• Tidak ada hasil yang ditemukan

MADANIA: Jurnal Ilmu Pendidikan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MADANIA: Jurnal Ilmu Pendidikan"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

MADANIA: Jurnal Ilmu Pendidikan

MODEL MANAJEMEN MUTU DAN KEPEMIMPINAN

KEPALA MADRASAH DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU DI MADRASAH PUI KAB. MAJALENGKA

AANG FAHRUROJI

Mahasiswa Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon Email: [email protected]

ABSTRACT

This study aims to find out how the quality management and leadership models of principals are applied in madrasah PUI Kab. Majalengka and to find out how the efforts and obstacles of school principals in improving quality management and leadership to improve teacher performance in PUI schools Kab. Majalengka. The method used in this research is a qualitative method with a field study approach. The data collection techniques used are observation, in-depth interviews and documentation methods. The results of this study indicate that the quality management model in PUI schools uses the PDCA model or Plan-Do-Controll- Action, where the quality management process starts from Planning, Implementation, Supervision and Action. Whereas the principal's leadership tends to use a democratic and situational style that emphasizes the deliberative and familial aspects. This makes the teacher's performance improve along with the implementation of good quality management and firm principal leadership, so that efforts to improve teacher performance run effectively.

Keywords:

: quality management, principal leadership, teacher performance

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana model manajemen mutu dan kepemimpinan kepala sekolah yang diterapkan di madrasah PUI Kab. Majalengka serta untuk mengetahui bagaiaman upaya dan hambatan kepala sekolah dalam meningkatkan manajemen mutu dan kepemimpinan untuk meningkatkan kinerja guru di sekolah PUI Kab. Majalengka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi lapangan. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara mendalam dan metode dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa model manajemen mutu di sekolah PUI menggunakan model PDCA atau Plan-Do-Controll-Action , dimana proses manajemen mutu dimulai dari Perencanaan, Implementasi, Pengawasan dan Tindakan. Sedangkan kepemimpinan kepala sekolah cenderung menggunakan gaya

Article Received: 09 Oktober 2019, Review process: 10 Oktober 2018, Accepted: 29 November 2019, Article published: 30 November 2019

(2)

demokratis dan situasional yang lebih mengedepankan aspek musyawarah dan kekeluargaan. Hal tersebut membuat kinerja guru meningkat seiring dengan penerapan manajemen mutu yang baik dan kepemimpinan kepala sekolah yang tegas, sehingga upaya-upaya peningkatan kinerja guru berjalan dengan efektif . Kata Kunci:

Manajemen Mutu, Kepemimpinan Kepala Madrasah, Kinerja Guru

PENDAHULUAN

Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah bagaimana meningkatkan mutu pendidikan di setiap jenjang agar mampu bersaing di era global

1

. Hal ini perlu segera dilakukan mengingat mutu pendidikan di negara Indonesia masih jauh tertinggal oleh bangsa-bangsa lain. Sebagaimana diungkapkan Mulyasa bahwa hambatan utama dalam pengembangan pendidikan bukan semata-mata pada aspek keuangan, tetapi bertumpu juga pada aspek manajemen

2

. Oleh karena itu dalam memperbaiki mutu pendidikan harus dimulai dari perbaikan manajemen pendidikan. Sebab, manajemen adalah kekuatan utama dalam organisasi untuk mengatur atau mengkoordinasikan kegiatan sub-sub system dan menghubungkannya dengan lingkungan.

Sekolah disebut memiliki mutu apabila para murid mampu mencapai prestasi yang tinggi, memiliki kesadaran bermasyarakat yang bertangungjawab, memiliki moral dan etika yang berkarakter, mampu mengekspresikan nilai-nilai keindahan dan aspek emosi dan fisiknya tumbuh dengan baik.

3

.

Manajemen sekolah dengan rancangan Manajemen Berbasis Sekolah dipandang berhasil jika mampu mengangkat derajat mutu proses dan produk pendidikan dan pembelajaran

4

. Menurut Nanang Fatah, mutu merupakan kemampuan (ability) yang dimiliki oleh suatu produk atau jasa yang dapat memenuhi kebutuhan dan harapan kepuasan pelanggan (customers) yang dalam pendidikan dikelompokkan menjadi dua yaitu internal custamers yaitu siswa atau mahasiswa sebagai pembelajar (leaners) dan eksternal custames yaitu masyarakat dan dunia industri

5

.

1 Aan Hasanah., Amiroh, Inovasi Pengelolaan Pendidikan, (Pemalang: STIT Pemalang Press: 2014) hal.1

2 Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002) hal.20

3 Syaiful Sagala. Manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan, (Bandung:

Alfabeta, 2010) hal. 320

4 Sudarwan Danim. Visi Baru Manajemen Sekolah, Dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademik, (Jakarta : Bumi Aksara, 2008) hal. 53.

5 Nanang Fatah. Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan ,(Bandung: Remaja Rosdakarya:2012) hal. 2

(3)

Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) sebagai model manajemen yang memberikan kewenangan dan kekuasaan kepada sekolah untuk mengatur kehidupannya sesuai dengan potensi, tuntutan, dan kebutuhan sekolah yang bersangkutan.

6

.

Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan

7

. Maka dari itu dapat dikatakan kepala sekolah sebagai motor penggerak pencapaian mutu di sekolah yang dia pimpin.

Selanjutnya, kepemimpinan kepala sekolah mempunyai peran penting dalam meningkatkan kualitas kinerja para guru. Sehingga, perilaku kepemimpinan kepala sekolah harus mampu mendorong kinerja para guru dengan menunjukkan rasa bersahabat, dekat, dan penuh pertimbangan terhadap para guru, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Perilaku kepemimpinan kepala sekolah yang positif dapat mendorong, mengarahkan, dan memotivasi seluruh warga sekolah untuk bekerja sama dalam mewujudkan visi, misi, dan tujuan sekolah sehingga dapat meningkatkan mutu sekolah tersebut

8

.

Kepala sekolah sebagai leader harus mampu memberikan petunjuk dan pengawasan, meningkatkan kemampuan tenaga kependidikan, membuka komunikasi dua arah, dan mendelegasikan tugas. Menurut Wahjosumidjo (1999:10) mengemukakan bahwa kepala sekolah sebagai leader harus memiliki karakter khusus yang mencakup kepribadian, keahlian dasar, pengalaman dan pengetahuan profesional, serta pengetahuan administrasi dan pengawasan.

Gaya kepemimpinan kepala sekolah akan mempengaruhi kinerja guru di sekolah dalam memberikan pengarahan, dorongan dan kepedulian. Kepala sekolah dalam melaksanakan tugas dan fungsinya memiliki gaya kepemimpinan masing- masing yang sangat mempengaruhi kinerja guru di lingkungan kerjanya masing- masing.

Berdasarkan hasil penelitain awal di madrasah yang dikelola oleh ormas Persatuan Umat Islam (PUI) yang ada di kabupaten Majalengka menunjukkan model

6 E. Mulyasa, Manajemen dan Kepemimpinan Kepala Sekolah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hal 177

7 E.Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, (Bandung: Remaja Rosdakarya:2009) hal , 24

8 E. Mulyasa, Manajemen dan Kepemimpinan Kepala Sekolah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hal 17

(4)

manajemen mutu dan gaya kepemimpinan kepala sekolah yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena belum ketatnya standarisasi yang diberlakukan oleh PUI Majalengka dalam hal manajemen mutu dan kepemimpinan kepala sekolah, sehingga terkesan sekolah memiliki standar mutu dan gaya kepemimpinan kepala sekolah masing-masing. Hal ini juga menyebabkan kinerja guru di masing-masing sekolah menunjukkan hasil yang berbeda-beda.

METODOLOGI

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, yaitu pendekatan penelitian yang mengungkap realitas sosial dengan mendeskripsikan secara benar.

9

Penelitian kualitatif disebut juga dengan penelitian naturalistik atau alamiah karena dilihat dari sisi kealamiahan kondisi dan sumber data yang didapatkan.

10

Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah studi kasus, case study merupakan suatu bentuk penelitian yang mendalam tentang suatu aspek lingkungan sosial termasuk manusia di dalamnya.

11

Lebih lanjut, menurut Suharismi Arikunto, Studi kasus adalah suatu penelitian yang mempelajarai secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungan suatu unit sosial, individu, kelompok, lembaga maupun masyarakat.

12

Dalam penelitian ini, peneliti memilih lokasi di : 1). MTs PUI Cikijing yang beralamat di Desa Cikijing Kecamatan Cikijing Kab. Majalengka. 2).MTs PUI Maja yang beralamat di Jl. Pasukan Sindangkasih Desa Maja Selatan Kec. Maja Kab.

Majalengka dan 3).MTs PUI Kasturi yang beralamat di Desa Kasturi Kec. Cikijing Kab. Majalengka.

Sumber data utama dalam penelitian kualitatif berupa kata-kata dan tindakan selebihnya berupa dokumen dan lainya. Untuk itu metode pengumpulan data yang digunakan adalah obserrvasi, wawancara mendalam (in depth interview) dan dokumentasi (Content Analysis Document).

13

Sedangkan teknik analisa data yang digunakan dalam peneltian ini menggunakan konsep analisa data yang diberikan oleh Miles dan Huberman yang mengemukakan bahwa kegiatan dalam analisa data kualitatif dilakukan secara

9 Djam’an Satori dan Aan Komariah. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Alfa Beta. Hal. 5

10 Lexy J Moleong. 2014. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Hal. 3

11 S. Nasution. 2008. Metode Research. Jakarta: Bumi Aksara. Hal. 27

12 Suharismi Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 14

13 Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Hal 310

(5)

interaktif dan dilakukan secara terus-menerus pada tahapan penelitian. Aktifitas dalam analisa data meliputi tiga tahapan yaitu, Data Reduction, data display dan Verifikasi Data.

14

Uji kredibilitas terhadap hasil data pada penelitian kualitatif adalah dengan fokus pengamatan, triangulasi yang meliputi triangulasi sumber, teknik dan waktu, kecukupan referensi serta member chek.

Tahapan penlitian dalam penelitian ini dilakukan dengan tiga tahapan, pertama tahapan pra lapangan. Kedua, tahapan perkerjaan lapangan, tahapan ketiga adalah tahapan analisa data ditambah dengan tahapan penulisan hasil laporan.

HASIL DAN PEMBAHASAN MODEL MANAJEMEN MUTU

Alur manajemen yang diterapkan di MTs PUI Cikijing diawali dengan penyusunan konsep dasar madrasah yang meliputi visi, misi dan tujuan madrasah, kemudian disusunlah rencana strategis untuk mencapai visi, misi dan tujuan tersebut.

15

Selanjutnya dibuat sistem pembagian kerja yang tergambar dalam struktur organisasi madrasah beserta rincian tugas masing-masing jabatan.

Model manajemen mutu yang telah digunakan di MTs PUI Cikijing ini dikelompokkan menjadi beberapa tahap, yaitu:

a). Perencanaan.

Perencanaan merupakan usaha yang dilakukan kepala madrasah dan komponen lainnya untuk mengembangkan strategi yang akan dilaksanakan, antara lain membantu kepala sekolah dan staf untuk mengubah kondisi pembelajaran yang lebih efektif dan efisien.

Hasil wawancara dengan Bpk Drs. Embas, MA selaku Kepala Madrasah beliau mengatakan dalam perencanaan kebijakan sebagai upaya pemaksimalan daya saing lembaga, MTs PUI Cikijing berupaya untuk melakukan peningkatan kualitas guru, pembinaan terus menerus dalam semua aspek, baik organisasi, sarana dan prasarana, kesejahteraan karyawan dan juga pelatihan-pelatihan guru- guru dan karyawan. Perencanaan ini mengacu kepada visi, misi dan renstra yang

14 Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&B. Bandung : Alfabeta. Hal. 253

15 Data Observasi di MTs PUI CIkijing tanggal 8 Februari 2020

(6)

sudah dibuat sebelumnya. Biasanya perencanaan ini disusun di rapat awal tahun pelajaran.

b). Impelementasi

MTs PUI Cikijing menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam pengelolaan madrasahnya. Sehingga dalam hal manajemen mutu pun memiliki keleluasaan untuk membuat standar dan aturan untuk menjaga agar mutu pendidikan bisa dipertahankan secara konsisten. Impelementasi manajemen mutu dilakukan dengan mengacu kepada Standar Pengelolaan Minimal (SPM) yang tertuang dalam UU Sisdiknas Tahun 2003.

Agar implementasi berjalan dengan baik, maka disiapkan berbagai instrumen pelaksanaan yang meliputi: proposal, program kerja, tata tertib, guru piket, satpam, daftar hadir, bobot poin pelanggaran, supervisi, pembinaan, dan laporan kegiatan.

Implementasi manajemen mutu melibatkan seluruh komponen sekolah, baik itu guru, siswa, karyawan dan pimpinan madrasah. Selain itu, sarana dan prasarana juga disiapkan untuk mendukung program peningkatan mutu madrasah.

c). Evaluasi

Evaluasi dilakukan untuk menilai apakah implementasi sudah berjalan sesuai perencanaan atau belum. Bentuk dan Instrumen evaluasi yang biasa dilakukan di MTs PUI CIkijing diantaranya sebagai berikut:

1). Penilaian Siswa, meliputi : ulangan harian, penilaian tengah semester dan penilaian akhir semester serta Ujian Nasional.

2). Penilaian Kompetensi Guru (PKG)

3). Penilaian Kompetensi Kepala Madrasah (PKKM)

4). Monitoring, baik oleh Lembaga penyelenggara maupun pengawas Madrasah.

5). Akreditasi, diselenggarakan oleh BAN-S/M.

1. Model Manajemen Mutu di MTs PUI Maja

Model Manajemen Mutu di MTs PUI Cikijing diawali dengan penyusunan visi,

misi dan tujuan madrasah, kemudian disusunlah program kerja madrasah yang akan

(7)

dijalankan untuk satu tahun kedepan.

16

Selanjutnya dibuat struktur organisasi untuk membagi tugas dan kewajiban dengan susunan yang sudah disepakati bersama.

Proses manajemen mutu di MTs PUI Maja dijalankan secara sistematis yang diawali dari proses perencanaan, kepala madrasah melakukan langkah-langkah perencanaan mutu yang berkaitan dengan pengelolaan madrasahnya. Perencanaan mutu di sekolah yang diobservasi lebih menekankan pada komponen kurikulum. Hal ini dilakukan karena dengan kejelasan kurikulum, akan menyangkut pada penyediaan maupun ketersediaan sumber daya yang harus dimiliki oleh sekolah, dalam mendukung KBM yang sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik.

17

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan pada MTs PUI Maja yang menjadi objek penelitian, pelaksanaan dalam bagaimana mengelola mutu, pada prinsipnya mengacu kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah yang berlandaskan Standar Pengelolaan Minimal dan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional 2003.

18

Dalam rangka meningkatkan hasil lulusan yang sesuai dengan standar kompetensi lulusan (SKL) dimana lulusannya dapat memiliki kemampuan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi maka setiap MTs PUI Maja menerapkan sistem manajemen mutu yang mengacu pada delapan standar yang dirilis oleh BNSP Kemdikbud yaitu: standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pengelolaan, standar tenaga pendidik dan kependidikan, standar sarana prasarana, standar keuangan dan standar penilaian.

19

Setelah hal tersebut dilakukan, selanjutnya sekolah melakukan penerapan system manajemen mutu, dengan cara sebagai berikut; (1) Sosialisasi dokumen yang digunakan; (2) Penerapan dokumen sistem mutu; (3) Pemantauan penerapan sistem mutu; (4) Melakukan tinjauan manajemen; (5) Mengumpulkan catatan; dan (6) Membuat laporan kinerja.

2. Model Manajemen Mutu di MTs PUI Kasturi

Manajemen mutu di MTs PUI Kasturi diawali dari penyusunan Identitas Madrasah yang berisi: visi, misi dan tujuan madrasah serta rencana startegis madrasah yang menjadi acuan dalam pengelolaan madrasah.

20

Selanjutnya disusun

16 Wawancara dengan Bpk.H. Dudi Imadudin,M.Si selaku kepala Madrasah pada tanggal 12 Februrari 2020

17 Wawancara dengan Bpk.A. Ruhimat,S.Pd selaku Wakamad Kurikulum pada tanggal 12 Februrari 2020

18 Data Observasi di MTs PUI Maja tanggal 12 Februari 2020

19 Wawancara dengan Bpk.H. Dudi Imadudin,M.Si selaku kepala Madrasah pada tanggal 12 Februrari 2020

20 Data Observasi di MTs PUI Kasturi tanggal 18 Februari 2020

(8)

struktur organisasi di MTs PUI Kasturi sebagai gambaran alur manajemen dan koordinasi.

Dalam perencanaan manajemen mutu terpadu di MTs PUI Kasturi mengutamakan tentang pembagian tugas dan wewenang yang jelas sehingga setiap personalia yang ditunjuk untuk menduduki jabatan tersebut memiliki acuan kerja yang jelas dan terarah. Hal ini akan memudahkan proses impelementasi dan evaluasi dalam proses manajemen yang dijalankan. Jika pembagian tugas telah dilaksanakan dengan baik dan penunjukkan personalia dilakukan dengan tepat, maka dengan sendirinya model manajemen mutu akan berjalan dengan baik.

21

Selain itu, kunci manajemen mutu berjalan baik terletak pada manajemen pembelajaran yang berjalan dengan baik sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku.

Peningkatan mutu pembelajaran adalah suatu proses yang sistematis yang terus menerus meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan faktor-faktor yang berkaitan dengan itu, dengan tujuan agar target sekolah (pendidikan) dapat dicapai dengan lebih efektif dan efisien. Semua tindakan yang dilakukan di MTs PUI Kasturi arahnya kepada pencapaian visi, misi dan tujuan sekolah yang direncanakan bersama. Perencanaan strategis selalu diperlukan dalam bekerjasama antara kepala madrasah dan guru-guru demi perbaikan yang berkelanjutan, sehingga pengambilan keputusan oleh kepala madrasah bersama dengan guru-guru akan memperkuat manajemen sekolah yang diharapkan. Penerapan manajemen mutu terpadu dalam hal ini, akan memberikan kerangka penyempurnaan dalam hal strategi perbaikan sekolah, percepatan pembelajaran (accelerated learning), manajemen, pemberdayaan guru, pendidikan berbasis hasil, efektivitas lembaga, pendidikan berbasis masyarakat, dan pembelajaran yang berbasis pada murid yang semuanya akan dapat memberdayakan pendidikan.

22

Pelaksanaan manajemen mutu di MTs PUI Kasturi dibingkai oleh perangkat aturan seperti: tata tertib guru, tata tertib siswa dan Standard Operational Procedure (SOP). Evaluasi manajemen mutu di MTs PUI Kasturi dilakukan melalui berbagai kegiatan dianataranya: Penilaian siswa, Penilaian Kinerja Guru, Penilaian Kinerja Kepala Madrasah, Monitoring Pengawas Madrasah, dan Akreditasi yang dilakukan oleh BAN-SM.

21 Wawancara dengan H. Mumbasah,S.Ag Kepala Madrasah pada tanggal 18 Februari 2020

22 Wawancara dengan Bapak Deden Edi S,ST Wakamad Kurikulum pada tanggal 18 Februari 2020

(9)

KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH PUI

1. Kepemimpinan Kepala Madrasah di MTs PUI Cikijing

Kepemimpinan pada hakekatnya adalah ilmu dan seni untuk mempengaruhi dan mengarahkan orang/ bawahan/ pengikut/ pendukung dengan cara membangun kepatuhan, kesetiaan, kepercayaan, hormat dan bekerja sama dengan penuh semangat dalam mencapai tujuan organisasi”. Sehingga kepala sekolah yang menduduki kepemimpinan akan memberikan pengaruh terhadap penentuan arah dari perjalanan yang hendak ditempuh organisasi.

23

Kepala sekolah sebagai pemimpin sekolah harus mampu menjalankan peranya agar guru memiliki kepatuhan, kesetiaan, kepercayaan dan semangat bekerja sama untuk mencapai tujuan sekolah. Dalam penelitian ini peran kepala sekolah yang dimaksud adalah yang tercermin dalam Permendiknas RI Nomor 13 tahun 2007 yang menyatakan bahwa kepala sekolah harus memenuhi standar lima kompetensi, yakni: 1) kompetensi kepribadian, 2) kompetensi manajerial, 3) kompetensi kewirausahaan, 4) kompetensi supervisi dan 5) kompetensi sosial.

24

Berdasarkan observasi dan wawancara tercermin bahwa kepala madrasah di MTs PUI Cikijing telah menjalankan peranya dengan baik selaku pimpinan di madrasahnya.

Peran kepala MTs PUI Cikijing dalam penyusunan program madrasah menempati posisi yang penting. Meskipun tidak melibatkan semua unsur sekolah, yang ada, paling tidak kepala sekolah telah membentuk tim pengembang sekolah yang mewakili semua unsur yang ada termasuk guru. Tim yang terdiri dari komite,wali murid,guru dan staf pengembang inilah bersama dengan kepala sekolah merumuskan dan menyusun program tahunan sekolah. Dalam menyusun program ini nampaknya pendekatan participatory diterapkan oleh kepala sekolah.

25

Hal ini terlihat dalam proses penyusunan program yang dimulai dari ekplorasi dan penghimpunan masukan dan pendapat dari guru, karyawan dan pihak-pihak terkait lainnya, yang kemudian digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan program.

Kepala MTS PUI Cikijing sebagai pemimpin dipandang mampu memberikan petunjuk dan pengawasan, meningkatkan kemauan tenaga kependidikan, membuka

23 Robbins, Stephen P,. Perilaku Organisasi (Alih Bahasa ) ( PT. Indeks.:Jakarta,2003)hal.365

24 Permendiknas No. 13 tahun 2007

25 Wawancara dengan Bapak Hendra,S.Pd Wakamad Kesiswaan pada tanggal 8 Februari 2020

(10)

komunikasi dua arah, dan mendelegasikan tugas. Berdasarkan keterangan tersebut, kepala madrasah sudah berupaya untuk menciptakan (1) perencanaan yaitu melakukan perencanaan secara makro dan apa saja yang akan dicapai oleh organisasinya (2) mengorganisasikan (organizing atau staffing) struktur organisasi dan orang-orang dalam organisasi untuk menggarap berbagai kegiatan dalam organisasinya. (3) pelaksanaan (actuating atau implementing) berdasarkan perumusan dan kesepakatan dengan berbagai norma yang mesti dipatuhi dalam pelaksanaan tugas setiap personil dalam organisasi. (4) melakukan pengawasan (controlling) terhadap berbagai kegiatan pelaksanaan operasional dari seluruh kegiatan organisasi.

26

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, kepala MTs PUI Cikijing cenderung memiliki gaya kepemimpinan demokratis, dimana setiap keputusan yang diambil selalu melibatkan wakil kepala madrasah dan guru. Dalam hal pelaksanaan program madrasah pun kepala madrasah selalu membagi tugas kepada wakil kepala atau guru sesuai dengan tupoksinya masing-masing.

27

2. Kepemimpinan Kepala Madrasah di MTs PUI Maja

Kepala madrasah memegang peran penting dalam perkembangan pendidikan, fungsi utama kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan yaitu menciptakan situasi dalam proses belajar mengajar yang harmonis. Sehingga guru-guru dapat mengajar dengan baik dan siswa pun dapat menerima pelajaran dengan baik. Dalam melaksanakan fungsi tersebut kepala madrasah memiliki tanggung jawab yang begitu besar sebagai motivator agar guru-guru dapat menjadi seorang guru profesional. Hal ini karena kepala madrasah merupakan pejabat profesional dalam organisasi sekolah yang bertugas mengatur semua sumber organisasi dan bekerjasama dengan guru-guru dalam mendidik siswa untuk mencapai tujuan pendidikan.

28

Wawancara dilaksanakan dengan menggunakan data lapangan yakni Kepala Madrasah dan wakil kepala madrasah bidang kurikulum dan kesiswaan serta guru yang berada di MTS PUI Maja. Data yang tidak terungkap melalui wawancara, dilengkapi dengan data hasil observasi langsung secara partisipatif maupun non-partisipatif, Observasi dilaksanakan terhadap pengaruh

26 Wawancara dengan Bapak Iib Wahibin,S.Ag ,Guru, pada tanggal 8 Februari 2020

27 Wawancara dengan Bapak Solehudin,S.Pd ,Wakamad kurikulumn, pada tanggal 8 Februari 2020

28 Wahjosumidjo. Kepemimpinan dan Motivasi.(Ghalia Indonesia :Jakarta,1994) hal.82

(11)

kepemimpinan kepala madrasah, faktor-faktor pendukung yang mempengaruhi profesionalisme guru dan hambatan-hambatan dalam meningkatkan profesionalisme guru. Untuk memperkuat substansi data hasil wawancara dan observasi, maka dilakukan telaah terhadap dokumentasi, wawancara dan arsip yang ada.

Hasil wawancara dengan kepala MTs PUI Maja yaitu Bapak Dudi Imadudin,M.Pd Beliau mengatakan “selaku kepala madrasah saya menerapkan kepemimpinan yang situasional, menyesuaikan dengan situasi yang ada, ada saatnya tegas ada saatnya lunak, karena dengan demikian saya bisa membaur dengan guru-guru dan ikut memecahkan masalah yang mereka hadapi”, selain itu juga saya sebagai kepala Madrasah ikut serta dalam mengarahkan guru-guru agar mereka menjadi guru yang teladan dan bisa di katakan profesional.

29

Untuk mengetahui apakah kepala madrasah telah menerapkan kepemimpinan yang situasional maka peneliti menemukan informasi yang diperoleh dari salah satu guru MTs PUI Maja yaitu bapak Asep Khumaeni,S.Pd beliau mengatakan “Dalam menentukan suatu kebijakan bersama kepala madrasah selalu melibatkan bawahannya melalui proses musyawarah namun ada kalanya beliau memutuskan kebijakan sendiri seperti halnya dalam menetapkan peraturan tata tertib guru karena hal ini berdasarkan hak perioregatif dari pimpinan selaku kepala madrasah dan ada kalanya juga kepala madrasah memberikan penghargaan kepada guru yang disiplin tanpa harus di musyawarahkan terlebih dahulu bentuk hadiahnya seperti apa dan juga memberi sanksi bagi guru yang kurang disiplin serta menerapkan kepemimpinan yang situasional.

30

3. Kepemimpinan Kepala Madrasah MTs PUI Kasturi

Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi dan mengarahkan bawahan dalam melakukan pekerjaan yang telah ditugaskan kepada mereka. Sedangkan dalam dunia pendidikan, kepemimpinan memiliki dua peran yakni kepala sekolah selaku pimpinan pada kinerja lembaga dan guru sebagai pimpinan dalam pembelajaran di kelas.

31

29 Wawancara dengan H. Dudi Imadudin,M.Si Kepala Madrasah tanggal 12 Februari 2020

30 Wawancara dengan bapak Asep Khumaeni,S.Pd, Guru, pada tanggal 12 Februari 2020

31 Nawawi, Hadari dan Martini Hadari.Kepemimpinan yang Efektif. (Gajahmada University Press :Yogyakarta, 1995) hal.9

(12)

Gaya kepemimpinan merupakan pola perilaku dan strategi yang disukai dan sering diterapkan oleh seorang pemimpin dalam rangka mencapai sasaran organisasi.

Gaya kepemimpinan merupakan pola perilaku dan strategi yang disukai dan sering diterapkan pemimpin, dengan menyatakan tujuan organisasi dengan tujuan individu atau pegawai, dalam rangka mencapai tujuan atau sasaran yang telah menjadi komitmen bersama. Gaya kepemimpinan berfokus pada apa yang dilakukan oleh pemimpin dan bagaiman ia bertindak. Dalam hal ini kepala MTs PUI Kasturi berupaya menggunakan gaya kepemimpinan demokratis.

Untuk mengetahui apakah kepala madrasah telah menerapkan kepemimpinan yang demokratis maka peneliti menemukan informasi yang diperoleh dari salah satu wakil kepala madrasah MTs PUI Kasturi yaitu bapak Badru Jaman,S.Pd beliau mengatakan “Dalam menentukan suatu kebijakan bersama kepala madrasah selalu melibatkan bawahannya melalui proses musyawarah bersama guru-guru dan komponen sekolah yang lain”.

32

Untuk menjaga kualitas pembelajaran, kepala MTs PUI Kasturi juga sering melakukan supervisi ke guru-guru yang sedang mengajar di kelas, sehingga kelemahan-kelemahan guru dalam mengajar dapat diperbaiki. Evaluasi pembelajaran biasanya dilakukan di acara briefing yang dilakukan setiap awal bulan.

33

Selain itu, kepala MTs PUI Kasturi juga selalu mendorong guru-guru untuk terus meningkatkan kompetensi mengajarnya agar bisa memberikan layanan pengajaran yang terbaik untuk siswa-siswinya. Selain itu, program peningkatan kompetensi guru juga dilakukan dengan mengikuti kegiatan seperti workshop/pelatihan, Musyawah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dan pembinaan dari pengawas atau kepala madrasah.

34

UPAYA DAN HAMBATAN MANAJEMEN MUTU DAN KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH

32 Wawancara dengan bapak Badru Jaman,S.Pd, Wakamad Kesiswaan tanggal 18 Februari 2020

33 Wawancara dengan bapak Deden Edi S,ST, Wakamad Kurikulum tanggal 18 Februari 2020

34 Wawancara dengan bapak Aris Permana,S.Pd, Guru, tanggal 18 Februari 2020

(13)

Adapun terkait dengan kebijakan mutu pendidikan maka pihak madrasah memberlakukan beberapa strategi untuk menghasilkan mutu pembelajaran yang lebih baik, yaitu:

35

a. Peningkatan kualitas guru.

Untuk menciptakan out put yang berkualitas faktor terpenting adalah peningkatan kualitas guru Peningkatan ini diusahakan untuk dapat bertahan menghadapi persaingan yang ada tuntutan mengenai peningkatan guru memang seharusnya dilakukan dengan tujuan mampu mengikuti perkembangan saat ini, yang diharapkan kependidikan guru benar-benar memenuhi standar yang diinginkan pemerintah dan intansi terkait.

Kompetensi guru adalah kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban secara bertanggung)awab dan layak. Pelatihan atau pengembangan kualitas SDM terutama menyangkut kemampuan guru dalam mengajar adalah bagian terpenting dari usaha peningkatan kualitas pembelajaran. Kualitas guru ini merupakan salah satu pilar dalam mendorong pencapaian mutu. Karena proses pembelajaran menyangkut kemampuan mengajar guru, maka dalam pelaksanaan program ini penekanannya adalah peningkatan kemampuan guru dalam mengajar, baik untuk mata pelajaran umum maupun agama, standar kualitas guru yaitu kegiatan sebelum mengajar, diantaranya adalah membuat prota, prosem dan satpel.

b. Optimalisasi Rencana Pembelajaran

Kepala MTs PUI Cikijing dalam perencanaan pembelajaran guru dan unsur- unsur sekolah sudah sesuai dengan harapan para guru MTs PUI Cikijing, hal itu ditempuh oleh kepala madrasah melalui langkah langkah yang simpatik, di antaranya: mengidentifikasi kekurangan, kelemahan, kesulitan, atau masalah- masalah yang seringkali dimiliki atau dialami guru kelas, dan guru mata pelajaran.

Dalam konteks pembelajaran, perencanaan dapat diartikan sebagai proses penyusunan materi pelajaran, penggunaan media pembelajaran, penggunaan pendekatan atau metode pembelajaran, dan penilaian dalam suatu lokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa tertent untuk mencapai tujuan yang ditentukan.

Perencanaan itu dapat bermanfaat bagi guru sebagai kontrol terhadap diri sendiri agar dapat memperbaiki cara pengajarannya. Dan semuanya itu sudah ada di dalam silabus dan RPP.

35 Wawancara dengan Bapak Drs.Embas,MA, Kepala MTs PUI Cikijing, pada tanggal 8 Februari 2020

(14)

c. Studi Banding

Penambahan wawasan mengajar untuk para guru di MTs PUi Cikijing dilakukan juga dengan metode studi banding ke beberapa lembaga pendidikan yang memiliki keunggulan, misalnya ke Kampung Inggris di Pare, Ponpes Asyifa Subang dan madrasah di Malang. Hasil studi banding dijadikan rujukan dalam menentukan standar mutu pembelajaran di MTs PUI Cikijing.

d. Penghargaan dan sanksi

Dalam upaya meningkatkan kinerja guru di MTs PUI Cikijing ada pemberian penghargaan dari pihak madrasah bagi guru yang berprestasi, penghargaan tersebut berupa piagam atau benda berharga lainnya. Namun bagi guru yang menunjukkan kinerja yang kurang baik, maka ada sanksi yang diberikan, sanksi tersebut berupa teguran, surat peringatan, skorsing dan pemecatan. Sejauh ini belum ada guru di MTs PUI Cikijing yang mendapat sanksi skorsing dan pemecatan. Hal ini karena pada umumnya guru-guru di MTs PUI Cikijing memiliki kinerja yang baik.

36

Upaya-upaya untuk meningkatkan mutu madrasah dan kinerja guru tidak selalu berjalan mulus. Dalam perjalanannya ditemukan beberapa hambatan yaitu:

kekurangan dana dan sarana prasarana, etos kerja beberapa guru yang masih kurang, guru tidak siap dengan perubahan, aspek kesejahteraan guru yang masih dibawah standar UMR, terutama untuk guru honorer.

37

SIMPULAN

Setelah menyajikan uraian-uraian tentang model manajemen mutu dan kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja guru di di madrasah PUI kabupaten Majalengka, maka peneliti dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:

36 Wawancara dengan Bapak H. Solehudin,S.Pd ,Wakamad Kurikulum MTs PUi Cikijing, pada tanggal 8 Februari 2020

37 Wawancara dengan Bapak Hendra,S.Pd ,Wakamad kesiswaan dan bapak IIb wahibin, guru MTs PUi Cikijing, pada tanggal 8 Februari 2020

(15)

1. Model manajemen mutu yang dikembangkan di Madrasah PUI Kab. Majalengka adalah sebagai berikut:

a. Tahap pertama adalah penyusunan konsepsi dasar madrasah yang berisi visi, misi dan tujuan madrasah

b. Kedua, menyusun Struktur Organisasi Madrasah beserta tupoksi masing- masing jabatan disertai dengan SOP dan Tata Tertib.

c. Ketiga, menyusun Rencana Strategis, rencana tahunan madrasah dan rencana pembelajaran oleh guru.

d. Keempat, merupakan tahap implementasi atau pelaksanaan dari program yang sudah dibuat sebelumnya.

e. Kelima, tahap evaluasi , baik itu evaluasi siswa, guru, kepala madrasah dan madrasah secara umum.

Secara keseluruhan model manajemen mutu di Madrasah PUI Kab. Majalengka mengacu pada model manajemen yang dicetuskan oleh W. Edward Deming yang dikenal dengan model PDCA (Plan, Do, Controll, Action).

2. Kepemimpinan kepala madrasah yang dikembangkan di madrasah PUI Kab.

Majalengka mengacu pada gaya kepemimpinan demokratis dan situasional.

Kepala madrasah di lingkungan madrasah PUI telah menjalankan peranya dengan baik selaku pimpinan di madrasahnya. Kepala Madrasah PUI sebagai pemimpin dipandang mampu memberikan petunjuk dan pengawasan, meningkatkan kemauan tenaga kependidikan, membuka komunikasi dua arah, dan mendelegasikan tugas. Kepala madrasah PUI juga sudah berupaya untuk menciptakan (1) perencanaan yaitu melakukan perencanaan secara makro dan apa saja yang akan dicapai oleh organisasinya (2) mengorganisasikan (organizing atau staffing) struktur organisasi dan orang-orang dalam organisasi untuk menggarap berbagai kegiatan dalam organisasinya. (3) pelaksanaan (actuating atau implementing) berdasarkan perumusan dan kesepakatan dengan berbagai norma yang mesti dipatuhi dalam pelaksanaan tugas setiap personil dalam organisasi. (4) melakukan pengawasan (controlling) terhadap berbagai kegiatan pelaksanaan operasional dari seluruh kegiatan organisasi

3. Kinerja guru meningkat seiring dengan penerapan manajemen mutu yang baik

dan kepemimpinan kepala madrasah yang tegas, sehingga upaya-upaya

peningkatan kinerja guru berjalan dengan efektif. Upaya-upaya yang telah

dilakukan untuk meningkatkan kinerja guru diantaranya: pembinaan dan

(16)

supervisi guru, reward and punishment, informal meeting, dan sharing knowladge.

Hambatan-hambatan yang ditemui dalam upaya peningkatan kinerja guru diantaranya: kurangnya biaya, kesadaran guru untuk berubah masih kurang, sarana prasarana masih terbatas dan aspek kesejahteraan guru yang masih di bawah UMR.

DAFTAR PUSTAKA

Danim, Sudarwan. 2008, Visi Baru Manajemen Sekolah, Dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademik, Jakarta : Bumi Aksara

Djam’an Satori dan Aan Komariah. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:

PT Alfa Beta.

DPP PUI, 2015, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PUI, Jakarta: DPP PUI

Fatah, Nanang., 2012, Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Fattah, Nanang, 2011, Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya

Hasanah, Aan., Amiroh, 2014. Inovasi Pengelolaan Pendidikan, Pemalang: STIT Pemalang Press.

Harmain, Hendra, Kaitan antara Motivasi dan Kinerja Guru, Analytica Islamica, vol. 7, No.1, Tahun 2005

Hernawan, Wawan, 2011, Seabad Persatuan Umat Islam, Bandung: Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia

Echol, John. M dan Hasan Shadily, 2003, An English – Indonesian Dictionary, Cet.

XXV, Jakarta : PT. Gramedia

Lexy J Moleong. 2014. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Lubis, Nina Herlina,2011, Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Barat, Bandung:

Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia

Makawimbang, Jerry H., 2012, Kepemimpinan Pendidikan yang Bermutu, Bandung:

Alfabeta

Mulyasa, E. 2014. Manajemen Berbasis Sekolah, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Mulyasa, E. 2011, Manajemen dan Kepemimpinan Kepala Sekolah, Jakarta: Bumi

Aksara

Mulyasa, E. 2014. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya

Mulyasa, E. 2017. Menjadi Guru Sekolah Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya

Nawawi, Hadari dan Martini Hadari. 1995. Kepemimpinan yang Efektif. Yogyakarta:

Gajahmada University Press

Nasution, MN., 2001,Manajemen Mutu Terpadu, Jakarta: Ghalia Indonesia Nasution, S. 2008. Metode Research. Jakarta: Bumi Aksara.

Permendiknas No. 13 tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Kepala Sekolah Pusat pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud, 1999, Kamus Besar

Bahasa Indonesia, Cet.10, Jakarta: Balai Pustaka

Robbins, Stephen P. 2003. Perilaku Organisasi (Alih Bahasa ). Jakarta : PT. Indeks

(17)

Sagala, Syaiful. 2010, Manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan, Bandung: Alfabeta

Sagala, Syaiful, 2013, Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan, Bandung: Alfabeta

Sagala, Syaiful. 2010, Konsep dan Makna Pembelajaran ,Bandung: Alfabeta

Sallis, Edward. 2011, Total Quality Manajemen In Education (Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan). Jogjakarta: IRCISoD

Sugiyono, 2013. Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&B. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Suharismi Arikunto. 2013. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Syafaruddin,2005. Manajemen Lembaga Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press.

Suryadi, Ace dan Dasim Budimansyah,2009, Paradigma Perkembangan Pendidikan Nasional,Bandung: Widya Aksara Press

Wahjosumidjo. 2002. Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoritik dan

Permasalahannya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Referensi

Dokumen terkait

Dengan adanya suatu sistem yang didalamnya terdapat basis data sebagai pendukung diharapkan dapat membantu perusahaan dalam melakukan aktivitas bisinis baik pada saat sekarang

h Betulkah : Apabila Bahan baku yang sekarang digunakan untuk membuat barang dalam usaha Bapa/Ibu tidak ada maka akan ada pengganti nya. i Betulkah : Bahan baku pengganti sulit

Keputusan investasi tersebut akan menghasilkan pendapatan dan laba untuk memakmurkan investor sehingga akan merespon investor bahwa pada perusahaan tersebut

Hasilnya menemukan bahwa komitmen organisasi auditor terbukti berpengaruh negatif terhadap keinginan untuk keluar dari perusahaan dan temuan lain dari penelitian tersebut

Rumah sakit memberitahu pasien dan keluarga, dengan cara dan bahasa yang dapat dimengerti tentang proses bagaimana mereka akan diberitahu tentang kondisi medis dan

[r]

Berdasarkan pembelahan awal mulai dari mikrospora, ada empat model lintasan androgenesis yang menghasilkan embrio atau tanaman secara in vitro yaitu: (1)

LIBOR rate bersifat volatile karena berubah-ubah (ditetapkan setiap awal 6 bulan). LIBOR rate yang berubah-ubah ini menunjukkan bahwa suku bunga yang harus dibayarkan