• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL J

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL J"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL JIGSAW TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS X

SMKN 1 GUNUNG TALANG

MUHAMMAD IBRAHIM NASUTION

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRONIKA FAKULTAS TEKNIK

(2)
(3)

PENGARUH PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL JIGSAW TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS X

SMKN 1 GUNUNG TALANG

Muhammad Ibrahim Nasution1, Zulkifli Naansah2, Sukaya2 Program Studi Pendidikan Teknik elektronika

FT Universitas Negeri Padang Email: [email protected]

Abstract

The problem in this study is the low student learning outcomes in subjects Mendiagnosis Permasalahan Pengoperasian PC dan Peripheral Grade X student in the School of Gunung Talang. It's seen many student learning outcomes that are under minimum completeness criteria implemented in schools is 7.00. Of the many factors that affect learning outcomes,one of the learning model given by the teacher has a low student learning outcomes. The purpose of this study was to reveal differences between cooperative learning jigsaw with model of conventional learning models. This type of research is experimental. This study population is students of class X TKJ SMKN 1 Gunung Talang academic year 2011/2012. Based on the results of the study concluded that the learning outcomes of students using cooperative learning jigsaw model of the experimental class with an average value of 74.04 while the control class using conventional learning models with an average value of 65.806 Thus the hypothesis can be accepted at the level of 95%.

Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw, Hasil Belajar

A. Pendahuluan

Pembangunan dibidang pendidikan merupakan suatu usaha dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Kualitas manusia Indonesia ini dapat ditingkatkan melalui pendidikan yang bermutu, karena manusia- manusia yang berkualitas hanya dapat dicapai dengan pendidikan yang berkulaitas juga. Untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia pemerintah telah melakukan berbagai usaha diantaranya:

(4)

penyempurnaan kurikulum, menyediakan sarana dan prasarana pendidikan serta meningkatkan mutu guru.

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang bertujuan untuk menyiapkan tenaga kerja yang memilki pengetahuan dan keterampilan serta sikap sesuai dengan spesialisasi kejuruannya. Sehingga tujuan utama proses pembelajaran adalah menuntut siswa untuk berhasil dalam menerapkan kemampuan yang sudah diperolehnya secara teori umumnya dan praktikum khususnya, sesuai dengan tujuan SMK itu sendiri yaitu untuk meghasilkan tenaga kerja menegah yang ahli dibidangnya ditunjang dengan hasil belajar yang memuaskan.

Pendidikan kejuruan memiliki peranan yang strategis dalam mempersiapakan sumber daya manusia untuk menghadapi industrialisasi dan globalisasi. Potensi ini dapat terwujud jika pendidikan kejuruan mampu melahirkan siswa yang cakap terampil dan memiliki kreatifitas yang tinggi, sehingga mampu berpikir logis bersifat kritis dan tanggap terhadap berbagai perubahan dan perkembanagan zaman.

(5)

strategi dan metode pengajaran yang cocok merupakan peluang untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna dan efektiv yang bisa mengahantarkan peserta didik pada tujuan pembelajaran itu sendiri.

Dalam mencapai pembelajaran yang bermakna dan efektif tersebut guru dan peserta didik sering pula dihadapkan pada berbagai masalah baik yang berkaitan dengan maslah intern siswa maupun masalah ekstern siswa. Masalah intern yaitu berkaitan dengan diri siswa itu sendiri, sedangkan masalah ekstern terkait dengan hal-hal diluar siswa itu sendiri, yang salah satu bentuknya adalah pemilihan metode pengajaran yang kurang sesusai oleh guru.

Pemecahan masalah ekstern ini dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu melalui diskusi kelas, tanya jawab anatara guru dengan pesrta didik, pemilihan metode yang tepat dan sesuai dengan materi ajar. Guru yang kreatif akan senantiasa mencari pendekatan-pendekatan baru dalam memecahkan masalah pengajaran, tidak terpaku pada cara atau metode tertentu yang monoton, melainkan memilih variasi lain yang sesuai.

(6)

Pemilihan strategi dan metode mengajar sangat dibutuhkan dalam proses belajar mengajar. Menurut Sardiman (2009:145) bahwa guru harus dapat marangsang dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk mendimanisasikan potensi sesuatu, menumbuhkan swadaya (aktifitas) dan daya cipta (kreatifitas) sehingga akan terjadi dinamika didalam proses belajar mengajar. Berdasarkan observasi awal yang penulis lakukan di SMKN 1 Gunung Talang, pada mata pelajaran Mendiagnosis permasalahan pengoperasin PC dan Peripheral, guru cenderung dengan menggunakan metode cearamah yang ternyata bersifat monoton dan menimbulkan kejenuhan bagi para siswa untuk belajar. Siswa hanya menerima apa saja yang disampaikan oleh guru, sehingga mereka tidak dapat mengembangkan daya kreatifitas yang dimilki dalam menghadapi berbagai fenomena yang terjadi. Siswa hanya mendengarkan penjelasan guru, mencatat dan mengerjakan tugas yang diberikan guru. Kejenuhan ini berimbas pada rendahnya minat siswa untuk belajar sehingga hasil belajar yang diperoleh kurang memuaskan, hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata ujian mid semester yang diperoleh siswa X TKJ SMKN 1 Gunung Talang tahun ajaran 2011/2012, adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Rata-rata Nilai Mid Semester Mendiagnosis Permasalahan Pengoperasian PC dan Peripheral kelas X TKJ

Kelas X TKJ A X TKJ B X TKJ C KKM Nilai Rata-rata 6,56 6,47 6,25

7,00

Jumlah Siswa 31 31 32

(7)

Dari Tabel di atas dapat diketahui rata-rata hasil belajar siswa kelas X SMKN 1 Guntal pada Ujian Mid Semester masih rendah, yaitu di bawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 7,00. Rendahnya hasil belajar siswa tersebut penyebabnya diduga tidak saja dari siswa, tetapi juga disebabkan oleh model pembelajaran yang digunakan oleh guru.

Untuk itu perlu adanya suatu model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dan merangsang minat belajar siswa. Model pembelajaran tersebut adalah model kooperatif (cooperative learning) menurut Slavin (2009:4) “Pembelajaran kooperartif merupakan pembelajaran dimana siswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pembelajaran”. Adanya model pembelajaran kooperatif diperkirakan dapat mengembangkan potensi siswa dalam kelompok seperti terjadinya hubungan saling menguntungkan diantara anggota kelompok yang melahirkan motivasi, mengembangkan semangat kerja kelompok dan semangat kebersamaan serta menumbuhkan komunikasi yang efektif dan semangat berkompetisi diantara anggota kelompok.

(8)

anggota kelompoknya yang lain tentang bahan yang dipelajarinya. Guru bertugas mengawasi pekerjaan masing-masing kelompok dan jika diperlukan guru membantu kelompok yang mendapat kesulitan dan guru juga bertugas memberikan penekanan terhadap konsep materi pelajaran yang dibahas.

Berdasarkan Uraian yang telah dipaparkan maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian bahwa siswa yang diajar dengan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw lebih tinggi hasil belajarnya dibandingkan dengan siswa yang diajar menggunakan Pembelajaran Konvensional dalam mata pelajaran Mendiagnosis

Permasalahan Pengoperasian PC dan Peripheral di SMKN 1 Gunung Talang”.

Sesuai dengan permasalahan yang telah diuraikan maka penelitian ini betujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran kooperatif model jigsaw terhadap hasil belajar Mendiagnosis Permasalahan Pengoperasian PC dan Peripheral siswa kelas X SMKN 1 gunung Talang.

B. Metode Penelitian

Sesuai dengan masalah yang diteliti maka jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen. Menurut Sumadi (2010:88) penelitian eksperimen bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan adanya saling hubungan sebab-akibat dengan cara mengenakan perlakuan kepada satu atau lebih kelompok eksperimen dan memperbandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan.

Desain penelitian yang digunakan adalah PretestPosttest control group design. Pada desain ini terdapat dua kelompok yang dipilih secara random.

(9)

Kemudian kelompok eksperimen diberikan perlakuan khusus yaitu dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model Jigsaw sedangkan kelompok kontrol diberikan perlakuan dengan pembelajaran Konvensional. Setelah proses pembelajaran selesai kedua kelompok sampel di tes dengan soal yang sama sebagai tes akhir (postest). Hasil kedua tes akhir dari kedua kelas sampel dibandingkan, perbedaan yang (signifikan) antara hasil tes akhir menunjukkan pengaruh dari perlakuan yang diberikan Sugiyono (2009:112).

Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas X Teknik Komputer dan Jaringan SMK Negeri 1 Gunung Talang, yang terdiri dari 3 lokal.

Tabel 2: Jumlah siswa kelas X TKJ SMK Negeri 1 Gunung Talang Kelas X TKJ A X TKJ B X TKJ C

Jumlah Siswa 31 31 32

Instrument tes yang digunakan adalah : uji validitas, uji reliabilitas, uji indeks kesukaran soal dan daya pembeda, uji ini digunakan untuk mengukur hasil penelitian ini sehingga nantinya akan didapatkan soal-soal yang baik. Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan teknik “purposive sampling” yaitu suatu cara pengambilan sampel yang sengaja dipilih berdasarkan

pertimbangan-pertimbangan atau tujuan tertentu. Pengambilan sampel secara purposive dilakukan karena sampel memiliki nilai rata-rata yang hampir sama dan jumlah siswa yang hampir sama. Pada penelitian ini teknik analisa data yang digunakan adalah :

(10)

2. Uji homogenitas bertujuan untuk melihat apakah kedua sampel mempunyai varian yang homogen atau tidak. Cara untuk menentukan homogenitas sampel adalah dengan uji F.

3. Uji hipotesis, pada uji ini menggunakan kesamaan dua rata-rata uji satu pihak. Jika populasi terdistribusi normal dan kedua kelompok data varians homogen, maka dipakai uji Z

C. Hasil dan Pembahasan

Setelah proses penelitian selesai dilaksanakan maka diperoleh hasil belajar siswa berupa nilai pre test dan post test. Nilai pre test diperoleh sebelum diberikan perlakuan sedangkan post test diberikan setelah adanya perlakuan. Selisih antara nilai pre test dan post test dapat dijadikan sebagai bahan untuk melihat perkembangan nilai siswa.

1. Nilai Pretes

Berikut disajikan interval nilai pre test yang diperoleh siswa pada kelas Eksperimen.

Tabel : 3 Nilai Pre Test Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

EKSPERIMEN KONTROL

Interval fi % Interval fi %

16 – 23 0 0 16 – 23 1 3,22 24 – 31 7 22,58 24 – 31 4 12,90 32 – 39 7 22,58 32 – 39 6 19,35 40 – 47 6 19,35 40 – 47 10 32,25 48 – 55 6 19,35 48 – 55 7 22,58 56 – 63 5 16,13 56 – 63 3 9,67

Jumlah 31 100 Jumlah 31 100

Mean 40,774 Mean 40,645

Median 40 Median 44

(11)

Standar Deviasi 11,473 Standar Deviasi 9,583

Max 60 Max 56

Min 24 Min 16

Berdasarkan data pada tabel 2 dapat dilihat bahwa nilai rata-rata pre test siswa kelas eksperimen adalah 40,774 dengan nilai terendah 24 Jadi, pada kelas eksperimen tidak ada nilai siswa yang mencapai KKM yang telah ditetapkan sekolah.

Pada kelas kontrol diperoleh nilai rata-rata siswa sebesar 40,645 dengan nilai terendah 16 nilai tertinggi 56 dan nilai yang sering muncul yang diperoleh siswa adalah 48. Jadi, pada kelas kontrol tidak ada nilai siswa yang mencapai KKM yang telah ditetapkan sekolah.

Berdasarkan data pada tabel 2 terlihat masih rendahnya nilai rata-rata siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol disebabkan karena siswa belum memahami materi yang akan dipelajari. Nilai rata-rata kelas eksperimen hampir sama dengan nilai rata-rata kelas kontrol, artinya kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki kemampuan yang sama sebelum diberikan perlakuan.

2. Nilai Post test

(12)

Tabel : 4 Nilai Post Test Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

EKSPERIMEN KONTROL

Interval fi % Interval fi %

52 – 57 0 0 52 – 57 7 22,58 58 – 63 2 6,45 58 – 63 4 12,90 64 – 69 7 22,58 64 – 69 8 25,80 70 – 75 4 12,90 70 – 75 5 16,13 76 – 81 13 41,94 76 – 81 7 22,58 82 – 87 5 16,13 82 – 87 0 0

Jumlah 31 100 Jumlah 31 100

Mean 74, 064 Mean 65,806

Median 76 Median 68

Modus 76 Modus 76

Standar Deviasi 7,580 Standar Deviasi 8,252

Max 84 Max 76

Min 60 Min 52

Berdasarkan data pada tabel 4 dapat dilihat bahwa nilai rata-rata post test kelas eksperimen adalah 74,064 dengan nilai terendah 60, nilai tertinggi 84 dan nilai yang sering muncul diperoleh siswa adalah 76. Jadi, terjadi peningkatan hasil belajar siswa dari nilai pre test dengan tingkat ketuntasan belajar sebesar 58,06 % dari KKM yang telah ditetapkan.

Pada kelas kontrol diperoleh nilai rata-rata siswa 65,806 dengan nilai terendah 52, nilai tertinggi 76 dan nilai yang sering muncul yang diperoleh siswa adalah 76. Jadi, terjadi peningkatan hasil belajar siswa dari nilai pre test yang telah dilakukan.

(13)

jika dibandingkan dengan jumlah nilai terendah yang diperoleh oleh kelas kontrol. Disini terlihat perbedaan hasil belajar antara siswa dikelas eksperimen dengan siswa dikelas kontrol. Perbedaan ini disebabkan karena perlakuan berbeda yang diberikan kepada kedua kelas sampel yaitu metode pembelajaran kooperatif model jigsaw pada kelas eksperimen dan metode pembelajaran konvensional pada kelas kontrol.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji Lilieffors. Datanya diambil dari nilai pre test dan post test pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 5. Uji Normalitas

Pre Test Post Test Eksperimen Kontrol Eksperimen Kontrol L Hitung 0,1312 0,1268 0,1324 0,1128

L Tabel 0,1591 0,1591 0,1591 0,1591

Kesimpulan Normal Normal

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai pre test Lhitung lebih kecil dari Ltabel sehingga kedua kelas sampel berdistribusi normal. Sedangkan untuk nilai post test Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa Lhitung lebih kecil dari Ltabel sehingga kedua kelas sampel berdistribusi normal.

b. Uji Homogenitas

(14)

Tabel : 6 Uji Homogenitas Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Kategori Test Fhitung Ftabel Kesimpulan

Pre Test 1,43 2,057 Homogen

Post Test 1,18 2,057 Homogen

Kesimpulan yang dapat diambil dari uji homogenitas pada tabel 6 di atas adalah Fhitung < Ftabel sehingga varians kedua kelas sampel adalah homogen.

c. Uji Hipotesis

Setelah dilakukan uji normalitas dan homogenitas diperoleh bahwa data penelitian ini berdistribusi normal dan homogen. Selanjutnya untuk menentukan apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa kelas eksperimen dengan siswa kelas kontrol maka

digunakan uji Z karena jumlah sampel ≥ 30. Hasil dari perhitungan uji

hipotesis nilai pre test dan post test dari kedua kelas sampel dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel : 7 Uji Hipotesis Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Kategori Test Zhitung Ztabel Kesimpulan Pre Test 0,05 1,64 H0 diterima Post Test 4.10 1,64 H0 ditolak

Berdasarkan perhitungan uji Z untuk pre test dengan α = 0,05 diperoleh Zhitung = 0,05 dan Ztabel = 1,64 sehingga Zhitung < Ztabel , maka H0 diterima artinya tidak ada perbedaan yang signifikan hasil belajar pre test antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Hal ini menunjukkan

(15)

kelas sampel dengan α = 0,05 diperoleh Zhitung = 4,10 dan Ztabel = 1,64

sehingga Zhitung > Ztabel maka H0 ditolak artinya terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar post test antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol.

Untuk menguji hipotesis hasil belajar siswa dari pre test berbeda dengan hasil belajar siswa post test dilakukan uji hipotesis dengan mengambil rata-rata pre test dan post test dari ke dua kelas sampel. Dari hasil perhitungan didapat Zhitung = 12,32 dan Ztabel = 1,64 sehingga Zhitung > Ztabel maka H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar pre test siswa dengan hasil belajar post test siswa.

3. Pembahasan

Berdasarkan instrumen penelitian, telah didapatkan soal yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, sehingga soal tersebut dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa. Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan kepada siswa di kelas eksperimen dan kelas kontrol, diperoleh nilai rata-rata pre test kelas eksperimen sebesar 40,77 dan nilai rata-rata kelas kontrol

sebesar 40,65. Hal ini menunjukkan nilai pre test pada kedua kelas sampel tidak mempunyai perbedaan yang signifikan. Ini berarti kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki kemampuan yang sama sebelum diberikan perlakuan.

(16)

koopertaif model jigsaw sedangkan kelas kontrol menggunakan metode pembelajaran konvensional.

Setelah kedua kelas sampel mendapat perlakuan yang berbeda, kemudian kedua kelompok diberi tes hasil belajar. Dari hasil belajar tersebut, didapatkan rata-rata nilai post test kelas eksperimen sebesar 74,06 dan kelas kontrol sebesar 65,81. Rata-rata nilai post test tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Nilai rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi dari nilai rata-rata kelas kontrol.

D. Simpulan dan Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa dalam mendiagnosis permasalahan pengoperasian PC dan Peripheral yang menggunakan metode pembelajaran koopertaif model jigsaw. Hasil belajar siswa yang menggunakan metode pembelajaran koopertif model jigsaw nilai rata-ratanya didapatkan 74,064, nilai ini lebih tinggi dari pada hasil belajar siswa yang menggunakan metode Konvensional yang nilai rata-ratanya adalah 65,806, atau pembelajaran kooperatif model jigsaw 9% lebih baik dari pada pembelajaran kovensional. Dari hasil penelitian yang diperoleh terlihat bahwa pembelajaran mendiagnosis permasalahan PC dan Peripheral bisa dilakukan dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

(17)

1. Kepada peneliti, disarankan agar melakukan penelitian yang sama disekolah yang lain, apakah terdapat pengaruh pembelajaran kooperatif model jigsaw terhadap hasil belajar siswa.

2. Kepada Guru di SMK N 1 Gunung Talang, khususnya guru mata pelajaran mendiagnosis permasalahan PC dan Peripheral hendaknya menerapkan metode pembelajaran kooperatif model jigsaw, karena berdasarkan hasil penelitian metode pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa. 3. Kepada peneliti berikutnya, agar lebih mempersiapkan diri,

mempertimbangkan dan mengurangi kendala-kendala yang telah dihadapi dan ditemukan oleh peneliti sebelumnya, sehingga tujuan penelitian dapat tercapai sesuai dengan harapan yang diinginkan.

(18)

DAFTAR PUSTAKA

Sardiman. 2009. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Slavin, Robert E. 2009. Cooperative Learning. Bandung : Nusa Media. Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta.

Gambar

Tabel 1. Rata-rata  Nilai Mid Semester Mendiagnosis  Permasalahan Pengoperasian PC dan Peripheral kelas X TKJ
Tabel 2: Jumlah siswa kelas X TKJ SMK Negeri 1 Gunung Talang Kelas X TKJ A X TKJ B X TKJ C
Tabel : 3 Nilai Pre Test Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol EKSPERIMEN  KONTROL
Tabel : 4  Nilai Post Test Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol EKSPERIMEN  KONTROL
+3

Referensi

Dokumen terkait

HUSEN PENGGILINGAN PADI BERAS 2 86 BIKIN KUSEN -SARJI- KELAPA CIUNG 02 02 SARJI UKIR KUSEN PESANAN KUSEN JADI 2 87 LIO BATA -SARNAJA- KELAPA CIUNG 02 02 SARNAJA MEMBUAT DAN

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan keahlian.. selaku dosen pembimbing-1

situasi yang dihadirkan dalam pembelajaran berdasarkan pengetahuan dan sumber belajar yang digunakan. Tujuan pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan problem posing

yang telah melimpahkan rahmat dan hidayat-Nya sehingga penulisan Laporan Tugas Akhir dengan judul Perancangan Buku Illustrasi Monumen Bersejarah di Jakarta ini sebagai syarat

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan mengatasi masalah yang ada, penelitian dilakukan dengan mengikuti langkah- langkah ini : Data survey Wawancara

Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui untuk mengetahui komposisi juvenil dan spat Geloina erosa, dan (2) mengetahui rasio juveli dengan spat pada kawasan muara, aliran dan

Bab I: Pendahuluan, bab ini berisikan mengenai pentingnya penelitian ini yang dipaparkan dalam latar belakang penelitian, hal ini memberikan gambaran umum

Nevertheless, since the adjuvant effects of some of the constituents of bioaerosols on the human health may be synergistic and the exact pathological mechanisms of