EXECUTIVE SUMMARY
PENELITIAN PEMANFAATAN ABU BATUBARA PLTU
UNTUK PENIMBUNAN PADA PRA REKLAMASI TAMBANG BATUBARA Oleh : Ali Rahmat K., S.T.P.
1. LATAR BELAKANG
Batu bara merupakan salah satu sumber bahan bakar yang akan dimanfaatkan secara luas dalam kegiatan penyediaan energi di Indonesia. Pada tahun 2020 diperkirakan akan terjadi peningkatan penggunaan energi batubara secara besar-besaran di bidang pembangkitan listrik dari 50 TWjam menjadi 320 TWjam (4,6 kali lipat). Jumlah ini akan terus meningkat seiiring dengan adanya proyek nasional pembangunan PLTU 10.000 MW. Pada proses pembangkitan di PLTU ini akan menghasilkan abu batubara sebanyak 8-10 %. Dengan demikian volume abu terbang (fly ash) dan abu tinggal (bottom ash) yang dihasilkan PLTU diperkirakan sekitar 2.000.000 ton abu batubara per tahun. Jumlah abu yang sangat besar dan apabila tidak dikelola dengan benar dapat menimbulkan masalah serius dan memerlukan tempat penampungan yang sangat luas.
Berdasarkan PP No. 85 Tahun 1999 Jo PP No. 18 Tahun, abu batubara dikategorikan sebagai limbah B3 dari sumber yang spesifik. Namun ada PP tersebut dimungkinkan untuk merevisi status abu batubara apabila Limbah B3 dari kegiatan yang tercantum dalam Lampiran I, Tabel 2 Peraturan Pemerintah ini dapat dikeluarkan dari daftar tersebut oleh instansi yang bertanggung jawab, apabila dapat dibuktikan secara ilmiah bahwa limbah tersebut bukan limbah B3 berdasarkan prosedur yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab setelah berkoordinasi dengan instansi teknis, lembaga penelitian terkait dan penghasil limbah.
Sehubungan dengan hal tersebut, Puslitbang tekMIRA melakukan penelitian pemanfaatan abu batubara yang mencakup studi literatur, uji hayati, uji kandungan radioaktif dan uji toksisitas terhadap abu batubara. Dari studi literatur akan dilihat beberapa masalah terkait penelitian tentang status abu batubara, regulasi di beberapa negara tentang abu batubara, pemanfaatan abu batubara pada berbagai bidang dan isu lingkungan terkait dengan abu batubara. Uji toksisitas yang meliputi uji TCLP (Toxicity Characteristic Leaching Procedure), LC50 (Lethal Concentration 50) LD50 (Lethal Dose 50) dan uji radioaktifitas abu batubara. Uji hayati dengan menggunakan abu batubara sebagai media tanam pada 3 jenis tanaman. Uji radioaktif untuk melihat konsentrasi radionuklida yang dihasilkan Soleh abu batubara.
2. TUJUAN
Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah:
Mendapatkan data ilmiah terhadap status abu batubara sebagaimana pelaksanaan amanat Peraturan Pemerintah No 85 Tahun 1999 Jo PP No 18 Tahun 1999
Mengetahui komposisi campuran abu batubara, bahan organik, overburden dan top soil sehingga diperoleh model penimbunan pada kegiatan pra reklamasi tambang batubara
3. METODOLOGI
Studi literatur dilakukan untuk memperoleh data sekunder yang mendukung kegiatan penelitian.
Pada studi literatur ini didapatkan data berupa peraturan perundangan mengenai abu batubara di Indonesia, perkembangan penelitian abu batubara, pemanfaatan abu batubara secara umum, pemanfaatan abu batu bara untuk penimbunan pada reklamasi lahan bekas tambang dan perbandingan regulasi atau peraturan pada beberapa negara tentang pemanfaatan abu batubara.
Tahap pengujian laboratorium
Pada penelitian ini dilakukan beberapa tahap pengujian laboratorium yaitu : a) Analisis kimia contoh awal, campuran media tanah awal dan akhir
Contoh abu batubara, top soil dan overburden yang berasal dari PLTU Bukit Asam dan PT Bukit Asam, dianalisis di Laboratorium Pengujian Kimia Mineral dan Laboratorium Pengujian Kimia Lingkungan Puslitbang tekMIRA Bandung dan Laboratorium Tanah Balittah Bogor. Analisis kimia tanah yang dilakukan antara lain : pH H2O, pH KCl, C, N, C/N, P2O5, K2O, P2O5, K2O, Ca, Mg, P, K, Na,S, KTK, KB, Al 3+, H+, Mg, S, Fe, Al, Mn, Cd, Co, Ni, Cr, As Cu, Zn, B.
b) Uji hayati dan analisis logam berat
Kegiatan uji hayati dilakukan dengan menggunakan 3 jenis tanaman yaitu :
- Caisin (Brassica chinensis) merupakan tanaman sayuran yang mewakili jenis tanaman pangan. Caisin juga merupakan tanaman bioakumulator logam berat yang cukup baik.
- LCC (Legume Cover Crops) jenis Centrosema pubescens (CP) merupakan tanaman jenis kacang-kacangan. Pada kegiatan reklamasi tanaman LCC biasanya digunakan sebagai tanaman perintis dan pelindung top soil.
- Trembesi ( Samanea saman ) merupakan tanaman keras yang mulai banyak digunakan pada kegiatan reklamasi karena memiliki adaptasi terhadap lingkungan yang cukup baik, kemampuan menyerap CO2 yang tinggi dan sebagai tanaman produksi yang memiliki nilai ekonomi.
Tahapan kegiatan uji hayati meliputi :
- Preparasi contoh abu batubara, top soil dan overburden
- Pembibitan tanaman caisin dan LCC (Legume Cover Crops) jenis Centrosema pubescens (CP)
- Pencampuran contoh abu batubara (coal ash), top soil, bahan organik dan overburden dengan total 10 perlakuan (tanpa mikoriza dan penambahan mikoriza) dan 3 kali ulangan - Penambahan 1 liter air ke media tanam sampai dengan kapasitas lapang dan inkubasi
selama 2-7 hari.
- Pemindahan bibit tanaman caisin dan LCC (Legume Cover Crops) jenis Centrosema pubescens (CP) dan trembesi ke masing-masing media tanaman yang telah ditentukan.
- Pemeliharaan. Pada saat pemeliharaan dilakukan pengukuran pertumbuhan tanaman yang meliputi diameter batang, jumlah daun dan tinggi tanaman.
- Pemanenan. Caisin dipanen setelah 4-5 minggu masa tanam dengan 3 kali ulangan penanaman. Centrosema pubescens (CP) dipanen setelah 5 bulan masa tanam. Trembesi dilakukan pengecekan kandungan logam berat pada jaringan tanaman setelah 1,5 tahun masa tanam.
- Pengukuran berat basah dan kering tanaman.
- Pengukuran berat kering tanaman
- Pengujian kandungan logam berat pada jaringan tanaman yang meliputi unsur Cu, Zn, Pb, Cr, As dan logam Fe.
- Pengolahan data secara statistik menggunakan program IRRISTAT.
c) Uji TCLP, LD 50 dan LC 50
Uji TCLP (US EPA SW-846 metode 1311)
Uji LD 50 96 jam
Analisis toksisitas dilakukan mengikuti prosedur standar dari US EPA OPPTS 870.1100 dan metode standar untuk penentuan kualitas air dan air limbah (2005) dan juga prosedur dari referensi lain.
Uji toksisitas akut (LC50)
Secara umum, metode yang digunakan dalam penelitian ini diadaptasikan dari American Standard Testing Materials (ASTM) E 729 – 88a mengenai ”Guide for conducting acute toxicity with fishes, macroinvertebrates and amphibians”.
d) Uji radionuklida abu batubara( uranium, radium, thorium dan kalium) e)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis kimia contoh awal, campuran media tanah awal dan akhir
Karakteristik kimia abu batubara
Kandungan abu batubara dari PLTU Bukit Asam sebagian besar terdiri dari silikat dioksida (SiO2), alumunium (Al2O3), besi (Fe2O3), dan kalsium (CaO), serta sedikit magnesium, potassium, sodium, titanium dan sulfur. Kandungan mineral dalam abu batubara dipengaruhi oleh komposisi kimia batubara, proses pembakaran batubara di PLTU serta bahan tambahan yang digunakan dalam hal ini termasuk minyak untuk stabilisasi nyala api dan bahan tambahan untuk pencegahan korosi).
Analisis kimia contoh (abu batubara, top soil, overburden) awal Top soil
Data tekstur dan sifat kimia top soil sebelum pengujian disajikan pada Tabel 3. Hasil analisis menunjukkan bahwa tanah top soil bertekstur liat, pH tanah terekstrak H2O termasuk kategori sangat masam, pH ekstrak KCl 3,3. Kadar C-organik dan N-total rendah dengan C/N rasio tergolong sedang.
Kadar P dan K terekstrak HCl 25% dan kadar P tersedia (terekstrak Bray 1) tegolong rendah. Nilai tukar kation Ca, Mg dan K-dd tergolong rendah sedangkan Ca-dd tergolong sangat rendah. Kapasitas Tukar Kation (KTK) tergolong tinggi sedangkan kejenuhan basa (KB) tergolong sangat rendah.
Aluminium dapat ditukar (Al-dd) dan kejenuhan Al tergolong sangat tinggi.
Overburden
Hasil analisis menunjukkan bahwa tanah overburden bertekstur liat, pH tanah terekstrak H2O termasuk kategori sangat masam, pH ekstrak KCl 5,5. Kadar C-organik dan N-total sedang dengan C/N rasio tergolong rendah. Kadar P terekstrak HCl 25% rendah dan K terkestrak HCl 25% tergolong tinggi, kadar P tersedia (terekstrak Bray 1) tergolong sangat rendah. Nilai tukar kation Ca, Mg, K dan Na-dd tinggi sampai sangat tinggi. Kapasitas tukar kation (KTK) tergolong tinggi dengan tingkat kejenuhan basa (KB) tergolong sangat tingggi. Aluminium dapat ditukar (Al-dd) dan kejenuhan Al tidak terdeteksi.
Abu batu bara
Data hasil analisis kimia abu batu bara disajikan pada Tabel 4.3. Hasil analisis menunjukkan bahwa abu batu bara mempunyai pH alkalis, kandungan C-organik, N-total dan C/N rasio rendah.
Kandungan hara total P dan K tergolong rendah. Sedangkan kandungan Ca, Mg dan Al tergolong tinggi sampai sangat tinggi. Kandungan Al dan Fe tergolong sangat tinggi.
Uji Hayati dan logam berat jaringan tanaman
Caisin masa tanam pertama
Dari ANOVA yang dihasilkan terlihat bahwa perlakuan tidak berpengaruh terhadap berat basah Tanaman Caisin. Pengaruh penambahan abu batubara terlihat berbeda nyata pada variable berat basah tanaman Caisin masa tanam pertama dan ketiga. Caisin pada media kontrol terlihat memberikan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan Caisin yang ditanam pada media dengan penambahan abu batubara. Sedangkan pada tanama kedua Caisin pada media kontrol terlihat memberikan pertumbuhan yang hampir sama dengan Caisin yang ditanam pada media dengan penambahan abu batubara.
Kandungan logam berat tanaman Logam Pb
Hasil analisis menunjukkan, kandungan Pb pada penaman ke 1 terjadi penurunan yang tajam pada pemberian 10% abu batu bara dari 11 ppm menjadi 5 ppm kemudian secara konsisten kadar Pb menurun sampai terendah yatu 3 ppm pada pemberaian 17,5% abu batu bara. Namun kandungannya lebih tinggi apabila dibandingkan dengan pada penanaman ke 2 dan ke 3. Pada penanam ke 2, kandungan Pb dalam tanaman caisin paling rendah dibandingkan dengan penanaman ke 3. Sedangkan pada penanam ke 3, kandungan Pb dalam tanaman meningkat kembali dengan pemberian mikoriza namun kandungannya dalam tanaman mencapai nol pada pemberian abu batu bara 17,5%
dibandingkan dengan tanpa pemberian mikoriza dimana kandungan Pb dalam tanaman yang fluktuatif.
Logam Cd
Hasil analisis menunjukkan, pada masa tanam ke 2 dan ke 3, kandungan Cd dalam tanaman caisin relatif kosntan sampai pemberian 5% abu batu bara, baik tanpa maupun yang diberi mikoriza.
Selanjutnya menurun pada pemberian 10% abu batu bara kemudian relatif konstan sampai pemberian 17,5% abu batubara, kecuali pada penanaman ke-3 yang diberi mikoriza kandungan Cd dalam tanaman caisin meningkat kembali pada pemberian 12,5% abu batubara dan selanjutnya menurun kembali mencapai kandungan yang sama pada pemberian 17,5% abu batubara. Sedangkan pada penanaman ke-1, kandungan Cd dalam tanaman caisim lebih rendah diandingkan dengan pada penanaman ke-2 dan ke-3, dan kandungannya secara konsisten terus menurun sejalan dengan peningkatan peningkatan pemberian abu batu bara dan mencapai terendah pada pemberian 17,5% abu batubara.
Logam As
Pada penanaman ke-1, kandungan logam As dalam tanaman caisin tidak terdetekasi artinya belum diserap oleh tanaman, namun pada penanaman ke-2 tanpa diberi mikoriza kandungan As dalam tanaman meningkat tajam mencapai 9 ppm pada pemberian 12,5% abu batubara dan meningkat menjadi 10 ppm pada pemberian 17,5% abu batubara. Sedangkan yang diberi mikoriza, kandungan logam, As dalam tanaman meningkat pada pemberian 5% abu batubara dari 0 ppm menjadi 7 ppm, selanjutnya menurun dan konstan sampai pemberian 12,5% abu batu bara dan menurun kembali menjadi 0 ppm pada pemberian 17,5% abu batu bara. Pada penanaman ke-3, kandungan logam berat As dalam tanaman relatif tidak terdeteksi baik yang tanpa dan diberi mikoriza sampai pemberian 17,5% abu batubara.
Logam Cr
Hasil analisis menunjukkan, kandungan logam Cr dalam tanaman pada penanaman ke-1 masih rendah dibandingkan dengan pada penanaman ke-2 dan ke-3. Pada penanaman ke -2 kandungan Cr dalam tanaman meningkat terutama tanpa diberi mikoriza. Sedangkan yang diberi mikoriza, kandungan Cr dalam menurun mencapai 5 ppm pada pemebrian 17,5% abu batu bara. Pada penanaman ke-3, kandungan logam Cr dalam tanaman menurun tajam baik tanpa maupun yang diberi mikoriza dibandingkan dengan penanaman ke-2. Pada perlakuan yang tidak diberi mikoriza kandunagn Cr dalam tanaman fluktuatif menurun tajam pada pemberian 10% abu batu bara menjadi 1 ppm kemudian meningkat pada pemberian 12,5% dan menurun kembali pada pemberian 17,5% abu batu bara menjadi 1 ppm. Sedangkan yang diberi mikoriza kandungan Cr dalam tanaman relatif stabil terjadi peningkatan pada peemberian 10% abu batu bara menjadi 4 ppm selanjutnya menurun mencapai 1 ppm pada pemberian 17,5% abu batu bara.
Logam Cu
Kandungan logam Cu dalam tanaman caisin memiliki pola yang sama baik pada perlakuan tanpa dan diberi mikoriza. Secara umum kandungan Cu dalam tanaman menurun pada pemberian 10% abu batu bara dan meningkat pada pemberian 12,5% abu batu bara, selanjutnya kandungan Cu dalam tanaman caisin menurun kembali pada pemberian 17,5% abu batubara. Kecuali pada penanaman ke 2, pemberian 17,5% abu batu bara tanpa pemberian mikoriza kadar Cu dalam tanaman meningkat.
Pemberian mikoriza pada penanaman ke 2, kandungan Cu dalam tanaman caisin menurun tajam pada pemberian 5% abu batu bara dari 18 ppm menjadi 7 ppm dan relatif terus menurun sampai pemberian 17,5 abu batu bara mencapai 5 ppm. Sedangkan pada penanaman ke-3 pemberian mikoriza kadar Cu meningkat tajam dari 8 ppm pada pemberian 10% abu batubara menjadi 14 ppm pada pemberian 12,5% abu batubara. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa pemberian abu batubara sampai 17,5% kandungan Cu dalam tanaman merunun pada semua perlkauan dan terendah pada penanaman ke-2 yang diberi mikoriza.
Logam Zn
Kandungan logam Zn dalam tanaman caisin polanya relatif sama pada penanaman ke-1, ke-2 dan ke-3 baik tanpa maupun yang diberi mikoriza yaitu relatif konstan pada pemberian 5% abu batubara.
Selanjutnya kandungan Zn dalam tanaman menurun mencapai terendah pada pemberian 17,5% abu batu bara. Kecuali pada penanaman ke-1 dan ke-2 yang diberi mikoriza, kandungan Zn tanaman menurun tajam pada pemberian 5% abu batu bara, dari 552 ppm masing-masing menjadi 384 ppm dan 384 ppm. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kandungan Zn tanaman menurun sejalan dengan peningkatan pemberian abu batu bara dan mencapai ternedah pada pemberian 17,5% abu batu bara terutama pada penanaman ke-3 baik yang tanpa dan yang diberi mikoriza yaitu mencapai 38 ppm.
Legume Cover Crops (LCC)
Kadar logam berat dalam Centrosema pubescens Logam Pb
Pengaruh pemberian abu batu bara dikombinasikan tanpa dan dengan micoriza terhadap kandungan hara Pb dalam tanaman legum pada disajikan pada Gambar 4.18. Hasil analisis menunjukkan bahwa tanpa pemberian mikoriza kandungan Pb dalam tanaman Centrosema pubescens menurun dari 2,9 ppm menjadi 1,9 ppm pada pemberian 5% abu batubara, selanjutnya kandungan Pb dalam tanaman relatif konstan sampai pemberian 17,5% abu batu bara. Sedangkan kandungan Pb dalam tanaman legum dengan pemberian mikoriza kandungan Pb dalam tanaman menurun dari 2% menjadi 1 % pada pemberian 5% abu batu bara kemudian meningkat tajam pada pemberian 10% abu batu bara menjadi 3,9 ppm. Selanjutnya kandungan P dalam tanaman menurun kembali menjadi 2 ppm pada pemberian abu batubara 17,5%. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa pemberian mikoriza dapat menurunkan serapan Pb oleh tanaman Centrosema pubescens pada pemberian abu batubara dengan jumlah yang tinggi yaitu 17,5% abu batubara.
Logam Cd
Hasil analisis menunjukkan bahwa kandungan Cd dalam tanaman Centrosema pubescens meningkat dari 0,4 ppm pada perlkuan kontrol menjadi 1 pp pada pemberian 10% abu batu bara, selanjutnya turun menjadi 0,5 ppm pada pemberia 12,5% dan 17,5% abu batubara. Pada pemberian mikoriza kandungan Cd dalam tanaman legum sedikit menurun pada pemberian 5% abu batu bara, sedikit
meningkat pada pemberian 10% abu batu bara, sedangkan pada pemberian 12,5% abu batu bara kandungan Cd dalam tanaman menurun menjadi 0,2 ppm, kemudian meningkat kembali menjadi 0,5 ppm pada pemberian 17,5% abu batubara. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa pemberian mikoriza dapat menurunkan kandungan Cd dalam tanaman Centrosema pubescens terutama sampai pemberian 12,5% abu batu bara
Logam Ag
\
Tanpa pemberian mikoriza, hasil analisis menunjukkan kandungan logam berat Ag dalam tanaman Centrosema pubescens menurun sejalan dengan peningkatan pemberian abu batu bara yaitu dari 0,33 ppm pada kontrol menjadi 0,1 ppm pada pemberian 12,5% abu batubara dan tetap konstan sampai pemberian 17,5% abu batu bara. Sedangkan pada pemberian mikoriza kandungan logam berat Ag sedikit menngkat dari 0,08 ppm pada kontrol menjadi 0,1 ppm pada pemberian 10% abu batu bara.
Selanjutnya kandungan Ag dalam tanaman menurun sampai pemberian 17,5% abu batu bara menjadi 0,05%. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa pemberian mikoriza dapat menurunkan kandungan Ag dalam tanaman sebagai akibat dari pemberian abu batu bara.
Logam berat As
Hasil analisis menunjukkan, pada perlakuan tanpa mikoriza kandungan As dalam tanaman meningkat dari 0 ppm pada kontrol menjadi 0,08 ppm pada pemberian 10% abu batubara kemudian menurun sampai 0 ppm pada pemberian 12,5% abu batubara kemudian sedikit meningkat menjadi 0,03 ppm pada pemberian 17,5% abu batu bara. Sedangkan dengan pemberian mikoriza, kandungan As dalam tanaman Centrosema pubescens meningkat dari 0,07 ppm pada kontrol menjadi 0,11 ppm pada pemberian 5% abu batubara, selanjutnya menurun tajam menjadi 0,02 ppm pada pemberian 10% dan konstan sampai pemberian 12,5% abu batubara. Pada pemberian abu batubara yang ditingkatkan menjadi 17,5% kandungan logam As dalam tanaman menurun sampai 0 ppm. Dengan demikian peningkatan pemberian abu batubara tidak berpengaruh langsung terhadap peningkatan kandungan logam As dalam tanaman dan pemberian mikoriza dapat menurunkan kandungan As dalam tanaman pada pemberian abu batubara yang lebi tinggi. Pemberian mikoriza dapat menurunkan secara tajam kada As dalam legum pada pemberian 10% abu batubara sedangkan tanpa pemberian mikoriza sebaliknya logam As dalam tanaman Centrosema pubescens meningkat.
Logam Cr
Pada perlakuan yang tidak diberi mikoriza, kandungan logam berat Cr dalam tanaman meningkat dari 0 ppm pada kontrol menjadi 5,1 ppm pada pemberian 10% abu batu bara, selanjutnya kandungannya Cr dalam legum menurun menjadi 2,3 ppm pada pemberian 17,5% abu batu bara. Sedangkan pada pemberian micoriza, kandungan Cr dalam tanaman terus meningkat sejalan dengan peningkatan pemberian abu batubara, kandungan logam berat Cr meningkat dari 0 ppm pada kontrol menjadi masing-masing 1,3 ppm; 3,8 ppm dan 6,4 ppm pada pemberian 5, 10 dan 12,5% abu batubara, selanjutnya meningkat mencapai 9,6 ppm pada pemberian 17,5% abu batu bara.
Logam berat Se
Hasil analisis menunjukkan kandungan logam Se dalam tanaman berfluktuatif. Tanpa pemberian mikoriza, kandungan logam berat Se dalam tanaman Centrosema pubescens meningkat pada pemberian 5% abu batubara dari 0 ppm menjadi 2 ppm, kemudian menurun kembali sampai 0 ppm pada pemberian 10% abu batubara. Selanjutya kandungan Se dalam meningkat menjadi 1,3 ppm pada pemberian 17,5% abu batubara. Tidak demikian halnya dengan yang diberi mikoriza kandungan logam Se dalam legum berfluktuasi tajam. Kandungan logam Se dalam tanaman menurun pada pemberian 5% abu batubara menurun menjadi 0 ppm, kemudian meningkat tajam menjadi 3,1 ppm pada pemberian 10% abu batubara. Selanjutnya menurun kembali menjadi 0 ppm pada pemberian 12,5% abu batubara, kemudian meningkat kembali secara tajam pada pemberian 17,5% abu batubara menjadi 2,7 ppm.
Trembesi (Samanea saman)
Tanaman trembesi merupakan tanaman keras yang berumur tahunan, pada penelitian ini pengamatan hanya dilakukan 10 mts sehingga belum memperlihatkan perbedaan yang signifikan.
Dari ANOVA yang dihasilkan terlihat bahwa perlakuan tidak signifikan terhadap diameter tanaman Trembesi
Uji TCLP, LD 50 dan LC 50
Uji TCLP
Dari hasil anailisis TCLP abu batubara PLTU Bukit Asam diketahui bahwa dari pengujian 11 terhadap kandungan logam berat (As, Ba, Bo, Cd, Cr, Cu, Pb, Hg, Se, Ag dan Zn) konsentrasi logam- logam tersebut masih jauh di bawah standar yang ditentukan baik oleh PP No. 85 Tahun 1999 maupun USEPA. Sehingga dapat disimpulkan berdasarkan hasil analisis TCLP abu batubara PLTU Bukit
Asam bukan merupakan limbah B3 karena memiliki konsentrasi yang masih dibawah ambang batas zat pencemar. Namun demikian, pada penelitian ini tetap dilakukan pengujian toksikologi dan pengujian lain untuk mendapatkan data yang lebih komprehensif.
Uji LD 50 96 jam
Dari hasil pengujian tersebut dapat disimpulkan menurut PP No 18 tahun 1999 dan PP No. 74 Tahun 2001 bahwa abu batubara masuk dalam kriteria relatif tidak berbahaya (relatively harmless) karena memiliki nilai LD50 yang lebih besar dari 15000 mg/kg bb bahkan dalam pengujian dilakukan sampai dengan 50000 mg/kg bb. Bahkan dalam Pasal 8 ayat 2 dijelaskan bahwa ‘apabila LD50 lebih besar dari 15 gram per kilogram berat badan maka limbah tesebut bukan limbah B3’.
Uji LC 50
Ikan mas dipilih sebagai hewan uji karena merupakan salah satu organisme hewan air tawar yang direkomendasikan dan mewakili spesies dari kelasnya (EPS, 1977). Ikan mas juga merupakan komponen penting dalam komunitas air. Sensitivitasnya terhadap berbagai kontaminan air cukup tinggi dan telah digunakan dalam uji toksisitas secara internasional.
Hasil uji hayati toksisitas akut abu batubara dinyatakan melalui nilai LC50 (Lethal Concentration) selama 96 jam terhadap hewan uji. Besarnya nilai LC50 untuk setiap larutan uji dinyatakan dalam Tabel 1 dan data pengamatan kematian serta hasil perhitungan analisis probit disajikan pada Lampiran.
Tabel Nilai LC50 rata-rata abu batubara terhadap ikan mas
Larutan Uji Nilai LC50 96 jam (%) Nilai LC50 96 jam (ppm)
Elutriate abu batubara 33,71 337.100
Menurut Australia Petroleum Energi Association (APEA) 1994 dan Energy Research and Development Corporation (ERDC) 1994, secara umum kriteria toksisitas (toxicity rating) suatu senyawa/bahan dibedakan menjadi :
Berdasarkan nilai LC50 pada Kriteria Toksisitas , maka abu batubara dapat dikategorikan tidak beracun (non toxic) terhadap ikan mas, karena berada dalam rentang >100.000 ppm.
Uji radionuklida abu batubara
Tabel Dosis radiasi abu batubara
Nama Cuplikan Nuklida Aktivitas (Bq/kg) Dosis serap (nGy/jam)
Dosis efektif (mSv/thn)
Abu batubara
U-238 107,9 ± 6,8
83,7 0,41
Ra-226 64,6 ± 0,9 Th-232 76,7 ± 1,5
K-40 147,7 ± 4,3
Dosis radiasi yang dihasilkan oleh abu batubara adalah 0,41 mSv/tahun. Hal ini menunjukkan bahwa dari tinjauan dosis radiasi abu batubara tersebut masih aman karena dibawah nilai ambang dosis untuk masyarakat umum yaitu 1 mSv/tahun.
4. KESIMPULAN
Pada uji TCLP abu batubara PLTU Bukit Asam bukan merupakan limbah B3 karena konsentrasi logam berat masih dibawah ambang batas baik oleh PP No. 85 Tahun 1999 maupun US EPA. Pada uji LD 50 96 jam terhadap diketahui abu batubara PLTU Bukit Asam masuk dalam kriteria relatif tidak berbahaya (relatively harmless). Setelah melalui uji hayati, abu batubara masuk dalam kriteria toksisitas tidak beracun (non toxic) bagi hewan uji air tawar yaitu ikan mas (Cyprinus carpio Linn.).
Hal ini ditunjukkan dengan nilai LC50 96 jam berada >100.000 ppm
Pengujian hayati yang dilakukan dengan menggunakan tanaman caisin dan Centrosema pubescens diketahui abu batubara pada awal masa tanam masih memberikan dampak yang sedikit menghambat pertumbuhan tanaman. Setelah penanaman sampai dengan tahap III abu batubara memberikan dampak yang positif terhadap pertumbuhan caisin. Untuk tanaman Centrosema pubescens diduga abu batubara berpengaruh positif terhadap pertumbuhan setelah lebih dari satu kali masa tanam. Pada tanaman trembesi abu batubara telah memberikan pengaruh yang positif terhadap pertumbuhan.
Jumlah konsentrasi logam berat pada jaringan tanaman caisin penanaman tahap (I, II dan III) dan Centrosema pubescens masih standar masih berada batas normal. Jumlah volume penambahan abu batubara yang optimum sebagi material penimun untuk pertumbuhan tanaman sebesar 10 – 12.5 % volume. Pengujian radionuklida terhadap abu batubara PLTU Bukit Asam menunjukkan dosis radiasi abu batubara masih aman (dibawah nilai ambang dosis 1 mSv/tahun)