• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fiksasi Nitrogen tanah : proses pertukaran nitrogen udara menjadi nitrogen dalam tanah oleh mikroba tanah yang simbiotik maupun nonsimbiotik.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Fiksasi Nitrogen tanah : proses pertukaran nitrogen udara menjadi nitrogen dalam tanah oleh mikroba tanah yang simbiotik maupun nonsimbiotik."

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

Kandungan Nitrogen di udara sekitar 76,5% s.d 78%, adapun supply nitrogen ke dalam tanah sekitar 0,1 – 0,2%. Masuknya nitrogen dari udara ke dalam tanah melalui curah hujan dan penambahan bahan-bahan organik yang mengandung protein ke dalam tanah.

Fiksasi Nitrogen tanah : proses pertukaran nitrogen udara menjadi nitrogen dalam tanah oleh mikroba tanah yang simbiotik maupun nonsimbiotik.

PERTEMUAN III

BAKTERI FIKSASI NITROGEN

(2)

Bakteri nitrogen atau dikenal juga sebagai bakteri pengikat nitrogen adalah kelompok bakteri yang mampu mengikat nitrogen (terutaman N

2

) bebas di udara dan mereduksinya menjadi senyawa amonia (NH

4

) dan ion nitrat (NO

3-

) oleh bantuan enzim nitrogenase.

Secara umum, kelompok bakteri ini dikenal dengan

istilah rhizobia, termasuk di dalamnya genus

bakteri Rhizobium, Bradyrhizobium,

Mesorhizobium, Photorhizobium, dan

Sinorhizobium. Contoh bakteri nitrogen yang

hidup bersimbiosis dengan tanaman polong-

polongan yaitu Rhizobium leguminosarium, yang

hidup di akar membentuk nodul atau bintil-bintil

akar.

(3)

Bakteri penambat Nitrogen (BPN) :

1. Bersimbiosis dengan tanaman (root-nodulating bacteria). Contoh : Rhizobium sp,

2. Nonsimbiosis/hidup bebas (free-living nitrogen fixing rhizobacteria), contoh : Azotobacter, Beijerincka, Azospirillum.

Selain menambat nitrogen, BPN juga mampu menghasilkan ZPT. Fungsi N : pembentukan klorofil menjadi optimal (fotosintesis optimal), membangun protoplasma dan membentuk enzim.

(4)

Tahapan Pembentukan Akar

Umur Bintil (Hari)

Tahap Nodulasi

0 Bakteri masuk ke dalam rambut akar/sel epidermis 1-2 Benang infeksi mencapai dasar sel epidermis dan

memasuki korteks

3-4 Suatu massa kecil sel-sel terinfeksi dalam premordium bintil

5 Pembagian pesat dari sel-sel bakteri dan sel-sel inang 7-9 Bintil mulai Nampak

12-18 Pertumbuhan lanjut dari bintil menjadi jaringan bakteroid merah muda, multi terjadi fiksasi N 23 Bintil berlanjut menjadi periode aktif fiksasi N

28-37 Bintil mencapai besar maksimal dan fiksasi N berlanjut 50-60 Pelapukan bintil

(5)

Mekanisme pembentukan bintil akar

Bakteri Rhizobium berkumpul di sekitar rambut – rambut akar secara alami maupun pada media buatan dengan pemberian inokulan atau preparat hidup bakteri Rhizobium (Sutedjo et al., 1991). Sehubungan dengan berkumpulnya bakteri tersebut, akar akan mengekskresikan atau mengeluarkan senyawa triptofan yang menyebabkan bakteri berkembang pada ujung akar rambut. Kemudian Triptofan diubah oleh Rhizobium menjadi IAA (Indole Acetic Acid) yang menyebabkan akar membengkok Karena adanya interaksi antara akar dengan Rhizobium. Kemudian bakteri merombak dinding sel akar tanaman sehingga terjadi kontak antara keduanya.

(6)

Mekanisme pembentukan bintil akar

Benang infeksi terbentuk, yang merupakan perkembangan dari membran plasma yang memanjang dari sel terinfeksi. Setelah itu Rhizobium berkembang di dalam benang infeksi yang menjalar menembus sel-sel korteks sampai parenkim. Di dalam sel kortek, Rhizobium dilepas di dalam sitoplasma untuk membentuk bakteroid dan menghasilkan stimulan yang merangsang sel korteks untuk membelah. Pembelahan tersebut menyebabkan proliferasijaringan, membentuk struktur bintil akar yang menonjol sampai keluar akar tanaman, yang mengandung bakteri Rhizobium (Armiadi, 2009)

(7)

Mekanisme pembentukan bintil akar

Bintil akar tidak selalu tumbuh di pangkal akar, ada juga yang tumbuh di ujung-ujung akar. Tidak selalu bintil akar dihuni oleh bakteri Rhizobium yang tepat dan efektif. Ciri bintil akar yang efektif adalah bila dibelah melintang akan memperlihatkan warna merah muda hingga kecoklatan di bagian tengahnya. Pigmen merah leghemeglobin ini yang paling berperan dalam memfiksasi N. Pigmen itu dijumpai dalam bintil akar antara bakteroid dan selubung membran yang mengelilinginya. Jumlah leghemoglobin di dalam bintil akar memiliki hubungan langsung dengan jumlah nitrogen yang difiksasi (Novriani, 2011).

(8)
(9)

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan bakteri bintil akar:

1. Sumber makanan (Bahan Organik dan perakaran) Untuk bertahan sebelum menginfeksi tanaman.

2. Mikroorganisme lain (sbg kompetitor di rizosfir)

Terutama yang antagonis, karena dapat menghalangi infeksi 3. Lingkungan

yang mempengaruhi kegiatan fotosintesis untuk menyediakan kebutuhan energi bakteri (cahaya, luas daun, CO2,

pembentukan biji/ fase generatif) 4. pH

keperluan nilai pH dikehendaki netral – agak basa, 5. Suhu

yang disukai 20-28 °C, masing-masing jenis isolat berbeda tanggapnya terhadap suhu

(10)

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan bakteri bintil akar:

6. Ketersediaan air dan hara untuk fotosintesis karena fotosintesis yang dihasilkan tanaman dimanfaatkan oleh bakteri

7. Senyawa racun

Yang berasal dari herbisida, fungisida di tanah tidak disukai bakteri bintil, dapat berpengaruh terhadap keberadaan bakteri, salinitas

8. Ketersediaan nutrisi

Seperti N yang bisa menghambat bintil; P untuk supali energi; Mo untuk kerja nitrogenase, Fe dan Co utk

laghemoglobin dan transfer elektron

9. Kesesuian genetik antara bakteri dgn tan (utk keperluan infeksi)

(11)
(12)

Faktor- faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Bintil Akar

1. Temperatur dan Cahaya dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman, bintil akar dan penambatan N.

Pengaruh suhu terhadap tanaman legum bervariasi tergantung kepada jenis legumnya. Sistem simbiotik lebih sensitif terhadap suhu dibandingkan dengan pertumbuhan tanaman. Pada suhu yang rendah (<10

0C) proses pembelahan sel dari bakteri pada rizosfer akan terhambat sehingga menyebabkan terhambatnya proses infeksi dan menurunnya berat bintil, sedangkan pada suhu >24 0C merangsang infeksi rambut akar oleh Rhizobium. Rentang temperatur yang paling menguntungkan untuk pembentukan jaringan bakteroid di dalam bintil adalah 20-30 0C .

(13)
(14)

(2)

2. Kelembaban Tanah sangat berperan dalam

pembentukan bintil akar. Terjadi penurunan

infeksi akar dan nodulasi seiring dengan

penurunan kelembaban tanah (kekeringan),

bahkan tidak terbentuk bintil akar pada tanah

yang mengalami kekeringan. Hal ini

disebabkan oleh kegagalan proses infeksi

rambut akar. Keadaan yang demikian juga

dapat menekan proses fiksasi nitrogen dan

menurunkan fotosintesis.

(15)

Defisiensi kelembaban tanah sangat mempe-

ngaruhi fiksasi N2 sebab pembentukan bintil

awal, perkembangan bintil dan aktifitas

nitrogenase lebih sensitif terhadap stress

kelembaban tanah daripada sistem

metabolisme akar dan pucuk. Stress yang

ringan atau berat menurunkan baik jumlah

maupun ukuran bintil akar tanaman.

(16)

(3)

3. Zat Pengatur Tumbuh berupa asam indol

asetat (IAA) dan giberelin telah dapat dideteksi

dalam bintil akar. Bintil akar mengandung lebih

banyak IAA daripada perakaran yang

bersebelahan dengannya. Beberapa zat

tumbuh merangsang pembentukan bintil

sedangkan yang lainnya menghambat,

tergantung pada konsentrasi zat kimia yang

digunakan.

(17)

Kemasaman tanah berpengaruh terhadap perkembangan akar tanaman dan ketersediaan hara tanah. Pada pH yang rendah, beberapa jenis legum tidak dapat berkembang walaupun Rhizobium cukup toleran, sehingga proses pembentukan bintil terhambat. Jumlah dan ukuran bintil mungkin dipengaruhi oleh reaksi substrat tempat tumbuh legum. Kondisi masam dan defisiensi kalsium berpengaruh langsung terhadap pembentukan simbiosis

(18)

(4)

4. Faktor ekologis Penggunaan pestisida

merupakan usaha yang dilakukan untuk

mengendalikan hama dan penyakit tanaman

dan beberapa senyawa kimia ini mungkin

mempengaruhi proses mikrobiologis dalam

tanah. Tetapi dengan dosis yang

direkomendasikan pestisida tidak

mempengaruhi nodulasi. Sebaliknya, herbisida

mempengaruhi proses pembentukan bintil

dan fiksasi nitrogen pada legum.

(19)

Pada percobaan menunjukkan bahwa

penggunaan Dalapon dapat mengurangi

pembentukkan bintil dan cenderung

mengurangi efisiensi fiksasi nitrogen. Hal ini

terlihat dari autoradiograf herbisida

ditranslokasikan dengan cepat dan dapat

dideteksi dalam daun dan binti

(20)

(5)

 Ketersediaan Hara Lainnya

 Ketersediaan fosfor (P) merupakan faktor penting dalam pembentukkan bintil dan pertumbuhan tanaman terutama pada tanah-tanah masam.

Kandungan P dalam bintil 2-3 kali lebih besar daripada kandungan P pada akar .Bahwa aplikasi KH2PO4 25 ppm di tanah-tanah masam meningkatkan dengan signifikan persentase pembentukkan bintil pada Trifolium subterraneum yang diinokulasikan Rhizobium leguminosarum bv.

Trifolii.

(21)

Hal yang sama, pembentukkan bintil dan fiksasi

N2 (aktivitas nitrogenase) pada Trifolium

vesiculosum akan meningkat secara signifikan

setelah ditambahkan P (100 ppm) dan K (300

ppm) sedangkan aktivitas nitrogenase

meningkat dua kali pada saat konsentrasi P

dinaikkan menjadi 400 ppm.

(22)

(6) Kandungan N dalam tanah (khususnya dalam bentuk NO3-) dapat menghambat proses nodulasi dan fiksasi N2 oleh bakteri rhizobia yang bersimbiosis dengan tanaman legum. Selain itu Molibdenum merupakan unsur mikro yang sangat esensial untuk semua tanaman dan sangat dibutuhkan untuk pembentukkan bintil akar dan fungsi enzim kompleks nitrogenase dari bakteri rhizobia. Tanah yang kekurangan Mo akan menurunkan populasi rhizobia sehingga tanaman yang terinfeksi tidak ternodulasi efektif Interaksi Mikroorganisme

(23)

(7)

Interaksi Mikroorganisme setiap inokulasi strain Rhizobium ke media tanah akan mengalami beberapa kendala untuk mencapai keberhasilan nodulasi akar.

Tiga kendala utama yaitu :

(1) rhizobia tidak berhasil bertahan hidup di daerah rhizosfer maupun membentuk bintil akar tanaman inang.

(2) Inokulan Rhizobium berhasil bertahan hidup di

daerah rhizosfer dan menghasilkan bintil akar

yang baik tetapi gagal bertahan hidup di media

tanah sekitarnya.

(24)

(3) Inokulan Rhizobium gagal bersaing dengan rhizobia asli untuk membentuk bintil akar.

Indikasi kemampuan kompetitif dan daya

efektivitas strain rhizobia tergantung dari

karakter strain itu sendiri, namun tanaman

inang lebih menyeleksi beberapa strain yang

terbaik dari campuran populasi strain efektif

dan strain tidak efektif .

(25)

(8)

Ada beberapa jenis fungi terutama Penicillium dan Aspergillus bersifat antagonis terhadap R. trifoli atau R. lupini. Fungi tersebut membentuk koloni pada tanah atau daerah sekitar rhizosfer yang mengakibatkan berkurangnya daya simbiosis yaitu berkurangnya pembentukkan bintil, leghaemoglobin bintil, kandungan nitrogen dan pertumbuhan tanaman inang

(26)

Reaksi pada proses penambatan nitrogen : N2 + 8H+ + 8e- + 16 ATP 2NH3 + 16 ADP + 16Pj + H2

Untuk mereduksi 1 molekul N2 diperlukan 15 – 30 ATP yang 30 – 60 % dari energi ATP ini terbuang dalam bentuk gas H2

Rumus Pemanfaatan Nitrogen bagi Tanaman:

N2 + H2 → NH4 + O2 → NO3 + O2→ NO2

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil percobaan perangkat lunak minimalisasi distorsi dari segmentasi citra menggunakan metode Otsu dan Fuzzy Clustering yaitu diperoleh nilai MSE yang terbaik

305 Kapela Wanam Kampung Wanam Kampung Kimaam Utara. 306 Kapela Bamol I Bamol I

Hasil yang diperoleh adalah pemerintah memberikan beberapa fasilitasi dalam pengembangan organik, target pengembangan padi organik Provinsi Banten tahun 2016 hanya

Berbicara tentang modernisasi pendidikan pesantren, maka harus kita ketahui kenapa pendidikan pesantren memerlukan modernisasi, sebagai sebuah lembaga yang mempunyai sejarah panjang

Beberapa bangunan telah berubah fungsinya dan memanfaatkannya untuk bangunan komersil, namun beberapa bangunan masih memiliki bentuk asli dan tidak terawat serta tidak

Menurut Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 05 Tahun 2012, migas non konvensional adalah minyak dan gas bumi yang diusahakan dari reservoir tempat

Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang dimaksud untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah$ dan barang#barang yang dimaksudkan untuk

Mencuci Tangan/ Menggunakan Handsanitizer Penerapan Protokol Kesehatan di Mall/Plaza/Tempat Perbelanjaan 66,97% responden mengaku bahwa mall/plaza/tempat perbelanjaan yang