• Tidak ada hasil yang ditemukan

INSTITUT AGAMA ISLAM IAI BUNGA BANGSA CIREBON TAHUN 2018

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "INSTITUT AGAMA ISLAM IAI BUNGA BANGSA CIREBON TAHUN 2018"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN KELUARGA BURUH DALAM KEBERLANJUTAN PENDIDIKAN DI DESA KARANGMEKAR KECAMATAN

KARANGSEMBUNG KABUPATEN CIREBON

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Program Studi Pendidikan Agama Islam

Oleh :

HARIS MULYAWAN

NIM 2014.17.01989

FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM IAI BUNGA BANGSA CIREBON

TAHUN 2018

(2)

PERSETUJUAN

PERAN KELUARGA BURUH DALAM KEBERLANJUTAN PENDIDIKAN DI DESA KARANGMEKAR KECAMATAN

KARANGSEMBUNG KABUPATEN CIREBON

Oleh:

HARIS MULYAWAN NIM. 2014.17.01989

Menyetujui,

Pembimbing I,

Agus Dian Alirahman, M.Pd.I NIDN. 2112088401

Pembimbing II,

Muhammad Idrus, M.Ag.

NIDN. 2101048703

(3)

PENGESAHAN

Skripsi yang berjudul “Peran Keluarga Buruh Dalam Keberlanjutan Pendidikan Di Desa Karangmekar Kecamatan Karangsembung Kabupaten Cirebon.” Oleh Haris Mulyawan NIM. 2014.17.01989, telah diajukan dalam Sidang Munaqosah Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon pada tanggal 20 Juli 2018.

Skripsi ini diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) pada Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon.

Cirebon, 20 Juli 2018

Sidang Munaqosah : Ketua

Merangkap Anggota,

H. Oman Fathurohman, M.A.

NIDN. 8886160017

Sekretaris Merangkap Anggota,

Drs. Sulaiman, M.MPd.

NIDN. 2118096201

Penguji I,

Dr. Aghuts Muhaimin, M.Ag

Penguji II,

Ulfain, M.Si

NIDN. 8894860018 NIDN. 2130078602

(4)

NOTA DINAS

Kepada Yth.

Dekan Tarbiyah

IAI Bunga Bangsa Cirebon di

Cirebon

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Setelah melakukan bimbingan, telaah, arahan dan koreksi terhadap penulisan skripsi dari Haris Mulyawan Nomor Induk Mahasiswa 2014.17.01989, berjudul

“Peran Keluarga Buruh Dalam Keberlanjutan Pendidikan Di Desa Karangmekar Kecamatan Karangsembung Kabupaten Cirebon.” Bahwa skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Dekan Tarbiyah untuk dimunaqosahkan.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Pembimbing I,

Agus Dian Alirahman, M.Pd.I NIDN. 2112088401

Pembimbing II,

Muhammad Idrus, M.Ag.

NIDN. 2101048703

(5)

PERNYATAAN KEASLIAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi dengan judul “Peran Keluarga Buruh Dalam Keberlanjutan Pendidikan Di Desa Karangmekar Kecamatan Karangsembung Kabupaten Cirebon.” Beserta isinya adalah benar-benar karya sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau mengutip yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat akademik.

Atas pernyataan di atas, saya siap menanggung resiko atau sanksi apapun yang dijatuhkan kepada saya sesuai dengan peraturan yang berlaku, apabila dikemudian hari ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan, atau ada klaim keaslian karya saya ini.

Cirebon, Juli 2018

Yang membuat pernyataan,

HARIS MULYAWAN NIM. 2014.17.01989

Materai 6000

(6)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puja dan puji bagi Allah Subhanahuwata’ala yang menumbuhkan hamba-hambaNya dengan bimbingan dan asuhannya. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada junjungan dan pendidik sejati baginda Rasulullah Salallahu’alaihiwassalam.

Semoga pula shalawat dan salam terlimpah kepada keluarga, sahabat, dan pengikut beliau hingga akhir zaman. Kemudahan dan kelancaran yang di berikan Allah Subhanahuwata’ala dalam skripsi ini merupakan hidayahnya yang sangat diharapkan oleh penulis dalam menyelesaikan skripsi ini dalam menempuh Gelar Sarjana pada Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah di Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon.

Dalam penyusunan skripsi ini, penyusun telah menerima banyak bimbingan, dorongan dan bantuan dari berbagai pihak yang tak ternilai harganya.

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) di Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon. Jasa baik mereka tentu tidak dapat penyusun lupakan begitu saja, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan rasa hormat dan terimakasih banyak kepada:

1. Bapak Drs. H. A. Basuni, Ketua Yayasan Pendidikan Bunga Bangsa Cirebon.

2. Bapak H. Oman. Fathutohman, M.A Rektor Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon.

(7)

3. Bapak Drs. Sulaiman, M.MPd Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon.

4. Bapak Agus Dian Alirahman, M.Pd.I Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam di Institut Agama Islam Bunga Bangsa Cirebon.

5. Bapak Agus Dian Alirahman, M.Pd.I Dosen Pembimbing I.

6. Bapak Muhammad Idrus, M.Ag Dosen Pembimbing II.

7. Bapak Rusmanto, Kepala Desa Karangmekar Kecamatan Karangsembung Kabupaten Cirebon.

8. Seluruh Civitas Organisasi Pemerintah Desa Karangmekar Kecamatan Karangsembung Kabupaten Cirebon.

9. Seluruh Masyarakat Desa Karangmekar Kecamatan Karangsembung Kabupaten Cirebon.

10. Ayahanda dan Ibunda tercinta yang telah membesarkan dan mendidik saya, serta keluarga yang telah banyak membantu, memotivasi dan mendukung baik moril maupun materil.

11. Rekan-rekan dan semua pihak yang telah membantu dalam segenap proses pada pembuatan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak kesalahan dan masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, mohon kritik dan saran yang membangun dari para pebaca.

Akhirnya penulis berharap semoga amal baik semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini mendapatkan balasan pahala

(8)

yang setimpal dari Allah Subhanahuwata’ala. Semoga apa yang telah ditulis dalam skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Amiin ya Rabbal’alamiin.

Cirebon, 1 juli 2018

Penulis

(9)

ABSTRAK

HARIS MULYAWAN. NIM. 2014.17.01989 PERAN KELUARGA BURUH DALAM KEBERLANJUTAN PENDIDIKAN DI DESA KARANGMEKAR KECAMATAN KARANGSEMBUNG KABUPATEN CIREBON

Skripsi ini membahas peran keluarga buruh dalam keberlanjutan pendidikan di Desa Karangmekar Kecamatan Karangsembung Kabupaten Cirebon. Kajiannya dilatarbelakangi oleh orang tua dalam memberikan bentuk perhatian dan cara mendidik anak yang baik khususnya terhadap keberlanjutan pendidikan anaknya meskipun dengan segala keterbatasan yang ada, baik dalam hal pekerjaan dan keadaan ekonomi. Dalam hal ini, peran keluarga dalam keberlanjutan pendidikan di sebuah Desa yang ada di Kabupaten Cirebon.

Rumusan masalahnya adalah peran dan kondisi keluarga, kondisi pendidikan keluarga dan peran keluarga buruh dalam keberlanjutan pendidikan yang ada di Desa Karangmekar Kecamatan Karangsembung Kabupaten Cirebon.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran dan kondisi keluarga buruh, kondisi pendidikan dan peran keluarga buruh dalam keberlanjutan pendidikan yang ada di Desa Karangmekar Kecamatan Karangsembung Kabupaten Cirebon.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Kualitatif deskriptif yaitu suatu metode yang berusaha untuk menyajikan data dan fakta- fakta yang sesungguhnya tentang peran keluarga dalam keberlanjutan pendidikan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Subjek yang diteliti adalah kepala desa, struktural desa, masyarakat buruh dan anak usia 12-15 tahun yang ada di Desa Karangmekar Kecamatan Karangsembung Kabupaten Cirebon.

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa kondisi keluarga buruh di Desa Karangmekar memang mayoritas bekerja sebagai buruh. Kondisi pendidikan keluarga yang masih tergolong rendah. Peran keluarga dalam keberlanjutan pendidikan yang cukup tinggi meskipun dengan keterbatasan yang ada.

Kata kunci: Peran, Kondisi, Keberlanjutan Pendidikan.

(10)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Anak, keluarga dan pendidikan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Setiap anak tumbuh melalui pendidikan keluarga yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Pendidikan dalam keluarga memberikan peran besar dalam pembentukan perilaku dan perkembangan emosi seorang anak hingga dewasa. Oleh karena itu, orang tua sebagai bagian yang sangat penting dalam keluarga dan kehidupan seorang anak tentunya harus memperhatikan karakter, perilaku, sifat dan kebutuhan mereka.

Telah di jelaskan dalam Al-quran betapa besarnya nilai seorang anak karena ia mampu menjadi perhiasan dunia dan penerus keturunan. Untuk itu keluarga harus bisa menjaga dan merawatnya sebaik mungkin, tidak hanya menjadikan seorang anak sebagai hiasan dunia yang tidak bernilai. Selain itu, anak juga merupakan titipan dan amanah yang harus dipertanggungjawabkan orang tua kepada Allah SWT. Menurut Yunahar Ilyas, “Anak adalah tempat orang tua mencurahkan kasih sayang, anak juga sebuah harapan masa depan untuk orang tua di akhirat kelak. Oleh sebab itu orang tua harus memelihara, membesarkan, merawat, menyantuni dan mendidik anak-anaknya dengan penuh tanggungjawab dan kasih sayang”.1

Proses tersebut sekaligus menjadi peran orang tua yang sesungguhnya yaitu dalam lingkup keluarga. Karena di sini anak mengenyam pendidikan yang pertama dan paling utama. Pendidikan yang diterima anak mulai dari

1 Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq (Yogyakarta: LPPI, 2007), h. 172.

(11)

pendidikan agama, cara bergaul, cara bersikap, belajar menjalin hubungan dengan sesama manusia, hewan, tumbuhan dan interaksi dengan lingkungan sekitar. Selain tempat pendidikan pertama dan utama, keluarga merupakan lingkungan sosial yang pertama bagi anak. Dalam lingkungan keluarga anak mulai melatih persepsi dalam pikiran, baik mengenai hal-hal yang ada di luar dirinya, maupun mengenai dirinya sendiri.

Ditinjau dari sudut pandang pedagogis, ciri khas suatu keluarga ialah bahwa keluarga itu merupakan suatu persekutuan hidup yang dijalani rasa kasih sayang diantara dua jenis manusia, yang bermaksud untuk saling menyempurnakan diri, terkadang juga kedudukan dan fungsi sebagai orang tua.

Jadi dapat disimpulkan bahwa suatu keluarga dapat dikatakan keluarga lengkap apabila keluarga tersebut terdiri atas ayah, ibu dan anak.2

Peran keluarga merupakan dasar pertama dan utama. Ia merupakan fondasi yang akan sangat berpengaruh bagi pembinaan selanjutnya. Jika pembinaan tersebut dapat terlaksana dengan baik, maka dapat diasumsikan bahwa pembinaan tersebut telah dapat meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi jenjang pendidikan berikutnya, yaitu pembinaan di lingkungan sekolah dan masyarakat.3

Keluarga merupakan anugerah yang diberikan oleh allah terhadap kita. Dan oleh sebab itu, kita diberikan tanggung jawab terhadap keluarga terutama dalam hal pendidikan. Hal itu terbukti dengan adanya banyak hadist

2Uyoh Sadulloh, Pedagogik (Jakarta Pusat: Jl. Lapangan Banteng. No 3-4. 2009). h. 193

3 Said Agil Husin Al Munawar, Aktualisasi Nilai-Nilai Qur‟ani Dalam Sistem Pendidikan Islam (Ciputat: Ciputat Press, 2005), h. 10.

(12)

dan ayat al-Qur’an yang menunjukkan tentang pendidikan. Pendidikan islam merupakan pendidikan yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadist sebagai sumber utama agama islam. Pendidikan islam merupakan pendidikan yang digunakan untuk membina manusia dari buayan (kecil) sampai ke liang lahat (kematian). Karena pendidikan islam merupakan pendidikan seumur hidup, maka perlu dibedakan pendidikan orang dewasa dan pendidikan anak-anak.

Pendidikan islam merupakan pendidikan yang memperhatikan perkembangan jiwa anak.

Menurut Akhyak, pendidikan yang tidak berorientasi pada perkembangan kejiwaan akan mendapat hasil yang tidak maksimal, bahkan bisa membawa pada kefatalan anak, karena anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan irama dan ritme perkembangan kejiwaan anak. Masing-masing periode perkembangan anak memiliki tugas- tugas perkembangan yang harus dipenuhi anak secara baik tanpa ada hambatan.4

Statemen di atas, mengisyaratkan bahwa sebenarnya orang tua mempunyai tanggung jawab yang sangat besar terhadap keluarga, yaitu terhadap pendidikan anaknya. Dan keluarga yang merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama tersebut, wajib memberikan pendidikan agama islam dan menjaga anaknya dari api neraka. Orang tua juga harus bisa menciptakan situasi pengaruh perhatian orang tua dengan menanamkan norma-norma untuk dikembangkan dengan penuh keserasian sehingga tercipta iklim atau suasana keakraban antara orang tua dan anak.

Hampir semua tujuan utama setiap orang tua dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya secara umum adalah untuk mempersiapkan si

4Syamsudin Yusuf (ed.), Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: PT.

Remaja Rosda Karya, 2000), h. 65.

(13)

anak agar dapat menjadi manusia dewasa yang mandiri dan produktif serta berakhlak dan budi pekerti tingi.5 Untuk mencapai semua itu diperlukan kesabaran dan kebijakan orang tua untuk dapat memberikan pertimbangan terbaik dalam pengambilan keputusan-keputusan penting di dalam kehidupan dan proses tumbuh kembang si anak.6Dalam hal ini faktor penting yang memegang peranan dalam menentukan kehidupan anak selain pendidikan, yang selanjutnya digabungkan menjadi pendidikan agama. Pada setiap anak terdapat suatu dorongan dan suatu daya untuk meniru. Dengan dorongan ini anak dapat mengerjakan sesuatu yang dikerjakan oleh orang tuanya. Oleh karena itu orang tua harus menjadi teladan bagi anak anaknya. Apa saja yang didengarnya dan dilihat selalu ditirunya tanpa mempertimbangkan baik dan buruknya. Dalam hal ini sangat diharapkan kewaspadaan serta perhatian yang besar dari orang tua. Karena masa meniru ini secara tidak langsung turut membentuk watak anak di kemudian hari. Sebagaimana Rasulullah SAW., bersabda:

Artinya: Dari Abu Hurairah, r.a., berkata: Bersabda Rasulullah SAW.:

“Tidaklah seseorang yang dilahirkan melainkan menurut fitrahnya, maka kedua orang tuanyalah yang meyahudikannya atau menasronikannya atau memajusikannya”. (HR. Bukhari)

Mengingat strategisnya jalur pendidikan keluarga, dalam Undang- undang Sistem Pendidikan Nasional (UU No 20 tahun 2003) juga disebutkan

5 Agnes Tri Harjaningrum, et al. Peranan Orang Tuan dan Praktisi dalam Membantu Tumbuh Kembang Anak Berbakat Melalui Pemahaman Teori dan Tren Pendidikan, (Jakarta, Prenada, 2007) h. 2

6Ibid., h. 3.

(14)

arah yang seharusnya ditempuh yaitu Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur Pendidikan Luar Sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga, dan memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai norma dan keterampilan.

Dalam pandangan Islam, anak adalah amanat yang dibebankan oleh Allah Swt kepada orang tuanya, karena itu orang tua harus menjaga dan memelihara serta menyampaikan amanah itu kepada yang berhak menerimanya kembali.

karena manusia adalah milik Allah SWT, mereka harus mengantarkan anaknya untuk mengenal dan menghadapkan diri kepada Allah SWT.

Pendidikan agama yang di berikan sejak dini menuntut peran serta keluarga, karena telah diketahui sebelumnya bahwa keluarga merupakan institusi pendidikan yang pertama dan utama yang dapat memberikan pengaruh kepada anak. Pelaksanaan pendidikan agama pada anak dalam keluarga di pengaruhi oleh adanya dorongan dari anak itu sendiri dan juga adanya dorongan Setiap orang mengharapkan rumah tangga yang aman, tentram dan sejahtera. Dalam kehidupan keluarga, setiap keluarga mendambakan anakanaknya menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah.

Anak merupakan amanat Allah Swt. kepada orang tuanya untuk diasuh, dipelihara, dan dididik dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian orang tua dalam pandangan agama Islam mempunyai peran serta tugas utama dan pertama dalam kelangsungan pendidikan anak-anaknya, baik itu sebagai guru, pedagang, atau dia seorang petani. secara umum Allah Swt. Menegaskan dalam al-Qurían surat At Tahrim (66) ayat 6:

َٰ يَٰ أ ا هُّ ي

َٰوُقَْٰاوُن ما ءَٰ نيِذَّلٱ

َٰمُك سُفن أَْٰا مُكيِله أ و

ارا ن ا هُدوُق و

َِٰلٱ وَٰ ُساَّنلٱَٰ

َُٰ را جَا ي ل عَٰ

ا ه

َٰ ل م

َٰ ة كِئ ظ لَِغ

َٰ نوُصع ي َّلَّدا دِش ا مَٰ َّللَّٱَٰ

َٰمُه ر م أَٰ

َٰ نوُل عف ي و

َٰ نوُر مؤُيا م

َٰ

٦

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;

penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai

(15)

Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (Q.S. At Tahrim, ayat 6).7

Karena keluarga mempunyai tanggung jawab menjaga dan memelihara si anak yang sudah terlahir ke dunia, mempunyai peranan yang sangat penting dan kewajiban yang lebih besar bagi pendidikan si anak.

Menjadi ayah dan ibu tidak hanya cukup dengan melahirkan anak, karena yang seperti ini juga dilakukan oleh hewan. Dengan demikian pendidikan dalam lingkungan keluarga sangat memberikan pengaruh dalam pembentukan keagamaan, watak serta kepribadiaan anak.

Kedua orang tua dikatakan memiliki kelayakan menjadi ayah dan ibu manakala mereka bersunggungsungguh dalam mendidik anak mereka.

Islam menganggap pendidikan sebagai salah satu hak anak, yang jika kedua orangtua melalaikannya berarti mereka telah menzalimi anaknya dan kelak pada hari kiamat mereka dimintai pertanggungjawabannya.8

Menurut Syaiful Bahri Djamarah, “pendidikan berarti membimbing dan mengarahkan serta memperhatikan anak atau peserta didik menuju kepada kedewasaannya, baik dewasa secar etis, psikologis dan social”.9 Dengan demikian, sebenarnya anak bisa mengembangkan kemampuan mereka karena adanya perhatian yang diberikan oleh orang tua. Tetapi menurut Bur, “pada kenyataannya orang tua tidak selalu bisa memberikan

7Ahmad Subkhan, dkk., Al-Quranulkarim Dan Terjemah (Banyuanyar:Surakarta.TT), h.

506.

8Ibrahim Amini, Agar tidak Salah Mendidik Anak, (Jakarta: Al Huda, 2006), Cet. 1, h.

117

9Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), h. 48.

(16)

perhatian yang sepenuhnya terhadap putra-putrinya karena mereka disibukkan dengan kepentingan kerja maupun kepentingan yang lain.”10

Selain itu, latar belakang orang tua akan mempengaruhi bentuk perhatian dan cara mendidik orang tua yang diterapkan pada anaknya. Ada orang tua yang dalam mendidik anak memiliki sikap demokrasi, dalam arti memberikan kebebasan untuk berperilaku dan mengeluarkan pendapat, akan tetapi tetap dalam control terhadap anak. Sebaliknya orang tua yang lebih bersikap otokratik, dalam arti mengatur dan memaksa anaknya untuk bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan keinginan orang tua.

B. Identifikasi Masalah

Sesuai dengan hasil observasi awal yang telah dilakukan di Desa Karangmekar, Kec. Karangsembung, Kab. Cirebonpenulis menemukan beberapa masalah berupa:

1. Tingkat pendidikan orang tua yang rendah.

2. Tingkat pendidikan anak yang rendah.

3. Pekerjaan ayah mayoritas buruh.

4. Pekerjaan ibu mayoritas hanya sebagai ibu rumah tangga.

5. Beberapa anak umur12-15 tahun yang sudah bekerja sebagai buruh bersama orang tuanya.

Dari hasil identifikasi di atas membuat peneliti sangat tertarik terhadap masalah tersebut, yang akhirnya memutuskan untuk melakukan pengkajian secara mendalam terhadap pendidikan dalam kaitannya dengan

10Tjanddrasa, (ed.), Cara Menjadi Orang Tua yang Baik, (Jakarta: Binarupa Aksara, 1995), h. 30.

(17)

peran orang tua.Untuk melihat atau memahami seperti inilah peran orang tua secara keseluruhan yang ada di Desa Karangmekar, Kec. Karangsembung, Kab. Cirebon. Peneliti mengangkat judul “Peran Keluarga Buruh Dalam Keberlanjutan Pendidikan Di Desa Karangmekar Kecamatan Karangsembung Kabupaten Cirebon”.

C. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah

Mengingat pentitingnya pendidikan berkaitan dengan keluargayang dapat dilaksanakan oleh seluruh masyarakat agar tidak mencakup pembahasan yang meluas. Maka berdasarkan uraian diatas, dalam penelitian ini penulis membuat fokus permasalahannya sebagai berikut : a. Keluarga yang di maksud adalah keluarga dalam lingkup kecil, yaitu:

ayah, ibu dan anak.

b. Tingkat pendidikan pada anak usia 12-15 Tahun atau tingkat sekolah menengah pertama (SMP).

c. Pekerjaan orang tua yang di maksud adalah “buruh harian lepas”.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan hasil identifikasi dan fokus masalah, peneliti menetapkan rumusan masalah sebagai berikut :

a. Bagaimana kondisi keluarga buruh di Desa Karangmekar?

b. Bagaimana kondisi pendidikan keluarga buruh di Desa Karangmekar?

c. Bagaimana peran keluarga buruh dalam keberlanjutan pendidikan di Desa Karangmekar?

(18)

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan titik pijak untuk merealisasikan pesan yang akan di laksanakan, sehingga perlu dirumuskan secara jelas. Dalam penelitian inipun perlu adanya tujuan yang berfungsi sebagai acuan pokok terhadap masalah yang akan diteliti, sehingga peneliti dapat bekerja secara terarah dalam mencari data sampai pada tingkat pemecahan. Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah:

a. Untuk mengetahui kondisi keluarga buruh di Desa Karangmekar?

b. Untuk mengetahui kondisi pendidikan keluarga buruh di Desa Karangmekar?

c. Untuk mengetahui peran keluarga buruh dalam keberlanjutan pendidikan di Desa Karangmekar?

2. Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian bagi penulis adalah untuk menambah wawasan, ilmu dan pengetahuan tentang pentingnya peran orang tua dalam pendidikan (studi kasus masyarakat buruh harian lepas di Desa Karangmekar, Kecamatan Karangsembung, Kabupaten Cirebon).

Kegunaan bagi Desa Karangmekar, Kec. Karangsembung, Kab.

Cirebon adalah sebagai bahan masukan dan evaluasi pemikiran bagi para keluarga di Desa Karangmekar untuk selalu membina dan meningkatkan pendidikan anak pada masa yang akan datang. Karena sejatinya anak adalah modal atau bahan penerus bagi bangsa.

(19)

Manfaat bagi kampus Institut Agama Islam (IAI) Bunga Bangsa Cirebon adalah untuk menambah khasanah pustaka di perpustakaan kampus Institut Agama Islam (IAI) Bunga Bangsa Cirebon agar dapat dibaca, dipelajari dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

(20)

BAB II

KAJIAN TEORI A. Kajian Teoretik

1. Peran Keluarga a. Pengertian Peran

Istilah “peran” kerap diucapkan banyak orang. Sering kita mendengar kata peran diartikan dengan posisi atau kedudukan seseorang.

Atau “peran” dikaitkan dengan “apa yang dimainkan” oleh seorang aktor dalam suatu drama. Mungkin takbanyak tahu, bahwa kata “peran”, atau role dalam bahasa inggrisnya, memangdiambil dari dramaturgy atau seni teater. Dalam seni teater seorang aktor diberi peranyang harus dimainkan sesuai dengan plot atau alur ceritanya, dan dengan macammacam lakonnya. Lebih jelasnya kata “peran” atau “role” dalam kamus oxforddictionary diartikan : Actor’s part; one’s task of funcion. Yang berarti aktor; tugasseseorang atau fungsi.11Istilah peran dalam “Kamus Besar Bahasa Indonesia” mempunyai arti pemainsandiwara (film), tukang lawak pada permainan makyong, perangkat tingkah yangdiharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan pada peserta didik.12Ketika istilah peran digunakan dalam lingkungan pekerjaan, maka seseorang yangdiberi (atau mendapatkan) sesuatu posisi, juga diharapkan menjalankan perannyasesuai dengan apa yang diharapkan oleh pekerjaan

11The New Oxford Illustrated Dictionary, (Oxford University Press, 1982), h. 1466

12Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,2005), h. 854

(21)

tersebut. Harapan mengenai peran seseorang dalam posisinya, dapat dibedakan atas harapan dari si pemberi tugas danharapan dari orang yang menerima manfaat dari pekerjaan/posisi tersebut.

b. Pengertian Keluarga

Pengertian luas dari keluarga adalah kekerabatan yang dibentuk atas dasar perkawinan dan hubungan darah. Kekerabatan yang berasal dari satu keturunan atau hubungan darah merupakan penelusuran leluhur seseorang, baik melalui garis ayah maupun ibu ataupun keduanya.

Hubungan kekerabatan seperti ini dikenal sebagai keluarga luas (extended family) yaitu ikatan keluarga dalam satu keturunan yang terdiri atas kakek, nenek, ipar, paman, anak, cucu, dan sebagainya.13

Pembentukan keluarga yang ideal yaitu untuk mendirikan rumah tangga (household) yang berada pada satu naungan tempat tinggal sehingga satu rumah tangga dapat terdiri atas lebih dari satu keluarga inti.

Bentuk kekerabatan seperti ini disebut sebagai keluarga poligamous, yaitu beberapa keluarga inti dipimpin oleh seorang kepala keluarga.

Akan tetapi, umumnya satu rumah tangga hanya memiliki satu keluarga inti. Mereka yang membentuk rumah tangga akan mengatur ekonominya sendiri serta bertanggung jawab terhadap pengurusan dan pendidikan anak-anaknya.

Keluarga dibentuk dari dua individu yang berlainan jenis kelamin, yang diikat tali perkawinan. Bisa diartikan suatu ikatan laki – laki dengan

13 Bagja Waluya, Sosiologi 3 Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat,t.th, h. 37.

(22)

perempuan berdasarkan hukum dan undang – undang perkawinan yang sah. Menurut Undang - Undang Nomor 1 Tahun 1974 pengertian pernikahan atau perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Keluarga terdiri dari suami, istri atau orang tua dan anak. Di dalam keluarga inilah akan terjadi interaksi pendidikan pertama dan utama bagi anak yang akan menjadi pondasi dalam pendidikan selanjutnya.14Dengan demikian berarti masalah pendidikan yang pertama dan utama, keluargalah yang memegang peranan utama dan memegang tanggung jawab terhadap pendidikan anak - anaknya. Keluarga yang merupakan wadah pertama dan utama bagi pertumbuhan, pengembangan dan pendidikan anak. Oleh karena itu hubungan pendidikan dalam keluarga adalah didasarkan atas adanya hubungan kodrati antara orang tua dan anak.

Dilihat dari ajaran Islam, anak adalah amanat dari Allah. Amanat wajib dipertanggungjawabkan. Jelas tanggung jawab orang tua terhadap anak tidaklah kecil. Secara umum inti tanggung jawab itu adalah penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak dalam keluarga. Tuhan memerintahkan agar setiap orang tua menjaga keluarganya dari siksa api neraka. Jadi, tanggung jawab itu pertama-tama adalah sebagai suatu kewajiban dari Allah, yang mana kewajiban itu harus dilaksanakan.

14 Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam,t.th h. 237.

(23)

Kewajiban itu dapat dilaksanakan dengan mudah dan wajar karena orang tua memang mencintai anaknya. Ini merupakan sifat manusia yang dibawanya sejak lahir. Manusia mempunyai sifat mencintai anaknya, karena Allah menciptakan orang tua yang bersifat mencintai anak- anaknya. Hati kedua orang tua secara fitrah mencintai anak, mengakar dalam perasaan jiwa, emosi orang tua untuk memelihara, mengasihi, menyayangi anak serta memperhatikan urusannya.

Kalaulah tidak ada hal tersebut, species manusia akan punah di bumi ini. Para orang tua tidak akan sabar memelihara anak, tidak mau menanggung, mendidik, menghadapi urusan dan kemaslahatan mereka.

Maka tidak aneh jika Al - Qur’an menggambarkan perasaan orang tua dengan gambaran yang paling indah sehingga sesekali Al Qur’an menjadikan anak sebagai “perhiasan dunia” seperti termaktub dalam Surah Al-Kahfi ayat 46 :

َٰ ي لٱَُٰة نيِزَٰ نوُن بلٱ وَُٰلالمٱ

َُٰت يِق بلٱ وَٰا ينُّدلٱِ و

َٰلَ م أَٰ ير خ وَٰابا و ثَٰ كِّب رَٰ دنِعَٰ ير خَُٰت حِل َّصلٱَٰ

٦٦

َٰ

Artinya : “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”. (Q.S: Al- Kahfi, ayat 46)15

Dalam surat ini dijelaskan bahwa bahwa manusia membawa sifat menyenangi harta dan anak-anak. Bila orang tua telah mencintai anaknya, maka tentulah tidak akan sulit mendidik anaknya. Dalam surah Al Furqon ayat 74 dijelaskan bahwa anak-anak itu adalah penyenang hati. Inilah modal utama bagi pendidikan dalam keluarga.

15 Ahmad Subkhan, dkk., Al-Quranulkarim Dan Terjemah (Banyuanyar:Surakarta,t.t), h.

299.

(24)

َٰب هَٰا نَّ ب رَٰ نوُلوُق يَٰ نيِذَّلٱ و نِما ن ل

َٰ َّرُ قا نِت َّيِّرُذ وا نِج وز أَٰ

َْٰع أَٰ

َٰنُيَٰ

َٰ و ا نل عجٱ

َٰلِل

َُٰم

َٰاًما مِإَٰ يِقَّت ٧٦

َٰ

َٰ

Artinya : “Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang- orang yang bertakwa”. (Q.S: Al-Furqon, ayat 74)16

Menurut Abu Ahmadi dalam buku Psikologi Pendidikan, keluarga adalah wadah yang sangat penting diantara individu dan group, dan merupakan kelompok sosial yang pertama dimana anak-anak yang menjadi anggotanya. Dan keluargalah sudah barang tentu yang pertama- tama pula menjadi tempat untuk mengadakan sosialisasi kehidupan anak- anak. Ibu, ayah dan saudara-saudaranya serta keluarga-keluarga yang lain adalah orang-orang yang pertama dimana anak anak mengadakan kontak dan yang pertama pula untuk mengajar pada anak-anak itu sebagaimana dia hidup dengan orang lain. Sampai anak-anak memasuki sekolah mereka itu menghabiskan seluruh waktunya di dalam unit keluarga.17

Masyarakat kecil adalah keluarga. Keluarga adalah suami–istri, ayah–ibu, dan anak-anak, dan juga orang–orang lain yang menjadi anggota keluarga. Keluarga adalah lembaga kesatuan sosial terkecil yang secara kodrati berkewajiban mendidik anaknya. Lambat atau cepatnya kemajuan yang dilakukan keluarga dalam mendidik anak, sangat bergantung kepada kemampuan keluarga itu menerima pengaruh dari

16Ibid.h. 366.

17 H. Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2007), h. 108.

(25)

lingkungannya dan dari masyarakatnya. Demikian pula halnya dengan masyarakat, lambat atau cepatnya masyarakat itu bergerak maju, bergantung kepada kemampuan menerima pengaruh dari lingkungan yang lebih besar lagi.

Menurut Drs. J.B.AF. Mayor Polak mengatakan : keluarga merupakan lembaga sosial amat penting untuk kepribadian orang”.18 Karena keluarga adalah merupakan ajang dimana sifat-sifat kepribadian anak terbentuk mulai pertama, maka dapatlah dengan tegas dikatakan bahwa keluarga adalah alam pendidikan pertama. Islam juga memandang keluarga adalah sebagai lingkungan pertama bagi individu dimana ia berinteraksi atau memperoleh unsur-unsur dan ciri-ciri dasar dari kepribadian. Maka kewajiban orang tualah yang bisa menciptakan pendidikan yang tepat dalam mendidik anak-anaknya di lingkungan keluarga.

Oleh karena itu, orang tua dalam mendidik anak-anaknya harus berdasarkan nilai-nilai Islami. Keluarga, yang kedua tiangnya adalah orang tua, memikul tanggung jawab, kasih sayang dan kecintaan kepada anak-anak, karena ini semua termasuk asas pertumbuhan dan perkembangan psikis serta sosial yang kokoh dan lurus bagi mereka.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan keluarga adalah kesatuan unsur terkecil yang terdiri dari bapak, ibu dan beberapa anak. Masing-masing unsur tersebut mempunyai

18J.B.AF. Mayor Polak, Sosiologi, (Jakarta : Ikhtisar, 1964), h. 374.

(26)

peranan penting dalam membina dan menegakkan keluarga, sehingga bila salah satu unsur tersebut hilang maka keluarga tersebut akan guncang atau kurang seimbang. Mereka harus bersama sama memelihara keutuhan rumah tangga sebagai suatu satuan sosial.

c. Peran Keluarga

Peran keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan, yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari orangtua, kelompok dan masyarakat. Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut :

1) Peran ayah:

Ayah sebagai suami dari istri, berperanan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung, dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya, serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.

2) Peran ibu :

Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak- anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya, serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.

(27)

3) Peran anak :

Anak-anak melaksanakan peranan psiko-sosial sesuai dengan tingkat perkembangannya, baik fisik, mental, sosial dan spiritual. Seorang pendidik yang sadar akan selalu berusaha mencari metodemetode yang lebih efektif dan mencari pedoman-pedoman pendidikan yang berpengaruh dalam upaya mempersiapkan anak secara mental, moral, spiritual, dan sosial sehingga anak tersebut mampu meraih puncak kesempurnaan, kedewasaan dan kematangan berpikir.

d. Fungsi Keluarga

Keluarga sebagai wadah kehidupan individu mempunyai peran penting dalam membina dan mengembangkan individu yang bernaung di dalamnya. Selain itu, keluarga sebagai tempat proses sosialisasi paling dini bagi tiap anggotanya untuk menuju pergaulan masyarakat yang lebih kompleks dan lebih luas. Kebutuhan fisik seperti kasih sayang dan pendidikan dari anggota-anggotanya dapat dipenuhi oleh keluarga. Untuk memenuhi kebutuhan itu walaupun tidak secara tegas dan formal, anggota keluarga telah memainkan peran dan fungsi masing-masing.

Menurut William F. Ogburn, fungsi keluarga secara luas dapat berupa:19 1) Fungsi pelindung, yaitu keluarga berfungsi memelihara, merawat dan

melindungi si anak baik fisik maupun sosialnya. Fungsi ini oleh

19Mawardi dan Nur Hidayati, IAD-ISD-IBD, (Bandung : CV. Pustaka Setia, 2000), cet.

VI, h.217.

(28)

keluarga sekarang tidak dilakukan sendiri tetapi banyak dilakukan oleh badan badan sosial seperti tempat perawatan bagi anak-anak cacat tubuh mental, anak yatim piatu, anak-anak nakal dan perusahaan asuransi. Keluarga diwajibkan untuk berusaha agar setiap anggotanya dapat terlindung dari gangguan-gangguan seperti gangguan udara dengan berusaha menyediakan rumah, gangguan penyakit dengan berusaha menyediakan obat-obatan dan gangguan lainnya.

2) Fungsi ekonomi ialah keluarga berusaha menyelenggarakan kebutuhan manusia yang pokok, diantaranya kebutuhan makan dan minum, kebutuhan pakaian untuk menutup tubuhnya dan kebutuhan tempat tinggal. Berhubung dengan fungsi penyelenggaraan kebutuhan pokok ini maka orang tua diwajibkan untuk berusaha keras agar supaya setiap anggota keluarga dapat cukup makan dan minum, cukup pakaian serta tempat tinggal.

3) Fungsi pendidikan, yaitu keluarga sejak dahulu merupakan institusi pendidikan. Dahulu keluarga merupakan satu-satunya institusi untuk mempersiapkan anak agar dapat hidup secara sosial dan ekonomi di masyarakat. Sekarangpun keluarga dikenal sebagai lingkungan pendidikan yang pertama dan utama dalam mengembangkan dasar kepribadian anak. Selain itu keluarga/orang tua menurut hasil penelitian psikologi berfungsi sebagai faktor pemberi pengaruh utama bagi motivasi belajar anak yang pengaruhnya begitu mendalam pada setiap

(29)

langkah perkembangan anak yang dapat bertahan hingga ke perguruan tinggi.

4) Fungsi rekreasi, yaitu keluarga merupakan tempat/medan rekreasi bagi anggotanya untuk memperoleh afeksi, ketenangan dan kegembiraan.

5) Fungsi agama, yaitu keluarga merupakan pusat pendidikan, upacara dan ibadah agama bagi para anggotanya, disamping peran yang dilakukan institusi agama. Fungsi ini penting artinya bagi penanaman jiwa agama pada si anak; sayangnya sekarang ini fungsi keagamaan ini mengalami kemunduran akibat pengaruh sekularisasi. Hal ini sejalan dengan Hadist Nabi SAW yang mengingatkan para orang tua:

Dari Abu Hurairah, r.a., berkata: Bersabda Rasulullah SAW.: Tidaklah seseorang yang dilahirkan melainkan menurut fitrahnya, maka kedua orang tuanyalah yang meyahudikannya atau menasronikannya atau memajusikannya. (HR. Bukhari)

2. Pendidikan

a. Pengertian Pendidikan

Pendidikan merupakan upaya sadar untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal.20 Menurut Sulhan dalam Zainal Aqib, menyatakan bahwa konsep pendidikan bertumpu pada sifat dasar manusia.21 Pertama, setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, yaitu memiliki kecenderungan berbuat baik. Untuk itulah pentingnya sifat-sifat keteladanan yang harus dibudayakan dalam kehidupan sehari-

20Zainal aqib. Pendidikan Karakter di Sekolah membangun karakter dan kepribadian anak.(Bandung : Penerbit YRAMA WIDYA.2012) h.159

21Ibid., h. 160

(30)

hari agar fitrah terus terjaga. Kedua, setiap manusia itu cerdas, yaitu tidak ada anak yang bodoh. Setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda- beda. Kecerdasan yang berbeda itu perlu dikembangkan sesuai dengan potensinya. Ketiga, setiap aktivitas mempunyai tujuan, begitu juga dalam pembelajaran. Oleh karena itu, setiap pembelajaran ditekankan pada kebermaknaan materi. Dan dengan pendekatan serta pembiasaan yang menggugah peserta didik mencapai kemandirian dalam menggapai tujuannya.

Pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup suatu bangsa. Melalui pendidikan diharapkan mampu mencetak generasi penerus bangsa yang berkualitas dan dapat memberikan kontribusi yang positif bagi kehidupan bangsa.

Namun, kondisi yang terjadi saat ini berbanding terbalik dengan kondisi yang diharapkan. Maraknya tawuran antar pelajar, kekerasan, pembunuhan, begal, dan korupsidapat merugikan banyak pihak. Lebih parah lagi, hal tersebut dilakukan oleh orang yang berpendidikan.

Berbagai permasalahan sosial tersebut merupakan salah satu akibat dari rendahnya kualitas pendidikan.

(31)

b. Pendidikan Anak

Agar pendidikan anak dapat berhasil dengan baik ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua dalam mendidik antara lain :22

1) Mendidik dengan keteladanan (contoh)

Keteladanan dalam pendidikan merupakan bagian dari sejumlah metode yang paling efektif dalam mempersiapkan dan membentuk anak secara moral, spiritual dan sosial. Seorang pendidik merupakan contoh ideal dalam pandangan anak yang tingkah laku dan sopan santunnya akan ditiru, bahkan semua keteladanan itu akan melekat pada diri dan perasaannya. Islam telah menjadikan Rosul sebagai suri teladan yang terus menerus bagi seluruh pendidik. Dalam kehidupan keluarga, anak sangat membutuhkan suri teladan, khususnya dari orang tuanya agar sejak masa kanak-kanaknya ia menyerap dasar tabiat prilaku Islami dan berpijak pada landasannya yang luhur. Apabila kita perhatikan cara Luqman mendidik anaknya yang terdapat dalam surat Luqman ayat 15 bahwa nilai-nilai agama mulai dari penampilan pribadi Luqman yang beriman, beramal saleh, bersyukur kepada Allah SWT dan bijaksana dalam segala hal, kemudian yang di didik dan di nasehatkan kepada anaknya adalah kebulatan iman kepada Allah SWT semata, akhlak dan sopan santun terhadap kedua orang tua, kepada manusia dan taat beribadah.

22 H. Syamsu Yusuf, Psikologi Belajar Agama, (Bandung : Pustaka Bani Quraisy, 2005), h.

93.

(32)

2) Mendidik dengan nasehat

Diantara mendidik yang efektif di dalam usaha membentuk keimanan anak, mempersiapkan moral, psikis dan sosial adalah mendidik dengan nasehat. Sebab nasehat sangat berperan dalam menjelaskan kepada anak tentang segala hakikat, menghiasinya dengan moral mulia, dan mengajarinya tentang prinsip-prinsip Islam.

Maka tidak aneh bila kita dapati Al Qur’an menggunakan metode ini dan berbicara kepada jiwa dengan nasihat. Nasihat ini banyak ayatnya, dan berulang kali menyebutkan manfaat dari peringatan dengan kata- kata yang mengandung petunjuk dan nasehat yang tulus, diantaranya:

َٰ يِنِمؤُلمٱَُٰع فن تَٰ ى ركِّذلٱََّٰنِإ فَٰرِّك ذ وَٰ

َٰ(

٥٥

َٰ)

َٰ

Artinya : “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.(Q.S Dzariyat 51:55)23

Nasehat sangat berperan dalam menjelaskan kepada anak tentang segala hakekat serta menghiasinya dengan akhlak mulia.

Nasehat orang tua jauh lebih baik dari pada orang lain, karena orang tualah yang selalu memberikan kasih sayang serta contoh perilaku yang baik kepada anaknya. Disamping memberikan bimbingan serta dukungan ketika anak mendapat kesulitan atau masalah, begitupun sebaliknya ketika anak mendapatkan prestasi.

23 Ahmad Subkhan, dkk., op. cit., h. .

(33)

3) Mendidik dengan pengawasan

Pendidikan yang disertai dengan pengawasan yaitu mendampingi anak dalam upaya membentuk akidah dan moral, dan mengawasinya dalam mempersiapkannya secara psikis dan sosial, dan menanyakan terus tentang keadannya, baik dalam hal pendidikan jasmani maupun dalam hal belajarnya. Tidak diragukan lagi bahwa pendidikan ini termasuk dasar terkuat dalam mewujudkan manusia yang seimbang, yang dapat menjalankan kewajiban kewajibannya dengan baik di dalam kehidupan ini. Islam dengan prinsip prinsipnya yang iniversal dan dengan peraturan-peraturannya yang abadi, mendorong para orang tua untuk selalu mengawasi dan mengontrol anak-anak mereka dalam setiap segi kehidupan, dan pada setiap aspek kependidikan.

4) Metode Penghargaan (reward)

Reward merupakan pendorong utama dalam proses belajar.

Reward dapat berdampak positif bagi anak, yaitu : a) Menimbulkan respon positif.

b) Menciptakan kebiasaan yang relatif kokoh dalam dirinya.

c) Menimbulkan persaan senang dalam melakukan suatu pekerjaan yang mendapat imbalan.

d) Menimbulkan antusiasme, semangat untuk terus melakukan pekerjaan.

e) Semakin percaya diri.

(34)

Penghargaan yang sifatnya mendidik dan dapat diberikan kepada anak dibedakan menjadi dua, yaitu : Pujian yakni panghargaan yang paling mudah diberikan berupa kata-kata atau kalimat seperti, bagus, baik dan prestasimu baik sekali. Juga dapat berupa isyarat atau tandatanda seperti : mengacungkan ibu jari, menepuk bahu, menjabat tangan, mengelus kepala dan lain-lain. Penghargaan juga bisa berbentuk hadiah seperti pemberian berupa barang seperti : alat-alat tulis, makanan, buku, uang, dan sebagainya.

5) Metode Hukuman

Metode hukuman merupakan tindakan yang dijatuhkan kepada anak secara sadar dan sengaja, sehingga menimbulkan nestapa.

Dengan adanya nestapa itu anak dapat menjadi sadar akan perbuatanya dan berjanji dalam hati untuk tidak akan mengulanginya.

Pemberian hukuman atau sanksi kepada anak bertujuan untuk mencegah tingkah lakau atau kebiasaan yang tidak diharapkan atau yang bertentangan dengan norma, sehingga anak akan berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Dengan demikian hukuman merupakan tehnik meluruskan tingkah laku anak. Pemberian hukuman kepada anak hendaknya didasari perasaan cinta kepadanya, bukan atas dasar rasa benci atau dendam. Apabila dasarnya rasa benci, maka hukuman itu sudah kehilangan fungsi utamanya sebagai pelurus tingkah laku, bahkan yang terjadi adalah berkembangnya sikap benci atau perkembangan pada diri anak kepada pemberi hukuman tersebut.

(35)

Disamping itu perlu juga diperhatikan tentang bentuk dan cara memberikan hukuman pada anak. Sebaiknya hindarkan hukuman yang bersifat fisik (memukul, menjewer, atau menendang) atau psikologis (seperti melecehkan atau mencemoohkan). Terkait dengan cara pemberian hukuman, hindarkan memberikan hukuman kepada anak dihadapan teman-temannya, karena dapat merusak harga dirinya. Jika terpaksa hukuman itu dilakukan, maka sebaiknya hukuman itu bersifat edukatif, artinya hukuman yang diberikan itu bersifat proposional, tidak berlebih-lebihan, atau tidak keluar dari bentuk kesalahan yang dilakukan anak, serta memberikan dampak positif kepada anak untuk meninggalkan kebiasaan buruknya dan mengganti dengan kebiasaan yang baik.

Dalam menerapkan hukuman dalam proses pendidikan, sebaiknya dilakukan secara hati-hati, dan dikurangi seminimal mungkin, karena apabila kurang hati-hati dan sering memberikan hukuman dapat berdampak negatif bagi perkembangan pribadi anak.

Dalam hal ini, H. Abu Ahmadi mengemukakan hasil penelitian yang menunjukan, bahwa orang yang cenderung memberikan sanksi tidak dapat meluruskan tingkah laku dan membuahkan hasil, bahkan jenis sanksi fisik tertentu dapat menimbulkan jiwa permusuhan pada diri

(36)

anak terhadappihak pemberi hukuman, juga dapat menumbuhkan perasaan gagal dalam diri anak.24

3. Lingkungan Keluarga

Sebelum kita membahas masalah lingkungan keluarga, terlebih dahulu penulis akan menyebutkan beberapa bagian lingkungan. Biasanya orang mengartikan lingkungan secara sempit, seolah-olah lingkungan hanyalah alam sekitar di luar diri manusia / individu. Lingkungan itu sebenarnya mencakup segala material dan stimulus di dalam dan diluar diri individu, baik yang bersifat fisiologis, psikologis, maupun sosial kultural.

Dengan demikian lingkungan dapat diartikan secara fisiologis, secara psikologis dan secara sosio-kultural.

M. Dalyono mengartikan lingkungan menjadi 3 bagian sebagai berikut :

a. Secara fisiologis, lingkungan meliputi segala kondisi dan material jasmaniah di dalam tubuh seperti gizi, vitamin, air, zat asam, suhu, sistem saraf, peredaran darah, pernapasan, pencernaan makanan, sel-sel pertumbuhan, dan kesehatan jasmani.

b. Secara psikologis, lingkungan mencakup segenap stimulasi yang diterima oleh individu mulai sejak dalam konsesi, kelahiran sampai kematiannya.

Stimulasi ini misalnya berupa : sifat-sifat “genes”, interaksi “genes”, selera keinginan, perasaan, tujuan-tujuan, minat, kebutuhan, kemauan, emosi dan kapasitas intelektual.

24H. Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2001), cet.

Ke 2, h. 44.

(37)

c. Secara sosio-kultural, lingkungan mencakup segenap stimulasi, interaksi dan kondisi dalam hubungannya dengan perlakuan ataupun karya orang lain. Pola hidup keluarga, pergaulan kelompok, pola hidup masyarakat, latihan, belajar, pendidikan, pengajaran, bimbingn dan penyuluhan, adalah termasuk lingkungan ini.

Lingkungan sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Lingkungan adalah keluarga yang mengasuh dan membesarkan anak, sekolah tempat mendidik, masyarakat tempat bergaul juga bermain sehari- hari dan keadaan alam sekitar dengan iklimnya, flora dan faunanya. Besar kecilnya pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangannya bergantung pada keadaan lingkungan anak itu sendiri serta jasmani dan rohaninya. Setiap individu yang lahir ke dunia, dalam suatu lingkungan dengan pembawaan tertentu. Setiap pertumbuhan dan perkembangan yang kompleks merupakan hasil interaksi dari pembawaan dan lingkungan.

Jelaslah pembawaan dan lingkungan bukanlah hal yang bertentangan melainkan saling membutuhkan.

Menurut Sertain (seorang ahli psikologi Amerika) dalam buku Psikologi Pendidikan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan lingkungan ialah meliputi semua kondisi-kondisi dalam dunia ini yang dalam cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan kita kecuali gen-gen, dan bahkan gen-gen dapat pula dipandang sebagai menyiapkan lingkungan bagi gen yang lain. Dari sini bisa dijelaskan bahwa lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di dalam dan di luar dari

(38)

individu yang bersifat mempengaruhi sikap tingkah laku dan perkembangannya.25

Dalam Islam, lingkungan keluarga yang baik paling tidak memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1) Keluarga memberikan suasana emosional yang biak bagi anak-anak seperti perasaan senang, bahagia, disayangi dan dilindungi. Suasana yang demikian dapat tercipta apabila suasana keluarga senantiasa diliputi kebahagiaan yang dirasakan anak sehingga dapat menimbulkan rasa percaya diri, ketentraman, ketenangan dan menjauhkan anak dari kegelisahan dan kesedihan.

2) Mengetahui dasar-dasar pendidikan, terutama berkenaan dengan tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya, dengan pengetahuan orang tua berkewajiban mempelajari dan mengetahui hal- hal yang berhubungan dengan pendidikan anak-anaknya. Demikianlah peran keluarga menjadi penting untuk mendidik anak-anaknya baik dalam sudut tinjauan agama, tinjauan sosial kemasyarakatan maupun tinjauan individu. Persoalan sekarang bukan lagi pentingnya pendidikan keluarga, melainkan bagaimana cara pendidikan keluarga dapat berlangsung dengan baik sehingga mampu menumbuhkan prilaku yang benar-benar baik dan perkembangan kepribadian anak menjadi manusia dewasa dan sekaligus berkepribadian secara Islami, sehingga dapat diandalkan menjadi manusia yang berkualitas akhlaknya. Orang tua

25 HM. Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), cet. Ke 2, h. 42.

(39)

merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mulai menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.

Dalam hal ini faktor penting yang memegang peranan dalam menentukan kehidupan anak selain pendidikan, yang selanjutnya digabungkan menjadi pendidikan agama. Karena sangat pentingnya pendidikan agama, maka para orang tua harus berusaha memberikan pendidikan agama kepada anak-anak mereka sejak usia dini.

Dari beberapa penjelasan diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa keluarga adalah lingkungan pertama dalam pendidikan karena dalam keluarga inilah anak pertama kalinya mendapatkan pendidikan dan bimbingan. Dan keluarga disebut sebagai lingkungan pendidikan yang utama karena sebagian besar hidup anak berada dalam keluarga, maka pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah dalam keluarga.

Keluarga merupakan masyarakat pendidikan pertama yang nantinya akan menyediakan kebutuhan biologis dari anak dan sekaligus memberikan pendidikannya sehingga menghasilkan pribadi pribadi yang dapat hidup dalam masyarakatnya sambil menerima dan mengolah serta mewariskan budayanya. Dengan demikian berarti orang tua harus menciptakan suasana keluarga kondusif untuk mewujudkan pendidikan yang baik. Sehingga akan tercipta prilaku yang baik, baik dalam keluarga maupun lingkungan masyarakat.

(40)

4. Masyarakat Buruh

Masyarakat adalah sekelompok manusia yang bergantung satu sama lain dan yang telah memperkembangkan pola organisasi yang memungkinkan mereka hidup bersama dan dapat mempertahankan diri sebagai kelompok. Masyarakat terkecil adalah keluarga, masyarakat lebih besar adalah suku bangsa dan masyarakat lebih besar adalah umat manusia.

Buruh/pekerja harian lepas adalah mereka yang bekerja pada usaha perorangan dan diberikan upah/imbalan kerja secara harian maupun borongan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak, baik lisan maupun tulisan dalam Undang-Undang No 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan yang di maksud dengan:

a. “Ketenaga kerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja”.

b. “Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik memenuhi kebutuhan sendiri maupun masyarakat”.

c. “Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain”.

d. “Pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah/imbalan dalam bentuk lain”.

(41)

Tenaga kerja adalah penduduk yang berumur di dalam batas usia kerja. Batas usia kerja di Indonesia ialah minimum 10 Tahun, tanpa batas usia maksimum.

Buruh adalah mereka yang bekerja pada usaha perorangan dan diberikan imbalan kerja secara harian maupun borongan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak, baik lisan maupun tulisan, yang biasanya imbalan kerja tersebut diberikan secara harian. Buruh ada 2 yaitu Tenaga kerja harian (Harian Tetap dan Harian Lepas) dan Tenaga Kerja Borongan, yaitu:

1) Tenaga Kerja Tetap

Tenaga kerja tetap (permanent employee) yaitu pekerja yang memiliki perjanjian kerja dengan pengusaha untuk jangka waktu tidak tertentu (permanent).

2) Tenaga Kerja Lepas

Pegawai tidak tetap/tenaga kerja lepas adalah pegawai yang hanya menerima penghasilan apabila pegawai yang bersangkutan bekerja, berdasarkan jumlah hari bekerja, jumlah unit hasil pekerjaan yang dihasilkan atau penyelesaian suatu jenis pekerjaan yang diminta oleh pemberi kerja. Yang di dapat atau Hak tenaga kerja lepas yaitu mendapat gaji sesuai kerjanya atau waktu kerja mereka, tanpa mendapat jaminan sosial. Karena Tenaga Kerja tersebut bersifat kontrak, setelah kontrak selesai, hubungan antara pekerja dan pemberi kerja pun juga selesai.

Referensi

Dokumen terkait

gan dua kom ke-15 yaitu seb u fermentasi in i sehingga ka pada komp oran ayam ka ndingkan den iri dari 7,5 kg gkan dengan mposisi masuk senyawa o dalam sampe ngkungan da am

Beberapa rekomendasi yang disampaikan dalam kajian peran pemerintah daerah antara lain terkait dengan aspek koordinasi pada tingkat kelurahan maka perlu

permukiman. b) Pusat ini ditandai dengan adanya pampatan agung/persimpangan jalan (catus patha) sebagai simbol kultural secara spasial. c) Pola ruang desa adat yang berorientasi

Perusahaan Belanda, yang kini hampir selama satu abad memperluas perdagangan- nya di Kerajaan Siam di bawah nenek moyang Duli Yang Maha Mulia Paduka Raja yang sangat luhur,

HAFISZ TOHIR DAERAH PEMILIHAN SUMATERA SELATAN I.. Oleh karena itu Anggota DPR RI berkewajiban untuk selalu mengunjungi ke daerah pemilihan telah ditetapkan sesuai dengan

a) Agregat Ringan adalah agregat yang dalam keadaan kering dan gembur mempunyai berat 1100 kg/m3 atau kurang. b) Agregat Halus adalah pasir alam sebagai hasil

Metode Pembelajaran Probing- Prompting merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VIII dimana dengan

Kesepakatan bersama yang dibuat antara PT Pelindo II Cabang Cirebon dengan perusahaan Bongkar Muat batu Bara atau pelaku usaha lainnya akan penulis dalami dari