• Tidak ada hasil yang ditemukan

Stategi dan Dukungan Guru Bagi Siswa yan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Stategi dan Dukungan Guru Bagi Siswa yan"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Stategi dan Dukungan Guru Bagi Siswa yang Mengalami Kesulitan Belajar Khusus

Review Jurnal :

Strategies for Facilitating Learning Support Processes. What can Teachers do Support Learners with Specific Learning Difficulties?

(Mavuso, M. F., 2014: 455-461)

Oleh:

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

Kualitas pendidikan senantiasa menjadi tujuan setiap kebijakan maupun pembicaraan di berbagai institusi akademik lokal, nasional maupun internasional untuk dilakukan perbaikan. Kualitas pendidikan akan dilihat atau diukur dari layanan yang diberikan oleh guru terhadap peserta didik. Keberagaman anak di kelas selama ini masih menjadi permasalahan yang langsung dihadapi oleh guru dan belum menjadi bagian dari kebijakan sekolah tentang prosedur pemberian layanan yang harus diberikan. Keterbatasan informasi mengenai apa dan siapa peserta didik dengan kemampuan beragam tersebut menjadi akar permasalahan mengapa penanganan mereka masih minim.

(3)

Sumber: to assure the free apropriate public education of all children with disabilities, US departement of education. 1998 (Pujaningsih, 2011).

Anak dengan kesulitan belajar spesifik biasanya ditampung dikelas inklusi, namun sering dijumpai pula bahwa bahwa di sekolah regular dijumpai anak dengan kesulitan belajar spesifik. Oleh karena itu guru perlu memiliki kemampuan khusus dalam memilih strategi pembelajaran dan kemampuan khusus untuk menghadapi anak yang mengalami kesulitan belajar. UNESCO (Mavuso, 2014: 455), menjelaskan agar pendidikan inklusi adalah untuk mempromosikan tujuan pendidikan sebagai hak asasi manusia dan memungkinkan sekolah untuk melayani semua peserta didik termasuk mereka yang memiliki kebutuhan pendidikan khusus.

Sejalan dengan lembaga UNESCO diatas National Center for Learning Disabilities atau disingkat NCLD (2014: 8), memaparkan hampir semua responden (90%) mengetahui bahwa melanggar hukum bagi pendidik untuk memberhentikan seorang peserta didik karena ketidakmampuan belajar. ini artinya bahwa peserta didik mendapat hak yang sama dalam memperoleh ilmu pengetahuan serta dibantu bila mengalami kesulitan bukan ditinggalkan atau dibiarkan bila mengalami kesulitan belajar.

Sebelum memberikan layanan atau bantuan akademik pada siswa yang mengalami kesulitan belajar spesifik terlebih dahulu harus mengenal atau mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar. dengan mengenal siswa yang mengalami kesulitan belajar maka akan dengan muda memberikan layanan yang cocok.

(4)

menghilangkan hambatan yang mungkin menghambat belajar, dengan dukungan dilihat sebagai meningkatkan proses belajar dengan berinteraksi dengan penyedia dukungan yang sesuai (DoE: Mavuso, 2014). dukungan belajar adalah pendekatan kolaboratif untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang mengalami hambatan. Magare, Kitching dan Roos (Mavuso, 2014) lebih memilih untuk menggunakan frase 'mendukung peserta didik, sebagai merujuk memelihara emosional, membangun hubungan positif serta berkomunikasi secara terbuka dengan cara saling percaya.

(5)

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN ANAK BERKESULITAN BELAJAR

Secara harfiah kesulitan belajar merupakan terjemahan dari Bahasa Inggris “Learning Disability” yang berarti ketidakmampuan belajar. Kata disability diterjemahkan kesulitan” untuk memberikan kesan bahwa anak sebenarnya masih mampu untuk belajar. Istilah lain learning disabilities adalah learning difficulties dan learning differences. Ketiga istilah tersebut memiliki nuansa pengertian yang berbeda. Di satu pihak, penggunaan istilah learning differences lebih bernada positif, namun di pihak lain istilah learning disabilities lebih menggambarkan kondisi faktualnya. Untuk menghindari bias dan perbedaan rujukan, maka digunakan istilah Kesulitan Belajar. Kesulitan belajar adalah ketidakmampuan belajar , istilah kata yakni disfungsi otak minimal ada yang lain lagi istilahnya yakni gannguan neurologist (Suryani, 2010: 33).

NJCLD (National Joint Committee of Learning Disabilities) dalam Lerner, (2000) berpendapat bahwa kesulitan belajar adalah istilah umum untuk berbagai jenis kesulitan dalam menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung. Kondisi ini bukan karena kecacatan fisik atau mental, bukan juga karena pengaruh faktor lingkungan, melainkan karena faktor kesulitan dari dalam individu itu sendiri saat mempersepsi dan melakukan pemrosesan informasi terhadap objek yang diinderainya. Kesulitan belajar adalah kondisi dimana anak dengan kemampuan intelegensi rata-rata atau di atas rata-rata, namun memiliki ketidakmampuan atau kegagalan dalam belajar yang berkaitan dengan hambatan dalam proses persepsi, konseptualisasi, berbahasa, memori, serta pemusatan perhatian, penguasaan diri, dan fungsi integrasi sensori motorik

(6)

Kesulitan belajar juga ditujuhkan pada siswa yang lambat dalam kecakapan akademik umum tapi tidak selalu memiliki dasar fisik yang tidak jelas/cacat, maupun tidak disebabkan oleh konteks sosial yang berbeda. Kesulitan belajar tertentu sering dikenal dengan kesulitan belajar khusus/spesifik.

Defenisi yang dikutip dari Hallahan, Kauffman, dan Lloyd (1985): Kesulitan belajar khusus adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih proses psikologis yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran atau tulisan. Gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan , berpikir , berbicara, membaca, menulis, mengeja , atau berhitung. Batasan tersebut mencakup kondisi-kondisi seperti gannguan perseptual, luka pada otak, disleksia, dan afasia perkembangan. Batasan tersebut tidak mencakup anak-anak yang memiliki problema belajar yang penyebab utamanya berasal dari adanya hambatan dalam penglihatan, pendengaran, atau motorik, hambatan karena tunagrahita, karena gangguan emosional, atau karena kemiskinan lingkungan, budaya, atau ekonomi.

Federal law atau hukum federal/IDEA tahun 1997 (Pujaningsih, 2011) Istilah “kesulitan belajar spesifik” menerangkan semua anak yang mengalami gangguan pada satu atau lebih proses psikologis dasr yang melibatkan pemahaman atau penggunaan bahasa, lisan atau tulisan dimana gangguan yang terjadi dapat termanifestasikan menjadi kemampuan yang tidak sempurna untuk mendengar, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau mengerjakan perhitungan matematika. Yang termasuk di dalam istilah ini diantaranya gangguan perseptual, cedera otak, disfungsi minimal otak, disleksia, dan afasia perkembangan. Istilah ini tidak termasuk kondisi-kondisi seperti permasalahan belajar yang penyebab utamanya adalah gangguan penglihatan, pendengaran atau motorik, retardasi mental, gangguan emosional, atau ketidakberuntungan lingkungan, budaya atau ekonomi.

Ministry of Education (2011: 9), Siswa dengan ketidakmampuan belajar

adalah siswa yang mengalami “a) have processing difficulties; b) demonstrate a significant difference between achievement and ability; c) demonstrate below

(7)

(thinking and reasoning). Dapat dipahami bahwa siswa yang mengalami kesulitan

belajar adalah siswa kesulitan mengelola informasi, terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara nilai yang diperoleh dengan kemampuan, dan prestasi belajar dibawah rata-rata. Ketidakmampuan belajar hasil dari gangguan dalam satu atau lebih proses yang terkait dengan mengamati, berpikir, mengingat atau belajar namun tidak terbatas pada pengolahan bahasa, pengolahan fonologi, pengolahan spasial visual, kecepatan pemrosesan, memori, perhatian perencanaan dan pengambilan keputusan.

Berdasarkan pendapat atau gambaran para ahli diatas dpat disimpulkan bahwa anak berkesulitan belajar adalah individu yang mempunyai gangguan pada satu atau lebih proses dasar psikologi yang mencakup kemampuan mental seperti daya ingat, persepsi pendengaran, persepsi penglihatan, bahasa lisan dan proses berpikir. Kesulitan belajar dapat muncul sebagai kesulitan dalam berbicara, mendengar, menulis, membaca (mengenali kata dan pemahaman) dan matematika (perhitungan dan penalaran). Masalah yang tidak langsung disebabkan oleh kelainan sensori (penglihatan, pendengaran), hambatan intelektual, ketidakberuntungan lingkungan. Perbedaan yang nyata antara potensi belajar yang dimiliki dengan tingkatan prestasi belajar yang rendah.

B. MEMBELAJARKAN ANAK BERKESULITAN BELAJAR

Dalam artikel Mavuso digambarkan kegiatan guru di Afrika untuk mendukung belajar siswa yang mengalami kesulitan belajar khusus/spesifik. Mavuso menyimpulkan kegiatan guru di sekolah dalam membantu/mendukung siswa yang mengalami kesulitan belajar dalam empat kegiatan pokok yakni: 1. Give learners extra work, translate the work and re-teach as a learning

support strategy.

(8)

supaya dukungan ini dapat berhasil dengan baik membutuhkan peninjauan proses pelatihan dengan mediator kebijakan dari tingkat provinsi dan kabupaten.

Bila dicerna dari bentuk dukungan belajar ini di Indonesia dikenal dengan pengajaran remedial. Bila dari arti kata “remedial” berarti sesuatu yang bersifat perbaikan. Bila dikaitkan dengan pengajaran maka pengajaran remedial merupakan suatu bentuk pengajaran yang bersifat penyembuhan atau bersifat perbaikan. Pengajaran remedial merupakan bentuk kasus pengajaran, yang bermaksud membuat baik atau penyembuhan (Mulyadi 2010: 44) sedangkan menurut Sugihartono, dkk (2007: 171-172), Remedial merupakan bentuk pengajaran yang bersifat kuratif (penyembuhan) dan atau korektif (perbaikan). Pengajaran remedial merupakan bentuk khusus pengajaran yang bertujuan untuk menyembuhkan atau memperbaiki proses pembelajaran yang menjadi penghambat atau yang dapat menimbulkan masalah atau kesulitan dalam belajar bagi peserta didik.

Bila dicermati pengertian pengajaran remedial, maka pengajaran remedial sebagai bentuk khusus pengajaran bertujuan memperbaiki sebagian atau seluruh kesulitan belajar yang dihadapi oleh murid. Perbaikan diarahkan untuk mencapai hasil belajar yang optimal.

2. Differentiation as a strategy to provide learning support.

Mavuso mengambarkan sebagai pembelajaran multi-level, sebagai strategi yang dapat digunakan untuk menampung peserta didik yang mengalami kesulitan belajar. dikatakan pembejaran multi level karena mengunakan gaya mengajar sesuai dengan keberagaman cara belajar siswa. Ada siswa dengan gaya belajar audio, visual, dan kinestik. Dengan merancang kegiatan belajar sesuai gaya belajar siswa maka dapat mengakomodir kesulitan yang dialami oleh siswa.

(9)

memproses informasi dalam memori. Akan ditemukan peserta didik yang gaya Auditory learners, Visual learners, and Kinesthetic (or hands-on). Pemahaman

gaya belajar tersebut oleh guru sangat penting. Akan ada Peserta didik menonjol dalam satu gaya belajar tapi bisa juga ada peserta didik yang memiliki ketiga gaya belajar diatas. Pemahaman peserta didik tersebut menuntut guru untuk bisa memanfaatkan berbagai media belajar yang bervariasi dalam kegiatan belajar mengajar.

Dari bentuk dukungan yang belajar yang kedua ini bila Mavuso ingin memberitahukan bahwa sebelum melakukan pembelajaran seorang guru harus memahami karekteristik siswa yang akan diajarkan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru di Indonesia dengan tidak menutup kemungkinan siswa yang akan diajarkan bermacam latarbelakang. Maka oleh karena itu sorang guru harus memiliki kemampuan atau mengusai kompetensi guru, memahami kurikulum serta mempunyai kemampuan (pendidikan multikultur) untuk membelajarkan siswa dari berbagai latar belakang yang berbeda.

3. Assessment of learners a strategy to provide learning support

Mavuso menuliskan bahawa penilaian dipandang sebagai bagian integral dari proses belajar mengajar. Tujuannya dari termasuk mengumpulkan informasi tentang pelajar untuk digunakan dalam perencanaan. Penilaian juga mencerminkan informasi tentang peserta didik dalam hal apa yang dia tahu, mengerti, apa yang peserta didik mampu lakukan, serta bagaimana dia belajar (DBE, 2008). Dengan peniliaan guru mampu mengkateogrikan siswa yang mengalami kesulitan belajar khusus. Para guru di Afrika mengatakan bahwa dengan penilaian atau evaluasi belajar siswa dapat diketahui kesulitan belajar spesifik atau khusus yang dialami oleh siswa mereka.

(10)

itu salah satu akan mempertimbangkan aspek-aspek seperti keluarga, sekolah, kelompok sebaya dan masyarakat, sementara memahami proses perkembangana peserta didik dan interaksi dengan lingkungan mereka sebagai fondasi yang diperlukan untuk menafsirkan hasil kinerja.

Dengan penilaian peserta didik yang mengalami kesulitan belajar sering terjebak dalam kegagalan di sekolah. Kesulitan belajar peserta didik mengarah pada keterlambatan penguasaan kemampuan akademik, ketrampilan dan perolehan informasi baru. Lerner (Reid & Ortiz, 2006: 1), Kesulitan belajar siswa akan mempengaruhi seluruh aspek perkembangan siswa termasuk keberhasilan belajar atau akademik. Seperti dalam catatan NCLD (2014: 16), Siswa dengan kesulitan belajar mendapat nilai yang lebih rendah ketimbang yang tidak mengalami kesulian belajar dan siswa yang mengalami kesulitan belajar biasanya tahan kelas. Dengan nilai yang diperoleh siswa dapat dijadikan acuan untuk memetahkan siswa yang mengalami kesulitan belajar khusus, sehigga dengan demikian dapat dirancang layanan atau dukungan belajar yang sesua.

(11)

diderita atau mengganggu peserta didik, sehingga peserta didik mengalami kesulitan, hambatan, atau gangguan ketika mengikuti program pembelajaran dalam suatu bidang study. Kesulitan peserta didik tersebut diusahakan pemecahannya.

Bila dicerna tulisan dari Mavuso, penilaian yang cocok untuk mendukung siswa yang mengalami kesulitan belajar adalah penilaian diagnostic. Dengan penilaian ini guru diharapkan mampu mendiagnostik kesulitan belajar siswa lewat tes tertentu untuk dapat mengetahui atau melokalisisi kesulitan belajar yang dialami siswa sehigga dengan demikian dapat direncanakan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kesulitan belajar siswa.

4. Peer support a strategy to provide learning support

Lerner dan Kline (Mavuso, 2014) menganggap tutor teman sebaya sebagai sebuah konsep yang dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran, menggambarkannya sebagai strategi yang mendorong peserta didik untuk bekerja sama dalam tugas tertentu. Satu pelajar berfungsi sebagai pelajar sementara yang lain berfungsi sebagai tutor, dengan keterampilan tertentu yang diajarkan dan dipelajari. Dukungan sebaya adalah strategi yang berharga yang dapat digunakan untuk mempromosikan akses ke kurikulum umum untuk pelajar dengan cacat berat. Mereka berpendapat bahwa siswa penyandang cacat harus mendapatkan keuntungan dari Penilaian alternatif serta instruksi dukungan sebagai cara untuk mengakses kurikulum bermakna. Dukungan sebaya intervensi memiliki tujuan untuk meningkatkan akses dan memfasilitasi interaksi sosial dalam pengaturan umum.

(12)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Anak berkesulitan belajar adalah individu yang mempunyai gangguan pada satu atau lebih proses dasar psikologi yang mencakup kemampuan mental seperti daya ingat, persepsi pendengaran, persepsi penglihatan, bahasa lisan dan proses berpikir. Kesulitan belajar dapat muncul sebagai kesulitan dalam berbicara, mendengar, menulis, membaca (mengenali kata dan pemahaman) dan matematika (perhitungan dan penalaran). Masalah yang tidak langsung disebabkan oleh kelainan sensori (penglihatan, pendengaran), hambatan intelektual, ketidakberuntungan lingkungan. 2. Dukungan bagi anak berkesulitan belajar meliputi empat stategi yakni: (a)

Give learners extra work, translate the work and re-teach as a learning

support strategy; (b) Differentiation as a strategy to provide learning

support; (c) Assessment of learners a strategy to provide learning support;

dan (d)Peer support a strategy to provide learning support.

B. Saran

1. Bagi guru-guru agar dapat mengenali dan memberikan layanan atau dukungan bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar karena pendidikan adalah hak bagi semua umat manusia. Menggunakan berbagai macam strategi mengajar serta mengoptimal atau bekerja sama dengan berbagai pihak seperti orang tua untuk membantu siswa dalam kegiatan belajar. 2. Bagi pemerintah atau Dinas Pendidikan agar memberikan pelatihan dan

(13)

Sumber:

Hallhan, D.F. , Kauffman, J.M. & Lloyd, J.W. (1985). Introduction to Learning Disabilitis. New Jersey : Prentice-Hall Inc.

KBYU Eleven. (2010). Benefits of Media and the Learning Triangle: Learn how to combine children’s television, books, and hands-on activities to support your child’s learning (versi Pdf). Diambil pada tanggal 15 April 2015, dari www.kbyutv.org

Lerner, Janet. (2000). Learning Disabilities - 9th Edition, Boston: Houghton Mifflin Company.

Mavuso, M, F. (2014). Strategies for Facilitating Learning Support Processes. What can Teachers do Support Learners with Specific Learning Difficulties?. Mediterranean Journal of Social Sciences, Vol 5 No 2, 455-461

Ministry of Education. (2011). Supporting Students with Learning Disabilities; A Guide for Teachers (versi pdf). Diambil pada tanggal 15 April 201 dari http://www.bced.gov.bc.ca/specialed/docs/learning_disabilities_guide.pdf

Mulyadi, H. (2010). Diagnosis kesulitan belajar: bimbingan terhadap kesulitan Belajar. Yogyakarta: Nuha Litera

National Center for Learning Disabilities. (2014). The State of Learning Disabilities Facts, Trends and Emerging Issues. New York: National

(14)

Pujaningsih. (2011). Pendidikan Anak Berkesulitan Belajar Spesifik. Makalah disampaikan pada Diklat Pengembangan Kompetensi Guru SLB non PLB DINAS DIKPORA DIY 26-31 Maret 2011 di Hotel Syailendra Yogyakarta Reid, R. & Ortiz, T. (2006). Strategy Instruction for Students with Learning

Disabilities. New York: The Guilford Press

Sugihartono,.dkk. (2007). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press

Suryani, Y. Erma. (2010). Kesulitan Belajar. Magistra .No. 73 Th. XXII, 33-47

Referensi

Dokumen terkait

[r]

RINCIAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH, ORGANISASI, PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN.. TAHUN

menyebabkan siswa kurang mengerti komponen yang terdapat pada scooter.Untuk mengetahui bentuk komponen scooter , siswa hanya dapat melihat bentuk komponen dalam

The retailers claim this to be in response to consumer needs and wants, particularly in relation to convenience and variety and yet the findings also highlighted the fact that

Sehubungan dengan pelelangan pekerjaan paket tersebut diatas, maka Pokja memerlukan klarifikasi dan verifikasi terhadap Dokumen Penawaran dan Kualifikasi saudara

Tujuan penelitian untuk menentukan ranking prioritas aset irigasi di wilayah Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Bangsalsari sehingga dapat mempermudah dalam penentuan

Demikian Penetapan ini, apabila ternyata terdapat kekeliruan akan dilakukan perubahan. Pejabat

Regresi logistik digunakan karena variabel dependen berupa kategori (variabel dikotomi), yakni dengan memberikan skor satu (1) pada perusahaan yang