Resensi : TERORIS (ME) “Aktor & Isu Global Abad XXI”
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengantar Ilmu HubunganInternasional
Dosen : Dr. Agus Subagyo, S.IP., M.Si
Disusun oleh :
PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI CIMAHI
IDENTITAS BUKU
Judul Buku : Teroris (Me) Aktor dan Isu Global Abad XXI
Penulis : Dr. Agus Subagyo, S.Ip., M.Si.
Penerbit : Alfabeta
Kota terbit : Bandung
Tahun Terbit : 2015
PENDAHULUAN
Terorisme di dunia bukanlah merupakan hal baru, namun menjadi aktual terutama sejak terjadinya peristiwa World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001, dikenal sebagai “September Kelabu”. Lalu baru-baru ini kita semua dikagetkan dengan aksi pengeboman "LAGI" oleh sekelompok organisasi yang belum kita ketahui. Berbagai usaha yang dilakukan bahkan setelah terjadi Bom Bali 1 pemerintahan RI membentuk suatu ketentuan undang-undang yang dinamakan “Undang-undang Republik Indonesia Nomor.15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti undang-undang nomor.1 Tahun 2002 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme menjadi undang-undang”.
ISI ATAU SUBSTANSI BUKU
BAB I
HUBUNGAN INTERNASIONAL DAN TERORISME A. HAM Dalam Hubungan Internasional
Dalam literature ilmu politik, hak asasi adalah hak yang dimiliki manusia yang telah diperoleh dan dibawanya bersamaan dengan kelahiran atau kehadirannya didalam kehidupan masyarakat. Secara historis-empiris, tonggak-tonggak penting pemikiran dan gerakan hak asasi manusia dapat dilacak kembali pada lahirnya Magna Charta 1215, Glorius Revolution 1688, Deklarasi Kemerdekaan AS, pemikiran Trias Politika, dan Kontrak Sosial. Diilhami oleh kepahitan Perang Dunia I dan Perang Dunia II yang menginjak-injak HAM, PBB, yang dibentuk oleh negara-negara pemenang perang, memperjuangkan apa yang ada dalam piagamnya disebut sebagai penghormatan atas HAM dan kebebasan fundamental (respect for humanrights and for fundamental freedom ).
Dalam konteks hubungan internasional, upaya implementasi HAM mengalami benturan dan perdebatan. Secara garis besar, perdebatan itu dapat dirangkum dalam dua pandangan berikut. Pertama, Autonomy of State, pandangan ini menekankan pada pengakuan atas prinsip kedaulatan negara dalam hubungan internasional. Pandangan ini bersumber dari pemikiran klasik Thomas Hobbes, yaitu bahwa dalam hubungan internasional, masing-masing negara mempunyai kedudukan yang sama. Kedua, Cospolitan Perspective, pandangan ini bertumpu pada pengakuan HAM pada tingkat individu secara universal. Meskipun Autonomy of State
dan Cosmopolitan Perspective saling bertolak belakang baik dilihat dari asumsi-asumsi yang mendasari maupun pemikiran yang dikembangkan, terdapat kesamaan yang mendasar, yakni keduanya mengklaim HAM sebagai masalah fundamental dari demokrasi.
B. Terorisme: Kembali ke High Politics ?
AS dan US sebagai negara adidaya, kemerosotan dan kebangkitan kembali Eropa dan Jepang sebagai aktor ekonomi politik utama, peningkata ketegangan utara-selatan, dan munculnya negara-negara Dunia Ketiga yang abru saja terbebas dari belenggu Kolonialisme-Imperialisme adalah rangkaian realitas perubahan-perubahan besar itu. Namun, berakhirnya perang Dingin, dunia mengalami perubahan-perubahan cepat dan mendasar di berbagai bidang yang pada gilirannya mengakibatkan berlanjutnya proses transformasi luas pada peta politik dan ekonomi global serta pada pola hubungan antar negara.
Dengan demikian perubahan tata politik global pasca perang Dingin telah menggeser isu High Politics menjadi Low Politics. Belum selesai dunia menyaksikan perubahan tata ekonomi politik global yang mengarah pada kecenderungan isu low politics, masyarakat internasional dikejutkan oleh serangan teroris ke gedung WTC dan pentagon, AS, 11 September 2001. Sgera setelah itu, AS segera menghancurkan rezim Taliban di Afganistan yang dianggap melindungi Osama Bin Laden dan jamaah Al Qaeda. Tidak hanya itu saja, AS secara getol mengkampanyekan gerakan dan perang melawan teroris global dengan cara apapun. Ideologi politik luar negeri pasca tragedi WTC dan Pentagon bersumber pada Doktrin Bush, yang berbunyi “kalau Anda bukan teman saya, pastilah Anda musush Saya. Saya tdak membedakan teroris dengan negara yang melindungi teroris ”. Dari perspektif politik global, Doktrin Bush telah membentangkan garis demakrasi yang membelah dunia menjadi dua: Teroris atau bukan teroris. Begitu pula yang dilakukan AS saat ini. Pemikrian dan langkah politik luar negerinya didasarkan pada Ideologi “anti-terorisme”. Demikianlah tragedy WTC dan Pentagon yang disusul dengan balas dendam AS terhadap terorisme global telah mengubah isu politik global dari low politics menjadi high politics
kembali.
C. HAM Versus Terorisme: “Global Antiterorism Governance”
bagaimana cara menangani dan mencegah tindak terorisme itu. Cara atau metode yang harus ditempuh belum ada kesepakatan yang bersifat global. Bahkan, perdebatan ini semakin memuncak ketika AS secara sembarangan menuduh negara-negara yang dulunya membangkang terhadap hegemoninya, dengan sebutan teroris, poros kejahatan, dan sarang teroris. Oleh karena itu, agar perang melawan terorisme global ini tidak mematikan prinsip-prinsip HAM, diperlukan suatu jerangka konseptual, yang harus dirumuskan oleh seluruh dunia yang dapat dijadikan batu pijakan dalam memberantas terorisme global sekaligus sebagai pengontrol bias-bias HAM politik luar negeri AS. Di samping itu, PBB juga harus mengambil alih tongkat komando perang melawan teorisme.
D. Konteks Domestik Indonesia
Perubahan global diawal millennium ketiga ini, tentu saja mendorong setiap negara dan lembaga internasional, untuk menyesuaikan diri kepada konstelasi global tersebut. Dan dalam konteks Indonesia, berbagai perubahan itu memunculkan aneka ragam tantangan dan peluang baru bagi Indonesia di masa mendatang. Walaupun pasca Tragedi WTC dan Pentagon Indonesia mendapat banyak sorotan dunia internasional terkait dengan terorisme, Indonesia mendukung Resolusi DK PBB No. 1373 untuk memberantas terorisme glabal dengan cara-cara yang manusiawi. Hal ini tentu penting bagi politik luar negeri Indonesia mengingat adanya realitas bahwa negara-negara Barat akanmemberikan bantuan bagi pemulihan ekonomi apabila Indonesia mendukung perang melawan terorisme global.
masih menimbulkan perdebatan oleh berbagai kalangan. Sebagian besar kalangan mengkritisi RUU antiterorisme sebagai anti prinsip HAM dan nilai demokrasi. Demikianlah Indonesia harus melakukan proses-proses penyesuaian diri dalam berinteraksi dengan negara-negara lain di dunia.
BAB 2
Pasca 11 September 2001, perhatian dunia internasional tersedot pada isu seputar aksi terorisme. Di tengah suasana kekalutan dan berkabung atas tragedi bersejarah itu, presiden AS, George W. Bush, membuat pernyataan kontroversial bahwa yang menjadi “dalang” atas tragedy WTC dan Pentagon adalah Osama Bin Laden beserta jaringan Al Qaeda yang saat ini bermarkas di Afganistan. Serangan AS ke Afganistan adalah bagian dari gerakan antiterorisme. Pengeboman bertalu-talu militer AS terhadap basis-basis kekuatan Taliban dan Al Qaeda baik yang ada di Kabul maupun Kandahar dan Masar I Sharif menimbulkan reaksi pro kontra dari berbagai negara di dunia.
Sebagian besar negara-negara di dunia sepakat bahwa perlu suatu kesepakatan untuk membentuk suatu gerakan dalam memerangi terorisme. Tindakan serangan membabi buta pasukan AS yang pada kenyataannya kerap kali salah sasaran, melukai dan menghujami sasaran-sasaran sipil sehingga menimbulkan korban jiwa di kalangan rakyat biasa, dinilai oleh sebagian besar kalangan tidak memperhatikan dan mengindahkan beberapa pertanyaan berikut: Apakah benar sudah terbukti secara hukum bahwa Osama Bin Laden dan jaringan Al Qaedanya terlibat atas hancurnya gedung WTC dan Pentagon? Pandangan dan tindakan AS positivistik dalam menangani permasalahan-permasalahan internasional telah mengabaikan nilai-nilai hukum dan aturan demokratis yang selama ini ia junjung tinggi.
AS seharusnya mulai menghapuskan relisme politik yang selama ini dipraktekkan pada negara-negara yang dia anggap sebagai “pembangkang dan teroris”. Presiden AS George W. Bush, mengatakan bahwa seranag dan pemboman yang dilakukan oleh pasukan militer AS dan dibantu dengan Inggris mempunyai tiga tujuan utama. Pertama, untuk menangkap Osama Bin Laden. Kedua, utnuk menghancurkan jaringan Al Qaeda. Ketiga, untuk menggulingkan rezim Taliban yang dia anggap melindungi Osama Bin Laden. Namun, beberapa kalanganmensinyalir bahwa selain ketiga tujuan diatas, AS mempunyai motivasi lain dalam menyerang Afghanistan. Motivasi itu adalah motivasui geografis dan ekonomis. Motivasi geografis, kemungkinan adanya ambisis AS ingin menguasai kawasan Asia Tengah dan Laut Kaspia. Secara ekonomis, kawasan Asia Tengah dan Laut Kaspia dikenal meyimpan cadangan minyak bumi terbesar kedua setelah kawasan Araba Teluk. Indikasi adanya motivasi geigrafis-ekonomis ini tentunya membuat gerah negeri kaum Mullah, Iran. Sebagai negara yang berpengaruh di kawasan ini dan adanya kepentingan Iran atas Afghanistan, membuat Iran mempunyai kecurigaan yang besar terhadap motivasi lain AS dibalik penyerangannya terhadap Afghanistan.
Serangan udara dengan membombardir basis-basisi kekuatan rezim Taliban dan instalasi militernya sejak 7 Oktober lalu yang dilakukan oleh Aliansi Intenasional pimpinan AS membuat rezim Taliban semakin terjepit. Dampak destruktif dari konflik dan peperangan ini tentunya sangat dirasakan oleh penduduk sispil Afghanistan yang tidak berdosa dan tidaj tahu apa-apa. Lebih dari 2 juta pengungsi Afghanistan membanjiri perbatasan Pakistan dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Melihat kondisi warga sipil yang terlunta-lunta menjadi korban perang dan adanya kekhawatiran akan serangan darat pasukan AS terhadap Afghanistan, sehrusnya medorong seriap negara dan organisasi internasional untuk mencari jalan keluar yang terbaik dalam mengatasi konflik AS-Afghanistan.
dijawab dan kalaupun dijawab tentu akan sangat beragam jawabannya. Sebagai sebuah organisasi inteasional dengan jumlah anggota 189 negara, PBB harus memprakarsai dan mengambil terobosan-trobosan guna mendudukan pihak-pihak yang bertikai dalam meja perundingan dibawah naungan multilateral PBB. Sekjen PBB saat itu, Kofi Annan, seyogyanya dapat bersikap cepat, lugas, cekatan, responsive, f;eksibel, dan obyektif meyakinkan AS dan Afghanistan bahwa cara-cara militer tidak akan menyelesaikan masalah. Dengan demikina, yang patut dijadikan cacatan disini adalah semua sepakat bahwa aksi-aksi terorisme harus dihancurkan. Tapi, cara-cara militer dengan menyerang negara berdaulat untuk mencari tokoh dan kelompok terorisme global patut disesalkan karena melanggar kedaulatan sebuah negara.
B. Terorisme: Konstelasi Baru Dalam Politik Internasional
Tampilan politik luar negeri AS pasca tragedi WTC dan Pentagon memang menunjukkan perubahan yang sangat mendasar. Bukan itu saja, kampanye antiterorisme AS yang disertai tekanan-tekanan politik telah menciptakan ketidakharmonisan. Doktrin Bush yang memprioritaskan pada upaya memerangi terorisme global dalam setiap langkah kebijakan politik luar negeri AS, secepat kilat mendorong isu terorisme menjadi isu global diawal abad ke-21 ini, mengalahkan isu-isu yang sebelumnya mendominasi tatanan politik global seperti demokrasi, hak asasi manusi, good governance, dan lingkungan hidup. Sebagai sebuah isu global masa kini, terorisme membawa isu-isu ikutan lainnya yang sempat terbenam seiring berakhirnya perang Dingin, isu tersebut adalah militerisme, enjata nuklir, dan perang.
Taliban di Afghanistan yang melindungi Osama Bin Laden dan jaringan Al Qaeda.
Derasnya kecaman dan kritikan terhadap langkah AS dalam memerangi tindakan terorisme global menunjukkan keresahan sebagian besar negara-negara di dunia. Apabila hal ini terjadi secara terus menerus, niscaya akan terjadi anarkisme internasional. gejala ini sangat jelas mewarnai perilaku negara-negara didunia. Oleh karena itu, agar supaya tidak terjadi gesekan-gesekan kepentingan masing-masing negara dalam memberantas terorisme global, diperlukan sebuah formula yang komprehensif. Dengan demikian, masing-masing negara dengan di sponsori oleh PBB seharusnya mencetuskan sistem penanganan dan pengelolaan yang dapat menangkal terorisme global. Selain itu, pengelolaan dan penanganan masalah terorisme secara global harus bertumpu pada pendekatan dialog dan kalupun memakai cara-cara militer, harus didiskusikan secara mendalam dalam forum PBB sehingga tidak menimbulkan kritik dan resistensi dari berbagai pihak.
C. Global Antiterrorisme Governance
Dalam khazanah ilmu hubungan internasional, organisasi teroris adalah salah satu aktor atau pemain dalam percaturan politik internasional, karena sifatnya yang melintasi batas antar negara. Sejak itulah AS selalu gencar melakkan serangkaian persiapan untuk membasmi jaringan atau sel-sel Al Qaeda di deluruh penjuru dunia dan melancarkan program pergerakan antiterorisme global. Al Qaeda terorisme pimpinan Osama Bin Laden yang melambun namanya pasca tragedi selasa kelabu ini mempunyai sel-sel dibanyak negara. Selain mempunyai sel dibanyak negara, Al Qaeda juga membangun hubungan dengan kelompok-kelompok pergerakan pembebasan nasional. Dalam melakukan langkah-langkah operasionalisasi, Al Qaeda didukung oleh danan yang besar baik dana yang berasal dari individu-individu maupun organisasi-organisasi amal.
itu, semangat dan perhatian besar dari masyarakat internasional untuk memerangi terrorisme global ini harus digelar dan diwujudkan dalam tiga lapis. Pertama, lapisan internasional yang dikoordinir oleh PBB. Kedua, lapisan regional yang tentunya melibatkan organisasi-organisasi regional. Ketiga, lapisan nasional yang dikomandoi oleh para pemimpin dari masing-masing negara. Nampaknya terorisme global akan menjadi isu sentral dunia dan menjadikan teroris sebagai aktor global yang mendominasi tatanan politik dunia abad XXI.
D. Actor dan Isu Global Abad XXI
Bersamaan dengan dinamika perubahan global ini, telah lahir pula isu baru yang sangat besar pengaruhnya terhadap tatanan politik ekonomi global saat ini. Konsekuensi dari mencuatnya isu terorisme ke permukaan ini adalah lahirnya teroris sebagai aktor yang sangat diperhitungkan diatas pentas nasional. Dalam konteks ini, duna telah tervbelah menjadi dua, yakni antara ikut kubu AS memerangi terorisme global atau ikut mendukung terorisme global. Isu terorisme global yang menggema dihampir seluruh penjuru dunia telah menimbulkan stabilitas keamanan regional menjadi kacau dan tidak harmonis.
BAB 3
OSAMA BIN LADEN DAN TERORISME A. Osama Bin Laden: Pahlawan atau Teroris?
peristiwa tersebut adalah Israel dan rakyat AS sendiri. Ini diperkuat dengan bukti adanya laporan yang mengungkapkan saat tragedi tersebut terjadi 4000 karyawan berkebangsaan Israel tidak masuk kerja. Kedati demikian, AS menafikkan indikasi-indikasi tersebut dan selalu mengkampanyekan tuduhan bahwa Osama, Al Qaeda dan jaringan Taliban adalah pihak-pihak yang bertanggungjawab.
B. Osama Bin Laden: Dalang Tragedi WTC dan Pentagon?
Tuduhan yang tanpa didukung bukti memadai dan akurat ini dibantah secara keras oleh Osama Bin Laden. Tragedy yang melambungkan nama Osama Bin Laden ini menibulkan pertanyaan: “siapa sebenarnya Osama Bin Laden itu? ” Osama Bin Laden yang bernama asli Usamah Bin Muhammad Awad Bin Laden adalah anak ke-17 dari 50 bersaudara. Dia lahir di Riyadh tahun 1957. Hanpir seluruh hidup Osama Bing Laden diabdikan bagi perjuanagn melawan kejahatan dan kebhatilan. Nama Osama mulai mencuat sejak keterlibatan Osama dalam berbagai aksi terorisme anti Amerika. Meskipun pihak pemerintah AS telah membekukan asset dan aliran dana Osama yang ditaksir sekitar U$$ 300 juta itu, ia tidak akan kekurangan dana untuk oprasionalisasi kegiatannya. Tragedy WTC dan Pentagon sempat menimbulkan pertanyaan dan keraguan akan kemampuan sistem pertahanan rudal nasional AS yang menelan biaya sekitar U$$ 60 Milyar itu.
BAB 4
INDONESIA DAN TERORISME A. Reformasi: Radikalisme, Terorisme, dan Civil Society
dipegang teguh adalah bahwa terorisme dan segala bentuknya jangan disangkutpautkan dengan agama. Konsepsi multikulturaisme yang intinya menekankan pada pengkuan dan penghormatan terhadap kebhinekaan dan perbedaan yang selama ini akan dikembangkan dalam konteks kebangsaan Indonesia akan berhadapan secara tajam dengan isu-isu terorisme yang berkembang akhir-akhir ini.
Perspektif terorisme tidak mengedepankan pada kebersamaan dan pluralism, melainkan hanya menekankan pada uniformitas yang monolitik. Bagaimanapun juga, kita semua tidak menginginkan bangsa ini menjadi bangsa yang memiliki cap “Republik Teror”. Konsolidasi masyarakat sipil saat ini sangat penting mengingat saat ini negara sebagai unit politik formal tidak mampu lagi memberikan rasa aman dan kedamaian pada rakyatnya dari ancaman terorisme. Merebaknya aksi-aksi terorisme telah menganggu dan merampas hak hidup dan hak untuk aman dari rakyat. Penguatan masyarakat sipil bisa dilakukan secara nyata dan saling tukar informasi, salin gialog, saling bekerjasama sehingga akan tercapai suatu kesepakatan dan gerakan moral sosial yang kuat sehingga persatuan dan kesatuan bangsa bisa terjaga.
B. Relasi Islam dan Negara Pasca Tragedi Bom Bali
Indonesia pasca bom Bali menciptakan benturan-benturan membahayakan antara pemeritah dengan kelompok-kelompok islam, khususnya kelopmok islam garis keras dan radikal. Berkaitan dengan bom Bali, masih diperdebatkan apakah penangkapan yang dilakukan aparat keamanan terhadap aktivis-aktivis gerakan islam ini sebagai bentuk dan upaya pemerintah Repulik Indonesia untuk memperoleh simpati dan dukungan dari AS, atau murni penegakkan hukum. Jawaban sederhana namun pasti adalah bahwa kemungkinan terjadi proses penankapan besar-besaran terhadap tokoh dan aktivis gerakan islam radikal yang tentunya hal ini akan menciptakan keretakan hubungan antara pemerintah dengan kelompok islam.
Maraknya pembentukkan Satuan Tugas (Satgas) Antiterorisme oleh pemerintah baik dipusat maupun didaerah banyak dipahami sebagai pengimbang dari laskar-laskar yang terdapat dalam partai-partai politik maupun kelompok islam. Makna yang dapat diambil dari rangkaian peristiwa ini adalah bahwa terror bom Bali menjadi klimaks ketegangan yang sebelumnya terselubung antara pemerintah dan kelompok-kelompok islam radikal. Oleh karena itu, melihat berbagai peristiwa secara mendalam, perlu diciptakan wahana dialog antara berbagai kelompok dan
stakes holder yang terkait dalam upaya mendamaikan dan mengharmonisasikan relasi islam-negara.
C. Relasi Al Qaeda dan Jamaah Islamiyah
mengancam keamanan dalam negeri. Dalam aspek ideologi, Al Qaeda merupakam sumber inspirasi dan referensi religious JI, khususnya ideologi dalam memerangi negara-negara Barat.
Keterkaiatn antara Al Qaeda dan JI ini tentunya sangat berdampak pada aksi terorisme yang terjadi di Indonesia. Berbagai aksi terorisme sebagai dampak keterkaitan antara JI dan AL Qaeda tentunya berkonsekuensi pada terganggunya kondisi keamanan dalam negeri Indonesia. Berdasarkan uraian analisis diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat keterkaitan antara terorisme global terhadap keamanan dalam negeri.
BAB 5
TNI DAN TERORISME
A. TNI, Terorisme dan Perkembangan Lingkungan Strategis
dan Pentagon telah mendorong AS untuk menerapkan kampanye perang melawan terror diseluruh negara didunia.
Bantuan Uni Eropa terhadap Indonesia dalam menangani aksi terror yang dikucurkan melalui lembaga donor yang bernaung dibawah paying Uni Eropa telah mempengaruhi uapaya penanganan terorisme di Indoensia. Perkembangan si wilayah Asia Tenggara menunjukkan kondisi yang memanas dengan adanya aksi terror yang semakin meningkat di negara Philipina dan Thailand. Sepak terjang Australia di wilayah Pasifik Selatan dan Indonesia dalam menangani aksi terror telah berpengaruh ketimpangan pendapatan sebenarnya merupakan akar penyebab terjadinya aksi teror di Indonesia.
Tingkat pendidikan masyarakat Indonesia yang secara umum relatif rendah sehingga menyebabkan lemahnya kualitas sumber daya manusia telah mendorong masyarakat Indonesia mudah untuk di provokasi dan dipancing dengan isu-isu yang dapat membahayakan stabilitas keamanan. Belum adanya pembagian tugas yang jelas antara TNI, Polri dan komponen bangsa lainnya terhadap penanganan aksi teror telah mendorong satuan khusus tertentu yang menonjol dibandingkan dengan satuan khusus lainnya.
C. Daya Dorong TNI Terlibat dalam Penangan Terorisme
penanggulangan teror TNI untuk mengatasi aksi terorisme dalam rangka stabilitas nasional. Dalam pasal 7 UU TNI dinyatakan bahwa ada dua macam operasi TNI, yakni Operasi Militer Untuk Perang dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Berdasarkan UU No. 2 Tahun 2002 tentang POLRI, kepolisian RI melalui Detasemen Khusus (Densus) 88 telah melakukan perburuan terhadap para teroris. Sebagai alat pertahanan negara, keterlibatan TNI dalam penanganan aksi terorisme sangat relevan mengingat adanya payung hukum berupa Undang-Undang RI No. 34 Tahun 2004 tentang TNI, khususnya pada pasal 9, dimana TNI memegang amanat untuk melakukan tugas pokok dalam operasi militer selain perang (OMSP), diantaranya membantu penanganan aksi terorisme.
D. Peluang dan Kendala TNI
Dalam penangan terorisme, TNI menghadapi berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan sehingga akan dapat mendorong stabilitas nasional, antara lain:
Perang melawan terorisme yang dilakukan oleh AS dapat dijadikan peluang bagi Indonesia untuk meyakinkan dunia internasional khususnya ASbahwa penanganan aksi teror tidak hanya bisa dilakukan oleh satuan tertentu semata, melaikna memerlukan keterlibatan satuan khusus anti teror TNI. Citra positif masyarkat internasional terhadap kepemimpinan nasional yang dinilai sangat komit terhadap nilai-nilai demokrasi, HAM dan good governance menjadi peluang bagi Indonesia untuk menggalang dukungan internasional dalam menyelenggarakan aksi teror secara mandiri tanpa adanya intervensi dari negara lain. Bantuan dana, teknis dan menejerial yang mengalir dari lembaga internasional terhadap pemerintahan Indonesia untuk menangani aksi teror secara lebih optimal sehingga sangat membantu pemerintah dalam menangani masalah terorisme yang sangat kompleks. Adanya UU terorisme yang disahkan oleh pemerintah dan DPR dimana aksi teror merupakan tindakan pelanggaran pidana khusus yang sangat berat hukumannya.
Kurang tegas dan kurang beraninya kepemimpinan nasional dalam mengambil tindakan dan kebijakan untuk menangani aksi teror secara terarah, terpadu dan terprogram. Perilaku pejabat publik yang masih diwarnai dengan perilaku KKN, konflik anta elit politik, konflik antar partai politik, dan konflik untuk memperebutkna kekuasaan menyebabkan sulitnya menangani secara tuntas samapi keakar-akarnya. Belum disahkannya UU Keamanan Nasional yang mengatur posisi kewenangan setiap institusi pertahanan dan keamanan dalam menangani aksi teror. Masih adanya persepsi negative sebagian kecil masyarakat yang menyatakan bahwa pemberian porsi yang besar bagi satuan khusus anti teror TNI akan dapat mendorong pelanggaran HAM.
BAB 6
POLRI DAN TERORISME A. Polri, Densus 88 AT dan Terorisme
Indonesia sangat rawan terjadinya aksi terorisme sehingga harus ditanggulangi sedini mungkin. Serangkaian peristiwa peledakan bom yang dilakukan oleh para teroris diduga dilakukna oleh jaringan teroris internasional yang memiliki sel-sel diwilayah Indonesia diamana JI terindikasi kuat sebagai aktor di balik semua aksi teroris tersebut. Para gembong teroris memanfaatkan keramahan dan tenggang rasa yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia untuk menciptakan sel-sel teroris sekaligus sebagai tempat persembunyian/ basis dari kejaran aparat kepolisian. Operasi perburuan teroris yang dilakukan oleh Densus 88 diberbagai wilayah sebenarnya telah mempersempit ruang gerak para teroris.
operasi penanganan tindak pidana teorisme yang melibatkan semua satuan kewilayahan dan satuan fungsional polri diseluruh Indonesia. Para pelaku teror yang sangat canggih modus operandinya. Khususnya dalam melakukan komunikasi antar komunitas tentunya mendorong Densus 88 AT untuk menguasai pengetahuan tentang analsa jaringan terorisme yang diperoleh dari proses hubungan antar komunitas mereka dan jaringannya sehingga para pelaku teror dapat dideteksi. Kemampuan analisa Densus 88 AT selama ini sebenarnya sudah cukup bagus terbukti dari terungkapnya dan tertangkapnya berbagai jaringan dan pelaku terorisme serta mengungkap berbagai rencana pengeboman yang dirancang oleh para teroris sehingga dapat mencegah terjadinya aksi teorisme.
B. Intelijen Polri dan Terorisme
Perkembangan lingkungan strategis ditingkat global, regional, nasional dan lokal yang semakin dinamis memerlukan kemampuan prediksi dan antisipasi yang dilakukan oleh polri sehingga setiap efek, dampak, dan implikasi negatif dapat terdeteksi secara dini. Satuan polres senantiasa melakukan tugas pokok polri, khususnya dlam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat. Satuan Intelkam adalah unsure pelaksana utama polres yang berada di bawah Kapolres. Visinya adalah terwujudnya postur Intelijen Keamanan yang professional, bermoral dan modern dalam memelihara kamtibmas dan penegakkan hukum, dengan melaksanakan early warning dan early detection terhadap ancaman dan gangguan keamanan.
Tugas pokoknya:
1. Sebagai mata dan telinga kesatuan Polri
2. Mengidentifikasi ancaman, gangguan, atau hambatan terhadap kamtibmas
3. Melaksanakan pengamatan
4. Menciptakan kondisi tertentu yang menguntungkan
petugas Intelijen masih belum optimal dalam mencegah tindak pidana terorisme.
KELEBIHAN DAN KELEMAHAN BUKU Kelebihan
Buku ini menambah wawasan terhadap orang yang membacanya, karena buku ini mengulas tentang actor dan isu global abad XXI yaitu terorisme. Karena buku ini bisa memberikan solusi dalam menanggulangi atau menyikapi tentang terorisme serta memberitahukan kendala apa saja yang dialami oleh Indonesia dalam upaya pemberantasan terorisme.
Kelemahan
KONSTRIBUSI BUKU TERHADAP STUDI HI
dapat menjadi bukti bagaimana respon suatu negara terhadap kehadiran fenomena terorisme.
DAFTAR PUSTAKA