• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PEMAHAMAN ETIKA KAMPUS TERHADAP TINGKAH LAKU BELAJAR MAHASISWA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PENGARUH PEMAHAMAN ETIKA KAMPUS TERHADAP TINGKAH LAKU BELAJAR MAHASISWA"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PEMAHAMAN ETIKA KAMPUS TERHADAP TINGKAH LAKU BELAJAR MAHASISWA

THE INFLUENCE OF UNDERSTANDING CAMPUS ETHICS ON STUDENT LEARNING BEHAVIOR

Oleh:

Jumin

Universitas Halu Oleo Email: [email protected]

Kata Kunci:

Etika Kampus, Tingkah Laku Belajar

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemahaman etika kampus terhadap tingkah laku belajar mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Konseling. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 60 yakni seluruh mahasiswa angkatan Bimbingan dan Konseling tahun 2016. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik probability sampling. Instrument pengumpulan data adalah angket pemahaman etika kampus dan angket tingkah laku belajar.

Metode analisis data adalah dengan teknik analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor pemahaman etika kampus berada pada kategori tinggi sedangkan skor tingkah laku belajar sangat tinggi. Berdasarkan perhitungan diperoleh Fhitung = 6.380 dengan taraf signifikan 0,000. Nilai signifikan sebesar 0,000 < 0,05, hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara pemahaman etika kampus terhadap tingkah laku belajar mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Sedangkan kontribusi variabel pemahaman etika kampus terhadap tingkah laku belajar adalah sebesar 9,9 % sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti.

Keywords:

Ethic

Understanding, Learning Behavior

ABSTRACT

The purpose of this study was to determine the effect of understanding campus ethics on student behavior in guidance and counseling. This type of research is quantitative research. The population in this study amounted to 60 of the Guidance and Counseling students in 2016 grade. The sample in this study has been taken by probability sampling technique. The data collected by instruments were a questionnaire on campus ethics understanding and a learning behavior questionnaire. The method of data analysis is the technique of regression analysis. The results showed that the score for understanding campus ethics was in the high category while the score for learning behavior was very high. Based on the calculations obtained Fcount 6.380 with a significant level of 0.000. A significant value of 0.000 <0.05, it indicates that there is a significant influence between understanding campus ethics on the learning behavior of Guidance and Counseling students. While the contribution of the variable understanding of campus ethics to learning behavior is 9.9%, the rest has influenced by other variables not examined.

(2)

Pendahuluan

Perkembangan ilmu pengetahuan membawa dampak di segala bidang terutama di kalangan mahasiswa. Kemajuan ini menuntut mahasiswa untuk lebih memahami baik dan buruknya suatu tindakan yang dilakukan. Karena pada dasarnya mahasiswa merupakan pelaku dalam pergerakan pembaharuan yang akan menjadi generasi-generasi penerus bangsa. Sebagai generasi penerus bangsa mahasiswa harus memiliki etika dan memahami etika akademik itu sendiri. Etika bagi mahasiswa dapat menjadi alat kontrol di dalam melakukan suatu tindakan, menjadi gambaran bagi mahasiswa dalam mengambil suatu keputusan.

Perguruan tinggi merupakan suatu lingkungan pendidikan tinggi bukan merupakan lingkungan yang eksklusif. Dengan demikian, kampus merupakan komunitas atau masyarakat yang tersendiri yang disebut masyarakat akademik. Di dalam kampus terdapat kegiatan-kegiatan dan tata aturan yang lain dari yang lain. Oleh karena itu, kampus menjadi semacam lembaga akademik dan jalinan antar kampus memiliki suasana yang khas, yaitu suasana akademik. Ciri-ciri masyarakat akademik yaitu kritis, objektif, kreatif dan konstruktif, terbuka untuk menerima kritik, menghargai waktu dan prestasi ilmiah, bebas dari prasangka, kemitraan dialogis, memiliki dan menjunjung tinggi norma dan susila akademik serta tradisi ilmiah, dinamis, dan berorientasi ke masa depan (Widyanto, 2007).

Mahasiswa sebagai salah satu unsur civitas academica yang merupakan obyek dan sekaligus subyek dalam proses pembelajaran juga perlu memiliki, memahami dan mengindahkan etika akademik khususnya pada saat mereka sedang berinteraksi dengan dosen maupun sesama mahasiswa yang pada saat mereka berada dalam lingkungan kampus (Hudiarini, 2017: 6). Mahasiswa harus dibekali dengan ilmu etika untuk lebih memahami etika akademik terutama dalam lingkungan kampus. Selain pengetahuan akademik pada diri seorang mahasiswa, etika juga sangat berpengaruh dalam kehidupannya baik di lingkungan kampus maupun di lingkungan masyarakat. Etika berperan penting bagi pribadi mahasiswa itu sendiri maupun orang lain. Sebagai cerminan masyarakat akademik yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kesopanan, maka mahasiswa wajib menghargai dirinya sendiri, lebih-lebih orang lain. Untuk itu penelitian ini akan mengambil masalah mengenai pemahaman etika kampus di lingkungan kampus.

Etika diarahkan kepada perilaku manusia yang dilakukan secara sadar dan atas kemauan sendiri.

Kadang kala etika digunakan dengan pengertian moral, tindakan secara moral diangggap baik disebut beretika. Etika menaruh perhatian kepada kaidah-kaidah yang membimbing tingkah laku dan cita-cita dalam pembentukan manusia Indonesia. Etika mengarahkan kita untuk berpikir lebih tenang karena etika membahas mengenai perbuatan manusia. Etika berasal dari bahasa perancis yakni Etiquete yang berarti tata pergaulan yang baik antara manusia atau peraturan/ ketentuan yang menetapkan tingkah laku yang baik dalam berhubungan dengan orang lain. Pengertian tersebut mempertimbangkan pengertian etika di lingkungan kampus.

Banyak sekali kejadian-kejadian yang menggambarkan kurangnya etika di kalangan mahasiswa, contoh kecilnya adalah mahasiswa yang kurang menghargai waktu dengan datang terlambat, kurangnya keseriusan dalam belajar, tidak mengerjakan tugas dari dosen dan masih banyak lagi.

Seseorang yang berpengetahuan luas dan berpendidikan tinggi namun memunyai etika yang tidak baik bisa berdampak buruk bagi dirinya sendiri, lingkungan kampus, tempat kerja maupun masyarakat.

Untuk menghindari multitafsir, bahwa etika kampus yaitu peraturan akademik yang telah ditetapkan di kampus. Univeristas Halu Oleo menetapkan tata tertib perkuliahan dalam peraturan akademik tahun 2019 pada BAB XIV pasal 60 yaitu tidak mengganggu kelancaran dan ketertiban perkuliahan, dalam mengikuti perkuliahan harus sopan, hadir ditempat kuliah sebelum perkuliahan dimulai. Hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti terjadi beberapa masalah yang dilakukan mahasiswa pada saat proses perkuliahan yaitu ketika perkuliahan sedang berlangsung pada saat dosen sedang menjelaskan materi perkuliahan ada mahasiswa yang sibuk dengan Handphonenya, ada mahasiswa yang cerita dengan temannya, siswa tidak mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh dosen pengajar, terlambat pada saat kuliah sehingga mengganggu konsentrasi temannya dan membuat diri sendiri tidak mengetahui materi yang diberikan oleh dosen. Hal ini menunjukkan bahwa etika yang kurang dapat memengaruhi tingkah laku belajar mahasiswa. Sehingga dalam proses belajar

(3)

mahasiswa harus memiliki kesadaran diri dalam menerapkan pemahaman etika, karena etika yang baik dapat memengaruhi tingkah laku belajar seseorang baik itu siswa maupun mahasiswa.

Tingkah laku belajar mahasiswa adalah suatu sikap yang muncul dari diri mahasiswa dalam menanggapi dan merespon setiap kegiatan belajar mengajar yang terjadi, menunjukkan sikap apakah antusias dan bertanggung jawab atas kesempatan belajar yang diberikan kepadanya. Tingkah laku belajar yang baik mendorong seseorang mendapatkan hasil belajar yang maksimal. Pengaruh etika dalam kuliah tidak bisa diabaikan karena dapat berpengaruh terhadap kurang maksimalnya proses belajar dan mengajar serta tingkah laku belajar mahasiswa. Melalui kejadian tersebut, peneliti bermaksud untuk meneliti permasalahan tersebut dengan tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemahaman etika kampus terhadap tingkah laku belajar belajar mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Halu Oleo.

Tingkah Laku Belajar

Perilaku belajar atau tingkah laku belajar dapat diartikan sebagai sebuah aktivitas belajar. Konsep dan pengertian belajar sendiri sangat beragam, tergantung dari sisi pandang setiap orang yang mengamatinya. Perilaku belajar menurut Walgito (2003: 166) adalah suatu aktivitas mental/ psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Sikap yang muncul dari diri siswa dalam menanggapi dan merespons setiap kegiatan belajar mengajar yang terjadi, menunjukkan sikapnya apakah antusias dan bertanggung jawab atas kesempatan belajar yang diberikan kepadanya. Perilaku belajar memiliki dua penilaian kualitatif yakni baik dan buruk tergantung kepada individu yang mengalaminya, untuk meresponsnya dengan baik atau bahkan acuh tak acuh. Perilaku belajar juga berbicara mengenai cara belajar yang dilakukan oleh siswa itu sendiri, sehingga dapat disimpulkan bahwa perilaku belajar adalah merupakan cara atau tindakan yang berisi sikap atas pelaksanaan teknik-teknik belajar yang dilaksanakan individu atau siapapun juga dalam waktu dan situasi belajar tertentu (Soemanto, 2008: 77).

Ciri-ciri Tingkah Laku Belajar

Ciri-ciri khusus yang menjadi karakteristik tingkah laku belajar adalah:

1. Perubahan intensional

Perubahan yang terjadi dalam proses belajar adalah berkat pengalaman atau praktik yang dilakukan dengan sengaja dan disadari. Karakteristik ini maknanya adalah bahwa siswa menyadari akan adanya perubahan yang dialami atau sekurang-kurangnya ia merasakan adanya perubahan dalam dirinya, seperti penambahan pengetahuan, kebiasaan, sikap dan pandangan sesuatu dan keterampilan.

2. Perubahan positif dan aktif

Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat positif dan aktif. Perubahan yang bersifat positif maknanya baik, bermanfaat serta sesuai dengan harapan. Hal ini juga bermakna bahwa perubahan tersebut senantiasa merupakan penambahan, yakni diperolehnya sesuatu yang relatif baru (misalnya pemahaman dan keterampilan baru) yang lebih baik dari apa yang telah ada sebelumnya. Perubahan bersifat aktif artinya tidak terjadi dengan sendirinya karena proses kematangan.

3. Perubahan efektif dan fungsional

Perubahan yang timbul karena proses belajar bersifat efektif, yakni berdaya guna. Artinya, perubahan tersebut membawa pengaruh, makna dan manfaat tertentu bagi orang atau individu yang belajar. Perubahan yang bersifat fungsional juga bermakna bahwa ia relatif menetap dan setiap saat apabila dibutuhkan, perubahan tersebut dapat direduksi dan dimanfaatkan. Perubahan fungsional dapat diharapkan memberi manfaat yang luas (Tohirin: 2011).

(4)

Faktor-faktor yang Memengaruhi Tingkah Laku Belajar 1. Faktor Internal

Faktor internal yakni keadaan/ kondisi jasmani dan rohani peserta didik. Faktor ini meliputi dua aspek:

a. Aspek jasmani, yakni kondisi umum jasmani yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat memengaruhi semangat dan intensitas peserta didik dalam mengikuti pelajaran.

b. Aspek psikologis, yakni tingkat kecerdasan/ intelegensi peserta didik, sikap peserta didik, bakat peserta didik, minat peserta didik dan motivasi peserta didik.

2. Faktor Eksternal

Faktor eksternal yakni kondisi lingkungan di sekitar peserta didik, faktor ini terbagi atas 2 macam yaitu:

a. Lingkungan sosial, seperti kepala sekolah, guru, staf dan teman-teman sekelas yang dapat memengaruhi semangat belajar seorang peserta didik. Lingkungan masyarakat, tetangga, juga teman-teman bermainnya di sekitar tempat tinggalnya juga memengaruhi perilaku belajar peserta didik dan yang paling berpengaruh terhadap perilaku belajar seorang peserta didik yaitu lingkungan keluarga.

b. Lingkungan non social, yakni gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga peserta didik dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan peserta didik.

3. Faktor Pendekatan Belajar

Faktor pendekatan belajar yakni jenis upaya belajar peserta didik yang meliputi strategi dan metode yang digunakan peserta didik untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran. Faktor-faktor di atas dalam banyak hal sering berkaitan dan memengaruhi satu sama lain.

Manifestasi Tingkah Laku Belajar

Menurut Syah (2010: 121-125) Manifestasi atau perwujudan perilaku belajar biasanya lebih sering tampak dalam perubahan-perubahan sebagai berikut:

1. Kebiasaan.

2. Keterampilan.

3. Pengamatan.

4. Berpikir asosiatif dan daya ingat.

5. Berpikir rasional dan kritis.

6. Sikap.

7. Inhibisi.

8. Apresiasi, dan 9. tingkah laku afektif.

Pemahaman Etika Kampus

Istilah etika itu sendiri berasal dari bahasa Perancis yaitu Etiquete yang berarti tata pergaulan yang baik antara manusia atau peraturan/ ketentuan yang menetapkan tingkah laku yang baik, perilaku yang baik dan menyenangkan. Kata tata krama berasal dari kata tata yang berarti adat aturan atau norma, sedangkan kata krama berarti sopan santun, kelakuan, tindakan dan perbuatan, sedangkan kata pergaulan menunjukkan hubungan manusia dengan manusia lain (Hudiarini, 2017: 2). Etika dapat diartikan sebagai moral, masyarakat sering mengaitkan moralitas dengan adat istiadat atau kebiasaan yang baik yang berlaku dalam masyarakat. Etiket berarti sopan santun, etiket bukan hanya digunakan dalam pergaulan saja, tetapi juga dapat dijadikan sebagai jalan untuk memuluskan hubungan dan melancarkan berbagai urusan.

Dalam dunia pendidikan, etika sangat penting karena etika menjadi kunci dan panduan dalam berinteraksi dan bertingkah laku di lingkungan pendidikan utamanya pendidikan tinggi. Etika dalam bertingkah laku memberikan petunjuk kepada setiap siswa maupun mahasiswa sebagai pedoman

(5)

dalam bertindak dan memperlakukan siapa saja dengan cara yang baik dan sikap yang pantas.

Keterampilan dalam berinteraksi dengan orang lain, sikap pribadi dalam mempertimbangkan sesuatu tercermin dalam sikap perbuatan yang kita lakukan dan ucapan-ucapan yang keluar dari mulut kita.

Dengan sepenuhnya membiasakan diri menjalankan etiket yang baik, dengan sendirinya akan banyak membantu untuk mencapai moral yang lebih luhur. Jika kita menjalankan etiket yang kurang baik, maka ada kemungkinan kita tersisih dari pergaulan.

Berdasarkan definisi-definisi tersebut, maka etika kampus merupakan kebiasaan-kebiasaan hidup di lingkungan kampus dalam bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai dan tata cara hidup di kampus itu sendiri. Etika kampus ini mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku manusia.

Akan tetapi, berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif. Maksudnya etika melihat dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan manusia. Jadi, pemahaman etika kampus adalah pengetahuan seseorang tentang kebiasaan-kebiasaan baik dan penggunaan tata cara bertingkah laku di lingkungan kampus. Tata cara bertingkah laku yang dimaksud adalah sikap dalam berinteraksi antara sesama dosen, dosen dengan pimpinan, dosen dengan mahasiswa, mahasiswa dengan pegawai staf di civitas akademik, dan mahasiswa dengan mahasiswa.

Dasar dan Tujuan Etika Kampus

Pendidikan tinggi merupakan upaya sadar yang dilakukan dalam rangka meningkatkan kadar ilmu pengetahuan dan pengamalan bagi mahasiswa untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Perguruan tinggi sebagai wadah/ tempat untuk penyelenggaraan pendidikan bagi semua manusia agar lebih berkualitas. Tujuan perguruan tinggi pada dasarnya adalah berusaha untuk memelihara keseimbangan kehidupan yang memiliki tujuan ganda yaitu meningkatkan kadar intelektual dan meningkatkan kedewasaan moral sehingga memerlukan pendekatan-pendekatan khusus. Secara lembaga perguruan tinggi memiliki peranan untuk menumbuh kembangkan kadar intelektual, spiritual dan emosional para mahasiswa. Bergumul dengan nilai-nilai kehidupan kemasyarakatan, mendesiminasikan pengetahuan sebagai pengabdian kemajuan masyarakat. Undang-undang nomor 20 tahun 2003, pasal 20 ayat 3 menyatakan bahwa perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Etika memiliki peranan atau fungsi di antaranya yaitu:

1. Dengan etika seseorang atau kelompok dapat mengemukakan penilaian tentang perilaku manusia, 2. menjadi alat kontrol atau menjadi rambu-rambu bagi seseorang atau kelompok dalam melakukan

suatu tindakan atau aktivitasnya sebagai mahasiswa,

3. Etika dapat memberikan prospek untuk mengatasi kesulitan moral yang kita hadapi sekarang, 4. Etika dapat menjadi prinsip yang mendasar bagi mahasiswa dalam menjalankan aktivitas

kemahasiswaannya,

5. Etika menjadi penuntun agar dapat bersikap sopan, santun, dan dengan etika kita bisa dicap sebagai orang baik di dalam masyarakat (Arum, 2012: 66).

Pendidikan karakter yang diberikan oleh perguruan tinggi dapat berupa pemberian penghargaan bagi yang berprestasi dan hukuman bagi yang melanggar. Menumbuh suburkan nilai-nilai yang baik dan mengecam dan mencegah nilai-nilai yang buruk. Penerapan pendidikan karakter pada perguruan tinggi dapat diberikan melalui mata kuliah antara lain pendidikan agama, pendidikan pancasila dan kewarganegaraan, ilmu budaya dasar, etika bisnis dan professional dan lainnya.

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada peserta didik/

mahasiswa yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai “the deliberate use of all dimensions of school life to foster optimal character development.” Dalam pendidikan karakter pada perguruan tinggi maka semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata kuliah, pengelolaan perguruan tinggi, pelaksanaan aktivitas atau

(6)

kegiatan luar kuliah, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga kampus.

Materi Aturan Etika Kampus

Etika dapat juga dipandang sebagai filsafat praktis yaitu filsafat yang berusaha memberikan penyuluhan tentang bagaimana manusia harus bertingkah laku. Hal ini penting karena setiap komunitas memiliki sistem nilai masing-masing, baik dari unit komunitas yang paling kecil yaitu keluarga, komunitas dunia pendidikan/ persekolahan, dan komunitas yang lebih luas lagi yaitu, masyarakat. Para anggota komunitas itu dituntut untuk dapat memahami dan menjalani sistem nilai yang berlaku. Begitupun di lingkungan kampus, setiap civitas academika diharapkan ikut membangun sistem nilai di lingkungan kampus, baik dosen, karyawan dan mahasiswa.

Pada umumnya, etika berkenaan dengan suatu pedoman yang bersifat sakral, sopan, baik, dihormati, penuh tata karma, bermoral, tidak memecundangi, tidak merugikan, tidak menyusahkan orang lain dan sebagainya. Biasanya etika berkenaan dengan suatu perbuataan, suatu tingkah laku yang dianggap sesuai dengan adat, norma, moral, aturan dan lain sebagainya. Antara etika dengan mahasiswa memiliki hubungan yang sangat erat. (Arum, 2012).

Peraturan Akademik Universitas Halu Oleo

Peraturan Akademik yang ditetapkan untuk Mahasiswa merujuk pada Peraturan Rektor Universitas Halu Oleo Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Peraturan Akademik Di Lingkungan Universitas Halu Oleo BAB IX yang merupakan kewajiban, hak dan larangan:

1. Paragraf 1 kewajiban pasal 27 setiap mahasiswa wajib:

a. Mengikuti pendidikan karakter atau sebutan lainnya sesuai dengan ketentuan universitas.

b. Ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan kecuali bagi mahasiswa yang dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

c. Belajar, mengaji dan berlatih mengembangkan keilmuan.

d. Ikut memelihara sarana dan prasarana serta kebersihan, ketertiban dan keamanan.

e. Menghargai ilmu, teknologi dan/ atau seni;

f. Menjaga dan menjunjung tinggi kewibawaan dan nama baik almamater.

g. Menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan moral.

h. Mempunyai toleransi yang tinggi dalam berbagai perbedaan.

i. Menjunjung tinggi kebudayaan nasional.

j. Mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Paragraf 2 hak pasal 28, setiap mahasiswa berhak:

a. Menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab untuk menuntut dan mengkaji ilmu sesuai dengan norma dan etika keilmuan yang berlaku dalam lingkungan akademik.

b. Memperoleh pengajaran sebaik-baiknya dan layanan bidang akademik sesuai dengan minat, bakat, kegemaran dan kemampuan.

c. Memanfaatkan fasilitas Universitas/ Fakultas/ Profesi/ Vokasi/ Bagian/ Jurusan/ Program Studi dalam rangka kelancaran proses belajar.

d. Mendapat bimbingan dari dosen yang bertanggung jawab atas Bagian/ Jurusan/ Program Studi yang diikutinya dalam penyelesaian studinya.

e. Memperoleh layanan informasi yang berkaitan dengan Bagian/ Jurusan/ Program Studi yang diikutinya serta hasil belajarnya.

f. Memperoleh layanan kesejahteraan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

g. Memanfaatkan sumber daya UHO melalui perwakilan atau organisasi kemahasiswaan untuk mengurus dan mengatur kesejahteraan, minat, bakat dan tata kehidupan bermasyarakat.

h. Mutasi ke Perguruan Tinggi lain/ Fakultas/ Profesi/ Vokasi/ Bagian/ Jurusan/ Program Studi.

i. Ikut serta dalam kegiatan organisasi mahasiswa Universitas/ Fakultas/ Vokasi/ Bagian/ Jurusan/

Program Studi.

j. Memperoleh pelayanan khusus bilamana menyandang cacat sesuai kemampuan.

(7)

k. Memilih calon pembimbing skripsi/ makalah kepada Ketua Jurusan/ Koordinator Program Studi atas saran Pensehat Akademik.

3. Paragraf 3 larangan pasal 29, setiap mahasiswa dilarang:

a. Memboikot atau menghambat proses perkuliahan atau kegiatan akademik.

b. Menggunakan sarana dan prasarana kampus sebagai tempat tinggal dan menetap sehari-hari.

c. Melakukan perkelahian/ tawuran.

d. Melakukan kegiatan politik praktis dalam kampus.

e. Melakukan pelanggaran akademik.

f. Melakukan plagiat.

g. Memalsukan data, informasi, identitas.

h. Melakukan pelanggaran tata tertib kampus.

i. Menyalahgunakan keuangan negara.

j. Membawa, menjual dan/atau mengonsumsi minuman beralkohol di dalam kampus.

k. Membawa, mengedarkan dan/atau menyalahgunakan narkotika dan obat-obatan terlarang.

l. Membawa atau menyalahgunakan senjata tajam atau senjata api.

m. Mengancam, mencuri, dan melakukan pemerasan atau pembajakan.

n. Melakukan persekongkolan dengan orang lain untuk melakukan kegiatan baik dalam kampus maupun di luar kampus.

o. Merusak sarana dan prasarana kampus;

p. Melakukan demonstrasi dalam radius 500 meter dari lingkungan Universitas Halu Oleo tanpa izin tertulis dari dekan/ direktur.

q. Melakukan perbuatan asusila.

r. Mengatasnamakan UHO tanpa izin untuk mendapatkan keuntungan dan memperkaya diri sendiri atau orang lain.

s. Melakukan tindak pidana lainnya.

4. Tata tertib perkuliahan pasal 60 untuk dosen dan mahasiswa:

a. Kehadiran minimal 80 %

b. Tidak mengganggu kelancaran dan ketertiban perkuliahan c. Hadir di tempat kuliah sebelum perkuliahan dimulai

d. Dalam perkuliahan harus sopan, berpakaian rapi, dan memakai sepatu e. Tidak menggunakan baju kaos oblong, celana robek, dan/ atau sandal

f. Mahasiswa yang tidak menaati ketentuan ini dapat dikeluarkan dari ruang kuliah oleh dosen yang bersangkutan

Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Universitas Halu Oleo pada mahasiswa Bimbingan dan Konseling angkatan 2016. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, penelitian kuantitatif digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan dan penggunaan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/ statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang ditetapkan (Sugiyono, 2016:

299).

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa angkatan Bimbingan dan Konseling angkatan tahun 2016 yang berjumlah 60 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah jumlah seluruh populasi yang berjumlah 60 orang mahasiswa karena dalam pengambilan sampel apabila populasi kurang dari 100 maka seluruh anggota populasi ditarik sebagai sampel dalam penelitian.

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan angket pemahaman etika kampus dan angket tingkah laku belajar. Instrumen-instrumen tersebut terlebih dahulu diuji coba untuk memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas dalam penelitian ilmiah. Dalam rangka mencari item-item yang memenuhi syarat validitas, maka uji validitas dan reliabilitas pada instrumen dalam penelitian ini menggunakan bantuan program komputer Statistical Packages for Social Science (SPSS) versi 16,0. Adapun kriteria yang digunakan untuk uji validitas adalah apabila nilai dengan taraf signifikan sebesar 5% maka instrument dikatakan valid. Sedangkan

(8)

pada uji reliabilitas ini didasarkan pada ketentuan bahwa apabila nilai > maka instrumen dikatakan reliabel.

Metode analisis data adalah dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis inferensial. Teknik analisis deskriptif disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi. Analisis statistik inferensial digunakan untuk menguji normalitas data dan untuk menguji hipotesis penelitian. untuk menguji hipotesis penelitian peneliti menggunakan uji regresi linear sederhana.

Hasil Penelitian dan Pembahasan Hasil Penelitian

Analisis Deskriptif

Deskripsi Pemahaman Etika Kampus

Data pemahaman etika kampus diukur menggunakan angket yang terdiri dari 30 butir pernyataan dengan menggunakan skala 1 sampai 4. Adapun distribusi frekuensi pemahaman etika kampus dapat dilihat pada tabel 1 berikut:

Tabel 1

Distribusi Frekuensi Pemahaman Etika Kampus Kategori Interval Frekuensi (%) Sangat Rendah 30 – 52 0 0,00

Rendah 53 – 75 39 65

Tinggi 76 – 98 13 21,67

Sangat Tinggi 99 – 121 8 13,33

Jumlah 60 100%

Tabel 2

Distribusi Statistik Pemahaman Etika Kampus Descriptive Statistics

Pada tabel 2 nilai minimum sebesar 58, nilai maximum 107, mean 74.90, dan nilai standar deviasi sebesar 14.483. Berdasarkan nilai mean (rata-rata) sebesar 74.90, hal ini menunjukkan jika pemahaman etika kampus berada pada kategori rendah.

Deskripsi Tingkah Laku Belajar

Data tingkah laku belajar diukur menggunakan angket yang terdiri dari 32 butir pernyataan dengan menggunakan skala 1 sampai 4. Adapun distribusi frekuensi data tingkah laku belajar dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3

Distribusi Frekuensi Tingkah Laku Belajar Kategori Interval Frekuensi (%) Sangat Rendah 32 – 55 0 0,00

Rendah 56 – 79 31 51,67

Tinggi 80 – 103 24 40

Sangat Tinggi 104 – 128 5 8,33

Jumlah 60 100%

N Min Max Mean Std.

Deviation Variance Pemahaman Etika

Kampus 60 58 107 74.90 14.483 209.753 Valid N (listwise) 60

(9)

Tabel 4

Distribusi Statistik Kepekaan Sosial Descriptive Statistics

Berdasarkan tabel 4 diketahui nilai minimum sebesar 57, nilai maximum 112, mean (rata-rata) 78.15, dan standar deviasi sebesar 18.168. Berdasarkan nilai mean (rata-rata) 78.15, maka tingkah laku belajar tergolong pada kategori rendah.

Hasil Analisis Inferensial

Analisis inferensial digunakan untuk mengetahui apakah hipotesis dalam penelitian ini dapat diterima atau ditolak. Untuk membuktikan kebenaran hipotesis secara menyeluruh digunakan uji F, yaitu untuk mengetahui sejauh mana variabel pemahaman etika kampus mampu menjelaskan atau berpengaruh terhadap variabel tingkah laku belajar. Caranya dengan membandingkan tingkat signifikan pada Fhitung

dengan taraf signifikan 0,05 atau 5%. Hasil analisis tersebut dapat dilihat pada tabel 5 berikut ini:

Tabel 5

Regresi Linear Sederhana ANOVA(b)

Model Sum of Squares Df Mean

Square F Sig.

1 Regression Residual Total

1929.779 17543.871 19473.650

1 58 59

1929.779 302.481

6.380 .000a

a. Predictors: (Constant), Pemahaman Etika Kampus b. Dependent Variable: Tingkah Laku Belajar

Berdasarkan perhitungan tabel 5 diperoleh nilai Fhitung sebesar 14.638 dengan taraf signifikan 0,000. Nilai signifikansi 0,000 < 0,05, Maka model regresi tersebut dapat dipakai untuk memrediksi variabel tingkah laku belajar. Berdasarkan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05, perhitungan uji hipotesis ini secara simultan membuktikan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara pemahaman etika kampus dengan tingkah laku belajar mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Konseling. Dengan demikian H0 yang berbunyi “tidak ada pengaruh yang signifikan antara pemahaman etika kampus terhadap tingkah laku belajar mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Konseling” ditolak, sedangkan Ha

yang berbunyi “ada pengaruh yang signifikan antara pemahaman etika kampus terhadap tingkah laku belajar mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Konseling” diterima.

Kontribusi variabel pemahaman etika kampus terhadap tingkah laku belajar adalah sebesar R2 = 0,099 yang artinya adalah variabel pemahaman etika kampus mahasiswa memiliki kontribusi sebesar 9.9% terhadap tingkah laku belajar mahasiswa, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti.

Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian bahwa ada pengaruh yang signifikan antara pemahaman etika kampus terhadap tingkah laku belajar mahasiswa Bimbingan dan Konseling yang ditunjukkan dari Fhitung 6.380

> Ftabel 4,00 dan nilai signifikan 0,000 < 0,05. Data di atas menunjukkan bahwa etika yang diberlakukan kepada mahasiswa memiliki berbagai macam fungsi seperti menerapkan perilaku sopan

N Min Max Mean Std.

Deviation Variance Tingkah Laku

Belajar 60 57 112 78.15 18.168 330.062 Valid N (listwise) 60

(10)

santun, bertanggung jawab dan tegas dalam mengambil sikap dan tindakan. Hasil penelitian juga menjelaskan bahwa mahasiswa memiliki pemahaman etika yang tinggi dan berpengaruh terhadap tingkah laku belajar yaitu sangat tinggi. Hal ini dapat dilihat secara jelas dari tabel distribusi frekuensi persentase dari 60 mahasiswa terdapat 39 mahasiswa atau sebesar 65% yang masuk dalam kategori rendah yang memiliki pengertian bahwa mahasiswa memiliki pemahaman etika kampus yang kurang baik. Sedangkan pada tingkah laku belajar hasil yang diperoleh yaitu sebesar 31 mahasiswa dari 60 mahasiswa yang memiliki angka persentase sebesar 51,67% dalam kategori sangat rendah. Sehingga penelitian ini membuktikan bahwa mahasiswa yang memiliki pemahaman etika kampus yang rendah berpengaruh terhadap tingkah laku belajar yang rendah.

Etika adalah kebiasaan entah dalam hal buruk ataupun baik sehingga apabila mahasiswa memiliki kebiasaan baik akan berpengaruh menjadi hal baik pula begitu pun sebaliknya. Pendidikan adalah poin utama yang mendukung seseorang memiliki etika yang baik. Semakin tinggi tingkat pendidikan hal yang diharapkan adalah semakin baik pula etika yang dimiliki. Mahasiswa memiliki kedudukan yang cukup tinggi dalam membentuk etika yang baik. 12 tahun bersekolah seseorang akan memiliki kebiasaan mematuhi peraturan tetap yang telah diberlakukan oleh pihak sekolah maupun pihak pengajar/ guru. Sehingga hal itu akan berdampak oleh siswa tersebut hingga jenjang pendidikan selanjutnya (mahasiswa).

Memiliki etika yang baik menimbulkan mahasiswa memiliki tingkah laku belajar yang baik dan mendorong kondisi mahasiswa lebih memerhatikan pola belajarnya, selain itu fokus dalam belajar meminimalisir gangguan belajar di dalam kelas, interaksi dalam kelas antara dosen dan mahasiswa berjalan dengan baik sehingga mahasiswa mengerti mengenai materi apa yang disampaikan oleh dosen. Kecenderungan memiliki etika yang baik juga dapat menghindarkan pandangan buruk orang lain terhadap diri sendiri. Hal ini dapat mempermudah proses belajar mahasiswa, tidak membuat mahasiswa lain merasa terganggu begitu pula dengan dosen pengajar, lebih dihargai saat menyampaikan pendapat.

Sebaliknya mahasiswa yang tidak memiliki etika mendapatkan penilaian buruk terhadap dirinya dari orang lain terutama teman, dan dampak yang dihasilkan adalah seperti diskriminasi dalam kelompok belajar, dianggap tidak berguna saat mengikuti kegiatan kelompok belajar, kurang diminati saat berdiskusi, dan cenderung diabaikan apabila sedang bertanya dalam diskusi. Dampak yang didapat bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga orang lain. Penelitian ini secara umum membuktikan bahwa pemahaman etika pada tingkah laku belajar mahasiswa sudah relatif baik. Hal ini menunjukkan indikasi variabel pemahaman etika kampus berpengaruh terhadap variabel tingkah laku belajar dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lainnya yang tidak diteliti.

Dalam menerapkan pemahaman etika yang baik mahasiswa sebaiknya memiliki kesadaran diri yang baik dalam menumbuhkan etikanya, kerja sama yang baik yang dihasilkan antar mahasiswa membawa dampak yang baik dalam perubahan tingkah laku belajarnya. Keberhasilan dalam penelitian ini dilihat dari perubahan perilaku belajar dan etika mahasiswa yang berangsur secara membaik. Peran pergaulan antar teman juga sangatlah penting dalam memengaruhi peningkatan etika dengan mulai mengikuti aturan-aturan yang berlaku di universitas maupun diberlakukan oleh dosen pengajar sehingga hal itu berdampak positif dalam memengaruhi tingkah laku belajar mahasiswa.

Hasil penelitian ini menawarkan tindakan yang dapat diambil sebagai tindakan yang efektif yang bisa diterapkan di lingkungan perguruan tinggi. Pemberian mata kuliah mengenai etika juga membawa dampak yang baik dalam menumbuhkan kesadaran diri mahasiswa.

Kesimpulan dan Saran Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data pembahasan penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa skor rata-rata pemahaman etika kampus sebesar 74.90 yang berada pada kategori rendah, sedangkan skor tingkah laku belajar 78.15 yang berada pada kategori rendah. Selanjutnya berdasarkan hasil analisis inferensial menunjukkan pemahaman etika kampus sangat berpengaruh secara signifikan terhadap tingkah laku belajar. Hal tersebut ditandai dengan diperolehnya nilai Fhitung 6.380 > Ftabel 4,00 dan taraf signifikan sebesar 0,000 < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini

(11)

adalah Ho ditolak dan Ha diterima berdasarkan nilai signifikan sebesar 0,000 < 0,05, yang berarti ada pengaruh positif antara variabel pemahaman etika kampus terhadap tingkah laku belajar mahasiswa.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian, yang menjadi saran peneliti adalah bagi mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Konseling lebih meningkatkan kesadaran dalam menjaga etika yang dimiliki sehingga tingkah laku dalam belajar menjadi lebih baik. Tidak hanya menerapkan etika yang baik hanya di dalam kampus namun juga menerapkan di luar kampus.

Daftar Pustaka

Arum, Ardianingsih. (2012). Etika, Profesi Dosen dan Perguruan Tinggi: Sebuah Kajian Konseptual.

Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. 10, No. 1.

Hudiarini, Sri. (2017). Penyertaan Etika Bagi Masyarakat Akademik di Kalangan Dunia Pendidikan Tinggi. Jurnal Moral Kemasyarakatan, Vol. 2, No. 1, Hal. 1-13.

Peraturan Rektor Universitas Halu Oleo Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Peraturan Akademik Di Lingkungan Universitas Halu Oleo

Sanjaya, Wina. (2009). Kurikulum dan Pembelajaran Cetakan II. Jakarta: Kencana.

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: PT Alfabet.

Syah, Muhibbin. (2010). Psikologi Pendidikan (dengan pendekatan baru). Ed Revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Tohirin. (2011). Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Soemanto, Wasty. (2008). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Walgito, Bimo. (2003). Psikologi Sosial Suatu Pengantar. Yogyakarta: Andi.

Widyanto, Anton. (2007). Mencerdaskan Orientasi Pengenalan Kampus. Serambi Online.

(12)

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Anas (2011), bahan dominan yang terkandung dalam gliserol hasil samping produksi biodiesel jarak pagar adalah sisa methanol yang tidak bereaksi dan sabun

Salah satu asas penting yang wajib diperhatikan adalah bahwa hakim wajib mengadili semua bagian tuntutan dan dilarang menjatuhkan putusan atas perkara yang tidak dituntut

Surya Baja Tulungagung biasanya merupakan program latihan yang telah diberikan oleh induknya yaitu Pusdiklat Surya Baja Surabaya dimana lebih mengarah pada komponen

Rendahnya tingkat kepuasan konsumen dalam mengkonsumsi suatu produk tertentu akan sangat merugikan produsen produk tersebut, karena dengan rendahnya tingkat kepuasan

Unsur ini terpenuhi sebab yang dimaksud dengan sengaja adalah tersangka HAYA MULYANA Als YAYA Bin SAMLI Alm dengan sengaja melakukan Perjudian atau mengadakan

Kepuasan akan pembayaran yang diberikan perusahaan, sikap atasan dan pengawasan yang ada, hubungan dengan sesama rekan kerja, kesempatan promosi, partisipasi

Hasil perhitungan RadCon untuk konsekuensi radiologis yang diterima masyarakat dari kondisi operasi abnormal yang dipostulasikan dan asumsi asumsi pelepasan produk fisi dari