• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

PROFIL OPTIMISME MAHASISWA A. Hakikat Optimisme

1. Definisi Optimisme

Optimisme menurut KBBI Kemendikbud [op.ti.mis.me] kata Nomina (kata benda) merujuk pada paham (keyakinan) atas segala sesuatu dari segi yang baik dan menyenangkan; sikap selalu mempunyai harapan baik dalam segala hal.

Sedangkan menurut kamus Thesaurus Merriam Webster adalah kecenderungan untuk yakin pada hasil yang paling menguntungkan. Orang yang memiliki sikap optimisme di sebut optimis yang di artikan orang yang selalu berpengharapan (berpandangan) baik dalam menghadapi segala hal.

Optimisme menurut ahli di definisikan sebagai ekpektasi individu terhadap masa depan Synder.et al. (2002). Oleh karna nya optimisme adalah harapan dimana berharap dalam situasi tertentu dan secara umum berupa harapan pada segala sesuatu yang positif. Individu yang optimis adalah individu yang mengharapkan hal-hal baik terjadi padanya di masa depan, sedangkan individu yang pesimis cenderung berpikir hal-hal buruk yang terjadi padanya oleh Charles dalam (Chang, Edward, 2001).

Dari konsep optimisme yang di bahas di atas dapat melihat kemungkinan individu yang mengalami optimis atau pesimis. Ketika di hadapkan pada hambatan individu yang optimis akan berusaha menyesuaikan segala sesuatu untuk mencapai tujuan nya. sedangkan individu yang pesimis akan senantiasa ragu dalam mencapai tujuan nya tersebut. Rasa optimis yang muncul dari dalam diri seseorang ditunjukkan dengan adanya sikap selalu memiliki harapan baik dalam segala hal serta kecenderungan untuk mengharapkan hasil yang menyenangkan.

Penjelasan yang lebih luas mengenai optimisme (Seligman. 2006) optimis adalah manusia yang terus menerus mempunyai harapan memiliki pandangan/pengetahuan kebaikan beruntung dalam menghadapi suatu peristiwa di dalam hidupnya, meyakini bahwa di dalam keadaan tidak menang hanya menjadi buruk semata. Mereka juga meyakini bahwa didalam keadaan tidak menang

(2)

sebenarnya tidak disebabkan kesalahan nya melainkan suasana atau situasi yang terjadi, kemalangan nasib atau orang lain bukan diri sendiri yang menjadikan nya penyebab. Selain itu mereka juga tidak terkena pengaruh oleh keadaan tidak menang, pada saat berbeda dalam peristiwa kemalangan, mereka meramalkan menjadi hal atau objek yang menggugah tekad untuk meningkatkan kemampuan mengatasi masalah dan melakukan sesuatu usaha lebih gigih lagi sungguh- sungguh.

Seligman. (2006) optimisme adalah yang di pakai untuk mencapai maksud menolong seseorang memperoleh/mendapat sesuatu dengan usaha yang dituju/dimaksud yang sudah ditentukan untuk diri dari yang bersangkutan.

Adapun upaya untuk memunculkan optimisme dalam diri individu di kenal dengan explanatory style/gaya penjelasan. Gaya penjelasan adalah jalan melakukan sesuatu dimana seseorang sudah biasa menerangkan terhadap diri dari yang bersangkutan tentang sebab alasan pada suatu kejadian yang telah terjadi Seligman. (2006). Kebiasaan berpikir tersebut sudah di pelajari oleh individu semenjak masa kanak-kanak dan remaja.

Cara kebiasaan individu dalam menjelasakan kejadian-kejadian buruk, gaya penjelasan individu, lebih dari sekedar kata-kata yang keluar dari mulutnya saat individu gagal. Itu merupakan suatu kebiasaan dari pikiran, dipelajari saat masa kanak-kanak dan remaja. Gaya penjelasan individu dirangkai langsung dari pandangan nya terhadap posisinya di dunia ini-apakah individu berpikir dia berharga dan dapat diterima, atau tidak berharga dan tak punya harapan. Itu adalah suatu tanda apakah individu orang yang optimis atau bukan Seligman.

(2008).

Teori gaya eksplanasi juga menggunakan optimisme dan pesimisme membangun berkaitan dengan bagaimana orang menghubungkan atau menjelaskan penyebab kejadian pada diri mereka sendiri oleh Seligman (Boman

& Curtis D, 2003). Mereka yang memiliki gaya eksplanatoris simistik lebih cenderung menggunakan permanen ('selalu terjadi seperti ini') dan meresap ('itu mempengaruhi setiap-hal yang saya lakukan') dimensi atribusi kausal ketika dihadapkan dengan kesulitan, kemunduran, atau keadaan stres. Individu dengan

(3)

gaya penjelas yang optimis lebih cenderung untuk memahami set-kembali sebagai hanya sementara dan terbatas pada insiden tunggal.

Dari penjelasan ketiga konsep mengenai optimisme tersebut, adapun dalam penelitian ini, konsep optimisme adalah kecenderungan seseorang dalam meyakini atau harapan akan hasil baik dalam mencapai tujuan nya yang kemudian mendorongnya untuk memberikan penjelasan positif akan berbagai peristiwa.

2. Sejarah Perkembangan Kajian Optimisme

Teori mengenai optimisme beranjak dari teori pengendalian diri yang memperkenalkan dua konsep utama pertama learned hopelessness/pembelajaran ketidakberdayaan dan explanatory style/gaya penjelasan keduanya saling berhubungan Seligman. (2008:19). Pembelajaran ketidakberdayaan hingga gaya penjelasan yang muncul pertama kali dijelaskan oleh psychologist yang mempelajari pembelajaran hewan Seligman (Synder.et al .2002). Peneliti melumpuhkan seekor anjing dan memaparkannya pada serangkaian kejutan listrik yang bisa dihindari atau dihindarkan. Dua puluh empat jam kemudian, anjing itu ditempatkan dalam situasi di mana sengatan listrik dapat diakhiri dengan respons sederhana. Namun, anjing itu tidak merespons, dan hanya duduk, dengan pasif menahan goncangan. Perilaku ini sangat kontras dengan anjing dalam kelompok kontrol, yang bereaksi keras terhadap guncangan dan dengan mudah belajar mematikannya. Penyelidik ini mengusulkan bahwa anjing telah belajar untuk menjadi tidak berdaya: Ketika awalnya terkena kejutan yang tidak terkendali, ia belajar bahwa tidak ada yang penting bagi mereka Maier & Seligman (Synder.et al .2002).

Keterkaitan dengan manusia baru di pelajari mengenai ketidakberdayaan manusia dimana diproduksi di laboratorium sama seperti pada hewan, dengan memaparkan mereka pada peristiwa yang tak terkendali dan mengamati efeknya.

Masalah yang tidak dapat diselesaikan biasanya diganti dengan kejutan listrik yang tidak dapat dikendalikan, tetapi aspek-aspek kritis dari fenomena tersebut tetap ada: Mengikuti ketidakcocokan-keteraturan, orang menunjukkan berbagai defisit Mikulincer (Synder.et al .2002). Adapun kesamaan lebih lanjut antara

(4)

fenomena hewan dan apa yang diproduksi di laboratorium manusia. Peristiwa buruk yang tak terkendali membuat kecemasan dan depresi lebih mungkin terjadi Secara umum, orang berbeda dari hewan dalam kecanggihan kita dalam memberi makna pada peristiwa. Seperti ditangkap oleh model ketidakberdayaan yang dipelajari, hewan tentu saja dapat belajar bahwa mereka memiliki atau tidak memiliki kendali atas peristiwa. Tetapi orang-orang melakukan jauh lebih banyak sehubungan dengan pembuatan makna. Orang-orang dapat menafsirkan peristiwa dengan cara yang jauh melampaui kendali literal mereka Synder,et al. (2002).

Temuan teori ketidakberdayaaan yang telah di sampaikan di rumuskan kembali dalam upaya menyelesaikan permasalahan-permasalahan Synder,et al.

(2002) merumuskan kembali model ketidakberdayaan yang diterapkan pada orang-orang dengan menggabungkannya dengan teori atribusi Kelley (Synder,et al. 2002) menjelaskan temuan yang bertentangan dengan mengusulkan bahwa orang bertanya pada diri sendiri mengapa peristiwa (buruk) yang tak terkendali terjadi. Sifat jawaban orang tersebut kemudian menetapkan parameter untuk ketidakberdayaan berikutnya. Jika atribusi kausal stabil ("itu akan bertahan selamanya"), maka ketidakberdayaan yang diinduksi adalah tahan lama; jika tidak stabil, maka bersifat sementara. Jika atribusi kausal bersifat global ("itu akan merusak segalanya"), maka ketidakberdayaan berikutnya termanifestasi dalam berbagai situasi; jika khusus, maka itu juga dibatasi. Akhirnya, jika atribusi kausal adalah internal ("itu semua salahku"), harga diri seseorang turun setelah tidak terkendali; jika eksternal, harga diri dibiarkan utuh.

Situasi itu sendiri memberikan penjelasan yang dibuat oleh orang tersebut, dan literatur psikologi sosial yang luas tentang perhatian kausal mendokumentasikan banyak pengaruh situasional pada prosesnya (Synder,et al .2002). Dalam kasus lain, orang tersebut bergantung pada cara kebiasaannya untuk memahami peristiwa yang terjadi, apa yang disebut gaya penjelas seseorang . Orang-orang cenderung menawarkan penjelasan serupa untuk peristiwa buruk atau baik yang berbeda. Oleh karena itu, gaya penjelasan merupakan pengaruh distal, walaupun penting, pada ketidakberdayaan dan kegagalan adaptasi yang melibatkan ketidakberdayaan. Gaya penjelasan yang

(5)

ditandai dengan penjelasan internal, stabil, dan global untuk peristiwa buruk telah digambarkan sebagai pesimistis , dan gaya yang berlawanan, ditandai dengan penjelasan eksternal, tidak berubah, dan spesifik untuk peristiwa buruk, telah digambarkan sebagai optimis oleh Buchanan (Synder,et al .2002).

Menurut reformulasi atribusi, gaya penjelasan bukan merupakan penyebab masalah melainkan faktor risiko disposisi. Mengingat kejadian yang tidak dapat dikendalikan dan kurangnya permintaan situasi yang jelas pada atribusi yang disodorkan untuk tidak terkendali, gaya penjelasan harus memengaruhi bagaimana orang tersebut merespons. Ketidakberdayaan akan cenderung tahan lama atau sementara, menyebar luas atau terbatas, merusak harga diri atau tidak, semua sesuai dengan gaya penjelas individu. Gaya penjelasan yang optimis menghentikan ketidakberdayaan, sedangkan gaya penjelasan pesimis menyebar luaskan ketidakberdayaan Seligman. (2008 : 19).

Selama bertahun-tahun, sejumlah besar penelitian dan teori telah memusatkan perhatian pada cara-cara orang untuk menghadapi kesulitan di dalam kehidupan sehari-hari. Sejumlah kesulitan penelitian tersebut menunjukan bahwa optimisme memiliki implikasi bagi cara-cara orang menghadapi berbagai tekanan hidup.

kemungkinan di peroleh dari pertimbangan model teoritis mengenai behavior self- regulation. Teori ini berasumsi bahwa harapan akan hasil yang sukses menyebabkan orang memperbarui usaha mereka untuk mencapai tujuan jika dan ketika terjadi gangguan pada aktifitas yang mengarah pada tujuannya.

Pendekatan ilmiah mengenai optimisme berdasarkan pada ekspektasi terhadap masa yang akan datang Carver & Scheier, (2005). Teori optimisme didasarkan pada teori motivasi mengenai expectancy-value Carver & Scheier, (2009). Asumsi dasar dari teori expectancy-value adalah bahwa tingkah laku diorganisir sesuai dengan pencapaian tujuan Carver & Scheier, (2005). Dua elemen utamanya tujuan (goal) dan ekspektasi. Tujuan adalah tindakan atau nilai yang individu liat sebagai sesuatu yang di inginkan (desirable) atau tidak di inginkan (undesirable). Individu akan mencoba mencocokan perilaku, mencocokan dengan diri mereka sendiri terhadap apa yang mereka inginkan, dan mereka akan mencoba menghindari yang tidak mereka inginkan. Tanpa memiliki

(6)

suatu tujuan yang berarti, individu tidak memiliki alasan untuk bertindak Carver

& Scheier, (2005). Konsep utama lainnya adalah expectancies yaitu perasaan percaya diri atau ragu-ragu mengenai kemampuan meraih tujuan. Ketika individu ragu bahwa tujuan bisa di capai, usaha dalam mencapai tujuan tersebut dapat menurun bahkan sebelum usaha itu dimulai Carver & Scheier, (2009).

3. Dimensi Optimisme

Berdasarkan literatur adapun dimensi optimisme yaitu : Permanen, Pervasif, personal Seligman. (2008 : 59).

a. Permanensi, orang-orang yang menyerah dengan mudah mempercayai penyebab-penyebab dari banyaknya kejadian buruk yang terjadi pada mereka.

Kejadian-kejadian buruk itu akan tetap berlangsung, akan selalu ada mempengaruhi kehidupan mereka. Orang-orang yang melawan ketidakberdayaan percaya bahwa penyebab-penyebab dari banyak kejadian buruk hanya bersifat sementara.

Tabel 2.1

Gaya penjelasan optimisme dan pesimisme dalam mempercayai kejadian buruk

(Seligman. 2008 : 60)

Permanensi (Pesimisme) Sementara (Optimisme)

“Saya tidak berguna” “Saya sangat lelah”

“Diet tidak akan pernah berhasil” “Diet tidak akan berguna jika anda makan telalu banyak”

“Anda selalu marah” “Anda marah ketika saya tidak memberikan ruangan ku”

“Atasanku brengsek” “Suasana hati atasanku sedang buruk”

“Anda tidak pernahbicara padaku” “Anda belum bicara padaku belakangan ini”

(7)

Jika individu memikirkan hal-hal buruk dengan kata selalu dan tidak pernah dan karakter tetap yang anda punya secara permanensi, individu punya gaya pesimisme. Jika individu berpikir dengan kata kadang-kadang dan belakangan ini, jika individu menggunakan sifat dan menyalahkan kejadian-kejadian buruk pada kondisi-kondisi sementara, individu punya gaya optimisme.

Gaya optimis dari penjelasan kejadian-kejadian baik merupakan lawan dari gaya optimis dari penjelasan kejadian-kejadian buruk. Orang-orang yang percaya bahwa kejadian-kejadian baik mempunyai penyebab pemanensi bersifat lebih optimis dari pada orang-orang yang percaya bahwa mereka mempunyai penyebab yang sementara.

Tabel 2.2

Gaya penjelasan optimisme dan pesimisme dalam mempercayai kejadian baik

(Seligman. 2008 : 62)

Sementara (pesimisme) Permanensi (optimisme)

“ini adalah hari keberuntunganku” “Saya selalu beruntung”

“Saya berusaha keras” “Saya berbakat”

“Lawanku kelelahan” “Lawanku tidak bagus”

b. Pervasivenes, Spesifik lawan Universal

Pemanensi berbicara tentang waktu. Pervasivenes berbicara tentang ruang.

Sebagian orang menyimpan permasalahan nya dengan rapih dalam sebuah kotak dan menjalani kehidupan, sedangkan orang lain menderita atas segala sesuatu. Mereka seperti tertimpa bencana besar. Jika satu hal dalam hidupnya hancur, seluruh kehidupan nya kacau. Hal itu terjadi pada orang-orang yang membuat penjelasan-penjelasan universal untuk kegagalan mereka dan menyerah pada segala hal saat satu kegagalan menyerah pada satu daerah.

Orang yang membuat penjelasan-penjelasan yang spesifik yang mungkin terjadi, kapan mereka menjadi orang yang tak berdaya di dalam hidup mereka kapan mereka masih kuat pada bagian kehidupan yang lain.

(8)

Tabel 2.3

Penjelasan universal dan spesifik dari kejadian-kejadian buruk (Seligman. 2008 : 64)

Universal (Pesimis) Spesifik (Optimis)

“Semua guru itu tidak adil” “Profesor seligman itu tidak adil”

“Saya menjijikan” “Saya jijik padanya”

“Buku-buku tidaklah berguna” “Saya jijik padanya”

Ada tiga prediksi untuk mengetahui siapa yang menyerah dan siapa yang tidak yang pertama adalah bahwa dimensi parmanensi menentukan berapa lama seseorang akan menyerah. Penjelasan-penjelasan permanensi untuk kejadian- kejadian buruk menciptakan ketidakberdayaan yang bertahan lama dan penjelasan-penjelasan sementara menciptakan kegembiraan. Prediksi kedua adalah tentang penyerapan. Penjelasan-penjelasan universal menciptakan ketidakberdayaan pada berbagai situasi dan penjelasan-penjelasan yang spesifik hanya menciptakan ketidakberdayaan pada daerah yang tertimpa masalah saja.

Gaya penjelasan optimism untuk kejadian-kejadian yang baik bertentangan dengan gaya penjelasan optimis untu kejadian-kejadian buruk. Orang yang opimis percaya bahwa kejadian-kejadian buruk memiliki penyebab-penyebab yang spesifik, sedangkan kejadian-kejadian baik akan memperbaiki segala sesuatu yang di kerjakan; orang pesimis percaya bahwa kejadian-kejadian buruk memiliki penyebab-penyebab yang universal dan kejadian-kejadian baik di sebabkan oleh faktor-faktor yang spesifik.

Tabel 2.4

Gaya penjelasan universal dan spesifik dari kejadian-kejadian baik (Seligman. 2008 : 65)

Spesifik (pesimis) Universal (optimis)

“Saya pintar dalam matematika” “Saya pintar”

“Pialang sahamku mengetahui persediaan minyak”

“Pialang sahamku mengetahui Wall Street”

“Saya menarik baginya” “Saya menarik”

(9)

c. Personal, Internal Lawan Ekternal

Saat hal buruk terjadi, kita bisa menyalahkan diri kita sendiri (internal) atau menyalahkan orang lain atau keadaan (eksternal). Orang-orang yang menyalahkan dirinya sendiri saat mereka gagal membuat rasa penghargaan terhadap diri mereka sendiri menjadi rendah. Mereka pikir mereka tidak berguna, tidak mempunyai kemampuan, dan tidak di cintai. Orang-orang yang menyalahkan kejadian-kejadian eksternal tidak kehilangan rasa penghargaan terhadap dirinya sendiri saat kejadian-kejadian buruk menimpa mereka.

Tabel 2.5

Gaya penjelasan internal dan eksternal dari kejadian buruk (Seligman. 2008 : 68)

Internal ( penghargaan diri yang rendah)

Eksternal (Penghargaan diri yang tinggi)

“Saya bodoh” “Anda bodoh”

“Saya tidak mempunyai bakat bermain poker”

“Saya tidak beruntung bermain poker”

“Saya tidak aman” “Saya tumbuh dalam kemiskinan”

Ketiga gaya penjelasan, personalisasi hal yang paling mudah di pahami, di tiru serta, mudah untuk di tingkatkan. Personalisasi hanya mengengendalikan bagaimana perasaanmu terhadap dirimu sendiri. hal itu bisa di praktekan untuk membicarakan permasalahan individu dalam cara ekternal. Akan mudah di lakukan dengan pura-pura menyalahkan permasalahan mu terhadap orang lain.

Dari uraian di atas dapat di ketahui mengenai tiga aspek utama optimisme Individu meyakini bahwa permasalahan yang dia hadapi bersifat sementara, individu memiliki perspektif khusus menanggapi suatu permasalahan yang di anggap gagal dan tetap memaksimalakan hal-hal yang dapat di tingkatkan, terakhir individu dapat mengidentifikasi permasalahhan nya muncul dari luar atau dalam diri.

(10)

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Optimisme

Peterson & Tracy. (2002) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi optimisme.

a. Genetika

Gaya penjelasan dipengaruhi oleh genetika. Gen mungkin secara tidak langsung bertanggung jawab atas kecocokan gaya penjelas di antara kembar monozigot. Sebagai contoh, gen mempengaruhi atribut seperti kecerdasan dan daya tarik fisik, yang pada gilirannya menyebabkan hasil yang lebih positif (dan lebih sedikit negatif) di lingkungan, yang pada gilirannya dapat mendorong gaya penjelasan yang lebih optimistik.

b. Orang tua

Para peneliti telah mengeksplorasi hubungan antara gaya penjelasan orang tua dan anaknya. peneliti berasumsi bahwa gaya penjelasan anak-anak dapat dipengaruhi oleh orang tua mereka melalui pemodelan sederhana. Anak-anak kemungkinan besar meniru orang-orang yang mereka anggap kuat dan kompeten, dan kebanyakan orang tua. Anak-anak terbiasa dengan cara di mana orang tua mereka menafsirkan dunia, dan oleh karena itu mereka cenderung untuk menafsirkan lingkungan mereka dengan cara yang sama. Jika, misalnya, anak-anak berulang kali mendengar orang tua mereka memberikan penjelasan internal, stabil, dan global untuk peristiwa negatif, mereka cenderung mengadopsi interpretasi pesimistis ini untuk diri mereka sendiri.

c. Guru

Ketika guru memberikan umpan balik tentang kinerja anak-anak, komentar mereka dapat memengaruhi atribusi anak-anak tentang keberhasilan dan kegagalan mereka di kelas. Berdasarkan temuan Mueller (Peterson & Tracy.

2002) menunjukkan bahwa bahkan pujian dapat merugikan anak-anak ketika difokuskan pada suatu sifat yang dianggap telah diperbaiki. Dalam penelitian mereka, anak-anak yang dipuji karena kecerdasan mereka menunjukkan lebih banyak karakteristik ketidakberdayaan dalam menanggapi kesulitan atau kegagalan daripada anak-anak yang dipuji karena upaya mereka. Apakah memberikan umpan balik positif atau negatif, penjelasan kebiasaan guru untuk

(11)

kinerja anak-anak dapat berpengaruh dan mungkin memiliki dampak penting pada pengembangan gaya penjelas mereka Dweck (Peterson & Tracy. 2002).

d. Media

Bahkan ketika menonton televisi menghasilkan perasaan yang sangat positif, ketidakberdayaan dapat terjadi ketika pemirsa belajar untuk mengharapkan hasil yang tidak terkait dengan perilaku Hearn (Peterson & Tracy. 2002). Meskipun orang-orang dari segala usia menonton televisi, kaum muda mungkin sangat rentan terhadap pengaruhnya. Menurut sebuah penelitian baru-baru ini, anak-anak di bawah usia 11 tahun menonton rata-rata 22 jam televisi per minggu Nielsen (Peterson & Tracy. 2002). Menjadi perhatian khusus adalah paparan anak-anak terhadap adegan kekerasan yang disiarkan televisi. Dari perspektif gaya penjelas, masalah ini bukanlah kekerasan yang disiarkan televisi tetapi bagaimana penyebabnya digambarkan.

e. Trauma

Trauma juga memengaruhi gaya penjelas anak-anak. Peterson & Tracy. (2002) menemukan mahasiswa yang dilaporkan mengalami trauma yang signifikan (misalnya, kematian orang tua, pemerkosaan, inses) di beberapa titik di masa kecil atau remaja mereka saat ini memiliki gaya penjelas yang lebih pesimistis daripada siswa yang tidak pernah mengalami trauma. Lebih khusus ditambahkan Gold dalam Peterson & Tracy. (2002) menemukan bahwa wanita yang telah menjadi korban seksual selama masa kanak-kanak dan remaja mereka lebih cenderung memiliki gaya penjelas yang pesimistis daripada wanita yang tidak pernah menjadi korban seksual. Selanjunya bahkan perceraian orang tua, yang umum dalam masyarakat modern kita, menempatkan anak-anak pada risiko yang lebih besar untuk mengembangkan gaya penjelas pesimistis Seligman dalam Peterson

& Tracy. (2002).

Adapun beberapa litelatur lain mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi optimisme sebagai berikut.

(12)

a. Pengalaman

Pengalaman yang dapat turut memengaruhi individu tidak hanya pengalaman pribadinya, melainkan juga pengalaman orang- orang di sekitar individu juga turut memengaruhi individu Thomason & Thames, (2000).

b. Keyakinan Diri

Ketika seseorang memiliki keyakinan diri yang tinggi, mereka agaknya percaya bahwa usaha yang mereka lakukan atau kemampuan diri yang mereka miliki akan dapat menentukan hasil yang di dapatkan Scheier & Carver, (2003). Seseorang yang pesimis dapat merubah menjadi optimis karena mereka percaya bahwa mereka memiliki kemampuan atau talenta yang besar, karena mereka pekerja keras, diberkahi keberuntungan, memiliki teman dimana saja mereka membutuhkan atau kombinasi dari beberapa faktor lain yang membuat mereka mendapatkan hasil yang baik Murpy dalam Scheier & Carver, (2003).

c. Self esteem

Scheier et al. (1994) menemukan bahwa individu dengan self esteem tinggi lebih optimis dari pada individu dengan self esteem yang rendah.

d. Dukungan Sosial

Penelitian yang di lakukan oleh Marcelly (Hikmanurina, 2012) menemukan bahwa adanya hubungan antara dukungan sosial dan optimisme pada penderita penyakit kanker. Adapun dukungan sosial yang dimagsud disini dukungan sosial keluarga.

5. Karakteristik Individu yang Memiliki Kemampuan Optimisme

Seligman. (2008 : 5) mengatakan bahwa orang yang optimis percaya bahwa kegagalan hanyalah suatu kemunduran yang bersifat sementara dan penyebabnya pun terbatas, mereka juga peraya bahwa hal tersebut muncul bukan diakibatkan oleh faktor dari dalam dirinya, melainkan diakibatkan oleh faktor luar. Adapun karakteristik individu memiliki optimisme :

a. Seseorang yang memiliki optimisme tinggi memandang kemunduran dalam hidup sebagai suatu garis datar sementara dalam sebuah grafik. Memiliki pemikiran terbuka bahwa masa-masa sulit tidak berlangsung dalam waktu

(13)

yang lama, namun hanya bersifat sementara dan memiliki keyakinan bahwa situasi pasti akan kembali membaik. Pada dasarnya memandang kesulitan dalam suatu proses sebagai kesuksesan yang tertunda, bukan sebagai kekalahan yang bersifat menetap.

b. Seseorang yang memiliki optimisme tinggi cenderung memandang suatu kemalangan dalam hidup sebagai masalah yang situasional dan spesifik, bukan sebagai wujud petaka yang tidak dapat ditolak dan akan berlangsung dalam waktu lama.

c. Seseorang yang memiliki optimisme tinggi tidak akan beranggapan bahwa suatu kesalahan diakibatkan oleh dirinya sendiri.

6. Manfaat Optimisme

Seligman. (2008:20) mengemukakan optimisme bukanlah suatu panacea (tumbuhan obat), tapi optimisme dapat melindungi dari depresi, meningkatkan pencapaian seseorang, dan dapat memperbaiki kesehatan fisik. Selain itu optimis dalam jangka panjang juga bermanfaat bagi kesejahteraan dan kesehatan fisik dan mental, karena membuat individu lebih dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan sosial, mengurangi masalah-masalah psikologis dan lebih dapat menikmati kepuasan hidup serta merasa bahagia Scheier. et al (Kusuma, 2018). Hal tersebut ditambahkan Segerstrom. et al, (1998) berdasarkan risetnya menemukan tiga fungsi utama optimisme :

a. Mood, optimisme dapat mengurangi mood negative yang dapat merubah imun ketika stress.

b. Coping, dispositional optimism dapat menghindari penggunaan coping menghindar, pasif, dan menyerah, yang berhubungan dengan memberikannya status imun dan kesehatan.

c. Perilaku sehat, optimisme dapat meningkatkan fungsi adaptif pada perilaku sehat.

(14)

Dari penjelasan di atas dapat di tarik kesimpulan dimana optimisme memberikan dampak dan manfaat yang baik dalam diri seperti kesejahteraan fisik dan mental, hal tersebut akan mengurangi beban psikologi yang sedang dihadapi yang menyebabkan kebahagiaan tersendiri pada diri.

7. Pengukuran Optimisme

Life Orientation Test (LOT) Scheier & Carver, (1985) dan versi revisi (LOT- R) untuk mengukur optimisme disposisi Scheier, et al. (1994). Pengukuran yang disebut Life Orientation Test, atau LOT, untuk menilai perbedaan antara orang dalam optimisme dan pesimisme (Synder,et al .2002). Pengembangan pengukuran sekarang menggunakan formulir yang lebih singkat (enam item berkode), disebut Life Orientation Test-Revised, atau LOT-R oleh (Scheier,et al. 1994). LOT-R memiliki konsistensi internal yang baik dan relatif stabil seiring berjalannya waktu. Karena item yang luas tumpang tindih antara skala asli dan skala revisi, korelasi antara dua skala sangat tinggi (Scheier, et al. 1994). Baik LOT dan LOT- R menyediakan distribusi skor secara terus menerus.

Gaya penjelasan biasanya diukur dengan kuesioner laporan diri yang disebut AQS (Attribu-tional Style Questionnaire). Dalam ASQ, responden disajikan dengan peristiwa hipotetis yang melibatkan diri mereka sendiri dan kemudian diminta untuk memberikan "satu penyebab utama" dari setiap peristiwa jika itu terjadi oleh Peterson. et al dalam (Synder,et al .2002). Re-spondents kemudian menilai penyebab yang disediakan ini di sepanjang dimensi internalitas, stabilitas, dan globalitas. Peringkat digabungkan, memisahkan mereka untuk acara buruk dan untuk acara bagus. Gaya penjelasan berdasarkan kejadian buruk biasanya memiliki korelasi yang lebih kuat daripada gaya penjelasan berdasarkan kejadian bagus, meskipun korelasi biasanya berlawanan arah.

(15)

B. Optimisme di Kalangan Mahasiswa Tingkat Akhir

Mahasiswa adalah seseorang yang sedang dalam proses menimba ilmu ataupun belajar dan terdaftar sedang menjalani pendidikan pada salah satu bentuk perguruan tinggi yang terdiri dari akademik, politeknik, sekolah tinggi, institut dan universitas Hartaji, (2012:5). Seorang mahasiswa dalam perguruan tinggi dituntut untuk segera mungkin menyelesaikan masa studinya. Pada umumnya di akhir masa studi, seorang mahasiswa di beri tugas akhir atau di sebut skripsi.

Mahasiswa tingkat akhir adalah mahasiswa yang sedang dalam proses mengerjakan tugas akhir atau skripsi. Pada jenjang ini mahasiswa di tuntut harus memiliki cara pandang yang baik, jiwa, kepribadian serta mental yang sehat dan kuat. Hal ini sejalan dengan penelitian Kholidah, (2012:67) yang menyatakan bahwa selayaknya pula seorang mahasiswa mampu menguasai permasalahan sesulit apapun, mempunyai cara berpikir positif terhadap dirinya, orang lain, mampu mengatasi hambatan maupun tantangan yang di hadapi dan tentunya pantang menyerah pada keadaan yang ada.

Ragam fenomena yang muncul dikalangang mahasiswa tingkat akhir seperti seperti malas, motivasi rendah, mudah menyerah dan putus asa, sulit bertemu dengan dosen pembimbing, feed back yang kurang, tekanan dari keluarga, kesulitan mencari referensi, mengembangkan teori, perbedaan persepsi antar pembimbing, masalah kesehatan, stress, depresi, dan prokrastinasi. Kendala- kendala dalam menyusun skripsi membuat mahasiswa memandang skripsi sebagai hal yang berat dilakukan dan tidak menyenangkan.

Penelitian Lay, (1992:483) menjelaskan bahwa individu dengan optimisme rendah merupakan salah satu ciri dari prokrastinator. Hal tersebut disebabkan individu optimisme rendah lebih ragu-ragu terhadap masa depan dan cenderung melakukan prokrastinasi seperti perilaku menghindar, menyangkal, dan melarikan diri. Oleh karnanya individu yang memiliki optimisme tinggi menganggap penunda-nundaan sebagai suatu penyimpangan yang dapat diatasi dengan mudah melalui perubahan perilaku, pemikiran (kognitif), dan motivasi Prawitasari, (2012). Pendapat lain dalam penelitian Ningrum, (2011) mengemukakan bahwa mahasiswa yang optimisme dalam menyusun skripsi akan menghentikan segala

(16)

pemikiran negatif dan yakin dengan kemampuan yang dimiliki untuk dapat menyelesaikan skripsi.

Mahasiswa berada pada fase memasuki masa dewasa yang pada umumnya berada pada rentang usia 18-25 tahun, pada masa tersebut mahasiswa memiliki tanggung jawab terhadap masa perkembangannya, termasuk tanggung jawab terhadap kehidupannya untuk memasuki masa dewasa Hulukati & Moh. Rizki, (2018:1). Senada degan pendapat ahli Hurlock, (2012:246) menetapkan usia dewasa dini di mulai pada umu 18 tahun sampai kira-kira umur 40 tahun. Dalam psikologi perkembangan usia tersebut merupakan masa peralihan, yaitu individu berada di masa perkembangan remaja akhir dan menuju tahapan berikutnya masa perkembangan dewasa awal.

Pada tahap dewasa dini, individu mulai membentuk kemandirian dalam hal personal dan ekonomi. Melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi atau akademi, mengembangkan karir, serta membentuk hubungan sosial secara kelompok maupun yang mengarah pada perkawinan adalah tugas perkembangan yang menonjol pada tahap ini.

Menurut Keating dalam (Hendriati,2009) individu pada masa ini kemampuan berpikirnya telah memiliki kemampuan yang lebih baik dari anak dalam berfikir mengenai situasi secara hipotetis, memikirkan sesuatu yang belum terjadi tetapi akan terjadi. Sejalan dengan pendapat Clarke. (1987) mengemukakan bahwa perubahan kognitif yang terjadi pada mahasiswa yaitu emosional dari orang tua dalam rangka menjalankan peran sosialnya yang baru sebagai orang dewasa.

Sebagaimana mengacu dari tugas perkembangan mahasiswa termasuk dalam kategori otonom, yakni memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan, cenderung bersifat realistic dan objectif terhadap kemauan orang lain, ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal, respek terhadap kemandirian orang lain, dll.

Karakteristik individu yang memiliki optimisme menurut Zimbardo & Boyd (Peterson, 2004:577) dalam penelitian nya menunjukan orang yang tinggi dalam karakter ini semua kegiatan yang dilakukan menyiratkan orientasi ke masa depan.

Selain itu ketika mengalami kegagalan cenderung menyikapinya dengan respon

(17)

yang aktif, tidak putus asa, merencanakan suatu tindakan atau mencari pertolongan dan nasihat, orang yang optimis akan menganggap kegagalan disebabkan oleh sesuatu hal yang dapat dirubah sehingga mereka dapat berhasil dimasa-masa yang akan datang Seligman (Kurniawan, et al. 2014).

Penelitian Singh & Ajeya, (2013:228) yang menyimpulkan bahwa meningkatkan optimisme di kalangan mahasiswa dapat membantu mereka dalam mengurangi kecemasan dengan demikian meningkatkan kinerja akademis mereka, karena optimisme adalah hipotesis untuk mengurangi kecemasan dan meningkatkan prestasi akademik.

C. Optimisme dalam Perspektif Bimbingan dan Konseling

Pelayanan Bimbingan dan konseling (Bk) di perguruan tinggi negeri sangat di butuhkan hal ini melihat dari banyaknya problema yang di hadapi oleh mahasiswa dalam perkembangan studinya, dimana belajar di perguruan tinggi memiliki karakteristik yang berbeda dengan belajar di sekolah lanjutan. Karakteristik dari studi di peguruan tinggi adalah kemandirian, baik dalam pelaksanaan kegiatan belajar dan pemilihan program studi maupun dalam pegelolaan dirinya sebagai mahasiswa. Hal ini sependapat dengan Nurihsan dalam (Zamroni, 2018) bahwa penerapan konseling pada perguruan tinggi hendaknya menyadari dan mempertimbangkan karakteristik khusus perkembangan mahasiswa dan tuntutan akademik yang menekankan pada kemandirian dalam mengerjakan berbagai tugas perkuliahan.

Selain itu dalam menentukan sasaran layanan bimbingan dan konseling agar tepat guna dalam pelaksanaan nya, maka layanan bimbingan dan konseling perlu dilaksanakan secara terencana dan berbasis pada data serta karakterisktik kebutuhan konseli. Sebagaimana yang terdapat pada Permendikbud nomber 111 tahun 2014 Pasal 1, menjelaskan mengenai bimbingan dan konseling adalah upaya sistemastis, objektif, logis, dan berkelanjutan secara terprogram yang dilakukan oleh konselor dan guru bimbingan dan konseling untuk memfasilitasi perkembangan peserta didik/konseli untuk mencapai kemandirian dalam kehidupannya.

(18)

Mahasiswa berada pada fase memasuki masa dewasa yang pada umumnya berada pada rentang usia 18-25 tahun, pada masa tersebut mahasiswa memiliki tanggung jawab terhadap masa perkembangannya, termasuk tanggung jawab terhadap kehidupannya untuk memasuki masa dewasa Hulukati & Moh. Rizki, (2018:1). Sebagaimana mengacu dari tugas perkembangan mahasiswa termasuk dalam kategori otonom, yakni memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan, cenderung bersifat realistic dan objectif terhadap kemauan orang lain, ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal, respek terhadap kemandirian orang lain, dll. Individu pada masa ini kemampuan berpikirnya telah memiliki kemampuan yang lebih baik dari anak dalam berfikir mengenai situasi secara hipotetis, memikirkan sesuatu yang belum terjadi tetapi akan terjadi Keating dalam (Hendriati, 2009). Oleh karnanya perlu ada pengembangan berupa pola keyakinan positif guna pada mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyelesaikan skripsi salah satunya dengan memiliki optimisme.

Di lihat dari sudut pandang beberapa ahli mengenai optimisme. Menurut pendapat Scheier, et al. (1985) berpendapat optimisme sikap harapan akan adanya kemunculan hasil yang baik dalam kehidupan. Oleh karna nya optimisme mempercayai bahwa kejadian di masa depan akan memiliki hasil yang positif.

konsep lebih luas mengenai optimisme menurut Seligman (2006) Optimisme dapat dilihat dari kebiasaan explanatory style atau gaya penjelasan berdasarkan kejadian atau pengalaman yang dialami. Pengalaman yang di alami terbentuk dari cara menerangkan kepada dirinya sendiri tentang alasan mengapa peristiwa itu terjadi. Dapat di maknai optimisme sebagai cara seseorang yang sudah terbiasa menerangkan terhadap diri tentang sebab atau alasan pada suatu peristiwa yang terjadi. Peristiwa yang dimagsud bisa bersifat baik ataupun buruk.

Optimisme dalam diri individu dapat di pelajari atau di kembangkan dengan tujuan mampu memiliki konsep diri lebih positif dan menumbuhkan potensi yang dimiliki. Awal munculnya perubahan pada individu berfokus pada pikiran. Oleh karna itu perlu adanya upaya merestruktur kongnitif untuk memperbaiki proses berpikir dalam individu guna menjadi jalan munculnya optimis dalam menginterpretasikan suatu situasi. Reskruktur kongnitif menggunakan teknik

(19)

perubahan keyakinan irrasional menjadi keyakinan rasional berdasarkan teori Ellis (Seligman, 2006) yang menyatakan bahwa keyakinan akan mempengaruhi perasaan dan perasaan mempengaruhi perilaku seseorang yang akan menghasilkan konsekuensi tertentu.

Explanatory style atau gaya penjelasan merupakan inti dari berpikir optimis, sehingga perubahan Explanatory style dilakukan dengan memberikan latihan berpikir optimis model ABCDE. Berpikir optimis Seligman, (2006) adalah cara pandang individu yang memiliki harapan bahwa peristiwa buruk yang terjadi dalam kehidupan bersifat sementara dan meyakini kemampuannya untuk mengatasi.

Model ABCDE adalah cara yang dilakukan untuk meningkatkan optimisme yang dikembangakan dari model ABCDE, yang sebelumnya telah dikembangkan oleh Albert Ellis dan Aaron Back (Seligman, 2006). Model ABCDE yang di magsud sebagai berikut.

a. Pada tahap adversity, konseli mengungkapkan secara spesifik kesulitan yang dialaminya. Pada tahap ini konselor membantu konseli mengungkapkan kesulitan yang dialaminya.

b. Pada tahap belief, konselor membantu konseli dalam memahami keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap kegagalan yang di alaminya. Keyakinan seseorang terhadap sebuah peristiwa terbagi menjadi dua, yakni keyakinan yang rasional (rational belief)dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau sistem keyakinan yang tepat, masuk akal, dan bijaksana. Sedangkan Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan atau sistem berpikir seseorang yang salah.

c. Pada tahap consequences, konselor membantu konseli mengidentifikasi keyakinan dengan membuat daftar semua emosi yang dialami dan reaksi yang muncul karena belief yang diyakini oleh konseli.

d. Pada tahap dispute, konselor membantu konseli mengidentifikasi ketidaktepatan keyakinan yang dimiliki oleh konseli dan mengidentifikasi keyakinan yang lebih rasional atau lebih optimis mengenai kesulitan yang

(20)

dialami, kemudian memasukan alternatif keyakinan tersebut ke perspektif kepercayaan.

e. Pada tahap energy, konselor membantu konseli mengidentifikasi apa yang terjadi dengan suasana hati konseli, mengidentifikasi bagaimana perubahan perilaku pada konseli, dan mengidentifikasi solusi baru yang muncul.

Gambaran proses berpikir optimis dimulai ketika konseli mengalami suatu peristiwa (A) maka akan timbul pertanyaan mengapa peristiwa itu terjadi, saat itulah kedua dimensi keyakinan (B), bekerja dan menghasilkan emosi atau tindakan (C). teknik utamanya dengan belajar menggunakan sanggahan (D), yang di awali dengan melihat rangkaian ABC yang menyatakan bahwa emosi dan tindakan (C), muncul dari keyakinan (B) tentang kesulitan (A) yang menimpa.

Ketika dilakukan perubahan tanggapan berupa sanggahan (D) terhadap kesulitan (A) maka dapat mengatasi kemunduran yang terjadi.

Secara umum , model ABCDE Seligman merupakan usaha yang dilakukan dengan terencana dan dapat diselenggarakan dalam waktu singkat secara sistematis guna mempelajari langkah atau strategi untuk mendapatkan pemikiran, keyakinan serta harapan bahwa peristiwa buruk yang terjadi dalam kehidupan hanya bersifat sementara dan meyakini kemampuannya untuk mengatasi kesulitan.

Hasil berpikir optimis bertujuan untuk memunculkan keterampilan baru berupa rekontruksi kongnitif yang erat kaitan nya dengan Explanatory style atau gaya penjelasan. Seligman, (2006) mengungkapkan bahwa cara berpikir optimis atau pesimis yang digunakan individu akan mempengaruhi hampir seluruh bidang kehidupan.

(21)

Tabel 2.6 Model ABCDE Adversity (A) / kesulitan

Belief (B) / Kepercayaan

Consequences (C) / Konsekuensi Disputation (D) / Penyanggahan Energization (E) / Penguatan

Model ABCDE dirancang sebagai suatu pengembangan dalam membantu individu mengarahkan kearah yang lebih postif, sehingga individu memiliki cara berpikir yang positif dan realistis dalam memandang suatu masalah, berpikir positif yang dimagsud adalah berusaha mencapai hal terbaik dari keadana terburuk. Hasil akhirnya diharapkan dapat memunculkan keterampilan baru berupa rekonstruksi kongnitif pengubahan irasional menjadi rasional yang erat kaitan nya dengan Explanatory style atau gaya penjelasan optimis.

Tabel 2.7

Contoh Pengaplikasian model ABCDE

Adversity (A) / kesulitan Dosen memarahiku saat sedang bimbingan proposal

Belief (B) / Kepercayaan Aku merasa bodoh dan aku merasa apa yang saya kerjakan selama ini sia-sia Consequences (C) / Konsekuensi Aku merasa sedih dan menghindari

untuk melanjukan pengerjakan proposal Disputation (D) / Penyanggahan Dosen memarahi ku saat sedang bimbingan, tapi saya bangga dengan pencapaian saya selama ini karena semua yang saya kerjakan hasil jerih payah sendiri.

(22)

Energization (E) / Penguatan Meskipun saya kecewa dengan apa yang saya kerjakan tetapi dapat memetik pembelajaran langsung dari kesalahan dan berusaha untuk memperbaikinya

Kemudian mintalah konseli untuk membaca uang keyakinan tersebut dan menyanggah dengan kata-katanya sendiri, serta menjelaskan bagaimanan cara kerja setiap bagian dari sanggahannya. Misalnya dalam contoh diatas yakinkan mengenai bagaimana dia bangga dengan pencapaian saya selama ini karena semua yang saya kerjakan hasil jerih payah sendiri.

Menyanggah keyakinan negatif adalah keahlian yang bisa di pelajari setiap orang. Oleh karnanya, dalam setiap aspek kehidupan menjadi lebih baik apabila seseorang dapat mengembangkan dan memiliki kemampuan untuk menyanggah keyakinan negatif yang menganggu dirinya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkannya. Jika keahlian optimisme dipelajari sejak dini, keahlian itu akan menjadi dasar.

Penelitian yang telah membuktikan efektivitas konseling model ABCDE Seligman, (2006) untuk mengembangkan optimism, sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa maka model ABCDE Seligman dapat dijadikan upaya preventif oleh konselor dalam menangani konseli dengan orientasi hidup pesimis, agar menjadi lebih optimis.

Rosma dalam (Munawaroh,et al. 2018) melakukan penelitian mengenai pengaruh pelatihan berpikir positif untuk menurunkan tingkat kecemasan pada mahasiswa tingkat akhir menunjukkan efektivitas model ABCDE Seligman dalam menurunkan tingkat kecemasan. Penelitian lainya di lingkungan pendidian yang dilakukan oleh Nissa, (2015) mengenai efektivitas konseling model ABCDE Seligman untuk meningkatkan optimisme peserta didik menunjukkan adanya peningkatan skor optimis yang signifikan terhadap subjek penelitian.

(23)

Berdasarkan beberapa penelitian diatas, mengenai penggunaan model layanan konseling yang dapat digunakan untuk mengembangkan optimisme dengan menggunakan model ABCDE Seligman dapat dijadikan upaya preventif ataupun kuratif terhadap mahasiswa yang memiliki orientasi hidup pesimis agar lebih optimis.

D. Penelitian yang Relevan

Menurut temuan Ningrum, (2011) yang dilakukan kepada 80 mahasiswa yang sedang menyusun skripsi sebagai sampel penelitian menunjukan koefisien optimisme 0,0944 serta koefisien coping stress 0,863 di simpulkan mahasiswa memiliki kecenderungan optimisme serta coping stress yang rendah. Penelitian lain yang tentang optimisme yang pernah di laksanakan di ruang lingkup pendidikan. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Singh & Mishra (2014, hlm.

1531) terhadap 220 remaja (Laki-laki= 80; Perempuan =140) di India, menunjukkan bahwa 28,18% (62 responden) tergolong dalam kategori sangat optimis, 34,09% (75 responden) tergolong optimis, 22,27% (49 responden) kategori netral, dan 5,00% (11 responden) termasuk dalam kategori pesimis.

Penelitian lain, Aisyah dalam (Wulandari, 2017) melakukan penelitian tentang optimisme di salah satu Pondok Pesantren Surakarta. Hasilnya menunjukkan bahwa 1 (0,9%) santri berkategori optimisme rendah, 11 (9,6%) subyek berkategori sedang, 76 subjek (66,1%) berkategori optimisme yang tinggi serta sebanyak 27 subjek (23,4%) yang memiliki optimisme yang sangat tinggi.

Selanjutnya, penelitian Nissa (2015, hlm. 5) terhadap siswa SMPN 15 Bandung Tahun Ajaran 2014/2015 menunjukkan dari 92 responden, sebanyak 3,26%

berada dalam kategori pesimis, 53,26% dalam kategori optimis, dan 4,34% berada dalam kategori sangat optimis.

Kemudian, hasil Survey mengenai optimism yang di lakukan oleh Rizki, (2013) terhadap 23 siswa secara acak tingkat SMA kelas 1, 2 ,dan 3 di SMA Negeri Pekalongan, ditemukan hasil bahwa sebanyak 14 Subjek (60,9%) mempunyai rasa optimism yang rendah ketika mengerjakan ujian.

(24)

Penelitian mengenai efektivitas konseling model ABCDE Seligman dalam mengembangkan optimisme mahasiswa, seperti berdasarkan penelitian Rosma dalam (Munawaroh, 2018) melakukan penelitian mengenai pengaruh pelatihan berpikir positif untuk menurunkan tingkat kecemasan pada mahasiswa tingkat akhir menunjukkan efektivitas model ABCDE Seligman dalam menurunkan tingkat kecemasan.Sejalan dengan temuan Nissa, (2015) mengenai efektivitas konseling model ABCDE Seligman untuk meningkatkan optimisme peserta didik yang di laksanakan di ruang lingkup jenjang pendidikan menunjukkan adanya peningkatan skor optimis yang signifikan terhadap subjek penelitian.

Rancangan yang digunakan pada model ini di kembangkan dari model konseling ABCDE yang sebelumnya dikembangkan oleh Albert Ellis dan Aaron Beck (Seligma, 2006). Secara umum, model ABCDE Seligman merupakan usaha yang dilakukan dengan terencana dan dapat diselenggarakan dalam waktu singkat secara sistematis guna mempelajari langkah atau strategi untuk mendapatkan pemikiran, keyakinan serta harapan bahwa peristiwa buruk yang terjadi dalam kehidupan hanya bersifat sementara dan meyakini kemampuannya untuk mengatasi kesulitan.

Optimisme memprediksi banyak hasil yang diinginkan: pencapaian dalam segala bidang (akademik, atletik, militer, politik, dan kejuruan); bebas dari kecemasan dan depresi; hubungan sosial yang baik; dan kesejahteraan fisik Peterson, (2004:576). Optimisme yang lebih spesifik mencakup penyelesaian masalah aktif dan perhatian pada sumber informasi yang relevan dengan masalah Aspinwall & Brunhart dalam (Peterson, 2004:577). Pemikiran masa depan dan orientasi masa depan dikaitkan dengan kesadaran, ketekunan, dan kemampuan untuk menunda kepuasan Peterson, (2004:577). Orang yang tinggi dalam kekuatan karakter ini semua kegiatan menyiratkan orientasi ke masa depan Zimbardo (Peterson, 2004:577).

Orang dengan gaya penjelas yang optimis melebih-lebihkan kecenderungan luas individu untuk melihat diri mereka di bawah rata-rata untuk kejadian yang mengerikan kegagalan dan patah hati, dan sebagainya Peterson, (2004:578). Bias ini bisa menjadi masalah ketika kenyataan penting dan harapan membawa kita

(25)

untuk mengabaikan tindakan pencegahan atau perbaikan. Kabar baiknya adalah bahwa jika orang mengakui kemungkinan risiko, semakin optimis di antara mereka mengambil langkah-langkah mengatasi yang paling tepat Peterson, (2004:578).

Gambar

Tabel 2.6  Model ABCDE  Adversity (A) / kesulitan

Referensi

Dokumen terkait

Keberadaan bakteri Listeria monocytogenes di dalam susu segar tidak memperlihatkanpe- rubahan fisik baik dari Berat Jenis, kandungan asam laktat, warna, bau dan konsistensi, tetapi

Atas dasar dari uraian tersebut di atas maka sebagai penentuan untuk dijadikan objek penelitian dan dipilihnya judul skrispi yaitu: “Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja

Bagaimana menerapkan aplikasi penyandian data di dalam database MySQL menggunakan metode vernam cipher dan gronsfeld cipher di

Sdr/i dalam Kristus, bagi saya & sebagian besar jemaat, pengumpulan dana yang dimulai minggu ini (3 April 2016) adalah yang kedua kali.. Saya masih ingat sekitar 10 tahun lalu,

Pujian terhadap orang kafir yang muncul dari sebagian kaum muslimin, tidak lain karena lemahnya iman dan kepribadian mereka, serta kaum muslimin lalai dari prinsip

Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh perceived ease to use dan subjective norm terhadap intention to use dengan perceived usefulness

Rekaman arsip merupakan teknik pengumpulan data baik data historis maupun data saat ini. Dalam penelitian ini dapat berupa data statsitik Kecamatan dalam Angka

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Marketing Communication berpengaruh positif dan signifikan terhadap Customer Satisfaction Go-Food (Studi Pada Mahasiswa Jurusan