• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENAKSIRAN PRODUK TIVITAS TANAMAN KELAPA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENAKSIRAN PRODUK TIVITAS TANAMAN KELAPA"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

PENAKSIRAN PRODUKTIVITAS TANAMAN KELAPA

Disusun oleh: Nurul Pratiwiningrum, Shofiyah Mujahidah, Herdiana Anggrasari, Ramadhan Wahyu Fauzi, Fidya Prasetyowati

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kelapa (Cocos nucifera L.) merupakan komoditas strategis yang memiliki peran sosial, budaya, dan ekonomi dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Manfaat tanaman kelapa tidak saja terletak pada daging buahnya yang dapat diolah menjadi santan, kopra, dan minyak kelapa, tetapi seluruh bagian tanaman kelapa mempunyai manfaat yang besar. Demikian besar manfaat tanaman kelapa sehingga ada yang menamakannya sebagai "pohon kehidupan" (the tree of life) atau "pohon yang amat menyenangkan" (a heaven tree) (Asnawi dan Darwis, 1985). Selain itu, tanaman kelapa juga dapat tumbuh di sepanjang pesisir pantai khususnya, dan dataran tinggi serta lereng gunung pada umumnya. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman kelapa sangat potensial untuk dikembangkan mengingat hasil ekonomisnya yang tinggi dan tempat tumbuhnya yang tidak memerlukan kondisi khusus.

(2)

Pemeliharaan tanaman kelapa perlu dilakukan dengan pemupukan yang tepat serta pengendalian hama dan penyakit secara terpadu. Pemanfaatan lahan harus mempertimbangkan kesesuian lahan dan iklim. Selain itu, perlu adanya peningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan, tidak hanya kelapa butiran, kopra atau minyak akan tetapi aneka ragam olahan produk lainnya yang berasal dari tanaman kelapa. Sehubungan dengan hal tersebut, maka diperlukan adanya upaya-upaya tertentu untuk meningkatkan teknik budidaya tanaman kelapa. Sebelum dilakukan upaya tersebut maka perlu dilakukan penaksiran produktivitas tanaman. Oleh karena itu, perlu dipelajari tentang penaksiran produktivitas tanaman kelapa lebih dalam agar dapat menentukan upaya perbaikan budidaya yang sesuai untuk tanaman kelapa.

B. Tujuan

1. Mengetahui produktivitas tanaman kelapa di suatu daerah dalam satu satuan luas lahan per satu satuan waktu.

(3)

II. TINJAUAN PUSTAKA

Dalam tata nama atau sistematika (taksonomi) tumbuh-tumbuhan, tanaman kelapa (Cocos nucifera) dimasukkan ke dalam klasifikasi sebagai berikut (Warisno, 2003) :

Kingdom : Plantae (Tumbuh-tumbuhan) Divisio : Spermatophyta (Tumbuhan berbiji) Sub-Divisio : Angiospermae (Berbiji tertutup) Kelas : Monocotyledonae (biji berkeping satu)

Ordo : Palmales

Familia : Palmae

Genus : Cocos

Spesies : Cocos nucifera L.

Produktivitas tanaman kelapa di Indonesia, saat ini baru sekitar 50 persen dari potensinya atau hanya 1,1 ton/ha. Selain rendahnya produktivitas tanaman, persoalan lain dalam pengembangan kelapa di Indonesia yakni pemanfaatan produk hilir maupun hasil sampingan belum banyak dilakukan. Selama ini komoditas kelapa hanya dimanfaatkan produk primernya saja dalam bentuk kelapa segar maupun kopra untuk bahan baku minyak goreng. Saat ini, Indonesia baru mampu menghasilkan 22 ragam produk turunan kelapa, jauh di bawah Filipina yang telah memproduksi lebih dari 100 jenis diversifikasi produk berbasis kelapa (Anonim, 2008).

Tanaman kelapa akan tumbuh baik di daerah tropis seperti Asia, Oceanea, India Barat, Amerika Tengah, Amerika Selatan, Afrika Timur, dan Afrika Barat. Tanaman kelapa juga dikenal cukup tinggi kemampuan beradaptasinya dengan lingkungan yang beragam, termasuk dalam berbagai tanah asalkan drainasenya baik. Drainase yang buruk akan menghambat perkembangan akar serta pertumbuhan tanaman. Akibat lainnya yaitu terjadinya kerebahan tanaman, cara mengatasinya yaitu dengan penurunan permukaan tanah dengan menggunakan sistem tata air yang baik (Child, 1974).

(4)

yang sangat menonjol yakni batangnya yang tumbuh mencapai puluhan meter di atas permukaan tanah. Cocos nucifera merupakan spesies penting dari famili Arecaceae dan salah satu tanaman paling penting dalam kelas monokotil. Tanaman ini memiliki 2 varietas utama yakni varietas tinggi dan varietas kerdil (Tomlinson, 2007).

Pemanenan kelapa, untuk kelapa jenis dalam, umur berbuah setelah 8-10 tahun, dan umur bisa mencapai 60 - 100 tahun dengan produksi yang diharapkan adalah kopra. Untuk kelapa jenis genjah berbuah setelah umur 3 - 4 tahun dan berbuah maksimal pada saat umur 9 - 10 tahun, dan bisa mencapai umur 30 - 40 tahun kurang bagus untuk kopra karena daging buahnya yang lunak. Panen buah kelapa dilakukan menurut kebutuhannya. Jika kelapa yang diinginkan dalam keadaan kelapa masih muda kira-kira umur buah 7 -8 bulan dari bunganya. Jika ingin mengambil buah tua untuk santan atau kopra dipanen di saat umur sudah mencapai 12-14 bulan dari berbunga atau jika sudah tidak lagi terdengar suara air di dalam buahnya (Anonim, 2007).

Buah kelapa berbentuk lebih seperti telur, bentuk yang lebih tepatnya tergantung dari varietasnya, yang juga menentukan ukurannya. Di bawah kulit bagian luar atau exocarp, adalah suatu penutup berserat, atau mesocarp. Bersama dengan bentuk ini yaitu sekam. Di bawah mesocarp, ditutupi dengan suatu kulit yang sangat keras, atau endocarp, menjadi biji pada bagiannya sendiri. Kelapa terdiri dari empat komponen, sekitar 35 persen sekam, 12 persen kulit, 28 persen daging dan 25 persen air (Asiedv, 1989).

Daging buah kelapa terdiri dari tiga bagian (Setyamidjaja, 2003) :

a. Epicarp, yaitu kulit bagian luar yang permukaannya licin, agak keras dan tebalnya lebih kurang 1/7 mm

b. Mesocarp yaitu kulit bagian tengah yang disebut sabut. Bagian ini terdiri dari serat yang keras tebalnya 3-5 cm.

c. Endocarp yaitu bagian tempurung yang keras sekali. Tebalnya 3-6 mm. Bagian dalam melekat pada kulit luar dari biji / endosperm

d. Putih lembaga atau endosperm yang tebalnya 8-10 mm.

Kelapa kopyor merupakan buah kelapa yang mengalami keabnormalan pada endosperm. Endosperm tidak bertekstur padat tetapi berbutir-butir yang lepas dari tempurungnya. Endosperm yang seperti itu akan segera membusuk setelah buah masak, sehingga endosperm tidak dapat dimanfaatkan oleh embrio untuk berkecambah (Sukendah et al., 2008).

(5)

nabati di Indonesia, baik minyak untuk kebutuhan rumah tangga maupun minyak secara komersil, maka peningkatan produksi minyak umumnya dan minyak kelapa khususnya perlu mendapat perhatian (Ketaren, 1986).

(6)

III. METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM

Praktikum Budidaya Tanaman Tahunan Acara 4 yang berjudul Penaksiran Produktivitas Tanaman Kelapa dilaksanakan pada hari Kamis, 15 Mei 2014 di Desa Tirtonirmolo, Kec. Kasihan, Kabupaten Bantul, DIY. Alat yang digunakan dalam praktikum acara ini adalah busur derajat, roll meter, hand counter, dan alat tulis.

Praktikan datang ke kebun kelapa milik salah satu petani di salah satu desa di Kabupaten Bantul. Kemudian dilakukan wawancara terhadap pemilik lahan tersebut dengan poin pertanyaan sebagai berikut: identitas pemilik (nama, umur, alamat, pekerjaan); luas halaman (lahan yang ditanami kelapa); jumlah pohon kelapa yang dimiliki; dan teknis budidaya (asal bibit, penanaman, jarak tanam, pemeliharaan, pemanenan, dan pasca panen). Setelah itu, diambil sampel tanaman kelapa sebanyak 3 buah. Dari sampel tersebut, diamati beberapa parameter, yaitu jenis tanaman kelapa (dalam, genjah, hibrida, gading, dan sebagainya), tinggi tanaman, jumlah janjang per pohon, jumlah buah per janjang, dan perkiraan waktu panen yang akan datang. Setelah itu, dibuat laporan kelompok berdasarkan data wawancara, kegiatan dokumentasi, dan pengamatan lapangan tersebut.

Metode pengukuran tinggi tanaman pohon kelapa yang digunakan yaitu :

TK

α x

s

α = sudut yang dibentuk busur to = tinggi mata pengamat

s = jarak pengamat dengan pohon kelapa x = 180o – (90o+α)

(7)

Berdasarkan tinggi tanaman kelapa yang diperoleh, kemudian dapat dihitung produktivitas tanaman dengan rumus sebagai berikut :

Produktivitas Tanaman Kelapa (PTK) = jumlah butir per janjang × jumlah janjang per pohon × jumlah panen per tahun.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Wawancara

1. Identitas Petani

Nama : Bapak Tugiman Umur : 68 tahun

Alamat : JL. Glondong, Tirtonimolo, Kasihan, Bantul Pekerjaan : Pensiunan

2. Luas Halaman

Lahan kelapa : 300 m2 dan 400 m2

Jumlah pohon : 14 pohon kelapa 3. Teknis Budidaya

Asal bibit : Membibitkan sendiri dari buah kelapa hasil panen dan pembibitan berasal dari pertanian dongkelan

Penanaman : Ditanam di pekarangan rumah Jarak tanam : Tidak memperhatikan jarak tanam 4. Pemeliharaan

Teknis : Tidak ada pemeliharaan khusus, hanya dilakukan pembersihan seperti membuang daun yang berwarna kuning dan sudah tua Hama, Penyakit : Tidak ada

Gulma : Tidak ada

Pemupukan : Diberi garam, pupuk kompos 5. Pemanenan dan Pascapanen

(8)

B. Hasil Pengamatan

Rumus Metode Pengukuran Tinggi Pohon Kelapa :

(9)

tk = (1,75 . 3,5) + 1,61

tk = 7,665 m

Perhitungan produktivitas pohon kelapa Pak Tugiman Produktivitas pohon kelapa 1

= jumlah janjang per pohon x jumlah buah per janjang x jumlah panen per pohon per tahun = 6 x 5 x 4 = 120 butir/pohon/tahun

C. Pembahasan

Kelapa merupakan tanaman perkebunan atau industri berupa pohon batang lurus dari famili Palmae. Ada dua pendapat mengenai asal usul kelapa, yaitu dari Amerika Selatan menurut D.F. Cook, Van Martius Beccari dan Thor Herjerdahl dan dari Asia atau Indo Pasific menurut Berry, Werth, Mearil, Mayurathan, Lepesma, dan Pureseglove. Kata coco pertama kali digunakan oleh Vasco da Gama, atau dapat juga disebut Nux Indica, coconut, dan pohon kehidupan. Adapun klasifikasi botani tanaman kelapa adalah : Divisi Magnoliophyta, Kelas

Liliopsida, Famili Arecaceae, Genus Cocos, dan Spesies Cocos nucifera.

Kelapa banyak terdapat di negara-negara Asia dan Pasifik yang menghasilkan 5.276.000 ton (82%) produksi dunia dengan luas ± 8.875.000 ha (1984) yang meliputi 12 negara, sedangkan sisanya oleh negara di Afrika dan Amerika Selatan. Indonesia merupakan negara perkelapaan terluas (3.334.000 ha tahun 1990) yang tersebar di Riau, Jateng, Jabar, Jatim, Jambi, Aceh, Sumut, Sulut, NTT, Sulteng, Sulsel dan Maluku, tapi produksi dibawah Philipina (2.472.000 ton dengan areal 3.112.000 ha), yaitu sebesar 2.346.000 ton. Balai Penelitian Kelapa dan Palma Lain (BALITKA) Manado telah mengkoleksi dari berbagai daerah di Indonesia sebanyak 113 populasi kelapa genjah dan dalam (Hannum, 2004). Berdasarkan fakta tersebut populasi jenis kelapa yang banyak dibudidayakan di daerah Indonesia adalah kelapa jenis dalam dan kelapa jenis genjah. Pemanfaatan lahan di antara kelapa di masa depan sangat strategis mengingat areal pertanian makin terbatas sedangkan jumlah keluarga petani makin meningkat, penyediaan lapangan kerja di pedesaan, dan peningkatan produksi pangan dan bahan baku berbagai agroindustri. Secara teoritis, Sekitar 50-75% lahan di antara kelapa yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman lain. Ini berarti tersedia setara 2.2 hingga 2.8 juta ha lahan pertanian di antara 3.74 juta ha areal kelapa saat ini (Allorerung, Barri, dan Amrizal, 1999).

(10)

buah. Buah kelapa memiliki nilai ekonomis yang paling penting bila dibandingkan dengan bagian-bagian lain yang dapat dimanfaatkan. Tanaman ini tumbuh di daerah tropis dan tumbuh baik dalam keadaan iklim panas yang lembab. Pada ketinggian 0-450 dpl, kelapa dapat tumbuh cepat, berbuahnya pun lebih cepat, kadar minyaknya lebih tinggi sehingga produksinya pun juga tinggi. Keadaan akan terjadi sebaliknya apabila pohon kelapa berada pada ketinggian 450-1000 dpl.

Kelapa (Cocos nucifera) termasuk familia Palmae dibagi menjadi tiga : (1) Kelapa dalam dengan varietas Viridis (kelapa hijau), Rubescens (kelapa merah), Macrocorpu (kelapa kelabu), Sakarina (kelapa manis, (2) Kelapa genjah dengan varietas Eburnea (kelapa gading), varietas Regia (kelapa raja), Pumila (kelapa puyuh), Pretiosa (kelapa raja malabar), dan (3) Kelapa hibrida.

a. Varietas Dalam

Ciri-ciri varietas dalam antara lain batangnya tinggi dan besar, dapat tumbuh mencapai 30 meter atau lebih, pangkal batangnya membesar, mulai berbuah jika tanaman berumur 5-8 tahun, umur produktif 35 tahun atau lebih, dapat mencapai umur 100 tahun atau lebih, proporsi komponen buah yaitu : sabut 41,7%, tempurung 28,4%, dan daging buah 29,7%, jumlah buah tiap tandan lebih sedikit tapi ukuran buah lebih besar dan kadar kopra banyak (150-500 g/buah). Contoh varietas dalam yaitu varietas-varietas Tenga, Palu, Bali, Jepara, varietas viridis (kelapa hijau), rubescens (kelapa merah), Macrocorpu (kelapa kelabu), Sakarina (kelapa manis) dan lain-lain.

b. Varietas Genjah

Ciri-ciri varietas genjah antara lain bentuk batang ramping dari pangkal sampai ke ujung, tinggi batang 25 tahun, mencapai 5 meter atau lebih, mulai berbuah cepat jika tanaman telah berumur 4-5 tahun, umur produktif 25 tahun atau lebih, dapat mencapai umur lebih dari 50 tahun, buah berbentuk lonjong, kecuali kelapa gading berbentuk bulat, buahnya kecil (1 kg), jumlah buah tiap tandan lebih banyak tetapi ukuran buah kecil dan kadar kopra rendah (100-150 g/buah). Contoh varietas genjah antara lain varietas-varietas Genjah Raja, Genjah Hijau, Genjah Kuning (kelapa gading), dan Genjah Nias.

c. Kelapa Hibrida

(11)

Banyaknya hasil dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor eksternal (dari luar) dan faktor internal (dari dalam). Faktor internal yang mempengaruhi tinggi rendahnya hasil produksi tanaman kelapa yaitu varietas kelapa, yang masing-masing memiliki sifat genotip berbeda, sehingga besarnya kemampuan dalam menghasilkan buah juga berbeda. Perkiraan produksi buah pada kelapa varietas dalam biasanya menghasilkan rata-rata 2,3 ton kopra/ha/tahun pada umur 12-25 tahun, sedangkan untuk kelapa hibrida pada umur 10-25 tahun mampu menghasilkan rata-rata 3,9 ton/ha/tahun. Faktor luar yang juga mempengaruhi hasil produksi tanaman kelapa yaitu keadaan tanah dan iklim, ketersediaan air tanah, serangan hama dan penyakit, serta pemeliharaan tanaman dan keadaan sekitarnya. Beberapa faktor iklim yang perlu diperhatikan adalah letak lintang, ketinggian tempat, curah hujan, ketinggian tempat, curah hujan, temperatur, kelembaban, dan penyinaran matahari (Setyamidjaja, 1984).

Dalam penanaman pohon kelapa selain mengalami peningkatan produksi bisa juga mengalami penurunan produktivitas kelapa. Penyebab tinggi rendahnya produktivitas kelapa tersebut antara lain adalah :

1. Serangan hama/ penyakit

2. Keadaan tanaman yang sudah terlalu tua

3. Sistem bercocok tanam yang tidak memenuhi persyaratan teknis 4. Pemeliharaan tanaman yang kurang diperhatikan.

5. Rata-rata tanaman yang ada telah melewati umur produktif.

Untuk meningkatkan produktivitas kelapa dan pendapatan petani, kelapa tua perlu diremajakan, kelapa yang relatif muda direhabilitasi. Penanaman baru atau perluasan harus mempertimbangkan kesesuaian lingkungan, dan meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan tidak hanya kelapa butiran, kopra atau minyak akan tetapi aneka ragam produk yang berasal dari tanaman kelapa maupun dari tanaman sela yang ditanam diantara pohon kelapa.

(12)

terlihat bahwa tanaman kelapa yang diusahakan secara monokultur hanya memakai 25% dari lahan yang ada sedang selebihnya sebesar 75% berada dalam keadaan tidak produktif. Dari hasil-hasil penelitian yang telah dilaksanakan menyimpulkan bahwa dengan hadirnya tanaman sela diantara tanaman kelapa memberikan efek ganda mengemukakan bahwa dengan hadirnya tanaman sela pada usahatani kelapa tidak saja menaikkan produksi tanaman pokok tetapi juga meningkatkan produksi tanaman sela.

Pada praktikum ini, dilakukan pengamatan terhadap kebun kelapa yang terletak di JL. Glondong, Tirtonimolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Kelapa yang diamati adalah milik Bapak Tugiman berjumlah 4 pohon kelapa dalam. Pohon kelapa tersebut ditanam di pekarangan rumah dengan luas 300 m2. Teknik budidaya yang dilakukam Bapak Tugiman adalah penanaman buah kelapa (kering) di lahan pekarangan milik pribadi. Tanaman kelapa ditanam dengan jarak tanam kira-kira 6 x 7 m Jenis kelapa yang terdapat di pekarangan Bapak Tugiman adalah kelapa jenis dalam berwarna hijau, yang mempunyai tinggi tanaman yang cukup tinggi.

Bapak Tugiman tidak melakukan pemeliharaan khusus pada pohon kelapa miliknya hanya diberi garam pada pohon kelapanya. Pemberian garam dimaksudkan untuk meningkatkan produktifitas kelapa. Jumlah janjang per pohon sekitar 6-7 janjang. Jumlah butir buah kelapa per janjang tidak menentu, yaitu 5 butir sampai sekitar 10 butir buah kelapa. Buah kelapa dipanen setiap kurang lebih 2 bulan sekali.

Jika membandingkan dengan teori yang ada, teknik budidaya yang dilakukan oleh bapak Tugiman cukup sesuai yaitu dengan memberi pupuk berupa garam pada pohon kelapa. Selain itu dalam pemanenan buah kelapa juga tidak tepat waktu, hanya kadang-kadang buah kelapa tersebut dipanen. Daerah Kabupaten Bantul memiliki kondisi wilayah yang sesuai dengan syarat tumbuh tanaman kelapa.

(13)

Jika dibandingkan dengan teori, produksi aktual hasil pengamatan masih rendah, hanya mencapai 224 butir/pohon/tahun.Buah kelapa yang dihasilkan biasanya untuk dijual. Dalam upaya budidaya tanaman kelapa, tidak ditemukan adanya penggunaan teknologi khusus untuk meningkatkan produktivitas tanaman kelapa, yang ada justru hanya pemanfaatan alat bantu sederhana, seperti: cangkul, sabit, tangga dari bambu (khususnya saat panen), serta penggunaan garam yang dibungkus plastik kemudian dilubangi dan diletakkan di sela-sela buah kelapa di pohon yang berfungsi sebagai pencegah serangan hama kumbang kelapa. Selain munggunakan garam sebagai upaya pencegahan serangan hama, Pak Tugimin juga menggunakan kompos sebagai pupuk.

Salah satu Teknologi tepat guna budidaya tanaman kelapa adalah Jarak dan Sistem Tanam Baru Kelapa serta pemanfataan lahan di antara kelapa dengan tanaman, aren, nenas dan kacang tanah. Jarak dan Sistem Tanamam Baru Kelapa adalah suatu teknologi tepat guna yang dapat dilaksanakan untuk mampu menjawab permasalahan yang sedang dihadapi sektor pertanian yaitu lahan yang semakin sempit dan kecil serta produktivitas rendah. Upaya mengoptimalkan pemanfaatan lahan di antara kelapa dapat ditempuh dengan memilih komoditas yang sesuai dengan kondisi iklim mikro yang ada atau meningkatkan intersepsi radiasi surya agar sesuai dengan kebutuhan tanaman sela. Upaya peningkatan optimalisasi sumberdaya lahan tersebut berkaitan dengan dua aspek yaitu (a) aspek spatial (ruang) dan (b) aspek temporal (waktu). Aspek spatial berkaitan dengan maksimum areal yang dapat digunakan untuk tanaman lain pada tingkat populasi atau produksi kelapa yang relatif sama. Sementara aspek temporal berkaitan dengan kontinuitas dan jangka waktu pemanfaatan lahan di antara kelapa yang berhubungan dengan tersedianya iklim mikro yang sesuai sepanjang usahatani polikultur akan diterapkan. Kedua aspek ini menentukan efektivitas dan efisiensi pemanfaatan sumberdaya lahan di antara kelapa secara berkelanjutan (Albert, 2011).

(14)

demikian, dapat diusahakan penanaman berbagai jenis tanaman sela yang membutuhkan intensitas radiasi surya yang tinggi sepanjang waktu, mulai dari tanaman pangan, hortikultura hingga tanaman perkebunan. Jika tanaman yang diusahakan memerlukan tingkat radiasi surya rendah, maka bisa diadakan penanaman tanaman pelindung sementara. Teknologi jarak dan sistem tanam baru kelapa yaitu 6 x 16 m empat persegi (sistem pagar) sangat tepat untuk mendukung pola usahatani polikultur. Penggunaan jarak dan sistem tanam ini diarahkan untuk pemanfaatan lahan di antara tanaman kelapa dengan menanam tanaman sela dan untuk meningkatkan pendapatan petani. Selain itu, waktu penanaman tanaman sela dapat dilakukan sepanjang tahun dengan pemilihan jenis tanaman sela yang lebih fleksibel dibanding dengan jarak tanam konvensional, yaitu 8 m x 8 m, 8,5 m x 8,5 m dan 9 m x 9 m sistem segitiga atau segiempat. Tanaman yang dapat digunakan untuk program penanaman terpadu dengan kelapa hampir meliputi semua jenis tanaman, termasuk ternak (Albert, 2011).

Selanjutnya, dalam meningkatkan produktivitas tanaman kelapa dapat dilakukan dengan cara peremajaan tanaman. Progam peremajaan yang sedang dan akan terus dilanjutkan di Indonesia sebagai upaya meningkatkan produksi tanaman kelapa akan lebih berhasil jika memberikan jaminan peningkatan pendapatan bagi petani peserta program ini. Kemungkinan keberhasilan tersebut akan lebih nyata jika program ini dikombinasikan dengan menerapkan teknologi jarak dan sistem tanam baru kelapa dengan berwawasan tanaman campuran (polikultur). Sasaran utama dari usahatani kelapa polikultur adalah dalam rangka meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan pada satu luasan dan waktu tertentu, jadi menyangkut aspek spatial dan temporal pada saat yang bersamaan yang luaran akhirnya adalah bertambahnya pendapatan petani dan tentunya akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan.

(15)

memberikan keuntungan bagi petani pelaksana pola ini. Kesimpulan umum yang dapat diambil bahwa pendapatan petani kelapa dijamin akan berkelanjutan jika program peremajaan yang akan diterapkan menerapkan jarak dan sistem tanam baru kelapa disertai dengan usahatani polikultur. Selain itu, pengusahaan tanaman sela diantara tanaman kelapa dapat memperbaiki aerasi tanah sehingga dapat memperbaiki sistem perakaran kelapa dan meningkatkan produksi buah kelapa (Albert, 2011).

Rangkaian budidaya tanaman kelapa jika dilakukan dengan runtut, lengkap dan sesuai dengan kebutuhan tanaman kelapa, akan dapat meningkatkan produktivitas tanaman kelapa. Teknologi lain yang akan meningkatkan produktivitas tanaman kelapa adalah trio tata air. Trio tata air adalah system pengairan yang akan efektif untuk pengairan tanaman kelapa. Trio Tata Air terdiri dari tanggul, pintu klep, dan drainase. Semakin hari, semakin berkurang masyarakat yang mau menanam tanaman kelapa. Hal ini salah satunya karena sejak penanaman, kelapa akan dapat dipanen 5 atau 6 tahun kemudian. Padahal dalam perjalanan menuju siap panen, ada banyak hal yang mungkin terjadi, misalnya serangan hama yang menyebabkan produksi panen kelapa tidak maksimal. Pengairan yang cukup juga menjadi salah satu factor pendukung produktivitas kelapa.

Trio tata air adalah system yang sangat berpengaruh pada produktivitas tanaman kelapa. Tanggul, pintu klep dan drainase adalah komponen yang akan membuat tanaman kelapa terpenuhi kebutuhan airnya sehingga produktivitasnya meningkat (Jumari, 2014). Jadi, tanggul sudah baik, lalu pengairan sudah bagus kebun kelapa masyarakat sudah tumbuh dengan lebat tidak perlu adanya gerakan menanam kelapa karena masyarakat dengan sendirinya akan melakukan penanaman kelapa.

(16)

V. KESIMPULAN

1. Tanaman Kelapa dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu kelapa genjah, kelapa dalam, dan kelapa hibrida.

2. Produktivitas tanaman kelapa di kebun kelapa milik Pak Tugimin di Kasihan, Bantul tergolong rendah dengan hasil 224 butir/pohon/tahun.

3. Rendahnya produktivitas disebabkan oleh pemeliharaan yang kurang dan rendahnya minat masyarakat untuk memanfaatkan produk dari pohon kelapa.

4. Penerapan teknologi budidaya kelapa di tingkat petani responden masih rendah dan belum menggunakan teknologi tinggi tepat guna.

5. Beberapa faktor yang menyebabkan menurunnya produksi kelapa tersebut antara lain adalah:

a. keadaan tanaman yang sudah terlalu tua.

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Allorerung, D., Z. Mahmud , Wahyudi, H. Novarianto, dan H. T. Luntungan. 2005. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kelapa. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.

Anonim. 2007. Budidaya Kelapa. <http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-kelapa.html>. Diakses pada tanggal 5 Mei 2014.

Anonim. 2008. Deptan Targetkan Peremajaan Tanaman Kelapa 380 ribu Ha. (http://www.hupelita.com/baca.php?id=55059). Diakses pada tanggal 5 Mei 2014. Aristya, Vina E., D. Prajitno, Supriyanta, Taryono. 2013. Kajian aspek budidaya dan

identifikasi keragaman morfologi tanaman kelapa (Cocos nucifera L.) di Kabupaten Kebumen.

Asiedv, J.J. 1989. Processing Tropical Crops. Macmillan Publishers, London.

Asnawi, S. dan Darwis, S. N. 1985. Prospek Ekonomi Tanaman Kelapa dan Masalahnya di Indonesia. Balai Penelitian Kelapa, Manado.

Child, R. 1974. Coconut, 2nd edition. Longman Group Ltd., London.

Jumari. 2014. Maksimalkan Pemanfaatan Lahan.

<http://www.haluanriaupress.com/index.php?

option=com_content&view=article&id=11128:maksimalkan-pemanfaatan-lahan&catid=71:halaman-13&Itemid=81>. Diakses pada tanggal 18 Mei 2014. Ilat, Albert. 2011. Jarak Dan Sistem Tanam Baru Kelapa Pada Gelar Teknologi Penas XIII.

<http://balitka.litbang.deptan.go.id/index.php?

option=com_content&view=article&id=155%3Ajarak-dan-sistem-tanam-baru-

kelapa-pada-gelar-teknologi-penas-xiii&catid=37%3Aberita&Itemid=160&lang=en>. Diakses pada tanggal 18 Mei 2014.

(18)

Suhardiono, L. 1993. Tanaman Kelapa. Kanisius, Yogyakarta.

Sukendah, I. N, Djajanegara, dan Rahmat, N. F. 2008. Keeratan hubungan antara kualitas sumber ekspaln dengan perkecambahan dan pertumbuhan embrio zigotik kelapa kopyor. Jurnal Agro UMY (14): 95-105.

Referensi

Dokumen terkait

(;ON T AIL SYUKUR HARAHAP GUNUNG TUA JAE JLJNIYANTY SIREGAR GUNUNG TUA JAE NISROYANI SIREGAR GUNUNG TUA JAE NINI SARTIKA HARAHAP GUNUNG TUA JAE ALL BORKAT HARAHAP GUNUNG

Dalam setiap kegiatan belajar kelompok digunakan lembar kegiatan, lembar tugas dengan tujuan agar terjalin kerjasama diantara anggota kelompoknya. Lembar kegiatan dan

Untuk meminimalisirkan debu dan pasir menempel pada bungkus aksesoris, maka kontainer yang digunakan untuk menyimpan barang dagang di dalam rak baja diberi

Dengan masih belum dilakukan penegakkan hukum oleh pihak kepolisian dan khususnya Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) karantina terhadap pelaku/pengguna jasa yang

Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Muhammad Shofiyullah NIM : 10630057 Jurusan : Kimia Fakultas : Sains dan Teknologi Judul Penelitian : Identifikasi Senyawa Aktif dan

Studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 12 Mei 2016 di Dinas Kesehatan Kota Surakarta dengan subjek sebanyak 30 orang didapatkan bahwa pegawai negeri sipil

Mekanisme pembentukan akar pada stek mahkota nanas yaitu hormon auksin akan memperlambat timbulnya senyawa-senyawa dalam dinding sel yang berhubungan dengan

Perekayasaan mixer settler atau tangki pengaduk pengenap salah satunya adalah tangki berpengaduk (mixer tank), digunakan untuk proses ekstraksi uranium dari larutan asam fosfat