• Tidak ada hasil yang ditemukan

Panduan Penerapan Program APU PPT Berbasis Risiko terkait Tindak Pidana Asal (TPA) Narkotika

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Panduan Penerapan Program APU PPT Berbasis Risiko terkait Tindak Pidana Asal (TPA) Narkotika"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Panduan Penerapan Program APU PPT Berbasis Risiko

terkait Tindak Pidana Asal (TPA) Narkotika

Grup Penanganan APU PPT Otoritas Jasa Keuangan

(2)

Indonesia tengah mengajukan keanggotaan Financial Action Task Force (FATF) sejak tahun 2017 dan akan menghadapi Mutual Evaluation Review (MER) pada tahapan on-site visit.

Dalam persiapannya, OJK telah menyelenggarakan mock-up interview sejak tahun 2019 s.d tahun 2021, terdapat concerns assessor agar OJK mempersiapkan respon OJK terkait dengan Tindak Pidana Asal (TPA) termasuk TPA Narkotika yang dapat menggunakan PJK sebagai sarana pencucian uang.

Berdasarkan Hasil Pengkinian Penilaian Risiko Nasional (National Risk Assessment/NRA) terhadap TPPU Tahun 2015 yang dilakukan di Tahun 2019 (NRA TPPU 2015 Updated) yang disusun oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) bersama Kementerian dan Lembaga terkait, diidentifikasi TPA berisiko tinggi adalah TP Narkotika, TP Korupsi, TP Perbankan, TP Kehutanan dan TP Pasar Modal yang merupakan tindak pidana domestik. Menindaklanjuti hal tersebut, Komite Nasional TPPU telah menyusun Strategi Nasional (STRANAS) dalam Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme Tahun 2019 yang menyatakan bahwa aksi prioritas untuk memitigasi risiko tersebut diantaranya adalah dengan menyusun Penilaian Risiko Sektoral (Sectoral Risk Assessment/SRA) sebagaimana rekomendasi FATF No. 1.1 bahwa ”Countries should identify and assess the ML/TF risks for the country”

atau “Negara harus mengidentifikasi dan menilai risiko TPPU/TPPT bagi negaranya”. Oleh karena itu, Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) telah menyusun Penilaian Risiko Sektoral (Sectoral Risk Assessment/SRA) Penanganan Perkara Pencucian Uang Hasil Tindak Pidana Narkotika (SRA TP Narkotika). Selanjutnya, pada Pengkinian Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2021 (NRA TPPU 2021), didapatkan pula bahwa TP Narkotika memiliki risiko Tinggi.

Pada SRA Tindak Pidana Narkotika telah ditetapkan 4 (empat) Points of Concern (PoC) yang dinilai tingkat risikonya, yaitu Jenis Narkotika, Peran Pelaku, Profil Pelaku dan Wilayah Geografis. Berdasarkan analisis faktor ancaman (threat), kerentanan (vulnerability), dan dampak (consequence) masing- masing PoC, diperoleh hasil sebagai berikut:

1. Shabu dan Heroin merupakan jenis narkotika yang berisiko tinggi menjadi kasus TPPU;

2. Distribusi merupakan peran pelaku yang paling berisiko tinggi menjadi kasus TPPU;

Latar Belakang

(3)

3. Wiraswasta, penggangguran, dan pegawai swasta merupakan profil yang berisiko tinggi menjadi pelaku TPPU-narkotika; dan

4. DKI Jakarta, Sumatera Utara, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Riau, dan Kalimantan Timur merupakan daerah (provinsi) yang paling berisiko terhadap TPPU-Narkotika.

Penilaian Risiko Sektoral TPA Narkotika ditujukan untuk mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi dan memitigasi risiko TPPU yang terdapat pada sektor narkotika, yang secara khusus bertujuan untuk peningkatan pemantauan transaksi keuangan terhadap nasabah dengan profil berisiko tinggi, mengidentifikasi jenis narkotika, jenis perbuatan pidana (peran pelaku) dalam TP Narkotika, profil pelaku TP Narkotika, serta wilayah atau provinsi terjadi TP Narkotika.

Pada panduan ini, akan dibahasupaya memitigasi risiko dimaksud melalui peningkatan penerapan program APU PPT berbasis risiko terkait TPA Narkotika, yang memuat:

1. Hasil penilaian risiko dan modus TPPU pada TP Narkotika berdasarkan SRA TP Narkotika;

2. Pemetaan ancaman TPPU terkait TP Narkotika pada kerangka internasional (foreign inward dan foreign outward risk) berdasarkan NRA Tahun 2015 Updated (Tahun 2019);

3. Indikator Risiko terkait Trade-based Money Laundering (TBML) berdasarkan publikasi dari FATF;

4. Contoh kasus terkait TP Narkotika dengan ancaman tertinggi berdasarkan SRA TP Narkotika; dan

5. Strategi mitigasi risiko yang dapat dilakukan oleh PJK.

(4)

Hasil Penilaian dan Modus terkait TP Narkotika

Berdasarkan Best Practice International-FATF Guidance, National Money Laundering and Terrorist Financing Risk Assessment, Februari 2013, klasifikasi risiko pada SRA ini dibagi menjadi tiga yaitu tinggi, menengah, dan rendah. Berikut adalah hasil penilaian risiko berdasarkan jenis TP Narkotika, perbuatan pidana atau peran pelaku, profil pelaku kejahatan, dan wilayah.

1. Hasil penilaian risiko berdasarkan jenis TP Narkotika

Terdapat 2 jenis narkotika yang paling berisiko tinggi menjadi kasus TPPU, yaitu Shabu dan Heroin. Pemetaan potensi TPPU Jenis TP Narkotika ialah sebagai berikut:

Gambar 1. Peta Risiko (Heatmap) Jenis Narkotika

Berdasarkan Peta Risiko di atas, narkotika jenis Shabu dan Heroin merupakan jenis narkotika yang berisiko tinggi sehingga paling berpotensi pada terjadinya kasus TPPU terkait narkotika. Narkotika jenis Kokain, Ekstasi, dan Ganja dinilai berisiko Sedang (Menengah), sementara Prekursor narkotika berisiko Rendah.

Narkotika jenis Shabu memiliki nilai yang paling tinggi, baik dalam segi ancaman (threat), kerentanan (vulnerability), dampak (dampak). Selain Shabu terdapat Heroin yang memiliki nilai ancaman yang rendah, mengingat bahwa kasus narkotika jenis Heroin termasuk jarang di Indonesia. Namun, Heroin berada pada level yang tinggi dari segi kerentanan dan

(5)

dampak karena adanya potensi dana dalam nominal besar dalam peredaran gelap heroin karena harganya yang tergolong tinggi sehingga memiliki kecenderungan untuk “dicuci”.

2. Hasil penilaian risiko berdasarkan jenis perbuatan pidana atau peran pelaku

Distribusi Narkotika berada pada level risiko tinggi dan merupakan jenis peran pelaku yang paling berisiko dibandingkan dengan jenis peran pelaku narkotika lainnya.

Sedangkan peran pelaku narkotika dalam rantai kultivasi, konsumsi dan produksi berada pada level risiko rendah.

Gambar 2. Peta Risiko (Heatmap) Peran Pelaku Narkotika

Berdasarkan Peta Risiko di atas menunjukkan bahwa Indonesia menghadapi masalah yang cukup serius terhadap distribusi narkotika karena Indonesia dijadikan sebagai pasar bagi jenis-jenis narkotika yang datang dari luar Indonesia.

3. Hasil penilaian risiko berdasarkan profil pelaku kejahatan

Jenis profil pelaku kejahatan, diketahui pihak yang memiliki risiko tinggi terhadap pencucian uang hasil TP Narkotika risiko tinggi meliputi: (1) Wiraswasta; (2) Pengangguran, dan (3) Pegawai Swasta sebagaimana grafik dibawah ini:

(6)

Gambar 3. Peta Risiko (Heatmap) Profil Pelaku Narkotika

Berdasarkan Peta Risiko di atas, perlu menjadi perhatian terhadap jenis profil yang berisiko tinggi menjadi TPPU-Narkotika. Hal tersebut dengan mewaspadai bahwa dalam TP Narkotika dan TPPU-Narkotika, para pelaku umumnya menggunakan banyak rekening, baik atas nama sendiri maupun atas nama pihak lain untuk menghindari tingginya nominal dan frekuensi transaksi pada satu rekening yang bertujuan untuk mengaburkan antara profil pemilik rekening dengan pola transaksi keuangan yang dilakukan.

4. Hasil penilaian risiko berdasarkan wilayah

Berdasarkan sebaran wilayah terjadinya pencucian uang hasil TP Narkotika diketahui bahwa wilayah berisiko tinggi adalah DKI Jakarta, Sumatera Utara, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Riau, dan Kalimantan Timur. Adapun pemetaan risikonya ialah sebagai berikut:

(7)

Gambar 4. Peta Risiko (Heatmap) wilayah

Peringkat risiko ini dipengaruhi oleh faktor jumlah kasus narkotika dan TPPU-narkotika yang cukup banyak di provinsi tersebut. Sementara di sisi lain kerentanan di provinsi tersebut cukup tinggi karena faktor kapasitas aparat penegak hukum, kecukupan personil, dan anggaran yang masih belum memadai, khususnya dalam penerapan ketentuan TPPU pada kasus-kasus narkotika.

5. Modus terkait TP Narkotika

BNN telah menyusun tipologi dan studi kasus terkini pada TPPU hasil tindak pidana narkotika sebagai berikut:

No. Jenis Modus Keterangan Modus

1. Pembukaan Rekening Penggunaan rekening dalam jumlah banyak, baik rekening atas nama sendiri atau atas nama orang lain.

Penggunaan identitas palsu dan dokumen pada saat pembukaan rekening atau pada saat berhubungan dengan Penyedia Jasa Keuangan (PJK).

2. Penggunaan Rekening Penggunaan transaksi tunai dalam jumlah kecil untuk menghindari pendeteksian oleh pihak yang berwenang. Ditemukan pula modus penggunaan mesin setor tunai (Cash Deposit Machine/CDM)

(8)

dengan jumlah dana tidak terlalu signifikan tetapi dengan frekuensi yang sangat tinggi

Penggunaan rekening atas nama orang lain dimana orang tersebut dinikahi oleh pelaku secara tidak sah (tidak terdaftar secara resmi).

3. Pembelian Aset Pembelian aset atas nama orang lain untuk menghindari pendeteksian oleh pihak yang berwenang.

4. Hawala System Penggunaan sistem hawala atau cucko smurfing dengan memanfaatkan kegiatan usaha pengiriman uang antar negara.

(9)

Pemetaan Ancaman TPPU terkait TP Narkotika pada Kerangka Internasional

Penilaian risiko dari Luar Negeri (foreign risk) juga menjadi salah satu cakupan pembahasan pada NRA Tahun 2015 Updated tersebut, dimana terdapat hasil penilaian terkait TPA Narkotika pada foreign inward risk dan foreign outward risk.

1. Foreign Inward Risk, merupakan pemetaan tingkat ancaman TPPU pada Foreign Predicate Crime (FPC), yaitu pencucian uang di Indonesia yang TPA-nya berasal dari Luar Negeri. Pemetaan potensi TPPU pada FPC salah satunya dilakukan dengan menganalisis potensi TPA LN sebagai sumber pencucian uang di Indonesia (FPC-TPA) dengan ancaman terbesar, dimana didapatkan bahwa TP Narkotika memiliki nilai ancaman Menengah, dilihat dari total dana IFTI yang paling besar diantara TPA lainnya. Modus FPC untuk TPA Narkotika:

a. Sindikat narkotika mentransfer hasil perdagangan gelap narkotika internasional ke Indonesia melalui anggota keluarga;

b. Penempatan hasil perdagangan gelap narkotika internasional dilakukan dengan membeli properti di Indonesia; dan

c. Pengiriman hasil perdagangan gelap narkotika ke Indonesia melalui jasa pengiriman uang illegal.

Gambar 5. Peta Risiko (Heatmap) FPC - TPA

(10)

2. Foreign Outward Risk, merupakan pemetaan tingkat ancaman TPPU pada Laundering Offshore (LO), yaitu pencucian uang yang dilakukan di Luar Negeri yang TPA-nya terjadi di Indonesia. Pemetaan potensi TPPU pada LO salah satunya dilakukan dengan menganalisis potensi TPA di Indonesia sebagai sumber pencucian uang di luar negeri (LO- TPA) dengan ancaman terbesar, dimana didapatkan bahwa TP Narkotika memiliki nilai ancaman Tinggi, dipengaruhi International Fund Transfer Instruction (IFTI)-out berindikasi narkotika dengan jumlah yang sangat banyak. Modus LO untuk TPA Narkotika adalah penempatan hasil jual beli narkotika ke luar negeri melalui pemalsuan dokumen ekspor impor.

Gambar 6. Peta Risiko (Heatmap) LO - TPA

(11)

Indikator Risiko terkait Trade-based Money Laundering (TBML)

1. Keterkaitan TBML dan TP Narkotika

Mengingat bahwa berdasarkan hasil SRA TP Korupsi didapatkan bahwa rantai distribusi narkotika merupakan peran pelaku narkotika berisiko tinggi, maka perlu diperhatikan bahwa TP Narkotika dapat berupa kejahatan transnasional dimana para pelaku kejahatan melakukan ekspor ataupun impor barang tertentu yang seolah-olah legal, namun dengan underlying narkotika. Oleh karena itu, pemahaman PJK terhadap trade-based money laundering (TBML) menjadi salah satu concern dalam pelaksanaan mitigasi risiko.

Berdasarkan Trade Based Money Laundering Trends and Development yang disusun oleh FATF – Egmont Group tahun 2020 diketahui bahwa perdagangan dalam bentuk kompleks dan rumit yang mencerminkan interconnected supply chain di seluruh dunia seringkali dieksploitasi oleh jaringan Organised Criminal Groups (OCGs), Professional Money Launderers (PMLs), dan Terrorist Financing (TF) untuk memfasilitasi berbagai jenis aliran uang, termasuk hasil kejahatan yang berasal dari perdagangan narkotika. Berkaitan dengan hal tersebut, beberapa negara telah memberikan concern terhadap TBML terkait dengan perdagangan narkotika, diantaranya:

a. Pada tahun 2018, Amerika Serikat mengeluarkan National Illicit Finance Strategy dan melakukan update terhadap NRA TPPU, yang mencatat bahwa TBML menjadi key method dalam pencucian uang yang terkait dengan perdagangan narkotika dan kartel.

Selain itu, di-highlight pula bahwa penggunaan TBML oleh PML menyebabkan pemutusan hubungan antara TPA Asal dengan TPPU, sehingga sulit untuk mengaitkan pengedar narkotika dengan aktivitas TPPU.

b. Pada tahun 2016, Prancis, Belgia, dan Belanda meluncurkan multi-agensi dengan fokus pada pencucian uang hasil penyelundupan narkotika. Para pengedar menggunakan beberapa layanan jaringan PML dengan TBML sebagai salah satu teknik yang digunakan. Underground-banker dari Belanda menggunakan bisnis ekspor impor untuk perdagangan makanan dengan Afrika Utara. Perusahaan di Afrika Utara diarahkan untuk membahas invoice ke rekening bank yang dikendalikan oleh pengedar narkotika, untuk membayar ekspor bahan makanan. Di akhir penyidikan

(12)

tahun 2019, vonis TPPU dan perdagangan narkotika diturunkan, termasuk penyitaan aset senilai €4,8 juta dan lebih dari €7 juta uang tunai.

2. Peran PJK dalam Mendeteksi Skema TBML

PJK memiliki posisi untuk memberikan petunjuk berharga bagi Financial Intelligence Unit (FIU) untuk mendeteksi kemungkinan skema TBML, mengingat bahwa:

a. PJK terlibat dalam pembiayaan perdagangan,

b. PJK memiliki pengetahuan tentang perilaku nasabah, berperan sebagai perantara keuangan, serta melaksanakan pembayaran atas nama nasabah.

c. PJK memiliki akses langsung untuk dokumentasi yang menjadi underlying terkait transaksi perdagangan.

d. PJK memiliki kewenangan untuk melaksanakan Customer Due Diligence (CDD) ataupun Enhanced Due Dilligence (EDD) terhadap nasabahnya guna memastikan stabilitas status keuangan nasabah atau sumber dana, saat setuju memberikan pembiayaan.

Berikut ini merupakan kategori laporan transaksi yang dapat disampaikan oleh PJK kepada FIU terkait TBML:

a. Laporan terkait perdagangan, mengingat PJK terlibat langsung dan memiliki akses ke dokumen underlying terkait transaksi perdagangan, dimana melalui hal tersebut dapat dideteksi penyimpangan dalam dokumen dan/atau dalam aktivitas nasabah/rekanan atau dalam informasi yang diberikan selama proses pembiayaan perdagangan.

b. Laporan terkait open account settlements dari transaksi perdagangan, dalam hal ini dokumen underlying umumnya tidak tersedia untuk PJK, namun PJK dapat mendeteksi penyimpangan aktivitas keuangan terkait perdagangan yang dilakukan oleh nasabah dan/atau transaksinya dan/atau penyimpangan yang terkait dengan rekanan mereka.

c. Laporan terkait correspondent banking dari transaksi perdagangan, dalam hal ini PJK tidak memiliki akses ke dokumen underlying atau informasi dari nasabah, namun PJK dapat mendeteksi penyimpangan pada transaksi crossborder, termasuk yang berkaitan dengan barang dan perdagangan, dan/atau mengidentifikasi pihak-pihak yang mencurigakan yang berpotensi terkait dengan jaringan pencucian uang atau aktivitas pencucian uang yang telah teridentifikasi sebelumnya.

(13)

3. Indikator Risiko terkait TBML

Indikator risiko berdasarkan Trade Based Money Laundering Risk Indicators FATF – Egmont Group 2021, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan PJK dan Otoritas terkait dalam mengidentifikasi aktivitas mencurigakan terkait pencucian uang TBML:

Structural risk indicators

a. Struktur perusahaan dari entitas perdagangan sangat kompleks dan tidak logis, seperti terdapat keterlibatan shell company atau perusahaan yang terdaftar pada negara yurisdiksi berisiko tinggi.

b. Entitas perdagangan yang terdaftar atau memiliki kantor pada negara-negara dengan yurisdiksi atau tingkat kepatuhan penerapan program APU PPT yang lemah.

c. Entitas perdagangan terdaftar pada alamat perumahan di daerah padat pemukiman penduduk, alamat kotak pos, bangunan komersial atau kompleks industri (terutama tidak ada referensi ke unit tertentu).

d. Aktivitas bisnis entitas perdagangan tidak sesuai dengan alamat yang disebutkan, yaitu entitas perdagangan menggunakan bangunan tempat tinggal, tanpa memiliki ruang komersial atau industri tersendiri.

e. Entitas perdagangan tidak memiliki kehadiran online atau kehadiran online menunjukkan aktivitas bisnis yang tidak sesuai dengan lini bisnis yang dinyatakan, misalnya situs web entitas perdagangan sebagian besar berisi materi boilerplate yang diambil dari situs web lain atau situs web menunjukkan kurangnya pengetahuan mengenai produk atau industri tertentu tempat entitas tersebut melakukan aktivitas perdagangan.

f. Entitas perdagangan menunjukkan kurangnya aktivitas bisnis yang khas, misal tidak memiliki transaksi penggajian reguler sesuai jumlah karyawan yang disebutkan, biaya operasional, dan pembayaran pajak.

g. Pemilik atau manajer senior entitas perdagangan merupakan nominee untuk menyembunyikan beneficial owner.

h. Entitas perdagangan, pemilik atau manajer senior, muncul dalam berita negatif, misalnya terkait skema pencucian uang di masa lalu, penipuan, penghindaran pajak, kegiatan kriminal lainnya, investigasi atau hukuman yang sedang berlangsung atau yang lalu.

i. Entitas perdagangan mempertahankan jumlah minimal staf yang bekerja, tidak sesuai dengan volume komoditas yang diperdagangkan.

(14)

j. Nama entitas perdagangan merupakan salinan dari nama perusahaan terkenal atau sangat mirip dengannya, berpotensi sebagai bagian dari perusahaan, meskipun sebenarnya tidak terkait dengannya.

k. Entitas perdagangan memiliki periode dormansi yang tidak dapat dijelaskan.

l. Entitas tidak mematuhi kewajiban bisnis reguler, seperti membayar PPN.

Trade activity risk indicators

a. Aktivitas perdagangan tidak sesuai dengan lini bisnis yang dinyatakan dari entitas yang terlibat, misalnya, dealer mobil mengekspor pakaian atau dealer logam mulia mengimpor makanan laut.

b. Entitas perdagangan terlibat dalam transaksi perdagangan yang kompleks yang melibatkan banyak perantara pihak ketiga dalam lini bisnis yang tidak sesuai.

c. Entitas perdagangan terlibat dalam transaksi dan rute atau metode pengiriman yang tidak sesuai dengan praktik bisnis standar.

d. Entitas perdagangan menggunakan produk keuangan yang tidak konvensional atau terlalu rumit, misalnya penggunaan letter of credit untuk jangka waktu yang sangat lama atau sering diperpanjang tanpa alasan yang jelas, pencampuran berbagai jenis produk trade finance untuk segmen transaksi perdagangan yang berbeda.

e. Entitas perdagangan secara konsisten menampilkan margin keuntungan yang sangat rendah dalam transaksi perdagangannya, misalnya mengimpor komoditas grosir dengan atau di atas nilai eceran, atau menjual kembali komoditas dengan harga yang sama atau di bawah harga beli.

f. Entitas perdagangan membeli komoditas, diduga atas namanya sendiri, tetapi pembelian tersebut jelas melebihi kemampuan ekonomi Entitas, sebagai contoh transaksi tersebut dibiayai melalui pemasukan secara tiba-tiba dari setoran tunai atau transfer pihak ketiga ke rekening Entitas.

g. Entitas perdagangan yang baru dibentuk atau baru diaktifkan kembali, terlibat dalam aktivitas perdagangan bervolume tinggi dan bernilai tinggi, misalnya entitas yang tidak dikenal tiba-tiba muncul dan terlibat dalam kegiatan perdagangan di sektor- sektor dengan high barriers untuk masuk pasar.

Trade document and commodity risk indicators

a. Inkonsistensi di seluruh kontrak, faktur atau dokumen perdagangan lainnya, yaitu kontradiksi antara nama badan pengekspor dan nama penerima pembayaran;

perbedaan harga pada faktur dan kontrak yang mendasarinya; atau perbedaan antara kuantitas, kualitas, volume, atau nilai komoditas yang sebenarnya dan deskripsinya.

(15)

b. Kontrak, faktur, atau dokumen perdagangan lainnya menampilkan biaya atau harga yang tampak tidak sejalan dengan pertimbangan komersial, tidak konsisten dengan nilai pasar, atau berfluktuasi secara signifikan dari transaksi sebelumnya yang tidak sebanding.

c. Kontrak, faktur, atau dokumen perdagangan lainnya memiliki deskripsi yang tidak jelas tentang komoditas yang diperdagangkan, misalnya subjek kontrak hanya dijelaskan secara umum atau tidak spesifik.

d. Dokumen perdagangan atau pabean yang mendukung transaksi tidak ada, tampak palsu, menyertakan informasi palsu atau menyesatkan, merupakan pengiriman ulang dokumen yang sebelumnya ditolak, atau sering diubah.

e. Kontrak yang mendukung transaksi perdagangan yang kompleks atau reguler tampak sangat sederhana, misal entitas tersebut mengikuti struktur "kontrak contoh" yang tersedia di Internet.

f. Nilai impor/ekspor barang menunjukkan ketidaksesuaian yang signifikan dengan volume transfer pembayaran.

g. Barang-barang yang diimpor ke suatu negara dalam rangka impor sementara dan selanjutnya diekspor dengan dokumen palsu.

h. Pengiriman barang yang melalui beberapa negara tanpa adanya justifikasi ekonomis atau komersial.

Account and transaction activity risk indicators

a. Entitas perdagangan membuat perubahan yang sangat terlambat pada pengaturan pembayaran untuk suatu transaksi, misal entitas mengalihkan pembayaran ke entitas yang sebelumnya tidak dikenal pada saat-saat terakhir, atau entitas meminta perubahan pada tanggal pembayaran terjadwal atau jumlah pembayaran.

b. Suatu rekening menampilkan jumlah atau nilai transaksi yang tinggi secara tak terduga yang tidak sesuai dengan aktivitas bisnis yang dinyatakan oleh nasabah.

c. Rekening entitas perdagangan merupakan akun “pay-through” atau “transit” dengan pergerakan cepat dari transaksi volume tinggi dan saldo akhir hari yang kecil tanpa alasan bisnis yang jelas, termasuk:

Rekening sering menampilkan setoran tunai yang kemudian ditransfer ke orang atau entitas di free trade zone atau offshore jurisdiction tanpa hubungan bisnis dengan pemegang rekening.

d. Incoming wire transfer ke rekening terkait dengan perdagangan yang di split dan forward ke beberapa rekening yang tidak/sedikit terkait dengan aktivitas perdagangan.

(16)

e. Pembayaran komoditas impor dilakukan oleh entitas selain penerima komoditas tanpa alasan ekonomi yang jelas, misal oleh shell atau front company yang tidak terlibat dalam transaksi perdagangan.

f. Setoran tunai atau transaksi lain dari entitas perdagangan secara konsisten tepat di bawah threshold pelaporan.

g. Transaksi terkait perdagangan yang volumenya meningkat dengan cepat dan signifikan namun menjadi dorman setelah beberapa saat.

h. Pembayaran dikirim atau diterima dalam jumlah besar untuk perdagangan di sektor yang dianggap tidak biasa.

i. Pembayaran dikirim dari satu negara dan diterima kembali di negara yang sama, setelah melewati negara atau negara lain.

(17)

Contoh Kasus

Berdasarkan Kajian Penilaian Ancaman Pencucian Uang dari dan ke Luar Negeri yang disusun oleh PPATK Tahun 2017, terdapat contoh-contoh kasus terkait TPA Narkotika dengan ancaman tertinggi untuk menjadi bahan pertimbangan bagi PJK dalam melakukan mitigasi risiko. Cakupan kasus adalah sebagai berikut:

1. Kasus Narkotika JT

o JT melakukan pengiriman dana ke luar negeri (dominan ke China, Singapura, dan Hongkong) dalam jumlah besar, dengan nilai transaksi swift out dari Bank BB, CC, dan DD sebesar Rp 3,6 Triliun yang ditujukan kepada:

1.871 pihak perusahaan (625 pihak terdapat Informasi pernah melakukan kegiatan impor, 1.246 pihak sama sekali tidak pernah melakukan atau tercatat melakukan kegiatan impor);

494 pihak perorangan.

o Berdasarkan pemeriksaan rekening, diketahui bahwa pada setiap pengiriman dana ke luar negeri, JT selalu melampirkan dokumen invoice terkait pembelian barang yang diimpor dari perusahaan pemasok di luar negeri, sehingga dapat diduga bahwa JT merupakan seorang importir.

o Terhadap data-data impor tersebut dilakukan pengecekan dengan data DJBC dan diketahui bahwa data sample invoice yang dilampirkan JT tersebut tidak pernah tercatat pada data kepabeanan (palsu atau fiktif).

o Dalam penelurusan sumber asal dana ke rekening a.n. JT yang digunakan untuk transfer dana ke LN (Bank BB, CC, dan DD), diketahui bahwa pada umumnya dana berasal dari rekening JT lainnya di Bank AA.

o Rekening Pribadi di Bank AA ini digunakan untuk kegiatan usaha PT. KHV (sebuah Perusahaan Valuta Asing/PVA), dimana JT merupakan pemilik dari PVA tersebut, dengan sumber dana berasal dari:

Transfer dari RWR sebesar Rp 2,8 T;

Pemindahbukuan beberapa money changer sebesar Rp 772 M yang dananya berasal dari rekening RWR.

(18)

o Berdasarkan penelusuran sumber dana di rekening RWR, diketahui bahwa sumber asal dana berasal dari banyak pihak dimana beberapa pihak teridentifikasi terlibat dalam TP Narkotika.

2. Kasus Narkotika ANA

o ANA menerima transfer dana dari rekening-rekening yang masuk dari transaksi narkotika CJK melalui SC dan HS ke rekening Bank ABC atas nama orang lain yaitu ALF (orang tua/Ibu ANA) dan TSZ (rekanan ANA).

o Dana yang masuk ditaksir totalnya secara keseluruhan sebesar Rp1.367.750.000 dari rekening yang dibuat oleh komplotan CJK untuk transaksi narkotika.

o Uang yang diterima ANA digunakan untuk mengurus perkara pelaku TPA Narkotika atas nama CJK yang telah ditangkap Polisi.

o Untuk melakukan itu, ANA dihubungkan ke PRI (petugas BNN) melalui KKW yang merupakan seorang perwira di satuan kepolisian dengan meminta imbalan.

o ANA atas saran KKW melakukan transfer dana kepada KKW menggunakan rekening atas nama ALF dan TSZ.

o Transfer ke rekening KKW melalui rekening yang dipegangnya atas nama TSZ sejumlah Rp111.900.000. Selain itu, ANA melakukan transfer ke rekening KKW melalui rekening atas nama ALF sebesar Rp678.000.000 dengan rincian:

Tanggal 28 November 2017 sebesar Rp200 Juta

Tanggal 29 November 2017 sebesar Rp50 Juta

Tanggal 30 November 2017 sebesar Rp50 Juta dan Rp378 Juta.

o Selanjutnya, penarikan tunai juga dilakukan oleh ANA dari rekening atas nama ALF sebesar Rp350 Juta untuk membeli mobil atas nama saudaranya yaitu SPR dan juga membeli asuransi mobil sebesar Rp32 Juta. Sisa uang yang terdapat pada rekening yang dipegangnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. (sumber: Tipologi Pencucian Uang Putusan Pengadilan 2021)

3. Kasus Narkotika LLT

o LLT melakukan bisnis narkotika menggunakan rekeningnya sendiri dan juga rekening milik orang lain untuk keperluan transaksi narkotika.

o LLT dalam melakukan bisnis narkotika menggunakan beberapa rekening dengan nomor sebagai berikut:

(19)

Rekening Bank C nomor 1210001952, 1210123284, 1211114334, 1211137911 atas nama IIC;

Rekening Bank C nomor 1210123152, 1211137814 atas nama OM; dan

Rekening Bank C nomor 7260233143 atas nama LLT.

o Sumber dana LLT berasal dari transferan pembayaran narkotika oleh anak buahnya, antara lain:

EN menguasai beberapa rekening, yaitu rekening Bank C nomor 6170370897 a.n. Eko Novianto, rekening Bank C nomor 6170426965 a.n. YYA, dan rekening Bank C nomor 6710117363 a.n. AA.

LA menguasai rekening Bank C nomor 3161409853 a.n LA.

AM menguasai beberapa rekening yaitu rekening Bank C nomor 3343999000 a.n. AS, dan rekening Bank C nomor 2000304339 a.n. TW.

o Aliran dana yang terdeteksi selama periode 2014-2016 ke rekening yang digunakan oleh LLT dalam melakukan bisnisnya berasal dari rekening anak buahnya sebagaimana di atas untuk pembayaran narkotika.

o Keuntungan yang diperoleh dari bisnis narkotika dikonversikan oleh LLT ke dalam bentuk aset, disimpan dalam bentuk tabungan dan deposito dengan rincian sebagai berikut:

1 (satu) unit mobil secara tunai senilai Rp400.000.000.

Renovasi 1 (unit) rumah milik orang tua (dalam hal ini Bapak) dari LLT sebesar Rp 200.000.000

Uang yang disimpan dalam deposito, antara lain:

1. Deposito Bank M nomor rekening: 143-02-0445175-9 atas nama HTK jumlah Rp1.000.000.000 yang bersumber dari transfer oleh LLT

1. Deposito Bank C nomor rekening : 1210485313 atas nama HTK jumlah Rp 2.000.000.000, dengan perincian uang sebesar Rp 1.000.000.000 adalah milik HTK, dan uang sebesar Rp 1.000.000.000 adalah milik LLT yang dititipkan ke saudaranya yang bernama HTK.

o Selain itu, LLT telah melakukan penarikan tunai atas uang hasil tindak pidana narkotika ke rekening Bank C nomor 1210123152 atas nama OM sebanyak 9 kali dengan jumlah keseluruhan Rp2.190.000.000. (sumber: Tipologi Pencucian Uang Putusan Pengadilan 2019)

(20)

Strategi Mitigasi Risiko

Berdasarkan uraian tersebut, dalam rangka memitigasi risiko terjadinya TPPU dari sisi TPA Narkotika, PJK di Sektor Perbankan, Pasar Modal, dan IKNB harus memastikan bahwa hasil penilaian terhadap TPA Narkotika tersebut telah tercakup dengan kebijakan dan prosedur serta mitigasi risiko yang memadai. Hal-hal yang dapat dilakukan antara lain:

a. PJK wajib memiliki kebijakan, praktik dan prosedur yang memadai yang mengedepankan standar etika dan profesional yang tinggi di sektor keuangan. Kebijakan dimaksud guna mencegah terjadinya penggunaan PJK sebagai sarana TP Narkotika, khususnya dalam mengenali Pengguna Jasa.

b. PJK agar menyusun red flags atau indikator transaksi keuangan mencurigakan sebagaimana hasil penilaian risiko NRA Updated dan SRA serta memiliki person in charge (PIC) untuk koordinasi dengan aparat penegak hukum.

c. PJK agar melakukan update informasi terkait tipologi, kasus dan pelaku untuk TPA berisiko tinggi pada negara yang diidentifikasi atas dasar hasil penilaian risiko yang dikeluarkan otoritas terkait.

d. PJK agar memiliki sistem database yang memadai untuk melakukan pengecekan terhadap pihak yang terdaftar dalam database yang dikelola secara nasional maupun internasional seperti Worldcheck.

e. PJK wajib memahami profil dan pola transaksi nasabahnya, baik bagi nasabah lama maupun nasabah baru, termasuk memiliki akses yang memadai terhadap data dan informasi terkait dengan pelaksanaan transaksi nasabah.

f. PJK agar melakukan identifikasi lebih lanjut terkait dengan BO dari suatu entitas perdagangan yang memiliki indikator risiko terkait TBML.

g. PJK agar mewaspadai potensi risiko LO dan FPC pada transfer dana masuk dan ke luar negeri dengan memitigasi dan melakukan pemantauan transaksi keuangan yang lebih ketat terhadap nasabah yang aktif melakukan transaksi dengan pihak LN atau Nasabah yang menerima dana masuk dari LN dan memahami profil nasabah berisiko tinggi melalui Enhanced Due Diligence (EDD), dan pengenalan kewajaran aktivitas bisnis Nasabah. Hal ini khususnya untuk PJK yang aktif melakukan transaksi foreign exchange.

(21)

h. PJK (baik domestik maupun asing) harus meningkatkan pemantauan transaksi keuangan terhadap pihak-pihak yang berprofesi sebagai wiraswasta dan pegawai swasta yang tidak sesuai dengan profil, serta pihak lainnya yang memiliki frekuensi dan nominal transaksi dalam jumlah yang signifikan yang tidak sesuai profil, serta pihak lainnya yang memiliki frekuensi dan nominal transaksi dalam jumlah signifikan yang tidak sesuai profilnya, mengingat profil ini merupakan profil berisiko tinggi terhadap TPPU. Dengan demikian, PJK harus melakukan EDD untuk memastikan dana tersebut tidak berasal dari TP Narkotika atau kegiatan kriminal lainnya.

i. PJK melaporkan Transaksi Keuangan Mencurigakan (TKM) terkait nasabah atau transaksi yang terlibat TP Narkotika kepada PPATK.

(22)

Daftar Pustaka

PPATK. 2017. Kajian Penilaian Ancaman Pencucian Uang dari dan ke Luar Negeri.

. 2017. Tipologi Pencucian Uang Berdasarkan Putusan Pengadilan Atas Perkara Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2017.

. 2019. Pengkinian Penilaian Risiko Indonesia terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015.

. 2019. Tipologi Pencucian Uang Berdasarkan Putusan Pengadilan Atas Perkara Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2019.

. 2021. Tipologi Pencucian Uang Berdasarkan Putusan Pengadilan Atas Perkara Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2019.

. 2021. Pengkinian Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2021.

BNN. 2017. Sectoral Risk Assessment TPA Narkotika.

FATF – Egmont Group. 2020. Trade Based Money Laundering Trends and Development.

. 2021. Trade Based Money Laundering Risk Indicators.

Gambar

Gambar 1. Peta Risiko (Heatmap) Jenis Narkotika
Gambar 2. Peta Risiko (Heatmap) Peran Pelaku Narkotika
Gambar 3. Peta Risiko (Heatmap) Profil Pelaku Narkotika
Gambar 5. Peta Risiko (Heatmap) FPC - TPA
+2

Referensi

Dokumen terkait