1
Universitas Kristen Petra 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Laporan berjudul “Citywalk di Kota Lama Semarang” ini dibuat sebagai pertanggungjawaban perancangan Tugas Akhir, sebagai salah satu persyaratan kelulusan program Sarjana Teknik Arsitektur pada Fakultas Teknik Sipil dan Perancangan Universitas Kristen Petra.
Semarang kota indah permai, bahkan ada seorang asing mengatakan sebagai Venesia dari Timur. Memang kota Semarang indah mempesona penuh kenangan tiada taranya bagi yang pernah mengenalnya. Bahkan letak geografisnya-pun sangat indah dalam suatu teluk terbagi dalam dua bagian kota bawah & kota atas, dengan dikelilingi bukit-bukit serta bayang-bayang aneka gunung di kejauhan (Tio, 2008).
Terletak pada posisi 110.23’.57’.79” BT dan Lintang 6.55’.6” LS serta 6.58’18” LS. Sejarah kota Semarang, mulai dari Kerajaan Demak, Kesultanan Pajang, Kesultanan Mataram, penjajahan VOC Belanda, Jepang, Inggris, pemerintahan Hindia Belanda, hingga pemerintahan Republik Indonesia saat ini telah menjadikan Semarang sebagai kota metropolis yang sarat identitas.
Sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Semarang, langkah nyata yang diambil pemerintah menanggapi kebutuhan-kebutuhan Kota Semarang di bidang pariwisata dan budaya adalah dengan menggelar Visit Jawa Tengah 2013 (VJT 2013). Program VJT 2013 ini sebenarnya merupakan program pemerintah yang tertunda di tahun 2011, karena persiapan yang masih belum maksimal.
“Jawa Tengah kaya akan potensi pariwisata, tetapi hampir semua sarana dan prasarana obyek pariwisata tersebut belum dikelola secara optimal. Oleh karena itu, Gubernur Jateng Bibit Waluyo memutuskan menunda penyelenggaraan tahun kunjungan wisata atau Visit Jawa Tengah, dari tahun 2011 menjadi tahun 2013”
(“Visit Jateng ditunda 2013”, 2010, Mei).
2
Universitas Kristen Petra Banyak peninggalan-peninggalan arsitektur di Semarang yang berpotensi menjadi objek wisata baik oleh turis lokal maupun mancanegara serta mampu berpartisipasi dalam program VJT 2013, salah satunya adalah kawasan Kota Lama.
Kota Lama Semarang merupakan warisan sejarah pertumbuhan Kota Semarang yang memiliki nilai arsitektural, estetis, ilmu pengetahun, dan budaya yang tinggi sehingga perlu dilestarikan dan ditata kembali secara terarah untuk menyesuaikan dengan perkembangan jaman.
Kawasan Kota Lama Semarang disebut juga OUTSTADT dengan luas kawasan sekitar 21 Hektar. Dilihat dari kondisi geografinya, nampak kawasan ini terpisah dengan daerah sekitarnya, sehingga terlihat seperti kota tersendiri, sehingga mendapat julukan “LITTLE NETHERLAND”.
Melihat kondisi Kota Lama saat ini:
1. Tata letak, komposisi, gaya, ketinggian, elemen, bahan dan warna bangunan serta lansekap perkotaan yang semrawut
2. Jalan yang tidak manusiawi 3. Hilangnya ruang terbuka
4. Arsitektur Kota Lama yang semakin non figuratif
5. Pembangunan baru (infill) yang tidak sesuai dengan lingkungnnya 6. Penghancuran bangunan kuno
7. Pemanfaatan ruang terbuka perkotaan dan antar bangunan yang tidak saling menunjang citra kawasan budaya
Pemerintah Kota Semarang merencanakan revitalisasi Kota Lama yang diarahkan pada pengembangan kawasan Kota Lama menjadi aset wisata, budaya atau arsitektur, dan sekaligus mengembangkan retail bisnis formal dan informal, sehingga dapat meningkatkan ekonomi, devisa, dan bisnis yang aktif selama 24 jam. Dengan tujuan untuk mengembalikan atau menghidupkan kembali potensi Kota Lama yang sudah mati agar dapat berfungsi dan dimanfaatkan untuk kepentingan publik dengan tetap mendukung perkembangan kawasan sebagai objek wisata, budaya, dan ekonomi.
3
Universitas Kristen Petra Revitalisasi di Kawasan Kota Lama diarahkan salah satunya dalam bentuk festival pasar, melalui program wisata, lingkungan pejalan kaki, pemanfaatan sekitar bantaran sungai, kawasan bersejarah, dan kota yang nyaman.
Festival pasar dengan pengembangan sirkulasi pejalan kaki sebagai sistem pergerakan utama (mengubah bagian kota menjadi ruang-ruang untuk pejalan kaki) memberikan kesempatan-kesempatan, pemandangan, aroma, suara, dan kegembiraan tersendiri di dalam kegiatan revitalisasi. Bagian fisik kota seperti bangunan kuno, jalan, dan pemandangan dapat menciptakan suatu kenikmatan.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan dalam upaya revitalisasi kawasan Kota Lama Semarang diperlukan fasilitas rekreasi dan wisata yang mampu menjadi generator untuk menghidupkan kawasan setempat tanpa menghilangkan identitas dan jati diri Kota Lama itu sendiri. Fasilitas tersebut berupa Citywalk di Kota Lama Semarang.
Fasilitas yang disediakan berupa tempat makan, shophouse, retail-retail yang menjual hasil karya lokal Semarang, serta fasilitas pendukung lain yang mampu mencerminkan identitas Kota Semarang. Fasilitas-fasilitas tersebut dapat berupa bangunan baru maupun memanfaatkan bangunan yang sudah ada sesuai dengan kriteria konservasi pada kawasan Kota Lama.
Citywalk di Kota Lama Semarang ditujukan untuk masyarakat umum baik bagi penduduk lokal maupun wisatawan yang ingin menikmati keindahan dan sejarah Kota Lama Semarang dengan berjalan kaki (atau dengan sepeda maupun becak).
1.2 Hasil Kajian Pustaka
Kota yang baik harus merupakan suatu kesatuan sistem organisasi, baik yang bersifat sosial, visual, maupun fisik yang terencana dan terancang secara terpadu. Oleh karena itu, Kota Lama Semarang tidak hanya direncanakan tetapi juga harus dirancang. Kehadiran rancang kota merupakan jembatan yang diperlukan untuk menghubungkan secara layak berbagai kebijaksanaan perencanaan kota dengan produk perancangan fisiknya.
Rancangan kota berkaitan erat dengan kualitas ruang kota, terutama yang menyangkut kepentingan umum pada suatu bagian atau sektor kota. Sebagai
4
Universitas Kristen Petra jembatan antara perencanaan kota dan perancangan arsitektur baik bangunan maupun ruang luar diantara bangunan, rancang kota bukan merupakan produk akhir, melainkan suatu proses yang memberikan arahan bagi terwujudnya suatu lingkung bina fisik yang layak dan sesuai dengan aspirasi masyarakat, kemampuan sumber daya setempat, serta daya dukung lahannya.
Untuk menggali nilai sejarah, keunikan rancang kota, dan potensi serta permasalahan yang ada, perlu diadakan studi khusus melalui beberapa tahap bagi suatu kawasan Kota Lama. Keberadaan bangunan kuno di Kota Lama pada dasarnya mencerminkan kisah sejarah, tata cara hidup,dan warisan budaya dari peradaban yang ada pada masa lalu.
Kesinambungan masa lampau, masa kini, dan masa depan yang terejawantahkan dalam karya-karya arsitektur setempat, merupakan faktor kunci dalam meningkatkan rasa harga diri, dan percaya diri warga, dan jati diri suatu kawasan.
Perencanaan kota dengan tetap memanfaatkan kembali bangunan- bangunan tua merupakan pilihan positif sudah tentu konsekuensinya adalah melakukan beberapa penyesuaian dan kegiatan kegiatan konservasi pada kawasan yang dianggap bersejarah, kuno, atau memiliki kekayaan yang mempunyai nilai sejarah dan atau bangunan kuno berarsitektur spesifik. Pemanfaatan kembali dengan penyesuaian dan penerapan metode-metode konservasi dalam suatu kawasan bersejarah tidak menutup kemungkinan kehadiran desain baru serta perubahan bangunan dan lingkungan yang bertujuan untuk menyesuaikan dengan tuntutan dan kebutuhan baru.
Proses kematian Kota Lama di Semarang merupakan suatu proses kemunduran yang dapat dilihat dari gejala perkotaan sebagai berikut:
a. Terjadinya pergeseran pusat - pusat kegiatan fungsi kawasan, dari pusat kota sebagai akibat dari manajemen pertumbuhan kota yang kurang baik. Hal ini menimbulkan:
Munculnya lokasi - lokasi kumuh dalam kawasan Kota Lama yang mengakibatkan terbengkalainya potensi-potensi rancang kota yang ada.
Penghancuran sejumlah bangunan kuno untuk digantikan bangunan baru yang tidak kontekstual.
5
Universitas Kristen Petra
Arsitektur Kota Lama yang semakin non–figurative/ anti space.
Ditinggalkannya ruang terbuka yang semula merupakan ruang komunal baik formal maupun tidak formal.
Pemanfaatan ruang perkotaan dan antar bangunan yang tidak sesuai dengan citra kawasan budaya.
b. Kepemilikan majemuk dan ketidakmampuan merawat.
c. Pindahnya kegiatan bisnis.
Terjadinya perpindahan kegiatan bisnis dari kawasan Kota Lama ke kawasan Simpang Lima, menyebabkan berubahnya fungsi tata guna lahan dan tata ruang kawasan. Kota Lama yang semula merupakan kawasan strategis berangsur-angsur mengalami pergeseran fungsi yang menyebabkan kemundurannya. Warisan kekotaan yang sebenarnya sangat potensial dikembangkan untuk fungsi-fungsi perekonomian dan campuran, terkadang hanya difungsikan sebagai pergudangan, bangunan-bangunan menempati kawasan strategis justru dibongkar untuk kegiatan ekonomi lain.
d. Kawasan non campuran
Kota Lama Semarang adalah kawasan historik yang mengalami pergeseran.
Kawasan tersebut semula merupakan satuan permukiman yang berdiri sendiri, kini berkembang menjadi kurang heterogen. Kegiatan ekonomi yang telah ada mempunyai potensi dapat ditingkatkan. Aktivitas tersebut meliputi perkantoran, perdagangan, dan pergudangan, yang umumnya hanya menghidupkan kawasan pada siang hari dan kurang mendukung pada malam hari .
Kekacauan rancang kota pada pertumbuhan Kota Lama bertitik tolak dari proses kematian kawasan. Proses ini selanjutnya ditandai dengan ketidakteraturan bangunan, kesemrawutan, dan kekumuhan lingkungan yang bahkan tidak jarang akan berkembang menjadi kerawanan sosial.
Kemunduran kegitan Kota Lama pada gilirannya berpengaruh pada kondisi bangunan yang mengalami pelapukan akibat terbatasnya perawatan, penyalahgunaan ruang yang menimbulkan kesemrawutan dan kekumuhan lingkungan, dan kondisi sosial serta keamanan.
6
Universitas Kristen Petra 1.2.1 Ruang Lingkup Wilayah Kota Lama
Gambar 1.1. Peta Keletakan Kawasan Kota Lama Semarang Sumber: Semarang, BAPPEDA (2012)
Ruang lingkup wilayah perencanaan secara administratif merupakan bagian dari Kelurahan Bandarharjo dan Kelurahan Tanjung Mas Kecamatan Semarang Utara, Kelurahan Rejomulyo dan Kelurahan Kemijen Kecamatan Semarang Timur dan Kelurahan Purwodinatan Kecamatan Semarang Tengah dengan luas wilayah keseluruhan sebesar 40 hektar; 31 hektar merupakan seluruh situs Kota Benteng dan 9 hektar merupakan kawasan pengaruh.
Adapun batas-batas wilayah perencanaannya (Gambar 1.2.) adalah:
Sebelah utara terdiri dari Stasiun Kereta Api Tawang dan jalur rel sebelah utara.
Sebelah selatan adalah Jalan Haji Agus Salim.
7
Universitas Kristen Petra
Sebelah barat adalah rencana jalan tembus Jalan Kolonel Sugiyono sampai dengan Jalan Mpu Tantular serta Kali Semarang.
Sebelah timur adalah Jalan Ronggowarsito serta Kampung Permasan dan Kampung Grogolan.
Untuk batas-batas Kota Benteng adalah:
Sebelah utara adalah Jalan Merak
Sebelah selatan adalah Jalan Sendowo
Sebelah barat adalah Kali Semarang dan Kawasan Sleko
Sebelah timur adalah Jalan Cendrawasih
1.2.2 Rencana Peruntukan (Tata Guna Lahan)
Gambar 1.2. Tata Guna Lahan Eksisting
Sumber: Eksplorasi Karakter Arsitektur Kota Kawasan Pusat Kota Lama Semarang
8
Universitas Kristen Petra Modal utama Kawasan Kota Lama adalah bentuk atau bangunan atau arsitektur. Oleh karena itu pengembangan kawasan mengacu pada tema atau tipologi kawasan yang menonjol bertolak dari struktur dan image kawasan ini, maka dapat ditentukan magnet-magnet pengembangan pada bagian-bagian tertentu dalam kawasan, yang selanjutnya selain akan menarik perkembangan kegiatan juga akan menentukan nuansa kawasan.
Dari kegiatan magnet-magnet tersebut muncullah lima segmen dengan nuansa sesuai dengan magnetnya; segmen budaya, segmen rekreatif, segmen perkantoran komersial, segmen perkantoran komersial dan perdagangan tradisional, segmen perdagangan moderen, pendidikan, dan perkantoran (lihat lampiran 1). Konsep pengembangan akan mengacu pada nuansa segmen, dan selanjutnya akan menentukan detail penataan berdasar tema segmental.
Magnet segmen 1 adalah Gereja Blenduk sebagai gereja Kristen tertua di Semarang dan Taman Srigunting. Magnet segmen 2 adalah Stasiun Kereta Api Tawang sebagai stasiun tertua. Magnet segmen 3 adalah perkantoran dan rekreasi tepian sungai. Magnet segmen 4 pasar tradisional, pasar ikan hias dan pameran unggas. Sedangkan magnet segmen 5 adalah Gereja Gedangan dan susteran (lihat lampiran 2). Berdasar data rencana pemanfaatan ruang dan tata guna lahan, tapak yang sesuai dengan fungsi citywalk adalah lahan pada segmen 2 (rekreatif).
Ada tiga kegiatan dasar pokok yang terwadahi, meliputi fungsi hunian, bisnis, dan rekreasi dan budaya, yang masing-masing dapat dijabarkan sebagai berikut:
a. Fungsi hunian : pemukiman, hotel dan fasilitas penunjangnya.
b. Fungsi bisnis : perkantoran dan perdagangan (supermarket/pertokoan dan jasa retail ).
c. Fungsi rekreasi danbudaya : museum, teater/cinema, exhibition hall, plaza, open space, dermaga, dan halte, serta fasilitas penunjang lainnya.
Secara umurn, prioritas penataan pola penggunaan tanah (landuse) adalah terciptanya ruang terbuka yang berkualitas bagi masyarakat. Lokasi segmen II berada di sekitar Jl. Empu Tantular, Jl. Nuri dan Jl. Garuda, sisi utara Jembatan Berok sampai batas rencana jalan tembus sejajar jalur rel kereta api dari Stasiun
9
Universitas Kristen Petra Kereta Api Tawang ke Jl. Kol. Soegiono. Temanya rekreatif dengan rencana peruntukan ruang:
1. Fungsi-fungsi lama yang bernilai sejarah dan atau sesuai dengan tema kawasan wisata budaya.
2. Café dan pujasera 3. Perkantoran 4. Bank
5. Pedagang eceran 6. Panggung seni 7. Pertokoan, Jasa 8. Penginapan
9. Pemukiman bertingkat 10. Restoran
11. Ruang terbuka umum 12. Parkir
13. Rekreasi tepian sungai 14. Toko cinderamata
1.2.3 Rencana Konservasi Bangunan
Kawasan Kota Lama Semarang adalah suatu kawasan yang kaya akan bangunan dan rancang kota khas masa kolonial yang merupakan bagian dari masa lalu dan kebudayaan kota. Salah satu konsep pemanfaatan bangunan kuno di Kawasan Kota Lama Semarang adalah bangunan kuno dapat dimanfaatkan untuk fungsi lain sesuai tuntutan jaman atau kebutuhan tanpa merubah elemen aslinya (lihat lampiran 3).
1.2.4 Rencana Wujud Bangunan
Rencana bangunan baru dibedakan menjadi 2 yaitu (lihat lampiran 4):
a. Pembangunan baru pada lahan bekas bangunan kuno yang diijinkan untuk didemolisi.
b. Pembangunan baru pada lahan kosong yang telah lama dibiarkan terbengkalai.
10
Universitas Kristen Petra Ketentuan untuk Garis Langit dan Ketinggian Bangunan adalah sebagai berikut (lihat lampiran 5):
a. Untuk pembangunan baru, garis langit kawasan mengacu pada Gereja Blenduk dan keberadaan bangunan kuno di sekitarnya.
b. Pembangunan baru yang dilakukan tersebut tidak boleh lebih tinggi atau menghalangi pandangan ke arah Gereja Blenduk.
c. Garis langit dan ketinggian bangunan harus kontekstual dan tidak merusak tampilan bangunan konservasi lain di sekitarnya.
d. Tinggi dan karakter bangunan baru ditentukan berdasarkan karakter dan fungsi bangunan di sampingnya.
e. Jumlah lantai bangunan di wilayah inti maksimal 3 lantai.
Garis Sempadan dan Building Coverage:
a. Konfigurasi bangunan mengikuti rencana tata masa bangunan dan ruang terbuka yang sudah ditetapkan (figure ground).
b. Garis Sempadan Bangunan, Garis Muka Bangunan, Garis Sempadan Samping Bangunan dan Garis Sempadan Belakang Bangunan sesuai kondisi yang ada.
c. Building coverage bervariasi antara 75 - 100 % sesuai dengan rencana komposisi bangunan dan ruang terbuka yang telah dibuat.
d. Perkecualian point 1 dan 2 dimaksudkan bagi pembangunan baru di lahan kosong berskala besar, harus kontekstual dan sesuai dengan rencana komposisi bangunan dan ruang terbuka yang telah dibuat.
Peraturan Pemerintah berdasar Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Kota Lama Semarang:
Bab V Pasal 11 : Semua bangunan berpola tanpa pagar.
Bab V Pasal 12 : GSB berdasarkan kondisi bangunan yang ada.
Bab V Pasal 13 : KDB sama dengan KDB bangunan aslinya,
KDB bangunan baru yang ditambahkan maksimal 40% dari lahan yang tersisa
Bangunan baru maksimal 80%
Bab V Pasal 14 : Ketinggian bangunan yang dikonservasi sama dengan bangunan aslinya
11
Universitas Kristen Petra Ketinggian semua bangunan selain yang dikonservasi
maksimal 3 lantai
Bab V Pasal 15 : KLB bangunan yang dikonservasi sama dengan aslinya
KLB penambahan bangunan pada bangunan yang dikonservasi maksimal 1,6
KLB bangunan lainnya maksimal 2,4
1.3 Rumusan Masalah Perancangan
Melihat keberadaan Kota Lama sebagai salah satu icon Kota Semarang yang sarat dengan nilai historisnya, citywalk harus mampu menghidupkan Kawasan Kota Lama yang sekarang mati tanpa menghilangkan jati diri Kota Lama itu sendiri. Mengolah tapak dengan bangunan eksisting di dalamnya, mengubah fungsi bangunan koservasi dan mengganti bangunan bukan konservasi yang didemolisi dengan fasilitas baru sesuai dengan RTBL Kawasan Kota Lama Semarang (infill design).
1.4 Tujuan Perancangan 1.4.1 Tujuan Umum
Menghidupkan Kawasan Kota Lama yang sarat akan identitas dan sejarah Kota Semarang sesuai sesuai Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 8 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Kawasan Kota Lama Semarang.
Menyediakan fasilitas rekreasi dan wisata bagi masyarakat lokal maupun mancanegara sebagai bagian dari program VJT 2013.
1.4.2 Tujuan Khusus
Meningkatkan kepedulian dan kecintaan terhadap pengembangan dan perlindungan serta pelestarian seni dan budaya lokal tradisional, bangunan bersejarah serta benda cagar budaya dalam rangka memperkuat identitas dan jati diri masyarakat lokal sebagai landasan kuatnya jati diri Kota Semarang, sehingga dapat memperkenalkan Kota Semarang kepada masyarakat Indonesia dan dunia.
12
Universitas Kristen Petra
Meningkatkan sarana, prasarana dan fasilitasi dalam mewujudkan Kota Semarang sebagai Daerah Tujuan Wisata.
Mewujudkan visi Penataan Bangunan dan Lingkungan Kawasan Kota Lama Semarang sebagai sebagai kawasan historis yang dinamis dan hidup untuk kegiatan sosial, ekonomi, wisata, dan budaya, melalui misi melestarikan aset- aset historis-budaya, baik berupa bangunan kuno bersejarah maupun bentuk elemen kota dan merevitalisasi kawasan Kota Lama untuk mengoptimalkan fungsi bangunan dan kawasan.
Mewujudkan misi Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kota Semarang Tahun 2005-2025; kemandirian dan daya saing daerah dengan membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal yang berdaya saing tinggi.
Meningkatkan pendapatan ekonomi daerah berbasis potensi ekonomi lokal, penjualan hasil karya anak Semarang; makanan, kerajinan, dsb yang mempunyai daya saing baik ditingkat lokal, nasional maupun internasional.
1.5 Lingkup Perancangan
Desain Citywalk di Kota Lama Semarang menitik beratkan pada desain bangunan multi fungsi (bisnis, rekreatif dan budaya, hunian) baik berupa bangunan konservasi maupun bangunan baru dan hubungan antar bangunan tersebut berupa pedestrian bagi pejalan kaki maupun pengendara sepeda dan becak.
Untuk desain pada bangunan konservasi hanya sebatas penentuan fungsinya tanpa merubah desain fasad maupun ruang dalamnya karena untuk mendesain keseluruhan bangunan konservasi memerlukan pendalaman dan ilmu khusus.
Desain layout plan penataan proyek Citywalk di Kota Lama Semarang hanya sebatas pada lokasi yang dimaksud, kondisi kawasan sekitar menggunakan kondisi eksisting yang diharapkan ke depannya akan dapat bertumbuh kembang bersama.
Tapak diasumsikan bebas rob dan banjir melihat adanya upaya pemerintah untuk menurunkan peil lantai kembali ke titik ±0.00 (sejajar dengan bangunan konservasi) dan pembuatan rumah pompa baru sehingga sistem drainase kota lama dapat dibuat tertutup.