UPAYA PENINGKATAN
KUALITAS TUMBUH
KEMBANG ANAk
Kelompok 7
FAKTOR PRANIKAH /
PRAHAMIL
• Dianjurkan pada wanita untuk tidak hamil
sebelum usia 18 tahun atau lebih dari 35 tahun, untuk mengurangi risiko untuk ibu maupun untuk bayinya.
• wanita pada waktu sebelum hamil juga
Berhubung dengan berbagai ciri pertumbuhan janin selama dalam kandungan dan masalah-masalah yang mungkin terjadi, maka masa pranatal dibagi :
•Masa embrionik / masa mudigah : 8 sampai
12 minggu
•Masa fetal/masa janin: 12 – 40 minggu
a. Periode praviabel: sebelum 24-26 minggu
Hal-hal yang harus diperhatikan meliputi pada masa janin:
Gizi Ibu pada waktu hamil
• Kenaikan berat badan wanita hamil
selama kehamilan adalah skitar 10-12,5 kg
• agar tidak terjadi kelahiran bayi dengan
• Akibat tidak terpenuhi zat gizi ibu pada
waktu hamil, jangka panjangnya terhadap tumbuh kembang anak akan lebih buruk, bila kekurangan gizi pada bayi akan terus berlanjut sampai 2 tahun setelah lahir.
• Pemberian suplemen zat besi juga harus diberikan pada ibu hamil, untuk mencegah anemia pada ibu, sehingga tidak berdampak negatif pada janin seperti BBLR dan anemia pada bayi.
• Bila pada kehamilan trimester I
(masa organogenesis) ibu minum obat teratogenik, maka akan terjadi keguguran atau cacat bawaan. Beberapa obat yang mempunyai efek sinergistik dengan yang lainnya mungkin akan mempunyai efek teratogenik.
Dibawah ini contoh toksin/obat-obatan yang dapat menyebabkan kelainan pada janin:
Alkohol/perokok berat Cacat bawaan, KMK Aminopterin Abortus, cacat bawaan Kina/quinine Abortus,
trombositopenia, tuli Streptomisin Tuli (diragukan)
Tolbutamid Cacat bawaan Talidomid Forkomelia dan
malformasi lainnya Tetrasiklin Gigi berpigmen,
hipoplasi email Propiltiourasil /
metimazol
Goiter
Trimetadion / para metadion
Sedangkan obat-obat yang diberikan pada ibu hamil yang mempunyai pengaruh buruk terhadap
bayi baru lahir, misalnya :
Anestesi yang menguap Depresi SSP Anestesi kaudal dengan
mepivakain
Bradikardi, apnea, kejang Aspirin Pendarahan pada bayi
serotinus
Bromida Depresi SSP, ruam
Derivat morfn / adiksi Sindrom putus obat (bayi malas minum, muntah,
diare, gelisah, berkeringat, tremor, kejang)
Naftalen, nitrofurantoin, primaquin
Anemia hemolitik/G6PD Indometasin PDA
MgSO4 Depresi pernapasan, hipotonia
• Bayi dari ibu yang menderita diabetes melitus dapat menderita organomegali, berat lahir diatas 4000 gram, hipertrof dan hiperplasia sel beta pankreas janin dan gangguan metabolik pada neonatus.
• angka kejadian cacat bawaan lebih tinggi pada ibu hamil yang mendapat terapi hormon, ibu yang pada waktu hamil usianya lebih dari 35 tahun dan kelainan hormon tiroid.
• Kelainan posisi janin dan kekurangan
cairan ketuban dapat mengakibatkan cacat bawaan, misalnya talipes, mikrognatia, dll. Kesalahan implantasi dari ovum dapat mengakibatkan gangguan nutrisi sehingga terjadi retardasi pertumbuhan janin.
• Infeksi
Hampir semua penyakit infeksi yang berat yang diderita ibu pada waktu
hamil, masih mengakibatkan
keguguran, lahir mati, atau BBLR. Beberapa mikroorganisme tertentu dapat menyebabkan infeksi pada janin, gangguan pertumbuhan janin, bahkan cacat bawaan.
• Bukan infeksi
Ibu yang menderita hipertensi yang tidak diobati, akan mengakibatkan retardasi pertumbuhan intrauterin dan lahir mati. Ibu menderita goiter endemik, bayinya bisa menderita hipotiroid kongenital.
• Sebelum fase organogenesis, radiasi
dengan dosis 10 rad dapat
menyebabkan kematian janin.
Sebaiknya hindari penyinaran pada waktu hamil muda.
• Pada rhesus dan ABO antagonisme sering mengakibatkan hydrops foetalis, bayi lahir mati. Pada umumnya terjadi setelah plasenta terbentuk yaitu pada trimester II kehamilan. Pada rhesus antagonisme antibodi yang terbentuk ukuran kecil 7 S-globulin, sehingga mudah menembus plasenta dengan akibat terjadi “erythroblastosis foetalis”.
• Penatalaksanaannya adalah melahirkan bayi sebelum waktunya dengan induksi, untuk menjaga jangan terjadi hydrops foetalis. Atau melakukan transfusi sel darah merah yang Rh negatip intra-peritoneal, agar janin dapat tumbuh sempurna dan mempunyai kemungkinan hidup lebih besar.
• Menurunnya oksigenasi janin melalui gangguan
pada plasenta dan tali pusat, dapat mengakibatkan BBLR. Keadaan ini terdapat pada ibu hamil dengan hipertensi, kehamilan serotinus, kehamilan dengan penyakit jantung, ginjal, asma, diabetes melitus, dll. Ibu yang menderita toksemia pada waktu hamil akan melahirkan bayi KMK, prematur dan kematian intrateurin.
• Keadaan kejiwaan ibu selama hamil
dapat mempengaruhi janin yang dikandungnya suatu kehamilan sebaiknya adalah kehamilan yang benar-benar dikehendaki.
• Masa perinatal merupakan masa yang penting
Keadaan-keadaan penting yang harus diperhatikan pada masa perinatal
• Asfksia neonatorum adalah suatu keadaan dimana
bayi tidak dapat bernafas secara spontan, teratur dan adekuat.
• Akibatnya bayi – bayi ini memiliki IQ yang lebih
rendah dan bahkan ada yang menderita retardasi mental. Oleh karena itu sebaiknya kita mencegah terjadinya asfksia neonatorum, atau jika terjadi asfksia harus ditolong dengan cepat dan tepat. Perawatan pranatal yang teliti dan menemukan ibu dengan resiko tinggi dan mengawasi sebaik mungkin, akan mengurangi angka kejadian asfksia neonatarum.
• Angka kejadian trauma lahir masih tinggi
pada persalinan yang ditolong oleh bukan tenaga kesehatan. Trauma lahir disamping angka kematiannya tinggi, juga dapat menghambat tumbuh kembang anak. Dengan pengawasan pranatal yang baik, maka akan dapat dilakuakan tindakan dini sehingga bayi lahir dengan selamat.
Hipoglikemia bila kadar glukosa darah kurang dari 20mg% pada BBLR atau kurang dari 30mg% pada bayi cukup bulan. Keadaan ini dapat disertai dengan gejala klinik, dan bila tidak diobati dengan segera dapat menyebabkan kematian atau kerusakan berat pada otak. Setiap bayi resiko tinggi yang baru lahir harus dimonitor kadar glukosanya.
• semua penderita hiperbilirubinemia
dilakukan pemeriksaan berkala, baik pertumbuhan fsik, motorik, perkembangan mental dan ketajaman pendengarannya. Penatalaksanaan yang baik dari penderita hiperbilirubinemia adalah sangat penting untuk mencegah akibat tersebut diatas.
• Pencegahan BBLR adalah sangat penting,
yaitu dengan pemeriksaan prenatal yang baik dan memperhatikan gizi ibu. Angka kesakitan dan kematian BBLR dapat ditekan dengan penanganan yang baik atas dasar pengetahuan yang memadai tentang seluk beluk BBLR.
• Infeksi pada bayi baru lahir ini pada
umumnya mortalitasnya tinggi, sehingga pencegahan sangat penting.
• Pencegahan dititikberatkan pada cara kerja
aseptik, misalnya alat – alat minum, alat – alat resusitasi, alat pemberi oksigen yang steril, perawatan tali pusat yang baik dan kebiasaan mencuci tangan oleh petugas di pusat perawatan bayi, baik sebelum maupun sesudah memeriksa bayi.
Faktor postnatal yang mempengaruhi kualitas anak adalah faktor bio-fsiko-psiko-sosial.
•komponen biologis : kesehatan tubuh atau organ, keadaan gizi, kekebalan terhadap penyakit.
•Komponen fsis: perumahan, kebersihan lingkungan, fasilitas kesehatan dan pendidikan. •Komponen psikososial : kesehatan jiwa,
stimulasi mental, pengaruh
faktor lingkungan postnatal yang mempengaruhi tumbuh kembang anak, yaitu :
Gizi Anak
Kesehatan Anak
Keluarga Imunisasi
Perumahan
Sanitasi Lingkungan
Stimulasi
• Makanan memegang peranan yang penting
dalam tumbuh kembang anak. Kekurangan makanan yang bergizi akan menyebabkan retardasi pertumbuhan anak. Makan yang berlebihan juga tidak baik, karena dapat menyebabkan obesitas. Kedua keadaan ini dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas anak.
• ASI ( air susu ibu ) dapat menurunkan morbiditas
dan mortalitas anak, karena ASI disamping nilai gizinya tinggi juga mengandung berbagai macam zat anti yang melindungi anak dari berbagai macam infeksi.
• Sebaiknya tidak memberikan makanan
selain ASI sampai anak berumur 6 bulan, dan pemberian makanan pada anak dibawah 3 tahun bisa 5 – 6 kali perhari untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembanganya.
• Setelah menderita sakit anak perlu
• Kesehatan anak harus mendapat perhatian dari para orang tua, yaitu dengan cara segera membawa anaknya yang sakit ke tempat pelayanan kesehatan yang terdekat.
• Anak yang sering sakit, biasanya pertumbuhannya akan terganggu. Oleh karena itu kita perlu memberikan makanan ekstra pada setiap anak sesudah menderita suatu penyakit.
• Anak yang menderita penyakit menahun seperti asma, sakit jantung, sakit ginjal, dll, tidak hanya terganggu tumbuh kembangnya tapi juga pendidikannya.
• Pemberian imunisasi pada anak adalah
penting untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas terhadap penyakit – penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi. Misalnya penyakit TBC, diphteria, tetanus, pertusis, polio, campak dan hepatitis.
• Keadaan perumahan yang layak
dengan konstruksi bangunan yang tidak membahayakan penghuninya, akan menjamin kesehatan dan keselamatan penghuninya.
• Kebersihan, baik kebersihan perorangan maupun
kebersihan lingkungan memegang peranan penting dalam tumbuh kembang anak. Kebersihan perorangan yang kurang, akan menyebabkan timbulnya penyakit – penyakit kulit dan saluran pencernaan.
• pendidikan kesehatan kepada masyarakat harus
ditunjukan bagaimana membuat lingkungan menjadi layak untuk tumbuh kembang anak, sehingga meningkatkan rasa aman bagi ibu / pengasuh anak dalam menyediakan kesempatan bagi anaknya untuk mengeksplorasi lingkungan.
• Untuk perkembangan motorik serta
pertumbuhan otot – otot tubuh diperlukan stimulasi yang terarah dengan bermain, latihan – latihan atau olahraga yang teratur. Anak perlu diperkenalkan dengan olahraga sedini mungkin, karena dengan olahraga tidak hanya membentuk fsik anak tetapi juga mentalnya agar anak tumbuh dengan baik.
• Dengan keluarga berencana ( KB ) maka
sebuah keluarga dapat merencanakan kapan mulai punya anak, berapa jumlah anak yang diinginkan, berapa tahun jarak antara anak satu dengan anak lainnya dan kapan berhenti dan tidak hamil lagi.
• Untuk menjaga kesehatan ibu dan anak
sebaiknya jarak antara kehamilan tidak kurang dari 2 tahun untuk memulihkan kesehatannya sebelum hamil lagi. Jika ibu hamil terlalu cepat, maka sering melahirkan BBLR.
• Suasana damai dan kasih sayang sangat
penting dalam tumbuh kembang anak.
• Beberapa faktor yang mempunyai
dampak negatif terhadap pola interaksi keluarga adalah perkawinan yang tidak harmonis, penyakit menahun yang diderita salah satu anggota keluarga, dan adanya gangguan jiwa dari salah satu anggota keluarga.
Interaksi antara orang tua dan anak dapat digambarkan sebagai berikut ( dikutip dari
Klaus 1983 ) :
Faktor Resiko
Dibawah ini adalah berbagai keadaan yang mungkin membawa resiko baik bagi ibu maupun bagi anaknya
( dikutip dari Ebrahim 1985 ) :
Ibu yang dalam resiko, antara lain:
•Umur ibu dibawah 18 dan diatas 35 tahun.
•Tinggi ibu kurang dari 145 cm.
•Hamil pertama kali, atau setelah kehamilan kelima.
•Berat badan sebelum hamil kurang dari 40 kg atau kenaikan berat badan saat hamil kurang dari 7 kg.
•Riwayat sebelumnya terdapat anak yang lahir mati, kematian pada masa neonatal, kesulitan partus dan bayi berat lahir rendah.
•Anemia pada waktu hamil.
•Masalah sosial, seperti pecandu alkohol dan keluarga yang tuna karya.
•Ibu yang terlantar.
•Jarak antara anak satu dan lainnya pendek, kurang dari 24
Anak yang dalam resiko, adalah:
• Berat badan lahir rendah. • Bayi kembar 2,3 atau lebih. • Anak ke 5 atau lebih.
• Kehamilan pada ibu sebelum anak berumur 18 bulan.
• Sedang menderita sakit pertusis, campak, diare atau penyakit yang berat lainnya.
• Riwayat malnutrisis atau ada saudaranya yang meninggal.
• Tidak ada kenaikan berat badan pada 2 bulan terakhir.
KEPENDUDUKAN DAN
KEPENDUDUKAN
Masalah Kependudukan :
•jumlah yang besar
•pertumbuhan yang tinggi
195
0 1961 1971 1980 1990 2000 2010
Jumlah Penduduk
( Juta )
79,5
4 97,02 119,21 147,49 179,38 206,3 237,64
Jumlah
Perempuan 15 – 49 Tahun ( Juta )
38,1 23,75 28,62 35,94 46,09 57,34 65,21
Jumlah
Penduduk 0 – 14 Tahun ( juta )
31,1 41,04 52,04 60,04 65,69 63,21 68,60
Jumlah
Penduduk 16 – 64 Tahun ( Juta )
45,2
6 53,38 63,34 81,94 106,8 133,06 157,05
Jumlah
Penduduk 65+ Tahun ( Juta )
3,18 2,61 2,97 4,77 6,75 9,58 11,98
Angka
1950-Tabel Status Gizi Anak
• Program keluarga berencana adalah bagian
yang terpadu ( integral ) dalam program Pembangunan Nasional dan bertujuan untuk turut serta mensejahterakan ekonomi, spiritual dan sosial budaya penduduk Indonesia, agar dapat diciptakan keseimbangan yang baik dengan kemampuan produksi nasional.
• Keluarga berencana adalah suatu usaha
Tujuan Keluarga Berencana
Tujuan Umum :
•
Tujuan kuantitatif adalah untuk
menurunkan dan mengendalikan
pertumbuhan penduduk,
•
Tujuan kualitatif adalah untuk
mewujudkan Norma Keluarga Kecil
yang
Bahagia
dan
Sejahtera
Tujuan Khusus :
• Untuk meningkatkan cakupan program,
baik dalam arti cakupan luas daerah maupun cakupan penduduk usia subur yang memakai metoda kontrasepsi.
• Meningkatkan kualitas ( dalam arti lebih
Lanjutan...
• Menurunkan kelahiran.
• Mendorong kemandirian masyarakat dalam melaksanakan keluarga berencana, sehingga norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera ( NKKBS ) bisa menjadi suatu kebutuhan hidup masyarakat.
Faktor resiko yang mempengaruhi kesehatan ibu dan anak yaitu :
1. Kehamilan sebelum umur 18 tahun dan sesudah 35 tahun.
2. Resiko kematian anak meningkat sekitar 50% jika jaraknya kurang dari 2 tahun.
RIWAYAT PROGRAM KELUARGA BERENCANA NASIONAL
• Pada tahun 1953 sekelompok masyarakat yang
terdiri dari berbagai golongan, khususnya dari tenaga kesehatan memulai prakarsa keluarga berencana.
• Dibentuk Perkumpulan Keluarga Berencana
Indonesia ( PKBI ) pada tahun 1957.
• Departemen Kesehatan merupakan penunjang
Lanjutan...
• Kemudian dibentuk Badan Koordinasi
Keluarga Berencana Nasional ( BKKBN ) pada tahun 1970, yaitu suatu badan pemerintah non departemental yang bertugas mengkoordinasi segala kegiatan yang menyangkut program Keluarga Berencana secara nasional.
KELUARGA BERENCANA DILINGKUNGAN DEPARTEMEN KESEHATAN
• RAKERNAS III telah menetapkan bahwa keluarga berencana merupakan prioritas utama dalam program kesehatan.
Lanjutan...
• Dengan adanya Keppres 44 dan 45
Menuju gerakan KB nasional tahap ke II
Pondasi Gerakan KB Nasional Tahap Kedua, yaitu :
•Komitmen politik tinggi dan berkelanjutan.
•Organisasi dengan manajemen yang handal dalam
pelayanan KB.
•Gerakan masyarakat yang mempunyai semangat
dan daya tahan yang cukup tangguh.
•Arus informasi timbal balik yang sehat.
•Pelayanan dengan dukungan logistik yang dinamis. •Partisipasi masyarakat yang akrab, saling
menghargai dan penuh pengertian.
•Umpan balik yang jujur untuk saling membangun
Sasaran Program Keluarga Berencana
• Pasangan usia subur ( PUS ) yang Ingin
mencegah kehamilan karena alasan – alasan pribadi.
• PUS yang ingin menjarangkan
kehamilan.
• PUS yang ingin membatasi jumlah anak. • PUS yang membutuhkan usaha keluarga
MANFAAT KELUARGA BERENCANA DIPANDANG DARI SEGI KESEHATAN
Untuk Ibu, Dengan jalan mengatur jumlah dan jarak kelahiran, ibu mendapat manfaat berupa:
•Perbaikan kesehatan badan karena tercegahnya
kehamilan yang berulang kali dalam jangka waktu yang terlalu pendek.
Untuk anak – anak yang akan dilahirkan:
• Anak yang dilahirkan dapat tumbuh
secara wajar karena ibu yang
mengandungnya berada dalam
keadaan sehat.
• Sesudah lahir anak tersebut akan
Untuk anak – anak yang lain:
• Memberi kesempatan mereka agar
perkembangan fsiknya lebih baik karena setiap anak memperoleh makanan yang cukup dari sumber yang tersedia di dalam keluarga.
• Perkembangan mental dan sosialnya lebih sempurna karena pemeliharaan yang lebih baik dan lebih banyak waktu yang dapat diberikan oleh ibu untuk setiap anak.
Untuk ayah, memberikan kesempatan padanya untuk :
• Memperbaiki kesehatan fsiknya.
• Memperbaiki kesehatan mental dan sosial karena kecemasan berkurang serta lebih banyak waktu terluang untuk keluarganya.
Untuk seluruh keluarga:
• Kesehatan fsik, mental setiap anggota keluarga tergantung dari kesehatan seluruh keluarga.
Bonus Demograf
Faktor – Faktor Hubungan Bonus Demograf dengan Pertumbuhan Ekonomi
• penawaran tenaga kerja ( labbor
supply )
• peran perempuan • tabungan
Hal – Hal yang Harus Diperhatikan
dalam Mensukseskan Bonus Demograf :
• Angkatan kerja yang berlimpah harus
berkualitas
• Tersedianya lapangan pekerjaan
yang memadai
• Jumlah anak sedikit dengan
pendidikan yang maksimal
• Mengurangi anak berumur 0 – 15
Proyeksi ramalan
2005 2010 2015 2020 2025 2030 2035 2040 2045 2050
Jumlah Penduduk
(Juta) 225,31 238,37 250,42 261,05 270,11 277,56 283,87 288,83 292,17 293,17 Pertambahan
Jumlah Penduduk/Tahun
2,75 2,61 2,41 2,12 1,81 1,49 1,26 0,99 0,66 0,32
Jumlah Perempuan 15 – 49 Tahun ( Juta )
62,1 65,7 68,5 70,11 70,94 70,88 70,2 69,1 67,7 66,3
Jumlah Penduduk 0 – 14 Tahun
( Juta )
64,66 64,12 63,6 62,13 60,23 58,01 58,4 55,16 54,06 52,56
Jumlah Penduduk 15 – 64 Tahun
( juta )
148,25 168,16 170,79 180,38 187,18 192,03 194,74 195,25 193,71 191,56
Jumlah Pemduduk 65+
Tahun ( Juta )
12,39 14,06 16,02 18,53 22,68 26,92 32,64 38,41 44,41 49,65
Angka
Implikasi Proyeksi
Kependudukan
• Ledakan bayi kedua
• Kemungkinan adanya “stalling
fertilitas” atau berhentinya penurunan tingkat fertilitas
• Peningkatan harapan hidup
• Ledakan penduduk lanjut usia
Peningkatan Penjaminan Mutu ( Quality assurance = QA )
• Pelayanan KB dengan titik berat pada
konseling dan pengayoman kegagalan KB.
• Pendidikan KB dengan titik berat pada
komitmen politik dan hukum.
• Penerangan dan motivasi dengan titik
berat pada remaja dan pemuda.
• Program pelayanan integrasi dengan titik
berat pada wanita pekerja.
• Pembinaan institusi masyarakat, untuk
Kesimpulan
a. Kualitas tumbuh kembang anak dapat ditingkatkan dengan berbagai usaha baik yang dilakukan orang tua, masyarakat ataupun pemerintah.
Daftar Pustaka
• 1. Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta :
penerbit Buku Kedokteran EGC, 1995.
• 2. Direktorat Bina Kesehatan Keluarga. Buku
Pedoman Petugas Fasilitas Pelayanan Keluarga
Berencana. s.l. : Departemen Kesehatan RI, 1994.
• 3. Badan Pusat Statsitik. Hasil Survei Sosial Ekonomi
Nasional (Susenas), BPS. http://www.bps.go.id/. [Online] 2012.
• 4. Jalal, Fasli. NASKAH ORASI ILMIAH Bonus Demograf :
Tantangan peneliti untuk pengabdian yang konkret dalam pembangunan Negara dan Bangsa. Jakarta : LIPI, 2014.