• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. Ukuran Perusahaan, Leverage dan Kepemilikan Publik Terhadap Pengungkapan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. Ukuran Perusahaan, Leverage dan Kepemilikan Publik Terhadap Pengungkapan"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

11 BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS Tinjauan Penelitian Terdahulu

Rindawati dan Asyik (2015) meneliti mengenai Pengaruh Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, Leverage dan Kepemilikan Publik Terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR), berdasarkan pada penelitian tersebut menunjukkan hasil bahwa Profitabilitas berpengaruh positif terhadap indeks pengungkapan CSR perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI); Ukuran perusahaan (size) tidak berpengaruh positif terhadap indeks pengungkapan CSR perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI; Leverage tidak berpengaruh positif terhadap indeks pengungkapan CSR perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI; Kepemilikan publik tidak berpengaruh terhadap indeks pengungkapan CSR perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI.

Nurfadilah dan Sagara (2015) meneliti dengan judul Pengaruh Good Corporate Governance, Karakteristik Perusahaan dan Regulasi Pemerintah Terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility. Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan hasil bahwa kepemilikan manajerial, komite audit, ukuran dewan komisaris, profitabilitas, likuiditas, profil perusahaan dan regulasi pemerintah secara simultan berpengaruh terhadap pengungkapan corporate social responsibility perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2010-2014.

Namun, secara parsial hanya komite audit yang berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2010-2014.

(2)

Nughroho dan Yulianto (2015) meneliti mengenai Pengaruh Profitabilitas dan Mekanisme Corporate Governance Terhadap Pengungkapan CSR Perusahaan Terdaftar JII 2011-2013. Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan secara parsial kepemilikan institusional berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility (CSR). Sedangkan profitabilitas, kepemilikan asing, ukuran dewan komisaris, dewan komisaris independen dan ukuran komite audit tidak berpengaruh terhadap pengungkapan CSR. Akan tetapi secara simultan profitabilitas, kepemilikan institusional, kepemilikan asing, ukuran dewan komisaris, dewan komisaris independen dan ukuran komite audit berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility.

Sedangkan rata-rata pengungkapan CSR perusahaan terdaftar JII masih rendah sebesar 39,39%.

Chandra dan Jurnali (2015) meneliti mengenai tata kelola terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial menunjukkan bahwa komisaris independen, kepemilikan individual, kepemilikan pemerintah dan komite audit berpengaruh signifikan positif. Kakterisitik perusahaan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial menunjukkan ukuran perusahaan, profitabilitas, likuiditas, umur perusahaan, ukuran perusahaan audit berpengaruh signifikan positif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial, namun margin kontribusi likuiditas dan efek pengungkit keuangan tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial pada perusahaan go public tahun 2009-2013.

Agustami dan Hidayat (2015) meneliti Pengaruh Profitabilitas dan Kinerja Lingkungan terhadap Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial (Studi pada Industri

(3)

Pulp & kertas dan Kayu yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2013).

Berdasarkan hasil penelitian diatas menyimpulkan bahwa pengaruh yang positif antara profitabilitas terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan, pengaruh yang positif antara kinerja lingkungan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.

Yudhistira dan Saraswati (2016) meneliti Pengaruh kepemilikan saham maanjerial dan kepemilikan saham institusional terhadap pengungkapan Corporate Social Responsibility (studi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI).

Berdasarkan hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa secara simultan maupun parsial kepemilikan saham manajerial dan kepemilikan saham institusional berpengruh terhadap Corporate Social Responsibility.

Sukasih dan Sugiyanto (2017) meneliti dengan judul Pengaruh Struktur Good Corporate Governance dan Kinerja Lingkungan Terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility (Studi Pada Perusahaan Manufaktur Di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2015). Berdasarkan hasil penelitian diatas peneliti menyimpulkan secara parsial, kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional berpengaruh terhadap pengungkapan corporate social responsibility, akan tetapi berpengaruh negatif. Sedangkan komite audit, ukuran dewan komisaris dan kinerja lingkungan tidak berpengaruh terhadap pengungkapan corporate social responsibility.

Erwanti dan Haryanto (2017) meneliti Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Dewan Komisaris, Komite Audit Dan Kualitas Audit Terhadap Pengungkapan Informasi Pertanggung jawaban Sosial. Berdasarkan hasil penelitian

(4)

menyimpulkan bahwa variabel proporsi ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap CSRD pada perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2013- 2015. Variabel ukuran dewan komisaris (DKOM) berpengaruh positif dan signifikan terhadap CSRD pada Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2013- 2015. Variabel proporsi komisaris independen (KIND) tidak berpengaruh signifikan terhadap CSRD pada perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2013-2015. Variabel ukuran komite audit (UKAD) tidak berpengaruh signifikan terhadap CSRD pada perusahaan di Bursa Efek Indonesia. Variabel kualitas audit (KUAD) berpengaruh negatif terhadap CSRD pada perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2013-2015. Sedangkan, Proporsi kepemilikan institusional, ukuran dewan komisaris, proporsi komisaris independen, ukuran komite audit dan kualitas audit secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap CSRD pada perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2013-2015.

Sumilat dan Destriana (2017) meneliti dengan judul Faktor-faktor yang mempengaruhi Pengungkapan Corporate Social Responsibility Pada Perusahaan non keuangan Di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2015. Berdasarkan hasil penelitian diatas peneliti menyimpulkan kepemilikan asing dan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan corporate social responsibility, Sedangkan kepemilikan manajerial, kepemilikan publik, independensi dewan direksi, komite audit, umur perusahaan, leverage, profitabilitas dan likuiditas tidak memiliki berpengaruh terhadap pengungkapan corporate social responsibility.

(5)

Nurleni dkk (2018) meneliti dengan judul The effect of managerial and institutional ownership on corporate social responsibility disclosure. Berdasarkan hasil penelitian diatas peneliti menyimpulkan bahwa memiliki pengaruh langsung korelasi negatif dan signifikan kepemilikan manajerial terhadap pengungkapan corporate social responsibility disclolsure pada perusahaan manufaktur 2011-2015 dan memiliki pengaruh langsung korelasi positif dan signifikan kepemilikan institusional terhadap pengungkapan corporate social responsibility disclolsure pada perusahaan manufaktur 2011-2015.

Tinjauan Pustaka

1. Teori Keagenan (Agency Theory)

Teori keagenan menyatakan bahwa hubungan antara dua pihak dimana satu atau lebih orang (principal) memperkerjakan atau meyewa orang lain (agent) untuk melakukan jasa atas nama mereka yang melibatkan pendelegasian wewenang pembuatan keputusan agen (Jensen dan Meckling, 1967). Perbedaan kepentingan antara dua pihak tersebut dapat menimbulkan konflik keagenan. Konflik ini terjadi karena kemungkinan agen tidak bertindak sesuai dengan kepentingan principal.

Selain itu, konflik timbul juga dikarenakan adanya ketidakseimbangan informasi yang dimiliki oleh principal dan agen atau sering disebut sebagai asimetri informasi. Ketidakseimbangan atas informasi ini dapat memberikan kesempatan kepada manajer untuk melakukan tindakan opportunis seperti manajemen laba (Sukasih dan Sugiyanto, 2017).

2. Teori Stakeholder

Teori stakeholder menyatakan bahwa kelangsungan hidup perusahaan tergantung pada dukungan pemangku kepentingan yang mempengaruhi atau dapat

(6)

dipengaruhi oleh aktivitas perusahaan, perusahaan tidak bisa beroperasi untuk kepentingan entitasnya sendiri tetapi harus memberikan maanfaat kepada stakeholder yang meliputi pemegang saham, supplier, pemerintah, konsumen dan pihak lain (Ghozali dan Chairi, 2007). Chariri, 2007 dalam Rustiarini, 2011). Setiap stakeholders memiliki hak untuk disediakan informasi mengenai pengaruh stakeholders terhadap organisasi, sekalipun stakeholder memilih untuk tidak menggunakan informasi tersebut ataupun stakeholder tidak memiliki pengaruh secara langsung terhadap keberlangsungan organisasi (Deegan, 2000). Ratnasari dan Andri (2010) menyatakan bahwa salah satu strategi yang digunakan perusahaan untuk menjaga hubungan dengan para stakeholder-nya adalah dengan pengungkapan informasi sosial dan lingkungan (Sukasih dan Sugiyanto, 2017).

3. Corporate Social Responsibility (CSR)

The World Business Council for Sustainable Development merupakan lembaga internasional yang telah berdiri sejak tahun 1955, yang memiliki anggota 120 perusahaan multinasional dari 30 negara dunia mendefinisi Corporate Social Responsibility (CSR) adalah bentuk tindakan yang berangkat dari pertimbangan etis perusahaan yang diarahkan untuk meningkatkan ekonomi, yang dibarengi dengan peningkatan kualitas hidup bagi karyawan beserta keluarganya, sekaligus peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar, dan masyarakat lebih luas (Hadi, 2011). Sedangkan menurut draft ISO:26000 yang dimaksud dengan CSR adalah sebuah tanggung jawab suatu perusahaan atau instansi atas dampak dari berbagai keputusan dan kegiatan mereka terhadap lingkungan dan masyarakat melalui suatu perilaku yang terbuka dan etis.

(7)

Salah satu acuan yang dapat di mengukur pengungkapan Corporate Social Responsibility adalah Global Reporting Initiative (GRI). GRI sering dijadikan acuan karena mencakup beberapa aspek tidak hanya ekonomi namun juga aspek lain seperti lingkungan, tenaga kerja, hak asasi manusia, masyarakat dan tenaga kerja. Hingga saat ini GRI terus melakukan pembaharuan untuk menciptakan bentuk standar pelaporan berkelanjutan (Sustainability Report) dimana laporan yang disajikan menjadi pertimbangan investasi oleh para investor. GRI terbaru saat ini adalah GRI generasi ke-4 (GRI G4) yang mencangkup masing-masing indikator (Hendra dan Andreas).

Secara umum, penyusunan laporan keberlanjutan (suistability reporting) didasarkan pada pedoman GRI-G4 yang dikeluarkan oleh Global Reporting Initiative atau GRI. Prinsip laporan yang terkandung dalam pelaporan keberlanjutan perusahaan haruslah mengandung isi dan kualitas yang baik isi dari laporan ditentukan dari tingkat kelengkapan, materialitas, mencakup kepentingan pemangku kepentingan dan mencakup konteks keberlanjutan. Sedangkan kualitas sebuah laporan dapat dilihat dari tingkat akurasi, dapat diperbandingkan dan memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi dalam standar GRI-G4, yang terdapat dua jenis pengungkapan standar yaitu pengungkapan umum dan pengungkapan khusus.

Pengungkapan umum memuat mengenai strategi dan analisis perusahaan, profil perusahaan identifikasi aspek material bagi perusahaan, hubungan dengan pemangku kepentingan, profil laporan dan tata kelola perusahaan. Sedangkan pengungkapan khusus mencakup pengungkapan mengenai kinerja sosial, kinerja ekonomi dan kinerja lingkungan.

(8)

Terdapat beberapa komponen indikator pengungkapan CSR dari 91 item pengungkapan menurut Global Reporting Initiative (GRI). Dalam pedoman standar Global Reporting Initiative (GRI, 2017) yaitu: 1) Indikator Kinerja Ekonomi; 2) Indikator Kinerja Lingkungan; 3) Indikator Praktek Tenaga Kerja dan Pekerjaan yang Layak; 4) Indikator Kinerja Hak Asasi Manusia; 5) Indikator Kinerja Masyarakat atau Sosial; 6) Indikator Kinerja Tanggung Jawab Produk. Karena setelah diterima secara global dan menyeluruh sebagai sebuah standar untuk mengungkapkan pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan, maka GRI dianggap sangat membantu perusahaan untuk memutuskan apa yang akan diungkapkan dan bagaimana mengungkapkan informasi tanggung jawab sosial perusahaan secara keseluruhan.

Terdapat beberapa manfaat yang diperoleh perusahaan jika mengimplementasikan CSR adalah sebagai berikut: 1) Keberadaan perusahaan dapat tumbuh dan berkelanjutan. Selain itu, perusahaan juga mendapatkan citra (image) yang positif dari masyarakat luas; 2) perusahaan lebih mudah memperoleh akses terhadap kapital (modal); 3) perusahaan dapat mempertahankan sumber daya manusia (human resources) yang baik; 4) perusahaan dapat meningkatkan pengambilan keputusan pada hal-hal yang kritis (critical decision making) dan mempermudah pengelolaan manajemen risiko (risk management). CSR dapat dianggap sebagai investasi masa depan bagi perusahaan. Minat para pemilik modal dalam menanamkan modal di perusahaan yang telah menerapkan CSR lebih besar, dibandingkan dengan yang tidak menerapkan CSR. Melalui program CSR dapat

(9)

dibangun komunikasi yang efektif dan hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan masyarakat sekitarnya (Effendi, 2016:166).

4. Good Corporate Governance

Menurut Forum Corporate Governance in Indonesia (FCGI), corporate governance merupakan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara sebuah pemegang saham perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan, serta para pemegang kepentingan internal maupun eksternal lainya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain suatu sistem yang mengendalikan perusahaan. Istilah corporate governance muncul karena adanya agency theory, dimana kepengurusan suatu perusahaan terpisah dari kepemilikan (Effendi, 2016:3).

Menurut Bank Dunia (World Bank) good corporate governance (GCG) adalah kumpulan hukum, peraturan, dan kaidah-kaidah yang wajib dipenuhi, yang dapat mendorong kinerja sumber-sumber perusahaan untuk berfungsi secara efisien guna menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan bagi para pemegang saham maupun masyarakat sekitar secara keseluruhan (Effendi, 2016:2).

Mekanisme corporate governance merupakan suatu cara kerja secara tersistem antara pihak yang mengambil keputusan dengan baik yang melakukan kontrol atau pengawasan terhadap keputusan tertentu untuk memenuhi persyaratan tertentu. Menurut Caprio, et al. (2003) dalam Totok Dewayanto (2010:107) mekanisme corporate governance untuk meminimalkan konflik kepentigan antara principal dan agent akibat adanya pemisahan pengelolaan perusahaan. Ini adalah

(10)

salah satu fakta mengenai pentingnya corporate governance dalam perusahaan.

Mekanisme dalam pengawasan corporate governance menjadi salah satu praktek strategi khusus untuk melakukan tata kelola perusahaan. Menurut Iskandar dan Chamlao (2000) dalam Lastanti (2004) menjelaskan bahwa mekanisme dalam pengawasan good corporate governance dibagi dalam dua kelompok yaitu internal dan external mechanism. Internal mechanism adalah cara untuk mengendalikan perusahaan dengan menggunakan struktur dan proses internal seperti komposisi dewan direksi, komposisi komisaris independen dan komposisi komite audit.

Sedangkan external mechanism adalah cara mempengaruhi perusahaan selain dengan menggunakan mekanisme internal, seperti pengendalian perusahaan dan mekanisme pasar.

Dalam penelitian ini lebih banyak mengkaji secara mendalam mekanisme good corporate governance mengenai Mekanisme Pemantauan Kepemilikan meliputi Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Manajerial dan Kepemilikan Asing. Mekanisme Pemantauan Pengendalian Internal meliputi Ukuran Dewan Komisaris dan Komisaris Independen. Mekanisme Pemantauan Pengungkapan meliputi pengungkapan yang dilakukan oleh Komite Audit.

a. Mekanisme Pemantauan Kepemilikan

Dalam penelitian ini menggunakan struktur kepemilikan modal sebagai mekanisme pemantauan kepemilikan. Struktur kepemilikan terdiri dari struktur kepemilikan institusional dan kepemilikan manajerial.

(11)

1) Kepemilikan Pemegang Saham Institusional

Terdapat beberapa pengertian kepemilikan institusional yang diuraikan beberapa penelitian, yaitu menurut Purno (2013:32) menyatakan bahwa kepemilikan institusional merupakan saham yang dimiliki oleh investor yang berasal dari pihak institusi perusahaan. Tarjo (2008) dalam Hisamuddin dan Tirta (2012:120) menyatakan bahwa konsentrasi kepemilikan institusional merupakan saham perusahaan yang dimiliki oleh institusi atau lembaga seperti perusahaan asuransi, perusahaan investasi dan kepemilikan institusi lain. Menurut Rimardhani, Hidayat, dan Dwiatmanto (2016:3) menurut kepemilikan adalah saham yang dimiliki pemerintah, institusi berbadan hukum, dana perwakilan, institusi asing, dan lain sebagainya yang dapat memonitor manajemen dalam pengelolaan perusahaan.

Kepemilikan institusional merupakan saham perusahaan yang dimiliki oleh investor institusional seperti pemerintah, Lembaga keuangan, perusahaan asuransi dan institusional lainnya (Nugroho dan Yulianto, 2015). Institusi merupakan sebuah lembaga yang memiliki kepentingan besar terhadap investasi yang dilakukan termasuk investasi saham (Murwaningsari, 2009). Sehingga biasanya institusi menyerahkan tanggung jawab pada divisi tertentu untuk mengelola investasi perusahaan tersebut. Karena institusi memantau secara profesional perkembangan investasinya maka tingkat pengendalian terhadap tindakan manajemen dengan sangat tinggi sehingga potensi kecurangan dapat ditekan dan dimimalisir.

Kepemilikan institusional adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kriteria perusahaan (Sukasih dan Sugiyanto, 2017).

(12)

Dari beberapa definisi diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa kepemilikan institusional merupakan saham yang dimiliki oleh institusi perusahaan maupun pemerintah. Proporsi kepemilikan saham institusional dapat diukur melalui perbandingan jumlah saham yang dimiliki investor institusi dengan total modal saham perusahaan yang beredar. Kepemilikan institusional di dalam suatu perusahaan memiliki peranan penting dalam meminimalkan konflik keagenan yang terjadi antara manajer dan pemegang saham serta mampu dalam memonitor manajemen dalam mengelola perusahaan. Tingkat kepemilikan institusional yang tinggi maka akan mengakibatkan usaha pengawasan yang lebih besar oleh pihak investor institusional sehingga dapat menghalangi perilaku oportunistik yang dilakukan oleh manajer. Dengan semakin tinggi tingkat kepemilikan institusional maka semakin besar suara dan dorongan institusi untuk melakukan pengawasan.

2) Kepemilikan Pemegang Saham Manajerial

Terdapat beberapa pengertian kepemilikan manajerial yang diuraikan dari beberapa peneliti, yaitu menurut Wahidati (2002) dalam Purno (2013:49) menyatakan bahwa kepemilikan manajerial adalah pemegang saham dari pihak manajemen (direktur dan komisaris) yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan. Susiana dan Herawaty (2007:7) menjelaskan bahwa kepemilikan manajerial merupakan presentase saham yang dimiliki oleh manajemen termasuk didalamnya presentase saham yang dimiliki oleh manajemen secara pribadi maupun oleh anak cabang perusahaan bersangkutan beserta afiliasinya. Sujoko (2009) dalam Tertius dan Christiawan (2015:3) menjelaskan bahwa kepemilikan

(13)

manajerial merupakan jumlah kepemilikan saham yang dimiliki oleh pemilik, dewan eksekutif dan manajemen dalam suatu perusahaan.

Berdasarkan dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kepemilikan manajerial merupakan kepemilikan yang dimiliki dari pihak manajemen perusahaan. Kepemilikan manajerial dapat diukur dengan cara membandingkan jumlah kepemilikan pemegang saham manajerial dengan total saham yang beredar. Kepemilikan manajerial diterapkan pada perusahaan untuk memotivasi kinerja para manajer. Kebijakan ini dimasudkan untuk memberikan kesempatan kepada para manajer untuk terlibat dalam kepemilikan saham sehingga asimetri informasi di dalam suatu perusahaan dapat diminimalisasi. Hal ini sejalan dengan teori keagenan dimana diharapkan keterlibatan manajer pada kepemilikan saham dapat efektif meningkatkan kinerja para manajer.

Kepemilikan manajerial yaitu kepemilikan saham perusahaan oleh direksi, komisaris, ataupun manajemen perusahaan. Sehingga dengan adanya kepemilikan manajerial pengelola dapat melaksanakan aktivitas perusahaan sesuai dengan kepentingannya (Jensen dan Meckling, 1976). Menurut teori keagenan, adanya kemungkinan permasalahan yang timbul diantara pemegang saham dan manajer disebabkan karena kecilnya kepemilikan oleh agen di perusahaan (Said, et al 2009).

Hal ini dapat menjadi penyebab tindakan opportunis yang dilakukan oleh manajer (Sukasih dan Sugiyanto, 2017). Menurut Rawi (2008) menyatakan bahwa kepemilikan manajerial merupakan jumlah kepemilikan saham yang dimiliki oleh pihak manajemen dari jumlah saham yang dikelola oleh perusahaan.

(14)

3) Kepemilikan Asing

Kepemilikan asing merupakan saham dalam perusahaam yang dimiliki investor asing. Machmud dan Djakman (2008) mengungkapkan bahwa kepemilikan asing dalam perusahaan merupakan pihak yang dianggap concern terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan, terutama negara-negara Eropa dan United States yang sangat memperhatikan isu-isu sosial; seperti pelanggaran hak asasi manusia, pendidikan, tenaga kerja, dan isu lingkungan seperti, efek rumah kaca, pembalakan liar, serta pencemaran air. Besarnya investor asing dalam perusahaan akan mendorong manajemen untuk memperhatikan keinginan para stakeholder agar perusahaan melakukan aktivitas CSR sebagai penerapan asas responsibilitas atau tanggung jawab atas aktivitas usahanya yang berpengaruh terhadap aspek sosial dan lingkungan di sekitarnya, serta mengungkapkannya ke khalayak publik, sehingga dapat meyakinkan masyarakat bahwa aktivitas perusahaan telah sesuai dengan norma dan nilai sosial yang berlaku di masyarakat, yang pada akhirnya akan memberikan keuntungan jangka panjang berupa terjaminnya keberlangsungan usaha (Sumilat dan Destriana, 2017)

b. Mekanisme Pemantauan Pengendalian Internal

Dalam penelitian ini mekanisme pemantauan terhadap pengendalian internal dalam rangka untuk mewujudkan terciptanya good corporate governance terdiri dari:

1) Dewan Komisaris

Berdasarkan agency theory, dewan komisaris dianggap sebagai mekanisme pengendalian intern tertinggi, yang bertanggungjawab untuk memonitor atau

(15)

memantau tindakan manajemen puncak yang ada di perusahaan. Ukuran dewan komisaris bisa dilihat dari jumlah anggota dewan komisaris. Semakin besar jumlah anggota dewan komisaris, maka akan semakin mudah untuk mengendalikan Chief Executive Officer (CEO) dan memantau apa yang dilakukan serta semakin efektif (Coller dan Gregory, 1999). Dewan komisaris adalah salah satu sturktur yang ada di dalam corporate governance yang berdampak pada corporate social responsibility. Karena dewan komisaris dengan integritas yang tinggi dirasa akan meningkatkan corporate social responsibility disclosure (Sukasih dan Sugiyanto, 2017).

2) Komisaris Independen

Terdapat beberapa pengertian komisaris independen menurut beberapa peneliti, yaitu Susiana dan Herawaty (2007:9) menjelaskan bahwa komisaris independen merupakan sebuah badan dalam perusahaan yang biasanya beranggotakan dewan komisaris yang independen yang berasal dari luar perusahaan yang berfungsi untuk menilai kinerja perusahaan secara luas dan keseluruhan.

Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4PBI/2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum, komisaris independen merupakan anggota dari dewan komisaris yang tidak memiliki hubungan keuangan, kepengurusan, kepemilikan saham dan atau hubungan keluarga dengan anggota dewan komisaris lainnya, direksi dan/atau pemegang saham pengendali atau hubungan lain yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen.

(16)

Di Indonesia saat ini, keberadaan komisaris independen sudah diatur dalam Code of Good Corporate Governance (KNKCG). Komisaris menurut Code tersebut, bertanggung jawab dan mempunyai kewenangan untuk mengawasi kebijakan dan kegiatan yang dilakukan direksi dan memberikan nasihat bilamana diperlukan. Keberadaan Komisaris Independen dimaksudkan untuk mendorong terciptanya iklim dan lingkungan kerja yang lebih obyektif dan menempatkan kewajaran (fairness) dan kesetaraan di antara berbagai kepentingan termasuk kepentingan pemegang saham minoritas dan Stakeholders lainnya.

Dewan komisaris independen merupakan anggota komisaris yang berada dari luar perusahaan (tidak memiliki hubungan afiliasi dengan perusahaan). Cheng dan Jaggi, 2000 menjelaskan bahwa proses pengawasan dari dewan komisaris perusahaan yang independen akan lebih responsif terhadap investor dan peran dari dewan komisaris yang independen tersebut akan dapat meningkatkan kepatuhan perusahaan terhadap pengungkapan yang pada akhirnya meningkatkan kualitas dari pengungkapan yang dilakukan. Dewan komisaris independen yang netral dan tidak terpengaruh oleh intervensi manajemen akan melindungi kepentingan para stakeholder dalam dorongan kepada perusahaan untuk melakukan aktivitas CSR dan mengungkapkannya. Dewan komisaris independen berfungsi sebagai kekuatan penyeimbang dalam pengambilan keputusan oleh dewan komisaris (Effendi, 2016:26).

Dapat disimpulkan keberadaan komisaris independen pada suatu perusahaan dapat mempengaruhi integitas suatu laporan keuangan yang dihasilkan oleh manajemen. Jika perusahaan memiliki komisaris independen maka laporan

(17)

keuangan yang disajikan oleh manajemen cenderung lebih berintegritas, karena didalam perusahaan terdapat badan yang mengawasi dan melindungi hak pihak- pihak diluar manajemen perusahaan. Komisaris independen dapat diukur melalui rasio presentase anggota dewan komisaris independen terhadap seluruh ukuran anggota dewan komisaris perusahaan.

3) Dewan Direksi

Dalam rangka pemantauan terhadap pengendalian internal bank, direksi mempunyai tanggung jawab menetapkan kebijakan, strategi serta prosedur pengendalian intern, melaksanakan kebijakan dan strategi yang telah disetujui oleh dewan komisaris, memelihara suatu struktur organisasi, memastikan bahwa pendelegasian wewenang berjalan efektif yang didukung oleh penerapan akuntabilitas yang konsisten dan memantau kecukupan dan efektivitas dari sistem pengendalian intern (Sari, 2010). Menurut UU No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas Direksi merupakan Organ Perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan, sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar.

Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) (2006:17) menjelaskan bahwa direksi merupakan organ perusahaan bertugas dan bertanggungjawab secara kolegial dalam mengelola perusahaan serta masing-masing anggota direksi dapat melaksanakan tugas dan mengambil keputusan sesuai dengan pembagian tugas dan wewenangnya. Ukuran dewan direksi dapat diukur dengan jumlah dewan direksi dalam perusahaan dimana semakin banyak dewan dalam suatu perusahaan akan

(18)

memberikan suatu bentuk pengawasan terhadap kinerja perusahaan yang semakin lebih baik. Menurut peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance jumlah anggota direksi paling kurang 3 (tiga) orang.

c. Mekanisme Pemantauan Pengungkapan

Dalam penelitian kali ini mekanisme pemantauan pengungkapan dapat dilihat dengan keterlibatan adanya auditor baik auditor internal maupun auditor eksternal dalam penyelenggaraan penilaian terhadap tingkat kewajaran laporan keuangan perusahaan. Pada mekanisme ini akan dijelaskan seperti berikut:

1) Komite Audit

Menurut Tjager dkk (2003) dalam Hartono dan Nugrahanti (2014:196) komite aduit merupakan salah satu komite yang dibentuk oleh dewan komisaris dan bertanggung jawab kepada dewan komisaris dengan tugas dan tanggung jawab utama untuk memastikan prinsip-prinsip good corporate governance terutama transparansi dan disclosure diterapkan secara konsisten dan memadai.

Berdasarkan keputusan ketua BAPEPAM Kep. 29/PM/2004 menjelaskan bahwa komite audit yang dibentuk oleh dewan komisaris untuk melakukan tugas pengawasan pengelolaan perusahaan. Komite audit juga bertanggung jawab terhadap pengawasan proses pelaoran keuangan. Selain itu komite audit merupakan penghubung antara pemegang saham dan dewan komisaris dengan pihak manajemen dalam menangani masalah pengendalian. Susiana dan Herawaty (2007:8) menjelaskan bahwa dibentuknya komite audit oleh dewan komisaris memiliki tujuan diantaranya:

(19)

a) Memastikan laporan keuangan yang diterbitkan tidak menyesatkan dan sesuai dengan praktik akuntansi berterima umum.

b) Memastikan bahwa pengendalian internal perusahaan memadai.

c) Menindaklanjuti terhadap adanya dugaan penyimpangan yang sifatnya material di bidang keuangan dan implikasi hukumnya.

d) Merekomendasikan seleksi auditor eksternal.

Menurut Sitorus (2012) dalam Hartono dan Nugrahanti (20014:196) menerangkan bahwa pembentukan komite audit dapat meningkatkan fungsi pengawasan dalam peneliti an ini diukur menggunakan jumlah anggota komite audit yang terdapat di perusahaan.

Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance / KNKG (2006), salah satu tugas komite audit adalah untuk memastikan bahwa struktur pengendalian internal perusahaan dilakukan dengan baik. Adanya anggota independen dalam komite audit dapat menjadi alat yang efektif untuk melakukan mekanisme pengawasan sehingga dapat mengurangi agency cost, meningkatkan pengendalian internal perusahaan dan akan meningkatkan kualitas pengungkapan informasi perusahaan (Said, et al, 2009). Salah satu informasi yang diberikan perusahaan kepada stakeholder yaitu pengungkapan CSR (Sukasih dan Sugiyanto, 2017). Menurut Natalylova (2013) komite audit harus terdiri dari beberapa individu-individu yang mandiri dan tidak terlibat dengan tugas sehari-hari dari manajemen yang mengelola perusahaan dan yang memiliki pengalaman untuk melaksanakan fungsi pengawasan secara efektif. Komite audit merupakan komite yang dibentuk oleh

(20)

dewan komisaris, yang bertugas untuk membantu dewan komisaris dalam melaksanakan tugasnya (Sukasih dan Sugiyanto, 2017).

Di Indonesia keberadaan komite audit adalah sebuah kewajiban, yang diatur dalam Pedoman Umum Good Corporate Governance (GCG) yang dikeluarkan oleh Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) 2006: “Bagi perusahaan yang memiliki saham tercatat di bursa efek, perusahaan negara, perusahaan daerah, perusahaan yang menghimpun dan mengelola dana masyarakat, perusahaan yang produk dan jasanya digunakan oleh masyarakat luas, serta perusahaan yang memiliki dampak luas terhadap kelestarian lingkungan, sekurang-kurangnya harus membentuk Komite Audit.”

2) KAP Big Four

Auditor eksternal dalam perusahaan memiliki pengaruh yang penting terhadap kualitas pengendalian internal melalui aktivitas audit mereka. Meskipun auditor eksternal tidak termasuk dalam bagian dari struktur organisasi bank tetapi auditor eksternal memiliki fungsi yang penting. Fungsi utama dari adanya audit eksternal adalah memberikan opini terhadap laporan keuangan bank serta menilai efektivitas sistem pengendalian internal bank.

Dalam menegakkan prinsip good corporate governance menurut Arifin (2005) dalam Sari (2010:37) keterlibatan akuntan akternal yang menjalankan fungsi sebagai auditor memainkan peranan yang penting karena auditor bertugas untuk memverifikasi kewajaran berbagai informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Dengan adanya peran penting yang dimainkan oleh auditor eksternal sebagai pengawas bank dalam rangka memastikan pengendalian laporan keuangan

(21)

ini dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Terdapat beberapa perusahaan perbankan yang mempercayakan auditor eksternal berstandarisasi internasional untuk mengungkapkan kualitas audit mereka untuk meyakinkan kepercayaan para pemegang saham. Pada saat ini terdapat empat auditor eksternal yang berstandarisasi internasional yaitu Pricewater House Coopers, Deloitte Touche Tohmatsu, Ernst & Young dan KPMG.awasan dewan komisaris sebagai salah satu struktur tata kelola. Komite audit

5. Profitabilitas

Heinze (dalam Hackston dan Milne, 1996) menyatakan bahwa profitabilitas merupakan faktor yang memberikan kebebasan dan fleksibilitas kepada manajemen untuk mengungkapkan pertanggungjawaban sosial kepada pemegang saham. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat profitabilitas perusahaan maka semakin besar pengungkapan informasi sosial yang dilakukan oleh perusahaan. Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba selama periode tertentu, yang dapat mempengaruhi perusahaan dalam mengungkapkan CSR (Nughroho dan Yulianto, 2015). Nurkhin (2009) menyatakan bahwa perusahaan di Indonesia akan meningkatkan pengungkapan tanggung jawab sosial ketika memperoleh profit yang tinggi atau mendapatkan profit secara maksimum, sehingga semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba semakin tinggi juga tingkat pengungkapan CSR (Nughroho dan Yulianto, 2015).

Kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan (profitabilitas) pada tingkat penjualan, asset dan modal saham yang tertentu memiliki berbagai komponen dalam pengukurannya. Komponen untuk mengukur profitabilitas ada

(22)

tiga perhitungan rasio yang sering dibicarakan yaitu: profit margin, return on total asset (ROA) dan return on equity (ROE). Profit margin menghitung sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih pada tingkat penjualan tertentu dan dapat di interprestasikan sebagai kemampuan perusahaan dalam menekan biaya-biaya/ukuran efisiensi (Hanafi dan Halim, 2016).

𝑃𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡 𝑚𝑎𝑟𝑔𝑖𝑛 =Laba bersih Penjualan

Return on total asset (ROA) mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih berdasarkan tingkat asset tertentu (Hanafi dan Halim, 2016).

𝑅𝑂𝐴 =Laba bersih Total Aset

Return on equity (ROE) mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan modal saham, ukuran profitabilitas ini dari sudut pandang pemegang saham tetapi dapat juga menghitung dividen maupun capital gain untuk pemegang saham (Hanafi dan Halim, 2016).

𝑅𝑂𝐸 = Laba bersih Modal saham

Perumusan hipotesis

1. Pengaruh ukuran dewan komisaris terhadap pengungkapan corporate social responsibility.

Berdasarkan agency theory, dewan komisaris dianggap sebagai mekanisme pengendalian intern tertinggi, yang bertanggungjawab untuk memonitor atau memantau tindakan manajemen puncak yang ada di perusahaan (Coller dan

(23)

Gregory, 1999). Erwanti dan Haryanto (2017) menyatakan hal yang sama bahwa ukuran dewan komisaris berpengaruh positif terhadap pengungkapan corporate social responsibility. Pengendalian yang tinggi dari dewan komisaris sebagai kepanjangan tangan dari pemegang saham dapat memberikan kepastian bahwa pengelolaan perusahaan akan lebih baik, salah satunya adalah dengan melakukan pengungkapan CSR dimana hal ini akan memberikan manfaat kepada perusahaan ke depannya. Maka dapat diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut:

H1: Ukuran dewan komisaris berpengaruh positif terhadap pengungkapan corporate social responsibility.

2. Pengaruh dewan komisaris independen terhadap pengungkapan corporate social responsibility.

Menurut Rosenstein dan Wyatt (1990) bahwa komisaris independen adalah alat untuk mengawasi dan mengendalikan perilaku dari para manajemen, hal tersebut akan mendorong para manajemen untuk lebih mengungkapkan tanggung jawab sosial yang lebih luas. Pincus, Rusbarsky, dan Wong (1989) menjelaskan bahwa keberadaan komisaris independen diluar jajaran direksi akan menciptakan kualitas pengendalian dan pengawasan yang lebih baik karena mereka tidak berafiliasi terhadap perusahaan baik secara personal maupun pegawai sehingga keberadaan komisaris independen akan mewakili kepentingan pemegang saham, oleh karena itu semakin tinggi komisaris independen maka pengungkapan tanggung jawab sosial juga akan tinggi pula. Menurut penelitian sebelumnya, semakin besar proporsi dari komisaris independen akan berpengaruh signifikan positif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial, Chandra dan Jurnali (2015). Chandra dan Jurnali (2015) menyatakan bahwa dewan komisaris independen berpengaruh

(24)

terhadap pengungkapan corporate social responsibility. Dewan Komisaris Independen akan lebih bersifat netral kepada pemegang saham, karena dewan komisaris independen tidak terafiliasi dengan pihak manapun, dengan kondisi tersebut akan berdampak terhadap pengawasan. Maka dapat diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut:

H2: Komisaris independen berpengaruh positif terhadap pegungkapan Corporate Social Responsibility.

3. Pengaruh kepemilikan manajerial terhadap pengungkapan corporate social responsibility.

Menurut teori keagenan, adanya kemungkinan permasalahan yang timbul diantara pemegang saham dan manajer disebabkan karena kecilnya kepemilikan oleh agen di perusahaan (Said et al, 2009). Hal ini dapat menjadi penyebab tindakan opportunis yang dilakukan oleh manajer (Sukasih dan Sugiyanto, 2017). Yudhistira dan Saraswati (2016) menemukan adanya pengaruh antara kepemilikan manajerial dengan pengungkapan CSR. Dengan adanya kepemilikan saham oleh manajemen, maka manajemen akan ikut serta aktif dalam pengambilan keputusan. Mereka akan memperoleh manfaat langsung atas keputusan-keputusan yang diambilnya, namun juga akan menanggung resiko secara langsung bila keputusan itu salah. Manajer perusahaan akan mengambil keputusan sesuai dengan kepentingan perusahaan yaitu dengan cara mengungkapkan informasi sosial yang seluas-luasnya salah satunya adalah pengungkapan CSR dalam rangka untuk meningkatkan citra perusahaan. Dengan demikian, manajemen tidak akan bertindak yang akan merugikan perusahaan, sehingga dapat mengurangi agency cost (Sukasih dan

(25)

Sugiyanto, 2017). Berdasarkan penelitian tersebut, dapat diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut:

H3: Kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap pengungkapan corporate social responsibility.

4. Pengaruh kepemilikan institusional terhadap pengungkapan corporate social responsibility.

Menurut toeri agensi, konflik kepentingan dapat dikurangi dengan struktur kepemilikan. Kepemilikan institusional dapat mendorong peningkatan pengawasan agar lebih optimal terhadapa kinerja manajemen (Jensen & Meckling, 1976).

Kepemilikan oleh institusi dapat meningkatkan pengendalian terhadap manajemen dan mengurangi peluang tindak kecurangan yang mungkin dilakukan (Murwaningsari, 2009). Institusi secara professional akan memantau perkembangan investasinya agar dapat menghasilkan keuntungan yang ingin dicapai (Sukasih dan Sugiyanto, 2017). Menurut Murwaningsari (2009), investor institusional memiliki power and experience untuk bertanggungjawab dalam menerapkan prinsip corporate governance untuk melindungi hak dan kepentingan seluruh pemegang saham, sehingga mereka menuntut perusahaan untuk melakukan komunikasi secara transparan. Peneliti Nugroho dan Yulianto (2015), Yudhistira dan Saraswati (2016) menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif secara signifikan pengungkapan CSR. Orientasi Institusi (Kepemilikan Institusional) tidak sepenuhnya focus terhadap perolehan laba, namun juga memperhatikan dampak dari keberadaan perusahaan terhadap lingkungan sekitar sehingga peran pengawasan institusi akan berdapampak pada pengungkapan CSR.

Berdasarkan hal tersebut, dapat diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut:

(26)

H4: Kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap pengungkapan corporate social responsibility.

5. Pengaruh kepemilikan asing terhadap pengungkapan corporate social responsibility.

Konflik keagenan dapat diminimalisir dengan penerapan good corporate governance di perusahaan. Struktur kepemilikan saham sangat berperan dalam menciptakan tata kelola yang baik. Kepemilikan asing merupakan proporsi saham biasa perusahaan yang dimiliki oleh perorangan, badan hukum, pemerintah serta bagian-bagiannya yang berstatus luar negeri (Etha 2010). Kepemilikan asing dalam perusahaan merupakan pihak yang dianggap concern terhadap pengungkapan pertanggung jawaban sosial perusahaan (Djakman dan Machmud 2008). Jika dilihat dari sudut pandang stakeholder, pengungkapan corporate social responsibility merupakan alat yang dipilih untuk memperlihatkan kepedulian perusahaan terhadap lingkungan masyarakat. Menurut Angling (2010), apabila perusahaan memiliki kontrak dengan foreign stakeholders baik dalam ownership dan trade, maka perusahaan akan lebih didukung dalam melakukan pengungkapan corporate social responsibility. Perusahaan yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh asing biasanya lebih sering menghadapi masalah asimetri informasi dikarenakan hambatan geografis dan bahasa. Oleh sebab itu perusahaan dengan kepemilikan asing yang besar akan terdorong untuk melaporkan atau mengungkapkan informasinya secara sukarela dan luas (Sumilat dan Destriana, 2017). Peneliti Sumilat dan Destriana (2017) menyatakan bahwa kepemilikan asing memiliki pengaruh pada pengungkapan CSR. Salah satu alasan kepemilikan asing dapat memberikan pengungkapan informasi adalah bahwa perusahaan asing memiliki

(27)

sistem informasi yang efisien untuk memenuhi kebutuhan internal dan eksternal.

Berdasarkan hal tersebut dapat diajukan hipotesis dalam penelitian ini adalah H5: Kepemilikan asing berpengaruh positif terhadap pengungkapan Corporate Social Responsibility.

6. Pengaruh komite audit terhadap pengungkapan corporate social responsibility.

Menurut KNKG (2006), salah satu tugas komite audit adalah untuk memastikan bahwa struktur pengendalian internal perusahaan dilakukan dengan baik. Salah satu informasi yang diberikan perusahaan kepada stakeholder yaitu pengungkapan CSR. Besarnya komite audit dalam perusahaan sebagai salah satu mekanisme dalam GCG, yang diharapkan dapat melakukan pengawasan terhadap manajemen lebih baik dalam mewujudkan asas responsibilitas atau tanggungjawab terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar perusahaan (Nugroho, 2015). Peneliti Wandayani dan Sagara (2015), Chandra dan Jurnali (2015) menyatakan bahwa komite audit berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan CSR. Berdasarkan hal tersebut, dapat diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut:

H6: Komite audit berpengaruh positif terhadap pengungkapan corporate social responsibility.

7. Pengaruh profitabilitas terhadap pengungkapan corporate social responsibility.

Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba selama periode tertentu dalam rangka untuk meningkatkan nilai shareholder/ pemegang saham (Rindawati dan Asyik, 2015) yang dapat mempengaruhi perusahaan dalam mengungkapkan CSR (Nughroho dan Yulianto, 2015). Profitabilitas tinggi

(28)

menunjukkan kinerja perusahaan yang baik, dan dengan laba yang tinggi perusahaan memiliki cukup dana untuk mengumpulkan, mengelompokkan, dan mengolah informasi menjadi lebih bermanfaat serta dapat menyajikan pengungkapan yang lebih komprehensif. Oleh karena itu semakin tinggi profitabilitas perusahaan maka akan semakin tinggi kelengkapan pengungkapan laporan tahunan (Rindawati dan Asyik, 2015). Hal ini berhasil dibuktikan pada peneliti Rindawati dan Asyik (2015), Agustami dan Hidayat (2015), Rahmayanty (2015), Candra dan Jurnali (2015) yang menyatakan bahwa profitabilitas sangat berpengaruh terhadap pengungkapan pelaksanaan CSR. Berdasarkan hal tersebut dapat diajukan hipotesis dalam penelitian ini adalah:

H7: Profitabilitas berpengaruh positif terhadap pengungkapan Corporate Social Responsibility.

Kerangka Pemikiran

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, maka kerangka pemikiran penelitian in dapat digambarkan dalam bagan berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Pengungakapan Corporate Social

Responsibility (Y) Ukuran Dewan

Komisaris (X1) Dewan Komisaris

Independen (X2) Kepemilikan Manajerial

(X3) Kepemilikan Institusional (X4) Kepemilikan Asing

(X5) Komite Audit

(X6) Profitabilitas

(X7)

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran  Pengungakapan  Corporate Social Responsibility(Y)Ukuran Dewan Komisaris (X1) Dewan Komisaris Independen (X2)Kepemilikan Manajerial (X3)Kepemilikan Institusional  (X4)Kepemilikan Asing (X5)Komite Audit (X6)Profitabilitas(X7)

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui deskripsi Struktur, Nilai, dan Fungsi Syair “Sintung” Di Desa Tambaagung Barat Kecamatan Ambunten Kabupaten Sumenep,

Mahasiswa yang dideskripsikan pada tulisan ini adalah sebanyak empat orang mahasiswa semester VII tahun akademik 2016/2017 yang dipilih secara acak. Untuk melihat apakah

Greeting Checking the attendance list Doing Apperception and giving motivation Teacher greeted the students Teacher checked the attendance list Teacher did apperception

Abstrak : Tujuan pada penelitian ini adalah untuk meningkatkan psikomotor pada siswa atau gerak dasar dalam pembelajaran bola kasti melalui pelajaran pendidikan

Beberapa kendala partisipasi perempuan termasuk kader NU berkiprah dalam politik di Indonesia menurut Khofifah ada beberapa faktor, yaitu: (1) budaya patriarki

Rumah Sakit merupakan organisasi yang padat karya dan padat modal, sehingga dalam pengelolaannya harus efektif dan efisien.Salah satu yang harus dikelolah dengan baik

Selain dari pada lingkungan desa, kondisi lingkungan pelaksana dinas sudah siap dan komitmen untuk melaksanakan Program OVOP di Desa Pelaga dilihat dari keseriusan dinas menjalin

$NKLU \DQJ EHUMXGXO µ%DWXDQ Agate Sebagai Inspirasi Pada Perhiasan Keramik Menggunakann Kombinasi Material Logam Dengan Menggunakan Teknik Agateware ¶ .HUDJDPDQ PRWLI Agate akan