• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN PENDEKATAN SETS SCIENCE ENVIRO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENERAPAN PENDEKATAN SETS SCIENCE ENVIRO"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN PENDEKATAN SETS

(SCIENCE ENVIRONME NT TECHNOLOGY AND SOCIAL) PADA PEMBELAJARAN FISIKA

PADA DIKLAT GURU MAPEL FISIKA MA

Oleh:

Drs. Miftakhul Anwar, Dip. Ed.

Abstrak

Karya Tulis Ilmiah ini merupakan hasil gagasan yang berjudul “Penerapan Pendekatan SETS (Science Environme nt Technology And Social) Pada Pembelajaran Fisika Pada Diklat Guru Mapel Fisika MA.” Dengan tujuan:

mengetahui kualitas pembelajaran Fisika MA dengan menggunakan pendekatan SETS.

Karya tulis ilmiah ini mendiskusikan bagaimana pendekatan SETS digunakan sebagai pendekatan pembelajaran fisika. Pendekatan SETS merupakan pendekatan

yang menekankan aplikasi pembelajaran fisika dengan kontek sehari -har seperti aplikasi sains dengan teknologi, lingkungan masyarakat, teknologi. P endekatan ini menekankan siswa untuk berfikir secara inquiry, discovery dan dituntut untuk berfikir lebih tinggi, kreatif, inovatif. Tulisan ini juga memberikan saran untuk

diaplikasikan dan dikembangkan lebih lanjut

A. Pendahuluan

Ilmu Pengetahuan Alam (IP A) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang fenomena alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan

kumpulan pengetahuan yang berupa fakta -fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidika n IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam

(2)

IPA diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

Fisika merupakan salah satu cabang IPA yang mendasari perkembangan teknologi maju dan konsep hidup harmonis dengan alam. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dipicu oleh temuan di

bidang fisika material melalui penemuan piranti mikroelektronika yang mampu memuat banyak informasi dengan ukuran sangat kecil. Sebagai ilmu yang mempelajari fenomena alam, fisika juga memberikan pelajaran yang baik kepada manusia untuk hidup selaras berdasarkan hukum alam. Pengelolaan sumber daya

alam dan lingkungan serta pengurangan dampak bencana alam tidak akan berjalan secara optimal tanpa pemahaman yang baik tentang fisika.

Pada tingkat SMA/MA, fisika dipandang penting untuk diajarkan sebagai mata

pelajaran tersendiri dengan beberapa pertimbangan. Pertama, selain memberikan bekal ilmu kepada peserta didik, mata pelajaran Fisika dimaksudkan sebagai wahana untuk menumbuhkan kemampuan berpikir yang berguna untuk memecahkan masalah di dalam kehidupan sehari -hari. Kedua, mata pelajaran

Fisika perlu diajarkan untuk tujuan yang lebih khusus yaitu membekali peserta didik pengetahuan, pemahaman dan sejumlah kemampuan yang dipersyaratkan untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi serta mengembangkan ilmu dan teknologi. Pembelajaran Fisika dilaksanakan secara inkuiri ilmiah untuk

menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta berkomunikasi sebagai salah satu aspek penting kecakapan hidup. Menurut mahmudin (2009) bahwa Salah satu hakekat pendidikan adala h proses mengarahkan anak pada pertumbuhan yang makin sempurna. Melalui pendidikan

anak diharapkan dapat diarahkan secara terprogram untuk mencapai penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap tertentu demi tugas -tugas profesional dan hidup. Dalam hal ini, pendidikan mengarahkan anak pada hal yang bersifat occupation-orientedatautraining for life

(3)

memecahkan soal-soal sehingga belajar fisika kurang bermakna. Akibatnya banyak siswa SMA/MA tidak punya motifasi untk belajar fisika, ini ditandai salah

satunya adalah nilai hasil belajar fisika rendah. Selain itu banya lulusan SMA/MA tidak bias mengaplikasikan ilmu fisika untuk memecahkan masalah yang dihadapinya dilapangan.

Pembelajaran Fisika hendaknya lebih menekankan aplikasih fisika dalam kontek sahari-hari. Pembelajaran fisika pada tingkat MA atau SMA hendaknya didesain lebih inovatif, kreatif, lebih aplika tif dan mendorong siswa berfikir tingkat tinggi (higher order thinking). Oleh karena itu penulis mempunyai gagasa

atau kajian bagaimana pendekatan pembelajaran sain (fisika) dik aitkan dengan linkungan, teknologi dan social atau yang dikenal dengan kata SETS (Science Environment Technology and Society

B. Kajian Pustaka

Hakekat Pendekatan Sains, Teknologi lingkungan dan Masyarakat

Pendekatan Sains, Teknologi lingkungan dan masyarakat (SETS) adalah

pengindonesiaan dari Science -Technology-Society (STS) yang pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1980 -an, dan selanjutnya berkembang di Inggris dan Australia. National Science Teacher Association atau NSTA, mendefinisikan pendekatan ini sebagai belajar/mengajar sains dan

teknologi dalam konteks peng alaman manusia. Dengan volume informasi dalam masyarakat yang terus meningkat dan kebutuhan bagi penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan hubungannya dengan kehidupan masyarakat dapat menjadi lebih mendalam, maka pendekatan SETS dapat sangat membantu ba gi

anak. Oleh karena, pendekatan ini mencakup interdisipliner konten dan benar -benar melibatkan anak sehingga dapat meningkatkan kemampuan anak. Pendekatan ini dimaksudkan untuk menjembatani kesenjangan antara kemajuan iptek, membanjirnya informasi ilmiah dalam dunia pendidikan, dan nilai -nilai

iptek itu sendiri dalam kehidupan masyarakat sehari -hari.

(4)

tentang kaitan antara sai ns teknologi dan masyarakat, melatih kepekaan penilaian peserta didik terhadap dampak lingkungan sebagai akibat

perkembangan sains dan teknologi (Poedjiadi, 2005). Menurut Raja (2009), keputusan yang dibuat oleh masyarakat biasanya memerlukan penggunaan teknologi untuk melaksanakannya. Bahkan, masyarakat dan ilmu pengetahuan menggunakan teknologi sebagai sarana untuk menyimpan informasi. Peranan

penting yang dimiliki oleh teknologi dapat berfungsi sebagai sarana tindakan dan penyidikan dalam pendekatan SETS. Data juga menyiratkan sifat ilmu pengetahuan sebagai sebuah bidang di semua masyarakat.

Sains merupakan suatu tubuh pengetahuan (body of knowledge) dan proses

penemuan pengetahuan. Teknologi merupakan suatu perangkat keras ataupun perangkat lunak yang di gunakan untuk memecahkan masalah bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Sedangkan masyarakat adalah sekelompok manusia yang memiliki wilayah, kebutuhan, dan norma -norma sosial tertentu. Sains, teknologi

dan masyarakat satu sama lain saling berinteraksi (Widyat iningtyas, 2009). Menurut Widyatiningtyas (2009), pendekatan SETS dapat menghubungkan kehidupan dunia nyata anak sebagai anggota masyarakat dengan kelas sebagai ruang belajar sains. Proses pendekatan ini dapat memberikan pengalaman

belajar bagi anak dalam mengidentifikasi potensi masalah, mengumpulkan data yang berkaitan dengan masalah, mempertimbangkan solusi alternatif, dan mempertimbangkan konsekuensi berdasarkan keputusan tertentu.

Pendidikan sains pada hakekatnya merupakan upaya pemahaman, penyadaran, dan pengembangan nilai positif tentang hakekat sains melalui pembelajaran. Sains pada hakekatnya merupakan ilmu dan pengetahuan tentang fenomena alam yang meliputi produk dan proses. Pendidikan sains merupakan

salah satu aspek pendidikan yang menggunakan sains sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan nasional secara umum dan tujuan pendidikan sains secara khusus, yaitu untuk meningkatkan pengertian terhadap dunia alamiah (Amien, 1992dalamWidyatiningtyas, 2009).

(5)

berkaitan dengan fakta, definisi, konsep, prinsip, teori, model, dan terminologi. Proses, berkaitan dengan metodologi atau keterampilan untuk memperoleh d an

menemukan konten. Konteks, berkaitan dengan kepentingan sosial baik individu maupun masyarakat atau kepentingan -kepentingan lainnya yang berhubungan dengan perlunya pengembangan dan penyesuaian pendidikan sains untuk menghadapi tantangan kemajuan zaman. Benneth et. al. (2005) melaporkan,

bahwa pendekatan SETS merupakan pendekatan berbasis konteks yang memiliki peranan yang sangat penting dalam memotivasi anak dan mengembangkan keaksaraan ilmiah mereka berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap anak laki-laki dan perempuan yang berkemampuan rendah.

Dengan demikian, tujuan pendekatan SETS adalah untuk membentuk individu yang memiliki literasi sains dan teknologi serta memiliki kepedulian terhadap masalah masyarakat dan lingkungannya (Pudjiadi, 200 5).

Menurut Rusmansyah (2003) dalam Aisyah (2007), pendekatan SETS dilandasi

oleh tiga hal penting yaitu:

1. Adanya keterkaitan yang erat antara sains, teknologi dan masyarakat.

2. Proses belajar-mengajar menganut pandangan konstruktivisme, yang pada pokoknya menggambarkan bahwa anak membentuk atau membangun

pengetahuannya melalui interaksinya dengan lingkungan.

3. Dalam pengajarannya terkandung lima ranah, yang terdiri atas ranah pengetahuan, ranah sikap, ranah proses sains, ranah kreativitas, dan ranah hubungan dan aplikasi.

Program pembelajaran dengan pendekatan SETS pada umumnya mempunyai karakteristik, sebagai berikut:

1. Identifikasi masalah-masalah setempat.

2. Penggunaan sumber daya setempat yang digunakan dalam memecahkan

masalah.

3. Keikutsertaan yang aktif dari sis wa dalam mencari informasi untuk memecahkan masalah.

4. Perpanjangan pembelajaran di luar kelas dan sekolah. 5. Fokus kepada dampak sains dan teknologi terhadap siswa.

(6)

7. Penekanan pada keterampilan proses di mana siswa dapat menggunakan dalam memecahkan masalah.

8. Penekanan pada kesadaran karir yang berkaitan dengan sains dan teknologi. 9. Kesempatan bagi siswa untuk berperan sebagai warga negara identifikasi

bagaimana sains dan teknologi berdampak di masa depan. 10. Kebebasan atau otonomi dalam proses belajar.

Konsep Pendidikan Sain lingkungan Teknologi dan Masyarakat

Inovasi pendidikan selalu dilakukan oleh ahli pendidikan agar pendidikan siswa lebih bermakna, ini tentunya selalu disesuaokan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan tuntutan masyarakat.

Pendekatan pembelajaran yang inovatif yang dikembangkan oleh ahli pendidikan sekarang salah satunya adalah diintegrasikannya pendidikan berwawasan lingkungan, misalnya Pe ndidikan bervisi STS (Science Technology Society) berarti pendidikan bervisi Sains Teknologi dan Masyarakat, Pendidikan

bervisi EE (Environmental Education) berarti pendidikan lingkungan hidup,

pendidikan STL (Sciencetific and Technological Literacy) artinya pendidikan berwawasan Sains dan merujuk Teknologi. Beberapa waktu berlalu belum menampakkan hasil optimal dari pengintegrasian visi -visi tersebut dalam pendidikan. Untuk itulah perlu dikembangkan pendidikan bervisi SETS sebagai

satu kesatuan Sains, Lingkungan, Teknologi dan Masyarakat yang tidak boleh dipisahkan.

Ketergantungan terhadap produk alam untuk keperluan kehidupan

sehari-hari masih cukup tinggi. Sehingga tingkat kekayaan alam yang relatif berkurang dibandingkan dengan jumlah manusia yang membu tuhkan, semakin memberi dukungan terhadap aplikasi pendidikan bervisi SETS.

Hakekat SETS dalam pendidikan merefleksikan bagaimana harus melakukan dan apa saja yang bisa dijangkau oleh pendidikan SETS. Pendidikan SETS

(7)

manfaat-manfaat maupun kerugian -kerugian yang dihasilkan. Pada akhirnya peserta didik mampu menjawab dan mengatasi setiap problem yang berkaitan

dengan kekayaan bumi maupun isu -isu sosial serta isu-isu global, hingga pada akhirnya bermuara menyelamatkan bumi.

Keberhasilan Pendidikan SETS dengan kedalaman yang memadai

sangat relevan untuk memecahkan problem yang melanda kehidupan sehari -hari. Misalnya masalah pencemaran, pengangguran, bencana alam, kerusuhan sosial dan lain-lainnya. Isu-isu tersebut dapat dibawa ke dalam kelas dan dikaji melalui pendidikan SETS untuk dicarikan pemecahannya, paling tidak

pencegahannya. Pendidikan SETS pada hakekatnya akan membimbing peserta didik untuk berpikir global dan bertindak lokal maupun global dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi sehari -hari. Masalah-masalah yang berada di masyarakat dibawa ke dalam kelas untuk dicari pemecahannya

menggunakan pendidikan SETS secara terpadu dalam hubungan timbal balik antar elemen-elemen sains, lingkungan, teknologi, masyarakat.

Peserta didik dilatih agar mampu berpikir secara global dalam

memecahkan masalah lokal, nasional maupun internasional sesuai dengan kadar kemampuan berpikir dan bernalarnya. Peserta didik dibimbing untuk memiliki kepekaan terhadap masalah -masalah di masyarakat dan berperan aktif untuk turut mencari pemecahannya. Pendidikan SETS ini dapat mengatasi kelemahan

sistem pendidikan klasik dimana peserta didik diajak melaju untuk menyelesaikan materi pelajaran, tanpa diketahui dengan jelas implementasi peserta didik terhadap daya serap materi pelajaran (Apakah materi pelajaran dapat dikuasai keseluruhan atau sebagian, dan kompetensi dasar apa yang sudah

dicapai). Sehingga Pendidikan SETS dapat mengantisipasi beberapa hal pokok dalam membekali peserta didik, diantar anya :

a. Menghindari ‘materi oriented’ dalam pendidikan tanpa tahu masalah-masalah di masyarakat secara lokal, nasional, maupun internasional.

b. Mempunyai bekal yang cukup bagi peserta didik untuk menyongsong era

(8)

c. Peserta didik mampu menjawab dan mengatasi setiap masalah yang berkaitan dengan kelestarian bumi, isu -isu sosial, isu-isu global, misalnya masalah

pencemaran, pengangguran, kerusuhan sosial, dampak hasil teknologi dan lain -lainnya hingga pada akhir nya bermuara menyelamatkan bumi.

d. Membekali peserta didik dengan kemampuan memecahkan masalah -masalah dengan penalaran sains, lingkungan, teknologi, sosial secara integral, baik di

dalam maupun di luar kelas.

Pendidikan SETS mencakup topik maupun konsep yang berhubungan dengan sains, teknologi, lingkungan dan berbagai hal yang

diperkirakan melanda masyarakat. Obyek -obyek pendidikan yang dipelajari pada akhirnya diharapkan dimengerti dengan baik korelasinya dengan keempat elemen utama SETS. Pendidikan SETS bukan pendidikan di angan -angan atau di atas kertas saja, melainkan pendidikan SETS benar -benar membahas sesuatu

yang nyata / riil, bisa dipahami, dapat dilihat dan dibahas dan bisa dipecahkan jalan keluarnya. Kurang pada tempatnya jika pembahasan SETS hanya sebatas elemen per elemen yang terpisah satu sama lain. Apabila hal itu dilakukan sama artinya dengan memfokuskan pada salah satu unsur dari SETS.

Keempat unsur pada Pendidikan SETS saling berinteraksi dalam membahas suatu konsep pendidikan baik sin s maupun non sains. Untuk memenuhi kepentingan peserta didik perlu diciptakan suatu program yang sesuai

dengan tingkat pendidikan peserta didik maupun warga masyarakat. Para guru diharapkan lebih berhati-hati dalam pengajarannya jika memasukkan konsep atau topik yang akan dibahas dengan teknik Pendidikan SETS. Topik tersebut harus aktual dan sesuai dengan subyek yang sedang dipelajari dan tentunya tidak

bertentangan dengan kurikulum yang dibakukan. Satu hal yang paling penting, Pendidikan SETS harus dapat m embawa setiap peserta didik berperan serta dalam kegiatan pembelajaran.

Tujuan Pendidikan Sain lingkungan Teknologi dan Masyarakat

(9)

dan bagaimana perkembangan sains serta teknologi mempengaruhi lingkungan serta masyarakat. Pendidikan SETS berupaya memberikan pemahaman tentang

peranan lingkungan terhadap sains, teknologi, masyarakat. Sebaliknya peranan masyarakat terhadap ar ah perkembangan sains, teknologi dan keadaan lingkungan. Termasuk juga peranan teknologi dalam penyesuaiannya dengan sains, manfaatnya terhadap masyarakat dan dampak -dampak yang ditimbulkan

terhadap lingkungan. Tidak ketinggalan peranan sains untuk melahir kan konsep-konsep yang berdaya guna positif, keterlibatannya pada teknologi yang dipakai maupun pengaruhnya terhadap masyarakat dan lingkungan secara timbal balik. Jadi tujuan utama Pendidikan SETS ialah bagaimana membuat agar SETS dapat

menolong manusia membuat surga dunia di muka bumi ini, bukan sebaliknya menciptakan neraka dunia dalam segala aspek kehidupan. SETS sesungguhnya harus mampu menolong setiap negara di dunia untuk mewujudkan kemakmuran bagi semua warga negaranya.

Dalam memberikan pengantar P endidikan SETS kepada peserta didik, setiap guru harus dapat menciptakan variasi pendekatan atau konsep pembelajaran yang disesuaikan tingkat kemampuan maupun obyektivitas dari

pendidikan SETS itu sendiri. Perlu diingat bahwa tidak tertutup kemungkinan seorang siswa memiliki peluang lebih besar untuk mengalami sesuatu topik masalah secara lebih nyata dibanding dengan gurunya. Apabila hal itu terjadi, para guru hendaknya tidak merasa berkecil hati, justru merasa lebih tertantang

dengan kondisi yang ada untuk belajar lebih keras dan mencoba mendahului kemampuan muridnya dengan tujuan positif. Jangan sampai terjadi karena muridnya diketahui lebih cepat dapat mengakses pengetahuan yang ada, seorang guru menjadi tidak suka atau antipati kepada muridnya. Segi baik lainnya adalah setiap murid secara perorangan dapat mengoptimalkan pengetahuan yang

(10)

Bentuk korelasi hubungan timbal balik antara unsur -unsur SETS digambarkan sebagai berikut : (yang menjadi fokus perhatian adalah

lingkungan).

Gambar 1. Hubungan timbal balik unsur -unsur Pendidikan SETS

Berarti sains, lingkungan, teknologi dan m asyarakat saling terkait dalam

hubungan dua arah antara sains dengan lingkungan, teknologi, masyarakat. Antara lingkungan dengan sains, teknologi, masyarakat. Antara teknologi dengan sains, lingkungan, masyarakat. Antara masyarakat dengan sains, lingkungan, teknologi. Hubungan kesalingterkaitan dua arah antara elemen -elemen SETS menunjukkan interaksi positif maupun negatif yang menjadi

dampak yang tumbuh dari perkembangan tiap -tiap elemen SETS.

Pendidikan SETS harus dapat membuat peserta didik memahami hake kat dari ‘Sains, Lingkungan, Teknologi, Masyarakat’ sebagai satu kesatuan. Maksudnya peserta didik harus selalu memperhitungkan saling keterkaitan antara elemen

-elemen dalam SETS. Pendidikan SETS tidak hanya memperhatikan sains, teknologi, masyarakat tetap i juga dampak positif / negatif yang diakibatkan oleh sains dan teknologi yang dipakai oleh masyarakat pada lingkungan dan masyarakat itu sendiri.

Unsur-unsur yang dimiliki dalam Pendidikan lingkungan (EE – Environmental Education) dan Pendidikan STS (Science Technology Society) tidak selengkap Pendidikan SETS. Fokus Pendidikan SETS meliputi belajar di

S A I N S

MASYARAKA

(11)

(in), untuk (for), tentang (about) lingkungan, dengan mencoba menemukan dan mengungkap penyebab permasalahan serta kemungkinan apa yang

menimbulkan dampak pada lingkungan di masa yang akan datang. Terutama sekali dampak-dampak yang timbul akibat sains dan teknologi yang digunakan dalam usaha memenuhi kebutuhan masyarakat. Peserta didik memahami setiap elemen dalam SETS semuanya menyatu, dan mengaplikasikan d alam proses

berpikirnya dengan meninjau keterlibatan keempat elemen tersebut dari sisi positif maupun negatif. Pendidikan SETS bermaksud membawa peserta didik untuk mengkorelasikan antara sains, teknologi, lingkungan dan masyarakat. Contohnya, produk-produk teknologi yang mendukung sains. Dampak positif

maupun negatif teknologi, sains terhadap masyarakat atau lingkungan. Keterlibatan masyarakat dalam pengembangan sains dan penciptaan teknologi serta perlakuannya terhadap lingkungan. kemampuan lingkungan dal am penyediaan kebutuhan masyarakat, penciptaan teknologi dan pengembangan

sains. Hal-hal itulah yang dimaksudkan dalam Pendidikan SETS. Terhadap peserta didik, tentunya sebatas pada kemampuan kognitif, penalaran dan pengetahuan awal yang telah dimilikinya. Sehingga dalam pendidikan SETS, peserta didik benar-benar learning to know–learning to do–learning to be– learning to live together.

Berdasarkan pemikiran Pendidikan SETS kita dapat membangun generasi muda yang melihat ke depan (futuristik) ke arah peningk atan kualitas hidup setiap anggota masyarakat.

Yang perlu diperhatikan dalam membelajarkan SETS untuk major sains seperti Fisika di Sekolah Menengah adalah sebagai berikut.

a. Topik yang dipilih hendaknya memunculkan sains yang telah dikenal dalam

kurikulum, dan dititikberatkan pada keterkaitan hubungan dengan teknologi, lingkungan maupun masyarakat.

(12)

b. Pemilihan materi pengajaran hendaklah yang dapat membawa peserta didik

ke arah ‘melek’ sains dan teknologi beserta penerapannya dan berbagai dampaknya positif atau negatif terhadap lingkungan, masyarakat, serta pada teknologi itu sendiri sehingga dapat lebih menumbuhkan kepedulian peserta didik dan tanggung jawab mereka pada pemecahan masalah lingkungan dan masyarakat.

c.Pembuatan bahan evaluasi hendaknya menerapkan sains, teknologi, masyarakat, lingkungan yang relevan.

Implentasi Pendekatan Sains teknologi dan lingkungan dan Masyarakat

dalam pembelajaran Fisika

Ada 3 strategi yang dapat digunakan dalam pelaksanaan pendekatan SETS (Poedjiadi, 2005) . Ketiga macam strategi itu adala:

1. menyusun topik- topik tertentu yang menyangkut konsep -konsep yang

ingin ditanamkan pada peserta didik. Pada strategi ini, di awal pembelajaran (topik baru) guru memperkenalkan atau menunjukkan kepada peserta didik adanya isu atau masalah di lingkungan anak atau menunjukkan aplikasi sains atau suatu produk tekn ologi yang ada di lingkungan mereka. Masalah

atau isu yang ada di lingkungan masyarakat dapat pula diusahakan agar ditemukan oleh anak sendiri setelah guru membimbing dengan cara -cara tertentu. Melalui kegiatan eksperimen atau diskusi kelompok yang dirancang oleh guru, akhirnya dibangun atau dikonstruksi pengetahuan pada

anak. Dalam hal ini, pengetahuan yang berbentuk konsep -konsep.

2. Menyajikan suatu topik yang relevan dengan konsep -konsep tertentu yang termasuk dalam standar kompetensi atau kompetensi dasar . Pada saat membahas konsep-konsep tertentu, suatu topik relevan yang telah dirancang sesuai strategi pertama dapat diterapkan dalam pembelajaran. Dengan

demikian program SETS merupakan suplemen dari kurikulum.

(13)

belajar berlangsung. Contoh -contoh adanya aplikasi konsep sains, isu atau masalah, sebaiknya diperkenalkan pada awal pokok bahasan tertentu untuk

meningkatkan motivasi peserta didik mempelajari konsep -konsep selanjutnya, atau mengarahkan perhatian peserta didik kepada materi yang akan dibahas sebagai apersepsi.

Dalam mengimplementasikan pendekatan SETS dalam pembelajaran,

Dass (1999) dalam Raja (2009) mengemukakan empat langkah kegiatan kelas yang secara komprehensif merupakan upaya mengembangkan pemahaman murid dan pelaksanaan suatu proyek SETS yang berhubungan preservice guru. Keempat langkah pembelajaran tersebut adalah fase invitasi atau undangan atau

inisiasi, eksplorasi, mengusulkan penjelasan dan solusi, dan mengambil tindakan.

Fase Invitasi

Pada Preservice teachers (PSTs)atahap ini, guru melakukan brainstorming dan menghasilkan beberapa kemungkinan topik untuk penyelidikan. Topik dapat bersifat global atau lokal, tetapi harus merupakan minat siswa dan memberikan wilayah yang cukup untuk penyelidikan bagi siswa. Menurut Aisyah (2007),

Apersepsi dalam kehidupan juga dapat dilakukan, yaitu mengaitkan peristiwa yang telah diketahui siswa dengan materi yan g akan dibahas. Dengan demikian, tampak adanya kesinambungan pengetahuan, karena diawali dengan hal -hal yang telah diketahui siswa sebelumnya dan ditekankan pada keadaan yang

ditemui dalam kehidupan sehari -hari.

Eksplorasi

(14)

mengembangkan penyelidikan berbasis ilmu pengetahuan untuk menyelidiki isu-isu yang berkaitan dengan masalah ini. Pemahaman tentang hujan asam,

misalnya, dilakukan dalam labora torium untuk menyelidiki sifat -sifat asam dan basa. Penyelidikan ini memberikan pemahaman dasar untuk pengembangan, pengujian hipotesis, dan mengusulkan tindakan (Dass, 1999 dalamRaja, 2009).

Menurut Aisyah (2007), tahap kedua ini merupakan proses pembent ukan konsep

yang dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan dan metode. Misalnya pendekatan keterampilan proses, pendekatan sejarah, pendekatan kecakapan hidup, metode demonstrasi, eksperimen di labolatorium, diskusi kelompok, bermain peran dan lain -lain. Pada akhir tahap kedua, diharapkan melalui

konstruksi dan rekonstruksi siswa menemukan konsep -konsep yang benar atau konsep-konsep para ilmuan. Selanjutnya berbekal pemahaman konsep yang benar siswa melanjutkan analisis isu atau masalah yang disebut aplik asi konsep dalam kehidupan.

Fase Mengusulkan Penjelasan dan Solusi

Pada tahap ini, siswa mengatur dan mensintesis informasi yang mereka telah kembangkan sebelumnya dalam penyelidikan. Proses ini termasuk komunikasi

lebih lanjut dengan para ahli di lapanga n, pengembangan lebih lanjut, memperbaiki, dan menguji hipotesis mereka, dan kemudian mengembangkan penjelasan tentatif dan proposal untuk solusi dan tindakan. Hasil tersebut kemudian dilaporkan dan disajikan kepada rekan -rekan kelas untuk

menggambarkan temuan, posisi yang diambil, dan tindakan yang diusulkan (Dass, 1999dalamRaja, 2009).

Menurut Aisyah (2007), apabila selama proses pembentukan konsep dalam tahap ini tidak tampak ada miskonsepsi yang terjadi pada siswa, demikian pula setelah akhir analisis isu dan penyelesaian masalah, guru tetap harus melakukan pemantapan konsep melalui penekanan pada konsep -konsep kunci yang penting

(15)

lama dibandingkan dengan kalau tidak dimantapkan atau ditekankan oleh guru pada akhir pembelajaran.

Fase Mengambil Tindakan

Berdasarkan temuan yang dilaporkan dalam fase ketiga (mengajukan penjelasan dan solusi), siswa menerapk an temuan-temuan mereka dalam beberapa bentuk aksi sosial. Jika tindakan ini melibatkan masyarakat sebagai pelaksana, misalnya membersihkan daerah berbahaya anak dapat menghubungi pejabat publik yang

dapat mendukung pikiran dan temuan mereka. Anak menyajik an informasi ini kepada rekan-rekan kelas mereka. Proposal ini akan dimasukkan sebagai tindakanfollow up(Dass, 1999dalamRaja, 2009).

Untuk mengungkap penguasaan pengetahuan sains dan teknologi anak selama pembelajaran, dapat dilakukan melalui suatu eva luasi. Evaluasi merupakan suatu pengukuran atau penilaian terhadap sesuatu prestasi atau hasil yang telah

dicapai. Mengingat penguasaan sains dan teknologi dalam hal ini merupakan penguasaan sains dan teknologi yang berkaitan dengan aspek masyarakat, maka kriteria pengembangan evaluasinya dapat mengacu kepada pengembangan evaluasi dalam unit SETS. Menurut Varella (1992) dalam Widyatiningtyas

(2009), evaluasi dalam SETS meliputi ruang lingkup aspek:

1. Pemahaman konsep sains dalam pengalaman kehidupan sehari -hari.

2. Penerapan konsep-konsep dan keterampilan -keterampilan sains untuk masalah-masalah teknologi sehari -hari.

3. Pemahaman prinsip-prinsip sains dan teknologi yang terlibat dalam alat -alat

teknologi yang dimamfaatkan masyarakat.

4. Penggunaan proses-proses ilmiah dalam pemecahan masalah -masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari -hari.

(16)

Menurut Yagger (1994), penilaian terhadap pros es pembelajaran yang menggunakan pendekatan SETS dapat dilakukan dengan menggunakan lima

domain, yaitu:

1. Konsep, yang meliputi penguasaan konsep dasar, fakta dan generalisasi. 2. Proses, penggunaan proses ilmiah dalam menemukan konsep atau

penyelidikan.

3. Aplikasi, penggunaan konsep dan proses dalam situasi yang baru atau dalam kehidupan.

4. Kreativitas, pengembangan kuantitas dan kualitas pertanyaan, penjelasan, dan tes untuk mevalidasi penjelasan secara personal.

5. Sikap, mengembangkan perasaan positif dalam sains, belajar sains, guru sains dan karir sains.

C. PEMBAHASAN

Pembelajaran kontektual akan lebih bermakna. contonya adalah mempelajari alam dan sekitarnyah. Karena keberadaan alam ini adalah sesuatu

yang konkrit . Kita dapat mengindera apa saja yang ada di sekit ar kita, diamati, dipelajari kemudian dapat digunakan untuk kemanfaatan umat seluruhnya. Kejadian alam dapat terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan diri manusia. Kejadian yang ada berlangsung terkait dan berkesinambungan.

Suatu sistem yang terjadi dapat menyebabkan terjadinya sistem yang lain. Dari setiap kejadian alam yang ada, dapat memunculkan pertanyaan – pertanyaan sebagai suatu permasalahan yang pada akhirnya dapat bermanfaat bagi manusia setelah mengalami verifikasi dan pengamatan. Oleh karena itu Pembelajaran

Fisika memerlukan keterlibatan aktif para siswa.

Dari uraian di atas, maka pembelajaran tentang alam harus dapat disajikan sebagai suatu proses penemuan dan terkait dengan pengalaman peserta didik, sehingga pengetahuan yang d iperoleh bersifat lama, dapat diingat, dan

(17)

baru, transformasi pengetahuan, dan menguji relevansi dan kete patan pengetahuan. Masih menurut Bruner belajar merupakan konseptualisme

instrumental yang didasarkan pada 2 prinsip, yaitu : pengetahuan orang tentang alam didasarkan pada model -model mengenai kenyataan yang dibangunnya, dan model-model itu mula-mula diadopsi dari kebudayaan seseorang, dan kemudian model-model itu diadaptasikan pada kegunaan bagi orang itu.

Menurut Rosser pendekatan Bruner terhadap belajar dida sarkan pada dua asumsi, yaitu: Pertama, bahwa perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif. Berlawanan dengan para pengamat teori perilaku, Bruner yakin

bahwa orang yang belajar berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif, perubahan tak hanya terjadi di lingkungan, tetapi juga dalam diri orang itu sendiri. Kedua, bahwa orang mengkonst ruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan yang

diperoleh sebelumnya (suatu model alam = model of the world).

Konsep Belajar Bruner dikenal sebagai belajar penemuan (discovery learning), dengan penjelasan sebagai berikut:

- Siswa berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan

yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar -benar bermakna. - Siswa hendaknya belajar melalui partisipasi secara aktif dengan konsep -konsep dan prinsipprinsip agar memperoleh pengalaman dan melakukan eksperimen -eksperimen yang memungkinkan mereka memperoleh konsep baru.

Piaget menyimpulkan dari penelitiannya bahwa organisme bukanlah agen yang pasif dalam perkembangan genetik. Perubahan genetik bukan peristiwa yang menuju kelangsungan hidup suatu organisme melainkan adanya adaptasi terhadap lingkungannya dan adanya interaksi antara organisme dan

lingkungannya. Dalam responnya organisme mengubah kondisi lingkungan, membangun struktur biologi tertentu yang i a perlukan untuk tetap bisa mempertahankan hidupnya.

(18)

pelajaran eksak lainnya seperti Biologi atau Kimia membawa keprih atinan para pendidik khususnya guru -guru Fisika. Selain itu minat yang rendah dari para

siswa dalam mempelajari konsep -konsep Fisika dapat dilihat dari adanya anggapan umum siswa bahwa Fisika adalah mata pelajaran yang sarat dengan rumus, perhitungan, pemi kiran, dan abstrak sehingga membosankan. Dengan kondisi pembelajaran Fisika seperti itu dan tidak adanya motivasi yang

mendukung semangat belajar siswa menyebabkan ketuntasan pembelajaran relatif rendah. Selain itu hasil belajar Fisika tidak tercermin pada sikap dan perilaku siswa dalam kesehariannya. Siswa kurang memiliki cara pandang dan rasa peduli terhadap dampak positif maupun negatif dari ilmu Fisika yang

memproduksi teknologi bagi masyarakat serta pengaruhnya terhadap lingkungan.

Dalam proses pembelajaran ilmu Fisika keaktifan siswa merupakan inti dari pola belajar dengan pendekatan konstruktivis, hal itu dapat tercermin dari

aktifnya para siswa membaca sendiri, mengaitkan konsep -konsep baru dengan berdiskusi dan menggunakan istilah, konsep dan prinsi p yang baru mereka pelajari diantara mereka. Dalam pendekatan konstruktivis siswa secara aktif membangun pengetahuannya sendiri berdasarkan “apa yang diketahui siswa”. Sedangkan guru berperan sebagai narasumber yang bijak dan berpengetahuan serta berfungsi sebagai sutradara yang mengendalikan proses pembelajaran dan siap membantu siswa apabila ada kemacetan proses pembelajaran atau melantur tanpa arah. Laboratorium (lab) sebagai salah satu sarana sumber belajar

merupakan salah satu alternatif proses pembela jaran Fisika dengan basis lab yang dapat menerjemahkan konsep -konsep abstrak ke dalam bentuk konkrit, mengapresiasikan permasalahan sehari -hari dalam masyarakat, teknologi dan lingkungan sekitar serta memecahkannya secara berpikir sistematis, analitis dan

alternatif. Pada dasarnya mata pelajaran Fisika merupakan salah satu mata pelajaran sains yang diharapkan sebagai sarana mengembangkan kemampuan berpikir analitis deduktif dengan menggunakan berbagai konsep dan prinsip Fisika untuk menjelaskan berbagai per istiwa alam. Tujuan pembelajaran mata pelajaran Fisika SMA/MA yang dicanangkan Depdiknas adalah agar siswa

(19)

ketrampilan dan sikap percaya diri sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Wawasan SETS (Science, Environment, Technology, and Society) yang diaplikasikan ke dalam proses pembelajaran Fisika diyakini dapat dapat membawa sistem pendidikan untuk menghasilkan lulusan yang dapat

menerapkan pengetahuan yang diperolehnya gun a meningkatkan kualitas hidup manusia tanpa harus membahayakan lingkungannya. Pembelajaran berwawasan SETS menurut Binadja pendekatan yang paling dianjurkan adalah pendekatan SETS itu sendiri. Karakteristik pendekatan SETS dalam proses pembelajaran

Fisika dapat disebutkan beberapa diantaranya sebagai berikut : (1) bertujuan memberi pembelajaran Fisika secara kontekstual, (2) siswa dibawa ke situasi untuk memanfaatkan konsep Fisika ke bentuk teknologi untuk kepentingan masyarakat, (3) siswa diminta berpikir tentang berbagai kemungkinan akibat

yang terjadi dalam proses pentransferan konsep Fisika ke bentuk teknologi, (4) siswa diminta untuk menjelaskan keterhubungkaitan antara unsur konsep Fisika yang diperbincangkan dengan unsur -unsur lain dalam SETS yang mempengaruhi berbagai keterkaitan antar unsur tersebut., (5) siswa dibawa

untuk mempertimbangkan manfaat atau kerugian dari penggunaan konsep Fisika bila diubah dalam bentuk teknologi yang relevan, (6) siswa diajak membahas tentang SETS dari berbagai arah dan dari berbagai titik awal tergantung pengetahuan dasar yang dimiliki siswa bersangkutan.

Pendekatan SETS dalam pembelajaran Fisika dapat diterapkan pada semua konsep-konsep Fisika kecuali ada keterbatasan pada konsep Fisika teori yang memerlukan kecepatan mendekati kecepatan cahaya untuk mempraktekkannya pada teknologi, misalnya pada konsep relativitas. Pendekatan SETS yang

merupakan salah satu pendekatan pembelajaran konstruktivis. Konstruktivisme merupakan cara belajar yang menekankan peranan siswa dala m membentuk pengetahuannya sedangkan guru lebih berperan sebagai fasilitator yang membantu keaktifan siswa tersebut dalam membentuk pengetahuannya. Pengetahuan tidak dapat begitu saja dipindahkan dari otak seseorang (guru) ke

(20)

mereka. Tanpa pengalaman, seseorang tidak dapat membentuk pengetahuan. Pengalaman disini tidak harus pengalaman fisik, tetapi bisa diartikan ju ga

pengalaman kognitif dan mental. Banyaknya siswa yang salah menangkap apa yang diajarkan oleh gurunya (misconseptions), menunjukkan bahwa pengetahuan itu tidak dapat begitu saja dipindahkan, melainkan harus dikonstruksikan atau paling sedikit diinterpret asikan sendiri oleh siswa.

Dalam proses kontruksi ini, diperlukan beberapa kemampuan:

1. Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalamannya

2. Kemampuan membandingkan, mengambil keputusan mengenai persamaan dan perbedaan

3. Kemampuan untuk lebih m enyukai pengalaman yang satu daripada yang lain Tiap orang harus mengkonstruksi pengetahuan sendiri. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, tetapi proses yang berkembang terus menerus. Beberapa faktor seperti keterbatasan pengalaman kontruksi, struktur kognitif,

dapat membatasi pembentukan pengetahuan orang.sebaliknya, situasi konflik atau anomali, akan megembangkan pengetahuan seseorang.

Pendekata konstruktivisme banyak dipakai di Amerika, Eropa dan

Australia. Prinsip-prinsipnya adalah:

1. pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara personal maupun sosial 2. pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk bernalar

3. siswa aktif mengkonstruksi terus -menerus, sehingga selalu terjadi p erubahan konsep menuju konsep yang lebih rinci, lengkap sesuai dengan konsep ilmiah. 4. guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus.

(21)

Dalam bukunya, cooperative learning in the science classroom, Linda Lundgren menyebutkan bahwa unsur -unsur dasar dalam pembelajaran

kooperatif sebagai berikut.

1. Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka ‘tenggelam atau berenang bersama’.

2. Para siswa memiliki tanggung jawab terhadap tiap siswa lain dalam

kelompoknya, disamping tanggung jawab terhadap diri sendiri, dalam mempelajari materi yang dihadapi.

3. Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semuanya memiliki tujuan yang sama.

4. Para siswa harus membagi tugas dan berbagai tanggung jawab sama besarnya diantara para anggota kelompok.

5. Para siswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.

6. Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar.

7. Para siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Menurut Kurikulum KTSP yang berbasis kompetensi pedoman pembelajaran ilmu pengetahuan alam atau sains dapat diintisarikan sebagai berikut.

1. Belajar sains membantu siswa untuk memahami diri, lingkungan, dan alam, serta mendemonstrasikan pemahamannya ketika menyelesaikan masalah. Belajar sains tidak sekedar mempelajari informasi sains berkaitan dengan fakta, konsep, prinsip, hukum dalam wujud ‘pengetahuan deklaratif’ (declarative knowledge), akan tetapi belajar sains juga belajar tentang cara memperoleh informasi, cara dan teknologi (terapan sains), b ekerja dalam wujud ‘pengetahuan prosedural’ (procedural knowledge), termasuk kebiasaan bekerja ilmiah dengan menerapkan metode dan sikap ilmiah.

2. Belajar sains memfokuskan kegiatan pada penemuan informasi melalui

(22)

percobaan, mengendalikan variabel, mengumpulkan dan menata data yang dikehendaki, memecahkan masalah, dan memperjelas pemahaman.

3. Belajar sains memberi kesempatan siswa mengembangkan keterampilan dan pemahaman secara kontekstual dan bermakna. Belajar sains membiasakan sejumlah sikap ilmiah seperti sikap ingin tahu, jujur, bersungguh -sungguh, mau bekerja sama, terbuka dan luwes, tekun dan peduli lingkungan.

4. Belajar sains adalah mengembangkan sejumlah kompetensi adaptif yang sesuai dengan perubahan kondisi saat ini menuju kondisi masa depan, meliputi kemampuan merencanakan dan melaksanakan percobaan, kemampuan memilah, memilih, dan menata informasi, kemampuan

menyimpulkan, dan kemampuan mengkomunikasikan serta menyempurnakan temuan.

5. Belajar sains lebih bermakna dengan pengaitan sains dengan teknologi, lingkungan, dan masyarakat beserta segala aspeknya, dengan memperhatikan

keseimbangan bahasan tentang unsur -unsur sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat secara berkaitan dan menyatu. Belajar sains memberi peluang terhadap pemikiran lebih mendalam tentang keterkaitan timbal balik antara sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat (salingtemas). Belajar sains

mengkondisikan siswa agar mau dan mampu menerapkan prinsip sains untuk menghasilkan karya teknologi, disertai pemikiran munculnya dampak positif dan negatif yang mungkin timbul dari produk teknologi terhadap lingkungan dan masyarakat, serta isu -isu yang timbul di masyarakat sesudahnya untuk

mengkaji kembali sains dan produk teknologi.

6. Belajar sains sebagai upaya membangun pemahaman dengan mempertimbangkan pengalaman dan pikiran yang sudah dimiliki siswa yang cenderung naif dan miskonsepsi.

7. Belajar sains adalah perubahan pembelajaran model ‘indoktrinasi’ menjadi pembelajaran model ‘pemberdayaan’ atau minimal model ‘pengkondisian’. Belajar sains adalah perubahan pembelajaran dengan fokus ‘guru mengajar’ menjadi pembelajaran dengan fokus ‘siswa belajar’.

8. Belajar sains bukan hanya ditujukan untuk anak pandai melainkan untuk

(23)

9. Belajar sains adalah membantu siswa dalam mengembangkan sejumlah keterampilan ilmiah untuk memahami perilaku/gejala alam, meliputi

keterampilan mengamati dengan semua indera, menggunakan alat dan bahan, merencanakan eksperimen, mengajukan pertanyaan, merumuskan hipotesis, melakukan percobaan, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan temuan dengan bahasa yang sesuai untuk keperluan itu.

10. Belajar sains adalah mengajak siswa memikirkan berbagai sumber sains serta mengambil manfaat darinya.

11. Belajar sains bukan ditentukan oleh didaktik metodik ‘apa yang akan dipelajari’ saja, melainkan pada bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar siswa, berdasarkan pada pemikiran ‘mengapa’ dan untuk apa siswa perlu mempelajari sesuatu tersebut.

12. Belajar sains adalah memberdayakan siswa agar mau dan mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman belajarnya (learning to do), mampu

memahami pengetahuannya berkaita n dengan dunia di sekitarnya (learning to know), dapat membangun pengetahuan dan kepercayaan diri sekaligus

membangun jati diri (learning to be), dan memberi kesempatan berinteraksi dengan berbagai kelompok individu yang bervariasi yang akan membentuk

kepribadiannya untuk memahami kemajemukan dan melahirkan sifat -sifat positif dan toleran terhadap keanekaragaman dan perbedaan masing -masing individu (learning to live together).

13. Belajar sains adalah untuk memelihara keingintahuan anak, memotivasinya

sehingga mendorong siswa untuk mengajukan keragaman pertanyaan seperti ‘apa, mengapa, dan bagaimana’ terhadap obyek dan peristiwa yang ada di alam, yang dapat ditingkatkan menjadi pertanyaan yang menanyakan hubungan ‘bagaimana jika ….’, sehingga sebagai hasil eksplorasi terhadap lingkungan, siswa diharapkan membentuk dirinya dengan sikap seorang ilmuwan cilik. Belajar sains memberi kesempatan siswa sebagai ‘young scientist’ (peneliti muda) yang mempunyai rasa keingintahuan (curiousity) yang tinggi, yang mampu me ngajukan pertanyaan, menduga jawabannya, merancang penyelidikan, melakukan percobaan, mengelola dan mengolah

(24)

beragam orang dengan berbagai cara yang dapat memberi pemahaman yang baik.

14. Belajar sains melahirkan interaksi antara gagasan yang diyakini siswa sebelumnya dengan suatu bukti baru untuk mencapai pemahaman baru yang lebih saintifik, melalui proses eksplorasi untuk menguji serta menguji gagasan-gagasan baru, dengan melibatkan beragam sikap ilmiah seperti,

menghargai gagasan orang lain, terbuka terhadap gagasan baru, berpikir kritis, jujur, kreatif, dan berpikir lateral (berpikir yang tak lazim, di luar kebiasaan, atau yang mungkin dianggap aneh).

15. Belajar sains adalah memulai pelajaran dari ‘apa yang diketahui siswa’, tidak dapat mengindoktrinasi gagasan saintifik supaya siswa mau mengganti dan memodifikasi gagasannya yang non -saintifik menjadigagasan/pengetahuan saintifik, karena arsitek peubah gagasan siswa adalah siswa itu sendiri .

16. Belajar sains adalah menyediakan ‘kondisi’ supaya proses belajar untuk memperoleh konsep yang benar dapat berlangsung dengan baik, dengan kondisi belajar antara lain : diskusi yang menyediakan kesempatan agar semua siswa mau mengungkapkan gagasan, pe ngujian dan penelitian

sederhana, demonstrasi, dan peragaan prosedur ilmiah, dan kegiatan praktis lain yang memberi peluang siswa untuk mempertanyakan, memodifikasi, dan mempertajam gagasannya.

17. Belajar sains adalah melatih siswa sejak dini untuk mengat asi

masalah-masalah yang dihadapinya agar memiliki kemampuan -kemampuan yang bermanfaat bagi kehidupan kelak khususnya setelah dewasa, meliputi : mengidentifikasi dan mengenali masalah; merencanakan penyelidikan; memilih teknik, alat dan bahan; mengorganisa si dan melaksanakan penyelidikan secara sistematik; menginterpretasikan data pengamatan;

mengevaluasi prosedur kerja dan menyarankan perbaikan.

(25)

19. Belajar sains adalah menyediakan kegiatan pembelajaran yang bermuatan nilai, dengan menumbuhkan sikap ilmiah antara lain sikap ingin tahu, jujur,

tekun, terbuka terhadap gagasan baru, tidak percaya tahayul, sulit menerima pendapat yang tanpa disertai bukti, kebiasaan merenung secara kritis, peka terhadap makhluk hidup dan lingkungan.

Gambaran pembelajaran Fisika secara umum : Melakukan proses pembelajaran konstruktivis dengan pendekatan SETS (sains/Science— lingkungan/Environment—teknologi/Technology—masyarakat/Society), dengan menggunakan model pembelajaran Discovery-Inquiry, memakai berbagai

metode yang variatif sendiri atau gabungan: seperti lab work, diskusi kelompok, problem solving, studi kepustakaan. Proses pembelajaran dilakukan secara

indoor atau outdoor. Kegiatan pembelajaran para siswa selalu dilakukan berkelompok, hal itu untuk l ebih mengoptimalkan pembelajaran kooperatif

sesuai dengan prinsip-prinsip dasar cooperative learning. Dengan demikian pembelajaran Fisika yang dilakukan mengesampingkan pembelajaran konvensional yang berorientasi pada materi sains dengan penyajian ceramah satu arah dari guru ke siswa. Pendekatan SETS dengan lingkungan sebagai

fokusnya secara kontinyu menjadi proses pembelajaran yang menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan sampai mendarah daging.

Sedangkan secara khusus pembelajaran yang dipandang atrakti f, aktif dan

kreatif adalah : Memberikan indoktrinasi kepada para siswa terutama pada jiwanya, bahwa penopang utama kehidupan manusia di bumi adalah pohon. Kekayaan dan kecukupan yang diterima manusia secara langsung maupun tidak langsung disuplai oleh pep ohonan di bumi apapun jenis pohon itu. Oleh karena itu untuk mempercepat pemahaman indoktrinasi tersebut maka kegiatan

pembelajaran outdoor selalu di bawah pohon secara berpindah berganti pohon pada hari yang berbeda. Setiap bagian pohon dibuat relevan den gan topik pembelajaran Fisika. Isaac Newton pun tidak akan menemukan hukum Gravitasi yang menggemparkan itu kalau Ia tidak sedang duduk -duduk di bawah pohon

(26)

kaca, dan lain-lain) dapat disembuhkan dengan menanam banyak pohon besar. Pernyataan-pernyataan tersebut diusahakan dapat menjadi pengertian yang

mendalam di benak tiap-tiap siswa. Kerjasama dengan pengajar ekstra ku rikuler untuk melatih kemampuan psikomotorik terhadap kecintaan kepada lingkungan di luar pembelajaran intra kurikuler Fisika selalu diadakan. Konsultasi dan konfirmasi selalu terjalin agar terjadi sinkronisasi pembelajaran ilmu alam yang

menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dengan menekankan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara terpadu.

Hasil pembelajaran yang diperoleh adalah p emikiran siswa tidak kering

berisi sains dan teknologi saja, tetapi kaya dan peka akan lingkungan— masyarakat—sains—teknologi beserta kesalingterkaitannya. Hal ini berarti pembelajaran Fisika yang dilakukan dengan pendekatan SETS sekaligus mendapat hasil penguasaan kompetensi materi Fisika dan teknologinya,

kecintaan terhadap lingkungan dan kontekstualitas antara sa ins dengan lingkungan dan masyarakat sekitar dikuasai oleh para siswa. Sehingga pembelajaran Fisika tidak lagi menjadi pembelajaran yang serba menakutkan dan hanya di angan-angan melainkan menjadi pembelajaran yang konkrit

mempelajari alam.

D. Penutup

Kesimpulan yang dapat ditarik dalam makalah ini antara lain adalah pendidikan SETS berupaya memberikan pemahaman tentang peranan lingkungan terhadap sains, teknologi, masyarakat. Sebaliknya peranan masyarakat terhadap arah perkembangan sains, teknologi dan kead aan lingkungan. Termasuk juga peranan

teknologi dalam penyesuaiannya dengan sains, manfaatnya terhadap masyarakat dan dampak-dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan. Tidak ketinggalan peranan sains untuk melahirkan konsep -konsep yang berdaya guna posit if, keterlibatannya pada teknologi yang dipakai maupun pengaruhnya terhadap masyarakat dan lingkungan secara timbal balik. Wawasan SETS (Science, Environment, Technology, Society)

(27)

pengetahuan yang diperolehnya guna meningkatkan kualitas hidup manusia tanpa harus membahayakan lingkungannya.

Proses pembelajaran Fisika di SMA /MA dengan pembelajaran konstruktivis menggunakan pendekatan SETS (sains/Science— lingkungan/Environment—teknologi/Technology—masyarakat/Society), dengan menggunakan model pembelajaran Discovery-Inquiry, memakai berbagai metode

yang variatif sendiri atau gabungan: seperti lab work, diskusi kelompok, problem solving, studi kepustakaan. Proses pembelajaran dilakukan secara indoor atau outdoor. Kegiatan pembelajaran para siswa selalu dilakukan berkelompok, hal itu

untuk lebih mengoptimalkan pembelajaran kooperatif sesuai dengan prinsip -prinsip

dasar cooperative learning. Dengan demikian pembelajaran Fisika yang dilakukan mengesampingkan pembelajaran konvensional yang berorientasi pada materi sains dengan penyajian ceramah satu arah dari guru ke siswa. Pendekatan SETS dengan lingkungan sebagai fokusnya secara kontinyu menjadi proses pembelajaran yang

menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan sampai mendarah daging.

Sedangkan secara khusus pembelajaran yang dipandang atraktif, aktif dan kreatif adalah : Memberikan indoktrinasi kepada para siswa ter utama pada jiwanya, bahwa penopang utama kehidupan manusia di bumi adalah pohon. Kekayaan dan

kecukupan yang diterima manusia secara langsung maupun tidak langsung disuplai oleh pepohonan di bumi apapun jenis pohon itu.

Daftar Pustaka:

Aisyah. 2007. Penerapan Metode Pembelajaran Portofolio dengan Pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat ( SETS) pada Mata Pelajaran Ekonomi Kelas X SMA Negeri 15 Semarang.Skripsi.Universitas Negeri Semarang. Semarang.

Bennett, Judith, S. Hogarth, F. Lubben . 2003. Review“A systematic review of the effects of context-based and Science-Technology-Society (STS) approaches in the teaching of secondary science”. EPPI-Centre University of London. Dari

http://eppi.ioe.ac.uk/, diakses tanggal 6 Oktober 2009.

(28)

Poedjiadi, Anna. 2005. Sains Teknologi Masyarat:Model Pembelajaran Kontekstual Bermuatan Nilai. Bandung: Remaja Rosdakarya .

Raja, Kenneth P. 2009.Examintion of the science -technology-society with curriculum approach.http://www.cedu.niu.edu/scied/courses/ciee344/course

files_king/sts_reading.htm. Diakses tanggal 6 Oktober 2009.

Sumintono, Bambang. 2008.Mengemas Sains, Teknologi dan Masyarakat dalam Pengajaran Sekolah.Dari http://deceng.wordpress.com/ , diakses 25 September 2009.

Widyatiningtyas, Reviandari. 2009. Pembentukan Pengetahuan Sains, Teknologi dan Masyarakat dalam Pandangan Pendidikan IPA. EDUCARE: Jurnal Pendidikan dan Budaya.http://educare.e-fkipunla.net. Diakses 25 September 2009.

Gambar

Gambar 1. Hubungan timbal balik unsur-unsur Pendidikan SETS

Referensi

Dokumen terkait

menyelesaikan skripsi yang berjudul Penerapan Pendekatan Salingtemas ( sains- lingkungan-teknologi-masyarakat ) Dalam Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa

Pada proses pembelajaran menggunakan pendekatan sains lingkungan teknologi masyarakat pada kompetensi dasar 5.1. Menjelaskan arti, prinsip dasar dan jenis-jenis