• Tidak ada hasil yang ditemukan

87 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "87 Universitas Kristen Petra"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

4. ANALISIS DATA

4.1. Parameter Penelitian

Parameter penelitian yang dipilih adalah parameter fisik, kimia dan mikrobiologi udara. Parameter tersebut akan dianalisa sesuai dengan petaruran dan perundang – undangan yang berlaku di Indonesia, yaitu :

 Keputusan Menteri Kesehatan No1405/MenKes/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri

 NAB Faktor Fisika Dan Kimia Di Tempat Kerja Permenakertrans No.13/MEN/X/2011

 SNI nomor 19-0232-2005 tentang NAB Zat Kimia di Udara Tempat Kerja

4.1.1. Parameter Fisik Udara dan Ruangan Parameter fisik ruangan meliputi :

1. Ukuran dan luasan objek penelitian dalam satuan meter persegi 2. Jumlah okupan objek penelitian

3. Jenis penghawaan pada objek penelitian beserta jumlahnya.

4. Suhu, kelembaban, dan kecepatan angin yang terdapat pada tiap ruang objek penelitian.

4.1.2. Parameter Kimia Udara

Parameter kimia udara meliputi :

1. Formaldehid (HCHO), digunakan sebagai perekat kayu olahan dan wallpaper, upholstery, kertas, dan sebagainnya. Dampak kesehatan yang ditimbulkan adalah iritasi mata, saluran pernafasan, hingga kanker.

2. Benzena (C

6

H

6

), merupakan solven yang sering ditemuan pada pewarna, bahan finishing, plastik, karet sintetis, dan perekat. Zat kimia ini dapat menimbulkan dampak kesehatan berupa kanker, kerusakan sistem saraf pusat, iritasi kulit, dan saluran pernafasan.

3. Timah Hitam (Pb), merupakan logam berat yang ditemukan pada pigmen cat

dinding, debu, dan pipa air. Bila terpapar logam berat ini dalam waktu yang

(2)

lama maka akan timbul dampak kesehatan berupa gangguan pertumbuhan, penurunan kinerja otak, sistem saraf pusat, ginjal, sel darah, koma bahkan kematian.

4. Partikulat (debu), merupakan partikel yang terkandung dalam udara. Jika partikel tersebut terhirup maka akan timbul dampak kesehatan berupa iritasi pada kulit, mata, dan saluran pernafasan.

5. Karbon Monoksida (CO), adalah gas yang tidak berbau, tidak berwarna dan beracun yang ditemukan pada asap tembaku, asap kendaraan bermotor, dan kompor gas. Gas CO dapat menimbulkan dampak kesehatan berupa kelelahan, gangguan penglihatan, sakit kepala, mual, dan pusing.

6. Natrium Dioksida (NO

2

)

,

merupakan gas yang sangat reaktif dan korosif. NO

2

dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan yaitu iritasi mata, iritasi hidung dan tenggorokan, pada konsentrasi tinggi dapat berkontribusi untuk pengembangan bronkitis akut. NO

2

berasal dari pembakaran bensin, arang, minyak dan gas.

4.1.3. Parameter Mikrobiologi Udara

Parameter untuk mikrobiologi di udara adalah total koloni bakteri dan keberadaan jamur (positif/negatif) yang terdapat dalam ruang kelas. Pada SMAK St. Louis 1 akan dilakukan test tambahan yaitu swab test untuk mengetahui keberadaan jamur (positif/negatif) yang terdapat pada AC. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah AC rutin dibersikan atau tidak.

4.2. Proses Pengambilan dan Pengolahan Sampel

Proses pengambilan dan pengolahan sampel meliputi sampel fisik, kimia dan mikrobiologi udara. Pengelolahan sampel fisik dan kimia dilakukan di laboratorium HIPERKES, sedangkan pengolahan sampel mikrobiologi dilakukan di laboratorium Petrolab.

4.2.1. Sampel Fisik dan Kimia Udara

Pengambilan sampel fisik dan kimia udara dilakukan oleh tim sampling

dari Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja (HIPERKES) dan Petrolab.

(3)

Pengambilan sampel oleh HIPERKES dilakukan hari Kamis, 17 Maret 2016 di SMK Negeri 2 pada pukul 09.05 – 11.00 dan SMAK St Louis 1 pada pukul 12.15 – 12.45.Pengambilan sampel oleh Petrolab dilakukan hari Rabu, 20 April 2016 di SMK Negeri 2 pada pukul 09.15 – 09.30 dan SMAK St Louis 1 pada pukul 10.15 – 10.30.

Berdasarkan hasil wawancara dengan tim dari HIPERKES dan Petrolab diketahui proses pengambilan dan pengolahan data dari masing – masing variabel dilakukan dengan cara sebagai berikut :

a. Suhu dan kelembaban di dalam ruang diukur dengan menggunakan alat yang disebut heat stress monitor. Alat ini diletakkan di tengah ruang kelas selama 10 menit, setelah itu suhu dan kelembaban dalam ruang dapat langsung diketahui.

Gambar 4.1. Heat stress monitor Sumber : Dokumentasi pribadi (2016)

b. Pengukuran laju ventilasi di dalam ruang dapat diketahui dengan menggunakan alat anemometer. Alat ini cukup dipegang dan diarahkan pada ventilasi untuk melihat seberapa kecepatan angin yang masuk lewat ventilasi.

Pengukuran kecepatan ventilasi dilakukan oleh PETROLAB.

(4)

Gambar 4.2. Anemometer Sumber : Dokumentasi pribadi (2016)

c. Sampel udara yang diambil dengan high volume air sampler adalah sebesar 500 liter/menit selama 30 menit per titik, sedangkan sampel udara yang diambil dengan mini pump sebesar 5 liter/menit selama 30 menit per titik.

Titik pengambilan sampel adalah di tengah ruang kelas.

(a) (b)

Gambar 4.3. (a) High volume air sampler (b) Mini pump Sumber : Dokumentasi pribadi (2016)

d. Proses analisa karbon monoksida (CO) menggunakan metode direct reading.

Direct reading adalah metode penelitian yang digunakan untuk mengetahui

secara langsung konsentrasi kontaminan di udara. Karbon monoksida ditest

dengan mengggunakan alat yang disebut carbon monoxide meter, dalam alat

(5)

ini terdapat sensor berdasarkan sifat kimia dan fisik dari kontaminan. Cara menggunakan alat ini adalah cukup dengan meletakkan alat di tengah ruangan selama 30 menit dan hasil dapat langsung diketahui saat itu juga.

Gambar 4.4. Carbon monoxide meter Sumber : Dokumentasi pribadi (2016)

e. Proses analisa debu menggunakan metode gravimetri. Proses gravimetri adalah proses dimana filter udara yang sebelumnya telah ditakar kemudian digunakan dalam proses pengambilan sampel. Setelah pengambilan sampel selesai filter udara tersebut dihilangkan kadar airnnya kemudian ditimbang dan dibandingkan dengan berat awal filter.

f. Metode pengujian Nitrogen dioksida (NO

2

) adalah dengan metode pengujian MASA, 3rded, No.406. Sampel diambil menggunakan larutan penyerap NO

2

. Larutan terbuat dari asam sulfinat yang dipanaskan hingga larut dan ditambahkan larutan N-(1-naftil) etilendiamin dihidroklorida 0,1% dan juga aseton. Setelah itu larutan diencerkan dengan menggunakan akuades. Jika terdapat NO2 di dalam ruang maka larutan akan berubah warna menjadi ungu kemerahan. Hasil uji yang telah didapat kemudian dimasukkan kedalam kuvet pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 550 nm. Alat tersebut akan mengeluarkan hasil berupa angka dari tingkat absorbsi larutan yang kemudian akan dihitung menggunakan rumus.

g. Pengujian timah hitam (Pb) menggunakan metode NIOSH No. 7082 – 2003

(atomic absorbption spectrophometer), dimana sampel yang sudah didapat

(6)

ditransfer ke gelas kimia kemudian ditambahkan 3 ml asam nitrat (HNO) dan dipanaskan pada suhu 140

o

C dan ditutup dengan kaca arloji sampai volume menjadi 0,5ml. Proses ini diulang sampai 2 kali dengan menggunakan asam nitrat (HNO

3

) dan hidrogen peroksida (H

2

O

2

). Setelah sampel kering, sampel akan diencerkan dengan akuades dan kemudian dilakukan perhitungan perbandingan volume.

h. Pengujian benzena menggunakan metode NIOSH No. 1501 – 2003 (gas chromatography). Hasil sampel yang sudah didapat kemudian diambil 100ml menggunakan pipet kemudian ditambahkan 50 ml akuades, kemudian dilakukan distilasi dengan pemanas mantel. Hasilnya kemudian ditampung pada labu ukur 100 ml. Kegiatan ini dilakukan sebanyak 6 kali. Langkah selanjutnya adalah larutan sampel diambil 1,0 ml menggunakan mikropipet yang kemudian ditambahkan 0,1 ml n-butanol dan diencerkan dengan akuades, kemudian diambil 1 μl dan disuntikkan ke dalam kolom melalui tempat injeksi.

Luas puncak etanol dan n-butanol dari kromatogram dihitung. Kemudian dicari rasio luas puncak etanol/n-butanol.

i. Pengujian formaldehid menggunakan metode kromotopic acid. Sampel yang telah didapat dimasukan kedalam labu kjeldahl yang berisi 100 – 200 ml akuades dan batu didih, setelah itu tambahkan 5 ml asam fosfat 10%.

Campuran tersebut kemudian didestilasi (proses pemisahan cairan) hingga diperoleh 20 ml destilat ( hasil destilasi), 2 ml destilat kemudian ditambahkan dengan 5ml asam kromatropat 0,5% dan asam sulfat 60%. Larutan tersebut kemudian dididihkan selama 15 menit jika larutan tersebut berwarna ungu berarti mengandung formaldehid.

4.2.2. Sampel Mikrobiologi Udara

Pengambilan sampel mikrobiologi udara dilakukan oleh tim sampling dari

PETROLAB pada hari Rabu, 20 April 2016 2016 di SMK Negeri 2 pada pukul

09.15 – 09.30 dan SMAK St Louis 1 pada pukul 10.15 – 10.30. Sampel jamur dan

bakteri diambil dengan air sampler selama kurang lebih 15 menit. Air sampler

diisi dengan media jenis Nutrient Agar Plate (NAP/NA) untuk mengetahui adanya

(7)

jamur dan Sabourand Agar (SB) untuk mengetahui total koloni bakteri. Air sampler yang telah terisi kemudian dibawa berkeliling kelas.

Gambar 4.5. Proses pengambilan sampel bakteri dan jamur Sumber : Dokumentasi pribadi (2016)

Sampel jamur pada AC dilakukan dengan cara usap/swab test. Sampel diambil dengan menggunakan cutton bud steril yang kemudian cutton bud dimasukan pada media transport. Sesampainnya di laboratorium PETROLAB akan langsung diletakkan pada media tumbuh agar NAP.

Gambar 4.6. Proses swab test pada AC

Sumber : Dokumentasi pribadi (2016)

(8)

Sampel yang telah diambil kemudian dikultur dan di inkubator selama 1 minggu dengan suhu 22

o

C untuk jamur, dan 32

o

C untuk bakteri. Semua proses pengkulturan dan perhitungan dilakukan di laboratorium BTKL Surabaya.

Setelah dikultru selama 1 minggu (20 – 30 April 2016) tampak adanya miikroorganisme yang tumbuh di masing – masing medium seperti terlihat pada Gambar 4.7.

Gambar 4.7. Mikroorganisme yang tumbuh pada agar Sumber : Dokumentasi pribadi (2016)

4.3. Hasil Uji Laboratorium SMK Negeri 2

Hasil uji meliputi uji fisik, kimia, serta uji mikrobiologi udara di SMK Negeri 2, Surabaya dan SMAK St. Louis 1, Surabaya. Hasil penelitian 4.2 didapat melalui pengambilan sampel udara oleh laboratorium. Sedangkan pengukuran luasan kelas dan data fisik lainnya, serta pengisian kuisioner dilakukan oleh pengguna ruang yaitu siswa.

4.3.1. Kualitas Fisik Udara

Pengukuran kualitas fisik udara dalam kelas dilakukan 1 titik pengambilan

sampel dan diulang sebanyak 3 kali, 2 kali oleh HIPERKES dan 1 kali oleh Petro

lab. Hasil yang didapat kemudian dibandingkan dengan baku mutu Keputusan

Menteri Kesehatan No. 1405 tahun 2002. Hasil uji dari kedua laboratorium

ditabulasikan seperti pada Tabel 4.1.

(9)

Tabel 4.1. Hasil Uji Kualitas Fisik Udara

Variabel

1 HIPERKES

17/03/2016 Pukul 09.30 – 09.40

2.

HIPERKES 17/03/2016

Pukul 11.00 – 11.10

Rata – rata HIPERKES

3 Petrolab 20/04/2016

Pukul 09.15 – 09.30

Baku Mutu

Suhu 30,4 oC 32,2 oC 31,3 oC 31,3 oC 18 – 28 oC

Kelembaban 79% 66% 72,5% 73% 40-60%

Sumber : Hasil Test HIPERKES dan Petrolab

Kualitas fisik udara untuk parameter suhu dan kelembaban tidak memenuhi syarat baku mutu. Kelembaban yang lebih tinggi dari 60% dapat meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme dan memicu stress. Kenyamanan manusia terkait dengan suhu dan kelembaban dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pakaian, tingkat aktivitas, usia, dan psikologis.

Ruang kelas memiliki suhu yang tinggi karena menurut BMKG kota Surabaya, suhu kota berkisar antara 26 – 34

o

C dengan kelembaban sekitar 58 – 90 %. Jika dibandingkan dengan hasil yang didapat, maka suhu dalam kelas masih pada batas wajar suhu dan kelembaban kota Surabaya.

Sedangkan untuk jumlah ventilasi alami di dalam kelas sudah memenuhi syarat yang ditentukan oleh Keputusan Menteri Kesehatan No. 1405 tahun 2002, yaitu sebesar 15% dari luas lantai ruang kelas. Ruang kelas harus menerapkan sistem ventilasi silang. Adapun jumlah ventilasi alami 15% yang dimaksud adalah luasan bukaan yang disediakan dalam ruang.

Perhitungan :

Rumus : 15% ( panjang kelas x lebar kelas ) Luas lantai kelas : 8 m x 8 m : 64 m

2

15% dari 64 m

2

adalah : 9,6 m

2

Luasan 1 jendela pada ruang kelas adalah 1,4 m x 2 m = 2,8 m

2

Jumlah jendela dalam ruang kelas adalah 4 buah, jadi

2,8 m

2

x 4 = 11,2 m

2

( > 9,6 m

2

sehingga memenuhi)

Berdasarkan denah ruang kelas di bawah ini sistem ventilasi yang

digunakan merupakan ventilasi silang.

(10)

Gambar 4.8. Alur angin

Sumber : Dokumentasi pribadi (2016)

Selain suhu, kelembaban, dan jumlah ventilasi alami, hal yang perlu diperhatikan adalah air fellow atau laju ventilasi. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. 1405 tahun 2002 laju ventilasi dalam suatu ruang minimal 0,15 – 0,25 m/detik, dengan ketinggian minimal 2,5 m. Menurut hasil test didapati bahwa laju ventilasi ruang kelas adalah 0,09 – 0,35 m/detik dengan ketinggian 8 m. Sehingga dapat dinyatakan bahwa laju ventilasi ruang kelas tidak sesuai standart, jika laju ventilasi kurang dari 0,15 m/detik maka tidak ada pertukaran udara, sehingga menyebabkan udara stagnan di dalam ruang.

4.3.2. Kualitas Kimia Udara

Pemeriksaan kualitas kimia udara dalam kelas dilakukan 1 kali pada kelas objek penelitian. Penelitian ini dilakukan oleh HIPERKES dan hasil yang didapat kemudian dibandingkan dengan baku mutu Keputusan Menteri Kesehatan No.

1405 tahun 2002 dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transportasi.

Tabel 4.2. Hasil Uji Kualitas Kimia Udara

Parameter Satuan Kadar

Baku Mutu Kepmenkes No.

1405 Tahun 2002

Baku Mutu Permenakertrans No.13/MEN/X/2011 Karbon

monoksida ppm 1,67 25 25

Nitrogen dioksida ppm 0,0133 3 3

Debu mg/Nm3 0,1361 - 10

(11)

Tabel 4.2. Hasil Uji Kualitas Kimia Udara (sambungan)

Parameter Satuan Kadar

Baku Mutu Kepmenkes No.

1405 Tahun 2002

Baku Mutu Permenakertrans No.13/MEN/X/2011

Timah Hitam mg/Nm3 <0,00002 - 0,05

Benzena ppm <0,0020 - 0,5

Formaldehid ppm 0,0029 - 0,3

Sumber : Hasil Test HIPERKES (2016)

Berdasarkan Tabel 4.2., faktor kimia udara dalam ruang kelas berada pada batas yang sangat aman. Berdasarkan kuisioner yang diperoleh, siswa berpendapat sumber polutan dalam ruang berasal dari debu – debu dari luar yang masuk melewati jendela.

4.3.3. Kualitas Mikrobiologi Udara

Setelah melalui proses pengkulturan dan pengidentifikasian selama 1 minggu, maka didapat hasil uji mikrobiologi udara. Adapun hasil yang didapat adalah sebagai berikut :

Tabel 4.3. Hasil Uji Kualitas Mikrobiologi Udara

Parameter Satuan Hasil Baku Mutu Kepmenkes No.

1405 Tahun 2002

Jumlah kuman CFU/m3 265 700

Jamur - Positif -

Sumber : Hasil Test Petrolab (2016)

Berdasarkan Tabel 4.3., jumlah kuman di dalam ruang masih berada pada batas aman, namun di dalam ruang kelas dideteksi adanya jamur. Ruangan yang terdeteksi positif terdapat jamur akan meningkatkan kemungkinan pengguna mengalami gangguan kesehatan yang ditimbulkan oleh jamur seperti misalnya gatal – gatal.

4.4. Hasil Kuisioner SMK Negeri 2

Pengisian kuesioner dilakukan pada bulan Maret 2016, dengan sampel sebanyak

30 responden. Adapun penelitian dilakukan pada sampel populasi sebagai

berikut :

(12)

1. Karakteristik Responden

Karakteristik responden meliputi jenis kelamin dan usia. Berdasarkan kuisioner yang terkumpul maka dapat diketahui jenis kelamin responden terbanyak adalah laki – laki, yaitu 28 orang laki – laki dan 2 orang wanita.

Berdasarkan usiannya responden rata – rata berusia 17 – 18 tahun.

2. Tingkat Pemaparan

Tingkat pemaparan polutan terhadap responden ditentukan oleh lama jam kerja, dan frekuensi keluar masuk ruang kelas. Koresponden berada di dalam ruang kelas selama kurang lebih 8 jam. Dari hasil perhitungan kuisioner didapatkan 80% responden menjawab sering keluar masuk ruang kelas.

Frekuensi keluar masuk kelas sebanyak 5 – 10 kali setiap harinya. Karena proses belajar mengajar siswa dilakukan dengan keadaan pintu dan jendela yang selalu terbuka maka frekuensi keluar masuknya siswa diabaikan.

Pertanyaan yang diajukan mengenai kenyamanan, gangguan akan bau dan gangguan kesehatan yang dirasakan oleh pengguna kelas. Kenyamanan kelas berkaitan dengan hasil uji fisik (suhu, kelembaban, dan laju ventilasi), gangguan akan bau berkaitan dengan hasil uji kimia dan hasil uji fisik, sedangkan gangguan kesehatan berkaitan dengan hasil uji fisik, kimia, dan mikrobiologi udara.

4.4.1. Kenyamanan Kelas

Berdasarkan hasil kuisioner didapati bahwa sebesar 87% responden merasa tidak nyaman dengan kondisi kelas saat ini.

Gambar 4.9. Persentase kenyamanan kelas oleh responden Sumber : Diolah peneliti (2016)

7%

87%

6%

% Kenyamanan Kelas

Ya Tidak Ragu - ragu

(13)

Gambar 4.10. Kenyamanan kelas Sumber : Diolah peneliti (2016)

Seperti pada Gambar 4.10., sebanyak 73% responden merasa suasana kelas tidak nyaman dikarenakan kelas terasa panas, sebesar 19% responden merasa terganggu oleh suara bising dari luar sekolah dikarenakan letak sekolah yang berhadapan langsung dengan jalan raya dan warung. Sebesar 8% responden merasa kurang nyaman karena di pagi hari terasa sangat lembab dan banyak nyamuk di dalam kelas, banyaknya nyamuk di dalam kelas dikarenakan kondisi kelas yang gelap, lembab dan dingin pada malam hari.

4.4.2. Gangguan Akan Bau

Berdasarkan hasil kuisioner yang telah diolah pada Gambar 4.11., didapati bahwa sebesar 77% responden merasa terganggu oleh adanya sumber bau.

Gambar 4.11. Persentase gangguan akan bau oleh responden Sumber : Diolah peneliti (2016)

73%

19%

8%

0%

20%

40%

60%

80%

% (persentase)

Kenyamanan Kelas

Kelas terasa panas suara bising terasa lembab dan banyak nyamuk

77%

23%

% Gangguan Bau

Ya Tidak

(14)

Gambar 4.12. Gangguan akan bau Sumber : Diolah peneliti (2016)

Seperti pada Gambar 4.12., sebanyak 52% responden merasa terganggu oleh bau yang dihasilkan oleh keringat dan gas buang manusia. 26% responden merasa terganggu oleh bau yang berasal dari gas buang dari kendaraan, sedangkan 13% responden merasa terganggu oleh parfum yang digunakan oleh teman sekelas dan 9% responden terganggu oleh bau sampah.

4.4.3. Gangguan Kesehatan

Berdasarkan hasil kuisioner responden sering mengalami gangguan fisik.

Gangguan fisik yang dialami dapat dilihat pada Gambar 4.13.

Gambar 4.13. Gangguan fisik Sumber : Diolah Peneliti (2016)

52%

26%

13% 9%

0%

20%

40%

60%

% (persentase)

Gangguan Bau

Keringat dan gas buang manusia Gas buang kendaraan Parfum teman sekelas Bau sampah

63 73

7 73

7 7 7

40 40 43

0

40 37

13 40

0 10 20 30 40 50 60 70 80

% (persentase)

Gangguan Fisik

(15)

Gangguan fisik yang paling banyak dialami oleh responden adalah lemas/lelah dan pusing yaitu dengan persentase sebesar 73%, dan sakit kepala dengan persentase sebesar 63%. Gangguan fisik yang lainnya dirasakan oleh kurang dari 50% responden.

4.5. Analisa Hasil Uji dan Kuisioner SMK Negeri 2

Menurunnya kualitas udara dalam suatu ruang dipengaruhi oleh terapan interior dan aktivitas penggunanya. Kualitas udara yang tidak baik akan mempengaruhi kenyamanan, keamanan dan kesehatan pengguna ruang.

Berdasarkan hasil uji dan hasil kuisioner maka diperoleh hasil analisa mengenai keterkaitan antara kualitas udara, terapan interior dan pengguna, sebagai berikut : 1. Posisi bukaan yang berhadapan langsung dengan lahan parkir dan jalan raya,

mengakibatkan asap kendaraan bermotor dan debu bisa masuk kedalam ruang kelas jika tertiup angin. Dengan masuknya debu dan asap kendaraan bermotor akan menyebabkan ruangan tercemar oleh zat kimia berupa CO dan NO

2

dari gas buang kendaraan. Pada Tabel 4.2. diketahui bahwa kelas memiliki kadar CO sebesar 0,67 ppm dan NO

2

sebesar 0,0161 ppm.

2. Penggunaan bahan eternit/asbes sebagai plafon, penggunaan Asbes sangat berbahaya jika serat terkoyak sehingga serat melayang di udara. Serat asbes dapat menimbulkan masalah kesehatan asbesotis.

3. Penggunaan bahan berpori seperti kain dapat menyimpan debu dan kuman, bahkan dapat menjadi media tumbuhnya jamur (lihat Tabel 2.3.).

4. Banyaknya elemen pendukung interior yang tidak dapat dijangkau untuk proses pembersihan dapat menyimpan debu, bakteri, kuman dan jamur.

Contoh elemen pendukung adalah LCD, speaker, dan hiasan ruang.

5. Penggunaan white board dimana tinta spidol dapat menghasilkan benzena.

Pada Tabel 4.2., diketahui bahwa terdapat benzena di dalam ruang kelas dengan kadar yang sangat kecil yaitu sebesar <0,0020 ppm, sehingga tidak menimbulkan dampak kesehatan bagi pengguna.

6. Finishing perabot dengan politur dimana politur dapat mengeluarkan gas

emisi berupa formaldehid yang dapat mencemari udara. Formaldehid juga

(16)

didapat pada cairan pembersih yang digunakan untuk membersihkan kelas (Tabel 2.13.). Pada Tabel 4.2., ditemukan kadar formaldehid yang sangat kecil yaitu sebesar 0,0029 ppm sehingga tidak akan menyebabkan gangguan kesehatan.

7. Pada Tabel 4.1., kelembaban ruang berada pada persentase yang tinggi yaitu sebesar 72,5%. Hal ini dapat memicu timbulnya karat pada material besi, jika kondisi finishing material dalam keadaan tidak baik (mengelupas).

8. Penggunaan cat dinding dengan spektrum warna hangat (merah,coklat, kuning) dapat menimbulkan rasa panas secara psikologi bagi pengguna kelas.

Rasa panas dapat diminimalisir dengan menggunakan cat dinding dengan spektrum warna dingin seperti warna biru, hijau, ungu.

9. Pengguna ruang dapat menjadi pembawa kontaminan mikrobiologi.

Kontaminan mikrobiologi yang berada pada debu dapat menempel pada seragam, sepatu atau objek lain dalam perjalanan menuju ke sekolah, yang nantinya akan di bawa masuk ke dalam kelas.

10. Pengguna dapat membawa kontaminan kimia lewat parfum yang digunakan.

hal ini terlihat dari ditemukannya fromaldehid dan benzena di dalam ruangan dan didukung dengan data dari Gambar 4.12., dimana 13% siswa merasa terganggu oleh bau parfum yang dikenakan oleh teman sekelas.

11. Debu juga merupakan polutan kimia yang paling sering ditemukan dalam ruang. Debu yang ada di jalan raya yang terbawa angin dan masuk lewat bukaan, kurang rutinnya kegiatan pembersihan, serat silika dari gypsum dan tidak adanya keset diluar ruang sehingga pengguna membawa debu dari alas kaki masuk kedalam ruang kelas. Debu dapat menyebabkan iritasi, iritasi yang paling sering dialami adalah iritasi hidung. Sebanyak 43% responden sering mengalami iritasi hidung berupa bersin – bersin

12. Kurang baiknya kualitas udara fisik di dalam lingkungan kerja dapat

mempengaruhi kesehatan pengguna ruang. hal ini bisa dilihat pada Gambar

4.13., yang menunjukan bahwa pengguna ruang sebagian besar mengalami

gangguan fisik berupa gangguan saraf, khususnya pusing dan lemas sebesar

73%. Lemas dan pusing yang dialami oleh pengguna ruang diakibatkan oleh

suhu dan kelembaban ruang yang terlalu tinggi (lihat Tabel 4.1.).

(17)

13. Suhu dan kelembaban terlalu tinggi juga dapat menimbulkan rasa gatal (iritasi kulit). Kulit yang selalu lembab dan berkeringat yang dapat memicu tibulnya penyakit kulit seperti biang keringat. Pada Tabel 4.3. diketahui bahwa keberadaan jamur pada ruang kelas dinyatakan positif. Jika kulit yang lembab terkena jamur yang ada di dalam ruang dan ditambah dengan kebiasaan pengguna yang kurang peduli akan kebersihan tubuh, maka pengguna dapat lebih mudah terserang penyakit panu atau penyakit kulit lainnya.

14. Berdasarkan Gambar 4.10., sebanyak 8% responden merasa kurang nyaman karena dipagi hari terasa sangat lembab dan banyak nyamuk di dalam kelas, banyaknya nyamuk dikarenakan kondisi kelas yang gelap, lembab, dan dingin pada malam hari. Kondisi ini merupakan tempat terbaik bagi nyamuk untuk berkembang biak. Nyamuk dapat menyebabkan berbagai penyakit salah satunya adalah demam berdarah.

15. Bau keringat, gas buang manusia, dan parfum yang berasal dari dalam kelas adalah dampak dari kurangnya laju ventilasi, sehingga bau – bau yang ada di dalam ruang tetap berada di dalam ruang karena angin tidak mampu membawa bau – bauan keluar kelas. Bau yang berasal dari luar kelas seperti gas buang kendaran dan sampah masuk kedalam karena tertiup angin namun tidak mampu keluar kelas karena kurangnya kekuatan angin untuk membawanya keluar.

4.6. Hasil Uji Laboratorium SMAK St. Louis 1 4.6.1. Kualitas Fisik Udara

Pengukuran kualitas fisik udara dalam kelas dilakukan 1 titik pengambilan sampel oleh HIPERKES. Hasil yang didapat kemudian dibandingkan dengan baku mutu Keputusan Menteri Kesehatan No. 1405 tahun 2002.

Tabel 4.4. Hasil uji fisik udara

Variabel

1 HIPERKES

17/03/2016 Pukul 12.35 –-12.45

2 Petrolab 20/04/2016

Pukul 10.15 – 10.30

Rata - rata

Baku Mutu Kepmenkes No.

1405 Tahun 2002

Suhu 26,5 oC 28 oC 27 oC 18 – 28 oC

Kelembaban 51% 67% 59 % 40-60%

Sumber : Hasil Test HIPERKES dan Petrolab (2016)

(18)

Kualitas fisik udara untuk parameter suhu dan kelembaban memenuhi syarat baku mutu sebagaimana yang ditetapkan oleh Keputusan Menteri Kesehatan No. 1405 tahun 2002.

Ruang kelas menggunakan penghawaan buatan berupa AC Split, oleh karena itu daya AC yang dibutuhkan dalam ruang perlu dihitung untuk mengetahui apakah sudah sesuai dengan daya yang dibutuhkan.

Jumlah AC dalam ruang : 2 buah, dengan beban masing – masing 1 PK Perhitungan kebutuhan AC dalam ruang :

1 m = 3,33 ft

Ruang kelas memiliki panjang dan lebar 8 m, jika dirubah menjadi feet 8 x 3,33 ft = 26,64 ft = 27 ft

Luas kelas = panjang x lebar Luas kelas = 27 ft x 27 ft = 729 ft

Kapasitas ruang adalah 40 orang. Maka setiap orang memiliki area sebesar 729 ft / 40 = 18 sqft/ orang (lihat Lampiran 7)

Untuk 18 sqft pada ruang kelas termasuk dalam average dengan Hi sebesar 150 Maka beban AC sebesar 729/150 = 4,86 ton

1 ton = 1,3 PK

Maka beban AC adalah 4,86 x 1,3 = 6 PK (tidak memenuhi karena beban AC hanya 2PK)

4.6.2. Kualitas Kimia Udara

Pemeriksaan kualitas kimia udara dalam kelas dilakukan 1 kali. Penelitian

ini dilakukan oleh HIPERKES dan hasil yang didapat kemudian dibandingkan

dengan baku mutu Keputusan Menteri Kesehatan No. 1405 tahun 2002 dan

Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transportasi.

(19)

Tabel 4.5. Hasil uji kimia udara

Parameter Satuan Kadar

Baku Mutu Kepmenkes No.

1405 Tahun 2002

Baku Mutu Permenakertrans No.13/MEN/X/2011 Karbon

monoksida ppm 0,67 25 25

Nitrogen

dioksida ppm 0,0161 3 3

Debu mg/Nm3 0,0739 - 10

Timah Hitam mg/Nm3 <0,00002 - 0,05

Benzene ppm <0,0020 - 0,5

Formaldehide ppm 0,0015 - 0,3

Sumber : Hasil Test HIPERKES (2016)

Menurut Tabel 4.7., diketahui bahwa faktor kimia udara dalam ruang kelas berada pada batas yang sangat aman. Adanya faktor kimia di dalam ruang dapat berasal dari siswa yang membawa debu dari luar atau dari kebiasaan siswa yang sering keluar masuk ruang kelas.

4.6.3. Kualitas Mikrobiologi Udara

Setelah melalui proses pengkulturan dan pengidentifikasian selama 1 minggu di laboratorium petrolab, maka didapat hasil uji mikrobiologi udara.

Adapun hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Petrolab adalah sebagai berikut :

Tabel 4.6. Hasil uji kualitas mikrobiologi udara

Parameter Satuan Hasil Baku Mutu Kepmenkes No.

1405 Tahun 2002

Jumlah kuman CFU/m3 185 700

Jamur (swab test) - Positif -

Sumber : Hasil Test Petrolab (2016)

Berdasarkan Tabel 4.6. jumlah koloni kuman di dalam ruang masih berada

pada batas aman, namun dari hasil swab test pada AC dideteksi adanya jamur,

yang berasal dari kurang rutinnya pembersihan AC. Jamur yang berada di dalam

AC dapat tersebar ke seluruh ruangan. Ruangan yang terdeteksi positif terdapat

jamur akan meningkatkan kemungkinan pengguna mengalami gangguan

kesehatan yang ditimbulkan oleh jamur seperti misalnya gatal – gatal.

(20)

4.7. Hasil Kuisioner SMAK St. Louis 1

Pengisian kuesioner dilakukan pada bulan Maret 2016, dengan sampel sebanyak 39 responden. Adapun penelitian dilakukan pada sampel populasi sebagai berikut :

1. Karakteristik Responden

Karakteristik reponden meliputi jenis kelamin dan usia. Menurut kuisioner diketahui jenis kelamin koresponden terbanyak adalah perempuan, yaitu 20 orang perempuan dan 19 orang laki – laki. Berdasarkan usiannya koresponden rata – rata 17 – 18 tahun.

2. Tingkat Pemaparan

Tingkat pemaparan polutan terhadap responden ditentukan oleh lama jam kerja, dan frekuensi keluar masuk ruang kelas. Koresponden berada di dalam ruang kelas selama 8 jam. Hasil perhitungan kuisioner memperlihatkan bahwa sebanyak 49% responden sering keluar masuk kelas.

Gambar 4.14. Frekuensi keluar masuk kelas Sumber : Diolah peneliti (2016)

Frekuensi keluar masuk siswa dari ruang kelas dapat membawa polutan masuk kedalam ruang kelas.

Pertanyaan yang diajukan mengenai kenyamanan, gangguan akan bau dan gangguan kesehatan yang dirasakan oleh pengguna kelas. Kenyamanan kelas berkaitan dengan hasil uji fisik (suhu, kelembaban, dan laju ventilasi), gangguan

31%

42%

27%

0%

10%

20%

30%

40%

50%

% persentase

Frekuensi Keluar Masuk Kelas

< 5 kali 5 - 10 kali > 10 kali

(21)

akan bau berkaitan dengan hasil uji kimia dan hasil uji fisik, sedangkan gangguan kesehatan berkaitan dengan hasil uji fisik, kimia, dan mikrobiologi udara.

4.7.1 Kenyamanan Kelas

Berdasarkan hasil kuisioner didapati bahwa sebesar 67% reponden merasa nyaman dengan kondisi kelas saat ini, sedangkan 26% responden merasa kelas tidak nyaman.

Gambar 4.15. Persentase kenyamanan kelas oleh responden Sumber : Diolah peneliti (2016)

Gambar 4.16. Kenyamanan ruang kelas Sumber : Diolah peneliti (2016)

Seperti pada Gambar 4.16., 78% responden berpendapat bahwa terkadang kelas terlalu panas terkadang terlalu dingin, hal ini bisa disebabkan karena

67%

26%

7%

% Kenyamanan Kelas

Ya Tidak Ragu - ragu

78%

11% 11%

0%

20%

40%

60%

80%

100%

% (persentase)

Kenyamanan

Terlalu panas/dingin Suara bising Kelas pengap pada siang hari

(22)

posisi duduk siswa ada beberapa siswa yang duduk dekat dengan AC ada yang duduk jauh dari AC. 11% responden merasa terganggu dengan suara bising terutama suara ambulans atau mobil polisis dikarenakan letak jendela yang langsung meghadap kejalan raya. 11% lainnya berpendapat bahwa kelas sering kali terasa pengap terutama disiang hari saat musim kemarau. Pada Gambar 4.15., diketahui ada sebanyak 7% siswa yang merasa ragu – ragu akan kenyamanan kelas, dikarenakan mereka merasa nyaman saat AC di dalam kelas tidak rusak, namun beberapa kali responden mengalami melakukan aktivitas belajar megajar dengan keadaan AC yang rusak.

Seringnya perubahan keadaan ruang dari panas kedingin dapat memicu perkembangan jamur dan bakteri menjadi lebih cepat dari keadaan kelas dengan suhu yang tetap.

4.7.2. Gangguan Akan Bau

Berdasarkan hasil kuisioner diketahui bahwa sebesar 51% responden merasa terganggu oleh bau.

Gambar 4.17. Persentase gangguan akan bau dalam kelas oleh responden Sumber : Diolah Peneliti (2016)

49% 51%

% Gangguan Bau

Ya Tidak

(23)

Gambar 4.18. Gangguan akan bau Sumber : Diolah peneliti (2016)

Pada Gambar 4.17., sebanyak 70% responden merasa terganggu oleh bau keringat dan gas buang manusia. Kelas yang menggunakan AC tidak memiliki perputaran udara segar dari luar, udara yang masuk hanya akan berputar – putar di dalam ruang, sehingga jika seseorang mengeluarkan bau berupa keringat atau gas buang maka bau tersebut hanya akan berputar – putar di dalam ruang tersebut dan akan hilang jika udara telah difilter oleh AC dalam waktu yang cukup lama atau dengan cara membuka jendela atau pintu. 25%

responden merasa terganggu oleh bau makanan hal ini dirasakan pada siang hari sehabis istirahat, karena beberapa siswa tidak makan di kantin dan membawa bekal dari rumah yang dimakan di dalam kelas, selain itu 5%

responden merasa pengap pada siang hari hal ini bisa dikarenakan kurangnya beban dari pendingin ruang.

4.7.3 Gangguan Kesehatan

Berdasarkan hasil kuisioner responden sering mengalami gangguan fisik.

Gangguan fisik yang dialami dapat dilihat pada Gambar 4.19.

70%

25%

5%

0%

10%

20%

30%

40%

50%

60%

70%

80%

% (persentase)

Gangguan Bau

bau keringat dan gas buang manusia bau makanan pengap

(24)

Gambar 4.19. Gangguan fisik Sumber : Diolah peneliti (2016)

Gangguan fisik yang paling banyak dialami oleh responden adalah bersin – bersin dengan persentase sebesar 76%, lemas/ lelah dan sakit kepala dengan persentase sebesar 65%, kulit kering dengan persentase sebesar 62%, pusing, muntah, tenggorokan kering dan gatal, hidung gatal/berair, dan hidung buntu yaitu sebesar 57%, dan batuk dengan prosentase sebsar 52%. Gangguan fisik yang lainnya dirasakan oleh kurang dari 50% responden.

4.8. Analisa Hasil Uji dan Kuisioner SMA St. Louis 1

Menurunnya kualitas udara dalam suatu ruang dipengaruhi oleh terapan interior dan aktivitas penggunanya. Kualitas udara yang tidak baik akan mempengaruhi kenyamanan, keamanan dan kesehatan pengguna ruang.

Berdasarkan hasil uji dan hasil kuisioner maka diperoleh hasil analisa mengenai keterkaitan antara kualitas udara, terapan interior dan pengguna, sebagai berikut : 1. Penggunaan penghawaan buatan berupa pendingin ruangan / AC. AC

membutuhkan perawatan berkala setiap 3 bulan sekali dan penggantian AC kurang lebih setiap 10 tahun sekali. AC yang kotor dapat menjadi sumber polutan berupa jamur (evaporator yang berlendir), dimana spora yang

65 57

7 65

31 27 38

57 57 76

0

57 52 62

41

0 10 20 30 40 50 60 70 80

% (persentase)

Gangguan Fisik

(25)

dihasilkan oleh jamur dapat tersebar keseluruh ruangan karena terbawa oleh angin yang dikeluarkan oleh AC dan menyebabkan gangguan fisik berupa gatal – gatal atau bersin bersin. Dimana seperti pada Gambar 4.19, sebanyak 76% responden mengalami bersin bersin.

2. AC memiliki sistem kerja mengambil udara dari luar ruangan oleh karena itu peletakan kondenser AC yang kurang tepat dapat menyebabkan udara dengan kualitas yang kurang baik dapat masuk kedalam ruang.

Gambar 4.20. Letak kondenser Sumber : Dokumentasi pribadi (2016)

3. CO dan NO

2

umunya berada diluar ruangan, namun menurut Tabel 4.5 terdapat kadar CO sebesar 0,67 ppm dan NO

2

sebesar 0,0161 ppm. CO dan NO

2

dapat masuk kedalam ruang dikarenakan sering keluar masuknya responden, atau dapat berasal dari debu yang berada pada benda yang dibwa responden mengandung CO dan NO

2.

4. Penggunaan tirai untuk penutup jendela dan adanya bendera dapat menyimpan debu dan kuman, bahkan dapat menjadi medium tumbuhnya jamur.

Penggunaan tirai juga dapat meyebabkan sinar Ultra Violet (UV) tidak dapat masuk, sinar UV dikenal sebagai antiseptik dan dapat membunuh mikroorganisme.

5. Penggunaan bahan eternit/asbes sebagai plafon, penggunaan Asbes sangat berbahaya jika serat terkoyak sehingga serat melayang di udara. Serat asbes dapat menimbulkan masalah kesehatan asbesotis.

6. Banyaknya elemen pendukung interior yang tidak dapat dijangkau untuk proses pembersihan dapat menyimpan debu, bakteri, kuman dan jamur.

Contoh elemen pendukung adalah LCD, speaker, dan hiasan ruang.

(26)

7. Adanya buku – buku yang berserakkan, benda – benda penghias ruang, loker meja yang tidak pernah dibersihkan dapat menjadi sumber debu.

Gambar 4.21. Buku sebagai sumber debu Sumber : Dokumentasi pribadi (2016)

8. Penggunaan white board dimana tinta spidol dapat menghasilkan benzena.

Pada Tabel 4.5., diketahui bahwa terdapat benzena di dalam ruang kelas dengan kadar yang sangat kecil yaitu sebesar <0,0020 ppm, sehingga tidak menimbulkan dampak kesehatan bagi pengguna.

9. Finishing perabot dengan politur dimana politur dapat mengeluarkan gas emisi berupa formaldehid yang dapat mencemari udara. Formaldehid juga didapat pada cairan pembersih yang digunakan untuk membersihkan kelas (lihat Tabel 2.13.). Pada Tabel 4.5., ditemukan kadar formaldehid yang sangat kecil yaitu sebesar 0,0015 ppm sehingga tidak akan menyebabkan gangguan kesehatan.

10. Pengguna ruang dapat menjadi pembawa polutan, khususnya polutan biologis.

Polutan biologis dibawa oleh pengguna ruang dari rumah menuju ke sekolah.

polutan biologis dapat menempel pada pakaian dan barang – barang yang dibawa masuk kedalam kelas oleh pengguna ruang.

11. Pengguna ruang dapat menjadi pembawa kontaminan mikrobiologi.

Kontaminan mikrobiologi yang berada pada debu dapat menempel pada seragam, sepatu atau objek lain dalam perjalanan menuju ke sekolah, yang nantinya akan di bawa masuk ke dalam kelas.

12. Menurut Gambar 4.18., sebanyak 25% dari siswa yang merasa terganggu oleh

bau makanan, ini membuktikan bahwa adanya aktivitas membawa makan ke

dalam kelas. Jika sisa – sisa makanan yang tertinggal tidak dibersihkan makan

(27)

akan mengundang tikus masuk kedalam kelas. kotoran yang ditinggalkan oleh tikus mengandung kuman dan jamur yang akan melepas mikotoksin ke udara.

13. Sebanyak 76% (Gambar, 4.19.), responden menyatakan sering menglami bersin - bersin, hal ini dapat disebabkan oleh banyaknya kuman, bakteri maupun debu di dalam ruangan.

14. Sebanyak 65% (Gambar, 4.19.), responden merasa sakit kepala dan lemas/lelah.Penyebab sakit kepala dan lemas bisa dikarenakan oleh kondisi ruang kelas yang kadang terlalu dingin dan kadang terlalu panas (Gambar 4.16), selain itu karena penggunaan AC maka ruang kelas dalam keadaan tertutup kurangnya kebutuhan oksigen juga dapat menyebabkan rasa lemas dan sakit kepala.

15. Sebanyak 62%, responden mengalami iritasi kulit berupa kulit kering.

Beberapa responden yang mengatakan bahwa kelas dalam keadaan nyaman sering mengalami kulit kering. Kulit kering bisa terjadi karena terlalu lama berada di ruang ber AC atau karena ruangan yang terlalu dingin dan terlalu kering. selain kulit kering keadaan kelas yang terlalu kering dan dingin dapat menyebabkan iritasi mata berupa mata pedih.

4.9. Perbandingan IAQ SMK Negeri 2 dengan SMAK St. Louis 1 4.9.1. Perbandingan Hasil Uji Fisik

Perbandingan hasil uji fisik udara di SMK Negeri 2 dan SMK St. Louis 1 dapat dijabarkan sebagai berikut.

Tabel 4.7. Hasil Uji Fisik Udara

Variabel SMK Negeri 2 SMAK St. Louis 1 Baku Mutu Kepmenkes No. 1405 Tahun 2002

Suhu 31,3 oC 27 oC 18 – 28 oC

Kelembaban 73% 59 % 40-60%

Sumber : Hasil Test HIPERKES dan Petrolab (2016)

Berdasarkan Tabel 4.7 diketahui bahwa SMAK St. Louis 1 yang

menggunakan penghawaan buatan berupa AC Split memiliki suhu dan

kelembaban yang lebih sesuai untuk beraktivitas dibandingkan SMA Negeri 2

yang menggunakan penghawaan alami. Sehingga dari segi suhu dan kelembaban

(28)

penghawaan yang tepat digunakan pada ruang kelas sekolah bangunan cagar budaya di Surabaya adalah penghawaan buatan dengan di imbangi dengan bukaan alami agar tetap ada udara segar yang masuk untuk mengeluarkan bau atau debu yang ada di dalam ruang kelas.

4.9.2. Perbandingan Hasil Uji Kimia

Perbandingan hasil uji kimia udara di SMK Negeri 2 dan SMK St. Louis 1 dapat dijabarkan sebagai berikut.

Tabel 4.8. Hasil Uji Kimia Udara

Parameter Satuan SMK Negeri 2

SMAK St. Louis 1

Baku Mutu Permenakertrans No.13/MEN/X/2011 Karbon

monoksida ppm 1,67 0,67 25

Nitrogen

dioksida ppm 0,0133 0,0161 3

Debu mg/Nm3 0,1361 0,0739 10

Timah Hitam mg/Nm3 <0,00002 <0,00002 0,05

Benzene ppm <0,0020 <0,0020 0,5

Formaldehide ppm 0,0029 0,0015 0,3

Sumber : Hasil Test HIPERKES (2016)

Berdasarkan Tabel 4.8 diketahui bahwa ruang kelas dari SMK Negeri 2 dan SMK St. Louis 1 memiliki kadar polutan kimia yang jauh di bawah standar.

Kedua kelas tersebut sama – sama aman untuk digunakan untuk aktivitas belajar mengajar.

4.9.3. Perbandingan Hasil Uji Mikrobiologi

Perbandingan hasil uji mikrobiologi udara di SMK Negeri 2 dan SMK St.

Louis 1 dapat dijabarkan sebagai berikut.

Tabel 4.9. Hasil Uji Mikrobiologi Udara

Variabel SMK Negeri 2 SMAK St. Louis 1 Baku Mutu Kepmenkes No. 1405 Tahun 2002

Bakteri 265 CFU/m3 185 CFU/m3 < 700 koloni

Jamur Positif Positif -

Sumber : Hasil Test Petrolab (2016)

(29)

Berdasarkan Tabel 4.9. diketahui bahwa jumlah bakteri pada SMK Negeri 2 lebih tinggi di bandingkan SMAK St. Louis 1, namun jumlah koloni masih dalam batas aman. Hasil test jamur menunjukan bahwa kedua ruang kelas dari maisng – masing sekolah positif terdapat jamur. Ruang kelas yang positif jamur dapat menyebabkan pengguna ruang lebih rentan terkena penyakit yang berkaitan dengan jamur.

4.9.4. Perbandingan Kenyamanan dan Gangguan Bau

Hasil kuisioner mengenai kenyamanan dan gangguan bau di SMK Negeri 2 dan SMK St. Louis 1 yang telah dibagikan, kemudian diolah dan dapat dijabarkan sebagai berikut

Tabel 4.10. Tanggapan responden mengenai kenyaman dan gangguan akan bau

Kenyamanan

SMK Negeri 2 SMA St. Louis 1

Ya 7% 67%

Tidak 87% 26%

Ragu - ragu 6% 7%

Gangguan bau

SMK Negeri 2 SMA St. Louis 1

Ya 77% 51%

Tidak 23% 49%

Sumber : Diolah peneliti (2016)

Berdasarkan tabel 4.10 diketahui bahwa SMA St. Louis 1 memiliki tingkat

kenyamanan yang lebih baik dan gangguan bau yang lebih rendah dibandingkan

dengan SMK Negeri 2. Hal ini dikarenakan kecepatan angin yang masuk ke

dalam kelas SMK Negeri 2 kurang, serta suhu dan kelembaban yang tinggi .

responden sering merasa panas dan berkeringat, bau yang ditimbulkan oleh

keringat akan mengganggu responden yang lain.

(30)

4.9.5. Perbandingan Gangguan Kesehatan Yang Dialami

Hasil kuisioner mengenai gangguan kesehatan yang dialami oleh responden di SMK Negeri 2 dan SMK St. Louis 1, kemudian diolah dan dapat dijabarkan sebagai berikut :

Gambar 4.22. Gangguan fisik Sumber : Diolah peneliti (2016)

Berdasarkan Gambar 4.22 diketahui jika pengguna ruang kelas dari SMA St. Louis 1 sering mengalami bersin – bersin dan kulit kering dimana merupakan gejala umum yang dialami oleh orang – orang yang terlalu lama berada diruangan ber AC. Pengguna ruang kelas SMKN Negeri 2 sering mengalami gangguan saraf berupa lemas dan lelah, hal ini dikarenakan suhu dan kelembaban yang terlalu tinggi.

Dari Gambar 4.22., gangguan kesehatan dapat di kategorikan menjadi beberapa gangguan kesehatan yaitu :

Tabel 4.11. Kategori gangguan kesehatan

Kategori Gangguan Kesehatan Gangguan saraf Sakit kepala

Pusing

Mualdan/atau muntah Lemas/lelah

0 10 20 30 40 50 60 70 80

% (persentase)

Gangguan Fisik

SMK Negeri 2 SMA St. Louis 1

(31)

Tabel 4.11. Kategori gangguan kesehatan (sambungan)

Iritasi mata Mata merah Mata pedih Mata berair Iritasi hidung Hidung gatal/berair

Hidung buntu Bersin - bersin Iritasi saluran pernafasan Sesak nafas

Tenggorokan kering dan gatal Batuk

Iritasi kulit Kulit kering Gatal – gatal

Sumber : Diolah peneliti (2016)

Dari Tabel 4.11., dapat diketahui jenis gangguan dan iritasi apa saja yang paling sering dialami dan bagaimana perbandingan gangguan kesehatan antara ruang kelas dengan bangunan yang menggunakan penghawaan alami dengan yang menggunakan penghawaan buatan ( Gambar.4.23).

Gambar 4.23. Gangguan kesehatan Sumber : Diolah peneliti (2016)

Berdasarkan Gambar 4.23. pengguna ruang kelas SMA St. Louis 1 yang menggunakan penghawaan buatan memiliki berbagai macam gangguan fisik yang lebih tinggi dibandingkan dengan SMA Negeri 2. Gangguan fisik tersebut berupa

16

2

12

8

11 14

9

27

11

15

0 5 10 15 20 25 30

Gangguan saraf

Iritasi mata Iritasi hidung Iritasi saluran pernafasan

Iritasi kulit

Gangguan Kesehatan

SMK Negeri 2 SMA St. Louis 1

(32)

iritasi mata, iritasi hidung, iritasi saluran pernafasan, dan iritasi kulit. Hal ini

dikarenakan jika kelas menggunakan penghawaan buatan berupa AC split, udara

yang berada di dalam ruang tidak diperbaharui, sehingga bakteri, kuman, jamur,

dan polutan yang dibawa atau berada di dalam kelas akan tetap berada di dalam

kelas. Keadaan ini akan semakin diperparah jika AC tidak sering dibersihkan.

Gambar

Gambar 4.1. Heat stress monitor  Sumber : Dokumentasi pribadi (2016)
Gambar 4.2. Anemometer  Sumber : Dokumentasi pribadi (2016)
Gambar 4.4. Carbon monoxide meter   Sumber : Dokumentasi pribadi (2016)
Gambar 4.5. Proses pengambilan sampel bakteri dan jamur   Sumber : Dokumentasi pribadi (2016)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penanganan pasien dengan penyakit menular/suspek sebagai berikut: 1) Terapkan dan lakukan pengawasan terhadap kewaspadaan standar. Untuk kasus/dugaan kasus penyakit menular

Hasil uji ELISA dari 16 serum sampel uji dengan menggunakan 3 macam antigen menunjukkan bahwa sensitivitas uji ELISA adalah 100%, sedangkan spesifisitas tes uji

[r]

Infeksi nosokomial merupakan infeksi yang didapat selama pasien dirawat di rumah sakit 3 x 24 jam atau infeksi yang terjadi pada lokasi yang sama tetapi

Efektivitas Metode Edukasi Dengan Booklet dan ceramah Terhadap Ketepatan Penggunaan Obat Untuk Swamedikasi Batuk pada Ibu-Ibu PKK di Kabupaten Banyumas..

rolfsii race gave a significant effect on the plant height parameters at 30 dap, leaf number at 90 dap, branch number at 60 dap, and branch number at 90 dap, but no significant effect

Kurva baku dibuat dengan menghubungkan konsentrasi larutan standar dengan hasil serapannya yang diperoleh dari pengukuran dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis

Kompetensi ke 1 Bidan mempunyai persyaratan pengetahuan dan keterampilan dan ilmu-ilmu social, kesehatan masyarakat dan etik yang membentuk dasar dari asuhan yang