• Tidak ada hasil yang ditemukan

MARIA IBU KAMI. (Studi Deskriptif Kualitatif Pengalaman Orang Berziarah di Gua Maria. pada Masyarakat Jawa) SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MARIA IBU KAMI. (Studi Deskriptif Kualitatif Pengalaman Orang Berziarah di Gua Maria. pada Masyarakat Jawa) SKRIPSI"

Copied!
329
0
0

Teks penuh

(1)

pada Masyarakat Jawa)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Menenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun Oleh :

Blasius Dwi Yandu +arcosetyo +IM : 059114065

Program Studi Psikologi Jurusan Psikologi Fakultas Psikologi

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

2010

(2)

i

“MARIA IBU KAMI…”

(Studi Deskriptif Kualitatif Pengalaman Orang Berziarah di Gua Maria pada Masyarakat Jawa)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Menenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun Oleh :

Blasius Dwi Yandu +arcosetyo +IM : 059114065

Program Studi Psikologi Jurusan Psikologi Fakultas Psikologi

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

2010

(3)

ii

“MARIA IBU KAMI…”

(Studi Deskriptif Kualitatif Pengalaman Orang Berziarah di Gua Maria pada Masyarakat Jawa)

(4)

iii

“MARIA IBU KAMI…”

(Studi Deskriptif Kualitatif Pengalaman Orang Berziarah di Gua Maria pada Masyarakat Jawa)

(5)

iv

VISI DAN MISI PRIBADI

VISI

Menumbuhkan Dan Mengembangkan Dunia Dengan Cinta

Misi

Menjadi Pribadi Yang Sehat dan Nyaman Mengembangkan Diri Seluas-luasnya

Berguna Bagi Orang Lain Evaluasi dan Refleksi

(6)

v

Karya ini kupersembahkan untuk Karya ini kupersembahkan untukKarya ini kupersembahkan untuk Karya ini kupersembahkan untuk

TUHAN TUHANTUHAN TUHAN

KELUARGAKU: PITY, MOMON, BENTEK DAN AJENG KELUARGAKU: PITY, MOMON, BENTEK DAN AJENG KELUARGAKU: PITY, MOMON, BENTEK DAN AJENG KELUARGAKU: PITY, MOMON, BENTEK DAN AJENG

(7)

vi

PER+YATAA+ KEASLIA+ KARYA

Saya menyatakan yang sesungguhnya bahwa karya yang saya muat ini tidak memuat karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

(8)

vii

“MARIA IBU KAMI…”

(Studi Deskriptif Kualitatif Pengalaman Orang Berziarah di Gua Maria pada Masyarakat Jawa)

Blasius Dwi Yandu arcosetyo

ABSTRAK

Bertumbuhnya gua Maria beserta peningkatan aktivitas kedatangan peziarah menunjukkan peran pentingnya ziarah di dalam kehidupan sehari-hari. Maria sebagai figur utama, memiliki peran penting di dalam situasi-situasi krisis yang terjadi pada peziarah. Ia menjadi harapan dan jawaban atas berbagai permasalahan yang muncul. Gambaran tentang pengalaman berziarah di gua maria menjadi sebuah hal penting dalam memberi masukan bagi pemeliharaan kesehatan mental masyarakat lewat bidang religi. Penelitian dilakukan dengan wawancara semi terstruktur terhadap 9 orang katolik yang pernah berziarah di gua Maria sekitar daerah Yogyakarta. Pengalaman orang berziarah ini memberikan gambaran bagaimana kepercayaan akan terkabulnya permohonan dan situasi tempat menarik peziarah untuk datang dengan permasalahan sehari-hari. Sosok Maria digambarkan sebagai sosok ibu yang mampu menampung segala kebutuhan peziarah. Hal ini berdampak pada perasaan kelegaan yang dialami oleh para peziarah. Penelitian ini juga memberikan data teks pembanding untuk mengetahui pengaruh lembaga Gereja (lembaga keagamaan) dalam membentuk figur maria.

Kata kunci : maria, gua maria, ziarah, pengalaman, ibu

(9)

viii

(Qualitative Descriptive Study Pilgrim Experiences in Mary Shrine on Javanese Custom)

Blasius Dwi Yandu arcosetyo

ABSTRACT

The growing number of Holy Mary shrine and its pilgrim activity shows that doing religious journey is important for people in their daily life. Mother Mary as a figure has important role in the pilgrims’ critical situations. For the pilgrim, she is a hope and an answer of every problem. A portrait of experiencing a pilgrimage at Holy Mary shrine becomes a main point in caring public mental health through religious aspect. A research had been done through semi structured interview with 9 (nine) catholic people who have made religious journey in Holy Mary shrine in a district near Yogyakarta.

These people experiences of their religious journey show a belief that their wishes will be answered and also, the situation of the religious place attracts the pilgrims to come and share their daily problems. Holy Mary figure is showed as a figure of a mother that can fulfill her pilgrims’ needs which makes the pilgrims fells relief. This research is completed with a text data as a comparison to shows the influence of the church, as a religion department, in creating Holy Mary figure.

Key words: Mary, Holy Mary shrine, religious journey, experience, mother

(10)

ix

LEMBAR PER+YATAA+ PERSETUJUA+

PUBLIKASI KARYA ILMIAH U+TUK KEPE+TI+GA+ AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma

Nama : Blasius Dwi Yandu Narcosetyo Nomor Mahasiswa : 059114065

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan Kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

“MARIA IBU KAMI…”

(Studi Deskriptif Kualitatif Pengalaman Orang Berziarah di Gua Maria pada Masyarakat Jawa)

beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan Demikian saya memberikan Kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam Bentuk media lain, mengelolanya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal: 12 Agustus 2010

(11)

x

KATA PE+GA+TAR

Pengalaman berziarah di gua Maria akhirnya mengajak saya untuk ikut

“men-ziarahi-nya” di dalam skripsi. Pengalaman ziarah khususnya ke gua Maria ini ternyata memiliki banyak sekali aspek kekayaan yang tidak pernah habis untuk dibahas. Bahkan bila kita mau, pengalaman ziarah ini juga tidak terbatas pada Maria saja. Masih banyak bentuk peziarahan yang lokal dengan bentuk-bentuk yang beraneka ragam di berbagai agama dan kepercayaan.

Hal yang paling menarik juga bagi penulis adalah kegiatan religi ini mampu menjadi penggerak cukup bagus di dalam diri manusia. Di satu sisi orang memanfaatkan untuk tujuan yang membangun. Di pihak lain beberapa orang kerap memanfaatkan unsur religi ini misalnya dalam menggerakkan seseorang. Misalnya saja dalam politik, terorisme bahkan kerusuhan. Indonesia sendiri sebagai daerah dengan situasi religi yang cukup kuat membutuhkan banyak studi untuk mengenal dan memetakan psikologi religi yang ada.

Secara khusus saya pada kesempatan ini ingin juga mengucapkan rasa terima kasih kepada beberapa pribadi yang telah menemani dalam pengerjaan tulisan ini.

Pribadi tersebut adalah:

1. Bapak V. Didik Suryo Hartoko sebagai pembimbing skripsi saya. Saya mengucapkan banyak terima kasih karena memberikan banyak kesempatan untuk mengeksplorasi tanpa banyak pembatasan. Hal ini

(12)

xi

membuat saya mudah untuk mengembangkan ide kreatif dan semakin tertular untuk membaca buku.

2. Ibu Maria Laksmi Anantasari sebagai penguji dan pembimbing akademik yang sudah menjadi “Simbok” bagi kami semua. Terima kasih atas penghargaan secara personal pada masing-masing anak bimbingan.

Hal ini membuat saya menjadi lebih luar biasa.

3. Pak Y. Heri Widodo sebagai penguji dan juga pendamping di dalam kegiatan di Psikologi. Terima kasih atas pengalaman dalam pendampingannya selama ini.

4. Bapak C. Siswo Widyatmoko dan tim Penelitian PBB (Psychology Beyond Border) sebagai teman untuk tetap bersemangat dalam meneliti dan semakin mendekat pada realitas. Terima kasih telah memberikan banyak sumber jurnal yang banyak membantu dalam pengerjaan skripsi ini.

5. Bu Agnes Indar Etikawati dan teman-teman komunitas unit konseling yang memberi semangat dalam penyelesaian skripsi ini. Terima kasih atas pengalaman kebersamaan selama ini.

6. Bapak, Ibu, kakak dan adik saya yang menemani dan memberikan berbagai fasilitas yang saya butuhkan untuk penyelesaian skripsi ini.

(13)

xii

7. Komunitas teman-teman bimbingan pak Didik yang semakin lama semakin banyak, terima kasih atas sharing, diskusi maupun bantuan dalam mencari sumber. Ayooo semangat bagi yang belum selesai!!!

8. Teman-teman kos pak Gatot (Wisnu dan Becak) yang menemani, membantu dan mengingatkan dalam pengerjaan skripsi. Thank You Dab!!!

9. Teman-teman Kontrakan Aksi 05 dan Komunitas (RB) Rumah Bertus yang telah menjadi tempat pelarian jika menghadapi kesulitan untuk mengetik. Dukungan kalian semua benar-benar luar biasa.

10. Terima kasih juga untuk para pegawai fakultas psikologi, Mbak Nanik, Mas Gandung, Pak Gie, Mas Doni, dan Mas Muji yang telah memberikan pelayanan yang terbaik untuk mengurusi administrasi.

11. Terima kasih juga kepada Prof. Catrien Norman (Radboud Universiteit Nijmegen) karena telah mengirimkan tiga buah artikel dari Belanda.

12. Secara Khusus saya juga mengucapkan terima kasih banyak kepada 9 orang peziarah yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membagikan pengalamannya.

Yogyakarta, Juni 2010

Blasius Dwi Yandu N

(14)

xiii

DAFTAR ISI

HALAMA+ JUDUL ... i

HALAMA+ PERSETUJUA+ ... ii

HALAMA+ PE+GESAHA+ ... iii

HALAMA+ MOTTO ... iv

HALAMA+ PERSEMBAHA+ ... v

PER+YATAA+ KEASLIA+ KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

LEMBAR PER+YATAA+ PERSETUJUA+ PUBLIKASI KARYA ILMIAH ix KATA PE+GA+TAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xx

DAFTAR LAMPIRA+ ... xxi

BAB I PE+DAHULUA+ ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

(15)

xiv

D. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II KERA+GKA TEORITIS ... 8

A. Ziarah ... 8

1. Pengalaman Berziarah ... 8

2. Kepercayaan dan Ziarah dalam Tradisi Kristen ... 11

3. Kepercayaan dan Ziarah dalam Kultur Masyarakat Jawa ... 12

B. Sosok Wanita ... 14

1. Maria ... 14

2. Maria dalam Teks Gereja ... 17

3. Wanita dalam Kultur Jawa ... 17

C. Ziarah ke Gua Maria dalam Sudut Pandang Psikologi ... 18

D. Pertanyaan Utama ... 24

E. Pertanyaan Teoritis... 25

BAB III METODE PE+ELITIA+ ... 26

A. Strategi Penelitian ... 26

B. Fokus Penelitian ... 26

C. Latar Belakang Peneliti ... 27

D. Metode Pengumpulan Data... 28

1. Studi Lapangan ... 28

(16)

xv

a. Partisipan ... 28

b. Setting penelitian ... 28

c. Jenis data ... 29

2. Studi Teks ... 29

E. Prosedur Analisis Data ... 29

1. Pengorganisasian Data ... 29

2. Penentuan Tema (koding) ... 30

3. Kategorisasi dan Tabulasi ... 30

4. Interpretasi ... 30

F. Kredibilitas Penelitian ... 30

1. Kredibilitas ... 31

2. Dependendabilty ... 31

a. Koherensi ... 31

b. Diskursus ... 31

3. Konfirmabilitas ... 31

BAB IV HASIL DA+ PEMBAHASA+ ... 33

A. Situasi dan Latar Belakang Peziarah ... 33

1. Latar Belakang Peziarah ... 33

2. Situasi Peziarah Ketika Bercerita... 33

(17)

xvi

B. Motif-Motif yang Mendorong Untuk Berziarah ... 34

1. Kedatangan untuk Memecahkan Masalah ... 34

a. Gambaran ... 34

b. Struktur Kedatangan untuk Memecahkan Masalah ... 42

2. Kedatangan untuk Bertemu Orang Lain dan Wisata Rohani ... 42

a. Gambaran ... 42

b. Struktur Kedatangan untuk Bertemu Orang Lain dan Wisata Rohani 45 C. Pengalaman akan Ruang ... 45

1. Lingkungan Tempat Ziarah Tenang dan Hening ... 45

a. Gambaran ... 45

b. Struktur Lingkungan yang Tenang dan Hening ... 50

2. Lingkungan yang Membuat Khusyuk dan Fokus untuk Berdoa ... 51

a. Gambaran ... 51

b. Struktur Lingkungan yang Membuat Khusyuk untuk Berdoa ... 52

D. Akhir Peziarahan ... 53

1. Gambaran ... 53

2. Struktur Akhir Peziarahan ... 56

E. Kepercayaan yang Muncul dalam Ziarah ... 57

1. Kepercayaan Peziarah yang Terkabulkan Permohonannya ... 57

(18)

xvii

a. Gambaran ... 57

b. Struktur Kepercayaan Peziarah yang Terkabulkan Permohonannya . 64 2. Kepercayaan dari Peziarah yang Belum Pernah Terkabulkan Permohonannya di Gua Maria... 65

a. Gambaran ... 65

b. Struktur Kepercayaan Peziarah yang Belum Pernah Terkabulkan Permohonannya di Gua Maria ... 67

F. Gambaran Sosok Maria... 68

1. Gambaran Sosok Maria Menurut Peziarah ... 68

a. Maria Sebagai Sosok Ibu ... 69

i. Gambaran ... 69

ii. Struktur Maria sebagai Sosok Ibu ... 75

b. Maria sebagai Sosok Ideal ... 76

i. Gambaran ... 76

ii. Struktur Maria sebagai Sosok Ideal ... 78

c. Maria sebagai Sosok Transenden ... 78

i. Gambaran ... 78

ii. Struktur Maria sebagai Sosok Transenden ... 80

d. Ringkasan Tema yang Muncul ... 80

2. Studi Teks ... 83

(19)

xviii

a. Gambaran Maria dalam Teks Gereja ... 83

i. Peran Maria sebagai Perantara ... 83

ii. Peran Maria sebagai Pembawa Keselamatan ... 83

iii. Peran Maria sebagai Pengabul Permohonan ... 83

iv. Peran Maria sebagai Pemenuh Kebutuhan ... 84

v. Penghormatan Maria sebagai Sosok Transenden ... 84

vi. Maria menjadi Sosok Teladan/ Sosok Ideal ... 85

b. Struktur Maria dalam Teks Gereja ... 85

G. Pembahasan ... 86

1.Pengalaman ... 86

a. Masalah dan Maria ... 86

b. Lingkungan dan Kehadiran Maria (Conflating Categories) ... 87

c. Akhir Sebuah Peziarahan ... 88

2. Struktur Kepercayaan... 89

3. Maria Ibu Kami (Gambaran terhadap Maria) ... 91

4. Rangkaian Pengalaman, Struktur Kepercayaan dan Sosok Maria ... 94

5. Ziarah dan Kesehatan Mental ... 98

BAB V KESIMPULA+ DA+ SARA+ ... 99

A. Kesimpulan ... 99

(20)

xix

B. Saran... 102

DAFTAR PUSTAKA ... 104

(21)

xx

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Skema Dinamika Hasil Penelitian ... 94

(22)

xxi

DAFTAR LAMPIRA+

LAMPIRA+ ... 107

A. TABEL ... 108 TABEL 1. DATA PEZIARAH ... 109

TABEL 2. DATA KEGIATA+ WAWA+CARA ... 110 B. STUDI LAPA+GA+ ... 111 1. KODI+G ... 112

KODI+G PEZIARAH L ... 113 RI+GKASA+ KODI+G PEZIARAH L ... 125

KODI+G PEZIARAH A ... 127 RI+GKASA+ KODI+G PEZIARAH A ... 147

KODI+G PEZIARAH Y ...152

RI+GKASA+ KODI+G PEZIARAH Y ... 160 KODI+G PEZIARAH YU+ ... 162

RI+GKASA+ KODI+G PEZIARAH YU+ ... 169 KODI+G PEZIARAH S ... 171 RI+GKASA+ KODI+G PEZIARAH S ... 176

KODI+G PEZIARAH YU ... 177 RI+GKASA+ KODI+G PEZIARAH YU ... 197

(23)

xxii

KODI+G PEZIARAH FGR ... 200

RI+GKASA+ KODI+G PEZIARAH FGR... 218 KODI+G PEZIARAH + ... 221 RI+GKASA+ KODI+G PEZIARAH + ... 229

KODI+G PEZIARAH YO ... 231 RI+GKASA+ KODI+G PEZIARAH YO ... 256

2. RI+GKASA+ KODI+G ... 261 TABULASI HASIL ... 262 RI+GKASA+ TEMA YA+G MU+CUL ... 270

C. STUDI TEKS ... 272 1. TEKS ... 273

DOA PE+YERAHA+ KEPADA MARIA ... 274

ME+ELADA+ MARIA DALAM PEMBAHARUA+ HIDUP

BERIMA+ ... 275 +OVE+A TIGA SALAM MARIA ... 280 LITA+I SA+TA PERAWA+ MARIA ... 282

2. KODI+G ... 286 KODI+G PE+YERAHA+ KEPADA MARIA ... 287

(24)

xxiii

KODI+G ME+ELADA+ MARIA DALAM PEMBAHARUA+ HIDUP BERIMA+ ... 288 KODI+G +OVE+A TIGA SALAM MARIA ... 295 KODI+G LITA+I SA+TA PERAWA+ MARIA ... 299

RI+GKASA+ HASIL KODI+G TEKS ... 302

(25)

1

PE+DAHULUA+

A. Latar Belakang

“Hati saya terkagum-kagum begitu menatap patung Bunda Maria yang tinggi. Wajahnya tampak cantik. Tatapan matanya teduh. Seketika itu juga, saya berlutut dan berdoa di depan Bunda Maria saat itu... Sampai sekarang Sendangsono tetap grengseng bagi saya, tetap memikat untuk diziarahi ...Saya tidak mungkin melupakannya. Setiap kali menemui masalah yang berat, saya mendapat jalan keluar setelah berdoa di depan Bunda Maria,” demikian Krisbiantoro, seorang artis senior, mengungkapkan. Ia membagi pengalamannya di buku 100 tahun Sendangsono (Sindhunata, 2004).

Pengalaman tersebut merupakan salah satu pengalaman dari ribuan bahkan jutaan orang Katolik yang berziarah ke gua Maria.

Maria merupakan sosok wanita yang menjadi ikon cukup penting umat Katolik. Ia bahkan kadang mengalahkan sosok Yesus. Maka tidak heran, orang-orang berbondong-bondong mendatangi gua Maria pada hari besar keagamaan maupun pada bulan-bulan yang dikhususkan bagi Santa Perawan Maria. Misalnya saja, di gua Maria Sendangsono (Desa Banjaroyo, Kalibawang Kulon Progo) dan gua Maria Ratu Perdamaian Jatiningsih, (Kecamatan Moyudan, Sleman) jumlah peziarah naik sampai 200 orang pada hari-hari menjelang Natal (Kompas, 2008). Demikian juga dengan gua Maria Tritis, ribuan orang mengunjungi ketika bulan Mei yang dikhususkan sebagai

(26)

2

bulan Maria (Kedaulatan Rakyat, 2008). Tumbuhnya berbagai gua Maria juga dapat menunjukkan besarnya penghormatan kepada Maria. Di wilayah Indonesia sendiri, ada 73 buah gua Maria yang terdaftar di situs internet www.guamaria.com. Dari pengamatan, jumlah ini belum mencakup gua-gua Maria yang baru muncul contohnya, di Jumapolo, Weleri, Grabag dan beberapa daerah lainnya.

Hampir di seluruh belahan dunia mengenal bentuk-bentuk penghormatan pada Maria. Misalnya saja di daerah Asia dan Pasifik, seperti Filipina dan Guam (salah satu kepulauan Pasifik) keduanya memiliki hari-hari perayaan Maria. Demikian di daratan Cina, orang-orang mengenal Bunda Maria dari Tung-Lu. Di Sri Langka sendiri terkenal dengan Maria Atpuda. Di Afrika misalnya di Congo, orang-orang mengangkat Bunda Maria sebagai pelindung pada tahun 1891. Tahun 1932 seluruh Afrika Selatan juga dipersembahkan kepada Maria. Di Amerika Latin, beberapa negara seperti Argentina, Brasilia, Guatemala dan Mexico memiliki perayaan Maria secara meriah pada tempat- tempat tertentu (Hidup, 1987). Di Eropa sendiri, Lourdes serta Fatima (Prancis) maupun Medujorge (Kroatsia) yang merupakan tempat peziarahan Maria yang terkenal. Orang-orang juga banyak menghormati Bunda Maria dengan lukisan maupun patung-patung yang indah. Misalnya di Italia, banyak patung-patung dan gereja yang dikhususkan kepada Maria (Hidup, 1987).

Cerita-cerita penampakan Maria atau mengenai mukjizat selalu menyertai penghormatan ini. Misalnya, Penampakan pada 24 Juni 1981 terhadap 6 orang anak di Bukit Crnica dekat Medujorge, Herzegovina,

(27)

Yugoslavia. Hal ini mengundang berbagai peziarah untuk datang dan mendapatkan mukjizat di sana. Akibat peristiwa ini, pemerintah komunis yang semula melarang dan menutup kegiatan ziarah itu, berbalik untuk mendukungnya. Pemerintah menganggap tempat tersebut mampu menghasilkan devisa bagi negara (Bojan Aleksov, 2004).

Dalam lingkup lokal, secara khusus di dalam masyarakat jawa pun kerap muncul beberapa pengalaman tentang mukjizat atau terkabulnya permohonan dengan berdoa di gua Maria. Misalnya saja sharing dari seorang bapak yang dituliskannya di Blog Sendangsono pada tanggal 28 Desember 2008.

”Tuhan, umurku sudah semakin bertambah. Uban di kepalaku pun mulai bermunculan. Mengapa Engkau belum juga memberikan aku pasangan hidup untuk meneruskan keturunan? Apakah yang Engkau kehendaki dalam hidupku? Sudah sekian kali aku menjalin relasi dengan wanita, tetapi selalu kandas di tengah jalan. Bahkan aku pun pernah mencoba masuk biara ...Bunda, ajarilah aku supaya mampu menemukan kehendak Tuhan dalam hidupku. Ajarilah aku supaya peka dengan tanda-tanda yang diberikan Tuhan dalam peristiwa hidupku. Bunda, Engkau tahu isi hatiku. Engkau tahu apa harapan dan doaku. Bunda, tolonglah anakmu ini. Hantarkanlah doa-doaku ini kepada Putra-Mu terkasih....Hari ini adalah hari ketiga novenaku... Tanpa aku sadari, sejak novena ku hari pertama, ternyata ada orang lain yang juga berdoa bersama-sama denganku. Setelah selesai berdoa rosario, aku memperhatikan orang itu. Ternyata seorang wanita. Semakin kuperhatikan, semakin aku merasakan kecantikan wanita itu. ”Bunda, apakah ini jodohku?” gumamku dalam batin....Waktu terus berjalan. Tak terasa novenaku sudah memasuki hari ke tujuh. Pagi-pagi, aku duduk di tepian sungai sambil menikmati suara gemercik air...tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara lembut yang menyapa aku...Wanita yang menyapaku pagi ini adalah wanita yang aku perhatikan pada hari ketiga novenaku.

Memang cantik. Lalu, kami berbincang ke sana-kemari.... Ternyata, kami memiliki persoalan yang sama, yaitu jodoh. Umurnya 37 tahun. Entah dari mana datangnya kekuatan itu, aku mengajaknya untuk menikah. Susi diam. Ia hanya menunduk. “kita coba saling

(28)

4

mengenal dulu!” ucapnya lirih....Dan sejak itu, kami berusaha saling mengenal satu dengan yang lain. Dan setengah tahun kemudian, aku melamarnya. ...dan kami pun menikah. Kini, kami sudah dikaruniai seorang anak. ...Sebagai wujud syukur kami, setiap bulan kami berziarah ke Sendangsono untuk bersyukur kepada Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria. ... Terima kasih Bunda.”

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Courten (2008) dalam laporan antropologinya tentang peziarah di gua Maria Sendangsono. Peziarah datang untuk mencari penyembuhan (baik secara fisik maupun spiritual), bantuan dalam kesulitan sehari-hari, pemecahan permasalahan relasi, problem keuangan dan ujian sekolah. Orang menganggap Bunda Maria sebagai seorang penolong bagi terkabulnya permintaan atau penyampaian keluh kesah lewat doa-doa itu sendiri.

Secara global, Hermkens, Jansen, dan Noterman (2008) menemukan bahwa bagi umat Katolik sendiri, sosok Maria ini menyediakan jawaban atas keseluruhan masalah. Mereka mengikatkan diri dengan Maria untuk mendapatkan peneguhan serta perbaikan atas hidup. Hal ini berkaitan dengan kenyataan modernisasi yang mempertajam ketidaksetaraan gender, etnis, kelas, religi dan umur. Orang mengutarakan masalah tersebut dalam kegiatan religius peziarahan Maria. Selain itu, dalam laporan antropologi Wolf (1958) dalam “The Virgin Guadalupe” dan penelitian surat kabar oleh Aleksov (2004) dalam “Marian Apparitions and Yugoslavia Crisis,” menunjukkan ada kesamaan. Kedua penampakan Bunda Maria yang terjadi, muncul ketika terjadi krisis akibat tekanan dari pihak penguasa. Pada kasus Guadapale, krisis

(29)

ini terjadi akibat penjajahan Spanyol sedang pada Yugoslavia terjadi akibat rezim komunis.

Secara khusus ziarah ke gua Maria di jawa memiliki hubungan erat dengan kepercayaan lokal sebelumnya. Hal ini dapat dilihat dari banyak Gua Maria yang dulu merupakan tempat keramat bagi warga lokal. Misalnya saja dalam kasus Sendangsono, tempat tersebut dulu dianggap keramat karena dipercayai sebagai tempat bersemayamnya Den Baguse Samidjo dan Dewi Lantamsari. Kedua tokoh tersebut dipercaya dapat memberikan jawaban atas permasalahan muncul seperti kisah Barnabas Sarikromo dengan penyakitnya (Sindhunata, 2004; Laksana, 2007& Courten, 2008). Model-model kepercayaan lokal semacam ini kemudian muncul kembali dengan sosok Maria sebagai penganti. Hal ini memang tidak dapat terlepas dari sifat ziarah yang cair sehingga selalu menyesuaikan bentuknya (Laksana, 2007).

Kemunculan dan aktivitas ziarah di Gua Maria yang tidak pernah berhenti menunjukkan bahwa ziarah memiliki peran yang penting dalam kehidupan. Ziarah menjadi salah satu jalan bagi seseorang ketika mengalami permasalahan maupun situasi krisis dalam kehidupannya. Ziarah dapat dikatakan sebagai reaksi coping alamiah. Coping ini sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itulah mengapa pengetahuan tentang proses dan dinamika ziarah ke Gua Maria sangat penting untuk diketahui. Proses dan dinamika ini meliputi pengalaman seseorang ketika berziarah ke Gua Maria, kepercayaan-kepercayaan yang mendorong mereka untuk berziarah, serta gambaran sosok Maria dari peziarah dan teks yang digunakan.

(30)

6

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana pengalaman seseorang ketika melakukan peziarahan di gua Maria?

2. Kepercayaan-kepercayaan apa yang mendorong seseorang untuk berziarah?

3. Bagaimana gambaran sosok Maria pada peziarah?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aspek yang muncul dari pengalaman-pengalaman ketika berziarah di gua Maria. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui kepercayaan-kepercayaan yang mendorong untuk berziarah dan bagaimana gambaran peziarah kepada sosok Maria dari peziarah dan juga teks. Teks tentang Maria digunakan sebagai pembanding dalam konteks peziarah sebagai anggota Gereja.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini secara teoritis bermanfaat untuk menggambarkan bagaimana peran ziarah sebagai salah satu sumber coping dalam mengatasi permasalahan kehidupan sehari-hari. Peran ziarah ini akan sangat bermanfaat terutama bagi para praktisi psikologi dalam memahami pemeliharaan

(31)

kesehatan mental yang berasal dari kekayaan lokal. Pemahaman ini juga bermanfaat bagi pemuka agama. Pemuka agama diharapkan mampu mengelola peziarahan ini secara lebih baik sehingga selain dapat mengembangkan bidang rohani juga dapat mendukung bagi pemeliharaan kesehatan mental umatnya.

(32)

8 BAB II

KERA+GKA TEORITIS

A. Ziarah

1. Pengalaman Berziarah

Pengalaman merupakan sebuah peristiwa yang disadari dan dialami (VandenBosch, 2007). Secara detail, Brenanto (Ashworth, 2008) menggambarkan pengalaman sebagai berikut :

“conscious experience as a process; experiencing was an act, so that different kinds of experience are to be distinguished by the particular way in which we gain consciousness of the object of experience. In particular, the ‘kind’of consciousness act involved in relating ourselves to something so as to form a judgment about it is different from the conscious act by which we achieve a perception of something. So judgment and perception and other modes of conscious experience involve different orientations to the object.”

Pengalaman digambarkan sebagai sebuah proses dan merupakan tindakan.

Dimana perbedaan pengalaman sangat ditentukan lewat bagaimana seseorang meraih kesadaran dari objek pengalaman. Pengalaman juga merupakan sebuah proses yang terus berkembang. Tema yang sedang menjadi fokus seseorang saat itu akan menentukan arti dari pengalaman tersebut (James dalam Ashworth, 2008).

Meminjam cerita dari Sindhunata (2007), ada sebuah pengalaman menarik yang dapat menggambarkan apa yang disebut sebagai berziarah.

(33)

“Panikkar adalah mantan professor studi agama-agama di Universitas California, yang kemudian hidup menepi di sebuah desa Pyrenea.

Pertengahan tahun sembilan puluhan, abad lalu, ia menyempatkan diri berziarah ke Kaliasa, tempat ziarah yang telah menjadi simbol suci bagi agama-agama di Asia Selatan, baik agama Hindu, Buddha maupun Sikh.

Tak seperti gereja, pura atau masjid, yang dibuat oleh tangan manusia, Kaliasa ada begitu saja, tanpa ada yang membuatnya.

Mendaki Kaliasa, gunung yang tinggi itu, Panikkar mengalami dirinya berada dalam situasi yang oleh Katha Upanisad disebut sebagai asti, nasty, keadaan di antara ada dan tiada. Kaliasa memberi suasana, dimana ia merasa kematian itu ada. Dan bukan dalam dirinya. Kematian itu ada dimana-mana. Seperti sebuah atmosfer yang melingkupinya. Karenanya, kematian itu bukan ancaman: ia adalah pelukan, yang membunuh dengan kedamaian. Di Kaliasa ia juga mengalami bagaimana rasanya terlepas dari sejarah. Sejarah ada karena adanya urutan-urutan waktu. Di sana waktu seakan tiada. Sungai-sungai, bukit-bukit, puncak-puncak, karang dan pepohonan ada begitu saja. Tak tahu, kapan mereka mulai ada, dan kapan mereka akan berakhir. Mereka seakan berada di luar sejarah.

Dalam keadaan demikian, Panikkar disadarkan, bahwa hidup tak bisa lagi ditentukan oleh target dan pencapaian. Ini lain dengan pengalaman kita sehari-hari, dimana kita merasa hidup karena kita hendak mengejar sesuatu. Hari ini kita bekerja untuk bisa hidup di hari esok, kita membanting tulang untuk masa depan, bersusah payah untuk meraih sesuatu di kelak kemudian. Kematian menjadi mengancam, karena kematian mematahkan kesinambungan hidup kita yang mengejar cita-cita itu. Di Kaliasa, semuanya itu menghilang. Di sana orang seakan berada dalam kepenuhan hari ini. Karena itu, ia tidak mengharapkan datangnya pemenuhan di hari esok. Ia tidak perlu me-reservasi tenaga untuk kesempurnaan di hari depan. Matahari, bulan, dan bintang-bintang ada dan bergerak tanpa terburu-buru.

Berada dalam keadaan demikian orang pasti merasa ia tidak perlu terburu-buru melangkah. Ia maju langkah demi langkah. Dan setiap langkah dibuat bukan demi langkah yang akan datang, tapi demi langkah yang ia ambil saat itu juga. Dan langkah itu amat kecil dan pendek, bukan langkah raksasa Dewa Wisnu. Tapi kendati kecil, setiap langkah itu adalah definitif. Dalam setiap langkah tersebut orang merasa ditantang, apakah ia mau menikmati langkahnya itu sebagai pemenuhan dan kesempurnaan. Memang, kata Panikkar, kepenuhan hidup tidak berada lagi di luar atau di depan kita, sesuatu hal yang masih harus kita raih.

Kepenuhan itu tersedia, dalam setiap langkah yang kita ambil itu.”

Penulis lain merumuskan ziarah sebagai amaliah mengunjungi suatu tempat suci yang mengandung makna mengingat kembali, memperkuat

(34)

10

keyakinan, menyadari kefanaan hidup di dunia, dan memperoleh berkat keselamatan (Sunyoto, 2007).

Dari dua makna yang muncul setidaknya ada beberapa aspek yang menjadi inti dari arti ziarah tersebut.

a. Keterpisahan dari dunia

Setiap peziarahan memiliki tempat khusus. Tempat dimana seseorang bisa terpisah dari kehidupan sehari-hari. Di tempat tersebut orang dapat mengambil jarak terhadap dunia dan seluruh isinya, karena dunia bersifat “sementara”. Ia tidak mengikat diri pada sebuah proyek yang terbatas dan sementara (Jakob, 2007). Jarak yang diambil karena adanya perbedaan antara realitas sehari-hari dengan harapan yang dimiliki atau antara kenyataan dengan diri. Jarak ini kemudian dibuat dengan mengadakan “pengungsian” sementara ke tempat-tempat yang dapat menampung harapan akan diri tersebut.

b. Perubahan

Perubahan ini dapat berupa memperoleh berkat keselamatan maupun kesadaran akan diri dengan realitas yang ada. Memperoleh berkat keselamatan dapat digambarkan dengan terkabulnya permohonan atau keinginan. Permohonan ini biasanya dimintakan kepada tokoh yang dapat menjadi perantara kepada Tuhan. Sedang, kesadaran diri lebih menunjukkan bagaimana seseorang menyadari jarak antara kenyataan dengan dirinya.

(35)

c. Pengharapan

Pengharapan ini ingin menunjukkan bagaimana seseorang dalam menghadapi kenyataan yang ada. Pengharapan ini menjadi jembatan antara kenyataan dengan diri.

2. Kepercayaan dan Ziarah dalam Tradisi Kristen

Ziarah dalam Kristen merupakan salah satu cara menuju ke tempat suci yang di dalamnya merupakan praktik asketis yang mengajak orang mencari keselamatan lewat kesukaran dan bahaya dari pengasingan sementara. Hal ini juga berarti kembali mengadakan hubungan dengan yang Mahatinggi, sehingga mendapatkan rahmat akibat dari kumpulan kekuatan supernatural yang ada di tempat peziarahan tersebut. Selain itu, ketika berkat yang diminta telah diberikan, ziarah juga dapat merupakan tindakan untuk menyatakan rasa terima kasih. Pertemuan antara Tuhan dan manusia ini lewat medium dari Santo/Santa/orang kudus (Eliade dan Adam, 1987).

Bentuk ziarah Kristen berakar dari devosi rakyat dan ibadat kepada para pahlawan Yunani dan Romawi kuno. Pada masa kekristenan, ziarah ini ditujukan kepada para martir. Penghormatan terhadap makam maupun peninggalan (relikui) tumbuh subur tahun 200 M. Orang percaya bahwa tempat ataupun barang mereka terpilih. Keduanya merupakan tempat dimana surga dan bumi bergabung. Disana, Allah dan Daya Ilahi menjadi lebih dekat kepada manusia untuk menolong dan mengerjakan mukjizat (Groenen, 1986).

(36)

12

3. Kepercayaan dan Ziarah dalam Kultur masyarakat Jawa

Gambaran Kasiyo “Sarkub”(Sarjana Kubur) dapat mewakili gambaran orang Jawa yang kini berziarah. Ia menghabiskan waktu di tempat–tempat keramat tertentu, membakar kemenyan dan mencari barokah dari sang Khalik yang dirumuskan dalam khasanah spiritual Jawa yaitu “Kyai Slamet” dan

“4yai Tentrem”(Laksana 2007). Hampir kurang lebih setengah abad lalu, C.

Geertz (terj., 1983) juga menceritakan bagaimana orang di Mojo kuto menghormati “Mbah Buda” (kakek Buda), makhluk halus yang tinggal di pusat kota. Orang juga mendatanginya untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan seperti juga Kasiyo. C. Geertz menceritakan sebagai berikut :

Kalau seseorang menginginkan mbah Buda mengabulkan hajatnya, ia harus pergi ke tempat keramat itu- sekalipun beberapa orang mengatakan bahwa orang bisa melakukannya di rumah- minta pengampunan serta maaf dari demit itu, dan berjanji akan mengadakan selamatan untuk menghormati demit itu kalau permohonannya dikabulkan. Sangat penting untuk keberhasilan maksud itu kalau orang mengharap dengan sungguh-sungguh, memohon dengan pikiran manunggal dan tidak tergoyahkan, dan tidak memikirkan apa pun lainnya sampai permohonannya dikabulkan.” (p. 30-31)

Orang Jawa melihat dunia empiris tidak terpisahkan dari dunia meta empiris (alam gaib) dan keduanya saling melengkapi. Hal ini menyebabkan

(37)

orang Jawa merasa bahwa kesejahteraan tergantung pada kekuatan-kekuatan gaib yang mempengaruhi dirinya. Orang Jawa menjaga hubungan terhadap kekuatan gaib itu dengan memberikan sesajen, menggunakan jimat/ pusaka- pusaka tertentu maupun melaksanakan upacara selamatan pada situasi tertentu (Magnis Suseno,1984).

Dengan dasar ini, ziarah menjadi kegiatan yang umum dalam masyarakat Jawa. Intinya bahwa orang mendatangi suatu tempat untuk mendapatkan barokah dari kekuatan gaib. Dimana barokah merupakan proses tawar menawar sendiri terhadap kekuatan gaib. Hal ini muncul terus menerus.

Pada masa pra sejarah penghormatan kepada nenek moyang memiliki peranan penting dalam kehidupan di desa. Sedang pada masa Majapahit, seorang raja menjelajah kerajaannya. Ia mengunjungi candi-candinya untuk berhubungan dengan dewa yang bersangkutan dan memperoleh kekuasaan gaib dari para pendahulunya (Magnis Suseno, 1984). Pada perkembangan selanjutnya, orang-orang juga tetap mengunjungi raja (misalnya pangeran samudra atau makam raja-raja Mataram di Imogiri) maupun para wali (dalam pengaruh Islam), masih tetap untuk mendapatkan barokah dari sosok/ tokoh kekuatan yang di tempat tersebut.

(38)

14

B. Sosok Wanita

1. Maria

Ada perdebatan tentang kemunculan sosok Maria ini. Beberapa ilmuwan menjelaskan bahwa penyembahan kepada Maria berkaitan dengan sejarah pada masa neolitik. Dimana terjadi perubahan dari masa berburu ke masa pertanian. Arkeolog tidak menutup kemungkinan bahwa ada tempat pemujaan terhadap dewa-dewi pada masa tersebut. Masyarakat mengidentikkan bumi sebagai wanita. Mereka mengidentikkan tanah dengan kesuburan dan regenerasi. Sebagian ilmuwan lain menganggap bukti itu kurang kuat. Tema bumi yang identik dengan wanita tidak berlaku umum di semua belahan dunia. Dewi yang muncul sedikit kurang populer dan penting dalam penyembahan (Carrol, 1986).

Dalam diri umat Kristen sendiri, kemunculan sosok Maria merupakan sebuah imajinasi. Hal ini perlu disadari karena selama ini cerita mengenai Maria sangat terbatas terungkap di dalam kitab suci. Groenen (1988) menyebutkan bahwa dalam kitab suci perjanjian baru tidak ada bekas suatu

“devosi” kepada orang kudus khususnya kepada Maria. Bahkan Yesus sendiri relatif jarang menjadi sasaran kebaktian umat beriman.

Para sejarawan melihat perkembangan devosi Maria lewat sejarah agama kekaisaran Romawi. Empat abad pertama tidak ada penghormatan terhadap Maria. Ada dua alasan mengapa hal ini tidak muncul. Pertama agama Kristen menjadi agama yang minoritas. Kedua, penganutnya

(39)

kebanyakan adalah kaum ekonomi menengah. Pada situasi tersebut, kaum menengah umumnya memiliki struktur keluarga dengan kedudukan figur otoritas ayah cukup dekat dengan anak. Seorang ayah Romawi akan mengikuti perkembangan si anak karena berada didekatnya. Ayah biasanya bekerja di sekitar rumah. Ibu memiliki peran tidak hanya berada di dalam urusan rumah tangga saja dan poligami jarang terjadi (Carrol, 1986).

Baru kemudian terjadi perubahan sekitar akhir abad keempat.

Gelombang kaum proletar (kelas bawah) mulai masuk di dalam Gereja.

Perubahan ini membawa suasana baru. Figur Maria mulai muncul di sini. Hal ini merupakan hal wajar. Bentuk keluarga proletar, umumnya memiliki peran ibu yang lebih besar di dalam keluarga. Anak memiliki jarak dengan figur otoritas dari sang ayah (father-in effective family). Kelekatan kepada ibu lebih besar. Dorongan keinginan anak untuk menginginkan ibunya menjadi lebih besar. Dalam psikoanalis, keinginan ini kemudian tersalurkan lewat penyembahan kepada sosok wanita (Carrol, 1986).

Pada awalnya, kemunculan figur ini tidak menjadi masalah karena tidak menyentuh doktrin-doktrin Kristologi dalam Gereja. Bagi para pemimpin Gereja, figur ini dapat menjadi jalan untuk merawat kesatuan dalam Gereja terutama pada kaum proletar. Baru kemudian pada tahun 431 M di konsili Efesus, Maria disebut Theotokos atau Ibu Tuhan. Dimana terdapat hubungan yang erat antara Maria dengan Tuhan. Hal ini menyebabkan figur Maria menjadi lebih penting dan tinggi dari sebelumnya. Pada Konsili Chlasedon (451 M), Maria ditetapkan melahirkan dalam keadaan perawan

(40)

16

dan terus tetap perawan. Dogma ini menunjukkan bahwa keilahian Maria tidak lagi memiliki hubungan dengan seksualitas. Dalam psikoanalitik, fakta tersebut disebut sebagai sebuah keinginan kepada ibu yang kuat tetapi dipendam secara kuat (Carrol, 1986).

Pada masa berkembangnya devosi kepada Maria terdapat kemunculan dua hal yang cukup berkaitan. Pertama adalah ketertarikan terhadap “kisah sengsara Yesus” dan kedua adalah munculnya hidup selibat. Kedua hal tersebut dipandang sebagai simbol kastrasi. Dimana sang anak memiliki sebuah ketakutan untuk dikebiri dan terwujud di dalam keinginan untuk menghayati sengsara dan juga selibat (Carrol, 1986).

Sejak abad VII sampai sepanjang zaman pertengahan devosi kepada Maria pada orang Kristen semakin berkembang. Devosi rakyat mempengaruhi berbagai perayaan ibadat resmi. Peristiwa tentang hidup Maria mulai dirayakan dan ditandai. Misalnya saja, salah satu contoh adalah doa salam Maria yang cukup populer sampai sekarang. Doa ini muncul pada Abad ke 12 dan 13. Doa salam Maria ini pertama kali muncul hanya dengan ucapan malaikat : “Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu” dan ucapan Elisabeth : “terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu.

Pada abad ke 15, muncul tambahan di dalam doa tersebut permohonan untuk kematian dengan baik. Doa tersebut menjadi lengkap pada abad ke 16 dengan muncul bagian ke dua yang biasa diucapkan sampai sekarang (Darminto,1993).

(41)

2. Maria dalam Teks Gereja

Secara khusus Gereja memiliki ajaran tentang Maria. Lazim dalam Gereja katolik, ajaran ini disebut sebagai Mariologi. Di dalamnya ajaran bersifat dogma dan kebenaran bukan dogma, dipelajari. Ada empat macam dogma mariologis yaitu: Kebundaan ilahinya, keperawanannya, kebebasannya dari dosa asal, dan terangkatnya ke surga dengan jiwa raganya. Selain itu ada juga ajaran Gereja yang lain: kebebasannya dari dosa pribadi, kebundaan rohaninya, cara kepengantaraannya dan juga gelar-gelarnya (Dister, 2004) Ajaran ini ditujukan kepada anggota Gereja baik secara langsung maupun tidak langsung. Bentuk-bentuk ajaran dapat berupa renungan maupun doa yang sering digunakan sebagai pegangan atau panduan. Doa maupun renungan yang resmi berasal dari Gereja dibandingkan dengan gambaran dari peziarah. Hal ini akan sangat membantu dalam melihat bagaimana pengaruh Gereja tentang Maria terhadap penghayatan peziarah yang kebanyakan merupakan anggota Gereja Katolik.

3. Wanita dalam Kultur Jawa

Peran wanita dalam kultur Jawa sangat kuat. H. Geertz (terj., 1983) menunjukkan dengan peran wanita yang cukup luas dalam bidang pekerjaan.

Hal ini juga berlaku di dalam urusan rumah tangga. Wanita memiliki peranan besar dalam segala macam keputusan yang diambil dalam keluarga (somah).

Dalam menerima anggota di luar somah, ada kecenderungan bahwa lebih mudah untuk menerima anggota keluarga yang berasal dari pihak istri dari

(42)

18

pada suami. Demikian pula ketika terjadi perceraian, anak akan lebih baik jika bersama dengan ibunya. Hal ini menyebabkan ikatan terhadap seorang ibu kepada anak menjadi lebih kuat daripada bapanya.

C. Ziarah ke Gua Maria dalam Sudut Pandang Psikologi

Ziarah muncul ketika sosok figur Maria semakin menonjol sebagai sasaran devosi rakyat. Gua Maria merupakan salah satu dari tiga tipe tempat ziarah Kristen, selain tempat ziarah pada kuburan atau relikui yang berisi jasad atau potongan tubuh orang kudus dan juga tempat peziarahan berdasar devosi tertentu (misalnya devosi Hati Kudus Yesus Ganjuran). Kemunculan ini bisa disebabkan karena penghormatan kepada patung Maria yang dianggap ajaib maupun karena penampakan oleh Bunda Maria kepada seseorang yang dipilihnya untuk menyampaikan pesan (Eliade et al., 1987).

Kebanyakan di Indonesia sendiri dibangun lebih karena penghormatan kepada Maria. Pendirian gua Maria di Indonesia merupakan sebuah warisan budaya yang berasal dari misi Gereja Katolik yang datang dari Eropa. Salah satu contohnya adalah Sendangsono. Gua Maria ini merupakan salah satu tampat yang diprioritaskan dibangun selain sekolah, gereja dan pastoran serta lonceng-lonceng oleh Romo Prennthaler, seorang imam yang berasal dari Austria (Sindhunata, 2004).

Hermkens, Jansen, dan Noterman (2008) menemukan bahwa bagi umat Katolik sendiri, sosok Maria ini menyediakan Jawaban atas keseluruhan

(43)

masalah. Mereka mengikatkan diri dengan Maria untuk mendapatkan peneguhan serta perbaikan atas hidup. Hal ini berkaitan dengan kenyataan modernisasi yang mempertajam ketidaksetaraan gender, etnis, kelas, religi dan umur. Orang mengutarakan masalah tersebut dalam kegiatan religius peziarahan Maria.

Hasil penelitian tersebut sejalan dengan teori Argyle (1964). Ia mengungkapkan bahwa ada tujuh dasar psikologi dari religi, sebagai berikut:

1. Pengurangan kebutuhan secara langsung (Direct need-reduction)

Ada sebuah fakta bahwa orang lebih suka untuk menerima pola- pola perilaku yang dipandang dapat memuaskan kebutuhan maupun motivasi.

2. Pengurangan kecemasan (Anxiety Reduction)

Situasi yang memicu kecemasan dapat mengurangi rasa aman.

Orang dapat mengatasi rasa kecemasan tersebut dengan mengadopsi sistem kepercayaan yang dimilikinya.

3. Konflik Internal (Internal Conflict)

Religi dapat dimunculkan melalui konflik di dalam diri seseorang.

Konflik ini dapat muncul melalui dua cara:

(44)

20

a. Perasaan takut dapat muncul dan dapat dikurangi lewat doktrin dan praktik Protestan. Doktrin dalam Protestan ini menekankan akan dosa dan keselamatan

b. Reaksi religi pada konflik adalah ketika seseorang menghadapi konflik antara diri mereka dengan tuntutan akan kesadaran. Hal ini kemudian akan diproyeksikan melalui religi.

4. Tuhan sebagai fantasi dari sosok orang tua (God as fantasy parent figur)

Tuhan adalah sosok re-proyeki dari figur orang tua. Dimana sebelumnya diinternalisasi sebagai super ego. Proyeksi ini mungkin untuk terjadi jika ada perbedaan besar antara harapan dengan diri dan kesadaran.

5. Identitas Ego (ego identity)

Orang memiliki kebutuhan untuk memiliki konsep tentang diri yang jelas dan berbeda dari konsepsi orang lain. Erikson menunjukkan pada akhir masa remaja muncul krisis identitas.

Orang muda tiba-tiba mengubah atau memantapkan identitas Ego mereka.

6. Kebutuhan kognitif/ pengetahuan (Cognitive clarity/ need of understanding)

(45)

Orang dapat menerima kepercayaan pertama kali karena menyediakan pemahaman untuk menyusun situasi yang secara kognitif membingungkan mereka. Dalam masyarakat primitif, hal ini dapat menjelaskan tentang kemunculan fenomena alam yang terjadi. Misalnya dapat menjelaskan tentang kemunculan petir.

Dalam situasi modern ini, orang cenderung mengarah kepada masalah motivasi, seperti arah tujuan hidup.

7. Faktor biokimia (Biochemical factor)

Pengalaman religius yang emosional dan mistik dapat dijelaskan lewat perubahan dalam zat-zat kimia dalam tubuh. Eksperimen dengan mescaline dan LSD memberikan pengaruh halusinasi secara visual, persepsi yang luar biasa hebat, pengalaman tanpa batas waktu, depersonalisasi dan euphoria.

Dengan latar belakang ini, simbol Maria cukup mengakar kuat dan populer di dalam hidup orang Kristen sendiri. Hal ini dapat mengungkapkan betapa figur seorang wanita (ibu) dapat memberi pengaruh yang cukup kuat di dalam struktur psikis manusia. Figur seorang ibu ini juga sangat mudah muncul dan berkembang di dalam imajinasi manusia. Misalnya saja dalam mitologi- mitologi, terungkap dimana simbol-simbol mengenai ibu juga banyak muncul.

Simbol ibu juga memberi peran besar di dalam mitologi tersebut. Dalam kisah Mahabharata, Kunthi (ibu dari Pandawa) memiliki peran yang besar bagi munculnya perang Baratayudha (Setyawati, 2008).

(46)

22

Jung (terj., 1969) melihat beberapa unsur dalam mitologi yang mengungkapkan simbol ibu yaitu kota, kayu atau pohon kehidupan, dan air.

Berbagai bentuk simbol tersebut sebenarnya bukan sebuah simbol riil dari ibu sendiri tetapi merupakan sebuah simbol dari libido anak terhadap objek libido yaitu ibunya sendiri. Hal ini merupakan sebuah kerinduan anak akan keinginannya hidup bersama ibunya. Tentu saja hal ini memunculkan incest yang kemudian memunculkan pelarangan seperti dalam bentuk totem pada suku Aborigin (Freud, terj., 2002). Libido tersebut memerlukan suatu saluran yang tepat. Libido kemudian hanya dapat digantikan oleh simbol-simbol lewat ketidaksadaran.

Dengan cara tersebut libido menjadi lebih progresif dan dapat mencapai kesadaran lebih baik daripada sebelumnya. Selain itu, lewat simbol-simbol tersebut, Jung (terj., 1969) memberikan penjelasan bahwa keinginan untuk incest tidak sekadar karena menginginkan hidup bersama dengan ibunya seperti dalam pandangan Freud. Jung menekankan bahwa keinginan ini berasal dari anak sendiri untuk masuk kembali ke dalam rahim ibu untuk dilahirkan kembali. Di dalam fantasi, satu-satunya jalan untuk masuk ke dalam kandungan ibu hanya bisa dilakukan dengan melakukan incest dengan ibunya.

Penyaluran libido terhadap simbol-simbol lewat ketidaksadaran ini menghasilkan fantasi yang cukup kreatif di dalam diri manusia. Misalnya saja bentuk larangan akan incest ini digambarkan dengan kelahiran sang tokoh utama tanpa ayah dan yang membuat kehamilan tersebut merupakan dewa atau Roh Tuhan. Dalam kisah Kunthi dan Maria setidaknya ada persamaan tersebut.

(47)

Kedua tokoh tersebut melahirkan putranya tanpa campur tangan seorang ayah yang berwujud manusia. Kunthi memperoleh anak-anaknya, Pandawa, lewat dewa-dewa akibat anugerah untuk memanggil dewa dari seorang pertapa (Setyawati, 2008). Sedangkan Maria memperoleh putra lewat roh kudus dimana dirinya dipilih oleh Tuhan untuk mengandung putra pilihannya. Libido semacam ini akan mudah terekspresikan di dalam kesadaran karena bentuknya yang aman dan dapat diterima oleh masyarakat.

Maria sebagai sosok konkret seorang ibu. Ia mewakili simbol anak untuk penyaluran libidonya. Carrol (1986) memberikan penjelasan lewat tiga hipotesisnya tentang penyembahan kepada figur Maria ini.

Hipotesis pertama: “Fervent devotion to Mary cult on the part of males is a practice that allows males characterized by a strong but strongly repressed sexual desire for the mother to dissipate in an acceptable manner the excess sexual energy that is build up as a result of this desire”. (Devosi yang khusyuk kepada Maria dalam kalangan kaum laki-laki adalah sebuah praktik yang memiliki karakter sebuah kerinduan seksual kuat terhadap ibu tetapi direpresi secara kuat untuk melepaskan kelebihan energi seksual yang terbentuk sebagai hasil dari keinginan tersebut dalam cara yang memungkinkan)

Hipotesis kedua : “The distinctive feature of the Mary cult over the centuries have been shaped primarily by the son’s strong but strongly repressed desire for his mother.”(Kekhususan bentuk penyembahan kepada

(48)

24

Maria selama berabad-abad telah dibentuk terutama lewat anak laki-laki yang memiliki kerinduan seksual kuat terhadap ibu tetapi dipendam secara kuat.)

Hipotesis ketiga : “Identifying strongly with the Virgin Mary allows women to experience vicariously the fulfillment of their desire for sexual contact with, and a baby from, their father.” (Identifikasi dengan Perawan Maria memungkinkan wanita untuk mengalami sendiri kepenuhan dari kerinduan untuk melakukan kontak seksual dengan dan memiliki seorang bayi dari ayah mereka.)

Di dalam ketiga hipotesis tersebut tampak bahwa relasi antara anak dengan ibu sangat menentukan bagi kemunculan penyembahan kepada Maria.

Di dalam kultur masyarakat Jawa sendiri, relasi ibu dengan anak cukup kuat.

Ibu menjadi sosok utama di dalam sebuah keluarga.

D. Pertanyaan Utama

Bagaimana pengalaman seseorang ketika melakukan peziarahan di gua Maria, kepercayaan-kepercayaan yang apa mendorong seseorang berziarah dan bagaimana gambaran sosok Maria?

(49)

E. Pertanyaan Teoritis

1. Bagaimana pengalaman seseorang ketika melakukan peziarahan di gua Maria?

a. Hal apa yang mendorong seseorang untuk melakukan ziarah?

b. Apa yang dialami seseorang ketika berada di tempat ziarah?

c. Hal apa yang muncul setelah berziarah?

2. Kepercayaan-kepercayaan apa yang mendorong seseorang untuk berziarah di gua Maria?

3. Bagaimana gambaran sosok Maria pada peziarah di tempat ziarah?

4. Bagaimana gambaran Maria dalam teks Gereja dalam kaitan dengan devosi Maria?

(50)

26 BAB III

METODE PE+ELITIA+

A. Strategi Penelitian

Peneliti menggunakan metode kualitatif. Metode ini memiliki kelebihan dalam mengeksplorasi, mendeskripsikan dan menginterpretasi pengalaman personal dan sosial partisipan (Smith, 2008). Peneliti membangun gambaran secara menyeluruh, kompleks, menganalisis kata-kata, melaporkan secara detail pandangan dari informan dan melakukan penelitian di seting yang alami (Creswell, 1998). Pandangan ini kemudian dibandingkan dengan gambaran yang dimiliki oleh teks yang menjadi pegangan dalam berdoa atau bacaan dalam renungan.

Analisis yang digunakan adalah Analisi fenomenologis Interpretatif (Interpretative Phenomenological Analysis). Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengeksplorasi secara detail bagaimana partisipan memahami dunia personal dan sosial untuk mendapatkan makna dari pengalaman, peristiwa, keadaan yang dihadapi secara langsung oleh partisipan. Metode ini juga menekankan bahwa pelaksanaan penelitian adalah sebuah proses dinamis dengan peran peneliti di dalam proses (Smith & Osborn, 2008).

B. Fokus Penelitian

Penelitian ini menggambarkan pengalaman para peziarah di gua Maria sekitar daerah Yogyakarta. Pengalaman para peziarah ini adalah peristiwa yang disadari: Sebuah peristiwa yang dijalani atau dialami (VandenBosh,

(51)

2007). Pengalaman ini dapat berupa segala macam pikiran, perasaan dan tindakan yang muncul ketika berada di gua Maria. Sumber pengalaman ini adalah peristiwa-peristiwa yang selama ini yang dialami ketika berziarah ke gua Maria.

Penelitian ini juga juga memberikan gambaran tentang kepercayaan.

Kepercayaan di sini didefinisikan sebagai penerimaan terhadap kebenaran dan realitas akan sesuatu (VandenBosh, 2007) yang muncul dalam ziarah.

Yang terakhir, fokus penelitian menyertakan gambaran (image) tentang Maria. Gambaran ini merupakan keterwakilan obyek dalam ingatan yang dibuat lewat sistem optik. Keterwakilan pengalaman sensori ini dapat diingat dengan mudah tanpa stimulasi eksternal (VandenBosh, 2007), terutama terhadap figur Maria.

Yang dimaksud dengan peziarah di sini adalah orang Katolik yang berusia mulai dewasa awal sampai dewasa akhir dan pernah datang ke gua Maria. Sebagian besar peziarah tersebut bertempat tinggal di sekitar daerah Yogyakarta.

C. Latar Belakang Peneliti

Peneliti adalah orang Jawa dan pemeluk Katolik Roma. Beberapa kali peneliti sering melakukan peziarahan di beberapa gua Maria. Pengalaman mengalami rasa kelegaan dan ketenangan ketika mengalami permasalahan, menarik perhatian peneliti. Berdasarkan pengalaman tersebut, peneliti merasa mudah untuk masuk dan mencari partisipan. Sebagian patisipan merupakan

(52)

28

teman peneliti. Sebagian lagi, peneliti mengambil secara spontan di gua Maria. Hubungan dan kedudukan antara sosok Yesus dan Maria cukup sensitif bagi para penganut agama Katolik. Kedudukan Maria kadang menonjol sebagai pengabul permohonan. Hal ini bertentangan dengan ajaran dari Gereja sendiri, dimana Maria merupakan penghubung permohonan kepada Yesus.

D. Metode Pengumpulan Data 1. Studi Lapangan

a. Partisipan

Peneliti memilihpartisipan yang beragama Katolik dan pernah melakukan ziarah ke gua Maria. Partisipan yang diambil, berusia mulai dari dewasa awal sampai dengan dewasa akhir (18-70 tahun). Partisipan diambil dengan dua macam cara. Pertama peneliti mengambil beberapa teman dan kenalan yang pernah melakukan ziarah ke gua Maria. Pada tahap selanjutnya, peneliti mengambil beberapa partisipan secara spontan di beberapa gua Maria.

b. Setting penelitian

Peneliti melakukan pengambilan data di rumah dan di tiga gua Maria yaitu: Sendangsono, Jatiningsih dan Sriningsih. Peneliti berusaha menjaga ruang dan waktu sehingga hanya terdapat peneliti dan partisipan saja dalam wawancara.

(53)

c. Jenis data

Peneliti menggunakan data dari hasil wawancara semi terstruktur.

Data direkam menggunakan MP3. Peneliti mengubah data hasil wawancara dalam bentuk verbatim.

2. Studi Teks

Peneliti mengambil beberapa teks sebagai bahan pembanding. Ada 1 bacaan berjudul: “Meneladan Maria dalam Pembaharuan Hidup Beriman”

pada renungan masa adven 2009 (Komisi Kateketik KAS, 2009) dan 3 doa tentang Maria yang diambil dari buku nyanyian dan doa yang sering digunakan oleh umat Katolik yaitu Madah Bakti dan Puji Syukur. Ketiga doa tersebut adalah Litani Bunda Maria, Doa Penyerahan kepada Maria dan Novena Tiga Salam Maria. Teks ini memiliki manfaat dalam memberikan gambaran secara khusus tentang Maria yang berasal dari Gereja.

E. Prosedur Analisis Data

Data hasil wawancara dianalisis menggunakan analisis thematik. Proses yang dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Pengorganisasian Data

Tahap ini dimulai dari pembuatan verbatim dari hasil wawancara atau teks.

Data tersebut kemudian disimpan secara rapi, lengkap dan sistematis.

Peneliti kemudian membaca secara berulang-ulang hasil tersebut dan mengambil kata, frasa maupun kalimat yang bermakna.

(54)

30

2. Penentuan tema (Koding)

Peneliti menentukan konteks pada kata, frasa maupun kalimat yang bermakna tersebut dan menuliskan isi di dalamnya. Hal ini dilakukan untuk dapat mengorganisasi data secara lengkap dan mendetail sehingga data dapat memunculkan topik yang dipelajari (Poerwandari, 2005)

3. Kategorisasi dan Tabulasi

Tema-tema yang memiliki kesamaan dikelompokkan menjadi satu. Pada satu tema yang memiliki variasi dibuat beberapa sub tema yang lebih kecil.

Peneliti kemudian membuat tabulasi dari keseluruhan hasil. Tabulasi dilakukan untuk melihat mayoritas tema yang muncul.

4. Interpretasi

Peneliti mencoba memahami tema-tema yang muncul secara lebih mendalam. Hasilnya, peneliti dapat memberikan gambaran tentang struktur dan hubungan yang muncul pada masing-masing tema.

F. Kredibilitas Penelitian

Tjunjing (2004) mengistilahkan tiga pilar kualitas penelitian sebagai

“The Holly Trinity of research,” yaitu: Validitas, Reliabilitas, dan Objektivitas.

Istilah tersebut kerap muncul dalam penelitian Kuantitatif. Dalam kualitatif, peneliti mengganti dengan bahasa yang berbeda kredibilitas untuk validitas, dependendability untuk reliabilitas dan konfirmabilitas untuk objektivitas (Poerwandari, 2005).

(55)

1. Kredibilitas

Ada empat pendapat mengenai kredibilitas. Pertama sebagai derajat keketatan dan kelengkapan dalam menggambarkan dunia sosial penelitian, kedua sebagai kepercayaan penelitian, ketiga sebagai pemahaman suatu hubungan berkualitas dan yang terakhir adalah mengenai dampak penelitian bagi masyarakat dan dunia ilmu pengetahuan (Tjunjing, 2004).

Penelitian ini menggunakan validitas argumentatif (Poerwandari, 2005).

Validitas ini memberikan kesempatan pembaca untuk melihat proses rasional hasil penelitian, dari data mentah. Proses ini dapat dibaca dalam bagian pembahasan dan lampiran.

2. Dependendabilty

Ada dua hal dalam melihat konsistensi penelitian, yaitu koherensi dan diskursus (Poerwandari, 2005):

a. Koherensi

Peneliti menilai bahwa metode kualitatif dengan pendekatan Analisis Fenomenologi Interpretatif cukup membantu. Metode tersebut dapat dapat menjelaskan dinamika pengalaman ketika orang berziarah.

b. Diskursus

Peneliti mendiskusikan hasil dan proses penelitian dengan pembimbing penelitian.

3. Konfirmabilitas

Peneliti memberikan transparansi secara terbuka tentang elemen-elemen dan proses keseluruhan penelitian. Hal ini memberikan kesempatan kepada

(56)

32

pihak lain untuk melakukan penelitian (Poerwandari, 2005). Keterbukaan ini untuk melihat objektivitas dari penelitian ini sendiri

(57)

33

HASIL DA+ PEMBAHASA+

A. Situasi dan Latar Belakang Peziarah

1. Latar Belakang Peziarah

Peziarah yang diambil adalah Sembilan orang Katolik Roma yang pernah melakukan ziarah di tempat peziarahan Maria. Kesembilan orang tersebut ditulis dengan inisial L, A, Y, Yun, S, Yu, FGR, N dan Yo. Empat orang wanita dan lima orang laki-laki. Empat orang peziarah diwawancarai di luar. Mereka didapatkan lewat cerita maupun pengalaman dari beberapa orang terdekat mereka. Sisa lima orang peziarah didapatkan secara spontan di gua Maria Jatiningsih, Sriningsih dan Sendangsono (Keterangan Masing-masing peziarah dapat dibaca pada Tabel 1. Data Peziarah, lampiran halaman 1)

2. Situasi Peziarah Ketika Bercerita

Peneliti mewawancarai Lima peziarah di gua Maria dan empat orang di tempat tinggal masing-masing (Keterangan waktu dan tempat wawancara dapat dibaca pada Tabel 2. Data Kegiatan Wawancara, lampiran halaman 2). Wawancara dibuat secara pribadi antara peneliti dan peziarah sendiri.

Peziarah diminta berdasarkan kesanggupan untuk mengikuti wawancara, setelah sebelumnya diberikan informasi tentang identitas pewawancara dan

(58)

34

tujuan penelitian. Wawancara direkam dengan menggunakan alat perekam.

Hasil wawancara dibuat verbatim dan kemudian dibaca berulang-ulang.

Peneliti kemudian mengklasifikasikan data berdasarkan tema kemunculan data. Dari hasil ini muncul tema-tema seperti di bawah ini.

B. Motif-Motif yang Mendorong untuk Berziarah

1. Kedatangan Untuk Memecahkan Masalah

a. Gambaran

Setiap peziarah pasti memiliki dorongan untuk mendatangi gua Maria. Ketujuh peziarah menceritakan pengalaman yang mirip. Mereka datang karena memiliki permasalahan. Mereka merasa tidak dapat menyelesaikan permasalahan tersebut. Gua Maria dianggap sebagai salah satu jalan untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut.

A dan L memiliki dorongan yang hampir sama tentang kegiatannya di gua Maria. Keduanya mengalami pengalaman kebimbangan dalam menentukan tujuan hidupnya. A menceritakan kedatangannya di gua Maria untuk menemukan tujuan hidupnya. Ia menanyakan tujuan tersebut di dalam peziarahan.

“+ah kalau kamu merefleksikan kira-kira kamu merefleksikan apa yang sering kamu lakukan atau sering muncul?”

“Sing sering muncul itu adalah aku ki arep ning endi (yang sering muncul itu adalah aku itu mau kemana).”(A 17)

(59)

“Hee”

“Aku ki arep ning ndi…(aku mau kemana…).”(A 18)

Arep melangkah kemana. Itu yang masih sulit untuk ditemukan….gitu tapi akhir-akhir ini uwis (sudah), aku sudah menemukan eee ya mungkin 90 % gitu, tapi jaman biyen ki aku susah banget, aku arep ning ndi? (Jaman dulu itu aku susah sekali, mau kemana?) Bahkan ketika kuliah pun aku itu tidak mempunyai keinginan untuk kemana itu, ra eneng (tidak ada).

Misale kuwi (misalnya itu). Dadi (jadi) aku sering ke sana itu ya ngono kuwi (begitu itu), aku masih mencari itu. ngono kuwi dadi... piye ya (begitu itu jadi…bagaimana ya)? Ya itu aku sering ke sering ke e gua maria itu ya gur ngono kuwi, nig Ganjuran intine mung gur ngono kuwi (begitu itu, di Ganjuran intinya cuma seperti itu). Aku akan kemana. Itulah yang masih aku cari, tapi untuk saat ini 80%. Sekarang aku sudah menemukan, aku sudah menemukan eh bukan tetapi menerapkan kerena hidup itu pilihan, jadi aku menetapkan, memilih, ora ngerti pilihanku itu karena Tuhan sendiri atau tidak, aku juga belum tahu. Mungkin...” (A 19)

A sendiri sebenarnya sudah memiliki tujuan hidup tersendiri yang enggan disebutkannya. Sayangnya, keinginan ini terhambat karena banyak alasan.

“lagian hal itu sudah terpikirkan sudah lama terpikirkan sudah lama bukan sebatas satu tahun dua tahun, tetapi bertahun-tahun.

Bertahun-tahun mungkin wit(sejak) aku kelas satu SMP aku sudah mulai punya pemikiran semacam itu. Tapi ya kuwi, banyak benturan. Banyak benturan. (berhenti cukup lama) Kok malah dadi ning kono (jadi di sana), kembali ke ziarah?”(A 33) L memiliki permasalahan yang sama. Pengalaman berkesan yang dirasakan di gua Maria Sriningsih adalah ketika menentukan kuliah yang akan diambilnya. Ia memiliki harapan masuk ke jurusan yang disenanginya dan berada disekitar saudaranya. Keinginan itu kemudian terhalang oleh keinginan ayahnya untuk masuk jurusan yang lain.

“Pas waktu masuk awal kuliah itu lho. Nah sudah lulus SMA to, aku itu tidak punya tujuan mau kuliah ke mana. Dan tesku itu tes di Bandung. Dan pas tes di Bandung itu, aku pingin di

(60)

36

sana, soalnya disana banyak keluargaku disana, ada nenekku, tanteku banyak. Ternyata aku tidak lulus di sana.”(L 5)

“Kamu ambil apa?”

“Akuntansi, Unpar. Aku tidak keterima dan aku tidak punya cadangan. Ya aku itu yang tipe orangnya plin-plan begitu. Ya tidak punya cita-cita begitu itu. Bakatku kesini pengen ke sini.

Aku itu tidak mengerti. Aku itu punya bakat dimana dan pengen dimana itu aku tidak punya dari dulu itu, terus kenapa ya?

Akhirnya tes di jogja terus pas di jogja sini. Pas tes itu, o nunggu pengumuman kan pas ada tes masuk itu lho. Aku tesnya sampai dua kali lho, aku kan tujuan aku ke jogja sini aku mencari farmasinya pas daftar pertama itu aku keterimanya akuntansi, pas pertama orang tuaku itu, papaku tidak mengerti.

Lha kalau mau masuk akuntansi mengapa jauh-jauh ke Jogja.

Toh di Palembang juga banyak kan. Akhirnya aku tes lagi gelombang ke dua.” (L 6)

Secara kebetulan, seseorang mengajaknya untuk datang ke gua Maria. Di sana dirinya menemukan tempat untuk mengungkapkan segala persoalan.

“Dia tidak ngomong, pokoknya mengajak main gitu. Ternyata ke itu, Sriningsih. Saat itu aku akhirnya berdoa to. Fraternya juga berdoa. Akhirnya aku tidak ngikutin dia. Pokoknya benar- benar takut, aku berdoa. Pokoknya itu aku mengeluarkan segala keluh kesahku saat itu dan aku benar-benar pasrah. Apa ya...Saat bingung saat takut pokoknya campur aduk semua. Di situ aku serahkan semuannya dan apa ya... berkesan gitu.”(L 7)

N memiliki permasalahan yang berbeda. Di usia tiga puluh tahun, dirinya belum mendapatkan pasangan hidup. Hal ini membawa dirinya pergi ke gua Maria Sendangsono untuk memohon permintaan.

“Pengalaman berkesan? Kula nek napa kagungan aaa permohonan ngoten nggih, pengin menapa, kula riyin, sak derange anu kan, nyuwun (berhenti lama) napa niku jenenge, aa berdoa nyuwun permohonan. Permohonan niki kula wonten nganu, doa wonten Bunda Maria, ngaten terus akhire terkabul…” (saya kalau memiliki keinginan apa, saya dulu, sebelumnya anu kan, minta…(berhenti lama) apa itu namanya,

Gambar

Tabel 1. Data Peziarah
Tabel 2. Data Kegiatan Wawancara

Referensi

Dokumen terkait