1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Anak merupakan amanah dan anugerah dari Tuhan yang Maha Esa yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Setiap anak mempunyai harkat dan martabat yang patut dijunjung tinggi dan setiap anak yang lahir harus mendapatkan hak-haknya tanpa anak tersebut meminta.1 Anak juga harus senantiasa dijaga dan dilindungi kerena dalam diri anak melekat harkat,martabat, dan hak-hak manusia yang harus dijungjung tinggi.2 Hal ini sesuai dengan ketentuan konvensi hak anak yang diratifikasi oleh pemerintah Indonesia melalui keputusan presiden No 36 Tahun 1990, mengemukakan tentang prinsip-prinsip umum perlindungan anak, yaitu non diskriminasi, kepentingan terbaik anak, kelangsungan kehidupan serta kembang tumbuh dan menghargai setiap prinsip-prinsip anak. Prinsip-prinsip tersebut tertuang dalam ketentuan Undang-Undang No. 23. Tahun 2002, Tentang Perlindungan Anak yang dibentuk oleh pemerintah agar hak-hak anak dapat diimplementasikan di Indonesia.3 Anak merupakan salah satu potensi bangsa dalam keberlangsungan suatu bangsa, karena pada dasarnya keberhasilan suatu bangsa itu didukung dengan generasi penerusnya. Generasi penerus bangsa begitu sangat penting untuk keberlangsungan hidup bangsa, maka sudah sewajarnya jika seorang anak harus
1 Rika Saraswati, Hukum Perlindungan Anak di Indonesia, Bandung, 2015, hal.1
2Maidin Gultom, Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dalam Sitem Peradilan Pidana Anak di Indonesia, Rafika Aditama, 2010, hal 33.
3 Undang-Undang 23 Tahun 2002, Tentang Perlindungan Anak di Indonesia.
2
mendapatkan perhatian yang khusus, mendapat pengawasan yang lebih lagi dari pemerintah.4
Kekerasan sering terjadi pada anak. Bentuk kekerasan yang dialami anak dapat berupa tindakan-tindakan kekersan, baik secara fisik, psikis, mapun kejahatn seksual, bentuknya dapat berupa penyerangan dan seringkali dijumpai dalam kabar berita jika pelaku dari tindak kejahatan adalah orang-orang terdekat dari anak, katakanlah ayah, kakek, kakak dari korban kejahatan. Dalam kasus tindak pidana, katakanlah dalam praktek hukumnya seringkali terjadi kesulitan dalam proses penyeslesaiannya, seperti dalam tahap penyelidikan, penuntutan, penjatuhan putusan, juga mengalami kesulitan dalam pembuktian dalam kasus pemerkosaan, cabul yang umunya dilakukan tanpa kehadiran orang lain.5 Jika pelaku pemerkosaan adalah keluarga koban seperti ayah, kakak korban maka akan semakin sulit untuk melakukan pendekatan saat diproses secara hukum. Tindak pemerkosaan dalam KUHP termasuk kedalam kejahatan kesusilaan. Kejahatan pemerkosaan diatur dalam buku II KUHP yang dijabarkan dalam beberapa pasal, dalam KUHP kejahatan ini dapat diartikan, lelaki sebagai pelakunya.
Perlindungan terhadap korban tindak pidana pemerkosaan adalah satu kegiatan pengembangan hak asasi manusia dan kewajiban hak asasi manusia.
Perhatian dan perlindungan terhadap korban tindak pidana pemerkosaan harus diperhatikan karena mereka sangat rentan terhadap berbagaimacam gangguan
4 Darwin Prist, Hukum Anak Indonesia, Bandung, Citra Aditya Baksti, 1997, hal. 2
5 Leden Marpaung, Kejahatan Terhadap Kesusilaan Serta Masalah Prevensi, Sinar Grafik, Jakarta1996, hal. 81
3
mental, psikis, dan sosial, selain itu kerap kali mereka tidak mempunyai kemampuan untuk membela dirinya.6
Kasus pemerkosaan terhadap anak sekarang ini banyak telah diproses sampai ke pengadilan akan tetapi banyak juga kasus yang tidak diproses sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang tercantum dalam KUHPidana BAB XIV tentang tindak pidana pemerkosaan (Pasal 281-296) khusunya yang mengatur tindak pemerkosaan (pasal 281) menyatakan, “barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang untuk bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam kerena melakukan tindak pemerkosaan, dengan pidana penjara paling lama sebelas tahun”.Sekalipun naskah rancangan KUHPidana Nasional, sudah disusun namun rancangan ketentuan tindak pidana dibidang kesusilaan masih sangat memerlukan kajian secara khusus terutama dari bagian sudut pendekatan kriminologi dan viktimilogi.7
Keadilan Jonh Rawls bahwa kadilan pada dasarnya merupakan prinsip dari kebijakan rasional yang diaplikasikan prinsip dari kebijakan rasional yang diaplikasikan untuk konsep jumlah dari kesejahteraan seluruh kelompok dalam masyarakat. Jhon Rawel yang dipandang sebagai perspektif “ liberal-egalitarian of social justice” berpendapat bahwa keadilan adalah…… kebijakan utama dari
hadirnya institusi-institusi sosiali(social institutions). Akan tetapi kebijakan bagi seluruh masyarakat tidak dapat mengesampingkan atau menggugat rasa keadilan
6 Arif Gosita, Bungai Rampai Viktimisasi, Bandung, 1995, hal 136.
7 Romita Atmasasmita, Kapita Selekta Hukum Pidana dan Kriminologi, Bandung, 1995, hal 106.
4
dari setiap orang yang telah memperoleh rasa keadilan. Khususnya masyarakat lemah yang mencari keadilan.8
Aborsi atau sering dikatakan gugurnya kandungan hasil pemerkosaan ini sudah sejak lama menjadi perdebatan ditengah kehidupan masyarakat9, ada pihak yang setuju dan ada pihak yang tidak setuju dengan dilegalkanya penggugur kandungan bagi korban pemerkosaan meskipun diharapkan dapat mengurangi penderitaan dari korban pemerkosaan (pro life dan pro choice). Aborsi atau menggugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran dan hukum adalah penghentian/ pengeluaran hasil konsepsi atau pertemuan antara sel telur dan sperma, maksudnya dengan sengaja mengakhiri kehidupan yang berada dalam rahim seorang perempuan hamil dengan spontan gugur, jika secara medis aborsi dikenal dengan penghentian dan pengeluaran hasil kehamilan dari rahim sebelum janin bisa hidup di luar kandungan (viability). Umur janin bisa hidup diluar kandungan ada yang memberi batas hingga 20 minggu, tetapi ada juga yang memberi batas hingga 24 minggu.
Dimaksud dengan pengguguran janin adalah dikeluarkannya janin itu secara sengaja oleh campur tangan manusia atau obat-obatan yang merangsang janin agar keluar sebelum waktunya, biasanya dinamai dengan (procured abortion). Aborsi dalam, Undang-Undang Kesehatan memberi pengecualian terhadap korban perkosaan, yang tercantum dalam Pasal 75 ayat 2 Undang- Undang kesehtan “ kehamilan akibat pemerkosaan yang dapat menyebabkan
8 Jojn Rawls, A Theory Of Justice Teori Keadilan, Terbitan Pertama, Jurnal Konsitusi, Vol 6 Nomor 1, April 2009 hal. 139
5
trauma psikologis bagi korban pemerkosaan”.10 Serta dalam Peraturan Presiden tertera juga pasal yang memperbolehkan aborsi akibat pemerkosaan, tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2014 Pasal 31 ayat 1 “ Tindakan aborsi hanya dapat dilakukan bedasarkan, indikasi kedauratan medis serta kehamilan akibat pemerkosaan”.11Aborsi akibat pemerkosaan masih sering menjadi perdebatan ditengah kehidupan masyarakat ada pihak-pihak yang setuju (pro choice) dan ada juga pihak-pihak yang tidak setuju (pro life). Bagi kalangan yang tidak setuju dilakukanya aborsi bagi korban pemerkosaan mereka mengemukakan steatment, setiap orang berhak untuk hidup, sama halnya dengan janin yang ada dalam kandungan seorang perempuan yang mengalami pemerkosaan adalah ciptaan Tuhan yang berhak untuk lahir ke dunia serta berhak untuk bertumbuh. Serta ada pihak yang setuju dilakukannya aborsi bagi korban pemerkosaan, karena kehamilan itu timbul bukan atas dasar kemauan korban, serta jika janin tetap dipertahankan akan banyak menimbulkan beban bagi calon anak dan calon ibu, dimana kondisi ibu belum siap untuk menjadi sorang ibu dengan umur yang belum bisa dikatakan sanggup menjadi seorang ibu dikarenakan masih usia dini serta mereka yang melakukan aborsi berhak untuk menentukan dan mengambil keputusan dalam hidupnya, serta pengguguran yang dilakukan setidaknya dapat mengurangi beban korban pemerkosaan dan mengurangi tekanan yang akan diterima anak (pelaku aborsi).
Contoh kasus yang terjadi di Daerah Jambi. Nomor 5/PID.SUS- ANAK/2018/JMB, dimana seorang anak remanja berusia Lima Belas Tahun,
10 Undang-Undang Kesehatan Pasal 75 Ayat 2, Tentang Aborsi Dapat Dilakukan Dengan Ketentuan Indikasi Kedauratan dan Hamil Hasil Perkosaan.
11 Perauran Presidin Nomor 61 Tahun 2014 Pasal 31, Tentang Kesehatan Reproduksi.
6
mengalami pemerkosaan yang dilakukan kakak kandung dari pelaku aborsi (anak berkonflik). Pelaku menyetubuhi korban sudah sebanyak Sembilan kali, serta dibarengi dengan ancaman pada anak berkonflik setiap hendak menyetubuhi anak berkonflik dengan mengancam apabila anak berkonflik tidak mau bersetubuh dengan anak saksi (kaka berkonflik) akan memukul anak berkonflik. Anak berkonflik menggugurkan kandungnya pada hari Selasa, 22 Mei 2018 pukul 18.00 dirumah anak berkonflik sendiri tepatnya dalam kamar di Rt. 04 Dususn Ilir Desa Pulau Kecamatan Muara Tembesi Kabupaten Batang Hari. Singkat cerita pada tangga 30 Mei 2018, pukul 13.00 WIB, saksi dipanggil, saksi ansori memberitahukan bahwa ada orang yang membuang mayat bayi dikebunnya lalu saksi bersama saksi Asmara Dewi Binti Sulaiman melihat ke lokasi mayat bayi tersebut ditemukan dan para saksi melihat mayat bayi terbungkus jilbab dengan posisi di atas pelepah sawit, kemudian kedua saksi melaporkan penemuan mayat bayi tersebut kepihak berwajib setempat dan diproses secara hukum. Hakim memutuskan bahwa anak berkonflik tersebut terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana aborsi. Hakim menjatuhkan pidana kepada anak pelaku aborsi sekaligus korban pemerkosaan yang dilakukan saudara kandungnya dengan kurungan penjara selama Enam Bulan dan pelatihan kerja (3) tiga bulan. Menetapkan masa penangkapan dan masa tahanan yang telah dijalani oleh anak dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan, menetapkan anak tetap berada dalam tahanan.12Hakim seharusnya menggunakan atau mempertimbangkan hukum atau peraturan perundang-undangan yang ada di
12 Putusan Pengadilan, Nomor Perkara 5/Pid.Sus-Anak/2018/PN Mbn
7
Indonesia seperti, Sitem Peradilan Pidana Anak juga didalamnya terdapat Diversi.
Bukan hanya menggunakan pasal 77A ayat (1) Jo Pasal 45A UU RI No. 35 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Serta hakim juga dapat mempertimbangkan Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 Pasal 29 dan Pasal 31 dimana kehamilan dapat digugurkan jika janin yang dikandung adalah hasil pemerkosaan.
B. Rumusan Masalah
Kaidah hukum apakah yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam memutus perkara pidana aborsi yang juga mengalami pemerkosaan dalam Putusan Nomor 5/Pid.Sus.Anak/PN.Mbn
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui kaidah hukum yang digunakan oleh hakim dalam putusan Pengadilan Negeri Muara Bulian Nomor 5/Pid.Sus.Anak/2018/PN Mbn.
2. Untuk mengetahui tepat tidaknya hakim yang menghukum tergugat serta menahan anak dan menjatuhkan sejumlah denda uang yang ditetapkan.
3. Untuk mengetahui bentuk perlindungan hukum terhadap pelaku aborsi yang juga mengalami kekerasaan seksual atas pemerkosaan yang dialami anak
D. Manfaat Penelitian
1. Untuk mengetahui bagaimana perlindungan hukum terhadap anakyang melakukan aborsi yang juga mengalami perkosaan
8
2. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi referensi untuk bahan kuliah, bahan penelitian selanjutnya, penerapan pada peraturan, dsb.
E. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini, jenis penelitian hukum normatif dipilih oleh penulis sebagai acuan dalam melakukan penelitian ini. Penelitian hukum-hukum normatif bertujuan untuk menemukan kebenaraan koherensi, yaitu adakah aturan hukum sesuai norma hukum dan adakah norma yang berupa perintah atau larangan itu sesuai dengan prinsip hukum, serta apakah tindakan (act) seseorang sesuai dengan norma hukum (bukan hanya sesuai aturan hukum) atau prinsip hukum.13 Dari penelitian hukum normatif inilah penulis berusaha mengungkapkan kebenaran koherensi dari kaidah hukum yang terdapat dalam Putusan Pengadilan Negeri Muara Burian Nomor 5/Pid.Sus.Anak/2018/PN. Mbu
2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan oleh penulis adalah dengan pendekatan perundang-undangan (Statute Approach) dan pendekatan kasus (The Case Approach). Pendekatan perundang-undangan adalah pendekatan
yang dilakukan dengan menelaah semua Undang-Undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang ditangani.14 Pendekatan kasus adalah pendekatan yang dilakukan dengan cara melakukan telaah terhadap
13 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Cetakan ketujuh, Edisi Revisi, Jakarta kencana, 2014, hal. 47.
14Ibid., hal. 133
9
kasus-kasus yang berkaitan dengan isu yang dihadapi yang telah menjadi putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap.
3. Bahan Hukum
a. Bahan hukum primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah;
1. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
2. UU No. 23 Tahun 2002 Tentang perlindung anak
3. Undang-Undang Nomor. 4 Tahun 1979 Tentang kesejahteraan anak 4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2012 Tentang
Sistem Peradilan Pidana anak
5. PP No. 61 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Reproduksi
6. Putusan Pengadilan Negeri Muara Bulian. Putusan Nomor 5/Pid.Sus.Anak/2018/PN Mbn.
b. Bahan hukum sekunder
Bahan hukum sekunder yang utama adalah buku teks karena buku teks berisi mengenai prinsip-prinsip dasar ilmu hukum dan pandangan- pandangan klasik para sarjana yang mempunyai kualifikasi tinggi.
Dalam penelitian ini bahan hukum sekunder yang digunakan meliputi;
Putusan pengadilan, buku-buku literature ilmu hukum.15 Jurnal-jurnal hukum dan artikel-artikel hukum yang berkaitan dengan pokok permasalahan dalam penulisan ini.
c. Bahan Hukum Tertier
15Ibid., hal 141
10
Bahan hukum tertier adalah bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder. Dalam penelitian ini bahan hukum tertier yang digunakan meliputi, Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Kamus Inggris Indonesia.16
4. Unit Analisa
Unit analisa dalam penelitian ini adalah tentang kaidah hakim yang digunakan hakim dalam memutus perkara Nomor 5/Pid.Sus.Anak/2018/PN Mbn.
16 Ibid., hal 142