• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. Hukum Berbasis Syariah Kedudukan Lega

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "4. Hukum Berbasis Syariah Kedudukan Lega"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 1 HUKUM BERBASIS SYARIAH

Kedudukan Legal Perempuan dan Anak di Banten dan Jawa Barat1

Oleh: Euis Nurlaelawati Diterjemahkan oleh: Agung Mazkuriy

Email: [email protected]

1. Pendahuluan

Sejak lengsernya Suharto pada tahun 1998, seruan untuk menerapkan sistem

syariah meluas. Hal ini bukan berarti sebelum tahun 1998 tidak ada pengembangan

sistem syariah yang terjadi. Contoh kasus populer adalah Instruksi Presiden (Inpres)

Nomor 1 Tahun 1991, yaitu Kompilasi Hukum Islam yang selanjutnya disebut KHI,

dianggap sebagai langkah menuju kodifikasi atas hukum Islam di tingkat nasional

lebih lanjut. Bahkan tidak hanya di tingkat nasional, tetapi di tingkat daerah juga

terdapat banyak sekali perkembangan syariah ini. Memang, dampak dari kebijakan

desentralisasi yang dicanangkan pada tahun 1999, penerapan syariah telah

memanifestasikan dirinya di tingkatan lokal dalam bentuk sangat variatif dari satu

daerah ke daerah lainnya.

Desentralisasi tidak melimpahkan kewenangan kepada Daerah untuk

mengurusi kebijakan terkait keagamaan dan, terlepas dari kasus Aceh yang diberikan

kewenangan penuh untuk mengatur jalannya pemerintahan tersendiri setelah

Perjanjian Helsinki pada Agustus 2005, Pemerintah Daerah (Pemda) tidak

diperkenankan untuk mengeluarkan peraturan berkaitan keagamaan (kebijakan terkait

keagamaan adalah kewenangan Pemerintah Pusat: penerjemah). Artinya, penerapan syariah di tingkat lokal dibatasi, dalam arti penerapan syariah Islam di ruang publik.

Sebagian besar kekhawatiran yang melatarbelakangi munculnya Perda berbasis

syariah berhubungan ritualitas bersifat keagamaan dan kekhawatiran terhadap

1

(2)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 2 moralitas.2 Akan tetapi adanya kekhawatiran-kekhawatiran tadi tidak berarti bahwa

inisiatif atas pengambilan kebijakan yang diambil tidak memiliki signifikansi.

Contohnya adalah (tuntutan) pembatasan kebebasan ruang gerak perempuan di bawah

Perda berbasis syariah yang mengharuskan perempuan untuk mengenakan jilbab di

kantor-kantor pemerintah dan lembaga-lembaga pendidikan serta membatasi

kebebasan kaum perempuan untuk keluar rumah pada malam hari. Dalam pandangan

bias masyarakat, kaum pria sendiri memandang ketidakadilan dan ketidaksetaraan

tersebut merupakan kelumrahan. Cara pandang melihat isu gender seperti ini dapat

menyebabkan terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan marginalisasi hak politik

dan ekonomi terhadap kaum perempuan. Anak-anak mungkin juga mengalami

dampak diskriminasi oleh orang tua atau pihak lainnya. Di pengadilan,

ketidaksetaraan ini bisa jadi menampakkan diri dalam bentuk keputusan hakim yang

tampak tidak fair, karena lahirnya keputusan lebih cenderung beranjak dari

pemahaman subordinasi perempuan dan perspektif bias gender dalam metode

pengambilan keputusan.

Secara umum, upaya penerapan syariah telah dilakukan secara berkelanjutan

di Indonesia sehubungan dengan meningkatnya produk hukum dan Undang-Undang

yang membela hak-hak dan status kesetaraan kaum perempuan dan anak-anak.

Misalnya, beberapa Pasal dalam UU Perkawinan (UU No. 1 tahun 1974) dan juga di

KHI yang mencoba untuk memberikan perlindungan kepada perempuan dan

anak-anak. Selain itu, Indonesia yang telah meratifikasi sejumlah kovenan internasional

tersebut telah memperkuat sektor pemberdayaan dan perlindungan kaum perempuan

dan anak-anak. Lebih jauh lagi, reformasi sistem peradilan juga telah diperkenalkan

oleh Pengadilan Agama sebagai hasil dari kerjasama yang intens dengan para

pendonor internasional. Sampai batas-batas tertentu, kedudukan perempuan cukup

membaik dan perempuan kini telah mendapatkan keadilan lebih dalam beberapa

kasus meski harapan dan keinginan perbaikan kedudukan perempuan dan anak-anak

(3)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 3 dalam hukum belum sepenuhnya terwujudkan, dan kondisi ini telah membawa

tuntutan secara berkelanjutan untuk melakukan revisi dan penyempurnaan

produk-produk hukum yang mana dalam rangka adanya revisi tersebut dapat mewujudkan

banyak perubahan sosial yang terjadi dan mampu mempengaruhi minat anak-anak,

dan hubungan antara perempuan dan laki-laki.

Kontribusi dalam penelitian ini didasarkan pada penelitian yang mengkaji

keputusan pengadilan dan narasi-narasinya dalam sesi persidangan, juga menyelidiki

bagaimana hukum dalam isu-isu keluarga, terutama hukum yang berhubungan

dengan perempuan seperti UU Perkawinan dan KHI diaplikasikan.3 Kasus yang dikaji

dalam penelitian ini meliputi kasus perceraian, hak asuh, mu’tah (biaya nafkah) oleh suami kepada istri dan tunjangan (hadhanah) untuk anak-anak, dan poligami di tiga pengadilan: Cianjur di Jawa Barat, dan Serang serta Tangerang di Banten. Penelitian

ini juga mengamati pada hukum nasional dengan titik anjak tataran praktisnya

melalui cara mengamati respon kaum perempuan dan penerapannya oleh hakim

Pengadilan Agama. Beberapa sidang yang dihadiri, mengamati Hakim – dalam

persidangan yang melibatkan perempuan tertentu – dan mewawancarai pihak-pihak

terkait serta menganalisa putusan pengadilan. Penelitian ini dilakukan selama enam

bulan dalam tiga periode pada tahun 2010. Pertama berlangsung dari Mei hingga

Juni, kedua dari Agustus hingga Oktober, dan terakhir dilakukan pada bulan

Desember. Pada tahun 2011, dalam rangka untuk lebih memahami pengetahuan

hukum dan kesadaran perempuan pada umumnya, kami mewawancarai 12

perempuan dan mendistribusikan kuesioner kepada 100 responden wanita di tiga

wilayah yang berbeda di Tangerang. Berkenaan dengan isu-isu perempuan di ranah

publik tersebut, serta salah satu regulasi yang ditetapkan oleh Daerah dipelajari secara

seksama, yaitu Perda bermotif berbasis syariah di Cianjur yang mewajibkan

perempuan PNS beragama Islam untuk mengenakan jilbab. Untuk mendapatkan

gambaran dari respon para perempuan, saya mewawancarai beberapa perempuan,

3

(4)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 4 membagikan kuesioner dan mengunjungi kantor Pemda Cianjur, pihak Kepolisian

setempat dan Rumah Sakit Umum setempat.

Dengan menyajikan sejumlah kasus yang terjadi di Pengadilan, kesimpulan

yang didapati bahwa kedudukan perempuan dalam hukum telah diperkuat setelah

adanya reformasi teknis peradilan diperkenalkan. Penelitian ini juga menunjukkan

bahwa perempuan masih menghadapi perlakuan diskriminatif dalam keputusan

Pengadilan dalam kasus-kasus yang berlatarbelakang kekeluargaan dan oleh sejumlah

Perda yang membatasi ruang gerak perempuan di ruang publik.

2. Kedudukan Perempuan dalam Perundang-undangan Nasional dan Peraturan Daerah

Isu perempuan telah lama menjadi topik penting dalam diskursus hukum di

negara-negara Muslim. Di bawah ketentuan syariah, kaum perempuan memiliki

kedudukan berbeda dari kaum laki-laki. Hal ini terjadi mengingat adanya fakta bahwa

banyak hukum keluarga dalam Islam klasik menempatkan perempuan dalam posisi

subordinat kaum laki-laki. Pemerintah Indonesia sendiri telah berinisiasi melakukan

reformasi hukum dan memperkenalkan aturan legal baru di tingkat nasional, termasuk

di antaranya mengesahkan UU No. 1/1974 tentang Perkawinan dan KHI pada tahun

1991, guna memberdayakan kedudukan perempuan dalam hukum keluarga. Bab ini

membahas kedudukan perempuan dan aturan hukum yang berlaku bagi mereka dalam

lingkup hukum kekeluargaan Islam dan di dalam Perda-perda syariah.

2.1 Hukum Perorangan atau Hukum Keluarga

Mengikuti tren di sejumlah negara Muslim dalam menyusun hukum

kekeluargaan menurut Islam, Indonesia mengeluarkan apa yang disebut Kompilasi

Hukum Islam (KHI) pada tahun 1991. Hal ini juga sejalan dengan meningkatnya

tuntutan masyarakat untuk kesetaraan gender di sudut lain. Indonesia telah

menggunakan KHI untuk melindungi kepentingan perempuan, memberi perhatian

(5)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 5 peraturan-peraturan berhubungan perihal di atas, yang telah ditetapkan di dalam KHI.

Saya akan mengacu pada KHI meski saya menyadari legal standing-nya yang rendah karena berupa Instruksi Presiden. KHI adalah kumpulan peraturan yang berlaku

khusus untuk umat Islam Indonesia dan masalah-masalah hukum yang berkaitan

dengan KHI ditangani oleh hakim di Pengadilan Agama.

Apabila mengamati aturan hukum berkaitan poligami yang diperkenalkan di

negara-negara Muslim, ada dua tren mengemuka. Pertama, praktek poligami

seluruhnya dihapuskan dan dianggap sebagai tindak kejahatan; dan yang kedua

adalah poligami diperbolehkan, tetapi untuk menghindari penyalahgunaannya dalam

praktek dibuatlah peraturannya secara ketat.4 Terkait pendekatan poligami yang

terakhir, untuk melakukan poligami memerlukan adanya izin dari Pengadilan Agama

dan prakteknya ini tergantung pada suami dalam memenuhi persyaratan dan

kondisi-kondisi tertentu. Di antara yang termasuk ‘kondisi tertentu’ ini adalah standar

sebagaimana telah ditetapkan Alquran yaitu ‘berlaku adil’, yang di sini tidak lagi urusan moralitas dalam hati nurani individu, melainkan menjadi masalah hukum yang

akan diputuskan oleh Pengadilan Agama.

Indonesia sendiri telah memilih pendekatan yang kedua, yaitu

memperbolehkan poligami. Pasal 55, 56 dan 57 KHI secara bersamaan

mengakomodir poligami dan kondisi-kondisi serta kualifikasi-kualifikasi yang

dipersyaratkan untuk melakukan poligami. Pasal-Pasal tersebut menegaskan bahwa

poligami bisa dilakukan hanya jika semua kondisi dalam rumusan Pasal-Pasal

tersebut terpenuhi, meski hanya salah satu alasan yang disebutkan dalam KHI

tersebut. Tidak terpenuhinya persyaratan berakibat adanya larangan. Terlepas dari

semua itu, persetujuan Pengadilan sangatlah memiliki peran sentral, artinya bahwa

pernikahan poligami dapat diakui secara hukum hanya jika disetujui oleh Hakim

Pengadilan Agama. Di sisi lain, dalam Pasal 58 ayat (3) dan Pasal 59 menghapuskan

4

(6)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 6 syarat adanya persetujuan dari pihak istri. Pasal 58 ayat (3) mengatur kondisi ketika

pihak istri tidak hadir dalam persidangan atau keberadaannya tidak diketahui,

ketentuan Pasal tersebut menggugurkan pihak istri untuk terlibat dalam persidangan

dalam kasus poligami. Ketentuan ini secara tersirat menyatakan bahwa adanya

persetujuan dari istri atau tidak, tidaklah harus dipertimbangkan jika pihak istri tidak

bisa hadir dalam persidangan, atau jika keberadaan istri atau istri-istrinya tidak

diketahui selama dua tahun, atau jika ada kondisi lain yang mencegah pihak

istri/istri-istrinya untuk hadir dalam persidangan yang sedang ditinjau oleh hakim.5

Selanjutnya, Pasal 59 menetapkan aturan mengenai perihal bila mana suami telah

menyampaikan alasan untuk melakukan perceraian, tapi pihak istri/istri-isterinya

menolak untuk memberikan persetujuannya. Dalam kondisi demikian, Pengadilan

memiliki kewenangan yang superior. Hal tersebut dinyatakan sebagai berikut:

Dalam hal istri tidak mau memberikan persetujuan, dan permohonan izin untuk beristri lebih dari satu orang berdasarkan atas salah satu alasan yang diatur dalam pasal 55 ayat (2) dan 57, Pengadilan Agama dapat menetapkan tentang pemberian izin setelah memeriksa dan mendengar istri yang bersangkutan di persidangan Pengadilan Agama, dan terhadap penetapan ini istri atau suami dapat mengajukan banding atau kasasi.6

Pihak istri atau suami sendiri bisa mengajukan banding ke pengadilan yang lebih

tinggi (Pengadilan Tinggi: penerjemah).

Poligami juga diatur oleh dua Peraturan Pemerintah (disingkat PP), yaitu PP

No. 10/1983 dan PP No. 45/1990 yang berlaku untuk kalangan Pegawai Negeri Sipil.

PP No 10/1983 mengatur prosedur untuk PNS laki-laki dalam hal poligami.

Ketentuan PP tersebut menyatakan bahwa PNS laki-laki bisa melakukan poligami

hanya jika memperoleh izin dari atasannya dan melarang PNS perempuan untuk

menjadi istri kedua bagi PNS laki-laki. Sedangkan PP No. 45/1990 menetapkan

aturan yang ketat dalam melarang PNS perempuan dinikahi bukan hanya oleh PNS

pria, tetapi juga dalam hal dinikahi kalangan non PNS.

5 Pasal 58 KHI.

6

(7)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 7 Perihal perceraian, Indonesia seperti negara-negara muslim lainnya, mengatur

praktek perceraian dengan mengharuskan suami dan istri untuk membawa gugatan

cerai ke Pengadilan. KHI termasuk yang mengatur secara rinci tentang proses

perceraian dan menentukan alasan-alasan untuk perceraian yang bisa diperbolehkan.

Sebuah reformasi hukum yang memperkuat hak-hak istri telah dijalankan

dalam proses perceraian menyangkut permohonan istri, yang di Indonesia jamak

dikenal sebagai gugat cerai. KHI menyebutkan dua jenis proses perceraian dengan

cara tersebut, sebagaimana ketentuannya diatur dalam Pasal 148. Dalam ketentuan

Pasal tersebut tidak meninggalkan ruang untuk adanya interpretasi, tetapi menyatakan

bahwa perihal pihak perempuan yang ingin mengajukan permohonan cerai khuluk

yang mana mewajibkan pihak perempuan membayar kompensasi bersifat finansial

(iwadl) kepada pihak pria –, hakim dari Pengadilan Agama harus menjelaskan konsekuensi khuluk kepada pihak suami dan istri. Setelah kedua belah pihak sepakat pada jumlah kompensasi finansial (iwadl), Pengadilan Agama mengeluarkan keputusan pemberian izin bagi suami melakukan perceraian. Tidak ada proses

banding atas keputusan ini. Namun, ketika tidak tercapai kesepakatan tentang jumlah

kompensasi, hakim Pengadilan Agama diminta untuk mendengar dan

memperlakukan kasus tersebut sebagai ‘kasus umum’. Dengan kata lain, proses perceraian tidak bisa dilanjutkan sebagai khuluk.

. Berangkat dari Pasal tersebut, saya memahami bahwa tidak semua perceraian

yang diajukan pihak istri atau gugat cerai dapat diperlakukan sebagai khuluk. Berdasar pemaparan di atas, KHI telah melampaui ketetapan fiqh atau doktrin hukum Islam klasik, dan memperkenalkan reformasi hukum sangat penting, yaitu

memberikan hak bagi pihak istri untuk mengajukan permohonan perceraian tanpa

harus selalu membayar kompensasi financial (iwadl). Artinya, dalam hal ini seorang istri juga memiliki hak untuk mendapatkan kompensasi jika permohonan cerai yang

diajukan menggunakan proses non-khuluk.

Permasalahan hak asuh paska perceraian sendiri diatur dalam Pasal 105 KHI.

(8)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 8 kepada pihak ibu, dan memberikan kebebasan kepada anak-anak yang berusia 12

tahun ke atas untuk memilih salah satu dari orang tuanya untuk menjadi wali mereka.

2.2. Perda Syariah dan Perempuan: Moralitas dan Etika

Regulasi-regulasi berbasis syariah tidak hanya diakomodir oleh

perundang-undangan nasional, tetapi juga dijadikan dasar untuk peraturan-peraturan yang

dikeluarkan di tingkat lokal (Perda). Amandemen kedua UUD 1945 Republik

Indonesia oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dilakukan selama reformasi

pada tahun 1998 telah mendorong munculnya pemberlakuan Perda berbasis syariah.

Pasal 18 UUD 1945 membuka kemungkinan bagi Pemda untuk mengeluarkan Perda

syariah. Pasal tersebut memberi dasar hukum bagi Kabupaten/Kota dalam bingkai

Otonomi Daerah berupa pengelolaan urusan daerahnya sendiri. Otonomi Daerah itu

sendiri merupakan amanat UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah7

dan

UU No. 25 Tahun 1999 Pelayanan Publik yang berlaku pada tahun 2001.7.1

Tujuan utama dari Undang-Undang tersebut adalah untuk pelimpahan

kewenangan yang lebih luas dan kekuasaan untuk Daerah untuk mengelola urusan

mereka sendiri. Diberlakukannya Peraturan Daerah (Perda) telah menjadi salah satu

alat utama Pemda untuk mengembangkan daerahnya masing-masing.8 Dalam tataran

inilah perundang-undangan berbasis syariah mulai mendapat legitimasi untuk

diberlakukan. Terlepas dari Aceh, sejumlah Kabupaten dan Kota telah

memberlakukan peraturan tersebut, termasuk Bulukumba (dikaji juga dalam buku ini

oleh Stijn Cornelis van Huis), Bantul (dikaji oleh Muhammad Latif Fauzi), dan di

Cianjur. Meskipun mayoritas Perda bermotif syariah diberlakukan untuk laki-laki dan

perempuan, namun posisi perempuan paling rentan terpengaruh.

7

UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah ini telah diperbarui dengan diundangkannya UU No. 32 Tahun 2004; penerjemah.

7.1

Nur Rifah dan Ho est Dody Molasy, Questio i g Wo e Se urity i Perda Syariah

Criti s to I do esia Distri t Poli ies , akalah diprese tasika pada the Human Security Conference organized oleh SEAS pada tahun 2010.

(9)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 9 Setidaknya terdapat dua ranah di mana pemberlakuan Perda berbasis syariah

berdampak pada kedudukan perempuan dalam hukum legal. Kedua ranah ini, jika kita

mengacu pengkategorian yang dilakukan oleh Salim, mungkin terklasifikasikan ke

dalam kategori ketertiban umum dan peraturan-peraturan pembatasan aktifitas di ruang publik. Termasuk pelarangan prostitusi dan minuman alkohol, atau pemberlakuan simbolisasi keagamaan yang di antaranya mencakup kewajiban untuk

mengenakan busana muslim.9 Kemunculan Perda-perda bermotif syariah ini

utamanya muncul berhubungan dengan moralitas dan etika. Perda-perda tersebut

sebagian besar merupakan respon terhadap klaim kelompok Islam konservatif bahwa

Indonesia menghadapi masalah serius akibat dari kemerosotan moral dalam

masyarakat. Kelompok Islamis berpendapat bahwa perempuan adalah sumber dari

sejumlah masalah (madhorot) tersebut.10 Mereka meyakini bahwa masalah-masalah tersebut akan terselesaikan jika ada peraturan-peraturan di daerah mereka yang

mewajibkan perempuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.

Di Cianjur terdapat forum umat Muslim yang menamakan diri Silaturahmi

dan Musyawarah Umat Islam (SILMUI) yang mendesak pelaksanaan syariah, dan

juga berusaha meyakinkan orang-orang di Cianjur bahwa syariah adalah solusi untuk

‘penyakit sosial’ dan bisa meningkatkan kualitas moral masyarakat Cianjur. Anggota-anggota SILMUI menyuarakan peraturan-peraturan berbasis syariah tersebut karena

terinspirasi oleh ajaran Islam yang memberlakukan penerapan kode berpakaian

menurut standar Islam, yang mana mensyaratkan kaum perempuan muslim untuk

mengenakan jilbab. Pendirian forum tersebut untuk memberi dasar alasan terhadap

lahirnya Perda No. 3/2006 tentang Gerakan Pembanguan Masyarakat Berakhlaqul

Karimah. Dengan lahirnya Perda ini, Bupati Cianjur memberlakukan bagi PNS

perempuan Muslim untuk menyesuaikan diri dengan busana muslim di kantor

pemerintahannya. Jika Perda No. 5 Tahun 2003 di Bulukumba penggunaan jilbab

berlaku untuk semua perempuan, peraturan Cianjur hanya berlaku bagi perempuan

9Sali , Musli Politi s i I do esia s De o ratisatio s , hl , 137.

(10)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 10 PNS Muslim setempat. PNS laki-laki juga diharapkan untuk mengikuti aturan

berbusana muslim dan harus memakai apa yang disebut baju koko saat di kantor.

Sebagaimana yang terjadi di daerah lain di Indonesia, regulasi di Cianjur,

menurut klaim para pendukungnya, dikeluarkan untuk memberikan rasa aman bagi

perempuan dan untuk menjaga martabat mereka. Namun, kelompok yang kontra

dengan regulasi tersebut berpendapat bahwa perlindungan terhadap kaum perempuan

sebenarnya telah terpinggirkan dengan agenda mereka dan peraturan-peraturan

bermotif syariah telah membatasi ruang gerak perempuan hanya ‘di wilayah dapur’.

Menurut kelompok kontra ini, perempuan telah menjadi korban dari peraturan

bermotif syariah ini.

3. Perempuan dalam Pengadilan Agama: Legal Discretion Hakim

Bagian ini mencermati hasil-hasil persidangan yang melibatkan perempuan

dalam kasus hukum di Pengadilan dan faktor-faktor yang memiliki kontribusi

terhadap hasil-hasil putusan hakim tersebut. Poin-poin penting yang diobservasi

berhubungan dengan bagaimana hakim Pengadilan Agama dan kedudukan

perempuan yang terlibat dalam permasalahan hukum, dan sejauh mana kepentingan

kaum perempuan terlindungi di Pengadilan.

3.1 Melanggengkan Subordinasi: Seperti Apa dan Kenapa?

Meskipun telah banyak perubahan, tetapi perempuan tetap saja memiliki

kedudukan lemah di Pengadilan dalam kasus poligami, masalah hak asuh dan

tunjangan paska perceraian bagi anak-anak mereka. Ada sejumlah faktor yang

berkontribusi untuk ini.

3.1.1 Poligami: Penerapan Hukum yang Memberi Kelonggaran dan Penafisran Tradisional

Dalam hal poligami, perempuan seringkali tidak mampu melakukan negosiasi

atau untuk mempengaruhi kebijakan pengambilan keputusan oleh Hakim. Meskipun

(11)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 11 45/1990 demi memperketat praktik poligami, Hakim di tiga pengadilan yang

diobservasi tetap berpegang pada pandangan bias gender dan menutup diri dari

hak-hak perempuan dalam tiga kasus persidangan.

Adakah studi terbaru tentang hal ini? Pusat Studi Hukum, Konstitusi dan Hak

Asasi Manusia (Puskumham yang berkantor di Jakarta), menyimpulkan bahwa

sejumlah hakim masih sensitif terhadap isu-isu gender, sebagaimana ditunjukkan oleh

sikap mereka ketika menangani kasus perceraian, harta bersama (gono-gini) dan poligami. Penelitian tersebut juga juga melaporkan bahwa beberapa Hakim di

Pengadilan Aceh juga telah ada yang sangat peduli terhadap perlindungan hak-hak

kaum perempuan dan membuka diri terhadap isu-isu gender.11 Di antara sesi agenda

sidang dalam rangka mendengar keterangan masing-masing pihak dalam kasus

poligami, hakim meminta pihak suami untuk mempertimbangkan kembali

keputusannya, dan mengingatkan pihak suami atas sanksi dalam hal perlakuan tidak

adil atau tidak sama di antara masing-masing istri, misalnya. Hal ini menggambarkan

bahwa sensitivitas gender di lingkungan Pengadilan di Aceh telah membaik. Dalam

kasus lainnya yang terjadi di Aceh menyangkut perceraian, Hakim memberikan porsi

lebih pembagian harta bersama bagi pihak istri – kebanyakan karena alasan

perceraian dalam persidangan yang diajukan adalah suami yang ingin berpoligami –

juga telah menunjukkan bahwa hakim cukup peka terhadap isu-isu gender.

Bagaimanapun perlu dikatakan di sini, kesadaran para hakim atas isu-isu gender

terjadi setelah mengikuti sejumlah program pelatihan oleh beberapa pusat studi

perempuan yang menargetkan penguatan sensitivitas gender di dalam lingkungan

pengadilan. Melalui pelatihan ini, prinsip-prinsip kesetaraan, keadilan dan fairness

diperkenalkan.12

Hasil dari penelitian saya, bagaimanapun, berbeda dari temuan Puskumham.

Saya mendapati bahwa sebagian besar hakim di tiga pengadilan yang diamati dalam

penelitian ini tampaknya masih berpatokan pada pemahaman bias gender atau

11

Lihat Arskal Salim (ed.), Demi Keadilan dan Kesetaraan: Dokumentasi Program Sensitivitas Gender Hakim Agama (Jakarta: puskumham, 2009).

12

(12)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 12 menutup diri terkait masalah gender ini meski telah mengikuti pelatihan tentang

sensitivitas gender. Para hakim seringkali merujuk pada ayat Al-Qur'an yang

memungkinkan poligami. Meskipun Qur'an menekankan adanya keadilan dalam

sejumlah ayatnya – Al Nisa ayat 3 dan Al Nisa ayat 129 – yang cenderung mencegah

poligami, akan tetapi banyak hakim yang berpandangan bahwa poligami dapat

diperbolehkan jika tidak menyimpang dari Al-Qur'an. Bahkan salah satu hakim

mengatakan bahwa poligami diperbolehkan menurut hukum Qur’an secara tegas, dan

tidak boleh ada hukum yang dibuat untuk menentangnya.13 Maka, yang tampak di

kemudian bahwa pelatihan terhadap kepekaan gender tidak selalu memiliki efek yang

diinginkan secara menyeluruh, tentu saja kepelatihan sebagai faktor tunggal tidak

mampu mengubah pola pikir hakim pada isu-isu sensitif. Memang, sejumlah faktor

lain juga memiliki relevansi, misal kepribadian hakim dan latar belakang pendidikan

dan keluarganya juga berkontribusi pada menerima atau tidaknya hakim pada materi

pelatihan berkaitan sensivitas gender.14 Metode penyampaian materi dalam pelatihan

juga mungkin memainkan peran. Puskumham mendapati bahwa hakim tiga

pengadilan di Cianjur, Tangerang, dan Serang dilatih oleh Pusat Studi Wanita (PSW)

dengan pendekatan dan metode yang sangat berbeda dari metode yang digunakan

oleh pusat-pusat pelatihan di Aceh.15

Saya memiliki sembilan salinan keputusan Pengadilan tentang pengajuan

permohonan untuk melakukan poligami pada periode 2007-2009 yang dikeluarkan

oleh Pengadilan Agama Cianjur. Pengadilan tersebut menyetujui kesembilan

permohonan. Alasan yang menjadi latar belakang adanya persetujuan bervariasi

sesuai dengan alasan yang dikemukakan oleh masing-masing pihak pemohon

(suami), mulai dari ketidakmampuan istrinya untuk memberikan keturunan atau si

istri sakit serius yang berakibat suami tidak terpuaskan secara seksual. Perlu

13

Wawancara dengan Hakim Ketua Pengadilan Agama Tangerang, Mei 2011. 14

Untuk pembahasan tentang pengaruh tersebut pada kepekaan gender bagi setiap orang, termasuk hakim, lihat Geeta Sarma dan Deepa So pal, Ge der A are ess a d Se siti ity

Appli atio s , Unnati Organisation for Development Education, Gujarat, India, 2008. Lihat juga

Kare Czapa skiy, Ge der Bias i the Courts: So ial Cha ge Strategies , Journal of Legal Ethics (4)1, 1990.

15

(13)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 13 dikatakan di sini, meskipun alasan-alasan tersebut tidak selalu secara eksplisit

dinyatakan, hasrat seksual yang tinggi merupakan motif dominan dalam pengajuan

permohonan dalam untuk melakukan poligami. Memang, empat dari sembilan kasus

poligami yang diajukan, alasannya bahwa pihak istri tidak bisa memuaskan hasrat

seksual pihak suami. Permohonan-permohonan yang dikabulkan menunjukkan bahwa

hakim di pengadilan tersebut tetap terbuka terhadap masalah poligami dan tidak

terlalu ketat menerapkan aturan-aturan terkait, Hakim sering menerima alasan tidak

valid yang disampaikan oleh pihak suami sebagai alasan yang cukup untuk

diperbolehkan poligami,16 tidak terkecuali Pengadilan Agama Cianjur. Hakim di dua

pengadilan lain dalam penelitian saya juga membuat keputusan yang begitu mirip.

Dari 45 keputusan yang dikeluarkan oleh Pengadilan Serang untuk berbagai kasus,

enam di antaranya berkaitan poligami, dari 72 salinan kasus yang dikumpulkan dari

Pengadilan Tangerang, ada lima putusan berkaitan poligami.17 Alasan yang diberikan

dalam keputusan yang dikeluarkan oleh Pengadilan Agama Tangerang menyinggung

perihal ketaatan beragama (ibadah)18 dalam dua kasus, ketidakmampuan istri untuk

16

Saya memiliki 9 Salinan Putusan, beberapa di antaranya teridentifikasi sebagai Putusan No. 255/Pdt.G/2008/PA.Cjr, No. 290/Pdt.G/2008/PA.Cjr, No. 393/Pdt.G/2007/PA.Cjr, and No. 358/Pdt.G/2007/PA.Cjr.

17

hukumonline, media berita hukum terkemuka di Indonesia, memberitakan ada 1.016 permohonan untuk melakukan poligami yang telah diajukan ke Pengadilan Agama pada tahun 2004, 800 permohonan di antaranya disetujui, sebagaimana 776 permohonan yang disetujui dari jumlah total 1.148 permohonan yang diajukan pada tahun 2006. Dengan mengutip angka-angka di atas, Butt menyatakan, dengan mengingat penduduk Indonesia yang besar, angka di atas tampaknya relatif kecil. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa jumlah permohonan yang disetujui dapat dijadikan data pendukung klaim penelitiannya dan peneliti lainnya terkait pendekatan yang digunakan oleh hakim-hakim yang relatif permisif terhadap poligami, saya sependapat dengan hal tersebut. Lihat Si o Butt, Isla , the State a d the Co stitutio al Court in Indonesia, Pa ifi ‘i La a d Poli y Jour al, 9 , , 9 . Untuk mengetahui secara detail terkait jumlah permohonan untuk poligami dan jumlah permohonan yang dikabulkan pada 2 tahun tersebut, lihat Menguak Sisi Gelap Poligami, hukum online, 23 Desember 2006, www.hukumonline.com/berita/baca/hol15941/menguak-sisi-gelap-poligami (diakses Juni 2011); Syarat Poligami akan Diperkuat, hukumonline, 19 Februari 2009, www.hukumonline.com/berita/baca/hol21230/syarat-poligami-akan-diperketat (diakses Juni 2011).

18

(14)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 14 memenuhi hasrat seksual suami ada dua kasus, dan mobilitas tinggi suami dalam satu

kasus. Kelima permohonan yang telah disebutkan, serta ditambah dua permohonan di

pengadilan Serang, pada dasarnya disetujui atas dasar untuk memenuhi hasrat seksual

yang tinggi pemohon (suami).19

Sebagai contoh, seorang kontraktor perumahan (dengan satu istri) yang telah

tinggal di Serang selama satu tahun karena tuntutan pekerjaannya, sementara si istri

dan empat anak tetap tinggal di Bandung, telah meminta ke pengadilan Serang untuk

memperbolehkan melakukan poligami setelah ia bertemu seorang wanita di Serang

dan telah jatuh cinta padanya. Untuk menghindari hubungan seksual di luar nikah

(zina) ia bermaksud menikahinya. Alasan yang diajukan adalah istrinya tidak bisa

memenuhi kebutuhan seksnya karena tinggal berlainan tempat yang jauh. Hakim

setuju dengan syarat bahwa istrinya memberikan persetujuan dan suami memiliki

sumber finansial yang memadai. Berkas keputusan menyatakan dikhawatirkan bahwa suami akan tergoda ke dalam hubungan seksual di luar nikah kecuali bila permintaannya dikabulkan. Alasan yang dikemukakan oleh pihak suami seperti ini tidak ditentukan dalam KHI. Dia hanya menyatakan bahwa istrinya tidak berkenan

pindah kediaman baru dengannya dan selanjutnya ia bermaksud untuk menghindari

hubungan seksual di luar nikah dengan wanita lain. Pihak istri memberi

persetujuannya, akan tetapi menurut hukum, permohonan pihak suami seharusnya

hanya diberikan setelah suami telah menyampaikan alasan yang sah secara legal,

yaitu salah satu alasan yang ditentukan dalam KHI. Dalam kasus lainnya, seorang

wanita telah menikah 20 tahun dengan empat anak tidak bisa tidak untuk menyetujui

ketika suaminya meminta Pengadilan Agama Cianjur untuk memperbolehkannya

Agama. Insa berpendapat bahwa poligami adalah ibadah dan negara harus memperbolehkan umat Islam untuk mempraktekkannya. Dengan alasan bahwa aturan tentang poligami tidak melanggar hak-hak individu masing-masing orang, Mahkamah Konstitusi menolak permohonan Insa tersebut. Untuk pembahasan lebih lanjut tentang masalah ini, lihat Faye Yik-Wei Chan,

‘eligious Freedo s. Wo e s ‘ights i I do esia: The Case of Muha ad I sa , Archipel 83, Paris, 2012, 113– . Lihat juga Butt, Isla , the State, a d the Co stitutio al Court i

I do esia , .

19

(15)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 15 menikahi istri keduanya yang seorang janda sekampung, alasannya istrinya tidak lagi

mampu untuk memenuhi kebutuhan seksualnya. Dia berjanji untuk memperlakukan

istri-istrinya secara adil dan menyatakan bahwa ia mampu secara finansial. Tidak

seperti pada umumnya, istri tua hadir di Pengadilan untuk menyatakan bahwa dia

tidak keberatan. Selanjutnya Para hakim memberikan izin tanpa membuat pernyataan

lebih lanjut atau menelusuri bukti-bukti untuk memastikankan klaim suami.

Dua kasus sangat mencolok tersebut telah menampar aturan komprehensif terkait aturan poligami di Indonesia. Seharusnya regulasi mengarah pada

pengendalian praktek poligami secara ketat dan memastikan pernikahan poligami

yang dilakukan secara sewenang-wenang tidak dapat disahkan kecuali argumen yang

diajukan dalam kasus-kasus tersebut telah ditentukan dalam undang-undang.

Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa, pada kenyataannya, prktek poligami

berkebalikan dengan tujuan ideal yang telah dilegalkan: hakim tidak mematuhi

aturan-aturan hukum dan, berbeda dengan perceraian, poligami tampaknya sulit untuk

dikontrol dan untuk dilakukan ‘vernacularised’ (interpretasi menurut diskursus hukum modern). Sejumlah hakim percaya bahwa poligami memiliki dasar pemikiran

hukum Islam yang jelas. Beberapa dari mereka berterus terang mengakui bahwa jika

mereka menolak poligami, mereka akan menyimpang dari ketentuan syariah.20

Faktor-faktor ini dirumuskan oleh hakim untuk memberlakukan penerapan longgar

poligami yang berbeda dari ketentuan hukum negara.

Kecenderungan seperti ini juga bisa dilihat dari argumen hakim-hakim bahwa

mereka tidak diharuskan untuk mencari tahu lebih mendalam apakah persetujuan dari

istri bersifat tulus atau tidak. Sama halnya, mereka tidak diharuskan untuk

menyelidiki apakah istri betul tidak mampu memuaskan hasrat seksual suami, atau

tidak mampu memiliki anak sebagaimana alasan pihak suami sampaikan guna

mendukung permohonannya untuk melakukan poligami.21

Di atas semua itu, dalam

20

Berdasarkan wawancara dengan enam hakim Pengadilan Agama Serang dan Tangerang, 2011.

(16)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 16 pertimbangannya, sebagian besar hakim memandang dan menekankan bahwa

kualifikasi yang harus dipenuhi oleh pihak suami, bukan alasan mengapa suami bisa

mengajukan permohonan poligami. Akibatnya, para hakim dapat mengabulkan alasan

apapun yang suami sampaikan, meski alasan tersebut tidak disebutkan dalam

perundang-undangan yang berlaku daripada menekankan terciptanya keadilan dalam

pertimbangan hukumnya, penekanan para hakim tampaknya lebih pada konsep

maslahat (kepentingan umum). Juga tidak mempertimbangkan konsekuensi dari keputusannya bagi pernikahan pertama (pengamatan dalam koleksi salinan putusan

yang saya miliki cenderung menunjukkan bahwa praktek poligami merugikan pihak

istri pertama, dan banyak terjadi istri pertama mengajukan permohonan perceraian

dengan alasan adanya perselisihan terus menerus sebagai dampak dari poligami suami), hakim lebih terfokus pada potensi zina si suami dengan pasangan wanita

barunya.

Menariknya, banyak hakim yang diwawancarai mengaku telah menerima

pelatihan tentang sensitivitas gender. Memang, banyak orang merasa bahwa para

hakim telah membuka diri terhadap isu-isu gender tadi. Tapi dalam prakteknya,

bagaimanapun juga, mereka tampaknya telah keliru memahami masalah ini.

Kurangnya kepekaan gender tampak jelas terjadi selama forum akademik yang mana

saya mempresentasikan suatu makalah dan yang hadir adalah sejumlah hakim dari

tiga pengadilan tadi. Forum sendiri membahas akses terhadap keadilan menurut

Islam, dan salah satu sesi forum dikhususkan untuk membahas isu-isu perempuan.

Ketika isu poligami datang dan salah satu pembicaranya, Maria Ulfah, menyatakan

ketidaksetujuannya pada praktek poligami, salah satu hakim yang hadir berdiri dan

menyatakan dukungannya secara teguh untuk parkatek poligami, dengan alasan

bahwa poligami jelas dinyatakan dalam Al-Qur'an. Pandangan si hakim tadi juga

didukung oleh seorang hakim perempuan yang menawarkan argumentasi yang lebih

rasional dan praktis. Hakim perempuan yang ikut seminar itu juga mengakui bahwa

dia dan rekan-rekan seprofesinya sering dihadapkan dengan permohonan untuk

(17)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 17 mengabulkan poligami dan dia juga mengakui sering melihat istri diperlakukan buruk

oleh suaminya jika pihak pengadilan menolak untuk menyetujui. Dia berasumsi

bahwa jika permohonan poligami tidak disetujui, maka perlakuan terhadap si istri

mungkin akan lebih buruk.

3.3 Hak Asuh dan Gagasan tentang 'Kepentingan Terbaik Anak’

Berkenaan dengan hak asuh dan tunjangan untuk anak/anak-anak paska

perceraian, pihak perempuan juga seringkali dalam posisi yang tidak menguntungkan.

Dalam pemahaman hukum klasik (fiqh), aturan terkait hak asuh sangat variatif sesuai dengan ketentuan fiqh yang berbeda dari aliran-aliran (mazhab-mazhab) hukum Islam yang ada. Namun, mereka semua sepakat bahwa usia anak-anak menentukan siapa

yang berhak atas hak asuh ketika orang tua berpisah.22Hak asuh sendiri adalah istilah

yang mengacu pada perawatan fisik dan pengawasan anak di bawah umur. Dengan

kata lain, hak asuh adalah hak berkaitan keberadaan fisik anak. Hak asuh bisa terjadi hanya jika ada hubungannya dengan ‘orang kecil ini’ (anak-anak), perlakuan dalam

hukum klasik berkaitan hak asuh tidak lebih menemptkan anak dari sekedar ‘properti’

bagi ibu mereka. Orang yang diberikan hak ini disebut wali (custodian).

Hak asuh (custodian) berbeda dari hak perwalian (guardianship), custodian

memiliki cakupan kewajiban lebih sempit daripada hak perwalian/guardianship. Hak

asuh hanya memiliki cakupan berkaitan hak dan kewajiban berkaitan dengan

perawatan dan pengawasan dari ‘orang kecil’ atau ‘properti’ tersebut. Sedangkan

perwalian meliputi pemeliharaan finansial bagi anak-anak, ayah dan pihak keluarga

ayahnya diberi hak lebih banyak. Diantaranya hak wewenang pengambilan keputusan

berkaitan orang perorang (hubungan hukum yang bersifat keperdataan, seperti jual

beli dan sejenisnya: penerjemah) dan pengelolaan harta benda si anak di bawah umur menurut Undang-Undang (yaitu 21 tahun ketika seorang anak belum menikah) secara

konsisten di bawah kewenangan si ayah, dan jikalau pihak ayah berhalangan, maka

22

(18)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 18 kewenangan beralih ke salah satu kerabatnya.23 Sementara perawatan fisik anak-anak

bisa menjadi tanggung jawab ibu atau ayah, ibu memiliki hak lebih diutamakan

dalam hal hak asuh anak di bawah usia pubertas (ghairu mumayyiz).24

Di Indonesia, aturan tentang hak asuh telah dikembangkan dari pemahaman

hukum klasik (fiqh) dan tidak mengikuti pendapat hukum (legal opinion/pendapat aliran fiqh) mazhab Syafi'i yang notabene sebagaian besar muslim di Indonesia

mengikuti rumusan ketetapan hukumnya. Aliran hukum Syafi'iyah mendefinisikan

usia pubertas adalah tujuh tahun.25 Dalam KHI telah diatur bahwa hak asuh

anak-anak berusia 11 ke bawah diberikan kepada pihak ibunya dan anak-anak-anak-anak berusia 12

ke atas diperbolehkan memilih dengan siapa mereka ingin tinggal di antara

keduanya.26 Di Pengadilan Agama Indonesia, permasalahan hak asuh dapat

diselesaikan dengan mengajukannya ke pengadilan secara terpisah atau sebagai

bagian dari sidang kasusn perceraian. Kasus hak asuh sebagian besar diajukan oleh

pihak perempuan. Dalam kasus hak asuh (custodian) sendiri, pihak perempuan bisa menghadapi dua tantangan: pertama adalah tantangan untuk mendapatkan hak atas hak asuh, sedangkan lainnya benar-benar dapat diklaim jika hak asuh telah diberikan

kepada pihak perempuan oleh pengadilan.

Berkaitan tantangan pertama, masalah bisa timbul ketika suami berpendapat

bahwa permohonan perceraian dimotivasi oleh perilaku istrinya, umpamanya, dengan

maksud si suami untuk memenangkan hak asuh mungkin beralasan bahwa istri tidak

cocok untuk diajak bersama-sama membesarkan anak/anak-anaknya karena si istri

sering meninggalkan rumah untuk bekerja atau karena berbuat amoral dalam sudut

pandang keagamaan. Setelah seorang perempuan telah memenangkan hak asuh atas

anakpun, hal yang bisa terjadi adalah mantan suami menolak untuk menyerahkan

23Asha Bajpai, Custody a d Guardia ship of Childre i I dia ,

Family Law Quarterly 39 (2), 2005, 441–457.

24

Wahbah al-Zuhayli, Al-Fiqh al-Islamiyy wa Adillatuhu, 7308. Lihat juga Al-Jaziri, Al-Fiqh ala al-Madhahib al-A ba a, 597–598.

25

Wahbah al-Zuhayli, Al-Fiqh al-Islamiyy wa Adillatuhu, 7322.

(19)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 19 anak/anak-anak, atau memberikan tunjangan untuk anak/anak-anak tersebut tidak

teratur atau bahkan tidak sama sekali.

Keputusan Pengadilan Agama Indonesia yang berkaitan dengan permasalahan

hak asuh pada umumnya menekankan kepentingan terbaik buat anak/anak-anak,

sebagaimana ditekankan dalam KHI. Namun, rumusan putusan ini berhulu pada

interpretasi hakim tunggal terkait apa yang merupakan ‘kepentingan terbaik’, sebagaimana konklusi yang diutarakan Bajpai dalam penelitiannya,27

gagasan yang

begitu abstrak. Sejumlah keputusan dalam kasus yang saya telah teliti memang

menyatakan bahwa keputusan tersebut dibuat untuk ‘kepentingan terbaik bagi

anak/anak-anak’. Namun, karena setiap kasus memiliki karakter yang berbeda secara

alamiah, maka sulit untuk menarik kesimpulan umum tentang alasan yang

mendasarinya. Hakim dalam membuat keputusan menyebutkan sejumlah faktor atau

alasan untuk pemberian atau menolak hak asuh. Akan tetapi, yang tampak jelas

adalah keputusan pengadilan sering menguntungkan pihak-pihak yang mampu

bernegosiasi atau mempengaruhi dan mengubah keputusan hakim secara efektif dan

kepentingan anak-anak kurang terwakili oleh produk hukum di pengadilan.

Dari 13 kasus hak asuh yang disidangkan di pengadilan Tangerang, Serang

dan Cianjur, keputusan yang menguntungkan pihak perempuan terjadi ketika masalah

hak asuh diajukan bersamaan pengajuan gugat cerai (permohonan dilakukan oleh

perempuan). Sedang kasus hak asuh yang diajukan secara terpisah dari kasus

perceraian, lima keputusan oleh Pengadilan tidak mengabulkan pihak istri

memdapatkan hak asuh. Dua dari lima perempuan yang ditolak hak asuhnya oleh

Hakim di pengadilan tingkat pertama disebabkan ketidakmampuan bernegosiasi

dalam persidangan atau ketidakmauan mengajukan banding ke pengadilan yang lebih

tinggi. Dalam permohonan perceraian, ada salah satu perempuan meminta hak asuh

anaknya yang berusia empat tahun, tetapi ditolak oleh Pengadilan karena kerjanya di

luar rumah. Kendati pihak ibu si anak yang bekerja di luar rumah telah

menyampaikan alasan-alasan kuat dan juga telah mendapat hak asuh di masa lalu

(hak asuh sebelum perceraian: penerjemah), contoh-contoh alasan seperti ini

(20)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 20 menandakan bahwa dalam hak asuh merupakan bentuk alasan yang tidak wajar

(uncommon) bagi seorang hakim untuk mempertanyakan kapasitas perempuan bersangkutan sebagai pihak yang tepat untuk merawat tumbuh kembang

anak/anak-anak.28 Dalam hal ini, prinsip ‘kepentingan terbaik untuk anak’ tidak begitu jelas atau

terdefinisikan dengan baik. Hal yang dikemukkan sebagai tantangan kedua kaum

perempuan adalah ‘karakter buruk’ sebagai ibu, alasan yang diajukan pihak suami

secara tersirat menuduh bahwa pihak istri telah menipu dirinya. Kebanyakan hakim

setuju dengan tuduhan suami tersebut bahwa dia bukanlah model ibu yang baik dan

patut jadi teladan, serta menegaskan bahwa pihak hakim telah menimbang

kepentingan terbaik untuk anak: pihak yang mendapat hak asuh harus mampu

membesarkan anak secara fisik, mental, spiritual dan sosial sesuai cara-cara yang

‘normal’. Mereka beranggapan bahwa jika mereka memberikan hak asuh kepada ibu, maka anak tersebut bisa tumbuh dengan baik secara fisik tapi tidak secara

spiritualitas.29

3.4 Mencapai Keadilan Lebih Baik: Seperti Apa dan Bagaimana? Pendampingan Hukum dan Pelayanan Hukum yang Lebih Baik

Pusat pemberdayaan perempuan ini telah membantu perempuan Indonesia

untuk menjadi lebih sadar terkait kedudukan legal mereka. Pusat pemberdayaan

perempuan ini danai oleh, dan bekerja sama dengan donatur nasional dan asing, pusat

ini memberikan advokasi kepada masyarakat. Selain itu, Kementerian Agama sejak

tahun 2006 telah menjalankan program khusus berkaitan Pengetahuan Hukum Islam

28

Seto Mulyadi, konsultan senior Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) dan ketua umum Komisi, menyebut bahwa Komite telah menerima sejumlah pengaduan yang dilayangkan kaum perempuan yang kehilangan hak asuh terhadap anak/anak-anak mereka yang berusia di bawah 12 tahun dan melaporkan kasus-kasus yang diterimanya kepada Komisi Yudisial. Dia menyebutkan bahwa di tahun 2012 dia menerima 12 pengaduan hak asuh yang mana pihak perempuan (ibu) telah diabaikan hak-haknya oleh hakim dengan berbagai latar belakang kasus. Lihat Cor elus Eko Susa to, Kak Seto Aduka Masalah Hak Asuh Anak ke KY,

micom, 31 Oktober 2012,

http://article.wn.com/view/2012/10/31/Kak_Seto_Adukan_Masalah_Hak_Asuh_Anak_ke_KY/ (diakses pada tanggal 12 Desember 2012).

29

(21)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 21 bagi Brides dan Grooms (Kursus Calon Pengantin/Suscatin) yang digelar di Kantor Urusan Agama (KUA). Signifikansi dan kewenangannya adalah wilayah Posko

Bantuan Hukum (posbakum) yang beroperasi sejak 2011 di lingkungan pengadilan

dan dijalankan oleh Pemerintah, dan PEKKA (Perempuan Kepala Keluarga), yaitu

sebuah LSM yang yang bergerak untuk mendukung pemberdayaan perempuan kepala

keluarga dalam hal memperoleh hak-hak legalnya.30 Sebagai contoh, sejak didirikan

pada tahun 2012, empat bulan pertama berdirinya, Pos Bantuan Hukum wilayah

Cianjur telah memberikan pendampingan hukum kepada lebih dari 220 orang,31

mayoritas dari jumlah tersebut adalah perempuan yang membutuhkan pendampingan

hukum.

Terlepas dari meningkatnnya layanan pendampingan hukum, pelayanan yang

lebih baik di pengadilan juga berdampak pada akses yang lebih besar terhadap

keadilan bagi kaum perempuan. Hal ini bisa diwujudkan sebab didukung oleh

komunitas masyarakat internasional secara luas, termasuk dukungan the Australian Family Court di lingkungan Pengadilan Agama di Indonesia yang berusaha untuk meningkatkan layanannya. Lembaga peradilan sendiri telah menerima peningkatan

kucuran anggaran dari APBN pada tahun 2008 dan 2009, dan kemudian telah

menjalankan progam advokasi ‘Prodeo’ (bantuan pendampingan hukum bagi

masyarakat miskin/gratis) dan program Sidang keliling, yang sebagian besar

ditujukan untuk membantu kaum perempuan miskin. Bantuan hukum ‘Prodeo’ secara

luas dan baik juga dimanfaatkan oleh kaum perempuan. Dalam program Sidang

Keliling, hakim melakukan safari ke daerah-daerah terpencil untuk menyidangkan

dan mendengarkan berbagai kasus. Program ini digagas karena melihat fakta bahwa

Indonesia memiliki banyak daerah terpencil yang mana transportasi merupakan

kendala yang membuat enggan orang-orang yang tinggal di pelosok untuk datang ke

pengadilan. Dalam laporan tahunan pada 2012, Pengadilan Cianjur melaporkan

bahwa antara Januari sampai April telah melakukan 183 kasus sidang bersifat prodeo

30

Cate Sumner dan Tim Lindsey, Courting Reform: Justice for the Poor (Lowy Institute, 2010), 42–44.

31 Lapora Pelaksa aa Sida g Kelili g, Prodeo da Pos aku Tahu

(22)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 22 dan 133 kasus dalam Sidang Keliling,32 termasuk menyidangkan kasus perceraian

dan pernikahan. Selain itu, hakim di tiga pengadilan tersebut juga sering berperilaku

lunak terkait jadwal sidang, dan sering kali bersedia menjadwal ulang persidangan

untuk melakukan hearings pekan depan.

3.5 Sensitivitas Gender di antara Hakim: Tunjangan Suami-Istri setelah Talaq

Sensitivitas gender di kalangan hakim merupakan faktor lain dalam hal

mendapatkan akses yang lebih bermartabat bagi perempuan terhadap keadilan.

Meskipun saya telah menyebutkan di atas bahwa hakim belum membuka diri

terhadap hak-hak perempuan dalam kasus poligami, sebagian apa yang ingin dicapai

dalam sesi pelatihan yang diselenggarakan oleh sejumlah pusat kajian yang bekerja

sama dengan donatur internasional, seperti Kedutaan Besar Kerajaan Belanda dan

Asian Foundation, sejumlah hakim dari pengadilan Serang, Tangerang dan Cianjur, dewasa ini lebih sensitif terhadap isu-isu gender, terutama dalam hal perceraian.

Hampir semua kasus perceraian yang diprakarsai oleh istri yang disidangkan di tiga

pengadilan ini berakhir dengan adanya persetujuan.

Sensitivitas gender di kalangan hakim juga dapat ditelusuri dalam upayanya

untuk melaksanakan putusan bahwa pihak istri harus menerima tunjangan setelah

perceraian. Dari 18 kasus yang disidangkan di pengadilan Tangerang dan Serang,

hakim menyatakan bahwa suami diwajibkan membayar tunjangan kepada pelayanan istri selama tiga bulan dan mut’ah (biaya penghiburan) sebelum mereka diizinkan

untuk mengucapkan kalimat perceraian (talak) di pengadilan.33 Namun, hakim juga

dapat membuat keputusan yang berbeda dan membebankan biaya perkara kepada

pihak suami, sehingga dia bisa mengucapkan talak tanpa membayar perkara sidang ke

pengadilan. Ini biasanya terjadi dengan maksud dari hakim bahwa suami nantinya

diharapkan untuk memenuhi kewajiban mereka.

32 Lapora Pelaksa aa Sida g Kelili g, Prodeo da Pos aku Tahu

Bula Ja uari s/d April , Pengadilan Agama Cianjur, 8 Mei 2012.

33

(23)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 23

….………

….………

….……… ………. Dalam kasus lainnya yang melibatkan seorang perempuan yang diceraikan

suaminya dan menyadari hak-haknya paska perceraiannya, salah satu tuntutannya

tidak dikabulkan, karena menurut hakim berlebihan, tidak logis dan tidak sesuai

aturan perundang-undangan, yaitu tuntutan adanya uang sakit hati (kompensasi

finansial untuk patah hati).

Lebih lanjut, hakim juga menemui bentuk tuntutan lain pihak perempuan

terkait tunjangan suami dan hadiah penghiburan dan meminta pihak suami untuk

melakukan pembayaran seketika di ruang sidang yangsudah pihak suami lakukan.

Mengingat kasus ini, ada beberapa bukti bahwa, meskipun banyak suami tidak

memenuhi kewajiban nafkah mereka karena kemampuan finansial yang tidak

memadai, perubahan sikap para hakim di Daerah telah membantu meningkatkan

terhadap akses keadilan bagi kaum perempuan naik beberapa tingkat.

4. Peraturan Daerah Berbasis Syariah: Peraturan Jilbab di Cianjur

Kewajiban bagi PNS di Cianjur untuk menyesuaikan diri dengan standar

berpakaian Islami ketika di tempat kerja merupakan implementasi lebih lanjut dari

Perda tahun 2006 tentang keinginan membangun masyarakat yang beriman.

Kebijakan seperti ini merupakan contoh dari upaya untuk mengontrol perilaku

perempuan di tempat umum, dan – seperti keinginan di wilayah lainnya di Indonesia

– menyebabkan perdebatan luas dan pro-kontra. Pihak yang mendukung kewajiban mengenakan jilbab terhadap mereka yang menentang mendasarkan argumennya pada

konsep ‘maslahat’ (kebaikan umum) perempuan, yang dipahami sebagai penciptaan rasa aman perempuan dan perlindungan martabatnya.

Kebijakan yang terjadi di Cianjur, yang juga dikenal sebagai kota santri,

dikatakan oleh Pemda sebagai respon untuk mengatasi degradasi moral yang dihadapi

(24)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 24 prakarsa bupati Warsidi, merumuskan sejumlah inisiatif yang diawali dengan

program Gerbang Marhamah untuk menghidupkan kembali norma-norma Islami.34

Program ini dikampanyekan ke seluruh masyarakat Cianjur dan karena itu menjadi

populer. Sebuah gerbang besar ketika anda memasuki kota Cianjur terdapat tulisan

'Gerbang Marhamah' di atasnya.

Sejumlah peraturan pun dikeluarkan untuk mendukung pelaksanaannya, salah

satunya adalah regulasi berkaitan cara berpakaian. Meskipun hanya berlaku bagi PNS

perempuan yang harus mengenakan jilbab, proyek Gerbang Marhamah utamanya bertujuan menyasar semua wanita Muslim. Kata-kata akhlak, yang berarti 'perilaku

yang baik', sering digunakan dalam dokumen dan peraturan resmi Pemda Cianjur.

Kata ini disebut di dalam seluruh ‘visi’ kota Cianjur: Cianjur sehat, lebih smart, lebih sejahtera, dan lebih baik dalam berperilaku, dan disebut juga dalam ‘misinya’, salah

satunya adalah untuk mengintensifkan ‘pembangunan moral yang lebih baik di dalam

masyarakat, bangsa, dan negara’. Akhlak juga digunakan dalam sejumlah slogan.

Salah satunya, ditampilkan pada billboard besar di kota, yang mengajak warga Cianjur untuk meningkatkan kualitas moralnya dan menjadi model percontohan

Muslim: ‘tingkatkan kualitas moral dan keimanan Anda agar menjadi lebih

sempurna’. Slogan tersebut pada dasarnya menyasar kepada seluruh warga Cianjur baik laki-laki atau perempuan, sedangkan salah satu slogan yang terpampang di

billboard raksasa lainnya khusus mengajak perempuan Muslim untuk ‘menutup

kepala mereka’, karena menutup kepala diasumsikan sebagai tanda kesalehan. Slogan

itu berbunyi, ‘Jilbab adalah tanda yang membedakan perempuan Muslim yang saleh’. Penelitian terbaru yang dilakukan Komnas Perempuan, the Centre for the Study of Religion and Culture (CSRC) dan Wahid Institute memberikan perhatian terhadap tiga kasus yang menimpa tiga perempuan non-Muslim, yang bekerja di

sebuah kantor pos, guru sekolah, dan guru di SMA Negeri, yang dipaksa untuk

mengenakan jilbab. Kebijakan tersebut mengklaim bahwa ketika menjadi siswa

34 Jaih Mu arak, Geraka Pelaksa aa Syariah Isla di Cia jur , paper

(25)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 25 Muslim maka tidak ada kewajiban menutupi kepalanya, tetapi seorang guru

non-Muslim tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti peraturan, karena sebagai guru

harus menjadi teladan bagi siswa mereka.

Pada kenyataannya, tampaknya tidak akan ada suara kontra terhadap aturan

mengenakan jilbab ini, sejalan dengan meningkatnya jumlah wanita yang terlihat

mengenakan jilbab sebagai kewajiban agama. Sebagian besar wanita Muslim di

Cianjur yang saya wawancarai tampaknya menganggap kebijakan mengenakan jilbab

sebagai hal positif, sementara di kantor-kantor pemerintahan, seperti yang di kantor

Pemda dan DPRD, di kantor Polisi dan Rumah Sakit umum, Perda tersebut diterima

secara meluas. Hanya 14 perempuan yang bekerja di administrasi daerah yang saya

wawancarai menyatakan ketidaksetujuannya terkait regulasi tersebut. Di RSUD

Cianjur, empat anggota staf senior yang saya melakukan pembicaraan kepadanya

menyatakan kesetujuannnya dengan kebijakan mengenakan jilbab. Sebagaimana

dikatakan oleh salah satu dari staf senior tersebut bahwa semua karyawan perempuan

adalah Muslim, termasuk perawat dan dokter, semua memakai jilbab.35 Di kantor

polisi juga sama, tapi dengan satu perbedaan penting. Semua anggota Polisi

perempuan yang bekerja di sana mengenakan jilbab, sebagian kecil saja yang tidak.

Semua anggota Polisi bernaung di bawah institusi Polri, bukan di bawah kewenangan

Pemda Cianjur. Oleh karena itu, mereka mengatakan bahwa mereka tidak terikat oleh

Perda Cianjur tersebut. Para PNS sendiri memperlakukan semua perempuan yang

datang ke kantor pelayanan tanpa tebang pilih, apakah mereka mengenakan jilbab

atau tidak, tetapi perempuan yang tidak menutupi kepalanya diingatkan akan adanya

program Gerbang Marhamah dan diminta untuk mengenakan jilbab pada kunjungan

berikutnya.

Pengadilan Agama adalah lembaga negara lainnya di Cianjur yang mana

staf-staf perempuannya diharuskan memakai jilbab. Staf-staf-staf pengadilan juga

memperlakukan pihak-pihak berperkara yang melibatkan kaum perempuan di dalam

sidang pengadilan secara sama, tetapi pihak pengadilan sering merekomendasikan

35

(26)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 26 untuk mengenakan jilbab pada kehadiran mereka berikutnya.36 Walaupun begitu,

hanya beberapa hakim yang tampaknya mengetahuii keberadaan peraturan tersebut.

Salah satu alasan banyak hakim tidak mengetahui regulasi di lingkungan pengadilan

daerah Cianjur tersebut mungkin disebabkan banyak dari mereka berasal dari luar

Cianjur. Hal itu dikarenakan hakim-hakim yang dipilih dan ditempatkan di daerah

yang terdapat kekosongan, dan seringkali hakim-hakim dimutasi dari satu pengadilan

yang pengadilan daerah lain.37 Bisa dikatakan, semua hakim perempuan mengenakan

penutup kepala.

5. Relevansi Hukum Berbasis Syariah di Indonesia dengan Perjanjian-Perjanjian Internasional: Perdebatan dan Analisa Kritis

Pada bagian ini, KHI dan regulasi-regulasi lokal berbasis syariah akan

dianalisis dari dua sudut pandang (perspectives). Pertama, dengan mempertimbangankan sejumlah perjanjian internasional yang telah diratifikasi

Indonesia, seperti Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi

terhadap Perempuan (The Convention on the Elimination of all Forms of Discrimination Against Women/CEDAW), Konvensi Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (The International Convention on Civil and Political Rights/ICCPR), dan Konvensi Internasional tentang Hak-hak Anak (The International Convention on the Rights of the Child/CRC).38 CRC adalah perjanjian internasional yang menegaskan

hak-hak dasar anak.39 Sedangkan CEDAW pertama kali diberlakukan pada tahun

1981 dan mengharuskan semua negara pihak untuk menghapuskan segala bentuk

36

Berbeda dengan pengadilan Ciamis yang sebagaimana menurut salah satu koresponden kami bahwa pihak Pengadilan memiliki jilbab cadangan di kantor untuk dikenakan pihak perempuan yang berperkara yang tiba di sidang tanpa satupun jilbab.

37

Lihat Euis Nurlaelawati, Modernization, Tradition and Identity: The Kompilasi Hukum Islam and Legal Practices of the Indonesian Religious Courts (Amsterdam: Amsterdam University Press, 2010).

38

CEDAW telah diadopsi pada 18 Desember 1979 dan diundangkan pada tanggal 3 September 1981, Indonesia meratifikasi CEDAW pada 1984. ICCPR diadopsi pada 16 December 1966, diberlakukan pada 23 Maret 1976, dan telah diratifikasi oleh Indonesia pada 2006.

(27)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 27 diskriminasi atas dasar gender di ruang publik dan privat.40 ICCPR menekankan

kepada laki-laki dan perempuan seyogyanya menikmati akses atas kesetaraan di

dalam hak-hak sipil dan politik41 dan hal ini mengharuskan prinsip-prinsip

penyelesaiannya dalam bentuk kepastian hukum bagi suatu tindakan hukum.42

Sedangkan sudut pandang kedua berkaitan pendapat para aktivis gender dan

suara-suara perempuan lainnya.

5.1. Poligami: Regulasi dan Praktik Aktual 5.1.1 Hak atas Kepastian Hukum

Indonesia telah melakukan pembenahan aturan legal yang serius guna

membatasi praktek poligami. Namun, sebagian besar hakim Pengadilan Agama pada

dasarnya menerima praktek tersebut dan kemungkinan yang bisa terjadi adanya

ketidaksetujuan pihak istri dapat diabaikan dalam kasus-kasus tertentu. Fakta lainnya,

keberadaan beberapa ulama lokal yang terus membantu suami-suami untuk

melakukan poligami juga menunjukkan bahwa negara sejauh ini gagal untuk

menciptakan kepastian hukum. Selain itu, hakim sering meyakini bahwa praktek

poligami lebih baik dilakukan ketimbang membiarkan para suami yang rentan

terhadap perzinaan. Penerimaan yang terus berlanjut dan persetujuan terhadap

praktek poligami oleh hakim dan oleh ulama lokal di Indonesia telah bertentangan

dengan peraturan internasional. Hukum dan peraturan tentang poligami dan

aplikasinya. Oleh karena itu, harus ditinjau kembali karena kebijakan-kebijakan

mereka telah mencegah kaum perempuan dari mendapatkan hak atas kepastian

hukum, hak yang dilindungi oleh CEDAW dan pemerintah Indonesia. Kajian tersebut

harus menjawab pertanyaan apakah pendukung poligami menganggap bahwa

poligami adalah hak dari agama atau doktrin, atau hak legal bagi kaum laki-laki.

Pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban yang tepat dalam rangka membangun

kepastian hukum, karena banyak perempuan di Indonesia bingung, apakah mereka

40

Pasal 2 CEDAW. 41 Pasal 3 Kovenan Sipol. 42

(28)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 28 memiliki hak atau tidak untuk menyuarakan penentangan terhadap poligami.

Tinjauan tersebut juga harus terfokus pada perlindungan terhadap standar hidup istri

pertama. Tentu tidaklah wajar bagi istri pertama yang dipaksa untuk menerima

standar hidup yang lebih rendah atau untuk mengakhiri pernikahannya karena

suaminya berpoligami.

5.1.2 Hak atas Kesetaraan

Hukum serta peraturan-peraturan yang ada, dan praktik poligami juga telah

melanggar artikel CEDAW tentang kesetaraan. CEDAW menegaskan kesetaraan bagi

semua orang, baik bagi pria ataupun wanita, dalam perkawinan. Pasal 16 CEDAW

menyatakan bahwa:

Negara-negara Pihak wajib melakukan langkah-tindak yang tepat untuk menghapus diskriminasi terhadap perempuan dalam semua urusan yang berhubungan dengan perkawinan dan hubungan keluarga atas dasar persamaan antara lelaki dan perempuan, dan khususnya akan menjamin: (a) Hak yang sama untuk memasuki jenjang perkawinan; (b) Hak yang sama untuk memilih suami secara bebas dan untuk memasuki jenjang perkawinan hanya dengan persetujuan yang bebas dan sepenuhnya;

Pasal 59 KHI menyatakan bahwa persetujuan dari istri dapat ditiadakan ketika

terdapat kondisi tertentu, yang mana pengadilan seringkali tidak memberi perhatian

kepada hak-hak si istri untuk terpenuhi. Selain itu, meski dalam beberapa kasus tidak

ada kriteria yang memperbolehkan pemberian izin poligami, hakim tidak diharuskan

untuk mencari tahu lebih dalam terkait adanya persetujuan dari istri tersebut diberikan

secara tulus atau tidak. Meskipun hampir semua perempuan yang diwawancarai

mengatakan bahwa mereka setuju dengan adanya hukum yang mengizinkan poligami,

tetapi mereka juga menyatakan bahwa jika suami mereka sendiri ingin melakukan

poligami, mereka akan keberatan. Realita seperti ini menunjukkan bahwasanya tidak

banyak istri yang dengan tulus akan menyetujui kehendak suami mereka untuk

melakukan poligami, meski suami mungkin saja di pengadilan memperoleh

persetujuan yang diperlukan dari istrinya. Sekali lagi, fakta ini menggambarkan

(29)

ISLAM, POLITIK DAN PERUBAHAN : DINAMIKA UMAT ISLAM INDONESIA PASKA LENGSERNYA SUHARTO 29 tampaknya dianggap sebagai hak laki-laki, dan menyisakan sedikit pilihan selain

setuju bagi pihak perempuan. Mengatakan ‘tidak’ bisa berarti akhir dari pernikahan,

di sisi lain perempuan sendiri sering memiliki ketergantungan secara finansial.

Dalam konteks ini, UU No. 23/2004 tentag Penghapusan Kekerasan dalam

Rumah Tangga (UU KDRT) perlu dijadikan rujukan. UU KDRT sendiri telah

memberikan aturan rinci dalam kaitannya dengan bentuk kekerasan dalam rumah

tangga dan mengkategorikan kekerasan menjadi empat jenis: fisik, mental, seksual,

penelantaran atas dukungan keuangan dan pengasuhan anak.43 Praktek poligami

mencipatakan penderitaan bagi istri dapat dikategorikan sebagai bentuk kekerasan

mental. Peneliti sebagaimana Nurmila dan Brenner telah lakukan menunjukan bahwa

poligami memiliki dampak buruk pada pernikahan yang terjadi.44 Meskipun faktanya

demikian, tampaknya banyak hakim tidak mengacu dan mempertimbangkan

Konvensi tersebut dan UU No. 23/2004, dan memandang poligami sebagai bentuk

kekerasan dalam rumah tangga. Hakim dalam kasus yang saya teliti cenderung

merujuk pada kaidah hukum fiqh dan ayat-ayat Al-Qur'an, dan menerapkan aturan-aturan dalam KHI secara longgar.45

5.2. Kewajiban Mengenakan Jilbab

Jika sebelumnya kita mengacu pada CEDAW dan ICCPR, kewajiban untuk

memakai jilbab oleh beberapa aturan daerah mungkin melanggar nilai-nilai

fundamental HAM. Setidaknya, hak-hak dilanggar termasuk hak kebebasan beragama

dan hak kebebasan berekspresi dan kesetaraan.

43 Lihat Pasal 5, 6, 7, dan 8 UU No. 23/2004 tentang KDRT. Lihat juga Ratna Batara Munti, Advokasi Kebijakan Pro Perempuan: Agenda Politik untuk Kesetaraan dan Demokrasi, (Jakarta: Yayasan Tifa dan PSKW Pasca Sarjana UI, 2008).

44

Lihat, misalnya, Nina Nurmila, Women, Islam and Everyday Life: Renegotiating Polygamy in Indonesia Lo do a d Ne York: ‘outledge, 9 ; Syza e Bre er, Holy

Matri o y? The Pri t of Politi s of Polyga y i I do esia , i A dre N. Wei trau , Islam and Popular Culture in Indonesia and Malaysia (Londonand New York: Routledge, 2011), 212–234;

a d, Naoko Ya ada, I tert i i g Nor s a d La s i the Dis ourse of Polyga y i Early

Twentieth Century West Su atera , dala Yoko Hayami (ed.), The Family in Flux in Southeast Asia: Institution, Ideology, Practice (Japan: Kyoto University Press, 2012), 63–86.

45

Referensi

Dokumen terkait

Here, the writer wants to study the personal relationships between the characters in Robert Frost’s ‘the Death of the Hired Man.’ The writer chooses this poem because it provides

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis di atas dapat disimpulkan bahwa variabel yang paling berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan (Y1) adalah

Pada bagian ini akan didiskusikan dimensi metrik dari hasil operasi tertentu graf Petersen diperumum, yang dinotasikan dengan

Kеywords: Mark е ting Strat е gy, TOWS Analysis, STP... Jurnal Administrasi Bisnis

Transformasi teritori hunian sekitar kawasan industri Pulogadung terwujud dalam perubahan luas teritori, jumlah ruangan penyusun teritori, dan jenis teritori

Jadi, dengan adanya lembaga Cyber Court yang menangani khasus ITE yang merupakan suatu lembaga yang berdiri sendiri jadi dengan begitu lembaga tersebut dapat dengan

Fase komputerisasi membuat penggunaan tipografi menjadi lebih mudah dan dalam waktu yang lebih cepat dengan jenis pilihan huruf yang sekarang bisa beribu-ribu pilihan

Untuk itu, melalui Seminar Nasional ini pendidikan bahasa dan sastra dapat memberikan andil dalam mewujudkan perubahan mental secara cepat generasi muda harapan masa