• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENTAL ACCOUNTING DALAM PERPAJAKAN (Studi pada Kota Pati Jawa Tengah)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MENTAL ACCOUNTING DALAM PERPAJAKAN (Studi pada Kota Pati Jawa Tengah)"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

i

MENTAL ACCOUNTING DALAM PERPAJAKAN (Studi pada Kota Pati Jawa Tengah)

Oleh :

OKTAVIANA ANGGUN PERMATASARI NIM : 232013077

TUGAS AKHIR

Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Guna Memenuhi Sebagian dari

Persyaratan-Persyaratan untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi

FAKULTAS : EKONOMI DAN BISNIS PROGRAM STUDI : AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA 2018

(2)

16 PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara berkembang yang memiliki anggaran pendapatan bertumpu pada sektor perpajakan. Menurut Kementrian Keuangan komposisi pajak dalam pendapatan negara tergolong paling besar dibanding pendapatan dari sektor lain, yaitu 85,6% dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 (www.kemenkeu.go.id). Oleh karena itu, perkembangan dan pembangunan negara sangat bergantung pada pemasukan dari sektor perpajakan dan menuntut masyarakat untuk berpartisipasi dalam membayar pajak. Berbagai peraturan dikeluarkan untuk mencapai anggaran penerimaan negara melalui pajak. Diatmika (2013) menunjukkan adanya celah kebocoran dari permainan oknum petugas pajak dengan pengusaha dan konsultan, masih belum menunjukkan akuntabilitas dan transparasi.

Pemerintah dalam rangka meningkatkan kontribusi masyarakat dalam pembangunan mengeluarkan peraturan yang mulai berlaku tanggal 1 Juli 2013 yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013. Pokok pengaturan dalam PP Nomor 46 Tahun 2013 adalah pengenaan PPh dengan tarif sebesar 1% dari peredaran bruto setiap bulan atas penghasilan dari usaha Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tidak melebihi Rp 4.8 miliar dalam satu tahun. PP Nomor 46 tahun 2013 sejatinya mengandung tiga tujuan utama kemudahan tertib administrasi, transparasi dan peningkatan kontribusi masyarakat dalam pembangunan. Meski tidak secara eksplisit dinyatakan dalam PP 46 tahun 2013, sulit dipungkiri bahwa yang menjadi target pemajakan dalam ketentuan perpajakan baru ini adalah UMKM. Hal ini terlihat dari batasan peredaran usaha Rp4,8 miliar dalam PP tersebut yang masih dalam lingkup pengertian UMKM (Diatmika, 2013). Tambunan (2013) juga menjelaskan batasan peredaran usaha Rp 4,8 miliar masih masuk dalam pengertian UMKM sesuai dengan UU Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), yaitu suatu usaha yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan usaha dengan peredaran maksimal Rp 50 miliar dalam satu tahun.

(3)

17

Keunggulan dari peraturan PP No.46 Tahun 2013 ini adalah kemudahan perhitungan pajak, karena didasarkan atas omset penjualan. Pajak dikenakan dengan menggunakan tarif 1% dari omset. Prinsip kesederhanaan ini diterapkan mengingat karakteristik UMKM di Indonesia yang belum baik dalam menyusun pembukuannya. Meskipun sudah dibuat dengan sederhana, pembayaran pajak seringkali dirasa sebagai beban. Penerapan PP Nomor 46 Tahun 2013 menimbulkan kebingungan bagi wajib pajak pelaku UMKM, sebab belum semua wajib pajak pelaku UKM memiliki penghasilan yang sama setiap bulannya.

Wicaksono (2016) menunjukkan pelaku UMKM memiliki penghasilan yang tidak selalu sama sehingga dengan adanya PP Nomor 46 Tahun 2013 ini dirasa memberatkan pelaku UMKM. Masih banyak UMKM yang belum mapan, yang terbebani pajak semacam itu terlebih dengan adanya sanksi denda atas keterlambatan pembayaran pajak sebesar 2% menambah beban bagi pelaku UMKM itu sendiri.

Penelitian Ningrum (2016) menyatakan bahwa pelaksanaan PP No. 46 Tahun 2013 berdampak kepada kepatuhan pajak namun masih ada kendala dalam implementasinya antara lain kurangnya pengetahuan dalam pengelolaan pembukuan keuangan untuk Wajib Pajak, ketidaktahuan Wajib Pajak dalam melakukan pembukuan ini biasanya terjadi pada UMKM yang memang kurang paham mengenai pembukuan dan menghitung, menyetor dan melaporkan pajak terhutangnya. Diduga, ketidakpatuhan UMKM terhadap aturan tersebut adalah bahwa sebagian besar UMKM tidak ada pemisahan rekening antara untuk usaha dan untuk kebutuhan pribadi, tidak memiliki perencanaan keuangan yang matang, dan tidak memiliki laporan keuangan. Penelitian Kaludia, Riwayanti dan Aminatunnisa (2017) mencoba menggali realitas kepatuhan wajib pajak pemilik UMKM. Hasil penelitian menunjukkan ketidakpatuhan wajib pajak UMKM disebabkan karena mereka menafsirkan bahwa pembayaran pajak dapat diganti melalui penerapan zakat, serta sosialisasi perpajakan belum maksimal sehingga ada ketidakpercayaan dari UMKM untuk membayar pajak. Lain halnya dengan penelitian Rohman, dkk (2011) yang mengkaji kapabilitas pembukuan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dalam mendukung perilaku kepatuhan

(4)

18

wajib pajak. Hasil penelitian menunjukkan pembukuan yang baik akan memberi kemudahan bagi wajib pajak pelaku UMKM dalam membuat keputusan mengenai berapa pajak yang akan mereka bayar, walaupun penyelenggaraan pembukuan tidak semata-mata untuk perhitungan pajak saja, namun keinginan melihat kinerja operasi serta besarnya keuntungan yang mereka peroleh.

Sumber dimana memperoleh uang ternyata mempengaruhi dalam penggunaan dan pemanfaatannya. Damayanti dan Supramono (2011) menunjukkan secara mental, seseorang cenderung memilah pendapatan dan pengeluaran dalam pos-pos tertentu. Kondisi tersebut dikenal sebagai mental accounting. Thaler dan Shefrin (1981) mengemukakan bahwa istilah “mental acounting” adalah sebuah fenomena perilaku ekonomi bilamana seseorang menggolongkan penerimaan dan pengeluaran berdasarkan pos-pos tertentu. Dalam penelitian ini mental accounting pelaku UMKM dilihat dari sejauh mana pelaku UKM tersebut mengelompokkan penerimaan dari hasil penjualan dan pengeluaran, khususnya untuk pembayaran pajak karena mental accounting penting bagi perencanaan keuangan dalam UKM.

Melihat fenomena di atas, penerapan PP Nomor 46 Tahun 2013 dan mental accounting pelaku UKM dalam memilah penerimaan dan pengeluaran kas menjadi menarik untuk diteliti karena melihat dalam praktiknya wajib pajak orang pribadi pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) belum familiar dalam penerapan aturan baru tersebut. Pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) menjadi fokus penelitian ini, dengan pertimbangan penghasilan yang didapat oleh para pelaku UKM tidak selalu sama pada setiap bulannya.

Penelitian tentang mental accounting sebelumnya pernah dilakukan oleh Damayanti dan Supramono (2011) tentang perlakuan pendapatan dan alokasi pemanfaat pendapatan ekstra yang berasal dari gaji ke 13 dan tunjangan sertifikasi guru. Kemudian Marteniawati (2012) yang meneliti mental accounting mahasiswa pada perlakuan uang saku dan uang hasil kerja. Penelitian di atas hanya menunjukkan pembahasan mental accounting pada rumah tangga dan belum ada penelitian tentang mental accounting pada pembayaran pajak.

Penelitian dilakukan untuk menganalisis bagaimana mental accounting pelaku UKM di Kota Pati dalam melakukan kewajiban perpajakan, dilihat dari

(5)

19

cara perhitungan pajaknya. Hasil penelitian ini diharapkan untuk memberi pengetahuan pada pelaku UKM tentang bagaimana cara mengelola keuangan agar efektif dan efisien dalam penggunaannya selain itu dapat menghitung pajak yang benar sesuai dengan peraturan yang ada, dan agar kantor pajak setempat lebih baik lagi dalam melakukan sosialisasi tentang peraturan pajak UKM serta menjadi pengembangan literatur di bidang akuntansi khususnya mental accounting.

(6)

20 TINJAUAN PUSTAKA

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46 Tahun 2013

Sebagian besar pelaku UKM tentunya sudah mengetahui adanya peraturan perpajakan yang berlaku untuk seluruh UMKM yaitu PP Nomor 46 Tahun 2013 dimana dengan tujuan dikeluarkannya peraturan tersebut adalah memberi kemudahan untuk masyarakat dalam melaksanakan kewajiban perpajakan, meningkatkan pengetahuan perpajakan bagi masyarakat, dan terciptanya kondisi social dalam memenuhi kewajiban perpajakan. PP Nomor 46 Tahun 2013 sendiri merupakan pajak penghasilan yang bersifat final yaitu dengan tarif 1% dari peredaran bruto dalam satu tahun. Menurut pemerintah, peraturan tersebut sudah disederhanakan sehingga dengan harapan pelaku UKM dapat membayar pajak secara tepat waktu, patuh dalam membayar pajak dan dapat meningkatkan penerimaan sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

PP Nomor 46 Tahun 2013 ditetapkan untuk memberi kesempatan pada masyarakat berkontribusi dalam penyelenggaraan negara dan memberi pelatihan kepada masyarakat agar tertib administrasi dan transparasi. Meskipun pemahaman wajib pajak masih terbatas, namun sebagian wajib pajak merasa tidak kesulitan dalam mematuhi peraturan tersebut sehingga banyak pro dan kontra karena adanya peraturan ini (Susilo dan Betri 2013).

Pajak Penghasilan berdasarkan ketentuan PP Nomor 46 Tahun 2013 adalah penghasilan yang diperoleh wajib pajak dengan peredaran bruto kurang dari Rp 4,8 miliar dalam satu tahun pajak dengan tarif 1% dari peredaran bruto tersebut. Peredaran bruto tersebut dimaksudkan peredaran bruto dari semua gerai, counter, atau outlet dan sejenisnya. Tetapi tidak semua wajib pajak baik orang pribadi maupun badan termasuk Badan Usaha Tetap dapat menjadi bagian wajib pajak berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.

Namun menurut Brodjonegoro (2015) upaya pemerintah mendorong penerimaan pajak dan kepatuhan wajib pajak UMKM melalui penerapan tarif PPh final sebesar 1 persen ternyata tidak mencatatkan hasil signifikan, hingga

(7)

21

pertengahan 2014, potensi penerimaan yang baru tergarap sekitar 7 persen, adapun total penerimaan pajak dari UMKM sejak Juli 2013 hingga Juni 2014 hanya sekitar Rp 2 triliun, angka tersebut jauh dari potensinya sekitar Rp 30 triliun, dengan asumsi kontribusi UMKM terhadap PDB sebesar Rp 3.000 triliun.

Sedangkan Ningrum (2016) menyatakan bahwa pelaksanaan PP No. 46 Tahun 2013 berdampak kepada kepatuhan pajak namun masih ada kendala dalam implementasinya antara lain kurangnya pengetahuan dalam pengelolaan pembukuan keuangan untuk Wajib Pajak, ketidaktahuan Wajib Pajak dalam melakukan pembukuan ini biasanya terjadi pada UMKM yang memang kurang paham mengenai pembukuan dan menghitung, menyetor dan melaporkan pajak terhutangnya.

Mental Accounting

Seperti yang sudah dijelaskan pada latar belakang masalah, bahwa Mental accounting adalah perilaku ekonomi dimana seseorang menggolongkan masukan dan keluaran finansial yang dilakukan berdasarkan pos-pos seperti halnya yang ada pada akuntansi (Benny,2009).

Mental accounting terdiri dari tahap mengkode, mengktegorikan, dan mengevaluasi. Menurut Cheema dan Soman (2006) mental accounting adalah perilaku individu maupun entitas yang berhubungan dengan mengkode/mengidentifikasi, membuat kategori rekening, dan mengevaluasi aktivitas finansialnya. Gou (2013) melihat suatu perilaku mental accounting yaitu serangkaian operasi kognitif yang digunakan untuk mengorganisasi, mengevaluasi, dan melacak aktivitas keuangannya.

Tahap pertama yaitu mengkode. Thaler dan Shefrin (1981) serta Thaler (1990) mengatakan bahwa tahap mengkode pada mental accounting terlihat dari pemikiran seseorang ataupun suatu entitas memiliki kecenderungan untuk memposkan kebutuhan. Contohnya pos A untuk aset, pos B untuk laba usaha, dan pos lainnya. Kedua, tahap mengkategori terlihat dari perilaku memilah pos apa yang dipilih untuk memenuhi suatu kebutuhan tertentu. Yang terakhir pada tahap

(8)

22

mengevaluasi, mental accounting juga memicu seorang untuk membedakan dari mana uang itu berasal serta mempengaruhi penggunaannya. Pemisahan kebutuhan ke dalam pos-pos inilah yang memungkinkan timbulnya mental accounting yang mengakibatkan bias atau kecenderungan salah prediksi atau error. Purnomo (2009) mental accounting menunjukkan konsekuensi yang lebih serius atas perilaku pengambilan keputusan.

Fenomena mental accounting yang lain yaitu ada kalanya seseorang merasa sudah berusaha berhemat berbagai jenis pengeluaran dengan cara tidak membeli banyak hal, tetapi disisi lain tidak berhemat untuk jenis pengeluaran tertentu, misalnya untuk kepentingan memuaskan hobynya meskipun mungkin dari frekuensi pembeliannya relatif jarang tetapi dari segi jumlahnya relatif besar.

Sebaliknya juga dapat terjadi seseorang melakukan penghematan di pos pengeluran yang besar saja sehingga menganggap pos-pos pengeluaran kecil tidak ada artinya. Padahal ketika melakukan pembayaran-pembayaran kecil dan rutin seringkali jika tidak disadari dan dikelola dengan baik akan mengarah pada akumulasi pengeluaran yang besar sehingga tanpa disadari akan mengeluh bahwa dirinya bukanlah pemboros (Supramono dan Damayanti 2013).

Mental accounting dalam Perpajakan

Seperti penelitian yang sebelumnya, tentang mental accounting keputusan hutang versus tabungan, bahwa UKM masih belum melakukan pembukuan sehingga mereka masih merasa kesulitan untuk mengatur keuangan mereka.

Ditambah lagi, bagaimana cara mereka memperbesar usahanya, apakah menggunakan dana sendiri atau melakukan peminjaman dari bank dengan kredit lunak yang diberikan pemerintah (Luhsasi 2015).

Dari penelitian sebelumnya, bahwa UKM belum melakukan pembukuan sesuai dengan standart akuntansi. Terkait dengan sikap mental accounting, bagaimana seseorang memposkan mana yang menjadi pendapatan dan pengeluaran finansial, maka akan menyulitkan UKM itu sendiri dalam mengatur keuangan, sehingga dapat menyebabkan ketidakpatuhan terhadap pajak.

(9)

23

Meskipun demikian, mental accounting merupakan perilaku irasional yang dapat menyebabkan bias dalam pengambilan keputusan. Namun hal ini bergantung pada bagaimana sikap kita terhadap pengelolaan uang. Jika kita adalah orang yang sangat rasional, kita akan dapat mengelola uang kita dengan efektif untuk setiap kategorinya. Namun jika kita tidak selalu rasional, optimalisasi mental accounting menjadi sangat penting dalam manajemen keuangan.

UKM umumnya masih melakukan pencatatan atas transaksi yang dilakukan menyangkut jumlah barang yang masuk (dibeli) dan yang keluar (dijual).

Sehingga butuh waktu yang tidak sebentar untuk menghitung pendapatan bruto maupun netto, belum lagi keakuratannya. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa UKM kurang memahami akan pentingnya pembukuan. Padahal pembukuan sebagai alat untuk mengetahui perkembangan usaha melalui laporan keuangan dan juga sebagai sumber data untuk menghitung pajak. Pertimbangan pemerintah atas pengenaan PPh dengan tarif 1% dari peredaran usaha tiap bulannya dan bersifat final terhadap UMKM sebagaimana yang tercantum dalam penjelasan umum PP No.46 Tahun 2013 adalah kesederhanaan dalam pemungutan perpajakan. Namun salah satu alasan ketidak patuhan dalam membayar pajak itu sendiri adalah karena tidak adanya pembukuan yang jelas dari wajib pajak UKM.

Mental accounting dalam perpajakan bagi pelaku UKM di lihat dari bagaimana cara mereka memisahkan penghasilan usaha (hasil penjualan) dengan uang pribadi, darimana pelaku UKM mengalokasikan dana untuk membayar pajak, serta apakah penghasilan usaha (hasil penjualan) yang didapat dialokasikan pada pos-pos kebutuhan tertentu. Selain itu, mental accounting pelaku UKM juga melihat bagaimana cara perhitungan pajak yang dilakukan pelaku UKM, apakah hanya sebatas perkiraan atau estimasi, atau dengan perhitungan 1 % dari total omset perbulan.

(10)

24 METODA PENELITIAN

Untuk kemudahan akses memperoleh data maka yang menjadi populasi penelitian ini adalah seluruh pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Pati yang merupakan Binaan Dinas Koperasi dan UMKM Kota Pati per triwulan I Tahun 2017 sebanyak 1389 pelaku usaha, dengan jumlah pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) 167 orang. Peneliti akan menganalisis bagaimana perilaku mental accounting UKM terhadap perpajakan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif sebagai penelitian berbentuk kata, skema dan gambar untuk mendeskripsikan objek tertentu (Sugiyono 2013).

Teknik pengambilan sampel ini adalah purposive sampling dengan kriteria atau karakterisik tertentu. Peneliti menjumpai secara langsung responden pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) di Kota Pati yang sudah pernah membayar pajak. Perhitungan sampel penelitian menggunakan rumus Slovin dengan rumus sebagai berikut (Sanusi 2013):

n = N 1 + Ne 2

= 167 = 167 = 167 = 62.5 = 63 1+167(0.10) 2 1+1.67 2.67

Keterangan :

n : ukuran sampel

N : ukuran seluruh populasi

e : toleransi terjadinya ketidaktelitian sebesar 10%

Metode pengumpulan data penelitian dilakukan dengan cara membagikan kuesioner kepada pelaku UKM di Kota Pati. Menurut Sugiyono (2013), kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan memberi sejumlah pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawab. Data penelitian menggunakan data primer dengan pertanyaan terbuka pada responden serta memberikan kesempatan pada responden untuk memberikan pendapat.

(11)

25 Tabel 1

Variabel, Definisi Operasional dan Indikator Empirik Penelitian Variabel Definisi Operasional Indikator PP No.46 tahun 2013 Pajak atas penghasilan

dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu, dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final 1%

(satu persen) dari peredaran bruto yang tidak melebihi Rp 4,8 milyar dalam satu tahun pajak

 Sudah atau belum membayar pajak

 Mengetahui atau tidak peraturan PP Nomor 46 Tahun 2013

 Pengetahuan PP Nomor 46 Tahun 2013

 Sumber informasi tentang PP No. 46 Tahun 2013

 Jenis pajak yang dibayarkan

 Cara perhitungan pajak

 Periode pembayaran pajak

Pembukuan  Sudah melakukan

pembukuan atau belum

 Transaksi dalam pembukuan

 Periode pembukuan

 Yang melakukan pembukuan

Mental Accounting Suatu rangkaian operasi kognitif yang digunakan

individu maupun

kelompok dalam

mengkode, membuat kategori dan mengevaluasi aktivitas finansialnya.

(Thaler 1999)

 Sumber membayar pajak

 Yang melakukan perhitungan

 Penggunaan penghasilan usaha

Teknik Analisis

Data yang diperoleh akan diolah dan disajikan dalam bentuk perhitungan tabel sederhana dan crosstabulation SPSS. Penelitian ini akan disajikan dalam bentuk deskriptif untuk melihat gambaran dari hasil kuesioner yang diberikan pada pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kota Pati.

(12)

26 ANALISIS DAN PEMBAHASAN Analisis Data

Karakteristik Responden

Penulis akan membahas Mental accounting dalam pembayaran pajak UKM di Kota Pati. Data diperoleh melalui kuesioner yang disebarkan pada pelaku UKM yang berada di Kota Pati yaitu sebanyak 63 responden. Berikut adalah Tabel 2 yang menunjukkan karakteristik responden:

Tabel 2

Karakteristik Responden

Jumlah

Responden Prosentase

A. Jenis Kelamin

Laki-laki 35 55,56%

Perempuan 28 44,44%

B. Usia

30-45 tahun 20 31,74%

46-61 tahun 35 55,56%

62-77 tahun 8 12,70%

C. Jenis Usaha

Jasa 4 6,34%

Dagang 48 76,20%

Konveksi 11 17.46%

D. Aset

> Rp 50 juta-100 juta 43 68,25%

> Rp 100 juta-200 juta 16 25,39%

> Rp 200 juta-300 juta 4 6,36%

E. Omset / bulan

> Rp 3 juta-10 juta 40 63,50%

> Rp 10 juta-50 juta 11 17,50%

> Rp 50 juta-100 juta 9 14,30%

> Rp100 juta-200 juta 3 4,70%

Sumber: Data Primer diolah, 2018.

(13)

27

Berdasarkan Tabel 2, 55,56% responden berjenis kelamin laki-laki dengan usia 46-61 tahun (55,56%). Jenis usaha sebanyak 76,20% yang didominasi mempunyai jenis usaha dagang, dengan perolehan asset sebesar >Rp 50 juta-100 juta (67,25%) dan omset penjualan perbulan sebanyak >Rp 3 juta-10 juta (63,50%).

Mental accounting adalah perilaku ekonomi dimana seseorang menggolongkan masukan dan keluaran finansial yang dilakukan berdasarkan pos- pos seperti halnya yang ada pada akuntansi (Santosa 2009). Dalam penelitian ini penulis melihat pengelolaan masukan dan pengeluaran keuangan pada UKM sudah dilakukan berdasarkan penggunaannya, oleh karena itu dalam penelitian ini akan dibagi menjadi dua bagian yaitu bagaimana perlakuan atas penghasilan usaha dan alokasi penghasilan usaha untuk membayar pajak.

Perlakuan atas Penghasilan Usaha

Damayanti dan Supramono (2011) mengemukakan bahwa mental accounting memiliki kecenderungan mengelompokkan dan memperlakukan uang secara berbeda tergantung darimana uang tersebut berasal. Individu akan mengalokasikan dana pada pos-pos tertentu berdasarkan sumber dana yang diperoleh dan mengalokasikan biaya berdasarkan tujuan penggunaannya.

Berdasarkan teori mental accounting tersebut, pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) cenderung memperlakukan penghasilan usaha yang mereka dapatkan secara berbeda dan dipisahkan dari uang pribadi. Berikut Tabel 3 menunjukkan perlakuan pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) atas penghasilan usaha yang mereka peroleh:

Tabel 3

Perlakuan Atas Penghasilan Usaha

Jumlah

Responden Prosentase A. Memisahkan penghasilan usaha dengan uang pribadi

Ya 50 79,36%

Tidak 13 20,64%

B. Mengalokasikan penghasilan usaha pada pos-pos kebutuhan

Ya 53 84,13%

Tidak 10 15,87%

(14)

28 Sumber: Data Primer diolah, 2018.

Dilihat dari tabel 3 menunjukkan bahwa 79,36% responden sudah memisahkan penghasilan usaha dengan uang pribadi. Sisanya 20,64% responden belum memisahkan penghasilan usaha dengan uang pribadi, karena dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya responden hanya bergantung pada usaha yang dimiliki sehingga tidak dapat memisahkan penghasilan dengan uang pribadi.

Disamping memisahkan penghasilan dengan uang pribadi, pelaku UKM juga mengalokasikan penghasilan usaha berdasarkan pos-pos kebutuhan tertentu.

Dari tabel 3 menunjukkan bahwa 84,13% responden sudah mengalokasikan penghasilan usaha pada pos-pos kebutuhan usaha. Namun, ada 15,87% responden belum mengalokasikan penghasilan usaha pada pos-pos tertentu.

Tabel 4

Mental Accounting dalam pembayaran pajak Pembayaran

Pajak Mental Accounting

Langsung Membayar

Pajak Total

Ya Tidak

Pengasilan Usaha

Ya

Alokasi Penghasilan Usaha

Ya 43 5 48

Tidak 0 2 2

Total 43 7 50

Tidak

Alokasi Penghasilan Usaha

Ya 5 3 8

Tidak 2 3 5

Total 7 6 13

Sumber: Hasil olah SPSS, 2018

Tabel 4 diatas menunjukkan bahwa dalam pembayaran pajak, pelaku UKM menggunakan uang dari hasil usaha sendiri. Terdapat 43 responden melakukan pemisahan atas penghasilan usaha dan mengalokasikan penghasilan tersebut langsung digunakan untuk membayar pajak. Sedangkan sisanya pelaku usaha tidak melakukan pemisahan atas penghasilan usaha namun melakukan alokasi untuk pembayaran pajak. Data diatas juga menunjukkan responden tidak memisahkan dan tidak mengalokasikan penghasilan usaha untuk pembayaran pajak.

(15)

29 Tabel 5

Perlakuan Atas Penghasilan Usaha Berdasarkan Omset/bulan

Pemisahan Penghasilan

Alokasi Penghasilan

Usaha Total

Ya Tidak

Ya

Omset per bulan

> Rp 3 juta-10 juta 42 1 43

> Rp 10 juta-50 juta 2 0 2

> Rp 50 juta-100

juta 2 0 2

> Rp 100 juta-200

juta 3 0 3

Total 49 1 50

Tidak

Omset per bulan

> Rp 3 juta-10 juta 4 2 6

> Rp 10 juta-50 juta 3 1 4

> Rp 50 juta-100

juta 1 1 2

> Rp 100 juta-200

juta 1 0 1

Total 9 4 13

Sumber: Hasil olah SPSS, 2018.

Dari tabel 5 diatas, menunjukkan responden memiliki omset >Rp 3 juta-10 juta perbulan melakukan pemisahan penghasilan usaha (dari hasil penjualan) dengan uang pribadi dan mengalokasikan penghasilan usaha dalam pos-pos kebutuhan. Pemisahan pengalokasian tersebut, tidak lain bertujuan untuk mengetahui seberapa besar perkembangan usaha tersebut dan mengetahui seberapa besar keuntungan yang diperoleh.

Benny (2009) menjelaskan bahwa Mental accounting adalah perilaku ekonomi dimana seseorang menggolongkan masukan dan keluaran finansial yang dilakukan berdasarkan pos-pos seperti halnya yang ada pada akuntansi. Dalam penelitian ini, terlihat adanya mental accounting dalam perlakuan atas penghasilan usaha dari omset perbulannya akan tetapi, terdapat pula responden yang tidak

(16)

30

melakukan pemisahan penghasilan maupun pengalokasian penghasilan usaha.

Responden tidak melakukan pemisahan penghasilan usaha dikarenakan hasil penjualan tersebut juga digunakan untuk kebutuhan pribadi. Sedangkan dalam hal pengalokasian, responden mendahulukan kebutuhan yang lebih penting sehingga cenderung tidak melakukan pengalokasian.

Alokasi Penghasilan Usaha Untuk Membayar Pajak

Berikut tabel 6 yang menunjukkan pengetahuan pelaku UKM mengenai aturan perpajakan PP Nomor 46 Tahun 2013:

Tabel 6

Pengetahuan Pelaku UKM Tentang PP Nomor 46 Tahun 2013

Jumlah

Responden Prosentase

A. Membayar Pajak

Ya 63 100%

Tidak 0 0%

B. Mengetahui PP Nomor 46 Tahun

2013

Ya 52 82,54%

Tidak 11 17,46%

C. Perhitungan Pajak yang Dilakukan

Hanya perkiraan saja 12 19,05%

Menghitng total omset 1% dari

omset 51

80,95%

D. Perhitungan Pembayaran Pajak

Sendiri 51 80,95%

Keluarga 7 11,11%

Karyawan 5 7,94%

Sumber: Data primer diolah, 2018.

Seluruh responden pelaku UKM dalam penelitian ini sudah membayar pajak. Sebanyak 82,54% responden pelaku UKM mengetahui mengenai aturan perpajakan PP Nomor 46 Tahun 2013 dan dalam perhitungan perpajakan, pelaku UKM sudah melakukan perhitungan pembayaran pajak sesuai dengan PP Nomor 46 Tahun 2013 tersebut (80,95%) yaitu perhitungan dengan tarif sebesar 1% yang didasarkan pada peredaran bruto dari usaha dalam 1 (satu) tahun dari Tahun Pajak

(17)

31

terakhir sebelum Tahun Pajak yang bersangkutan, sisanya 19,05% hanya menghitung berdasarkan estimasi atau perkiraan saja. Pembayaran pajak pelaku UKM tersebut sudah dilakukan secara rutin yaitu setiap bulan dan rutin setiap tahun. Perhitungan pembayaran pajak pada pelaku UKM sudah dilakukan sendiri oleh pelaku UKM (80,95%), dibantu oleh karyawan (11,11%) dan dibantu oleh anggota keluarga lain (7,94%).

Dalam perhitungan dan pembayaran pajak perlu pelaku UKM melakukan pembukuan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui penghasilan yang didapat dari hasil penjualan karena seperti yang yang tercantum pada PP nomor 46 Tahun 2013 pajak dikenakan 1% dari omset bruto. Data menunjukkan responden pelaku UKM 93,65% sudah melakukan pembukuan.

Tabel 7

Pembukuan, Membayar Pajak dan Perhitungan Pajak

Membayar Pajak Pembukuan

Total Ya Tidak

Ya

Perhitungan Pajak

Hanya perkiraan

saja 9 2 11

1% dari omset bruto 50 2 52

Total 59 4 63

Sumber: Hasil olah SPSS, 2018.

Tabel 7 menunjukkan 59 responden melakukan pembukuan tetapi tidak seluruh responden melakukan perhitungan berdasarkan tarif 1% dari omzet.

Terdapat 50 responden melakukan perhitungan, dan 9 responden tidak melakukan perhitungan atau berdasarkan estimasi saja. Sedangkan 4 respoden yang lain tidak melakukan pembukuan, tetapi tetap membayar pajak meskipun dengan perhitungan sesuai dengan PP Nomor 46 Tahun 2013 ataupun dengan estimasi saja.

Pembukuan merupakan salah satu hal yang terpenting bagi pelaku UKM.

Selain untuk membantu perhitungan menegnai perpajakan, pembukuan juga dapat digunakan untuk mengetahui seberapa besar pendapatan dan keuntungan yang mereka peroleh. Selain itu dapat pula untuk mengetahui transaksi apa saja yang dilakukan dan dapat mengalokasikan untuk apa saja penghasilan tersebut sesuai dengan kemampuan yang telah tercatat di pembukuan.

Pada tabel 8 menunjukkan mental accounting berdasarkan pembukuan:

(18)

32 Tabel 8

Mental accounting dan Pembukuan

Mental

Accounting Total

Ya Tidak

Pembukuan Ya 49 10 59

Tidak 1 3 4

Total 50 13 63

Sumber: Hasil olah SPSS, 2018.

Dari tabel 8 responden yang melakukan pembukuan cenderung akan melakukan pemisahan pendapatan juga. Terdapat pula responden yang melakukan pembukuan, tetapi tidak melakukan pemisahan penghasilan. Sedangkan responden yang tidak melakukan pembukuan, cenderung tidak melalukan pemisahan pada penghasilannya. Tetapi terdapat responden yang tidak melakukan pembukuan namun memisahkan penghasilan usahanya.

Dalam membayar pajak, seluruh pelaku UKM menggunakan penghasilan usaha dari hasil penjualan. Sebagian besar pelaku UKM (88,89%) secara langsung menggunakan penghasilan dari hasil penjualan yang didapat untuk membayar pajak. Akan tetapi tidak semua pelaku UKM melakukan hal tersebut. Berikut tabel 9 menunjukkan kepentingan membayar pajak oleh pelaku UKM:

Tabel 9

Kepentingan Pembayaran Pajak Usaha Kecil dan Menengah (UKM)

Jumlah

Responden Prosentase A. Menggunakan uang dari mana

Penghasilan usaha (hasil penjualan) 63 100%

Uang pribadi 0 0%

B. Langsung digunakan membayar

pajak

Ya 56 88,89%

Tidak 7 11,11%

Sumber: Data primer yang diolah, 2018.

Seluruh pelaku UKM menggunakan penghasilan usaha dari hasil penjualan untuk keperluan membayar pajak walaupun penghasilan usaha dari hasil penjualan tidak langsung dibayarkan untuk membayarkan pajak atau mereka sisihkan terlebih dulu. Hal ini dikarenakan pelaku UKM melakukan pembayaran

(19)

33

secara kumulatif pada periode berikutnya. Perilaku pelaku UKM sudah sesuai dengan mental accounting dalam penggunaan penghasilan usaha.

Tabel 10

Perhitungan Pajak, Pemisahan Penghasilan Usaha, Langsung Membayar Pajak, Alokasi Penghasilan Usaha

Perhitunga

n Pemisahan Penghasilan Usaha dan Pribadi

Alokasi penghasilan

usaha Total

Pajak Ya Tidak

Hanya perkiraan saja

Ya

Langsung untuk membayar pajak

Ya 8 8

Tidak 1 1

Total 9 9

Tida k

Langsung untuk membayar pajak

Ya Tidak

1 1

1 1

2 2

Total 2 2 4

Total omset 1%

Ya

Langsung untuk membayar pajak

Ya 37 0 37

Tidak 3 4 7

Total 40 4 44

Tida k

Langsung untuk membayar pajak

Ya 4 1 5

Tidak 1 2 3

Total 5 3 8

Sumber: Hasil olah SPSS, 2018.

Dari tabel 10 pembayaran pajak yang dilakukan responden adalah dengan melakukan pemisahan penghasilan usaha dengan uang pribadi, penghasilan usaha tersebut langsung digunakan untuk membayar pajak. Di sisi lain, responden juga membagi penghasilan kedalam pos-pos sesuai kebutuhan. Selanjutnya, masih ada responden yang menggunakan estimasi atau perkiraan saja. Namun, sebagian besar sudah melakukan pemisahan terhadap penghasilan usaha dengan uang pribadi dan langsung menggunakan penghasilan usaha tersebut untuk kepentingan membayar pajak dan melakukan alokasi. Dalam pembayaran pajak, responden cenderung menggunakan pemisahan penghasilan, mengalokasikan pendapatan, dan langsung menggunakan penghasilan usaha untuk membayar pajak. Hal

(20)

34

tersebut menunjukkan perilaku mental accounting dalam kepentingan membayar pajak oleh responden.

PEMBAHASAN

Pemisahan keuangan atas penghasilan usaha pada pelaku UKM sebagian besar menunjukkan adanya mental accounting, selain itu pelaku UKM dapat mengalokasikan pendapatan tersebut ke dalam pos-pos tertentu seperti, untuk memenuhi kebutuhan usaha, kebutuhan pribadi dan kepentingan dalam membayar pajak. Kebutuhan usaha itu sendiri meliputi pembayaran gaji karyawan, membeli bahan baku untuk persediaan, servis kendaraan untuk operasional usaha. Untuk kebutuhan pribadi meliputi biaya sekolah anak, untuk kebutuhan sehari-hari, untuk membayar arisan RT, dan kegiatan social lainnya. Pelaku UKM juga mengalokasikan penghasilannya untuk membayar pajak.

Sebagian besar pelaku UKM sudah melakukan pemisahan penghasilan usaha sesuai kebutuhan masing-masing dan dapat mengendalikan sesuai dengan penggunaannya. Selain itu pelaku UKM juga mengalokasikan penghasilannya untuk tertib administrasi. Disamping itu, masih ditemukan adanya pelaku UKM yang belum memisahkan penghasilan usaha karena mereka mengaku bahwa lebih mementingkan kebutuhan yang mendesak terlebih dahulu.

Penelitian ini menunjukkan bahwa pelaku UKM di Kota Pati sudah membayar pajak. Selain membayar pajak penghasilan, beberapa pelaku usaha juga sudah membayar Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan pajak kendaraan bermotor. Dalam perhitungan pajak, pelaku UKM banyak yang melakukan perhitungan pembayaran pajak secara mandiri sesuai dengan PP Nomor 46 Tahun 2013 yaitu dengan tarif sebesar 1% yang didasarkan pada peredaran bruto dari usaha dalam 1 (satu) tahun dari Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak yang bersangkutan. Pengetahuan mengenai PP Nomor 46 Tahun 2013 mereka dapatkan dari berbagai sumber diantaranya dari sesama pelaku UKM, media massa dan penyuluhan petugas kantor pajak.

Pelaku UKM membayarkan pajaknya langsung dari penghasilan usaha mereka, karena jika mereka menunda pembayaran pajak mereka takut jika

(21)

35

uangnya digunakan untuk kebutuhan yang lain dan dapat tercampur ke kebutuhan yang lain. Akan tetapi masih terdapat beberapa pelaku UKM yang tidak langsung membayarkan pajaknya dengan alasan digunakan untuk keperluan yang mendesak terlebih dahulu sehingga pajak tersebut dibayarkan pada bulan berjalan berikutnya.

(22)

36

SIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN PENELITIAN MENDATANG

Simpulan

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh responden telah melakukan kewajiban pembayaran pajak. Beberapa UKM melakukan perhitungan pembayaran pajak berdasarkan perkiraan dan beberapa berdasarkan PP Nomor 46 Tahun 2013 yaitu sebesar 1% dari peredaran bruto. Meskipun tidak semua responden tidak langsung membayar pajak, namun mereka sudah melakukan pemisahan pengalokasian penghasilan dari usaha. Pelaku UKM sudah melakukan pengelolaan dan pemisahan penghasilan usaha sesuai dengan pos-pos kebutuhan mereka baik untuk kebutuhan usaha, kebutuhan pribadi dan kewajiban untuk membayar pajak. Ini menunjukkan bahwa adanya mental accounting bagi seluruh pelaku UKM yang menjadi responden.

Keterbatasan dan Saran

Keterbatasan penelitian ini adalah kurang melihat profil responden apakah sudah memiliki NPWP atau belum artinya tidak dapat mengetahui secara pasti apakah responden benar-benar membayar pajak atau tidak.

Saran penulis untuk penelitian selanjutnya adalah dengan menambahkan pertanyaan pada kuesioner penelitian bahwa sudah memiliki NPWP atau belum, mengkonfirmasi langsung jawaban dari responden agar lebih jelas dan memberi sedikit pengetahuan tentang PP Nomor 46 Tahun 2013 agar pelaku UKM tidak menghitung pajaknya dengan cara perkiraan saja.

(23)

37 DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Sanusi. 2013. Metodologi Penelitian Bisnis. Cetakan Ketiga. Jakarta:

Salemba Empat.

Brodjonegoro, Bambang. 2015. Realisasi Penerimaan Pajak Per Oktober 2015.

Diakses pada 17 Juli 2017, dari :

http://www.pajak.go.id/content/article/realisasi-penerimaan-pajak-31- oktober- 2015

Benny Santosa, 2009.http://www.ebahana.com/warta-1781-Mental- Accounting- yangTepat.html/ download Tgl. 12 Juni 2017 Jam 09.17

Cheema, Amar dan Soman, Dilip. 2006. Malleable Mental Accounting: The Effect of Flexibility on the Justification of Attractive Spending and Consumption Decisions. Journal of Consumer Psychology, 16(1), 33–44

Damayanti, T. W, dan Supramono, 2011, Realitas Mental Accounting Pada Perlakukan Pendapatan Ekstra, Jurnal Manajemen Usahawan Indonesia, Vol. 40 No. 2 Maret-April 2011.

Diatmika, I. P. G. 2013. Penerapan akuntansi pajak atas pp no. 46 tahun 2013 Tentang PPh Atas Penghasilan Dari Usaha Wajib Pajak Yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. Jurnal Akuntansi Profesi, Vol. 3 No.2 Desember 2013

Gou, Yuntong. 2013. The Nonfungibility Of Mental Accounting: A Revision.

Social Behavior And Personality, 2013, 41(4), 625-634

Klaudia, S; D. R. Riwayanti dan Aminatunnisa. 2017. Menggali realitas kepatuhan wajib pajak pemilik UMKM. Jurnal PETA, Vol. 2 No. 1, Januari 2017: hal 50-64

Luhsasi, Dwi Iga. 2015. Mental Accounting: Keputusan Hutang Versus Tabungan untuk Pendanaan Modal Kerja dan Investasi UMKM.Salatiga.

(24)

38

Marteniawati, Risvina.2012 . Mental Accounting dalam Pengelolaan Uang Saku pada Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana.Salatiga.

Ningrum, Leli Oktavia. 2016. Prngaruh Pemahaman dan Kesadaran Wajib Pajak Terhadap Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak UMKM Terkait Pelaksanaan PP Nomor 46 Tahun 2013.Surabaya.

Purnomo, Budi S. 2009. Bagaimana Pelaku pasar Memilah dan Memanfaatkan Informasi untuk Pengambilan Keputusan di Tengah Banjir Informasi.

Jurnal Ekonomi dan Bisnis Terapan Vo. 5 No. 1, Februari

Rohman, A; Zulaikha; S. N. Raharjo dan P. Harto. 2011. Kajian Terhadap kapabilitas pembukuan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dalam mendukung perilaku kepatuhan wajib pajak. Jurnal Akuntansi, Vol XV, No. 03, September 2011: hal 327-343.

Shefrin, H. M. and Richard H. Thaler. (1981). “An Economic Theory of Self- Control. “ Journal of Political Economy. Vol. 89 No. 2

Sugiyono. 2013, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung:

Alfa Beta.

Supramono dan Damayanti, Theresia Woro. 2013. Identifikasi Fenomena Mental Accounting: Antara Evaluasi Segregasi dan Integrasi. Jurnal Bina Akuntansi Vol. 1 No. 1 April, Hal. 39-50

Susilo, E. J dan Betri, S. 2014. Pemahaman wajib pajak terhdap Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang pajak UKM (Studi Kasus Pada Wajib Pajak Pratama Palembang Ilir Barat, hal : 1-10.

Tambunan, R. 2013. Ketentuan Terbaru Pajak Penghasilan Atas UMKM:

Sederhana Tapi Tidak Adil.

Thaler, Richard H. 1990. Anomalies Saving, Fungibility, and Mental Accounts.

Journal of Economic Perspectives Vol. 4 No. 1 Hal. 193-205

(25)

39

Wicaksono. R . 2016. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam membayar pajak sesuai PP No.46 Tahun 2013 Pada UMKM di Kabupaten Bantul. Jurnal Fokus Bisnis Vol. 15, No 02, bulan Desember 2016.

www.kemenkeu.go.id

akuntansiumkm.wordpress.com 18 februari 2010

(26)

40 LAMPIRAN 1

KUESIONER PENELITIAN

MENTAL ACCOUNTING DALAM PERPAJAKAN

(Studi Pada Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kota Pati)

Kepada Yth, Bapak/Ibu

Pemilik Usaha Kecil dan Menengah Di tempat

Saya mahasiswa dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga:

Nama : Oktaviana Anggun Permatasari NIM : 232013077

Sedang melakukan penelitian mengenai mental accounting dalam perpajakan di kota Pati. Bersama ini, saya memohon kesediaan Bapak/Ibu untuk mengisi kuesioner yang tersedia. Informasi tersebut digunakan untuk penelitian.

Atas bantuan dan kerjasama Bapak/Ibu, Saya ucapkan terimakasih.

(27)

41 Petunjuk Cara Pengisian :

1. Isilah identitas anda pada tempat yang disediakan.

2. Jawablah pertanyan dibawah ini dengan memberikan tanda centang () pada alternatif jawaban yang telah disediakan!

3. Anda diperbolehkan mengisi lebih dari satu pilihan jawab.

Identitas responden

Nama Wajib Pajak :………..(Boleh tidak diisi) Jenis kelamin : Laki-laki Perempuan

Nama usaha :……….

Jenis usaha :Jasa Dagang Lain-lain:………

Aset : Rp ………

Omset (penghasilan) : Rp ………/bulan I. Informasi perpajakan PP Nomor 46 Tahun 2013

1. Apakah Anda membayar pajak?

 Ya

 Tidak

2. Apakah Anda mengetahui aturan perpajakan bagi UKM (PP Nomor 46 Tahun 2013)?

 Ya

 Tidak

 Lain-lain:…………

3. Jika anda tahu, sejauh mana Anda mengetahui tentang artutan pajak UKM dalam PP Nomor 46 Tahun 2013?

………

………

(28)

42

4. Darimana Anda mengetahui dan memperoleh informasi tentang peraturan PP Nomor 46 Tahun 2013?

 Sesama pelaku UKM

 Media masa, sebutkan:………..

 Fiskus

 Lain-lain:……….

5. Pajak apa yang Anda bayarkan?

 Pajak Pertambahan Nilai (PPn)

 Pajak Penghasilan (PPh)

6. Bagaimana cara perhitungan pajak yang dilakukan?

 Hanya perkiraan saja

 Menghitung total omset  membayar pajak 1% dari total omset/bulan

 Lain-lain:……….

7. Kapan Anda membayar pajak tersebut

 Rutin setiap bulan

 Rutin setiap tahun

 Lain-lain:……….

II. Manajemen Kas

1. Apakah Anda melakukan pebukuan dalam setiap transaksi?

 Ya, alasan………...

 Tidak, alasan………..

2. Dalam melakukan pembukuan transaksi, catatan seperti apa yang anda catat?

 Pembelian

 Penjualan

 Kas masuk

(29)

43

 Kas keluar

 Piutang

 Utang

3. Kapan Anda melakukan pembukuan transaksi?

 Setiap ada transaksi

 2 hari sekali

 Setiap minggu

 Lain-lain:………

4. Siapa yang melakukan pembukuan transaksi

 Diri sendiri

 Keluarga

 Lain-lain:………

III. Mental Accounting

1. Anda memisahkan penghasilan usaha (hasil penjualan) dengan uang pribadi?

 Ya

 Tidak

2. Bagaimana Anda memperlakukan penghasilan usaha (hasil penjualan)?

………

………...

3. Untuk kepentingan membayar pajak, Anda menggunakan uang dari mana?

 Penghasilan usaha (hasil penjualan)

 Uang pribadi

4. Siapa yang melakukan perhitungan pembayaran pajak

 Sendiri

(30)

44

 Keluarga

 Lain-lain:………

5. Apakah penghasilan usaha (hasil penjualan) yang didapat saat itu LANGSUNG digunakan untuk membayar pajak?

 Ya, alasan………...

 Tidak, alasan………

6. Apakah penghasilan usaha yang di dapat, Anda alokasikan (pisah- pisahkan) pada pos kebutuhan usaha, pos pembayaran pajak, pos biaya?

 Ya, alasan………...

 Tidak, alasan………

(31)

45

Referensi

Dokumen terkait

Maturidiyah Samarqand, mendekati paham Mu‟tazilah, yang berpendapat bahwa kekuasaan Tuhan tidak mutlak lagi karena telah dibatasi oleh beberapa hal, antara lain

PP Nomor 46 Tahun 2013 tentang pajak penghasilan dengan tarif 1% dari peredaran bruto setiap bulan atas penghasilan dari usaha wajib pajak yang memiliki peredaran bruto

Mulai diresmikan sejak tahun 2007, Transportasi Sepeda Kampus Universitas Indonesia di wilayah Depok telah menjadi salah satu pilihan moda transportasi bagi civitas akademika pada

Understanding the underlying theories of second and foreign language acquisition and learning will help both teachers and students in learning and teaching a target language..

Dalam penelitian ini analisis verifikatif digunakan untuk mengetahui pengaruh financial leverage , profitabilitas, umur perusahaan, ukuran perusahaan, struktur

Lesson learned Bencana Sulawesi Tengah melalui buku “Satu Rasa untuk Kemanusiaan” ini, dapat menjadi ruang evaluasi atas upaya yang telah dilakukan untuk mereka para korban

Sedangkan parameter-parameterlatar belakang budaya keluarga, pendidikan orang tua, ragam bahasa daerah harus menjadi pertimbangan guru dalam pelaksanaan proses

Kepala bagian dan seluruh jajaran staf bagian Ilmu Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro yang telah memfasilitasi penulis selama penyusunan