pengeringan Konstan dan Menurun pada Wortel

Laju pengeringan konstan dan laju pengeringan menurun untuk wortel pada berbagai kondisi dapat dilihat pada Gambar 4.13 – 4.16 berikut.

Gambar 4.13 Laju pengeringan konstan dan laju pengeringan menurun untuk wortel pada tekanan absolut 22 cmHg dan temperatur 60 oC

Gambar 4.14 Laju pengeringan konstan dan laju pengeringan menurun untuk wortel pada tekanan absolut 22 cmHg dan temperatur 55 oC

(2)

Gambar 4.15 Laju pengeringan konstan dan laju pengeringan menurun untuk wortel pada tekanan absolut 22 cmHg dan temperatur 50 oC

Gambar 4.16 Laju pengeringan konstan dan laju pengeringan menurun untuk wortel pada tekanan atmosferik dan temperatur 60 oC

Melalui keempat gambar tersebut, dapat diketahui laju konstan dan menurun untuk wortel pada kondisi pengeringan vakum dan atmosferik. Laju konstan dan menurun diperoleh dengan regresi linier. Pada laju konstan, diperoleh laju penguapan yang sama hingga pada air kritiknya. Air yang teruapkan pada kondisi ini adalah air tak terikat yang berada di permukaan bahan pangan. Hal ini disebabkan tidak adanya perubahan

(3)

hambatan di antara permukaan bahan dengan udara pengering. Pada laju menurun, laju penguapan air makin mengecil hingga tercapai kandungan air kesetimbangan. Air yang teruapkan pada kondisi ini adalah air terikat yang berada pada pori-pori bahan. Makin banyak air dalam pori-pori yang teruapkan, makin besar pula tahanan dalam pori-pori, sehingga laju pengeringan akan makin menurun. Hasil pengaluran data untuk wortel menghasilkan laju konstan dan menurun yang dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut.

Tabel 4.1 Laju pengeringan konstan dan menurun pada wortel Tekanan Temperatur

(oC)

Laju konstan (gram/menit.m2)

Laju menurun (gram/menit.m2) 60 3.633 1.212 X – 0.046 Vakum (22 cmHg) 55 2.426 0.662 X + 0.064 50 5.7 2.124 X – 0.441 Atmosferik 60 4.2 0.917 X + 1.141

4.2.2 Penentuan Laju Pengeringan Konstan dan Menurun pada Cabe Merah

Laju pengeringan konstan dan laju pengeringan menurun untuk cabe merah pada berbagai kondisi dapat dilihat pada Gambar 4.17 – 4.20 berikut.

Gambar 4.17 Laju pengeringan konstan dan menurun untuk cabe merah pada tekanan absolut 22 cmHg dan temperatur 60 oC

(4)

Gambar 4.18 Laju pengeringan konstan dan menurun untuk cabe merah pada tekanan absolut 22 cmHg dan temperatur 55 oC

Gambar 4.19 Laju pengeringan konstan dan menurun untuk cabe merah pada tekanan absolut 22 cmHg dan temperatur 50 oC

(5)

Gambar 4.20 Laju pengeringan konstan dan menurun untuk cabe merah pada tekanan atmosferik dan temperatur 60 oC

Laju pengeringan konstan dan menurun untuk cabe merah diperoleh dengan cara yang sama dengan laju pengeringan konstan dan menurun untuk wortel. Adapun laju konstan dan menurun pada cabe merah dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Laju pengeringan konstan dan menurun pada cabe merah

Tekanan Temperatur (oC)

Laju konstan (gram/menit.m2)

Laju menurun (gram/menit.m2) 60 6.08 1.520 X + 1.537 Vakum (22 cmHg) 55 5.2 2.216 X – 0.193 50 4.66 1.816 X + 0.459 Atmosferik 60 4.6 1.294 X + 0.219

(6)

4.2.3 Penentuan Laju Pengeringan Konstan dan Menurun pada Daun Bawang

Laju pengeringan konstan dan menurun untuk daun bawang pada berbagai kondisi dapat dilihat pada Gambar 4.21 – 4.24 berikut.

Gambar 4.21 Laju pengeringan konstan dan menurun untuk daun bawang pada tekanan absolut 22 cmHg dan temperatur 60 oC

Gambar 4.22 Laju pengeringan konstan dan menurun untuk daun bawang pada tekanan absolut 22 cmHg dan temperatur 55 oC

(7)

Gambar 4.23 Laju pengeringan konstan dan menurun untuk daun bawang pada tekanan absolut 22 cmHg dan temperatur 50 oC

Gambar 4.24 Laju pengeringan konstan dan menurun untuk daun bawang pada tekanan atmosferik dan temperatur 60 oC

Laju pengeringan konstan dan menurun untuk daun bawang diperoleh dengan cara yang sama seperti kedua sampel sebelumnya. Adapun laju konstan dan laju menurun pada pengeringan daun bawang ditunjukkan pada Tabel 4.3.

(8)

Tabel 4.3 Laju pengeringan konstan dan menurun pada daun bawang

Tekanan Temperatur (oC)

Laju konstan (gram/menit.m2)

Laju menurun (gram/menit.m2) 60 7.108 1.797 X – 2.039 Vakum (22 cmHg) 55 6.443 1.252 X – 0.881 50 5.424 1.250 X – 0.783 Atmosferik 60 5.424 0.575 X – 1.167

4.3 Penentuan Kandungan Air Kritik (X kritik)

Perioda laju konstan berakhir pada suatu kandungan uap air tertentu dan dilanjutkan dengan periode laju menurun. Titik akhir perioda laju konstan disebut kandungan air kritik (X kritik).

4.3.1 Penentuan Kandungan Air Kritik (X kritik) pada Wortel

Berdasarkan pengaluran laju konstan dan menurun pada Gambar 4.13 – 4.16, diperoleh nilai kandungan air kritik untuk pengeringan wortel yang dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut.

Tabel 4.4 Nilai kandungan air kritik untuk wortel Tekanan (cmHg) Temperatur (oC) X kritik

22 60 3.130

22 55 3.348

22 50 3.017

Atmosferik 60 4.386

Hasil pengaluran kandungan air kritik terhadap temperatur pada tekanan absolut 22 cmHg untuk wortel dapat dilihat pada Gambar 4.25 berikut.

(9)

1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5

48 50 52 54 56 58 60 62

T (oC)

X kritik

Gambar 4.25 Pengaruh temperatur terhadap kandungan air kritik untuk wortel pada pengeringan vakum (tekanan absolut 22 cmHg)

Gambar 4.25 menunjukkan bahwa pada pengeringan vakum perubahan nilai kandungan air kritik pada wortel tidak terlalu besar, yaitu sekitar 0.1 hingga 0.2, sehingga dapat dikatakan wortel memiliki struktur pori-pori bahan yang cenderung stabil. Namun perubahan nilai ini penting untuk diamati karena dapat membantu dalam memprediksi temperatur pengeringan yang tidak merusak struktur bahan.

Nilai kandungan air kritik wortel mengalami kenaikan pada temperatur 50 oC hingga mencapai titik puncaknya pada temperatur 55 oC. Namun setelah melewati temperatur 55 oC, nilai kandungan air kritik mengalami penurunan. Nilai kandungan air kritik menandai saat kandungan uap air pada permukaan bahan tidak lagi mencukupi untuk memelihara film yang menutupi seluruh permukaan pengeringan. Apabila sudah tidak ada film pada permukaan, laju alir uap air ke permukaan tidak sama lagi dengan laju penguapan yang diperlukan oleh proses penguapan bola basah (pengeringan laju tetap).

Turunnya nilai kandungan air kritik menunjukkan terjadi perubahan pada struktur wortel, yang diprediksi sebagai kerusakan struktur bahan. Pada tekanan absolut 22 cmHg dan temperatur di atas 55 oC, diprediksi wortel mulai mengalami perubahan struktur pori-pori bahan (mengkerut).

(10)

4.3.2 Penentuan Kandungan Air Kritik (X kritik) pada Cabe Merah

Berdasarkan pengaluran laju konstan dan menurun pada Gambar 4.17 – 4.20, diperoleh nilai kandungan air kritik untuk pengeringan cabe merah yang dapat dilihat pada Tabel 4.5 berikut.

Tabel 4.5 Nilai kandungan air kritik untuk cabe merah Tekanan (cmHg) Temperatur (oC) X kritik

22 60 3.154

22 55 2.300

22 50 1.997

Atmosferik 60 3.302

Hasil pengaluran kandungan air kritik terhadap temperatur pada tekanan absolut 22 cmHg untuk cabe merah dapat dilihat pada Gambar 4.26 berikut.

1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5

48 50 52 54 56 58 60 62

T (oC)

X kritik

Gambar 4.26 Pengaruh temperatur terhadap kandungan air kritik untuk cabe merah pada pengeringan vakum (tekanan absolut 22 cmHg)

Gambar 4.26 memperlihatkan bahwa nilai kandungan air kritik pada cabe merah meningkat seiring dengan meningkatnya temperatur. Seperti yang telah dibahas

(11)

sebelumnya, nilai kandungan air kritik menandai saat di mana kandungan uap air pada permukaan bahan tidak mencukupi untuk memelihara suatu film yang menutupi keseluruhan permukaan pengeringan. Meningkatnya nilai kandungan air kritik bersamaan dengan peningkatan temperatur pengeringan diperkirakan pori-pori bahan membuka sehingga penguapan berlangsung lebih bagus dan diprediksikan tidak terjadi kerusakan struktur pori-pori bahan.

Pada pengeringan vakum (tekanan absolut 22 cmHg) untuk cabe merah, disimpulkan bahwa peningkatan nilai kandungan air kritik seiring dengan peningkatan temperatur, menunjukkan tidak ada perubahan struktur pori-pori bahan. Hal ini berarti pada rentang temperatur pengeringan 50 hingga 60 oC, cabe merah memiliki struktur pori-pori bahan yang cenderung membuka seiring dengan kenaikan temperatur pengeringan.

4.3.3 Penentuan Kandungan Air Kritik (X kritik) pada Daun Bawang

Berdasarkan pengaluran laju konstan dan menurun pada Gambar 4.21 – 4.24, diperoleh nilai kandungan air kritik untuk pengeringan daun bawang yang dapat dilihat pada Tabel 4.6 berikut.

Tabel 4.6 Nilai kandungan air kritik untuk daun bawang Tekanan (cmHg) Temperatur (oC) X kritik

22 60 4.950

22 55 5.910

22 50 5.237

Atmosferik 60 11.618

Hasil pengaluran kandungan air kritik terhadap temperatur pada tekanan absolut 22 cmHg untuk daun bawang dapat dilihat pada Gambar 4.27 berikut.

(12)

2.5 3 3.5 4 4.5 5 5.5 6

48 50 52 54 56 58 60 62

T (oC)

X kritik

Gambar 4.27 Pengaruh temperatur terhadap kandungan air kritik untuk daun bawang pada pengeringan vakum (tekanan absolut 22 cmHg)

Gambar 4.27 menunjukkan bahwa pada pengeringan vakum perubahan nilai kandungan air kritik cukup besar, yaitu sekitar 0.7 hingga 1. Perubahan kandungan air kritik terhadap temperatur ini penting untuk diamati karena dapat memprediksi kecenderungan temperatur pengeringan untuk daun bawang.

Daun bawang memiliki kecenderungan nilai kandungan air kritik terhadap temperatur yang sama dengan wortel. Nilai kandungan air kritik mengalami kenaikan dari temperatur 50 hingga 55 oC. Setelah mencapai nilai maksimum kandungan air kritik pada temperatur 55 oC, nilai kandungan air kritik mengalami penurunan yang cukup drastis. Nilai kandungan air kritik ini menandai saat di mana kandungan uap air pada permukaan bahan tidak mencukupi untuk memelihara suatu film yang menutupi keseluruhan permukaan pengeringan.

Struktur pori-pori daun bawang diperkirakan mengalami kerusakan (mengkerut) seiring menurunnya nilai kandungan air kritik bersamaan dengan peningkatan temperatur pengeringan. Hal ini mengindikasikan bahwa setelah temperatur 55 oC terjadi perubahan struktur bahan, yang diprediksi sebagai kerusakan pori-pori pada bahan.

(13)

4.4 Penentuan Koefisien Perpindahan Panas Konveksi Fasa (hc)

Koefisien perpindahan panas konveksi (hc) dapat diperoleh melalui persamaan berikut:

(

G i

)

i c

c t t

h N

= −.λ

(4.1) Nc merupakan laju pengeringan pada kandungan air kritik, λi panas laten pada tekanan

vakum, tG adalah temperatur gas pengering, dan ti adalah temperatur saturated pada tekanan vakum. Pada kondisi tekanan vakum sebesar absolut 22 cmHg, nilai λi adalah 2328.09 kJ/kg, sedangkan nilai ti- sebesar 71.56 oC. Nilai Nc dan tG bergantung pada temperatur gas pengering.

4.4.1 Penentuan Koefisien Perpindahan Panas Konveksi (hc) pada Wortel

Nilai koefisien perpindahan panas konveksi (hc) untuk wortel pada berbagai kondisi dapat dilihat pada Tabel 4.7 berikut.

Tabel 4.7 Penentuan hc untuk wortel

Kondisi Nc

(kg/jam.m2)

λi

(kJ/kg)

tG

(oC)

ti

(oC)

hC

(kJ/jam.oC)

1 0.218 2328.09 60 71.56 1.117 2 0.146 2328.09 55 71.56 0.618 3 0.342 2328.09 50 71.56 0.369 4 0.252 2257 60 100 0.142

Keterangan :

- Kondisi 1 adalah kondisi pengeringan vakum (tekanan absolut 22 cmHg) dengan temperatur 60 oC

- Kondisi 2 adalah kondisi pengeringan vakum (tekanan absolut 22 cmHg) dengan temperatur 55 oC

- Kondisi 3 adalah kondisi pengeringan vakum (tekanan absolut 22 cmHg) dengan temperatur 50 oC

- Kondisi 4 adalah kondisi pengeringan atmosferik dengan temperatur 60 oC

(14)

Nilai hc untuk wortel pada berbagai temperatur dengan kondisi pengeringan vakum (absolut 22 cmHg) dapat dilihat pada Gambar 4.28. Berdasarkan pengaluran pada gambar tersebut, diperoleh persamaan hc = f (T) berikut: hc = 2 × 10-11 (T)6.059

hc = 2.10-11 T6.0589

0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2

48 50 52 54 56 58 60 62

Temperatur (oC)

hc

Gambar 4.28 Hubungan hc terhadap temperatur untuk wortel pada tekanan absolut 22 cmHg

Nilai hc untuk wortel pada tekanan vakum dan atmosferik dengan temperatur pengeringan 60 oC dapat dilihat pada Gambar 4.29. Berdasarkan pengaluran pada gambar tersebut, diperoleh persamaan hc = f (P) berikut: hc = -0.0181 (P) + 1.514

hc = -0.0181 P + 1.5142

0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2

0 10 20 30 40 50 60 70 80

Tekanan (cmHg)

hc

(15)

4.4.2 Penentuan Koefisien Perpindahan Panas Konveksi (hc) pada Cabe Merah

Nilai koefisien perpindahan panas konveksi (hc) untuk cabe merah pada berbagai kondisi dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut.

Tabel 4.8 Penentuan hc untuk cabe merah Kondisi Nc

(kg/jam.m2)

λi

( kJ/kg)

tG

(oC)

ti

(oC)

hC

(kJ/jam.oC)

1 0.992 2328.09 60 71.56 0.735 2 0.312 2328.09 55 71.56 0.439 3 0.280 2328.09 50 71.56 0.302 4 0.276 2257 60 100 0.156

Keterangan :

- Kondisi 1 adalah kondisi pengeringan vakum (tekanan absolut 22 cmHg) dengan temperatur 60 oC

- Kondisi 2 adalah kondisi pengeringan vakum (tekanan absolut 22 cmHg) dengan temperatur 55 oC

- Kondisi 3 adalah kondisi pengeringan vakum (tekanan absolut 22 cmHg) dengan temperatur 50 oC

- Kondisi 4 adalah kondisi pengeringan atmosferik dengan temperatur 60 oC

Nilai hc untuk cabe merah pada berbagai temperatur dengan kondisi pengeringan vakum (absolut 22 cmHg) dapat dilihat pada Gambar 4.30. Berdasarkan pengaluran pada gambar tersebut, diperoleh persamaan hc = f (T) berikut: hc = 2 × 10-9 (T)4.864

(16)

hc = 2.10-9.T4.8635

0 0.2 0.4 0.6 0.8

48 50 52 54 56 58 60 62

Temperatur (oC)

hc

Gambar 4.30 Hubungan hc terhadap temperatur untuk cabe merah pada tekanan absolut 22 cmHg

Nilai hc untuk cabe merah pada tekanan vakum dan atmosferik dengan temperatur pengeringan 60 oC dapat dilihat pada Gambar 4.31. Berdasarkan pengaluran pada gambar tersebut, diperoleh persamaan hc = f (P) berikut: hc = -0.0107 (P) + 0.971

hc = -0.0107P + 0.971

0 0.2 0.4 0.6 0.8

0 10 20 30 40 50 60 70 80

Tekanan (cmHg)

hc

Gambar 4.31 Hubungan hc terhadap tekanan untuk cabe merah pada temperatur 60 oC

(17)

4.4.3 Penentuan Koefisien Perpindahan Panas Konveksi (hc) pada Daun Bawang

Nilai koefisien perpindahan panas konveksi (hc) untuk daun bawang pada berbagai kondisi dapat dilihat pada Tabel 4.9 berikut.

Tabel 4.9 Penentuan hc untuk daun bawang

Kondisi Nc

(kg/jam.m2)

λi

( kJ/kg)

tG

(oC)

ti

(oC)

hC

(kJ/jam.oC)

1 0.427 2328.09 60 71.56 0.859 2 0.387 2328.09 55 71.56 0.544 3 0.325 2328.09 50 71.56 0.352 4 0.325 2257 60 100 0.184

Keterangan :

- Kondisi 1 adalah kondisi pengeringan vakum (tekanan absolut 22 cmHg) dengan temperatur 60 oC

- Kondisi 2 adalah kondisi pengeringan vakum (tekanan absolut 22 cmHg) dengan temperatur 55 oC

- Kondisi 3 adalah kondisi pengeringan vakum (tekanan absolut 22 cmHg) dengan temperatur 50 oC

- Kondisi 4 adalah kondisi pengeringan atmosferik dengan temperatur 60 oC

Nilai hc untuk daun bawang pada berbagai temperatur dengan kondisi pengeringan vakum (absolut 22 cmHg) dapat dilihat pada Gambar 4.32. Berdasarkan pengaluran pada gambar tersebut, diperoleh persamaan hc = f (T) berikut: hc = 2 × 10-9 (T)4.898

(18)

hc = 2.10-9.T4.898

0 0.2 0.4 0.6 0.8 1

48 50 52 54 56 58 60 62

Temperatur (oC)

hc

Gambar 4.32 Hubungan hc terhadap temperatur untuk daun bawang pada tekanan absolut 22 cmHg

Nilai hc untuk daun bawang pada tekanan vakum dan atmosferik dengan temperatur pengeringan 60 oC dapat dilihat pada Gambar 4.33. Berdasarkan pengaluran pada gambar tersebut, diperoleh persamaan hc = f (P) berikut: hc = -0.0125 (P) + 1.135

hc = -0.0125 P + 1.1347

0 0.2 0.4 0.6 0.8 1

0 10 20 30 40 50 60 70 80

Tekanan (cmHg)

hc

Gambar 4.33 Hubungan hc terhadap tekanan untuk daun bawang pada temperatur 60 oC

(19)

4.4.4 Hubungan Koefisien Perpindahan Panas Konveksi (hc) dengan Temperatur Pengeringan pada Pengeringan Vakum

Nilai koefisien perpindahan panas konveksi (hc) pada variasi temperatur untuk berbagai sampel pada pengeringan vakum (tekanan absolut 22 cmHg) dapat dilihat pada Tabel 4.10 dan Gambar 4.34.

Tabel 4.10 Nilai hc tiap sampel pada tekanan absolut 22 cmHg Nilai hc (kJ/jam.oC)

Temperatur (oC)

Wortel Cabe merah Daun bawang

60 1.117 0.735 0.859

55 0.618 0.439 0.544

50 0.369 0.302 0.352

0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2

48 50 52 54 56 58 60 62

Temperatur (oC)

hc

Wortel Daun bawang Cabe merah

Gambar 4.34 Pengaruh temperatur terhadap hc untuk berbagai sampel pengeringan pada pengeringan vakum (tekanan absolut 22cmHg)

Berdasarkan pengaluran pada Gambar 4.34, diperoleh hubungan persamaan antara koefisien perpindahan panas konveksi (hc) dengan temperatur pengeringan yang dinyatakan dengan hc = a (T)b. Nilai a dan b untuk tiap sampel pengeringan ditunjukkan oleh Tabel 4.11.

(20)

Tabel 4.11 Nilai a dan b tiap sampel pengeringan Sampel a b

Wortel 2 × 10-11 6.059 Cabe merah 2 × 10-9 4.864 Daun bawang 2 × 10-9 4.898

Tabel 4.11 menunjukkan bahwa pada pengeringan vakum dengan tekanan absolut yang sama (22 cmHg), nilai koefisien perpindahan panas konveksi (hc) untuk cabe merah dan daun bawang memiliki kecenderungan yang sama terhadap temperatur pengeringan.

Namun, kecenderungan ini tidak dimiliki oleh wortel. Hal ini dapat disebabkan struktur dari wortel sangat berbeda apabila dibandingkan dengan struktur cabe merah dan daun bawang.

4.4.5 Hubungan Koefisien Perpindahan Panas Konveksi (hc) dengan Tekanan Pengeringan pada Temperatur Pengeringan 60 oC

Nilai koefisien perpindahan panas konveksi (hc) pada variasi tekanan untuk berbagai sampel pada temperatur pengeringan 60 oC dapat dilihat pada Tabel 4.12 dan Gambar 4.35.

Tabel 4.12 Nilai hc tiap sampel pada temperatur pengeringan 60 oC Nilai hc (kJ/jam.oC)

Tekanan (cmHg)

Wortel Cabe merah Daun bawang

22 1.117 0.735 0.859

Atmosferik 0.142 0.156 0.184

(21)

0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2

0 20 40 60 80

Tekanan (cmHg)

hc

Wortel Daun bawang Cabe merah

Gambar 4.35 Pengaruh tekanan terhadap hc untuk berbagai sampel pengeringan pada

temperatur pengeringan 60 oC

Berdasarkan pengaluran pada Gambar 4.35, diperoleh hubungan persamaan antara koefisien perpindahan panas konveksi (hc) dengan tekanan pengeringan yang dinyatakan dengan hc = c (P) + d. Nilai c dan d untuk tiap sampel pengeringan ditunjukkan oleh Tabel 4.13.

Tabel 4.13 Nilai c dan d sampel pengeringan Sampel c d

Wortel -0.0181 1.514 Cabe merah -0.0107 0.971

Daun bawang -0.0125 1.135

Tabel 4.13 menunjukkan bahwa pada temperatur pengeringan sebesar 60 oC, ketiga sampel memiliki nilai koefisien perpindahan panas konveksi (hc) yang berbeda pada variasi tekanan pengeringan.

Gambar

Gambar 4.13 Laju pengeringan konstan dan laju pengeringan menurun untuk                    wortel pada tekanan absolut 22 cmHg dan temperatur 60  o C
Gambar 4.15 Laju pengeringan konstan dan laju pengeringan menurun untuk                    wortel pada tekanan absolut 22 cmHg dan temperatur 50  o C
Tabel 4.1 Laju pengeringan konstan dan menurun pada wortel  Tekanan  Temperatur  ( o C)  Laju konstan (gram/menit.m 2 ) Laju menurun (gram/menit.m2 )  60  3.633  1.212 X – 0.046  Vakum  (22 cmHg)  55  2.426  0.662 X + 0.064  50  5.7  2.124 X – 0.441  Atmos
Gambar 4.18 Laju pengeringan konstan dan menurun untuk cabe merah                  pada tekanan absolut 22 cmHg dan temperatur 55  o C
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pemeliharaan tanaman pakcoy harus dilakukan dengan prosedur yang sudah diten- tukan seperti layaknya melakukan penyiraman pagi dan sore setiap hari, memberikan pupuk pada tanaman

Tantangan pengembangan sumber daya manusia yang paling penting dalam pariwisata pedesaan tampaknya membekali masyarakat lokal dengan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran

Hasil: Prosedur restrain yang diakukan di UPIP sebagian besar kurang sesuai dengan SOP yang telah ditetapkan oleh rumah sakit, diikat dalam waktu lebih dari 4 jam, Pelaksanaan

Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa: elemen-elemen brand equity terdiri dari brand awareness, brand association, brand perceived quality dan brand loyalty secara

(2) Dalam hal dana pendukung dari APBD Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum dianggarkan, maka Kabupaten/Kota dapat menganggarkan dana pendukung tersebut

Namun berdasarkan hasil penelitian menggunakan hukum pareto 80/20 dimana setiap pertanyaan dalam kuesioner di frekuensikan satu per satu maka diketahui bahwa pengetahuan pegawai

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kadar asiatikosida di dalam ekstrak etanol 70% pegagan, selain itu juga membandingkan jumlah kadar asiatikosida yang

Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui mengetahui profil dan manajemen kegiatan budidaya udang vaname sistem intensif di Kecamatan Sluke, mengetahui analisis usaha,