1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
Industri manufaktur merupakan jenis industri yang bergerak di bidang pengolahan bahan baku mentah menjadi produk setengah jadi maupun jadi.
Industri manufaktur memiliki peran dalam pertumbuhan ekonomi nasional.
Hingga tahun 2019, industri manufaktur masih menjadi sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia tertinggi.
Gambar 1.1
Sumber Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Menurut Lapangan Usaha tahun 2016-2019
Sumber: bps.go.id
Gambar 1.1 menjelaskan bahwa berdasarkan sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2016-2019, industri manufaktur selalu menjadi kontributor terbesar tiap tahunnya. Pada 2016, manufaktur menyumbang sebesar 0,92% terhadap pertumbuhan PDB sebesar 5,03%. Pada tahun selanjutnya,
0.92 0.92 0.91 0.8
0.54 0.59 0.66 0.61
0.51 0.67 0.61 0.58
0.42 0.47 0.36 0.49
2.62 2.42 2.63 2.54
2016 2017 2018 2019
Sumber Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB)
lainnya Infokom Kontruksi Perdagangan Industri Manufaktur
PDB
5.03 5.07 5.17 5.02
2
kontribusi manufaktur tidak mengalami perubahan, namun PDB di tahun 2017 mengalami pertumbuhan, menjadi 5,07%. Sedangkan dua tahun berikutnya, kontribusi industri manufaktur terhadap perekonomian Indonesia mengalami penurunan. Pada 2018, industri manufaktur berkontribusi sebesar 0,91% terhadap pertumbuhan PDB sebesar 5,17%. Lalu, di tahun 2019 manufaktur hanya berkontribusi sebesar 0,80% terhadap pertumbuhan PDB sebesar 5,02%.
Walaupun persentase kontribusi manufaktur terhadap PDB sejak 2018 menurun, namun industri ini masih menjadi kontributor utama. Sumber pertumbuhan terbesar selanjutnya yaitu lapangan usaha infokom, kontruksi, perdagangan, dan lapangan usaha lainya. Angka lapangan usaha lainya, didapatkan dari jumlah persentase beberapa lapangan usaha, seperti pertanian, transportasi, jasa keuangan dan lapangan usaha lainya, yang memiliki angka kontribusi lebih rendah (kemenperin.go.id).
Kontribusi manufaktur sebagai sumber pertumbuhan PDB cenderung fluktuatif, namun kontribusi industri manufaktur terhadap PDB nasional rata-rata masih 20%. Atas pencapaian tersebut, dalam acara Industrial Summit 2019, Menteri Perindustrian mengumumkan bahwa Indonesia menempati peringkat kelima berdasarkan negara G-20. Peringkat pertama ditempati oleh China dengan kontribusi manufaktur sebesar 29,3%, kemudian disusul oleh Korea Selatan (27,6%), Jepang (21%), Jerman (20,7%), dan peringkat kelima yaitu Indonesia dengan kontribusi sebesar 20% dengan rata-rata kontribusi manufaktur dunia saat ini yaitu sekitar 15,6%.
Sedangkan dari segi investasi, data kemenperin menunjukkan, jumlah realisasi investasi manufaktur periode 2015-semester I 2019 yaitu sebesar Rp1.173,5 Triliun. Artinya, minat investor terhadap perusahaan manufaktur masih tinggi. Salah satu realisasi investasi terlihat dalam program penumbuhan dan pengembangan smelter (fasilitas pengolahan hasil tambang), pada tahun 2019 terdapat 46 perusahaan yang menyumbang modal sebesar USD50,4 miliar.
Semakin banyak investor, maka semakin banyak pajak transaksi atas penjualan yang diterima perusahaan, sehingga akan mempengaruhi setoran pajak perusahaan kepada negara.
3 Gambar 1.2
Perbandingan Penerimaan Pajak Sektoral tahun 2016-2019
Sumber:kemenkeu.go.id
Gambar 1.2 menjelaskan perbandingan penerimaan pajak berdasarkan sektor. Industri manufaktur merupakan kontributor utama dalam penerimaan pajak negara tiap tahunnya. Besarnya kontribusi pada penerimaan pajak menandakan manufaktur patuh terhadap wajib pajak. Pada 2016, manufaktur berkontribusi sebesar 31,8% dan di tahun selanjutnya meningkat menjadi 32%. Walapun dalam dua tahun terakhir manufaktur mengalami penurunan setoran pajak, namun manufaktur masih menjadi penyumbang setoran pajak terbesar dengan kontribusi sebesar 30,00% di 2018 dan 29,70% di 2019. Penurunan terjadi karena sektor manufaktur berhubungan langsung dengan harga komoditas dan perdagangan nasional.
Manufaktur merupakan industri yang memiliki peran strategis, karena konsisten berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Selain itu, manufaktur juga merupakan tempat investasi yang banyak diminati investor.
Salah satu faktor perusahaan diminati banyak investor, dikarenakan perusahaan dipercaya mampu memberikan keuntungan yang besar bagi investor. Ketika perusahaan memberikan keuntungan yang besar, hal ini mengindikasikan bahwa profit yang dihasilkan perusahaan dalam keadaan baik. Semakin besar profit
31.80% 32%
30% 29.70%
0.00%
5.00%
10.00%
15.00%
20.00%
25.00%
30.00%
35.00%
2016 2017 2018 2019
Penerimaan Pajak Sektoral
Industri Manufaktur Perdagangan Jasa Keuangan
Kontruksi & Real Estate Pertambangan
4
perusahaan, maka informasi yang disajikan dalam laporan keuangan akan semakin banyak. Dengan banyaknya informasi yang dimiliki, maka perusahaan harus memastikan informasi yang disajikan sudah relevan dan berkualitas untuk memberikan good news kepada para pemangku kepentingan. Oleh karena itu, guna menjaga relevansi dan kualitas laporan keuangan tersebut, maka perlu dilakukan audit oleh auditor eksternal, untuk memastikan bahwa laporan keuangan yang disajikan reliable (dapat diandalkan). Semakin bertumbuh suatu sektor, maka audit fee yang ditawarkan auditor dalam engagement letter seharusnya semakin besar. Maka dari itu, peneliti mengambil sektor manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2016-2019 sebagai objek penelitian untuk mengetahui audit fee yang dibayarkan perusahaan kepada auditor eksternal.
1.2 Latar Belakang Penelitian
Laporan keuangan merupakan sumber informasi yang mencerminkan kondisi keuangan perusahaan. Informasi yang disajikan meliputi seluruh informasi aktivitas perusahaan yang dibutuhkan oleh pengguna, meliputi investor, kreditor, pemerintah, dan masyarakat. Laporan keuangan dapat dinilai efektif dan baik, apabila laporan yang dibuat memenuhi karakteristik kualitatif informasi.
Menurut Standar Akuntansi Keuangan (SAK), karakteristik laporan keuangan yaitu mudah dipahami (Understandabillity), relevan (Relevance), dapat diandalkan (Reliability), dan dapat dibandingkan (Comparability).
Dalam membuat laporan keuangan, perusahaan dituntut untuk menghasilkan laporan keuangan yang baik sesuai aturan yang berlaku. Informasi yang disediakan dalam laporan keuangan perusahaan akan digunakan pengguna dalam mengambil keputusan. Maka dari itu wajib bagi perusahaan untuk melakukan audit laporan keuangan setiap akhir periode. Auditing merupakan kegiatan mengumpulkan dan mengevaluasi bukti terkait informasi suatu entitas, yang dilakukan oleh seorang auditor eksternal (Pertiwi, 2019). Auditor eksternal berperan dalam meningkatkan mutu informasi dan transparansi di bidang keuangan, selain itu auditor dipercaya oleh masyarakat terkait opini laporan perusahaan yang dikeluarkan. Proses audit melewati beberapa tahapan, sehingga
5 memerlukan waktu lebih lama untuk menyelesaikannya. Maka dari itu, auditor eksternal berhak mendapatkan honorarium atas jasa yang sudah diberikan kepada klien (Cristansy dan Ardiati, 2018). Sesuai dengan pernyataan Iskak (1997) dalam Sinaga & Rachmawati (2018) auditor eksternal termasuk pihak profesional yang memberikan jasa audit, sehingga perusahaan berkewajiban memberikan fee setelah mendapatkan jasa. Biaya yang diterima auditor eksternal setelah memberikan jasa pemeriksaan laporan keuangan klien disebut audit fee.
Institut Akuntan Publik Indonesia yang selanjutnya disebut IAPI, mengeluarkan Surat Ketetapan Ketua Umum No. 24/IAPI/VII/2008 terkait imbalan jasa audit, kemudian direvisi menjadi Peraturan Pengurus Nomor 2 Tahun 2016 tentang Penentuan Imbalan Jasa Audit Laporan Keuangan. Surat ketetapan dibuat sebagai acuan bagi seluruh anggota IAPI yang melakukan praktik akuntan publik. Tujuannya agar Kantor Akuntan Publik (KAP) dapat menentukan besar audit fee yang wajar dan pantas untuk diterima setelah memberikan jasa profesionalitas. Diperlukan bukti dari setiap perikatan audit, proses penghitungan dan penentuan honorarium jasa antara auditor dan klien.
Maka dari itu seluruh aktivitas dan keputusan wajib di dokumentasikan dan menjadi bagian dari dokumentasi audit (Sinaga dan Rachmawati, 2018).
Malaysia merupakan salah satu negara yang sudah mempunyai standar minimum audit fee. Pada 2010, Malaysia Institute of Accountants (MIA) menerbitkan Recommended Practice Guide 7 (RPG 7) berisi penentuan audit fee yang pantas diterima oleh auditor. Peraturan tersebut menyebutkan, penentuan penagihan audit fee yaitu berdasarkan total aset atau perputaran bruto pada laporan keuangan, kemudian dikalikan dengan persentase koefisien yang sudah di tetapkan dalam RPG 7. Audit fee dengan nilai kurang dari Ringgit Malaysia (RM) 800 dianggap tidak realistis (MIA, 2010). Audit fee sudah menjadi komponen biaya yang dicantumkan pada Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain pada perusahaan terbuka di Malaysia.
Sedangkan di Indonesia, penentuan penagihan audit fee berdasarkan perhitungan jumlah jam kerja dikalikan dengan besar nilai imbalan jasa audit per jam yang tercantum dalam surat ketetapan IAPI. Tidak semua perusahaan di
6
Indonesia mencantumkan audit fee dalam laporan tahunan, karena bersifat Voluntary Disclosure. Dengan demikian, pada beberapa laporan keuangan
perusahaan, audit fee digabungkan dengan biaya professional lainya dalam akun professional fee (Hasan, 2017). Walaupun IAPI sudah mengeluarkan surat
ketetapan, namun sampai saat ini belum ada aturan baku yang mengatur besar audit fee yang wajar dan pantas diterima oleh auditor atas jasa yang diberikan.
Penentuan audit fee di Indonesia masih berdasarkan hasil negosiasi antara auditor dan auditee. Sedangkan, penetapan audit fee merupakan suatu hal yang krusial, tidak diperkenankan untuk menetapan audit fee yang terlalu tinggi ataupun terlalu rendah.
Tabel 1.1 Perubahan Audit Fee di Perusahaan Manufaktur
Nama Perusahaan Kode Perusahaan Tahun Audit Fee
PT. Semen Indonesia
Tbk SMGR
2016 Rp4.550.765.000 2017 Rp6.726.750.000 2018 Rp7.215.000.000 2019 Rp6.477.250.000
PT. Prima Alloy Steel
Universal PRAS
2016 Rp150.000.000
2017 Rp130.000.000
2018 Rp80.000.000
2019 Rp90.000.000
Sumber: Data yang telah diolah
Tabel 1.1 menunjukkan perubahan audit fee pada PT. Semen Indonesia Tbk dan PT Prima Alloy Steel Universal pada tahun 2016-2019. Terlihat pada tabel, bahwa kasus yang terjadi pada tahun 2016-2018, audit fee yang dikeluarkan PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk mengalami kenaikan biaya tiap tahunnya.
Namun di 2019 audit fee perusahaan mengalami penurunan yang cukup drastis menjadi Rp6.477.250.000 dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp7.215.000.000. Dalam empat tahun tersebut perusahaan hanya melakukan rotasi KAP pada tahun 2019, dan rutin menggunakan jasa audit KAP Big-4.
Berbanding terbalik dengan PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk, bahwa 2016-2018 audit fee yang dikeluarkan PT. Prima Alloy Steel Universal tiap tahunnya mengalami penurunan. Biaya terendah yaitu pada 2018 sebesar Rp80.000.000 kemudian tahun selanjutnya biaya mengalami kenaikan. Dalam empat tahun tersebut PT. Prima Alloy Steel Universal selalu melakukan rotasi KAP dan rutin menggunakan jasa audit KAP non Big-4.
7 Berdasarkan tabel 1.1, dalam waktu empat tahun berturut-turut, audit fee kedua perusahaan mengalami perubahan tiap tahunnya baik meningkat ataupun menurun. Audit fee yang berubah-ubah disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya karena perusahaan mengganti auditor secara voluntary. Setiap pergantian auditor akan menimbulkan biaya baru baik lebih rendah ataupun lebih tinggi dari biaya yang terdahulu. Penurunan audit fee yang signifikan dari tahun sebelumnya, dikhawatirkan karena terdapat pemotongan biaya audit disaat perikatan pertama kali (New Engagement). Sedangkan, dalam peraturan IAPI disebutkan, imbalan jasa atas pekerjaan pertama yang diberikan kepada klien tidak boleh didiskon dan tidak diperbolehkan bagi auditor eksternal menjual jasa dengan harga rendah karena, rendahnya audit fee dapat merusak citra profesi auditor. Di sisi lain, kenaikan audit fee yang signifikan juga perlu diwaspadai, karena dapat mempengaruhi independensi auditor. Apabila auditor menerima fee yang tinggi, dikhawatirkan auditor memberikan toleransi terhadap pelanggaran yang ditemukan dalam laporan keuangan yang dibuat oleh manajemen. Maka dari itu, auditor berhak mendapatkan fee yang pantas dan wajar, sesuai dengan waktu dan kemampuan yang diberikan. Penentuan audit fee yang wajar bertujuan untuk mencegah terjadinya perang tarif yang dapat merusak kredibilitas akuntan publik.
Terdapat hubungan antara audit fee dengan Agency theory yang diungkapkan oleh Jensen & Meckling (1976), bahwa asimetri informasi dapat diminimalisir dengan cara melakukan pengawasan yang dilakukan oleh auditor eksternal, untuk menyelaraskan kepentingan principal dan agent. Pengelolaan perusahaan perlu diawasi dan dikendalikan dengan aturan yang berlaku. Kegiatan pengawasan menimbulkan adanya agency cost. Agency cost merupakan biaya yang dikeluarkan principal untuk melakukan pengawasan terhadap kegiatan agent. Agency cost tersebut adalah audit fee (Chandra, 2015). Terdapat faktor-
faktor yang dapat mempengaruhi besar audit fee, diantaranya:
Faktor pertama yaitu, ukuran KAP. Cristansy & Ardiati (2018) menjelaskan KAP merupakan bentuk organisasi yang sudah mendapatkan izin untuk memberikan jasa dalam praktik akuntan publik. Ukuran KAP dikategorikan menjadi KAP big-four dan KAP non big-four. Dalam mengaudit laporan
8
keuangan, perusahaan cenderung memilih jasa KAP big-four. Dikarenakan auditor yang berafiliasi dengan KAP big four dipercaya memiliki kehati-hatian yang lebih dalam mendeteksi kesalahan, efektif, efisien, jam terbang lebih banyak dan memiliki kemampuan lebih baik. Sehingga, audit fee yang dibayarkan perusahaan lebih besar dibandingkan menggunakan KAP non big-four (Tat &
Murdiawati, 2020). Sinaga & Rachmawati (2018) dalam penelitiannya menyatakan bahwa ukuran KAP memiliki pengaruh positif terhadap audit fee.
Sedangkan hasil penelitian Rusmanto & Waworuntu (2015) mengatakan bahwa tidak terdapat pengaruh.
Faktor selanjutnya, yaitu profitabilitas. Menurut Kasmir (2019), profitabilitas merupakan rasio yang digunakan manajemen untuk menilai kemampuan suatu perusahaan dalam mencari keuntungan. Perusahaan yang memiliki tingkat profitabilias tinggi cenderung akan membayar audit fee lebih tinggi. Dikarenakan, perusahaan dengan tingkat profitabilitas tinggi diperlukan pengujian validitas dan pengakuan pendapatan maupun biaya. Sehingga waktu yang dibutuhkan dalam proses audit lebih banyak dan berdampak pada audit fee (Sitompul, 2019). Hasil penelitian Kikhia (2015) menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap biaya audit. Sedangkan hasil penelitian Tat & Murdiawati (2020) menyatakan profitabilitas tidak memiliki pengaruh terhadap audit fee.
Faktor ketiga, yaitu risiko perusahaan. Risiko perusahaan timbul, ketika perusahaan memiliki tingkat solvabilitas yang tinggi. Semakin tinggi tingkat solvabilitas, maka semakin besar risiko perusahaan (Kasmir, 2019). Apabila suatu perusahaan memiliki risiko perusahaan yang besar, maka dibutuhkan informasi dan prosedur audit tambahan. Sehingga waktu yang diperlukan auditor untuk menyelesaikan tugasnya akan bertambah dan akan berdampak pada audit fee yang harus dibayarkan oleh perusahaan (Chandra, 2015). Hasil penelitian Sanusi &
Purwanto (2017) menunjukkan terdapat pengaruh positif terhadap biaya audit eksternal. Sedangkan hasil penelitian Chandra (2015), risiko perusahaan tidak memiliki pengaruh terhadap audit fee.
9 Berdasarkan pemaparan diatas, sudah banyak peneliti yang mengkaji faktor ukuran KAP, profitabilitas dan leverage, namun hasil penelitian terdahulu masih menunjukkan inkonsistensi. Sehingga masih relevan untuk dilakukan penelitian pada faktor-faktor tersebut. Peneliti memutuskan untuk menggunakan faktor tersebut dalam penelitian, dengan judul penelitian “Pengaruh Ukuran Kantor Akuntan Publik, Profitabilitas dan Risiko Perusahaan terhadap Audit Fee (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia tahun 2016-2019)”.
1.3 Perumusan Masalah
Auditor eksternal memiliki tanggung jawab dalam mengaudit dan memberikan opini laporan keuangan suatu perusahaan. Setelah memberikan jasa kepada klien, auditor eksternal berhak menerima fee. Hingga saat ini, Indonesia belum mempunyai kebijakan terkait audit fee yang wajar dan pantas diterima oleh auditor eksternal atas jasa yang di berikan. Sampai saat ini, auditor eksternal menerima audit fee berdasarkan hasil negosiasi antara auditor dan auditee yang mengacu pada Peraturan Pengurus Nomor 2 Tahun 2016 tentang Penentuan Imbalan Jasa Audit Laporan Keuangan. Sehingga, audit fee yang dibayarkan oleh perusahaan di Indonesia berubah-ubah tiap tahunnya, seperti yang terjadi pada PT.
Semen Indonesia Tbk dan PT. Prima Alloy Steel Universal. Naik dan turunnya audit fee yang signifikan dari tahun ke tahun, dikhawatirkan akan mempengaruhi
kredibilitas auditor. Bahkan rendahnya audit fee, dapat merusak citra profesi auditor. Maka dari itu, diperlukan standar minimum audit fee yang wajar untuk mempertahankan kualitas layanan yang diberikan kepada klien dan mencegah terjadinya perang tarif antar KAP untuk mendapatkan klien. Selain itu, audit fee belum tersajikan secara eksplisit dalam Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain perusahaan. Hal ini dikarenakan audit fee bersifat Voluntary Disclosure, beberapa perusahaan memasukan audit fee dalam professional fee.
Berdasarkan penelitian terdahulu, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi besar audit fee dan masih terjadi inkonsistensi pada setiap faktornya. Maka dari itu, peneliti melakukan penelitian terkait pengaruh ukuran
10
Kantor Akuntan Publik, profitabilitas, dan risiko perusahaan terhadap audit fee pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016-2019.
Berdasarkan pemaparan latar belakang dan perumusan masalah, maka pertanyaan terkait penelitian yang akan diteliti meliputi:
1) Bagaimana ukuran Kantor Akuntan Publik, profitabilitas, risiko perusahaan dan audit fee pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016-2019?
2) Apakah ukuran Kantor Akuntan Publik, profitabilitas dan risiko perusahaan berpengaruh secara simultan terhadap audit fee pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016-2019?
3) Apakah ukuran Kantor Akuntan Publik berpengaruh parsial terhadap audit fee pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016-2019?
4) Apakah profitabilitas berpengaruh parsial terhadap audit fee pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016-2019?
5) Apakah pengaruh risiko perusahaan berpengaruh parsial terhadap audit fee pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016-2019?
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan penjelasan rumusan masalah, penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui ukuran Kantor Akuntan Publik, profitabilitas, risiko perusahaan dan audit fee pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016-2019.
2. Untuk mengetahui pengaruh secara simultan pengaruh ukuran Kantor Akuntan Publik, profitabilitas, dan risiko perusahaan terhadap audit fee pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016-2019.
3. Untuk mengetahui pengaruh ukuran Kantor Akuntan Publik terhadap audit fee pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016-2019
4. Untuk mengetahui pengaruh profitabilitas terhadap audit fee pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016-2019
5. Untuk mengetahui pengaruh risiko perusahaan terhadap audit fee pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2016-2019
11 1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Aspek Teoritis
1. Diharapkan dengan adanya penelitian ini, peneliti dapat menambah wawasan terkait faktor yang dapat mempengaruhi audit fee pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2016-2019.
2. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan bukti empiris tentang ukuran Kantor Akuntan Publik, profitabilitas, dan risiko perusahaan terhadap audit fee pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
3. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya.
1.5.2 Aspek Praktis
1. Bagi Kantor Akuntan Publik (KAP)
Sebagai informasi tambahan bagi auditor eksternal atau KAP, untuk menetapkan audit fee yang akan diterima dari klien.
2. Bagi Perusahaan
Sebagai informasi tambahan bagi perusahaan, untuk menentukan audit fee yang akan dibayarkan kepada auditor eksternal atau KAP.
3. Bagi Regulator
Dapat dijadikan referensi tambahan untuk mempertegas aturan terkait pengungkapan atau pencantuman audit fee yang wajar untuk diterima auditor eksternal.
1.6 Sistematika Penulisan Tugas Akhir
Sistematika yang digunakan pada penelitian ini meliputi lima bagian:
BAB I PENDAHULUAN
Bab I berisi pemaparan dari gambaran umum objek penelitian, latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan tugas akhir.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab II berisi pemaparan dari teori dan penelitian terdahulu, kerangka pemikiran, dan hipotesis penelitian.
12
BAB III METODE PENELITIAN
Bab III berisi pemaparan Jenis penelitian, variabel apa saja yang digunakan dalam penelitian, tahapan penelitian, populasi dan sampel, pengumpulan data dan sumber data, uji validitas dan reliabilitas, dan teknik analisis data.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab IV berisi pembahasan hasil penelitian secara sistematis sesuai dengan perumusan masalah dan tujuan penelitian. Terbagi menjadi dua bagian, meliputi penyajian hasil penelitian dan penyajian pembahasan atau analisis hasil penelitian.
Setiap aspek dimulai dari hasil analisis data, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Pembahasan disajikan dalam bentuk perbandingan antara hasil dengan penelitian sebelumnya atau landasan teoritis yang relevan.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Bab V berisi jawaban dari pertanyaan penelitian dan saran yang diberikan peneliti untuk peneliti selanjutnya.