PROPOSAL
Untuk persyaratan penelitian dan penulisan skripsi dalam rangka penyelesaian studi Program S1 PGSD
Oleh
MUH. SHIRLI GUMILANG 0804719
Kepada
Tim Pembimbing Penulisan Skripsi Program Studi S1 PGSD
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
HUBUNGAN ANTARA APERSEPSI DENGAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPS DI KELAS V SD NEGERI PERUMNAS 2
KECAMATAN CIPEDES KOTA TASIKMALAYA
DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH PEMBIMBING :
Pembimbing I,
Drs. H. Sadjaruddin Nurdin, M.Pd. NIP 19510503 197603 1 003
Pembimbing II,
Dra. Hj. Momoh Halimah, M.Pd. NIP 19530706 197403 2 001
Mengetahui
Ketua Program Studi PGSD UPI Kampus Tasikmalaya,
Halaman
HALAMAN PENGESAHAN... i
DAFTAR ISI... ii
A. JUDUL... 1
B. LATAR BELAKANG MASALAH... 1
C. IDENTIFIKASI DAN PERUMUSAN MASALAH... 3
D. TUJUAN PENELITIAN... 4
E. MANFAAT PENELITIAN... 4
F. LANDASAN TEORI... 5
G. KERANGKA BERFIKIR... 10
H. ANGGAPAN DASAR... 10
I. HIPOTESIS TINDAKAN... 11
J. METODE PENELITIAN... 11
A. JUDUL
B. HUBUNGAN ANTARA APERSEPSI DENGAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPS DI KELAS V SD NEGERI PERUMNAS 2 KECAMATAN CIPEDES KOTA TASIKMALAYA
C. LATAR BELAKANG MASALAH
D. Pembelajaran tidak dapat dipisahkan antara pengetahuan awal siswa dengan materi ajar atau bahan pelajaran yang akan diberikan. Untuk memulai
pelajaran baru sebagai batu loncatan, maka guru seharusnya berusaha
menghubungkan terlebih dahulu bahan pelajaran yang akan diberikan dengan
bahan pelajaran yang telah dikuasai oleh siswa berupa pengetahuan awal yang
telah diketahui dari pelajaran yang sebelumnya atau dari pengalaman siswa.
Usaha guru untuk menghubungkan bahan pelajaran baru dengan pengetahuan
awal siswa, itulah yang dimaksud dengan apersepsi. Tujuan dari apersepsi adalah
untuk membentuk pemahaman siswa sebagaimana menurut pendapat
Nurhasnawati (Zahra, 2011) yang menjelaskan bahwa:
E. Apersepsi bertujuan untuk membentuk pemahaman. Seperti yang dikutip di dalam bukunya yang berjudul Strategi Pengajaran Mikro yakni, jika guru akan mengajarkan materi pelajaran yang baru, maka terlebih dahulu perlu dihubungkan dengan hal-hal yang telah dikuasai siswa atau mengaitkannya dengan pengalaman siswa serta sesuai dengan kebutuhan untuk mempermudah pemahaman dalam menerima bahan pelajaran yang baru.
menciptakan awal pembelajaran yang efektif sehingga siswa siap secara penuh untuk mengikuti kegiatan inti pembelajaran.
G. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang relatif tetep, proses perubahan ini tidak terjadi sekaligus tetapi terjadi secara bertahap
tergantung pada faktor intern dan faktor ekstern siswa. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Suryabrata (Anggraeni, 2010:22) menjelaskan bahwa:
H. Terdapat dua faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar seseorang yakni pertama, faktor eksternal yaitu faktor luar individu yang dibagi menjadi dua antara lain: (1) faktor sosial meliputi manusia lain baik hadir secara langsung atau tidak langsung, (2) faktor non sosial yang meliputi keadaan udara, suhu udara, cuaca, waktu, tempat belajar, dan lain-lain; kedua, faktor internal yaitu faktor dari dalam diri individu yang dibagi menjadi dua: (1) faktor fisiologis meliputi keadaan jasmani dan keadaan fungsi-fungsi fisiologis, (2) faktor psikologis yang meliputi minat, kecerdasan, dan persepsi.
I. Berdasarkan observasi yang dilaksanakan di SD Negeri Perumnas 2 Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya bahwa apersepsi yang dilakukan guru pada tahap awal pembelajaran pada umumnya dianggap hal yang kecil, dan
kecenderungan tidak dilaksanakan. Hal ini menjadi sangat fatal, dan akibatnya ketika siswa dihadapkan pada permasalahan inti dalam pembelajaran.
Ketidakbisaan siswa dalam menyelesaikan masalah atau dalam proses
menemukan konsep ternyata sangat dipengaruhi oleh ketidakmatangan sewaktu apersepsi, yang akhirnya tujuan dari pembelajaran itu tidak tercapai.
hubungan antara apersepsi dengan hasil belajar siswa pada pembelajran IPS di kelas V SD Negeri Perumnas 2 Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya.
K. IDENTIFIKASI DAN PERUMUSAN MASALAH 1. Idetifikasi Masalah
L. Berdasarkan pada latar belakang masalah, maka peneliti dapat mengidentifikasi permasalahan, diantaranya:
a. Berdasarkan tuntutan keprofesionalan, guru harus memiliki delapan keterampilan mengajar salah satunya adalah membuka dan menutup pelajaran. Berkaitan dengan keterampilan membuka pelajaran, guru harus memiliki kompetensi dalam memberikan apersepsi.
b. Keterampilan guru dalam membuka pelajaran kurang memperhatikan apersepsi pembelajaran dan motivasi belajar siswa.
c. Sarana dan prasarana sekolah yang memadai tidak teroptimalkan dalam menunjang aktivitas pembelajaran.
d. Interaksi pada pembelajaran IPS hanya bersifat satu arah. Kecenderungan guru tidak memfasilitasi siswa untuk menjadi subjek belajar, dengan kata lain guru tidak menciptakan kondisi belajar yang kondusif.
2. Rumusan Masalah
M. Rumusan masalah dala penelitian ini adalah sebagai berikut:
b. Bagaimana hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS di Kelas V SD Negeri Perumnas 2 Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya?
c. Bagaimana hubungan antara apersepsi dengan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS di Kelas V SD Negeri Perumnas 2 Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya?
N. TUJUAN PENELITIAN
O. Berdasarkan identifikasi dan rumusan masalah yang ada, maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengidentifikasi secara objektif dan faktual tentang pelaksanaan apersepsi pada pembelajaran IPS di Kelas V SD Negeri Perumnas 2 Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya.
2. Mengidentifikasi secara objektif dan faktual tentang hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS di Kelas V SD Negeri Perumnas 2 Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya.
3. Mengidentifikasi secara objektif dan faktual tentang hubungan antara apersepsi dengan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS di Kelas V SD Negeri Perumnas 2 Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya.
P. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat Teoritis
gambaran mengenai hubungan antara apersepsi dengan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS di SD.
2. Manfaat Praktis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan sebagai bahan masukan yang positif, sehingga pendidik dapat mengarahkan dan mengembangkan kegiatan apersepsi pembelajaran.
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi untuk menambah wawasan tentang apersepsi pada pembelajaran IPS di Kelas V.
3. Manfaat Kelembagaan
R. Secara kelembagaan adalah memberikan sumbangan ilmiah agar sekolah selalu memberikan kesempatan kepada guru dan siswa untuk kreatif sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPS.
S. LANDASAN TEORI 1. Apersepsi Pembelajaran
T. Keberhasilan proses pembelajaran dan ketercapaian tujuan akhir
pembelajaran yang telah ditetapkan akan sangat dipengaruhi oleh kegiatan awal pembelajaran yang dilakukan guru. Fungsi dari kegiatan awal pembelajaran adalah untuk menciptakan awal pembelajaran yang efektif sehingga siswa siap secara penuh untuk mengikuti kegiatan inti pembelajaran.
akan dilalui siswa, dan menunjukkan hubungan antara pengalaman anak dengan materi yang akan dipelajari. (Isman, 2007)
V. Salah satu cara untuk menarik perhatian siswa terhadap materi yang akan dibahas adalah dengan membuat kaitan atau melaksanakan apersepsi. Siswa akan tertarik dengan materi yang akan dipelajari apabila mereka melihat kaitan atau hubungan dengan pengalaman mereka sebelumnya atau sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka. Ajukan pertanyaan tentang bahan pelajaran yang mempunyai kaitan dan sudah dipelajari sebelumnya.
W. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud apersepsi adalah pengamatan secara sadar (penghayatan) tentang segala sesuatu dalam jiwanya (dirinya) sendiri yang menjadi dasar perbandingan serta landasan untuk menerima ide-ide baru.
X. Apersepsi pembelajaran yang dilakukan guru dapat mempermudah siswa dalam memehami bahan pelajaran, sesuai dengan pendapat (Sajidin, 2007) bahwa:
Y. Apersepsi pembelajaran adalah menghubungan pelajaran lama dengan pelajaran baru, sebagai batu loncatan sejauh mana siswa mengusai pelajaran lama sehingga dengan mudah menyerap pelajaran baru. Disaat kita akan mengajar sebuah konsep apa saja pada siswa, guru sebaiknya memahami bahwa setiap siswa memiliki pengalaman, sikap dan kebiasaan yang berbeda, agar dapat menggali dan menghubungkan pengalaman, sikap dan kebiasaan siswa terhadap konsep yang akan kita ajarkan perlu kiranya kita kaitkan dengan apersepsi.
Z. Guru sebelum melakukan apersepsi pembelajaran terlebih dahulu harus mengetahui empat pilar pembentuk apersepsi pembelajaran.
gym, dan serangkaian ice breaking lainnya yang tak harus ada
hubungannya dengan materi yang akan diajarkan. Tak perlu semua ada. Salah satu saja. Mengingat pentingnya pengkondisian alfa zone yang diibaratkan seperti peluru, buatlah katalog ice breaking. Targetnya adalah siswa bisa tertarik.
2) Pilar ke-dua warmer, yaitu menghangatkan ingatan yang sudah lalu. Jika pertemuan itu bukan yang pertama, warmer dimaksukan sebagai
pembentuk pengetahuan konstruktivisme, yakni membangun makna baru berdasar pengetahuan yang sudah dimiliki siswa.
3) Pilar ke-tiga pre-teach, yaitu hai ini yang sering dilupakan oleh Guru. Tidak heran kalau kondisi kelas kusut masai dan siswa tak terkondisi. Pre-teach ini memberi informasi secara manual, bagaimana aturan
diberlakukan.
4) Pilar ke-empat adalah scene setting, kondisi inilah yang paling dekat dengan strategi. Sering pula disebut sebagai hook atau pengait menuju mata pelajaran inti. (Astuti, 2005)
2. Hasil Belajar
AA. Hasil dapat diartikan sebagai sasuatu yang telah didapatkan dalam suatu karya atau usaha yang telah dilakukan. Hasil belajar juga merupakan penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran yang lazimnya ditunjukkan dengan tes angka nilai yang diberikan olehguru.
BB. Menurut Hamalik (2002:155) “hasil belajar tampak sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa, yang dapat diamati dan diukur perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan.” Perubahan diartikan terjadinya peningkatan dan pengembangan lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, sikap tidak sopan menjadi sopan.
CC. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006:4-5) menjelaskan bahwa “dampak pembelajaran adalah hasil yang dapat diukur seperti tertuang dalam
belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak dari suatu interaksi dalam
pembelajaran.
DD. Hasil belajar sering dipergunakan dalam arti yang sangat luas yakni untuk bermacam-macam aturan terhadap apa yang telah dikuasai oleh siswa,
misalnya ulangan harian, tugas-tugas pekerjaan rumah, tes lisan yang dilakukan
selama pelajaran berlangsung, dan tes akhir semester. Hasil belajar merupakan
pencapaian bentuk perubahan perilaku yang cenderung menetap dari ranah
kognitif, afektif, dan psikomotorik dari proses belajar.
EE. Dari uraian tersebut, disimpulkan bahwa hasil belajar dapat diartrikan dengan penguasaan pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan
keterampilan (psikomotor) oleh seorang siswa yang dikembangkan melalui mata pelajaran dan indikatornya ditunjukkan dengan perolehan nilai tes yang diberikan oleh guru. Nilai tes ini diperoleh siswa setelah mereka melaksanakan evaluasi pembelajaran.
FF.Masing-masing tingkatan dalam setiap ranah atau domain menuntut kemampuan atau kecakapan yang berbeda-beda dari setiap siswa untuk
memberikan respon terhadapnya. Semakin tinggi tingkatan yang dituntut semakin tinggi pula tingkat kekomplekan jawaban atau respon yang dikehendaki.
aktivitas siswa mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembelajaran, tanpa adanya aktivitas siswa maka pembelajaran tidak akan berjalan dengan baik, akibatnya hasil belajar yang dikuasai siswa rendah.
3. Hakikat Pembelajaran IPS
HH. Dalam Kurikulum SD Tahun 2006 dijelaskan bahwa IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, siswa diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.
II.IPS ialah suatu program pendidikan yang merupakan suatu keseluruhan yang pada pokoknya mempersoalkan manusia dalam lingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya. Bahan ajarnya dari berbagai ilmu sosial seperti geografi, sejarah, ekonomi, sosiologi, antropologi, dan tata negara.’ Nasution (Isjoni, 2007:21).
JJ.Bahan ajar yang digunakan untuk sekolah dasar ada dua macam yaitu pengetahuan sosial dan sejarah. Hal tersebut sesuai dengan GBPP Tahun 1999,
menjelaskan bahwa IPS yang diajarkan di sekolah dasar terdiri dari dua bahan
kajian pokok, yaitu pengetahuan sosial dan sejarah. Bahan kajian pengetahuan
sosial mencakup antropologi, sosiologi, geografi, ekonomi, dan tata negara. Bahan
kajian sejarah meliputi perkembangan masyarakat Indonesia.
Keterangan:
= Garis hubungan X
Apersepsi Hasil BelajarY
teori, cara berfikir, dan cara bekerja berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial.’
Pendidikan IPS merupakan perwujudan dari suatu pendekatan interdisipliner dari
ilmu sosial, pendidikan IPS merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu sosial
seperti sosiologi, ekonomi, sejarah, dan sebagainya yang disajikan secara
psikologis.
LL. Berdasarkan Kurikulum SD Tahun 2004 menjelaskan bahwa “pengetahuan sosial merupakan mata pelajaran yang mengkaji seperangkat
peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial dan
kewarganegaraan.” IPS bukan disiplin ilmu tersendiri, melainkan merupakan
kajian dari beberapa konsep ilmu sosial itu diharapkan siswa dapat mengetahui
masalah yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saja masalah
kenakalan remaja dapat dikaji dari berbagai ilmu sosial yaitu ekonomi, sosiologi,
psikologi sosial dan lain-lain.
MM. KERANGKA BERFIKIR
NN. Dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu apersepsi sebagai variabel bebas (Independent Variable) yang dilambangkan dengan X dan hasil belajar siswa sebagai variabel terikat (Dependent Variable) yang
VV.
WW. ANGGAPAN DASAR
XX. Menurut Arikunto (2006:65) “anggapan dasar merupakan titik tolak yang kebenarannya diterima oleh penyelidik”. Adapun yang menjadi
anggapan dasar pada penelitian mengenai hubungan antara apersepsi dengan hasil belajar siswa di Kelas V SD Negeri Perumnas 2 Kecamatan Cipedes Kota
Tasikmalaya, adalah:
YY. Tahap awal pembelajaran adalah waktu yang paling penting, karena sangat menentukan keseluruhan proses pembelajaran. Peranan guru pada awal pembalajaran adalah untuk menciptakan kondisi yang menyenangkan dan kondusif. Untuk menciptakan kondisi tersebut guru dapat melakukannya dengan cara membangun apersepsi. Artinya, guru mencoba mengaitkan apa yang telah diketahui atau di alami dengan apa yang akan dipelajari, sehingga siswa lebih termotivasi untuk mengikuti pembelajaran.
ZZ. Apersepsi yang dilakukan pada tahap awal pembelajaran pada umumnya dianggap hal yang kecil, terkadang terlupakan. Namun demikian berdasarkan fakta dilapangan banyak dijumpai menjadi sangat fatal akibatnya tatkala siswa dihadapkan pada permasalahan inti dalam kegiatan belajar mengajar. Ketidakbisaan siswa dalam menyelesaikan masalah atau dalam proses
menemukan konsep ternyata sangat dipengaruhi oleh ketidakmatangan sewaktu apersepsi, yang akhirnya tujuan akhir dari pembelajaran itu tidak tercapai.
BBB. Nasution (dalam Ety Rochaety dkk, 2000:31) menyatakan bahwa hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang
kebenaranya harus diuji secara empiris. Adapun hipotesis pada penelitian ini adalah ada hubungan antara apersepsi dengan hasil belajar siswa pada
pembelajaran IPS di kelas V SD Negeri Perumnas 2 Kecamatan Cipedes Kota
Tasikmalaya.
CCC. METODE PENELITIAN 1. Desain Penelitian
DDD. Menurut Abdurahman, dkk. (2011:13) bahwa “penelitian dapat diartikan sebagai upaya atau kegiatan yang bertujuan untuk mencari jawaban yang sebenar-benarnya.” Sedangkan desain penelitian adalah prosedur atau langkah-langkah yang harus dilaksanakan oleh peneliti dalam memperoleh dan
menganalisa data. Menurut Sandjaja dan Heriyanto (2006:105) menjelaskan
bahwa “desain penelitian atau rancangan penelitian pada dasarnya adalah strategi
untuk memperoleh data yang dipergunakan untuk menguji hipotesis.” Pemilihan
desain penelitian yang tepat sangat diperlukan untuk menjamin pembuktian
hipotesis secara tepat pula.
EEE. Metode penelitian adalah teknik yang digunakan dalam
melaksanakan penelitian. Berdasarkan tingkat permasalahan, menurut Riduwan (2006:164) jenis penelitian kuantitatif terbagi menjadi tiga, yaitu:
2. Permasalahan komparatif, yaitu permasalahan yang menggambarkan perbedaan karakteristik dari dua variabel atau lebih.
3. Permasalahan assosiatif, yaitu permasalahan yang menghubungkan atau pengaruh antara dua variabel atau lebih.
FFF. Penelitian yang akan digunakan adalah penelitian kuantitatif. Hasil yang didapatkan dari penelitian akan disajikan dalam bentuk statistik atau angka. Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam melaksanakan penelitian yaitu dengan menggunakan penelitian yang bersifat assosiatif atau korelasional.
Penelitian ini menjelaskan bahwa hal yang diteliti bersifat assosiatif yaitu meneliti ada tidaknya hubungan dua variabel antara kegiatan apersepsi yang dilakukan guru dengan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS di SD.
2. Variabel dan Definisi Operasional Variabel
GGG. Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannyaa (Sugiyono,
2009:61). Dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu apersepsi sebagai variabel bebas (Independent Variable) dan hasil belajar siswa sebagai variabel terikat (Dependent Variable)
HHH. Untuk menghindari terjadi perbedaan dalam menginterpretasikan variabel yang diteliti maka variabel yang dikemukakan di atas dijelaskan sebagai berikut :
b. Hasil belajar adalah kemampuan, kecakapan yang di peroleh siswa setelah melakukan serangkaian proses pembelajaran yang diukur dengan angka dandiukur dengan menggunakan tes hasil belajar.
c. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) ialah suatu program pendidikanyang merupakan suatu keseluruhan yang pada pokoknya mempersoalkan manusia dalam lingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya. Bahan ajarnya diambil dari berbagai ilmu sosial seperti geografi, sejarah, ekonomi, sosiologi, antropologi dan tata negara.
3. Lokasi Penelitian, Populasi dan Sampel Penelitian
III. Pada penelitian yang berjudul Hubungan Antara Apersepsi dengan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran IPS di Kelas V SD Negeri Perumnas 2 Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya ini, peneliti mengambil lokasi penelitian di SD Negeri Perumnas 2 yang beralamat di Jalan Raya Nusa Indah Perum Cisalak Kota Tasikmalaya
JJJ. Dalam penelitian ini menggunakan teknik sampling nonprobability sampling, Menurut Sugiyono (2007:124) teknik sampling noprobability yaitu teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesemapatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.
KKK. Adapun pengambilan sampling yang digunakan peneliti adalah sampling jenuh karena semua populasi digunakan sebagai sampel yaitu siswa kelas V SD Negeri Perumnas 2 yang berjumlah 52.
LLL. Menurut Sugiyono (2009:148) bahwa pada prinsipnya “meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik.” Alat ukur
dalam penelitian biasanya dinamakan instrumen penelitian. Jadi instrumen
penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun
sosial yang diamati. Secara spesifik semua fenomena ini disebut variabel
penelitian. Untuk memperoleh data-data yang diperlukan dalam penelitian ini
digunakan beberapa instrumen penelitian, yaitu sebagai berikut:
MMM. Tabel
NNN. Jenis Data dan Instrumen Penelitian OOO.
VVV. Data hasil belajar siswa
WWW. Tes tertulis XXX.
YYY. Untuk mengetahui apersepsi pada pembelajaran IPS di kelas V SD Negeri Perumnas 2, digunakan instrumen penelitian berupa observasi secara
langsung terhadap pelaksanaan pembelajaran. Menurut Riduwan (2010:76)
“observasi yaitu pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat
lebih dekat kegiatan yang dilakukan.” Sedangkan untuk mengetahui hasil belajar
siswa pada pembelajaran IPS di kelas V SD Negeri Perumnas 2 menggunakan
instrumen berupa tes tertulis berisi pertanyaan objektif tipe pilihan ganda
sebanyak 40 Soal.
ZZZ. Langkah pengumpulan data sangat penting dilakukan untuk
menjawab dan memecahkan masalah penelitian.Teknik yang digunakan untuk
memperoleh data yang sesuai dengan tujuan dan pokok masalah dalam penelitian ini adalah melalui alat pengumpul data berupa tes tertulis dengan instrumen
berupa soal tes objektif tipe pilihan ganda, dan observasi untuk mengetahui
pelaksanaan apersepsi. a Tes Tertulis
AAAA. Tes digunakan untuk mengukur tingkat penguasaan konsep siswa pada ranah kognitif. Aspek kognitif yang diukur dibatasi hanya pada aspek hapalan (knowledge), pemahaman (comprehension), aplikasi (application) dan terdiri dari berbagai soal yang memiliki tingkat kesukaran yang berbeda-beda serta disesuaikan dengan indikator soal. Materi yang diujikan mencakup standar kompetensi dan kompetensi dasar sesuai dengan kurikulum yang digunakan.
b Lembar observasi
BBBB. Dalam penelitian ini observasi digunakan untuk mengambil data tentang pelaksanaan apersepsi pada pembelajaran IPS di kelas V SD Negeri Perumnas 2. Observasi tidak hanya sekedar melihat saja melainkan juga perlu keaktifan untuk menghayati, mencermati, memaknai, dan akhirnya mencatat setiap kejadian atau peristiwa pada saat melaksanakan penelitian. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (Sandjaja dan Heriyanto, 2006) bahwa ‘observasi sebagai perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk manyadari adanya rangsangan.’
yang diamati berikut skala nilainya. Pengamat atau observer hanya memberikan tanda check list (√) pada kolom yang sesuai dengan panduan observasi.
6. Teknik Analisis Data
DDDD. Analisis data adalah proses menyusun, mengkategorikan fakta, mencari pola atau tema dengan maksud untuk memahami maknanya. Setelah data
terkumpul dari hasil pengumpulan data penelitian, maka pada proses selanjutnya
adalah menganalisis data penelitian tersebut. Secara garis besar, proses analisis
data meliputi langkah-langkah antara lain: memberikan skor terhadap item-item
pernyataan dan memberikan kode baik untuk setiap variabel, serta mentabulasikan setiap data yang berhasil dikumpulkan ke dalam tabel.
a Analisis Deskriptif
EEEE. Analisis deskriptif dimaksudkan untuk mengetahui gambaran umum masing-masing variabel. Kegiatan yang dilakukan pada proses analisis
deskriptif ini adalah mengolah data dari setiap variabel dengan bantuan komputer
program Microsoft Excel 2010 dan SPSS 16.0. Untuk interval kategori yang
digunakan pada proses pengolahan data menggunakan Microsoft Excel 2007
adalah interval kategori dengan ketentuan sebagai berikut:
FFFF. Tabel
GGGG. Interval Kategori
HHHH.
No IIII. Interval JJJJ.Kategori
QQQQ.
ZZZZ. Uji normalitas ini digunakan untuk menguji apakah data yang diperoleh peneliti berdistribusi normal atau tidak. Jika data tersebut berdistribusi normal, maka data yang akan dianalisis menggunakan statistik parametrik. Dan jika data yang diperoleh tidak berdistribusi normal, maka menggunakan statistik non parametrik. Uji normalitas data dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu dengan menggunakan uji kertas peluang normal, uji lilliefors, dan uji chi kuadrat.
AAAAA. Adapun pada uji normalitas data yang peneliti gunakan adalah uji lilliefors (Kolmogorov-smirnov) dengan cara penghitungan melalui program
komputer SPSS 16.0. Jika hasil perhitungan lebih besar (p-value) > α = 0,05 berarti berdistribusi normal.
2).Uji Linieritas
BBBBB. Uji linieritas bertujuan untuk mengetahui dua variabel mempunyai hubungan yang linear atau tidak secara signifikan. Uji linieritas biasanya
digunakan sebagai prasyarat dalam analisi korelasi atau regresi linear. Pengujian
pada SPSS 16 dengan menggunakan Test For Linearrity. Adapun ketentuan uji
Linieritas bahwa jika signifikan < 0,05 maka hubungannya linear dan jika
signifikan > 0,05 maka hubunganya tidak linear.
c Uji Hipotesis
CCCCC. Setelah dilakukan uji normalitas data dan uji homoginitas data dan uji linieritas, langkah selanjutnya adalah uji korelasi. Pada penelitian ini, uji
korelasi digunakan untuk menguji hubungan antara apersepsi dengan hasil belajar
siswa pada pembelajaran IPS di kelas V SD Negeri Perumnas 2 Kecamatan
Cipedes Kota Tasikmalaya.
DDDDD. Untuk analisis korelasi dilakukan dengan menggunakan komputer program SPSS 16.0 dengan ketentuan: “jika signifikan < 0,05
maka H0 ditolak dan Ha diterima. Jika signifikan > 0,05 maka H0 diterima
dan Ha ditolak” (Hartono, 2008:58). Sedangkan untuk mengetahui kuat
tidaknya korelasi, maka nilai koefisien korelasi dikonsultasikan dengan tabel
interpretasi koefisien korelasi, sebagai berikut:
EEEEE. Tabel
FFFFF. Interprestasi Koefisien Korelasi Nilai r
GGGGG. Interval Koefisien HHHHH. Tingkat Hubungan
IIIII. 0,80 - 1,000 JJJJJ.Sangat tinggi
KKKKK. 0,60 – 0,799 LLLLL. Tinggi
MMMMM. 0,40 – 0,599 NNNNN. Cukup
OOOOO. 0,20 – 0,399 PPPPP. Rendah
QQQQQ. 0,00 – 0,199 RRRRR. Sangat rendah
SSSSS.
2).Uji Koefisien Determinasi
TTTTT. Uji koefisien determinasi digunakan untuk melihat seberapa besar varians variabel terikat dipengaruhi oleh varians variabel bebas, atau
dengan kata lain seberapa besar variabel bebas mempengaruhi variabel terikat.
Rumusnya adalah:
VVVVV. Keterangan:
WWWWW. KP = Nilai koefisien determinasi.
XXXXX. r = Nilai koefisien korelasi. Sumber: Riduwan, 2010: 139
YYYYY. Hipotesis statistik pada penelitian tentang hubungan antara
apersepsi dengan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS di kelas V SD Negeri
Perumnas 2 Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya ditetapkan kaidah
pengambilan keputusannya sebagai berikut:
ZZZZZ. Hipotesis nol (H0) : Tidak ada hubungan antara
apersepsi dengan hasil belajar siswa pada
pembelajaran IPS di kelas V SD Negeri Perumnas 2
Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya.
AAAAAA. Hipotesis alternatif (Ha) : Ada hubungan antara
apersepsi dengan hasil belajar siswa pada
pembelajaran IPS di kelas V SD Negeri Perumnas 2
Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya.
BBBBBB. H0 : µ1 = µ2 CCCCCC. Ha : µ1 ≠ µ2
DDDDDD. Keterangan:
µ1 adalah hasil belajar siswa dalam kelas eksperimen,
µ2 adalah hasil belajar siswa dalam kelas kontrol,
jika µ1 = µ2 , maka H0 diterima,
EEEEEE. Setelah mengetahui ada tidaknya perbedaan dari kedua kelas tersebut, maka dapat disimpulkan mengenai ada atau tidaknya hubungan
antara apersepsi dengan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS di kelas V SD
Negeri Perumnas 2 Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya.
FFFFFF.
GGGGGG. DAFTAR PUSTAKA HHHHHH.
IIIIII. Isjoni. (2007). Integrated Learning Pendekatan Pembelajaran IPS di Pendidikan Dasar. Bandung: Falah Production.
JJJJJJ. KBBI (Kamus Besar Najasa Indonesia) tahun 2005 (hal 250) KKKKKK. Syaripudin, Tatang. Kurniasih. (2009). Pedagogik Teoritis
Sistematis. Bandung : Percikan Ilmu.
LLLLLL. Sandjadja. Herianto, Albertus (2006). Panduan Penelitian. Jakarta: Prestasi Pustaka
MMMMMM.Sujadi Bintana, Eko. (2011). Apersepsi, Motivasi, Need Assesment, 3 Langkah Guru Dalam Mengajar Dan Analisa Strategi Pembelajaran Yang Menyenangkan. [Online]. Tersedia:
http://bk-uinsuska.blogspot.com/apersepsi-motivasi-need-assesment-3.html. (12 Januari 2012).
OOOOOO. Mukhtar & Iskandar. (2011). Desain Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (Sebuah Orientasi Baru). Jakarta:
Gaung Persada.
PPPPPP. Hamalik, Oemar. (2002). Psikologi Belajar dan Mengajar.Bandung : Sinar Baru Algesindo