• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANAN KURATOR DALAM KEPAILITAN TERHADAP NASABAH BANK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERANAN KURATOR DALAM KEPAILITAN TERHADAP NASABAH BANK"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PERANAN KURATOR DALAM KEPAILITAN TERHADAP NASABAH BANK

(ROLE CURATOR BANK IN BANKRUPTCY AGAINST CUSTOMERS) Ni Wayan Umi Martina

I Made Arjaya

Kantor Hukum Arjaya Umi Martina & Partners Jl. By. Pass Ngurah Rai, No. 61 Kedonganan, Badung, Bali

Fakultas Hukum Universitas Warmadewa Jl. Terompong 24 Tanjung Bungkak, Denpasar, Bali

Hp. 08123972008

ABSTRAK

Tujuan dari kajian hukum ini adalah untuk memaparkan bagaimanakah peranan kurator dalam mengurus dan membereskan harta Debitor Pailit, dan bagaimanakah kedudukan bank apabila nasabah bank dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga. Metode penelitian yang digunakan dalam kajian hukum ini adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Dari hasil kajian hukum yang telah dilakukan, maka diketahui bahwa peranan Kkurator dalam mengurus dan membereskan harta debitor pailit berdasarkan UUK, kurator dapat melakukan pengurusan dan pemberesan harta debitor pailit sejak putusan pailit diucapkan dan memberikan laporan pertanggungjawaban dalam mengurus dan membereskan harta debitor pailit kepada Hakim Pengawas. Kedudukan bank apabila nasabah bank dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga, bank berkedudukan sebagai kreditor separatis. Sedangkan bank berkedudukan sebagai kreditor konkuren apabila di dalam perjanjian kredit aantara bank dengan debitor pailit diletakkan jaminan kebendaan, dan apabila dalam perjanjian kredit tersebut tidak terdapat jaminan/agunan.

Kata kunci: Kurator, Kepailitan, Nasabah Bank

ABSTRACT

The aim of this study is to show the law how is the role of a curator to manage and dispose of the bankrupt Ddebtor’s assets, and how the position of the bank if the customer is declared bankrupt bank based on decision of the Commercial Court. The method used in the study of this law is a normative legal research with the approach of statute and conceptual approach. The results of the study of law has been committed, it is known that the role of the curator to manage and dispose of property bankrupt debtor based on the bankruptry law, a curator can perform management and liquidation of the debtor’s assets bankrupt since decision bankruptcy pronounced and accountability report in managing and tidy property bankrupt debtor to the Supervising Judge. The position of the bank if the customer and the bank declared bankrupt by the Commercial Court, as the Creditor Bank is separatists. While the bank is domisiled as a concurrent creditor, if in the loan agreement between the bank and bankrup debtor is placed a collaterial material, when the credit agreement there is no quarantee/collateral.

Key words: Curator, Bankruptcy, Bank Customers PENDAHULUAN

Perkembangan perekonomian di Indonesia sejak terjadi krisis ekonomi di Asia pada tahun 1997, menunjukkan perkembangan perekonomian yang lambat, banyak pelaku usaha yang mengalami kesulitan keuangan bahkan banyak perusahaan yang pailit. Pailit merupakan suatu keadaan debitor tidak mampu untuk melakukan pembayaran terhadap utang- utang kepada para kreditor (Hadi

Shubhan,2008:1). Black’s Law Dictionary menyebutkan kepailitan adalah “Bankrupt is the state or condition of one who is unable to pay his debts as they are, or due.” (Henry Campbell Black, 1979:134).

Beberapa tahun terakhir ini, terdapat

beberapa nasabah bank yang dinyatakan pailit

oleh Pengadilan Niaga. Nasabah bank yang

dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga

tersebut sebagian besar usahanya bergerak di

bidang hotel. Pengusaha hotel yang memperoleh

(2)

pinjaman dari bank yang digunakan untuk biaya pembangunan serta operasional hotelnya.

Nasabah bank yang dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga, biasanya tidak dapat melakukan kewajiban pembayaran utangnya kepada bank dengan baik sebagaimana yang telah ditentukan di dalam perjanjian kredit.

Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitor pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh kurator dibawah pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalam UU ini (Pasal 1 angka 1 UU No.37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU, selanjutnya disebut UUK). Apabila nasabah bank yang dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga, maka nasabah bank tersebut berkedudukan sebagai debitor pailit.

Debitor pailit adalah debitor yang sudah dinyatakan pailit dengan putusan Pengadilan (Pasal 1 angka 4 UUK).

Putusan pailit mengakibatkan debitor pailit demi hukum kehilangan haknya untuk menguasai dan mengurus kekayaannya yang termasuk dalam harta pailit, sejak tanggal putusan pernyataan pailit diucapkan (Pasal 24 ayat (1) UUK). Debitor pailit sejak putusan pailit diucapkan tidak mempunyai kapasitas hukum (legal capacity) untuk menguasai dan mengurus kekayaannya yang termasuk dalam harta pailit sampai dengan berakhirnya kepailitan.

Pengurusan dan pemberesan harta debitor pailit dilakukan oleh kurator dan diawasi oleh Hakim Pengawas yang diangkat oleh Pengadilan Niaga dalam putusan pailit. Kurator dalam melakukan tugasnya mengurus dan membereskan harta debitor pailit berdasarkan pada hukum serta peraturan perundang-undangan. Kurator dalam melakukan tugasnya mengurus dan membereskan harta pailit mempunyai tanggung jawab hukum ( legal obligation) kepada Pengadilan Niaga, Majelis Hakim perkara a quo, Hakim Pengawas, Debitor Pailit, dan para kreditor. Kurator dalam melakukan tugasnya mengurus dan membereskan harta debitor pailit sebaiknya bersikap obyektif berdasarkan hukum, netral, memperhatikan, dan menjaga kepentingan hukum para pihak dalam kepailitan, agar semua pihak terlindungi hak- haknya serta tidak ada pihak yang dirugikan.

Lembaga kepailitan merupakan penye- lesaian utang-piutang secara hukum (legal formal) berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga terhadap kewajiban debitor kepada para kreditor secara lebih efektif, efisien, proporsional, dan

keseluruhan/penyelesaian penuh atau pelunasan. Fungsi lembaga kepailitan adalah untuk melindungi kreditor dari kreditor lainnya, melindungi kreditor dari debitor, dan melindungi debitor yang beritikad baik dari para kreditor, sebagaimana pendapat Harold F.Lusk menyatakan:

The purpose of the bankruptcy act are (a) to protect creditors from one another, (b) to protect creditors from their debtor, and (c) to protect the honest debtor from his creditors.(Harold F. Lusk, 1986: 1076).

Kepailitan menganut prinsip universal yaitu putusan pailit dari suatu pengadilan di suatu negara, putusan pailit tersebut mengikat demi hukum terhadap semua harta debitor baik yang berada di dalam negeri di tempat putusan pailit dijatuhkan maupun terhadap harta debitor yang berada di luar negeri. Prinsip universal kepailitan ini menekankan aspek internasional dari kepailitan yang dikenal dengan sebutan cross border insolvency (Hadi Shubhan, 2008:.47).

Bank yang nasabahnya dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga, dapat mengikuti proses kepailitan di Pengadilan Niaga. Apabila bank yang nasabahnya dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga tidak mengikuti seluruh proses kepailitan di Pengadilan Niaga, maka bank akan kehilangan haknya dan kehilangan kesempatan untuk mengikuti proses kepailitan.

Bank yang nasabahnya dinyatakan pailit yang tidak mengikuti seluruh proses kepailitan di Pengadilan Niaga berpotensi dapat merugikan kedudukan bank dalam mendapatkan kembali pembayaran tagihannya dari debitor pailit melalui kurator. Bank yang nasabahnya dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga yang tidak mengikuti seluruh proses kepailitan di Pengadilan Niaga, berpotensi mendapatkan pembayaran tagihannya dari debitor pailit berdasarkan perhitungan kurator yang mungkin tidak sesuai dengan perhitungan dari nank.

Bank yang nasabahnya dinyatakan pailit

berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga, apabila

mengikuti seluruh proses kepailitan di

Pengadilan Niaga untuk memperoleh

pembayaran tagihannya dari debitor pailit

melalui kurator berpotensi untuk mendapatkan

pembayaran yang sesuai dengan perjanjian

kredit atau sesuai dengan ekspektasi dari

perhitungan bank. Bank apabila sudah

mengikuti semua proses kepailitan dan

(3)

berusaha untuk mendapatkan pembayaran tagihannya dari debitor pailit melalui kurator, berpotensi meminimalisir kerugian yang mungkin timbul akibat adanya nasabah bank yang dinyatakan pailit tersebut. Bank dalam mengikuti proses kepailitan di Pengadilan Niaga sebaiknya didampingi dan/atau diwakili oleh kuasa hukum yang mengerti hukum kepailitan, dan sudah berpengalaman beracara di Pengadilan Niaga, karena proses dan hukum acara yang berlaku dalam proses kepailitan adalah hukum acara khusus sebagaimana diatur di dalam UUK. UUK menganut beberapa asas, salah satunya yaitu asas integrasi yang mengandung makna bahwa hukum formil dan hukum materiilnya merupakan satu kesatuan yang utuh dari sistem hukum perdata dan hukum acara perdata nasional. UUK mengatur hukum formil/hukum acara dalam Persidangan Permohonan Pailit dan Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di Pengadian Niaga. Apabila di dalam UUK tidak diatur Hukum Acaranya, maka diberlakukan Hukum Acara Perdata Indonesia.

Bank yang nasabahnya dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga dalam mengikuti proses persidangan sebaiknya mengikuti semua proses persidangan dan menggunakan haknya dengan baik secara maksimal untuk mendapatkan pembayaran tagihannya kepada debitor pailit melalui kurator.

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka rumusan masalah yang akan dibahas adalah:

1. Bagaimakah peranan kurator dalam mengurus dan membereskan harta debitor pailit?

2. Bagaimanakah kedudukan bank apabila nasabah bank dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga?

PEMBAHASAN

Peranan Kurator Dalam Mengurus dan Membereskan Harta Debitor Pailit

Kurator adalah balai harta peninggalan atau orang perseorangan yang diangkat oleh pengadilan untuk mengurus dan membereskan harta debitor pailit di bawah pengawasan Hakim Pengawas sesuai dengan UU ini (Pasal 1 angka 5 UUK). Siapa saja yang dapat menjadi kurator adalah:

a. Orang perseorangan yang berdomisili di

Indonesia, yang mempunyai keahlian khusus yang dibutuhkan dalam rangka mengurus dan/atau membereskan harta pailit, dan;

b. Terdaftar pada kementrian yang lingkup tugas dan tanggungjawabnya di bidang hukum dan peraturan perundang-undangan (pasal 70 ayat (2) UUK).

Kurator dalam mengurus dan membereskan harta debitor pailit berdasarkan peraturan perundang-undangan, prinsip paritas creditorium, prinsip pari passu prorate parte, dan prinsip structured prorate. (Hadi Shubhan,2008:.27). Prinsip paritas creditorium (para kreditor mempunyai kedudukan yang setara) yang mengandung makna para kreditor mempunyai hak yang sama terhadap semua harta benda debitor. Prinsip paritas creditorium dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia ditentukan di dalam Pasal 1131 yang menentukan bahwa “Segala kebendaan si berhutang, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada, maupun yang baru akan ada dikemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatannya perseorangan”. Kurator dalam menjalankan tugasnya mengurus dan membereskan harta debitor pailit yang biasa disebut harta pailit/

budel pailit, memberikan perlakuan yang sama dan memberikan kesempatan yang sama kepada para kreditor di dalam proses kepailitan untuk mendapatkan pembayaran dari debitor pailit berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Prinsip kesetaraan kedudukan para kreditor ini sesuai dengan keadilan comulatif menurut Aristoteles yaitu keadilan yang memberikan kepada setiap orang sama banyaknya dengan tidak mengingat jasa-jasa perseorangan.

(Chairul Arrasjid, 2000: 40). Prinsip kesetaraan kedudukan para kreditor merupakan salah satu prinsip dalam kepailitan. Kurator dalam mengurus dan membereskan harta debitor pailit dalam melaksanakan prisnsip kesetaraan kreditor juga berdasarkan prinsip pari passu prorate parte.

Prinsip pari passu prorate parte

mengandung makna bahwa harta kekayaan

debitor menjadi jaminan bersama bagi para

kreditor dan hasilnya harus dibagikan secara

proporsiaonal kepada para kreditor, kecuali

diantara para kreditor tersebut ada yang

menurut undang-undang harus didahulukan

dalam menerima pembayaran tagihannya.

(4)

Prinsip pari passu prorate parte dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia diatur di dalam Pasal 1132 yang menentukan bahwa” Kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama-sama bagi semua orang yang mengutangkan padanya, pendapatan penjualan benda-benda itu dibagi-bagi menurut keseimbangannnya, yaitu menurut besar kecilnya piutang masing-masing”. Prinsip pari passu prorate parte sesuai dengan keadilan distributif menurut Aristoteles yang menen- tukan keadilan distributif adalah keadilan yang memberikan kepada tiap-tiap jatah menurut jasanya.(Chairul Arrasjid, 2000: 40).

Kurator di dalam melakukan kewajibannya mengurus harta debitor pailit/harta pailit, setelah menerima salinan putusan pailit dari Pengadilan Niaga akan mengumumkan Putusan pernyataan pailit dalam Berita Negara Republik Indonesia dan paling sedikit 2 (dua) surat kabar harian yang ditetapkan oleh Hakim Pengawas, sebagaimana diatur dalam Pasal 15 ayat (4) UUK. Kurator dalam pengumuman kepailitan tersebut mengenai ikhtisar Putusan Pernyataan Pailit, meliputi : nama, alamat, dan pekerjaan debitor, nama hakim pengawas, nama, alamat, dan pekerjaan kurator, nama, alamat, dan pekerjaan anggota panitia kreditor Sementara, apabila telah ditunjuk, batas waktu terakhir mendaftarkan tagihan pada kurator, tempat dan waktu penyelenggaraan rapat Kkeditor pertama, waktu penyelengaraan rapat verifikasi dan pencocokan piutang, waktu penyelenggaraan rapat pembahasan rencana perdamaian dan pemungutan suara (Voting).

Kurator berwenang melakukan kewajiban mengurus dan/atau pemberesan atas harta debitor pailit sejak tanggal putusan pailit diucapkan meskipun terhadap putusan tersebut diajukan kasasi atau peninjauan kembali, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 16 ayat (1) UUK. Putusan pailit dari Pengadilan Niaga mempunyai kekuatan hukum serta merta (uitvoerbaar bij vooraad) artinya putusan pailit dapat dijalankan lebih dahulu, meskipun terhadap putusan tersebut sedang dikakukan upaya hukum kasasi atau peninjauan kembali ke Mahkamah Agung Republik Indonesia.

Putusan serta merta (uitvoerbaar bij vooraad) diatur dalam Pasal 180 ayat (1) HIR, Pasal 191 ayat (1) RBg, jo SEMA No.3 Tahun 2000, dan SEMA No.4 Tahun 2001.

Kurator dalam melakukan kewajibannya mengurus dan/atau membereskan harta debitor pailit, setelah mengumumkan putusan pailit

mengamankan harta pailit dan menyimpan semua surat, dokumen, uang, perhiasan, efek, dan surat berharga lainnya dengan memberikan tanda terima, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 98 UUK. Kurator membuat pencatatan, menginventarisasi, dan membuat daftar harta pailit, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 100 ayat (1) UUK. Kurator setelah mengamankan dan mencatat harta pailit/budel pailit untuk kepentingan debitor dan para kreditor dalam pemberesan harta pailit.

Kurator dalam mengamankan harta pailit/

budel pailit dapat memohon pemblokiran mutasi keluar terhadap rekening debitor pailit dan memberitahukan kepada bank untuk memberikan catatan khusus terhadap rekening debitor pailit. Kurator juga mengganti specement tandatangan di Bank terhadap rekening debitor pailit. Kurator melakukan kewajibannya mengurus dan mengamankan harta pailit/budel pailit untuk kepentingan bersama-sama (Debitor dan Para Kreditor) dan untuk memaksimalkan budel pailit.

Kurator dapat melanjutkan usaha debitor pailit, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 104 UUK. Kurator dapat melanjutkan usaha debitor pailit karena di dalam UUK menganut asas kelangsungan usaha, yaitu terhadap perusahaan debitor pailit yang prospektif tetap dilangsungkan untuk menambah dan memaksimalkan budel pailit. Kelangsungan usaha debitor pailit menguntungkan bagi debitor dan para kreditor, apabila dari usaha debitor pailit menghasilkan keuntungan/laba yang menambah nilai budel pailit. Kurator dapat menghentikan kelangsungan usaha debitor pailit apabila usaha debitor pailit berpotensi rugi yang dapat mengurangi budel pailit dan menjadi beban pengeluaran dalam pengurusan harta pailit/budel pailit atas seijin dari Hakim Pengawas.

Kurator dalam pengurusan dan pemberesan harta pailit/budel pailit melakuan pencatatan pendaftaran tagihan para kreditor sebagaimana ditentukan dalam Pasal 113 ayat (1) UUK.

Kurator mengumumkan melalui media massa dan kepada para kreditor yang telah dikenal alamatnya dapat dikirimkan surat pemberitahuan batas akhir pengajuan tagihan dan pendaftaran tagihan kepada kurator.

Para kreditor dalam melakukan pendaftaran tagihan kepada Kurator menyertakan bukti- bukti yang cukup, jumlah tagihan, dan sifat tagihannya.

Kurator dalam pengurusan dan pemberesan

(5)

harta pailit/budel pailit wajib memanggil para kreditor dan debitor pailit untuk mengikuti rapat kreditor pertama dan rapat verifikasi dan pencocokan piutang, sebagaimana ditentukan didalam Pasal 113 UUK. Kurator dalam pengurusan dan pemberesan harta pailit/budel pailit mengupayakan untuk dapat tercapainya perdamaian, sebagaimana ditentukan di dalam Pasal 144- Pasal 177 UUK. Apabila rencana perdamaian yang diajukan oleh debitor pailit disetujui oleh para kreditor dan disahkan/

homologasi oleh Majelis Hakim, maka kepailitan berakhir dengan perdamaian, sebagaimana ditentukan di dalam Pasal 166 ayat (1) UUK.

Kurator wajib mengumumkan perdamaian yang telah disahkan/dihomologasi oleh Pengadilan Niaga, dalam Berita Negara Republik Indonesia dan paling sedikit 2 (dua) surat kabar harian nasional dan lokal, yang merupakan dasar hukum berakhirnya kepailitan dengan perdamaian sebagaimana ditentukan di dalam Pasal 166 ayat (2) UUK.

Kurator dalam mengurus dan membereskan harta pailit/budel pailit telah mengupayakan perdamian kepada para kreditor, apabila perdamaian tidak disetujui oleh para kreditor, atau Perdamaian yang disetujui oleh para kreditor tidak disahkan/homologasi oleh Majelis Hakim Pemutus berdasarkan Putusan Hakim Majelis yang telah berkekuatan hukum tetap, maka demi hukum harta pailit/

budel pailit berada dalam keadaan insolvensi, sebagaimana diatur didalam Pasal 178 ayat (1) UUK. Apabila harta pailit/budel pailit berada dalam keadaan insolvensi, maka kurator melakukan pemberesan harta pailit sebagaimana diatur didalam Pasal 178 – Pasal 203 UUK. Kurator dalam pemberesan harta pailit/budel pailit melakukan pelelangan harta pailit sebagimana ditentukan dalam Pasal 184 – Pasal 187 UUK.

Kurator setelah melakukan pelelangan harta pailit/budel pailit melakukan pembayaran kepada para kreditor sebagaimana ditentukan dalam Pasal 188 – Pasal 203 UUK. Kurator dalam melakukan pemberesan harta pailit/budel pailit, berdasarkan peraturan perundang- undangan, prinsip paritas creditorium dan prinsip pari passu pro rata parte. Kurator dalam melakukan pembayaran kepada para kreditor berdasarkan peraturan perundang-undangan, prinsip paritas creditoriun, prinsip pari passu prorate parte, dan prinsip structured creditors.

Prinsip structured creditor adalah prinsip

yang mengelompkkan atau mengklasifikasikan para kreditor berdasarkan kelasnya atau sifatnya masing-masing.(Chairul Arrasjid, 2000:32). Kreditor dalam kepailitan dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu:

kreditor separatis, kreditor preferen, dan kreditor konkuren. (Chairul Arrasjid, 2000:32). Kreditor separatis adalah kreditor yang memegang jaminan kebendaan dari debitor pailit. Kreditor preferen adalah kreditor yang menurut undang- undang harus didahulukan pembayaran piutangnya. Kreditor konkuren adalah kreditor yang tidak memegang jaminan kebendaan dari debitor pailit. Kurator dapat mengelompokkan atau menggolongkan para kreditor pada saat para kreditor melakukan pendaftaran tagihan yang disertai dengan bukti-bukti yang cukup serta menyebutkan jumlah tagihan dan sifat tagihannya.

Kurator dalam melakukan pemberesan atau pembayaran hasil penjualan harta pailit/budel pailit kepada para kreditor berdasarkan peraturan perundang-undangan, yaitu dengan urutan sebagai berikut: biaya kepailitan, fee kurator, kreditor preferen, kreditor separatis, dan kreditor konkuren. Kurator dalam melakukan kewajibannya mengurus dan membereskan harta pailit/budel pailit menyampaikan laporan kepada Hakim Pengawas mengenai keadaan harta pailit dan pelaksanaan tugasnya setiap 3 (tiga) bulan, berdasarkan Pasal 74 ayat (1) UUK.

Kurator setelah melakukan pemberesan dan pembayaran kepada para kreditor, membubarkan perusahaan debitor pailit dan menyerahkan semua dokumen mengenai harta pailit kepada debitor berdasarkan Pasal 202 ayat (4) UUK. Kurator melaporkan pertang- gungjawaban kepada Hakim Pengawas berkenaan dengan pengurusan dan pemberesan harta pailit berdasarkan Pasal 202 ayat (3) UUK.

Kurator mengumumkan pengakhiran/

berakhirnya kepailitan pada Berita Negara Republik Indonesia dan paling sedikit 2 (dua) koran harian yang ditetapkan oleh Hakim Pengawas berdasarkan Pasal 202 ayat (2) jo Pasal 15 ayat (4) UUK.

Kedudukan Bank dalam Kepailitan terhadap Nasabah Bank

Nasabah bank yang dinyatakan pailit

dengan Putusan Pengadilan Niaga, hal ini dapat

terjadi atas permohonan dari bank pemberi

(6)

kredit, atas permohonan sendiri dari nasabah bank tersebut, atau atas permohonan dari salah satu atau beberapa kreditor dari nasabah bank tersebut. Apabila nasabah bank dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga, maka Nasabah Bank tersebut tidak mempunyai kapasitas hukum ( legal capasity) untuk menguasai dan mengurus kekayaannya yang termasuk dalam harta pailit sejak putusan pailit diucapkan, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 24 ayat (1) UUK. Nasabah bank yang dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga berkedudukan sebagai debitor pailit sebagaimana ditentukan di dalam Pasal 1 angka 4 UUK. Bank sebagai pemberi kredit apabila nasabah bank tersebut dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga, maka bank berkedudukan sebagai kreditor. Kreditor adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau Undang-Undang yang dapat ditagih di muka pengadilan, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1 angka 2 UUK.

Nasabah Bank mempunyai utang kepada Bank berdasarkan perjanjian kredit yang telah ditandatangani antara nasabah bank dan bank sebagai pemberi pinjaman kredit. Apabila dalam perjanjian kredit antara nasabah bank yang dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga tersebut dengan bank sebagai pemberi kredit terdapat jaminan kebendaan/

agunan, maka bank berkedudukan sebagai kreditor separatis. Perjanjian kredit antara nasabah bank yang dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga dengan bank sebagai pemberi kredit yang tidak terdapat jaminan kebendaan/agunan, maka bank berkedudukan sebagai kreditor konkuren.

Bank yang nasabahnya dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga, dimana dalam perjajian kreditnya terdapat jaminan kebendaan/agunan, bank berkedudukan sebagai kreditor separatis, setelah membaca pengumuman/mengetahui adanya putusan pailit, mempersiapkan semua dokumen-dokumen berkenaan dengan debitor pailit dan mendaftarkan tagihan kepada kurator dalam tenggat waktu yang ditentukan, dengan menyebutkan jumlah tagihan, sifat tagihan, dan disertai bukti-bukti, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 113 ayat (1) UUK. Bank yang nasabahnya dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga, setelah mendaftarkan tagihan kurator dan meminta tanda bukti pendaftaran tagihan yang telah

didaftarkan sebagaimana diatur dalam Pasal 115 ayat (2) UUK.

Bank yang nasabahnya dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga akan menerima suratpermohonan kurator untuk merubah specement tandatangan, memblokir mutasi keluar rekening debitor pailit, dan memberikan catatan khusus terhadap rekening debitor pailit.

Bank yang nasabahnya dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga, akan mengikuti Rapat-Rapat dalam proses kepailitan di Pengadilan Niaga, sebagaimana diatur dalam Pasal 113-Pasal 143 UUK. Bank yang nasabahnya dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga dalam mengikuti rapat-rapat ataupun persidangan di Pengadilan Niaga, sebaiknya didampingi dan/atau diwakili oleh kuasa hukum yang mengerti hukum kepailitan, dan sudah berpengalaman beracara di Pengadilan Niaga, karena proses dan hukum acara yang berlaku dalam proses kepailitan adalah Hukum Acara Khusus sebagaimana diatur di dalam UUK.

Bank yang nasabahnya dinyatakan pailit dengan Putusan Pengadilan Niaga, bank dapat mengeksekusi haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan, setelah menunggu masa waktu penanguhan paling lama 90 (sembilan puluh) hari sejak tanggal putusan pernyataan pailit diucapkan, sebagaimana diatur dalam Pasal 55 ayat (1) jo Pasal 56 ayat (1) UUK. Bank yang nasabahnya dinyatakan pailit dengan Putusan Pengadilan Niaga, dapat melakukan eksekusi terhadap agunannya debitor pailit, dengan meperhatikan masa stay selama 90 (sembilan puluh) hari, sejak putusan pailit diucapkan, serta memberikan pertanggungjawaban eksekusi agunan tersebut kepada Kurator, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 60 ayat (1) UUK.

Bank yang nasabahnya dinyatakan pailit

dengan Putusan Pengadilan Niaga, apabila

tidak melakukan eksekusi terhadap hak

tanggungan setelah melewati masa stay yang

ditentukan, maka bank kehilangan haknya

untuk melakukan eksekusi sendiri dan agunan

debitor pailit yang menjadi harta pailit/budel

pailit akan dibereskan oleh kurator. Bank yang

nasabahnya dinyatakan pailit dengan Putusan

Pengadilan Niaga, apabila tidak melakukan

eksekusi sendiri terhadap hak tanggungan

setelah masa tunggu, maka bank akan

mengikuti proses kepailitan sampai dengan

(7)

pemberesan untuk mendapatkan pembayaran tangihannya dari kurator.

Kurator dalam mengurus dan membe- reskan harta debitor pailit/budel pailit sedapat mungkin mengupayakan untuk dapat tercapainya perdamaian sebagaimana diatur dalam Pasal 144- Pasal 177 UUK. Bank yang nasabahnya dinyatakan pailit dengan Putusan Pengadilan Niaga, apabila tidak melakukan eksekusi terhadap agunan debitor pailit selama masa tunggu, maka Bank dapat mengikuti proses kepailitan termasuk dan terbatas untuk menghadiri rapat kreditor pertama, rapat verifikasi dan pencocokan piutang, rapat pemu- ngutan suara, sidang majelis hakim pengesahan perdamaian/homologasi, rapat-rapat, dan persidangan dalam proses pengurusan dan pemberesan harta pailit/budel pailit.

Rencana perdamaian yang diajukan oleh debitor pailit dalam rapat pemungutan suara/

voting apabila disetujui oleh para kreditor dan disahkan/homologasi oleh Majelis Hakim dengan Putusan Majelis Hakim, maka kepailitan berakhir dengan perdamaian, sebagaimana ditentukan di dalam Pasal 166 ayat (1) UUK.

bank yang nasabahnya pailit dengan Putusan Pengadilan Niaga, akan mendapatkan pembayaran sebagaimana ditentukan di dalam perdamaian. Kurator wajib mengumumkan perdamaian yang telah disahkan/dihomologasi oleh Pengadilan Niaga, dalam Berita Negara Republik Indonesia dan paling sedikit 2 ( dua) surat kabar harian nasional dan lokal, yang merupakan dasar hukum berakhirnya kepailitan dengan perdamaian sebagaimana ditentukan di dalam Pasal 166 ayat (2) UUK.

bank yang nasabahnya pailit dengan Putusan Pengadilan Niaga, akan mendapatkan pembayaran sebagaimana ditentukan di dalam perdamaian

Rencana perdamaian yang diajukan oleh debitor pailit apabila tidak disetujui atau ditolak oleh para kreditor dalam rapat pemungutan suara/voting, atau rencana perdamaian yang disetujui oleh para kreditor dalam rapat pemungutan suara yang tidak disahkan/

homologasi oleh Majelis Hakim Pengadilan Niaga, maka harta pailit berada dalam keadaan insolvensi. Bank dapat melakukan eksekusi terhadap hak tanggungan paling lambat dalam waktu 2 (dua) bulan setelah dimulainya keadaan insolvensi sebagaima dimaksud Pasal 178 ayat

(1) UUK. Bank wajib memberikan pertanggung- jawaban atas eksekusi hak tanggungan kepada kurator sebagaimana diatur dalam Pasal 60 ayat (1) UUK.

Bank yang nasabahnya pailit dengan Putusan Pengadilan Niaga, apabila tidak melakukan eksekusi terhadap hak tanggungan maka setelah lewat waktu 2 (dua) bulan setelah insolvensi Bank wajib menyerahkan benda yang menjadi agunan kepada kurator sebagaimana ditentukan Pasal 59 ayat (2) UUK. Bank dapat mengikuti proses pemberesan harta pailit yang dilakukan kurator sebagaimana ditentukan Pasal 178 – Pasal 203 UUK.

Kurator melakukan pemberesan harta pailit sebagaimana diatur dalam Pasal 178 – Pasal 203 UUK. Kurator melakukan pelelangan harta pailit sebagaimana ditentukan Pasal 184 samapai dengan Pasal 187 UUK. Kurator berdasarkan hasil pelelangan harta pailit melakukan pembayaran kepada para kreditor sebagaimana diatur Pasal 188 – Pasal 203 UUK.

Kurator dalam melakukan pemberesan atau pembayaran hasil penjualan harta pailit/budel pailit kepada para kreditor berdasarkan peraturan perundang-undangan, yaitu dengan urutan sebagai berikut: biaya kepailitan, fee kurator, kreditor preferen, kreditor separatis, dan kreditor konkuren. Kurator dalam melakukan pemberesan harta pailit, apabila terdapat kelebihan hasil pelelangan, maka kurator akan mengembalikan kelebihan hasil lelang harta pailit/budel pailit kepada Debitor pailit. Kurator menyerahkan semua dokumen mengenai harta pailit kepada debitor pailit sebagaimana ditentukan Pasal 202 ayat (4) UUK.

Kurator setelah selesai melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit/budel pailit wajib melaporkan pertanggungjawaban kepada Hakim Pengawas berkenaan dengan pengurusan dan pemberesan harta pailit sebagaimana ditentukan Pasal 202 ayat (3) UUK. Setelah laporan pertanggungjawaban kurator diterima dan disetujui oleh Hakim Pengawas, kurator mengumuman pengakhiran/

berakhirnya kepailitan pada Berita Negara Republik Indonesia dan paling sedikit 2 (dua) koran harian yang ditetapkan oleh Hakim Pengawas sebagaimana ditentukan Pasal 202 ayat (2) jo Pasal 15 ayat (4) UUK.

SIMPULAN

(8)

Berdasarkan uraian pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa:

a. Peranan kurator dalam mengurus dan membereskan harta debitor pailit berdasarkan UUK, kurator dapat melakukan pengurusan dan pemberesan harta debitor pailit sejak putusan pailit diucapkan dan memberikan laporan pertanggungjawaban dalam mengurus dan membereskan harta debitor pailit kepada Hakim Pengawas.

b. Kedudukan bank apabila nasabah bank dinyatakan pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga, bank berkedudukan sebagai kreditor separatis, apabila didalam perjanjian kredit antara bank dengan debitor pailit diletakkan jaminan kebendaan, dan apabila didalam perjanjian kredit tidak terdapat jaminan/agunan, maka bank berkedudukan sebagai kreditor konkuren.

Direkomendasikan agar bank yang nasabahnya pailit berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga, sebaiknya mengikuti seluruh proses kepailitan dan didampingi

kuasa hukum (advokat) yang mengerti hukum kepailitan dan mempunyai pengalaman menangani perkara kepailitan di Pengadilan Niaga.

DAFTAR PUSTAKA

Arrasjid Chairul, 2000, Dasar-Dasar Ilmu Hukum. Jakarta : Sinar Grafika.

Black Henry Campbell, 1979. Black’s Law Dictionary. St. Paul Minnesota : West Publishing Co.

Lusk Harold F, 1986. Business Law: Principles and Cases. Illinois : Ricard D. Irwin Inc, Homewood.

Shubhan Hadi, 2008. Hukum Kepailitan:

Prinsip, Norma, dan Praktik di Peradilan.

Jakara : Prenada Media Group.

Kitab Undang Undang Hukum Perdata.

Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang

Kepailitan dan Penundaan Kewajiban

Pembayaran Utang,

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini disusun untuk mengetahui bagaimana pengaruh tekanan ketaatan, kompleksitas tugas dan pengalaman auditor terhadap audit judgment pada kantor akuntan publik di

Pelbagai jenis perkataan telah dibawa masuk dari bahasa Inggeris ke dalam bahasa Jepun sebagai terminologi dalam bidang-bidang tertentu seperti sains dan

Kelemahan kebijakan sanksi terhadap korporasi dalam undang-undang tindak pidana persaingan usaha tidak sehat yaitu pertangungjawaban korporasi dalam tindak pidana

Analisis data dilakukan dengan analisis secara deskriptif kualitatif menggunakan tabel frekuensi yang difokuskan pada persepsi petani tentang resiko, persepsi petani

Setiap usaha peternakan harus menyediakan pakan yang cukup bagi ternaknya. Pakan yang diberikan harus cukup protein, karbohidrat, vitamin dan mineral; mudah

Selanjutnya hasil itu dapat disimpulkan bahwa seseorang yang memiliki tingkat pengetahuan agama Islam baik tidak selalu diikuti dengan motivasi merokok yang rendah.Hal ini

Berdasarkan ketentuan yang berlaku, secara berkala, atau apabila diminta, pengelola data dan informasi Kankemenag Kab./Kota menyampaikan rekapitulasi izin operasional

Praktek konseling Islam dilakukan dengan kode etik, (a) harus menghargai harkat martabat manusia sebagai mahluk ciptaan Allah yang paling sempurna, (b) harus memiliki keahlian