• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemerintah Dan Kebijakan Fiskal dan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pemerintah Dan Kebijakan Fiskal dan"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

PEMERINTAH DAN KEBIJAKAN FISKAL

Disusun oleh :

Ii Fahruri

PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH

JURUSAN SYARIAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI ( STAIN )

PEKALONGAN

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT.atas segala rahmat dan karunia-Nya yang selalu menyertai kami di dalam memahami ilmu-ilmu yang kami pelajari dan aplikasikan di dalam kehidupan, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini tepat waktu.Makalah ini kami buat berdasarkan tugas Mata Kuliah Ekonomi Makro Islam, dosen pengampu Pak Choliq Sabana.

Judul makalah ini adalah “Pemerintah Dan Kebijakan Fiskal”.Semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua khususnya sebagai pelajar dan bagi masyarakat pada umumnya.

Pekalongan, November 2015

(3)

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Kebijakan Fiskal.………..………..6

B. Tujuan Kebijakan Fiskal……..……….7

C. Fungsi Kebijakan Fiskal………...11

D. Bentuk Kebijakan Fiskal………....12

1. Penstabilan Otomatik………...12

2. Kebijakan Fiskal Diskresioner……….13

E. Jenis-jenis Kebijakan Fiskal………..15

F. Penyusunan APBN………...18 BAB III PERTANYAAN

BAB IV PENUTUP

(4)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Kebijakan ekonomi suatu negara tidak bisa lepas dari keterlibatan pemerintah karena pemerintah memegang kendali atas segala sesuatu, menyangkut semua kebijakan yang bermuara kepada keberlangsungan negara itu sendiri. Setiap pemerintahan yang sedang memimpin suatu negara tentu saja memiliki kebijakan ekonomi andalan untuk menjamin perekonomian negara yang baik dan stabil demi tercapainya kemakmuran dan kesejahteraan, karena sudah menjadi kewajiban pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi agar tercapainya kehidupan yang makmur dan sejahtera bagi rakyatnya.

Upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk menghadapi masalah-masalah ekonomi melalui kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Namun dalam hal ini kami akan membahas kebijakan fiskal saja.Telah di terapkan bahwa kebijakan fiskal merupakan kebijakan ekonomi yang digunakan pemerintah untuk mengelola atau mengarahkan perekonomian kekondisi yang lebih baik atau diinginkan dengan cara mengubah penerimaan dan pengeluaran pemerintah.

(5)

BAB II PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN KEBIJAKAN FISKAL (FISCAL POLICY)

Kebijakan fiscal adalah kebijakan penyesuaian dibidang pengeluaran dan penerimaan pemerintah untuk memperbaiki keadaan ekonomi.Atau dapat juga dikatakan kebijakan fiscal adalah suatu kebijakan ekonomi dalam rangka mengarahkan kondisi perekonomian untuk menjadi lebih baik dengan jalan mengubah penerimaan dan pengeluaran pemerintah.

Adapun pemahaman lain dari kebijakan fiscal (fiscal policy) adalah kebijakan pemerintah dengan menggunakan belanja negara dan perpajakan dalam rangka menstabilkan perekonomian. Kebijakan ini mirip dengan kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar, namun kebijakan fiscal lebih menekankan pada pengaturan pendapatan dan belanja pemerintah. (Arif Apendi, 2006:28).

Contoh kebijakan fiskal adalah apabila perekonomian nasional mengalami inflasi, pemerintah dapat mengurangi kelebihan permintaan masyarakat dengan cara memperkecil pembelanjaan dan atau menaikkan pajak agar tercipta kestabilan lagi. Cara demikian disebut dengan pengelolaan anggaran.1

Kebijakan fiskal berhubungan erat dengan kegiatan pemerintah sebagai pelaku sektor publik. Kebijakan fiskal dalam penerimaan pemerintah dianggap sebagai suatu cara untuk mengatur mobilisasi dana domestik, dengan instrumen utamanya perpajakan. Di negara yang sedang berkembang seperti di Indonesia, kebijakan moneter dan kebijakan luar negeri belum berjalan seperti yang diharapkan. Dengan demikian, peranan kebijakan fisikal dalam bidang perekonomian menjadi semakin penting.

Instrumen kebijakan fiskal adalah penerimaan dan pengeluaran pemerintah yang berhubungan erat dengan pajak. Dari sisi pajak jelas jika mengubah tarif pajak yang berlaku akan berpengaruh pada ekonomi. Jika pajak diturunkan maka kemampuan daya beli masyarakat akan meningkat dan

(6)

industri akan dapat meningkatkan jumlah output. Dan sebaliknya kenaikan pajak akan menurunkan daya beli masyarakat serta menurunkan output industri secara umum.

Dalam kebijakan fiskal, indikator yang biasanya dipakai adalah anggaran defisit, yakni selisih antara pengeluaran pemerintah dengan penerimaan, yang biasa diformulasikan sebagai berikut :

Defisit = G – Ty + R makro yang sangat penting dalam rangka:

1. Membantu memperkecil fluktuasi dari siklus usaha.

2. Mempertahankan partumbuhan ekonomi yang sustainable, kesempatan kerja yang tinggi.

3. Membebaskan dari inflasi yang tinggi atau bergejolak.2

B. TUJUAN KEBIJAKAN FISKAL

Pada dasarnya, kebijakan fiscal bertujuan untuk mempengaruhi jumlah total pengeluaran masyarakat, pertumbuhan ekonomi dan jumlah seluruh produksi masyarakat, banyaknya kesempatan kerja dan pengangguran, tingkat harga umum dan inflasi, serta menstabilkan perekonomian dengan cara mengontrol tingkat bunga dan jumlah uang yang beredar.

Secara umum kebijakan fiskal ditujukan untuk memelihara stabilitas ekonomi sehingga pendapatan nasional dapat ditingkatkan sesuai dengan penggunaan sumber daya dan efektifitas kegiatan masyarakat tanpa harus mengabaikan redistribusi pendapatan dan upaya kesempatan kerja.

Secara garis besar tujuan kebijakan fiskal dapat digolongkan menjadi tiga bagian yaitu:

(7)

1. Pertumbuhan kesempatan kerja penuh

Dengan cara mempertahankan kesempatan kerja penuh maka pemerintah dapat mencegah laju peningkatan angka pengangguran. Meluasnya pengangguran dapat menyebabkan timbulnya gejolak sosial, menghambat laju pertumbuhan ekonomi hingga akhirnya pendapatan nasional targetnya tidak tercapai.

2. Stabilitas harga

Stabilitas barang dan jasa harus tetap dijaga agar tidak terjadi fluktuasi secara drastis.Penurunan harga yang terus menerus dapat mematikan kesempatan kerja penuh.Dan sebagai akibatnya terjadi tingkat konsumsi secara besar-besaran.

Tujuan dari kebijakan fiscal:

1. Untuk meningkatkan laju investasi

Kebijakan fiskal bertujuan meningkatkan dan memacu laju investasi disektor swasta dan sektor Negara.Selain itu, kebijakan fiskal juga dapat dipergunakan untuk mendorong dan menghambat bentuk investasi tertentu. Dalam rangka itu pemerintah harus menerapkan kebijakan investasi berencana disektor public, namun pada kenyataannya di beberapa Negara berkembang dan tertinggal terjadi suatu problem yaitu dimana langkanya tabungan sukarela, tingkat konsumsi yang tinggi dan terjadi investasi dijalur yang tidak produktif dari masyarakat dinegara tersebut. Hal ini disebabkan tidak tersedianya modal asing yang cukup, baik swasta maupun pemerintah.

Oleh karena itu kebijakan fiskal memberikan solusi yaitu kebijakan fiskal dapat meningkatkan rasio tabungan inkremental yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan, memacu, mendorong dan menghambat laju investasi.

(8)

yang menjadi tangunggan Negara secara serentak berupaya memacu laju pembentukkan modal. Nantinya invesati optimal secara sosial bermanfaat dalam pembentukkan pasar yang lebih luas, peningkatan produktivitas dan pengurangan biaya produksi.

2. Untuk meningkatkan kesempatan kerja

Untuk merealisasikan tujuan ini, kebijakan fiskal berperan dalam hal pengelolan pengeluaran seperti dengan membentuk anggaran belanja untuk mendirikan perusahaan Negara dan mendorong perusahaan swasta melalui pemberian subsidi, keringanan dan lain-lainnya sehingga dari pengupayaan langkah ini tercipta tambahan lapangan pekerjaan.Namun, langkah ini harus juga diiringi dengan pelaksanaan program pengendalian jumlah penduduk.

3. Untuk meningkatkan stabilitas ekonomi ditengah ketidakstabilan internasional

Kebijakan fiskal memegang peranan kunci dalam mempertahankan stabilitas ekonomi menghadapi kekuatan-kekuatan internal dan eksternal.Dalam rangka mengurangi dampak internasional fluktuasi siklis pada masa boom, harus diterapkan pajak ekspor dan impor.Pajak ekspor dapat menyedot rejeki nomplok yang timbul dari kenaikkan harga pasar. Sedangkan bea impor yang tinggi pada impor barang konsumsi dan barang mewah juga perlu untuk menghambat penggunaan daya beli tambahan.

4. Untuk menanggulangi inflasi

Kebijakan fiskal bertujuan untuk menanggulangi inflasi salah satunya adalah dengan cara penetapan pajak langsung progresif yang dilengkapi dengan pajak komoditi, karena pajak seperti ini cendrung menyedot sebagian besar tambahan pendapatan uang yang tercipta dalam proses inflasi.

Untuk menurunkan tingkat inflasi, pemerintah dapat mengambil kebijakan fiskal berupa tindakan memperkecil pengeluaran pemerintah.Untuk memperkecil pengeluaran, tindakan yang dapat diambil oleh pemerintah adalah dengan menunda atau membatalkan proyek-proyek pemerintah yang telah direncanakan sebelumnya.Dengan pembatalan atau penundaan tersebut, maka jumlah uang yang beredar di masyarakat tidak bertambah banyak sehingga laju inflasi dapat dikurangi/diturunkan. Kebijakan fiskal lainnya adalah dengan mengurangi atau meniadakan transfer pemerintah (Tr).

(9)

kepada rakyat miskin dan subsidi. Dengan mengurangi atau meniadakan transfer pemerintah (Tr), maka laju pertambahan uang yang beredar di masyarakat dapat dikendalikan sehingga laju inflasi juga dapat dikurangi.

5. Untuk meningkatkan dan mendistribusikan pendapatan nasional

Kebijakan fiskal yang bertujuan untuk mendistribusikan pendapatan nasional terdiri dari upaya meningkatkan pendapatan nyata masyarakat dan mengurangi tingkat pendapatan yang lebih tinggi, upaya ini dapat tercipta apabila adanya investasi dari pemerintah seperti pelancaran program pembangunan regional yang berimbang pada berbagai sektor perekonomian.

6. Meningkatkan produk domestik bruto

Untuk meningkatkan produk domestik bruto, pemerintah dapat mengambil kebijakan fiskal yaitu memperbesar pengeluaran pemerintah (G).Untuk memperbesar pengeluaran pemerintah (G), dapat dilakukan dengan merencanakan dan melaksanakan proyek-proyek pembangunan yang didanai APBN.Dengan adanya proyek-proyek tersebut maka terjadi permintaan barang dan jasa. Adanya permintaan barang akan mendorong adanya produksi oleh masyarakat. Selain itu, kebijakan fiskal lainnya yang dapat meningkatkan produk domestik bruto adalah peningkatan transfer pemerintah (Tr).

7. Mengurangi tingkat pengangguran

Untuk mengurangi tingkat pengangguran, pemerintah dapat mengambil kebijakan fiskal, yaitu memperbesar pengeluaran pemerintah (G) dan memperbesar transfer pemerintah (Tr) berupa subsidi kepada pengusaha, pengurangan pajak terhadap pengusaha dan sebagainya. Pengeluaran pemerintah untuk mendanai proyek-proyek pembangunan membutuhkan jasa tenaga kerja, dengan demikian pengangguran dapat dikurangi.Proyek-proyek tersebut membutuhkan beraneka macam barang misalnya batu, pasir, batu bata, semen, peralatan, dan sebagainya.Semua kebutuhan tersebut disediakan oleh masyarakat (pengusaha) yang pastinya menggunakan tenaga kerja.

8. Meningkatkan pendapatan masyarakat

(10)

dilaksanakan proyek pembangunan jalan, jembatan, dan gedung pemerintah. Pedagang peralatan kantor, peralatan rumah sakit dan peralatan militer mendapat keuntungan saat pemerintah melakukan pembelian barang.3

C. FUNGSI UTAMA KEBIJAK FISKAL

Kebijakan fiskal merupakan kebijakan dalam mengelola keuangan negara yaitu yang terdapat pada pos penerimaan dan pos pengeluaran negara dalam APBN. Dalam pasal 3 ayat (4) UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara disebutkan bahwa APBN mempunyai sejumlah fungsi, yakni:

1. Fungsi otorisasi

Anggaran negara menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan.

2. Fungsi perencanaan

Anggaran negara menjadi pedoman bagi manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan.

3. Fungsi pengawasan

Anggaran negara menjadi pedoman untuk menilai apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintahan negara sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

4. Fungsi alokasi

yaitu untuk mengalokasikan faktor-faktor produksi yang tersedia dalam masyarakat sedemikian rupa sehingga kebutuhan masyarakat berupa Public goods seperti jalan, jembatan, pendidikan dan tempat ibadah dapat terpenuhi secara layak dan dapat dinikmati oleh seluruhn masyarakat.Anggaran negara harus diarahkan untuk mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber daya, serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas perekonomian.

5. Fungsi distribusi

(11)

yaitu fungsi yang mempunyai tujuan agar pembagian pendapatan nasional dapat lebih merata untuk semua kalangan dan tingkat kehidupan.Kebijakan anggaran negara harus memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.

6. Fungsi stabilisasi

Anggaran pemerintah menjadi alat untuk memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian.Agar terpeliharanya keseimbangan ekonomi terutama berupa kesempatan kerja yang tinggi, tingkat harga-harga umum yang relatif stabil dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang memadai.( Soediyono,R,1992,h.89.).

D. BENTUK KEBIJAKAN FISKAL

Kebijakan fiskal dapat dibedakan kepada dua golongan, yaitu:

1. Penstabilan Otomatik

Penstabil otomatik adalah bentuk-bentuk sistem fiskal yang sedang berlaku yang secara otomatik cenderung untuk menimbulkan kestabilan dalam kegiatan ekonomi. Dalam suatu perekonomian modern, penstabilan otomatik terutama adalah:

 Sistem perpajakan yang progresif dan proporsional

Sistem pajak progresif ialah suatu sistem perpajakan yang mengenakan persentase lebih tinggi seiring dengan semakin tingginya jumlah pendapatan, sistem pajak progresif biasanya digunakan dalam memungut pajak pendapatan individu dan dipraktekkan hampir disemua Negara.

Sedangkan pajak proporsional adalah suatu sistem perpajakan yang mengenakan presentase yang sama terhadap seluruh tingkat pendapatan. Dibeberapa Negara, sistem pajak proporsional biasanya digunakan untuk memungut pajak atas keuntungan perusahaan korporat, yaitu pajak yang harus dibayar adalah proporsional dengan keuntungan yang diperoleh, misalkan 30 persen dari keuntungan adalah pajak yang harus dibayarkan.

 Kebijakan harga minimum

(12)

fluktuasi dalam penawaran akan menimbulkan fluktuasiharga yang cukup besar dan mempengaruhi kestabilan pendapatan petani. Tujuan kebijakan ini adalah menstabilkan harga dan pendapatan serta membantu mengurangi fluktuasi kegiatan keseluruhan ekonomi.

 Sistem asuransi pengangguran

Sistem ini adalah suatu bentuk jaminan sosial yang diberikan kepada penganggur. Sistem ini pada dasarnya mengharuskan (i) tenaga kerja yang sedang bekerja untuk membayar asuransi pendapatan, (ii) menerima sejumlah pendapatan yang ditentukan pada saat menganggur.

2. Kebijakan Fiskal Diskresioner

Kebijakan fiskal diskresioner adalah langkah-langkah dalam bidang pengeluaran pemerintah dan perpajakan yang secara khusus membuat perubahan keatas sistem yang ada, yang bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah ekonomi yang dihadapi. Karena ternyata penstabil otomatik walaupun menjalankan fungsi yang penting dalam mengurangi fluktuasi kegiatan ekonomi dari suatu periode ke periode lainnya, namun tetap tidak dapat mengatasi masalah pengangguran atau inflasi dalam perekonomian, sehingga dibutuhkanlah suatu kebijakan fiskal diskresioner.

Secara umum kebijakan dikresioner dapat digolongkan dalam dua bentuk, yaitu:

a) Kebijakan fiskal ekspansi (expansionary fiscal policy)

Kebijakan ini maksudnya adalah pada kondisi perekonomian yang rendah ketika menghadapi masalah pengangguran, dibutuhkan suatu kebijakan yang mampu mendorong perekonomian agar mampu tumbuh dan mengurangi jumlah pengangguran.Bentuk kebijakan fiskal ekspansi adalah dengan menambah pengeluaran pemerintah. Pertambahan pengeluaran pemerintah tersebut biasanya digunakan untuk pembangunan infrastuktur dan kegiatan ekonomi lain sehingga mampu meningkatkan pendapatan nasional beberapa kali lebih besar dari pertambahan pembelanjaan pemerintah yang dilakukan.

b) Kebijakan fiskal kontraksi (contactionary fiscal policy)

(13)

inflasi adalah menurunkan tingkat inflasi ke tingkatnya yang normal dengan tetap menjamin agar kesempatan kerja penuh tercapai.

Namun kebijakan fiskal memiliki beberapa kelemahan, yaitu:

1) Adanya jeda waktu (time lag) dalam periode dari menyadari masalah yang timbul sehingga kepada pengaruh yang dirasakan dari kebijakan fiskal yang dijalankan. Sehingga akibat adanya jeda waktu tersebut adakalanya timbul masalah dimana kebijakan yang dilaksanakan tidak sesuai lagi dengan keadaan ekonomi yang sebenarnya berlaku. Tiga bentuk jeda waktu yang ada adalah:

Recognition lag, yaitu periode diantara bermulanya masalah yang dihadapi dengan masnanya disadari bahwa kebijakan perlu dijalankan untuk mengatasi masalah tersebut.

Decision lag atau inside lag, yaitu perbedaan waktu diantara menyadari masalah yang dihadapi dengan waktu dimana kebijakan-kebijakan ekonomi mulai dilaksanakan atau berfungsi.

Action lago atau utside lag, yaitu perbedaan waktu diantara pelaksanaan kebijakan dan pengaruh sepenuhnya yang dirasakan dalam ekonomi.

2) Persaingan yang memperoleh dana diantara pemerintah dan sector swasta, persaingan ini akan menimbulkan “crowding out” dan meyebabkan kenaikan suku bunga dan menurunkan investasi.

3) Kebutuhan untuk membayar bunga dan mencicil pembayaran kembali

Secara teoretis dikenal empat jenis kebijakan fiscal, yaitu pembiayaan fungsional (the functional finance), pendekatan anggaran terkendali (the managed budget approach), stabilitas anggaran (the stabilizing budget), dan pendekatan anggaran belanja berimbang (balance budget approach).

(14)

1. Pembiayaan Fungsional (The Functional Finance)

Pembiayaan pengeluaran pemerintah ditentukan sedemikian rupa sehingga tidak berpengaruh langsung terhadap pendapatan nasional.Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kesempatan kerja (employment).Tokoh yang mengutarakan pembiayaan fungsional ini adalah A.P.Liner.

Berdasarkan konsep pembiayaan fungsional ini pengeluaran pemerintah, pajak, dan pinjaman dipertimbangkan secara terpisah. Di satu sisi, pengeluaran pemerintah ditetapkan dengan memperhatikan akibat-akibat tidak langsung terhadap pendapatan nasional, terutama yang berkaitan dengan peningkatan kesempatan kerja. Disisi lain, pengenaan pajak bukan digunakan untuk meningkatkan penerimaan negara, tetapi digunakan untuk mengatur kegiatan dan produktivitas sektor swasta. Pada saat terjadi pengangguran, sektor pajak dikurangi bahkan benar-benar tidak perlukan, dan pinjaman yang diperoleh dengan menjual obligasi pemerintah digunakan sebagai alat untuk menekan inflasi melalui pengurangan jumlah dana yang dimilki masyarakat. Kemudian, bila pelaksanaan pajak dan pinjaman dirasakan tidak memenuhi harapan, jalan terakhir yang ditempuh oleh pemetintah adalah melakukan pencetakan uang.

Ada beberapa hal penting yang biasanya dilakukan oleh pemerintah yang menganut pola pembiayaan fungsional ini, yaitu:

a. Pajak bukan hanya difungsikan sebagai alat menggali sumber penerimaan, tetapi juga digunakan sebagai alat untuk mengatur pengeluaran sektor swasta (private sector).

b. Apabila terjadi inflasi yang berlebihan, biasanya untuk mendanai penarikan dana masyarakat, maka pemerintah melakukan pinjaman luar negeri.

c. Apabila pencapaian target pajak dan pinjaman ternyata tidak tepat, maka pemerintah melakukan pinjaman dalam negeri dalam bentuk pencetakan uang.

(15)

Dalam konsep anggaran berdasarkan pendekatan pengelolaan anggaran terkendali, pengeluaran pemerintah, penarikan pajak dan pinjaman ditujukan untuk mencapai kestabilan ekonomi.Pengelolaan anggaran menurut Alvin Hansen (2001), dalam tata hukum perpajakan, penerimaan dan pengeluaran pemerintah dari perpajakan dan peminjaman adalah paket yang tidak dapat dipisahkan dalam rangka menciptakan kestabilan ekonomi.

Berdasarkan konsep ini, hubungan langsung antara pengeluaran pemerintah dan penarikan pajak selalu dijaga.Kemudian untuk menghindarkan atau memperkecil ketidakstabilan ekonomi selalu diadakan penyesuaian dalam anggaran, sehingga pada suatu saat anggaran dapat dibuat deficit atau surplus disesuaikan dengan situasi yang dihadapi.

3. Stabilitas Anggaran (The stabilizing budget)

Konsep stabilitas anggaran disebut stabilitasi anggaran otomatis karena menekan pada mekanisme otomatis dalam politik fiscal. Penyesuaian penerimaan dan pengeluaran pemerintah secara otomatis terjadi dengan sendirinya dan langsung menstabilkan perekonomian sedemikian rupa tanpa harus ada ikut campur pemerintah secara langsung yang secara sengaja atau direncanakan. Dalam stabilisasi anggaran ini, pengeluaran pemerintah lebih ditekankan pada asas manfaat dan biaya relative dari berbagai paket program.Pajak ditetapkan sedemikian rupa sehingga terdapat anggaran belanja surplus dalam kesempatan kerja penuh. Dengan kata lain, berdasarkan stabilitasi perekonomian yang otomatis, pengeluaran pemerintah ditentukan berdasarkan perkiraan manfaat dan biaya relative dari berbagai macam program. Sedangkan pengenaan pajak ditentukan untuk menimbulkan surplus pada periode kesempatan kerja penuh.

(16)

menyokong kesejahteraan sosial dan kewajiban lainnya yang segera harus dipenuhi.

4. Pendekatan Anggaran belanja berimbang (balanced budget approach)

Cara yang diberikan dalam hal ini adalah anggaran yang disesuaikan dengan keadaan (managed budget). Tujuannya adalah tercapainya anggaran berimbang dalam jangka panjang. Dengan kata lain, konsep anggaran berdasarkan pendekatan anggaran belanja berimbang menekankan kepada keharusan keseimbangan antara penerimaan dan pengeluaran. Pendekatan ini selalu mempertahankan anggaran belanja yang seimbang.

Berdasarkan konsep anggaran yang berimbang, pada masa depresi, pengeluaran pemerintah akan ditingkatkan. Disisi lain penerimaan dari sektor perpajakan ditingkatkan yang diikuti dengan upaya untuk tidak menimbulkan deflasi yang berkelanjutan. Sebaliknya, dalam masa inflasi, sektor perpajakan akan dimanfaatkan secara terarah untuk mencegah timbulnya dampak inflasi yang tidak diharapkan.5

F. PENYUSUNAN APBN

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). APBN ini merupakan rencana kerja pemerintahan Negara dalam rangka meningkatkan hasil-hasil pembangunan secara berkesinambungan serta melaksanakan desentralisasi fiskal.

APBN berisi daftar sistematis dan terperinci yang memuat rencana penerimaan dan pengeluaran negara selama satu tahun anggaran (1 Januari -31 Desember), yang juga ditetapkan dengan Undang-Undang dan dilaksanakan dengan secara terbuka dan sebesar-besarnya bertanggung jawab untuk kemakmuran rakyat.

(17)

APBN merupakan instrumen untuk mengatur pengeluaran dan pendapatan negara dalam rangka membiayai pelaksanaan kegiatan pemerintahan dan pembangunan, mencapai pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pendapatan nasional, mencapai stabitas perekonomian, dan menentukan arah serta prioritas pembangunan secara umum.

APBN mempunyai fungsi otorisasi, perencanaan, pengawasan, alokasi, distribusi, dan stabilisasi. Semua penerimaan yang menjadi hak dan pengeluaran yang menjadi kewajiban negara dalam suatu tahun anggaran harus dimasukkan dalam APBN. Surplus penerimaan negara dapat digunakan untuk membiayai pengeluaran negara tahun anggaran berikutnya.

1. Fungsi APBN jika ditinjau dari kebijakan fisikal:

a. Fungsi otorisasi, mengandung arti bahwa anggaran negara menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan. Dengan demikian, pembelanjaan atau pendapatan dapat dipertanggungjawabkan.

b. Fungsi perencanaan, mengandung arti bahwa anggaran negara dapat menjadi pedoman bagi negara untuk merencanakan kegiatan pada tahun tersebut. Bila suatu pembelanjaan telah direncanakan sebelumnya, maka negara dapat membuat rencana-rencana untuk medukung pembelanjaan tersebut. Misalnya, telah direncanakan dan dianggarkan akan membangun proyek pembangunan jalan dengan nilai sekian miliar. Maka, pemerintah dapat mengambil tindakan untuk mempersiapkan proyek tersebut agar bisa berjalan dengan lancar.

c. Fungsi pengawasan, berarti anggaran negara harus menjadi pedoman untuk menilai apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintah negara sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian akan mudah bagi rakyat untuk menilai apakah tindakan pemerintah menggunakan uang negara untuk keperluan tertentu itu dibenarkan atau tidak.

(18)

digunakan untuk mengatur alokasi dana dari seluruh pendapatan negara kepada pos-pos belanja untuk pengadaan barang-barang dan jasa-jasa publik, serta pembiayaan pembangunan lainnya.

e. Fungsi distribusi, berarti bahwa kebijakan anggaran negara harus memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Bertujuan untuk menciptakan pemerataan atau mengurangi kesenjangan antar wilayah, kelas sosial, maupun sektoral. APBN selain digunakan untuk kepentingan umum yaitu untuk pembangunan dan kegiatan penyelenggaraan pemerintahan, juga disalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk subsidi, beasiswa, dan dana pensiun. Subsidi, beasiswa, dana pensiun merupakan bentuk dari transfer payment. Transfer payment adalah pengalihan pembiayaan dari satu sektor ke sektor lainnya.

f. Fungsi stabilisasi, memiliki makna bahwa anggaran pemerintah menjadi alat untuk memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian. APBN merupakan salah satu instrumen bagi pengendalian stabilitas perekonomian negara di bidang fisikal. Misalnya jika terjadi ketidakseimbangan yang sangat ekstrim maka pemerintah dapat melakukan instervesi melalui anggaran untuk mengembalikan pada keadaan normal.

2. Fungsi APBN jika ditinjau dari sisi manajemen:

a. Pedoman bagi pemerintah untuk melakukan tugasnya pada periode mendatang.

b. Alat kontrol masyarakat pada kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah c. Untuk menilai seberapa jauh pencapaian pemerintah alam melaksanakan

kebijakan dan program-program yang direncanakan.

APBN disusun berdasarkan siklus anggaran (budget cycle). Siklus dan mekanisme APBN ini meliputi:

a. Tahap penyusunan RAPBN oleh pemerintah;

b. Tahap pembahasan dan penetapan RAPBN menjadi APBN dengan Dewan Perwakilan Rakyat;

(19)

d. Tahap pengawasan pelaksanaan APBN oleh instansi yang berwenang, antara lain Badan Pemeriksa Keuangan; dan

e. Tahap pertanggungjawaban pelaksanaan APBN.

Salah satu tahap dari siklus anggaran di Indonesia adalah tahap perencanaan anggaran. Tahapan ini dimulai ketika setiap kementerian/lembaga membuat Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga. Dalam tahap inilah pemerintah menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal kepada DPR untuk dibahas bersama. Indikator ekonomi makro yang digunakan sebagai dasar dalam penyusunan APBN adalah sebagai berikut:

a. Pertumbuhan ekonomi b. Inflasi

c. Nilai tukar d. Suku bunga SBI

e. Harga minyak internasional f. Produksi minyak Indonenesia g. Kebijakan Anggaran di Indonesia.

Kebijakan anggaran di Indonesia ditujukan untuk mendukung kegiatan ekonomi nasional dalam memacu pertumbuhan, menciptakan dan memperluas lapangan kerja, meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat dan mengurangi kemiskinan. Perkembangan berbagai faktor eksternal yang penuh ketidakpastian (uncertainty) dan sulit diprediksikan (unpredictable) mewarnai situasi perekonomian pada akhir-akhir ini. Ketidakpastian kondisi perekonomian dunia memberikan dampak yang signifikan pada perkembangan perekonomian Indonesia. Kenaikan harga komoditi penting dinilai menjadi faktor yang turut menyumbang kondisi ketidakpastian tadi.

(20)

a. Mengoptimalkan penerimaan negara, khususnya intensifikasi perpajakan pada sektor-sektor yang mengalami booming;

b. Mendesain dan melaksanakan program ketahanan dan stabilitas harga pangan;

c. Melakukan penghematan belanja kementerian negara/ lembaga dan pengendalian alokasi DBH migas;

d. Memberikan kompensasi kelompok rumah tangga sasaran melalui bantuan langsung tunai dan memperluas program penanggulangan kemiskinan; e. Pengendalian konsumsi BBM;

f. Program penghematan listrik dan efisiensi di PT PLN;

g. Kebijakan untuk mendukung peningkatan produksi migas dan efisiensi di PT Pertamina;

h. Kebijakan kenaikan harga BBM secara terbatas. Kebijakan ini dilakukan sebagai opsi terakhir setelah berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dalam rangka memulihkan kepercayaan ekonomi terhadap keberlanjutan APBN, memperbaiki struktur dan postur APBN untuk dapat melindungi masyarakat terutama yang berpendapatan rendah dari tekanan harga komoditas pangan dan energi, dan pada saat yang sama terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

d. Pemerintah terus berupaya untuk melakukan penyesuaian kebijakan ekonomi. Tujuan penyesuaian kebijakan adalah agar masyarakat selalu dapat cukup terlindungi dari gejolak harga komoditas pangan dan energi sehinga tidak menekan daya beli,serta terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi agar tidak terganggu dan dengan demikian kemiskinan dan pengangguran akan dapat terus diturunkan.6

(21)

BAB III PERTANYAAN

1. Apa kelemahan dari kabijakan fiscal yang diterapkan oleh pemerintah ?

2. Apa sajakah sumber-sumber utama pendapatan pemerintah di negara-negara berkembang? Mengapa banyak jenis pajak yang sulit dikumpulkan? Jelaskan!

JAWABAN 1. Kelemahan kebijakan fiscal meliputi

a. Adanya jeda waktu dalam periode dari masalah yang timbul hingga pada pengaruh yang dirasakan dari kabijakan fiscal yang dijalani. b. Persaingan untuk memperoleh dana diantara pemerintah dan sector

swasta.

c. Kebutuhan untuk membayar bunga dan mencicil pembayaran kembali pinjaman dimasa yang akan datang.

(22)

BAB IV PENUTUP

Pemerintah sebagai salah satu pelaku ekonomi (rumah tangga pemerintah), memiliki fungsi penting dalam perekonomian yaitu berfungsi sebagai stabilitas, alokasi, dan distribusi.

Kebijakan Fiskal adalah suatu kebijakan ekonomi dalam rangka mengarahkan kondisi perekonomian untuk menjadi lebih baik dengan jalan mengubah penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan ini mirip dengan kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar, namun kebijakan fiskal lebih menekankan pada pengaturan pendapatan dan belanja pemerintah.

(23)

DAFTAR PUSTAKA

Rahayu, Ani Sri. 2010. Pengantar Kebijakan Fiskal.Jakarta: Bumi Aksara.

Boediono. 2005. Keterangan Menteri Keuangan tentang Rencana Kerja Pemerintah, Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN.

Boediono. 2003. Kebijakan Fisikal: Pemikiran, Konsep, dan Implementasi, Jakarta: Kompas.

Al Arif, M Nur Rianto. 2010. Teori Makroekonomi Islam: Konsep, Teori dan Analisis. Bandung: Alfabeta.

Referensi

Dokumen terkait

Ekstrak albumin ikan telah banyak digunakan oleh para peneliti Universitas Hasanuddin yang menunjukkan bahwa pemberian ekstrak albumin dari ikan gabus selama 10 -

dalam Bahasa Inggris adalah lebih rendah dibandingkan skor rata-rata untuk soal dalam Bahasa Indonesia, maka ada indikasi bahwa program SBI dapat dianggap tidak berhasil

Hal ini dikarenakan bahwa pada proses Med-Arb, arbitrase hanya dapat dilakukan apabila para pihak yang bersengketa itu setuju untuk melanjutkannya kepada proses arbitrase,

34 Din (2014) telah mengidentifikasikan beberapa persoalan Salafi menolak sistem demokrasi yaitu, i) sistem politik yang polytheism dan pembentu- kan undang-undang berasal

Desain monitoring untuk kebijakan otonomi khusus Papua juga melibatkan logika bottom up yang lebih didasarkan pada persepsi masyarakat Papua yang menjadi obyek

STANDAR KOMPETENSI : Setelah mengikuti mata kuliah ini praja diharapkan mampu menjelaskan kedudukan Hukum Pemerintahan dalam kerangka hokum seluruhnya;menyebutkan

[r]

• Langkah ketiga dalam menggambar diagram REA adalah menganalisis kegiatan pertukaran ekonomi untuk menetapkan apakah kegiatan tersebut dapat dipecah menjadi sebuah kombinasi