• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pilokarpin sebagai Tatalaksana Presbiopia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Pilokarpin sebagai Tatalaksana Presbiopia"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

I. Pendahuluan

Presbiopia adalah penurunan kemampuan penglihatan dekat yang berkaitan dengan usia dan bersifat fisiologis.Pada umumnya presbiopia terjadi pada pasien berusia 45 hingga 54 tahun sebanyak 51,9%, sedangkan 40,7% pasien dengan presbiopia berusia 35 hingga 44 tahun. Prevalensi serta tingkat keparahan presbiopia lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan dengan laki-laki.1-3 Presbiopia disebabkan menurunnya kemampuan lensa untuk mengubah bentuk agar fokus pada objek dekat, yang dikenal sebagai akomodasi. Hilangnya akomodasi disebabkan pengerasan lensa yang terjadi karena menurunnya viskoelastisitas lensa dan kekuatan kontraksi pada badan siliaris. Presbiopia yang tidak dikoreksi adalah kondisi gangguan penglihatan yang mempengaruhi sekitar 1,8 miliar orang secara global. Kondisi ini akan berdampak pada aktivitas sehari- hari individu, kesejahteraan emosional, dan menurunkan kualitas hidup pasien.1.3.4 Pilokarpin hidroklorida sebagai tetes mata secara umum telah digunakan untuk mengobati glaukoma. Pada awalnya tidak ada pengobatan farmakologis yang disetujui untuk presbiopia, namun pada Oktober 2021, tetes mata Pilokarpin hidroklorida (HCl) 1,25% (VuityTM; Allergan, an AbbVie Company, North Chicago, IL, USA) telah disetujui di Amerika Serikat (AS) untuk pengobatan presbiopia pada orang dewasa. Pilokarpin adalah agen miotik yang mengontraksi otot sfingter iris dan otot siliaris, hal ini menyebabkan konstriksi pada pupil dan terjadi proses akomodasi.3-5 Sari kepustakaan ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme kerja Pilokarpin sebagai tatalaksana farmakologis pada pasien presbiopia.

II. Presbiopia

2.1 Definisi dan Epidemiologi

Presbiopia adalah gangguan penglihatan umum yang berkaitan dengan usia yang ditandai dengan ketidakmampuan progresif untuk fokus pada objek dekat.

Presbiopia disebabkan oleh melemahnya otot siliaris atau hilangnya elastisitas lensa. Beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa peningkatan kekakuan lensa adalah mekanisme penyebab utama.2,4,6

(3)

Pada tahun 2015, diperkirakan sekitar 1,8 miliar orang terkena presbiopia secara global yang merupakan sekitar 25% dari populasi dunia, dan sekitar 826 juta orang tidak memiliki koreksi penglihatan yang tepat. Pada tahun 2030, jumlah penderita presbiopia diperkirakan akan meningkat menjadi 2,1 miliar orang secara global.

Presbiopia mulai terjadi pada usia 40 tahun, dimana usia tersebut adalah kelompok yang paling aktif secara ekonomi. 1,3,7

Di negara berkembang, mayoritas penderita presbiopia tidak mendapatkan koreksi presbiopia, hal ini disebabkan kurangnya kesadaran dan keterjangkauan pelayanan medis yang rendah, bahkan di negara maju, jumlah penderita presbiopia yang tidak menggunakan kacamata presbiopia jauh lebih tinggi. Prevalensi presbiopia di Amerika Serikat berkisar antara 83,0% hingga 88,9% untuk orang dewasa berusia 45 tahun ke atas, sedangkan di Indonesia sendiri, tercatat kasus presbiopia mencapai lebih dari 2 juta kasus per tahunnya.1,3,7

2.2 Etiologi dan Patofisiologi

Pada saat melihat dekat akan terjadi 3 peristiwa yang disebut trias akomodatif yaitu akomodasi, miosis, dan konvergensi. Akomodasi adalah suatu mekanisme yang bertujuan memfokuskan sinar divergen yang datang dari objek dekat agar bayangan benda jatuh tepat di retina. Pada pasien usia lanjut, otot siliar tetap dapat berkontraksi saat berusaha melihat dekat, tetapi tidak terjadi proses akomodasi karena lensa telah kaku, sehingga tidak dapat menambah kecembungan. Akomodasi terjadi akibat kontraksi otot siliaris yang terletak pada badan siliar. Otot siliaris hampir seluruhnya diatur oleh sinyal saraf parasimpatis yang dijalarkan ke mata melalui saraf kranial III. Stimulus pada saraf parasimpatis menimbulkan kontraksi otot siliaris yang akan mengendurkan ligamen lensa. Proses ini mengakibatkan peningkatan ketebalan aksial lensa dan menghasilkan peningkatan daya dioptri, serta memfasilitasi akomodasi untuk penglihatan jarak dekat yang lebih baik. Saat relaksasi otot siliaris, ketegangan pada zonula meningkat, menghasilkan bentuk lensa yang lebih rata dan penurunan kekuatan dioptri. Semua struktur ini dimodifikasi oleh proses penuaan, dimana pengurangan fleksibilitas lensa yang paling terkait dengan hilangnya akomodasi. Penurunan fleksibilitas lensa mengakibatkan lensa tidak dapat menebal dan mengubah bentuk yang diperlukan

(4)

untuk fokus dekat. Pada mata normal, lensa berbentuk sferis dan saat berakomodasi, bayangan jatuh tepat di retina. Tetapi pada presbiopia, hal ini tidak terjadi karena lensa berbentuk lebih pipih, yang disebabkan penurunan daya akomodasi, sehingga bayangan jatuh dibelakang retina.8-11

Gambar 1. Fisiologi Presbiopia Dikutip dari: Abelson MB.11

Terdapat berbagai macam teori yang menggambarkan mekanisme presbiopia.

Namun secara umum, penurunan progresif kemampuan akomodatif lensa yang menjadi penyebab utama terjadinya presbiopia. Beberapa teori yang diusulkan adalah teori Helmholtz, teori Schachar, teori Catenary Coleman, dan teori Tschrening. Teori pertama berasal dari Von Helmholtz yang meyakini bahwa korteks lensa sangat elastis dan dalam keadaan bebas cenderung berbentuk sferis atau bulat. Pada mata yang tidak berakomodasi terjadi relaksasi badan siliar, serat- serat zonular menegang di sekitar ekuator, menyebabkan lensa menjadi pipih.

Kontraksi badan siliar mengurangi tegangan pada ekuator dan memungkinkan lensa untuk berbentuk lebih sferis dan meningkatkan kekuatan refraksi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hilangnya elastisitas kapsul lensa merupakan penyebab utama hilangnya akomodasi.8-10

Teori selanjutnya adalah teori Schachar yang mengusulkan bahwa ketika otot siliaris berkontraksi, maka akan menyebabkan peningkatan ketegangan pada serat

(5)

zonula ekuatorial yang akan menyebabkan kapsul lensa anterior menjadi lebih dalam. Semakin bertambahnya usia, jarak antara badan siliaris dan serat zonula ekuator berkurang, sehingga menyebabkan pembentukan tegangan yang kurang efektif dan akan mempengaruhi akomodasi lensa.8,9,11

Gambar 2. Teori Presbiopia Dikutip dari: Agarwal P.9

Teori Catenary Coleman menyatakan bahwa kontraksi badan siliaris akan menyebabkan peningkatan tekanan vitreous, sehingga menyebabkan adanya pergeseran lensa ke anterior dan akan mempengaruhi akomodasi. Teori berikutnya adalah teori Tscherning, Tscherning tidak sepakat dengan konsep dasar Helmholtz bahwa lensa berada di bawah tegangan ketika mata tidak berakomodasi. Menurut Tschernig, kontraksi badan siliar mengencangkan ligamentum suspensorium dan menarik koroid ke depan, menekan vitreous terhadap lensa posterior dan sekitarnya.

Tekanan inilah yang mengurangi diameter ekuator dan memungkinkan terjadinya bulging atau penggembungan permukaan anterior lensa.9-11

(6)

Semakin bertambahnya usia, otot siliaris akan memberikan ketegangan yang lebih besar pada zonula, sehingga menyebabkan ligamen kelelahan dan penurunan amplitude akomodasi bertambah.

Gambar 3. Penurunan Akomodasi Terhadap Usia Dikutip dari: Karkhanis MU.12

Amplitudo akomodasi merupakan kemampuan maksimal mata untuk mencapai titik fokus terjauh hingga titik fokus terdekat pada kondisi koreksi terbaik.

Penurunan akomodasi biasanya dimulai pada usia 40 tahun sebesar 1 dioptri setiap 4 tahun, setelah usia 40 tahun akomodasi menurun lebih cepat (Gambar 3).1,8,11

Tabel 1. Perkiraan Amplitudo Akomodasi Berdasarkan Usia

Usia Rerata Amplitudo Akomodasi

8 14.0 (±2D)

12 13.0 (±2D)

16 12.0 (±2D)

20 11.0 (±2D)

24 10.0 (±2D)

28 9.0 (±2D)

32 8.0 (±2D)

36 7.0 (±2D)

40 6.0 (±2D)

44 4.5 (±1.5D)

48 3.0 (±1.5D)

52 2.5 (±1.5D)

56 2.0 (±1.0D)

60 1.5 (±1.0D)

64 1.0 (±0.5D)

68 0.5 (±0.5D)

Dikutip dari: Rapuano CJ.17

(7)

2.3 Diagnosis

Saat ini belum ada kriteria standar untuk diagnosis presbiopia, namun McDonald MB, et al mengusulkan sebuah konsesus yang mengklasifikasikan presbiopia menjadi presbiopia ringan, sedang dan berat (lanjut) berdasarkan gejala klinis, ketajaman visual dan koreksi penglihatan dekat.11,15,16

Tabel 2. Klasifikasi Presbiopia

Presbiopia Ringan Presbiopia Sedang Presbiopia Lanjut Penambahan jarak

dekat

<+1.25D >1.25 - +2.00D >+2.00D

DCNVA (fotopik) 20/25-20/40 >20/40-20/80 >20/80

Jaeger (fotopik) <J3 J4-J9 >J9

DCNVA (mesopik)

20/25-20/50 >20/50-20/100 >20/100

Jaeger (mesopik) ≧J5 J6-J10 >J10

Temuan klinis Memegang benda lebih jauh,

kesulitan dalam pencahayaan yang

sangat redup

Menyalakan lampu di sebagian besar

pengaturan, memerlukan bantuan

di hampir semua keadaan

Tidak dapat membaca jarak dekat atau sedang

tanpa bantuan

Usia 40-47 tahun >47-55 tahun >55 tahun

Gangguan refraksi Hiperopia awal dan lebih berdampak

Hiperopia awal dan lebih berdampak

Tidak ada perbedaan antara hiperopia dan

miopia DCVNA= Distance-corrected near visual acuity

Dikutip dari: McDonald MB16

Tanda-tanda awal presbiopia biasanya terlihat saat membaca jarak dekat, kondisi ini terutama dialami ketika lelah atau dalam cahaya redup. Terkadang keluhan disertai dengan sakit kepala, menyipitkan mata, kelelahan atau mengantuk pada saat bekerja, meningkatkan jarak kerja, dan peningkatan cahaya untuk membaca.

Kesulitan melihat jarak kerja dekat atau mengubah dan mempertahankan fokus disebabkan oleh penurunan amplitudo akomodasi. Peningkatan kebutuhan cahaya terang saat membaca sangat bermanfaat bagi pasien karena dapat menyebabkan konstriksi pupil, sehingga meningkatkan kedalaman fokus mata. Kelelahan dan sakit kepala berhubungan dengan kontraksi otot orbicularis atau bagian dari otot occipitofrontalis akibat ketegangan dan usaha atas ketidakmampuan melihat jelas pada jarak dekat, dan mengantuk dikaitkan dengan upaya fisik yang dikeluarkan pada saat mata berakomodasi dalam waktu yang lama.3,7,8

(8)

Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk membantu dalam mendiagnosis presbiopia dimulai dari anamnesis terutama usia dan keluhan utama pasien hingga riwayat penyakit lain yang mungkin dapat menyebabkan presbiopia. Pemeriksaan status oftalmologis pasien dilakukan untuk menilai ketajaman penglihatan pasien, dilanjutkan dengan pemeriksaan refraktif. Presbiopia tidak akan dapat dikoreksi secara adekuat kecuali koreksi jarak jauh sudah dilakukan. Penilaian kemampuan penglihatan dekat dengan meletakkan kartu baca sejauh 25-35cm dilanjutkan dengan penghitungan akomodasi mata.12-14

2.4 Tatalaksana Farmakologi

Tujuan tatalaksana presbiopia adalah untuk mengembalikan sebagian akomodasi aktif dengan upaya untuk meningkatkan penglihatan presbiopia.

Berbagai metode untuk upaya tersebut adalah dengan menggunakan lensa tambahan, baik lensa monofokal, bifokal, trifokal maupun progresif. Selain itu, dapat juga dengan intervensi bedah, yang memodifikasi optik kornea atau mengganti lensa.6,17

Tatalaksana farmakologis dengan menggunakan agen miotik menjadi salah satu pilihan tatalaksana bagi pasien prebsiopia, namun sampai saat ini hanya pilokarpin yang disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk pengelolaan presbiopia, yang telah disetujui pada tahun 2021. Pilokarpin merupakan agen miotik yang telah dipelajari dan digunakan dalam konsentrasi dan bentuk yang berbeda. Agen miotik dapat digunakan baik sebagai monoterapi atau terapi kombinasi dengan agen miotik lain atau agen lain untuk pengobatan presbiopia. Sebagian besar pilihan pengobatan farmakologis presbiopia saat ini bertujuan menginduksi miosis sementara yang menyebabkan efek pinhole untuk meningkatkan kedalaman fokus melalui jalur parasimpatis, selain itu juga mempengaruhi kontraksi badan siliaris yang akan menghasilkan peningkatan akomodasi.1,6,7

Pilokarpin HCl tetes mata 1,25% adalah formulasi yang telah dioptimalkan untuk penggunaan pengobatan presbiopia dan telah diformulasi ulang untuk meningkatkan bioavailabilitas dan tolerabilitas.Kadar pH rendah (~4) diperlukan untuk menstabilkan pilokarpin dalam larutan mata generik, karena kerentanan

(9)

pilokarpin yang tinggi terhadap hidrolisis pada pH fisiologis (~7) namun, pilokarpin terprotonasi (atau terionisasi) pada pH rendah, menyebabkan permeasi transkorneal yang buruk dan akibatnya bioavailabilitas terbatas pada jaringan target. pH rendah dari larutan tetes mata pilokarpin generik juga dapat menyebabkan beberapa efek buruk yang dialami oleh pasien dengan glaukoma. Berdasarkan alasan ini, formulasi ulang pilokarpin dirancang untuk menyeimbangkan dengan cepat ke pH permukaan okular untuk meningkatkan bioavailabilitas dan mengurangi efek samping seperti ketidaknyamanan okular dan penglihatan kabur.5,17,18

2.4.1 Struktur Kimia dan Mekanisme Aksi

Pilokarpin adalah agen parasimpatomimetik yang bertindak sebagai agonis reseptor asetilkolin muskarinik non-spesifik dengan aktivitas beta-adrenergik ringan. Pilokarpin adalah alkaloid tersier yang diekstraksi dari tanaman genus pilocarpus dan secara khusus ditemukan di daun pilocarpus microphyllus dan pilocarpus jaborandi. Nama IUPAC Pilokarpin adalah (3S,4R)-3-ethyl-4 [(3- methylimidazol-4-yl) methyl]oxolan-2-one dan struktur kimiawinya ditunjukkan pada gambar di bawah ini:

Gambar.4 Struktur Kimia Dasar Pilokarpin Dikutip dari: Kapourani A.18

Mekanisme kerja Pilokarpin meliputi agonis reseptor M3 muskarinik penuh dan parsial, yang merupakan reseptor asetilkolin. Ada lima subtipe reseptor asetilkolin muskarinik. Pilokarpin dapat mempengaruhi subtipe reseptor M1-M3, yang menyebabkan efek samping parasimpatis. Dengan pemberian Pilokarpin, maka reseptor Gq akan mengaktifkan fosfolipase dari reseptor M3. Hal ini menyebabkan terciptanya inositol trifosfat dan diasilgliserol serta kalsium dan protein kinase dari

(10)

M2. Proses ini mengakibatkan agonis kolinergik M3 menghasilkan peningkatan regulasi kalsium dan terjadi kontraksi otot polos, seperti pada otot sfingter pupil, otot sfingter iris, yang akan meningkatkan akomodasi pada pasien presbiopia.18,19

Gambar 1. Ilustrasi Mekanisme Aksi Pilokarpin Dikutip dari: Kapourani A.18

2.4.2 Dosis Pemakaian

FDA AS menyetujui penggunaan tetes mata Pilokarpin hidroklorida 1,25%

monoterapi untuk presbiopia. Saat ini masih belum ada pedoman pasti untuk dosis pemakaian Pilokarpin untuk presbiopia, namun dalam uji klinis fase 3, pemberian tetes mata Pilokarpin 1 kali sehari selama 30 hari memberikan hasil yang baik yang ditandai dengan peningkatan akomodasi. Dosis dengan hasil yang baik ini hanya diuji pada pasien dengan presbiopia berusia 40-55 tahun, ketajaman penglihatan jarak dekat (DCNVA) yang dikoreksi jarak antara 20/40 hingga 20/100 dan koreksi jarak terbaik antara spheris −4,00 hingga +1,00 D dan silinder antara −2,00 hingga +2,00 D. Pada kelompok yang diberikan pilokarpin pada uji klinis fase 3 ini, setelah diberikan Pilokarpin 1 kali sehari, pada 3 jam pertama sudah dapat memberikan peningkatan akomodasi.20-22

(11)

Gambar 2. Mekanisme Aksi Pilokarpin pada Presbiopia Dikutip dari: McGee S.5

2.4.3 Efek Samping dan Kontraindikasi

Pilokarpin adalah agonis reseptor muskarinik kolinergik yang bekerja melalui reseptor muskarinik M3 yang terletak pada otot polos, seperti sfingter iris dan otot siliaris. Aktivasi reseptor ini menyebabkan kontraksi sfingter iris, mengecilkan pupil (miosis) dan menciptakan efek pinhole. Pengurangan diameter pupil meningkatkan kedalaman fokus dan memungkinkan rentang yang lebih besar dalam penglihatan dekat dan menengah. Sementara itu, kontraksi otot siliaris akan mengubah ketebalan lensa, merangsang akomodasi untuk memperbaiki visus jarak dekat.5,17

Distribusi reseptor muskarinik yang luas di seluruh tubuh serta berbagai efek samping yang dapat ditimbulkan oleh stimulasi secara sistemik, mengakibatkan pemberian pilokarpin harus disertai dengan pemantauan ekstra. Dilakukan pememantauan terhadap kadar asetilkolin pada pasien yang memakai pilokarpin, mengingat obat ini memiliki target pada reseptor asetilkolin. Efek samping yang harus diwaspadai sebagian besar meliputi mual, tremor, keringat berlebih dan bradikardi yang mungkin terjadi karena distribusi reseptor M3 serta dapat terjadi akibat antagonisme reseptor M1 dan M2. Selain itu, terdapat pula penelitian yang menunjukkan bahwa penggunaan pilokarpin dapat menyebabkan efek samping sakit kepala sebesar 14,9%, konjungtiva hiperemis 5,1%, penglihatan kabur 4,5%

(12)

dan nyeri mata 4,3%, namun tidak ada efek samping lain yang serius setelah pemberian pilokarpin pada pasien presbiopia.1,5,19

Kontraindikasi untuk setiap kelas obat kolinergik, termasuk Pilokarpin, melibatkan penyakit pada sistem yang dipengaruhi oleh adanya reseptor muskarinik. Penyakit ini termasuk Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), penyakit ulkus peptikum, aritmia, penyakit jantung koroner, hipertiroidisme, reseksi atau anastomosis usus, obstruksi urin, hipotensi ortostatik, dan kasus miosis yang parah. Pasien dengan riwayat asma, hipertensi dan dengan riwayat miokard infark harus menghindari penggunaan pilokarpin karena afinitasnya tidak hanya untuk reseptor M3 tetapi juga untuk M1 dan M2, yang ada di jantung dan sistem pernafasan.19,20,22

III. Kesimpulan

Presbiopia merupakan kondisi dimana mata kehilangan daya akomodasi dikarenakan pengerasan lensa yang disebabkan oleh hilangnya viskoelastisitas lensa kristal dan kekuatan kontraksi pada badan siliaris. Pilihan pengobatan farmakologis untuk pasien presbiopia bertujuan meningkatkan kontraksi sfingter iris yang akan menginduksi miosis sementara dan menyebabkan efek pinhole. Pada Oktober 2021, tetes mata Pilokarpin hidroklorida (HCl) 1,25% (VuityTM;

Allergan, an AbbVie Company, North Chicago, IL, USA) telah disetujui di AS untuk pengobatan presbiopia pada orang dewasa, namun sampai saat ini, pedoman terkait dosis untuk penggunaan Pilokarpin untuk presbiopia belum ada. Pada uji klinis fase 3, penggunaan Pilokarpin HCL 1,25% satu kali sehari dalam 30 hari telah memberikan perbaikan pada penderita presbiopia.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

1. Grzybowski A, Ruamviboonsuk V. Pharmacological treatment in Presbyopia. J Clin Med. 2022.

2. Singh S, Singh K, Singh H. Avareness regarding Presbyopia among the patients presenting to eye OPD at tertiary care center. Int J Health Sci. 2022

3. Price FW, Hom M, Moshirfar M, Evans D, Liu H, Penzner J, et al. Combinations of Pilocarpine and oxymetazoline for the pharmacological treatment of Presbyopia.

American Acad Ophthalmol. 2021

4. Jackson MA, Giyanani J, Shabaik Y, Penzner J, Gore AV, Robinson MR, et al. In vitro and in-eye comparison of commercial Pilocarpine Ophthalmic solution and an optimized, reformulated Pilocarpine for Presbyopia treatment. Ophthalmol Ther. 2022;11:869-79

5. McGee S, Waring GO. Pilocarpine hydrochloride Ophthalmic solution 1.23%: an innovative prescription eye drop for the treatment of Presbyopia. Touch Med Media. 2022

6. Katz JA, Karpecki PM, Dorca A, Chiva S, Floyd H, Barnes E, et al. Presbyopia-a review of current treatment options and emerging therapies. Clin Ophthalmol.

2021:15;2167-78

7. Keel S, Foreman J, Xie J, Taylor HR, Dirani M. Prevalence and associations of presenting near-vision impairment in the Australian National Eye Health Survey.

Eye. 2018

8. Singh P, Tripathy K. Presbyopia. StatPearls. 2022. Available from URL:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK560568/

9. Agarwal P, Dhull C, Gupta Y, Khokhar S. Presbyopia correction. 2020

10. Jacob S. Theories of accommodation. 2016. Available from URL:

https://www.escrs.org/eurotimes/theories-of-accommodation

11. Abelson MB, Hollander DA, Slocum C. Accomodation for the aging eye. Rev Ophthalmol. 2023

12. Wati R. Akomodasi dalam Refraksi. J Kes Andalas. 2018

13. Cologne. Presbyopia:overview. InformedHealth.org. 2020. Available from URL:https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK423833/

14. Carlson NB, Kurtz D. Clinical procedures for ocular examination. 4th ed. New York: Mc-Graw Hill;2016

15. Tsuneyoshi Y, Masui S, Arai H, Toda I, Kubota M, Kubota S, et al. Determination of the standard visual criterion for diagnosis and treating prebyopin according to subjective patient symptoms. J Clin Med. 2021

16. McDonald MB, Barnett M, Gaddie IB, Karpecki P, Mah F, Nichols KK, et al.

Classification of Presbyopia by severity. Ophthalmol Ther. 2021

17. Rapuano CJ, Stout JT, McCannel CA. Clinical optics and vision rehabilitation. Am Aca Ophthalmol. 2022

18. Kapourani A, Kontogiannopoulos KN, Barmpalexis P. A review on the role of Pilocarpine on the management of xerostomia and the importance of the topical administration systems development. Pharmaceuticals. 2022

19. Panarese V, Moshirfar M. Pilocarpine. StatPearls. 2022. Available from URL:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK556128/

20. Clinicaltrials.gov. A Phase 3 Efficacy Study of Pilocarpine HCl Ophthalmic solution (AGN-190584) in Participants with Presbyopia (GEMINI 2). Available online: https://clinicaltrials.gov/ct2/show/results/NCT03857542?term=agn- 190584&cond=Presbyopia& draw=2&rank=5 (accessed on 23 February 2023).

(14)

21. Waring IV, G.O.; McCabe, C.M.; Wirta, D.L.; Safyan, E.; Guo, Q.; Robinson, M.R. PA031—GEMINI 1 and 2 Pooled Phase 3 Safety and Efficacy: AGN-190584

Primary and Key Secondary Endpoints. Available

online:https://registration.experientevent.com/

showaao211/flow/Attendee#!/registrant//ShowItems/ (accessed on 23 February 2023).

22. Clinicaltrials.gov. Efficacy Study of Pilocarpine HCl Ophthalmic solution (AGN- 190584) in Participants with Presbyopia (GEMINI 1). Available online:

https://clinicaltrials.gov/ct2/show/NCT03804268 (accessed on 23 February 2023).

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan terhadap fokus penelitian adalah perencanaan rekrutmen sumber daya manusia dari tenaga honorer kategori II menjadi calon pegawai negeri

Tgl 20/1 : “TaVi Sport” menjual barang dagangan secara tunai berupa kaos olah raga untuk SMPN 115 sebanyak 200 unit @ Rp.. Tgl 7/2 : “TaVi Sport” membayar biaya listrik &amp;

Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan PER antara perusahaan di bidang keuangan dengan perusahaan di bidang non keuangan yang tidak melakukan smoothing dapat digunakan uji t

penjaminan mutu audit di BPK, beban kerja dan tekanan waktu masih menjadi kondisi yang dirasakan dan sampaikan oleh beberapa auditor. Kondisi itu cukup berdampak

Bakelit, poli(melanin formaldehida) dan poli (urea formaldehida) adalah contoh polimer ini. Sekalipun polimer- polimer termoseting lebih sulit untuk dipakai ulang

pengаmbilаn sаmpel yаng digunаkаn dаlаm penelitiаn ini аdаlаh non probаbility sаmpling dengаn cаrа purposive sаmpling.. Jurnal Administrasi Bisnis

1) Pendidik berkeliling dan memastikan semua anak aktif bermain. 2) Memberi gagasan cara main pada anak yang belum memiliki pengalaman menggunakan bahan dan alat main

Hasil uji ekstrak etanol daun binahong pada L3 menunjukkan bahwa kelompok kontrol negatif memiliki daya tetas yang tinggi (100%), yang mampu menyelesaikan siklus hidupnya dari L3