• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 TINJAUAN KEPUSTAKAAN - BAB 4. TINJ KEP OK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BAB 4 TINJAUAN KEPUSTAKAAN - BAB 4. TINJ KEP OK"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 4

T

INJAUAN KEPUSTAKAAN

LANGKAH-LANGKAH DALAM MELAKUKAN TINJAUAN KEPUSTAKAAN (LITERATUR)

Tidak peduli apakah sesuatu penelitian kuantitatif atau kualitatif, ada beberapa langkah yang biasanya digunakan untuk melakukan tinjauan kepustakaan. Pengetahuan tentang langkah-langkah ini membantu anda membaca dan memahami sebuah kajian berbentuk penelitian. Jika anda melakukan penelitian anda sendiri, pengetahuan tentang langkah-langkah ini dalam prosesnya akan memperlihatkan kepada anda tempat di mana anda harus memulai dan kemampuan mengetahui bahwa anda telah berhasil melakukan tinjauan pustaka.

Walaupun pelaksanaan tinjauan kepustakaan ini tidak harus mengikuti aturan tertentu, jika anda berencana merancang dan melakukan suatu penelitian, anda biasanya mengikuti lima langkah yang saling terkait. Apabila anda hanya mencari suatu topik dalam literatur (kepustakaan) untuk keperluan anda sendiri atau untuk keperluan-keperluan praktis tertentu (seperti untuk Komite Sekolah dalam kasus Maria), hanya empat langkah pertama yang berlaku. Walaupun demikian, mengetahui kelima langkah tersebut akan memberikan pemahaman tentang bagaimana para peneliti biasanya melakukan tinjauan kepustakaan (litetature review). Langkah-langkah tersebut adalah:

1. Identifikasi istilah-kistilah- kunci yang akan digunakan dalam mencari bahan-bahan kepustakaan;

2. Cari bah-ankbah-an kepustakaan tentang sebuah topik dengan jalan menelusuri beberapa jenis bahan dan data base, termasuk bahan-bahan kepustakaan yang tersedia di perpustakaan-perpustakaan akademik dan di internet atau web site;

(2)

4. Susun bah-an kepustakaan yang sudah- dipilih- dengan jalan membuat abstaknya atau membuat catatan tentang bahan kepustakaan tersebut dan buat diagram visual untuk itu;

5. Susun tinjauan kepustakaannya yang berisikan keringkasan bahan kepustakaan tersebut yang kiranya akan dimasukkan dalam laporan penelitian anda;

Mengidentifikai Iatilkh-iatilkh Kunci

Mulailah pencarian bahan kepustakaan itu dengan mempersempit topik pada beberapa istilah kunci dengan menggunakan satu atau dua buah kata atau ungkapan singkat. Pilih istilah-istilah tersebut secara cermat karena istilah-istilah tersebut penting pada awal pencarian bahan kepustakaan ini di pepustakaan atau melalui internet. Untuk bisa mengidentifikasi istilah-istilah ini, anda bisa menggunakan beberapa strategi seperti berikut:

 Tulis “judul kerja” awal untuk proyek penelitian anda dan pilih dua atu tiga kata kunci di dalam judul tersebut yang menggambarkan gagasan sentral dari penelitian tersebut. Walapun beberapa peneliti menuliskan judul penelitiannya pada saat-saat terakhir, judul kerja itu penting karena ia akan membantu anda memfokuskan perhatian anda pada gagasan sentral dari penelitian tersebut. Karena ia merupakan “judul kerja”, maka anda bisa merevisinya pada waktunya secara teratur bila diperlukan selama penelitian masih berlangsung (Glesne & Peshkin, 1992).

 Ajukan pertanyaan yang bersifat umum, singkat yang anda ingin jawab dalam penelitian ini. Pilih dua atau tiga kata dalam pertanyaan tersebut yang bisa meringkaskan pokok permasalahan dari penelitian tersebut.

(3)

penjelasan tentang apa yang dia harapkan terjadi. Para peneliti menggunakan istilah teori untuk penjelasan-penjelasan ini, dan ini boleh jadi teori tentang “social support” (dukungan sosial) atau “learning styles” (gaya belajar). Kata-kata aktual dari sebuah teori (seperti “dukungan sosial” atau “gaya belajar”) menjadi kata-kata yang digunakan dalam pencaharian anda.  Lihat dalam katalog istilah-istilah untuk menemukan kata-kata

yang cocok dengan topik anda. Cari data base onkline (di internet) yang biasanya ditemukan di sesuatu perguruan tinggi atau perpustakaan-perpustakaan universitas. Contoh, salah satu data base ini adalah ERIC dktk bkae (lihat Educational Resources Information Center (ERIC), 1991; www.eric.ed.gov/). ERIC menyediakan akses tanpa bayar pada lebih dari 1.2 juta catatan bibliografis dari artikel-artikel jurnal dan bahan-bahan lain yang terkait dengan pendidikan dan apabila ada, anda juga bisa menjangkau teks utuh. ERIC disponsori oleh Departmen Pendidikan Amerika Serikat, Institute of Education Science (IES).  Kunjungi rak-rak buku di perpustakaan perguruan tinggi, baca

secara cepat daftar isi dari jurnal-jurnal pendidikan 7 sampai 10 tahun terakhir, dan cari istilah-istilah kunci dalam judul-judul itu guna mendapatkan artikel-artikel tertentu. Anda juga bisa mencoba melalui data base elektronis yang disebut Ingenta di perpustakaan akademik di kampus anda. Ingenta menyediakan akses untuk mendapatkan teks utuh- dari publikasi dan jurnal yang onkline (melalui internet). Yang secara khusus bermanfaat adalah fasilitas “browse publications” di mana anda cukup mengenter nama jurnal yang ingin anda baca, dan mendapatkan sebuah daftar dari judul artikel dari jurnal tersebut untuk tahun-tahun tertentu.

(4)

Senjata oleh para siswa Sekolah Menengah Atas”. Ia mulai dengan menelusuri web site ERIC (www.erc.ed.gov/) dan memasukkan kata-kata kepemilikan senjata ke dalam prosedur pencarian istilah. Ia teliti artikel-artikel yang teridentifikasi dalam pencahariannya itu dan merasa bahwa dengan memersempit pencahariannya itu pada siswa sekolah menengah atas akan memberikan lebih banyak referensi di dalam kepustakaan. Kemudian ia menggunakan fasilitas pencaharian atas dasar hasil cariannya tadi dan menambah istilah tambahan siswa sekolah- menengah-atas. Ia sekarang telah mempersempit pencahariannya dan meneliti referensi-referensi di dalam kepustakaan yang telah dihasilkan oleh pencahariannya itu. Nah anda bisa mencoba apa yang sudah dilakukan oleh Maria ini.

Menckri Bkhkn Kepuatkikkn

Setelah mengidentifikasi istilah-istilah kunci, anda sekarang bisa mulai mencari kepustkaan yang relevan. Anda boleh jadi memulai pencarian anda dari komputer di rumah dengan jalan mengakses web site dan menelusuri kepustakaan elektronis yang ada tentang topik yang anda inginkan. Walaupun proses ini nyaman, tapi tidak semua bahan kepustakaan yang ada di internet dapat diakses. Kadang-kadang individu-individu meletakkan artikel-artikel yang tidak lolos standar external reviews. Walaupun demikian, dengan meningkatnya frekuensi, dokumen-dokumen berupa teks utuh dapat diakses di internet dan kualitasnyapun mulai membaik.

Anda boleh jadi bisa memulai pencarian anda dengan jalan bertanya pada para dosen atau mahasiswa-mahasiswa lain yang bisa merekomendasikan kepada anda artikel-artikel dan penelitian-penelitian untuk dibaca. Pendekatan seperti ini boleh jadi bermanfaat, akan tetapi kurang sistematis dalam rangka mencari sumber-sumber kepustakaan.

Gunkikn Perpuatkikkn-perpuatkikkn Aikdemii

(5)

stacks (rak-rak perpustakaan), melakukan review terhadap microfisch-e, dan mendapatkan akses pada data base yang sudah terkomputerisasi, anda akan bisa menghemat waktu karena anda akan menemukan h-olding (sekumpulan) bahan kepustakaan yang komprehensif yang tidak ditemui melalui sumber-sumber lain. Walaupun perpustakaan kota memiliki beberapa bahan kepustkaan yang bermanfaat, sebuah perpustakaan akadmik biasanya menawarkan koleksi bahan yang paling besar, terutama sekali kajian-kajian penelitian.

Sumber-sumber perpustakaan akademik telah banyak mengalami perubahan pada masa-masa terakhir ini sejalan dengan kemajuan jurnal-jurnal onkline yang mudah diakses melalui komputer dan dengan data base yang terkomputerisasi, seperti ERIC (Ferguson & Bunge, 1997). Perpustakaan-perpustkaan akademik biasanya memiliki katalog onkline untuk semua h-olding (koleksi)nya sehingga anda bisa melakukan pencaharian (search) bahan-bahan perpustakaan secara mudah. Disamping itu, dari lokasi di manapun, anda bisa melakukan pencaharian koleksi perpustakaan onkline dari banyak sekali perpustakaan-perpustakaan akademik yang besar-besar (seperti University of Michigan atau University of California-Bekeley) untuk melihat buku-buku apa saja yang tersedia tentang topik yang anda cari. Perpustakaan lain yang bermanfaat untuk anda gunakan untuk pencaharian dimaksud adalah Library of Congresss, yang berisikan buku-buku yang sangat banyak dipubikasikan (http://catalog.loc.gov).

(6)

frustrasi yang mungkin timbul ketika pengguna-pengguna lain telah meminjam bahan-bahan yang anda butuhkan, sehingga bahan-bahan tersebt tidak tersedia lagi bagi anda. Apabila ini terjadi, para peneliti bisa menggunakan layanan interlibrary loan (peminjaman antar perpustakaan) sebagai upaya untuk menfdapatkan bahan kepustakaan, walaupun prosesnya memakan waktu dan memerlukan kesabaran.

Gunakan Sumber Primer dan Sumber Sekunder

Kajian (tinjauan) kepustkaan sering berisikan bahan-bahan dari sumber primer dan sumber sekunder. Bahan kepustakaan bersumber primer terdiri dari bahan-bahan kepustakaan yang dilaporkan oleh individu atau individu-indivdu yang secara langsung melakukan penelitian atau orang yang melahirkan sesuatu gagasan. Artikel-artikel penelitian yang dipublikasikan oleh jurnal-jurnal pendidikan merupakan salah satu contoh jenis ini. Bahan kepustakaan bersumber sekunder, sebaliknya, adalah bahan kepustakaan yang meringkaskan (menyarikan) sumber-sumber primer. Bahan ini tidaklah mewakili peneliti asli atau pencetus gagasan. Contoh dari sumber-sumber sekunder ini adalah h-andbook (buku pegangan), enskilopedia, jurnal-jurnal tertentu yang membuat sari (keringkasan) penelitian, seperti Review of Educational Research-. Biasanya, anda akan mencari lokasi dari sumber primer dan sumber sekunder ini, akan tetapi yang paling baik adalah melaporkan terutama sumber-sumber primer. Sumber-sumber primer menampilkan bahan-bahan kepustakaan kondisi orisinil dan menyajikan pandangan dari pengarang asli. Sumber-sumber primer juga memberikan rincian tentang penelitian secara lebih lebih baik dibandingkan dari rician yang diberikan oleh sumber sekunder. Sumber sekunder bermanfaat ketika anda memulai melakukan tinjauan, menelusuri dan menentukan besarnya lingkup topik.

(7)

temuan-temuan banyak penelitian (sumber primer) dengan jalan mengevaluasi hasil-hasil penelitian satu per satu dan melahirkan satu kesatuan indeks numerik dari bermacam magnitude hasil-hasil penelitian. Tujuan dari pada ini semuanyan adalah untuk mengambil sari dari hasil-hasil penelitian yang banyak itu.

Proses melakukan kajian metak analysis mengikuti langkah yang sistematis. Si peneliti menempatkan penelitian-penelitian yang banyak itu dalam satu buah topik dan mencatat hasil-hasil untuk semua penelitian tersebut. Kemudian si peneliti menghitung hasil keseluruhan dari semua penelitian dan melporkan informasi ini. Dengan menggunakan proses ini, peneliti mensintesiskan bahan kepustaaan , dan dengan demikian memberikan sumber sekunder bagi laporan-laporan penelitian bersumber primer.

Sebagai sebuah ilustrasi dari kajian metakanalysis dan dari perbedaan antara sumber informasi primer dan sumber informasi sekunder diperlihatkan pada Diagram 4.1. Pada bahagian atas kita lihat halaman pertama dari laporan penelitian bersumber primer, sebuah penelitian oleh Smetana dan Asquith (1994). Mereka mengkaji tipe-tipe otoritas orang tua dan rating (penilaian) tentang konfik remaja-orang tua diantara 68 orang anak kelas enam, delapan dan sepuluh dengan orang tua mereka.

(8)

selama masa remaja awal dan menengah, menghandalkan hasil penelitian ini saja akan memberikan kesimpulan yang salah.

Secara historis, pemilahan antara sumber primer dan sumber sekunder menjadi klasifikasi yang bermanfaat bagi bahan kepustakaan dalam bidang hukum dan sejarah (Barzum & Graf, 1985) dan dalam menggabungkan hasil-hasil dari sejumlah penelitian dalam bentuk meta-analyisis. Dewasa ini, bahan kepustakaan yang terdapat di dalam perpustakaan akademik merupakan bahan kepustakaan yang menggunakan klassifikasi yang lebih luas tentang berbagai jenis bahan kepustkaan.

Ckri Berbkgki Tipe Bkhkn Kepuatkikkn

Diagram 4.2 memberikan sistem klassifikasi yang bermanfaat untuk bahan kepustakaan yang bisa anda pertimbangkan. Dimodifikasi dari klassifikasi yang pada awalnya dikembangkan oleh Libutti dan Blandy (1995), diagram ini menjadi petunjuk ataupun kerangka untuk memulai pencaharian bahan kepustakaan.

Dengan menggunakan kerangka ini, anda bisa memulai pecaharaian anda pada bahagian bawah segitiga dengan jalan membaca keringkasan-keringkasan penelitian yang mensintesiskan berbagai penelitian tentang sebuah topik (informasi sumber sekunder). Dari keringkasan-keringkasan umum ini, anda bisa melanjutkan pekerjaan anda mencari artikel-artikel jurnal (sumber primer) dan terus pada bahan keputakaan “tahap awal” yang terdapat pada bahagian atas. Bagi para peneliti pemula, memulai dengan keringkasan-keringkasan ini merupakan gagasan yang bagus karena keringkasan-keringkasan tersebut memberikan gambaran awal tentang topik-topik pada pembicaraan tingkat awal. Keringkasan-keringkasan ini juga memiliki “usia” yang lebih panjang dari gagasan tahap awal, dan ia telah berkali-kali diberikan tinjauan demi kualitasnya.

(9)

waktu tentang pendidikan. Daftar keringkasan yang tersedia diperihatkan pada Table 4.2. Sumber-sumber ini mencakup ensiklopedia, kamus, dan glossarium (daftar istilah), h-andbook (buku panduan), indeks-indeks statistik, tinjuan, dan sintesis. Keringkasan-keringkasan ini memperkenalkan kepada para peneliti muda bidang permasalahan, dan membantu mereka menempatkan referensi-referensi dan mengidentifikasi isu-isu terkini. Pakar-pakar terkemuka dalam bidang pendidikan menuliskan keringkasan-keringkasan ini.

Encikolopedia: Ensiklopedia Sebuah wadah yang tepat untuk memulai apabila anda telah mengetahui serba sedikit tentang topik adalah ensiklopedia, seperti Encyclopedia for Educational Research- (Alkin, 1992). Disponsori oleh AERA, ensiklopedia ini memberikan informasi tentang penelitian dalam 16 buah topik umum, termasuk kurikulum pendidikan dasar dan pendidikan menengah, pendidikan untuk anak-anak berkelainan, dan struktur organisasi dan penyelenggaraan pendidikan. Lampiran berjudul “Doing Library Research in Educatiom” (Melakukan penelitian kepustakaan dalam bidang pendidikan) merupakan upaya yang paling bermanfaat (Alkin, 1992, halaman 1543).

(10)

kajian-kajian tentang isu-isu ketidaksaamaan (inequality) dan penindasan dalam masyarakat kita.

Handbook (Buku Pegangan). Ada bermacam ragam buku pegangan yang berbicara tentang topik-topik seperti pengajaran, membaca, kurikulum, studi-studi sosial, administrasi pendidikan, pendidikan multikultural, dan pendidikan guru. Beberapa buku pegangan ada yang tersedia untuk topik-topik berkenaan dengan penelitian pendidikan. Sebuah buku pegangan yang berbicara tentang metoda penelitian inquiri, pemanfaatan pengetahuan, pengukuran, dan statistics adalah Educational Research-, Meth-odology, and Measurement: An Internastional Handbook (Keeves, 1998). Dua buah buku pegangan terkini juga tersedia tentang topik berkaitan dengan penelitian kualitatif: Th-e Handbook of Qualitative research- in Education (LeCompte, Millroy, & Preissle, 1992) dan the Handbook of Qualitative Research- (Denzin & Incoln, 2000). Dalam penelitian kuantitatif, buku pegangan juga ada, seperti the Handbook of Applied Social Research- Meth-ods (Bickman & Rog, 2000). Untuk penelitian yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, anda boleh jadi bisa merujuk the Handbook of Mixed Meth-ods in th-e Social and Beh-avioral Sciences (Tashakkori & Teddlie, 2003).

Indekskindeks Statistik. Statistical Indexes (indeks-indeks statistik) seperti Digest of Educational Statistics (National Center for Eductaional Statistics (NCES) tahunan, 1997) melaporkan kecenderungan-kecendrungan pendidikan yang bermanfaat dalam rangka penulisan rumusan-rumusan masalah atau tinjauan kepustakaan. Digest yang diterbitkan semenjak 1933 oleh pemerintah Amerika Serikat, menghimpun informasi statistik yang mencakup bidang-bidang yang luas dalam pendidikan Amerika mulai dari taman kanak-kanak terus sampai ke sekolah pasca sarjana. Ia juga melaporkan informasi dari banyak sumber, termasuk survai dan aktivitas-aktivitas yang dilaksanakan oleh NCES.

(11)

psikologi, dan ilmu-ilmu sosial. Contoh, the Review ofEducational Research- (1931-) adalah sebuah jurnal kuartalan dari AERA yang mempublikasikan artikel-artikel panjang yang mensistesiskan penelitian pendidikan tentang berbagai topik.

Bukukbuku. Perpustakaan-perpustakaan akademik memiliki koleksi yang sangat ekstensif sekali berkaitan dengan topik-topik pendidikan dalam lingkup yang sangat beragam dan luas. Buku-buku yang paling bermanfaat dalam melakukan tinjauan kepustakaan adalah buku-buku yang membuat keringkasan hasil-hasil penelitian atau melaporkan pembicaraan-pembicaraan konseptual tentang topik-topik pendidikan Buku-buku teks yang digunakan untuk perkuliahan kurang bermanfaat karena biasanya buku-buku seperti ini tidak berisikan laporan-laporan penelitian tunggal, akan tetapi berisikan keringkasan dari literatur dan referensi-referensi penting. Th-e Subject Guide to Books in Print (1957 - ) dan th-e Core List of Books and Journals in Education (O’Brien & Fabiano, 1990) merupakan buku pegangan yang juga berguna untuk pencaharian bahan kepustakaan.

(12)

dipertimbangkan melakukan pencaharian abstrak, indeks terhadap jurnal, atau data base beraneka ragam dalam pendidikan dan ilmu-ilmu sosial.

Abatrkct aeriea. Abstract series (seri-seri absrak). Seri-seri abstrak yang akan memungkinkan pencaharian secara umum artikel-artikel jurnal sesuai bidang kajiannya, tersedia untuk banyak bidang ilmu. Dalam bidang administrasi pendidikan, misalnya, anda boleh jadi menilai th-e Educational Administration Abstracts (University Council for Educational Administration, 1966 -), atau perkembangan anak usia dini, langsung mencarinya pada Ch-ild Development Abstracts and Bibliograph-y (Soceity for Research in Child Development, 1945-). Anda juga bisa menemukan abstrak dengan jalan mengakses katalog perpustakaan secara onkline dan menggunakan kata-kata kunci seperti abstrak, dan bidang kajian atau topik untuk menentukan apakah jurnal tersebut berisikan seri-seri abstrak tertentu. Tempat lain untuk pencaharian untuk penerbitan-penerbitan jurnal adalah indeks seperti Education Indeks (Wilson, 1929/32 -), dan indeks yang memang didedikasikan secara khusus pada periodikal dan diususn atas dasar bidang kajian.

(13)

terkait dengan data base pendidikan, diikuti oleh sumber-sumber informasi psikologi dan sosiologi. Enam jenis data base penting menawarkan retrieval yang mudah terhadap artikel-artikel jurnal dan dokumen-dokumen lain terkait dengan pendidikan.

1. ERIC (1991) adalah sistem informasi nasional tentang pendidikan yang didirikan pada tahun 1966 oleh th-e US Department of Education and th-e National Library of Education (NLE). Karena dana publik yang mendudkung pendirian ERC ini, anda bisa melakukan pencaharian data base ERIC bebas biaya. Anda bisa melakukannya secara ekstentif dengan tiga caea berikut:

 Melalui internet;

 Dengan menggunakan CD-ROM yang terdapat di perpustakaan-perpustakaan akademik, biasanya sudah diinstalled (dipasang) pada beberapa komputer di perpusakaan untuk dimanfaatkan;

 Dalam bentu cetak, tersedia pada rak-rak buku di perpustakaan-perpustaakan akadmik;

Dokumen-dokumen pendidikan yang dmasukkan ke dalam database ERIC diseleksi terutama oleh para reviewer (penyelia) pada 16 clearingh-ouses untuk masing-masing sub-content (materi) yang berbeda (seperti pendidikan orang dewasa, karir, dan pendidikan kejuruan; penilaian dan evaluasi). Indvidu-individu dari clearingh-ouses ini mengkaji bahan kependidikan ini, menulis abstraknya, dan memberikan nama atau deskriptor yang bersumber dari perbendaharaan kata-kata ERIC sendiri untuk mengidentifikasi masing-masing sumber iformasi dimaksud. Bahan kepustakaan yang masuk ke dalam ERIC tidaklah direview (diberikan peninjauan) oleh teman sejawat, akan tetapi oleh para reviewers (penyelia) dari clearinghouses itu sendiri yang menyeleksinya untuk kemudian dimasukkan ke dalam data base.

(14)

dokumen-dokumen, yang ditemukan pada Resources in Education (RIE; ERIC, 1966-). CIJE adalah indeks informasi bulanan dan kumulatif yang ditempatkan pada hampir 980 jurnal utama dalam bidang pendidikan atau terkait dengan bidang pendidikan. Indeks tersebut memberikan subject index, indeks pengarang, dan abstrak dari kajian-kajian tertentu. RIE adalah indeks bulanan dan kumulatif dari temuan-temuan penelitianterkini, proyek dan laporan-laporan tekhnis, pidato-pidato, manuskript yang tidak dipublikasikan, dan buku-buku. RIE mengindeks informasi tentang pendidikan ini atas dasar subjek, pengarang pribadi, kelembagaan, jenis publikasi.

Contoh dari ringkasan (resume) artikel jurnal ERIC (CIJE) dan sampel dari resume dokumen ERIC (RIE) diperlihatkan pada Diagram 4.3 dan 4.4. Anda bisa melihat kedua resmue ini pada Website ERIC. Bacalah notasi pada garis pinggir yang menjelaskan informasi tentang dokumen tersebut. Keringkasannya berisikan accession number (nomer untuk mengakses) (EJ untuk jurnal dan ED untuk dokumen). Ia juga memperlihatkan pengarang, judul, deskriptor utama dan minor yang diberikan pada artikel tersebut, dan anotasi singkat yang mendeskripsikan artikel dimaksud.

2. Psych-ological Absract (APA, 1927-) dan versi CD-ROM, PsycLit (SilverPlatter Information, Inc., 1986) dan PsycINFO (www.apa.org), adalah sumber penting untuk mencari artikel-artikel penelitian tentang topik-topik umum berkaitan dengan psikologi. Pada bulan ktober 2000, PsycLit dan PsycINFO berkonsolidasi mejadi satu database dalam rangka memberikan sumber yang komprehensif tentang bahan -bahan kepustakaan tentang psikologi mulai dari 1887 sampai dewasa ini. Database ini tersedia di perpustakaan-perpustakaan atau melalui versi-versi onkline yang dibeli-sewa oleh perpustakaan-perpustakaan dan jaringan-jaringan komputer kampus.

(15)

buku-buku, bab-bab dari buku yang dipublikasikan secara internasional. Versi cetaknya memiliki indeks kumulatif tiga tahunan. Contoh rekaman jurnal dari PsycINFO menacantumkan kunci identifikasi berbentuk ungkapan, pengarang, judul, sumber, dan abstrak singkat dari artikel.

3. Th-e Sociological Abstracts (Sociological abstract, Inc., 1953-) tersedia dalam versi cetak, versi CD-ROM (Sociofile, SilverPlatter Information, Inc., 1974/86, dan pada versi Website yang dibeli sewa oleh perpustakaan tersedia pula untuk jaringan komputer yang tersambung ke perpustakaan. Tersedia dari Cambridge Scientific Abstracts, database ini memberikan akses pada bahan kepustakaan secara internasional dalam disiplin ilmu sosiologi atau disiplin ilmu lain yang terkait dengan sosiologi. Database ini berisikan abstrak dari jurnal-jurnal artikel terpilih lebih dari 2.500 jurnal, abstrak dari makalah-makalah konferensi yang disajikan pada pertemuan-pertemuan asosiasi sosiologi, disertasi, dan buku-buku serta tinjauan buku dari tahun 1963 sampai dewasa ini.

4. Th-e Social Science Citation Index (SSCI); Institute for Scientific Information (ISI), 1969-) dan versi CD-ROM, Institute for Scientific Information (ISI, 1989-), memberikan database dari referensi-referensi yang dikutip terhadap artikel-artikel jurnal. Indeks kutipan itu memungkinkan anda mencari referensi terhadap sebuah karya untuk menemukan artikel jurnal yang mengutip karya tersebut. SSCI itu mencakup 5.700 buah jurnal mewakili masing-masing ilmu dalam ilmu-ilmu sosial.

(16)

peneliti pendidikan bisa melihat daftar isi jurnal, abstrak terhadap artikel, dan bersambung secara langsung kepada teks secara penuh untuk lebih 1.800 judul. Para peneliti juga bisa menerima email dari daftar isi jurnal-jurnal favorite mereka secepatnya jurnal tersebut diterbitkan.

6. Disertation Abstracts (University Microfilms Internasional (UMI), 1938-1965/1966) dan versi CD-ROM dari Disertation Abstracts Ondisc (Computer File; UMI, 1987-), memberikan petunjuk untuk penulisan disertasi doktor yang dimasukkan oleh lebih 500 lembaga yang berpartisipasi di seantero dunia. ia dipublikasikan dalam 3 seksi, Seksi A, The Humanities and Social Science, Seksi B, The Sciences and Engineering, dan Seksi C, Worldwide. Memperhatikan ketiga seksi ini seorang peneliti akan menemukan abstrak (keringkasan sepanjang 350 kata dari disertasi). Sebuah indeks yang komfrehensif akan mempermudah akses terhadap judul, pengarang, dan bidang kajian.

(17)

tinjauan. Beberapa kelebihan dan kekurangannya menggunakan bahan-bahan dan internet ini tercantum dalam diagram 4.4.

Tanpa diragukan lagi, mudahnya mengakses dan mengambil bahan-bahan ini membuatnya jadi menarik. Walaupun demikian, karena penyelia boleh jadi tidak mengevalusi kualitas informasi ini anda perlu hati-hati tentang apakah itu merupakan hasil penelitian yang sistematis, cermat dan padat untuk bisa digunakan dalam sebuah tinjauan kepustakaan. Cara untuk menentukan kredibilitas dari bahan antara lain tercakup sebagai berikut :

Lihat apakah bahan tersebut merupakan hasil studi yang dilaporkan pada jurnal online dengan tim penyelia teman sejawat untuk menguji kualitas publikasinya.

Tentukan apakah mengenal para pengarangnya karena mereka telah mereka mempublikasikan bahan-bahan mereka di dalam jurnal dan buku-buku yang berkualitas.

Lihat apakah website memiliki standar penerimaan kajian-kajian penelitian dan melaporkannya.

Tanyakan kepada dosen anda di program pasca sarjana jika ia merasa bahwa artikel tersebut memiliki kualitas untuk dicantumkan di dalam kajian kepustakaan.

Evklukai dkn Pilih Bkhkn Kepuatkikkn aeckrk Kritia

Mari kita kembali pada langkah-langkah utama dalam melakukan tinjauan kepustakaan. Proses ini dimulai dengan mengidentifikasi kata-kata kunci dan mencari sumber-sumber kepustakaan tersebut. Sekali anda mendapatkan bahan kepustakaan tertentu, anda perlu menentukan apakah bahan kepustakaan itu merupakan sumber yang bagus untuk digunakan dan apakah relevan dengan penelitian anda.

Apkikh bkhkn iepuatkikkn itu merupkikn aumber ykng bkii dkn kiurkt?

(18)

dimasukkan dalam sebuah tinjauan kepustakaan. Beberapa petunjuk agaknya penting diingat untuk melakukan penseleksian secara cermat terhadap bahan-bahan kepustakaan. Ingat, seperti diungkapkan pada Diagram 4.2, ada beberapa tipe bahan kepustakaan yang berbeda.

Sebanyak mungkin cari artikel-artikel yang dipublikasikan pada jurnal-jurnal tingkat nasional. Biasanya, beberapa orang editor (redaktur) dalam bentuk panel (dua atau tiga orang anggota dewan redaksi ditambah dengan seorang redaktur utama) melakukan tinjauan dan mengevaluasi secara kritis sebuah manuskrip sebelum ia diterima untuk diterbitkan. Jika jurnal tersebut memiliki anggota dewan redaksi yang direkrut dari seluruh antero negeri, jurnal tersebut tentu dianggap memiliki kualitas yang tinggi karena ia diacu sebagai jurnal nasional. Gunakan sistem pioritas dalam mencari bahan kepustakaan.

(19)

si penulis, kualitas tulisan, dan ruang lingkup dan mantapnya pengumpulan dan analisis data.

Carilah “kajian-kajian penelitian” untuk dimasukkan didalam tinjauan kepustakaan anda. Penelitian yang baik mengikuti defenisi penelitian yang telah kita pelajari pada bahagian terdahulu, di mana penelitian itu terdiri dari pengajuan pertanyaan, pengumpulan data, dan perumusan temuan-temuan atau kesimpulan penelitian yang bersumber dari data. Disamping itu, pernyataan-pernyataan yang dibuat si peneliti terkait dengan hasil penelitiannya perlu dijustifikasi dan didukung atas dasar data-data yang dikumpulkan.

 Masukkan tidak hanya kajian-kajian penelitian kuantatif tapi juga kualitatif dalam tinjauan kepustakaan anda, tak peduli pendekatan apa yang anda gunakan dalam penelitian anda.

Apkikh bkhkn iepuatkikkn itu relevkn?

Apakah bahan kepustakaan itu merupakan sumber yang berkualitas tinggi dan bermanfaat untuk dimasukkan dalam tinjauan kepustakaan merupakan salah satu pertimbangan. Pertanyaan lain yang perlu dipertimbangkan adalah apakah bahan kepustakaan itu relevan untuk digunakan: Anda mungkin telah membaca bahan kepustakaan yang telah anda seleksi, dengan memperhatikan judul dari artikel, isi yang terlihat dari abstrak yang ditemui pada bahagian awal laporan penelitian (jika ada), dan judul-judul utama dalam laporan penelitian. Bacaan yang telah anda lakukan ini akan membantu anda menentukan apakah informasi yang anda peroleh relevan untuk digunakan dalam tinjauan kepustakaan untuk penelitian anda. Relevansi memiliki beberapa dimensi, dan perhatikan kriteria berikut dalam memilih bahan kepustakaan untuk direview.

(20)

Relevansi dari sisi individu dan situs. Apakah bahan kepustakaan itu meneliti individu dan situs yang sama dengan individu dan situs yang akan anda teliti?

Relevansi dari sisi masalah- dan pertanyaan. Apakah bahan kepustakaan itu mengkaji masalah penelitian yang sama dengan masalah yang akan anda teliti? Apakah bahan kepustakaan itu mengkaji pertanyaan yang sama dengan yang akan anda teliti?  Relevansi dari sisi asessibilitas (keterjangkauan). Apakah bahan

kepustakaan tersedia di perpustakaan anda atau apakah anda bisa mengunduhnya dari Web site? Bisakah bahan tersebut anda peroleh dari perpustakaan atau Web site?

Apabila jawaban anda terhadap pertanyaan-pertanyaan itu “ya”, maka bahan kepustakaan itu relevan terhadap tinjauan kepustakaan yang akan anda lakukan.

Suaunlkh bkhkn iepuatkikknnyk

Sekali anda telah menemukan bahan kepustakaan, menilai kualitasnya, dan mengecek relevansinya, langkah selanjutnya adalah menyusunnya untuk keperluan melakukan tinjauan (review). Proses ini mencakup memfotokopi dan membuat file-nya. Pada saat ini, anda mungkin harus membacanya secara cepat, membuat catatan tentangnya, dan menentukan apakah atau bagaimanakah kesesuaiannya dengan keseluruhan bahan kepustakaan yang anda butuhkan. Membuat gambaran visual tentang bahan kepustakaan ini – peta kepustakaan— akan membantu menyusunnya, memposisikan penelitain anda di dalam bahan kepustakaan yang ada, dan memberikan kerangka untuk menyajikan penelitian anda kepada audience tentang topik yang anda teliti.

Memfotoiopi, mengunduh, dkn membukt fle

(21)

mendapatkan salinannya atau mengunduhnya (dalam bentuk file html atau pdf) dan kemudian membangun semacam sistem guna bisa meretrieve (memanggil)-nya secara cepat. Undang-undang hak cipta mengizinkan anda untuk membuat foto kopinya untuk satu buah artikel utuh tanpa minta permisi dari si pengarang. Menempatkan artikel-artikel tersebut di file folder secara alfabetis menurut nama pengarang merupakan cara yang paling baik untuk menyusun bahan-bahan tersebut. Alternatif lain adalah anda bisa menyusun bahan kepustakaan itu atas dasar sumber, topik, atau kata-kata kunci. Walaupun demikian, penggunaan indek nama pengarang merupakan metoda yang paling nyaman karena topik dan kata-kata kunci yang anda gunakan dalam tinjauan kepustakaan anda nanti bisa berpindah-pindah sewaktu anda mengerjakan draft tinjauan tersebut.

Membukt Cktktkn dkn Abatrki Penelitikn

Dalam proses membaca bahan kepustakaan, para peneliti bisanya membuat catatan terhadap informasi sehingga sebuah keringkasan tentang bahan kepustakaan tersebut tersedia dalam bentuk tinjauan tertulis. Pembuatan catatan ini merupakan prosedur tak resmi di mana si peneliti mengidentifikasi ide-ide penting tentang artikel atau bahan tersebut dan membuat catatan kasar tentang masing-masing sumber informasi tersebut. Proses ini mencakup pembuatan kutipan terhadap artikel dimaksud (lihat “Penggunaan Buku Petunjuk Penulisan” pada bahagian lain bab ini) dan sebuah keringkasan tentang butir-butir pokok yang dibicarakan dalam artikel. Butir-butir ini pada umumnya mencakup: a) pertanyaan yang diajukan; b) pengumpulan data; c) hasil utama lihat kriteria tambahan dalam penulisan abstrak pada bab lain).

Ketimbang pendekatan informal seperti ini, strategi yang biasanya lebih disenangi

(22)

menghasilkan informasi yang bermanfaat sehingga anda bisa mengingat detil (rincian) dari penelitian-penelitian tersebut.

Pendekatan yang sistematis dalam membuat keringkasan masing-masing sumber informasi adalah dengan jalan membuat abstrak dari masing-masing sumber. Abstrak adalah sebuah keringkasan yang berisikan aspek-aspek utama dari sebuah penelitian atau artikel, yang dsampaikan secara padat (untuk maksud ini, sering tidak melebihi 350 buah kata) dan mencakup komponen-komponen tertentu. Hati-hati untuk tidak menggunakan abstrak yang sudah tersedia pada awal aritikel jurnal. Ini mungkin terlampau singkat karena adanya pembatasan kata-kata atau ruangan yang diwajibkan oleh para editor jurnal. Disamping itu, jika anda menggunakan abstrak seperti ini, anda perlu membuat referensinya sehingga anda tidak melakukan plagiat terhadap karya seseorang. Justru itu, sebaiknya anda membuat sendiri abstrak dari artikel atau penelitian dimaksud. Ini memerlukan pengidentifikasian topik yang abstraknya perlu anda buat.

Langkah pertama adalah untuk mempertimbangkan jenis bahan kepustakaan apa yang akan anda buat abstraknya. Para peneliti biasanya membuat abstrak dan memasukkannya ke dalam tinjauan kepustakaan hanya kajian-kajian penelitian saja, ketimbang esei atau makalah-makalah berisikan pendapat (walaupun barangkali anda perlu mengutip esei-esei penting atau pendapat-pendapat yang secara luas dikutip atau dirujuk oleh para pengarang).

Untuk membuat abstrak dari unsur-unsur penelitian kuantitatif seperti artikel jurnal, makalah konferensi, atau disertasi atau tesis, anda barangkali perlu mengidentifikasi:

Masalah penelitian

Pertanyaan penelitian dan hipotesis Prosedur pengumpulan data

Hasil-hasil penelitian

(23)

singkat dan bahwa referensi lengkap terhadap karya tersebut ditampilkan pada bahagian atas sehingga masing-masing abstrak benar-benar terdokumentasi secara utuh. (Formatnya akan dibicarakan selanjutnya pada bahagian lain dalam bab ini).

Untuk penelitian kualitatif, topiknya sama dengan yang dibicarakan dalam penelitian kuantitatif, akan tetapi judul-judulnya mencerminkan istilah-istilah yang biasa digunakan dalam penelitian kualitatif. Ketimbang memakai hipotesis dan pertanyaan, para peneliti kualitatif cukup hanya menggunakan pertanyaan. Ketimbang menggunakan “hasil-hasil”, penelitian kualitatif lebih menerima kata “temuan-temuan”.

Ketika membuat abstrak sebuah penelitian kualitatif, anda sebaiknya mengidentifikasi:

 Masalah penelitian

 Pertanyaan-pertanyaan penelitian  Prosedur pengumpulan data

 Temuan-temuan

Unsur-unsur ini digunakan untuk membuat abstrak sebuah penelitian kualitatif oleh Creswell dan Brown 1992) seperti terlihat pada Diagram 4.7. Penelitian ini mengkaji peranan pembantu dekan bidang akademik untuk meningkatkan kinerja dosen dalam bidang penelitian. Lagi-lagi, ada ringkasan untuk masing-masing unsur dan referensi lengkap terhadap artikel tersebut pada bahagian atas abstrak tersebut.

Unsur-unsur yang diabstraksikan pada contoh untuk penelitian kuantitatif dan kualitatif mengilustrasikan informasi khusus yang disarikan dari penelitian. Dalam bentuk lain dari abstrak ini, informasi tambahan boleh jadi dicantumkan juga di mana anda memberikan kritikan atau melakukan penilaian berkenaan dengan kelebihan dan kekurangan dari penelitian tersebut.

Membukt Petk Kepuatkikkn

(24)

akan mulai muncul. Dengan adanya diagram atau gambar visual tentang konseptualisasi bahan kepustakaan ini akan memungkinkan anda menyusun bahan kepustakaan tersebut dalam pikiran anda, mengidentifikasi di mana letak kesearasian penelitian anda itu dengan bahan kepustakaan, dan meyakinkan orang-orang lain tentang pentingnya penelitian anda.

Gambar visual ini akan berupa peta kepustakaan, sebuah peta dari bahan kepustakaan yang telah anda temukan. Peta kepustakaan adalah diagram atau gambar yang memperlihatkan bahan kepustakaan untuk penelitian (seperti kajian-kajian, esei-esei, buku-buku, bab-bab, dan ringkasan-ringkasan) berkenaan dengan sesuatu topik. Penggambaran secara visual ini membantu anda melihat ketumpang-tindihan informasi atau topik-topik utama di dalam bahan kepustakaan dan bisa membantu anda menentukan bagaimana penelitian yang anda rencanakan ini menambah atau mengembangkan bahan kepustakaan yang sudah ada ketimbang menduplikasikan penelitian terdahulu. Sebagai alat untuk berkomunikasi, sebuah peta membantu anda mengkomunikasikan kepada orang-orang lain, seperti dosen pembimbing, anggota panitia penguji atau audience pada sebuah konferensi, gambaran terkini tentang bahan bahan kepustakaan tentang sesuatu topik.

(25)

kemungkinan-kemungkinan adanya peningkatan berkat pelatihan-pelatihan. Pada bahagian bawah agak ke tengah dari peta tersebut, Hovater mengusulkan rencana penelitiannya: untuk mengembangkan bahan kepustakaan yang terkait dengan pertanyaan, “Apakah program-program belajar di luar negeri jangka pendek di negera-negara yang bukan berbudaya bahasa Inggeris membantu menciptakan ketanggapan budaya pada calon-calon guru?”

Peta kepustakaan Hovater (2000) mencakup beberapa karakteristik yang bisa juga anda masukkan ke dalam peta kepustakaan anda. Berikut ini adalah beberapa petunjuk yang bisa diikuti untuk membuat peta kepustakaan:

 Identifikasi istilah-istilah kunci dalam topik anda dan letakkan pada bahagian atas dari peta. Seperti didiskusikan terdahulu, istilah-istilah kunci ini bisa ditemui dalam draft judul, pertanyaan, atau sumber-sumber ERIC.

 Ambil informasi ini untuk peta anda dan lakukan penyortiran untuk dijadikan berkelompok-kelompok yang masing-masing terkait dengan topik-topik sesuai dengan bidangnya atau menjadi “kelompok-kelompok penelitian yang serumpun”. Coba perkirakan tiga atau empat pengelompokan karena kelompok-kelompok ini akan menjadi bahagian-bahagan utama dari tinjauan kepustakaan tertulis.

 Beri masing-masing kotak sebuah label (kemudian label ini digunakan sebagai judul dalam tinjauan kepustakaan anda). Disamping itu, masukkan sumber-sumber kunci yang anda temukan dalam pencarian bahan kepustakaan yang sesuai dengan label kotak tersebut.

(26)

 Tunjukkan bahwa penelitian yang anda usulkan itu akan menambah atau mengembangkan bahan kepustakaan yang ada. Gambarkan sebuah kotak di bawah Diagram (diagram) yang berbunyi “penelitian yang saya usulkan”, “usulan penelitian” atau “penelitian saya”. Di dalam kotak ini, anda bisa nyatakan judul yang anda usulkan, pertanyaan penelitian, atau masalah yang ingin anda teliti. Langkah yang sangat penting adalah membuat garis-garis yang menghubungkan penelitian yang anda usulkan dengan cabang-cabang (kota-kotak) bahan kepustakaan. Peta pada Diagram 4.8 memperlihatkan rancangan yang hierarkhis. Rancangan-rancangan lain, seperti rancangan melingkar (sirkuler) atau rancangan berurutan yang menunjukkan bahan kepustakaan yang menyempit dan terfokus pada penelitian yang diusulkan, bisa juga digunakan. Kita bisa mendapatkan rancangan yang sirkuler dengan jalan memindah-mindahkan dan mengubah peta yang dirancang secara hierakhis oleh Hovater (2000) menjadi peta yang sirkuler, sebagaimana terlihat pada Diagram 4.9.

Menulia tinjkukn iepuatkikkn

Nah sekarang setelah anda membaca secara cepat bahan kepustakaan untuk mengetahui relevansinya, mengabstraksikannya, dan menyusunnya menjadi sebuah peta kepustakaan, sudah tiba saatnya anda mengembangkan ringkasan tertulis dari bahan kepustakaan tersebut. Untuk sebahagian besar, bahan kepustakaan itu terdiri dari artikel jurnal dan laporan penelitian yang ditemukan pada sumber-sumber perpustakaan. Para peneliti menggunakan prosedur-prosedur tertentu dalam membuat keringkasan masing-masing penelitian, memberikan referensi yang jelas, dan menuliskan tinjauan kepustkaan. Untuk penulisannya perlu dikerahkan semua aspek, seperti:

(27)

akhir laporan penelitian anda) dan untuk mengembangkan judul-judul di dalam tinjauan kepustkaan).

 Penggunaan strategi penulisan tertentu terkait dengan jangkauan tinjauan, jenis tinjauan, dan rumusan kesimpulan dalam tinjauan.

Menggunkikn “Style Mknukl” (Petunjui Penuliakn)

Telah kita lihat bagaimana abstrak bisa berisikan referensi lengkap (kutipan) terhadap informasi yang ada di dalam bahan kepustakaan (lihat Diagram 4.7 dan 4.8). Dalam menuliskan referensi ini, anda harus menggunakan gaya (petunjuk) penulisan yang sudah berlaku umum. Judul, tabel, diagram, dan format secara menyeluruh juga memerlukan petunjuk khusus (specific style manual). Style manual (petunjuk penulisan) memberikan struktur tentang bagaimana mengutip referensi, memberikan label terhadap judul, dan membuat tabel serta diagram untuk laporan ilmiah. Bila anda menggunakan sesuatu petunjuk penulisan, penelitian (dan tinjauan kepustkaan) harus mengikuti format yang sesuai dengan para pembaca dan para peneliti lainnya, dan format ini akan memudahkan mereka memahami penelitian anda.

Buku petunjuk penulisan The Publicktion Mknukl of the Americkn Paychologickl Aaaociktion, edisi kelima (APA, 2001) merupakan petunjuk penulisan yang paling populer di lingkungan penelitian pendidikan. Petunjuk-petunjuk lain yang tersedia adalah Ch-icago Manual of Style, edisi ke 15 (University of Chicago Press, 2003), A Manual for Writers of Term Papers, Th-eses, and Dissertations, edisi ke 6 (Turabian, 1996), dan Form and Syle: Th-eses, Reports, and Term Papers, edisi ke 8 (Campbell, Ballou, & Slade, 1990). Petunjuk penulisan ini memberikan format yang konsisten dalam penulisan laporan penelitian.Tiga dari pendekatan yang paling sering digunakan ditemukan dalam Publication Manual of th-e American Psych-ological Association (APA, 2001) akan diberikan penekanan di sini:

(28)

 Judul

Referenai pkdk kihir aebukh teia. Referensi pada akhir sebuah teks adalah referensi yang daftarnya diletakkan pada akhir sebuah laporan penelitian. Dalam petunjuk APA, diketik dua spasi dan disusun secara alfabetis menurut nama pengarang. Yang dimasukkan ke dalam referensi akhir teks ini hanya referensi-referensi yang disebutkan di dalam batang tubuh tulisan. Petunjuk APA memberikan contoh-contoh bagi referensi akhir teks untuk 76 buah jenis dokumen. Di bawah ini diberikan tiga jenis referensi yang biasa sesuai dengan gaya penulisan APA yang tepat.

Contoh referensi akhir-teks untuk artikel jurnal dengan gaya APA

adalah:

Elam, S. M. (1989). The Second Phi Delta Kappa poll of teachers’attitudes toward public schools. Ph-i Delta Kappan, 70 (3), 785-798.

Contoh referensi akhir-teks untuk buku dengan gaya APA adalah: Shertzer, B., & Stne, S. C. (1981). Fundamentals of guidance (4th ed.), Boston

Houghton Mifin.

Contoh referensi akhir-teks untuk makalah- konferensi dengan gaya

APA adalah:

Zedexk, S,. & baker, H. T. (1971, May), Evaluation of beh-avioral expectation scales.Makalah yang disajikan pada pertemuan the Midwestern

Psychological Association. Detroit. MI.

(29)

Referenai dklkm teia. Referensi dalam teks adalah referensi yang dikutip dalam format yang singkat di dalam batang tubuh teks untuk memberikan penghargaan kepada pengarang. Gaya penulisan APA menyebutkan beberapa konvensi untuk mengutip referensi-referensi dalam teks ini. Contoh-contoh berikut mengilustrasikan penggunaan gaya penulisan APA yang tepat ketika anda mengutip seorang atau lebih pengarang.

Contoh referensi dalam teks dengan gaya penulisan APA di mana pengarang mengacu pada sebuah referensi:

Roger (1994) membandingkan waktu bereaksi para atlit dan non atlit di sekolah menengah. ...

Seperti terlihat dari contoh ini, gaya penulisan APA hanya menuliskan nama belakang si pengarang untuk kutipan di dalam teks, kecuali huruf awal nama pertama diperlukan untuk membedakan para pengarang yang kebetulan memiliki nama belakang yang sama. Referensi ini juga mencakup informasi tentang tahun penerbitan. Referensi-referensi seperti ini boleh jadi muncul di mana saja di dalam kalimat.

Contoh referensi dalam teks dengan gaya penulisan APA di mana

pengarang mengacu pada referensi jamak (multiple):

Penelitian-penelitian terdahulu tentang waktu bereaksi (Gogel, 1984; Rogers, 1994; Smith, 1989) memperlihatkan. ...

Keseluruhan kelompok penelitian telah menyingkap kesulitan terkait dengan keikutsertaan dalam test dan waktu bereaksi (Gogel, 1984; Happenstance, 1995; Lucky, 1995; Smith, 1989).

Sebagaimana digambarkan oleh cintoh di atas, titik koma memisahkan penelitian yang satu daru penelitian lainnya. Nama pengarang juga dituliskan secara alfabetis, seperti referensi-referensi pada akhir teks, ketimbang secara kronologis atas dasar tahun terbit.

Contoh dari referensi dengan pengarang jamak, dua atau lebih pengarang apabila disebutkan pertama kali dalam penelitian adalah:

(30)

Apabila seorang menyebutkan individu-individu ini secara berturut-turut di dalam manskrip, hanya nama pengarang pertama yang dicantumkan, dan diikuti oleh “et al” (dkk).

Penelitian tentang keikutsertaan dalam test dan waktu bereaksi (Smith et al, 1994).

Terakhir, tulisan ilmiah yang baik mempersyaratkan agar pengarang mengutip sumber aslinya – dari mana informasi itu datangnya —dan bukan mengutip buku atau artikel yang berisikan referensi dimaksud. Contoh, model yang tidak baik adalah seperti:

Smith 1994), sebagaimana dilaporkan daam Theobaki (1997), berkata bahwa ...

Sebuah model yang sudah agak baik, menggunakan sumber aslinya, adalah seperti:

Smith (1994) berkata bahwa ...

Tktkrkn judul. Ketika anda menyusun tinjauan kepustakaan, pikirkanlah jumlah topik atau sub bahagian yang terdapat dalam tinjauan kepustaan anda. Levels of heading (tataran judul) dalam sebuah penelitian ilmiah dan tinjuan kepustakaan memperlihatkan sub bahagian yang logis dari sebuah teks. Judul memberikan petunjuk penting kepada para pembaca yang membantu mreka memahami sebuah penlitian. Judul juga membagi materi dengan cara yang sama dengn topik dalam sebuah outline.

Menurut gaya penulisan APA, jumlah tataran judul secara maksimal adalah lima. Seperti terlihat pada Diagram 4.10, kelima judul ini berbeda penggunaan buruf besar dan huruf kecilnya, dalam hal pengaturan tata letaknya, dan penggunaan cara penulisan kata-katanya. Kebanyakan penelitian pendidikan memiliki dua atau tiga tataran judul. Para peneliti jarang menggunakan judul keempat atau kelima karena penelitian mereka tidalah sedemikian rincinya sehingga memerlukan banyak sub bahagian. Untuk beberapa buku, lima tataran judul mungkin cocok, akan tetapi dua sampai empat tataran judul biasanya memadai bagi kebanyakan laporan penelitian pendidikan.

(31)

tipe-tipe judul untuk format dengan dua , tiga dan empat tataran judul. Contoh berikut menggambarkan ketiga bentuk yang populer ini.

Jika anda hanya memiliki dua tataran dalam laporan penelitian anda, gunakan Tataran 1 dan 3. Dengan demikian, tatarannya tidak berurutan (yakni 1, 2) jika hanya menggunakan dua tataran. Sebuah contoh dari duaktataran judul dalam bentuk APA menggunakan tataran pertama (ke tengah, huruf besar dan huruf kecil) dan tataran ketiga rata kiri, miring, huruf besar dan huruf kecil) adalah sebagai berikut:

Tinjauan Kepustakaan (Tataran 1) Pendah-uluan (Tataran 3)

Penelitian Tentang Dukungan Sosial (Tataran 3)

Jika anda memiliki tiga tataran dalam penelitian anda, gunakan Tataran 1 (ke tengah, huruf besar dan huruf kecil), dan Tataran 3 (pojok kiri, miring, huruf besar dan huruf kecil), dan Tataran 4 (indented/ke tengah , miring, kata pertama dengan huruf besar, kata-kata lain dengan huruf kecil, diakhiri dengan titik, kalimat pertama continous on righ-t/tetap di sebelah kanan sesudah titik). Lagi-lagi, tatarannya tidak berurutan (yakni 1, 2, 3). Sebuah contoh dari judulktigak tataran dalam bentuk APA adalah seperti berikut:

Tinjauan Kepustakaan (Tataran 1) Pendah-uluan (Tataran 3)

Penelitan Dukungan sosial (Tataran 3).

Apabila anda memiliki 3 tataran dalam penelitian anda, gunakan taaran 1 (di tengah buruf besar dan huruf kecil), 3 (rata kiri, garis miring, huruf besar dan huruf kecil), dan 4 (ke tengah, garis miring, kata pertamma huruf besar, lainnya huruf kecil, diakhirin dengan titik, kalimat pertama tetap berada di sisi kanan setelah titik). Lagi-lagi, tataran-tataran ini tidak berurutan (mislanya 1, 2, 3). Contoh dari judul bertataran 3 dengan gaya APA:

Tinjauan Kepustakaan (Tataran 1) Pendah-uuan (Tataran 3)

Dukungan sosial. Orang-orang tergabung bersama-sama dalam unit-unit kerja ... (Tataran 4)

(32)

Dalam laporan-laporan penelitian yang lebih formal seperti tesis dan disertasi, judul pertama sering pada Tataran 1 “Pendehuluan”. (Lihat bab 10 bahagian yang berbicara tentang “Apa Tipe-tipe Laporan Penelitian?” untuk lebih rincinya tentang bentuk-bentuk laporan.) Ringkasnya, judul tidaklah gampang dideskripsikan, dan ia perlu ringkas -- biasanya dua atau tiga kata – dan menggabarkan secara tepat dan jitu isi dari tulisan selanjutnya.

Strktegi-atrktegi Penuliakn

Ketika anda menulis tinjauan kepustakaan, beberapa unsur tambahan perlu mendapat perhatian anda: jangkauan tinjauan, jenis tinjauan, dan rumusan kesimpulan dari tinjauan.

Jkngikukn tinjkukn. Satu peranyaan yang diajukan Maria kepada penasehat akademisnya adalah “Seberapa lama seharusnya tinjauan kepustakaan saya ini?” Tidak mudah menjawab pertanyaan ini, akan tetapi anda bisa mulai dengan mempertimbangkan tipe laporan penelitian apa yang anda persiapkan (lihat bab 10 bahagian yang tekait dengan “Apa-apa saja tipe laporan penelitian?” Untuk disertasi dan teis, anda memerlukan tinjauan kepustakaan yang intensif, yang sering secara komprehensif harus mencakup semua sumber informasi yang diidentifikasi dalam klasifikasi sumber yang diperlihatkan oleh Diagram 4.2. Untuk rencana atau usul penelitian, tinjauan kepustakaan yang tidak begitu komprehesif sudah memadai. Tinjauan kepustakaan dalam proposal atau rencana penelitian diarahkan pada pengembangan kerangka penelitian dan mendokumentasikan pentingnya masalah penelitian. Biasanya, tinjauan kepustakaan untuk proposal atau rencana penelitian panjangnya berkisar antara 10 sampai 30 halaman, walaupun ini bia bervariasi. Tinjauan kepustakaan untuk proposal menyarikan kutipan-kutipan yang diperoleh dari pencarian database seperti ERIC, PsycINFO, EBSCO, dan Sociofile. Untuk artikel jurnal, jangkauan tinjauan kepusatakaannya bervariasi, tergantung pada penggunaannya dan peranannya di dalam penelitian (seperti sebelumnya telah dibicarakan).

(33)

yakni selama 10 tahun belakangan, dengan memberi penekanan pada penelitian-penelitian yang lebih terkini. Sebuah kekecualian adalah mengutip penelitian yang lebih awal dan klasik karena penelitian tersebut secara substantif berpengaruh terhadap bahan-bahan kepustakaan selanjutnya yang dipublikasi pada dekade terakhir.

Tipe-tipe Tinjkukn Kepuatkikkn.

Pada titik ini anda perlu menetapkan bagaimana struktur keringkasan atau catatan yang dperoleh dari artikel jurnal dan laporan penelitian harus dibuat dalam tinjauan kepustakaan. Susunan keringkasan ini bervariasi tergantung pada tipe laporan penelitian dan tradisi yang diikuti dalam tinjauan kepustakaan di masing-masing kamus yang berbeda. Ketika menulis tinjauan kepustakaan untuk disertasi atau tesis, anda mungkin berdiskusi atau perlu mendatangi pembimbing anda untuk menentukan format yang tepat untuk digunakan. Walaupun demikian kedua model yang disajikan disini—tinjauan tematik dan tinjauan kajian per kajian—akan sangat membantu anda. Lihat Cooper, 1984, dan Cooper & Lindsay, 1998, untuk informasi mengenai pendekatan lainnya).

Dalam tinjauan kepustakaan yang tematik, si peneliti mengidentifikasi sebuah tema dan secara ringkas mengutip bahan kepustakaan untuk mendokumentasikan tema tersebut. Dalam pendekatan ini si peneliti mendiskusikan hanya tema-tema besar atau hasil-hasil penelitian ketimbang rincian dari sebuah penelitian. Para peneliti sering menggunakan pendekatan ini dalam artikel-artikel jurnal, akan tetapi mahasiswa juga menggunakannya untuk disertasi dan tesis pada program pasca-sarjana. Anda bisa mengidentifikasi bentuk ini melalui pencarian tema dan mencatat referensinya (biasanya refrensi-refrensi jamak) dari bahan kepustakaan yang digunakan untuk mendukung tema itu.

(34)

ras wanita dan pria berkulit putih. Tulisan ini, yang muncul dalam bagian awal dari penelitian mereka, mengilustrasikan pendekatan tematis ini.

Diantara banyak hal, identitas ras merupakan rasa memiliki kelompok didasarkan pada persepsi kebersamaan dalam hal garis keturunan (ras) dengan kelompok tertentu, seperti apa adanya, rasa kebersamaan itu memiliki dampak terhadap perasaan pribadi dan sikap yang bisa membedakan kelompok ras yang satu dengan kelompok ras yang lainnya (Helms, 1990;1994: Mitchell & Dell, 1992). Para peneliti sepakat orang-orang Amerika berkulit putih biasanya tidak tertantang bertanya pada diri mereka sendiri, “Apa sih maknanya menjadi orang berkulit putih?” (Pope-Davis & Ottavi, 1994).... (hal.511)

Dalam hal ini, para peneliti melakukan tinjauan kepustakaan tentang tema “identitas ras” dan secara singkat menyebutkan referensi-referensi guna mendukung tema tersebut. Para peneliti tidak membicarakan masing-masing referensi itu secara terpisah dan rinci.

Bertentangan dengan tinjauan tematis, tinjauan kepustakaan kajian per kajian memberikan keringkasan dari masing-masing kajian/penelitian secara rinci dibawah sebuah tema yang umum. Keringkasan yang rinci ini mencakup unsur-unsur dari sebuah abstrak seperti diperlihatkan figur 4.6 dan 4.7. Bentuk tinjauan kepustakaan ini biasanya digunakan di dalam artikel-artikel jurnal yang menyarikan bahan-bahan kepustakaan dan di dalam disertasi dan tesis. Ketika menyajikan tinjauan kepustakaan kajian per kajian ini para peneliti mengaitkan ringkasan-ringkasan ini (abstrak) dengan menggunakan kalimat-kalimat transisional, dan mengorganisasikan keringkasan-keringkasan tersebut di bawah sub-judul yang menggambarkan tema-tema dan bagian-bagian utama. Dengan menggunakan peta kepustakaan tentang sebuah konsep seperti yang dibicarakan terdahulu dalam bab ini, tema-tema ini sama dengan topik-topik yang diidentifikasi yang terdapat di dalam kotak-kotak pada peta tersebut (lihat Diagram 4.8).

(35)

penelitian itu satu demi satu yang terkait dengan model identitas ras menurut Helms.

S.P.Brown, Parham dan Yonker (1996) menggunakan Skala Identitas Ras Kulit Putih untuk mengukur perubahan identitas ras kulit putih dari 35 orang mahasiswa pasca-sarjana berkulit putih yang ikut serta dalam kuliah multikultural selama 16 minggu. 80% dari partisipan tersebut telah mengikuti pelatihan multikultural sebelumnya dan kebanyakan diantara mereka sudah memiliki pengalaman dengan orang-orang yang memiliki latar belakang ras yang berbeda sekurang-kurangnya dua jenis ras, walaupun pengalaman-pengalaman tersebut tidak begitu jelas bentuknya. Para peneliti merancang perkuliahan tersebut atas tiga bidang yang berbeda—perolehan pengetahuan tentang diri sendiri, pengetahuan budaya, dan keterampilan-keterampilan lintas budaya—dan mereka menggunakan berbagai ragam metode mengajar seperti ceramah, pembicara luar dan simulasi. Hasilnya memperlihatkan bahwa pada akhir perkuliahan para wanita menerapkan lebih banyak butir dalam tahap ketergantungan semu pada skala identitas ras berkulit putih, dan pria lebih banyak menerapkan butir-butir ketimbang wanita dalam tahap otonomi. Para peneliti menyimpulkan hubungan kausal antara perkuliahan dan perubahan-perubahan ini yang ditemukan dalam kelompok.

Nerville, Heppner, Louie, dan Thompson (1996) juga mengkaji perubahan yang sama tentang identitas ras kulit putih....(hal.8)

Dalam contoh ini, para peneliti mula-mula menggambarkan penelitian yang dilakukan oleh S.P.Brown dkk (1996) yang sedikit agak rinci, kemudian mereka mendiskusikan penelitian yang dilakukan oleh Neville dkk (1996). Dengan cara begini mereka mendikusikan satu penelitian pada satu waktu tertentu. Mereka juga memberikan deskripsi yang rinci tentang kajian tersebut dengan memasukkan masalah penelitian (apakah skala mengukur perubahan), dan pertanyaan yang tersirat (apakah pria dan wanita berbeda dalam skala tersebut), kemudian pengumpulan data (yakni 35 orang partisipan dalam penelitian tersebut), dan ringkasan hasil penelitian (wanita dan pria menerapkan butir-butir yang berbeda tergantung kepada tahap perkembangan mereka).

(36)

rasional bagi perlunya penelitian anda atau pentingnya masalah penelitian.

Pertama, meringkaskan tema-tema utama. Ajukan pertanyaan kepada diri anda sendiri, “apa hasil dan temuan utama dari semua penelitian yang sudah anda kaji”. Jawaban anda terhadap pertanyaan ini akan menghasilkan identifikasi tiga atau empat tema yang merupakan saripati dari bahan kepustakaan yang anda tinjau. Kemudian ringkaskan masing-masing tema tersebut. Keringkasan tersebut hendaklah memberi penekanan pada gagasan-gagasan utama dibawah masing-masing judul utama dalam tinjauan kepustakaan dan menggarisbawahi apa yang perlu diingat oleh pembaca dari keringkasan tersebut.

Di samping menyatakan tema-tema utama anda juga perlu mengungkapkan alasan kenapa bahan kepustakaan yang ada ini memiliki kelemahan dan kenapa para pendidik perlu mengadakan penelitian lanjutan mengenai topik yang anda pilih. Alasan-alasan ini memperlihatkan bagaimana penelitian yang anda usulkan ini menambah pengetahuan dan menjustifikasi pentingnya masalah penelitian tersebut. Biasanya peneliti menyebutkan tiga atau empat alasan yang memainkan peranan penting dalam penelitian karena alasan-alasan ini sering memberikan arahan terhadap tujuan, dan pertanyaan penelitian serta hipotesis.

Contoh berikut memberikan ilustrasi tentang cara meringkaskan tema dan cara menjustifikasi perlunya penelitian lanjutan.

(37)

Dalam contoh ini, peneliti menyebutkan tiga tema dan, dari tema-tema ini, mengidentifikasi bidang penelitian lanjutan: waktu untuk dosen. Kemudian peneliti mengidentifikasi tiga alasan bagi pentingnya penelitian tentang waktu lowong dosen.

MENGKAJI ULANG STUDI KASUS : “KETERLIBATAN ORANG TUA” DAN “GUNMAN”

Dalam penelitian kuantitatif keterlibatan orangtua (Deslandes & Bertrand, 2005) dan penelitian kualitatif tentang Gunman Incident (Asmussen & Creswell, 1995), para peneliti memulai artikel mereka dengan kutipan kepustakaan dari penelitian-penelitian lain. Seperti telah anda pelajari dalam bab ini, anda bisa mengidentifikasi kepustakaan dengan melihat kapan para peneliti mengutip seorang pengarang dan tahun. Contoh, lihat referensi “Henderson & Mapp, 2002” (paragrap 01) dalam penelitian keterlibatan orangtua atau pengarang dan angka yang menyatakan referensi pada akhir sebuah artikel seperti “Roark (24) dan Roark & Roark (25)” dalam studi kasus Gunman incident (paragrap 01). Perhatikan secara cermat kedua penelitian ini dan teliti penggunaan kajian kepustakaannya.

Alasan tinjauan kepustakaan dalam penelitian kuantitatif

(38)

terhadap undangan remaja (anak mereka). Anda perlu memperhatikan bagaimana peneliti mengidentifikasi, pada awal artikel, keempat faktor utama yang menjadi fokus dari penelitian tersebut. Paragrap-paragrap selanjutnya (03-10), semata-mata meringkaskan bahan kepustakaan untuk masing-masing keempat faktor ini. Paragrap 03 mulai dengan pembicaraan tentang banyak faktor-faktor yang mungkin berpengaruh terhadap keterlibatan orangtua. Kemudian paragrap 04-08 mengkaji bahan kepustakaan untuk keempat faktor tadi. Pada paragrap 09 peneliti mengadakan refeksi terhadap pentingnya keempat faktor tersebut bila diukur secara bersamaan, dan paragrap 10 mengemukakan gagasan bahwa tingkatan kelas akan berpengaruh terhadap prestasi orangtua dan dengan demikian mengantisipasi unsur yang dikemukakan itu agar dimasukkan ke dalam penelitian. Kemudian apabila anda lihat paragrap 13, yang merupakan tujuan penelitian masuk akal kiranya untuk kita ketahui bahwa keempat faktor tersebut dan tingkat kelas sangat penting dalam penelitian ini. Akhirnya peneliti kembali lagi kepada bahan kepustakaan pada paragrap 34-43, dimana mereka mula-mula merumuskan hasil-hasil pokok mereka dan membandingkan hasil-hasil mereka tersebut dengan temuan-temuan sebagaimana disarankan oleh peneliti yang penelitiannya dikaji begitupun juga teori yang diungkapkan pada awal artikel.

Ringkasnya kepustakaan dalam penelitian keterlibatan orangtua:  Mendokumentasikan pentingnya masalah penelitian pada awal

penelitian

 Memberikan bukti untuk komponen-komponen penting dari model yang akan diuji

 Memberikan bukti untuk pertanyaan-pertanyaan penelitian  Memberikan penjelasan terhadap hasil-hasil pada akhir

penelitian dengan jalan mengutip penelitian-penelitian lain dan dengan mengaitkannya dengan prediksi-prediksi teoritis

(39)

Nah, sekarang kembali ke penelitian kualitatif untuk melihat peranan tinjauan kepustakaan. Dalam penelitian studi kasus Gunman Incident (Asmussen & Creswell, 1995), tinjauan kepustakaan memiliki tujuan yang sama dan ada yang berbeda dengan penelitian kuantitatif. Sama halnya dengan penelitian keterlibatan orangtua para peneliti juga memulai artikelnya dengan mengutip bahan kepustakaan untuk menyatakan masalah penelitian tentang tindak kekerasan di kampus. Walapun demikian mereka menggunakan bahan kepustakaan tidak begitu banyak mengutip hanya 10 buah referensi pada dua paragrap pertama (paragrap 01 dan paragrap 02). Kepustakaan dalam penelitian kualitatif jauh lebih sedikit dibandingkan dengan penelitian kuantitatif. Pertanyaan penelitian mereka pada akhir bagian pendahuluan (paragrap 03) tidak mengikuti (tidak bersumber) dari bahan kepustakaan. Akan tetapi, pertanyaan-pertanyaannya bersifat umum dan terbuka sehingga para peneliti bisa mengkaji lagi dari partisipan dalam penelitian. Kemudian mereka juga mengutip bahan kepustakaan lagi pada bagian “pembahasan” di akhir artikel (lihat paragrap 32-36). Nah pada titik ini para peneliti menggunakan bahan kepustakaan untuk mendiskusikan bagaimana tema-tema mereka ini memperkuat atau menyimpang dari temuan-temuan penelitian terdahulu (paragrap 33), prosedur yang biasa digunakan dalam penelitian kualitatif.

Ringkasnya, kepustakaan dalam studi kasus kualitatif Gunman Incident:

 Mendokumentasikan pentingnya masalah penelitian pada awal laporan penelitian

 Tidak melandasi pertanyaan-pertanyaan penelitian (yang luas ruang lingkupnya guna mendorong partisipan untuk memberikan pendapat-pendapat mereka)

 Digunakan untuk membandingkan dan mempertentangkan dengan penelitian-penelitian lain pada akhir penelitian

(40)

Tinjauan kepustakaan adalah ringkasan tertulis dari sebuah artikel, buku, dan dokumen-dokumen lain yang mendeskripsikan pengetahuan terdahulu dan terkini tentang sesuatu topik, menyusun bahan kepustakaan ke dalam topik-topik, dan mendokumentasikan perlunya sebuah penelitian baru. Tinjauan kepustakaan ini memiliki tujuan untuk memperlihatkan perlunya sebuah penelitian dan memperlihatkan bahwa penelitian-penelitian yang ada belum menangani topik yang sama dengan cara yang persis sama. Ia juga memperlihatkan kepada para pembacanya bahwa si peneliti memiliki pengetahuan tentang penelitian-penelitian lain yang terkait dengan sesuatu topik.

Tinjauan kepustakaan untuk penelitian kuantitatif berbeda dengan tinjauan kepustakaan untuk penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif para peneliti memberikan tinjauan kepustakaan secara rinci untuk menjustifikasi tujuan utama dan pertanyaan penelitian. Dalam penelitian kualitatif para peneliti menggunakan bahan kepustakaan secara terbatas pada awal penelitiannya untuk memberikan peluang kepada para partisipan mengungkapkan pandangan-pandangannya. Dengan kata lain pendapat para partisipan itu tidak menurut perspektif bahan kepustakaan. Bahan kepustakaan dikutip lagi pada bagian akhir baik dalam penelitian kuantitatif maupun kualitatif, tapi penggunaannya lagi-lagi berbeda. Dalam penelitian kuantitatif bah-an kepustakaan pada bagian akh-ir membandingkan h-asilkh-asil dengan prediksikprediksi sebelumnya yang dibuat pada awal penelitian. Dalam penelitian kualitatif para peneliti menggunakan bahan kepustakaan pada bagian akhir untuk membandingkan dan mempertentangkan temuan-temuan dalam penelitian dengan bahan-bahan kepustakaan terdahulu.

(41)

buku, publikasi-publikasi jurnal dan sumber-sumber elektronik, dan bahan-bahan kepustakaan tahap awal.

Setelah menemukan bahan kepustakaan ini para peneliti kemudian mengevaluasi secara kritis bahan-bahan tersebut dan menentukan apakah bahan tersebut relevan untuk digunakan atau tidak. Kriteria untuk mengevaluasi bahan-bahan ini terdiri dari penilaian terhadap kualitas publikasi dan kemantapan penelitian dan juga mengkaji relevansi topik penelitian tersebut. Para peneliti kemudian mendapatkan bahan kepustakaan, membuat catatan atau membuat abstraknya, dan menyusunnya dalam bentuk visual yang disebut dengan peta kepustakaan. Peta ini membantu menyusun bahan kepustakaan terdahulu juga memperlihatkan bagaimana penelitian yang diusulkan itu cocok dengan keseluruhan bahan kepustakaan.

Langkah terakhir adalah menuliskan tinjauan kepustakaan. Strategi-strategi penulisan mencakup penggunaan format-format yang tepat sesuai dengan buku panduan dan mengembangkan judul-judul untuk tinjauan kepustakaan tertulis. Para peneliti perlu mempertimbangkan panjang pendeknya tinjauan tersebut untuk tipe-tipe laporan penelitian berbeda. Tipe tinjauan pun juga bervariasi tergantung pada tipe laporan penelitian. Untuk artikel-artikel jurnal, disertasi dan tesis tinjauan kepustakaan tematik membuat ringkasan bahan kepustakaan itu atas tema-tema. Untuk tinjauan kepustakaan untuk topik-topik untuk beberapa jurnal dan disertasi dan tesis, pendekatan kajian per kajian menyajikan masing-masing penelitian secara rinci dengan menggarisbawahi unsur-unsur pokok dari masing-masing penelitian tersebut.

(42)

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan kepadatan dan keanekaragaman perifiton pada substrat buatan yang berbeda di Perairan Air terjun Tinonggoli di kota

1) Para pemilik uang atau modal dapat secara langsung meminjam uangnya kepada para pengusaha yang memerlukan, untuk meningkatkan produksi atau untuk

Tenaga yang berasal dari dalam bumi yang menyebabkan perubahan letak lapisan permukaan bumi baik secara vertikal maupun horizontal disebut tenaga….. Dari gambar di atas, Tanda Panah

2 Kawasan yang datanya bertentangan menurut PI/Bank Dunia, 2000 diidentifikasi sebagai hutan dan sebagai hutan tanaman atau perkebunan menurut PI/Bank Dunia, 1996.

Dalam acara yang dibuka oleh Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) KGPAA Paku Alam X itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) hadir dan

Berdasarkan deskripsi dan pengertian bermain yang telah dipaparkan maka dapat disimpulkan bahwa permainan aksara hijaiyah adalah kegiatan bermain menggunakan huruf hijaiyah

Selanjutnya kadar bilangan peroksida meningkat dengan meningkatnya suhu dan lama waktu penyimpanan mengindikasikan bahwa terjadinya reaksi oksidasi minyak buah