423
PENINGKATAN PELAYANAN PUBLIK : PARADIGMA PERPRES 81 TAHUN 2010 GRAND DESIGN REFORMASI
BIROKRASI 2010-2025
Sultan Al Farisy1, M. Idham Chalid2 Universitas Islam Majapahit Mojokerto
Alamat Korespondensi: [email protected], [email protected]
ABSTRAK
Reformasi birokrasi menjadi kewajiban yang harus direalisasikan oleh para Birokrat secara berkesinambungan, dan meliputi seluruh tingkatan pemerintahan secara sinergi. Seluruh aspek kegiatan dan program haruslah memberikan dampak positif satu dengan lainnya.
Ketika reformasi birokrasi berjalan dengan baik akan memberikan tempat tersendiri kepada para Birokrat untuk melakukan inovasi. Inovasi yang muncul menjadi terobosan-terobosan untuk lebih memaksimalkan pelayanan terhadap masyarakat. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan maksud memberikan gambaran mengenai reformasi birokrasi yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan publik dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Kata Kunci : Pelayanan Publik;, Reformasi Birokrasi
ABSTRACT
Bureaucratic reform is an obligation that must be realized by bureaucrats on an ongoing basis, and covers all levels of government in synergy. All aspects of activities and programs must have a positive impact on one another. When bureaucratic reform goes well, it will provide a place for bureaucrats to innovate. Innovations that appear to be breakthroughs to further maximize services to the community. The method used in this research is descriptive qualitative method with the aim of providing a description of bureaucratic reform that aims to improve public services in the administration of government
Keywords : Public Service, Bureaucratic Reform
PENDAHULUAN
Birokrasi digambarkan dengan garis struktural yang pejabatnya di angkat atau di tunjuk, garis tanggung jawab dan kewenangannya diatur oleh peraturan perundang-undangan, dan setiap keputusan membutuhkan referensi untuk mengetahui kebijakan yang pengesahannya ditentukan oleh pemberi mandat di luar struktur organisasi itu sendiri (Sedarmayanti, 2009:67). Organisasi birokrasi sebagai wadah untuk mencapai tujuan pelayanan dan perlindungan masyarakat mempunyai karakteristik adanya hirarki, tugas, wewenang, tanggungjawab, sistem reward, dan sistem kontrol (Thoha, 2002:185).
424 Birokrasi menjadi organisasi didalam pemerintahan yang menjalankan sistem guna mendorong tercapainya tujuan pemerintahan itu sendiri, yaitu melayani masyarakat. Organisasi yang baik, efektif, efisien serta sesuai dengan kebutuhan, harus didasarkan pada asas-asas yang diterapkan dalam organisasi tersebut dengan kata lain birokrasi yang baik harus didasarkan pada asas-asas yang diterapkan.
Berikut ini merupakan asas-asas kepemerintahan yang baik menurut (Sedarmayanti, 2009:277), yaitu :
a. Mengikutsertakan semua masyarakat, b. Transparan dan bertanggung jawab, c. Efektif dan adil,
d. Menjamin adanya supremasi hukum,
e. Menjamin prioritas-prioritas politik, sosial dan ekonomi berdasarkan ada konsensus masyarakat,
f. Memerhatikan kepentingan mereka yang miskin dan lemah dalam proses pengambilan keputusan, termasuk menyangkut alokasi sumber daya pembangunan.
Kita memahami bahwa pada setiap individu sudah pasti dibekali karakteristik atau ciri khas tersendiri, ciri khas itu biasanya akan terbawa ketika ia memasuki lingkungan tertentu. Ciri khas yang dimaksud adalah kemampuan, kepercayaan pribadi dan pengalaman. Begitupula dengan organisasi, misal pada wilayah kerja pada tingkat Pemerintahan Desa, setiap individu (birokrat) pasti memiliki kemampuan tertentu (ciri khas) pada tugas, wewenang dan tanggung jawab. Sehingga para birokrat tersebut mempunyai kualifikasi dan diharap bisa konsisten dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat pada wilayah kerja birokrat tersebut. Jika kita telaah lebih dalam, secara sederhana kriteria-kriteria dalam tipe ideal birokrasi yang rasional adalah (Thoha, 2003:17) :
1. Individu pejabat secara personal bebas, akan tetapi dibatasi oleh jabatanya manakala ia menjalankan tugas-tugas atau kepentingan individual dalam jabatannya.
2. Jabatan-jabatan itu disusun dalam tingkatan hirarki dari atas kebawah dan kesamping. Konsekuensinya ada jabatan atasan dan bawahan, dan ada pula yang menyandang kekuasaan lebih besar dan ada yang lebih kecil.
425 3. Tugas dan fungsi masing-masing jabatan dalam hirarki itu secara spesifik
berbeda satu sama lain.
4. Setiap pejabat mempunyai kontrak jabatan yang harus dijalankan. Tugas masing-masing pejabat merupakan domain yang menjadi wewenang dan tanggung jawab yang harus dijalankan sesuai dengan kontrak.
5. Setiap pejabat dipilih atas dasar kualifikasi profesionlaitasnya, idealnya hal tersebut dilakukan melalui ujian kompetitif.
Jika melihat konseptual diatas dan konsep itu terlaksana maka perjalanan birokrasi seharusnya berjalan dengan baik, namun realitas di lapangan tidak seindah konseptual tersebut. Mulai dari sikap yang kurang ramah dalam melayani masyarakat, proses birokrasi yang tidak efisien hingga kasus korupsi sering ditemui di lapangan. Ini berarti ada sesuatu yang salah pada birokrasi kita, yang tidak berjalan sesuai koridor yang telah diatur dalam perundang-undangan, sehingga banyak keinginan masyarakat untuk selalu mendorong pemerintah memperbaiki kinerja para birokratnya lebih maksimal.
Berbagai akumulasi dorongan untuk terus mendukung adanya perbaikan di tubuh birokrasi, melahirkan perundang-undangan yang dapat mengawal jalannya reformasi birokrasi, tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 81 tahun 2010 dengan Grand Design bagaimana reformasi birokrasi seharusnya berjalan hingga membuka langkah untuk meningkatkan pelayanan publik sebagai bentuk keberhasilan dari reformasi birokrasi.
LANDASAN TEORI
Organisasi Aturan
SDM Kewenangan
Pola Pikir dan Budaya Kerja
Grand Design Reformasi Birokrasi
Meningkatnya Pelayanan Publik
Etika
426 Gambar 1. Kerangka konseptual Grand Design Reformasi Birokrasi dalam Meningkatkan
pelayanan publik
Menjadi organisasi pemerintahan yang tepat fungsi dan tepat ukuran, akan menjadi permasalahan jika di tubuh birokrasi sangat gemuk dan tidak proporsional.
Dalam perjalanannya pasti banyak kendala yang dihadapi. Selanjutnya ketika aturan tidak konsisten dan tumpang tindih maka jelas banyak pertentangan- pertengtangan yang muuncul dalam berjalannya Pemerintahan. Lalu Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai Sumber Daya Manusia (SDM) di tubuh birokrasi saat ini sangat banyak sekali jumlahnya.
Problem terbersar pada SDM adalah tidak meratanya distribusi ASN di daerah-daerah, dengan begitu biasanya diikuti dengan rendahnya produktivitas kerja. Selain itu, sistem penggajian pegawai negeri belum didasarkan pada bobot pekerjaan/jabatan yang diperoleh dari evaluasi jabatan. Gaji pokok yang ditetapkan berdasarkan golongan/pangkat tidak sepenuhnya mencerminkan beban tugas dan tanggung jawab. Tunjangan kinerja belum sepenuhnya dikaitkan dengan prestasi kerja dan tunjangan pensiun belum menjamin kesejahteraan.
Lalu dalam praktiknya kewenangan yang menempel pada ASN masih terdapat penyimpangan wewenang dalam proses penyelenggaraan pemerintahan dan belum banyak terdaoat akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. Yang terakhir adalah Pola pikir dan budaya kerja birokrat belum sepenuhnya mendukung birokrasi yang efisien, efektif dan produktif, dan profesional. Disamping itu para ASN belum benar-benar memiliki pola pikir yang melayani masyarakat, untuk mencapai kinerja yang lebih baik.
Reformasi pelayanan publik pada dasarnya adalah perubahan mendasar dalam aspek penyelenggaraan pelayanan publik yang meliputi banyak hal, perubahan mendasar yang mampu merubah perilaku dan pola pikir penyelenggara layanan untuk lebih berorientasi kepada perubahan dalam arah pencapaian tujuan lebih baik dan lebih berkualitas. Reformasi birokrasi bertujuan untuk menciptakan birokrasi pemerintah yang profesional dengan karakteristik adaptif, berintegritas, berkinerja tinggi, bersih dan bebas KKN, mampu melayani publik, netral, sejahtera, berdedikasi, dan memegang teguh nilai-nilai dasar dan kode etik aparatur negara.
Adapun area perubahan yang menjadi tujuan reformasi birokrasi meliputi seluruh
427 aspek manajemen pemerintahan, seperti yang dikemukakan pada tabel di bawah ini (Grand Design reformasi Birokrasi : 16).
Pelayanan publik adalah pemenuhan keinginan dan kebutuhan masyarakat oleh penyelenggara Negara (Sinambela, 2006:5). Pelayanan publik (public service) merupakan salah satu perwujudan dari fungsi aparatur negara sebagai abdi masyarakat disamping sebagai abdi Negara (Setiyaningrum, 2009:1). Pelayanan publik adalah segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan, maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Mengikuti definisi di atas, pelayanan publik dapat didefinisikan sebagai rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan (Keputusan menteri Pemberdayaan Aparatur Negara No. 63 Tahun 2003). Pelayanan Publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang- undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik (UU Nomor 25 Tahun 2009).
METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat studi pustaka (library research) yang menggunkan buku-buku dan literatur-literatur lainnya sebagai objek yang utama. Studi pustaka adalah penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan mengumpulkan sejumlah buku-buku, majalah yang berkenaan dengan masalah dan tujuan penelitian. Buku tersebut dianggap sebagai sumber yang akan diolah dan dianalisis seperti banyak dilakukan oleh ahli sejarah, sastra dan bahasa (Danial A.R, 2009:80). Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif, yaitu penelitian yang menghasilkan informasi berupa catatan dan data deskriptif yang terdapat di dalam teks yang diteliti (Mantra, 2008: 30). Dengan penelitian kualitatif, perlu dilakukan analisis deskriptif. Metode analisis deskriptif memberikan gambaran dan keterangan yang secara jelas, objektif, sistematis, analitis dan kritis mengenai peningkatan pelayanan publik dalam paradigma Grand Design Reformasi Birokrasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
428 Tantangan pemerintah Indonesia dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik adalah dengan mengatasi krisis kepercayaan masyarakat terhadap layanan publik. Krisis yang muncul akibat bangunan birokrasi selama periode orde baru ini bahkan memicu protes di tingkat pusat maupun daerah (Dwiyanto, 2002:37). Dalam European Journal of Information Systems (2007) 16 ,134–148 berjudul e-Government information systems: Evaluation-led design for public value and client trust.
Perwujudan e-Government membutuhkan public value. Public value disini adalah suatu nilai kepercayaan oleh masyarakat akan terdapat hasil yang nyata.
Pelayanan publik sering mendapatkan sorotan karena masyarakat sering mendapat kesulitan ketika mengakses layanan publik. Maka dari itu muncul anggapan atau nilai dari masyarakat bahwa pelayanan publik tidak dapat dipercaya. Dan ketika kepercayaan masyarakat hilang pada Pemerintah maka akan lahir konflik sosial
Permasalahan Pelayanan publik yang dirasa oleh masyarakat adalah ketidakpastian. Ketidakpastian dimana rasa tanggung jawab, kemampuan seta komitmen baik prosedur, maupun waktu sehingga pelayanan tepat waktu, ditambah lagi masih adanya pungutan liar disana-sini sehingga mununjukan kurang efektifnya para birokrat dalam memberikan pelayanan. Konsekwensinya secara ekonomis, timbul biaya ekonomi yang tinggi. Pelayanan publik sudah merupakan hak yang didapat pada masyarakat. Dan Negara wajib memenuhi, karena itu negara berkewajiban menyelenggarakan sejumlah pelayanan guna memenuhi hak-hak dasar warganya yang dijamin oleh Undang-undang.
Pelayananan publik seringkali mendapat sorotan di tengah masyarakat, karena pelayanan publik representasi dari tugas Pemerintah itu sendiri. Banyaknya tuntutan dari masyarakat terhadap pemerintah untuk menjalankan tugas nya melayani masyarakat dengan maksimal ditengarai karena seringkalinya pemerintah diduga belum maksimal dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat, proses birokrasi yang tidak efisien dan panjang diharap terselesaikan dengan baik. Maka dari itu dalam Pemilu besar harapan dari masyarakat ada perbaikan-perbaikan yang terjadi, karena ketika berganti rezim kepemerintahan maka terkadang berganti pula kebijakan pemerintah dan didalam harapan itu Masyarakat menginginkan birokrasi yang efektif dan efisien.
429 Dengan tujuan untuk mewujudkan pelayanan publik yang benar-benar layak dan berkualitas bagi masyarakat, seluruh instansi pemerintah mulai melakukan berbagai program dalam pengelolaan pemerintah. Perkembangan pengelolaan pemerintah ini diharapkan mampu mendorong upaya pemerintah dalam menciptakan birokrasi yang hebat menuju kondisi good governance dalam pengelolaan pemerintah dan salah satu ikhtiar dari pemerintah dalam mencapai level good governance adalah dengan melahirkan program reformasi birokrasi di tubuh pemerintahan. Reformasi birokrasi menjadi program utama yang diharapkan bisa membawa banyak perubahan terhadap pelayanan birokrat pada masyarakat.
Reformasi birokrasi ini terselenggara dengan penataan sistem penyelenggaraan pemerintah yang efektif dan efisien. Reformasi birokrasi dituntut mampu mewujudkan birokrasi pemerintah yang professional, berintegritas, berkinerja tinggi, bebas dan bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme, mampu melayani publik, netral, sejahtera, berdedikasi, serta memegang teguh nilai – nilai dasar dan kode etik aparatur negara. Munculnya program reformasi birokrasi dan diperkuat melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 81 tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010 – 2025.
1. Prinsip-prinsip Reformasi Birokrasi
Beberapa prinsip dalam melaksanakan reformasi birokrasi dapat dikemukakan sebagai berikut (Grand Design Reformasi Birokrasi, 17) :
a. Outcomes oriented
Seluruh program dan kegiatan yang dilaksanakan dalam kaitan dengan reformasi birokrasi harus dapat mencapai hasil (outcomes) yang mengarah pada peningkatan kualitas kelembagaan, tatalaksana, peraturan perundang-undangan, manajemen SDM aparatur, pengawasan, akuntabilitas, kualitas pelayanan publik, perubahan pola pikir dan budaya kerja aparatur. Kondisi ini diharapkan akan meningkatkan kepercayaan masyarakat dan membawa pemerintahan Indonesia menuju pada pemerintahan kelas dunia.
b. Terukur
Pelaksanaan reformasi birokrasi yang dirancang dengan outcomesoriented harus dilakukan secara terukur dan jelas target serta waktu pencapaiannya.
430 c. Efisien
Pelaksanaan reformasi birokrasi yang dirancang dengan outcomes oriented harus memperhatikan pemanfaatan sumber daya yang ada secara efisien dan profesional.
d. Efektif
Reformasi birokrasi harus dilaksanakan secara efektif sesuai dengan target pencapaian sasaran reformasi birokrasi.
e. Realistik
Outputs dan outcomes dari pelaksanaan kegiatan dan program ditentukan secara realistik dan dapat dicapai secara optimal.
f. Konsisten
Reformasi birokrasi harus dilaksanakan secara konsisten dari waktu ke waktu, dan mencakup seluruh tingkatan pemerintahan, termasuk individu pegawai.
g. Sinergi
Pelaksanaan program dan kegiatan dilakukan secara sinergi. Satu program harus memberikan dampak positif bagi program lainnya.
h. Inovatif
Reformasi birokrasi memberikan ruang gerak yang luas bagi Kementrian /Lembaga (K/L) dan Pemerintah Daerah (Pemda) untuk melakukan inovasi-inovasi dalam penyelenggaraan pemerintahan, pertukaran pengetahuan, dan best practices untuk menghasilkan kinerja yang lebih baik.
i. Kepatuhan
Reformasi birokrasi harus dilakukan sesuai dengan peraturan perundangundangan.
j. Dimonitor
Pelaksanaan reformasi birokrasi harus dimonitor secara melembaga untuk memastikan semua tahapan dilalui dengan baik, target dicapai sesuai dengan rencana, dan penyimpangan segera dapat diketahui dan dapat dilakukan perbaikan.
Prinsip-prinsip reformasi birokrasi diatas menjadi kewajiban yang harus dijalankan oleh segenap instansi pemerintahan, kemudian disisi lain juga terdapat faktor yang mempengaruhi kinerja, Tinggi rendahnya kinerja birokrat juga
431 ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi birokrat itu baik secara langsung ataupun tidak langsung dan faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja adalah faktor kemampuan (ability) dan faktor motivasi (motivation) (Mangkunegara, 2009, 67). Namun jika para elit birokrat dapat menjaga penyelenggaraan pemerintahan agar tetap berada di rel yang tepat maka akan dapat menekan kelemahan dalam jajaran birokrat dan memunculkan peluang positif.
Jika tahap demi tahap Grand Design Reformasi Birokrasi ini dijalankan besar kemungkinan tujuan untuk mewujudkan governance yang berkualitas dengan peningkatan kualitas pelayanan publik akan tercapai. Semakin baik kualitas governance, semakin baik pula hasil pembangunan yang ditandai dengan:
a. tidak ada korupsi;
b. tidak ada pelanggaran;
c. APBN dan APBD baik;
d. semua program selesai dengan baik;
e. semua perizinan selesai dengan cepat dan tepat;
f. komunikasi dengan publik baik;
g. penggunaan waktu (jam kerja) efektif dan produktif;
h. penerapan reward dan punishment secara konsisten dan berkelanjutan;
i. hasil pembangunan nyata (propertumbuhan, prolapangan kerja, dan propengurangan kemiskinan; artinya, menciptakan lapangan pekerjaan, mengurangi kemiskinan, dan memperbaiki kesejahteraan rakyat) (Grand Design Reformasi Birokrasi, 20).
2. Proses Reformasi Birokrasi
Proses reformasi birokrasi dilakukan dengan cara (Grand Design Reformasi Birokrasi, 27-28) :
1) Desentralisasi
Setiap Kementrian/Lembaga (K/L) dan Pemerintah Daerah (Pemda) melakukan langkah-langkah reformasi birokrasi dengan mengacu kepada Grand Design sesuai dengan karakteristik masing-masing institusi.
2) Serentak dan bertahap
432 Penyebarluasan pemahaman tentang Grand Design dilakukan secara serentak kepada seluruh K/L dan Pemda dalam rangka efektivitas pencapaian target sasaran pelaksanaan reformasi birokrasi. Setiap K/L dan Pemda memiliki karakteristik yang berbeda sehingga reformasi birokrasi dilakukan dengan titik awal dan kecepatan yang berbeda. Format yang sama diterapkan untuk K/L dan Pemda secara bertahap sesuai dengan kesiapan masing-masing K/L dan Pemda.
3) Koordinasi
Reformasi birokrasi dilakukan dengan langkah-langkah yang terkoordinasi secara nasional dengan acuan Grand Design dan RMRB 2010-2014 dan seterusnya.
Reformasi birokrasidikoordinasikan secara nasional oleh Komite Pengarah Reformasi Birokrasi Nasional, pelaksanaan sehari-hari dilaksanakan oleh Tim Reformasi Birokrasi Nasional, dan implementasi program-program dilaksanakan oleh K/L dan Pemda, serta dimonitor dan dievaluasi secara periodik, berkelanjutan, dan melembaga.
3. Pelayanan Publik
Dalam ilmu administrasi Negara, Pemerintahan mempunyai dua jenis fungsi utama, yaitu fungsi pengaturan dikaitkan dengan hakikat negara modern sebagai suatu negara hukum (legal state), sedangkan fungsi pelayanan dikaitkan dengan hakikat negara sebagai suatu negara kesejahteraan (welfare state). Fungsi pengaturan maupun fungsi pelayanan saling berkait terhadap semua segi kehidupan dan penghidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dan pelaksanaannya dipercayakan kepada ASN yang secara fungsional bertanggungjawab atas bidang- bidang tertentu atas kedua fungsi tersebut (Sondang, 2001, 128).
Dalam konteks pemerintah daerah, pelayanan publik dapat disimpulkan sebagai pemberian layanan atau melayani keperluan orang atau masyarakat dan/atau organisasi lain yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu. Dasar dalam melaksanakan pelayanan yakni dengan mewujudkan kepuasan masyarakat., maka dalam proses menuju nilai maksimal kepuasan masyarakat, maka lahirlah kualitas pelayan masyarakat yang hebat.
Dibawah ini terdapat unsur-unsur pelayanan publik (Panji, 2008, 57) : 1. Transparansi
2. Akuntabilitas
433 3. Kondisional
4. Partisipatif 5. Kesamaan Hak
6. Keseimbangan Hak dan Kewajiban
Pada berjalannya pelayan publik dalam melayani masyarakat terdapat aturan yang dijadikan acuan prinsip dalam menjalankan kegiatan pelayanan publik:
1. Kesederhanaan 2. Kejelasan 3. Kepastian waktu 4. Akurasi
5. Keamanan 6. Tanggung jawab
7. Kelengkapan sarana dan prasarana 8. Kemudahan akses
9. Kedisiplinan, kesopanan dan keramahan
10. Kenyamanan (Kepmen PAN No. 63 Tahun 2003)
Dalam melaksanakan tugas nya dalam menyelenggarakan pelayanan publik, maka harus ada standar pelayanan dan dipublikasikan sebagai jaminan adanya kepastian bagi penerima pelayanan. “Standar pelayanan merupakan ukuran yang dibakukan dalam penyelenggara pelayanan publik dan wajib untuk ditaati oleh pemberi dan penerima pelayanan”. (Kepmen PAN No. 63 Tahun 2003) :
1. Prosedur pelayanan
Prosedur pelayanan yang dibakukan bagi pemberi dan penerima pelayanan termasuk pengaduan.
2. Waktu penyelesaian
Waktu penyelesaian yang ditetapkan sejak saat pengajuan permohonan sampai dengan penyelesaian termasuk pengaduan.
3. Biaya pelayanan
Biaya/tarif pelayanan termasuk rinciannya yang ditetapkan dalam proses pemberian pelayanan.
4. Produk pelayanan
Hasil pelayanan yang akan diterima sesuai ketentuan yang telah ditetapkan
434 5. Sarana dan prasarana
Penyediaan sarana dan prasarana pelayanan yang memadai oleh penyelenggara pelayanan publik.
6. Kompetensi Pelayan Publik
Harus ada standar acuan yang tepat untuk diberikan kepada para birokrat yang melayani masyarakat, standar itu didasari oleh ilmu, keterampilan, kemampuan dan tingkah laku kebutuhan. Dasar-dasar, nilai, sikap melayani yang baik, merepresentasikan petunjuk dalam proses pelayanan umum atau publik oleh pihak pemerintah, namun tidak hanya itu, namun dapat digunakan sebagai pencapaian dalam melakukan tugas dan fungsi yang melekat serta menjadi acuan-acuan mekanisme penilaian serta evaluasi kinerja bagi para birokrat yang melayani masyarakat.
Diharapkan dengan adanya standarisasi pada sistem pelayanan publik, publik mendapatkan pelayanan yang terbaik dari para birokrat, dan diharapakan publik tidak mendapatkan kesulitan akses dan prosedur dari para birokrat tersebut, dari sana lah masyarakat akan memberikan nilai terbaik untuk para pelayan publik ini.
7. Jenis-jenis Pelayanan Publik
Pelayanan publik yang terdapat beberapa jenis. Kegiatan pelayanan umum atau publik antara lain :
a. Pelayanan Administratif
Yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk dokumen resmi yang dibutuhkan oleh publik, misalnya status kewarganegaraan, sertifikat kompetensi, kepemilikan atau penguasaan terhadap suatu barang dan sebagainya.
b. Pelayanan Barang
Yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk atau jenis barang yang digunakan oleh publik, misalnya jaringan telepon, penyediaan tenaga listrik, air bersih dan sebagainya.
c. Pelayanan Jasa
Yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk jasa yang dibutuhkan publik, misalnya pendidikan, pemeliharaan kesehatan, penyelenggara transportasi, pos dan sebagainya. (Kepmen PAN No. 63 Tahun 2003)
435 8. Peningkatan Pelayanan Publik
Pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pelayanan publik harus mengubah pola pikir dan kinerja penyelenggaranya, disesuaikan dengan tujuan pemberian otonomi daerah, yaitu memberikan dan meningkatkan pelayanan yang memuaskan masyarakat. Untuk terwujudnya good governance, dalam menjalankan pelayanan publik, Pemerintah Daerah juga harus memberikan kesempatan luas kepada masyarakat guna mendapatkan akses pelayanan publik berdasarkan prinsip- prinsip kesetaraan, transparansi, akuntabilitas, keadilan dan kepastian hukum.
Untuk memberikan pelayanan publik yang lebih baik perlu ada upaya untuk memahami sikap dan perubahan kepentingan publik sendiri. Perubahan kehidupan dunia yang begitu cepat mempunyai pengaruh yang cepat pula terhadap perubahan sikap dan perilaku masyarakat secara umum. (Ibrahim, 2008, 18)
Dalam Grand Design Reformasi Birokrasi birokrat harus mendapatkan pendidikan dan pelatihan guna meningkatkan kemampuannya agar bisa lebih hebat dalam melayani masyarakat.
Pemerintah sudah sepatutnya memiliki pandangan pemahaman prioritas yang berlandaskan pada nilai kepentingan publik ketika menjalankan sistem pelayanan untuk masyarakat umum, dan mempunyai rencana dalam mempersiapkan seluruh elemen sumber daya manusia pemerintahan untuk mewujudkan pandangan tersebut secara sistematik, agar mampu terwujud kualitas yang sangat baik dalam melayani masyarakat. Substasnsi tugas dan fungsi birokrat adalah melayani masyarakat umum, sebagai abdi Negara yang melayani masyarakat agar terwujudnya masyarakat yang sejahtera.
Dalam perkembangannya dalam proses penyelenggaraan pemerintah masyarakat juga mengalami perkembangan dalam pemahaman mengenai pemerintahan. Mudahnya akses dalam menggunakan sosial media menjadi salah satu faktor berkembangnya masyarakat, serta mewujudkan masyarakat yang sadar akan apa yang menjadi hak dan tanggungjawabnya, masyarakat yang secara sadar berani untuk menuntut apa yang dirampas dari mereka, harapan dan impian tersampaikan kepada pemerintah, lalu rasional dan kritis akan menjalankan tugas masyarakat itu sendiri untuk melakukan kontrol terhadap apa yang dilakukan oleh
436 pejabat pemerintahnya. Karena masyarakat memahami perannya sebagai warga Negara dengan baik.
Ketika kondisi seperti itu birokrat harus lebih maju dalam pola pikir yang stagnan agar lebih dapat melayani masyarakat dengan baik, agar mempunyai kemampuan yang mumpuni integritas, akuntabel, efisien, secara langsung dan otomatis dapat membangun kualitas manusia, membangun kualitas disini dimaksudkan untuk mengupgrade kemampuan individu dan masyarakat umum agar secara sadar berperan aktif untuk berkemampuan membangun kemandirian.
Kemudian, Pemerintah diwajibkan agar benar-benar bisa menegakkan nilai keadilan dalam proses pelayanan, karena kita semua tahu tidak ada yang berbeda dimuka hukum, Pemerintah dalam memberikan layanannya tidak boleh memandang golongan dan kepentingan tertentu, sebaliknya pelayanan harus diberikan tanpa melihat pangkat dan kasta.
Dalam pelayanan publik terdapat tiga unsur, yakni unsur pertama adalah organisasi pemberi pelayanan yaitu Pemerintah/Pemerintah Daerah, unsur kedua adalah penerima layanan yaitu orang atau masyarakat atau organisasi yang mempunyai kepentingan, dan unsur ketiga adalah kepuasan yang diberikan dan/atau diterima oleh penerima layanan. (Hardiansyah, 2011, 12)
Jika kita kupas satu per satu, pada unsur pertama memperlihatkan bahwa pemerintah daerah (Pemda) mempunyai struktur hirarki sebagai pembuat kebijakan dan memonopoli kekuasaan, hal ini yang membuat Pemda hanya berjalan ditempat tidak mempunyai kreatifitas dan inovasi untuk memberikan pelayanan yang prima pada masyarakat. Karena memonopoli kekuasaan sehingga menutup peluang pihak lain untuk memberikan peluang inovasi-inovasi dari pihak lain. Unsur kedua yakni individu atau masyarakat dan kelompok yang mempunyai kepentingan dan membutuhkan pelayanan, pada dasarnya unsur kedua ini tidak mempunyai bargaining posisi yang kuat, karena hanya menerima layanan saja, yang berbuntut pada sulitnya mengakses pelayanan yang baik, dalam unsur kedua ini yang melahirkan komunikasi dua arah, antara penerima layanan dan pemberi layanan yang memonopoli kekuasaan tersebut, sehingga muncullah perilaku menyimpang seperti korupsi dan menyalahgunakan kekuasaan, ini lah yang semakin menguatkan
437 citra bahwa pelayanan publik sudah pasti terjangkiti pungutan liar (pungli), dan ironisnya dianggap saling menguntungkan.
Terakhir adalah unsur ketiga yakni, sebuah nilai kepuasan masyarakat yang menerima pelayanan, dalam tingkat kepuasan masyarakat inilah yang menjadi fokus perhatian penyelenggara pelayanan (pemerintah), untuk menetapkan arah kebijakan pelayanan publik yang berorientasi untuk memuaskan masyarakat dalam pelayanan publik hal ini dilakukan dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan kinerja manajemen sumber daya manusia pada pemerintah daerah. Peningkatan pelayanan publik tidak bisa berjalan apabila masyarakat tidak terlibat aktif berpartisipasi sehingga masyarakat juga bisa mengontrol jalannya pemerintahan, dan menghilangkan monopoli kekuasaan dan kekuasaan yang absolut.
Penyelenggaraan pelayanan publik sudah wajib harus melibatkan maysrakat secara aktif berperan untuk medukung dan mendorong pemerintah untuk selalu menciptakan inovasi-inovasi yang memudahkan masyarakat dalam mengakses layanan publik. Dengan begitu perlahan lahan masyarakat juga terlatih untuk sadar danlam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai warga Negara yang baik.
Labeling buruk yang menempel pada birokrat yang melakukan layanan terhadap masyarakat susah untuk dihilangkan, selama ini pelayanan terhadap masyarakat diperlihatkan dengan lamban, tidak pasti, tidak adil dalam pelayanan hingga muncul pungutan liar untuk membantu proses percepatan mengurus administrasi. Labeling buruk seperti itu semakin dipertegas dengan wajah para birokrat pelayan masyarakat yang tidak ramah dalam melayani, kualitas yang baik sangat diharapkan bisa terwujud dalam pelayanan masyarakat kedepannya.
Sehingga labeling buruk tersebut diatas perlahan bisa dihilangkan dalam proses pelayanan publik yang dilakukan oleh pemerintahan.
KESIMPULAN
Grand design reformasi birokrasi berupaya untuk mewujudkan Pemerintahan yang hebat. Dan Pemerintahan yang hebat terlihat dari pelayanan publik yang juga hebat. Memang dalam perjalananya tidak semudah konsep yang telah dipaparkan tersebut. Namun setidaknya usaha-usaha untuk menjaga semangat
438 reformasi yang tertuang dalam grand design tersebut terus terjaga untuk diaplikasikan dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Terlebih melihat era revolusi industri 4.0 yang menuntut pemerintahan dapat menyesuaikan kondisi perubahan banyak aspek saat ini. Jika Pemerintah konsisten menerapkan grand design ini sedikit banyak akan muncul perubahan yang mengarah untuk menguatkan pemerintahan. Sistem yang dibangun harus selalu dalam monitoring dan evaluasi terus-menerus untuk menjaga agar perjalanan pemerintahan tidak keluar dari rel reformasi birokrasi. ASN harus sadar bahwa reformasi birokrasi akan mengubah birokrasi pemerintah menjadi birokrasi yang kuat dan menjadi pemerintahan kelas dunia, yang mampu memberikan fasilitasi dan pelayanan publik yang prima dan bebas dari KKN. Untuk itu, reformasi birokrasi harus dilakukan secara sungguh-sungguh, konsisten, melembaga, bertahap, dan berkelanjutan. Dengan demikian, diharapkan akan terbentuk birokrasi yang mampu mendukung dan mempercepat keberhasilan pembangunan di berbagai bidang.
Kegiatan ekonomi akan semakin meningkat dan secara agregat akan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Dengan kegiatan ekonomi yang semakin luas, akan tersedia basis penerimaan Negara yang lebih besar untuk membiayai keberlanjutan reformasi birokrasi dan pembangunan di bidang lainnya yang lebih luas.
DAFTAR PUSTAKA
Amin Ibrahim, 2008, Teori dan Konsep Pelayanan Publik serta Implementasinya, Bandung, Mandar Maju
Dwiyanto, Agus dkk, 2002, Reformasi Birokrasi Publik di Indonesia. Yogyakarta, Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM
Ending Danial A.R. Nanan, 2009, Metode Penulisan Karya Ilmiah. Bandung, Laboraturium PKn Universitas Pendidikan Indonesia
Hardiyansyah, 2011, Kualitas Pelayanan Publik, Yogyakarta, Gava Media Keputusan menteri Pemberdayaan Aparatur Negara No. 63 Tahun 2003
Mangkunegara, A. Prabu, 2009, Perencanaan dan PengembanganSumber Daya Manusia. Bandung, Refika Aditama.
Mantra, Bagoes. Ida, 2008, Filsafat Penelitian & Metode Penelitian Sosial.
439 Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Miftah Thoha, 2002, Prespektif Perilaku Birokrasi: Dimensi-Dimensi Prima Ilmu Administrasi Negara. Jakarta, PT Raja Grafindo Persada
Miftah Toha, 2003, Birokrasi&Politik di Indonesia. Jakarta, PT Raja Grafindo Persada
Pandji Santosa, 2008, Administrasi Publik Teori Good Governance, Jakarta , BumiAksara,
Peraturan Presiden 81 tahun 2010 Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025 Prasetya Eka, Kamil, Salahudin. 2019. Implementation of the Integrity Zone
Development Program towards a Corruption-Free Area and a Serving Clean Bureaucracy Region. Journal of Local Government Issues, 2 (2), 134- 148, DOI: https://doi.org/10.22219/logos.Vol2.No2.134-148
Setyaningrum, Erna. 2009. Inovasi Pelayanan Publik. Surabaya, Medika Aksara Globalindo
Sedarmayanti, 2009, Reformasi Administrasi Publik, Reformasi Birokrasi, dan Kepemimpinan Masa Depan. Bandung, Refika Aditama
Sinambela, L.P, dkk, 2006, Reformasi Pelayanan Publik : Teori, Kebijakan, dan Implementasi. Jakarta, Bumi Aksara
Sondang P. Siagian, 2001, Kerangka Dasar Ilmu Administrasi, Jakarta, Rineka Cipta
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009