i
MENTAL ACCOUNTING
DALAM PEMBAYARAN PAJAK UKM
(Studi Pada Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kota Salatiga)
Oleh:
ATIKA SAKTIANINGRUM NIM : 232013232
TUGAS AKHIR
Diajukan kepada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Guna Memenuhi Sebagian dari
Persyaratan-Persyaratan untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi
FAKULTAS : EKONOMIKA DAN BISNIS PROGRAM STUDI : AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA 2017
1 PENDAHULUAN
Pajak merupakan salah satu penerimaan negara yang memiliki porsi besar dalam APBN yang digunakan untuk membiayai segala pengeluaran yang bersifat rutin maupun pengeluaran untuk pembangunan. Pertengahan tahun 2013, Pemerintah Republik Indonesia menerbitkan peraturan terbaru tentang perpajakan yang tertuang dalam PP Nomor 46 Tahun 2013. Sebuah peraturan yang mengatur tentang pajak penghasilan atas usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu. Pokok pengaturan dalam PP Nomor 46 Tahun 2013 tersebut adalah pengenaan pajak penghasilan dengan tarif sebesar 1%
dari peredaran bruto setiap bulan atas penghasilan dari usaha wajib pajak yang memiliki peredaran bruto tidak melebihi Rp 4,8 milyar dalam satu tahun.
Diatmika (2013) menunjukkan bahwa kebijakan untuk membebankan wajib pajak dengan peredaran bruto tertentu tersebut akan berimbas langsung pada pertumbuhan ekonomi, apalagi saat nilai pendapatan setiap bulan tidak sama.
Pemerintah terus mengupayakan agar penerimaan negara melalui sektor pajak dapat meningkat secara terus-menerus. Berbagai peraturan dikeluarkan untuk mencapai anggaran penerimaan negara melalui pajak. Diatmika (2013) menunjukkan adanya celah kebocoran dari permainan oknum petugas pajak dengan pengusaha dan konsultan, masih belum menunjukkan akuntabilitas dan transparansi. Inilah salah satu faktor yang mendorong agar pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dikenakan tarif pajak khusus dengan peredaran usaha dibawah Rp 4,8 milyar setahun.
Tambunan (2013) menunjukkan walaupun tidak secara tegas dikatakan dalam PP Nomor 46 Tahun 2013, tidak dapat dipungkiri lagi yang menjadi sasaran dalam PP Nomor 46 Tahun 2013 ini adalah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Tambunan (2013) juga menjelaskan batasan peredaran usaha Rp 4,8 milyar masih masuk dalam pengertian UMKM sesuai dengan UU Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), yaitu suatu usaha yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan usaha dengan peredaran maksimal Rp 50 milyar dalam setahun.
Dengan diberlakukannya PP Nomor 46 Tahun 2013, yaitu pengenaan tarif final 1% dari peredaran bruto, diharapkan penerimaan sektor pajak dari wajib
2
pajak UMKM dapat ditingkatkan. Selain itu, dapat memberi kemudahan bagi wajib pajak UMKM yang selama ini mengalami kesulitan dalam melakukan pembukuan (Wicaksono 2016). Kemudahan yang diberikan kepada wajib pajak orang pribadi diatur dalam pasal 14 ayat 2 UU PPh, dimana wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dengan peredaran bruto dalam satu tahun kurang dari Rp 4,8 milyar diperkenankan menggunakan Norma Perhitungan Penghasilan Netto (NPPN) dalam perhitungan penghasilan kena pajaknya. Bagi wajib pajak, pembayaran pajak seringkali dirasa sebagai beban.
Penerapan PP Nomor 46 Tahun 2013 menimbulkan kebingungan bagi wajib pajak pelaku UMKM, sebab belum semua wajib pajak pelaku UKM memiliki penghasilan yang sama setiap bulannya. Wicaksono (2016) menunjukkan pelaku UMKM memiliki penghasilan yang tidak selalu sama sehingga dengan adanya PP Nomor 46 Tahun 2013 ini dirasa memberatkan pelaku UMKM. Masih banyak UMKM yang belum mapan, yang terbebani pajak semacam itu terlebih dengan adanya sanksi denda atas keterlambatan pembayaran pajak sebesar 2% menambah beban bagi pelaku UMKM itu sendiri.
Penelitian Kaludia, Riwayanti dan Aminatunnisa (2017) mencoba menggali realitas kepatuhan wajib pajak pemilik UMKM. Hasil penelitian menunjukkan ketidakpatuhan wajib pajak UMKM disebabkan karena mereka menafsirkan bahwa pembayaran pajak dapat diganti melalui penerapan zakat, serta sosialisasi perpajakan belum maksimal sehingga ada ketidakpercayaan dari UMKM untuk membayar pajak. Lain halnya dengan penelitian Rohman, dkk (2011) yang mengkaji kapabilitas pembukuan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dalam mendukung perilaku kepatuhan wajib pajak. Hasil penelitian menunjukkan pembukuan yang baik akan memberi kemudahan bagi wajib pajak pelaku UMKM dalam membuat keputusan mengenai berapa pajak yang akan mereka bayar, walaupun penyelenggaraan pembukuan tidak semata-mata untuk perhitungan pajak saja, namun keinginan melihat kinerja operasi serta besarnya keuntungan yang mereka peroleh.
Selain itu, penelitian Damayanti dan Supramono (2011) menunjukkan secara mental, seseorang cenderung memilah pendapatan dan pengeluaran dalam
3
pos-pos tertentu.Kondisi tersebut dikenal sebagai mental accounting. Thaler dan Shefrin (1981) mendefinisikan mental accounting sebagai perilaku ekonomi bilamana seseorang menggolongkan penerimaan dan pengeluaran berdasarkan pos-pos tertentu. Dalam penelitian ini mental accounting pelaku UKM dilihat dari sejauh mana pelaku UKM tersebut mengelompokkan penerimaan dari hasil penjualan dan pengeluaran, khususnya untuk pembayaran pajak.
Melihat fenomena di atas, penerapan PP Nomor 46 Tahun 2013 dan mental accounting pelaku UKM dalam memilah penerimaan dan pengeluaran kas menjadi menarik untuk diteliti karena melihat dalam praktiknya wajib pajak orang pribadi pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) belum familiar dalam penerapan aturan baru tersebut. Pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) menjadi fokus penelitian ini, dengan pertimbangan penghasilan yang didapat oleh para pelaku UKM tidak selalu sama pada setiap bulannya.
Penelitian tentang mental accounting sebelumnya pernah dilakukan oleh Damayanti dan Supramono (2011) tentang perlakuan pendapatan dan alokasi pemanfaat pendapatan ekstra yang berasal dari gaji ke 13 dan tunjangan sertifikasi guru. Kemudian Marteniawati (2012) yang meneliti mental accounting mahasiswa pada perlakuan uang saku dan uang hasil kerja selanjutnya penelitian yang dilakukan Yuniastuti (2014) tentang Pengaruh Kepribadian dan Mental Accounting terhadap Perilaku Keuangan Peserta Pensiun pada Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung. Penelitian di atas hanya menunjukkan pembahasan mental accounting pada rumah tangga dan belum ada penelitian tentang mental accounting pada pembayaran pajak.
Penelitian dilakukan untuk mendeteksi mental accounting pelaku UKM di Kota Salatiga dalam melakukan pembayaran perpajakan. Diharapkan hasil penelitian memberi pengetahuan bagi pelaku UKM tentang perhitungan perpajakan dan menjadi evaluasi bagi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Kota Salatiga untuk memberi informasi lebih lanjut dalam peningkatan pembinaan, pendampingan maupun pelatihan perhitungan perpajakan bagi para pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM), serta menjadi pengembangan literatur dalam bidang akuntansi khususnya mental accounting.
4 TINJAUAN LITERATUR
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46 Tahun 2013
PP Nomor 46 Tahun 2013 merupakan Pajak Penghasilan yang bersifat final dengan tarif sebesar 1%. Pengenaan Pajak Penghasilan yang bersifat final tersebut didasarkan pada peredaran bruto dari usaha dalam 1 (satu) tahun dari Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak yang bersangkutan. Tujuan dari diterbitkannya PP Nomor 46 Tahun 2013 adalah memberi kemudahan bagi masyarakat dalam melaksanakan pembayaran perpajakan, meningkatkan pengetahuan perpajakan bagi masyarakat, dan terciptanya kondisi sosial dalam memenuhi pembayaran perpajakan. Hasil akhir yang diharapkan oleh pemerintah dengan dikeluarkannya PP Nomor 46 Tahun 2013 yaitu perluasan partisipasi dalam pembayaran pajak, kepatuhan sukarela bagi masyarakat, dan penerimaan pajak meningkat sehingga kesempatan dalam mensejahterakan masyarakat meningkat.
Susilo dan Betri (2013) menyatakan peraturan PP Nomor 46 Tahun 2013 menimbulkan banyak pro dan kontra. Yang menunjukkan walaupun pemahaman wajib pajak masih terbatas, namun sebagian wajib pajak tidak merasa kesulitan dalam mematuhi PP Nomor 46 Tahun 2013 tersebut.
Ketentuan pajak penghasilan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46 Tahun 2013, merupakan kebijakan pemerintah yang mengatur Pajak Penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak yang memiliki peredaran Bruto tertentu. Kebijakan Pemerintah dengan pemberlakuan PP ini didasari tujuan memberikan kemudahan dan penyederhanaan aturan perpajakan, mengedukasi masyarakat tertib administrasi, mengedukasi masyarakat untuk transparansi, dan memberikan kesempatan masyarakat berkontribusi dalam penyelenggaraan negara.
Objek pajak yang dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan ketentuan PP Nomor 46 Tahun 2013 ini adalah penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak dengan peredaran bruto yang tidak melebihi Rp. 4,8 milyar dalam 1 tahun pajak. Peredaran bruto merupakan jumlah peredaran bruto semua gerai atau counter atau outlet atau sejenisnya baik pusat maupun cabangnya. Pajak yang terhutang dan harus dibayar adalah1% dari jumlah peredaran bruto. Sesuai
5
PP No. 46 Tahun 2013 yang dinilai Pajak Penghasilan adalah orang pribadi dan badan yang tidak termasuk Bentuk Usaha Tetap (BUT), yang menerima penghasilan dari usaha dengan peredaran bruto yang tidak melebihi Rp4,8 milyar dalam 1 tahun pajak.
Pajak Penghasilan yang diatur oleh PP No. 46 Tahun 2013 termasuk dalam PPh Pasal 4 Ayat (2) bersifat FINAL. Setoran bulanan dimaksud merupakan PPh Pasal 4 ayat (2), bukan PPh pasal 25. Jika penghasilan semata-mata dikenai PPh final, tidak wajib PPh Pasal 25. Penyetoran dan Pelaporan PPh sesuai ketentuan PP No. 46 Tahun 2013 adalah paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP). Jika SSP sudah validasi NTPN, wajib pajak tidak perlu melaporkan SPT masa PPh Pasal 4 ayat (2) karena dianggap telah menyampaikan SPT masa PPh Pasal 4 ayat (2) sesuai tanggal validasi NTPN. Penyetoran dimaksud dengan mencantumkan kode pada SSP Kode akun Pajak411128 dan Kode Jenis Setoran420. Penghasilan yang dibayar berdasarkan PP No. 46 Tahun 2013 dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh pada kelompok penghasilan yang dikenai pajak final dan/atau bersifat final.
Mental Accounting
Thaler (1999) mendefinisikan mental accounting sebagai suatu rangkaian operasi kognitif yang digunakan individu maupun kelompok dalam mengkode, membuat kategori dan mengevaluasi aktivitas finansialnya. Tiga komponen utama mental accounting menurut Thaler (1999) yaitu bagaimana hasil yang dirasakan dan dialami, bagaimana keputusan dibuat dan kemudian dievaluasi, penugasan kegiatan yang dimasukan ke dalam akun tertentu dan mental accounting concerns the frequency with accounts are evaluated and choice bracketing.
Damayanti dan Supramono (2011) menyatakan mental accounting dapat ditunjukkan dengan perilaku seorang yang memiliki kecenderungan mengelompokkan dan memperlakukan uang secara berbeda, antara lain tergantung dari mana uang tersebut berasal. Namun dalam penelitian ini mental accounting sudah merupakan perilaku atau tindakan individu dan bukan lagi sebagai rangakaiaan operasi kognitif. Seseorang cenderung memberikan label pendapatan dan pengeluaran, yang kemudian dipilah dalam rekening tertentu.
6
Proses pemilihan tersebut kemudian berkembang menjadi pengalokasian dana dalam akun tertentu yang berdasarkan sumber diperoleh dan pengalokasian biaya dalam akun berdasarkan tujuan penggunaannya.
Tversky dan Kahneman (1991) menyatakan mental accounting berfokus pada bentuk keputusan individu dalam keuangan, sedangkan Shefrin dan Thaler (1981) membahas mental accounting dipengaruhi pengetahuan dan pemahaman seseorang terhadap keuangan. Thaler (1990) dan Davis (2003) menyatakan bahwa seseorang menggunakan mental accounting karena memungkinkan transaksi akan dievaluasi secara terpisah dari transaksi yang lain. Hal ini akan mempermudah dalam pengambilan keputusan. Karisson (1998) serta Hoch dan Leowensteni (1991) menegaskan bahwa mental accounting dapat menjadi self control. Dimana pernyataan ini telah dibuktikan oleh Siloy (2012) dalam penelitiannya.
Mental Accounting Dalam Perpajakan
Secara mental, sesorang cenderung memilah pendapatan dan pengeluaran dalam pos-pos tertentu misalnya pendapatan rutin versus hadiah pengeluran kebutuhan pokok versus kebutuhan untuk bersenang-senang atau rekreasi yang dapat membawa implikasi negatif. Ini menunjukkan pendapatan rutin yang diperoleh dari kerja keras cenderung dibelanjakan dengan hati-hati. Sementara, pendapatan yang diperoleh dari hadiah, tunjangan dan bonus akan lebih cepat habis dibelanjakan (Supramono dan Damayanti 2011).
Kondisi tersebut merupakan fenomena mental accounting, merupakan perilaku ekonomi seseorang dengan menggolongkan uang masuk dan uang keluar berdasarkan pos-pos tertentu (Theler dan Shefrin 1981). Mental accounting memiliki kecenderungan mengelompokkan dan memperlakukan uang secara berbeda tergantung dari mana uang tersebut berasal. Individu akanmengalokasikan dana pada pos tententu berdasarkan sumber dana yang diperoleh dan mengalokasikan biaya berdasarkan tujuan penggunaannya (Damayanti dan Supramono 2011).
Pada pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM), dimungkinkan memiliki kecenderungan yang sama yaitu memisahkan pendapatan dan pengeluaran
7
kedalam pos-pos tertentu. Dalam kaitannya dengan pembayaran perpajakan, pelaku UKM akan berperilaku mengelompokkan dan memperlakukan uang secara berbeda, serta mengalokasikan dana yang mereka miliki berdasarkan sumber yang diperoleh dan mengalokasikan biaya pada pos tertentu berdasarkan tujuan penggunaannya.
PP Nomor 46 Tahun 2013 tentang pajak penghasilan dengan tarif 1% dari peredaran bruto setiap bulan atas penghasilan dari usaha wajib pajak yang memiliki peredaran bruto tidak melebihi Rp 4,8 milyar dalam satu tahun, mewajibkan pelaku UKM melakukan pembayaran perpajakan dengan perhitungan peredaran bruto atas setiap penghasilan usaha. Dengan demikian pelaku UKM diharapkan dapat mengalokasikan dana tertentu dari hasil penjualan sebagai alokasi biaya berdasarkan tujuan penggunaan dalam hal pembayaran pajak.
Mental accounting dalam perpajakan bagi pelaku UKM dilihat dari bagaimana cara mereka memisahkan penghasilan usaha (hasil penjualan) dengan uang pribadi, darimana pelaku UKM mengalokasikan dana untuk membayar pajak, serta apakah penghasilan usaha (hasil penjualan) yang didapat dialokasikan pada pos-pos kebutuhan tertentu. Selain itu, mental accounting pelaku UKM juga melihat bagaimana cara perhitungan pajak yang dilakukan pelaku UKM, apakah hanya sebatas perkiraan atau estimasi, atau dengan perhitungan 1 % dari total omset perbulan.
METODA PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sugiyono (2013) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai penelitian berbentuk kata, skema dan gambar untuk mendeskripsikan objek tertentu. Populasi penelitian adalah seluruh pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Salatiga yang merupakan Binaan Dinas Koperasi dan UMKM Kota Salatiga per triwulan I Tahun 2016 sebanyak 1343 pelaku usaha, dengan jumlah pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) 158 orang.
Teknik pengambilan sampel penelitian ini adalah convenience sampling.
Peneliti memilih sampel penelitian berdasarkan kemudahan mendapatkan data dan menjumpai secara langsung pelaku dengan kriteria atau karakterisik
8
tertentu.Peneliti menjumpai secara langsung responden pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kota Salatiga yang sudah pernah membayar pajak.
Perhitungan sampel penelitian menggunakan rumus Slovin dengan rumus sebagai berikut (Sanusi 2013):
n = N 1 + Ne 2
= 158 = 158 = 158 = 61 1+158(0.10)2
1+1.58 2.58 Keterangan :
n : ukuran sampel
N : ukuran seluruh populasi
e : toleransi terjadinya ketidaktelitian sebesar 10%
Cara pengumpulan data penelitian dilakukan dengan membagikan keusioner kepada pelaku UKM di Kota Salatiga. Pertanyaan dalam kuesioner berupa pertanyaan terbuka untuk memberi kesempatan pada responden memberikan pendapat. Responden yang ditemui sebanyak 87 pelaku UKM, namun yang sudah membayar pajak hanya 61 pelaku usaha. Sehingga yang menjadi responden penelitian ini sebanyak 61 pelaku usaha.
Pengukuran mental accounting dalam penelitian ini diukur : 1. Memisahan penghasiln usaha dengan uang pribadi
2. Memperlakukan penghasilan usaha 3. Sumber membayar pajak
4. Yang melakukan perhitungan pajak 5. Penggunaan penghasilan usaha
Teknik Analisis
Penelitian merupakan penelitian deskriptif yang dilakukan untuk mendapatkan gambaran dari hasil kuesioner diberikan pada pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kota Salatiga. Data yang diperoleh kemudian diolah
9
dan disajikan dalam bentuk perhitungan tabel sederhana dan crosstabulation SPSS.
ANALISIS DAN PEMBAHASAN Analisis Data
Karakteristik Responden
Dalam bagian ini, akan dibahas mental accounting dalam pembayaran pajak UKM di Kota Salatiga. Data diperoleh melalui kuesioner yang disebarkan kepada pelaku UKM yang telah membayar pajak. Sampel penelitian adalah wajib pajak pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kota Salatiga sebanyak 61 responden. Berikut adalah Tabel 2 yang menunjukkan karakteristik responden:
Tabel 1
Karakteristik Responden
Jumlah
Responden Prosentase
A. Jenis Kelamin
Laki-laki 36 59,00%
Perempuan 25 41,00%
B. Usia
30-45 tahun 22 36,00%
46-61 tahun 30 49,20%
62-77 tahun 9 14,80%
C. Jenis Usaha
Jasa 3 3,30%
Dagang 54 88,50%
Konveksi 5 8,20%
D. Aset
> Rp 50 juta-100 juta 40 65,60%
> Rp 100 juta-200 juta 18 29,50%
> Rp 200 juta-300 juta 3 4,90%
E. Omset / bulan
> Rp 3 juta-10 juta 47 77,04%
> Rp 10 juta-50 juta 6 9,83%
> Rp 50 juta-100 juta 4 6,55%
> Rp100 juta-200 juta 4 6,55%
Sumber: Data Primer diolah, 2017.
10
Berdasarkan Tabel 2 di atas, 59% responden berjenis kelamin laki-laki dengan usia 46-61 tahun (49,2%). Untuk jenis usaha, sebanyak 88,5% responden memiliki jenis usaha dagang, dengan aset sebesar >Rp 50 juta-100 juta (65,6%) dan omzet penjualan perbulan sebanyak >Rp 3 juta-10 juta (77,04%). Thaller (1980) mengemukakan mental accounting merupakan perilaku atau cara berpikir seseorang yang memiliki kecenderungan mengelompokkan dan memperlakukan uang secara berbeda, tergantung darimana uang tersebut berasal. Dalam hal ini 2 (dua) aspek mental accounting terdiri dari sumber penerimaan dan bagaimana alokasinya. Oleh sebab itu, analisis dari penelitian ini dibagi menjadi dua bagian yaitu bagaimana perlakuan atas penghasilan usaha dan alokasi penghasilan usaha untuk membayar pajak.
Alokasi Penghasilan Usaha Untuk Membayar Pajak
Tabel 2
Pengetahuan Pelaku UKM Tentang PP Nomor 46 Tahun 2013
Jumlah
Responden Prosentase
A. Membayar Pajak
Ya 61 100%
Tidak 0 0%
B. Mengetahui PP Nomor 46 Tahun 2013
Ya 47 77,0%
Tidak 14 23,0%
C. Perhitungan Pajak yang Dilakukan
Hanya perkiraan saja 16 26,3%
Menghitng total omset 1% dari omset 45 73,7%
D. Perhitungan Pembayaran Pajak
Sendiri 44 78,6%
Keluarga 5 8,2%
Karyawan 3 16,3%
Sumber: Data primer diolah, 2017.
Berikut tabel 4 yang menunjukkan pengetahuan pelaku UKM mengenai aturan perpajakan PP Nomor 46 Tahun 2013: Seluruh responden pelaku UKM dalam penelitian ini sudah membayar pajak. Sebanyak 77% responden pelaku UKM mengetahui mengenai aturan perpajakan PP Nomor 46 Tahun 2013 dan dalam perhitungan perpajakan, pelaku UKM sudah melakukan perhitungan
11
pembayaran pajak sesuai dengan PP Nomor 46 Tahun 2013 tersebut (73,7%) yaitu perhitungan dengan tarif sebesar 1% yang didasarkan pada peredaran bruto dari usaha dalam 1 (satu) tahun dari Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak yang bersangkutan, sisanya 26,3% hanya menghitung berdasarkan estimasi atau perkiraan saja. Pembayaran pajak pelaku UKM tersebut sudah dilakukan secara rutin yaitu setiap bulan dan rutin setiap tahun. Perhitungan pembayaran pajak pada pelaku UKM sudah dilakukan sendiri oleh pelaku UKM (78,6%), dibantu oleh karyawan (16,3%) dan dibantu oleh anggota keluarga lain (8,2%).
Dalam kepentingan perhitungan dan pembayaran pajak diperlukan adanya pembukuan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui penghasilan yang didapatkan dari hasil penjualan karena seperti yang tercantum pada PP nomor 46 Tahun2013 pajak dikenakan 1% dari omset bruto. Data menunjukkan responden pelaku UKM 91,8% sudah melakukan pembukuan. Adapun transaksi yang dicatat antara lain transaksi penjualan (88,5%), pembelian (80,3%), kas masuk (42,6%), utang (40,9%), piutang (42,7%) dan kas keluar (31,1%). Setiap ada transaksi, sebanyak 77% responden mengaku sudah melakukan pembukuan. Pembukuan dilakukan setiap minggu (21,3%) dan dilakukan sendiri oleh pelaku UKM (83,6%).
Menunjukkan seluruh responden yang membayar pajak melakukan perhitungan pembayaran pajak sebesar 1% dari omset bruto yang didasarkan dari catatan pembukuan. Sisanya responden menggunakan estimasi atau perkiraan saja walaupun sebenarnya pelaku usaha tersebut memiliki catatan pembukuan.
Melakukan pembukuan tidak hanya untuk keperluan perpajakan.Dalam pembukuan setiap transaksi dicatat pada akun-akun tertentu, pencatatan pembukuan memisahkan pendapatan dan beban. Disisi lain pembukuan dapat digunakan responden untuk mengetahui penghasilan yang didapatkan dari hasil penjualan. Selain itu, dengan adanya pembukuan rsponden dapat mengalokasikan penghasilan sesuai dengan kemampuan yang telah tercatat di pembukuan.
Responden yang melakukan pembukuan cenderung akan melakukan pemisahan penghasilan. Disisi lain, terdapat responden yang melakukan pembukuan tapi tidak memisahkan penghasilan. Selanjutnya responden yang tidak melakukan pembukuan cenderung tidak melakukan pemisahan penghasilan usaha.
Namun terdapat responden yang tidak melakukan pembukuan tetapi memisahkan
12
penghasilan usaha.Untuk kepentingan membayar pajak, seluruh pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) menggunakan penghasilan usaha dari hasil penjualan. Sebagian besar pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) tersebut (80,3%) secara langsung menggunakan penghasilan dari hasil penjualan yang didapat untuk membayar pajak. Namun, tidak semua pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) melakukannya.
Perlakuan atas Penghasilan Usaha
Penghasilan usaha dalam penelitian ini adalah seluruh hasil penjualan usaha yang diperoleh pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Mental accounting memiliki kecenderungan mengelompokkan dan memperlakukan uang secara berbeda tergantung darimana uang tersebut berasal. Individu akan mengalokasikan dana pada pos-pos tertentu berdasarkan sumber dana yang diperoleh dan mengalokasikan biaya berdasarkan tujuan penggunaannya (Damayanti dan Supramono 2011). Berdasarkan teori mental accounting tersebut, pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) cenderung memperlakukan penghasilan usaha yang mereka dapatkan secara berbeda dan dipisahkan dari uang pribadi. Tabel 3 dibawah ini menunjukkan perlakuan pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) atas penghasilan usaha yang mereka dapat:
Tabel 3
Perlakuan Atas Penghasilan Usaha
Jumlah
Responden Prosentase A. Memisahkan penghasilan usaha dengan uang pribadi
Ya 53 86,9%
Tidak 8 13,1%
B. Mengalokasikan penghasilan usaha pada pos-pos kebutuhan
Ya 56 91,8%
Tidak 5 8,2%
Sumber: Data Primer diolah, 2017.
Dari tabel 3 menunjukkan 86,9% responden sudah memisahkan penghasilan usaha dengan uang pribadi. Sisanya 13,1% responden pelaku UKM belum memisahkan penghasilan usaha dengan uang pribadi. Hal itu dilakukan karena responden hanya bergantung dengan usaha yang dimiliki, sehingga dalam
13
memenuhi kebutuhan hidupnya tidak dapat memisahkan penghasilan usaha dengan uang pribadi.Pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) tidak hanya memisahkan penghasilan usaha dengan uang pribadi, tetapi juga mengalokasikan penghasilan usaha berdasarkan pos-pos kebutuhan tertentu. Dari tabel 3 menunjukkan 91,8% responden pelaku UKM sudah mengalokasikan penghasilan usaha pada pos-pos kebutuhan usaha. Namun masih terlihat 8,2% pelaku UKM yang belum mengalokasikan penghasilan usaha pada pos-pos tertentu.
Dalam pembayaran pajak, seluruh responden pelaku UKM menggunakan uang dari penghasilan usaha. Pelaku UKM melakukan pemisahan atas penghasilan usaha dan mengalokasikan penghasilan tersebut langsung digunakan untuk membayar pajak. Sisanya, pelaku usaha tidak melakukan pemisahan atas penghasilan usaha namun melakukan alokasi untuk pembayaran pajak. Ini menunjukkan responden tidak memisahkan dan tidak mengalokasikan penghasilan usaha untuk pembayaran pajak.
Responden yang memiliki omset > Rp 3 juta-10 juta perbulan melakukan pemisahan penghasilan usaha (dari hasil penjualan) dengan uang pribadi, dan mengalokasikan penghasilan usaha tersebut dalam pos-pos kebutuhan. Pemisahan tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan usaha dan mengetahui besarnya keuntungan yang diperoleh. Sejalan dengan teori Theller dan Shefrin (1981), mental accounting merupakan perilaku ekonomi seseorang dengan menggolongkan uang masuk dan uang keluar berdasarkan pos-pos tertentu. Hal ini berarti terindikasi adanya mental accounting dalam perlakuan atas penghasilan usaha yang didasarkan pada omset perbulan. Di sisi lain, masih terdapat responden yang tidak melakukan pemisahan penghasilan maupun pengalokasian penghasilan usaha. Responden pelaku usaha tidak melakukan pemisahan penghasilan usaha karena dari hasil penjualan tersebut juga digunakan untuk kebutuhan pribadi. Dalam hal pengalokasian, responden mendahulukan kebutuhan yang lebih penting sehingga cenderung tidak melakukan pengalokasian.
Tabel 5 menunjukkan kepentingan membayar pajak penghasilan usaha untuk kepentingan pembayaran pajak oleh pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM):
14 Tabel 4
Kepentingan Pembayaran Pajak Usaha Kecil dan Menengah (UKM)
Jumlah
Responden Prosentase A. Menggunakan uang dari mana
Penghasilan usaha (hasil penjualan) 61 100%
Uang pribadi 0 0%
B. Langsung digunakan membayar pajak
Ya 49 80,3%
Tidak 12 19,7%
Sumber: Data primer yang diolah, 2017.
Data diatas menunjukkan perilaku pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang memiliki kecenderungan mengelompokkan dan memperlakukan penghasilan usaha dari hasil penjualan secara berbeda-beda. Seluruh pelaku UKM menggunakan penghasilan usaha dari hasil penjualan untuk keperluan membayar pajak walaupun penghasilan usaha dari hasil penjualan tidak langsung dibayarkan untuk membayar pajak (disisihkan terlebih dahulu). Hal ini digunakan karena pelaku UKM melakukan pembayaran pajak secara komulatif pada periode bulan berikutnya. Perilaku pelaku UKM ini sesuai dengan mental accounting dalam penggunaan penghasilan usaha.
Dalam pembayaran pajak sebagian besar responden melakukan perhitungan pajak sesaiu dengan PP Nomor 46 Tahun 2013 yaitu pajak final 1%
dari penghasilan bruto. Responden melakukan pemisahan penghasilan usaha dengan uang pribadi, penghasilan usaha oleh responden langsung digunakan untuk pembayaran pajak. Selain itu responden juga mengalokasikan penghasilan dalam pos-pos kebutuhan. Selajutnya, masih terlihat responden yang hanya menggunakan estimasi atau perkiraan saja. Namun sebagian besar responden sudah melakukan pemisahan terhadap penghasilan usaha dengan uang pribadi, dan langsung menggunakan penghasilan usaha tersebut untuk kepentingan membayar pajak dan melakukan alokasi. Dalam kepentingan pembayaran pajak, responden cenderung melakukan pemisahan penghasilan, mengalokasikan pendapat guna pembayaran pajak dan langsung menggunakan penghasilan usaha untuk pembayaran pajak. Hal ini menunjukkan perilaku mental accounting dalam kepentingan membayar pajak responden.
15 PEMBAHASAN
Pada penelitian ini, pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sudah memisahkan penghasilan usaha dengan uang pribadi. Pemisahan keuangan atas penghasilan usaha pada pelaku UKM di Kota Salatiga sudah sesuai dengan mental accounting, dapat ditunjukkan secara mental, seseorang akan cenderung memilah pendapatan dan pengeluaran dalam pos-pos tertentu, misalnya pendapatan rutin dan pendapatan lain-lain. Data menunjukkan pelaku UKM sudah melakukan alokasi pada pos-pos penghasilan usaha. Pos-pos tersebut berupa pos kebutuhan usaha, pos kebutuhan pribadi dan pos kepentingan membayar pajak. Kebutuhan pribadi dalam hal ini biasanya digunakan untuk belanja kebutuhan sehari-hari, membayar sekolah anak, kegiatan sosial kemasyarakatan dan tabungan.
Kebutuhan usaha dalam hal ini digunakan untuk modal usaha, pembayaran gaji karyawan dan membeli bahan baku produksi yang sudah habis. Kemudian pelaku UKM juga mengalokasikan penghasilan usaha yang diperoleh untuk kepentingan membayar pajak.
Pelaku UKM melakukan pemisahan penghasilan usaha dengan alasan semua kebutuhan dapat teralokasi pada kebutuhan usaha sesuai dengan rencana kebutuhan produksi serta terkendali dalam penggunaan dana. Selain itu, beberapa pelaku UKM menyatakan sudah mengalokasikan penghasilan usaha untuk tertib administrasi.Namun sebaliknya, masih ditemukan pelaku UKM belum memisahkan penghasilan usaha yang diperoleh dengan alasan lebih mendahulukan kebutuhan yang lebih penting.
Penelitian ini juga menunjukkan seluruh pelaku UKM di Kota Salatiga sudah membayar pajak. Dalam pengetahuan peraturan perpajakan yang diatur dalam PP Nomor 46 Tahun 2013, sebagian besar pelaku UKM sudah mengetahui PP Nomor 46 Tahun 2013 bahwa Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final dengan tarif sebesar 1% yang didasarkan pada peredaran bruto dari usaha dalam 1 (satu) tahun dari Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak yang bersangkutan. Pelaku UKM tidak hanya membayar pajak penghasilan, beberapa pelaku usaha mengaku sudah membayar Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan juga Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
Dalam perhitungan pajak, pelaku UKM banyak yang melakukan perhitungan
16
pembayaran pajak secara mandiri sesuai dengan PP Nomor 46 Tahun 2013 yaitu dengan tarif sebesar 1% yang didasarkan pada peredaran bruto dari usaha dalam 1 (satu) tahun dari Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak yang bersangkutan.
Pengetahuan mengenai PP Nomor 46 Tahun 2013 mereka dapatkan dari berbagai sumber diantaranya dari sesama pelaku UKM dan media massa. Tidak hanya itu saja, informasi mengenai PP Nomor 46 Tahun 2013 juga diperoleh dari penyuluhan petugas kantor pajak.
Seluruh pelaku UKM membayar pajak dengan menggunakan penghasilan usaha dari hasil penjualan. Sebagian besar pelaku UKM langsung menggunakan penghasilan usaha tersebut untuk membayar pajak dengan alasan khawatir jika digunakan untuk keperluan lain dan tercampur dengan uang yang lain. Namun demikian, masih terdapat pelaku UKM yang tidak langsung menggunakan penghasilan usaha hasil penjualannya untuk membayar pajak. Ini dikarenakan pembayaran pajak mereka dibayarkan secara akumulasi dan dibayar pada bulan berjalan berikutnya.
Pada teori mental accounting menunjukkan responden pelaku UKM juga melakukan hal serupa. Adanya pengelompokkan dan alokasi penghasilan usaha pada masing-masing pos, penggunaan penghasilan usaha (hasil penjualan) untuk membayar pajak menjadi bukti bahwa pelaku UKM memiliki mental accounting dalam pengelolaan penghasilan usaha mereka.
SIMPULAN,IMPLIKASI, KETERBATASAN DAN SARAN PENELITIAN MENDATANG
Simpulan dan Saran
Penelitian ini meneliti adanya mental accounting dalam pembayaran pajak Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Mental accounting dalam pembayaran pajak yang dilakukan oleh pelaku UKM, yang dapat dilihat dari adanya pelakuan terhadap penghasilan usaha. Pelaku UKM memisahkan penghasilan usaha dengan uang pribadi dan melakukan pengalokasian penghasilan pada pos-pos kebutuhan tertentu, termasuk pajak. Selain itu, penelitian juga meneliti apakah ada tidaknya mental accounting oleh pelaku UKM secara lebih detail.
17 Implikasi
Dari penjelasan di atas menunjukkan mental accounting dalam pembayaran pajak memberikan dampak positif bagi pelaku UKM. Dampak tersebut membantu pelaku UKM mengalokasikan penghasilan usaha sesuai kebutuhan, baik untuk kebutuhan usaha maupun dalam pembayaran pajak.
Implikasi dari sisi pelaku UKM, sebaiknya para pelaku UKM mengenali kebutuhan dana untuk usaha serta mengalokasikan penghasilan usaha sesuai kebutuhan. Sehingga diharapkan penghasilan yang diterima dapat digunakan oleh pelaku UKM dalam mencukupi kebutuhan usaha serta kebutuhan pembayaran pajak. Dari sisi aparat pajak sebaiknya melakukan edukasi dan pembinaan kepada pelaku UKM dalam hal pembayaran pajak sehingga dari penghasilan usaha yang diperoleh dapat digunakan untuk membayaran pajak
Keterbatasan dan Agenda Penelitian Selanjutnya
Perilaku mental accounting Thaler (1999) mendefinisikan mental accounting sebagai rangkaiaan opreasi kognitif. Sehingga penelitian memisahkan antara kognitif dan perilaku. Mental accounting dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan kesadaran membayar pajak. Selanjutnya diharapkan menggunakan mental accounting sebagai instrumen kesadaran pajak.
18 DAFTAR PUSTAKA
Anwar, S. 2013. Metodologi Penelitian Bisnis. Cetakan Ketiga. Jakarta: Salemba Empat.
Damayanti, T. W, dan Supramono, 2011, Realitas Mental Accounting Pada Perlakukan Pendapatan Ekstra, Jurnal Manajemen Usahawan Indonesia, Vol. 40 No. 2 Maret-April 2011.
Davies, G. 2003. The Realities of Spending. Agent 2 (6), pp 22-27
Diatmika, 2013.Penerapan akuntansi pajak atas pp no. 46 tahun 2013 Tentang PPh Atas Penghasilan Dari Usaha Wajib Pajak Yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu.Jurnal Akuntansi Profesi, Vol. 3 No.2 Desember 2013
Haryati, Noviari. 2016. Analisis penerapan peraturan pemerintah No 46 Tahun 2013 pada besarnya pajak penghasilan. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, Vol. 15.3. Juni 2016. Hal: 2467-2493
Hoch, & Loewenstein. 1991. Time-inconsistent preferences and consumer self- control. Journal of Consumer Research, 17, pp 492-507.
Karlsson,1988. Mental Accounting and Self Control, Göteborg Psychological Reports, 28, No. 2. Sweden: Göteborg University, Department of Psychology.
Kasmir, 2010. Pengantar Manajemen Keuangan. Jakarta : Kencana Prenada Media Group
Khneman, and Tversky. (1970) : An Analysis Of Decision Under Risk.
Econometrica, Vol.47 Maret.
Klaudia, Riwayanti dan Aminatunnisa. 2017. Menggali realitas kepatuhan wajib pajak pemilik UMKM. Jurnal PETA, Vol. 2 No. 1, Januari 2017: hal 50-64 Made, 2014. Pengaruh Kepribadian dan Mental Accounting terhadap Perilaku
Keuangan Peserta Pensiun pada Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung, Rohman, Zulaikha, Raharjo dan Harto. 2011. Kajian Terhadap kapabilitas
pembukuan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dalam mendukung perilaku kepatuhan wajib pajak. Jurnal Akuntansi, Vol XV, No. 03, September 2011: hal 327-343.
Shefrin, and Richard H. Thaler.(1981). “An Economic Theory of Self-Control.
“Journal of Political Economy. Vol. 89 No. 2
19
Siloy. 2012. Mental Accounting : Perilaku Boros Vs Self Control. Thesis PPs MM,UKSW
Susilo, dan Betri. 2014. Pemahaman wajib pajak terhdap Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang pajak UKM (Studi Kasus Pada Wajib Pajak Pratama Palembang Ilir Barat, hal : 1-10.
Tambunan. 2013. Ketentuan Terbaru Pajak Penghasilan Atas UMKM: Sederhana Tapi Tidak Adil. Diunduh pada 10 Agustus 2014.
Thaler, 1990. Toward a positive theory of consumer choice, journal of Economic Behavior and Organization, Vol.1, pp. 39-60.
Thaler, 1999, “Mental Accounting Matters:,Journal of Behavioral Decision Making, 12, pp 183-206.
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
Wicaksono. 2016. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam membayar pajak sesuai PP No.46 Tahun 2013 Pada UMKM di Kabupaten Bantul. Jurnal Fokus Bisnis Vol. 15, No 02, bulan Desember 2016.
20 LAMPIRAN 1
KUESIONER PENELITIAN
MENTAL ACCOUNTING DALAM PEMBAYARAN PAJAK UKM
(Studi Pada Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kota Salatiga)
Kepada Yth, Bapak/Ibu
Pemilik Usaha Kecil dan Menengah Di tempat
Dengan hormat,
Saya mahasiwa dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Kristen Satya Wacana Salatika yang sedang melakukan penelitian mengenai mental accounting dalam pembayaran pajak UKM (Studi Pada UKM di Kota Salatiga).Bersama ini, saya memohon kesediaan Bapak/Ibu untuk mengisi kuesioner yang tersedia.Informasi yang bapak/Ibu berikan adalah rahasia dan hanya digunakan untuk penelitian semata.
Atas bantuan dan kerjasama Bapak/Ibu, Saya ucakpan terimakasih.
Atika Saktianingrum
21 Petunjuk Cara Pengisian :
1. Isilah identitas anda pada tempat yang disediakan.
2. Jawablah pertanyan dibawah ini dengan memberikan tanda centang () pada alternatif jawaban yang telah disediakan!
3. Anda diperbolehkan mengisi lebih dari satu pilihan jawab.
Identitas responden
Nama Wajib Pajak :………..(Boleh tidak diisi) Jenis kelamin : Laki-laki Perempuan
Nama usaha :……….
Jenis usaha :Jasa Dagang Lain-lain:………
Aset : Rp ………
Omset (penghasilan) : Rp ………/bulan I. Informasi perpajakan PP Nomor 46 Tahun 2013
1. Apakah Anda Apakah anda membayar pajak?
Ya
Tidak
2. Apakah Anda mengetahui aturan perpajakan bagi UKM (PP Nomor 46 Tahun 2013)?
Ya
Tidak
Lain-lain:…………
3. Jika anda tahu, sejauh mana Anda mengetahui tentang artutan pajak UKM dalam PP Nomor 46 Tahun 2013?
………
………
22
4. Darimana Anda mengetahui dan memperoleh informasi tentang peraturan PP Nomor 46 Tahun 2013?
Sesama pelaku UKM
Media masa, sebutkan:………..
Fiskus
Lain-lain:……….
5. Pajak apa yang Anda bayarkan?
Pajak Pertambahan Nilai (PPn)
Pajak Penghasilan (PPh)
6. Bagaimana cara perhitungan pajak yang dilakukan?
Hanya perkiraan saja
Menghitung total omset membayar pajak 1% dari total omset/bulan
Lain-lain:……….
7. Kapan Anda membayar pajak tersebut
Rutin setiap bulan
Rutin setiap tahun
Lain-lain:……….
II. Manajemen Kas
1. Apakah Anda melakukan pebukuan dalam setiap transaksi?
Ya, alasan………...
Tidak, alasan………..
2. Dalam melakukan pembukuan transaksi, catatan seperti apa yang anda catat?
Pembelian
Penjualan
Kas masuk
Kas keluar
23
Piutang
Utang
3. Kapan Anda melakukan pembukuan transaksi?
Setiap ada transaksi
2 hari sekali
Setiap minggu
Lain-lain:………
4. Siapa yang melakukan pembukuan transaksi
Diri sendiri
Keluarga
Lain-lain:………
III. Mental Accounting
1. Anda memisahkan penghasilan usaha (hasil penjualan) dengan uang pribadi?
Ya
Tidak
2. Bagaimana Anda memperlakukan penghasilan usaha (hasil penjualan)?
………
………...
3. Untuk kepentingan membayar pajak, Anda menggunakan uang dari mana?
Penghasilan usaha (hasil penjualan)
Uang pribadi
4. Siapa yang melakukan perhitungan pembayaran pajak
Sendiri
Keluarga
Lain-lain:………
24
5. Apakah penghasilan usaha (hasil penjualan) yang didapat saat itu LANGSUNG digunakan untuk membayar pajak?
Ya, alasan………...
Tidak, alasan………
6. Apakah penghasilan usaha yang di dapat, Anda alokasikan (pisah- pisahkan) pada pos kebutuhan usaha, pos pembayaran pajak, pos biaya?
Ya, alasan………...
Tidak, alasan………
25 LAMPIRAN 2
IDENTITAS RESPONDEN PENELITIAN
No.
Res
Nama Wajib Pajak
Jenis
Kelamin Umur Nama Usaha Jenis
Usaha Aset Omset
1 Laki - laki 40 Toko Fashion Dagang Rp 6.000.000 Rp 7.000.000 2 Perempuan 40 Singkong Keju D 9 Dagang Rp 200.000.000 Rp 15.000.000 3 Nurseto Laki - laki 64 Pedagang Eceran Makanan Dagang Rp 60.000.000 Rp 4.000.000 4 Koko Cahyono Laki - laki 58 Gelatik Food Dagang Rp 75.000.000 Rp 50.000.000
5 Perempuan 57 Makanan Dagang Rp 150.000.000 Rp 5.000.000
6 Perempuan 44 Sumber Karya Putra Dagang Rp 150.000.000 Rp 3.500.000 7 Joko Prasetyo Laki - laki 41 Warung Lawuh Ndeso Dagang Rp 150.000.000 Rp 5.000.000 8 Ibu Yanti Perempuan 39 Fino Terapi Jasa Rp 55.000.000 Rp 5.000.000 9 Aina Ulmardiah Perempuan 49 Ribel Dagang Rp 100.000.000 Rp 75.000.000 10 Sumaryani Perempuan 49 Yani Konveksi Konveksi Rp 75.000.000 Rp 8.000.000 11 Purwanto Laki - laki 64 Bakpia Nura Dagang Rp 60.000.000 Rp 5.000.000 12 Laki - laki 53 Sweet Bitez Dagang Rp 60.000.000 Rp 5.000.000 13 Ibu Susanti Perempuan 69 Fresh Dagang Rp 200.000.000 Rp 175.500.000 14 Perempuan 45 Toko Roti LL Dagang Rp 120.000.000 Rp 7.000.000 15 Rokhmad Laki - laki 50 Roba Sport Wear Konveksi Rp 100.000.000 Rp 60.000.000 16 Bambang Prihadi Laki - laki 55 Batik Gapura Nalendra Konveksi Rp 150.000.000 Rp 7.000.000 17 Bapak Teguh Laki - laki 57 Toko Maju Dagang Rp 200.000.000 Rp 90.000.000 18 Sumarjito Laki - laki 66 Padi Dagang Rp 100.000.000 Rp 7.000.000 19 Sarwoko Laki - laki 48 Mina Kencana Dagang Rp 270.000.000 Rp 168.000.000
26
No.
Res
Nama Wajib Pajak
Jenis
Kelamin Umur Nama Usaha Jenis
Usaha Aset Omset
20 Laki - laki 58 Cheezy Cake And Baery Dagang Rp 55.000.000 Rp 7.200.000 21 Laki - laki 43 Mana Resto Dagang Rp 150.000.000 Rp 7.000.000 22 Wahyu Miranti Perempuan 55 Warung Gaplek Dagang Rp 150.000.000 Rp 40.000.000
23 Laki - laki 56 Sederhana Dagang Rp 150.000.000 Rp 45.000.000
24 Edo Laki - laki 30 Bamboo Dagang Rp 60.000.000 Rp 3.500.000 25 Rini Budiastuti Perempuan 56 Catering Sulung Dagang Rp 150.000.000 Rp 10.000.000 26 Maria Chrisna W Perempuan 33 Clip Distro Konveksi Rp 100.000.000 Rp 5.000.000 27 Laki - laki 37 Yege Resto Dagang Rp 175.000.000 Rp 7.000.000 28 Perempuan 72 Catering Sinar Mulya Abadi Jasa Rp 100.000.000 Rp 200.000.000 29 Budi Santoso Laki - laki 45 Dua Pohon Kelapa Dagang Rp 150.000.000 Rp 7.000.000 30 Suwarno Laki - laki 55 Material Bangunan Dagang Rp 200.000.000 Rp 8.000.000
31 Perempuan 35 Mak.Wuk Dagang Rp 55.000.000 Rp 3.500.000
32 Yoga Laki - laki 42 D'saji Dagang Rp 150.000.000 Rp 9.000.000 33 Perempuan 37 Happy Chicken Dagang Rp 60.000.000 Rp 7.000.000 34 Laki - laki 50 Joglo Ki Penjawi Dagang Rp 250.000.000 Rp 12.000.000
35 Laki - laki 30 Fosil Dagang Rp 60.000.000 Rp 6.000.000
36 Laki - laki 68 Sumarjan Dagang Rp 55.000.000 Rp 4.000.000
37 Perempuan 47 Cosmo Dagang Rp 55.000.000 Rp 8.000.000
38 Laki - laki 55 Gdadi Agung Dagang Rp 70.000.000 Rp 5.000.000 39 Dedy Chrisnomo Laki - laki 37 Remaja Dagang Rp 200.000.000 Rp 110.000.000 40 Purwati Perempuan 54 Suber Rejeki Jasa Rp 100.000.000 Rp 7.000.000 41 Hongky Laki - laki 40 Maestro Dagang Rp 150.000.000 Rp 75.000.000
27
No.
Res
Nama Wajib Pajak
Jenis
Kelamin Umur Nama Usaha Jenis
Usaha Aset Omset
42 Djuliana Perempuan 67 Toko Jaya Dagang Rp 60.000.000 Rp 3.500.000 43 Sri Handayani Perempuan 52 Toko Barokah Dagang Rp 60.000.000 Rp 3.500.000 44 Yanto Laki - laki 47 Tempe Enak Dagang Rp 60.000.000 Rp 7.000.000 45 Soleh Laki - laki 45 Nandomin Dagang Rp 55.000.000 Rp 6.000.000 46 Gito Laki - laki 52 Bakwan Kawi Dagang Rp 55.000.000 Rp 5.000.000
47 Perempuan 53 Surya Dagang Rp 70.000.000 Rp 6.000.000
48 Muh Manto Laki - laki 48 Sumber Jaya Dagang Rp 55.000.000 Rp 5.000.000 49 Diah Perempuan 35 Podo Dadi Dagang Rp 55.000.000 Rp 8.000.000
50 Perempuan 45 Toko 47 Dagang Rp 55.000.000 Rp 3.500.000
51 Laki - laki 55 Toko Sami Jaya Dagang Rp 55.000.000 Rp 6.000.000 52 Laki - laki 63 Berkat Mulia Dagang Rp 55.000.000 Rp 4.000.000
53 Perempuan 37 Lancar Dagang Rp 55.000.000 Rp 7.000.000
54 Perempuan 51 Sumber Sari Dagang Rp 55.000.000 Rp 4.000.000 55 Laki - laki 56 Dadi Rejo Dagang Rp 55.000.000 Rp 3.500.000
56 Laki - laki 47 Rejeki Dagang Rp 55.000.000 Rp 3.500.000
57 Perempuan 56 Jaya Makmur Dagang Rp 55.000.000 Rp 3.500.000
58 Laki - laki 52 Subur Dagang Rp 55.000.000 Rp 4.000.000
59 Fatikun Laki - laki 65 Batik Selotigo Dagang Rp 60.000.000 Rp 10.000.000 60 Perempuan 60 Dadi Langgeng Dagang Rp 55.000.000 Rp 7.000.000 61 Laki - laki 40 Joglo Bu Rini Dagang Rp 300.000.000 Rp 15.000.000
28 LAMPIRAN 3
INFORMASI PERPAJAKAN PP NOMOR 46 TAHUN 2013
No.
Res Bayar Pajak
PP Nomor 46 Tahun
2013
Sumber Informasi Pajak Yang Dibayar Cara Menghitung Pajak Kapan Bayar Pajak
1 Ya Tidak - Pajak Penghasilan (PPh) Hanya Perkiraan saja Rutin setiap bulan
2 Ya Ya Kator pajak Pajak Penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap tahun
3 Ya Ya Fiskus Pajak Penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan
4 Ya Ya Fiskus Pajak Penghasilan (PPh) dan PPN Menghitung total omset Rutin setiap bulan
5 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak Penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap tahun 6 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak Penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan 7 Ya Ya Fiskus dan internet Pajak Penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan 8 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak Penghasilan (PPh) Hanya Perkiraan saja Rutin setiap bulan 9 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak Penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan
10 Ya Tidak Pajak Penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan
11 Ya Ya BAPPEDA Pajak Penghasilan (PPh) Hanya Perkiraan saja 5 tahun sekali
12 Ya Tidak Pajak Penghasilan (PPh) Hanya Perkiraan saja Rutin setiap bulan
13 Ya Ya Fiskus Pajak Penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan dan tahun
14 Ya Ya Media masa Pajak Penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan
15 Ya Tidak Pajak Penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan
16 Ya Ya Sesama pelaku UKM dan fiskus Pajak Penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan
17 Ya Tidak Pajak Penghasilan (PPh) Hanya Perkiraan saja Rutin setiap bulan
18 Ya Tidak Pajak Penghasilan (PPh) Hanya Perkiraan saja Rutin setiap bulan
19 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak Penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan
29 No.
Res Bayar Pajak
PP Nomor 46 Tahun
2013
Sumber Informasi Pajak Yang Dibayar Cara Menghitung Pajak Kapan Bayar Pajak
20 Ya Tidak Pajak Penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan
21 Ya Ya Televisi Pajak Penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan
22 Ya Ya Fiskus Pajak Penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan
23 Ya Tidak Pajak penghasilan (PPh) dan PBB Menghitung total omset Rutin setiap tahun
24 Ya Tidak Pajak penghasilan (PPh) Hanya perkiraan saja Rutin setiap bulan
25 Ya Tidak Pajak penghasilan (PPh) Hanya Perkiraan saja Rutin setiap bulan
26 Ya Ya Media masa Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan dan tahun
27 Ya Tidak Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan
28 Ya Ya Fiskus Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan
29 Ya Ya Fiskus Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan
30 Ya Ya Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan
31 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan 32 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan 33 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan 34 Ya Ya Sesama pelaku UKM dan fiskus Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan 35 Ya Ya Sesama pelaku UKM, media masa Pajak penghasilan (PPh) Hanya perkiraan saja Rutin setiap bulan 36 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan 37 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan 38 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan 39 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan
40 Ya Ya Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan
41 Ya Ya Media masa, tv dan internet Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan
30 No.
Res Bayar Pajak
PP Nomor 46 Tahun
2013
Sumber Informasi Pajak Yang Dibayar Cara Menghitung Pajak Kapan Bayar Pajak 42 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan 43 Ya Tidak Sesama pelaku UKM Pajak penghasilan (PPh) Hanya perkiraan saja Rutin setiap bulan
44 Ya Tidak Pajak penghasilan (PPh) Hanya perkiraan saja Rutin setiap bulan
45 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan 46 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan
47 Ya Ya Fiskus Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan
48 Ya Tidak - Pajak penghasilan (PPh) Hanya perkiraan saja Rutin setiap bulan
49 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan 50 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan 51 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan 52 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak penghasilan (PPh) Hanya perkiraan saja Rutin setiap bulan 53 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan 54 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan 55 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan 56 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan 57 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak penghasilan (PPh) Hanya perkiraan saja Rutin setiap bulan 58 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan 59 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan 60 Ya Ya Sesama pelaku UKM Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan 61 Ya Ya Sesama pelaku UKM dan fiskus Pajak penghasilan (PPh) Menghitung total omset Rutin setiap bulan